Ya Allah izinkan aku ke Sana ....

 




KEMBARA CINTA SUDAH BERMULA…


Sudah mula berbondong-bondong manusia ke sana. Membawa hati yang lara mencari cinta. Walaupun tanahnya gersang, tetapi hati manusia yang menuju ke sana sentiasa basah dengan rindu dan cumbu. Kami datang, kami datang… Semuanya menyeru untuk bertemu dan bertamu. Tetamu-tetamu Allah itu pasrah menyerahkan segalanya, meninggalkan semua demi bertemu-Nya.

Di kejauhan ini aku berdoa untuk kalian. Apalah yang dapat kukirimkan sebagai pamitan dan bekalan… Aku masih tertahan menunggu giliran, menanti panggilan. Aku rindu, tetapi apakan daya, layangan jiwa ini masih perlukan sayap yang nyata. Itu aku tak punya.

Untuk mu tetamu-tetamu Allah, sudi apalah kiranya menatap puisiku walau sekilas cuma. Doaku untuk mu semua. Dan mana tahu, seorang darimu sudi mendoakan aku… pengemis cinta-Nya yang masih terbelenggu ini.

Pergilah saudara-saudaraku, pergilah menuju Allah. Jika cinta kita SATU… pasti satu ketika kita akan bertemu juga di situ. Di Kaabah itu! Tataplah pusi ini (yang ku tulis sejak lama dulu)…

KEMBARA CINTA SUDAH BERMULA...

Pergilah tetamu Allah
Pergilah menuju Allah…
Pergilah membawa hatimu yang pasrah
Tiada lain yang kau cari
Kecuali kasih-sayang Ilahi

Haji ertinya menuju…
menuju Allah yang satu
Namun jalan cinta itu penuh sembilu
Kan bertandang ujian beribu liku
Merintang diri dan hati
Kerna setiap cinta itu pasti diuji…
Apakah sejati atau ilusi.

Sebelum melangkah mulakan muhasabah
Bagaimana belanja kita ke sana?
Apakah keringat sendiri yang mengalir?
Apakah dari sumber yang bersih?
Apakah dari pekerjaan yang baik?
Tanpa penipuan, tanpa penzaliman
Hasil usaha ‘halalan taiyiban?’Kemudian muhasabah pula diri kita seikhlasnya
Leburkan mazmumah semampunya
Hasad, dengki, marah, bakhil ditekan sekuatnya
Mensucikan hati di pohon keampunan
Minta kemaafan dari manusia
Mohon taubat segala dosa…
Barulah nanti terlerai rantai di hati
Terasa ringan melangkah kaki!

Pakaikan kain ihram di tubuh
Serah diri seluruh…
Pangkat, derjat, bintang dan gelaran meluruh
Kini kita hanya seorang hamba
Yang benar-benar hina di hadapan-Nya

Datanglah bagaikan hamba tawanan
Yang bertelut gementar… menanti hukuman
Labaiklallah humma labaik!
Hambamu datang ya Allah…
Dengan hias rohani
Di cermin matahati katakan pada diri:
Aku tidak punya apa-apa
Harta, keluarga dan milik Mu jua
Asalku hanya dari titisan air yang hina …
Jahil, miskin, lemah dan tidak berdaya…
Namun Hambamu datang jua ya Allah…
Labaikallah humma labaik
Aku datang wahai Tuhan
Aku datang… menyahut panggilan

Tuluskan niat kita ketika memulakan
Haji ini, ibadah ini…
Bukan untuk ihsan manusia
Bukan lanjutan urus niaga
Pun bukan kerana riak dan bangga
Tetapi benar-benar kerana kita hamba
Yang mengharap wajah dan keredhaan-Nya

Niat yang suci itu perisai hati
Menangkis kelalaian sepanjang destinasi
Ikhlas itu sangat maknawi
Namun kesannya zahir pada diri

Ikhlas melahirkan sabar…
Sabar kita dengan karenah insan
Demi mengharapkan rahmat Tuhan
Ikhlas melahirkan syukur…
Syukur dengan ruang yang sempit
Demi mengharap keampuan yang melangit

9 Zulhijjah…wukuf di Arafah
Dalam himpunan terbesar gambaran Mahsyar
Tiada bezanya derjat dan pangkat
Yang kaya atau melarat
Semuanya tenggelam dalam dalam zikir dan munajat

10 Zulhijjah… bermalam di Mudzalifah
Talbiah, tasbih dan selawat
Bangsawan, hartawan, marhein dan miskin
Segalanya sama seputih kain
Moga-moga perrhimpunan ini menginsafkan
Hanya taqwa… nilaian Tuhan

Tuhan tidak menilai rupa
Tuhan tidakmenilai harta
Tuhan hanya menilai hati
… hati yang bertaqwa kepada-Nya

11, 12, 13 Zulhijjah…
bermalam di Mina melontar 3 Jamrah
Genggam butiran batu itu dengan tangan kita
Tapi lontarkan ia dengan satu rasa
Di Jamrah itu kita perangi musuh Allah
Simbolik satu kebencian
Metafora sebuah peperangan
Melawan syaitan dalam kehidupan
Nyahkan ia jauh-jauh…
Perangi ia sungguh-sungguh…
Usah berpaling lagi
Pada bujukannya… kita tak sudi!

Nun di sana kelibat Kaabah mula menyapa
Rindu tiba-tiba semakin membara
Hati hiba tanpa diminta
Tanda disedari mengalir air mata kita
Oh! situ pernah melutut Ibrahim
Di situ pernah sujud Ismail
Dan di situ pernah menangis Muhammad SAW
Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali…

Bagaikan ‘melihat’ wajah Allah
Di hitam warnanya ada nur kesucian
Langkah kian cepat… kian mendekat
Tawaf, tawaf, tawaf tujuh pusingan
Tiga pertama bagaikan lari dari dosa…
menuju pahala
Empat yang kedua lepas dari kesalahan…
menuju pengampunan

Lambaian istilam tanda kerinduan
Dikucup tangan tanda kecintaan
Tuhan cintaku hanya pada-Mu…
Walaupun cinta itu sering terganggu!

Bawalah hati yang lara di Safa dan Marwah
Saie ke sini ke sana bagai seorang sandera
Cemas bila dirasuk azab…
Tenang seketika dibujuk harap…
Ke sana khauf…
ke sini raja’…
Bimbang tenang berulang datang
Bagai gelombang tanpa tepian

Oh! Tuhan siapakah diriku
pada pandangan-Mu?

Kepalamu kau cukur
Helaian rambutmu pun gugur
Luruh bersama simbolik dirimu yang lalu
Kini bangun dirimu yang baru

Bukan sekadar membunag setipis rambut…
tetapi mengungkai fikiran yang berkabut
Bukan sekadar membersih kepala…
tetapi hakikatnya menjernih minda

Itulah rahsia tahallul
Meninggalkan diri yang kotor
Hijrah ke dunia yang luhur!

Di Madinah… di masjid Nabawi
Hati kita kan tersentuh oleh imbauan azannya
Terbayang sejarah anak yatim yang kesepian
Terbayang gembala kecil di padang pasir
Luka kakinya di Taif
Hilang kesayangannya di Badar
Gugur giginya di Uhud
Atap rumahnya dicecah jari
alas tidurnya berbekas di badan

Sujudlah, bertelekulah di situ
Tunduk malu di makam nabi
Di sana tersimpan jasadnya yang mulia
Rasul yang tak pernah jera berkorban…
Demi umatnya
Tega baginda pada semua derita

Hayatilah betapa malunya Rasul di Masjid Qiblatain
Ingin merayu tapi lidahnya kelu
Qiblat itu hak Tuhan…
tak layak dirinya memohon pertukaran
Namun Tuhan Maha Mengetahui resah di hati Rasululah
Lalu beralihlah qiblat dari Masjidil Aqsa… ke Baitullah
Rintihan Rasul-Nya terjawab sudah

Di Badar kita diajar bertawakkal
Betapa golongan sedikit bisa mengalahkan golongan yang ramai
Tetapi bila disiplin robek godaan harta
Uhud mengingatkan kita pada sebuah alpa
Pada batu-batu yang terdampar di kuburan Baqie
Terimbau deretan sahabat bagaikan bintang di langit

Terlalu banyak hikmah dalam kembara ini
Jika segalanya dilihat dengan matahati
Jiwa akan kukuh disepuh iman
Akal akan bersih disuluh iktibar
Fizikal akan kuat menempuh kesusahan

Haji kemuncak ajaran Islam
Haji kemuncak mehnah dan ujian
Padanya tersimpan rahsia kekuatan
Sudahkah terserlah apa yang tersimpan?

Bertamu tak jemu…
Berpisah tak gelisah…
Kenangan di Makkah dan Madinah
Adalah bekal safar abadimu…
bertemu Allah!

***DIPETIK DARIPADA BLOG USTAZ PAHROL

 

Posted in My Self. 2 Comment »

QURBAN

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (Qs. Al-Kautsar, 108: 2)

Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang kesusahan lagi fakir. (Qs. Al-Hajj (22): 27-28)

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan Qurban supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Rabb-MU adalah Allah yang satu karena itu berserah dirilah kamu kepada-NYA. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh.” (Qs. Al-Hajj (22): 34)

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan telah terikat. Kemudian apabila ia telah tumbang (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, supaya kamu bersyukur. (Qs. Al-Hajj (22): 36)

Dari Aisyah ra sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “Bahwa tidak ada amalan manusia pada hari raya adha yang lebih dicintai Allah SWT, selain mengalirkan darah hewan (maksudnya : menyembelih hewan qurban)” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi,… dan di katakan Hadits Hasan Ghorib (hadits hasan yang hanya punya satu riwayat)

“Tidak beriman kepada-Ku seorang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya lapar dan dia mengetahui” (HR. Bazzar dan Thabarani, Hadis Hasan)

Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berqurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. (HR Imam Thahawi *)

*) Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan liat Turats, dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram:

Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab: Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al-Mubarakfuri, cetakan Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur ulama, wallahu a’lam.

Dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah)”. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

“Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berqurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya”. (HR Ibnu Majah dan AtTirmidzi dan dishahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah dengan sanad shahih)

Catatan :

Waktu berqurban dimulai sejak tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah. Masa memotong qurban pada tanggal 10 disebut “Yaumul nahar” yaitu hari untuk menyembelih kurban. Sedangkan tanggal 11, 12, 13 dinamakan “yaumul tasyriq” Di luar waktu tersebut bila kita memotong hewan dinamakan sedekah. Maka kalau niatnya berkurban harus dilakukan padan waktu-waktu tersebut, yakni pada tanggal 10,11,12, dan 13 Dzulhijjah.

Subjek: Tambahan tentang Qurban

Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik amal bani Adam bagi Allah di hari Idul Adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani Adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya” (HR. Tirmizi, Ibnu Majah)

Abu Hurairah yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka janganlah ia mendekati masjidku” (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

Ini menunjukkan sesuatu perintah yang sangat kuat, jika tidak bisa dikatakan wajib.

HADITS2 SEPUTAR QURBAN

1. “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami.”
(HR. Ahmad, sanadnya hasan)

2. ”Barangsiapa memiliki hewan yang akan disembelih untuk qurban, apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”
(HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud). Dalam lafazh yang lain; "Hendaklah ia menahan diri dari memotong rambut dan kukunya".
Maksudnya adalah orang yang ingin berkurban hendaklah jangan memotong rambut/bulu /kuku maupun mengupas kulit yang ada pada dirinya mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih.
Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, ‘Amr bin Muslim pernah mendapati seseorang di kamar mandi sedang mencabuti bulu ketiaknya menggunakan kapur sebelum hari raya qurban. Sebagian mereka ada yang berkata: “Sesungguhnya Sa’id bin Musayyib tidak menyukai perkara ini.”

3. “ Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka tidaklah termasuk kurban sedikitpun, akan tetapi hanyalah daging sembelihan biasa yang diberikan untuk keluarganya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

4. “ Setiap hari Tasyriq ada sembelihan"
(Dikeluarkan oleh Ahmad (4/8), Al-Baihaqi (5/295), Ibnu Hibban (3854) dan Ibnu Adi dalam "Al-Kamil" (3/1118) dan pada sanadnya ada yang terputus. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabari dalam ’Mu’jamnya" dengan sanad yang padanya ada kelemahan (layyin). Hadits ini memiliki pendukung yang diriwayatkan Ibnu Adi dalam "Al-Kamil" dari Abi Said Al-Khudri dengan sanad yang padanya ada kelemahan. Hadits ini hasan Insya Allah, lihat ’Nishur Rayah" (3/61).) Hadits ini mengandung makna diperbolehkannya memotong sembelihan selama hari tasyrik. Demikian Imam Ahmad, sebagaimana dikutip Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zadul Ma`ad.

5. “ Nabi berkurban dengan dua domba jantan yang berwarna putih campur hitam dan bertanduk. beliau menyembelihnya dengan tangannya, dengan mengucap basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan satu kaki beliau di sisi-sisi kedua domba tersebut"
(HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

6. "Makanlah kalian, simpanlah dan bersedekahlah"
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud). Maksudnya daging qurban itu diperuntukkan untuk makan, disimpan, dan disedekahkan.

7. Ali radhiyallahu ia berkata,(yang artinya) : “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk mengurus kurban-kurbannya, dan agar aku bersedekah dengan dagingnya, kulit dan apa yang dikenakannyaa* dan aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan kurban itu. Beliau bersabda : Kami akan memberikannya dari sisi kami"
(HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad. Bukhari meriwayatkannya (1716) tanpa lafaz : "Kami akan memberinya dari sisi kami".)
*Dalam Al-Qamus yang dimaksud adalah apa yang dikenakan hewan tunggangan untuk berlindung dengannya.

Bacaan Kesukaan Para Remaja - SAAT CINTA TAK BERBALAS

Sebagai manusia biasa, kita tidak dapat memungkiri rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Mengambil istilah teman, “seakhwat-akhwatnya akhwat, tetap saja wanita biasa. Seikhwan-ikhwannya ikhwan tetap saja lelaki biasa”. Bagi kita para Ikhwah ‘jombloers’ mungkin saja pernah merasakan magnet yang begitu dahsyat, getaran hebat, desiran kuat, dan lain sebagainya saat kita bertemu dengan seseorang yang luar biasa menurut pandangan kita. entah ketampanan/kecantikannya, kesholehannya, atau banyak alasan yang lain yang seringkali tidak dapat dilogika, karena cinta tak kenal logika (katanya... hehehe...).
Terkadang disadari atau tidak, terbersit rasa yang manusiawi, sebuah anugerah Allah. Saya tidak akan menghakimi anda untuk segera membunuh rasa itu, tapi pandai-pandailah memanaj anugerah terindah itu. Ungkapkan jika kamu mampu dan berani, lalu melangkahlah ke jenjang berikutnya segera. Jika tidak, simpanlah rasa itu, dekatkan diri pada Pemilik Rasa, wallahualam apa yang terjadi berikutnya adalah urusanmu dengan-Nya.
“tapi ga sesimpel itu!! Ya kalo aku nyatakan terus diterima, kalo ga?”

Kalau ga, pasrahlah. Percayalah Allah akan memberimu yang lebih baik. Meski seringkali hasrat untuk hidup bersama sang pujaan begitu menggebu, namun apa daya jika cinta bertepuk sebelah tangan? Pendamlah rasa itu, kuburlah, simpan di suatu kotak kemudian kunci rapat dan letakkan kotak itu di sudut tergelap yang ada di hatimu. Kamu harus yakin, Allah paling Tahu apa yang terbaik bagimu. Dia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan. Anggap saja ini bagian dari liku kehidupan.

Suatu hari nanti saat kita telah menikah dengan orang lain -bukan dengan si dia yang kita idamkan- niscaya kita takjub dengan kebahagiaan yang kita rasakan. Jangan terlalu yakin gals, bahwa sang pujaan akan datang ke rumahmu. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan jodoh tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan karena kamu cantik maka para ikhwan menyukaimu. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud da’wah lalu setiap akhwat mendambakannya.

Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya.
THANKS to Allah,

Yang telah memberikan kenikmatan atas rasa ini dan menyelamatkan diri ini dari segala angan-angan kosong.


TERIMAKASIH
Kepada seseorang yang selalu baik akhlaknya,,,

 

 

Posted in Campur. 3 Comment »

Menangislah, Karena Bidadari Itu Terlalu Mulia Untukku...

Hari ini ia sengaja datang ke kampus lebih pagi. Selain karena tak ingin terlambat di kuliah pertama, ia ada janji bertemu dengan Ustdz. Faridz di musholla kampus. Dia tegakkan dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid, disusul dengan 4 rakaat shalat Dluha. Lalu dia tengadahkan tangan melantunkan doa.
Dia menyambung ibadah paginya dengan tilawah tartil sambil menunggu Ustdz. datang. Seorang kawan menghampirinya. Dia tutup tilawahnya setelah menyelesaikan satu pojok.

“Assalamualaikum Akh Ilham…” sapa sang kawan ramah.
“Waalikumussalam warahmatullah… apa kabar akhi?” jawabnya sambil tak lupa bertanya kabar.


“Alhamdulillah ana bikhoiir… antum sendiri gimana? Kabarnya udah siap nikah nih…” mata sang kawan mengerling menggodanya. Dia cuma tersenyum, tak berniat menanggapi gurauannya.
“Akh, di sini ada bidadari.”


Bidadari? Darahnya berdesir. Ah, bidadari, kesannya indah.

“Sini, ana tunjukkan orangnya. Ini akhwat luar biasa, anak kedokteran, prestasinya brilian, aktivis kampus, ketua pembinaan dan kaderisasi akhwat, akhlaknya mengagumkan, ibadahnya tak diragukan. Dia pembina adik ane. Cocok banget sama antum!” kawannya menjelaskan panjang lebar, membuatnya penasaran.

Lalu, telunjuknya mengarah ke sosok seorang akhwat. Tak lama, yang dibilang bidadari itu sudah terlihat jelas.

“Masya Allah… itu yang dibilang bidadari? Mana ada bidadari hitam legam? Yang kubaca dalam Ibnu Katsir, bidadari itu cantik sekali, kulitnya putih transparan seperti putih telur. Eh, mana ada di dunia yang begitu ya.. paling ga, kuning langsatlah. Masa black begitu. Black sweet sih masih banyak yang mau, ini aku belum lihat sweetnya.” Dia menggerutu dalam hati. Tak berminat meneruskan percakapan.

“Akh, ane ke perpustakaan dulu yaa.. bidadari itu, buat antum aja.” Dia berpamitan.
“lho… sama ane mah ga sekufu akh!”
“Ya udah, assalamualaikum.” Ilham beranjak meninggalkan kawannya. Baru beberapa langkah, seorang marbot memanggilnya. Dan menyerahkan amplop putih titipan dari Ustdz. Faridz. Ustdz tidak bisa datang, makanya amplop itu ia titipkan.

“Hmm… ini biodata akhwat yang dijanjikan Ustdz.” langkahnya mantap menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk membuka dan membaca biodatanya.

Dia duduk di sana, mengatur nafasnya yang terengah, bukan karena capek, tapi sibuk menahan deburan dalam dada. Perlahan dia membuka amplop itu, sengaja ia tinggalkan selembar foto di dalamnya, dia akan melihatnya nanti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim… “ dia kuatkan hati membaca susunan huruf demi huruf dalam biodata. “Akhwat luar biasa, usianya, dua tahun dibawahku, lumayan, lebih muda. Pendidikan, kedokteran umum XX <edited> (sedang koas), Alhamdulillah… ayah dan ummi pasti senang sekali. Sepertinya pas untukku.” Gumannya bahagia. Dia berbunga-bunga. Lalu, diambilnya selembar foto di dalam amplop, ah… sebentar, biar kutenangkan diri… Bismillah…

Ah… kenapa akhwat ini?? Keluhnya. Bunga-bunga yang tadi bermekaran luruh satu persatu, beterbangan diterpa angin. Lunglai tubuhnya seolah tak bertenaga. Sesak memenuhi rongga dada.

Kenapa akhwat ini yang disodorkan padaku? Dia kembali mengeluh. Terbayang kembali akhwat berkulit legam dan sama sekali tidak cantik menurut ukurannya. “Semoga ia bukan jodohku..” doanya lancang. Ustadz… masa sih nyariin aku kayak gini? Kalau kayak gini sih.. aku juga bisa nyari sendiri. Congkak mulai merasuk.

Dikeluarkannya selembar foto. Foto diri yang sangat dibanggakan. Dia menatap mata elang yang mengagumkan. Hidung yang mancung, bentuk muka yang menawan. “Apakah salah jika aku menginginkan akhwat sholihah yang cantik?” Dia mendesah resah.


Dia Memang Bidadari

Ilham berusaha menyerahkan semua keputusan pada Allah. Ia akan berikhtiar dengan wajar dan berdoa dengan kesungguhan. Walau ia belum punya kemantapan namun ia akan mengosongkan perasaan buruk di hatinya. Ia akan berangkat dengan perasaan netral. Ia ingin semua langkah dimulai dengan kebersihan hati, kelurusan niat, ketergantungan yang besar pada Allah, dan kesungguhan ikhtiar. Ia tak ingin mengedepankan nafsu apalagi diiringi segala penyakit yang mengusamkan kalbu.

Taaruf yang ia jalani, bersama ukhti Dede -----nama akhwat yang disodorkan Ustdz. Faridz----- sangat wajar dan biasa saja. Ia didampingi Ustdz. Faridz, sedangkan Dede didampingi istri beliau. Komunikasi berjalan dengan baik, penyatuan persepsi lancar, pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar.

Ilham merasakan ada yang menarik hatinya. Wajah berkulit hitam itu memendarkan cahaya. Benar kata adiknya, jika berbicara sedap dipandang dan didengar. Inilah relativitas kecantikan, meski ada kecantikan yang diakui semua orang.

Ilham sempat deg-degan dan merasa was-was ikhtiarnya akan gagal ketika orangtua Dede mengujinya.

“Abah sudah dengar tentang kebaikan akhlak dan aktivitasmu. Sekarang Abah ingin mendengar langsung bacaan Quranmu. Abah tak akan menyerahkan putri Abah pada seseorang yang tidak bagus bacaan Qurannya.” Begitulah ujiannya. Alhamdulillah semua lancar dan ia diterima meski banyak catatan.

Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya Ilham dan keluarganya datang untuk mengkhitbah Dede. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Ilham yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.

Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dede, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.

Takdir Allah terjadi atasnya. Selama ini ia giat berdakwah di sebuah desa tertinggal. Desa yang dahulu nyaris kehilangan keislamannya, bergairah kembali dengan pembinaan rutin dari Dede dan kawan-kawannya. Rupanya, hal itu tidak disenangi oleh misionaris yang selama ini hampir berhasil memurtadkan penduduk desa itu.

Dia dibunuh, dalam perjalanannya sepulang dari baksos di desa itu. Dan ia dibunuh, karena mempertahankan akidahnya. Karena mereka tidak berhasil memaksanya untuk menukar keyakinannya dan meninggalkan aktivitas dakwahnya.

Ilham tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak disuntingnya. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.

Dalam desahnya ia bergumam,
“Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Seorang Ilham tak diizinkan Allah untuk sekedar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku, yang dulu sempat sombong terhadapmu.” Wajahnya tertunduk dalam.

“Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan.” Gumamnya penuh penyesalan.

Saatnya berDakwah Kawan!

Karena yang dulu2 udah dikirim artikel tentang ilmu dan macam2nya, kini saatnya kita praktekin tugas dan kewajiban kita, yaitu DAKWAH!

Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.

Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.

Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.

Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)

Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.

Seputar Permasalahan Yang Sering Terjadi Dalam Hidup

KENAPA AKU DIUJI?

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta"[Al-Ankabut: 2-3]

KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?

”... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" [Al-Baqarah: 216]

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“ [Al-Baqarah: 286]

RASA FRUSTASI?

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [Ali Imran: 139]

BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. “ [Al-Imran: 200]

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” [Al-Baqarah: 45]

APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah: 111]

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

"…Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung." [At-Taubah: 129]

AKU SUDAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!

"… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." [Yusuf: 87]

WASPADA TERHADAP "VIRUS MERAH JAMBU = VIRUS CINTA"

Waspada terhadap munculnya Virus Baru.. Virus Merah Jambu..sering diidentikkan dengan rasa "aneh" yang hinggapi hati-hati yang lalai, lalai dari mengingat Allah, lalai beribadah, lalai pada keinginan, hasrat tuk raih Syahid.. dan lalai terhadap tujuan akhir yang akan ditempuh.. dan tanpa disadari, bisa menggeroti file-file rasa ikhlas dalam dada, merusakkan imun amal, membuat pipi bersemu merah, angan pun melayang tak tentu arah, lalu mengacaukan sistem pertahanan hard disk Iman ..

Hati-hati !! karena virus hati tak dapat diawasi keberadaannya..tak dapat dikenali wujudnya.. It’s very danger untuk lebih kita cermati, untuk lebih kita hayati keberadaannya.. hingga kita pun harus tahu tanda munculnya Virus Merah Jambu.. harus bisa meraba apa yang seharusnya kita rasa..rasa yang tak terkendali, asa yang terus menari, angan yang terus melayang, harap yang masih bertahan..ada ingin yang terus gayuti kalbu. Ahh..Virus Merah Jambu.. begitu indah untuk di rasa, begitu resah yang membara.. saat mengingat dia.. saat bersamanya, saat temui sosoknya - dia dan hanya dia.. seseorang yang spesial untuk kita, yang berarti untuk kita..seseorang yang merajai tiap langkah kita, seseorang yang.. Ehm.. begitu mempesona..

Virus Merah Jambu..bagaikan darah yang mengalir saat melewati tiap aliran nadi kita, merusakkan kabel - kabel darah yang ujungnya selalu di gayuti oleh setan yang selalu tertawa lebar melihat kegagalan kita meraih RidhoNya.. Dan Virus Merah Jambu pun menembus ke ulu hati.. meluluhlantakkan pusat sistem otak syaraf dan akal kita.. Let’s talk about it..

Yup.. Virus Merah Jambu.. ๏ฟฝVIRUS CINTA๏ฟฝ.. yang paling melenakan kita, paling berbahaya dari virus komputer akal yang pernah ada.. Virus Merah Jambu bisa timbul karena ada tangan dan pihak ketiga yang menelusup ke tiap sanubari kita, yang munculkan was-was pada diri kita..ketika kita tak bersamanya..saat tak bertemu dengannya.. ketika dan ketika.. segala waktu kita persembahkan untuknya.. Yang ada hanya resah terasa, dan rasa cinta yang kobarannya kalahkan api membara, yang penanya setajam pisau rajam, yang mulutnya, matanya, bibirnya, hidungnya, tangannya, sekujur tubuhnya.. selalu bertasbih namanya..selalu menyebut namanya.. Dan.. aacchh.. CINTA.. nama yang begitu indah dan bermakna..

Tak heran rasanya kalau mendengar / baca kisah si Virus Merah Jambu alias ’cinta’..bagaimana tajamnya pisau cinta yang ’singgah’ ke hati majnun dan laila.. Karena pada tiap manusia menginginkan cinta, membutuhkan cinta, karena ’cinta’ menimbulkan keasyikan, kesetiaan, kemesraan dan rasa kasih sayang, lalu mempertahankan cinta dengan taruhan nyawa, harta atau bahkan tahta sekalipun jadi tidak mengapa..

Akan tetapi bila rasa mulai pudar, bila rasa mulai sirna..suasana hati jadi berubah..rasa setia jadi ingkar-curiga..asyik dan mesra jadi bosan-memuakkan, kasih sayang menghilang, rasa ingin bersama jadi pengen berpisah, berjauhan, tidak tegur sapa..endingnya broken heart..putus cinta..N’ sekali lagi.."Cinta"..trus menyerang, memadamkan api yang mulai berkobar..

Perhatikan apa yang difirmankan Allah dalam Surat Al Jaatsiyah (45) : 23.."Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat sesuai dengan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menjadikan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah lagi yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat) Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?".

Amati sekali lagi Surat Al Baqarah (2) : 65.. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cintanya kepada Allah..". Astaghfirullah..

Seorang hamba yang dilanda cinta, selalu ingat akan cintanya, selalu ingat akan kekasihnya. Setiap kesempatan akan digunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi hasrat cintanya. Begitu juga halnya dengan seorang hamba yang tulus cintanya pada Khaliqnya, ia senantiasa akan selalu ingat kepadaNya. Semua daya upaya dipersembahkan untuknya, meski untuk mempertahankan kebahagiaan hidupnya ia harus mempertaruhkan hartanya, kedudukan, kekuasaan, perniagaan, anak, istri, dan keluarganya, serta tak lupa jiwa raganya pula.

Dalam Firman Allah SWT, Qs At Taubah (9):24.." Katakanlah:"Jika bapa-bapamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik".

Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak mau memberi kecuali karena Allah, maka dia sudah menyempurnakan imannya". (HR. Abu Daud) ; "Tidaklah seorang hamba mendapatkan manisnya Iman kecuali harus terdapat di dalam hatinya 3 aspek berikut : Hendaklah Allah dan RasulNya paling ia cintai dibanding yang lainnya, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan hendaklah ia benci untuk kembali pada kekufuran setelah Allah selamatkan ia sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka" (HR. Bukhari Muslim).

So.. Virus Merah Jambu.. yang menguasai hati.. jika kita tegas menyikapinya, jika kita bisa rusak jaringannya (atau mampu jadi ’hacker’ nya hati), jika kita mampu mengendalikannya, jika kita tahu keberadaannya.. niscaya hati mampu mengontrol semua perilaku kita, semua cinta kita jadi terkendali karena Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah wajib, apalagi Virus Cinta..

Mencintai Allah seperti kekasih.. Allahu Akbar !! (Ya Allah..jadi rindu dech sama Allah !!), tiap disebut namaNya.. bergetarlah hati kita (Surat Al Anfaaal (8) : 2.."Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal".. Subhanallah), ada pesona alam yang kita kagumi, dari ciptaannya sekecil atom sampai yang membentang di jagad raya, tak ada yang dapat menandinginya.. Lalu bagaimana khabarnya..Hai Virus Merah Jambu ?? Apakah sudah tahu keberadaanNya ?? Apakah sudah terkendali ?? Atau sudah musnah ?? Kuraba lagi sendi-sendi hati.. Alhamdulillah..sudah terkendali, Alhamdulillah..sudah tiada.. Kini yang ada hanya cinta untukNya.. Yup, Cinta untuk Allah yang tak dapat ditandingi hasratnya, yang tak dapat dicerna maknanya..Subhanallah..

"Katakanlah : jika kalian memang cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, pastilah Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Qs. Ali’Imran (3) : 31).

Pisau tak selamanya dapat membunuh seseorang... penapun terkadang lebih tajam dari sebilah pisau. Maka amati ’hati’ dengan cara yang ma’ruf..luruskan niat dan bertawwakallah pada ALLAH SWT.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kamu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu, serta amal yang menyampaikan kami kepada cintaMu.. (Dari berbagai sumber "Cinta" yang tersedia !!).

------------------
Dedicated for: " . " yang pernah menghuni ’hati’..Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya .. Lalu, kucoba kembali atur gelombang asa.. Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu..

Hati-hati Mengumbar Cinta! Ada Ancaman Allah!

Bismillah. Cinta. Semua orang kenal kata ini. Untuk orang di Nusantara ini bahkan orang yang pernah belajar atau  pergi ke nagara-negara di bahasa ini digunakan pasti kenal cinta. Orang tua ada cinta, orang muda apa lagi, orang ndeso, orang kota, orang besar, wong cilik, orang kaya, orang tak kaya, orang cantik, orang kurang tak cantik, orang ganteng, orang tak ganteng semua deh ada cinta. Banyak yang menjadi bahagia karena cinta, ada juga  yang masuk penjara karena cinta, ada yang gila karena cinta dan banyak lagi. Bolehkah kita mengumbar cinta? Sebetulnya tidak boleh. Cinta ada batas. Jangan diumbar. Tulisan ini mengajak kita untuk mengawal cinta melalui ancaman Allah.

 

Allah mengatakan, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”  Q>S. Attaubah ayat 24.

 

Semua kita pasti ada rasa cinta kepada orang-orang di sekitar kita, harta benda, profesi, perdagangan, pangkat, lawan jenis dan sebagainya. Wajar saja. Manusiawi kok. Hanya saja ayat ini secara khusus untuk mengajak kita untuk instrospeksi diri agar lebih “membanyakkan” porsi cinta kepada Allah dan rosulNya serta berjihad di jalan Allah.

Mengapa? Cinta kepada Allah dan rasulNya serta berjihad di jalan Allah akan menjadikan kita tepat dalam penggunaan amanah yang Allah berikan. Kalau kita lebih mencintai Allah dan RasulNya maka kita akan tahu bagaimana kita bersikap kepada orangtua. Kita akan lebih tahu bagaimana hakekat harta, tahta dan lawan jenis. Jika demikian juga kita akan tahu bagaimana pengelolaan waktu kita supaya dalam menghadapi perdagangan, harta dan sebagainya tidak sampai menjadikan kita lupa daratan.

Mencintai Allah, RasulNya dan berjihad di jalan Allah akan menjadikan kita tidak egois, mensyukuri nikmat Tuhan dan peduli kepada sesama. Bukankah manusia lain memerlukan “belaian” tangan kita sehingga mereka juga memeperoleh hidayah taufiq yang menjadikan mereka taat pada Allah dan RasulNya. Karena mereka juga ingin bahagia di dunia dan di akhirat.

Bukankah manusia lain yang terkadang sudah muslim tetapi lalai dalam sholatnya. Bukankah banyak saudara kita hari-hari tengah membangun jalan ke neraka tetapi kita tidak ada waktu untuk mengingatkan dan menegurnya. Bukankah banyak saudara kita sendiri telah lama tidak kenal Allah apalagi mau taat padaNya. Bukankah banyak di antara kita (termasuk penulis) sudah lama perlu dibawa ke dokter cinta karena salah dalam mengumbar cinta. Nah saudaraku, banyak sekali “peer” kita, sehingga kita jangan sampai salah dalam mengumbar cinta.

 

 

Ya Allah

Jika aku jatuh cinta

Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu

Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Ya Muhaimin

Jika aku jatuh cinta

Jagalah cintaku pada apa-apa selainMU agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah

Jika aku jatuh hati

Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu

Agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta semu

Ya Rabbana

Jika aku jatuh hati

Jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu

Ya Rabbul Izzati

Jika aku rindu

Rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu

Ya Allah

Jika aku rindu

Jagalah rinduku padanya agar aku tidak lalai merindukan surga-Mu


Ya Allah

Jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu

Jangan biarkan aku melampaui batas

Sehingga aku lupa pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu

Ya Allah

Jika aku menikmati cinta kekasih-Mu

Jagalah kenikmatan itu janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu

Dan Ya Allah

Aku mohon izinkanlah seseorang itu menjadi teman sejatiku

Ya Allah

Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu

Telah berjumpa dalam taat pada-Mu

Telah bersatu dalam dakwah pada-Mu

Telah berpadu dalam membela syariat-Mu


Ya Allah

Kokohkanlah ikatannya Kekalkanlah cintanya

 

Tunjukilah jalan-jalannya

 

Penuhilah hati-hati kami dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu

Dan keindahan bertawakal di jalan-Mu

Posted in Campur. 1 Comment »

Ustadz Abu Sangkan Versus Abu Umamah

Beberapa Jam yang lalu, saya kedatangan tamu seorang sahabat, namanya mas wanto. Seperti biasa kalo sudah ketemu, kami ngobrol ngalor ngidul, ditemani kopi hangat, rokok surya ditambah hidangan jajanan ringan turahan hari raya (THR), jadi obrolan makin mantabs saja, apalagi dihadapan kami ada keripik jamur tiram, yang rasanya sangat nikmat ngungkuli rasa enaknya keripik belut.


Sambil terus ngemil, tiba saatnya kang wanto bercerita tentang Ustadz Abu Sangkan, yang katanya "di bulan puasa kemarin sering muncul di acara Metro TV membahas tentang Kaifiyyah Shalat.


Terus terang nama ustad Abu Sangkan masih sangat baru di telinga saya, selama hidup di
indonesia, emang dulu hidup dimana? maklum saya gag punya TV. Nah! Dalam obrolan segar tersebut kang wanto bercerita kalau dia sangat tertarik dengan konsep belajar shalat khusu yang diajarkan oleh ustadz abu sangkan.


Saya pun mantuk-mantuk saja mendengarkan cerita dari kang wanto. Setelah kang wanto pulang,
saya jadi penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang konsep belajar shalat khusu yang diajarkan ustadz abu sangkan. Saya juga jadi tertarik untuk mencari tahu, tentang siapa sebenarnya ustadz abu sangkan?. Terus ngambil HP Nokia 7610 kesayangan, ceck pulsa, terus browsing alias googling. Ni HP Nokia 7610 emang mantabs, meski gag punya TV tapi teuteup bisa ngeblog. indosat


Hanya saja cukup mengejutkan,
keyword abu sangkan menghantarkan saya ke sebuah blog forum indonesia yang mana di dalam forum tersebut terdapat artikel yang menyebutkan tentang penyimpangan-penyimpangan abu sangkan. Kalau tidak salah penulisnya bernama ustadz abu umamah. Inti dari Artikel tersebut adalah ustadz abu umamah menganggap bahwa konsep belajar shalat khusu  yang diajarkan dan dikenalkan oleh ustadz abu sangkan adalah bidah. Saya tidak apa ini fitnah, tuduhan atau apalah namanya! Yang jelas dalam artikel forum tersebut menyiratkan perbedaan pendapat dan pandangan antara dua orang ustadz.


Weleh-weleh ustadz kok malah pada ribut, jadi bikin ribet ummat aja, pada rebutan benar semua kaya robot aja. Kesimpulan sementara, berarti Ustadz Abu Sangkan Versus Abu Umamah. Waduh kepiye iki to.


Yo wislah sampai di sini cerita kali ini, besok pasti disambung lagi. Wis ngantuk aku. Salam
sungkem dan salam cinta kepada Ustadz Abu Sangkan dan Ustadz Abu Umamah semoga keduanya bisa segera duduk bersanding untuk bermusyawarah sesuai ajaran Al Quran.

Posted in Campur. 0 Comment »

Berkhidmat dan Berbakti Pada Suami

Ketika seorang suami pulang dari tempat bekerja, yang biasa ia lakukan adalah mengisi waktu untuk beristrirahat. Namun sering juga kita menjumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam urusan pekerjaan rumah tangga, sementara sang istri malah asyik ngerumpi dan ngebanyol di serambi rumah tetangga. Lalu bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini?


Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang istri yang shalihah yang menandakan baiknya hubungan interaksi kepada suaminya adalah berkhidmat dan berbakti kepada sang suami dan membantu menyelesaikan pekerjaan suami sebatas yang ia mampu. Wanita Sholihah tidak akan membiarkan sang suami melayani dirinya sendiri, sementara ia sendiri duduk berpangku tangan menyaksikan apa yang dilakukan oleh suaminya. Wanita Sholihah akan merasa enggan bila sang suami sampai tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti memasak, merapikan tempat tidur, mencuci, dan sebagainya, sementara ia masih mampu untuk menanganinya. Sehingga tidak mengherankan bila kita mendapati seorang istri shalihah menyibukkan diri melalui hari-harinya dengan memberikan pelayanan terhadap suaminya, mulai dari menyiapkan tempat tidurnya, makandan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan suami lainnya. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan, kerelaan dan kelapangan hati disertai niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh ini merupakan bentuk perbuatan ihsannya seorang wanita sholihah kepada sang suami, yang diharapkan darinya ia akan memperoleh kebaikan.


Berkhidmat dan Berbakti kepada suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari golongan shahabiyyah, seperti yang dilakukan Asma’ binti Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ’anhuma yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu ’anhu, suaminya tercinta.


Ia mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh *1 farsakh kurang lebih 8 km atau 3,5 mil*" (Hadist Riwayat Bukhari no. 5224dan Muslim no. 2182)


Demikian pula khidmat dan berbaktinya Siti Fathimah bintu Rasulillah, Shallallahu ’alaihi wa sallam di rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ’anhu, sampai-sampai kedua tangannya menjadi lecet-lecet karena menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk meminta seorang pembantu,sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang lebih baik:


ุฃูŽู„ุงูŽ ุฃูŽุฏูู„ู‘ููƒูู…ุงูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ุงูŽ ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูู…ุงูŽ ู…ูู†ู’ ุฎุงูŽุฏูู…ูุŸ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽูˆูŽูŠู’ุชูู…ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ููุฑูŽุงุดููƒูู…ุงูŽ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุฎูŽุฐู’ุชูู…ุงูŽ ู…ูŽุถุงูŽุฌูุนูŽูƒูู…ุงูŽ ููŽูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽุง ุฃูŽู‹ุฑู’ุจูŽุนุงู‹ ูˆูŽุซูŽู„ุงูŽุซููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุณูŽุจู‘ูŽุญุงูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซุงู‹ ูˆูŽุซูŽู„ุงูŽุซููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุญูŽู…ู‘ูุฏูŽุง ุซูŽู„ุงูŽุซุงู‹ ูˆูŽุซูŽู„ุงุซููŠู’ู†ูŽุŒ ููŽู‡ูŽุฐูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูู…ุงูŽ ู…ูู†ู’ ุฎุงูŽุฏูู…ู


"Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali,dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu." (Hadist Riwayat Al-Bukhari no. 6318 dan Muslim no. 2727)


Seorang Shahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, Jabir bin Abdillah radhiallahu ’anhu, menikahi seorang janda untuk berkhidmatdan berbakti kepadanya dengan mengurusi saudara-saudara perempuannya yang masih kecil. Jabir bercerita: "Ayahku meninggal, dan beliau meninggalkan 7 atau 9 anak perempuan. Maka aku pun menikahi seorang janda. Laku Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya padaku:


ุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฌู’ุชูŽ ูŠุงูŽ ุฌุงูŽุจูุฑุŸ ููŽู‚ูู„ู’ุชู: ู†ูŽุนูŽู…ู’. ููŽู‚ุงูŽู„ูŽ: ุจููƒู’ุฑู‹ุง ุฃูŽู…ู’ ุซูŽูŠู‘ูุจุงู‹ุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ุจูŽู„ู’ ุซูŽูŠู‘ูุจุงู‹. ู‚ุงูŽู„ูŽ: ููŽู‡ูŽู„ุงู‘ูŽ ุฌุงูŽุฑููŠูŽุฉู‹ ุชูู„ุงูŽุนูุจูู‡ุงูŽ ูˆูŽุชูู„ุงูŽุนูุจููƒูŽุŒ ูˆูŽุชูุถุงูŽุญููƒูู‡ุงูŽ ูˆูŽุชูุถุงูŽุญููƒููƒูŽุŸ ู‚ุงูŽู„ูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽู‡ู: ุฅูู†ู‘ูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู‡ูŽู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽ ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุจูŽู†ุงูŽุชูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูŽุฑูู‡ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุฌููŠู’ุฆูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ูู‡ูู†ู‘ูŽุŒ ููŽุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฌู’ุชู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ุชูŽู‚ููˆู’ู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุชูุตู’ู„ูุญูู‡ูู†ู‘ูŽ. ููŽู‚ุงูŽู„ูŽ: ุจุงูŽุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ูŽูƒูŽุŒ ุฃูŽูˆู’ ู‚ุงูŽู„ูŽ: ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง


"Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?"
"Sudah," jawabku.
"Dengan gadis atau janda?" tanya beliau lagi.
"Dengan janda," jawabku.
"Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersamanya dan ia bisa tertawa bersamamu?" tanya beliau.
"Ayahku, Abdullah, meninggal dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yang sama dengan mereka. Maka aku pun menikahi seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat mereka," jawabku.
Beliau berkata: "Semoga Allah memberkahimu", atau beliau berkata: "Semoga kebaikan bagimu." (Hadist Riwayat Al-Bukhari no. 5367 dan Muslim no. 1466)


Sahabat Hushain bin Mihshan berkata: "Bibiku berkisah padaku, ia berkata: "Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam karena suatu kebutuhan, kemudian beliaupun bertanya:


ุฃูŽูŠู’ ู‡ุฐูู‡ู! ุฃูŽุฐูŽุงุชู ุจูŽุนู’ู„ูุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ู†ูŽุนูŽู…. ู‚ุงูŽู„ูŽ: ูƒูŽูŠู’ููŽ ุฃูŽู†ู’ุชู ู„ูŽู‡ูุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ู…ุงูŽ ุขู„ููˆู’ู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ุงูŽ ุนูŽุฌูŽุฒู’ุชู ุนูŽู†ู’ู‡ู. ู‚ุงูŽู„ูŽ: ููŽุงู†ู’ุธูุฑููŠู’ ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชู ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ุงูŽ ู‡ููˆูŽ ุฌูŽู†ู‘ูŽุชููƒูŽ ูˆูŽู†ุงูŽุฑููƒูŽ


"Wahai wanita, apakah engkau telah bersuami?"
"Iya," jawabku.
"Bagaimana engkau terhadap suamimu?" tanya beliau.
"Aku tidak mengurang-ngurangi dalam mentaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali apa yang aku tidak mampu menunaikannya," jawabku.
"Lihatlah di mana keberadaanmu terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu," sabda beliau. (Hadist Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hal. 179)


Namun di sisi lain, suami yang baik tentunya tidak akan membebani istrinya dengan pekerjaan yang tidak mampu dipikul oleh istrinya. Bahkan ia melihat dan memperhatikan keberadaan istrinya kapan sekiranya ia membutuhkan bantuan.


Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam adalah gambaran suami yang terbaik. Di tengah kesibukan mengurusi umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau selalu menyempatkan waktu untuk membantu keluarganya dan mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan untuk dirinya sendiri tanpa membebankan kepada istrinya, sebagaimana diberitakan istri beliau, Aisyah radhiallahu ’anha ketika Al-Aswad bin Yazid bertanya kepadanya:


ู…ุงูŽ ูƒุงูŽู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชูุŸ ู‚ุงูŽู„ูŽุชู’: ูƒุงูŽู†ูŽ ูŠูŽูƒููˆู’ู†ู ูููŠู’ ู…ูู‡ู’ู†ูŽุฉู ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู -ุชูŽุนู’ู†ููŠ ุฎูุฏู’ู…ูŽุฉูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู-ููŽุฅูุฐูŽุง ุญูŽุถูŽุฑูŽุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู


"Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam di dalam rumah?"
Aisyah radhiallahu ’anha menjawab: "Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat." (Hadist Riwayat Al-Bukhari no. 676, 5363)


Dalam riwayat lain, Aisyah radhiallahu ’anhaa menyebutkan pekerjaan yang Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan di rumahnya:


ู…ุงูŽ ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูููŠู’ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูุŒ ูŠูŽุฎู’ุตููู ุงู„ู†ู‘ูŽุนู’ู„ูŽ ูˆูŽูŠูŽุฑู’ู‚ูŽุนู ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจูŽ ูˆูŽูŠูุฎููŠู’ุทู


"Beliau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya." (Hadist Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 540, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 419dan Al-Misykat no. 5822)


ูƒุงูŽู†ูŽ ุจูŽุดูŽุฑู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุดูŽุฑูุŒ ูŠูŽูู’ู„ููŠ ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุญู’ู„ูุจู ุดุงูŽุชูŽู‡ู


"Beliau manusia biasa. Beliau menambal pakaiannya dan memeras susu kambingnya". (Hadist Riwayat Al- Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 541, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 420dan Ash-Shahihah 671)


Wallahu a’lam bish-shawab, semoga Artikel Islami ini dapat memberi manfaat dan menambah hazanah keilmuan kita, Amiin

Posted in My Self. 0 Comment »

Beratnya Cinta Hanya Untuk Dia

Manusia dan Cinta tak pernah terpisahkan, setiap manusia pasti memiliki cinta, dan cinta ternyata mampu membius segalanya, ini fitrah. Ketika cinta telah berbicara, apa yang dapat mengalahkan. Hanya saja kita terkadang lupa, siapa sebenarnya yang pantas kita cintai?.


Manusia bisa saling mencintai, sesama jenis dalam konteks shilah, maupun dengan lawan jenis dalam perspektif ukhuwah. Namun ketika ditanya, Apakah engkau mencintai tuhanmu lebih dari segalanya?, jawabannya rata-rata ia. Namun pada prakteknya sering berseberangan. Ini yang sulit dimengerti.


Sepertinya saya tidak salah jika mengatakan betapa Berat cinta hanya untuk Dia, karena memang inilah kenyataannya. Manusia lebih akrab dengan duniawi daripada TuhanNya. Sehingga sering terjadi cinta terhadap duniawi mengalahkan cinta terhadap Tuhannya. Padahal Cinta kepada Allah adahal yang sangat utama.


Kita bisa belajar banyak dari kisah Robi’ah Al Adawiyyah yang rela tak menikah demi cintanya kepada Rabb. Tidak munafik rasanya, jika Cinta hanya untuk Dia, Sang Perkasa, memang berat. Namun tidak ada salahnya jika terus dicoba. Allah mengirim surat kepada Manusia dengan Alqur’an, apa berat membaca surat cintanya,yang penuh dengan kata-kata indah dan janji-janjiNya, bukankah Allah Tidak Pernah mengingkari Janji?. Mungkin kita belum lupa, ketika kita masih remaja, mendapat kiriman lembaran surat cinta dari sang kekasih. Kemanapun pergi, surat cinta itu sengaja dibawa, dan dibaca berulang-ulang. Alangkah nistanya kita, jika kita merasa tak sempat membaca surat cintaNya.


Semoga teriring berjalannya waktu, rasa cinta kita kepada Allah, senantiasa dan selalu tumbuh. Amiin. Dan mudah-mudahan koleksi Artikel Religi di blog ini semakin banyak dan bermanfaat.

Posted in My Self. 0 Comment »

Cinta Pada si Dia? Atau Cinta Kepada DIA?

Seorang remaja yang sedang jatuh cinta terhadap seorang lawan jenisnya, punya beberapa ciri khusus. Kalau mendengar nama si dia disebut-sebut, remaja yang kasmaran ini langsung bergetar hatinya. Kadang mukanya bisa berubah warna jadi merah jambu. Timbul perasaan di dalam hatinya, bukan rasa anggur, bukan rasa strawberry, tapi rasa cinta, yang sulit diukirkan dengan kata-kata (begitu kata beberapa pujangga). Buat yang tidak bisa mengatur dan menyimpan perasaan biasanya bisa salah tingkah. Apalagi kalau bertemu orangnya langsung.

Remaja yang kasmaran senang banget kalau dapat surat dari doi. Tulisannya disimpan baik-baik, dibaca berulang-ulang, kadang sampai lupa sudah berapa kali tuh tulisannya dibaca. Lekuk-lekuk hurufnya diperhatikan dengan teliti, kertasnya dijaga rapi jangan sampai lecek, dan sebagainya. Pokoknya tulisan si dia itu selalu dianggap surat cinta walaupun surat itu kadang bukan surat cinta. Semakin dibaca lagi, semakin tambah cinta, begitu kira-kira. Ya namanya juga lagi kasmaran, apa aja yang datang dari doi itu dianggap "wah" deh, bikin hati jadi "pinky".

Jangankan surat, sms dari si dia saja bisa disimpan berhari-hari, malah sampai memory handphone penuh loh. Begitu juga email. Terus, kalau doi minta tolong sesuatu, diusahakan deh bisa segera dipenuhi. Betul-betul pengorbanan cinta. Dunia serasa milik berdua.

Itulah sosok remaja yang sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Dia ingin sekali mendapatkan perhatian dan tempat khusus di hati sang pujaan hati.

Itulah cinta, cinta manusia pada seorang manusia.

Tapi ada bentuk cinta yang lain lagi. Inilah cintanya orang yang beriman. Bagaimana itu? Ayo kita baca firman Allah SWT berikut ini:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka..." (QS. Al Anfal: 2)

Tidak ada yang lebih mereka cintai selain kepada Allah Yang Maha Pecinta. Bagi mereka, cinta kepada Allah adalah cinta yang paling utama, baru bisa mencintai yang lain karena Allah. Maka gemetarlah hati mereka manakala disebut nama Allah.

Lalu ciri mereka berikutnya adalah,

"...dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al Anfal: 2)

Kalau remaja kasmaran tadi semakin cinta ketika membaca surat dari doi, maka orang yang beriman ini semakin cinta, semakin beriman kepada Allah ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Orang ini percaya sepenuhnya kepada Allah. Dia tidak mengeluh terhadap perintah Allah, dia ridha kepada Allah, dan dia cinta kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan bertawakal kepada Allah.

Cinta mereka kepada Allah tidak cukup sampai di sini. Perasaan cintanya tidak hanya manis di bibir saja dan tidak hanya untuk dirinya saja. Tapi cintanya juga direalisasikan. Dia mendirikan shalat, dan juga menafkahkan sebagian rizkinya

"(orang-orang yang beriman yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. Al Anfal: 3).

Oleh karena itu berbahagialah jika di sekitar kita ada teman yang mencintai Allah. Karena orang yang mencintai Allah pasti juga mencintai sesamanya, dia pasti juga menyayangi sesama manusia. Jika dia diberikan rizki oleh Allah, maka dia akan menafkahkan sebagian rizkinya itu untuk yang lain yang membutuhkan.

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni’mat) yang mulia." (QS. Al Anfal: 4)

Inilah cinta hakiki, yang dimiliki oleh mereka yang beriman dengan sebenar-benarnya. Balasan bagi para pecinta sejati adalah beberapa derajat ketinggian di sisi Allah dan ampunan serta rizki yang mulia.

Jadi kita mau pilih yang mana? Cinta semu yang hanya mengharapkan rasa sayang dari si doi (setelah itu kita semua mati), ataukah cinta hakiki yang mendapatkan beberapa derajat ketinggian di sisi Allah dan ampunan serta rizki yang mulia?

Orang yang berakal sehat, tentu akan memilih model cinta yang kedua.

Posted in Campur. 0 Comment »