Bekerja sebagai ibadah, akan menggapai sukses

Setiap insan di dunia ini pasti mempunyai cita-cita. Hanya cita-cita itu bervariasi bentuk dan cara pencapaiannya. Tapi benar kan,kalau kita pasti punya cita-cita. Jangan tutupi dengan ucapan, “ah enggak ah .Aku tidak punya cita-cita. Asal aku bisa hidup tenang, punya uang banyak yah sudah”. Ha… , itu kan bentuk cita-cita juga namanya. Hanya ungkapannya saja yang berbeda dari orang yang lain.

Nah kalau kita sudah sepakat, tentang hal tersebut di atas, mari kita lanjutkan. Karena kita punya cita-cita, tentu kita akan berusaha untuk mewujudkan cita-cita itu. Kita akan bekerja, berbuat hal-hal yang kita anggap akan dapat menggapai nya. Ada yang belajar dengan sungguh sungguh, menempuh pelajaran di sekolah pilihan yang sesuai dengan cita-
cita kita. Dan setelah selesai menamatkan pendidikan, kita mulai mencoba mencari pekerjaan yang cocok. Baik dengan bekerja untuk mendapatkan gaji, atau pun bekerja secara mandiri. Bekerja wira swasta, misalkan membuka bengkel, membuka toko, membuka warung, membuka restoran, kafe, buku….(untuk apa?) Maksudnya membuka buku untuk mulai menulis, ya menulis apa sajalah. Karena memang bercita-cita ingin jadi penulis. Tapi
itu dahulu, kalau sekarang ada pilihan, membuka laptop atau PC lalu membuat tulisan di sana. Ada juga yang membuka tanah untuk bertani, membuka kebun. Pokoknya bukalah pikiran Anda dan berbuatlah apa saja untuk menggapai cita citamu. Apa pun bentuknya. Karena tak akan ada cita-cita yang dapat diwujudkan tanpa berbuat apa-apa.

(Nah, lalu apa kaitannya dengan judul di atas, Jangan ngaco ah.)

(Tunggu dulu… pelan-pelan dong, nanti salah lagi aku menuliskan ini. Mengganggu sajalah kau oi)


Nah kalau kita tahu bahwa untuk menggapai cita, setinggi apa pun cita-citamu, kita mesti
bekerja. Sekarang kita masuk kepada alasan dasar karena apa dan mengapa kita mesti bekerja. Satu hal seperti yang saya katakan di atas, cita-cita. Tapi itu saja belumlah cukup. Karena ternyata cita-cita kadang bisa berubah-ubah juga, dengan datangnya pertambahan usia. Kebutuhan hidup, barangkali. Karena kalau tidak bekerja, bagai mana kita memenuhi kebutuhan hidup kita ini. Ikatan kerja atau semacam kontrak kerja dengan majikan. Atau karena alasan gengsi… kalau cuma menganggur duduk-duduk di simpang jalan, malu juga sama cewek-cewek, mana ada yang mau.Cuma diriku yang tak laku-laku (pinjam istilah WALI)

Tapi dari semua alasan dasar yang memotifasi kita untuk bekerja, pernahkah kita berpikir tentang satu alasan yang paling mendasar, bahwa sebenarnya kerja itu merupakan ibadah. Salah satu bentuk perwujudan rasa terima kasih kita kepada Tuhan yang telah menjadikan kita. Karena Allah SWT telah menciptakan kita dengan anggota tubuh yang begitu lengkap dan sempurna baik bentuk maupun fungsinya . Andai tidak kita pergunakan untuk membantu sesama, orang yang lain, menjaga dan menyayangi makhluk hidup, termasuk juga kelestarian alam dan lingkungan hidup, yang juga dijadikan-Nya apalah arti semua kelengkapan itu?

Kita hanya akan menjadi parasit, benalu dan bahkan ‘perusak alam’. Kita akan jadi beban masyarakat.

( Menyambung enggak ya? Kalau saya salah beritahu saya ya, untuk lebih menyempurnakan tulisan ini…he …hehe :) )

(Oke…lah, tapi apa hubungannya dengan sukses?)

Sukses… ? Sukses itu, kan berhasil! Nah, kalau semua kerja yang kita lakukan kita landasi dengan kesadaran bahwa itu adalah ibadah. Bentuk terima kasih kita kepada Allah SWT, kita akan melaksanakannya dengan ikhlas, penuh kesadaran dan bukan hanya terpaksa. Dan biasanya sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas, apalagi dengan rasa sukacita, bukan sebagai tugas, kewajiban, apalagi sebagai ‘beban’, maka hasilnya akan berbeda. Kita akan lebih teliti, lebih bersemangat, dan kreatifitas pun akan muncul di saat kita mengerjakan sesuatu.

Nah kembali ke awal paragraf diatas, sukses = berhasil. Kalau hasil yang kita capai sudah demikian baik, teliti, penuh kreatifitas dan sebagainya, dsb….. bukan kah itu berarti
suatu tanda keberhasilan?. SUKSES dong!? Dan kalau sudah sukses alias berhasil, rasakanlah ada suatu kebahagiaan menyelinap di sudut terdalam dari hati kita. Nanti lita bahas lagi ya, lebih mendalam. Kalau saat ini dibahas, Anda akan bosan membacanya. Sampai jumpa.
 

Posted in Campur. 2 Comment »

Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur

 Pembahasan judul diatas sebenarnya hanya ingin mengungkap menganai Iklas dan Syukur secara sederhana saja namun biar agak terkesan Dahsyat jadinya Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur. Arti mudahnya Iklas itu adalah menerima segala yang kita peroleh atau kita dapatkan dengan hati yang lapang tanpa ada penyesalan ataupun kekecewaan. Sedangkan syukur adalah Mengucapkan terima kasih atas segala sesuatu yang kita terima atau kita peroleh tanpa harus menyesal karena kekurangan berhura-hura karena kelebihan. Mengenai ikhlas dan syukur disini berarti kita memposisikan diri sebagai penerima dan pemberinya bisa dari sesama manusia ataupun dari Tuhan. Jadi simplenya bahwa ikhlas dan syukur itu berbeda, ikhlas itu menerima dengan lapang dada alias “lelo legowo” sedangkan Syukur itu merupakan ucapan terimakasih.

Contoh sederhana dari Dahsyatnya Ikhlas adalah kita akan jauh lebih tenang dan tak akan ada resah-gundah-gelisah-dkk. Dengan ikhlas kita bisa terhindar dari sifat sombong , iri, dengki, dkk. Demikian pula dengan Dahsyatnya syukur yang bisa membuat kita hidup tentram dan tenang ‘nyaman,damai tanpa ada rasa kekurangan. Dengan Syukur kita bisa terihindar dari rasa iri’serik’rasa tidak puas’dkk.


Jika seseorang sudah bisa ikhlas dan bersyukur maka dia tak akan pernah merasa kekurangan bahkan merasa paling beruntung walaupun kadang di mata orang terpandang kurang, dengan ikhlas dan bersyukur atas apa yang kita terima maka hidup kita akan lebih tenang dan tidak akan merasakan kekurangan bahkan bisa saja terasa berlebihan.

Meski kita hanya ikhlas dan bersyukur dengan cara yang sederhana namun jika melakukanya dengan sungguh-sungguh dah pasti kita bisa merasakan apa itu Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur. Kita bisa mulai belajar ikhlas dan syukur dari hal-hal kecil, misalnya kita iklas dan mensyukuri kondisi wajah kita, entah itu rupawan ataupun tak rupawan, jangan sampai tak merasa rupawan dan jangan pernah perasa dirimu tak rupawan karena itu semua adalah pemberian dari Tuhan yang harusnya kita syukuri. Pada dasarnya seseorang akan menemukan Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur jika dia mau berbuat ikhlas dan juga bersyuku
r. 
 

Posted in My Self. 7 Comment »

Dakwah 4 Miliar !

Menilik judul artikel ini bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Dari jaman nabi hingga sekarang memang tidak terelakkan sebuah kenyataan bahwa dakwah memerlukan biaya. Dakwah merupakan aktivitas yang dilakukan secara terencana, bertahap dan berkesinambungan. Kegiatan-kegiatannya yang merupakan perwujudan dari konsep dakwah itu sendiri haruslah bermutu dan tepat sasaran.

Dalam rangka merealisasikan konsep dakwah yang merupakan ruh dari berbagai harokah islamiah, tentunya dibutuhkan sarana (dana) untuk mewujudkan konsep-konsep dakwah dan rencana-rencana kegiatan tersebut menjadi sesuatu yang nyata yang bisa dilihat dan dirasakan oleh sasaran dakwahnya;

Andaikan dana bisa didapat dan diperoleh dengan halal sebesar 4 milliar, hmmm kira-kira mau diapain ya dana itu? mungkin untuk bikin suatu acara dakwah yang megah dan wah, atau mungkin untuk mendirikan pondok pesantren (eh kira-kira cukup engga ya?) atau,…


atau mungkin anda bisa membantu saya untuk memberikan ide, betul ekspresikan ide-ide dakwah anda dibawah artikel ini, anggap saja anda dapet dana dakwah sebesar 4 milliar, kira-kira mau diapain ya?

Moga-moga dengan membaca artikel ini, akan banyak bermunculan ide-ide dakwah yang bisa berguna bagi siapa saja yang memerlukannya. [Abu Fikri]
 

Puasa Yuk !

Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?

“SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat ngejalanin, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,” begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar menjalankan ibadah shaum. Ada banyak kegiatan yang Wati suka lakukan. “Yang paling terkesan kalo ada acara Pondok Ramadhan di sekolah. Wah, heboh habis! Jarang-jarang kan kita bisa makan rame-rame bareng guru dan temen-temen,” ceritanya gembira.

Lia juga sama, gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Cewek yang kuliah di salah satu STIE di Bogor ini mengaku banyak mengikuti kegiatan positif saat puasa di lingkungan tempat tinggalnya. “Kebetulan aktif di DKM Masjid dekat rumah. Masjid jadi rame kalo bulan Ramadhan gini. Tiap hari bisa buka shaum gratis, he..he..he…,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Selain itu, di kampusnya dia juga lumayan aktif di rohis. Biasanya, dia dan teman-teman segeng rohisnya juga ngadain buka puasa? bersama meski nggak tiap hari, sanlat Ramadhan, dll. “Kalau itu sih, udah tradisi,” katanya seperti model iklan Biskuit Roma di teve itu. Pernah nggak seh malas? ”Yah, namanya orang puasa. Aku juga suka lemes, malas dan kadang mudah emosi. Tapi, kita kan musti bisa menahan diri, kalo nggak puasanya sia-sia dong!” katanya rada-rada ngeles. Padahal, emang ada benernya sih.

Puasa vs Wanita

Kewajiban berpuasa, diperintahkan Allah SWT bagi laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183 (kamu pasti hafal kan!) yang artinya ‘Hari orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kami, agar kamu bertaqwa.’ Begitu pula Sabda Rasulullah: ‘Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu’ (HR Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).

Seruan itu bersifat aam atawa umum baik bagi cowok maupun cewek. Artinya, nggak ada alasan buat ninggalin kewajiban itu. Kendati kamu cewek, kamu pasti kuat menjalankan puasa, sama dengan kaum Adam. Karena, Allah SWT Zat Yang Maha Mampu mengukur kemampuan kamu.

Memang, ada saatnya di mana kamu haram meneruskan puasa, yakni jika mendapatkan haid dan nifas (keluar darah sehabis melahirkan). Hanya saja, meski kamu bebas tugas puasa pada saat itu, kamu musti menggantinya (mengqadha’) di hari lain. Ceritanya, kamu tuh ngutang puasa sama Allah SWT yang musti kamu bayar segera di luar Bulan Ramadhan.

Selain itu, kalo kamu tiba-tiba jatuh sakit yang mengganggu fisik atau mental kamu, maka boleh membatalkan puasa. Syaratnya tetap, wajib mengganti di hari lain. Bagaimana dengan wanita yang hamil dan menyusui? Bila wanita hamil itu ada perasaan takut dengan berpuasa bisa membawa mudharat diri dan janin dalam kandungannya, maka dia boleh tidak puasa. Sebagai gantinya, wajib meng-qadha di hari lain. Sementara jika pertimbangannya karena khawatir akan keselamatan janinnya semata, maka harus meng-qadha di lain hari sekaligus membayar fidyah.


Puasa dan Kesehatan

Selain hukumnya memang wajib, sebetulnya apa sih manfaat puasa? Mungkin ada sudut hatimu yang usil bertanya begitu. Meskpun memang, harusnya nggak perlu kamu tanyakan kenapa musti puasa. Sebab itu kewajiban dari Allah SWT yang nggak perlu dipertanyakan latar belakangnya, tujuan, misi, visi dan manfaat kegiatan itu. (kayak proposal seminar aja). Tapi, wajar kalo kamu penasaran. Orang lapar kok dilarang makan, haus dilarang minum. Aneh, kan! Namun dari sisi medis, bisa dijelasin kok kira-kira manfaat puasa itu apa. Rasulullah sendiri bersabda: Shuumuu nashimuu yang artinya berpuasalah supaya kamu sehat.

Pada waktu melakukan puasa, terjadi perubahan metabolisme tubuh kita akibat penghentian total asupan energi, bahan pembangun serta air selama periode aktif di siang hari. Karena tidak ada asupan energi, tubuh menggunakan cadangan energi yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, sisa-sisa bahan makanan yang tidak diperlukan tubuh tidak menumpuk, melainkan langsung dibuang sehingga tubuh lebih sehat. Pada keadaan puasa ini, kerja lambung dan perangkat pencernaan lain juga berubah. Tentu saja kerjanya jadi lebih enteng, sehingga organ-organ pencernaan bisa sedikit santai dan fungsinya bisa berjalan dengan lebih baik.

Secara keseluruhan, perubahan metabolisme pada seseorang akan tampak secara objektif dan dirasakan dalam bentuk penurunan berat badan. Wajar jika ada yang menjalankan puasa bila ingin melakukan diet penurunan berat badan. Karena memang terbukti, puasa adalah cara yang aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.

Nah, selama puasa banyak perubahan yang terjadi. Pertama, perubahan kebiasaan waktu makan dan minum.
Lebih kurang 14 jam mulai terbit fajar sampai terbenam matahari kita tidak makan dan minum. Makan dan minum hanya dilakukan malam dan menjelang pagi. Hal tersebut akan menimbulkan rasa lapar dan haus. Karena perubahan pola makan ini, akan terjadi pula perubahan pada pengosongan lambung. Lamanya pengosongan lambung tergantung isi lambung. Isi lambung yang cair lebih cepat kosong daripada yang padat. Makanan padat banyak yang mengandung karbohidrat akan meninggalkan lambung dalam 2-3 jam. Sedangkan bila banyak mengandung lemak akan lebih lama berada di dalam lambung. Bila kita berbuka atau sahur, kandungan makanan yang kita makan akan mempengaruhi waktu timbulnya rasa lapar.

Saat puasa juga terjadi perubahan pola tidur. Kita harus bangun dini hari untuk makan sahur. Bagi yang tidak biasa bangun shalat malam atau subuh di awal waktu, ini sangat berat. Namun akan segera diterima dan tubuh akan menyesuaikan diri.

Selain itu, juga terjadi perubahan emosi. Ingat, orang lapar biasanya gampang marah. Nah, disinilah diuji untuk mengendalikan amarah, takut, benci, sedih, dll. Pokoknya, semua yang termasuk keluarga stres musti dihindari agar puasanya sukses. Manifestasi fisik dari emosi disalurkan melalui sistem saraf somatik dan otonom. Orang yang marah misalkan, akan terlihat tegang, jantung berdebar keras, dan tekanan darah tinggi. Hal itu tergolong gangguan psikosomatik. Nah, dengan berlatih mengendalikan emosi dan bebas dari rasa berdosa, dapat membebaskan orang dari gangguan psikosomatis itu. So, kejiwaan kamu lebih sehat!

Boks

Tips Ta’aruf Online yang Sehat

Tentu kita ingat banget dengan lagu Saykoji yang menyentil kebiasaan gaya hidup kita yang akrab dengan dunia online. Dari bangun tidur sampe tidur lagi, yang namanya online itu adalah wajib hukumnya. Halah, udah kayak solat lima waktu aja.

Nah, kebanyakan muda-mudi sekarang juga memanfaatkan dunia maya tidak sekedar untuk mencari informasi, main game online atau narsis-narsisan di friendster atau facebook tapi juga dijadikan ajang mencari kekasih idaman, ada pula yang berpacaran secara online, karena hal ini lebih dianggap menjaga diri perbuatan-perbuatan yang mendekati zina. Apakah kamu termasuk orang yang sedang mengalami hal ini?

Jika kamu salah satunya, tidak ada salahnya berpacaran secara online asalkan tetap sehat. Karena yang namanya dunia maya, semuanya serba abu-abu, tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang kamu kenal di dunia maya sesholeh seperti yang kamu bayangkan. Jangan-jangan pacar dunia maya kamu adalah seorang penjahat bertopeng dewa, alias baik-baik pada awalnya dan malah ngancurin kamu pada akhirnya.


Nah, berikut ada tips bagi kamu yang sedang mencari kekasih di dunia maya, tapi tips ini juga masih berguna kok bagi kamu yang sedang menjalani pacaran online yang sehat:

1. Perhatikan profilnya. Perhatikan benar-benar profilnya yang ada di email atau situs pertemanan yang digunakan. Pastikan bahwa apa yang ia tulis di profil tersebut benar atau jangan-jangan cuma bohongan. Jika profilnya palsu dan berbeda dengan keterangan yang ia berikan kepadamu, maka kamu sudah bisa menilai kejujurannya sejak awal.

2. Jangan pernah memberikan alamat. Baik itu alamat rumah atau alamat dimana kamu bekerja. Ketika kamu online, misalnya chatting dengan si “calon”, jangan pernah memberikan alamat lengkap kepadanya, jangan pula meletakkan alamat lengkapmu di situs jejaring sosial seperti friendster atau facebook. Pikirkan matang-matang sebelum
kamu mencantumkan alamat kamu di situs tersebut. bagaimana jika ada orang lain yang berniat jahat terhadapmu, tentu ia akan mudah menemukanmu. Ginger Ema pengarang buku Fearless Dating After Divorce berkata “tak peduli berapa kali kamu ngobrol dengannya baik di telepon, lewat email dan seringnya kamu melihat profilnya namun ia tetaplah orang asing yang tidak harus tahu dimana kamu tinggal.”

3. Hindari tempat sepi. Jika kamu ingin bertemu dengan pacar online kamu, hindari tempat yang tidak kamu kenal, usahakan untuk ketemuan di tempat umum dan terjangkau dengan pos keamanan (polisi) atau carilah tempat ya
ng kamu anggap benar-benar aman berada di tempat tersebut.

4. Ajak teman atau saudara. Jika seorang kenalan ingin menemuimu, ajaklah saudara atau kerabat dekat untuk menemuinya, katakan padanya bahwa kamu bersama teman atau kakak kamu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi tindakan buruk yang bisa saja dilakukan kenalan baru kamu. kenalan yang baik tentu tidak akan menolak keputusan tersebut.

5. Bawalah kendaraan sendiri. Jika tidak ada seorangpun yang dapat menemanimu, maka bawalah kendaraan pribadi
sebagai teman, bawalah sepeda jika kamu anak yang sederhana atau mobil jika kamu anak tajir. Hal ini adalah cara halus untuk menolak ajakan dia bila dia menawarkan tumpangan kepadamu. Katakan juga tujuan kamu membawa kendaraan karena kamu juga punya janji dengan teman kamu di tempat lain. Tentunya kamu juga harus mengadakan kontak sebelumnya dengan temanmu, sehingga kamu bisa sedikit bersandiwara jika kamu sudah tidak merasa nyaman lagi ngobrol dengannya dan kamu pun bisa pergi kapanpun, lalu pulang ke rumah dengan aman.

6. Rahasiakan identitas kamu sesungguhnya. Ini bukan mengajari untuk jadi pembohong, melainkan agar identitas kamu tidak mudah didapatkan oleh orang yang baru mengenalmu. Membuat email dengan username yang memuat potongan namamu, tidak menuliskan terlalu detail data pribadimu di profil adalah bagian dari merahasiakan identitas. Hal ini juga untuk memancing pertanyaan dari dirinya, namun tidak pula kamu harus mener
angkan sedetail-detailnya dirimu pada saat ia bertanya.

7. Memblock nomor telepon. Belajarlah untuk memblok nomor telepon atau handphone kamu ketika dihubungi kenalan yang tidak kamu harapkan jika telah terlanjur memberikan nomor kontak kamu padanya. Dengan memblock nomor teleponnya, kamu tidak perlu repot-repot mencari alasan menolak undangannya untuk bertemu dan sebagainya.

8. Jangan membawanya ke rumah. Selain menabrak adat ketimuran, kamu juga telah membuka celah seseorang untuk berbuat buruk terhadap dirimu dan keluargamu. Kamu juga akan sulit menolak kedatangannya karena ia akan mudah datang kapan saja dia mau tanpa confirm terlebih dahulu. Bayangkan saja kalau ia datang dengan bersebo sambil menenteng senjata api atau pedang. Kamu akan terkejut pingsan karena telah memberikan alamat rumah kamu pada perampok atau teroris.

Oleh karena itu, hati-hatilah mencari pasangan baru lewat dunia maya, banyak orang jadi-jadian yang berada didalamnya, fikirkan matang-matang risiko diatas yang bakal mungkin kamu alami sebelum kamu memasuki dunianya. Wallahu a’lam bisshawab.
 

Posted in Campur. 1 Comment »

Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Akhwat

Para ikhwan sebaiknya membaca tulisan ini, apalagi jika berada di usia pernikahan. Para akhwat baca juga ya, untuk melengkapi dan mengevaluasi tulisan ini.

Ada beragam reaksi ikhwan saat ditolak akhwat, entah itu ditolak untuk bertaaruf, atau ditolak setelah taaruf dilakukan dan yang pasti ditolak meminjam handphone bukan bagian dari pembahasan ini. Mengikuti kebiasaan peradaban dunia, di mana kaum pria dituntut pro aktif untuk mencari dan meminta kesediaan kepada calon pasangan hidupnya, sudut pandang inilah yang saya ambil.

Di beberapa bagian dunia dan beberapa kasus yang berbeda, judul postingan ini bisa dibalik, “Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Ikhwan”, meski mungkin argumentasi dibawah khas banget akhwat. Dominasi logika pada ikhwan dan perasaan pada akhwat tentunya banyak berpengaruh.

Sebagaimana seorang ikhwanyang membutuhkan keberanian ekstra, tekad dan
kepercayaan diri saat mengungkapkan niatnya, akhwatpun merasa serba salah ketika hendak menyampaikan tanggapan atau jawaban.

Seorang ikhwan harus siap menanggung perasaan malu, siap bersedih dan menerima keputuhan secara sportif bila ditolak. Akhwatpun harus memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan bahwa dia tidak bersedia karena suatu alasan, dengan cara yang tidak menyakitkan hati dan mencederai silaturahmi. Atau bagaimana supaya
bisa menyampaikan, “Yes, I do” secara anggun tanpa membuat pipi memerah karena malu.

Seorang ikhwan yang berniat tulus untuk berrumah tangga, mengerjakan sunnah rasul tanpa kaitan emosi (yang muncul terlebih dahulu) dengan akhwat tertentu, biasanya lebih lapang dalam menerima kenyataan dan menghadapi proses yang dijalaninya. Jika satu ikhtiar belum berhasil, wajar sekali jika dia kemudian mengajukan ikhtiar yang lain. Tetapi jika sejak awal terlalu banyak melibatkan perasaan dan angan-angan, bisa jadi di kemudian hari ikhwan merasa sedih, tidak percaya diri, merasa tidak berguna, frustasi, punah harapan dan kehilangan semangat hidup yang saya bahasakan sebagai patah hati. Hmmm, padahal bisa saja, saat menolak akhwat merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama. Apa boleh buat, belum jodoh kali ya.

Kenapa tidak ada (atau hanya ada sedikit) alasan untuk patah hati saat ditolak akhwat? Karena para ikhwan perlu tahu
fakta-fakta penyebab penolakan berikut ini. Dan hampir semuanya bukan karena ikhwan tersebut buruk, tidak berguna, bodoh, inferior atau apalah yang menyebabkan patah hati itu muncul. Apa saja siy?
Waktu yang kamu (ikhwan) ajukan tidak masuk akal. Baru semester dua udah ngajak nikah. Waa… berat tuh untuk sebagian besar akhwat kalo nikah sambil kuliah. Alhamdulillah, saya mendukung sekali jika itu atas kesadaran untuk menjauhkan diri dari maksiat dan dengan pertimbangan yang matang. Bedakan antara menyegerakan dengan
tergesa-gesa ya. Jika sudah jelas kamu baru akan menikah paska lulus, ngapain ngajak nikahnya sekarang? Keburu jamuran.
Timing-nya kurang tepat. Plan nikah kamu setengah taon lagi, makanya sudah gencar ikhtiar ini-itu. Dan kamu nembak akhwat yang baru diizinkan menikah dua taon lagi. Jika bersedia, mungkin dia akan membujuk ortunya. But, tetap saja peluangmu berkurang.
Akhwat terlalu perfeksionis. Karena saya pribadi orangnya simpel dan sering melakukan sesuatu secara spontan dan otodidak, kadang susah juga menerima kenyataan ini. Tapi memang ada kan akhwat (ikhwan juga) yang seperti ini. Kalau kapasitas kita juga berkelas, bolehlah. Tapi kalau ortu kita aja sudah memudahkan dengan tidak memasang kriteria tertentu, ngapain kita membuat sesuatu yang harusnya dipermudah malah dipersulit? Kayak motto birokrasi aja, “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?” Gini lho, contoh kriteria yang perfeksionis; good looking, minimal S2, mapan, suku Jawa, hafal minimal 3 Juz, sudah berdakwah di masyarakan minimal 2 tahun. Hmm… mirip lowongan pekerjaan deh.

Caramu tidak tepat dimatanya. Ada akhwat yang mensyaratkan harus lewat murabbiyah-nya atau BKKBS. Ada yang fleksibel, yang penting sesuai syariat. Ada juga yang lebih mudah luluh terhadap ikhwan yang berani tembak langsung ke ortunya (teman saya ni, bu dokter lho…), atau terpesona ketika ikhwan berani to the point, “taaruf yuk?”, meski mereka tidak begitu mengenal daripada pake ‘pendahuluan’ yang berpotensi mengotori hati dan silaturahmi.
Ada prinsip yang teguh dipegang olehnya. Ini bisa jadi agak childish. Misal, karena di mata akhwat LDK di kampus te o pe be ge te, diam-diam dia pingin suaminya nanti anak LDK juga. Karena memang biasanya anak LDK tersebut sholeh, militan, gadhul bashar, bertanggung jawab dan sederet hal keren lainnya. Jadi, meski kamu (aktifis dakwah) ikhwan tulen dia mikir dua kali untuk menerimamu. Mungkin dia memiliki citra tidak baik tentang organisa
simu atau dia butuh waktu lebih untuk mengenal kesholihanmu. Sholih itu berarti keren Atau juga prinsip lain yang lebih dewasa dan bertanggung jawab yang tidak dia sampaikan padamu.
Dia normal. Thats right! Gimana mau nerima kamu wong kamu dan dia sama-sama akhwat? Serius, paska nulis draft untuk postingan ini, seorang akhwat minta pertimbangan saya, bagaimana cara meluruskan temannya, yang dia curigai ada something happen dengan sesama muslimah.
Kamu terlalu nyebelin di matanya. Kamu siy, pake SMS tiap hari, minta tolo
ng ini-itu, nelpon nggak penting banget, cerewet dan over pede. Padahal udah jelas banget yang seperti itu nggak ada dalilnya. Bukannya jatuh hati, kamu malah berkesan kayak parasit.
Trauma, trauma, trauma. Dia punya bokap TNI. Meski sayang sama bokapnya, ogah banget punya suami kayak bokapnya yang kadang militernya di bawa-bawa ke rumah. Atau tantenya pernah bercerita bahwa setelah belasan tahun menikah, sebenarnya beliau nggak pernah bisa mencintai suaminya. Korban perjodohan yang kurang sukses niy. So, dia selalu terngiang penderitaan tantenya saat harus hidup bersama orang yang tidak dicintainya. Pernikahan itu bukan tentang cinta kepada lawan jenis melulu, tapi tanpa cinta…. (silahkan baca sendiri buku2 pernikahan yang banyak beredar di sekitar kita. Salah satu rekomendasi saya trilogi Kupinang Engkau Dengan Hamdalah karya Ustadz Mohammad Faudil Adzim yang dijilid satu dalam judul Kado Pernikahan Untuk Istriku). Kembali ke poin trauma,
mungkin bukan karena kamu mau dijodohin sama ortu dia. Tapi akhwat itu selalu shock duluan jika belum nemnemukan poin of interest dari seorang ikhwan.

Mungkin dia punya lebih dari satu alasan untuk tidak menerima tawaranmu. Namanya saja tawaran, bisa diterima (alhamdulillah), bisa juga ditolak (allahu akbar!). Namanya saja tawaran, mungkin nantinya ada sederat syura’ dan musyawarah untuk kepentingan bersama.

Ngomong-ngomong, saya mendukung keberadaan BKKBS, salah satu lembaga nirlaba dibawah koordinasi PKS Djogdja, yang mempermudah para kader dakwah mendari pasangan yang memiliki kesama
an visi. Hanya saja, mekanisme pengisian formulir kadangkala menjadi legalisasi untuk menentukan kriteria setinggi langit. Kasian yang nyomblangin dong. Itu karena belum tau siapa calonnya ya. Padahal, saya rasa saat kita sudah jatuh cinta duluan pada seseorang (sudah sedikit mengenal), betapapun jeleknya dia, kita berusaha mempertahankan si dia. Nggak fair ya. Keberanian untuk mengajukan diri kepada BKKBS atau murabbi, bagi saya menjadi parameter sejauh mana seseorang sudah tsiqah dan ridha terhadap pilihan Allah dan dakwah. Allahu a’lam.

Wanita Tangguh

Tangguh, adalah kata yang sering dipakai untuk menunjukkan sifat seseorang yang sekeras batu karang. Tetapi mestinya tangguh juga berarti ‘lentur’, sehingga tidak akan pecah berkeping apabila dihantam keras.

Bagaimana dengan wanita tangguh ? Seorang teman berpendapat bahwa wanita tangguh adalah wanita yang tidak pernah menangis, tidak cengeng, tidak gampang mengeluarkan air mata dan tidak melow. Sementara teman yang lain berpendapat beda, katanya wanita tangguh adalah wanita yang tegar dan berani menghadapi segala cobaan dalam hidupnya.

Kubaca lagi di sebuah website, konon katanya wanita tangguh memperlihatkan keberaniannya meskipun ia sedang merasa takut, wanita tangguh memberikan yang terbaik dari dirinya kepada orang lain, wanita tangguh menyadari bahwa kesalahan dalam hidup bisa mendatangkan kebaikan dan manfaat yang membangun, wanita tangguh mengetahui dengan jelas bahwa DIA yang Maha Kuasa akan selalu menopang ketika ia lemah ataupun tersandung, dan wanita tangguh memiliki iman bahwa sepanjang perjalanan hidupnya ia akan tumbuh makin kuat.

Apa benar demikian ? Bisa jadi definisi wanita tangguh menurut tiap orang tidaklah sama. Apakah teman-teman juga punya definisi sendiri untuk wanita tangguh ?

Posted in My Self. 0 Comment »

Tausiyah : Obat hati yang keras

Jam 10.05 WITA, aku berangkat ke liqo’ di rumah mbak Yogi.
Ternyata belum ada satupun teman2 di sana dan aku selalu menjadi yang pertama hadir (terlanjur nggak suka “ngaret” sih). Hari hujan, jadi kali temen2 pada terlambat. Akhirnya acara di mulai pukul 11.00 tanpa murobbi (blio sms ke aku, katanya sakit campak nggak bisa hadir). Ini tausiyah yang dibawakan oleh mbak Yati, moga bermanfaat :
Obat hati yang keras
Faktor utama mengerasnya hati adalah karena jauhnya kita dari Allah, karena itu kita harus segera mencuci hati kita dengan cara bertaubat kepada Allah, yaitu dengan cara menghiba.

Allah memuji kholilullah Ibrahim A.S yang senantiasa menghiba kepadaNya. “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang penyantun, penghiba dan suka kembali (bertaubat) kepadaNya.” (Q.S Hud :75).

Tanda-tanda kerasnya hati :

1. Tidak mau menerima nasehat/kebenaran.
Walaupun sudah ditunjukkan dalili2nya dari Al-Qur’an dan Al-Hadist serta penjelasan dari para ulama, ia tetap bersikukuh dengan pendapat madzabnya, gurunya ataupun tradisi masyarakatnya.
2. Tidak bisa menangis atau takut ketika dibacakan ayat2 ancaman, siksa neraka dsb.
3. Takabur, pongah & sombong terhadap kebenaran dan manusia.
4. Lebih senang mengikuti hawa nafsu daripada kebenaran.

Obat keras hati :
1. Memperbanyak dzikrullah
Dzikir akan melembutkan hati yang kasar, menentramkan hati & memancarkan kewibawaan. Q.S Ar-Ra’du 28 : Ingatlah, hanya dengan dzikrullah hati menjadi tentram.
Rasulullah saw bersabda : Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan yang tidak mengingatNya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati (HR. Bukhari).

2. Menjauhi maksiat
Abdullah bin Mubarok berkata : Aku melihat dosa2 itu mematikan hati, memperturutkannya merupakan kehinaan, menjauhinya merupakan kehidupan hati.

3. Membaca Al-Qur’an dengan menghayati maknanya (tadabbur).

4.Menghadiri majelis ilmu
Salah seorang ulama salaf berkata : “Hendaklah kalian senantiasa duduk di majelis
para ulama”.
Allah akan menghidupkan hati yang mati (keras) dengan cahaya ilmu sebagaimana
Allah menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan.

5. Membaca kisah-kisah orang sholeh, karena kisah2 mereka bisa dijadikan tauladan.

6. Ziarah kubur
Sabda Rosulullah : Ziarahlah ke kubur, karena ia akan mengingatkanmu pada negeri
akhirat.
(H.R Ahmad, Ibnu Majah).

 

 

Jeritan Para Lelaki

He..he…jangan kaget ah lihat judulnya. Barusan terima ini nih di salah satu milis yang kuikuti. Kuposting aja deh ya, entah bener begitu nggak sih para cowok, kalian sendiri (para cowok) deh yang tahu jawabannya.
Maaf ya kalau yang punya blog belum sempat blogwalking (nih update blog aja baru dilakukan setelah 2 minggu dari postingan sebelumnya), biasa deh sok busy, semoga week end ntar bisa keliling2 ke blog teman2 deh.

Para Cowok mengungkapkan isi hatinya untuk para cewek :

1. Tidak Semua cowok seperti Deddy Corbuizer.
Jadi jangan harap kami bisa membaca isi pikiranmu disaat kamu manyun tanpa suara. Kami bukan penganut aliran kebatinan, yang mampu membaca batin seseorang. Apa susahnya sih bilang : “Aku laper, beliin dong aku pakaian baru, tolong rayu aku…!!”

2. Hari Minggu itu waktunya istirahat setelah 6 hari bekerja. Jadi jangan harap kami mau menemanimu seharian jalan-jalan ke mall.


3. Berbelanja itu BUKAN olahraga. Kami gak akan berpikir kearah situ. Bagi kami belanja ya belanja, kalau sudah pas ya langsung beli saja. Perbedaan harga toko A dan B cuma 1,000 perak, jadi nggak usah keliling kota untuk cari yang paling murah, buang-buang bensin aja. Capee deh, beneran!

4. Menangis merupakan suatu pemerasan.
Lebih baik kami mendengar suara petir, guntur, bom meledak daripada suara tangisanmu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa.

5. Tanya apa yang kamu mau. Cobalah untuk sepaham tentang hal ini.

Sindiran halus tidak akan dimengerti. Sindiran kasar pun tak akan dimengerti. Terang-terangan menyindir juga kami gak ngerti! Ngomong langsung knapa?!

6. Ya dan Tidak adalah jawaban yang paling dapat diterima hampir semua pertanyaan. It’s Simple !!

7. Cerita ke kami kalo pengin masalah kamu diselesaikan. Karena itu yang selalu kami lakukan. Pengen dapet simpati doang sih cerita aja sendiri ke temen-temen cewekmu. Jangan kepada kami.

8. Sakit kepala selama 17 bulan adalah penyakit. Pergi ke dokter sana !

9. Semua yang kami katakan 6 bulan lalu gak bisa
dipertimbangkan dalam suatu argumen. Sebenernya, semua komentar jadi gak berlaku dan batal setelah 7 hari. Janji kami untuk “menyebrangi lautan dan mendaki gunung” itu hanyalah klise, jangan dianggap serius.

10. Kalo kamu gak mau pake baju kayak model-model pakaian dalam, jangan harap kita seperti artis sinetron dunk.

11. Kalo kamu pikir kamu gendut, mungkin aja. Jangan tanya kami dong. Cermin lebih jujur ketimbang lelaki.

12. Kamu boleh meminta kami untuk melakukan sesuatu atau menyuruh kami menyelesaikannya dengan cara kamu. Tapi jangan dua-duanya dunk. Kalo kamu pikir bisa melakukannya lebih baik, kerjain aja ‘ndiri.

13. Kalau bisa, ngomongin apa yang harus kamu omongin pas iklan aja. Ingat, jangan sekali-kali ngomong apalagi pas saat tendangan penalty.

14. Kami bukan anak kecil lagi, jadi tak perlu mengingatkan : “Jangan lupa makan, selamat tidur”, dll. Menurut kami itu hanyalah pemborosan pulsa saja.

15. Kalo gatel kan bisa digaruk sendiri. Kami juga kok.

16. Kalo kami nanya ada apa dan kamu jawab gak ada apa-apa, kami akan berpikir memang gak ada apa-apa. Ingat, seperti no.1 di atas kami bukanlah pembaca pikiran. Ngomong baby…ngomong lah…!!

17. Kalo kita berdua harus pergi kesuatu tempat, pakaian apapun yang kamu pakai, pante
s aja kok. Bener! Jadi tidak ada alasan gak mau pergi kepesta karena tidak ada baju.

18. Jangan tanya apa yang kami pikir tentang sesuatu kecuali kamu memang mau diskusi tentang bola, game, billiar, memancing atau mungkin juga tentang teknik mereparasi mobil.

19. Kami malas berdebat secara hati dan perasaan. Ingat, kami hanya pakai logika!!

20. Terima kasih sudah mau baca ini. Iya, aku akan tidur disofa nanti malam depan rumah.
 

Inspirasi Dakwah : “Akhwat Pemulung”

    Namanya Ming Ming. Memakai gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1 jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.
Saat kelas usai, dia pergi ke perpus. “Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.” Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)
Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM. Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.
Namun dia tidak naik kendaraan untuk pulang. Sambil berjalan, dia memungut dan mengumpulkan plast
ik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.


Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang. Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine
it ?)
Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.
Ini adalah cerita nyata yang yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore tanggal 18/8/2009. Di Trans TV juga disiarkan hari selasa beberapa hari sebelumnya, di acara KEJAMNYA DUNIA Sungguh episode yang membuat bulu kudu kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.
1. Astaghfirullah. Gimana bisa kita masih sering mengeluh hanya karena tabungan ga nambah-namba
h?
2. Gila…(sensor) . Bagaimana dia bisa berjalan 10 km perhari? Kita aja jalan 20 menit ke kantor tiap pagi dan sore sudah merasa capek banget. Lemah.
3. Subhanallah. Semangatnya itu loh. Kalau dengar dia berkata-kata, sepertinya tidak ada rasa minder, malu, bahkan dia sangat yakin. Oh girl, you are so great. Wonderfull.

Source: email dari teman. Semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu bersyukur akan apa yang kita punya.
 

Help !! Mawar Putih

 

Semalam..


Saya diberi seseorang bunga mawar putih itu..

owh.. so sweet..

sudah 3 kali..

kira-kira, saya balas pake apa yah?

apa saya juga harus memberinya bunga?

atau ucapan “makasih” aja??

hmmm… ada yg bisa bantu saya kasih solusinya??
 

Posted in My Self. 2 Comment »

Dasar Akhwat [part six]

Yeaaah… I’m Back!!!

Assalaamu’alaykum Sodara-Sodara!!

Masih ingatkah dikau pada pembahasan qta yang satu ini?? Topik keren buat kamoe2 yang ngaku keren dan ditulis dengan gaya yang keren oleh akhwat yang keren (hallah!) Yup! Dasar Akhwat!!

Pren, dunia ini memang penuh warna yha! Merah kuning kelabu merah muda dan biru, meletus balon hijau, dorr!! (lho..lho..lho..). Coba bayangin kalo dunia ini cuma hitam putih, pasti kalian akan berseru, “nggak seruuuuu!!”. Ya, ane tau. Warna-warni itu indah. Begitupun dengan karakter manusia, penuh warna! Semua tercipta agar manusia bisa saling melengkapi, saling berbagi, saling menghormati, saling mengerti, saling menasehati, dan saling-saling yang lain. Owkeh, langsung aja kita kupas model akhwat yang lain. Semoga bisa diambil ibrohnya.

Kreativitas, emang kagak ade matinyeee…….Hidup Kreatif!!! Hiduuuupp…!!! (hehe.. Akhwat yag aneh!).

Here she is!!



14. Akhwat Tompi

 

      Pren, kenal Tompi kan? Itu tuh penyanyi asal Aceh aliran Jazz yang kalo manggung always pake topi (tau kan? tau kan?). Yeaah…biarlah Tompi hidup damai dan bahagia di sisinya (maksudnya, di sisi istrinya, hehe..). Qta gak lagi bicarain pemilik suara khas itu koq. Ngapain juga ngurusin orang, kita kan bukan akhwat Amigos, ya nggak?

Tompi di sini maksudnye, TOMboy en sPortI (ciyeh, keren kan?). Sekilas, akhwat ini emang gak da bedanya ma akhwat yang lain. Do’i tetep pake jilbab gede, kaos kaki, dan jubah kebesarannya. Tapi, kalo qta perhatikan lebih seksama (eit, ikhwan gak boleh ya), ternyata akhwat ini memang beda! Dari cara ngomongnya, gerak-geriknya, tindak-tanduknya, penampilannya, yang kesemuanya terkesan:
cool maaan!! Kalo akhwat lain suka buat fanniyah (keterampilan dan kerajinan), ni akhwat malah lebih suka basketan (olahraga). Kalo akhwat lain dengan gayanya yang feminim, do’i malah terkesan macho en rada maskulin. Ada kemungkinan, sebelum hijrah, do’i emang dah tomboy. Misalnya karena dulu gaulnya banyak ama anak cowok. Atau dari sebelas bersaudara, dia anak cewek sendiri. Mungkin juga lingkungan keluarga dan masyarakat di tempatnya yang membentuk karakternya yang seperti itu. Banyak faktor. Walhasil, jadilah dia akhwat yang memiliki karakter dan sikap yang “keikhwan-ikhwanan”. Tapi, selama masih dalam batas kewajaran, ni akhwat gak berbahaya koq, Pren. Tenang, bagaimanapun naluri keibuan dan kewanitaannya masih ada dan terjaga. InsyaAllah..


15. Akhwat Apel

 

    Waduh, apel?? Aja-aja ada nih! Apaan lagi tuh?? Apel adalah……Akhwat yang Amat suPEL!! (beuh..!) Akhwat yang satu ini enak banget kalo diajak ngobrol, nyambung, ramah, pokoknya asyik deeeh!! Gaul ama dia emang nyenengin. Do’i mudah akrab ma siapa aja. Padahal baru kenal, tapi dah kayak teman lama. Untuk definisi supel ini, insyaAllah Prens Fillah lebih tau. Yaa….gitu deh. Tapi ukh, kalo ma cowok or ikhwan supelnya jangan kelewatan ya. Maksudnya, perhatikan juga adab-adab pergaulan dan berinteraksi dengan lawan bicara Antunna. Otre?!!

16. Akhwat Donat

Wah, donat??? Maaauuuu…!!! hehehe….Siapa yang doyan donaaat?? Eh, salah. Maksud ane, siapa yang doyan curhaaat??? Yap! Gak salah lagi. Dialah akhwat Donat!! Akhwat yang DOyaN curhAT. Tipe ini seringkali ane jumpai, banyak deh. Hampir semua akhwat yang ane kenal rata-rata pernah curhat ke ane (duh ida, jadi tong sampah, eh tong uneg dong! Kan tempat buang uneg2. hehe…). Ni akhwat sukanya emang curhat. Tapi, dah fitrahnya kalee.. cewek kan emang gitu. Pengen ngeluapin semua perasaan, baik kisah bahagia maupun gundah gulananya. Sebagian ada yang curhat karena buth solusi dan pendapat dari yang dicurhatin, namun gak sedikit dari mereka yang tujuan curhatnya hanya sekadar mencurahkan isi hatinya saja. Dia gak butuh tanggapan, hanya ingin didengarkan. Dia butuh teman untuk melampiaskan kekesalan atau berbagi kebahagiaan. Dia hanya ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Setelah ia muntahkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya, perasaannya akan menjadi lega. Plong! Tapi
Wat, mbok ya jangan terlalu doyan curhat. Gak semua orang bisa dijadikan tempat curhat. Liat-liat dulu, dia mau gak dicurhatin? Orangnya bisa gak jaga rahasia? Bisa ngasih solusi gak? Dll. Nah, daripada curhat ama orang yang salah, mending curhat sama Allah aja! Dijamin! Rahasiamu gak bakalan kebongkar. Mau solusi? So pasti ada! Dan Allah, siap mendengarkan curhatanmu kapan aja! Full time. 24 jam! So…..curhat ma Allah yuuk!!


17. Akhwat Lechi

Hohoho…ngomong-ngomong tentang lechi, ane sukaa banget ma minuman yang rasanya lechi. Maniiiiss…segeeerr (duh, jadi haus!). Siapakah gerangan akhwat Lechi itu?? Dia adalah akhwat yang keLEwat CHIldist!. Ngerti childist kan? hmm…gak sedikit lho akhwat yang model begini. Walaupun umur dah kep
ala dua, sikapnya masiiih aja kayak anak-anak. Emang sieh, usia tua gak menjamin kalo dia dah dewasa. Tapi, kekanak-kanakannya itu lhoo…lebay banget. Cara bicaranya, gayanya, tingkahnya, duh..manjaaa banget. Kadang, nyebelin juga sih kalo dah kelewatan childistnya. Ada juga yang cara berpikirnya dewasa, tapi tingkahnya masih kekanak-kanakan. Dan sebaliknya. Tapi, dia gak salah koq. Toh, perubahan butuh proses. Mungkin faktor keluarga dan orang-orang di sekelilingnya yang terbiasa manjain dia. Jadi agak sulit membentuk jiwa kedewasaannya. Butuh waktu. Hidup akan mengajarinya untuk lebih bijak dan dewasa. InsyaAllah…


Hmmf…Dasar Akhwat!!

Besambung ya Pren….



*setelah ditagih2 –dengan paksaan dan ancaman- akhirnya nulis lagi ^_^
 

Bukan Curhat Biasa

Curhat itu memang perlu. Walau kadang kala, kita merasa apa yang kita curhatkan itu adalah yang sama. Dan mendengarkan itu adalah perlu, walau apa yang dicurhatkan itu adalah sama. Sudah Fitrah manusia mengeluarkan segala uneg-unegnya dengan tujuan mengurangi beban hidupnya. Tidak hanya wanita, pria pun membutuhkannya. Segala komoditi internet ditujukan juga untuk mengurangi tingkat stress diri, sangat familiar salah satunya adalah email, blog, facebook, dan tak ketinggalan sosial commuditi sejenis plurk, dan saya mulai kecanduan dengan komoditi inet yang satu ini.

Menilik curhat lewat mail, anda tahu sendiri, bagaimana reaksi masyarakat terkait dengan kasus Prita dengan email curhatnya, yang dibela oleh banyak blogger dan insan pers bahkan DPR, membuktikan betapa curhat itu adalah kebutuhan primer yang setiap orang berhak mendapatkannya. Di lain negara, curhat bisa dilakukan kepada seorang robot, yang diberi nama Indrabot yang sudah dilengkapi dengan intelegensia tinggi dari aplikasi teori AI (Artificial intellegent). Apalagi seorang yang sudah renta (tua) mereka butuh waktu untuk didengarkan dan diberi komentar, walau hal itu mungkin tidak terlalu penting untuk disimak oleh seorang pendengar, tapi jangan salah sangka bagi si renta hal ini sangat berguna baginya.


Hmm.. semua orang butuh curhat!

Saya teringat, beberapa bulan yang lalu, ada masalah keluarga yang menimpa saya dan kakak. Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menangis, karena tidak tahu apa solusinya dan mungkin juga karena emosi saya masih labil. Saat itu saya merasa nyaman sekali saat mama menenangkan saya dan mendengarkan curhat saya, dan semuanya berakhir sempurna. Saat itu tiada lagi resah gulana, dan baru menyadari betapa nikmatnya mempunyai mama, tidak perlu cari orang lain untuk mendengarkan curhat kita, atau datang ke kost orang yang kita pengen curhati itu (seperti yang saya lakukan sebelum bekerja). Weits.. ini OOT (out Of Topic ), bukan bermaksud mengiming-imingi para pembaca yang pengen bekerja [ peace ] .


Bagi yang belum nikah [ Ceiee gayanya :D], ati-ati bener-bener ati-ati curhatan ama lain jenis yang bukan mahram. Mungkin kita para cewek akan merasa nyaman, ga perlu berbasa-basi, to the point nan, logika yang lebih berperan daripada perasaan sehingga lebih cepet nemu solusinya. Tapi bila hal itu dilakukan antara seorang cewek ke lain jenis yang bukan mahramnya akan berakibat khalwat. Dan itu akan beimbas pada dosa. Kenapa? Karena curhat, mengutarakan isi hati akan menciptakan iklim yang intens berhubungan dengan orang yang dicurhati, alhasil lama kelamaan akan mempunyai kesamaan chemistry yang sama, dan akhirnya akan menimbulkan kecanduan dan membawa ingatan kita kepada yang kita curhati, baik dilakukan by sms, email, facebook, atau sejenisnya. Islam melarang keras khalwat karena hal itu mendekati zina. Dan curhat dengan lain jenis akan menurunkan izzah kita sebagai seorag muslimah. Menjauhi curhat dengan lawan jenis merupakan bentuk penjagaan terhadap nafsu yang sering bergelora dan akan lebih bergelora bila sudah tiba saatnya.

Terkadang.. butuh kedewasaaan saat seseorang mendengarkan curhat yang sama dari orang yang sama dengan permasalahan yang sama, perihal sudah dikasih tahu solusinya, tetapi tetep saja berulang dengan masalah yang
sama. Betapa kerdilnya manusia ya.. yang permasalahanya dibebani dengan masalah yang sama, tapi dia masih saja kebingungan memecahkannya. Boleh jadi, dia dinilai sang Pencipta, tidak tangguh untuk menyelesaikan masalahnya tersebut. Atau dengan kata lain, sang pencipta ingin hamba tersebut lebih lihai memanagemen perasaan diri. Intinya sih, ketika kita diberi ujian pastilah kita akan mampu menyelesaikannya, karena Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan kita menyelesaikannya.

Curhat yang tepat dilayangkan kepada Allah sebagai Dzat yang sebaik-baik penolong. Hasbunalloh wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman natsir. Kemudia kepada suami, murrobi, teman yang kita anggap sholeh/sholehah. Dengan bercurhat tersebut kita bisa diarahkan untuk mengarungi permasalahan dengan solusi yang religi. Meniti jalan kebaikan itu tidaklah mudah, perlu perjuangan ekstra dan kemauan yang kuat, serta pengetahuan yang memadai untuk melalui medan tersebut. Kita akan melewati banyak sekali godaan, onak dan duri, yang membuat kita terengah-engah kepayahan. Tapi itulah jalan terakhir menuju Surga. Sebaliknya jalan ke nereka dipenuhi dengan berlimpangan
kesenangan yang menipu. Ingatlah kawan kesenangan ini hanyalah sementara, dan kebebasan yang dirasakan semu adanya.

Mungkin agak aneh kurasa tulisan ini, masih belepot disana-sini, ditulis dalam kondisi yang sempit mencuri waktu untuk menyempatkan diri mengisi blog keep hamasaah , monggo di kritisi..
 

Posted in My Self. 1 Comment »

Sayang/Cinta?!??

Saya bukan orang yang pinter ngebahas hal beginian, malah kadang saya dibuat bingung dengan 2 kata ini. Sebenarnya ga ada untungnya, ngurusin 2 kata ini, tapi terlalu memenuhi ruang otak kalau 2 kata ini ga ketemu bedanya apa?

Di suatu sore yang agak mendung, suasananya memang agak aneh. Aneh, karena memang ga seperti biasa. Kami menuju ke sebuah rumah kecil, imut bercat biru. lebih aneh lagi, teman lama saya yang dulu saya kenal sebagai orag yang ramah dan ngemong terlihat cuek dan galak, setiap kata-kata yang dilontarkan olehnya seakan bernada menghakimi, dan setiap pertanyaanya yang belum selesai kujawab buru-buru dipotongnya dengan kata-kata yang tajam dan menukik. Wuih.

Pembicaraan sore itu, saya yang menghandle. Dan ketika pembicaraan muncul dari sini, mulailah sebuah pertengkaran kecil.


” Kita masih perlu melakukan ini dan itu, masih banyak kerja. Kita…” ( Buru-buru dipotong)

” Mang siapa yang nyuruh…!!!”
” Ga ada yang nyuruh koq..”
“Klo ga ada yang nyruh ngapain mau kerja..!!!”
“Loh ini untuk kepentingan dakwah bersama…”
“Atas dasar apa, lawong ga ada yg nyuruh malah bertindak…!!”
Belum kumenjawabnya, ia mengulanginya.
“Atas dasar apa..!!!!”

“Atas dasar cinta…” Ia mulai terdiam. Dan saya mengulanginya.
“Ya karena saya cinta perjuangan ini..”

Akhirnya marahnya mereda, hanya karena saya bilang cinta, jadi kepikiran kenapa saya waktu itu ga bilang klo saya sayang perjuangan ini.

Kalaupun dahulu saya pernah mendapatkan pelajaran tentang cinta sesama, dalam bahasa arab Habib/Habibah artinya cinta/kekasih, yang katanya ada seseorng yang menyukai orang lain, tapi kadar suka/cintanya tadi ga sebanding, boleh jadi berat di A atau berat di B, jadi takaran dan timbangannya berbeda. Sedangkan kholil/kholilah artinya juga cinta/kekasih, tetapi kholil dan kholilah pemakaiannya hanya untuk cinta kepada Alloh saja, karena takara
n kholil ini lebih berat, dan antara keduanya mempunyai 2 rasa suka yang pasti bukan semu dan sama. beda lagi dengan Mahabbah, ia artinya juga cinta, bentuk kata lain dari habib/habibah. Klo mahabbatulloh artinya mencintai Alloh, kenapa tidak menyayangi Alloh???!!??

Lama memikirnya, hingga kepala saya terasa berat. Konsep pendekatan dialogis juga saya gunakan untuk mengerti 2 makna kata ini, kata teman-teman cewek sekelas.

” Hah, seorang Eva tanya hal beginian..” sambil ia agak tersenyum

” Iya, apa seh bedanya ..”

wuih langsung ribut degh mereka, mau menjelaskan semuanya.
si A bilang : ” Berat sayang lah va dari pada cinta…Aku tuh lebih suka dibilang sayang dari pada cinta ”

Dan saya pun mendengarkan mereka dengan seksama.

Si B bilang: ” Klo Eva ke orangtua, cinta apa sayang?, sayang khan..”
yang ditanya bingung, la wong saya ga tahu bedanya, bagi saya ya sama aja mau bilang sayang atau cinta, pokoknya rasa itu ada untuk mereka titik. Jawaban itu klise banget.

Si C bilang:” Cinta lebih berorientasi ke nafsu sedang ke sayang untuk memiliki selamanya, oeuy romantis Va..”
yang diajak bicara, cuma keheranan dengan sikap dan perkataan yang baru saja dilihatnya ini.

Si D bilang : ” Cinta dan sayang mah bagi gw sama saja, yang penting gw enjoy dengannya.”

si E bilang : ” Egh Va tahu ga klo orang pacaran begituan, bilangnya pasti “aku cinta kamu”, bukan “aku sayang kamu”, survey mebuktikan akan hal itu, mereka mau yang enak-enaknya saja, klo sepah ya dibuang..”

seph, kubilang mereka tak ajak berdialog, akhirnya ketemu tujuan dakwah dialogis ini, pacaran kagak b
oleh, sebenarnya mereka tahu itu.

Si F bilang, ” Entah itu sayang atau cinta atau apalah kalau hubungannya ga halal tetep harus dihapuskan!”

Kulirik dan kutatap mata gadis hanif itu, kata-katanya persis sama dengan yang kukatakan tadi malam sebelum kutanya pada mereka tentang sayang dan cinta.


Menurut kalian, apa seh bedanya sayang dan cinta??
 

Posted in My Self. 0 Comment »

Meminang Sang pangeran

      aku tahu, aku hanya seorang wanita
yang tugasnya menunggu sang pangeran
dalam penantian

kata mereka, kau yang berhak memilih
dan kami, perempuan, hanya bisa
menolak atau menerima lamaran


tapi, bolehkah kali ini aku yang memilih?
memintamu untuk menjadi yang terindah di hatiku?
kau tinggal bilang ya, atau tidak. mudah kan?

ah, mungkin benar, dunia sudah terbalik
atau bisa juga ini hanya rasa khawatirku
takut kalau Allah tidak menyisakan satu mujahidNya untukku

hahaha…dasar aneh!
bukankah Allah sudah berfirman
bahwa Dia menciptakan makhlukNya dengan berpasangpasang
an?

tapi, aku juga ingin tahu rasanya
berbunga ketika lamaranku diterima
atau kecewa saat pinanganku ditolak
mungkin dengan begitu, aku bisa berbagi dengan kaumku
bagaimana sih sakitnya ditolak?
agar para akhawat tak gampang mengucap kata “tidak”
dengan alasan yang sengaja dibuatbuat :
masih ingin melanjutkan studilah

belum cukup umurlah
belum siap mentallah
kurang cocoklah!
dan entah apa lagi…

tapi, bagaimana cara meminangmu ya?
apa aku harus mengajukan proposal lebih dulu?
atau langsung datang ke istanamu dan
memohon agar kau sudi menerimaku menjadi permisurimu?
itukah yang kau mau?

“Huh, dasar tidak tahu malu!”
tibatiba terdengar teriakan dari jauh
“Wahai akhwat, DI MANA IZZAHMU?”

IZZAH?
kalian bertanya tentang IZZAH?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang malu mengungkap perasaannya

kemudian memendam cinta dan
mengotori hati dengan terus memikirkannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menyuburkan virus cinta di hatinya
dan membaginya pada semua ikhwan yang dikaguminya
dalam masa penantiannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menanti sang pangeran, namun ketika ia datang
si akhwat menolak dengan alasan tidak jelas?


di sanakah izzah bersemayam?

ataukah izzah ada pada diri seorang Khadijah
yang berterus terang meminta Muhammad untuk
menjadi nakhoda dalam bahtera cintanya?

ataukah izzah ada pada diri para bidadari yang
berebut ingin melayani Zulebid
yang rela meninggalkan istri tercinta

di hari pertama pernikahannya demi meraih syahid?

sungguh, kisah cinta yang agung dan suci
bukan cintacinta picisan yang ingin diraih
tapi jauh lebih tinggi!
cinta di atas segala cinta
yang tak kan habis cintaNya,
Allah!

di sana ada kejujuran, keterbukaan, kepercayaan,
ketulusan, keimanan, dan ketaqwaan
berbeda dari kisah Romeo dan Juliet
atau Layla dan Majnun yang berakhir tragis dengan
mati membawa cinta tak sampai
malang!

mungkin iya, aku tak seberani Bunda Khadijah
aku pun bukan bidadari yang tak dianugerahi rasa malu
karena ia memang diciptakan dan ditugaskan untuk melayanimu


tapi, jika aku boleh memilih
izinkan aku meminangmu sebagai kekasih
bukan untuk saat ini
karena mungkin waktuku tak cukup untuk menanti

tapi, nanti
setelah kumati…


Meminang Syuhada : 14082009







 

Posted in Puisi. 5 Comment »

Izinkan Aku cuti dari Dakwah

Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan. Dan juga masa depan serta kesibukannku sebagai seorang mahasiswi pasca sarjana dan seorang istri. Benar-benar merasa sepertinya tidak punya waktu lagi untuk berdakwah.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang ku cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep muntiz yang sering diceritakan sebagai sesuatu yang hebat? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Dimanakah konsep yang disebut ukhuwah? Kalau dulu, sebelum bekerja jika ada seorang ikhwah melontarkannya kata-kata “afwan ukh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan ukh, ana
gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan ukh…” lainnya dengan seribu satu alasan tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya, dan hal ini.yang membuatku merasa agak jengkel, dan pada akhirnya berbuntut pemakluman. Itulah diriku yang duluw, tapi sekarang, merasa diri malah yang melakukan itu. Sering banget meninggalkan agenda-agenda dakwah. Hanya alasan kesibukan, dan adaptasi diri sebagai seorang Mahasiswa en pkerja profesional dengan bejibun aktivitas yang ”itu-itu saja” namun terasa banyak menyita waktu serta kesibukan mahasiswi pasca yang masya Allah diluar prediksi saya sibuknya. Serasa pengen bilang“Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan   ibuku yang sudah semakin ingin ku berada di rumah, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

Mencoba menasehati diri sendiri dengan kondisi dan keadaan diri yang tidak menentu, serta fikiran yang sudah muali banyak memikirkan banyak hal. Let’s to brainstrom ur mind mel..

Dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau
permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumu
lasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

Semester satu kemaren nilai saya mungkin tidak sejajar dengan teman-teman S2 dari UGM, sebenarnya alasannya karena menyiapkan acara pernikahan teman yang tergolong mepet waktu perencanaanya, apalagi penetapan tanggal nya dan semua prosesi dadakannya itu berlangsung pas sibuknya pekerjaan. Tetapi dikalangan teman-teman S2 va berkembang rumor, klo aktivis tuh ga terlalu bagus akademiknya, tahu sendiri lah ya anak-anak S2 tentu semuanya jago dan merupakan putra terbaik pilihan universitas asal, maupun dosen terbaik dari asal institusinya, bayangkan saja saya bersejejar dengan mereka. Dan ternyata dari universitas ataupun institusi asal, anak-anak ROHIS ataupun aktivis dakwah semuanya ya gitu ga ada yang menonjol secara akademik. Waktu tahu rumor itu saya agak kaget, saya sadar saya baru saja menambah catatan baru pandangan bagi mereka, aktvis kalah akademik. Whuah… hal ini tidak bis
a dibiarkan donk..

Semoga kisah dan cerita saya  tersebut tidak terulang kembali di masa mendatang dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang
memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.

Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “ Antum telah berguguran di jalan dakwah, atau kata-kata pahit lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat
mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri.

Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita. Mulai sekarang tata diri pribadi, menyikapi segala sesuatunya dengan bijaksana dan dewasa, karena hidup cumalah sebentar manfaatkan waktu sebaik mungkin, perbaiki persepsi manusia tentang sisi minus aktifis dakwah, jadikan sebagai motivasi, terus berkarya untuk ummat ini, karena tantangan dakwah di luar sana semakin liar… Sehingga permasalahan internal tidak menjadikan seorang kader bilang “aku ingin cuti dari dakwah”.

For My DSP : Terimakasih cinta,.. telah membelikan adek BBB (Beat Black Baru), semoga si BBB memudahkan adek beraktivitas dakwah, Kuharap engkau selalu mendukung n menyemangati adek di kala adek lemah..

baca juga http://www.scribd.com/doc/14259630/Jalan-Dakwah-AlUstaz-Mustafa-Masyhur
 

Akhwat dalam Siyasih, tanya kenapa?

Agak panas mendengar cerita seorang akhwat dalam sebuah forum daerah beberapa waktu lalu. Pasalnya, ada akhwat daerah yang kemudian hendak sharing akan dakwah kampus/daerahnya di depan forum. Namun, di cut oleh ikhwan dengan alasan yang tidak substansi. Intinya, akhwat tersebut diharapkan tidak berada di depan forum…dengan tinjauan bla..bla..bla.. menjelaskannya saja ana sulit bahkan marah. Mengapa hari ini kita masih berkutat pada masalah seperti itu?

Adalagi sebuah forum, di mana akhwat yang diusulkan menjadi presidium siding, tapi mendapat sanggahan dari ‘partner dakwahnya’. Phuuffp…ana makin tidak habis pikir. Era muassasi yang akan kita masuki masih berkutat pada hal tersebut. Pemahaman kita akan posisi akhwat ternyata belum bertemu.

Adalagi sms yang dikirimkan ’partner dakwah’ para akhwat yang isinya mempertanyakan forum akhwat yang sudah berdiri…haruskah ada??? Dalam sesi lain, sebuah ’syura’ menetapkan bahwa akhwat tidak boleh masuk dalam calon legislatif BEM. Pernah ada isu pula, bahwa akhwat tidak boleh ikut kongres. Yang terbaru, akhwat parlemen di PAW, dan ada statemen siyasih tanpa akhwat (yang ini bisa ditolerir karena kondisi kampus). Ada lagi rapat mal
am ikhwan dll.

Ada lagi statement keji: syahwat siyasih akhwat cukup tinggi !!! karena melihat begitu ramainya akhwat dalam kancah politik kampus. Membangun partai, berdiskusi dengan lawan politik, berorasi dalam aksi, masuk dalam bursa kandidat ketua BEM fakultas…..

Agghhh!!

Mengapa ada tanya?

Ketika diminta kader siyasih fakultas (ikhwan) untuk mengurusi tetek bengek siyasih kampus…tak kunjung ditemukan. Giliran akhwat mau bergerak, selalu ada tanya. Masih mending tanya yang muncul, ada kalanya kecaman keji!!! S a k i t !!!!


Wahai saudaraku…mengapa tak ada ketsiqohan dalam dirimu?

Mana jiwa Qawwam yang engkau miliki….


Secara sadar, akhwat adalah kaum pengikut. Tapi bukan berarti mengikut tanpa pertimbangan apapun. Maksudnya, akhwat adalah sosok yang harusnya diarahkan, dipimpin…jika fungsi itu tak ada, maka ia pun siap untuk memimpin sendiri. Ingat istilah single parents bagi seorang ibu yang merawat anaknya sendiri tanpa ayah? Ya, akhwat memiliki kemampuan itu. Artinya, Ar Rijal Qowwamun ala Nisa. Jika ada yang memimpin, ia pun akan patuh. Namun, jika
tidak, maka ia pun siap memimpin dirinya sendiri. Lantas, mengapakah lagi ada pagar-pagar yang membuat akhwat sulit berekspresi? Membuat forum akhwat, misalnya!

Ada cerita dalam sebuah forum sidang, saat para akhwat diusulkan menjadi pemimpin sidangnya, tak satupun terdengar ’partner dakwahnya’ bersedia menggantikan posisinya. Mereka sedikit egois. Kurang mampu menjaga akhwat. Padahal akhwat sudah memberi kesempatan, bahwa dirinya akan memimpin, jika yang layak memimpin tak ada, tidak sanggup. Karena, akhwat khawatir, jangan sampai saat sidang berlangsung pun, akan banyak interupsi yang mempertanyakan keberadaan akhwat di depan forum seperti yang sudah-sudah. Hal ini dapat mengguncang forum dan menghambat. Akhwat tidak siap jika itu terjadi, karena sama saja ’mempermalukan’ dirinya di depan forum. Padahal dalam situasi tersebut… begitu banyak calon pemimpin, begitu banyak sang orator, begitu banyak sang demonstran, begitu banyak sang pendobrak yang hadir, dan mampu untuk itu. Jadi ragu, jangan-jangan itu hanya retorika belaka. Jika dalam situasi perang seperti ini, kasihan akhwat…akan ditolong pada saat belati benar-benar
di lehernya, saking akhwat dirasa mampu menjaga diri L. Lantas, apa bedanya dengan ikhwan dalam dunia heterogen? Di sana pun mereka berinteraksi dengan lawan politik yang juga lawan jenisnya. Berdiskusi, bercengkrama, merekapun memimpin sidang, namun ikhwan tidak mampu protes. Jika tidak tahan pun, malah menghindar. Tak mampu bicara dan bisanya ’membantai’ saudarinya dalam forum homogen. Adilkah? L Ini baru masalah amanah, persepsi…bagaimana dengan hal yang lebih berat, poligami misalnya!!!^_^

Sekarang, cukup banyak akhwat yang mampu memimpin rapat, menjadi decision maker, menjadi problem solver dan itu tidak diragukan lagi. Hanya saja pengakuan internal yang belum sanggup melihat kenyataan itu. Jika memang akhwat mendapat penjagaan, mengapa tak ada tawaran solusi bagi akhwat siyasih? Paling tidak ada pengganti para akhwat tersebut dalam amanah dakwah yang diembannya. Padahal, kerja siyasih cukup meremukkan persendian, menguras otak dan membuat wajah makin tirus.

Ada lagi yang menyatakan, jika akhwat ada depan forum, apa kata mitra??? Bah!!! Mestinya semua mampu menjawabnya. Justru Ikhwan harusnya malu karena tidak mampu merecovery kerja akhwat. Masih ingat saat akan aksi, maka akhwat bekerja sampai malam membuat jargon, umbul-umbul, ataupun bendera. Bahkan bambu pegangan jargon pun harus dipotong sendiri- kuat mAnn!!!. Dalam beberapa kegiatan pun, akhwat seperti dibiarkan membuat spanduk sendiri. Sekarang memang zamannya akhwat tidak hanya mampu bekerja internal, domestik. Ekstra domestik pun harus dikuasai…membuat pagar, memperbaiki genteng, balap motor, memperbaiki PC
, dll…….??>>@@$$$###!!!! Nah lho….

Mestinya, mereka melihat, bagaimana kuota tiga puluh persen bagi perempuan di legislatif pun, tak sanggup untuk dipenuhi. Jika pembelajaran awal sudah mengalami hambatan internal, maka bagaimana seorang akhwat mampu bekerja di ranah politik, apatah lagi mendongkrak kuota mencapai empat puluh hingga lima puluh persen?

Allah tidak pernah membedakan tugas laki-laki dan perempuan. Mereka sama-sam diberi tanggung jawab untuk saling menolong dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak buktu keterlibatan muslimah dalam kegiatan dakwah
Rasulullah. Aisyahpun menjadi rujukan bagi sahabat dalam belajar Islam. Fatimah dan Ummu sulaim pun dalam perang Uhud membantu prajurit yang luka, ia membawakan kendi air, sedang fatimah membantu pengobatan Rasul yang terluka. Sumayyah, syahidah pertama, Para wanita bani ghifar dalam perang Khaibar juga turut membantu rasul dalam kegiatan jihad. Ummu Imarahpun turut berperang pada perang Uhud. Shafiyah binti Abdul Muthalib r.a juga turut dalam perang Uhud dan Khandak. Asma binti Yazid yang membunuh sembilan musuh pada perang Yarmuk. Perjuangan Ibunda Zainab al-ghazali, subhnallah …..

Kini, begitu banyak isu perempuan yang tidak tertangani oleh akhwat. Kepemimpinan akhwat harus di mulai dan berjalan baik. Mampu menghadapi masyarakat yang apatis. Mereka telah diambil hatinya oleh kaum penuh motif, akhwat harus kreatif.

Forum akhwat harus dipertahankan, untuk pencerdasan akhwat. Mengingat banyak akhwat yang mudah ditekan, dipengaruhi, pemalu, dan tidak kreatif jika bersama ’partner dakwahnya’. Forum pencerdasan
itu, mungkin belum terasa hasilnya, tapi, minimal jadi bekal mengarungi kehidupan yang lain. Wallahu A’lam…


Ruang ide-Q di rumah Q-tha

Jangan pernah melihat ikhwan akhwatnya, tapi lihatlah apa yang diperjuangkanya. Ikhwan dan akhwat, keduanya harus mampu menjawab tantangan zaman. Saling mendukung, bahu membahu mendirikan bangunan dakwah. Bukan bercerai berai, menyimpan dendam. Zionis makin tak terkendali. Kita tak boleh terlena. Masalah internal harus disudahi.Ilmu harus diperdalam. Mungkin selama ini kita kurang Ilmu, tapi tak menyadarinya.Sehingga gerakan tidak berkah. Tetap berjuang Akhi..Ukhti..Allah bersama kita Allahu Akbar !!!
 

boleh ga nikah dengan akhwat non tarbiyah?

“kalo ane menikah dengan akhwat non tarbiyah gmn?dia pernah LQ, tapi lepas karena faktor domisili. Dia udah ga jilbab lebar lg, tapi nilai-nilai tarbiyah masih ada. hanif”


pernyataan diatas merupakan SMS yang gue kirim ke beberapa sahabat kemarin, ada beberapa yang jawab, diantaranya :
“tancep terus aja ma, kan jadi ladang pahala buat nte. Apalagi dia lepas hanya karena faktor domisili”
“kira-kira sefikroh ga? Kalo banyak persamaannya ya tafadhol….istikhorohin ya…”
“ga masalah sih asal lo bisa bawa dia, emang lo udah ktemu ma?”
“sayang aja. Akan banyak akhwat bertanya-tanya. lha wong stok akhwat aja banyak yang vacant kok cari yang diluar? Kenapa emangnya? Nte jatuh cinta ye?:p”

“mba ga masalah karena kamu yang akan jalanin. Kalo masalah penolakan dari tandzim dan murobbi
kamu ya wajar. Tapi kan kamu yang jalanin, kalo kamu yakin dengan keputusanmu, ya jalanin aja”

“setau ane sih ma, utk model kaya kita gini emang blh milih sendiri, tapi tetep kudu sama akhwat tarbiyah. Lagian akhwat masih banyak. Ortu nte udah setuju belum?”
“pada dasarnya tidak ada masalah, cuma nanti tugas antum jadi terbagi dgn membina istri. Toh kalo emang jodoh dari allah sapa yang bisa halangi?:p. menikah tidak hanya dengan siapa yang penampakannya gimana. Itu hal kecil. Visi dakwah dan amal shalih harus kuat”
“cincay lah akh yang penting antum usaha dan nikah aja dulu (semoga jodoh dan motivasi utk lebih ber
amal sholih) tapi yang perlu diluruskan, LQ bukan prasyarat nikah tapi salah satu sarana dan upaya memperbaiki diri”
“keputusan kita menikah dengan siapa pun berkaitan erat dengan visi misi kenapa qt menikah. Kalo menurut pertimbangan qt dengan dia qt bisa mencapai tujuan mendasar/visi misi kenapa seorang ikhwah menikah, kenapa tidak?boleh aja. Ant yang akan menjadi imam, tanggung jawab terhadap istri ant ada dg ant, kalo ant siap dengan resiko apapun, silahkan aja….”
“liat dulu tingkat kefuturannya, kalo menurut teteh, utk seorg aktifis agak berisiko kalo aktifis pilih yang hanif. Takutnya nanti gak terima dengan kesibukan aktifitas dakwah yang kadang tdk kenal waktu, kalau lebih banyak yang berkualitas kenapa tidak ambil mereka aja?”

“menikah dengan siapapun adalah pilihan dan hak memilih. Kalo ana, ikhwah atau bukan yang penting landasan pemikiran dan kefahaman ttg masa depan islam sama dengan ana+akhlak muslim.mnrt ant?”

atau ada jawaban sinis

“knp ant nanya gitu? Apa sudah ga ada lagi akhwat tarbiyah yang mau menerima ant?
  Itu tadi pernyataan sahabat-sahabat ane tentang wacana yang ane gulirkan. Ada yang dukung, ada yang pura-pura dukung tapi ga suka atau langsung sinis. Ustadz ane juga pernah bilang “ kenapa kita menikah dengan akhwat tarbiyah, supaya dia bisa mengerti aktivitas dakwah kita yang tak kenal waktu” trus kenapa istrinya selalu
nelpon supaya dia cepet pulang kalo Liqo udah jam 11? Atau banyak temen ikhwah yang akhirnya susyah beraktivitas karena dilarang istrinya. Ga boleh pergi ngisi LQ, ga boleh pergi ngisi outbound. Padahal istrinya aktivis lho!!!kader inti tarbiyah juga!!! Atau persyaratan beberapa akhwat yang nyaratin suaminya ga banyak keluar kota, ga aktif banget, harus kerja kantoran yang jadwalnya rutin, nah lho? Katanya aktifitas dakwah ga kenal waktu? Harusnya seorang akhwat tarbiyah ngerti dong dengan aktivitas suaminya yang da’i? jadi, apa bedanya akhwat tarbiyah dengan non tarbiyah? Sama aja kan!?
   
  Mamaku bukan kader tarbiyah. Dia hanya seorang ibu yang hanif. Tapi dia bisa mengerti aktifitas papa yang super sibuk sebagai birokrat dan aktifis pergerakan, dia bisa jadi pendukung papa yang baik. Ketika papa sering keluar k
ota untuk urusan kantor dan organisasinya mama ga protes. Bahkan dia bisa mengerti dan mendukung aktivitas dakwah tiga anaknya yang kader tarbiyah dan superaktif. Anak-anaknya cuma ada di rumah kalo sakit aja. Selebihnya aktif dengan komunitasnya masing-masing. Dan mama ga pernah protes, dia malah support penuh segala aktifitas dakwah anak-anaknya. Apakah itu dilakukan juga para ummahat tarbiyah?
   
  Lalu kalo ternyata kita bisa membawa akhwat tersebut kembali ke pangkuan tarbiyah gimana? Toh dia hanif. Rasulullah kan minta kita memilih istri karena 4 hal. Salah satunya adalah karena agamanya, syarat dia harus tarbiyah
kan ga ada? lagipula Dia seperti itu kan karena lingkungannya, kalo kita berhasil narik dia ke lingkungan kita kan dia akan kembali ke jalurnya. Trus kalo dia nikah dengan orang lain yang bukan tarbiyah gmn? Dia akan semakin jauh dengan nilai tarbiyah. Siapa mo tanggung jawab? Mungkin ini hanya pembenaran, tapi ini juga harus jadi bahan perenungan kita semua.
   
  Kalo menurut pengakuan beberapa sahabat ikhwan yang rada bandel, emang susyah jadi ikhwan yang di blacklist dan bandel. Cari istri lewat murobbi, susyah karena di-blacklist sama ummahat. Jalurnya ditutup. Dibilang terlalu liar, terlalu cair, ga layak jadi ikhwah, Terus belum lagi banyak isu ga sedap yang bikin nama kita ancur. Akhirnya murobbi angkat tangan karena ga bisa nyariin. Kalo mo cari sendiri atau nembak langsung ke akhwatnya eh malah dibilang ikhwan tukang tembak dan ga taat asas. Ga ikut jalur, ga taat murobbi, pemilih, cuma mentingin fisik dll wah pokoknya Gosipnya malah tambah parah. Beberapa petinggi ummahat bilang dengan sinisnya “kok bisa sih ikhwan selevel di
a masih potong jalur?”. Trus ketika pengen cari yang non tarbiyah aja, eh malah disalah-salahin. Gosipnya tambah buas dan tambah sinis, Katanya “apa ga ada akhwat tarbiyah lagi sampe cari orang luar tarbiyah” dll. Wualah tambah runyam…….
  Nah lho…..kok jadi serba salah ya? Trus harus gimana dong? Apa solusinya keluar dari tarbiyah aja? Jadi ga ada perdebatan boleh ga nembak atau cari non tarbiyah? Jadi jangan mencibir atau mencela ikhwan-ikhwan yang memilih menikah dengan akhwat non tarbiyah kalo para akhwat masih ga bisa nerima perbedaan yang ada!! Kalo para akhwat masih dengan mimpinya tentang “pangeran berkuda putih”. Kalo masih bilang ikhwan2 yang “beda” tidak layak sebagai ikhwah. Kalo masih ada blacklist dan perlakuan diskriminatif lainnya. Kalo akhwat lebih memilih ikhwan masih hanif dibandingkan ikhwan tarbiyah tapi rada baong. Jadi wajar dong kalo ikhwan nemba
k langsung atau nikah dengan non tarbiyah!? Yang penting sholehah kan????
wallahualam
 

Tentang Aurat Laki-laki (muslim) dan Hukum Berpakaian Bagi Laki-laki

Dalam masalah aurat, sudah banyak sekali pembahasan mengenai aurat umuslimah terhadap sesamanya. Baik aurat muslimah terhadap muslimah yang lain, muslimah terhadap perempuan kafir, muslimah terhadap lawan jenis yang merupakan mahramnya, maupun muslimah terhadap lawan jenis non-mahram. Namun sangat disayangkan sangat sedikit bahasan mengenai batas aurat laki-laki bahkan hal ini cenderung disepelekan.

Betapa banyak aktifis dakwah yang dengan tenangnya memakai celana pendek atau ¾ yang kependekan ke pertemuan-pertemuan resmi, seolah tidak takut auratnya tersingkap. Atau ketika hanya berada diantara para ikhwan melepas baju seenaknya sehingga menampakkan aurat yang seharusnya ditutupi. Atau memakai pakaiaan yang terlalu ketat dan “pas pinggang” sehingga ketika menunduk auratnya tersingkap. Karena itu, saya merasa perlu untuk menuliskan hal ini karena seakan-akan hal ini disepelekan dan dianggap tidak penting. Padahal Allah telah menyuruh kita untuk masuk ke dalam islam secara menyeluruh;

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS 2;208)

Batas Aurat Laki-laki :

Batas aurat laki-laki menurut jumhur ulama adalah antara pusar dan lutut baik kepada laki-laki muslim dan non-muslim atau wanita muslim dan non-muslim.

Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat

Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid].



Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya

dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda:


“Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR.

Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib].


Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat

kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda:

“Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat

Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].



Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan

janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud

dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].

Empat dalil diatas sudah menjelaskan tentang batas-batas aurat bagi seorang laki-laki. Dan definisi aurat adalah bagian tubuh yang wajib di tutupi dan haram untuk diperlihatkan kepada orang lain yang tidak berhak melihatnya. Adapun pengucualian khusus adalah bagi istrinya yang boleh melihat seluruh anggota badannya. Karena istrinya adalah pakaian baginya dan fungsi pakaiaan adalah menutup aurat. Menutup berarti menyentuh, bagaimana mungkin tidak boleh melihat sementara menyentuh hukumnya lebih berat daripada melihat”.

Batas Berpakaian bagi laki-laki

Ada tiga batas bagi laki-laki dalam berpakaian yaitu :

1. Tidak menyerupai wanita

Jujur, saya miris sekali melihat kenyataan bahwa sekarang laki-laki yang berpakaian seperti wanita dianggap sebagai sebuah lelucon dan bercandaan. Mereka tertawa dan bercanda ria, padahal yang dilanggar adalah aturan Allah!?

2. Tidak mengunakan Sutera dan Emas

Laki-laki dilarang mengunakan sutera dan emas baik berupa cincin, jam tangan atau kalung. Hmmp, harus lebih selektif nih dalam memilih aksesoris.

3. Tidak menyerupai orang-orang kafir

Bila ada kesalahan dalam penulisan fiqh ini, tolong diperbaiki dan dikoreksi, karena penulis juga masih sedang belajar, untuk lengkapnya bisa dilihat pada :

http://taufiqsuryo.wordpress.com/2008/06/07/seri-faq-fiqh-islam/

 

Bolehkah akhwat/akhawat pulang malam?

Pertanyaan yang aneh ya, tetapi hal ini merupakan masalah yang cukup sensitif di kalangan para aktifis dakwah. Semakin terbukanya aktifitas dakwah kita, dan semakin banyaknya lahan-lahan dakwah yang harus digarap, menyebabkan banyak para aktifis muslimah ‘terpaksa’ (akhwat) pulang malam (malam diartikan diatas jam 19.00). Lahan-lahan, seperti organisasi internal kampus maupun labotarium, yang banyak berinteraksi dengan masyarakat umum, menuntut para akhwat untuk bisa rapat maupun riset pada malam hari. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan awal bolehkah akhwat pulang malam, bagaimana hukumnya?

Untuk menjawabnya izinkan saya memulai dengan sebuah cerita singkat. Pada suatu hari ada sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang ingin berniat melakukan acara syiar pada malam hari yang melibatkan para akhwat. Segera saja berita ini berkembang di kalangan aktifis. Ada yang pro ada yang kontra. Yang pro mengatakan hal ini untuk memperluas segmentasi dakwah dan inklusifitas syiar LDK. Sedangkan yang kontra mengeluarkan satu pertanyaan mendasar “terus akh, akhwatnya gimana?”. Perdebatan pun tak terhindarkan, hingga dua kali syura belum ada keputusan mengenai konsep acara ini.


Akhirnya diputuskan untuk mengundang beberapa elemen terkait untuk mendiskusikan masalah ini di syura berikutnya. Elemen-elemen yang diundang adalah Majelis Perimbangan Organisasi, Badan Pengurus Harian, Panitia, serta Dewan Syariah LDK. Setelah syura itu akhirnya diputuskan acara malam ditiadakan dengan berbagai pertimbangan.

Nah dari syura-syura dalam cerita itu saya berusaha mecerna permasalahan “akhwat pulang malam ini”. Penjelasannya adalah :


SEBENARNYA TIDAK ADA DALIL PASTI YANG MENGATAKAN BAHWA AKHWAT TIDAK BOLEH PULANG MALAM.

Akhwat ‘dilarang’ pulang malam adalah untuk menghindari dua fitnah yang mungkin terjadi, apa saja itu?

Pertama fitnah keamanan. Masih segar diingatan kita peristiwa dua santri Aa Gym di bandung yang diperkosa dan dimutilasi pada saat pulang dari suatu ta’lim, mahasiswi yang diperkosa di hutan UI, maupun pelecehan-pelecehan yang dialami oleh banyak akhwat dan itu semua terjadi di malam hari. Potensi terjadinya kriminalitas lebih besar pada malam hari. Bahkan para ulama mengisyaratkan banyaknya fitnah di malam hari sehingga kita disunnahkan untuk lebih banyak bertafakur, berdzikir, dan membaca al-quran dibandingkan berada diluar rumah.

Kedua adalah fitnah khalwat dengan lawan jenis. Banyaknya kasus aktifis dakwah yang terkena virus merah jambu belakangan ini bisa saja dimulai dari masalah akhwat pulang malam ini. Banyaknya Ikhwan kesiangan yang berlaga
k nganterin akhwat yang pulang malam padahal niatnya adalah untuk berduaan saja, naudzubillah.

Tetapi sungguh ada contoh teladan mengenai masalah mengantar lawan jenis ini. Ingatlah ketika ustman bin thallah mengantar ummu salamah melewati 400 km padang pasir dengan santunnya. Dituntunnya unta ketika ummu salamah sudah aman diatas sekedup. Diderumnya unta, dan segera menjauh untuk mempersilahkan ummu salamh turun Begitu terus selama perjalanan hingga mencapai desa dekat di dekat madinah. Sudahkah kita sesan
tun itu?, dan lebih lagi ustman mengantar ummu salamah dalam keadaan darurat. Ia dan anaknya dipaksa oleh kaum kafir Quraisy untuk meningalkan suaminya yang hendak berhijrah. Setelah melewati masa-masa yang menyedihkan, akhirnya ummu salamah diperbolehkan menyusul suaminya dengan hanya berbekal seekor onta dan makanan seadanya. Melihat keadaan darurat itulah ustman menawarkan diri untuk mengantar ummu salamah.

Terkait contoh LDK yang ingin mengadakan acara malam diatas, lebih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan yang diambil untuk memutuskan hal tersebut.

1. Mengambil dalil fiqh prioritas yaitu : menolak kemungkaran (bila terjadi kasus pada akhwat) lebih diutamakan dibandingkan mengambil manfaat (inklusifitas dakwah) -mengenai fiqh prioritas akan saya bahas lebih detil
lagi ditulisan lain, insya Allah.

2. Kontent acara yang diusung bukanlah kondisi darurat yang menyebabkan akhwat bisa pulang malam.

3. Image LDK yang bersangkutan di mata masa kampus dan masyarakat yang akan menurun mengingat selama ini para kader LDK selalu berusaha menyosialisaikan agar akhwat/perempuan tidak pulang malam.

Sebagai kesimpulan :

AKHWAT SEBENARNYA BOLEH PULANG MALAM, TETAPI HARUS ADA JAMINAN AMAN DARI DUA FITNAH YANG DISEBUTKAN DIATAS DAN MENGHADIRI ACARA ATAU DALAM KONDISI-KONDISI YANG DIBENARKAN

Wallahualam, semoga Allah merahmatiku, mu dan kita semua.
 

Rumah Tangga Islami

Setiap keluarga muslim tentunya menginginkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sebab dari keluarga yang sakinah, maka akan lahir anak-anak yang berjiwa islami. Pendidikan pun dapat dengan mudah diterapkan pada sebuah keluarga yang islami.

Keluarga yang sakinah akan dapat terwujud dari sebuah rumah tangga yang islami. Dari sebuah rumah tangga yang islami, kualitas anggota keluarga di dalamnya dapat terjaga, sehingga rumah tangga tersebut akan jauh dari hal-hal yang dimurkai Allah SWT. Namun seperti apa sih rumah tangga yan islami itu? Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan sebuah rumah tangga yang islami?

Pada dasarnya, rumah tangga yang islami adalah rumah tangga yang di dalamnya terdapat nilai-nilai syariat islam, yang dijalankan oleh anggota keluarga tersebut. Untuk mewujudkan sebuah rumah tangga islami, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Hal-hal yang harus kita perhatikan dalam sebuah rumah tangga islami adalah:

1. Rumah islami adalah rumah orang-orang yang selalu menyucikan diri dan senantiasa mengingat Allah. Rumah yang di dalamnya ditegakkan penghambaan kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Setiap penghuni rumah mengutamakan amal sholeh dan selalu mengingat Allah kapan dan dimana saja ia berada.

2. Rumah yang didirikan untuk menegakkan kedaulatan Allah di muka bumi serta menjadi tempat untuk mewujudkan syariat islam dalam setiap aspek kehidupan para penghuninya.

3. Penghuni rumah menyadari bahwa rumah tersebut hanyalah tempat sementara, selama ia menabung amal sholeh sebagai bekal untuk di akhirat kelak. Para penghuni rumah tersebut lebih menginginkan dan selalu merindukan rumah yang kekal (surga) di sisi Allah.


4. Rumah yang selalu bersih dari najis dan hadast, baik besar maupun kecil. Hal ini karena penghuni rumah tersebut benar-benar menyadari bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, dan kebersihan merupakan salah satu syarat sah ibadah kepada Allah SWT.

5. Rumah yang dipenuhi dengan kalam Allah, karena para penghuninya rajin untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat suci Al Qur’an.

6. Rumah yang di dalamnya penuh dengan akhlak islami, yang diperlihatkan oleh semua anggota keluarga. Anak-anak berbakti pada orang tua, orang tua mendidik anak-anaknya dengan penuh nuansa islami, sesame saudara saling menghormati, serta memuliakan para tamu yang datang untuk bersilaturahmi.


7. Rumah yang jauh dari hal-hal yang mampu membuat penghuninya “kembali” ke masa jahiliyah, yang melalikan penghuninya untuk beribadah kepada Allah SWT.

8. Rumah yang menjadi madrasah atau tempat pendidikan bagi seluruh penghuninya, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Di dalamnya terdapat berbagai prasarana untuk melakukan pembelajaran secara islami, baik itu berupa buku, majalah, maupun hal-hal lainnya.

9. Rumah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya anak-anak yang sehat, baik jasmani maupun rohaninya.

10. Rumah yang dihuni oleh keluarga yang sholeh, selalu memakmurkan masjid dan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di tengah masyarakatnya.

11. Rumah yang dihuni oleh istri dan ibu yang sholehah, yang menjadi tumpuan dan sumber kasih saying keluarga.

12. Rumah yang menjadikan tetangganya aman dan senang bersilaturahmi dengan para penghuni rumah tersebut.

13. Rumah yang selalu memuliakan tamu yang datang, baik itu tetagga dekat maupun jauh, sehingga terjalin tali silaturahmi yang cukup kuat antara penghuni rumah dengan orang lain.


14. Rumah yang penghuninya mampu menjadi teladan bagi masyarakat sekitar dalam menegakkan syariat islam dan hal-hal positif lainnya.

15. Rumah yang penuh berkah, yang tidak melalikan penghuninya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jika kita lihat, alangkah sederhananya sebuah rumah tangga yang islami. Namun, mewujudkannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Setiap anggota keluarga harus terlibat aktif dalam usaha untuk mewujudkan sebuah rumah tangga yang islami. Dari rumah tangga islami seperti inilah, maka keluarga sakinah akan dapat terwujud dengan sendirinya.


Sekarang saatnya kita mulai menerapkan hal-hal tersebut dalam rumah tangga kita. Semoga rumah tangga kita menjadi sebuah rumah tangga yang islami, yang diberkahi dan dirahmati oleh Allah SWT. Amin……….


(dikutip dari majalah Hidayah)
 

Untukmu Kader Dakwah

       

“Wahai Ikhwah, Tetaplah Waspada!!”

Selalu, dalam sebuah peristiwa besar hanya sedikit orang yang menggerakkannya. Merekalah pelaku sejarah. Merekalah yang sadar akan skenario cerita. Merekalah yang mampu melihat akhir sebuah proses. Maka merekalah yang memutar biduk kehidupan. Dan KITA adalah MEREKA! Kita berbeda bukan karena kita lebih mulia. Kita berbeda bukan karena kita lebih utama. Kita berbeda karena perbedaan tersebut adalah pilihan, dan kita telah memilih! Apa yang kita pilih?? Kita memilih untuk bersama keimanan. Kita memilih untuk berhimpun dalam ketaatan. Kita memilih untuk bergerak dalam satu aturan. Kita memilih Islam untuk kehidupan. Kita memilih: Allah Ghoyatuna, Muham
mad Qudwatuna, Alquran Dusturuna, Al Jihaad Sabiiluna, Al Mautu Fii Sabiilillah Asma Amaaniina.

Tingginya antusiasme masyarakat dari sekadar simpati, sampai menyatakan dukungannya terhadap partai dakwah, menandakan partai dakwah saat ini adalah sebuah kekuatan baru. Bukan (sekadar) kekuatan alternatif. Jika para pemegang kekuasaan itu tidak kuat-kuat memegang amanah karena orientasi/niat yang telah berubah, maka mulai saat itu fitnah telah terjadi pada kekuasaan. Kemenangan maupun kekalahan tidak identik dengan perencanaan. Terkadang kemenangan itu datangnya lebih cepat dari skenario yang kita rencanakan, begitu juga sebaliknya. Sehingga para kader dakwah jangan terlena dengan kondisi yang ada saat ini.


Waspada, dan berhati-hatilah!

Mereka yang memperturutkan hawa nafsunya telah digambarkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, “Ia tertarik kepada kehormatan dan kepemimpinan, lalu ia suka kepada perkataan yang batil dan benci kepada perkataan yang benar. Ia diperbudak oleh orang yang memujinya walaupun pujian itu batil, sedangkan ia memusuhi orang yang mencelanya walaupun celaan itu benar.

Mereka menjalankan dakwah di atas budaya sloganistik, basa-basi bahasa dan mengikuti arus belaka. Dalam waktu yang sama pasti akan terjadi perpecahan internal, persaingan antar aktivis, dan pengkhianatan. Mereka justru menunggangi ummat walau berteriak, “Semua demi Ummat!”. Na’udzubillahimindzaalik…

Bukan bendera-bendera kecil berkibar yang akan memperkenalkan manusia pada dakwah. Bukan pula slogan-slogan kosong di mimbar-mimbar. Namun, gerak langkah dan setiap desiran jiwa yang dipenuhi dzikrullah nan bercahaya. Qudwah, Uswah, yang memesonakan setiap mata dan perlahan akan menarik mereka ke dalam dakwah laksana laron mengelilingi pelita.

Waspadai virus “narsist” hizb yang menjurus pada riya’ dan sombong.

     Apakah tidak cukup Sejarah Perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita?
Disorientasi tujuankah? Sehingga ghanimah lebih menyilaukan mata?
Over PeDe kah? Dengan kekuatan dan jumlah yang lebih besar dibanding Perang Badar?
Ataukah kita adalah salah satu dari pembangkang perintah Qiyadah dan Jama’ah?Sehingga terkorbankan di medan laga. Mati sia-sia.   

Jangan sampai sejarah Perang Uhud terulang kembali.
Kita berharap, kita adalah salah satu dari mereka yang tidak terlena dengan kilauan harta, tahta, dan wanita; tetap tho’at kepada Allah dan Rasulnya; dan senantiasa memegang teguh Asholah Dakwah.

“Allah telah menetapkan, Aku dan Rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al Mujadilah: 21)

ISTIQOMAH! Ini adalah amanah Allah, amanah Ummat, dan Jama’ah. Ketika ikhwah tidak istiqomah, walaupun ruhiyahnya tetap terjaga, cepat atau lambat ia akan masuk perangkap yang menjerumuskannya ke dalam jurang kesesatan. Sebab, fitnah-fitnah kekuasaan hadir ketika kita tidak lagi konsisten dengan yang diperjuangkan.

Kembali ke pangkuan tarbiyah…

Lets back to Asholah..!!


Bersiaplah untuk MENANG, dan tetap “WASPADA”!

: Ketika ada tanya yang mengusik hati. Alhamdulillah habis dapet nutrisi dari berbagai referensi.
 

Proposal Penelitian Seorang Akhwat

   Menakar Sensitivitas Akhawat dalam Lirik Nasyid “Maaf Tuk Berpisah” oleh Tashiru dan “Di Batas Waktu” oleh Edcoustic Ditinjau dari Kajian Semiotika Psikologi   

Tsaahh!! Keren nggak tuh judul postingan kali ini. Kurang apa lagi coba, dari yang curhat, cuap-cuap, celotehan, sampe tulisan yang berbau ilmiah-pun hadir di blog kesayangan kita ini (heuheuh..). Tapi jangan dibayangkan tulisan ane nanti bakal ngeluarin teori-teori Semiotika Psikologinya Mas Aart van Zoest, Pakde Lacan, atawa Om Freudian. Tenang Prenz, nyantai aja. Kita gak lagi buat penelitian sastra koq. Judul di atas adalah korban dari ke-stress-an ane yang akhir-akhir ini lebih banyak berkutat dalam pembuatan proposal penelitian. (Ooh ida, jangan bawa2 matakuliah ini di blog dunk. Jangan biarkan dia menjadi momok yang menakutkan dan selalu menghantui hari-harimu. Biarkan untuk sekali ini, dirimu merasakan lepas dan bebas dari kejaran deadline Proposal yang bentar lagi harus dikumpulkan. SEMANGAAATTTT!!!)

Ngomong apaan seh?? Jangan dihiraukan Prens. Ni orang hanya sedikit depresi aja koq. Bentar lagi juga sembuh. Mari kita berdo’a bersama demi kesembuhannya….Berdoa, mulai…!


F-O-K-U-S


A. PENDAHULUAN
1.Latar Belakang

Ehm…apakah ini saatnya qta ber-mellow2 ria?? Terserah tanggapan pemirsa…yang jelas di sini ane cuma ingin memotivasi akhwat untuk tidak pernah menjadi akhwat yang lemah. Jangan cuma karena sosok tangguh si ikhwan atau perhatiannya yang sedikit berlebihan (perasaan kita aja kallee, padahal ke semua akhwat juga sama!), eh si akhwat malah jadi ke-GeEr-an bahkan ada yang sampe kelepek-kelepek karena terserang virus merah apel (bosan pake jambu) pada si ikhwan. Aduuuh akhwat!!! Ternyata anti tuh rapuh banget yah! Apalagi soal yang satu ini. Yah, emang tipe anti sie, kalo dah menyukai seseorang, susah pindah ke lain hati (alias setia sehidup tapi, nggak mau semati…ya iyyalaah, secara!). Dah dari sononya pula Antunna tuh punya kadar sensitivitas yang lebih besar dari ikhwan. Makanya qta akan coba menakar sensitivitas anti di sini.

Sowri jiddan ya tashiru, edcoustic juga. Karena nasyid antumlah yang saat ini ane soroti. Sebenarnya ane suka banged ma nasyid2 antum (terutama, nasyid Tashiru yang featuring ma Ebieth beat A, SMS
, ‘Satukan Muslim Sedunia’ en yang ‘Optimis Sajalah’. Kalo Edcoustic, ane paling suka ama yang ‘Menjadi Diriku’ Waaooww…keyyeeennnn!!!!). But, ketika mendengar antum menyenandunghkan nasyid ‘Maaf Tuk Berpisah’ dan ‘Nantikanku di Batas Waktu’, koq naluri keakhwatan ane (taela!) jadi kesindir yhaah?? Suara hati ane berkata, bahwa ane harus segera meluruskan ini semua. Tidak bisa dibiarkan! *sambil mengepalkan tangan ke langit. Jangan sampai hal ini didiamkan hingga berlarut-larut. Mari kita selesaikan persoalan ini sekarang juga! (Mari!) Ane gak akan menyerah. Dengan segenap tumpah darah, ane akan berjuang melawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. MERDEKA!!! (whuuiizzz…)

2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan kita kupas sampai tuntas antara lain:
a. Gimana sih sebenarnya sensitivitas akhwat itu?
b. Apa makna yang tersirat dalam lirik nasyid Maaf tuk Berpisah (MTB) yang dinyanyiin oleh Tashiru?

c. Apa makna yang tersirat dalam lirik nasyid Di Batas Waktu (DBW) yang dibawakan oleh Edcoustic?
   
3. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum

 
Tujuan umum penelitian ini adalah sebagai ajang tholabul ‘ilmi, sharring dan diskusi dengan semua pembaca.

Tujuan Khusus
  Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap:

a. Sensitivitas akhwat dan pengaruhnya bagi ikhwan
b. Makna tersirat dalam lirik nasyid Maaf Tuk Berpisah (MTB) yang dinyanyiin oleh Tashiru
c. Makna tersirat dalam lirik nasyid Di Batas Waktu (DBW) yang dibawakan oleh Edcoustic

4. Manfaat Penelitian
Semoga bermanfat bagi semua..amiin!
yi-haa!! Enjoy it!



B. Kajian Pustaka

Menurut Bang Yoli Hemdi dalam bukunya, ‘Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia’, Laki-laki lebih dominan menggunakan otak kanan ketimbang otak kiri, sehingga cenderung berpikir realistis dan jarang memaksimalkan perasaan. Berbeda halnya dengan perempuan yang lincah memadukan penggunaan dua otak tersebut. Hasilnya dalam memutuskan atau menilai sesuatu, perempuan menyeimbangkan anatara pikiran rasional dan perasaan. Walau sebagian besar mereka juga sering terobsesi dengan otak kiri.


Masih kata Bang Yoli, Wanita berperasaan halus bahkan rapuh umpama kapas. Pada banyak kesempatan perasaan mereka lebih sering memberi warna. Dia akan menjadi malaikat penolong bila jiwa dihargai dan perasaannya disayangi. Namun, bisa berubah drastis menjadi pembunuh berdarah dingin jika hatinya dilukai dan disakiti (hiii…syerrreeemmm). Atas nama cinta, wanita berani menanggung seperih apapun derita. Tetapi mana ada yang sanggup menerima segores luka di dada. Ketika pengkhianatan sensitivitas rasa terjadi, maka perubahan seratus delapan puluh derajat segera melanda. Kesukaan akan berganti kebencian, kelembutan bertukar dengan keganasan. Sahabat lekas berubah sebagai musuh. Seorang raja jatuh pangkat dimatanya umpama budak sahaya. (Yoli, 2005: 41-42)

Kalo menurut ane sendiri, akhwat bukanlah makhluk halus meskipun perasaanya sangat halus (ya iyyalaah, kalo makhlus halus berarti kan sebangsa jin dan antek-anteknya). Akhwat adalah makhluk kasar (baca: manusia) yang berhati lembut selembut sutera yang dipintal di atas awan, dan sebening embun dikala pagi buta. Dia mudah sekali tersentuh karena dia amat sangat perasa dan sensitif sekali banged. *hiperbolis mode ON (Eva, 2008: tidak terdeteksi)


Naaah, gitu Prenz….

So, jangan coba-coba mempermainkan perasaanya ya! Awas lo!

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang ujung-ujungnya akan berubah menjadi metode cuap-cuap dengan teknik celotehan ala eva.



D. Analisis Data dan Hasil Penelitian

Pertama-tama, ane mau mengucapkan berton-ton maaf dan berjuta-juta ‘afwan kepada Tashiru dan edcoustic yang –tanpa seizin mereka- ane
jadikan kambinghitam pada postingan kali ini. Sungguh tak ada maksud apa-apa selain ikut mempromosikan album kalian agar lebih laku di pasaran. Heheheh…Pissss ^_^ v

Oke. Langsung aja ke inti permasalahan.

Perasaan sentimentil wanita yang benar-benar sensitif dengan kehalusan rasa amat merindukan suasana romantis. Layaknya seorang anak kecil yang merengek permen. Padahal pria (baca: suami) rasa sensitifnya kurang. Atau tidak membiasakan diri menciptakan suasana yang penuh
bunga-bunga cinta. (Yoli, 2005: 40)

Hmmm…Akhwat memang memiliki perasaan yang amat sangat halus dibanding ikhwan. Namun, teori ini bisa tidak berlaku bagi ikhwah tertentu. Terkadang kondisi di lapangan menyatakan hal yang berlawanan. Ada ikhwan yang tingkat sensitivitasnya lebih besar ketimbang akhwat. Seperti yang pernah peneliti tulis dalam penelitiannya yang lain, “Dasar Akhwat!” yang disitu tercantum jenis spesies akhwat CADANGAN (Cueks Abis nDAk ketuluNGAN), yang menyebutkan bahwa, akhwat tipe begini udah cuek, dingin, keras, kaku lagi! (whuiih…untung gak makan orang). Model
cadangan ini banyak kita jumpai di kalangan jilbabers. Biasanya cueknya itu ma lawan jenis (baca: ikhwan). Mungkin niatnya untuk menjaga hijab, tapi tetep aja cuek yang ndak ketulungan di sini gak bisa ditolerir. Misalnya, saat ada saudara seiman yang laki-laki (ikhwan) mengucapkan salam saat bertemu di jalan, trus si akhwat menganggap angin lalu dan pergi begitu saja tanpa menjawab salamnya (dalihnya sie, jawab dalam hati). Ato saat si ikhwan pengen membicarakan sesuatu yang sangat penting dan amat mendesak sekali. Nah, baru ketemu ama si akhwatnya tuh di jalan. Trus, waktu dipanggil “ukhti..!!” Eh, si akhwat malah gak peduli dan sengaja mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya (dalihnya lagi nie, takut terjadi fitnah). Yaaah..! Emang sie, serba salah. Bahkan hal semacam ini dah menjadi fenomena yang biasa dan sempat menjadi kontroversi di kalanagan aktivis dakwah. Kan udah ada adab-adab beriteraksi (bergaul) antar ikhwan akhwat. Bukan berarti kita menjadi makhluk yang eksklusif dan gak peka terhadap sesama kaan?? (evans, Dasar Akhwat Part Four 2009)

Sensitivitas akhwat bisa juga dilihat dari puisi yang dibuatnya, cerpen yang dibaca, curhatan yang diungkapkannya, maupun lirik nasyid yang disenandungkannya. Berikut adalah contoh rasa sensitif akhwat terhadap lirik nasyid yang menurutnya sudah menyentuh rasa sensitivitasnya (perasaanya) sebagai akhwat.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bedah lirik nasyid berikut dari sisi akhwat: (yuuukk..)


1. Tashiru dengan hitsnya, Maaf Tuk Berpisah (MTB)

“Kau tahu tentang hatiku
Yang tak pernah bisa melupakanmu

Kau tahu tentang diriku
Yang selalu mengenangmu selamanya” (MTB: lirik ke 1,2,3,4)

Analisis: Masa seeh??? Ah yang benerr? Ketawan banget tuh gombalnya! Sowri jiddan ya Wan, gak ngefek tuh…


“Kini kusadari bahwa semua itu adalah salah juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai” (MTB: lirik ke 5,6)

Analisis: Lho? Koq seolah-olah kamilah yang bersalah karena membuat hati antum ternodai?? (Oh, No!!! Kami adalah sodara kalian, sampai hati dikau menganggap kami seperti itu???!! Tega nian dikau!!!).

“Maafkanlah sgala khilaf yang tlah kita lewati
Telah membawamu ke dalam jalan yang melupakan Tuhan” (MTB: lirik ke
7,8)

Analisis: iya, iya, di’afwanin. But, separah itukah? Sampai membawa ke jalan yang melupakan Tuhan? Oh, My God! Astaghfirullah….

“Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi” (MTB: lirik ke 9,10)


Analisis: Oooh, Haruss Meennn!! Lagian, emang ada apa diantara kita? Biasa aja lagee!

“Ku tahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki” MTB: lirik ke 11,12)

Analsis: Tul banget Bro! Nggak salah lagi Bung! Lha trus kenapa??? Emang antum enggak?

“Dan bila takdirnya kita bersama
Pastinya Allah kan menyatukan qta” (MTB: 13,14)


Analisis: Ya, iyya laaah…Masa Ya, iyya Doonk..!!! Semua ada taqdirnya kaan??? Bersatu atau nggak, yang jelas udah ada Yang Mengatur…

2. Edcoustic dengan hitsnya, Di Batas Waktu (DBW)

“Di kedalaman hatiku
Tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata” (DBW: lirik ke 1,2,3,4)

Analisis: Ehm! Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Wooii….Ada yang punya komik gak? Pengen ngebaca komik neh! (lho?? Ni batuk ato…)

“Sungguh walau ku kelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan” (DBW: lirik ke 5,6)

Analisis: iyya taa?? Kelu, apa ngelu? Eh, maksud lirik keenam apa neeh?? Siapa yang menanti dan siapa yang dinanti???


“Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang
Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi” (DBW: lirik ke7,8,9)

Analisis: yeeee….PeDe amat ni ikhwan yaaak?! Ngapain juga nunggu antum, kelamaan! Mending juga sama ikhwan yang lain (capedee..). Iiih…Sok ngerasa gitu deeeh . Lagian, emang antum bisa ngejamin bisa membawa kami ke syurga? Ane sih mau aja, tapi….udah beli tiket belooom??


“Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanlah ku di batas waktu” (DBW: lirik ke 10,11)

Analisis: Whuuiih…Seolah-olah kami sangat mengharapkan kedatangan antum sampai-sampai kami disuruh menanti di batas waktu (kayak ga
ada ikhwan yang lain aja…). Nggak usyah yhaah..!!

Ehm, menurut ane neeh, kedua nasyid di atas adalah gejala narsistme kaum Adam. Mungkin karena porsi “rasa malu” si ikhwan yang lebih sedikit ketimbang akhwat sehingga membuat ikhwan lebih narsist en lebih PeDe dibanding akhwat.

PeDe amat seh ni ikhwan?!! Beruntunglah kalian, akhwat gak boleh bernasyid di depan antum, kalo nggak, akhwat pasti akan protes dengan membuat nasyid tandingan untuk membalas lirik yang ane rasa dah membuat sebagian akhwat jadi ‘gerah’. Kesannya, gimanaaaa gitu!

E. PENUTUP

Kan udah ane bilang tadi kalo akhwat tuh bukan makhluk halus Bro! Karenanya, emosi wanita sangat peka teruatama menyangkut harga diri.
Tanpa sensitifitas, akhwat tidak akan peka dengan denyut rasa dalam kehidupan. Akhwat piawai mengelola kepekaan nurani karena ia rajin mengasah ketajaman mata hati, sehingga peka membaca tanda-tanda yang tersuruk. Tidak membahasakan kehendak secara verbal/bahasa lisan, kecuali isyarat tersirat yang butuh ketajaman hati tingkat tinggi guna memahaminya. Itulah sensitifitas yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi, sekaligus energi wanita ketika menebar cinta (ngutip tulisannya Bang Yoli Hemdi dalam buku “Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia”).

Tau nggak Wan, bahwa sesungguhnya, selalu ada perempuan kuat dibalik keberhasilan lelaki hebat *dengan gaya bicara yang seolah-olah mengungkap kebenaran yang sudah lama ditutup-tutupi. GAYA!

Oke, Be strong Gals!!!


E. DAFTAR PUSTAKA

Hemdy, Yoli. 2005. Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia: Sebuah Torehan Wajah Perempuan dari Peristiwa. Jakarta Timur: Zikrul Hakim.


Lampiran

Maaf Tuk Berpisah

Kau tahu tentang hatiku
Yang tak pernah bisa melupakanmu
Kau tahu tentang diriku

Yang selalu mengenangmu selamanya

Kini kusadari bahwa semua itu
Adalah salah juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai

Maafkanlah sgala khilaf yang tlah kita lewati
Telah membawamu ke dalam jalan yang melupakan Tuhan
Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi

Ku tahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki


Dan bila takdirnya kita bersama
Pastinya Allah kan menyatukan qta…
Hwoooooo…….
   

By: Tashiru

Di batas waktu

Di kedalaman hatiku

Tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata

Sungguh walau ku kelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang

Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi
Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanlah ku di batas waktu


By: Edcoustic

Mohon maaf jika ada salah-salah kata. keep hamasah!!!
 

Ikhwah Kecanduan

Bismillah…

Apa Jadinya Kalo Ikhwah Kecanduan?

Emang ada ya ikhwah kecanduan?? Eh, jangan
salah…banyak malah!! Tapi, jangan dibayangkan kalo kecanduannya ma obat-obatan terlarang… (ya Allah, na’udzubillah…Semoga semua ikhwah dijauhkan sejauh-jauhnya dari barang haram itu!!). Meskipun si penikmat (baca: penderita) gak sampe sakau, kecanduan di sini juga amat sangat berbahaya sekali banget bagi kelangsungan dakwah para ikhwah.

Berawal dari sekadar hobby, iseng, coba-coba, kebetulan, ngisi waktu luang, ato just hiburan, trus keasyikan, lalu jadi kebiasaan, dan…dan…dan…eh, malah kecanduan!!! Gaswat kaaan?!! Astgfirullah…Parahnya lagi, candu di sini gak
mandang usia pembinaan. Gak peduli ia sudah tertarbiyah 3 tahun, 4 tahun, 7 tahun, 10 tahun, bahkan lebih. Seorang ikhwah yang rajin dalam pembinaannya tidak serta merta menjadi “kebal” terhadap candu-candu tersebut. Faktor yang mungkin sangat berpengaruh dalam penyebaran candu adalah lingkungan.

Mulanya mungkin sekadar pengisi kejenuhan. Tapi akhirnya menjadi aktivitas dominan, bahkan menyita banyak perhatian. Dan kemudian, agenda-agenda dakwah perlahan mulai ditinggalkan. Perlahan militansi akan berkurang. Sampai akhirnya melemah, dan….. hilang. Na’uudzubillah….Tsumma Na’uudzubillah….

Apa aja sih candunya?

Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan, ditemukanlah jenis-jenis candu yang dapat merusak kesehatan -fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah- para aktivis dakwah, diantaranya:

1. Ngegames

Awalnya sih pengen cari hiburan, trus ketagihan. Apalagi kalo lagi nganggur alias gak ada kerjaan, ngegames aja aaah, refreshing gitu lhoh! Ck..ck..ck..Ini adalah jenis candu yang    berbahaya, coz bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Bisa di kompi, lepi, atau HP . Gak di rumah, kantor, kampus, sekolah, di halte, sampe di dalam angkot.

2. Nonton Bola 

Heran deh, betah banget 2 jam cuma melototin bola yang diuber-uber ma sekawanan orang. Istimewanya apa sih? (Waduh, ane bisa ditimpuk pake bola ma penggemarnya nieh). Mending juga maen bola di lapangan. Kan bisa menyehatkan dan menguatkan. Dari pada cuma nonton, yang olahraga biji mata doang. Candu ini akan semakin mewabah ketika musim Piala Dunia tiba. Hehehe jadi inget Bapak dan kakak, kalo pas ane lagi di rumah (liburan), beliau-beliaunya sering berpesan sebelum tidur malam, “Dek (Nak), ntar malem bangunin ya, jam 3”. “Mau tahajjud ya kak?” Tanya ane dengan polosnya. “Iya, sekalian nonton bola”  Gyaaaaa…. Piiiss deh kak!! Bukannya ngel
arang sih. va cuma takut besoknya waktu kerja di kantor kakak malah ngantuk. Eniwei, gak hanya ikhwan aja lho yang maniak bola, akhwat juga ada (termasuk vans ).

   3. Film 

Dari film-film lokal, Box Office, sampe Drama Korea. Gak peduli harus nyewa VCD ato ngacir ke bioskop. Kecanduan film gak hanya dalam bentuk nongkrong di depan layar kaca, tapi juga ke dalam otak dan mempengaruhi pandangan
kehidupan.

4. Maen PS

Biasanya ikhwan nieh (tapi, gak tertutup kemungkinan akhwatnya juga). Awalnya mungkin sekadar pengisi kejenuhan, trus penasaran kenapa gak menang-menang (kalah mulu), lama-lama jadi kecanduan. ‘Afwan, ane kurang
paham soal PS, coz emang gak tertarik ma jenis olahraga jempol tangan yang gak menyehatkan ini. Yang jelas, maen PS sangat berpotensi untuk bikin kita lupa waktu..!!

5. Komik

Waduh, ini juga jenis candu yang amat berbahaya. Diawali dari hobby trus dikoleksi, dan kalo dah keasyikan baca, bisa lupa diri. Parahnya lagi, jika tokoh-tokoh dalam komik diadopsi dan dicocok-cocokkan ma karakter pribadi. Ada yang suka karena ceritanya yang lucu, kocak, semangat, dan penuh misteri. Gak heran kalo ikhwah ada yang terobsesi dan mempersepsikan diri seperti Conan, Naruto, ato Kakashi.

 6. Musik

Ada yang punya grup nasyid latihannya hampir tiap hari (Apalagi kalo    musim walimahan seperti saat ini ). Intensitas dengerin nasyid lebih sering ketimbang Murottal. Nasyid yang didengerin juga masih diragukan statusnya sebagai nasyid   (Maksudnya?). Musik..musik..musik…Dari yang jahiliyah sampe yang (katanya) islami. Awalnya mungkin gak sengaja denger dari temen-temen. Ato kebetulan gak ada acara. Daripada bengong, lebih baik mengaktifkan indra audiovisual. Maka layar kaca menjadi alternatif. Kebetulan acaranya musik-musik yang lagi in. hampir semua stasiun kereta api (eh, televisi) menyajikan menu musik jahili. Ada INBOX, Dahsyat, Klik, MTV Ampuh, dll, dsb, dst. Walhasil, aktivis dakwah jadi hafal lagu-lagu “aneh” gitu ketimbang hafal Al Quran dan hadist. Dan saking terbiasanya, lirik-lirik itu sampe kebawa ke ruang bawah sadar dan tercetus seketika. Kayak kemaren, pas ada seorang akhwat yang sebel ma temen akhwatnya, tiba-tiba temen akhwatnya langsung berkumandang, “Eh eh koq gitu sih..lo koq marah…jangan gitu sayang, jangan gitu sayang.” Seraya merayu dan menggodanya (Prens Filah tau kan itu lagunya siapa). Ckk..ck..ck…sampe segitunya. Penyebarannya memang dahsyat.

 

  7. Ngenet 

Whuaaa…ini nih candu yang gak kalah hebatnya dibanding candu-candu yang lain. Mulanya mungkin kebutuhan, cari informasi, ajang silaturahmi, pengen diskusi, trus…trus…trus… Yup! Asyik memang melanglang buana di dunia maya. Kalo kata Gita Gutawa, “Tak perlulah aku      keliling dunia”. Mau berita apapun, semua dah tersaji di depan mata, di kotak segi empat di hadapan Anda. Tinggal KLIK! Apalagi dengan fasilitas-fasilitas internet yang memanjakan. Mau berekspresi dengan tulisan, ada Blog. Mau nampang (menarsistkan diri), ada Face Book. Mau ngobrol-ngobrol en diskusi bisa Chatting. Mau kenalan, ada Friendster. Mau promosi dan bisnis juga bisa. Kurang apa lagi coba? Adanya kurang bisa mengontrol diri untuk gak berlama-lama di depan kompi/lepi.

8. Dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya….(pikir sendiri ya..)

Menarik” bukan melihatnya sebagai sebuah fenomena? Namun, seringkali pada diri yang “lemah” justru akan menjadi semacam pembenaran. Perlu diketahui, bahasan kita di sini bukan soal boleh atau tidak, tapi seberapa besar porsinya hingga mengalihkan kita dari aktivitas-aktivitas produktif dan agenda-agenda prioritas.

Demikianlah semua aktivitas-aktivitas yang sederhana, namun tanpa disadari menjadi candu dalam pergerakan dakwah. Fenomena-fenomena tersebut sebagian besar menyita waktu-waktu produktif kita, menggerogoti ruhiyah, dan melemahkan militansi dakwah.

Jika hari ini kita dapatkan kualitas dakwah kita menurun, maka cobalah untuk memeriksakan (baca: mengevaluasi) kesehatan dakwah kita. Mulai dari memutaba’ahi aktivitas sehari-hari kita, amalan-amalan kita, dan terutama niat-niat kita.


Wallahu Ta’aala a’laamu bishshawaab..

NB: Ohya, ada nih kecanduan yang harus senantiasa dilestarikan, antara lain: Dzikir, Tilawah, Hafalan Al-Quran, Infaq & Shodaqoh, Tholabul ‘ilmy (datang ke majelis-majelis ilmu, dauroh, training, kajian, dll).

 Owkeh!! Tetep Semangaaattzz!!!!“Tidak penting kamu suka atau tidak, yang penting Allah ridho atau tidak”  

Dasar Akhwat [Part Five]

             

Assalaamu’alaykum…

Suwi yo Pren kagak bahas ni topik ^_^. Pasti dah pada menanti-nanti kelanjutannya kaan? Hayoo ngaku…. (yee..PeDe amat!). But Pren, gak seperti biasanya, kali ini qta hanya ngebahas satu model akhwat, coz butuh penelitian yang serius dan pembahasan yang lumayan panjang serta waktu yang cukup lama untuk mengungkap kebenaran bahwa ternyata….jeng..jeng…jeng…*terdengar gonggongan serigala dari kejauhan…(hah? Sejak kapan serigala menggonggong?). Melolong kalee, dari kata dasar ‘lolong’. (yeah..sama sekali gak penting!). Bahwa ternyata…ternyata nieh…(iye, ternyata ape? Buruaaannn!!) ehm! ternyata, AKHWAT JUGA BISA RAME LHOOH!! *kali ini ane mendengar erangan prenz fillah dari kejauhan: aaarrggghhh!!!

13. Akhwat JUBIR

Untuk tipe ini, qta sebut saja do’i, AKHWATJUBIR (bukan Prenz, bukan juru bicara. Tapi, JUga BIsa Rame!). Kenapa ane bilang butuh penelitian yang serius? Karena ane harus meneliti: Apakah keramean akhwat itu hanya berdasarkan karakter/bawaan yang emang dah dari sononya rame ato semua tipe akhwat pun (mulai dari lemper, narasi, sosis, tumor, EM3, dll yang udah qta bahas sebelumnya) berpotensi untuk bisa bikin rame binti heboh?! Dan ternyata, penelitian itu menghasilkan sebuah simpulan bahwa peluang untuk menjadi Akhwat Jubir memang terbuka bagi siapa saja. Ya! Siapa saja. *gayanya seperti sedang mengungkap kebenaran yang sudah lama ditutup-tutupi (halah!). Berarti, termasuk yang nulis dooonkz (ya iyya dooonk, masa ya iyya lah..).

Ohya, edisi kali ini, akhwat yang menjadi target gosip qta tidak lain dan tidak bukan adalah si penulis sendiri, siapa lagi kalo bukan, ya…tau sendirilah. (heuheuh..)

Ada yang bilang kalo pemilik FS dan MP akhwatzone ini adalah tipe akhwat kaku, jaim, keras, pokoknya model akhwat serius begete gitu deeeh. Sampe-sampe nieh, beberapa akhwat di komunitas akhwatzone kalo ngirim tausiyah ke testi en HP ane pasti yang serius2 juga. Mulai dari sms2 haroki sampe yang militan2 (Whuaaa…ane mah seneng jiddan!). Semoga bener2 jadi akhwat tangguh, haroki, dan militan!…aaaamiin. Ada juga yang nelpon ke ane, kesan pertama yang muncul adalah: ehm! Koq masih imut yhah? (heheh…). Menit berikutnya: Koq beda ma dug
aan ana ya? Menit berikuynya lagi: asyik juga nieh diajak ngobrol (ehem! Ada yang mau protes?!). trus, lama kelamaan: Oalah! Jadi begini thow aslinya si akhwtazone? Ternyata…rame juga yah! Huahaha… (ops! Sensor. Akhwat gak boleh ketawa keras2). Buat Kak nani di Sibolga-Medan, Kak Nia di Pekan Baru, Dek Elin di Jakarta, Dek Nur di Bekasi, Ukht Nurin di Jember, Kak Fatin di Jepang, dan semua akhwat di akhwatzone yang meluangkan waktu dan pulsanya untuk berbagi kisah suka dan duka bersama ida, Jazaakumullaahu khairan katsiira yaaah…meski gak pernah bersua, qta seperti dah kenal lamaaaa banget! Yaaah beginilah ida! Terimalah aku seperti apa adanya, aku hanya insan biasa, tak mungkin sempurna (minjem liriknya edcoustic). Sekali lagi, hal ini semakin membuktikan bahwa: AKHWAT JUGA MANUSIA.

Kembali ke AKHWAT JUBIR. Akhwat emang bisa dan boleh rame, tapi cukup antar sesama akhwat aja dan di forum yang emang gak resmi, trus ramenya juga jangan kebablasan ya Non! Kalo di depan mad’u ato mutarobbi-nya aja si akhwat sok jaim (biar terlihat lebih dewasa, bijaksana, en berwibawa gitu!). Ato pas lagi di dep
an MR-nya, si akhwat bisa memasang tampang kalem, adem, ayem, polos binti lugu. Apalagi di depan para ikhwan, dia bisa lebih tegas, kaku, serius, en stay cool Man! Bahkan, saking jaim-nya, sebagian akhwat ada yang anti banget memanggil ikhwan dengan sebutan ‘akh’ (nadanya, gimanaaa gitu! Akh…). Doi lebih enjoy memanggil makhluk berjenggot (bukan jenis hewan lho ya!)itu dengan sebutan Pak! (banyak juga sie yang protes: ane kan belum punya anak ukh, belum merit pula, baru juga masuk kuliah, koq dipanggil Pak seeh?!). Iya, iya…’afwan jiddan Wan, bagi penganut “madzhab” ini, panggilan ‘Pak’ juga termasuk bentuk“penjagaan”. Bahkan nih, ada “madzhab” lain yang “berijtihad” dengan mengganti semua sebutan Akh, Pak, dan nama-nama si ikhwan dengan nama ‘Afwan (awas dimarahin ortunya lho ukh! masak nama anak orang diganti2 seenaknya!). Mau contoh? Saat acara kepanitiaan, si akhwat dengan tegas berkata pada si ikhwan: ‘Afwan, bisa minta tolong jemput pembicara di jalan X, ban motor beliau pecah. Atau: ‘Afwan, sound system-nya udah di chek belum? ‘Afwan, sebaiknya acara segera dimulai, kasihan peserta sudah terlalu lama menunggu. Ada juga yang lewat SMS: ‘Afwan, ane gak bisa hadir syuro. ‘Afwan, Acaranya jadi ahad depan kan? Dll, dsb, dst….Jangan2 abiz gitu ada orang ammah yang ngira kalo nama ikhwan itu si ‘Afwan, kan gak lucu kalo tiba2 dia ikutan manggil si ikhwan dengan: Hey, ‘Afwan! Dari mane aje lu? (Huwahahaha…Ops! ‘Afwan, kebablasan). Kayaknya perlu materi MBA di kalangan Aktivis Dakwah deh. (bukan, bukan MBA yang ‘itu’. Tapi, Manajemen By ‘Afwan. Heheh).

Kembali ke topik. So, sah-sah aja koq kalo akhwat rame, tapi liat2 sikon ya Mbak! Jangan rame pas lagi Guru or Dosen
menjelaskan (ya iyya laah, bisa dikeluarin tuh). Jangan rame saat orang2 lagi pada bobo (bisa2 ada bantal meluncur kea rah Anti. Hehehe…). Jangan rame saat ada kajian. Jangan rame saat liqo. Jangan rame di kamar mandi. Dan yang terpenting, jangan rame pas lagi sepi alias ga ada orang sama sekali (secara, Anti bisa dikira penghuni RSJ yang lagi lepas ukh. Hihihi…).

Rame terkadang diperlukan untuk memecah kesunyian. Rame juga dibutuhkan untuk mencairkan suasana yang membeku bak es batu. Rame di sini maksudnya obrolan disertai guyonan atau canda yang nggak melanggar syar’i dan gak kelewat batas. Ya, sekadarnya aja lah..biar suasana tegang menjadi riang, biar stress menjadi hilang.

Nah, dari paparan Akhwat Jubir di atas, makin terbukalah wawasan kita mengenai sosok bernama ak
hawat. Berhubung sudah ada bukti dari penelitian terdahulu (dalam Proposal Penelitian Seorang Akhwat), yang menyatakan bahwa akhwat bukanlah makhluk halus melainkan makhluk kasar (baca: manusia) yang tak luput dari salah dan dosa serta memiliki banyak sekali kekurangn dan kelebihan, maka dapat ditarik benang birunya bahwa ternyata: Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh! (iye, iye, ane tau..kagak nyambung kan?). Maka, dengan sepenuh hati ane nyatakan bahwa: Tak Ada Akhwat Yang Tak Retak.


Hmmf…Dasar Akhwat!

 

Penyakit Akhwat

Berbicara tentang akhwat, tentu berbicara tentang wanita. Mengapa demikian? ya, Karena akhwat adalah wanita..dan wanita adalah juga manusia (halah). Yang jelas terlepas dari seberapa tangguh seorang akhwat dalam menjalani aktivitas kesehariannya, tentu mereka punya suatu kelemahan. Kelemahan yang semakin menegaskan (lagi-lagi) bahwa akhwat juga manusia. Postingan ini, akan membahas (secara jenaka) apa dan bagaimana "virus" yang kerap hinggap di dalam sosok seorang akhwat, dan tentunya disertai juga tips dan metode pengobatannya...Semoga dapat bermanfaat, memberikan ibrah, serta senyum kebahagiaan. Just for fun.



Bukankah hidup harus seimbang dan menggembirakan dalam batas-batas yang dibolehkan? enjoy it


------------------------------------


Nangisuitis

Akibat terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut,mata kedip-kedip. Efek sampingnya mata bengkak, saputangan banjir, hidung meler, bawaannya ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. Penyakit ini bisa diobati dengan obat Tegaridol, OBH (Obat Berhati Hamba).

Curhatitis B

Bawaanya pengen nyerocos, Efek samping rahasia orang bisa bocor, terkena Nangisuitis, Penyakit ini bisa diarahkan positif jika ia bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan.

Shooping Syndrome

Gejalanya pengen jalan mulu, mata melotot,
Efek sampingnya lidah ngiler, mulut nganga, dompet jadi tipis. Jika sudah masuk stadium 4(parah banget) dompet cowoknya ikut tipis. Coba minum hematcold atau tablet PD (Pengendalian Diri).Salah satunya bisa lewat MH (manajemen hati).

Cerewetisme

Lebih parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma.
Efek samping muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi lebih halus karena sering mengelus. Lebih cepat makan pil dengar dan minum tablet bicara lebih diperlambat.

Lamanian Dandanitos

Pengennya diem depan cermin. Tangan kiri gatel-gatel pengen pegang sisir, tangan kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak.
Efek samping: menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagean makanan. Minum segera Sari Bawak (Bagi Waktu) dan
Taperi (tambah percaya diri). Buat cowok minum Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum mandi.

Cemburunotomy

Gejala muka lonjong, tangan mengepal, ali menukik. Coba cegah dengan obat sirup prasangka baik tiga sendok sehari, Pil pengertian dan tablet selidiki dahulu.



Ngambekilation

Gejala hampir sama dengan Cemburubotomy. Minum Sabaron dan Bersyukurinis.

Demikian, semoga lekas sembuh dan dapat segera terobati.
 

Sentuhan syetan di wajah orang yang tekun beribadah

Kuis: “Apakah di lingkungan sosial Anda, biasanya Anda merasa bahwa Anda tergolong orang yang paling saleh?” Silakan jawab di dalam hati masing-masing dengan sejujur-jujurnya. Lalu marilah kita simak sebuah kisah dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih berikut ini. (Harapanku, kita bisa menjadi lebih rendah hati dalam menekuni ibadah, terutama di bulan Ramadhan ini.)

Di hadapan Nabi dan para sahabat, Abu Bakar Shiddiq memuji-muji seseorang yang sangat bagus ibadahnya. Namun, Nabi tidak segera berkomentar. Setelah itu, orang yang dipuji-puji tersebut datang. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itulah orang yang kita bicarakan.”

Beliau bersabda, “Aku melihat sentuhan syetan di wajahnya.”

Kemudian dia duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, “Apakah kamu bila berada dalam suatu majelis, kamu merasa bahwa kamulah yang paling saleh di majelis itu?”

Orang itu menjawab, “Ya Allah, memang begitulah saya.” Setelah itu, dia pergi ke masjid.


Kemudian Nabi memberikan perintah yang sangat mengejutkan, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Abu Bakar Shiddiq berangkat. Singkat cerita, dia kembali seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidak mungkin aku membunuh dia. Dia dalam keadaan ruku’. Dan ruku’-nya itu sangat bagus.”

Nabi masih berkata, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Umar bin Khaththab berangkat. Ia pun kembali seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidak mungkin aku membunuh dia. Ia sedang meratakan dahinya dalam shalat dan bersujud dengan sangat khusyuk.”

Nabi masih berkata, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Berangkatlah Ali bin Abi Thalib. “Aku akan membunuh dia,” katanya. Tidak lama, Ali juga kembali, tetapi pedangnya pun belum bersimbah darah. Ali berkata, “Aku datang ke masjid, tetapi orang itu sudah tidak ada, wahai Rasulullah. Orang itu sudah pergi.”

Nabi kemudian bersabda, “Seandainya dia kau bunuh, umatku tidak akan pecah sesudah ini.”

Akhwat dalam Siyasih, tanya kenapa?

Agak panas mendengar cerita seorang akhwat dalam sebuah forum daerah beberapa waktu lalu. Pasalnya, ada akhwat daerah yang kemudian hendak sharing akan dakwah kampus/daerahnya di depan forum. Namun, di cut oleh ikhwan dengan alasan yang tidak substansi. Intinya, akhwat tersebut diharapkan tidak berada di depan forum…dengan tinjauan bla..bla..bla.. menjelaskannya saja ana sulit bahkan marah. Mengapa hari ini kita masih berkutat pada masalah seperti itu?

Adalagi sebuah forum, di mana akhwat yang diusulkan menjadi presidium siding, tapi mendapat sanggahan dari ‘partner dakwahnya’. Phuuffp…ana makin tidak habis pikir. Era muassasi yang akan kita masuki masih berkutat pada hal tersebut. Pemahaman kita akan posisi akhwat ternyata belum bertemu.

Adalagi sms yang dikirimkan ’partner dakwah’ para akhwat yang isinya mempertanyakan forum akhwat yang sudah berdiri…haruskah ada??? Dalam sesi lain, sebuah ’syura’ menetapkan bahwa akhwat tidak boleh masuk dalam calon legislatif BEM. Pernah ada isu pula, bahwa akhwat tidak boleh ikut kongres. Yang terbaru, akhwat parleme
n di PAW, dan ada statemen siyasih tanpa akhwat (yang ini bisa ditolerir karena kondisi kampus). Ada lagi rapat malam ikhwan dll.

Ada lagi statement keji: syahwat siyasih akhwat cukup tinggi !!! karena melihat begitu ramainya akhwat dalam kancah politik kampus. Membangun partai, berdiskusi dengan lawan politik, berorasi dalam aksi, masuk dalam bursa
kandidat ketua BEM fakultas…..

Agghhh!!

Mengapa ada tanya?

Ketika diminta kader siyasih fakultas (ikhwan) untuk mengurusi tetek bengek siyasih kampus…tak kunjung ditemukan. Giliran akhwat mau bergerak, selalu ada tanya. Masih mending tanya yang muncul, ada kalanya kecaman keji!!! S a k i t !!!!


Wahai saudaraku…mengapa tak ada ketsiqohan dalam dirimu?


Mana jiwa Qawwam yang engkau miliki….


Secara sadar, akhwat adalah kaum pengikut. Tapi bukan berarti mengikut tanpa pertimbangan apapun. Maksudnya, akhwat adalah sosok yang harusnya diarahkan, dipimpin…jika fungsi itu tak ada, maka ia pun siap untuk memimpin sendiri. Ingat istilah single parents bagi seorang ibu yang merawat anaknya sendiri tanpa ayah? Ya, akhwat memiliki kemampuan itu. Artinya, Ar Rijal Qowwamun ala Nisa. Jika ada yang memimpin, ia pun akan patuh. Namun, jika tidak, maka ia pun siap memimpin dirinya sendiri. Lantas, mengapakah lagi ada pagar-pagar yang membuat akhwat sulit berekspresi? Membuat forum akhwat, misalnya!


Ada cerita dalam sebuah forum sidang, saat para akhwat diusulkan menjadi pemimpin sidangnya, tak satupun terdengar ’partner dakwahnya’ bersedia menggantikan posisinya. Mereka sedikit egois. Kurang mampu menjaga akhwat. Padahal akhwat sudah memberi kesempatan, bahwa dirinya akan memimpin, jika yang layak memimpin tak ada, tidak sanggup. Karena, akhwat khawatir, jangan sampai saat sidang berlangsung pun, akan banyak interupsi yang mempertanyakan keberadaan akhwat di depan forum seperti yang sudah-sudah. Hal ini dapat mengguncang forum dan menghambat. Akhwat tidak siap jika itu terjadi, karena sama saja ’mempermalukan’ dirinya di depan forum. Padahal dalam situasi tersebut… begitu banyak calon pemimpin, begitu banyak sang orator, begitu banyak sang demonstran, begitu banyak sang pendobrak yang hadir, dan mampu untuk itu. Jadi ragu, jangan-jangan itu hanya retorika belaka. Jika dalam situasi perang seperti ini, kasihan akhwat…akan ditolong pada saat belati benar-benar di lehernya, saking akhwat dirasa mampu menjaga diri L. Lantas, apa bedanya dengan ikhwan dalam dunia heterogen? Di sana pun mereka berinteraksi dengan lawan politik yang juga lawan jenisnya. Berdiskusi, bercengkrama, merekapun memimpin sidang, namun ikhwan tidak mampu protes. Jika tidak tahan pun, malah menghindar. Tak mampu bicara dan bisanya ’membantai’ saudarinya dalam forum homogen. Adilkah? L Ini baru masalah amanah, persepsi…bagaimana dengan hal yang lebih berat, poligami misalnya!!!^_^

Sekarang, cukup banyak akhwat yang mampu memimpin rapat, menjadi decision maker, menjadi problem solver dan itu tidak diragukan lagi. Hanya saja pengakuan internal yang belum sanggup melihat kenyataan itu. Jika memang akhwat mendapat penjagaan, mengapa tak ada tawaran solusi bagi akhwat siyasih? Paling tidak ada pengganti para akhwat tersebut dalam amanah dakwah yang diembannya. Padahal, kerja siyasih cukup meremukkan persendian, menguras otak dan membuat wajah makin tirus.

Ada lagi yang menyatakan, jika akhwat ada depan forum, apa kata mitra??? Bah!!! Mestinya semua mampu menjawabnya. Justru Ikhwan harusnya malu karena tidak mampu merecovery kerja akhwat. Masih ingat saat akan aksi, maka akhwat bekerja sampai malam membuat jargon, umbul-umbul, ataupun bendera. Bahkan bambu pegangan jargon pun harus dipotong sendiri- kuat mAnn!!!. Dalam beberapa kegiatan pun, akhwat seperti dibiarkan membuat spanduk sendiri. Sekarang memang zamannya akhwat tidak hanya mampu bekerja internal, domes
tik. Ekstra domestik pun harus dikuasai…membuat pagar, memperbaiki genteng, balap motor, memperbaiki PC, dll…….??>>@@$$$###!!!! Nah lho….

Mestinya, mereka melihat, bagaimana kuota tiga puluh persen bagi perempuan di legislatif pun, tak sanggup untuk dipenuhi. Jika pembelajaran awal sudah mengalami hambatan internal, maka bagaimana seorang akhwat mampu bekerja di ranah politik, apatah lagi mendongkrak kuota mencapai empat puluh hingga lima puluh persen?

Allah tidak pernah membedakan tugas laki-laki dan perempuan. Mereka sama-sam diberi tanggung jawab untuk saling menolong dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak buktu keterlibatan muslimah dalam kegiatan dakwah Rasulullah. Aisyahpun menjadi rujukan bagi sahabat dalam belajar Islam. Fatimah dan Ummu sulaim pun dalam perang Uhud membantu prajurit yang luka, ia membawakan kendi air, sedang fatimah membantu pengobatan Rasul yang terluka. Sumayyah, syahidah pertama, Para wanita bani ghifar dalam perang Khaibar juga turut membantu rasul dalam kegiatan jihad. Ummu Imarahpun turut berperang pada perang Uhud. Shafiyah binti Abdul Muthalib r.a juga turut dalam perang Uhud dan Khandak. Asma binti Yazid yang membunuh sembilan musuh pada perang Yarmuk. Perjuangan Ibunda Zainab al-ghazali, subhnallah …..

Kini, begitu banyak isu perempuan yang tidak tertangani oleh akhwat. Kepemimpinan akhwat harus di mulai dan berjalan baik. Mampu menghadapi masyarakat yang apatis. Mereka telah diambil hatinya oleh kaum penuh motif, akhwat harus kreatif.

Forum akhwat harus dipertahankan, untuk pencerdasan akhwat. Mengingat banyak akhwat yang mudah ditekan, dipengaruhi, pemalu, dan tidak kreatif jika bersama ’partner dakwahnya’. Forum pencerdasan itu, mungkin belum terasa hasilnya, tapi, minimal jadi bekal mengarungi kehidupan yang lain. Wallahu A’lam…


Ruang ide-Q di rumah Q-tha

Jangan pernah melihat ikhwan akhwatnya, tapi lihatlah apa yang diperjuangkanya. Ikhwan dan akhwat, keduanya harus mampu menjawab tantangan zaman. Saling mendukung, bahu membahu mendirikan bangunan dakwah. Bukan bercerai berai, menyimpan dendam. Zionis makin tak terkendali. Kita tak boleh terlena. Masalah internal harus disudahi.Ilmu harus diperdalam. Mungkin selama ini kita kurang Ilmu, tapi tak menyadarinya.Sehingga gerakan tid
ak berkah. Tetap berjuang Akhi..Ukhti..Allah bersama kita Allahu Akbar !!!
 

10 Hari Membangun Jati Diri

Sudahkah kau bangun jati dirimu dengan kokoh?
Jika belum, bangun dalam 10 hari dan berubahlah bak kupu-kupu yang menemukan dirinya dengan sebuah perjuangan.

Hari Pertama
Keberhasilan dan Kerja keras adalah satu paket kehidupan yang tidak bisa kita beli secara terpisah. Jika ingin berhasil, kerja keras adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.
Hari kedua
Kegagalan adalah pintu keberhasilan. Maka, beruntunglah orang yang berusaha kemudian gagal hari ini karena esok kesuksesan ada di tangannya.
Hari Ketiga
Orang yang sukses adalah orang yan
g ketika gagal ia akan tetap berdiri dan mencoba lagi.
Hari Keempat
Orang akan selalu menertawakan kita ketika kita gagal dan anehnya mereka selalu siap untuk bergabung ketika kita berhasil, so jangan heran.
Hari Kelima
Mencoba berhenti berarti Anda lemah dan berhenti mencoba berarti Anda sudah kalah.
Hari Keenam
Ibarat Jalan, Perencanaan adalah jembatannya. Seberapa kokoh jembatan tergantung kemantapan rencana. Tak berbeda dengan hidup kita.

Hari Ketujuh
9 dari 10 orang sukses berasal dari kalangan yang mencoba lalu gagal. Anda ingin mencoba lalu gagal atau tidak mencoba sama sekali dan menjadi 1 dari 10 orang itu?
Hari Kedelapan
Bermimpilah! karena suatu saat nanti Anda akan berteriak dengan lantang, “Alhamdulillah Ya Allah, mimpiku telah jadi kenyataan…!!”
Hari Kesembilan
Pernahkah Anda berhay
al memiliki uang bermilyar-milyar? Jika tidak bagaimana Anda bisa mendapatkan uang sebanyak itu di alam nyata sedangkan berhayal saja tidak bisa. Padahal berhayal itu apalah susahnya.
Hari Kesepuluh
Sejatinya kegagalan itu adalah bentuk lain dari keberhasilan. Jika Anda gagal menemukan di mana rumah mantan pacar Anda, sejatinya Anda telah berhasil menemukan jalan mana yang salah dan menyesatkan sehingga kelak bisa dihindari

 

Salahkah menolak cinta pria tampan?

Ustadz,, saya juga punya masalah yang agak berat niii,, jadi gini ceritanya,, saya tuh anak perempuan yang nggak pernah terlepas dari saran-saran dan perhatian orang tua saya, alhamdulillah… tapi itu semua jadi membuat perilaku dan sikap keseharian saya seperti anak kecil, walaupun umur saya hampir 23 tahun, tapi teman-teman saya selalu bilang saya seperti anak-anak karena cara saya bicara, kelakuan saya, kebiasaan saya masih seperti anak kecil, unutuk mengambil keputusan sendiri saya masih kurang percaya diri, takut terjadi kesalahan yang bisa menyebabkan penyesalan di kemudian hari, yaa kurang lebih begitulah gambaran kepribadian saya,,

Dengan kondisi kejiwaan saya yang masih kekanak-kanakan seperti itu, suatu hari saya harus memutuskan perkara yang menurut saya tidaklah mudah,,

Seorang mahasiswa UI yang menurut saya amat rupawan menyatakan perasaannya pada saya.. , ingin sekali saya menjawab “iya” tappi, untuk melakukannya sangat berat bagi saya, saya punya beberapa pertimbangan untuk itu,

pertama, saya tahu dalam islam tidak ada kata pacaran,


kedua, saya tahu saya menyukainya namun, saya merasa perasaan ini hadir hanya karena paras tampannya bukan karena budi pekerti dan kesholehannya..

singkat cerita, kami tidak “jadian”………

namun, setelah semuanya selesai sering terbesit perasaan menyesal kenapa saya menyia-nyiakan orang seperti dia..

pertanyaan saya adalah:

bagaimana cara yang paling efektif agar perasaan menyesal yang sering menghantui saya saya tidak lagi ada??

Jawaban Ustad :

Supaya tidak menyesali keputusan (atau pun segala yang telah terjadi), banyak-banyaklah bersyukur. Caranya, antara lain:
Hitung-hitunglah berapa banyak nikmat yang telah Allah limpahkan kepada dirimu.
Bukalah mata dan telinga untuk melihat betapa banyak orang yang lebih berkekurangan daripada dirimu.
Sering-seringlah mengucap lafal syukur, seperti: alhamdu lillaah…
Resapilah makna lafal syukur itu dalam hati dan pikiran, bukan sekadar di bibir saja.


Untuk kiat-kiat lain supaya tidak menyesal, lihat “Periksa Peluang Pendapatan dari Sesal Dahulu!” dan “Pastikan Mana Racun, Mana Madu!“

Alasanmu yang pertama (”dalam islam tidak ada kata pacaran”) tidak bisa kuterima. Sebab, Islam tidak melarang pacaran. Yang terlarang adalah yang mendekati zina (dan perbuatan munkar lainnya).
Selama tidak mendekati zina atau pun berbuat munkar, boleh-boleh saja pacaran.

Alasanmu yang kedua (”merasa perasaan ini hadir hanya karena paras tampannya”) bisa kuterima. Itu merupakan pertanda kedewasaanmu. Keputusanmu sudah tepat, setidak-tidaknya untuk saat ini. Bagaimanapun, makna asli pacaran adalah persiapan nikah. Jika belum berniat hendak mempersiapkan pernikahan, tentu saja pacaran itu belum perlu.

Wallaahu a’lam.

 

Posted in My Self. 2 Comment »

MEYAKINI ALLAH SEDANG MELIHAT KITA

Dalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu “meyakini Allah sedang melihat kita” karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai. Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat) dan Al-Syahid (Maha menyaksikan).

Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah : menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.

Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, a
kan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Mereka yang berbohong/berdusta/mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu lebih menjurus kepada
sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.

Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)


Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada. Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).

Mengutip buku Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid : Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ? Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).

Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ? Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi. Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi. Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut. “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut. Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.

Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku).


Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hadid 4)

 

ketika ikhwah jatuh cinta - akhwat berbicara

Artikel yang menurut saya lumayan bagus. Meski temanya klasik tapi menarik untuk dibaca karena dari sudut pandang akhwat dan bisa jadi renungan kita. Yah.. selama ini kan akhwat cenderung diam kalo udah masuk ke wilayah cinta. Di saat makin banyaknya aktivis-aktivis dakwah yang sudah kebablasan dalam hal cinta. Menjajakan cinta atas nama dakwah. (afwan Sebenarnya rada sarkas juga sih pemilihan katanya, tapi mesti gimana lagi penggambarannya? susah klo mo pake istilah laen, lagian kita sering nggak ngeh kalo penyebutannya terlalu biasa).

Soalnya kebanyakan (saya nggak bilang semua lho…,) aktivis dakwah sering TP TP sama lawan jenisnya. Itu bisa dilihat ketika dia sering TP TP lewat fasihnya kata-kata, luasnya ilmu, lewat indahnya untaian nasihat, lewat merdunya suara, dkk. Yang jelas motivasinya secara tidak disadari melenceng jadinya, sayang banget khan? Mungkin dan sangat bisa jadi kita pengumbar nafsu. Wah gimana donk?! Maunya show amal dengan fatwa-fatwa agama ke orang lain, eh gak taunya nyari muka, aduuuh sayang banget yak?! Maunya sih kasih comment di FB dengan taushiyah,nggak taunya??? Biar dianggep paling
mantep ruhiyahnya.

Hohoho… ini kenyataan lho.. saya sering iseng2 chek comment2 FB “aktivis dakwah”.. yaahh.. lihat aja dari fotonya.. biasanya siy yang ikhwan kalo nggak tampang sholehnya yang dipajang yaa.. gambar mujahid Palestine, atau orang pake sorban (kafiyeh) dengan muka seba
gian ditutup. Liat dari gambarnya siy waah.. subhanallah… Militan negh kayaknya! profilenya juga.. mulai dari puisi tentang dakwah, aktiivitasnya dakwahnya yang segambreng, sampe kata-kata mutiara yang bisa bangkitin ghiroh! Tapi pas liat commentnya… hihi… rata2 yang ngisi akhwat.. dengan kata-kata romantis pula..Beberapa contohnya,

“syukron akhi atas tausyiahnya. . jangan bosen-bosen ingetin ana yah…”



(
hihi.. nggak ada akhwat yang ingetin anti ya ukh…?)

“Salam.. Lama nggak silaturahim, .. gimana kabarnya? Sekarang kegiatannya apa?”

(penting gitu? Siapa eloe?!)


“Add ana aja akh.. biar nambah ukhuwah… ini alamatnya……, atau kalo mau chating ini alamat YM ana…” (hadooohh… MR-nya nggak marah tuh ukh?!)

Hehe.. masih banyak lagi dah yang laennya.. di FB akhwat juga nggak jauh beda.. biasanya dengan foto kartun bergambar akhwat, kemudian ngeliat profilenya yang lebih mirip biodata untuk taaruf, sampe puisi-puisi cinta.. (haddooohh…) comment2nya pun nggak kalah vulgar dengan yang di atas… cuma bedanya yang ngirimin ya ikhwan… hohoho…. pernah saya iseng sekali2 comment ke akhwat tsb.. “hihihi… gile bener…!!! ikhwan semua tuh yang comment ukh! Mesra-mesra pula lagi! Kenapa nggak sekalian aja ajak taaruf… terus temen2 akhwatnya mana tuh ukh… lagi marahan yah? Sebenernya siapa yang salah ya? Hohoho…”

Ya Allah… begitu halusnya… hingga kita tak menyadarinya. Jangan-jangan saya dan kita mungkin sudah terjebak dalam
permainan setan ini?! lambat laun karena tidak sadar, akhirnya kita telah jadi korban.

Tanpa bermaksud menuduh siapapun, tulisan ini tentunya tidak harus membuat kita berhenti terpaku tuk meneruskan berbuat kebaikan, saling menasehati, bertausyiah, berfastabiqul khoirot. Karena berhenti dan sesuatu ha
rus bersandar pada Allah SWT. Namun sangatlah bijak, jika kita mau berhenti sejenak menengok ke dalam relung hati kita yang paling dalam, sudah luruskah niat kita? adakah benih karat yang mencoba menggerogoti? Kenapa tausyiah kita hanya kepada lawan jenis? Padahal masih banyak saudara2 kita sesama jenis yang butuh nasihat kita. Niat & keikhlasan seutuhnya adalah urusan makhluk dengan sang Kholik langsung, manusia lain manapun tidak mampu menilainya. Jika belum lurus, mari kita sama-sama luruskan. Jika merasa berat meluruskannya, mari sama-sama berdo’a semoga Allah memberikan kekuatan lebih dan senantiasa menjauhkan kita dari keterpedayaan. Selamat membaca artikel singkat di bawah ini.

-Dodi-

Ketika Ikhwah Harus Jatuh Cinta

Akhwat Berbicara…

Frens fillah…izinkan ane bercerita. Dalam kisah ini ane memakai sudut pandang orang pertama tunggal (aku, saya, ane, gue, whatever!), alurnya bolak-balik (alias semau
ane). Ending terserah ente. Dan settingnya di sebuah medan bernama medan dakwah. Di sana penuh dengan cobaan, ujian, onak, duri, aral melintang sampai romantisme perjuangan.

Mengapa romantisme? Karena ane rasa di stasiun-stasiun perjalanan, di setiap sendi kehidupan, di setiap makhluk yang bernyawa (terutama manusia), yang di dalamnya ada segumpal daging yang disebut hati, di hati itu ada rasa.
Rasa itu berwujud cinta. Cinta itu fitrah! Cinta itu anugerah! Yang jika benar menempatkannya, akan berakhir bahagia. Dan jika salah penempatannya, maka akan berujung malapetaka.

Yah.. cinta. Tak pernah bosan untuk dibahas. Sesuatu yang diulang, dan akan terus berulang. Dari zaman nenek moyang (bapak Adam dan Ibunda Hawa) sampai akhir zaman. Manusia yang tengah merasakannya bisa lupa waktu, lupa diri, lupa makan, bahkan lupa ingatan! (ck..ck..the power of love). Afwan, ane bukan seorang pujangga apalagi pakar cinta.
Tapi (katanya) kekuatan cintalah yang menjadikan seseorang mendadak puitis, mendadak kreatif, mendadak inovatif, mendadak solutif, dan mendadak dangdut (lho?! He..he..af1 jiddan). Ane akan coba fokus. Ane gak akan membahas tentang cinta. Apa itu cinta, untuk siapa cinta itu diberikan, dan
lain sebagainya. insyaAllah akan ana bahas di lain kesempatan. Dengan topik dan judul yang berbeda tentunya.

Oh ya… Izinkan juga ana bicara dari hati seorang wanita (bukan berarti mewakili kaum hawa keseluruhan) ini murni dari suara hati ane pribadi, so jangan men”generalisasi”kan pada semua akhwat. Kalo mau protes ke ane aja, otre?!)


Fenomena ini mungkin terjadi hampir di setiap medan dakwah. Pokoknya ada aktivis dakwahnya, ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) maupun ADK (Aktivis Dakwah Kampus/kampung) . Pemerannya adalah akhwat en ikhwan. Keduanya adalah partner yang saling berkoordinasi dalam dakwah. Banyak sekali artikel dan buku yang telah membahasnya. Seminar, dauroh, sampai kajian liqo-pun membicarakannya. Gimana kalao ikhwah jatuh cinta? Hmmmm…. wajar tuh! Fitrah koq! Normal ih! (oke-oke… peace man!) dari ikhwah yang militan sampai yang meletan, semua berpeluang merasakannya. Yang jelas jatuh cinta ala ikhwah gak sama dengan orang ammah. (af1, maksud ane ikhwah di sini yang tingkat pemahaman keislamannya lebih -sedikit atau banyak- dibandingkan orang ammah/awam). Kalo yang ngakunya ikhwah (ikhwan or akhwat), cara mengelola, memanaj, dan menyikapi, seharusnya, lebih bijak, lebih hati-hati, lebih terkontrol, tanpa harus mengikuti dorongan nafsu dan masih dalam koridor-koridor syar’i (warning! Harap dibedakan dengan ikhwah yang “bermasalah” ato “error”, kasusnya beda lagi).

Selain cara menyikapinya, cobaan dan ujiannya juga beda. Tentunya syaitan pengujinya juga selevel dengan kualitas
yang diuji. Sebagai aktivis yang menyeru ke jalan Allah, ber-amar ma’ruf nahi munkar, godaannya lebih berat lagi. Gimana nggak? Wong aktivis dakwah sholatnya tepat waktu dan berjama’ah di masjid, tilawahnya 1 juz perhari, diamnya dzikir, ma’sturat pagi-petang, qiyamullail, rawatib, en dhuha nggak pernah ketinggalan, amalan-amalan sunnah yang lain pun tetap jalan, bacaannya yang berbau islam, hadirnya ke majelis ilmu dan majelis dzikir, hidupnya hanya untuk dakwah dan jihad fisabilillah… ck…ck….syetan cs pada kualahan tuh! Syuro nya jadi lebih giat buat ngatur strategi jitu.

Tapi yang namanya syetan gak akan kehabisan akal (emang syetan punya akal???!!!) dia punya 1001 (bahkan beribu-ribu) cara untuk memasuki celah-celah yang menjadi peluang baginya. For example, dari hasil nguping pembicaraan manusia, syetan dapet bocoran kalo cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Akhirnya ia berusaha menggoda aktivis dakwah dari matanya (pandangannya) , banyak juga sih yang berjatuhan akibat ulahnya ini. Tapi godaan ini gak mempan, gak ngaruh, en ga ngefek bagi aktivis yang ghodul bashar (menjaga pandangan). Kemudian syetan dkk mengambil cara lain. Sms-sms bernada dakwahpun menyebar. Dari paket taujih, bangunin qiyamullail, nanya kabar, lagi ngapain? Udah makan ato belum? Met ultah yaaa (gubrak! Mang siapa lu, siapa gue???!)

Nggak sampe di situ, syaitan juga semakin canggih mengikuti perkembangan IPTEK. Syetan yang udah lulus kuliah di jurusan teknik informatika membuat program-program khusus di internet dan menyebarkan virus-virus aneh ke computer hati para aktivis dakwah. Yang gak punya komputer
pribadi penyebaran virusnya bisa lewat flash disk, CD room, kabel data, disket dan lain-lain (nyambung gak seh? Ya disambung-sambungin aja ya!). berbagai fasilitas di dunia maya telah disajikan. Mulai via email, chatting, fs dengan testinya, sampai sebuah situs yang memfasilitasi para netter agar bisa berinteraksi dan memiliki komunitas sambil menampilkan foto dirinya. Semua hadir di tengah kita untuk memudahkan komunikasi. Fasilitas ini pula yang dimanfaatkan aktivis dakwah untuk bersilaturrahmi, sharring pengetahuan, diskusi dakwah, menjalin ukhuwah, dsb. Dst. Ada juga yang niatnya mencari pasangan hidup. (Itu mah kembali ke diri sendiri. Mau pake jalur “swasta” [nyari sendiri] ato jalur “negeri” [lewat murabbi] yang jelas keberkahan harus tetap dijaga. Saran ane, senantiasa luruskan niat! Di awal, di tengah, sampai akhir).

Nah, dari komunikasi dunia maya itu, ada yang memberitahukan identitas diri, ada pula yang tidak, bahkan ada yang menyembunyikannya dengan berbohong. Astaghfirullah… .namanya juga dunia maya, dunia gak jelas! Awalnya mungkin nanya asl, skul-kul-or ker, dmn? Nama? ada fs? Email? Sampai tukeran no HP (waduh koq tahu nih? Pengalaman pribadi ya? Sstt…amniyah ^_^). Nggak cukup sampe di situ, follow-up nya adalah sms-sms taujih dan kata-kata penyemangat. Ada juga yang ngirim berita/artikell islami lewat email. Atau sekadar berbalas testi di friendster. Ada juga yang janjian chatting di YM (Yahoo Messanger) dengan dalih melanjutkan perbincangan yang sempet tertunda di chatting perdana.

Yah…begitulah hubungan itu berlanjut sampai akhirnya ada kata ta’aruf dilontarkan, ada kata khitbah diajukan, dan ujungnya, sebuah pernikahan dilangsungkan. Nggak semua seh yang sukses sampe tahap itu. Sang Sutradara-lah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasa-Nya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggaman-Nya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka., mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan. Lebih tepatnya ketentuan yang diikhtiarkan. Semua tetap dibawah kuasa dan kendali-Nya. Makanya kita disuruh memaksimalkan ikhtiar, rajin-rajin berdo’a, lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya (tawakkal). insyaAllah, apa yang menjadi pilihan kita, akan dimudahkan dan diberikan yang terbaik. Allahlah Yang Maha Tahu, so nikmati dan syukuri lah apa yang telah diberi. Semua pasti ada hikmahnya. (Lho koq jadi kemana-mana ya?!).

Afwan sebenarnya yang pengen ana sampaikan adalah pilihan kita untuk memilih pasangan. Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik (matang-matang, masak-masak) sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan kami (akhwat). Antum tahu, bahwa sifat
kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kami adalah makhluk yang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi kami untuk menolak. Karena jika kami menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antm, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan?

Sekali lagi, berhatihatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan. Kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? Padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat kami terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat kami terlena. Ingin sekali kami memetiknya, ingin sekali kami berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi kami nggak berhak, kami belum mendapat izin dari si empunya rumah. Tadinya kami ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat kami lupa akan tujuan semula.

Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan kamipun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah kami mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya.

Saat itulah hati kami hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan kami rangkai, kami bangun, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya
tepat. Lalu antum membiarkan kami menunggu di teras rumah ant
um dengan suguhan yang membuat kami kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan kami berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuk kami. Kami akan segera pulang karena mungkin saja kami salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati ini. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung bagi kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Kami tak ingin mengkhianati calon suami kami yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara kami berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya gak mau memakai label “ta’aruf” untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai kami sebagai saudara antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput kami.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata BERKAH di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan.
Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya
antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. So, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya. (Tuh kan jadi kemana-mana lagi. Tapi gak papa deh. Setidaknya unek-unek ana dah keluar, fiufh lega!)

Di depan tadi kita bahas apaan sih? Oh ya, ketika ikhwah jatuh cinta. Ana ga akan bahas panjang lebar karena ana ta
u kalian pasti akan bosan membaca celotehan ana yang “njelimet”. Tapi izinkan ana mengutip beberapa bait tulisan yang ada di majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2009 M sebagai perenungan bagi jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran sang teman sejati untuk melangkah bersama menuju jannahNya…
 

Posted in Campur. 10 Comment »

yen in tawang ono lintang

sebuah tembang jawa kiriman seorang sahabat………

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sung takok-ke pawartamu

Janji janji aku eleng cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang lintang’e wingi wingi nimas
Tresna ku sundul ing ati

Ndek semono janjimu disekseni

Mego kartiko keiring roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Rungokno tangis ing ati
Miraring swara ing ratri nimas
ngenteni bulan ndadari

artinya kira-kira

jika di langit ada bintang..duhai cantik
kunanti kehadiranmu
kepada mega di angkasa
kutanyakan kabar beritamu

semua janji ku ingat..duhai cantik
nyaris putus asa di hati ini
bintang-bintangnya kemarin-kemarin dinda
cintaku sepenuh hati

dulu kala janjimu disaksikan

mega-mega teriring rasa cinta kasih

jika di langit ada bintang …duhai cantik
dengarkan tangisku di hati
mirisnya suara di gelapnya malam dinda
menunggu bulan purnama

kayanya bakal jadi jingle nikahan kami nih 

 

Posted in My Self. 0 Comment »

Calon Isteri Seorang Lelaki

Seorang teman pernah mengatakan, kriteria calon isterinya: shalihah, cerdas, kaya dan cantik. Sebuah hadist juga mengemukakan, seorang perempuan dipinang karena kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Tapi pinanglah perempuan karena keshalihannya. Itu yang utama. Saya sepakat dengan hadist tersebut. Perempuan yang shalihah, insya Allah cerdas. Ketika seorang perempuan cerdas, harta bisa dicari. Bila harta sudah di tangan, kecantikan bisa dibeli. Pilih satu, dapat tiga.

Namun, bila kita tinjau ulang, pemikiran akan kriteria calon isteri tersebut cenderung egois. Tidak memandang dari banyak sisi. Hanya memandang pernikahan dari segi manfaat untuk diri sendiri. Tidak untuk keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar. Padahal menikah adalah penyatuan dua organisasi besar; keluarga, membentuk organisasi baru. Banyak pihak yang bisa terpengaruh dan mempengaruhi pra dan pasca pernikahan.

Jika kita berkaca, mengevaluasi. Melihat, mencari kelebihan dan kekurangan diri. Niscaya kita akan menemukan berbagai fakta; kita juga punya banyak kekurangan. Lalu, pantaskan bersibuk ria dengan segala macam kriteria? Sedang diri sendiri mungkin tak bisa memenuhi segala kriteria impian oleh calon pasangan. Seseora
ng berharap mendapat perempuan shalihah, namun apakah dia cukup shalih untuk berdampingan dengan perempuan shalihah. Ia ingin perempuan cerdas, tapi apakah ia cukup cerdas untuk mengimbangi kecerdasannya? Ia ingin perempuan berharta, tapi seberapa banyak harta yang dapat dia berikan, untuk ‘membeli’ sang calon dari ayah-bundanya. Dan ketika ia ingin perempuan cantik, apakah ia sendiri cukup gagah, tidak jomplang, saat bersisian dengannya? Tidakkah keinginan si lelaki terlalu berlebih?

Dari kisah cinta para Nabi, sahabat dan para syuhada, ada sejumlah fakta: tangan Allah selalu bermain. Kisah cinta Muhammad-Khadijah, Yusuf-Zulaikha hanyalah sebagian kecil contoh. Keikhlasan menggenapkan separuh agama pasti akan mendapat anugerah luar biasa; seorang isteri penghuni taman surga. Segala hambatan pernikahan han
yut karena ibadah yang khusu, penghambaan yang sangat padaNya. Manusia hanya berusaha, hasilnya terserah pada Yang Kuasa.

Hendaknya seorang lelaki berusaha melihat dari banyak sisi, ketika datang seorang calon isteri padanya. Segala identitas standar bukan pertimbangan utama. Serahkan saja padaNya. Meminta petunjuk lewat shalat istikharah. Apakah perempuan itu orang yang tepat? Apakah si calon pasangan dunia akhirat? Hanya Allah yang tahu, kan?

Lelaki manapun bisa saja berharap: Semoga calon isteri yang datang padaku adalah perempuan shalihah. Bila
belum shalihah, haruslah dia mengajak, meningkatkan pemahaman agama, terus memperbaiki diri. Menghiasi rumah tangga dengan amalan wajib dan sunnah. Menggapai sakinah. Semoga perempuan yang datang padaku cerdas. Jika belum cerdas, mestilah dia yang mengajar dan belajar dari pasangannya. Mencari ilmu baru, terutama ilmu rumah tangga. Tentang harta, boleh saja meminta: datangkanlah padaku calon isteri yang berharta. Tetapi ingatlah, harta adalah cobaan, tak banyak orang yang bisa tetap rendah hati, menunduk-nunduk ketika punya harta. Lagipula harta gampang dicari. Soal kecantikan, wajar lelaki normal ingin mendapatkan isteri cantik. Tetapi bukan hanya cantik lahir, batinnya juga harus cantik. Yang menjadi pertanyaan, standar apakah yang akan digunakan untuk menilai seorang perempuan cantik. Standar dunia atau standar surga? Standar dunia menekankan kecantikan maya. Mengandalkan costmetik. Kecantikan abadi, keindahan hingga akhir hayat dan di akhirat kelak, itulah yang seharusnya dicari. Terserah cantik atau tidak kata dunia, yang penting isteri bisa selalu menarik di mata, di hati. Menjadi telaga sejuk, pohon teduh di terik siang. Standar cantik ini sifatnya personal. Orang lain memandang biasa, tapi luar biasa menurut sang suami.

Perempuan manapun yang datang pada seorang lelaki, sudah sepatutnya ia melepas kacamata kekinian. Menggunakan kacamata masa depan dan kacamata banyak orang untuk menilai. Mungkin banyak keindahan calon pasangan yang sengaja disimpan olehNya. Allah ingin mengujinya, apakah dia cukup shaleh, cukup ikhlas, cukup bersabar untuk mendapatkan pasangan sejati.


Pasti ada keraguan saat menimbang. Maka dari itulah perlunya mengetuk nurani sahabat, saudara, kakak, orang tua, mereka yang lebih berpengalaman. Calon suami dapat bertanya, apakah perempuan begini akan begini-begini? Ia bisa minta tepukan tangan di pundak, pelukan, dan untaian mutiara. Agar sang lelaki yakin, mantap. Semoga setelah itu, dia betul-betul siap, menggenapkan separuh agama, mengapai sakinah. Memberatkan bumi dengan generasi yang menjunjung tinggi kalimat La Illa Ha Illallah.
 

Sungguh malang nian nasib para Ikhwan -_- lho,kenapa ??? ^_^

bismillah… ^_^

entah kenapa kok ada ide mau nulis ni note tentang ini, mungkin karena banyaknya komment ketika saya menulis status di FB kemarin 26 Juli 2009 sehabis pulang dari Mall

“-_-emang benar kata teman ana, malang nian nasib para ikhwan -_-”

heu heu aya aya wae kata sundanise… yah, mungkin kita pernah dengar kata pak ust tentang hilangnya hafalan Imam syafe’i ketika melihat betis seorang wanita, yang mana betis merupakan salah satu aurat yang ada pada wanita.

kata Pak Ustadz. “Yang derajat ruhiahnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan kita, pernah mengalami kejadian yang merugikan, gara-gara melihat aurat perempuan. Pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain yang menutupi aurat. Nah, suatu saat, Imam Syafi’i melihat seorang perempuan yang lewat di depan belaiau, dan … tersingkap kainnya sehingga betisnya tertangkap oleh penglihatan beliau. Seketika itu pula, 40
(empat puluh) hafalan hadist beliau hilang.”

yang perlu menjadi catatan adalah dulu pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain
yang menutupi aurat, nah sekarang ini ??? 

ampe ada yang nyuruh pake kacamata kuda saja biar aman -_- fyuhhh 

Hidup dibawah aturan manusia ya begini nasib para ikhwan khususnya… lha, kenapa hanya para ikhwan saja bukan akhwat yang juga dikasihani??  ya karena memang fakta di kehidupan masyarakat lebih banyak aurat wanita yang terlihat dengan jelas ketimbang para pria ^_^ ya kalo di hitung masih bisa dihitung dengan jari kita berapa benyak pria yang ada di kehidupan umum yang auratnya terlihat, sebagaiman kita mafhum bahwa aurat laki2 adalah dibawah pusar dan diatas lutut. tapi dikalangan ulama shalaf memang terjadi iktilaf tentang aurat laki-laki. silahkan lihat buku
ust Syamsudin Ramadhani al-Nawiy “hukum Islams seputar busana & penampilan wanita”

namun hal ini tentu saja tidak membuat para ikhwan khususnya menjadi diam (red : pasrah) tentu saja kita harus pinter-pinter menjaga pandangan. istilah ‘anak taklim” itu ghadul bashar atau menjaga pandangan. hadis yang diriwayatkan dari ‘Ali ra. Ia menuturkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda kepadanya :

“Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukan untukmu.”

Firman Allah dalam surat An-Nur : 30

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

MALIKI

Tidak diperbolehkan bagi laki-laki melihat aurat wanita yang bukan mahromnya walaupun tidak dengan syahwat ataupun tidak untuk tujuan kesenangan (ladzzah). Adapun melihat bagian yang tidak termasuk aurat wanita menurut jumhur ulama, yaitu wajah dan telapak tangan, diperbolehkan dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan fitnah dan bukan untuk memuaskan kesenangan (ladzdzah) Bila hal tersebut menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat, maka melihatnya haram.


SYAFI’I

Haram melihat wanita yang bukan mahromnya begitu pula haram melihat wajah dan telapak tangan dengan alasan takut akan menjadi fitnah karena kedua bagian tersebut merupakan bagian yang bisa menimbulkan fitnah dan syahwat. Berdasarkan alasan ini Syafi’i mengharamkan melihat wanita baik yang termasuk aurat maupun yang tidak, dan bukan disebabkan keduanya (wajah dan telapak tangan) itu adalah aurat. Pengharaman ini bisa gugur dengan adanya alasan syar’i, misalnya pengobatan dan lain sebagainya, maka melihat wajah, telapak tangan dan bahka
n seluruh tubuhnya boleh.

HANAFI

Seperti halnya Maliki, Hanafi juga mengharamkan laki-laki melihat wanita yang bukan mahromnya, kecuali yang biasa nampak pada mereka dan tidak dengan syahwat. Bila melihatnya dengan syahwat maka haram hukumnya. Adapun perhiasan yang biasa nampak pada wanita dalam surat An-Nur : 31, menurut Hanafi adalah wajah, telapak tangan dan telapak kaki.


HANBALI Pada asalnya, mereka mengharamkan seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahrom, kecuali dalam keadaan darurat. Tetapi sebagian dari mereka memakruhkan laki-laki melihat wajah dan telapak tangan wanita walaupun tidak dengan syahwat. so buat para ikhwan… termasuk saya berarti ya ^_^ mari kita pinter-pinter jaga mata, jaga hati, jaga telinga juga heu heu heu buat para akhwat, sebenarnya juga sama… Firman Allah dalam surat An-Nur : 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

Sebagaimana laki-laki,wanita pun harus menahan pandangannya terhadap lawan jenis yang bukan mahrom. Dan batasan minimum pandangannya adalah antara pusar dan lutut laki-laki, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak dengan syahwat. Bila sudah melibatkan syahwat maka hukumnya menjadi haram. Ini adalah pendapat rojih para ulama. Dalilnya:


1. Hadits Nabi yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud menerangkan bahwa Nabi menyuruh Ummu Salamah dan Maimunah memakai hijab ketika anak Ummu Maktum yang buta lewat di hadapan mereka sedang mereka melihatnya.

2. Riwayat dalam Shahih Bukhari, dari Aisyah ra, bahwasannya Nabi menutupi Aisyah ra dengan pakaiannya (rida) sedangkan ia melihat laki-laki habsyah bermain di dalam masjid sampai ia merasa bosan.

terakhir, tentu saja sebagai seorang yang memahami bahwa semua hal ini hanya akan bisa terselesaikan dengan adanya kesadaran akan wajibnya menutup aurat dan atau keharaman memeperlihatkan aurat kepada bukan mahrom kita, namun dibalik itu semua perlu adanya sebuah aturan tegas akan hal ini sehinga hal semacam ini dapat d
i cegah dengan menerapakn aturan yang tegas yang lansung dari sumber yang menciptkan manusia yakni aturan syariat islam dibawah institusi daulah al khilafah islamiyyah yang sebentar lagi akan segera tegak dengan izinNya. Amin…

saudaramu,
 

Evans

Akhwat Perhatian, Ikhwan Jangan KeGeran… Atau sebaliknya…Lho???

Tulisan ini aku dedikasikan untuk seluruh Aktivis Dakwah Kampus terutama kritikan pada diriku sendiriku..Thank’s Allah telah mengingatkanku, syukurku mudah menagis karena Allah dan mengingat perjuangan mujahid. Aku sadari diriku ini masih jauh dari kualitas keimanan mereka, seperti Ibnul Khaatab yang lebih mencintai “Jihad” dibanding “istrinya”. Sampai aku pernah berkata “Tidak usahlah berharap bermimpi bertemu para Tabi’in, Sahabat bahkan Rasulullah..Bertemu dalam mimpi saja dengan Mujahid Abad Ini. Air mataku pun pasti akan luluh”.
Fenomena akhir-akhir ini di kalangan Aktivis Dakwah Kampus terlalu cairnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Mungkin hampir di setiap kampus. Termasuk saya gak ya? Saking cairnya kadang kalo ada akhwat yang sering ngirim sms tausiyah, Si Ikhwan suka KeGeeRan dan ngerasa perhatian banget tuch akhwat..padahal mah tuch akhwat Cuma mau ngabisin bonus pulsa doank.
Nah, terkadang saking seringnya interaksi antara seorang ikhwan dengan seorang akhwat yang sering partner bareng, biasanya mereka smsnya berawal dari kordinasi jadi curhatan hati. Beuh, jadi curhat nich. Katanya sih itu atas nama Ukhuwah, tapi bagaimana batasan ukhuwah antara ikhwan dan akhwat. Wah itu mah perlu ditanya ke Dewan Syariah untuk lebih lanjut. Saya bukan ahlinya.
Terkadang sebagai insan biasa ikhwan merasa sesuatu yang berbeda bila ada seorang akhwat y
ang “Perhatian” ke dia. Punya perasaan beda githu. “Bertanya-tanya sama diri sendiri, kok akhwat itu perhatian banget ya sama ane?” atau sebaliknya lho??? Fenomena ini sering sekali terjadi di kalangan Aktivis Dakwah makanya banyak sekali artikel-artikel di dunia maya yang berhubungan dengan hal-hal kayak gini. Seperti sebuah artikel yang tentang ikhwan yang lebih telenovela. Alkisah ada seorang ikhwan yang cukup dekat dengan seorang akhwat dan memiliki keinginan untuk melamar akhwat yang dekat dengan dia. Namun, ternyata si akhwat tersebut menerima lamaran dari ikhwan lain jadilah si ikhwan tersebut sangat telenovela sekali seperti film-film telenovela yang di televisi. Sakit hati banget kayaknya si ikhwan itu. Kasian banget ya tuch ikhwan, cintanya pupus dan bertepuk sebelah tangan.
Berhubung sama cerita di atas ada sebuah artikel yang menarik juga judulnya “Sudah Siapkah Jatuh Cinta” titik penting dari artikel ini bahwa jika belum siap jatuh cinta, ya jangan jatuh cinta dulu. Emang kalo sudah berhubungan dengan yang namanya hati itu susah-susah gampang bangunnya daripada jatuhnya. Oleh karena itu, forum-forum cur
hat di halaqah tempat yang pas buat netralisir. Hhmm, ternyata nich perhatian-perhatian seorang akhwat ke seorang ikhwan bisa di salah tafsirkan loh sama salah satu pihak apalagi kalo akhwat tersebut yang ikhwan kagumin makin bergejolak hati si ikhwan tuch atau sebaliknya, loh???.
Fenomena yang berlebihan kadang seorang ikhwan sering bertemu dengan seorang akhwat atas nama silatuhrami katanya, tapi sebenarnya akan jadi fitnah kalo si ikhwan itu pergi sendiri. Bukankah lebih baik berdua supaya gak jadi fitnah? Dah githu ketawa bareng dengan ngakaknya. Jadi bingung gak sih, bedanya aktivis dakwah sama orang ammah. Padahal ngaji tapi kok gthu ya…makanya Syaikhu Tarbiyah pernah bilang…”Oh ini yang bikin dakwah gak berkah”. Sebenarnya kita harus ngoreksi diri lagi kayaknya, dah ikhlas belum ya aktivitas kita selama ini, jangan-jangan setiap langkah dan niat kita untuk dakwah karena “dia” bukan “Dia”.
Oleh karena itu karena begitu sensitifnya dengan sebuah perhatian, maka kepada ikhwan dan akhwat jangan mudah ngasih perhatian dan mudah keGeerRan. Kan bisa berabe kalo
kejadian, emang bener saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran itu boleh, tapi pertanyaannya kenapa harus lebih sering ke ikhwan dari pada ke sesama akhwat. Sekedar info ni, salah satu “Virus Ukhuwah” itu lebih senengnya seorang ikhwan saling nasehat-menasehati ke akhwat dan sebaliknya, bukan ke sesama jenis..
 

Kriteria Calon Pasangan, Muhasabah kita

Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya menyebutkan untuk mengutamakan agamanya dibanding faktor-faktor lain dalam memilih jodoh( cantik, kaya, keturunan ).

Tetapi beliau saw. sepertinya sangat menekankan kecocokan. Ketika seorang sahabat dari kaum Muhajirin ingin menikah dengan wanita Anshar, maka Rasulullah saw. menganjurkan untuk terlebih dahulu melihatnya. Ini berarti Rasul juga ingin adanya kecocokan - dalam segala hal, termasuk fisik - bagi yang akan menikah. Ada juga kan kasus seorang akhwat shahabiyah yang menyesal ketika sudah terlanjur menikah, tetapi tampang suaminya tidak disukainya, akhirnya mereka bercerai.

Hal memilih pasangan dengan melihat fisik sebagaimana memilih pasangan karena keturunan yang baik dan kemapanannya ( baca : kaya ) menurut saya bukan hal yang tabu. Tetapi tetap saja yang harus kita utamakan : AGAMA. Tidak saja ia beragama Islam, tetapi pemahaman dan pengamalannya benar-benar Islami.

Saya setuju dengan sebuah artikel yg menyebutkan bahwa kriteria din itu bernilai 1. Yang lainnya 0( nol ). Jadi, kalau kita memilih karena si akhwat cantik, atau si ikhwan kaya, atau si dia keturunan kiyai. Itu semua bernilai 0, kalau din-nya tidak dipenuhi. Kalau din-nya dipenuhi dan sang calon ganteng atau cantik, maka nilainya
bisa 10. Ditambah keturunannya baik = 100. Ditambah hartanya melimpah =1000. Idealnya begitu, tetapi tidak ada manusia yang sempurna.

Bagi yang ingin akhwat cantik atau ikhwan ganteng harus siap bila suatu saat sang pasangan menjadi keriput karena tua atau tergores wajahnya, atau mengalami luka bakar, atau resiko2 lainnya yang tidak menyenangkan. Segala sesuatunya sementara.


Bagi akhwat yg menginginkan ikhwan yang bergaji tinggi, mapan. Ketahuilah, segala sesuatu bisa terjadi. Setelah menikah, bisa jadi PHK menyerang. Suami yang tidak punya iman dan tidak kreatif bisa panik dan tidak menyelesaikan masalah. Yg jelas harta itu sementara.

Bagi yg menginginkan keturunan baik, itu bagus. Karena kita tidak hanya melibatkan sang calon isteri atau suami dalam mengarungi biduk rumah tangga. Karena orangtua masing2 dan sanak saudara bisa jadi ingin nimbrung. Akan tetapi si calonlah yang nantinya lebih banyak hidup dengan kita dan lag
i tidak ada yang sempurna.

Bagi yang memasang kriteria agama/din, itu bagus dan memang seharusnya. Tetapi pada perjalanannya, suami dan isteri sudah sepatutnya saling melindungi, memelihara, dan menjaga agar din-nya tumbuh dengan sempurna sehingga dapat mengantarkan keluarga berkumpul di surga.

Memang yang ideal, ketika “bentuk” bertemu dengan “makna”, ketika “rupa” bertemu dengan “jiwa”. Tetapi itu tidak mudah, walaupun bisa karunia itu diberikan kepada seseorang.


Ujian bisa menimpa kapan saja. Termasuk ketika memilih pasangan. Sekali lagi, tidak ada yang sempurna. Kekurangan pasangan kita bisa menjadi ladang ‘amal bagi kita. Hidup hanya sekali, jangan salah pilih dan menyesal !

Maka ketika ujian datang, kita sudah siap dengan ilmu yang diperlukan. Agar kita tidak bengong ketika harus mencari “jawaban” atas “soal-soa
l”.

Berdoalah untuk saudara-saudara kita agar tepat sasaran dalam membidik. Agar tepat langkah. Dan ketepatan itu identik dengan ketenangan, kata Aa Gym.
Jadi bukan ketergesa2an dan kepanikan. Semoga ALLAH selalu membimbing kita untuk membentuk keluarga sakinah dengan bingkai cinta kepada-Nya ( niat lurus ) dan cara yang benar sesuai syariat. Aamiin.

Wallaahu a’lam.

 

Posted in Campur. 1 Comment »

Andai Amanah Sepotong Coklat

    Amanah sebuah kata yang teramat berat untuk ditulis, mungkin lagi berharu-biru perasaan dalam diri. Amanah, sebuah kata yang dengannya kita bisa menjadi hina dan dengannya juga kita bisa menjadi mulia. Sebuah petualangan yang membawa dan menunjukkan siapa sebenarnya diri kita, karena siapapun dirimu itulah identitasmu. Dalam blognya zam admin SIC yang ia katakan benar, seorang yang berkecimpung di dunia relawan gempa siapa yang ikhlas, siapa, yang pengen benar-benar mewujudkan idealisme sosialnya, siapa yang pengen cari jodoh, semua akan terlihat dari akhir perjuangan, dan bhryoritme gerak yang ia jalani. Saya menganalogikan relawan gempa ini juga sebuah amanah.

Amanah, sekali lagi saudara-saudara ini tentang sebuah amanah. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun. Setiap detik dalam diri adalah amanah. Masih ingat dalam surat At –Tahrim : 6 ” Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.. ” . Dan paling urgen dalam hidup ini adalah surat Adz-dzariyat :56 . ” Dan kami tidak menciptakan manusia selain untuk beribadah”.

Yuppi, itu adalah sebuah amanah hidup. Amanah hidup yang mungkin dilupakan oleh semua orang. Terkadang, esensi hidup adalah beribadah sering terkikis aroma sejuk pegasus pagi hari tertiup angan dan mimpi akan kehidupan dunia yang tiada abadi.

Tentang sebuah amanah, yang karenanya kita merasa berarti bagi orang lain. Laksana dakwah Rosulloh dengan sedikit pasukan Alloh, tetapi dengan sedikitnya pasukan Alloh itu mampu menjadi motor bagi perkembangan dakwah beliau kedepan. Ini juga sebuah amanah teman, amanah dakwah yang ada di setiap pundak muslim.

Jika engkau cinta, maka dakwah adalah kenikmatan dalam mengarunginya tak ada rasa penyesalan atau kekecewaan bahkan kegelisahan. Jika engkau cinta, dakwah adalah pengorbanan, pengorbanan usia, waktu, pikiran, dan tenaga. Tidak cuma sebait kata melukiskan betapa berat tanggungan dakwah di pundak kita.

Terinspirasi dari sebuah judul buku andaikan buku sepotong pizza, padahal saya sendiri tidak suka pizza [ maklum orang desa ], saya gubah menjadi andaikan amanah sepotong coklat, kenikmatan yang super dupper lezat, enak, dan bergizi. Tapi sayang, kebanyakan manusia menjadikan amanah adalah sebuah beban, ada yang mempunyai
sudut pandang lain?. Dulu, saya beranggapan seperti itu, mungkin akan ada anggapan seperti itu lagi dilain hati, tapi yang jelas pada saat saya menulis tulisan ini, saya tidak berpikir amanah adalah sebuah beban.

Mengintropeksi diri ketika ada di lembaga, jadi tulisan ini tidak lebih dari sedikit curhat. Saya merasa tidak nyaman, ketika teman sekelas mengatai saya anak mushola. Wah panas kalau dekat dengan saya, karena saya dinilai sebagai orang yang alim, ga banyak dosa, ga layak dijadikan tempat curhat, ga enak klo diajak nongkrong bareng, ga mau diajak pergi piknik hura-hura bareng, ga enak kalo diajak main ke pantai bareng, dsb. Membuat saya merasa tersisih dari komunitas ini.

Sebenarnya apa salah saya, jika saya memilih jalan seperti ini, ga ada salahnya bukan?. Walaupun rumor yang beredar anak mushola eksklusif, jangan dekat-dekat orang yang eksklusif, maunya hanya bergaul dengan yang ” setipe” saja. Waduh.. kalau seperti ini kondisinya, kapan dakwah ini bisa menyentuh mereka. Saya tegaskan me
mang saya anak mushola, tapi saya ga eksklusif kok, kalian bisa bergaul denganku, asal itu sesuai koridor syar’i. Memang petualangan amanah lembaga dakwah berbeda dengan yang lain. Sikap dihindari teman, sikap merasa sendiri, sikap takut dijauhi orang lain, adalah normal adanya jika itu muncul dari dalam seseorang yang ingin melibatkan diri dalam barisan dakwah ini. Aktivis dakwah katanya.

Teringat lagi seorang jundiNya yang berkata, seorang muslim hendaknya menampakkan identitas kemuslimannya, kenapa harus takut di cap ekslusif, kenapa harus takut menjadi jilbaber, kenapa harus takut kalau dicaci ga gaul, kenapa harus malu julukanmu jenggoters, kenapa harus malu ketika nyongklangnya celanamu dipandang suatu keanehan, kenapa harus takut dicaci takut jatuh cinta ketika sedang menundukkan pandangan dengan lain jenis, kenapa harus enggan meninggalkan perbuatan yang sia-sia, kenapa harus malu menjadi orang ” aneh ”. Sedang ummat yang disukai oleh Alloh adalah Al Ghuraba ( orang yang terasing ). Harusnya kamu bangga….!!

Tips menjadi aktivis dakwah, katanya lagi.
1. Sabar
2. Tidak mudah mengeluh
3. berkepribadian islam dan berkepribadian da’i ( Saksiyah Islamiyah dan saksiyah da’iyah )
4. Bergerak dan menggerakkan

5. Move faster. think faster dan Briorhytime
6. Cerdas
7. Paham problematika ummat ( Al fahmu ’alal qodhoyatul ummah )
8. Paham manhaj dakwah
9. Selalu mengejar muwashoffat.
10. Bersungguh-sungguh.
11. Istiqomah


Setahun, dua tahun, tiga tahun berjalan bersama dalam barisan ini diiringi suka duka, onak duri, tetapi banyak sukanya. Dan sekarang pada saya menulis ini, merasa amanah bukan beban lagi tetapi kenikmatan, kenikmatan yang hampir hilang. Disini kudapati orang-orang hebat yang bisa menyalurkan semangat dan aura dakwah yang hebat, sehingga berada diantara orang-orang ini menguatkan dikala lemah, memberantas tuntas segala ketakutan ketika melangkah, memberi keteduhan hati ketika sedang hati sedang kacau, memberi senyuman ketika penatnya matahari menyinari langkah, memberi tatapan sejuk ketika kurebahkan punggungku padanya, menerangi ketika jalan ini masih terasa gelap, memberi ketenangan ketika kusedang galau, mengais napas bersama, menyokong dan terus saling menyokong. Laksana Rosululloh dan Aisyah beserta sahabat lain yang sedang membawa bendera dakwah ketengah gurun pasir arab, yang sedang membutuhkan sebotol air ditengah terik kehausan. Subhanalloh butuh perjuangan yang berat, kompak dan penurunan kebijakan yang strategis.

Setelah tahu seperti ini, baru tahu kalau perpisahan itu sangat menyedihkan, kenikmatan yang selama ini dirasakan akan musnah begitu saja, jalan yang kita tempuh sudah berbeda. Dan tertinggal adalah penyesalan, kenapa amanah adalah sepotong coklat, baru kusadari hari ini, dan akhir-akhir ini. Puji syukur kepada Robb yang masih men
gijinkan saya berada diantara mereka, kenikmatan yang mungkin tidak bisa dirasakan orang lain, hanya diriku sendiri. Bersyukur banyak teman yang membina saya menjadi lebih baik dari yang dahulu, insya Alloh.

Robb pada hari ini ingin kuukur kesyukuranku padamu dengan bukti penghambaanku kepadamu, bukan hari ini saja tapi dilain hari pun kuharap Engkau akan selalu menjagaku dikala aku lemah, dikala aku susah, dikala aku tiada lagi teman untuk mengadu. Terimakasih alhamdulillah.. Engkau mengijinkanku berjalan bersama mereka, walau baru kini kubaru bisa menyedari kenikmatan coklat dari sebuah amanah.

Untuk semua pasukan Alloh yang selama ini membuatku selalu kuat menghadapi berbagai aral, kegelisahan karena keterbenturan dengan duniawi, kegalauan akan semua hal, terima kasih episode terindahnya ya… . Semoga ukhuwah ini selalu dikuatkan olehnya dalam bingkai nan indah, dan bersanding selalu di surgaNya kelak. Saya akan selalu menunggumu dan engkau kan selalu menungguku indahnya… Amien..

Foot note
matur nuwun sanget eyang dan abi yang menularkan darah aktivisnya sehingga putrinya ini setidaknya ” pernah ” menjadi aktivis dan izinkan ” terus ” menjadi aktivis.

For all aktivis in the world, jangan pernah berhenti melangkah..!
 

Hosting IIX Murah

Space = 10 Mb
Biaya bulanan = Rp. 900,- 1000
Kuota 250 = Mb

Biaya bulanan = Rp. 4.500,-5000
Space = 50 Mb
Email = 5
Pop3Email = 5
Email forwading = 5
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 1 Gb
Subdomain = 5

PhpMyAdmin = Yes
MySql = 5
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp. 11.250,-12.500
Space = 100 Mb
Email = 25

Pop3Email = 25
Email forwading = 25
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 1.5 Gb
Subdomain = 25
PhpMyAdmin = Yes
MySql = 25
PHP = Yes
WAP = Yes

CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp. 18.000,-20.000
Space = 200 Mb
Email = 50
Pop3Email = 50
Email forwading = 50
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 2 Gb
Subdomain = 50

PhpMyAdmin = Yes
MySql = 50
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp. 31.500,-35.000
Space = 500 Mb
Email = 100

Pop3Email = 100
Email forwading = 100
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 4 Gb
Subdomain = 100
PhpMyAdmin = Yes
MySql = 100
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes


Biaya bulanan = Rp. 54.000,- 60.000
Space = 1 Gb
Email = Unlimited
Pop3Email = Unlimited
Email forwading = Unlimited
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 6 Gb

Subdomain = Unlimited
PhpMyAdmin = Yes
MySql = Unlimited
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp.99.000,- 110.000
Space = 2 Gb
Email = Unlimited
Pop3Email = Unlimited
Email forwading = Unlimited

Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 15 Gb
Subdomain = Unlimited
PhpMyAdmin = Yes
MySql = Unlimited
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes


Untuk lebih jelas klik disini http://rakintech.net
 

Punya Istri Aktivis?? Ogah, ah!

 

 

Kata Mereka Tetang Istri yang Aktivis

Bermula dari obrolan ringan empat orang akhwat di kontrakan seputar kegiatan masing-masing (semacam setor hikmah gitu deh). Pelajaran apa yang didapat selama beraktivitas seharian. Kegiatanya macem-macem. Ada yang sibuk bersih-bersih rumah, masak, nyuci, ngepel, nyetrika (bentar lagi pindahan euy! Rolling kontrakan setiap tahun, biar gak bosen). Ada yang menghabiskan dua novel dalam sehari. Ada juga yang punya urusan di luar rumah. Dan ane, kebetulan hari itu jadi panitia pelatihan organisasi buat adek-adek rohis di SMA, sorenya sibuk nyiapin keperluan
PPL, dan malemnya, setelah asyik ngobrol ma temen-temen, ni tangan jadi gatel pengen nulis hasil diskusi (yang akhirnya jadilah tulisan ini^_^), soalnya, di sela-sela obrolan kami, masuk sebuah topik bahasan yang cukup menarik. Tentang apa? Simak perbincangan berikut:

Akhwat 1: Capek juga ya. Liburan gak liburan sama aja. Banyak agenda.

Akhwat 2: Namanya juga aktivis, ya kudu aktif donk, Dek…

Akhwat 1: Oh ya, menurut Mbak2nya, ikhwan mau gak punya istri aktivis?

Akhwat 3: Ya mau laaah, kenapa nggak? *dengan penuh keyakinan dan nada tinggi.

Akhwat 4: Belum tentu juga lho Ukh. Ada ikhwan yang gak mau sama akhwat aktivis, maunya sama akhwat yang biasa-biasa aja.

Akhwat 1: Yap! Sepakat Mbak. Mereka lebih suka tipe akhwat “rumahan” karena dah fitrahnya, laki-laki itu gak mau dikalahkan. Mereka kan Qowwam, gengsi donk kalo si istri terlalu banyak mengambil peran dalam kerajaannya. Kalo istrinya yang lebih aktif di luar, ada perasaan “dikalahkan”, “diremehkan”, kurang diperhatikan, dan takut kehilangan! So, lebih baik di rumah aja deh. Cari nafkah kan tugas suami. Istri, di rumah noh bersih-bersih, nyuci, jagain jundi, dan
menyambut kepulangan sang kekasih dengan senyum berseri. Hihi..

Kira-kira begitulah penggalan percakapan kami. Karena rasa penasaran dan keingintahuan ane yang sangat tinggi (tsaah), bertanyalah ane tentang hal ini kepada seorang ikhwan (hayooo..siapa tuuh? Emang berani nanya ke ikhwan?). Ya berani laaaah! Wong ikhwannya kakak ane sendiri. Heheh…

Ini dia cuplikan pertanyaannya:

Ane: Kak, pengen punya istri yang gimana sieh?

Kk: Pastinya akhwat sholihah yang mau nerima kakak apa adanya.

Ane: Yee…itu mah ane dah tau. Umum banget kalee. Lebih spesifik donk. Kalo sama akhwat aktivis mau gak?

Kk: Hmm..Aktivis ya? Ga papa sieh. Asal, kalo nanti dah jadi istri kakak, aktivitasnya dipindah alihkan ke rumah saja.

Ane: Ooo..gitu ya? hmm…

Dari jawaban singkat kakak ane tersayang itu, seolah-olah ada seberkas cahaya terang yang memasuki alam pikiran ane dengan membawa setitik pencerahan bagi jiwa yang diselimuti rasa bejibun pertayaan. “Ooo..ternyata
, kebanyakan ikhwan sukanya sama akhwat rumahan”, kata ane pada diri sendiri.

Jadi inget diskusi via chatting bersama seorang ikhwan yang sudah ane anggap sebagai “Guru” karena beliau memang Ustadz ane. Beliau sering mengisi training di acara-acara dakwah sekolah dan LDK di kampus ane. Usianya-pun jauh di atas ane (jauh gak ya? Wah, belum nanya)

Ustadz: Kalau sudah lulus kuliah mau berkecimpung di dunia apa?

Ane : Pengennya sih jadi penulis Pak, jadi bisa lebih banyak waktu di rumah, hobby juga! Yaah, selain ngajar tentunya. Kan calon Guru Pak.


Ustadz: Bagus tuh!

Ane : Dengan jadi Guru ane bisa memaksimalkan dakwah sekolah di Kota ane Pak.

Ane : Yaah, bantu2 adek di rohis gitu. Lagian, selain di dakwah kampus, ane juga enjoy di dakwah sekolah. Seneng aja kalo masuk ke dunia anak muda, berasa jadi remaja lagi. Hehe..

Ustadz: Saya dukung.

Ane : Tapi, kayaknya ane mau dimasukin ke ranah siyasi deh Pak.

Ustadz: Lebih baik jangan. Jadi Guru aja.

Ane : Lho, kenapa Pak? Bukankah politik juga butuh akhwat?

Ustadz: Iya, tapi biarkan peran itu diambil yang lain saja. Anti fokus di Pendidikan saja.

Ustadz: ‘afwan, itu hanya saran dari saya

Hmm…makin terbuka bukan?


Ah, ane masih belum puas. Bukti kurang. Kalo dijadikan penelitian, analisis datanya belum valid. Wong sampelnya aja masih segelintir orang. Rasa ingin tempe ane semakin menjadi (iya, lagi ngidam tempe neh!).

Informan ane kali ini adalah seorang akhwat aktivis kelas berat (ralat: kalo gitu bukan informan dunk, tapi inforwati. Hah? Emang ada?). Saking beratnya (maksudnya bukan kegemukan, tapi jam terbangnya yang cukup tinggi, aktivis kelas berat gitu loch), di usia yang sudah melewati seperempat abad ini, Mbaknya belum juga menikah. Dengan ditemani dua orang teman akhwat, kami memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan itu secara pribadi tanpa basa-basi. Untungnya, si Mbaknya mau membuka diri (maksud ane, tipe akhwat ekstrovert gitu deh).

Temen Ane: Mbak, ‘Afwan nih, sebelumnya udah pernah ta’aruf nggak Mbak?

Mbaknya: Ta’aruf? Alhamdulillah, dah enam kali dek…


Ane dkk : Whaaattzz?? *ekspresi kaget campur heran campur takjub. Whuuih..enam kali? Qwereent..!! (kayaknya, bukan suatu hal yang patut dibanggakan deh, Da!)

Temen Ane: Kenapa bisa sampe enam kali Mbak? Nggak ada yang cocok ya?

Mbaknya: Ya, karena ikhwannya kaget waktu baca data Mbak. Setelah tau aktivitas Mbak yang memang sangat padat, si ikhwan mundur secara teratur. *senyum..

Ane : Ikhwannya gak PeDe kali Mbak..

Mbaknya: Mungkin. Banyak koq akhwat yang bernasib sama. Bahkan ada teman Mbak yang cerita. Saat tiba di depan rumah teman Mbak itu, si ikhwan langsung balik kanan dan ngambil jurus langkah seribu. Nyalinya ciut mengingat
sepak terjang dan keaktifan calon yang akan dikhitbahya. Tapi keburu dikuatkan lagi sama MRnya, akhirnya mereka jadi menikah dan bahagia.

Temen Ane: Jadi, ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu, ikhwan minder ya Mbak?

Mbaknya: Bisa jadi. Mungkin juga perasaan “takut ditolak” menghantui para ikhwan karena mereka pikir, akhwat yang sudah punya gelar, pekerjaan, hidup mapan, mandiri, dan lebih dewasa terlalu pilih-pilih dan sangat idealis. Padahal gak semuanya seperti itu. Ikhwannya aja yang mundur sebelum maju (maksudnya?). Dengan kata lain, menyerah
sebelum bertanding.

Ane dkk: *aksi manggut-manggut sambil berkoor “Oo..” berjamaah.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah lain yang ane temukan mengenai topik ini. Intinya (dari tadi intinya mulu!). Makin jelaslah kalo ternyata, kebanyakan ikhwan (tanpa maksud mengeneralisasikan) menginginkan tipe akhwat “rumahan” yang penuh dengan kelembutan dan keibuan.

Katanya si ikhwan aja, “Wah, rejeki tuh kalo dapat yang sholihah, keturunan bangsawan, hartawan, cerdas, cantik pula! Mau dookz!!” tapi, ketika data akhwat itu sudah ada dalam genggaman, eeh, keder juga si ikhwan! Kemudian, dia berkata dengan degupan hati yang coba ditahan-tahan, “Kalo pilihan saya sih yang gak terlalu ‘Wah’, tapi juga gak ‘A
h’. Gak terlalu ‘Wih’ tapi juga gak ‘ih’..!”

Bener gak sieh?

Mellow, hush..hush..hush!!

Bismillah…

Sebelumnya pengen cerita dulu,

saat aku mau liat bintang, eh dia malah sembunyi di belakang awan. Pas aku tanya kenapa, jawabnya: “aku gak selalu ada untukmu…”

Kecewa.

Tapi kemudian, hujan datang dan menghapus kesedihan. Aku memilih bermain bersamanya. Sampai kuyup. Tapi, tiba-tiba dia menampar-nampar wajahku, agak keras. Deras. Lalu hujan berkata, “Ida, maaf. Gak selamanya tarianku gemulai. Terkadang, aku juga bisa marah. Apalagi melihatmu begitu terlena, olehku.”


Aku bingung. Kenapa sih? Bintang, hujan, koq sekarang kalian beda?!

Tiba-tiba, “JEGGGGEEEERRRRRRR….!!!!” Suara petir membuatku kaget luar biasa. Si petir bilang, “Sudah! Berhenti mikirin bintang dan hujan! Suka boleh, tapi sekadarnya aja! Ya!!”

Aku cepet-cepet masuk rumah. Kedinginan. Habis hujan-hujanan, kepalaku pusing, badanku demam, dan hatchii!!! Aku pilek.

*******

Heran!

Kenapa akhir-akhir ini virus MELLygoesLOW betah bersarang di diriku yha?

NGGAK!! NGGAK BOLEH!!

Idaaaaaa………SADARLAH NAAAKK!!!!

Sudah. Cukup.

BANGKIT! Ambil air wudhu, sholat, tilawah, dan bergeraklah!! Bismillah…Tuntaskan amanah!!

JIDDIYAH!! HAMASAH!! DHAWABIT!! ILTIZAM!! ISTIQOMAH!!

 

 Teringat kembali aku akan nasehat Syaikhut Tarbiyah, Ust. Rahmat Abdullah, tentang dakwah…

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir
yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak.
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.


Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam
tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…


“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)


Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya
harus mengalah.

: In memoriam Ust. Rahmat Abdullah

La’allanaa fii barokatillah….
Ya Alloh, karuniakanlah kami panasnya iman yang mampu membakar ruh HAMASAH untuk terus bermujahadah dengan penuh kesabaran….aamiin.

 

Bintang. Hujan. Kemaren kalian masih membayang di pikiranku. Sekarang, kalian seperti benda asing yang tak kukenal. Cepat sekali Alloh membolak-balikkan hati. Bersyukurnya aku, Alloh masih sudi mengingatkanku. Itu tandanya, Alloh sayang…..

Ada kalanya….

Ya. Ada kalanya….

 

*sepertinya, aku sudah mulai dewasa*

 

Percayalah, kadang tak mudah untuk belajar dari hikmah yang dipetik orang…maka bergeraklah, rasakan dan petik sendiri hikmah itu…”

*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*




-

 

Dasar Akhwat [Part Four]

Berita hangat, berita hangat!! Telah ditemukan “spesies” akhwat yang lain…
(yang baru nemu ni blog, dijamin kagak bakalan mudeng! So, kalo pengen ngeh, baca juga edisi-edisi sebelumnya, otre?!). Semoga bisa menjadi pelajaran dan diberi kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah.      Selamat membaca

 

9. Akhwat Cadangan

 

Maksudnya apa neh? *dengan emosi dan nada tinggi

Eit, tenang..tenang Pren. Kita bicarakan baik-baik duduk perkaranya. Ane tahu para akhwat pasti gak terima kalo dibilang cadangan (secara, ane kan juga akhwat). Karena apa? Konotasi cadangan tuh dari dulu emang negatif. Mau bukti? Ada istri cadangan, lelaki cadangan (kayak lagunya T2, ops!), pemain cadangan, pokoknya si cadangan selalu dinomorduakan alias dikebelakangkan (mana ada sih yang mau jadi kedua? Kecuali si Astrit dengan hitsnya, Jadikan Aku yang Kedua *iiih…sowri aja yaaaaahh). But Prenz, cadangan di sini gak ada sangkut pautnya koq ama istilah yang tadi, karena yang dimaksud di sini adalah…..”Cuek Abiz nDAk ketuluNGAN” (hehe…jauh amaaaat!!).

 

  *Model akhwat cadangan

 

Ya! Dialah, akhwat cadangan. Prinsipnya, cuex is the best! Karakternya udah pasti cueks bebeks, jaim banged, en stay cool Maann. Akibat gaya cuek abiz ndak ketulungannya ini terkadang si akhwat disebut juga dengan model akhwat es batu. Namanya juga es, pasti dingiiiiin. Trus batu kan berarti, keras en kaku. So, bisa dikatakan, akhwat tipe begini udah cuek, dingin, keras, kaku lagi! (whuiih…untung gak makan orang). Model cadangan ini banyak kita jumpai di kalangan jilbabers. Biasanya cueknya itu ma lawan jenis (baca: ikhwan). Mungkin niatnya untuk menjaga hijab, tapi tetep aja cuek yang ndak ketulungan di sini gak bisa ditolerir. Misalnya, saat ada saudara seiman yang laki-laki (ikhwan) mengucapkan salam saat bertemu di jalan, trus si akhwat menganggap angin lalu dan pergi begitu saja tanpa menjawab salamnya (dalihnya sie, jawab dalam hati). Ato saat si ikhwan pengen membicarakan sesuatu yang sangat penting dan amat mendesak sekali. Nah, baru ketemu ama si akhwatnya tuh di jalan. Trus, waktu dipanggil “ukhti..!!” Eh, si akhwat malah gak peduli dan sengaja mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya (dalihnya lagi nie, takut terjadi fitnah). Yaaah..! Emang sie, serba salah. Bahkan hal semacam ini dah menjadi fenomena yang biasa dan sempat menjadi kontroversi di kalanagan aktivis dakwah. Kan udah ada adab-adab beriteraksi (bergaul) antar ikhwan akhwat. Bukan berarti kita menjadi makhluk yang eksklusif dan gak peka terhadap sesama kaan??


10. Akhwat Sufi

Akhwat Sufi? Seperti Rabi’ah Al Adawiyah kah? Subhaanallaah…

Eit..eit…entar dulu (maen asal tebak aja!). Sufi yang ini sama sekali nggak ada hubungan kekerabatan ama para penganut aliran sufisme itu. Gimana mau dibilang sufi (dalam arti sebenarnya), wong doi malah lebih suka duduk berlama-lama di depan layar kaca sambil mantengin film kesukaannya. Yap! Sufi yang ane maksud adalah “SUka FIlm”! Hmm…tiada hari tanpa nonton film, begitu mottonya. Ni akhwat paling up to date kalo ngobrolin soal film. Dari yang terlawas sampe yang terbaru. Dari yang lokal (bikinan anak negeri) sampe mancanegara (box office). Dari jalan ceritanya sampe ke artis dan aktornya. Pokoknya hapal banged dah! (Astaghfirullaahal ‘Adziim…*sambil ngelus dada).

Kalo ni akhwat dibiarkan tumbuh subur di semesta raya ini (kerjaannya nonton film mulu), bagaimana dengan nasib ummat?? Emang masalah ummat bisa terselesaikan hanya dengan duduk manis di depan tivi, komputer, ato bioskop selama berjam-jam sambil menikmati film kesukaan dan maem cemilan??? (mari qta semua teriak lantang secara berjama’ah, “ya nggak laaaahhhh…mimpi kali yeee….!!!”).

Berhibur sie boleh, tapi liat-liat jenis hiburannya dunk, Non! Jangan sampe kita milih hiburan yang nggak ada manfaatnya (ato bahkan malah ngasih mudhorot, apalagi kalo isinya maksiat, iiih…na’udzubillaah). Trus inget-inget waktunya juga! Jangan sampe hal yang mubah membuat qta lupa mengerjakan hal yang wajib (Jangankan yang mubah, ngelakuin yang sunnah tapi mengorbankan yang wajib aja nggak boleh!!!). Intinya, selektif dan proporsional-lah. Hhmm…’afwan lho ukh, bukannya ane sok ngasih “wejangan” ato sok ngatur-ngatus kalian yang menganut aliran sufi ini, tapi ane cuma menghimbau, menganjurkan, menyarankan, mengharapkan, dan mengingatkan (serta mengharuskan) agar anti mau mengurangi porsi nonton filmnya dan lebih banyak hadir ke majelis-majelis ilmu. Mau kan ukhti sayang?? Yuuukkk ^__^


11. Akhwat Amigos

Akhwat macam apa pula ini?

Bicara soal Amigos, ane jadi teringat film masa kecil dulu. Judulnya, Amigos. Jujur, ane termasuk fans berat film telenovela anak dari Meksiko itu. Eh, bukan. Lebih tepatnya, ngefans ama pemain utamanya, Pedro! (whuuiiih..sumpah! Ganteng nian euy!). Kira-kira umurnya waktu itu sebaya dengan ane, sekitar 13 tahunan gitu lah…Ane sempet histeris waktu si Pedro dikabarkan menjalin hubungan spesial dengan lawan mainnya di film itu, Ana. Ugh! Rasanya cembokur berat deh! (Biasa, gosip anak kecil). Lho?! Koq jadi ke mana-mana yhah? (Astaghfirullaah, sowri jiddan Prenz. Ayo dunk Idaaa..Fokus! Fokus! *sambil jedotin kepala ke tembok…).

Oke, lanjut. Amigos di sini emang masih ada korelasinya ma cerita di atas (bukan, bukan pada filmnya, tapi pada gosip anak ingusannya). Karena Amigos yang ane maksud di sini tidak lain dan tidak bukan adalah…”AMat pedulI GOSip” (eit, ane yang sekarang dah nggak kayak cerita tadi lho yaa. Yang ane ceritain kan udah jadul banged. Lagian dulu mana tau kalo ngegosip itu dosa. Alhamdulillah sekarang dah berusaha dengan sekuat tenaga dan sepenuh jiwa dan raga untuk meninggalkan yang namanya gosip! Ghibah?? Iiihh…Na’udzubillaah….

Yah. Akhwat amigos emang sangat peduli gosip. Entah itu tentang siapa. Pokoknya ngerumpi. Tapi, Alhamdulillaah, dari sekian banyak akhwat yang ane jumpai, tipe ini jarang sekali ane temui (ato mungkin ane aja yang gak tau?). Kebanyakan dari mereka yang memilih jalan hidup sebagai seorang akhwat (muslimah kaffah) rela dengan senang hati meninggalkan jauh-jauh kebiasaan buruk ini. Kalaupun diantara kita (ane dan pembaca) masih ada yang menemukan akhwat yang berprofesi sebagai bigos (biang gosip), maka jangan sungkan-sungkan untuk menegur dan menasehatinya untuk kembali ke jalan yang benar (dengan cara paling ahwan tentunya). Ayo! Yang mengaku cinta saudara, jauhi ghibah! Karena ghibah bagaikan memakan daging saudaranya sendiri. (hiii…gak mau kaann???).

12. Akhwat Lemod

Awas! Jangan salah baca. Bukan lemot, tapi lemod! (ntar, salah-salah ane yang diseret ke meja hijau atas tuduhan pencemaran nama baik akhwat yang notabene gak lemot-lemot amat, alias mampu berpikir cepat dan cerdas_amiin, semoga bener).
    *model akhwat modis

So, LEMOD (pake D) yang ane maksud di sini adalah akhwat yang “keLEwat MODis” (adakah? Hmm…banyak malah!). Apalagi dengan model-model jilbab en baju yang semakin variatif belakangan ini. Ada kerudung yang belah tengah, belah pinggir (hee..kayak rambut aja), belah ketupat (ops, ngarang dink!), ada yang pake renda, bordil, bertali, berkerut, motif bunga-bunga, kotak-kotak, garis-garis, warna-warni, whuaaahhh pokoknya rame dah! Hmm…cantik siee…Tapi, semoga masih tetep dalam koridor syar’i. Modis boleh (bahkan ada sebagian akhwat yang “berijtihad” harus!), tapi mbok ya jangan kelewatan. Masa ada akhwat yang dari ujung kepala sampe ujung kaki pake warna yang sama. Biruuuu semua (eit, bukan ane lho yaaa!). Ato ijoooo semua (kan gak lucu kalo ada yang nyeletuk, “eh, liat. Ada pohon berjalan tuh” hihihi…). Dari kerudung, baju, rok (ato ada juga yang make jubah), manset (dekker), kaos kaki, tas, semuaaa satu warna. Ada juga yang berpendapat lain tentang makna modis itu sendiri. Maksud hati ingin dibilang lebih modis en lebih kreatif, akhirnya dipakailah tiga warna berbeda sekaligus. Jilbab merah, baju kuning, dan rok ijo (hehe…ada lampu lalu lintas jalan-jalan tuh..). So, proporsional laaah…yang sederhana tapi gak norak or malu-maluin. Yang biasa aja tapi bersahaja. Yang wajar tapi tetep indah dan enak dipandang mata. Iya, emang sie relatif… Tapi setidaknya bisa disesuaikan ma lingkungan sekitar en masyarakat tempat qta berada, karena merekalah yang akan menilai. ‘Alaa kulli haal, syar’I harus menjadi patokan utama yang nggak bisa ditawar-tawar lagi. Otre?! 

   Be a beautiful akhwat, inner en outter beauty 


Eh, ane bakalan balik lagi lho…ditunggu yaaah…!!!