Sakit Hati, gak usah deh!!

Bismillah,,

Kawan,,

Hampir setiap kita tentu pernah mengalami sakit hati dalam hidupnya. Baik
dalam keluarga, berteman, maupun bermasyarakat. Sebagaimana sifat sedih dan gembira, rasa yang satu ini adalah suatu kewajaran dalam hidup manusia. Apalagi, mengingat manusia adalah mahluk sosial, yang setiap interaksinya tidak lepas dari kekhilafan.

Pemicu rasa sakit hati juga bermacam-macam. Dari masalah
sepele hingga masalah besar. Misalnya berawal dari perbedaan pendapat, adanya konflik atau ketidakcocokan, hingga iri dan dengki. Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama bercokol dalam hati, maka tidak sehatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan jauh dari keceriaan. Lebih jauh lagi, hal itu bisa menjauhkan manusia dari RabbNya. Na’udzubillaahi mindzaalik.

Terus, ada gak sih solusi buat memenej sakit hati???


Kiat-kiat berikut semoga bisa membantu:
1. Muhasabah (Koreksi Diri). Sebelum kita menyalahkan orang
lain, seharusnyalah kita melihat diri kita sendiri. Bisa jadi kita
merasa tersakiti oleh saudara kita, padahal ia tak bermaksud menyakiti.
Cobalah bertanya pada diri sendiri, mengapa saudara kita sampai
bersikap demikian. Jangan-jangan kita sendiri yang telah membuat
kesalahan.

2. Menjauhkan Diri dari Sifat Iri, Dengki, dan Ambisi. Iri,
dengki, dan ambisi adalah beberapa celah yang menjadi pintu bagi syetan
untuk memasuki hati manusia. Ambisi yang berlebihan, dapat membuat
seseorang buta dan tuli. Bila tidak dilandasi iman, seorang yang
ambisius cenderung akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan
ambisinya.

Demikian sifat iri dan dengki. Sifat ini berasal dari kecintaan
terhadap hal-hal yang bersifat materi, kehormatan, dan pujian. Manusia
tidak akan tenang bila dalam hatinya ada sifat ini. Manusia juga tak
akan pernah bisa bersyukur, karena selalu merasa kurang. Ia selalu
memandang ke atas, dan seolah tidak rela melihat orang lain memiliki
kelebihan atas dirinya. Maka hapuslah terlebih dahulu sikap cinta
dunia, sehingga dengki pun sirna.

Rasulullah bersabda, "Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang.
Yaitu orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian memenangkannya atas
kerakusannya di jalan yang benar. Dan orang yang diberi hikmah oleh
Allah, kemudian memutuskan persoalan dengannya dan mengajarkannya. "
(HR. Bukhari).

3. Menjauhkan Diri dari Sifat Amarah dan Keras Hati. Bila
marah telah timbul dalam hati manusia, maka kadang manusia bertindak
tanpa pertimbangan akal. Jika akal sudah melemah, tinggallah hawa
nafsu. Dan syetan pun semakin leluasa melancarkan serangannya, lalu
mempermainkan diri manusia. Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin
menyebutkan bahwa Iblis pernah berkata, "Jika manusia keras hati, maka
kami bisa membaliknya sebagai anak kecil yang membalik bola."

4. Menumbuhkan Sifat Pemaaf. "Jadilah engkau pemaaf, dan
suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari
orang-orang yang bodoh." Demikian firman Allah dalam Al-Qur’an Surat
Al-A’raf : 199.

Ingat, Allah sang Khaliq saja Maha Pemaaf terhadap hambaNya. Tak peduli
sebesar gunung atau sedalam lautan kesalahan seorang hamba, jika ia
bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan pintu maaf
selebar-lebarnya. Kita sebagai manusia yang lemah, tidak sepantasnya
berlaku sombong, dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain,
sebelum ia meminta maaf. Insya Allah, dengan begitu, hati akan lebih
terasa lapang.

Rasulullah bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana engkau
berada, tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan
tersebut menghapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan
akhlak yang baik." (HR. Hakim dan At-Tirmidzi) .

5. Husnudhdhan (Berprasangka Baik).
Allah berfirman, "Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari
kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing
sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."
(QS. Al-Hujurat : 12).

Adakalanya seorang muslim berburuk sangka terhadap seorang muslim
lainnya sehingga ia melecehkan saudaranya. Ia mengatakan yang
macam-macam tentang saudaranya, dan menilai dirinya lebih baik. Tentu,
itu adalah hal yang tidak dibenarkan. Akan tetapi, hendaknya setiap
muslim harus mawas diri terhadap titik-titik rawan yang sering
memancing tuduhan, agar orang lain tidak berburuk sangka kepadanya.

6. Menumbuhkan Sikap Ikhlas. Ikhlas adalah kata yang ringan
untuk diucapkan, tetapi cukup berat untuk dilakukan. Orang yang ikhlas
dapat meniatkan segala tindakannya kepada Allah. Ia tidak memiliki
pamrih yang bersifat duniawi. Apabila Allah mengujinya dengan
kenikmatan, maka ia bersyukur. Bila Allah mengujinya dengan
kesusahannya pun, ia bersabar. Ia selalu percaya bahwa Allah akan
senantiasa memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Orang yang ikhlas
akan lebih mudah memenej kalbunya untuk selalu menyerahkan segalanya
hanya kepada Allah. Hanya kepadaNyalah ia mengantungkan harapan.

Lagi sakit hati??
cobalah amalkan kiat di atas. Okay!! ^_^
Insya Allah, beban hati akan berkurang. Dada anda pun terasa lapang.

ARTI SEBUAH KEJUJURAN

Para pembaca yang mulia, menyoal kejujuran adalah suatu topik pembicaraan yang mahal. Tak ubahnya ibarat barang langka, namun banyak konsumen yang mengincarnya. Terasa susah sekali mencari orang yang jujur atau yang bisa dipercaya. Tak urung, orang kepercayaan pun bisa jadi musuh dalam selimut.
Seiring dengan kemajuan media informasi dan tehnologi yang semakin canggih, peran kejujuran merupakan modal yang paling urgen (mendasar). Keakuratan dalam memberikan informasi, berita, data, fakta, dan segala yang terkait dengan pernyataan, sikap dan tindakan, itu tergantung kepada faktor kejujuran.
Demi mengejar persaingan bisnis, persaingan posisi (jabatan), kesenjangan sosial, kesulitan ekonomi atau pun kepentingan lainnya tak jarang dapat membutakan prinsip kejujuran. Tak luput juga dalam dunia pendidikan, adanya persaingan pendidikan yang kurang sehat juga dapat mengugurkan akan kejujuran. kalau dalam dunia pendidikan saja sudah terlepas dari prinsip kejujuran, bagaimana lagi bila meningkat pada jenjang berikutnya?
Demikian pula dalam lembaga kecil rumah tangga sangat perlu ditanamkan dan diterapkan prinsip kejujuran yang mulia ini. Betapa menyesalnya orang tua, bila sang anak sudah tidak bisa dipegang kejujurannya lagi? Betapa retaknya hubungan suami istri bila keduanya tidak saling menaruh kepercayaan? Dalam lembaga yang kecil saja ketidakjujuran itu membawa dampak negatif yang luar biasa, bagaimana lagi dampak yang terjadi dalam lembaga yang lebih besar?
Sangat tragis bila image (praduga) "siapa yang jujur ajur", "siapa yang polos gak lolos", ini semakin semarak. Apakah wabah ini bisa terobati? Jawabannya, tentu karena Allah subhanahu wata’ala tidak akan menurunkan sebuah penyakit melainkan pasti ada obatnya. Kembali kepada Islam, mempelajari ajaran-ajarannya dan mengamalkannya adalah obat yang tepat.
Jujur adalah Tanda Orang Yang Beriman
Wahai saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya agama Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wasallam adalah agama yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Beliau sendiri adalah seorang yang mendapat gelar al amin (orang yang dapat dipercaya) dimasa itu. Karena beliau shalallahu ’alaihi wasallam melandasi setiap tindakannya diatas prinsip kejujuran.
Dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah subhanahu wata’ala telah menyeru orang-orang yang beriman agar bersikap jujur. Diantara firman-Nya: (artinya):
"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang- orang yang jujur." (At Taubah: 119)
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (diantara perkataan yang benar adalah jujur -pent)." (Al Ahzab: 70)
Kandungan kedua ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala memanggil kepada orang-orang yang beriman, agar mereka bertaqwa dan berjalan bersama orang-orang yang jujur. Mengisyaratkan bahwa konsekuensi orang yang mengikrarkan dirinya beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, hendaknya dia bertaqwa. Dan salah satu bentuk taqwa dia kepada Allah subhanahu wata’ala adalah berjalan bersama orang-orang yang jujur. Berpijak diatas pijakan mereka, yaitu melandasi semua perkataan dan perbuatan diatas prinsip kejujuran. Karena kejujuran itu merupakan tanda kesempurnaan iman dan taqwa dia kepada Allah subhanahu wata’ala.
Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ’anhu:
ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ู„ููŠูŽุตู’ู…ูุชู’
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari kiamat, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam (bila tidak bisa berkata baik)." (HR. Al Bukhari no. 6018 dan Muslim no.48 )
Diantara perkataan yang baik adalah perkataan yang jujur. Bahkan kejujuran itu adalah sumber segala kebaikan.
Arti Sebuah Kejujuran
Para pembaca, setiap yang menabur biji kebaikan pasti ia akan menuai kebaikan dan demikian pula setiap yang menabur biji kejelekan pasti ia akan menuai kejelekan pula. Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah subhanahu wata’ala) yang sejalan dengan fitrah yang suci.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:
ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูุฏู’ู‚ูŽ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุจูุฑู‘ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ู„ูŽูŠูŽุตู’ุฏูู‚ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ูŠููƒู’ุชูŽุจูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูุฏู‘ููŠู‚ู‹ุง ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจูŽ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ููุฌููˆุฑู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ููุฌููˆุฑูŽ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ู„ูŽูŠูŽูƒู’ุฐูุจู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠููƒู’ุชูŽุจูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุฐู‘ูŽุงุจู‹ุง
’Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan kedalam al jannah (surga), sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicacat disisi Allah sebagai ash shidiq (orang yang jujur). Dan sesungguhnya orang yang dusta akan mengantarkan ke jalan kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan itu akan mengantarkan kedalam an naar (neraka), sesungguhnya orang yang benar-benar dusta akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta.’ (HR. Al Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2606)
Dalam hadits diatas menunjukkan bahwa jujur merupakan amalan yang amat terpuji. Dari sebuah kejujuran akan tegak kebenaran, keadilan, dan sekian banyak kebaikan dibaliknya. Hati akan menjadi tenang dan tentram. Karena orang yang jujur itu tidak mengurangi atau menzhalimi hak orang lain. Sehingga semakin menambah kepercayaan dari orang lain.
Cobalah perhatikan, bila seseorang berkata atau bertindak jujur, maka orang lain akan merasa dirinya dihormati, diperlakukan adil, tidak dizhalimi atau tidak dikhianati. Sehingga menumbuhkan rasa saling percaya, menambah rajutan ukhuwah (persaudaran), dan mahabbah (kasih sayang). Namun sebaliknya, dari ketidakjujuran akan menyebabkan terjatuh dalam perbuatan zhalim, curang atau berdusta kepada orang lain. Yang berakibat memudarnya sikap saling percaya, bahkan akan timbul kedengkian, permusuhan, dan sikap jelek lainnya.
Sehingga jujur itu benar-benar akan mendatangkan kebaikan dan sebaliknya dibalik ketidakjujuran itu terdapat sekian malapetaka. Demikianlah janji Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya (artinya):
’... Tetapi jikalau mereka jujur terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.’ (Muhammad: 21)
Sebenarnya segala perbuatan itu bisa dinilai sendiri, apakah perbuatan itu didasari dengan jujur ataukah tidak? Bila perbuatan itu didasari dengan kejujuran maka hati itu akan menjadi tentram dan tenang. Berbeda dengan perbuatan yang didasari dengan ketidakjujuran maka hati itu akan selalu gundah gulana dan bimbang. Maka sesuatu yang masih ragu atau bimbang hendaknya ditinggalkan. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:
ุฏูŽุนู’ ู…ูŽุง ูŠูŽุฑููŠุจููƒูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูŽุฑููŠุจููƒูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูุฏู’ู‚ูŽ ุทูู…ูŽุฃู’ู†ููŠู†ูŽุฉูŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจูŽ ุฑูŽูŠุจูŽุฉูŒ
’Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah sesuatu yang menenangkan sedangkan dusta itu adalah sesuatu yang membimbangkan.’ (HR. At Tirmidzi no. 2518 , An Nasa’i 8 / 327-328 , dan Ahmad 1 /200, dari shahabat Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib)
Para pembaca, sehingga image bahwa ’jujur itu ajur’ itu tidaklah benar. Bahkan sikap jujur itu pasti berakibat ’mujur’ (baik) dan ’ma’jur’ (mendapat pahala dari Allah subhanahu wata’ala). Diantara dampak yang baik dari perbutan jujur adalah:
1. Sebab mendapat barakah dari Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:
ุงู„ู’ุจูŽูŠู‘ูุนูŽุงู†ู ุจูุงู„ู’ุฎููŠูŽุงุฑู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽููŽุฑู‘ูŽู‚ูŽุง ููŽุฅูู†ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽุง ุจููˆุฑููƒูŽ ู„ูŽู‡ูู…ูŽุง ูููŠ ุจูŽูŠู’ุนูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุฐูŽุจูŽุง ูˆูŽูƒูŽุชูŽู…ูŽุง ู…ูุญูู‚ูŽ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุฉู ุจูŽูŠู’ุนูู‡ูู…ูŽุง
Penjual dan pembeli itu memiliki hak untuk meneruskan atau membatalkan akad jual belinya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur menjelaskan keadaan barangnya maka akan diberkahi jual belinya dan jika keduanya dusta maka akan dihapus keberkahan dalam jual belinya.
Ini adalah suatu gambaran dari Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam tentang usaha dagang (bisnis) yang didasari dengan prinsip kejujuran. Jujur dalam memberikan sifat barang, jujur dalam timbangan, atau jujur dalam segala hal yang terkait dengan jual beli. Maka bisnis itu akan diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala. Sebaliknya bila berlaku culas (menipu) dalam bisnisnya maka akan menjauhkan dia dari barakah-Nya ?, bahkan Allah subhanahu wata’ala akan mendatangkan siksaan baginya. Seperti curang dalam timbangan maka Allah subhanahu wata’ala mengancam dengan ancaman yang keras, sebagaimana firman- Nya (artinya):
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu curang dalam menakar dan menimbang). (Al Muthaffifin: 1)
2. Jujur sebagai sebab akan diperbaiki dan diterima amalan-amalan lainnya oleh Allah subhanahu wata’ala.
3. Jujur sebagai sebab datangnya maghfirah (ampunan) Allah subhanahu wata’ala.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (jujur), niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan akan mengampuni dosa- dosamu,... (Al Ahzab: 70-71)
4. Mendapat pahala yang besar.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
(Sesungguhnya),... laki-laki dan perempuan yang benar (jujur),... maka Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Ahzab: 35)
Diantara pahala yang besar yang Allah subhanahu wata’ala janjikan, yaitu barangsiapa yang memohon derajat syahid disisi Allah subhanahu wata’ala dengan jujur, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memenuhi permohanannya, meskipun ia mati diatas ranjangnya. Sebagaiamana hadits Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam
ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉูŽ ุจูุตูุฏู’ู‚ู ุจูŽู„ู‘ูŽุบูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ูŽุงุฒูู„ูŽ ุงู„ุดู‘ูู‡ูŽุฏูŽุงุกู ูˆูŽุฅูู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ููุฑูŽุงุดูู‡ู
Barangsiapa memohon kepada Allah derajat syahid dengan jujur niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat para syuhada’, meskipun ia meninggal diatas ranjangnya. (HR. Muslim no. 1909)
Demikian pula, pedagang (bisnisman) yang jujur akan diberikan pahala tinggal bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada’ (orang- orang yang mati di medan jihad). Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda
ุงู„ุชู‘ูŽุงุฌูุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุฏููˆู‚ู ุงู„ุฃูŽู…ููŠู†ู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูุฏู‘ููŠู‚ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูู‡ูŽุฏูŽุงุกู
Pedagang yang jujur lagi dapat dipercaya bersama para nabi, ash shiddiqi, dan asy syuhada’. (At Tiermidzi: 1130)
Akhir kata, semoga kajian yang ringkas ini sebagai koreksi bagi kita semua. Tiada seorang pun yang bersih dari noda dosa dan kesalahan. Namun seyogyanya kita selalu berusaha untuk berjalan diatas prinsip kejujuran, bila ada kelalain dari kita, hendaknya segera kita bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah subhanahu wata’ala menggolongkan kita termasuk hamba-hambanya yang jujur. Amien, ya Rabbal ’alamin.
MUTIARA HADITS
Do’a Berlindung Dari Empat Perkara Sebelum Salam
Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wasallam bersabda: ’Bila salah seorang diantara kalian selesai dari tasyahud akhir hendaklah berlindung kepada Allah dari empat perkara:
ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽู…ูู†ู’ ููุชู’ู†ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู…ูŽุงุชู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ููุชู’ู†ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุณููŠุญู ุงู„ุฏู‘ูŽุฌู‘ูŽุงู„ู
Ya, Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada- Mu dari adzab neraka jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dari jeleknya fitnah Dajjal." (HR. Al Bukhari no. 1377 , Muslim no. 588 , Abu Dawud no. 833 , At Tirmidzi no. 3528 , An Nasa’i no. 1293 , Ibnu Majah no. 899 , Ahmad no. 7110 , dan Ad Darimi no. 1310)

Cinta Sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Maaf Itu..

“..membuka pintu maaf yang setulus-tulusnya pada
orang yang menyakitimu. Jika kamu masih merasa sakit hati padahal dia sudah
minta maaf maka itu berarti kamu belum benar-benar memaafkannya. Salah satu ciri
kita telah tulus memaafkan orang lain adalah jika kita tidak lagi terbelenggu
oleh rasa sakit hati kita karena perbuatan orang lain itu. Memberi maaf itu
mampu membuka belenggu2 sakit hati. Mampu menyingkirkan kebencian. Dan memaafkan
adalah kekuatan yang sanggup menghancurkan rasa mementingkan diri
sendiri!

Ketika kita memberi maaf, itu tidak berarti kita
lebih rendah atau kalah. Justru ketika kamu memberi maaf, kmu telah menang dan
kedudukanmu lebih terhormat dibandingkan orang yang kmu beri maaf…”


Hubungan tanpa status

-Kami Tak Ingin Disebut ’Pacaran’-
Saya paham bahwa dalam Islam kita harus menjaga pandangan dan tidak boleh bersentuhan. Namun, dalam kondisi tertentu hal tersebut sulit dijalankan. Saya pernah memiliki perasaan suka yang berbalas dengan seorang ikhwan. Saya adalah tipe orang yang dengan kondisi perasaan berbalas akan cenderung mengungkapkan perasaan saya agar hati saya lega. Awalnya hubungan kami dimulai dari SMS, yang kemudian berlanjut dengan saling telepon. Pembicaraan pun awalnya tentang organisasi yang sama-sama kami ikuti, kemudian kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan, pembicaraan berkembang ke seputar hal yang sebenarnya tidak penting, yang lebih menjurus kepada pribadi masing-masing. Hubungan kami pun lebih dari teman biasa. Kata-kata yang meluncur dalam pembicaraan kami pun, yah, selayaknya orang pacaran. Namun tetap, kami tidak ingin hal itu disebut pacaran. Ketika menjalani hubungan tersebut, saya merasa tidak nyaman. Saya bagai penjahat di antara orang-orang baik. Saya memang merasakan adanya kesenangan dari hubungan ini. Diperhatikan, diajak bicara, dan sang ikhwan pun memang menyatakan bahwa proses ini adalah ta’aruf versi dia. Lumrah kan? Namun, karena lingkungan kami yang memang dekat dengan nilai agama, kami pun menyembunyikan hubungan kami. Guru ngaji dan teman-teman satu pengajian tidak ada yang mengetahui. Saat rapat organisasi pun, kami berusaha menekan perasaan, sehingga tidak nampak hubungan dekat di antara kami. Jadi, ketika keluarga saya mulai bertanya-tanya mengenai hubungan kami, saya pun bisa dengan mudah menjawab bahwa kami banya teman, karena statusnya memang tidak ada. (Akhwat,21 tahun, mahasiswi di Jakarta)

-Rencana Menikah 3 Tahun Lagi-
Saya ketemu dengan dia di senat. Awalnya sih nggak ada motivasi yang jelas. Waktu itu dia sedang ada masalah. Kemudian dia menambatkannya ke saya. Akhirnya, seiring waktu, saya merasa bertambah dekat. Di mata dia, saya ini adalah orang yang bisa memimpin dia dan kalau menyampaikan sesuatu tidak kaku. Akhirnya dia merasa, inilah yang dia cari. Saat itu saya sedang tidak dalam kondisi ‘mencari.’ Tapi ketika hubungan ini dijalani, saya merasa nyaman. Saya juga merasa dihargai atas pilihan ini. Saya masih tetap ikut liqo, dan saya percaya selama tidak berhenti mencari, hidayah akan datang. Tapi ada sejumlah hal yang belum bisa saya kompromikan; saya ngaji, tapi saya suka nonton, main PS (play station), kenalan dengan orang, tebar pesona. Mungkin orang melihatnya, ikhwan kok kayak gini? tapi saya jadi merasa seperti dihimpit dari mana-mana. Siapa saya, jati diri saya, identitas saya? Pergolakan batin, tentu ada, Bahkan saya sempat ingin keluar dari tarbiyah. Tapi pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya masih berproses, dan buat saya apa yang saya jalani ini adalah bagian dari proses saya. Saya nggak mau menyebut ini pacaran. In a relationship, mungkin tepatnya. Biasanya kami SMS-an, telepon berjam-jam, ngobrol, main ke rumah. Kalau di kampus saling bantu kerjaan, nonton satu-dua kali, makan, jalan, dengan intensitas yang jarang. Dia memanggil saya Mas, saya panggil dia Adek. Kami bilang sayang, cinta, I love you, ya begitulah. Saya sudah berhubungan selama 2 bulan, dan menurut saya ini sudah sangat serius. Saya juga sudah kenal keluarganya. Rencana ke pernikahan jelas ada, yaaa…mungkin 3 tahun lagi deh. Kalau bicara soal putus, jadi agak aneh juga, sebab sewaktu dia putus dengan cowoknya dulu, itu karena ketika dia berubah menjadi lebih baik, tidak diikuti oleh cowoknya. Makanya saya merasa, saya yang harus mengarahkan, baiknya begini, seharusnya begini, begitu. Saya bilang, kita lanjutkan saja, dan siap dengan apapun hasilnya nanti. Yang penting saling mengikhlaskan satu sama lain, jangan jadi halangan untuk masing-masing. Jadi kalaupun kita putus, kita sudah siap, karena hubungan ini memang dibangun dengan banyak kompromi. (Ikhwan, mahasiswa di Depok)

-Hanya untuk Senang-senang-
Sebagai seorang akhwat, aku dekat dengan lingkungan yang memahami ajaran Islam. Namun, kadang aku jenuh dengan aktivitasku dan membutuhkan tempat untuk menumpahkan isi hati. Aku sangat berharap teman-teman akhwatku dapat membantu. Tapi, mereka sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesahku. Mulailah aku menjalin hubungan dengan seorang ikhwan. Kami tidak berpacaran, karena hal itu memang dilarang Islam. Namun, aku juga rnemiliki kebutuhan akan pemenuhan perasaan yang kumiliki. Hubungan inipun kujalani hingga akhirnya aku merasa memiliki dan tergantung padanya. Dia adalah kakak kelasku di SMA dan ketika aku kuliah banyak memberikan inforrnasi mengenai kehidupan kampus. Meski kami tinggal di kota yang berbeda, kami tetap berkirim SMS dan telepon. Ketika masa libur tiba, kami selalu bertemu di kota asal kami. Bersama teman-teman, kami menghabiskan liburan bersama, mulai dari mengunjungi sekolah, pergi ke mall, atau ke pantai. Tapi, semua itu kami lakukan masih dengan menjaga adab-adab pergaulan menurut Islam. Tidak berduaan dan tidak bersentuhan. Namun, kami tetap tidak bisa menjaga hati kami. Aku menjalani ini hanya untuk senang-senang saja. Belum terpikir untuk melangkah ke hubungan yang lebih lanjut karena kami masih terlalu muda. Hanya saja, yang membuat aku meneruskan hubungan ini adalah cara kami yang memasukkan unsur-unsur ibadah dalam hubungan ini. Kami membicarakan dakwah dan rekruitmennya, saling memberi tausiyah, bahkan mengingatkan untuk shalat wajib maupun tahajud. Itulah yang membuat kami merasa hubungan ini benar adanya, Banyak pihak telah memperingatkanku. Bahkan beberapa teman mengancamku akan melaporkan kepada guru ngaji. Namun, di saat perasaan sayang itu muncul, aku pun kebal dengan peringatan-peringatan. Lalu akhirnya, jalan HTS (hubungan tanpa status) pun tetap kupilih karena terlihat lebih mudah bagiku. (Akhwat, 20 tahun, mahasiswi di Jakarta)

-Hampir Setiap Hari Menelpon-
Cerita saya bermula di bulan Ramadhan. Kala itu, saya membutuhkan pengisi acara untuk buka puasa bersama anak yatim yang diadakan BEM kampus. Akhirnya, salah seorang teman rnemberikan nomor kontak seorang ikhwan. Namun, di hari H, ikhwan itu tidak hadir karena sakit. Ia pun meminta maaf lewat SMS. Saya menanggapinya biasa saja, sebab sakit kan datangnya tanpa diundang. Beberapa waktu kemudian, ia mengontak untuk menanyakan kabar teman saya yang mengenalkan saya padanya. Tak dinyana, sejak itu ia terus mengontak saya via SMS. Awalnya SMS yang ia kirimkan biasa-biasa saja. Namun, lama-kelamaan, intensitasnya meningkat dan melebihi kadar kebiasaan. Isinya pun kebanyakan hal yang tidak penting. Saya selalu membalas SMS-nya, karena saya orangnya nggak enakan. Apalagi, saat itu bulan Ramadhan, ia sering SMS menanyakan puasa dan tarawih, juga membangunkan saya untuk makan sahur. Kemudian ia mulai menanyakan boleh tidak kalau menelepon, karena lebih leluasa dibanding SMS. Awalnya saya tolak. Saya takut ini akan melebar ke mana-mana, Tapi akhirnya saya iyakan, karena lagi-lagi saya merasa nggak enak. Hampir setiap hari ia menelepon. Kalau dia nggak menelepon, saya yang meneleponnya. Dalam SMS-nya kadang ia menyelipkan kata-kata "I miss you" atau menyapa dengan “hai Say!" Kami juga cepat nyambung karena ia tipe senang bercerita dan saya pendengar yang baik. Jadi klop. Seiring waktu, rasa suka terhadap dia pun mulai tumbuh. Padahal, belum sekalipun saya bertemu muka dengannya. Saya merasa senang dengan hubungan ini karena saya merasa ada yang memperhatikan. Saya terlena. Saya tahu ini tidak boleh. Tapi saya seperti mendapat pembenaran karena ia telah lebih dahulu mengaji dibanding saya. Hubungan kami seperti orang pacaran. Bedanya, ada atribut ikhwan dan akhwat yang melekat pada kami, dan sama-sama tahu bagaimana adab bergaul dalam Islam. Alhamdulillah…itu semua sudah berlalu. (Akhwat, 24 tahun, mahasiswi di Jakarta)

-Berharap Bisa Menikah dengan Dia-
Saya menjalin hubungan dengan ikhwan X ketika sama-sama sudah tarbiyah, di kampus dulu, kira-kira 4 tahun yang lalu. Awalnya saya dan dia curhat mengenai masalah yang sama-sama kami rasakan dalam tarbiyah. Lama kelamaan, mengalir begitu saja. Mungkin karena dia lebih tua, saya pikir saya bisa menjadikan dia seperti kakak. Tapi malah bablas… Kami lebih sering berkomunikasi lewat SMS dan telepon. Kalau ada masalah, saya curhat ke dia, karena saya sudah menganggap dia seperti kakak sendiri. Kalau butuh apa-apa, ya saya ke dia. Dibanding dia, saya yang lebih banyak curhat. Dan saya selalu enjoy dengan solusi yang diberikannya. Selain itu, dia juga care. Kadang dia bilang di SMS-nya, "Met kerja, Say!" Tapi itu baru di tahun ini, sebelumnya tidak pernah begitu. Kalau dari saya, paling saya memanggil dia dengan "Mas“ atau “Kakakku yang ganteng". Saya akui saya ada ‘rasa‘ sama dia. Dia pun saya nilai begitu juga. Namun kita sama-sama memberi kebebasan kalau mau taaruf dengan ikhwan atau akhwat lain. Setiap masing-masing kami bertaaruf, kami saling memberi tahu. Tapi sampai sekarang, belum menemukan yang cocok. Saya juga pernah coba pancing dia dengan ngomong, lebih baik kita menikah. Tapi dia selalu cari alasan, dan bilang, ya kita jalani dulu saja. Dulu saya pernah ta’aruf sama ikhwan lain, hampir mau nikah. Tapi nggak jadi karena saya sudah telanjur bergantung sama X. Setiap saya taaruf dengan ikhwan lain, saya suka membanding-bandingkannya dengan X. Saya juga jadi ragu untuk melanjutkan ke pernikahan. Kalau misalnya jadi, kasihan suami saya kalau dia tahu saya punya TTM (Teman Tapi Mesra). Saya ingin meng-cut hubungan ini dengan mencoba ‘menghilang’ dari dia, sama sekali tidak ada komunikasi. Tapi itu hanya bisa bertahan satu minggu. Saya berharap hubungan yang sudah sekian lama terjalin ini nggak sia-sia dan kami akan menikah. Tapi kalau memang belum bisa menikah dengan dia, saya ingin dia yang meng-cut. Saya nggak bisa bilang kalau dia bukan jodoh saya. Karena jodoh atau bukan kan kita tahu kalau sudah ada usaha. Sedang dia kan belum usaha. Kalau misalnya dia menikah dengan akhwat lain, mungkin saya sedih beberapa hari saja. Memang bukan jodoh, dan saya akan membuka hati untuk calon suami saya. Tapi, saya belum yakin, apakah saya bisa melakukan itu. (Akhwat, 25 tahun, fresh graduate dari Semarang)
 

Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

tentang-pernikahan.com - Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbialad diinik... 
 Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi alad dawatik...

Love is a give (Cinta adalah berkah)...
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)...
Cinta Allah yang membuat bumi ada...
Cinta Allah yang membuat sang surya bersinar...
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman...
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana...
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima...

 Mirip seperti itulah hakikat menjadi daI...
 Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi dakwah...
 Dia selalu memberi utk Islam,tanpa mengharapkan menerima utk setiap kerja dakwahnya...
Itulah ikhlash...
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah...
 Siap mengeluarkan uang utk dakwah...
 Siap mengeluarkan tenaga utk dakwah...

Ana teringat kata Ust. Darlis:
 Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis dakwah adalah seperti saudara...
Cukup sampai disana...
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader
(SIMPATI : SIMPan dAlam haTI)...
Kecuali Allah memberikan kesempatan padanya utk menyelesaikan setengah agamanya...

Jika Allah telah menentukan jodoh utk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo...?
 Masih panjang langkah dakwah kita...
 Masih begitu banyak lahan dakwah yang belum kita jamah...
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh...
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah pada kita...
 Jangan sampai dakwah kita berpenyakit hanya karena masalah ini...
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
 Bila sampai ada aktivis dakwah yang terjangkiti 
hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)...

 Dakwah adalah sesuatu yang suci...
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)...
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)...

Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya...
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab...

Dia beraksi dan berdemonstrasi utk menyuarakan yang haq didepan penguasa
yang zholim (HR Bukhori Muslim)...

Bukan ingin ketenaran...
 Dia berdakwah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya...

Ingat ikhwan wa akhwat fillah,
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:
Utk ikhwan...
 Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti...
Utk Akhwat...
 Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang
ada di syurga...

Kebenaran hakiki hanya milik Allah...
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan...
 

Rame-Rame Mengaku Rasul

 

Seperti kata pepatah aliran sesat di Indonesia bak pepatah, patah tumbuh hilang berganti. Setelah al Qiyadah al Islamiyah ditindak oleh aparat nyatanya keinginan mengaku Rasul tak juga berhenti. Mungkin, bosan dengan gelaran-gelaran akademik, orang berlomba-lomba menyematkan gelar, nabi atau rasul.

Kalau mereka itu terang-terangan mengaku agama baru masih mending, tapi mereka ini masih mengaku Islam. Sedangkan Islam tegas menyebut kafir bagi siapa saja yang mengaku ada Rasul setelah Nabi Muhammad saw.

Seperti di Kudus muncul aliran Sabda Kusuma. Kehadiran aliran ini jelas meresahkan warga yang tinggal di RT 01/RW 04 Kauman, Kecamatan Kota, Kudus. Bagi yang berminat menjadi penganut aliran ini, harus mengucapkan syahadat yang bunyinya, "asyhadu anna sabda kusuma rasulullah."

Syahadat itu tertulis dalam diktat aliran ini bernama Sabdaning Suma. Meski sudah jelas menyimpang, Abdul Koliq bersama temannya, Abdul Sodiq, penulis kitab ini, mengaku, "Isi buku diktat ini juga sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits. Tidak ada tulisan syahadat yang menyimpang," katanya.

Sabda Kusuma si pembawa aliran ini, membantah tuduhan telah mengubah kalimat syahadat dan menyebarkan ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam kepada masyarakat luas.

"Saya juga tidak merasa menyebarkan buku ajaran yang di dalamnya terdapat kalimat syahadat yang sudah diubah," ujarnya ketika memenuhi panggilan Departemen Agama, Kabupaten Kudus untuk dimintai klarifikasi 12 November silam.

Itu Sabda Kusuma, yang ini lain lagi. Jika Rasulullah dahulu ummi (tidak bisa baca-tulis,-red) maka Rasul yang satu ini berbeda. Dia bisa keduanya. Sarjana strata satu pula dia dari universitas Indonesia bidang ketatanegaraan.

Dia berani merusak sebutan Tuhan dalam Islam. Dia mengganti sebutan Allah menjadi Tuhan. Alasannya umat Islam menyebut Allah untuk memberi kesan eksklusif sebagai Tuhan mereka.

Jika umat mengakui ada Tuhannya orang Islam, pasti sebaliknya diakui pula ada Tuhannya orang non-Islam, begitu tulisnya. “Dengan kata lain, terbentuk anggapan bahwa Tuhan itu ada lebih dari satu. Kerangka berpikir yang demikian telah menyalahi prinsip ketauhidan bahwa Tuhan itu Esa,” jelasnya.

Sebutan Allah baginya –jika dipahami oleh orang Arab– artinya adalah Tuhan. Pemaknaan Rasul yang satu ini terkesan tidak jelas darimana sumbernya. Dia tidak seperti para ulama yang memahami Allah sebagai ism ‘alam, nama yang baku, bukan berasal dari kata-kata ilah.

Di mata Rasul sarjana ini, “Racun pikiran yang lahir dari penggunaan sebutan Allah ini memang sangat halus, namun dampaknya sangat fatal,” tulisnya, “semua itu berawal dari penggunaan bahasa Arab yang ditautkan dengan keyakinan.”

Sebagai sarannya, dia berseru untuk menyudahi penggunaan sebutan Allah, dan menggantinya dengan sebutan Tuhan. “Dengan langsung menggunakan bahasa sendiri, kita akan terhindar dari salah persepsi yang membahayakan ketauhidan,” ungkapnya.

Pria yang mengaku rasul dengan cara menyebarkan ajarannya di internet, melalui facebook dan blog ini ternyata sudah menggeluti aliran tersebut sejak dua tahun silam. Sakti mempunyai blog bernama Blog Sakti A. Sihite yang beralamat di jalan Swasembada timur XXIII nomor 6, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sakti mengaku sebagai rasul tapi bukan nabi. Pria yang tinggal di Jakarta ini mendapat ’wahyu’ kerasulan pada 2007. “Kini seorang utusan Tuhan telah hadir di jantung Indonesia, Jakarta. Apabila penduduknya mendustakan, maka mereka pasti akan menemui nasib yang sama dengan kaum-kaum terdahulu,” tulisnya

Sakti menyatakan ada kekeliruan pengertian di masyarakat tentang Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian. Baginya, nabi Muhammad adalah penutup para nabi, bukan rasul. Karena itulah dia berani mengklaim dirinya sebagai Rasul.
Meski sebagai rasul, Sakti mengatakan tidak membawa ajaran baru. Dia hanya membenarkan apa yang sudah tertulis di dalam Al Qur’an.

Anehnya, Di dalam blognya, terdapat surat terbuka untuk presiden SBY yang berisi himbauan bapak presiden, supaya berwaspada (taqwa) kepada tuhan dan mentaati utusan-nya. Dalam surat di bloger-nya ini tertulis dari Sakti, sebagai utusan tuhan.

“Bapak presiden yang saya hormati,” tulisnya, “jadilah orang yang pertama mempercaya kerasulan saya, dan pimpinlah rakyat untuk menerima cahaya Tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya. Mudah-mudahan Tuhan akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi untuk negeri kita ini.”

Menurut Direktur Eksekutif Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Nirwan Syafrin, Banyaknya aliran sesat belakangan ini mencerminkan masyarakat kita sedang sakit. Sakit karena tidak lagi mengetahui ilmu. Mencari ilmu kepada orang yang salah. Pemerintah tidak mengarahkan, membimbing kepada yang benar pula. Masyarakat akhirnya mudah saja mengangkat seseorang sebagai guru, ustadz, kyai, atau ulama. Padahal sesungguhnya tidak mengetahui agama.

”Mereka yang dianggap guru itu ternyata membawa aliran sesat, mengaku sebagai nabi, mengaku sebagai rasul. Mereka selewengkan pemahaman tentang al-Qur’an. Firman Allah yang sudah jelas mengatakan Rasulullah adalah penutup para nabi dipahami dengan Relativisme, sehingga ada nabi selain nabi Muhammad saw,” jelas Nirwan.

Faktor lainnya, masih kata Nirwan, berkaitan dengan dakwah pastinya. Ini sebuah bukti dakwah kita belum sampai kepada harapan yang hendak dicapai.

”Disini cendikiawan muslim harus bertindak. Mereka harus membimbing masyarakat kita agar jauh dari kesesatan ini,” tambahnya.


Jadi persoalan nabi palsu ini bukan sekadar wacana untuk bahan diskusi. Kerja dai dan cendekiawan muslim harus lebih keras memberu bimbingan agar mereka sadar. Lebih dari itu semua, perlunya tindakan tegas dari Pemerintah menindak mereka secara hukum.
 

Kumandang Adzan Kok Digugat

 Beberapa waktu lalu (7/11), harian The Jakarta Post menggiring opini pembaca seputar adzan di masjid-masjid dengan menggunakan pengeras suara (loud speaker). Dengan topik “Letter: Loudspeakers on Mosques”, pembaca diundang untuk meresponnya di kolom semacam surat pembaca.

Sebagai prolog, harian berbahasa Inggris itu mengusung wacana: pemerintah berencana mengatur adzan di masjid dengan perbandingan satu muadzin untuk 30 masjid. Muadzinnya yang dipilih adalah yang memiliki suara indah dan enak didengar.

Wacana untuk melakukan penyeragaman adzan, pernah digulirkan Pemerintah Mesir yang hendak menerapkan kebijakan baru aturan adzan di Kota Kairo, pada 2007. Dengan kebijakan baru ini, setiap waktu shalat tiba, suara adzan dipusatkan pada satu muadzin saja yang disambungkan ke 4.000 pengeras suara yang ada di masjid-masjid besar di kota Kairo.

Alasan kebijakan itu dibuat, karena kabarnya banyaknya keluhan terhadap suara adzan yang saling bersahut-sahutan dari berbagai masjid ketika waktu shalat tiba, dengan selisih waktu yang sedikit berbeda-beda, sehingga terdengar bising.
Hal itu mendorong Menteri Wakaf Mesir Mahmud Zaqzuq menandatangi kontrak untuk menyediakan sekitar 4.000 pesawat penerima agar adzan bisa dikumandangkan dalam waktu yang sama oleh masjid yang berbeda-beda.

Di Mesir, rencana untuk sentralisasi kumandang adzan sebenarnya sudah dibicarakan sejak 2004 lalu, tapi proyek sentralisasi itu mendapat perlawanan dari kalangan ulama, sehingga pelaksanaannya terhambat. Tak terlaksana. Mereka yang menyampaikan keluhan, kebanyakan warga yang tinggal di dekat masjid.

Sebuah komite kemudian dibentuk untuk mempelajari keluhan itu dan membuat proyek sentralisasi adzan, termasuk studi mengenai aspek teknisnya.

Sebagai catatan, kementerian agama di Mesir saat ini bertanggung jawab atas sekitar 90 ribu masjid dan mushalla-mushalla yang tersebar di seluruh Mesir. Sekitar 4.000 masjid berada di wilayah Kairo Raya yang akan menjadi target pertama dari kebijakan ini.

Rencananya, pemerintah Mesir akan mengumumkan muazin bersuara indah untuk dipilih saat mengumandangkan azan.

Dengan cara itulah, kaum liberal dan Islamphobi di Indonesia hendak meniru kebijakan pemerintah Mesir, perihal aturan adzan. Atas dalih yang dibuat-buat, mereka menuduh, seruan adzan dianggap pengganggu tidur, mengusik orang sakit, orang-orang jompo, balita, dan turis yang melancong.

Kebijakan itu, sebetulnya langkah awal untuk bertindak lebih jauh, yakni hendak melarang masjid-masjid mengumandangkan adzan. Setidaknya, ada beberapa negara yang telah memberlakukan larangan adzan karena alasan gangguan kenyamanan.

Di selatan benua Afrika, misalnya. Mahkamah Agung Mauritius memerintahkan otoritas kota Quatre-Bornes agar melarang Masjid Hidayat Al-Islam menggunakan pengeras suara saat mengumandangkan adzan. Larangan itu dikeluarkan (akhir Maret 2007), setelah salah seorang warga mengajukan gugatan hukum, karena merasa terganggu dengan suara muadzin saat waktu shalat tiba.

Yang menarik, protes atas larangan itu, bukan hanya dilakukan warga Muslim, tapi juga non Muslim.

Di Azerbaijan, negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim, juga mengeluarkan larangan adzan dengan pengeras suara (23/5/2007). Kemudian di Maroko, seorang menteri Partai Sosialis Progresif, Nouzha Skalli mengusulkan larangan adzan Subuh dengan dalih agar tidak mengganggu turis. Di Eropa, SVP -- parlemen Swiss (Partai Rakyat Swiss) bersama Partai Kristen ultra konservatif, sejak 2008, gencar mengkampanyekan anti-menara masjid.

Itu artinya, sama sama saja melarang kumandang adzan. Saat ini, ada sekitar 35.000 muslim di Swiss yang bertahun-tahun terus memperjuangkan agar agama Islam diakui sebagai agama resmi.

Belum lama, zionis Israel juga memberlakukan aturan, tidak hanya larangan shalat di Masjid al-Aqsha bagi warga al-Quds dan Muslim Arab yang berada di Palestina, melainkan juga melarang adzan.

Jauh sebelumnya, tahun 1930 dan 1940-an, Turki pernah menerapkan larangan adzan dan mengganti seruan adzan dari bahasa Arab kedalam bahasa Turki, bahkan mengubah masjid menjadi museum.

“Bagi saya, adzan itu bentuk syiar Islam, dan menandakan seseorang berada di negeri Muslim. Yang merasa terganggu dengan adzan, cari saja komplek perumahan yang tidak ada masjidnya. Gitu aja kok repot. Belum lama saya ke Mesir, nyatanya, tak ada adzan yang dibatasi kok,” ujar dai kondang Ustadz Subki al Bughuri kepada Sabili.

Benarkah kumandang adzan di masjid-masjid sebagai pengganggu? Ternyata tidak. Buktinya, Tatiana, Gadis Slowakia terbuka hatinya setelah mendengar suara adzan saat ia berkunjung ke Kairo, Mesir (7 September 2008). Tatiana adalah salah satu umat Kristiani yang terpikat suara adzan, lalu memutuskan untuk menjadi seorang Muslimah.

“Ketika mendengar suara adzan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara masjid itu. Tak berapa lama saya pun bersyahadah,” akunya.

Aneh, jika adzan dibilang pengganggu, dan membuat bising orang yang malas bangun pagi. Seharusnya umat Islam bangga, karena agama ini mengajarkan kedisiplinan. Wacana satu muazin untuk 30 masjid via stasiun radio pemerintah adalah mustahil dan terlampau mengada-ngada. โ– 

Gelombang Penolakan Salafy Ekstrim

Banyak laporan yang dikeluhkan umat dan gerakan Islam dengan keberadaan Salafy -- demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Meski di kalangan Salafy terjadi perpecahan dalam menyikapi ijtihad tertentu, namun kebanyakan umat tidak memahami peta Salafy secara utuh, sehingga cenderung men-generalisir Salafy dengan cap buruk.
Bukan sekali terjadi, benturan antara Salafy dengan gerakan Islam yang ada. Sehingga menimbulkan gelombang penolakan. Di Lippo Cikarang, kajian Salafy terpaksa diliburkan selama sebulan, karena adanya tekanan (ancaman) dari kelompok tertentu untuk membubarkan halaqah ini. Kemudian di Matraman, Jakarta, pernah terjadi penyerbuan kelompok jamaah dzikir yang dipimpin oleh seorang yang mengklaim dirinya habaib, terhadap masjid jamaah Salafy, seraya menuntut masjid itu tidak difungsikan lagi untuk penyelenggaraan shalat Jum’at. Alhasil, tuntutan itu sukses.
Gelombang penolakan juga terjadi di luar Jawa, di Lombok Barat (NTB), sudah beberapa kali terjadi perusakan fasilitas milik ”penganut” Salafy oleh warga setempat. Akibat kesalahpahaman di kedua belah pihak, warga di Dusun Mesangguk, Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok, menyerang jamaah Salafy dengan lemparan batu. Sebelumnya, November 2005, ribuan warga Desa Sesela menyerbu Yayasan Pondok Pesantren Ubay bin Kaab di Dusun Kebon Lauk.
Kepada Sabili, Ketua Komisi Pengkajian Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin mengaku bahwa Salafy pernah mendatanginya. Mereka meminta agar LPPI menjelaskan kepada masyarakat, bahwa Salafy bukanlah ajaran sesat.
Cara dakwah yang dilakukan kelompok Salafy, membuat umat Islam resah, dan mendesak MUI mengeluarkan fatwa tentang keberadaan Salafy. Sesatkah Salafy? ”Salafy bukan merupakan sekte atau aliran sesat. Salafy, tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh MUI. Demikian fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara tanggal 8 April 2009. Fatwa yang ditandatangani oleh Qoimuddien Thamsy (Ketua Umum MUI Jakarta Utara) dan Drs. Arif Muzakkir Manna, HI (Sekretaris Umum) tersebut, setidaknya melegakan kelompok Salafy.
Kendati Salafy bukan aliran sesat, Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amien menasihati aktivis Salafy, agar merubah cara dakwahnya menjadi lebih baik, dan memperbaiki sifat ananiyah madzhabiyah yang menganggap diri-kelompoknya paling benar dan mencela golongan lain yang menurutnya salah. ”Padahal, jika masih dalam skala ikhtilaf, tidak boleh asal menyalahkan. Berbeda dengan Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas menyimpang, karena sudah menyangkut prinsip (akidah),” kata Kiai Ma’ruf.
Lebih lanjut, KH Ma’ruf Amien mengatakan, penyerangan warga terhadap jama’ah Salafy, terjadi akibat sifat egoisme kelompok ini yang suka menyalahkan golongan lain yang berbeda pandangan. ”Kelompok ini tidak mau toleransi dengan pemahaman yang berbeda dengan mazhab mereka, sehingga menyulut kemarahan warga,” tukasnya.
MUI Nusa Tenggara Barat (NTB) juga menyatakan, kelompok Salafy tak menyimpang dari ajaran Islam. Hanya saja, penyebaran ajaran ini tidak dikemas sesuai dengan kultur agama yang dianut warga setempat. ”Akibatnya, warga menjadi tersinggung dan anarkis,” ujar Sekretaris MUI NTB Tuan Guru Haji Mahaly Fikri.

Kenapa Salafy Dikecam

Lantas, apa yang membuat kelompok Salafy dikecam? Karena kelompok Salafy kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Inilah yang menimbulkan tenaga gelombang itu membesar.
Salafy acapkali mencela ulama seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Hasan al-Banna, Taqiyuddin An-Nabhani, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, ’Aidh al-Qarni, Yusuf al-Qaradhawi dan sebagainya. Sementara gerakan Islam yang diserang Salafy diantaranya: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, FIS Al-Jazair, tak terkecuali Persis, NU, Muhammadiyah, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan sebagainya.
Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Salafy. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khawarij, pemberontak, ruwaibidhah (dungu), ahlu takfir, gerakan sempalan sesat, serta teroris, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya.
Salafy punya julukan tersendiri terhadap gerakan Islam yang berseberangan dengannya. Seperti Quthbiy (penganut paham Sayyid Quthb), Sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-’Abidin yang menggabungkan paham Salafy dengan Ikhwanul Muslimin), dan hizbi atau hizbiyun (kelompok yang berorganisasi/partai).
Salafy yang merasa dirinya paling benar, sering menuduh tanpa bukti, berdusta atas nama para ulama dan sebagainya. Fitnah pun ditebar di tengah kaum muslimin. Pendiri al Irsyad KH Ahmad Syurkati pun tak luput dari celaan pemuda-pemuda Salafy ekstrim. Dengan sinis mereka menyebut Syurkati mufti kolonial Belanda, mengambil dana lotere untuk memperkuat lembaga.
Anehnya, ketika (ulama) Salafy dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya. Seabreg kecaman pun tertuju kepada Salafy, ketika kelompok ini anti bicara politik, tidak peka terhadap penderitaan kaum Muslimin, fanatik kepada para syaikhnya, keras menghukumi saudaranya sendiri. Sementara pemurtadan merajalela.
Maling teriak maling, khawarij teriak khawarij. Seperti itulah yang digambarkan Abu Muhammad Waskito dalam bukunya yang berjudul: ”Wajah Salafy Ekstrim: Propaganda Menyebarkan Fitnah & Permusuhan”. Sebutan Salafy ekstrim, karena di antara mereka ada yang terjerumus dalam sikap ghuluw (melampaui batas). ”Jumlah mereka mungkin tidak terlalu banyak, kekuatan mereka juga tidak besar, tetapi suara mereka sangat keras dalam mengobarkan fitnah dan permusuhan,” tulis Waskito.
Yang lebih menyakitkan adalah, di saat warga Gaza dibantai Zionis Israel, ulama Salafy asal Saudi, Syaikh Shalih Al Luhaidan melarang umat berdemo. Bahkan menyebut pendemo itu sebagai khawarij. ”Demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat fasad fi Al Ardhi alias kerusakan di muka bumi,” kata Syeikh Shalih.
Sebelumnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (ulama Salafy) mengeluarkan fatwa agar kaum Muslimin Palestina hijrah untuk keluar meninggalkan bumi Palestina. Fatwa ini menuai kontroversi di tengah kaum Muslimin.
Apalagi? Dengan membabibuta, Salafy ”menyerang” Ikhwanul Muslimin dengan memelesetkannya menjadi Ikhwanul Muflisin (ikhwan yang boke alias tak punya uang). Aroma ”kebencian” pada Ikhwanul Muslimin mencuat tatkala pecah Perang Teluk Babak I. Adalah DR. Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, yang pertama kali menyusun buku berjudul ”Matha ’in Sayyid Quthb fi Ashab al Rasul” (Tikaman-tikaman Sayyid Quthb terhadap Para Sahabat Rasul). Rabi’ al Madkhali, bahkan mengkritik habis Fi Zhilal al-Qur’an (karya Sayyid Quthb).
Mantan Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib juga melontarkan cacimaki terhadap Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dengan menyebutnya sebagai ’aduwullah (musuh Allah) dan Yusuf al-Quraizhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani Quraizhah). Ja’far dikritik gurunya sendiri, Syeikh Muqbil di Yaman, yang mengganti celaan itu terhadap Qaradhawi dengan sebutan Yusuf al-Qaradha (Yusuf Sang Penggunting Syari’at Islam). Tak hanya itu, Hasan al Banna kerap disebut pelaku bid’ah yang akan berakhir di Neraka. Sayyid Quthb disebut pembawa ajaran sesat.
Ketika dihubungi Sabili untuk mengkonfirmasi tuduhannya, Ja’far Umar Thalib menolak, seraya mengatakan via SMS: ”Saya ndak bisa wawancara dengan yang menuduh saya sebagai agen BIN atau Densus 88. Dan Sabili adalah media kampungan yang melansir gosip kelas rendahan.”

Hobi Mencela

Tak dipungkiri, banyak umat Islam di Indonesia tak memahami Salafy secara utuh. Akibatnya, umat kerap menyamaratakan Salafy dengan tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Di sisi lain, umat kadang terjebak dengan penampilan kaum Salafy. Sebagai contoh, sebuah acara Todays Dialogue di Metro TV (2 September 2008), tengah membicarakan topik: ”Islam Radikal Mau Ke mana? Acara itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Ustadz Ja’far Umar Thalib, Abdul Moqsith Ghozali (tokoh JIL), dan Nasir Abas (eks anggota JI). Abdul Moqsith Ghazali dan Nasir Abas mewakili pihak yang berseberangan dengan gerakan Islam ”radikal”. Sedangkan Ja’far diharapkan Metro TV menjadi penyeimbang yang mewakili gerakan Islam radikal. Ada skenario, narasumber itu akan dikonfrontasi.
Tapi apa yang terjadi? Ja’far Umar Thalib dalam dialog itu, tidak menunjukkan sikap ”radikal” seperti yang diharapkan Metro TV. Justru sebaliknya, Ja’far dengan berbagai statemennya malah menyerang ”teman seperjuangan”. Bahkan lebih galak ketimbang dua narasumber lainnya. Apa kata Ja’far tatkala ditanya tentang kelompok-kelompok ”Islam radikal” yang ingin berjuang menegakkan syariat Islam dan negara Islam? Dengan gamblang, Ja’far yang Salafy ini mengatakan,”kelompok-kelompok itu harus diberangus sampai ke akar-akarnya.” Bukan hanya pemirsa yang terkejut, Meutia Hafidh, sang pembawa acara pun bertanya keheranan, kenapa harus diberangus?
Ja’far kembali menjawab, dulu, Khalifah Ali bin Abi Thalib memberangus khawarij. Kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam disebut Ja’far sebagai Ahlul Bughot (pemberontak) karena itu wajib diberangus hingga akar-akarnya. Ja’far pun menyamakan pejuang syariat dengan khawarij. Termasuk, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang dicap Ja’far sebagai pentolan neo khawarij, penerap doktrin takfir kepada penguasa Muslim.
Terakhir, dalam sebuah dialog di televisi swasta, Ja’far dijadikan narasumber untuk bicara tentang terorisme. Ia kembali menyerang Sayyid Quthb (tokoh Ikhwanul Muslimin), dan membela Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i. Ja’far mengatakan, semua bentuk radikalisme dan ekstrimisme muncul dari pemikiran Sayyid Quthb.
Yang menarik, adalah ketika terjadi perang pemikiran dalam bentuk buku. Awalnya, (alm) Imam Samudra menulis buku ”Aku Melawan Teroris!”. Seorang ustadz Salafy Abu Hamzah meresponnya dengan menulis pamflet ”Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris”. Selanjutnya, muncul buku bantahan yang berjudul ”Mereka adalah Teroris! Sebuah Tinjauan Syari’at”, ditulis oleh Luqman bin Muhammad Ba’abduh, seorang ulama Salafy Yamani dari Jawa Timur dan merupakan teman seperguruan Ja’far Umar Thalib. Setelah itu, juga terbit buku ”Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, buku yang juga bantahan terhadap Luqman Ba’abduh (Mereka adalah Teroris).
Menurut Ustadz Abduh Zulfidar Akaha Lc, buku ”Mereka adalah Teroris!” ternyata tidak sungguh-sungguh membantah Imam Samudra. ”Imam Samudra hanya dijadikan batu loncatan saja. Karena di balik itu, ada lebih dari satu orang yang diserang, baik ulama maupun gerakan Islam. Di dalam buku Mereka adalah Teroris, Luqman Ba’abduh menyebut nama-nama ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb sebagai teroris, Abdullah Azzam, pejuang Islam di Afghanistan, termasuk pula tokoh-tokoh Hamas seperti Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar-Rantisi dan sebagainya sebagai teroris Khawarij.” Intinya, tak ada penghormatan kelompok Salafy ekstrim terhadap ulama maupun mujahid di luar kelompoknya.

Keresahan umat Islam terhadap gerakan Salafy ekstrim di Indonesia, sebetulnya sudah muncul tatkala orang tua santri terkejut melihat putranya yang belajar di Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga, Semarang. Begitu pulang ke rumah saat liburan sekolah, anak-anak hasil didikan Ja’far Umar Thalib dan Yazid Abdul Qadir Jawwas itu, tiba-tiba mencopot gambar-gambar di dinding, membuang radio dan televisi dari rumah mereka. Sejumlah orang tua cemas akan hal ini, lantas mendatangi kantor cabang al-Irsyad di Tengaran, Semarang untuk menanyakan pola didik yang diterima anak-anak mereka. Orang tua juga menuntut cabang al Irsyad bertanggung jawab langsung terhadap pesantren, agar mengekang kecenderungan militan ini.
Diakui Ketua Umum al Irsyad al Islamiyah KH Abdullah Jaidi, ormas Islam yang paling kecolongan dengan pengaruh Salafy adalah al-Irsyad. Khawarij teriak khawarij, ahlu bid’ah teriak bid’ah pun diamini Abdullah Jaidi. Ia memberi contoh, tahun 2005, di Pekalongan, tatkala terjadi perebutan al-Irsyad, Yusuf Utsman Baisa (kelompok Tengaran) dikalahkan oleh Mahkamah Agung (MA). Meski kalah, mereka hendak menggelar rapat, tapi dilarang oleh Kapolri Sutanto ketika itu. Diam-diam, mereka tetap menggelar rapat di kediaman walikota Pekalongan. Hasil rapat memutuskan: menolak keputusan MA. Usai itu mereka berdemo di MA dan Kejaksaan Agung. ”Ini namanya apa? Jelas bughot, menentang pemerintah, menolak MA. Jadi apa yang mereka sebut bid’ah, bughot, mereka sendiri adalah pelakunya,” kata Jaidi.
Kini, penyebaran paham Salafy berkembang melalui buku-buku agama, majalah, kaset, dan situs internet untuk mereka jadikan sebagai propaganda. Buku-buku, majalah dan internet adalah media lain yang mereka gunakan. Hal ini menimbulkan gelombang yang juga tidak kecil. Melengkapi penolakan-penolakan lainnya.
Mereka disokong dana yang cukup besar dari oknum Syekh Saudi Arabia. Suatu ketika pimpinan cabang NU pernah memohon kepada Menteri Agama Maftuh Batsuni agar menyampaikan satu hal kepada Pemerintah Saudi untuk tidak membagikan buku-buku agama kepada jamaah haji di airport, yang hendak pulang ke Tanah Air. Mengingat, buku itu, bertentangan dengan pemahaman agama yang ada di daerah tertentu, sehingga membuat masyarakat bingung, bahkan berubah. Atas laporan pimpinan cabang NU ini, Menteri Agama meminta Pemerintah Saudi tidak membagi-bagikan buku-buku agama, tapi cukup Al Qur’an dan terjemahan saja.
Benarkah Salafy ekstrim tak bisa diajak berdialog? Dalam suatu seminar sehari di Pekalongan yang diadakan al Irsyad -- turut mengundang para ustadz al Irsyad di seluruh cabang Indonesia, termasuk kelompok Salafy Tengaran -- dibahas masalah-masalah yang menyangkut fatwa-fatwa dari kelompok Salafy. Ada enam permasalahan yang dibicarakan. ”Saat itu kelompok Salafy membawa dua koper berisi buku-buku. Sementara kita cuma membawa klipingan saja. Ketika baru membahas tiga masalah, mereka malah hengkang, tidak mau melanjutkan,” ungkap Abdullah Jaidi.
Tahun 1992, di Yogyakarta, Persis yang dipimpin (alm) Shiddiq Amien juga membuka ruang dialog dengan kelompok Salafy yang diwakili oleh Abdul Hakim Abdat. Apa yang terjadi, begitu terdesak dalil-dalil, mereka (Salafy) keluar meninggalkan ruangan.
Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki —tak mesti Salafy— sudah pasti akan menghadapi gelombang penolakan. Tapi, kalau berdakwah dengan cara yang santun, masyarakat tentu akan menerimanya dengan lapang dada.
 

QURBAN

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (Qs. Al-Kautsar, 108: 2)

Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang kesusahan lagi fakir. (Qs. Al-Hajj (22): 27-28)

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan Qurban supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Rabb-MU adalah Allah yang satu karena itu berserah dirilah kamu kepada-NYA. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh.” (Qs. Al-Hajj (22): 34)

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan telah terikat. Kemudian apabila ia telah tumbang (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, supaya kamu bersyukur. (Qs. Al-Hajj (22): 36)

Dari Aisyah ra sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “Bahwa tidak ada amalan manusia pada hari raya adha yang lebih dicintai Allah SWT, selain mengalirkan darah hewan (maksudnya : menyembelih hewan qurban)” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi,… dan di katakan Hadits Hasan Ghorib (hadits hasan yang hanya punya satu riwayat)

“Tidak beriman kepada-Ku seorang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya lapar dan dia mengetahui” (HR. Bazzar dan Thabarani, Hadis Hasan)

Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berqurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. (HR Imam Thahawi *)

*) Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan liat Turats, dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram:

Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab: Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al-Mubarakfuri, cetakan Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur ulama, wallahu a’lam.

Dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah)”. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

“Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berqurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya”. (HR Ibnu Majah dan AtTirmidzi dan dishahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah dengan sanad shahih)

Catatan :

Waktu berqurban dimulai sejak tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah. Masa memotong qurban pada tanggal 10 disebut “Yaumul nahar” yaitu hari untuk menyembelih kurban. Sedangkan tanggal 11, 12, 13 dinamakan “yaumul tasyriq” Di luar waktu tersebut bila kita memotong hewan dinamakan sedekah. Maka kalau niatnya berkurban harus dilakukan padan waktu-waktu tersebut, yakni pada tanggal 10,11,12, dan 13 Dzulhijjah.

Subjek: Tambahan tentang Qurban

Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik amal bani Adam bagi Allah di hari Idul Adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani Adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya” (HR. Tirmizi, Ibnu Majah)

Abu Hurairah yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka janganlah ia mendekati masjidku” (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

Ini menunjukkan sesuatu perintah yang sangat kuat, jika tidak bisa dikatakan wajib.

HADITS2 SEPUTAR QURBAN

1. “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami.”
(HR. Ahmad, sanadnya hasan)

2. ”Barangsiapa memiliki hewan yang akan disembelih untuk qurban, apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”
(HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud). Dalam lafazh yang lain; "Hendaklah ia menahan diri dari memotong rambut dan kukunya".
Maksudnya adalah orang yang ingin berkurban hendaklah jangan memotong rambut/bulu /kuku maupun mengupas kulit yang ada pada dirinya mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih.
Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, ‘Amr bin Muslim pernah mendapati seseorang di kamar mandi sedang mencabuti bulu ketiaknya menggunakan kapur sebelum hari raya qurban. Sebagian mereka ada yang berkata: “Sesungguhnya Sa’id bin Musayyib tidak menyukai perkara ini.”

3. “ Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka tidaklah termasuk kurban sedikitpun, akan tetapi hanyalah daging sembelihan biasa yang diberikan untuk keluarganya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

4. “ Setiap hari Tasyriq ada sembelihan"
(Dikeluarkan oleh Ahmad (4/8), Al-Baihaqi (5/295), Ibnu Hibban (3854) dan Ibnu Adi dalam "Al-Kamil" (3/1118) dan pada sanadnya ada yang terputus. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabari dalam ’Mu’jamnya" dengan sanad yang padanya ada kelemahan (layyin). Hadits ini memiliki pendukung yang diriwayatkan Ibnu Adi dalam "Al-Kamil" dari Abi Said Al-Khudri dengan sanad yang padanya ada kelemahan. Hadits ini hasan Insya Allah, lihat ’Nishur Rayah" (3/61).) Hadits ini mengandung makna diperbolehkannya memotong sembelihan selama hari tasyrik. Demikian Imam Ahmad, sebagaimana dikutip Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zadul Ma`ad.

5. “ Nabi berkurban dengan dua domba jantan yang berwarna putih campur hitam dan bertanduk. beliau menyembelihnya dengan tangannya, dengan mengucap basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan satu kaki beliau di sisi-sisi kedua domba tersebut"
(HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

6. "Makanlah kalian, simpanlah dan bersedekahlah"
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud). Maksudnya daging qurban itu diperuntukkan untuk makan, disimpan, dan disedekahkan.

7. Ali radhiyallahu ia berkata,(yang artinya) : “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk mengurus kurban-kurbannya, dan agar aku bersedekah dengan dagingnya, kulit dan apa yang dikenakannyaa* dan aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan kurban itu. Beliau bersabda : Kami akan memberikannya dari sisi kami"
(HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad. Bukhari meriwayatkannya (1716) tanpa lafaz : "Kami akan memberinya dari sisi kami".)
*Dalam Al-Qamus yang dimaksud adalah apa yang dikenakan hewan tunggangan untuk berlindung dengannya.

Seputar Permasalahan Yang Sering Terjadi Dalam Hidup

KENAPA AKU DIUJI?

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta"[Al-Ankabut: 2-3]

KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?

”... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" [Al-Baqarah: 216]

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“ [Al-Baqarah: 286]

RASA FRUSTASI?

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [Ali Imran: 139]

BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. “ [Al-Imran: 200]

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” [Al-Baqarah: 45]

APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah: 111]

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

"…Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung." [At-Taubah: 129]

AKU SUDAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!

"… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." [Yusuf: 87]

WASPADA TERHADAP "VIRUS MERAH JAMBU = VIRUS CINTA"

Waspada terhadap munculnya Virus Baru.. Virus Merah Jambu..sering diidentikkan dengan rasa "aneh" yang hinggapi hati-hati yang lalai, lalai dari mengingat Allah, lalai beribadah, lalai pada keinginan, hasrat tuk raih Syahid.. dan lalai terhadap tujuan akhir yang akan ditempuh.. dan tanpa disadari, bisa menggeroti file-file rasa ikhlas dalam dada, merusakkan imun amal, membuat pipi bersemu merah, angan pun melayang tak tentu arah, lalu mengacaukan sistem pertahanan hard disk Iman ..

Hati-hati !! karena virus hati tak dapat diawasi keberadaannya..tak dapat dikenali wujudnya.. It’s very danger untuk lebih kita cermati, untuk lebih kita hayati keberadaannya.. hingga kita pun harus tahu tanda munculnya Virus Merah Jambu.. harus bisa meraba apa yang seharusnya kita rasa..rasa yang tak terkendali, asa yang terus menari, angan yang terus melayang, harap yang masih bertahan..ada ingin yang terus gayuti kalbu. Ahh..Virus Merah Jambu.. begitu indah untuk di rasa, begitu resah yang membara.. saat mengingat dia.. saat bersamanya, saat temui sosoknya - dia dan hanya dia.. seseorang yang spesial untuk kita, yang berarti untuk kita..seseorang yang merajai tiap langkah kita, seseorang yang.. Ehm.. begitu mempesona..

Virus Merah Jambu..bagaikan darah yang mengalir saat melewati tiap aliran nadi kita, merusakkan kabel - kabel darah yang ujungnya selalu di gayuti oleh setan yang selalu tertawa lebar melihat kegagalan kita meraih RidhoNya.. Dan Virus Merah Jambu pun menembus ke ulu hati.. meluluhlantakkan pusat sistem otak syaraf dan akal kita.. Let’s talk about it..

Yup.. Virus Merah Jambu.. ๏ฟฝVIRUS CINTA๏ฟฝ.. yang paling melenakan kita, paling berbahaya dari virus komputer akal yang pernah ada.. Virus Merah Jambu bisa timbul karena ada tangan dan pihak ketiga yang menelusup ke tiap sanubari kita, yang munculkan was-was pada diri kita..ketika kita tak bersamanya..saat tak bertemu dengannya.. ketika dan ketika.. segala waktu kita persembahkan untuknya.. Yang ada hanya resah terasa, dan rasa cinta yang kobarannya kalahkan api membara, yang penanya setajam pisau rajam, yang mulutnya, matanya, bibirnya, hidungnya, tangannya, sekujur tubuhnya.. selalu bertasbih namanya..selalu menyebut namanya.. Dan.. aacchh.. CINTA.. nama yang begitu indah dan bermakna..

Tak heran rasanya kalau mendengar / baca kisah si Virus Merah Jambu alias ’cinta’..bagaimana tajamnya pisau cinta yang ’singgah’ ke hati majnun dan laila.. Karena pada tiap manusia menginginkan cinta, membutuhkan cinta, karena ’cinta’ menimbulkan keasyikan, kesetiaan, kemesraan dan rasa kasih sayang, lalu mempertahankan cinta dengan taruhan nyawa, harta atau bahkan tahta sekalipun jadi tidak mengapa..

Akan tetapi bila rasa mulai pudar, bila rasa mulai sirna..suasana hati jadi berubah..rasa setia jadi ingkar-curiga..asyik dan mesra jadi bosan-memuakkan, kasih sayang menghilang, rasa ingin bersama jadi pengen berpisah, berjauhan, tidak tegur sapa..endingnya broken heart..putus cinta..N’ sekali lagi.."Cinta"..trus menyerang, memadamkan api yang mulai berkobar..

Perhatikan apa yang difirmankan Allah dalam Surat Al Jaatsiyah (45) : 23.."Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat sesuai dengan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menjadikan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah lagi yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat) Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?".

Amati sekali lagi Surat Al Baqarah (2) : 65.. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cintanya kepada Allah..". Astaghfirullah..

Seorang hamba yang dilanda cinta, selalu ingat akan cintanya, selalu ingat akan kekasihnya. Setiap kesempatan akan digunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi hasrat cintanya. Begitu juga halnya dengan seorang hamba yang tulus cintanya pada Khaliqnya, ia senantiasa akan selalu ingat kepadaNya. Semua daya upaya dipersembahkan untuknya, meski untuk mempertahankan kebahagiaan hidupnya ia harus mempertaruhkan hartanya, kedudukan, kekuasaan, perniagaan, anak, istri, dan keluarganya, serta tak lupa jiwa raganya pula.

Dalam Firman Allah SWT, Qs At Taubah (9):24.." Katakanlah:"Jika bapa-bapamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik".

Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak mau memberi kecuali karena Allah, maka dia sudah menyempurnakan imannya". (HR. Abu Daud) ; "Tidaklah seorang hamba mendapatkan manisnya Iman kecuali harus terdapat di dalam hatinya 3 aspek berikut : Hendaklah Allah dan RasulNya paling ia cintai dibanding yang lainnya, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan hendaklah ia benci untuk kembali pada kekufuran setelah Allah selamatkan ia sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka" (HR. Bukhari Muslim).

So.. Virus Merah Jambu.. yang menguasai hati.. jika kita tegas menyikapinya, jika kita bisa rusak jaringannya (atau mampu jadi ’hacker’ nya hati), jika kita mampu mengendalikannya, jika kita tahu keberadaannya.. niscaya hati mampu mengontrol semua perilaku kita, semua cinta kita jadi terkendali karena Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah wajib, apalagi Virus Cinta..

Mencintai Allah seperti kekasih.. Allahu Akbar !! (Ya Allah..jadi rindu dech sama Allah !!), tiap disebut namaNya.. bergetarlah hati kita (Surat Al Anfaaal (8) : 2.."Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal".. Subhanallah), ada pesona alam yang kita kagumi, dari ciptaannya sekecil atom sampai yang membentang di jagad raya, tak ada yang dapat menandinginya.. Lalu bagaimana khabarnya..Hai Virus Merah Jambu ?? Apakah sudah tahu keberadaanNya ?? Apakah sudah terkendali ?? Atau sudah musnah ?? Kuraba lagi sendi-sendi hati.. Alhamdulillah..sudah terkendali, Alhamdulillah..sudah tiada.. Kini yang ada hanya cinta untukNya.. Yup, Cinta untuk Allah yang tak dapat ditandingi hasratnya, yang tak dapat dicerna maknanya..Subhanallah..

"Katakanlah : jika kalian memang cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, pastilah Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Qs. Ali’Imran (3) : 31).

Pisau tak selamanya dapat membunuh seseorang... penapun terkadang lebih tajam dari sebilah pisau. Maka amati ’hati’ dengan cara yang ma’ruf..luruskan niat dan bertawwakallah pada ALLAH SWT.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kamu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu, serta amal yang menyampaikan kami kepada cintaMu.. (Dari berbagai sumber "Cinta" yang tersedia !!).

------------------
Dedicated for: " . " yang pernah menghuni ’hati’..Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya .. Lalu, kucoba kembali atur gelombang asa.. Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu..

FAQ (Frequently Asked โ€œQuestionโ€)

” Kenapa berbuat kebaikan saja kok begitu susah ya … “
” Kenapa berbuat kebajikan saja kok banyak penghalangnya ya … “
Padahal kan (ku niatkan) bukan untukku (?) …

Ya Alloh … adakah gerangan dari niatku yang salah?
Ya Robbi … adakah gerangan dari hatiku yang masih ragu?
Ya Rahman … adakah gerangan dari caraku yang keliru?
Ya Rahiim … adakah gerangan dari pikiranku yang rancu?
Ya Salaam … adakah gerangan dari semangatku yang mulai luntur?

Tunjukkan kepadaku jalan yang Engkau ridloi dan jadikan hatiku ridlo menerimanya.
Tiada daya dan kekuatan, melainkan karena-Mu …

cinta hakiki

Komitmen kita dalam berdakwah merupakan gambaran komitmen kita dalam beribadah. Ketika kita lemah, malas, atau bahkan meninggalkan dakwah ini, maka seperti itulah cerminan ibadah kita. Periksa kembali ibadah kita. Mungkin ada yang salah didalamnya. Ada yang harus diperbaiki. Selam kembali dasar lautan hati kita sampai kita menemukan Mutiara keteguhan, keikhlasan, dan kesabaran.
Biarkanlah mereka mengatakan jalan dakwah yang kupilih ini adalah jalan yang berat. Namun bagiku, inilah jalan terbaik untuk menuju Kabahagiaan yang hakiki. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini adalah jalan yang penuh duri. Tapi bagiku, tusukan-tusukannya sudah menjadi kenikmatan yang tidak akan pernah mereka rasakan. Biarkan mereka mengatakan bahwa jalan yang kupilih ini adalah api yang akan membakar hangus seluruh tubuhku. Tapi bagiku, Ia sudah menjadi sesuatu yang memberi kesejukan dalam hidupku. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini melelahkan. Tapi bagiku jalan ini adalah seperti oase di padang gersang ketika orang yang melintasinya merasa kehausan. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini akan membuatku miskin. Tapi bagiku, jalan ini menjadikanku merasa orang terkaya di dunia. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini adalah jalan yang membikin linglung. Tapi bagiku, jalan ini telah menjadikanku tegar setegar Bongkahan batu karang yang diterjang Ombak membadai.
Di jalan ini aku telah menemukan Cinta. Cinta suci dan hakiki. Ia telah mengajariku tentang Indahnya berjuang. Ia telah mengajariku tentang kenikmatan berkorban. Ia telah mengajariku tentang kebahagiaan bersabar. Ia telah mengajariku tentang kemanisan lautan ikhlas.
Adakah yang lebih baik di dalam hidup ini selain bekerja sama dengan Allah ? Adakah pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain menjadi Pelayan Allah sang Khalik ? Kalau memang tidak ada, lalu apa yang membuatmu wahai diri untuk tidak melaksanakannya.

Mungkinkah disebabkan karena jaminan laba yang kita dapatkan dalam bentuk harta tidak menjanjikan ? Atau mungkin karena ia tidak akan menjadikan kita manusia terpandang di mata manusia ? atau mungkin juga karena tidak adanya pasilitas kemewahan duniawi yang akan kita peroleh ?
Bukankah Allah telah membeli harta dan Jiwa kita dengan syurganya yang menawan ? Sungguh Maha pemurah Allah Azza Wajalla. Ia memberikan kita modal yang sangat banyak. Modal yang seharusnya kita gunakan untuk “berbinis” di jalanNya. Tapi kemudian Allah membelinya dengan kenikmatan Jannahnya. Padahal seandainya Allah mau, Dia bisa saja mengambil semuanya dari kita tanpa meminta persetujuan kita.
Sungguh beruntung orang-orang yang telah memanfaatkan modalnya dengan baik. Sungguh beruntung orang-orang yang telah berinvestasi di jalan kemuliaan. Karena disana mereka akan terus menemukan keuntungan-keuntungan yang tidak akan mungkin akan tertandingi oleh apapun. Bahkan seluruh langit dan bumi beserta seisinya sekalipun. Butuh kesabaran dan keikhlasan memang untuk memperolehnya.
Sabar dalam beramal, itulah karakter para pejuang. Ikhlas dalam beramal, itulah prinsip para pejuang. Karena sesungguhnya, Sakit didunia akan menjadi kuat ketika kita mengingat keuntungan yang akan kita peroleh di Akhirat nanti. Sedih di dunia akan menjadi kebahagiaan ketika mengingat Syurganya. Penderitaan di dunia menjadi nikmat ketika hanya KeridhaanNya yang kita tuju
Sabarlah dalam berjuang dan berkorban Saudaraku. Ikhlaskan apa yang kita miliki untuk menuju pertemuan denganNya. Pertemuan dengan para Nabi dan Rasul. Pertemuan dengan orang-orang beriman. Pertemuan dengan para pejuang Badar. Pertemuan dengan para Syuhada. Dan Pertemuan dengan Allah yang maha Gagah, Maha Indah dan Maha Sempurna.

[Kisah Hikmah] Pelajaran Untuk Menahan Amarah, Atau Kamu Akan Menyesal

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampakjelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembanturumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merahpadam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ’ Saya tidak tahu..tuan."
"Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "
DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ... kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apamenagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan.

Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa...

Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu..

Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belahangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya.
"Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.

Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
"Dita demam, Bu"...jawab pembantunyaringkas.
"Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.
"Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut...
"Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.

Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

"Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajahpembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?.... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi..., Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Hikmahnya:

Pertama, KEMARAHAN adalah karena NAFSU dan ajakan SYAITHAN,PENYESALAN yang akan didapat kalau kita menurutinya. Maka janganlah sekali-kali mengambil keputusan dalam keadaan MARAH .Dan biasakan kita untuk MEMAAFKAN orang lain...Hal ini dalam apapun, termasuk dalam hubungan suami istri, pemerintahan, poliktik dan sebagainya.

Firman Allah..Surat Ali Imran:134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang MENAHAN AMARAHNYA dan MEMAAFKAN (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Yang kedua, janganlah terlalu MENCINTAI HARTA secara berlebihan, hal ini akan MEMBUTAKAN HATI...
"JADIKANLAH HARTA ITU DI DALAM GENGGAMAN TANGANMU, BUKAN DI DALAM HATIMU!"

Dunia Fana’ Yang Menyesatkan [RENUNGAN]

Perhatikan Sabda Nabi ini,
“Sesungguhnya aku mampu melihat apa yang tak sanggup kalian lihat. Kudengar suara gesekan dilangit (berkriut-kriut), langit sedemikian padatnya, tak ada tempat kosong bahkan seluas empat jari sekalipun karena langit dipenuhi para malaikat yang sedang bersujud kepada Allah SWT. Demi Allah!!! Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang akhirat), niscaya kalian tidak akan pernah tertawa sedikitpun, bahkan kalian pasti akan banyak menangis (karena takut). Dan niscaya kalian tidak akan pernah bisa bersenang-senang dengan istri-istri kalian, dan niscaya kalian akan keluar berhamburan ke jalan-jalan (berteriak) untuk memohon (ampun) dan memanjatkan doa kepada Allah (meminta perlindungan dari bencana akhirat) yang akan Dia timpakan” ( HR Tirmidzi & Al-Bukhari)


Duhai teman..!!
Hindari dirimu dari permainan dan kesia-siaan
Jaga kesucian dalam cinta dan kasih sayang
Keni’matan sesaat jangan kau jadikan tujuan
Keindahan semu jangan kau damba-dambakan

Saatnya kini, kita bangkit dan sadar diri
Bersihkan segala penyakit dan karat dari hati
Segala cacat dan maksiat yang membuat lalai
Takutlah di hari,
Di mana tak ada yang luput dari Illahi

Duhai jiwa...!!
Bangkit dan siapkan dirimu tuk hari depan
Hindari nafsu yang membuatmu lupa daratan
Ayo bergegas menuju keselamatan
Ayo berjuang, berjuang, dan berjuang
Agar kau selamat dari adzab yang membinasakan
Selamatkan dirimu dari api yang menyengsarakan

Duhai kau...!!
Yang suka bermain-main di dunia ini
Ingat,,! Kehidupan dunia tak akan abadi
Tak cukupkah bagimu segala keni’matan
Hingga kau habiskan waktumu dalam permainan
Negeri yang fana ini segeralah kau tinggalkan
Karena tak ada yang abadi dalam keni’matan dunia
Semua kan sirna bila waktunya tiba

Dakwah 4 Miliar !

Menilik judul artikel ini bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Dari jaman nabi hingga sekarang memang tidak terelakkan sebuah kenyataan bahwa dakwah memerlukan biaya. Dakwah merupakan aktivitas yang dilakukan secara terencana, bertahap dan berkesinambungan. Kegiatan-kegiatannya yang merupakan perwujudan dari konsep dakwah itu sendiri haruslah bermutu dan tepat sasaran.

Dalam rangka merealisasikan konsep dakwah yang merupakan ruh dari berbagai harokah islamiah, tentunya dibutuhkan sarana (dana) untuk mewujudkan konsep-konsep dakwah dan rencana-rencana kegiatan tersebut menjadi sesuatu yang nyata yang bisa dilihat dan dirasakan oleh sasaran dakwahnya;

Andaikan dana bisa didapat dan diperoleh dengan halal sebesar 4 milliar, hmmm kira-kira mau diapain ya dana itu? mungkin untuk bikin suatu acara dakwah yang megah dan wah, atau mungkin untuk mendirikan pondok pesantren (eh kira-kira cukup engga ya?) atau,…


atau mungkin anda bisa membantu saya untuk memberikan ide, betul ekspresikan ide-ide dakwah anda dibawah artikel ini, anggap saja anda dapet dana dakwah sebesar 4 milliar, kira-kira mau diapain ya?

Moga-moga dengan membaca artikel ini, akan banyak bermunculan ide-ide dakwah yang bisa berguna bagi siapa saja yang memerlukannya. [Abu Fikri]
 

Puasa Yuk !

Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?

“SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat ngejalanin, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,” begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar menjalankan ibadah shaum. Ada banyak kegiatan yang Wati suka lakukan. “Yang paling terkesan kalo ada acara Pondok Ramadhan di sekolah. Wah, heboh habis! Jarang-jarang kan kita bisa makan rame-rame bareng guru dan temen-temen,” ceritanya gembira.

Lia juga sama, gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Cewek yang kuliah di salah satu STIE di Bogor ini mengaku banyak mengikuti kegiatan positif saat puasa di lingkungan tempat tinggalnya. “Kebetulan aktif di DKM Masjid dekat rumah. Masjid jadi rame kalo bulan Ramadhan gini. Tiap hari bisa buka shaum gratis, he..he..he…,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Selain itu, di kampusnya dia juga lumayan aktif di rohis. Biasanya, dia dan teman-teman segeng rohisnya juga ngadain buka puasa? bersama meski nggak tiap hari, sanlat Ramadhan, dll. “Kalau itu sih, udah tradisi,” katanya seperti model iklan Biskuit Roma di teve itu. Pernah nggak seh malas? ”Yah, namanya orang puasa. Aku juga suka lemes, malas dan kadang mudah emosi. Tapi, kita kan musti bisa menahan diri, kalo nggak puasanya sia-sia dong!” katanya rada-rada ngeles. Padahal, emang ada benernya sih.

Puasa vs Wanita

Kewajiban berpuasa, diperintahkan Allah SWT bagi laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183 (kamu pasti hafal kan!) yang artinya ‘Hari orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kami, agar kamu bertaqwa.’ Begitu pula Sabda Rasulullah: ‘Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu’ (HR Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).

Seruan itu bersifat aam atawa umum baik bagi cowok maupun cewek. Artinya, nggak ada alasan buat ninggalin kewajiban itu. Kendati kamu cewek, kamu pasti kuat menjalankan puasa, sama dengan kaum Adam. Karena, Allah SWT Zat Yang Maha Mampu mengukur kemampuan kamu.

Memang, ada saatnya di mana kamu haram meneruskan puasa, yakni jika mendapatkan haid dan nifas (keluar darah sehabis melahirkan). Hanya saja, meski kamu bebas tugas puasa pada saat itu, kamu musti menggantinya (mengqadha’) di hari lain. Ceritanya, kamu tuh ngutang puasa sama Allah SWT yang musti kamu bayar segera di luar Bulan Ramadhan.

Selain itu, kalo kamu tiba-tiba jatuh sakit yang mengganggu fisik atau mental kamu, maka boleh membatalkan puasa. Syaratnya tetap, wajib mengganti di hari lain. Bagaimana dengan wanita yang hamil dan menyusui? Bila wanita hamil itu ada perasaan takut dengan berpuasa bisa membawa mudharat diri dan janin dalam kandungannya, maka dia boleh tidak puasa. Sebagai gantinya, wajib meng-qadha di hari lain. Sementara jika pertimbangannya karena khawatir akan keselamatan janinnya semata, maka harus meng-qadha di lain hari sekaligus membayar fidyah.


Puasa dan Kesehatan

Selain hukumnya memang wajib, sebetulnya apa sih manfaat puasa? Mungkin ada sudut hatimu yang usil bertanya begitu. Meskpun memang, harusnya nggak perlu kamu tanyakan kenapa musti puasa. Sebab itu kewajiban dari Allah SWT yang nggak perlu dipertanyakan latar belakangnya, tujuan, misi, visi dan manfaat kegiatan itu. (kayak proposal seminar aja). Tapi, wajar kalo kamu penasaran. Orang lapar kok dilarang makan, haus dilarang minum. Aneh, kan! Namun dari sisi medis, bisa dijelasin kok kira-kira manfaat puasa itu apa. Rasulullah sendiri bersabda: Shuumuu nashimuu yang artinya berpuasalah supaya kamu sehat.

Pada waktu melakukan puasa, terjadi perubahan metabolisme tubuh kita akibat penghentian total asupan energi, bahan pembangun serta air selama periode aktif di siang hari. Karena tidak ada asupan energi, tubuh menggunakan cadangan energi yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, sisa-sisa bahan makanan yang tidak diperlukan tubuh tidak menumpuk, melainkan langsung dibuang sehingga tubuh lebih sehat. Pada keadaan puasa ini, kerja lambung dan perangkat pencernaan lain juga berubah. Tentu saja kerjanya jadi lebih enteng, sehingga organ-organ pencernaan bisa sedikit santai dan fungsinya bisa berjalan dengan lebih baik.

Secara keseluruhan, perubahan metabolisme pada seseorang akan tampak secara objektif dan dirasakan dalam bentuk penurunan berat badan. Wajar jika ada yang menjalankan puasa bila ingin melakukan diet penurunan berat badan. Karena memang terbukti, puasa adalah cara yang aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.

Nah, selama puasa banyak perubahan yang terjadi. Pertama, perubahan kebiasaan waktu makan dan minum.
Lebih kurang 14 jam mulai terbit fajar sampai terbenam matahari kita tidak makan dan minum. Makan dan minum hanya dilakukan malam dan menjelang pagi. Hal tersebut akan menimbulkan rasa lapar dan haus. Karena perubahan pola makan ini, akan terjadi pula perubahan pada pengosongan lambung. Lamanya pengosongan lambung tergantung isi lambung. Isi lambung yang cair lebih cepat kosong daripada yang padat. Makanan padat banyak yang mengandung karbohidrat akan meninggalkan lambung dalam 2-3 jam. Sedangkan bila banyak mengandung lemak akan lebih lama berada di dalam lambung. Bila kita berbuka atau sahur, kandungan makanan yang kita makan akan mempengaruhi waktu timbulnya rasa lapar.

Saat puasa juga terjadi perubahan pola tidur. Kita harus bangun dini hari untuk makan sahur. Bagi yang tidak biasa bangun shalat malam atau subuh di awal waktu, ini sangat berat. Namun akan segera diterima dan tubuh akan menyesuaikan diri.

Selain itu, juga terjadi perubahan emosi. Ingat, orang lapar biasanya gampang marah. Nah, disinilah diuji untuk mengendalikan amarah, takut, benci, sedih, dll. Pokoknya, semua yang termasuk keluarga stres musti dihindari agar puasanya sukses. Manifestasi fisik dari emosi disalurkan melalui sistem saraf somatik dan otonom. Orang yang marah misalkan, akan terlihat tegang, jantung berdebar keras, dan tekanan darah tinggi. Hal itu tergolong gangguan psikosomatik. Nah, dengan berlatih mengendalikan emosi dan bebas dari rasa berdosa, dapat membebaskan orang dari gangguan psikosomatis itu. So, kejiwaan kamu lebih sehat!

Boks

Tausiyah : Obat hati yang keras

Jam 10.05 WITA, aku berangkat ke liqo’ di rumah mbak Yogi.
Ternyata belum ada satupun teman2 di sana dan aku selalu menjadi yang pertama hadir (terlanjur nggak suka “ngaret” sih). Hari hujan, jadi kali temen2 pada terlambat. Akhirnya acara di mulai pukul 11.00 tanpa murobbi (blio sms ke aku, katanya sakit campak nggak bisa hadir). Ini tausiyah yang dibawakan oleh mbak Yati, moga bermanfaat :
Obat hati yang keras
Faktor utama mengerasnya hati adalah karena jauhnya kita dari Allah, karena itu kita harus segera mencuci hati kita dengan cara bertaubat kepada Allah, yaitu dengan cara menghiba.

Allah memuji kholilullah Ibrahim A.S yang senantiasa menghiba kepadaNya. “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang penyantun, penghiba dan suka kembali (bertaubat) kepadaNya.” (Q.S Hud :75).

Tanda-tanda kerasnya hati :

1. Tidak mau menerima nasehat/kebenaran.
Walaupun sudah ditunjukkan dalili2nya dari Al-Qur’an dan Al-Hadist serta penjelasan dari para ulama, ia tetap bersikukuh dengan pendapat madzabnya, gurunya ataupun tradisi masyarakatnya.
2. Tidak bisa menangis atau takut ketika dibacakan ayat2 ancaman, siksa neraka dsb.
3. Takabur, pongah & sombong terhadap kebenaran dan manusia.
4. Lebih senang mengikuti hawa nafsu daripada kebenaran.

Obat keras hati :
1. Memperbanyak dzikrullah
Dzikir akan melembutkan hati yang kasar, menentramkan hati & memancarkan kewibawaan. Q.S Ar-Ra’du 28 : Ingatlah, hanya dengan dzikrullah hati menjadi tentram.
Rasulullah saw bersabda : Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan yang tidak mengingatNya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati (HR. Bukhari).

2. Menjauhi maksiat
Abdullah bin Mubarok berkata : Aku melihat dosa2 itu mematikan hati, memperturutkannya merupakan kehinaan, menjauhinya merupakan kehidupan hati.

3. Membaca Al-Qur’an dengan menghayati maknanya (tadabbur).

4.Menghadiri majelis ilmu
Salah seorang ulama salaf berkata : “Hendaklah kalian senantiasa duduk di majelis
para ulama”.
Allah akan menghidupkan hati yang mati (keras) dengan cahaya ilmu sebagaimana
Allah menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan.

5. Membaca kisah-kisah orang sholeh, karena kisah2 mereka bisa dijadikan tauladan.

6. Ziarah kubur
Sabda Rosulullah : Ziarahlah ke kubur, karena ia akan mengingatkanmu pada negeri
akhirat.
(H.R Ahmad, Ibnu Majah).

 

 

Izinkan Aku cuti dari Dakwah

Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan. Dan juga masa depan serta kesibukannku sebagai seorang mahasiswi pasca sarjana dan seorang istri. Benar-benar merasa sepertinya tidak punya waktu lagi untuk berdakwah.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang ku cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep muntiz yang sering diceritakan sebagai sesuatu yang hebat? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Dimanakah konsep yang disebut ukhuwah? Kalau dulu, sebelum bekerja jika ada seorang ikhwah melontarkannya kata-kata “afwan ukh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan ukh, ana
gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan ukh…” lainnya dengan seribu satu alasan tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya, dan hal ini.yang membuatku merasa agak jengkel, dan pada akhirnya berbuntut pemakluman. Itulah diriku yang duluw, tapi sekarang, merasa diri malah yang melakukan itu. Sering banget meninggalkan agenda-agenda dakwah. Hanya alasan kesibukan, dan adaptasi diri sebagai seorang Mahasiswa en pkerja profesional dengan bejibun aktivitas yang ”itu-itu saja” namun terasa banyak menyita waktu serta kesibukan mahasiswi pasca yang masya Allah diluar prediksi saya sibuknya. Serasa pengen bilang“Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan   ibuku yang sudah semakin ingin ku berada di rumah, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

Mencoba menasehati diri sendiri dengan kondisi dan keadaan diri yang tidak menentu, serta fikiran yang sudah muali banyak memikirkan banyak hal. Let’s to brainstrom ur mind mel..

Dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau
permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumu
lasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

Semester satu kemaren nilai saya mungkin tidak sejajar dengan teman-teman S2 dari UGM, sebenarnya alasannya karena menyiapkan acara pernikahan teman yang tergolong mepet waktu perencanaanya, apalagi penetapan tanggal nya dan semua prosesi dadakannya itu berlangsung pas sibuknya pekerjaan. Tetapi dikalangan teman-teman S2 va berkembang rumor, klo aktivis tuh ga terlalu bagus akademiknya, tahu sendiri lah ya anak-anak S2 tentu semuanya jago dan merupakan putra terbaik pilihan universitas asal, maupun dosen terbaik dari asal institusinya, bayangkan saja saya bersejejar dengan mereka. Dan ternyata dari universitas ataupun institusi asal, anak-anak ROHIS ataupun aktivis dakwah semuanya ya gitu ga ada yang menonjol secara akademik. Waktu tahu rumor itu saya agak kaget, saya sadar saya baru saja menambah catatan baru pandangan bagi mereka, aktvis kalah akademik. Whuah… hal ini tidak bis
a dibiarkan donk..

Semoga kisah dan cerita saya  tersebut tidak terulang kembali di masa mendatang dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang
memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.

Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “ Antum telah berguguran di jalan dakwah, atau kata-kata pahit lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat
mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri.

Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita. Mulai sekarang tata diri pribadi, menyikapi segala sesuatunya dengan bijaksana dan dewasa, karena hidup cumalah sebentar manfaatkan waktu sebaik mungkin, perbaiki persepsi manusia tentang sisi minus aktifis dakwah, jadikan sebagai motivasi, terus berkarya untuk ummat ini, karena tantangan dakwah di luar sana semakin liar… Sehingga permasalahan internal tidak menjadikan seorang kader bilang “aku ingin cuti dari dakwah”.

For My DSP : Terimakasih cinta,.. telah membelikan adek BBB (Beat Black Baru), semoga si BBB memudahkan adek beraktivitas dakwah, Kuharap engkau selalu mendukung n menyemangati adek di kala adek lemah..

baca juga http://www.scribd.com/doc/14259630/Jalan-Dakwah-AlUstaz-Mustafa-Masyhur
 

Rumah Tangga Islami

Setiap keluarga muslim tentunya menginginkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sebab dari keluarga yang sakinah, maka akan lahir anak-anak yang berjiwa islami. Pendidikan pun dapat dengan mudah diterapkan pada sebuah keluarga yang islami.

Keluarga yang sakinah akan dapat terwujud dari sebuah rumah tangga yang islami. Dari sebuah rumah tangga yang islami, kualitas anggota keluarga di dalamnya dapat terjaga, sehingga rumah tangga tersebut akan jauh dari hal-hal yang dimurkai Allah SWT. Namun seperti apa sih rumah tangga yan islami itu? Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan sebuah rumah tangga yang islami?

Pada dasarnya, rumah tangga yang islami adalah rumah tangga yang di dalamnya terdapat nilai-nilai syariat islam, yang dijalankan oleh anggota keluarga tersebut. Untuk mewujudkan sebuah rumah tangga islami, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Hal-hal yang harus kita perhatikan dalam sebuah rumah tangga islami adalah:

1. Rumah islami adalah rumah orang-orang yang selalu menyucikan diri dan senantiasa mengingat Allah. Rumah yang di dalamnya ditegakkan penghambaan kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Setiap penghuni rumah mengutamakan amal sholeh dan selalu mengingat Allah kapan dan dimana saja ia berada.

2. Rumah yang didirikan untuk menegakkan kedaulatan Allah di muka bumi serta menjadi tempat untuk mewujudkan syariat islam dalam setiap aspek kehidupan para penghuninya.

3. Penghuni rumah menyadari bahwa rumah tersebut hanyalah tempat sementara, selama ia menabung amal sholeh sebagai bekal untuk di akhirat kelak. Para penghuni rumah tersebut lebih menginginkan dan selalu merindukan rumah yang kekal (surga) di sisi Allah.


4. Rumah yang selalu bersih dari najis dan hadast, baik besar maupun kecil. Hal ini karena penghuni rumah tersebut benar-benar menyadari bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, dan kebersihan merupakan salah satu syarat sah ibadah kepada Allah SWT.

5. Rumah yang dipenuhi dengan kalam Allah, karena para penghuninya rajin untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat suci Al Qur’an.

6. Rumah yang di dalamnya penuh dengan akhlak islami, yang diperlihatkan oleh semua anggota keluarga. Anak-anak berbakti pada orang tua, orang tua mendidik anak-anaknya dengan penuh nuansa islami, sesame saudara saling menghormati, serta memuliakan para tamu yang datang untuk bersilaturahmi.


7. Rumah yang jauh dari hal-hal yang mampu membuat penghuninya “kembali” ke masa jahiliyah, yang melalikan penghuninya untuk beribadah kepada Allah SWT.

8. Rumah yang menjadi madrasah atau tempat pendidikan bagi seluruh penghuninya, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Di dalamnya terdapat berbagai prasarana untuk melakukan pembelajaran secara islami, baik itu berupa buku, majalah, maupun hal-hal lainnya.

9. Rumah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya anak-anak yang sehat, baik jasmani maupun rohaninya.

10. Rumah yang dihuni oleh keluarga yang sholeh, selalu memakmurkan masjid dan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di tengah masyarakatnya.

11. Rumah yang dihuni oleh istri dan ibu yang sholehah, yang menjadi tumpuan dan sumber kasih saying keluarga.

12. Rumah yang menjadikan tetangganya aman dan senang bersilaturahmi dengan para penghuni rumah tersebut.

13. Rumah yang selalu memuliakan tamu yang datang, baik itu tetagga dekat maupun jauh, sehingga terjalin tali silaturahmi yang cukup kuat antara penghuni rumah dengan orang lain.


14. Rumah yang penghuninya mampu menjadi teladan bagi masyarakat sekitar dalam menegakkan syariat islam dan hal-hal positif lainnya.

15. Rumah yang penuh berkah, yang tidak melalikan penghuninya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jika kita lihat, alangkah sederhananya sebuah rumah tangga yang islami. Namun, mewujudkannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Setiap anggota keluarga harus terlibat aktif dalam usaha untuk mewujudkan sebuah rumah tangga yang islami. Dari rumah tangga islami seperti inilah, maka keluarga sakinah akan dapat terwujud dengan sendirinya.


Sekarang saatnya kita mulai menerapkan hal-hal tersebut dalam rumah tangga kita. Semoga rumah tangga kita menjadi sebuah rumah tangga yang islami, yang diberkahi dan dirahmati oleh Allah SWT. Amin……….


(dikutip dari majalah Hidayah)
 

Untukmu Kader Dakwah

       

“Wahai Ikhwah, Tetaplah Waspada!!”

Selalu, dalam sebuah peristiwa besar hanya sedikit orang yang menggerakkannya. Merekalah pelaku sejarah. Merekalah yang sadar akan skenario cerita. Merekalah yang mampu melihat akhir sebuah proses. Maka merekalah yang memutar biduk kehidupan. Dan KITA adalah MEREKA! Kita berbeda bukan karena kita lebih mulia. Kita berbeda bukan karena kita lebih utama. Kita berbeda karena perbedaan tersebut adalah pilihan, dan kita telah memilih! Apa yang kita pilih?? Kita memilih untuk bersama keimanan. Kita memilih untuk berhimpun dalam ketaatan. Kita memilih untuk bergerak dalam satu aturan. Kita memilih Islam untuk kehidupan. Kita memilih: Allah Ghoyatuna, Muham
mad Qudwatuna, Alquran Dusturuna, Al Jihaad Sabiiluna, Al Mautu Fii Sabiilillah Asma Amaaniina.

Tingginya antusiasme masyarakat dari sekadar simpati, sampai menyatakan dukungannya terhadap partai dakwah, menandakan partai dakwah saat ini adalah sebuah kekuatan baru. Bukan (sekadar) kekuatan alternatif. Jika para pemegang kekuasaan itu tidak kuat-kuat memegang amanah karena orientasi/niat yang telah berubah, maka mulai saat itu fitnah telah terjadi pada kekuasaan. Kemenangan maupun kekalahan tidak identik dengan perencanaan. Terkadang kemenangan itu datangnya lebih cepat dari skenario yang kita rencanakan, begitu juga sebaliknya. Sehingga para kader dakwah jangan terlena dengan kondisi yang ada saat ini.


Waspada, dan berhati-hatilah!

Mereka yang memperturutkan hawa nafsunya telah digambarkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, “Ia tertarik kepada kehormatan dan kepemimpinan, lalu ia suka kepada perkataan yang batil dan benci kepada perkataan yang benar. Ia diperbudak oleh orang yang memujinya walaupun pujian itu batil, sedangkan ia memusuhi orang yang mencelanya walaupun celaan itu benar.

Mereka menjalankan dakwah di atas budaya sloganistik, basa-basi bahasa dan mengikuti arus belaka. Dalam waktu yang sama pasti akan terjadi perpecahan internal, persaingan antar aktivis, dan pengkhianatan. Mereka justru menunggangi ummat walau berteriak, “Semua demi Ummat!”. Na’udzubillahimindzaalik…

Bukan bendera-bendera kecil berkibar yang akan memperkenalkan manusia pada dakwah. Bukan pula slogan-slogan kosong di mimbar-mimbar. Namun, gerak langkah dan setiap desiran jiwa yang dipenuhi dzikrullah nan bercahaya. Qudwah, Uswah, yang memesonakan setiap mata dan perlahan akan menarik mereka ke dalam dakwah laksana laron mengelilingi pelita.

Waspadai virus “narsist” hizb yang menjurus pada riya’ dan sombong.

     Apakah tidak cukup Sejarah Perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita?
Disorientasi tujuankah? Sehingga ghanimah lebih menyilaukan mata?
Over PeDe kah? Dengan kekuatan dan jumlah yang lebih besar dibanding Perang Badar?
Ataukah kita adalah salah satu dari pembangkang perintah Qiyadah dan Jama’ah?Sehingga terkorbankan di medan laga. Mati sia-sia.   

Jangan sampai sejarah Perang Uhud terulang kembali.
Kita berharap, kita adalah salah satu dari mereka yang tidak terlena dengan kilauan harta, tahta, dan wanita; tetap tho’at kepada Allah dan Rasulnya; dan senantiasa memegang teguh Asholah Dakwah.

“Allah telah menetapkan, Aku dan Rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al Mujadilah: 21)

ISTIQOMAH! Ini adalah amanah Allah, amanah Ummat, dan Jama’ah. Ketika ikhwah tidak istiqomah, walaupun ruhiyahnya tetap terjaga, cepat atau lambat ia akan masuk perangkap yang menjerumuskannya ke dalam jurang kesesatan. Sebab, fitnah-fitnah kekuasaan hadir ketika kita tidak lagi konsisten dengan yang diperjuangkan.

Kembali ke pangkuan tarbiyah…

Lets back to Asholah..!!


Bersiaplah untuk MENANG, dan tetap “WASPADA”!

: Ketika ada tanya yang mengusik hati. Alhamdulillah habis dapet nutrisi dari berbagai referensi.
 

Sentuhan syetan di wajah orang yang tekun beribadah

Kuis: “Apakah di lingkungan sosial Anda, biasanya Anda merasa bahwa Anda tergolong orang yang paling saleh?” Silakan jawab di dalam hati masing-masing dengan sejujur-jujurnya. Lalu marilah kita simak sebuah kisah dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih berikut ini. (Harapanku, kita bisa menjadi lebih rendah hati dalam menekuni ibadah, terutama di bulan Ramadhan ini.)

Di hadapan Nabi dan para sahabat, Abu Bakar Shiddiq memuji-muji seseorang yang sangat bagus ibadahnya. Namun, Nabi tidak segera berkomentar. Setelah itu, orang yang dipuji-puji tersebut datang. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itulah orang yang kita bicarakan.”

Beliau bersabda, “Aku melihat sentuhan syetan di wajahnya.”

Kemudian dia duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, “Apakah kamu bila berada dalam suatu majelis, kamu merasa bahwa kamulah yang paling saleh di majelis itu?”

Orang itu menjawab, “Ya Allah, memang begitulah saya.” Setelah itu, dia pergi ke masjid.


Kemudian Nabi memberikan perintah yang sangat mengejutkan, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Abu Bakar Shiddiq berangkat. Singkat cerita, dia kembali seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidak mungkin aku membunuh dia. Dia dalam keadaan ruku’. Dan ruku’-nya itu sangat bagus.”

Nabi masih berkata, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Umar bin Khaththab berangkat. Ia pun kembali seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidak mungkin aku membunuh dia. Ia sedang meratakan dahinya dalam shalat dan bersujud dengan sangat khusyuk.”

Nabi masih berkata, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Berangkatlah Ali bin Abi Thalib. “Aku akan membunuh dia,” katanya. Tidak lama, Ali juga kembali, tetapi pedangnya pun belum bersimbah darah. Ali berkata, “Aku datang ke masjid, tetapi orang itu sudah tidak ada, wahai Rasulullah. Orang itu sudah pergi.”

Nabi kemudian bersabda, “Seandainya dia kau bunuh, umatku tidak akan pecah sesudah ini.”

10 Hari Membangun Jati Diri

Sudahkah kau bangun jati dirimu dengan kokoh?
Jika belum, bangun dalam 10 hari dan berubahlah bak kupu-kupu yang menemukan dirinya dengan sebuah perjuangan.

Hari Pertama
Keberhasilan dan Kerja keras adalah satu paket kehidupan yang tidak bisa kita beli secara terpisah. Jika ingin berhasil, kerja keras adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.
Hari kedua
Kegagalan adalah pintu keberhasilan. Maka, beruntunglah orang yang berusaha kemudian gagal hari ini karena esok kesuksesan ada di tangannya.
Hari Ketiga
Orang yang sukses adalah orang yan
g ketika gagal ia akan tetap berdiri dan mencoba lagi.
Hari Keempat
Orang akan selalu menertawakan kita ketika kita gagal dan anehnya mereka selalu siap untuk bergabung ketika kita berhasil, so jangan heran.
Hari Kelima
Mencoba berhenti berarti Anda lemah dan berhenti mencoba berarti Anda sudah kalah.
Hari Keenam
Ibarat Jalan, Perencanaan adalah jembatannya. Seberapa kokoh jembatan tergantung kemantapan rencana. Tak berbeda dengan hidup kita.

Hari Ketujuh
9 dari 10 orang sukses berasal dari kalangan yang mencoba lalu gagal. Anda ingin mencoba lalu gagal atau tidak mencoba sama sekali dan menjadi 1 dari 10 orang itu?
Hari Kedelapan
Bermimpilah! karena suatu saat nanti Anda akan berteriak dengan lantang, “Alhamdulillah Ya Allah, mimpiku telah jadi kenyataan…!!”
Hari Kesembilan
Pernahkah Anda berhay
al memiliki uang bermilyar-milyar? Jika tidak bagaimana Anda bisa mendapatkan uang sebanyak itu di alam nyata sedangkan berhayal saja tidak bisa. Padahal berhayal itu apalah susahnya.
Hari Kesepuluh
Sejatinya kegagalan itu adalah bentuk lain dari keberhasilan. Jika Anda gagal menemukan di mana rumah mantan pacar Anda, sejatinya Anda telah berhasil menemukan jalan mana yang salah dan menyesatkan sehingga kelak bisa dihindari

 

MEYAKINI ALLAH SEDANG MELIHAT KITA

Dalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu “meyakini Allah sedang melihat kita” karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai. Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat) dan Al-Syahid (Maha menyaksikan).

Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah : menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.

Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, a
kan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Mereka yang berbohong/berdusta/mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu lebih menjurus kepada
sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.

Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)


Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada. Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).

Mengutip buku Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid : Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ? Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).

Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ? Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi. Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi. Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut. “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut. Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.

Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku).


Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hadid 4)

 

Andai Amanah Sepotong Coklat

    Amanah sebuah kata yang teramat berat untuk ditulis, mungkin lagi berharu-biru perasaan dalam diri. Amanah, sebuah kata yang dengannya kita bisa menjadi hina dan dengannya juga kita bisa menjadi mulia. Sebuah petualangan yang membawa dan menunjukkan siapa sebenarnya diri kita, karena siapapun dirimu itulah identitasmu. Dalam blognya zam admin SIC yang ia katakan benar, seorang yang berkecimpung di dunia relawan gempa siapa yang ikhlas, siapa, yang pengen benar-benar mewujudkan idealisme sosialnya, siapa yang pengen cari jodoh, semua akan terlihat dari akhir perjuangan, dan bhryoritme gerak yang ia jalani. Saya menganalogikan relawan gempa ini juga sebuah amanah.

Amanah, sekali lagi saudara-saudara ini tentang sebuah amanah. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun. Setiap detik dalam diri adalah amanah. Masih ingat dalam surat At –Tahrim : 6 ” Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.. ” . Dan paling urgen dalam hidup ini adalah surat Adz-dzariyat :56 . ” Dan kami tidak menciptakan manusia selain untuk beribadah”.

Yuppi, itu adalah sebuah amanah hidup. Amanah hidup yang mungkin dilupakan oleh semua orang. Terkadang, esensi hidup adalah beribadah sering terkikis aroma sejuk pegasus pagi hari tertiup angan dan mimpi akan kehidupan dunia yang tiada abadi.

Tentang sebuah amanah, yang karenanya kita merasa berarti bagi orang lain. Laksana dakwah Rosulloh dengan sedikit pasukan Alloh, tetapi dengan sedikitnya pasukan Alloh itu mampu menjadi motor bagi perkembangan dakwah beliau kedepan. Ini juga sebuah amanah teman, amanah dakwah yang ada di setiap pundak muslim.

Jika engkau cinta, maka dakwah adalah kenikmatan dalam mengarunginya tak ada rasa penyesalan atau kekecewaan bahkan kegelisahan. Jika engkau cinta, dakwah adalah pengorbanan, pengorbanan usia, waktu, pikiran, dan tenaga. Tidak cuma sebait kata melukiskan betapa berat tanggungan dakwah di pundak kita.

Terinspirasi dari sebuah judul buku andaikan buku sepotong pizza, padahal saya sendiri tidak suka pizza [ maklum orang desa ], saya gubah menjadi andaikan amanah sepotong coklat, kenikmatan yang super dupper lezat, enak, dan bergizi. Tapi sayang, kebanyakan manusia menjadikan amanah adalah sebuah beban, ada yang mempunyai
sudut pandang lain?. Dulu, saya beranggapan seperti itu, mungkin akan ada anggapan seperti itu lagi dilain hati, tapi yang jelas pada saat saya menulis tulisan ini, saya tidak berpikir amanah adalah sebuah beban.

Mengintropeksi diri ketika ada di lembaga, jadi tulisan ini tidak lebih dari sedikit curhat. Saya merasa tidak nyaman, ketika teman sekelas mengatai saya anak mushola. Wah panas kalau dekat dengan saya, karena saya dinilai sebagai orang yang alim, ga banyak dosa, ga layak dijadikan tempat curhat, ga enak klo diajak nongkrong bareng, ga mau diajak pergi piknik hura-hura bareng, ga enak kalo diajak main ke pantai bareng, dsb. Membuat saya merasa tersisih dari komunitas ini.

Sebenarnya apa salah saya, jika saya memilih jalan seperti ini, ga ada salahnya bukan?. Walaupun rumor yang beredar anak mushola eksklusif, jangan dekat-dekat orang yang eksklusif, maunya hanya bergaul dengan yang ” setipe” saja. Waduh.. kalau seperti ini kondisinya, kapan dakwah ini bisa menyentuh mereka. Saya tegaskan me
mang saya anak mushola, tapi saya ga eksklusif kok, kalian bisa bergaul denganku, asal itu sesuai koridor syar’i. Memang petualangan amanah lembaga dakwah berbeda dengan yang lain. Sikap dihindari teman, sikap merasa sendiri, sikap takut dijauhi orang lain, adalah normal adanya jika itu muncul dari dalam seseorang yang ingin melibatkan diri dalam barisan dakwah ini. Aktivis dakwah katanya.

Teringat lagi seorang jundiNya yang berkata, seorang muslim hendaknya menampakkan identitas kemuslimannya, kenapa harus takut di cap ekslusif, kenapa harus takut menjadi jilbaber, kenapa harus takut kalau dicaci ga gaul, kenapa harus malu julukanmu jenggoters, kenapa harus malu ketika nyongklangnya celanamu dipandang suatu keanehan, kenapa harus takut dicaci takut jatuh cinta ketika sedang menundukkan pandangan dengan lain jenis, kenapa harus enggan meninggalkan perbuatan yang sia-sia, kenapa harus malu menjadi orang ” aneh ”. Sedang ummat yang disukai oleh Alloh adalah Al Ghuraba ( orang yang terasing ). Harusnya kamu bangga….!!

Tips menjadi aktivis dakwah, katanya lagi.
1. Sabar
2. Tidak mudah mengeluh
3. berkepribadian islam dan berkepribadian da’i ( Saksiyah Islamiyah dan saksiyah da’iyah )
4. Bergerak dan menggerakkan

5. Move faster. think faster dan Briorhytime
6. Cerdas
7. Paham problematika ummat ( Al fahmu ’alal qodhoyatul ummah )
8. Paham manhaj dakwah
9. Selalu mengejar muwashoffat.
10. Bersungguh-sungguh.
11. Istiqomah


Setahun, dua tahun, tiga tahun berjalan bersama dalam barisan ini diiringi suka duka, onak duri, tetapi banyak sukanya. Dan sekarang pada saya menulis ini, merasa amanah bukan beban lagi tetapi kenikmatan, kenikmatan yang hampir hilang. Disini kudapati orang-orang hebat yang bisa menyalurkan semangat dan aura dakwah yang hebat, sehingga berada diantara orang-orang ini menguatkan dikala lemah, memberantas tuntas segala ketakutan ketika melangkah, memberi keteduhan hati ketika sedang hati sedang kacau, memberi senyuman ketika penatnya matahari menyinari langkah, memberi tatapan sejuk ketika kurebahkan punggungku padanya, menerangi ketika jalan ini masih terasa gelap, memberi ketenangan ketika kusedang galau, mengais napas bersama, menyokong dan terus saling menyokong. Laksana Rosululloh dan Aisyah beserta sahabat lain yang sedang membawa bendera dakwah ketengah gurun pasir arab, yang sedang membutuhkan sebotol air ditengah terik kehausan. Subhanalloh butuh perjuangan yang berat, kompak dan penurunan kebijakan yang strategis.

Setelah tahu seperti ini, baru tahu kalau perpisahan itu sangat menyedihkan, kenikmatan yang selama ini dirasakan akan musnah begitu saja, jalan yang kita tempuh sudah berbeda. Dan tertinggal adalah penyesalan, kenapa amanah adalah sepotong coklat, baru kusadari hari ini, dan akhir-akhir ini. Puji syukur kepada Robb yang masih men
gijinkan saya berada diantara mereka, kenikmatan yang mungkin tidak bisa dirasakan orang lain, hanya diriku sendiri. Bersyukur banyak teman yang membina saya menjadi lebih baik dari yang dahulu, insya Alloh.

Robb pada hari ini ingin kuukur kesyukuranku padamu dengan bukti penghambaanku kepadamu, bukan hari ini saja tapi dilain hari pun kuharap Engkau akan selalu menjagaku dikala aku lemah, dikala aku susah, dikala aku tiada lagi teman untuk mengadu. Terimakasih alhamdulillah.. Engkau mengijinkanku berjalan bersama mereka, walau baru kini kubaru bisa menyedari kenikmatan coklat dari sebuah amanah.

Untuk semua pasukan Alloh yang selama ini membuatku selalu kuat menghadapi berbagai aral, kegelisahan karena keterbenturan dengan duniawi, kegalauan akan semua hal, terima kasih episode terindahnya ya… . Semoga ukhuwah ini selalu dikuatkan olehnya dalam bingkai nan indah, dan bersanding selalu di surgaNya kelak. Saya akan selalu menunggumu dan engkau kan selalu menungguku indahnya… Amien..

Foot note
matur nuwun sanget eyang dan abi yang menularkan darah aktivisnya sehingga putrinya ini setidaknya ” pernah ” menjadi aktivis dan izinkan ” terus ” menjadi aktivis.

For all aktivis in the world, jangan pernah berhenti melangkah..!
 

30 Hari Mencari Cinta

Ramadhan…..
Rasanya tak cukup ku menyambut kedatanganmu…
Senyum ini pun tak terlalu manis untukmu..
Semangat ini pun kurang terpompa untuk membersamaimu…
Ilmu kepemahaman tentang mu belum juga memuaskan batinku…

30 hari rasanya terlalu berat untuk menemukan cintaNya untuk-ku
30 Hari, cukup menegangkan bagiku menunggu keputusanMu
Ingin kudapatkan cintaNya, setelah 30 hari kulewati bersamamu…
10 hari pertama tlah Kau buka untuk menggugurkan dosaku, syahru maghfiroh…
10 hari kedua tlah Kau buka untuk memberi pembelajaran & keberkahan hidup, syahru tarbiyah…
10 hari ketiga tlah Kau buka untuk menyeleksi pribadi terkuat diantara kami, syahru Jihadiyah…

Setelah kau datang, aku lupa engkau tamu teramat mulia..
Aku lupa, semangat 11 bulan kedepan ada didirimu…
Aku lupa, sajian ruhiyahku untukmu kurasa sangat tidak mengenakkan..
Aku lupa, 10 hari terlewati dalam kondisi “ payah” tapi kutak perbaikinya
Aku lupa, kubutuh kau hilangkan takutku hadapi 11 bulan kedepanku…
Aku lupa, impianku untuk menghidupkan malamku dengan tangisku

Robb, Jangan biarkan hatiku bebal dan mati
Robb, Aku ingin menangis lepas………….
Robb, Dan aku ingin menangis bebas ……….
.
 

Sabar n Ikhlas, Thatโ€™s the Key

Berbicara tentang kehidupan, mungkin akan banyak yang berubah dari masa ke masa. Makin banyak asam garam masuk ke tubuh kita, semakin banyak pula seseorang banyak belajar tentang kehidupan, entah suka maupun duka. Tapi sebenarnya ada esensi yang ga berubah dari zaman ke zaman, yang membuat seseorang terus mampu untuk menengadah menghadapi hidup. Tak ingin banyak berkata, mungkin saya ga sepintar anda yang membaca tulisan ini, saya hanyalah seorang anak kecil yang berbicara tentang kehidupan yang sederhana. Tapi harapan dan semangat berbagi akan tetap ada dalam setiap goresan tinta yang terukir.
< BR>
Hati seseorang seberapa bening, tak ada yang tahu. Hati seseorang seberapa tulus mencintai, tak ada yang tahu. Hati seseorang seberapa sabar menghadapi uji, pun tidak ada yang tahu. Hanya seseorang yang memiliki hati itu sendiri dan Zat yang Maha Mengetahui. Karena memang begitulah karakteristik amalan hati, ia tak bisa berkata, pun ketika berkata belum tentu kenyataanya demikian. Sedalam-dalam lautan pun masih ada lautan lain yang masih dalam.
Sederita luar biasa yang kita rasakan ternyata ada yang lebih menderita. Dan justru ketika kita melihat orang yang menderita, ternyata ia sendiri tidak merasakan deritanya sebagai suatu penderitaan. Memang aneh dunia ini, semuanya serba semu, ga ada yang Trivial [Trivial bahasa Fisika artinya Jelas!].
< BR>
Mari saling berpegang, biar tidak saling jatuh. Berpegang dengan apa yang telah kita lihat dalam kehidupan ini. Saling menceritakan apa yang kita lihat, saling menguatkan dan saling mendoakan. Semoga kita termasuk orang yan
g cerdas dalam bersahabat dengan kehidupan.
< BR>
Teringat, 2 tahun yang lalu saat saya KKN, saya ditembak teman-teman untuk mengisi kajian ibu-ibu [weks! Yang benar aje men!]. Klo nembaknya 3 hari atau 2 hari sebelumnya mah ga begitu masalah, ini ga ada H-3 jam [pendholiman masal neeh!], selama ini ngisi kajiannya untuk kalangan mahasiswa egh tahu-tahu disuruh di kalangan ibu-ibu ga ada persiapan lagi, tapi ga ada alasan untuk menolak. Tarik nafas, dan lakukan yang terbaik. Untung saja, saya punya teman didaerah sekitar tempat kajian, akhirnya menyabotase buku-bukunya.
< BR> Gaswatnya, tahu-tahu semua dalil yang duluw pernah dihapal hilang semua, tenang… masih ada sms, segera saya sms teman-teman suruh ngirim dalil materi kajian. Bingung juga waktu itu mau ngisi materi apa, yang kepikir adalah ‘sabar n ikhlas’. Pfiuh, diluar perkiraan ternyata ibu-ibu nya bisa nyanthol, dengan bahasa yang cukup belepot jawa –nasional, n kontemporer, giliran kontemporer si ibu-ibu pada lingak-linguk. Pun saya ga sadar klo saya pake bahasa planet untuk mereka. Tapi mungkin ujian kesabaran n keikhlasan saya waktu itu ga sederas akhir-akhir ini
. Dan malam ini saya kepikiran nulis ini karena terlalui mengusik kepala, setiap masa usia ujiannya berbeda-beda, kita nganggepnya ujian bagi yang lain entheng tapi ternyata bagi orang itu.
< BR>
Samudra itu bernama hati, hati yang bisa merasa saat kita sedih atau senang. Namanya samudra, ya harus luas. Nah itu dia, meluaskan hati dengan sabar n ikhlas, that’s the keys. Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kita kesusahan untuk menguji.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, ia telah siap memberi yang lebih baik.
< BR>

Sabar, sabar, ikhlas dan ikhlas. Belajar ikhlas lebih susah daripada belajar kuantum. Belajar sabar pun butuh jam terbang tinggi. Seorang anak kecil dengan kulit terbakar matahari sambil membawa koran, seakan ia berkata mungkin kau lebih beruntung dari padaku teman, ya mungkin kau lebih beruntung karena kulitmu putih bersih, tanganmu tidak kotor seperti kami. Dan seorang bapak dengan kacamata minusnya pun berkata pada dirinya, mungkin aku tidak seberuntung si A yang bisa menyekolahkan anaknya hingga ke Yogya, dan mungkin kita-pun tak tersadar pernah berbisik andai saja ku punya lebih dari yang lain, punya keelokan fisik lebih, kepintaran otak lebih, teman-teman yang banyak, punya pendamping hidup yang cuantik n gantheng, punya penghasilan yang buanyak dsb. Ukuran normatif dunia, standard penentuan derajat martabat seseorang.
< BR>
Sabar, sabar, ikhlas dan ikhlas. Kunci keindaha
n dalam hidup, dan kecantikan hati. Saya mengenalnya sebagai anak kecil, anak kecil yang belum tahu banyak tentang kehidupan. Hingga saya akhirnya harus mendelete asumsi saya tentang dia. Namanya de’ Ani. Seorang gadis kecil yang manis, periang, seorang aktivis rohis di SMP nya. Saya paling suka melihat mata seseorang, ada sesuatu yang luar biasa dimatanya. Tak ada hujan tak ada angin dan tak ada badai, sebuah kanker leher stadium 4B merangkulnya. Sudah bergelas-gelas muntahan darah yang ia muntahkan setiap hari, sudah sangat kurus badannya. Dokter sudah mematoknya ga bisa sembuh dan umurnya sudah tidak lama lagi, ia tak sama sekali sedih dengan hal ini, apalagi ibunya terus optimis, dan keoptimisannya itu membuat saya tidak kuat memakan makanan yang begitu banyak terhidang di meja makan kala itu. Terasa berat walau hanya dengan menelan ludah. De Ani.. andai kau tahu kau orang yang hebat, gadis kecil yang hebat dengan mata yang indah. Indah karena kesabaran dan keikhlasan. Semoga Alloh memberi kekuatan lebih pada-mu de’…
< BR>
Selembut sutra kasih, kasih yang disulam dengan harapan dan doa setiap saat. Doa dalam tetes air mata pelabuh kapal impian dan cita-cita. Ketenangan adalah maharnya, kebahagian adalah lilinnya, dan pengertian adalah lambang cintanya. Bersemilah terus dihati duhai perindu cinta. Bunga tidak mekar dalam waktu semalam, kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan. Semua proses yang baik, butuh kesabaran yang lebih. Kupu-kupu yang cabtik, harus rela digedong sebagai kepompong. Mutiara yang elok haru
s rela bersemedi lama untuk menghasilkan warna yang gemilang. Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan. Begitu pula perjuangan rosul menyebarkan cinta untuk umatnya, tidak hanya satu tahun. Cinta yang suci berbuah sabar dan ikhlas untuk semuanya, untuk sesuatu yang lebih baik.
< BR>
Kadang Allah mendatangkan Petir, Menyembunyikan Matahari Dan kita menangis dan bertanya kemana hilangnya matahari, Rupanya kita tak tau akan diberi pelangi olehNya.
< BR>
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan
mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS 18:28)  
< BR>
Jangan terus merasa rapuh, karena banyak yang membersamai langkah kita. Sabar n ikhlas mungkin susah untuk dikedepankan saat ini, tapi harus selalu dibangun sebagai fungsi logaritma dasar kehidupan. Kala bibir digigit, tangan menggenggam pasrah, bola mata menciut, air mata meleleh, menahan sakitnya derita dan ujian, kau tahu dan kau rasa kita saat ini kita berada dalam kondisi paling lemah, tapi sebentar lagi Ia akan berikan kenikmatan yang terhingga harganya. Biarkan kesakitan-kesakitan ini menjelma menguasai jiwa, semoga ia mengganti rasa sakit ini dengan kenikmatan dan keberkahan, ketika kita sudah sabar n ikhlas dengan sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kita. Sabar n ikhlas its the keys. Semua nikmat yang ada di diri kita adalah amanah, bukan suatu hukuman atau pemuliaan. Dalam riuh batinmu, apapun itu sebahagia atau semenderita kau saat ini, selalu memohon untuk semua tera
sa nikmat untuk dijalani, biarkan kata-kata ini menjadi teman dalam hatimu.
< BR>

“ Pengetahuanku tentang diriku atau tentang apapun amatlah sangat terbatas, sedang pengetahuan Alloh meliputi segalanya, Ia maha tahu apa yang terbaik bagi ku sedang aku tak tahu apa yang terbaik bagiku, keputusannya selalu yang terbaik, dan diriku pun harus husnudzon terhadap semua keputusannya. “
< BR>
Created special for
1. Seorang teman yang baru saja saya kenal (belum 7hari) dari web ini, lanjut via YM. Seorang ukhty yang mempunyai episode hidup dalam pertarungan kehidupan, semoga tetap bisa istiqomah ukh… Ujian ku tidak seberapa dibandingkan ujian anti. Ya mungkin saya jadi kebukak kenapa saya harus mengeluh terus sementara bersyukur lebih banyak menuai hikmah. Berusaha yang terbaik dan berusaha untuk menjadi orang yang baik, dan juga berusaha untuk menjadikan baik orang lain.
< BR>
2.Seorang adik angkat, Muh Adhib Ulil Abshor Barokallohu lakum .. semoga pernikahannya penuh dengan berkah, (28 Februari 2008). G aada petir ga ada hujan, ternyata ngambil jalan yang ini, met menempuh hidup baru ya Dhib..

< BR>
3.Sahabat saya, Ian Aswad barokallohu lakum.. semoga pernikahannya penuh dengan berkah (9 Maret 2009). heheh sahabat yang baik banget! Lucu keinget yang duluw, saya di kaderisasi beliau mas’ul nya, yang mimpin syuro n liqo bidang ikhwan beliau, anehnya yang disampaikan kultumnya selalu aja tentang nikah dini, waduw blenger n stress imelnya, lawong mahasiswa baru dagh dicekokin beginian, alhamdulillah sekarang dagh bisa ngebuktiin apa yang dikultumkan selama ini, hehe! Saluts pak!!
< BR>
4.Seorang teman, Mas Dyan barokallohu lakum.. semoga pernikahannya penuh dengan berkah ( Agustus 2009).
Undangane oey oey gek ndak di sebar, selak penasaran.
< BR>
5. Ellyn (16 Juli 2009 ) Barokaohu lakum.. hv a nice trip in the word, happy anniversary
 

This Time 4 Married

Sebuah Intisari dari buku “ Saatnya Untuk Menikah”
Sekali lagi, dibuang sayang. Sebuah Tulisan sebagai tugas TTS (Tarbiyah Tsaqofiyah Sleman) untuk mata kuliah “Rumah Tangga Muslim”. Semoga bisa bermanfaat bagi semua. Sebuah inti sari dari bukunya ust Faudzil Adzhiem, penulis legendaris dan best seller tentang pernikahan.

Tidak ada pelabuhan yang dapat menjadi tempat kita menyandarkan kegelisahan selain menikah. Mengingkari panggilan hati untuk menikah sama hal nya mengingkari fitrah kita sebagai manusia.

1.Saatnya untuk menikah

Pernikahan tampak begitu indah bagi orang yang belum menikah, semata karena mereka merasakan panas
dinginnnya menahan gejolak cinta. Banyak di antara kita yang meluap-luap semangatnya untuk menikah, tetapi lupa menyiapkan bekal yang harus dibawanya setelah menikah. Demikian pula sebaliknya, banyak yang hampir tidak kuat menahan gejolak rindu yang mencekam, tetapi tidak berani melangkahkan kakinya untuk meminang. Kata Aiman bin Huzaim berkata, “ Tiada lagi resah saat bersanding dengan wanita resah itu hadit saat berjauhan dengannya.”

Kerinduan semakin melecut suatu waktu jika jarak sebelumnya saling berdekatan. Kuatnya perasaan terhadap pernikahan justru akan semakin menggelora pada orang-orang yang pernah merasakan gelak canda pernikahan. Jika anda sudah merasa gelisah jika pada malam-malam yang sepi mencekam tidak ada teman yang mendampingi, inilah saatnyua bagi anda untuk menikah. JIka anda sudah mulai tidak tenang saat sendirian, itulah saatnya anda perlu hidup berdua. Jika anda sudah begitu resah saat melihat akhwat di perjalanan, itulah saatnya anda menguatkan hati untuk datang meminang. Hanya dua Kalimat saja yang perlu anda persiapkan untuk meminang : Alhamdulillah bila diterima dan Allohu akbar bila ditolak.
Bekal sebelum memasuki pernikahan.



a.Bekal ilmu
Ilmu yang berkenaan dengan apa yang akan kita lakukan serta ilmu tentang bagaimana melakukan. Mengajarkan ilmu agama kepada istri berarti membutuhkan penguasaan dan pengajaran ilmu agama kepada istri.

b.Kemampuan memenuhi tanggung jawab
Tanggung jawab suami terhadap istri tak hanya pemenuhan materi saja tapi juga pemenuhan sexual. Umar Bin Khatab ra menetapkan aturan waktu maximal seorang tentara muslim bertugas meninggalkan rumah juga karena pertimbangan ini.


c.Kesiapan menerima anak
Banyak yang nikah muda tapi ga mau punya anak?. Satu hal yang digaris besari dari ilmu pernikahan adalah menyegerakan menikah berbeda dengan tergesa-gesa menikah. Anjuran untuk nikah dini tidak boleh ternodai oleh pernikahan yang tergesa-gesa serta desakan dari sejumlah pembimbing halaqoh yang belum mengenal betul bimbingannya.

d.Kesiapan Psikis
Membayangkan indahnya pernikahan, tapi terkadang tanpa belajar untuk siap menerima kekurangan dari orang yang kelak akan menikah dengannya. Banyak yang membayangkan indhanya kemanjaan Aisyah ra tanpa dibarengi dengan kesiapan bahwa Aisyah pencemburu berat. Betapa banyak yang mendambakan istri seperti Khadijah, tetapi tidak mau
menikah dengan orang yang usianya sedikit saja diatasnya. Kesiapan psikis untuk berumah tangga juga berarti kesiapan untuk menerima kekurangan-kekurangan orang yang menjadi pendampingnya.
Banyak keluh yang terucap dan kekesalan yang terlontarkan, ini bukan karena mereka menikah di usia muda, tetapi karena kesiapan psikis mereka yang belum tertata saat memasukinya.

e.Kesiapan ruhiyah
Kesiapan ruhiyah adalah jika seseorang yang hatinya telah terbuka terhadap kebenaran risalah-Nya, yang mendahulukan naqli daripada aqli , mendahulukan dalil yang jelas daripada ra’yu (zhan). Dan sadar betul Robb menghalalkan hubungan mereka dengan perjanjian yang amat berat (mistsaqon ghalizha). Sungguh, sekiranya seorang pemuda yang telah memiliki kesiapan ruhiyah datang meminang, ia lebih utama untuk didahulukan sekalipun belum memiliki cukup ilmu maupun bekal ma’isyah. Sebab orang yang bagus kesiapan ruhiyahnya dapat mengarahkan diri untuk belajar apa yang belum dimilikinya.

2.Bersiap-siap sebelum menikah

a.Mengenal istri
Cara untuk belajar menjadi istri terbaik, hanyalah melalui suami. Begitu juga sebaliknya. Tidak bisa melalui pacaran. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana caranya menjadi pacar terbaik bukan suami atau istri terbaik. Jane Askham bilang bahwa lamanya hubungan pranikah serta tingkat intensitas hubungan pranikah, tidak memberikan sumbangan positif setelah mereka bersepakat untuk menikah.

Persepsi yang timbul selama berlangsungnya hubungan pranikah cenderung persisten, padahal sifat persisten akan menjadi penghalang bagi proses untuk saling melakukan perubahan setelah menikah.

b.Kesiapan untuk mencari nafkah
Bekerja berarti memenuhi amanah 4jJI dan soal rezeki untuk akan menjadi tanggunganNya, sedangkan menyebut jenis pekerjaan belum tentu menggambarkan bahwa seseorang itu memang betu-betul serius bekerja. Kesiapan member nafkah tidak berhubungan dengan adanya pekerjaan tetap bagi calon suami. Seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap dan besar, belum tentu memiliki kesiapan untuk member nafkah.

Siap atau tidaknya seorang suami berparameterkan:
1)Apakah ia lebih suka makan dengan hasil keringatnya sendiri ataukah dia lebih suka bahkan berharap-harap menikmati pemberian.

2)Apakah ia mendahulukan ikhtiar daripada menyerah pada keadaan.
3)Apakah ia telah memiliki ilmu tentang segala sesuatunya yang akan menjadi tanggung jawabnya: kewajiban – kewajiban yang harus ditunaikan untuk diri sendiri, ortu, istri dan orang lain.

3.Yang perlu Anda ketahui tentang Jodoh


Seperti halnya mata kita yang sering todak sanggup melihat yang sebenarnya di balik yang tampak, anggapan kita terhadap mereka, yang kita anggap “ tidak sepadan”, boleh jadi juga sepenuhnya salah. Kita mempertanyakan kebenaran janji 4JJI, tetapi lupa barangkali mata wadaq kita yang tidak sanggup melihat di balik yang tampak. Yang kelihatannya tidak sebanding, setara nilainya di hadapan 4JJI, sehingga tidak ada yang meleset dari janji 4JJI.
Boleh jadi, apa yang tampaknya tidak sepadan, tidak sekufu itu merupakan ujian yang apabila kita tulus, kita meperoleh derjat yang tinggi di sisiNya, pastikan kita termasuk orang yang husnudzon kepada ketemutuan 4JJI.



4.Sekali lagi, tentang sumber tentang sumber Informasi


Proses pernikahan Khadijah dengan Muhammad member pelajaran yang penting yang teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Usaha untuk memperoleh informasi hanya dari orang yang dikehendaki Khadijah dilakukan dengan sanagt hati-hati. Khadijah ingin memperoleh informasi hanya dari orang yang betul-betul mengenal secara pribadi Orang yang mengenal secara pribadi dengan criteria: pernah menginap bareng, menemani dalam perjalanan jauh, berhubungan dengan amanah keuangan, sikap terhadap permusuhan internal.



Jika kita terkecewakan dengan informan kita disebabkan karena :


1). Orang yang tidak dapat dipercaya
2). Informan seorang yang jujur, tulus, tidak suka mengelabuhi, tetapi ia mempunyai kekurangan terhadap berita yang didengarnya, atau sering tidak lengkap dalam mengingat informasi.
Sebaiiknya sikap longgar membuat kita terlalu menggampangkan apa saja yang telah dimudahkan oleh 4JJI, menyepelekan hal-hal yang telah disederhanakan, dan tersesa-gesa menyimpulkan perkara-perkara yang belum jelas kebenarannya, kecualikecuali sebatas sebutan si Fulan baik agamanya atau buruk akhlaqnya. Sesungguhnya, banyak kekecewaan yang sulit dihapuskan bermula dari sikap-sikap yang demikian. Atau perlu cari informan pembanding.

5.Mengapa kita sibuk meninggikan kriteria?

Secara sederhana, mempersulit diri adalah setiap halangan yang timbul karena kita membatasi hal yang telah dilapangkan Allah, mempersempit hal yang telah diluaskan-Nya, dan mempererat hal yang diringakannya sehingga kit atidak mampu mencapainya. Ini berbeda dengan riyadhah (latihan ruhani) yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin untuk membentuk sikap qona’ah dan zuhud pada diri mereka. Ketika seseorang telah menetapkan criteria yang sangat tinggi, ia akan cencerung sangat peka terhadap hal-hal yang bergeser dari kriterianya. Kekecewaan karena tidak terpenuhinya atau ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan setelah menikah, dapat menjadi sumber konflik. Kalau telah ada pemicu, konflik yang laten itu bisa berubah menjadi pertengkaran yang tidak terelakkan. Terkadang, kekecewaan bermula dari perkara sepele yang benar-benar remeh.


Seorang suami tak harus menuntut istrinya pintar memasak yang sesuai dengan seleranya. Agar mereka siap menerima apa adanya manakala menikah dengan wanita yang tidak bisa memasak, atau pandai memasak sesuai asala daerahnya, tetapi kurang pandai menyesuaikan dengan lidah suami. Begitu juga impian mempunyai anak laki-laki tidak harus dipaksakan, karena anak perempuan-pun tidak menjadi masalah karena anak pada dasarnya ia member bobot kepada bumi dengan kalimat laa illa ha illaLloh.. Kita hendaknya mengaca diri terlebih dulu sebelum menetapkan kriteria tentang pendamping hidup yang kita harapkan. Agaknya tidak realistis kita menuntut agar mendapatkan pendamping hidup yang sempurna, sementara ilmu diniyyah kita masih kedodoran dan akhlaq pun masih compang-camping.


Memiliki harapan boleh-boleh saja. Kita sah-sah saja berharap mendapatkan pendamping yang lebih kokh agama, akhlaq dan ilmunya sehingga bisa membantu kita untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi di hadapan 4JJI. Akan tetapi, terdapat perbedaab antara harapan dan penetapan criteria.

6.Lihatlah wanita yang akan Kau nikahi

Dikisahkan cerita Mughiroh bin syu’bah, seorang sahabat Nabi pernah menikah 70 kali dan semuanya gagal, dikarenakan ia ga mau melihat wanita yang akan dinikahinya. Memandang calon istri pada waktu diberikannya kesempatan nadzar memilki status hukum tersendiri dan tidak bertentangan dengan keumuman perintah untuk menutup aurot. Memenuhi takhsish (pengkhususan) tidak berarti melanggar ketentuan umum tentang aurot. Alasan diperbolehkan melihat wanita yang akan dnikahinya ini adalah:

a.Anjuran untuk memandang calon istri tidak bertentangan dengan ketatnya peraturan Islam agar para wanita selalu menutup aurot dan laki-laki menundukkan pandangannya. Aturan nadzar ‘memandang’calon istri dengan
pemandangan yang cermat dan penuh perhatian, merupakan takhshish.

b.Memandang dan memperlihatkan aurot yang diperbolehkan untuk dipandang pada waktu nadzar merupakan kebaikan.

c.Memandang (nadzar) dengan pandangan yang sungguh-sungguh merupakan perintah Nabi, memperlihatkan auro
t untuk dipandang oleh pelamar tidak merupakan pengkhianatan terhadap suami jika ternyata pelamar pertama tidak jadi meneruskan ke proses pernikahan.
Batasan nadzar ada 2 yaitu melihat seluruh tubuh si wanita seperti yang dilakukan oleh Muhammad bin Masalamah sewaktu akan menikahi Tsaniyah binti Dhakhkah, dan pendapat ini dijadikan fatwa oleh Imam Dawud Azh-Zhahiri, namun ada pendapat lain yaitu batasan nadzar adalah sebatas bukan aurot, termasuk muka, tangan, dan ada yang menambahkan betis.
Namum dalam rangka kehati-hatian ikhtiyath banyak yang memakai pendapat yang kedua. Dan disarankan tidak menggunakan foto, karna kualitas gambar foto tidak bisa dijadikan acuan. Kalau mau dirunut lebih jauh, ujungnya adalah masalah keprasahan terhadap Alloh dan rasul-Nya. Bagi seorang muslimah yang mengimani kebenaran ajaran Rosululloh dengan penuh kepasrahan, jadi menikah atau tidak, tidak ada yang merugikan baginya. Sebab kedua-duanya mendatangkan kebaikan yang pasti.



Lakukanlah nadzar jika memang bisa menjaga rahasia tentang hal yang anda dapatkan saat memandang calon istri anda. Rahasia itu perllu anda genggam disaat anda merasa mantap dengan calon istri anda, sehingga anda terdorong untuk segera menikahinya, maupun ketika anda tidak sreg dengan hal yang ada pada wanita yang akan anda pinang. JIka anda membuka rahasia tentang apa saja yang membuat anda tidak sabar lagi menunggu malam pengantin, anda telah merusak kehormatannya dan kehormatan anda sendiri. Adapun jika anda membuka rahasia tentang hal-hal yang membuat anda tidak sreg menikahinya maka anda telah berkhianat.

Wanita pun dibolehkan melihat calon suaminya, dan calon suami harus bersikap apa adanya, dan tidak menyembunyikan kekurangannya.


7.Sekali lagi tentang Nazhar

a.Sandaran untuk menolak, memilih pendapat yang paling sesuai, atau menyisihkan pedapat yang paling sesuai, atau menyisihkan pendapat yang paling sesuai adalah dalil-dalil naqli yang jelas, bukan perasaan kita terhadap pendapat tersebut.

b.Mencoba berpikir bahwa kehormatan wanita akan lebih terjaga jika kita mau menegakkan hukum nadzar.

Nadzar seringkali disoroti dengan perintah yang berkebalikan dengan Ghodzul bashor. Perintah melakukan nadzar yang mengeluarkannya dari keumuman larangan melihat lawan jenis, disebabkan adanya beberapa kemslahatan yang hanya bisa diperoleh dengan melakukan nadzar. Atau keburukan bisa terjadi manakala tidak dikecualikan hukum memandang bagi orang yang akan menikah. Artinya pengecualian itu hanya berlaku bagi orang yang akan menikah dengan lawan jenis yang dimaksud, atau dengan orang yang secara sungguh-sungguh ia bermaksud untuk mengetahui tentang kemungkinan adanya ketetapan hati untuk menikah apabila ada hal-hal yang membuatnnya tertarik untuk menikahinya.


Sebuah pernikahan akan lebih mampu menundukkan pandanagn mata dan lebih menjaga kemaluaan apabila di dalamnya ditemukan cinta dan kebersamaan. Di sana ada keindahan yang dapat direngkuh bersama-sama, dan pintunya adalah wajah. “Maka, laki-laki yang hendak melamar wanita,” kata Ibnul Qoyyim al jauziyah, “ disyariatkan untuk melihat wajahnya. Sebab, jika ia sudah melihat kecantikan dan keindahannya, tentu lebih bisa membuahkan cinta dan kebersamaan di antara keduanya. “

Keindahan saat memandang pertama kali adalah gerbang. Selanjutnya penerimaan yang tulus, kehangatan saat menyambut kedatangan, serta kegembiraan saat bersama jauh lebih penting daripada kecantikan. Tetapi, pengabaian terhadap masalah keindahan, dapat menjadi pintu kekecewaan yang dapat menyalakan api
pemberontakkan untuk mencari apa yang dapat melunakkan jiwanya.


Wanita boleh menolak nadzar jika ia tahu betul lelaki yang mau meminangnya tidak sungguh-sungguh untuk meminangnya. Tahu disini disertai dengan keyakina yang betul.

Ia berikan ujian kepada hamba-hamba-Nya agar denan itu orang-orang yang mengaku beriman, teruji keimannannya; dan orang-orang yang benar-benar mencintai-Nya dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisis-Nya. Ibarat kita sekolah, ada ujian yang harus kita tempuh ketika kita ingin naik kelas.dalam firmannya telah jelas QS. Ath Thalaq:7 dan QS Al Baqoroh: 286)


Bagaimana mungkin engkau bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana,sementara engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagiamana mungkin engkau mendapatkan suami yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya selain kepadamu, sementara engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat oleh pernikahan? Bgaiamna mungkin engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan menggoda.


Menuanya usia kita menimbulkan kekhawatiran akan jauhnya jodoh, dimasa-masa seperti ini hnaya ketaqwaan dan husnudzon pada 4JJI-lah yang bisa menguatkan kita. Mungkin juga kita harus instrupeksi diri, terkadang kita mempersulit apa yang telah 4JJI mudahkan, sehingga kita mendapatkan kesulitan yang tak terbayangkan.



Bagaimana kalua muncul rasa sayang?, kita bisa menengok sejarah betapa para salafush shaleh terdahulu mengambil sikap yang sangat indah tentang dua orang yang saling mencintai. Mereka tidak memisahkan begitu saja, sebab tak ada yang tampak indah bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah. Jika anda mendapati lelaki yang memiliki banyak keutamana kecuali dalam hal keberanian untuk menikah, boleh jadi yang anda perlukan adalah sedikit keberanian untuk menawarkan diri kepada laki-laki yang ia merasa mantap agama dan akhlaknya. Mereka tidak jatuh kehormatannya. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang mulia.

9.Ketika wanita harus menawarkan diri

Sesungguhnya tidak ada halangan bagi seseorang wanita untuk menawarakan diri. Para sahabat nabi dan ulama saleh memandang sikap menawarkan diri sebagai sesuatu yang terpuji dan termasuk diantara kemulian seorang wanita. Belajar dari Khadijah ia pun juga menawarkan diri kepada nabi Muhammad, yang sebelumnya telah ia selidiki dulusedetail-detailnya kepribadian Muhammad.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menawarkan diri:
1.Carilah informasi seetail-detailnya sebelum memutuskan untuk menawarkan diri sehingga tidak terjadi ganjalan di tengah-tengah proses.
2.Hendaknya menawarkan diri melalui perantaan orang lain, bukan diri sendiri.

3.Orang yang diminta sebagai perantara adalah wanita yang setengah baya cenderung lebih mengerti bagaimana mengkomunikasikan maksud anda kepada laki-laki.
4.Proses menuju ke pernikahan tetap dilanjutkan dengan peminangan secara resmi pihak laki-laki.

Alasan pemilihan buku :



Buku ini sangat legendaris untuk dikupas, isinya rigid dan dekat dengan pembaca, gaya penulisan yang pas bagi anak muda. Karakter buku ini seperti seorang kakak yang menasehati adikknya , sedikit doktrin dan banyak menasehati. Yang saya terkesan dari buku ini adalah, kolaborasi pemikiran dengan siroh nabawiyah. Sehingga korelasi yang ada, menyebabkan problem solving yang koqnitif dan edukatif.


Buku ini sangat pas bagi mereka yang pengen sekali untuk menikah, dan saya yakin yang sudah pengen sekali menikah setelah membaca buku ini jadi menggebu keinginannya. Dan sekaligus ada trip trik cerdas dari pengalaman penulis.

Yang ga saya suka dari buku ini, doktrin kejama’ahannya kurang sekali, saya sedikit tidak setuju dalam hal, peremehan menikah berbeda dalam halaqohnya. Karena yang saya pahami, menikah adalah bagian dari ‘marotibul amal’ dan disana prosesnya memang murni ditujukan untuk berdakwah, mengembangkan dakwah, expansi dakwah lewat generasi yang dihasilkan dari sebuah pernikahan.


Dan diskriminasi keikutsertaan murrobi dalam penentuan pengambilan sikap dalam pernikahan juga saya kurang setuju. Ya pokoknya aspek keberjama’ahnya kurang banget dari buku ini, mengingat juga penulisnya bukan ikhwah. Wallohu alam bishowab.
 

ikhwan-akhwat narsis sok puitis juga sok romantis, mari tobat bro and sis!

yoo Muslim,, assalamu๏ฟฝalaykum warohmatuLLOH wabarokatuh,,

sebelumnya saya mau menegaskan,, tulisan ini saya buat bukan karena saya tidak seperti itu,, juga bukan untuk menyinggung salah satu dari kalian,, tapi hanya sebagai sarana untuk saling mengingatkan dalam kebenaran,,

sekarang jaman semakin maju,, abad millenium katanya,, jauhnya jarak antar manusia tidaklah jadi masalah,, karena berbagai kemajuan teknologi sudah tidak memberikan batas jarak dan waktu,,

berbagai fasilitas pun tersedia,, ada yang mencari informasi terkini sampai mencari suami/istri,, fenomena-fenomena kekinian memang cukup mengkhawatirkan,, pasalnya negara ini terlihat jelas semakin mengarahkan kemudinya
kepada kebebasan,,

para musuh ISLAM mencoba melemahkan kaum Muslimin dengan memberikan serangan dari dalam dan luar,, dengan berbagai sarana-sarana pendukung lainnya,, media massa pun dapat kita rasakan bahwa mereka semakin condong kepada kemunkaran dan kebathilan,, dan sadar atau tidak,, inilah indonesia,, yang sedang digrogoti dan
dirongrong oleh pasukan zionis najis,,

kemaksiatan menjadi hal yang lumrah,, bahkan kebaikan menjadi tabu untuk dilakukan,, para orangtua semakin memprihatinkan,, karena semakin banyak yang membolehkan bahkan memarahi bila anaknya tidak pacaran,, oh-emji,, bersabarlah kalian wahai peminang bidadari,,


kondisi ini semakin parah,, karena mereka (mungkin juga saya atau kalian yang merasa punya tugas dalam da๏ฟฝwah) mulai terpengaruh dengan kondisi jahiliyah ini,, walau terbekali dengan ilmu yang mumpuni,, tapi hati telah di hinggapi dengan perasaan cinta duniawi,,

blog di isi dengan ๏ฟฝcinta๏ฟฝ yang terungkapkan melalui cerita dan puisi,, "oh sang pangeran, kapan kah kau kan datang?"
Lalu ada yang menjawab di bagian komen, "tenanglah bidadari, tunggulah aku dengan pasti. Ku sedang berjuang melawan segala rintangan." Dengan nada becanda dan hati tersipu, dijawab lagi, "Oh pangeran, betapa mengagumkannya dirimu. Aku akan setia menantimu." Selanjutnya akan terjadi saling
balas komentar yang mulai memakai hati,, kata-kata manis dan romantis tercipta,, persis seperti cinta palsu nan semu di film-film yang ada di televisi,,!!

tak terasa,, makin sering berkunjung ke blog si dia,, liat-liat fotonya yang narsis,, bergaya-gaya lucu tapi bikin napsu (uppss),, ngomentarin puisi dan tulisan tentang walimahan,, iseng-iseng nyoba peruntungan,, gunakan fasilitas personal message,, siapa tau ketemu jodoh,, katanya sih githu,, tanpa mau memikirkan asas syar๏ฟฝi qur-ani apalagi pesan baginda nabi,,

oh tidak,, perang pemikiran lebih dahsyat bahayanya dari perang beneran,, untuk itu,, mari kita sadar kawan,, bangkit bersama dari segala keterpurukan,, sucikan kembali hati yang telah ternodai,, luruskan kembali niat yang telah terkotori,, susun kembali hari-hari yang fitri,,


buat yang belum mampu walimah (seperti saya),, pintar-pintarlah menjaga pandangan dan perasaan,, aturlah emosi dalam diri,, buatlah perisai hati agar ia kembali dan senantiasa suci,,


ahh,, saya semakin sok tau,, bahkan mulai gak nyambung,, mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan,, mohon kesediaannya untuk memaafkan,, silahkan ditambahkan agar semakin dalam,, cukup sekian,,

 

Wahai Ikhwanโ€ฆ wahai akhwat

Nih, eva dapet bacaan yang…?? Geerrr!!!

Seorang ikhwan yang aktifis kampus, sekolah dan syabiah karena masih menjadi seorang jejaka, maka tak jarang ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi ‘imam yang adil’ yang akan memimpin dan
mengarahkan isteri dan anak-anaknya.


Namun sayang disayang cita-cita, harapan hanya tertinggal dalam pikiran saja, hanya baru menjadi angan angan. Padahal semangat sudah mengebu gebu, sang ikhwan masi
h meragu karena berpikir belum lah mampu, atau karena ia belum yakin untuk menyerahkan urusan Jodohnya hanya pada Allah. Atau karena maisyahnya belum seberapa, atau kriteria calon istrinya setinggi langit sebesar dunia. Karena itulah sang ikhwan melakukan Proses Studi Kasus, atau penjajakan pada beberapa akhwat. Dengan komunikasi dua arah, memberi perhatian, menjadikan sang akhwat teman curhat, teman diskusi, sahabat ataupun dengan tedeng adik kakak.

Selain itu juga termasuk dalam mencermati kebiasaan dan cara pandang dan aktivitas dalam etika melamar dan mendekati seorang akhwat. Dalam Islam memang tidak dianjurkan untuk berpacaran HTS, TTM atau apapun namanya, yang realitasnya hampir sama dengan pacaran dan memang terbukti sekali mendekati zina minimal zina hati dan pikiran. Tapi kebanyakan yang terjadi, banyak para ikhwan yang mempermainkan perasaan si akhwat yang terjaga tersebut, si akhwat dibuat Ge-eR sedemikian rupa dengan diberikan perhatian-perhatian yang intens (padahal si ikhwan cuma sekedar ingin uji coba aja dan belum memiliki nyali untuk melamar apalagi untuk menikah).

Kebanyakan kasus, si akhwatnya yang menunggu dan mengharap-harap cemas ingin segera dilamar, tapi si prianya cuma memanfaatkannya sebagai teman curhat atau teman untuk pendekatan saja untuk selanjutnya lihat saja nanti. Kalau cocok dan sreg di hati maka bisa dilanjutkan ke ta’aruf yang sebenernya

Memang harus diakui, bagaimanapun kami seorang akhwat tetaplah seorang wanita yang
akan merasa senang dan tersanjung bila diberikan perhatian dari seorang ikhwan, apalagi bila ikhwan tersebut terlihat memiliki niat yang serius. Sangat disayangkan pada realitasnya banyak di kalangan akhwat yang tidak menyadari bahwa ikhwan ikhwan yang datang dan memberikan perhatian kepadanya, tidak semuanya berniat untuk meminang dengan serius. Tapi kebanyakan hanya sekedar untuk penjajakan semata. Hanya untuk melihat bagaimana karakter dan pola pikir si akhwat. Lagi-lagi tetap saja pengambilan keputusannya ada pada si ikhwan, pertimbangan apakah si akhwat sudah berharap banyak atau tidak, sayang sekali tidak banyak dipikirkan oleh si ikhwan.

Tentunya para akhwat yang jeli tidak akan sudi diperlakukan demikian, dipermainkan perasaannya hanya sekedar guna penjajakan saja. Apa bedanya dengan orang-orang yang lain yang melalui proses berpacaran, bedanya toh hanya kemasannya saja.

Karena itu wahai ikhwan Rujulah (bersikap jantan ) lah engkau, karena kami (wanita) makhluk yang dimuliakan oleh Allah, dijaga betul kehormatannya agar tidak diganggu dan dilecehkan oleh orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Karenanya tata car
a berpakaian dan etika pergaulan kami juga dijaga ketat oleh syariat Islam, dengan tujuan agar kami tetap terjaga dan terhormat. Dan yang cenderung lebih serius untuk komitmen dan berusaha konsisten untuk menjaga diri sesuai dengan syariat Islam, kebanyakan dilakukan oleh kami para akhwat.

Jika memang berniat menikah maka benahi dulu ibadah, karena kualitas dan kuantitas ibadah sangat mencerminkan kualitas diri, luruskan niat, bahwa menikah itu karena ingin mendapat pahala dan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tidak ingin mendapat dosa dan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menikah bukan karena keinginan nafsu belaka, ingat menikah bagi seorang aktivis merupakan awal tonggak baru perjalanan dakwahnya karena itu niatkan menikah sebagai ibadah, bukan sebagai penenang hati yang resah. Walaupun memang benar dengan menikah hati menjadi lebih tenang, dan bersemangat dalam dakwah, karena ada pendamping yang selalu menyemangati, memberi dukungan, mendoakan, mengkritisi dan lain lain.

Semoga pernikahan yang akan terjadi memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang mereka maksud Lillah , ialah niat menikah itu karena Allah. Proses dan caranya harus Billah , sesuai dengan ketentuan dari Allah. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah , tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah. Sehingga dalam penyelenggaraan pernikahan nanti tidak bermaksiat pada Allah


Intinya, Wahai Ikhwan Rujulah lah engkau, jangan permainkan kami, dan kepada saudari saudari ku yang lain, jangan mau dijadikan lawan HTS-an, TTM-an atau apapun namanya, karena ketegasan ada pada akhwat, jagalah diri dan kehormatan kita, sebagai akhwat kita juga punya izzah, dan juga belum tentu ikhwan yang selama ini paling asyik dan paling cocok berkomunikasi dengan kita itu adalah jodoh kita, wahai ukhti kasihanilah suamimu nanti, bila hati mu tak lagi perawan, betapa banyak dan panjang daftar pengakuan kita nanti pada suami. Wahai akhwat tenang sajalah, jika sudah saatnya menikah maka jodoh akan datang dengan sendirinya, “Pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, dan Pria yang Keji akan mendapatkan Wanita yang Keji”

Oh ya satu lagi, yang sering terlupakan oleh ikhwan maupun akhwat yakni Tata Krama yang berlaku umum untuk lelaki dan perempuan (termasuk dlm akhlak seorang muslim)

1. Komunikasi antara keduanya harus dalam batas ucapan yang baik, tidak mengandung kemunkaran, tidak mengandung hal yang tidak bermanfaat,dsb (QS.33:12)
2. Menundukkan pandangan (QS.24:30-31) kecuali dalam hal pendidikan, kesehatan/kedokteran, jual beli, dan
meminang.


3. Menghindari percampuran antara lawan jenis (ikhtilat)

4. Tidak berkhalwat / berduaan antara lawan jenis melalui media apapun, perbincangan. k

5. Menghindari posisi syubhat yang memungkinkan munculnya pandangan negatif dari orang lain



afwan jiddan jika apa yang saya tulis menggores hati beberapa orang disini, sesungguhnya ini bukan sindiran atau apapun namanya, saya juga pernah merasakan akibat tidak enak dari hal hal diatas, saya hanya ingin menjadikan hal tersebut sebagai bahan pelajaran bagi diri saya, sekaligus agar ukhti ukthi yang lain juga dapat mengambil hikmahnya, saya tak punya dendam pribadi dengan yang namanya ikhwan, karena sesungguhnya suatu saat nanti saya akan punya pendamping juga (yang pasti ikhwan, tidak mungkin kan akhwat?????).


Barakallahu laka wa baraka ‘alaikum wa jama’a bainakum fii khoir..

Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…


BY : it’s_me ^_^

 

Eva Oktafiani
 

Anda Harus Berani Menghadapai Diri Sendiri

"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan ornag-orang yang berbuat baik"

Perihnya lapar dapa ditepis dengan septong roti yang basah jadi, untuk apa aku banyak bersedih dan terus dihantui oleh kecemasan ?

Tanyakan kepada dirimu beberapa pertanyaan di bawah ini dan jawab dengan bijaksana:

1.   Tahukah bila engkau akan melakukan perjalanan yang tidak pernah akan kembali lagi?      Apakah engkau sudah  mempersiapkan bekal yang cukup untuk perjalan itu?

2.   Apakah engkau sudah membekali diri dengan amal sheleh sebagai penawar gelidahmu         di liang kubur nanti?

3.   Berapakah usiamu saat ini?Berapa lama lagi engkau akan hidup? Apakah engkau               menyadari bahwa setiap permulaan itu pasti ada akhirnya, dan akhir dari segalanya         adalah hanya surga atau neraka?

4.   Apakah engkau pernah membayangkan ketika malaikat turun dari langit untuk                   mencabut ruhmu,dan saat itu  engkau dalam keadaan tak sadar?

5.  Apakah engkau pernah membayangkan hari itu,saat terakhir dalam hidupmu,ketika            engakau berpisah dari  keluarga,anak-anak,kekasih,dan para kerabat? Itulah                  kematian dengan masa-masa sulit menjelang  kedatangannya beserta penderitannya          yang begitu sakit untuk dirasakan. Itulah kematian ... itulah kematian!

Setelah ruh terpisah dari jasadmu,engkau akan dimandikan dan kemudia dibungkus dengan kain kafan.orang-orang membawamu menuju masjid untuk dishalatkan.Selanjutnya engkau dipanggul di atas punggung pertama alam akhirat. Bisa jadi kuburan itu merupakan taman di antara teman-taman surga, atau sebuah liang di antara liang-liang neraka.

 

Belajarlah dari Kegagalanmu !

 

Hayooo sobat silahkan jawabannya di Koment ya ? 

 

Berakhlak Mulia itu Menentramkan Hati

"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu,lalu (hati) kamu menjadi puas."

Kuterangi jiwa dengn cita-cita yang kukejar Alangkah sempitnya hidup ini jika keluasan cita-cita tidak terbentang 

Manusia adalah cermin bagi manusia yang lain. Jika seseorang berbudi pekerti luhur terhadap orang lain,maka orang lain pun akan berlaku serupa terhdapnya.Sehingga, urat sarafnya akan selalu tenag tanpa gejolak dan hatinya akan senantiasa damai. Berikutnya, ia akan merasakan bahwa dirinya hidup dalam masyarakat yang bersahabat.

Sebaliknya, bila seseorang berkepribadian buruk dan bersikap keras terhadap orang-orang di sekitarnya, maka mereka pun akan berlaku serupa terhdapnya.Dan barnagsiapa tidak menghormati ornag lain, maka orang-orang tidak akan menghormatinya.

Seorang yang berakhlak baik lebih dekat kepada ketenangan,jauh dari kegelisahan, dan keadaan yang menyengsarakan. Lebih dari itu, akhlak yang baik merupakan ibadah kepada Allah dan termasuk yang sangat dianjurkan oleh islam. Allah berfirman, " jadilah engkau pemaaf,serulah orang-orang yang mengerjakan kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A’raf:199). Dan firman Allah tentang kepribadian Rasulullah s.a.w. "Sebab rahmat dari Allah, maka kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah mereka menjauhkan diri darimu.Karena itu, maafkanlah mereka,memohonlah ampunan untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka.kamu telah berbulat tekad,maka bertawakallah kepada Allah.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali Imaran:159) Rasulullah s. a. w. bersabda,"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dari kalian adalah yang paling baik akhlaknya,yang selalu merangkul kerika berjalan (menjaga persaudaraan) dan menyenangi dan disenangi.Orang yang paling aku benci dari kalian adalah yang suka mengadu domba,yang memisahkan antar orang yang saling mengasihi, dna mencari-cari aib orang yang bersih."

Keraguan,rendah diri dan membelenggu diri dalam satu hal persoalan tanpa cita-cita itu hanya akan membuat manusia gelisah dan hilang keseimbangan.

 

Hikmah dari Cangkir yang Cantik

                         

Seperti itulah Tuhan membentuk kita. Ibarat sebuah cangkir yang cantik. Pada saat Tuhan membentuk kita mengarungi hidup ini, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara Tuhan untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila anda jatuh kedalam berbagai cobaan, sebab anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan kekuatan. Biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya and
a menjadi sempurna dan utuh, tidak kura
ng suatu apapun.

Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan berkecil hati. Karena Dia sedang membentuk anda. Proses pembentukannya memang menyakitkan dan membuat penderitaan. Namun, percayalah, setelah semua proses itu selesai, anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan menghasilkan anda.


—————————————————————————————————————————

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja ke sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, itu cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara. “Terima kasih untuk perhatiannya. Perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang perajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda
berputar.


Kemudian ia mulai memutar-mutar hingga aku merasa pusing. Stop! stop! Aku berteriak, tetapi orang itu berkata, “Belum!” Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! stop! Teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata, “Belum!
Akhirnya, ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir selesailah penderitaanku. Oh, ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! stop! Aku berteriak.

Wanita itu berkata, “Belum!” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong! Hentikan penyiksaan ini!
Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi, orang itu tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya karena di hadapanku berdiri cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang
l
alu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Teman, seperti itulah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan dan banyak air mata. Tetapi, itulah cara mengubah kita agar menjadi cantik dan memancarkan
kemuliaan-Nya.


Teman, anggaplah sebagai kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai cobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna, utuh, dan tak kekurangan suatu apapun.

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati karena Tuhan sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan itu memang menyakitkan, tetapi setelah semua proses itu selesai Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk Anda.


 

Bila Aktivis Dakwah Jatuh Cinta

Sobat muda muslim, ternyata cinta juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah penampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

Hudzaifah.org – Di mana aja, kapan aja, dan siapa aja dijamin nggak akan bisa lolos dari serangan virus yang satu ini. Bukan DBD, Flu Bu-rung, atau Worm. Tapi virus yang kekuatannya bisa bikin sang pejuang mati-matian ngapalin lagu melankolis First Love-nya Nika Costa atau Shoulder to Cry On-nya Tommy Page. Meski nilai bahasa Inggris di raport-nya delapan ngakak alias 3! Pede banget kan?

Yup. Virus yang dikenal dengan julukan virus merah jambu (VMJ) pembangkit rasa cinta ini kagak ada matinya. Malah mungkin kita berharap nggak mati-mati. Coz, hidup kita bakal terasa garing bin monoton tanpa kehadiran cinta. Baik
cinta kepada yang Maha Pencipta maupun kepada lawan jenis. Ali bin Abdah berkata, tak mungkin seseorang menghindar dari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras, atau tidak mempunyai gairah. Maka berbahagialah orang-orang yang masih bisa mencintai dan dicintai. Ciee .Aa Gym banget neh!

Bener sobat, nggak lengkap rasanya jadi manusia kalo kita nggak bisa mencintai dan dicintai. Karena ini fitrah. Jadi wajar aja kalo virus ini merajalela mencari mangsa di setiap kesempatan. Maka di kalangan selebritis dikenal istilah cilok alias cinta lokasi
. Sebutan untuk pasangan seleb yang terlibat jalinan asmara karena sering ketemu di lokasi syuting.

Ssttt .jangan bilang-bilang ya. Ternyata di kalangan aktivis dakwah juga ada cilok lho. Hah?! Masa sih? Beneran. Cuma di kalangan jilbaber en jenggot simpatik ini, cilok
berubah menjadi CBSA. Mentang-mentang mayoritas pelajar. Do you know CBSA? Ini nih: Cinta Bersemi Saat Aktif. (ehm..ehm..KLBK euy!) Tapi jangan salah, meski Cilok dan CBSA sama-sama mengandung unsur cinta, tapi keduanya tetep beda. Kalo CBSA, lebih terjaga dari kontaminasi. Sementara cilok lebih kepada cinta yang ternodai. Ups!

So, kalo kamu pengen tahu lebih banyak tentang CBSA, kamu bisa tanya guru SD masing-masing. Tapi, kalo penasaran ama CBSA, kamu dah bener kalo baca Studia kali ini. Yuuuuk!

ROMANTIKA AKTIVIS DAKWAH
Sobat muda muslim, kalo mengamati pergaulan para aktivis dakwah mungkin ada beberapa pertanyaan yang mampir di benak kita. Apalagi keseharian mereka yang gaul ama sesamanya. Cewek ama cewek. Cowok ama cowok. Kesannya antilawan jenis banget. Apa mereka steril dari rasa cinta? Apa yang ada dalam benak mereka cuma dakwah doang? Apa menjadi aktivis dakwah kudu punya antivirus untuk menghadang VMJ? Apa-apanya dong eh, kok jadi lagu sih?

Nggak usah dibikin pusing, sampe nyanyiin lagu Nek Titik Puspa gitu. Para aktivis dakwah itu sama aja kayak kita. Sejenis manusia yang punya rasa cinta. Cuma bedanya, mereka nggak show of forces untuk urusan ini. Apalagi sampe deklarasi segala di acara reality show Katakan Cinta atau Playboy Kabel. Nggak lah yauw. Mereka punya prinsip yang bagi sebagian orang terdengar aneh dalam hal pengungkapan rasa cinta. Anti-pacaran en nggak phobi ama nikah dini. Catet ya!

Nah, masalahnya, kita sering bertanya-tanya, gimana mungkin bisa terjalin rasa cinta di antara mereka kalo mereka sendiri anti-gaul bebas. Bukankah gaul bebas itu terbukti
menjadi media subur untuk memupuk rasa cinta kepada lawan jenis? Eit, jangan salah. Nggak gaul bebas bukan berarti nggak berinteraksi dengan lawan jenis. Emangnya penghuni dunia dakwah cuma satu jenis? Tetep, aktivitas dakwah juga mengharuskan mereka berhubungan dengan lawan jenis. Apalagi yang tergabung dalam sebuah organisasi. Kudu ada konsolidasi dakwah. Inget-inget tuh!

Sebagai aktivis dakwah, tentu konsolidasi itu mengharuskan pihak ikhwan (muslim) menjalin kerjasama dengan para anggota diva alias divisi akhwat (muslimah). Saling tukar informasi. Rapat bulanan untuk evaluasi kinerja dakwah sekaligus planning untuk masa mendatang. Sampe tergabung dalam kepanitiaan acara. Dan nggak mungkin kegiatan kayak di atas dilakukan tanpa adanya pertemuan. Walau mungkin rapat bisa aja pake fasilitas teleconference. Tapi itu pasti bakal menyedot banyak biaya. Bisa-bisa acaranya nggak jadi digelar gara-gara nggak ada biaya. Berabe kan?

Nah, dari seringnya pertemuan itulah bisa menyita perhatian khusus antar aktivis. Meski nggak terungkap, VMJ tengah mengamati mangsa yang hendak diburu. Satu sama lai
n
saling menyimpan rasa kagum. Dari sinilah tumbuh perasaan simpati, empati, yang seterusnya bisa bikin jatuh hati. Walau hanya tersimpan rapi dalam diary atau menghiasi relung hati. Intinya, malu-malu tapi mau!

Proses tumbuh dan mewabahnya VMJ di kalangan aktivis, nggak jauh beda dengan cilok
ala seleb. Cinta bersemi saat aktif dalam dakwah. Makanya kita nggak usah ragu bin worried untuk jadi seorang aktivis dakwah. Pergaulan mereka yang terkesan anti-lawan jenis, hanya salah satu cara buat nunjukkin kalo Islam juga punya aturan maen dalam pergaulan. Justru kita kudu bangga jadi aktivis. Karena untuk urusan jodoh, Allah bakal ngasih pasangan hidup yang qualified buat para aktivis pengemban dakwah yang istiqomah.

Firman Allah Swt:

ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซูŽุงุชู ู„ูู„ู’ุฎูŽุจููŠุซููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซููˆู†ูŽ ู„ูู„ู’ุฎูŽุจููŠุซูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู„ูู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจููˆู†ูŽ ู„ูู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang (baik) pula. (QS an-Nur [21]: 26)

MENGENDALIKAN RASA CINTA
Sobat muda muslim, nggak salah kalo cinta bisa mendera siapa aja. Termasuk para aktivis dakwah. Tapi tetep kita kudu waspada ama VMJ ini. Soalnya orang bisa berubah karena kasmaran. Yang pasti nggak berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Tapi perubahan yang lambat laun nampak dalam diri kita. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin menuliskan komentar sejumlah orang tentang pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.

Di antaranya sebagai berikut: Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah.

Nah, lho? Ternyata cinta bukan cuma Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki seperti kata Sheila On Tujuh. Tapi juga merupakan ujian sekaligus cobaan buat orang shaleh, ahli ibadah, termasuk aktivis dakwah. Kok bisa? Iya, karena cinta nggak cuma bisa mengubah penampilan aja. Dia juga bisa membelokkan niat yang udah lurus. Komitmen dakwah bisa berubah. Aktivitas dakwah yang awalnya diniatkan untuk mendapat ridho Allah bisa terkontaminasi saat VMJ meradang. Ini yang kudu diwaspadai.

Tentu kita nggak pengen dong, aktivitas dakwah kita yang mulia jadi kacau-beliau gara-gara kita terpana pesona cinta. Makanya kita kudu pandai mengendalikan rasa itu. Seperti kata dokter, mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk urusan cinta juga sama. Lebih baik kita mencegah aktivitas yang bikin VMJ meradang. Ada dua hal yang bisa kita jalanin sebagai langkah pencegahan (kayak 3M DBD aja neh!).

Pertama, dari dalam diri kita. Di sini kita kuatkan benteng pertahanan dari serangan rasa cinta yang membabi buta. Caranya, rajin puasa sunat. Rasulullah menganjurkan pemuda-
pemudi untuk berpuasa sebagai satu perisai takwa. Perbanyak membaca al-Quran, shalat tahajjud, dan berdzikir kepada Allah saat godaan itu datang. Perbanyak juga doa kita kepada Allah. Minta kepada-Nya biar kita dijauhin dari perbuatan yang haram, minta juga kepada-Nya biar kita dikasih jodoh yang qualified dunia-akhirat. Mau dong?

Kedua, dari luar diri kita. Ini juga nggak kalah pentingnya. Faktor lingkungan gampang banget meluluhlantakkan pertahanan yang kita bangun. Itu sebabnya, kita kudu bisa menata lingkungan sekitar kita. Misalnya, meminimalisasi pertemuan dan komunikasi dengan lawan jenis. Walau itu untuk konsolidasi dakwah. Sorry, bukannya mo ngerecokin, cuma kita khawatir, jiwa muda kita tak kuasa meredam gejolak rasa cinta itu. Kita juga bisa gaul ama temen-teman yang bisanya nggak cuma manas-manasin doang. Tapi mampu membantu kita menjaga izzah alias harga diri. Sehingga kita bisa belajar menundukkan pandangan. Baik terhadap para macan (makhluk cantik) mau pun terhadap media syerem yang bisa memacu adrenalin kita.

Kita kudu nyadar kalo seorang aktivis dakwah sering jadi panutan dan teladan bagi orang lain. Nggak cuma Allah yang mengawasi tiap omongan ama tingkah lakunya, tapi juga umat. Gimana jadinya kalo pas ngisi pengajian begitu bersemangat bilang pacaran itu haram. Tapi, pas doi lagi kasmaran, perilakunya nggak beda ama aktivis pacaran. Apalagi pake ngeles dengan istilah pacaran islami. Idiih malu ama umat tuh! Firman Allah Swt: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS ash-Shaf [61]: 3)

MENENTUKAN PRIORITAS
Sobat muda muslim, kalo kamu udah bisa atau minimal lagi belajar mengendalikan rasa cinta, sekarang kamu udah pantes buat belajar menentukan prioritas. Karena untuk urusan ekspresi cinta, Islam cuma mengatur dua tahap. Khitbah dan nikah. Nggak ada lagi. Masalahnya, kadang para aktivis dakwah yang mayori-tas pelajar terbentur dengan banyak hal sampe kerepotan memilih satu di antara dua pilihan itu. Kalo pun ada yang berani, lebih didominasi faktor emosi. Bisa jadi was-was sang target disamber duluan ama yang laen (Emangnya bis kota maen serobot?)

Kalo mau khitbah dulu, kecil kemungkinan bisa bertahan sampe kamu lulus sekolah atau kuliah terus dapet kerja. Bawaannya pasti pengen segera ijab qabul. Padahal, segala kebutuhan keuangan masih disubsidi penuh ama ortu. Bakal berabe ke depannya. Perhatian kamu bakal terpecah. Antara beresin kuliah atau matengin rencana nikah. Bisa-bisa nggak
optimal dua-duanya. Padahal kehidupan rumah tangga bakal menuntut suami untuk mencari nafkah materi. Nggak cuma bermodalkan cinta. Sementara ijazah pendidikan pun adakalanya punya peranan bagi sang suami demi memperoleh nafkah.

Nah, kalo udah gini bagusnya kita pusatkan perhatian pada aktivitas tholabul ilmi yang lagi digeluti. Biar masa depan juga terbingkai dengan rapi. Tapi, bukan berarti kita
ngelarang kamu mikirin soal nikah lho. Nggak. Silakan aja kalo kamu mau mulai mempelajari soal pernikahan lebih dalam. Karena terpancing ama senior yang bilang nikah itu nikmat, indah dan ibadah, misalnya. Tapi kamu kudu siap hadapi risiko yang bakal menyedot perhatian kamu. Berani ambil risiko? Pikirkan dengan mateng!

Oke deh sobat. Kita percaya kamu-kamu bisa mengambil pilihan dengan bijak. Jangan sampe CBSA bikin aktivitas dakwah kamu kendor. Catet, sekali lagi kita ngingetin, dakwah itu untuk mendapat ridho Ilahi. Bukan karena orang yang dikasihi. Dan jangan takut keduluan, karena jodoh masing-masing nggak akan kelayapan. Oke? Tetap semangat!
 

Pikirkan Apa yang Akan Engkau Perbuat Hari Ini Saja

"Sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya."

                                                 Janganlah mereka mengira bila kebaikan itu

                                      tidak ada keburukan setelahnya.

                              Jangan pula mereka enyangka bila keburukan itu

                                      seperti pukulan yang terus membekas

 

Seseorang yang telah hidup bahagia mengatakan,

           "Hari yang indah adalah hari ketika kita berhasil menguasai dan mengontrol dunia,bukan sebaliknya. Dan hari yang indah adalah hari ketika kita sanggup mengarahkan nafsu dan keinginan kita, serta kita tidak jatuh terpedaya olehnya.

            Hari-hari tersebut selalu kuingat dan tidak bisa aku lupakan. Di anatara hari-hari tersebut adalah :

            Sebuah hari yang bisa menguasai diriku dan keluar dari segala bentuk keraguan adalah hari yang amat sangat indah.

           Indahnya sebuah hari dimana aku sempat bimbang antara akan melakukan suatu perbuatan yang karenanya orang lain memujiku dan amalan yang tak bakal mendatangkan pujian serta tak diketahui oleh seorang pun, tetapi aku lebih memilih untuk mengabaikan pujian orang lain itu dan kemudia mengerjakan amalan yang tidak diketahui orang lain.

           Indahnya sebuah hari ketika kantongku penuh dengan uang dan dihatiku tidak ada kedermawanan, tetapi aku kemudian lebihmemeilih untuk tidak punya apa-apa daripada hatiku hampa.

          hari-hari tersebut indah. Dan yang paling indah, adalah manakala bagianku pada hari itu sangat sedikit,tetapi ia memberitahuku akan sejauhmana kemampuanku dalam mengerjakan apa yang aku kerjakan. Dengan begitu bagian yang sedikit pun, alhamdulilah terasa banyak."

 

Bahagialah dengan apa yang engkau peroleh, terimalah dengan senang hati segala pemberian Allah, dan abaikanlah mimpi-mimpi yang tidak sesuai dengan kadar dan kemampuanmu."

Mengadulah Pada Kekasihmu

Ketahuilah,bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah suatu permainan. (QS Al Hadiid, 57:20)

Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis ( QS. An Najm, 53:43)

Sahabat, kita ini sesungguhnya sedang bermain dalam sebuah panggung kehidupan yang diciptakanNya.Dengan berbagai peran,keadaan, dan penjiwaan.

Peran apa yang sedang engkau mainkan? Seorang yang kaya ataukah miskin? Kaya jiwa ataukah harta? Miskin harta ataukah bathin? Seorang insan yang penuh duka ataukah seorang hamba yang senantiasa ceria dan bahagia? Suatu ketika kita akan tertawa,dan lain waktu kita juga akan dipaksa menangis.Masya Allah, itulah Kuasa-Nya Allah. (Subhanallah,walhamdulilah,walaailaa ha ilallah,Wallaahu Akbar)

Duahai yang sedang dilanda duka,La tahzan wala takhof,janganlah sedih dan janganlah takut.Allah SWT berfirman:

Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci kepadamu. (QS. Ad Dhuha, 93:3)

Dekati Dia ...

Bukankah dengan Sifat Maha Penyayang-Nya engkau sebut Dia yang Tersayang? Bukankah dengan Sifat Maha Pengasihnya engkau sebut Dia Sang Kekasih?! Mengadulah Pada Kekasihmu!

Dia akan menguatkan jiwamu,meneteramkan qolbumu.Dia sebaik-baiknya penolong.Sebaik-baik pelindung. Percayakan semua pada-Nya karena dalam cinta,harus ada kepercayaan. Ucapkan padaNYa, "Yaa habibi ... wahai Kekasihku, aku ingin mengadu padaMu."

Dengan kelebutan-Nya, Ia berfirman :

Bangunlah untuk shalat di malam hari. 9Yaitu seperduanya atau kurang dari padanya sedikit.Atau lebih atasnya. (QS. Al Muzzammil, 73:2-4)

Shalatlah dengan penuh rasa cinta dan kerinduan. Itu akan membutmu khusyu’. Kemudian tumpahkanlah segala yang menyesakkan dadamu. curahkan segala isi hatimu,gundah gelisahmu,sampaikan semua pada-Nya. Dengan ungkapan pilu, ataupun didirngi tangisan yang lembut. Karena sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pendengar.

Dan Berdoalah dengan penuh harap,rendah diri, dan suara perlahan. Seperti do’a yang diajarkan-Nya.:

Rabbi adkhilni mudkhala sidqi-wa akhrijnii mukhraja sidqin-waj ’al lii min-ladunka sulthaanan nashiraa.

Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar keluarkanlah(pula) akan secara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong . (QS. Al Israa, 17:80)

Ataupun doa-doa lain yang menjadi keinginan. Hantarkan ia dengan bahasa yang mudah bagimu, dan jangan pernah merasa sunkan.

Rasullulah s. a. w. bersabda:

Sesungguhnya Raabmu itu pemalu lagi pemurah, merasa maulu apabila tidka mengabulkan do’a kepada hamba-Nya yang mengangkat  kedua tangannya untuk berdoa lalu dikembalikan kosong. ( HR. Muslim )

Nah, bagaimana keadaanmu sekarang? Terasa ringan, bukan ? Insya Allah. Dan saat-saat yang indah bersama-Nya ini takkan pernah kau lupakan. Di mana engkau akan senantiasa rindu dan ingin selalu menjumpai-Nya. Jika tak bertemu sehari saja. ada sesuatu yang hilang. Dia pun semakin sayang dan cinta padamu.

Sesungguhnya, Sang Kekasih itu senntiasa ada bersamu, tak pernah jauh. Dia begitu dekat, sangat dekat. Mampukah engkau menangkap keberadaan-Nya?

Dia ada disini ... melihat aku menulis untukmu.

Dan melihatmu ... yang kini sedang meresapinya.

Dengarkanlah bisik qalbumu ... dan engkau pun akan merasakannya ... 

 

Kunci Kebahagiaan Adalah Sujud

"Sesungguhnya jalan keluarr itu datang bersama persoalan." 

 

Bagiku,kebahagiaan bukanlah tumpukan harta 

Melainkan orang bertakwalah yang paling bahagia

 

Lembar kebahagiaan pertama dalam buku agenda harian dan kartu pertama dalam jadwal kegiatan sehari-hari adalah Shalat Subuh.Maka,mulailah hari-harimu dengan Shalat Subuh dan awailah semua kegiatanmu dalam setiap hari dengan Shalat Subuh.Dengan begitu,engakau akan selalu berada dalam jaminan Allah,ikatan perjanjian dengan-Nya,perlindungan-Nya,pengawasan dan pengaman-Nya.Allah pun akan senantiasa memeliharamu dari segala keburukan,menuntunmu pada kebaikan dan membawamu pada keutamaan.Sungguh,berkah Allah tidak akan turun pada hari-hari yang tidak diawali dengan Shalat Subuh dan Allah tidak akan menghidupkan sebuah hati yang tidak dimulai dengan Shalat Subuh.

Shalat Subuh merupakan tanda pertama diterimanya seorang hamba disisi  Allah,judul pembuka buku keberhasilan dan sisi penting dari sebuah kemenangan,kemualiaan,kemapanan, dan keberhasilan.Maka,selamat bagi mereka yang senanatiasa melaksanakan Shalat Subuh dan celakalah mereka yang tidak memulai hari-harinya dengan Shalat Subuh.

 

 

Wanita Seperti Apa yang Kau Cari Akhi ?

Untuk segala sesuatu, Allah telah menciptakan berpasang-pasangan. Tumbuhan, pepohonan, bunga-bunga, Allah ciptakan dengan keserasian dan keseimbangan. Binatang-binatang memiliki pasangan dari jenisnya, dimana mereka bisa saling melengkapi satu dengan yang lainnya dan bisa mengembangbiakkan keturunan.

Demikian pula manusia, Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sangat indah, dan untuk mereka Allah ciptakan pasangannya. Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya dengan perasaan dan kecenderungan alamiyahnya perempuan merasakan kesenangan tatkala didekati laki-laki.


 Allah SWT berfirman, Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladangâ€ย (QS. Ali Imran: 14).

Untuk merealisasikan ketertarikan tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar dan manusiawi, Islam datang dengan membawa ajaran pernikahan. Sebuah ajaran suci yang menampik kehidupan membujang di satu sisi, namun juga menampik kebebasan interaksi laki-laki dan perempuan di sisi yang lain. Nikah adalah jalan tengah yang membentang antara dua ekstrem tersebut.


Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya. Dalam memilih jodoh, pikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan calon jodoh tersebut, dipertimbangkan juga kemaslahatan secara luas. Selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah: apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? Walaupun dalam hadits Rasulullah SAW jelas disebutkan bahwa dalam memilih istri hendaknya mengutamakan akhlak dan agamanya, namun kenyataannya sekarang banyak ikhwan yang lebih mendahulukan kecantikan dibanding agama. Apakah memilih wanita cantik dilarang? Tidak. Itu juga sah-sah saja. Namun hendaknya kriteria cantik ini tidak membuat kita lupa akan kriteria akhlak dan agamanya.

Mari saya beri contoh berikut. Diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap nikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula dengan tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian usia berusia 25 hingga 30 tahun, dan yang lainnya dibawah 25 tahun. Mereka ini siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai ibu di rumah tangga.

Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang akan anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih?

Ternyata anda memilih si A, karena ia memenuhi kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, pandai dan usia masih muda 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda ini salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! Anda telah memilih calon istri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasullah saw bertanya kepada Jabir ra:

Mengapa tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu? (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra: Wahai Rasullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut, kata Jabir, Benar katamu, jawab Rasullah.

Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan apabila menikahi gadis perawan.

Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon istrinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia lima tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau diatas 30 tahun, atau bahkan diatas 35 tahun?

Cantik Tapi…

Sebagaimana yang sudah kita dengar dan baca, bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Terlebih lagi wanita yang telah Allah ciptakan dalam keadaan bengkok. Secara kodrat, mereka lebih banyak kekurangan dan kelemahan dibandingkan pria, sebagaimana sabda Rasullah, …Tidaklah aku melihat orang yang kurang akal dan kurang agama lagi potensial melemahkan laki-laki yang kuat selain salah seorang dari kalian (para wanita)…
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hal demikian menuntut para lelaki untuk lebih banyak mengerti wanita, juga lebih bisa memahami kekurangan mereka. Menyangkut kekurangan ini, bukanlah hal yang aneh bila ada wanita yang secara fisik cantik tapi pemboros, atau abid (ahli ibadah) tapi tak bisa memasak, atau ahli memasak tapi pencemburu berat, dan lainnya. Yang demikian itu adalah biasa. Hampir terjadi dan ada pada setiap wanita.

Bagi anda para bujangan, wanita mana yang akan kau pilih, semua tergantung pada anda. Pada dasarnya ini menyangkut kriteria utama anda yang anda tetapkan dan kekurangan-kekurangan yang masih bisa anda toleransi. Tentunya setiap ikhwan berbeda-beda satu ikhwan mungkin menjadikan kecantikan sebagai standar utama, tak peduli bisa masak atau tidak, sementara ikhwan lain mugkin lebih mengutamksn ibadahnya dan tak peduli kekurangan–kekurangan yang lainnya, dan seterusnya. Yang jelas tak ada wanita di dunia ini yang sempurna seratus persen. Pasti ada saja kekurangannya. Ini hal pertama yang hendaknya dipahami betul.


Kalau Bisa Seperti Nabi…

Kalau kita sedikit menengok sejarah nabi, bagaimana beliau memperistri wanita atau kriteria wanita atau kriteria yang ditetapkan oleh beliau bagi wanita yang menjadi isterinya, maka akan kita dapati nabi lebih mengutamakan agama dan akhlaknya dibanding fisiknya. Itupun masih didasari pada manfaaat dan madharatnya bagi perkembangan Islam. Itulah mengapa Rasulullah hanya menikahi satu wanita yang masih perawan, yaitu Aisyah ra. Sedangkan yang lainnya para janda yang pada umumnya sudah tua. Pelajaran yang bisa kita ambil dari pernikahan Rasulullah ini, bahwa agama hendaknya dijadikan patokan utama dalam memilih seorang wanita, agar nantinya rumah tangga bahagia dunia dan akhirat.

Bagi para Akhwat yang belum memiliki suami, semestinya anda terus menggali potensi untuk meningkatkan kualitas diri. Adapun tuntunan dari Rasulullah agar menjadi seorang wanita pilihan:


1. Taat

Seorang gadis yang biasanya taat kepada orang tua, akan mudah taat pada suami ketika menikah nanti.

2. Enak Dipandang


Tidak harus cantik, dengan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya seorang wanita akan membuat senang suaminya.

3. Cinta dan Pasrah

Seorang pria tentu berharap mendapat seorang istri yang mampu mencintai sepenuh hati dan bersikap pasrah. Wanita yang dalam berbuat dan bertingkah laku selalu berupaya menyenangkan suami dam menjauhi hal-hal yang mendatang kebenciannya.

4. Suka membantu

Wanita shalihah adalah yang selalu mengajak suaminya pada kebaikan agama dan dunianya. Bukannya memberatkan, namun justru mengingatkan suami untuk selalu berlaku taat pada Allah SWT, serta memberikan saran dan pendapat demi kemajuan sang suami.

Walaupun kita tidak mendapatkan pasangan ketika di dunia, tetapi kalau kita ahli ibadah Insya Allah akan mendapatkan pasangan ketika di akhirat kelak. Amien… []

(Dari berbagai sumber)


Hari-Hari Penantian 

Bagi seorang gadis, ada masa penantian yang acapkali menimbulkan suasana rawan, menanti jodoh. Padahal jodoh, maut dan rezeki adalah wewenang Allah semata. Tak ada sedikitpun hak manusia untuk mengklaim wewenang tersebut. Tapi, watak manusia terkadang lupa dengan janji Allah. Apalagi bila lingkungan sekitarnya terus menerus memburunya untuk menikah, sementara jodoh yang dinantikan tak kunjung tiba. Dalam keadaan demikian, kerap muncul bermacam efek yang dapat membahayakan dirinya.

Seorang wanita akan dianggap dewasa bila ia telah mengalami menstruasi. Islam mencatat masa ini sebagai masa awal mukallafnya seorang wanita. Yang perlu diketahui, wanita sekarang menjadi akil baligh jauh lebih cepat dibanding masa dahulu. Dua puluh tahun yang lampau, wanita paling cepat mengalami menstruasi pada usia 15 tahun. Namun pada masa ini, tak jarang wanita mulai mens pada usia 11 tahun. Akibatnya, kedewasaan wanita terhadap masalah-masalah perkawinan akan meningkat secara cepat.


Keresahan mulai melanda tatkala usia sudah merangkak naik, tapi calon suami tak kunjung datang. Tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seseorang yang sudah dianggap sebagai teladan dilingkungannya. Ada muslimah-muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara walimah ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Ada juga yang bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Ia akan melakukan berbagai hal agar "terlihat", berkomentar hal-hal yang nggak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki (ikhwan) yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema "ikhwan" pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.

Data yang terlihat dibeberapa biro jodoh juga menambah daftar panjang fenomena yang menggambarkan betapa kaum Hawwa sangat dihantui masalah-masalah rawan yang membuat kita berpikir panjang dan harus segera dicarikan jalan keluarnya.


Tentang hal diatas, Al quran dengan apik mengisahkan ketidakberdayaan seorang wanita menghadapi masa penantian. "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali ..." (QS. An Nahl:92).

Pernikahan memang bukan fardhu. Tidak ada dosa atas seseorang yang tidak menikah selama ia memang tidak menentang sunnah Rasul ini. Jadi, sekarang atau nanti kita menikah, bukanlah problem utama. Yang terpenting adalah bagaimana mengisi masa-masa penantian ini dengan hal-hal yang positif ataupun aktifitas yang berkenaan dengan persiapan pra nikah.


Persiapan berawal dari hati. Kebersihan hati akan membuat seseorang tenang dalam melangkah. Istilah "perawan tua" tidak akan menggetarkan perjalanannya dan membuat dia berpaling dari jalan dakwah. Kalaupun tak berjodoh di dunia, bukankah Allah akan menggantikannya di akhirat kelak sesuai dengan tingkatan amalnya?

Kebersihan hati juga akan sangat menentukan sikap qonaah (ikhlas menerima dan merasa cukup) terhadap pemberian Allah. Sehingga ia dengan senang hati menerima, jika sekiranya Allah memberinya jodoh seseorang yang secara fisik (selain agama) tidak sesuai harapannya, agar tidak kaget melihat standar kebahagiaan yang diluar bayangannya.


Orang tua dan keluarga juga perlu dikondisikan, agar mereka tidak menyalahkan Islam. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa jilbab adalah yang selama ini menjadi penghalang anaknya tidak mendapatkan pasangan.

Selain itu, bersabar dan berdoa nampaknya merupakan kunci mutlak untuk menstabilkan moral (akhlaq). Dengan kesabaran, ada pintu-pintu yang terbuka yang barangkali tak terlihat ketika kita sedang sempit dada. Dengan doa, ada jalinan mesra dengan Sang Pemilik. Mungkin tidak saat itu juga doa-doa kita akan segera dikabulkan, tetapi bukankah doa adalah ibadah? Jadi, semakin banyak doa terucap, semakin banyak pula ibadah dilakukan.

Buat para muslimah yang baru saja menikmati keindahan meneguk bahtera rumah tangga, tampaknya ada sikap yang harus dilakukan untuk menjaga perasaan muslimah yang belum menikah. Istri-istri baru itu, biasanya senang
"mengompori". Sebenarnya sikap ini sah-sah saja, agar tampak bukti bahwa menikah tanpa pacaran, menikah dalam rangka dakwah adalah "pengorbanan" yang menyejukkan. Tapi jika hanya sekedar memanasi tanpa solusi, sebaiknya sikap seperti itu ditahan. Apalagi jika si muslimah
itu tidak siap dengan cerita-cerita seputar nikah itu, bisa jadi akan memedihkan perasaannya.


Namun demikian, lain halnya dengan muslimah-muslimah yang bandel, yang dengan berbagai alasan kerap menolak untuk menikah meski seharusnya sudah siap. Baik tuntutan dakwah maupun tuntutan lainnya.

Menikah adalah ibadah. Tapi, ia bukan satu-satunya ibadah. Masih banyak alternatif ibadah yang bisa dilakukan. Alangkah naifnya bila kita malah banyak membuang waktu untuk memikirkan masalah pernikahan yang tak kunjung juga teralami. Masih banyak pekerjaan dan hal lain yang membutuhkan penyaluran potensi kita. Mumpung masih gadis, optimalkanlah potensi diri. Karena kelak, jika kesibukan menjadi istri dan ibu menghampiri kita, waktu untuk menuntut ilmu, menghapal ayat Quran dan hadits, bahkan untuk bertemu Allah di sepertiga malam, tentu saja akan berkurang. Nah, kenapa tidak kita optimalkan sejak sekarang?

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar" (QS 3:142)



 

โ€œDoa Seorang Akhwatโ€

Inilah goresan pena dari sang akhwat yang mendambakan ikhwan sholeh, yang bisa bersama untuk mencintai Mu Ya Robbi dan mencintai Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam.
Yaa……Rabbi……..
Aku berdoa untuk seorang ikhwan yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sangat mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang yang akan meletakkanku pada posisi di hatinya setelah Engkau dan Muhammad shallahu’alaihiwasalam
Seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk-Mu dan orang lain
Wajah, fisik, status atau harta tidaklah penting
Yang terpenting adalah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
Dan berusaha menjadikan sifat-sifat baikMu ada pada pribadinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup
Sehingga hidupnya tidak sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak, tidak hanya otak yang cerdas
Seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tapi juga menghormatiku

Seorang yang tidak hanya memujaku, tetapi juga dapat menasehatiku
Seseorang yang mencintaiku bukan karena fisikku, hartaku atau statusku tapi karena Engkau
Seorang yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang membuatku merasa sebagai wanita shalehah ketika aku berada di sisinya
Seseorang yang bisa menjadi asisten sang nahkoda kapal
Seseorang yang bisa menjadi penuntun kenakalan balita yang nakal
Seseorang yang bisa menjadi penawar bisa
Seseorang yang sabar mengingatkan saat diriku lancang
Ya..Rabbi……
Aku tak meminta seseorang yang sempurna
Hingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya

Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya lebih hidup
Aku tidak mengharap orang yang semulia abu baker Radhiyallahu,
Atau setaqwa umar Radhiyallahu, pun setabah Ustman Radhiyallahu,
Ataupun sekaya Abdurrahman bin auf Radhiyallahu, setegar zaid Radhiyallahu
Juga segagah Ali Radhiyallahu, apalagi setampan usamah Radhiyallahu.
Aku hanya mengharap seorang ikhwan akhir zaman,

Yang punya cita-cita mengikuti jejak mereka,
Membangun keturunan yang sholeh,
Membangun peradaban,
dan membuat Rasulullah shallahu’alaihiwasalam bangga di akhirat

Karena aku sadar aku bukanlah semulia Fatimah Radhiyallahuanha, tidak setaqwa Aisyah Radhiyallahuanha ,Pun tidak secantik Zainab Radhiyallahuanha, apalagi sekaya Khodijah Radhiyallahuanha.
Aku hanyalah seorang wanita akhir zaman
yang punya cita - cinta
Ya…..Rabbii …….

Aku juga meminta, Jadikanlah ia sandaran bagiku
Buatlah aku menjadi akhwat yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sepenuh jiwaku
Berikanlah sifat yang lembut, sehingga auraku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga aku mampu berdoa untuknya

Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak kebaikan dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
Mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat
kokohnya benteng tidak bisa dibangun dalam semalam, namun bisa hancur dalam sedetik
Kota Baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap
Dan bilamana akhirnya kami berdua bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
” Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang
dapat membuat hidupku menjadi sempurna”.
Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan…
Amiiiin…


 

Kisah Bidadari Surga

Hiks...  

Siapkan tissue untuk membaca kisah ini  ......  

 

Semoga menjadi hikmah, selamat membaca

 

Namanya Aini. begitu ummi biasa memanggilnya. Salah satu "adik" terbaik yang pernah ummi miliki, yang pernah ummi temui dan alhamdulillah Allah pertemukan ummi dengannya. 

 

Seharusnya 28 Januari lalu genap ia menginjak usia 37 tahun. Beberapa tahun bersamanya, banyak contoh yang bisa ummi ambil darinya. Kedewasaan sikap, keshabaran, keistiqomahan, dan pengabdian yang luar biasa meretas jalan dakwah ini. Seorang muharrik dakwah yang tangguh dan tak pernah menyerah. Sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa dan memiliki khusnuzon yang teramat tinggi kepada Allah. Dan dia adalah salah satu amanah ummi terberat, ketika memang harusnya ia sudah memasuki sebuah jenjang pernikahan.

Ketika beberapa akhwat lain yang lebih muda usianya melenggang dengan mudahnya menuju jenjang tersebut, maka Aini Allah taqdirkan harus terus meretas keshabaran. Beberapa kali ummi berikhtiar membantunya menemukan ikhwan shalih, tetapi ketika sudah memulai setengah perjalanan proses..Allah pun berkehendak lain. Namun begitu, tidak pernah ada protes yang keluar dari lisannya, tidak juga ada keluh kesah, atau bahkan mempertanyakan kenapa
sang ikhwan begitu " lemahnya " hingga tidak mampu menerjang berbagai penghalang ? Atau ketika masalah fisik, suku, serta terlebih usia yang selalu menjadi kendala utama seorang ikhwan mengundurkan diri , Aini pun tidak pernah mempertanyakan atau memprotes " kenapa ikhwan sekarang seperti ini ?

Tidak ada gurat sesal, kecewa, atau sedih pada raut muka ataupun tutur katanya. Kepasrahan dan keyakinan terhadap kehendak Allah begitu indah terlukis dalam dirinya.

Hingga, akhirnya seorang ikhwan shalih yang dengan kebaikan akhlak serta ilmunya, datang dan berkenan untuk menjadikannya seorang pendamping. Tidak ada luapan euphoria kebahagiaan yang ia tampakkan selain ucapan
singkat yang penuh makna "Alhamdulillah..jazakillah ummi sudah membantu...mohon doa agar diridhai Allah "

Alhamdulillah , Allah mudahkan proses ta’arauf serta khitbah mereka, tanpa ada kendala apapun seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Padahal ikhwan shalih yang Allah pilihkan tersebut berusia 10 tahun lebih muda dari usianya.


Berkomitmen pada sunnah Rasulullah untuk menyegerakan sebuah pernikahan, maka rencana akad pun direncanakan 1 bulan kemudian, bertepatan dengan selesainya adik sang ikhwan menyelesaikan studi di negeri Mesir.

Namun , Allah lah Maha Sebaik-baik Pembuat keputusan..

2 minggu menjelang hari pernikahan, sebuah kabar duka pun datang. Usai Aini mengisi sebuah ta’lim , motor yang dikendarainya terserempet sebuah mobil, dan menabrak kontainer didepannya. Aini shalihah pun harus meregang nyawa di ruang ICU. 2 hari setelah peristiwa itu, Rumah sakit yang menanganinya pun menyatakan menyerah. Tidak sanggup berbuat banyak karena kondisinya yang begitu parah. 

Hanya iringan dzikir disela-sela isak tangis kami yang berada disana. Semua keluarga Aini juga sang ikhwan pun sudah berkumpul. Mencoba menata hati bersama untuk pasrah dan bersiap menerima apapun ketentuanNya. Kami hanya terus berdoa agar Allah berikan yang terbaik dan terindah untuknya. Hingga sesaat, Allah mengijinkan Aini tersadar dan menggerakkan jemarinya. Rabb..sebait harapan pun kembali kami rajut agar Allah berkenan memberikan kesembuhan, walau harapan itu terus menipis seiring kondisinya yang semakin melemah. Hingga kemudian sang ikhwan pun mengajukan sebuah permintaan kepada keluarga Aini.

" Ijinkan saya untuk membantunya menggenapkan setengah Dien ini. Jika Allah berkehendak memanggilnya, maka ia datang menghadap Allah dalam keadaan sudah melaksanakan sunnah Rasulullah..." 


Permintaan yang membuat kami semua tertegun. Yakinkah dia dengan keputusannya ?

Dalam kedaaan demikian , akhirnya 2 keluarga besar itupun sepakat memenuhi permintaan sang ikhwan.

Sang bunda pun membisikkan rencana tersebut di telinga Aini. Dan baru kali itulah ummi melihat aliran airmata mengalir dari sepasang mata jernihnya. 


Tepat pukul 16.00, dihadiri seorang penghulu,orangtua dari 2 pihak, serta beberapa sahabat dan dokter serta perawat...pernikahan yang penuh tangis duka itupun dilaksanakan. Tidak seperti pernikahan lazimnya yang diiringi tangis kebahagiaan, maka pernikahan tersebut penuh dengan rasa yang sangat sulit terlukiskan. Khidmat, sepi namun penuh isakan tangis kesedihan. 

Tepat setelah ijab kabul terucap...sang ikhwan pun mencium kening Aini serta membacakan doa diatas kain perban putih yang sudah berganti warna menjadi merah penuh darah yang menutupi hampir seluruh kepala Aini. Lirih, kami pun masih mendengar Aini berucap, " Tolong Ikhlaskan saya....."

Hanya 5 menit. Ya..hanya 5 menit setelah ijab kabul itu. Tangisanpun memecah ruangan yang tadinya senyap
menahan sesak dan airmata. Akhirnya Allah menjemputnya dalam keadaan tenang dan senyum indah.

Dia telah menjemput seorang bidadari...

Sungguh indah karunia dan janji yang telah Allah berikan padanya...

Dia memang hanya pantas untuk para mujahidNya di Jannah al firdausi....


Dan sang ikhwan pun melepas dengan penuh sukacita dengan iringan tetes airmata yang tidak kuasa ditahannya...

" ..Saya telah menikahi seorang bidadari.. nikmat mana lagi yang saya dustakan..."

Begitulah sang ikhwan shalih mengutip ayat Ar RahmanNya...

Ya Rabb..Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan hambaMu..Maka jadikanlah kami senantiasa dapat memngambil hikmah dari setiap episode kehidupan yang Engkau berikan...

Selamat jalan adikku sayang ...engkau memang bidadari surga yang Allah tidak berkenan seorang ikhwan pun didunia ini yang bisa mendampingi kehidupanmu kecuali para ikhwan shalih yang berkhidmat di jalan dakwah dengan ikhlas,
tawadhu dan siap berjihad dijalanNya dan kelak menutup mata sebagai seorang syuhada...."

Selamat jalan Aini..semoga Allah memberimu tempat terindah di surgaNya....



(bait kenangan terakhir bersamamu; ummi tidak bisa menulis seindah tulisan2mu, tapi yakinlah ummi mengiringimu dengan indahnya do"a ...semoga Allah kumpulkan kita kelak didalam surgaNya...amiin)   



 

"BUKAN SEKEDAR WANITA BIASAโ€

De’..cariin pendamping buat kakak yaa ?? Mas Rizal udah siap nikah nih !!”, begitu tulis e-mail Mas Rizal, kakakku yang kerja di Batam kepadaku, singkat dan jelas..tapi susah !!

Sebab, aku akhir-akhir ini ngerasa jengah banget dengan kriteria macem-macem dari kakakku. Susah juga punya kakak yang bujang lapuk banget seperti dia..abis usianya sudah bisa dikategorikan tua banget, 27 tahun. Memang, menurut dia belum tua banget, abis temen-temen kakak di Batam, sama juga seperti kakak, belum ada yang nikah di usia segitu..bujang lapuk, gitu aku menyebutnya.


Padahal banyak wanita, banyak akhwat yang siap menikah dan tak urung sering mendekatiku agar dikenalkan dengan kakakku. Apalagi didukung postur tubuh dan wajah imut kakakku, yang orang lain takkan menyangka bahwa usia kakakku sudah 27 tahun, kelihatannya sih masih 20 tahunan gitu… Aku sebenarnya mau sih nyariin Kakakku, tapi..dengan kriteria seabreg yang disodorkan kakak padaku, aku jadi nggak tega nyariin buatnya. Pernah kutanya kriteria minimalnya..”Mas, ada kriteria minimalnya nggak ??, coba kusentil dengan pertanyaan seperti itu..

J
awabnya, “Minimal mirip De’ Rani aja ya ?? Tapi sepuluh kriteria yang Mas Rizal sebutin tempo hari.. minimal harus ada !! Udah yaa..Mas banyak kerjaan nih, kalo bisa dalam satu - dua bulan ini Mas Rizal nggak nelfon-nelfon lagi, dan lebaran nanti pas Mas Rizal pulang, harus ada !!”, nada perintah kakakku terdengar mantap dan jelas, aku sampe terlongong didepan telpon. Tak sadar bahwa Mas Rizal sudah menutup telpon dan mengucapkan salam.

Kubaca lagi kriteria Mas Rizal dalam e-mail yang dikirimkan padaku dua bulan yang lalu. Aku bermaksud akan mencetak e-mail mas Rizal yang panjang tentang “Sepuluh kriteria Mas Rizal itu, diantaranya adalah : Agama dan akhlaknya bagus, Menguasai Fiqh Islam, Bisa sedikit bahasa Arab (minimal Bahasa Arab Pasif, untuk memahami Al Qur’an ) ; Berjilbab ; Sabar ; Cerdas / Smart ; Harus bisa masak, terutama makanan thoyyib dan halal, minimal makanan kesukaan kakak, Sayur Sop ; Mukanya selalu ceria dan bersinar cerah ; Putih ; Tinggi ; Langsing ; dan Menguasai Teknologi (Komputer / Internet), Psikologi, Manajemen. Trus kriteria lain : Kalo bisa matanya bening, dan jernih ; punya lesung pipit yang manis ; pipinya merah delima ;
bibirnya merekah ; tubuhnya bersih (tak ada cela) ; bau badannya selalu wangi ; lehernya berjenjang ; mandiri (bisa menghasilkan uang sendiri) ; jari-jemarinya lentik ; dan bisa naek sepeda (sebab di Batam, kemana-mana musti naek sepeda !!) .. entar kalo ada yang kurang, Mas Rizal telfon ade’ lagi deh, ok ? Teman-teman ade’ khan banyak, cariin ya??” Aduuhh..aku sibuk mencari siapa yaa yang cocok untuk Mas Rizal dari kesemua teman wanitaku. Aku lelah, capek.. tanya ke Ustadzah dengan kriteria seabreg gitu..malu banget rasanya.. Mana ada wanita sesempurna seperti pilihannya.

Sepatah kalimat muncul di nokia mungilku, “De’, jangan patah semangat yaa..cariin yang terbaik untuk Mas Rizal !!”. Mas Rizal, lagi-lagi dengan sikapnya yang misterius terus mendesakku.. apakah mas Rizal bener-bener siap dengan segala kriteria yang diajukannya ?? Aku sungguh tak mengerti !! Lekas kubalas SMS singkat pula, “Mas Rizal, kalo bisa minta tolong Ustadz - ustadz Mas Rizal sendiri di Batam, yaa..?? Jangan tunggu calon dari ade’..SUSAH !!”. Terus terang, kadang aku minder banget dengan kriteria mas Rizal yang bejibun banyaknya, aku saja tak memenuhi kriterianya. Pusiiiingg !!! Ya Robb, tunjukkan hidayah bagi mas Rizal !! Itu calon Mas Rizal, kakakku satu-satunya, bagaimana juga dengan calon para Ikhwan di luar sana ?? Deuuy..tahu begini aku tak menyuruh Mas Rizal cepat-cepat nikah !! Anganku melayang kemana-mana, sebab memang aku yang mendesak Mas Rizal nikah, karena usiaku yang tak terpaut jauh darinya pun ingin segera menggenapkan setengah Dien juga. Tapi dengan permintaan Mas Rizal dan harus secepat ini ?? Tak tahulah aku !! Malam ba’da Qiyamul Lail, aku sengaja menyeleksi beberapa orang wanita atau akhwat kenalanku yang sekiranya memenuhi persyaratan ideal Mas Rizal yang kesepuluh. Pertama Si Fitri, “Semuanya cocok, tapi..ups.. dia agak tulalit orangnya, dan satu lagi ia suka latah kalo kaget, aku menggumam sendirian. Si Wati, Nita, Via, Risa..Ahh… capek.. tak ada yang memenuhi syarat kesepuluh dari Mas !! *******************************************

“Tiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt…”, terkaget aku mendengar suara jam beker memekakkan telingaku..sudah hampir subuh.. Ahh, aku ketiduran semaleman ditemani biodata teman-temanku. Bersijingkat aku dari tempat tidur, segera mengambil air wudlu.. “Alhamdulillah..”, segar pagi itu terasa sangat menyejukkan hatiku. Hampir jam tujuh pagi, sebelum menyiapkan diri untuk berangkat mengajar di sebuah SMU, aku mencari-cari catatan kriteria Mas Rizal yang kemarin sudah kucetak. Kurang sebulan lagi sudah lebaran, aku harus berusaha keras mencari data akhwat ke teman-temanku yang lain, rencanaku sepulang dari mengajar nanti. Kusimpan baik-baik alamat beberapa
teman SMU, teman kuliahku dulu, agar nanti tak kerepotan aku mencari sendiri. Aku akan minta tolong mereka juga. Ikhtiarku..

“Kring..kring..”, telfon di dekatku langsung kusambar, “Assalammu’alaikum..”, terdengar sahut salam di seberang sana, “Ini De’Rani, yaa ?? De’..ini Mas Rizal.. gimana khabarnya ?? ‘Afwan, Mas Rizal sengaja telfon pagi-pagi gini. Tadi ada acara di rumah Ustadz Mas Rizal, jadi sekalian Mas Rizal telfon ade’, pengen tahu perkembangan pencarian buat mas Rizal, yang memenuhi kriteria ada nggak ?”, intonasi suara Mas Rizal terdengar mantap dan agak riang. “Belum Mas !! ‘Afwan yaa..Ade’ ndak punya temen seperti kriteria Mas Rizal !!”, suaraku mantap. “Ya udah deh, nggak usah repot-repot..Mas Rizal nggak mau ngerepotin ade’ !”.

“Bener nih ?? Ntar ade’ nggak jadi nikah dong Mas ?? Sebab, Ibunda bilang kalo Ade’ pengen nikah, musti nunggu Mas Rizal nikah dulu, lagipula ade’ nggak mau duluan dari Mas Rizal nikahnya ??”, aku mencoba beri pengertian pada Mas Rizal. Sebab Ibundaku mulai khawatir aku menjadi perawan tua, nggak laku kawin gara-gara nunggu mas Rizal nikah.

De’, makanya ade’ nggak usah repot-repot nyeleksi akhwat untuk Mas Rizal. Insya Allah, ada khabar baik dari Ustadz Mas Rizal….”. terdiam lama mas Rizal. “Halo..mas Rizal masih disitu ?? Khabar baik apaan mas ??”, ucapku bersemangat.

“Insya Allah, permata dunia seperti kriteria Mas Rizal sudah tersedia. Dan tadi Mas Rizal udah ta’aruf dengan akhwat itu, jadi ..Mas minta Ade’ kasih tahu sama Ibunda dan Ayah, kalo dalam waktu dekat Mas mau mengkhitbah akhwat pilihan Mas Rizal, sekaligus mohon restu, agar pernikahan Mas Rizal akan diadakan secepatnya di Batam - rumah akhwat calon Mas, kalo di Jakarta, rumah kita, Mas Rizal mau aja, tapi bilang ama Keluarga, Mas Rizal mau secara sederhana saja, sebab waktu cuti kerja buat Mas Rizal cuma seminggu. Kalo Ade’ dan keluarga pengen ikut ke Batam, biayanya Mas Rizal transfer aja ke rekening ade’ dalam waktu dekat.. kasih tahu Mas Rizal yaa..?? gimana ??”.

Aku hanya bisa terpana mendengar tuturan panjang Mas Rizal, jadi..jodoh Mas Rizal sudah ada ?? “Subhanallah.. Barakallah.. Alhamdulillah, ade’ nggak repot-repot nyariin buat Mas Rizal. Mungkin, cuma Ibu ama Bapak, dan Ade’ aja yang ikut, yaa ? Keluarga besar kita ndak ikut ke Batam ?? Trus kesana pake’ uang ade’ dulu aja, entar kalo mas Rizal abis nikah, mas Rizal ganti yaa ??”, ucapku merajuk

“Ya, udah dech De’..By The Way..kriteria Abang yang kemaren itu, semuanya sudah dimiliki oleh Akhwat, calon istri pilihan Abang. Mas Rizal harap Ade’ dan keluarga nggak kaget yaa entar kalo melihat akhwat tersebut !! Ok ?? Eh, udah dulu yaa.. pulsanya jalan terus nih, entar keburu abis pulsa HP Mas Rizal..udah yaa ? Wassalammu’alaykum Wr.Wb”.

Kuletakkan gagang telfon setelah mengucapkan salam. Khabar baik dari Mas Rizal telah menemukan apa yang selama ini dicarinya, akhwat pilihan Mas Rizal, entah sempurna seperti apakah pilihan Mas Rizal, kriteria yang bejibun banyaknya yang membuatku minder, mudah-mudahan wanita, akhwat pilihan mas Rizal memang paket special dari Allah untuk mas Rizalku yang cakepnya juga diatas rata-rata..

Sujud Syukur segera kutunaikan, karena tak perlu hari ini aku berpayah-payah mencari ke beberapa temanku untuk mencari wanita spesial buat mas Rizal, karena toh akhwat itu ternyata tak jauh dari tempat Mas Rizal bekerja di Batam. **************************************

Rombongan Mas Rizal, aku, kedua orangtuaku, dan Ustadz Mas Rizal serta beberapa dari teman ikhwan Mas Rizal mendampingi Mas Rizal di hari resepsi pernikahan yang lumayan sederhana. Aku dan pihak keluarga masih belum dikenalkan oleh calon Istri Mas Rizal. Mas Rizal belum mengijinkan, sebab itu surprais dan kejutan manis buat kami sekeluarga.

Aku masih berada di belakang mas Rizal, ketika akad nikah berlangsung, akhwat-calon istri Mas Rizal masih di dalam kamar pengantinnya. Setelah resmi akad nikah dilakukan dan kedua calon mempelai dipertemukan serta melakukan sholat sunnah. Tibalah aku dipertemukan dengan istri Mas Rizal yang ternyata.. Subhanallah..Allahu akbar..

Berdegup jantungku, melihat Mas Rizal memanggilku dan kedua orangtuaku…”De’, sini deket ama Mas Rizal, sama Ibu dan Bapak yaa..Mas Rizal mau kenalin nih ama Istri Mas tercinta”, ucap Mas Rizal sambil berkedip kearah istrinya yang saat itu menggunakan gaun putih pengantin, sementara Mas Rizal mengenakan jas, serasi dengan gaun istrinya.

Mbak Izzah. De’ Rani..udah kenal ama Mbak khan di Jakarta ??”, suara lembut wanita itu singgah ke otakku. Allahu Robbi..Aku tak percaya melihat sosok wanita dihadapanku..sosok akhwat mulia yang menjadi pendamping Mas Rizal..Allahu Akbar..kiranya inilah bidadari sempurna yang diberikan Allah pada Mas Rizal di dunia, dan lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkan semua yang muncul sekilas dihatiku dan ingin segera kukatakan pada Mas Rizal. Tiba-tiba..dari sudut mataku, aku menangis terharu.. bahkan kedua orang tuaku pun demikian, tak percaya dengan wanita pilihan Mas Rizal..yang bukan hanya sempurna, tapi memang bukan sekedar wanita biasa.. Kami telah mengenal wanita itu sejak lama.. Subhanallah.. ****************************************


Yup..Wanita atau Akhwat Spesial pilihan Mas Rizal, adalah seorang Janda (istri dari salah satu ikhwan yang telah meninggal dalam usahanya berdakwah di Ambon, menegakkan Ad Dien), usianya pun sudah hampir 32 tahun, anak Beliau sudah empat, mirip ketika Nabi SAW menikahi Ibunda Khadijah r.a..yang hingga akhir hayatnya setia mendampingi Rasulullah SAW.

Alhamdulillah..agaknya kedua orangtuaku pun setuju dengan
pilihan Mas Rizal, karena sejak dulu Ibundaku sangat menghormati Mbak Izzah Syifana, istri Mas Rizal, bahkan ingin segera menjodohkan Mas Rizal dengan Beliau meski statusnya sudah menjanda. Tetapi Mbak Izzah terlanjur pindah mengikuti kehendak kakaknya yang Ustadz juga di Batam. Tak tahunya..jodoh memang tak kemana, di Batam pula akhirnya Beliau dipertemukan dengan Mas Rizal, Kakakku tercinta. Baru aku tahu, kenapa banyak kriteria yang Mas Rizal ajukan, sebab Mas Rizal memang orang yang spesial, sehingga berbesar hati dan berlapang dada menerima akhwat yang terlampau lebih spesial dari kriteria Mas Rizal sendiri !! Semoga Barakah dan limpahan rahmat senantiasa menyertainya..Amin. Dalam e-mail Mas Rizal, dua bulan sejak resepsi sederhana diJakarta, rumah kami sekeluarga, Mas Rizal baru menerangkan kenapa banyak sekali kriteria yang diajukan Mas Rizal kepadaku, sebab hampir-hampir saat ini memang tak ada akhwat sejenis itu di Jakarta, kecuali akhwat produk jaman kuliah Mas Rizal, yang memang aku mengakui sangat bagus ghirah atau semangatnya dalam berdakwah.

Teman-temanku yang pernah memendam hati pada Mas Rizal serentak ‘agak’ kecewa, setelah kusampaikan kabar terbaik tentang pernikahan Mas Rizal, karena Mas Rizal perfect banget orangnya.
Lantas, Mas Rizal menuturkan kembali, tentang kriterianya satu persatu : “De’ Rani, tahu ngga’ kenapa harus banyak kriteria untuk istri Mas ? Mas Rizal ingin ade’ seperti Mbak Izzah, istri Ms untuk meningkatkan kualitas pribadi ade’, diantarannya ialah : Agama dan akhlak ade’ musti bagus, Menguasai Fiqh Islam, Bisa sedikit bahasa Arab (minimal Bahasa Arab Pasif, untuk memahami Al Qur’an) : Mas Rizal pun hingga kini belajar capai semua dengan
susah payah, sampai menunda nikah di usia yang ke-27, sebab lelaki yang jadi Qowwam / pemimpin dalam keluarganya dan ketika di rumah, sang Istri wajib kiranya mengajari hafalan Qur’an pada jundi - jundiyahnya..

Berjilbab : karena ia sering membersihkan / mengeramasi *RAMBUT*nya dengan *JILBAB* yang akan menghilangkan *KETOMBE* dari pandangan lelaki yang belum tentu menjadi *JODOH* nya ! Sudah jelas khan De’ kriteria seperti ini ?? Yang pasti Akhwat dong De’..:).. Istri Mas musti Sabar dan tahan bantingan : he..he.. maksud Mas Rizal, sabar saat suka dan duka .. mendampingi Mas Rizal yang kurang sabar..he.. he.. ketahuan yaa De’..tapi hingga saat ini, Mas Rizal belajar sabar dari..Mbak Izzah !

Cerdas / Smart : Ini perlu, untuk kelanjutan visi dakwah Mas Rizal, menegakkan Islam di Bumi Allah dan bisa mengambil kebijakan ketika Mas Rizal mengalami kesulitan..Amin..

Harus bisa masak, terutama makanan yang thoyyib dan halal, minimal makanan kesukaan kakak, Sayur Sop : Ups..yang satu ini musti De’, tapi jangan diketawain yaa, sebab apa gunanya bisa masak doang, tapi nggak taunya ada yang haram dalam bumbu atau gak bergizi tuk perkembangan jundinya kelak..:).. Mukanya selalu ceria dan bersinar cerah : Maksud Abang, Akhwat tersebut harus selalu berhias dan pake’ bedak di *WAJAH*nya dengan *AIR WUDLU*, niscaya akan bercahaya diakhirat, dan menyejukkan pandangan Abang, ketika melihat muka Beliau sepulang Abang dari kerja..

Putih : Seputih ruhani dan hatinya akibat sering Sholat Sunnah di malam hari, hingga hatinya senantiasa bebas dari penyakit hati, seperti dengki, iri, hasutan, dan lainnya, ade’ pasti tahu mengenai hal ini..

Tinggi : Sebab ia selalu memasang *SEPATU JIHAD* pada *KEDUA KAKI*nya untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan di bumi ?, bukan untuk membuatnya Tinggi hati / sombong !!

Langsing : dengan tubuhnya yang langsing ia mampu QANAAH dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami kelak, ini diperlukan, agar ia mampu Zuhud, berkecukupan dengan ma’isyah atau penghasilan dari Mas, baik sedikit maupun banyak, sehingga dan satu lagi..ia biasa Shoum / Puasa sunnah..Alhamdulillah, yang pasti ade’ juga donk !!

Menguasai Teknologi (Komputer / Internet), Psikologi, Manajemen : Untuk mendidik jundi-jundiyah Mas Rizal kelak, agar mampu berkiprah di tengah masyarakat dan mengahadapi tantangan jaman..

Kalo bisa matanya bening, dan jernih : Akhwat tersebut mampu menjadikan *GHADDUL BASHOR* (Menundukkan Pandangan) sebagai *HIASAN KEDUA MATA*nya, niscaya makin bening dan jernih.

Punya lesung pipit yang manis : sebab ia selalu merawat *LESUNG PIPIT*nya dengan *MASKER SENYUMAN*, niscaya dihadapan Mas Rizal senyum-nya akan semakin berseri-seri menawan hati..ehm

Pipinya berwarna merah delima : Ia harus menggunakan *PEMERAH PIPI* pada pipinya dengan Kosmetika *RASA MALU* yang dijual di *SALON IMAN*, agar ia terlihat anggun di depan Mas Rizal..

Bibirnya merekah : karena setiap berhias, ia senantiasa mengoleskan *LIPSTIK KEJUJURAN* pada *BIBIR* nya, niscaya akan semakin indah. Tubuhnya bersih (tak ada cela) => sebab ia senantiasa membaluti *TUBUH*nya dengan *PAKAIAN TAQWA*, niscaya ia makin bersahaja, begitu juga dengan telinganya yang selalu dipakaikan *GIWANG MUSTAMI’ (PENDENGAR)*, agar selalu taat dan patuh kepada ? dan Rasul-
Nya, serta nurut pada suami tentunya..yaa De’ ??

Bau badannya selalu wangi : sebab ia selalu memakai *SABUN ISTIGHFAR* untuk meng-hilangkan semua dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Lehernya berjenjang : Tak lupa ia selalu mengenakan *KALUNG ‘IFFAH (KESUCIAN)* di*LEHER* jenjangnya, niscaya akan semakin berkilauan. Jari-jemarinya lentik : karena ia menghiasi *KEDUA TANGAN*nya dengan *GELANG TAWADHU’ (RENDAH HATI)*, niscaya orang akan kagum padanya dan memberi *JARI-JARI LENTIK*nya dengan *CINCIN UKHUWAH Islamiyah* (persaudaraan di Jalan Allah - ?), niscaya ia makin disayang banyak orang, terutama Mas Rizal..:)..

Mandiri (bisa menghasilkan uang sendiri) : agar ketika Mas Rizal di PHK atau nggak kerja lagi atau berangkat Jihad atau Dakwah, Beliau - Istri Abang mampu memberi asap untuk dapurnya.. Lagi pula, Mas Rizal rencananya pengen Poligami..ups.. of the record deh ! Tunggu Bulan Madu yang belum selesai..dan nunggu Mas Rizal punya rumah mewah, mobil de el el..eh mungkin ndak yaa De’ ?? J

Dan bisa naek sepeda : yang ini nih belajar tirakat juga, abis kalo di Batam, kemana-mana musti naek sepeda, Mas Rizal kan belum bisa beli Motor / Mobil sendiri !! Biaya hidup di Batam mahal..dua kali lipat di Jakarta De’..jadi musti hemat !! Di Akhir e-mailnya yang terlampau panjang, Mas Rizal menuliskan kata-kata : “Kalo kita berkualitas dan spesial di hadapan Allah, niscaya jodoh yang akan datang kepada kita pun demikian seperti halnya kita”. ***************************************

EPILOG : Allahu Akbar..begitu panjang penjelasan kriteria Abang, yang aku sendiri belum bisa mencapainya hingga saat ini.., aku tak tahu sejak kapan mas Rizal memperoleh kriteria yang Subhanallah, tak sanggup aku menjadi wanita sempurna seperti makna yang ada didalamnya, tapi aku tetap bertekad untuk belajar membaiki semuanya seperti apa yang diinginkan Mas Rizal..kakakku sayang.
No body’s perfect !! Kini, diusiaku yang ke-24 tahun, saat nikah itupun tiba.dan telah hadir pendamping disisiku.
. kriterianya pun tak jauh seperti Mas Rizal..Beliau seusia Mas Rizal, 27 tahun.

Beliau tidak seperti kebanyakan lelaki biasa, bukan sekedar ikhwan biasa, Beliau teramat spesial yang dihadirkan Allah untukku. Namanya Bang Arif, begitu aku memanggilnya.. Bang Arif sudah beristri.. dan aku sudah mempercayakan biduk rumah tanggaku padanya.. tuk bersedia Poligami.. Selama ini hubunganku dengan mbak Aisyah, istri Bang Arif pun baik-baik saja, dan hingga kini pun ada perasaan rughbah (kesenangan) diantara kami berdua. Dari beliau, Mbak Aisyah juga aku bisa belajar menjadi wanita sholehah idaman ikhwan..eh maksudku ..idaman Insan !! Karena dari tangan-tangan wanita Sholehah akan terlahir mujahid-mujahidah dakwah baru yang akan menegakkan Islam di Bumi Allah..

Disamping itu, kami..Aku, Mbak Aisyah dan Bang Arif tak pernah henti untuk saling memotivasi.. Allahu Akbar..!! [..saat detik-detik "Mati" seakan tertatih dan kerap menghampiri..Ya Robbi.. sabarkan aku meniti panjangnya jalan dakwah ini.. Amin !!]

 

So sad

kesedihan dan disakiti terus menerus menghantui pada diri manusia selalu menghantui ...

hari nie  sedih lagi dan begitu sakit sekali, akhirnya keputusan itu udh  terima dan akhirnya benar selama nie hanyalah harapan semu saja, tidak lain tidak bukan hanya mempermainkan perasaan dan hati  saja, mana logikanya, selalu bermain perasaan dan hati saja....

ternyata kamu saja dengan yang lainnya, tapi berjiwa besar lah dan berdoa agar dya mendapatkan yang terbaik dan terbaik untuknya....

dan Allah Maha membolak-balikkan hati... inilah sakit yg diterima untuk kesekian kalinya inilah sakit yg luar biasa sakitnya, saat udh bisa tenang dan badai itu kembali menghadang lagi, Ya Allah ya Rab, ku berkenan karena ujian ini dibuat agar setiap diri manusia biar bisa berhati sabar dan ikhlas .

emang bukan takdirnya dan emang bukan jodohnya, Allah Maha mengetahui dan Maha menentukan, walaupun keputusan itu haruslah orang yg menentukan bukan dya sendiri, tragis sekali keputusan untuk hidupnya sendiri harus dengan cara seperti ini, ada juga orang yang tidak bisa berpegang pada pendiriannya dan tidak melihat pada Alquran dan as sunnahnya, juga tidak beristikharah, hanya berdasarkan guru ngajinya ajah menjadi keputusan mutlaknya.

 

benar-benar menyedihkan, ada seorang ikhwan yang meminta pada guru gajinya untuk membuat keputusan untuk hidupnya, padahal nanti yang hidup berumah tangga adalah dya bukan murobbinya, benar2 tragis seorang ikhwan spt itu. tidak ada pendirian, tidak berpedoman pada alquran dan as sunnahnya. MasyaAllah.

keputusan guru ngaji adalah mutlak baginya, tidak ada jalan keluar yg lain, benar2 menyedihkan...

karena status lalu berubah manjadi 180 derajat, benar2 menyedihkan... cinta kandas di tangan guru ngaji, tidak bisa dipertanggung jawabkan... dan tidak bisa diambil kesholehannya, terlalu kolot dan tidak bisa menentukan sendiri tentang hidupnya, ikhwan yg tidak pernah menjadi pribadi yang tangguh...

dan bukan ikhwan yang sejati.... benar-benar menyedihkan .....

apa ikhwan begini bisa dibuat panutan untuk para akhwat ?

apa ikhwan begini yang sama sekali bisa berjalan di jalan dakwahNYa ?

apa ikhwan begini yang sejati ?

hanya karena status ? si ikhwan membuat keptusan lain ? padahal si akhwat berusaha untuk jujur demi kebaikan apakah begini ?

tanyakan pada diri kalian sendiri ? apa kalian bisa teguh pada pendirian atw tidak ?

dan itu berdasarkan logika kalian, bukan berdasarkan perasaan dan hati ?

ikhwan yang tidak bisa dipercaya, sama saja semuanya ?

sebagai jiwa yang besar, tetap mendoakannya mudahan dya tetap pada jalanNya dan mengaharapkan ridhaNya selalu.. dan mendapatkan yang terbaik Amin...

so Keep hamasaah en keep Fight ....  

 

 

 

Hari yang Penuh Berkah

Sabarlah dalam menghadapi bencana, niscaya Tuhan akan datang membawa pertolongan

Cobalah duduk sejenak dengan penuh konsentrasi setiap kali usai melaksanakan shalat Shubuh. menghapalah ke arah kiblat selama sepuluh menit atau seperempat jam seraya berzikir dan berdoa. Mohonlah kepada-Nya sebuah hari yang indah dan penuh berkah; hari yang diwarnai dengan kebahagiaan; hari yang terisi dengan keberhasilan perbaikan dan kesuksesan; hari yang bersih dari noda, tekanan dan berbagai problem; hari yang dialiri rezeki yang berkah dan membawa kebaikandan hari yang bebas dari permasalahan hidup,kesedihan, dan kebingun-ngan. sebab, hanya kepada-Nya kebahagiaan itu bisa diminta, rezki bisa diharapakan dan pahala didambakan. dengan izin Allah, duduk seperti ini akan memberimu kesiapan untuk menyambut hari yang penuh berkah dan manfaat.

        Sebuah nasihat berpesan : saat engakau tengah asyik bekerja, atau sedang duduk istirahat,jangan lupa untuk sambil mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Quran, baik dari kaset, radio, atau dari seseorang yang baik bacaannya. saat ayat-ayat itu dulantunkan dan engakau mendengarkannya dengan penuh penghayatan dan kekhusyukkan, niscaya bacaan demi bacaan tersebut akan membersihkan hatimu dari segala bentuk kekeruhan,kecemasan, dan keraguan. berikutnya, engakau pun akan merasakan suasana yang lebih membahagiakan dan menentramkan.

 

Abaikanlah segala sesuatu yang engakau tidak mempu melakukannya. untuk gantinya, pergunakanlah waktumu untuk memperbaiki hal-hal yang engakau mamapu melakukannya.                    

 

DUNIA UTOPIS!

Itulah yang sebenarnya. Karena telah begitu banyak peristiwa yang mengajarkan saya sekaligus menjawab pertanyaan saya; bahwa dunia seperti itu memang tidak pernah ada.

Karena dengan tuntutan, Allah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita “ada” dan mampu memberi makna

Dengan tuntutan pula, Allah menghadiahi kita rasa “dihargai” dan “dibutuhkan”

Dengan berbagai tuntutan, Allah mengajari kita untuk lebih sabar dan tawakal

Dengan berbagai tuntutan pula, Allah mengajari kita bahwa hidup adalah pilihan yang harus kita pertanggungjawabkan

Adalah perjuangan

Adalah kesempatan yang tidak datang dua kali

Maka bersyukurlah atas semua tuntutan yang sengaja Allah berikan untuk membuat kita lebih hebat!

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.

(Einstein)

 

Ya !

Ya ... untuk senyuman indahmu yang menghembuskan cinta dan mengalirkan kasih sayang kepada sesama.

Ya ... untuk ucapan-ucapan baikmu yang membangun persahabatan sejati dan menjauhkan rasa dengki

Ya ... untuk dermamu yang membahagiakan si miskin, menyenangkan di fakir dan mengenyangkan di Lapar

Ya ... untuk selalu bersanding dengan al-Quran seraya membaca, menghayati, dan mengamalkannya sambil bertobat dan beristigfar.

Ya ... untuk senantiasa berzikir,beristigfar, memnjatkan doa, dan memperbaiki tobat

Ya ... untuk bekerja keras mendidik anak - ankmu dengan agama, mengajarkan sunah-sunah Nabi kepada mereka dan mengarahkan mereka kepada hal-hal yang bermanfaat

Ya ... untuk rasa malu dan hijabmu yang diperintahkan Allah. itulah satu-satunya cara untuk memelihara kesucian dan kehormatanmu

Ya ... untuk hanya bergaul dengan wanita-wanita baik yang selalu takut pada Allah, mencintai agam, dan menjunjung tinggi nila-nilainya

Ya ... untuk berbakti kepada orang tua, emnyambung silatuhrahmi, menghormati tetangga, dan menyantuni anak yatim

Ya ... untuk membaca dan menelaah buku-buyang bermutu dan bermanfaat

Jadilah Wanita Paling Bahagia ....  

Tunggu yang  Tidak ... !   ( In Progress ) 

 

Bila Cinta Tak Berbalas

Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.” Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan. Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan. Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta –seandainya memang terasa getir- langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.

Mengambil sikap
Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa๏ฟฝ (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa. Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah mansia seutuhnya. Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang
melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya. Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT. Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

Percayai qadla
Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan. “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi ‘alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: ‘tulislah amalnya, rizkinya dan ajalnya.” (HR.Bukhari) Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita ‘Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya? Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.

Bersiap untuk cinta dan bahagia
“Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti,” demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak orang. Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang ‘berani menolak pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, “berani-beraninya...” atau “apa yang kurang dari saya.....” Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak. Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih ‘bunga yang lain, hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati
ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan. ” Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)

Bukan Aib
Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah bentuk ‘perjuangan menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang ‘senasib dan ‘sependeritaan. Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.

‘Kita mungkin takkan Bahagia
Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan. Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar ‘perceraian? jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu alam bi ash shawab “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang maruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” ( Al-Baqarah[2]:229 ) Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari. Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan. Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah dengan orang lain –bukan dengan si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.

‘Saya tak mungkin berbahagia tanpanya
ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka sendiri dan menutup peluang untuk bahagia. Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.

Cinta membutuhkan waktu
“maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu 1 X 24 jam!” Masya Allah, cinta bukanlah martabak telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi berbicara rumah tangga, pastinya banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil. Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu. Seorang akhwat yang akan dilamar –contoh extrim pada kasus diatas- bisa jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna “Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga, giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga tampan.” Itu mungkin suami dambaan Anda duhai Ukhti . tapi jangan marah bila saya katakan bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan. Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah tapi kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar sendiri, dsb. Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon suami/istri kita, lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi ‘yang penting akhwat” atau “yang penting ikhwan”. Tapi realistislah, setiap menusia punya kekurangan – sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan Maka doa kita kepada Allah bukanlah,”berikanlah padaku pasangan yang sempurna” tetapi “ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik bagi agamaku dan duniaku.”

Kekuatan Ruhiyah
Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima. Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud dawah lalu setiap akhwat mendambakannya. Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita. Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut kita “luar biasa” berjodoh dengan yang ‘biasa-biasa. Seperti seringnya kita melihat pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran manusia Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan. Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud mengatakan ‘jangan ke-ge-er-an dengan segala title dan atribut yang melekat pada diri kita. Beri cinta kesempata (lagi)

“..........dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” ( QS. Yusuf[12]:87 ) bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya. Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Beri kesempatan diri kita untuk kembali merasakan kehangatan cinta. ‘ love is knocking outside the door. Kata musisi Tesla dalam senandung love will find a way. Tidak pernah ada kata menyerah untuk meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka yang dirihoi agamanya. “jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata” (HR. Turmudzi) “ Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya, dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan akhlak
(mulia) niscaya selamat dirimu.” (HR.Ahmad)


 

TeKa-Teki Jodoh

Teka Teki Jodoh ......... 

memang bisa dibilang jodoh itu teka-teki
tapi bukan seperti teka-teki silang
yang ini jelas lebih rumit
dan lebih misterius

rumit karena kita tidak bisa diuraikan
tidak bisa dirumuskan
lebih misterius
karena siapa yang tahu si a jodohnya si b
atau si c jodohnya si d dan seterusnya < terusin sendiri ya ampe z>

jodoh hanya bisa diterima
kita bisa berdoa untuk jodoh kita

dan hanya bisa berbuat baik agar mendapat jodoh yang baik pula

tapi siapa bisa menebak
apalagi mematok
oh..
jodoh kita si a atau si b < terusin lagi yach ampe z>
yang mungkin hanya karena indikator2 tertentu
misalnya wajahnya mirip...
atau banyak kesamaan ...
atau karena kita betul-betul ngebet sama dia

jangankan pacar..<yang oleh seorang teman disebut,maaf, pengecut>

juga tunangan < sebetulnya kata ini kurang tepat karena dalam
Islam yang ada bukan seperti tunangan yg ada sekarang , tapi
khitbah , tapi disebutnya gimana , masa khitbaers
hi..hi..>
orang yang akan menikah saja bisa batal kok ,
karena belum jodoh .
apalagi ,maaf, gebetan atau incaran < yang belum tentu , bisa
jadi sih sama2 mau . Kita mau sama dia , dia mau muntah sama kita,
hi..hi..
enggak kok, just kidding>

so...
bagi yang akhwat <cewe> nih
banyak-banyak saja berdoa semoga orang yang menjadi soulmate kita nantinya
orang yang berkepribadian
punya mobil pribadi , rumah pribadi < walah,,,klo yang ini kayanya sudah
kerasukan jin materialisme bin kapitalisme>


maksudnya ya berkepribadian Islam , orang yang faqih dalam agama, bisa jadi pemimpin
keluarga yang samawwi <sakinah mawaddah warohmah wa binaud dawah plus Ideologis>.
Minimal kaya mushab bin Umair < wah kalo ini mah namanya borongan>


atau mungkin minta suami yang berwibawa
wi...bawa mobil, wi..bawa laptop, wi..bawa rumah < kayanya gak kuat deh>
wah ...klo yang ini kayanya kerasukan lagi nih.

selain itu boleh juga mengikuti jejak bunda khodijah ra.
untuk menawarkan duluan.Dan itu juga bukan sesuatu yang memalukan
wanita mulia seperti khadijah RA pun pernah.

bagi yang ikhwan < cowo>
kayanya bisa langsung take action nih klo sudah siap
take action untuk mengkhitbah ...
klo belum siap , jangan coba-coba untuk menyatakan cinta karena bisa mengotori hati dan
mengikis keimanan kedua belah pihak .Karena ternyata

gak jarang orang yang sudah faham masih melakukan
yang satu ini.
Dan saat mengkhitbah harus siap mental nih
kan pilihannya dalam mengkhitbah itu cuma menang dan menang.
Menang diterima, atau menang-gung malu klo ditolak<hi,,hi,,enggak kok>
Dan memilihnya pun bukan hanya lantaran fisik.
Karena cinta itu beda dengan nafsu , bro.
Pernah salah seorang ikhwan sedang mencari jodoh

lewat seorang teman yang punya kakak lelaki <lewat jalur mahrom begitu>
ditulislah sederet kriteria dari akhwat yang dicari
masya4JJ I no.1-10 full fisik
1. manissssssssssssss <asli gak pake pemanis buatan>
2. putih atau sawo < tapi bukan sawo hitam>
3. langsing
4. tinggi badan seimbang
5. ...dll ampe no.10

wah.... ini maunya sapi atau gimana <ngomong2 khan sapi putih >
kaya iklan mencari model saja

tapi saya yakin masih banyak ikhwan , yang pertama dijadikan pertimbangan adalah
ketaqwaan .
begitu juga para akhwat.
karena ketaatan kita pada Alloh SWT , sebagaimana juga yang disabdakan oleh Rasul.

So..selamat menemukan jodoh < tapi jangan coba-coba , buat jodoh kok coba-coba>,istikharoh dulu..  

 

puisi

" Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. 
Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya... "


Apa kau mengenali aku, sebagian dari mu
sebagian kau simpan,sebagian kau buang
aku tak membuat sesuatu yang khusus sebelumnya
tapi aku masih punya

Kau membuat ku kemari, tapi pertanyaannya ku mengapa
kemana tujuan semua ini, akhir dari semua ini
kau tak tahu? atau kau tak memberitahu ku


Tak ada yang bisa
melihat pilihan yang tak bisa dipahami
dan maksudku tak ada
tak masalah, aku punya pilihan sendiri
kau punya, juga lainnya
kita tak bisa membuat pilihan kita


Tak seorang pun bisa melihat melewati apappun
karena dia bisa memahaminya

dia melewati batasan dari persamaan
setiap batasan dari persamaan
setiap batasan memerlukan jawaban
dia bisa memecahkannya, satu jalan atau lainnya

Hanya ada satu jalan, aku akan menemukannya
aku tahu di mana tempat itu
jika tak bisa temukan jawabanya
mungkin tak ada hari esok




Jangan Pelihara Rasa benci

Suatu hari, ketika Nabi saw sedang berkumpul dengan para sahabat di dekat ka’bah, seorang lelaki asing lewat di hadapan mereka. Setelah lelaki itu berlalu, Nabi berujar kepada para sahabat, ”Dialah ahli surga.” Dan hal itu dikatakannya sampai tiga kali.

Atas pernyataan Nabi tersebut, timbul penasaran di kalangan para sahabat, terutama Abdullah bin Umar yang memang dikenal sangat kritis. ”Ya, Rasulullah,” tanya Abdullah, ”Mengapa engkau katakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalnya sebagai sahabatmu? Sedang terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu?”

Lalu sebagai seorang uswah, Nabi memberikan jawaban diplomatis yang sangat bijak. ”Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan engkau tanyakan sendiri kepadanya.” Karena rasa penasarannya sangat tinggi, suatu hari Abdullah bin Umar menyengajakan diri untuk berkunjung ke rumah orang asing itu.

Ya, akhie,” kata Abdullah, ”kemarin sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah mengatakan bahwa engkau seorang ahli surga. Apa gerangan yang menjadi rahasianya sehingga Rasulullah begitu memuliakanmu?”

Lelaki itu tersenyum, kemudian menjawab, ”Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak memiliki kekayaan apa-apa. Baik ilmu maupun harta yang bisa kusedekahkan. Yang kumiliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun.”


Memelihara perasaan benci dan marah, berarti menyimpan egoisme. Adanya perasaan benci, berarti adanya
sikap untuk menyalahkan orang yang dibenci itu. Dan menyalahkan orang lain berarti membenarkan sikap dan tindakan sendiri.

Padahal sikap semacam itu sudah sejak awal diklaim syetan pada penciptaan Adam as. Kisah tersebut memberikan
gambaran kepada kita, bahwa perasaan benci, bukan hanya mengakibatkan fitnah dan permusuhan, tetapi juga dapat menimbulkan penyakit batin yang sangat fatal, sekaligus menjauhkan diri dari surga yang menjadi dambaan setiap mukmin.

Sehingga sikap yang paling bijaksana adalah, selalu berusaha untuk mengintrospeksi diri, sekaligus menjadi orang yang pemaaf. Sebab itulah yang selalu dilakukan Nabi sepanjang perjalanan hidupnya. Sedangkan hidup Nabi adalah contoh bagi setiap mukmin. – ahi