Telkomsel Keterlaluan
28 Oktober 2009
Sejak awal, citra Telkomsel sangatlah bagus. Bahkan bagiku, Telkomsel termasuk market leader provider seluler di Indonesia. Kalo bicara motor, Honda adalah nomor 1. Kalo soal search engine Google nomor 1, dan soal provider seluler, Telkomsel nomor 1.
Tapi sungguh tidak dapat dipercaya Telkomsel melakukan tindakan brengsek seperti ini.
Baiklah, secara hukum dan klausul kontrak, mereka berhak mengubah syarat dan ketentuan fair usage. Namun upaya penurunan fair usage Telkomsel Flash dari 2GB yang ada di awal kontrak menjadi 500MB adalah sangat keterlaluan.
Abusive User
Alasan yang dikatakan Telkomsel adalah bahwa langkah tersebut diambil karena banyak abusive user (penyalahgunaan bandwidth) sebanyak 3% (awalnya ngaku 10%).
Namun jika ditinjau, adanya abusive user adalah masalah internal Telkomsel. Itu ketidakbecusan mereka menjaga trafficnya dari abusive user. Kok pelanggan lain (semua pelanggan lain tepatnya) yang dikorbankan. Ini jelas alasan goblok.
Kenapa bukan abusive user itu saja yang diberantas?
Harusnya abusive user itu yang dicekik ketika sudah melewati batas fair usage.
Telkomsel tidak dapat mengetahui siapa saja yang melakukan abuse? Sekali lagi, itu ketidakmampuan mereka. Pakai tenaga ahli, pecat yang sekarang. Bukan malah pelanggan yang dikorbankan.
Simplenya, 3% abuse dan 97% lainnya ikut dihukum. Padahal kita tidak tau siapa yang 3% itu. Padahal kita bayar kontrak untuk 2GB.
Survei Aneh
Alasan bahwa survei menunjukkan rata-rata penggunaan quota per pelanggan per bulan sebanyak 500MB adalah aneh. Secara logika tidak masuk akal. Dapat dari mana statistik itu?
Kita hitung sekilas:
- Untuk buka Detik.com, per page kira-kira 150KB. 10 halaman sudah sekitar 1MB
- Facebook, halaman depan sudah lebih dari 500KB
- Gmail, buka pertama saja sudah sekitar 1MB
(#1 dan #2 dihitung menggunakan Firebug, #3 dengan metode save-as page)
Untuk aktifitas ngirit sekali, tidak termasuk download, seharian bisa mencapai 20MB. Per bulan sudah jelas terlihat > 500MB
Kalo rata-rata yang didapatkan Telkomsel adalah 500MB, secara statistik kasar berarti banyak pengguna Telkomsel menggunakan bandwidth jauh di bawah < 500MB (agar bisa mendapat rata-rata 500MB), bahkan mungkin harus ada yang 0MB per bulan. Pertanyaannya, siapakah mereka? Pantaskah mereka diperbandingkan dengan pengguna normal?
Baiklah, kita bisa menerima ungkapan yang terkenal: "mau murah kok minta cepat". Akan tetapi yang terjadi sekarang sangatlah keterlaluan.
Saat ini, jangankan menghabiskan 500MB, sedangkan untuk membuka Gmail saja kadang bisa dan terlalu sering tidak bisa. Dengan cara seperti ini, sangat mungkin statistik Telkomsel di atas akan terjadi, yakni tidak ada pelanggan yang bisa menghabiskan fair usage 500MB.
Sedangkan mendapat kecepatan 5KBps saja sudah mewah sekali.
Saya tidak katakan Presiden perlu menegur atau tidak. Tapi kalo saya jadi presiden, saya tendang Telkomsel. (inspired dari JPNN)
