Indah Pada Waktunya

Aku minta pada Allah setangkai bunga segar.
Ia beri aku kaktus berduri,
Aku minta pada Allah binatang mungil nan cantik
Ia beri aku ulat berbulu,

Aku sempat sedih, protes dan kecewa
Betapa tidak adilnya ini….
Namun, kemudian kaktus itu berbunga… sangat indah
Ulat itupun tumbuh dan berubah menjadi lupu-kupu yang teramat cantik.

Itulah jalan Allah,
Indah pada waktunya,
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan,
Tapi Ia memberi apa yang kita perlukan.

Kadang kita sedih, kecewa, terluka,
Tapi jauh diatas segalanya IA sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar

semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur atas karunia Allah.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Ubahlah dengan Hatimu

Bila kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu, kalau tidak mampu ubahlah dengan kata-kata, jika tidak mampu juga, ubahlah dengan hatimu.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Cinta tak berwarna

Cinta menurutku tak berwarna
ia menjadi jingga
sebagaimana kau memaknainya
ia pun menjadi kuning, biru dan merah
sebagaimana kau menginginkannya
cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi
tentang kejujuran dan keberanian
tentang kemarahan dan kasih sayang
cinta adalah lukisan yang unik
dan tak terkatakan
sebab ia menenggelamkan kita
pada angan-angan dan mimpi yang abadi

dan cintaku padamu
adalah surga yang tak bisa kumasuki
jika tanpamu

Posted in Puisi. 0 Comment »

Kumpulan Kata-kata Mutiara

Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah
Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,kita tak memiliki hari ini untuk kita syukuri.

Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup, merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.
Semakin banyak Anda berbicara tentang diri sendiri,
semakin banyak pula kemungkinan untuk Anda berbohong.

Jika Anda tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang yang baik.

Iri hati yang ditunjukan kepada seseorang akan melukai diri sendiri.
Anda cuma bisa hidup sekali saja di dunia ini,
tetapi jika anda hidup dengan benar,sekali saja sudah cukup.

Kenangan indah masa lalu hanya untuk dikenang, bukan untuk diingat-ingat.
Rasa takut bukanlah untuk dinikmati,tetapi untuk dihadapi.
Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Buka mata kita lebar-lebar sebelum menikah,
dan biarkan mata kita setengah terpejam sesudahnya
Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya

Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.
Dialah hiasan dikala kita senang dan perisai diwaktu kita susah
Namun kita tidak akan pernah memiliki seorang teman,
jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya
dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya
tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan
kalau kita tidak bisa melihat keduanya.

Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab,
merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi,
memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat.

Sesungguhnya sebagian perkataan itu ada
yang lebih keras dari batu,lebih tajam dari tusukan jarum,
lebihpahit daripada jadam dan lebih panas daripada bara.
Sesungguhnya hati adalah ladang,
maka tanamkanlah ia dengan perkataan yang baik
karena jika tidak tumbuh semuanya (perkataan yang tidak baik)
niscaya tumbuh sebagiannya

Tidak ada simpanan yang lebih berguna
daripada ilmu.
Tidak ada sesuatu yang lebih beruntung daripada adab.
Tidak ada kawan yang lebih bagus daripada akal.
Tidak ada benda ghaib yang lebih dekat daripada maut.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Makna Cinta Kahlil Gibran

 

Bagi Gibran cinta mengarahkan manusia pada Allah, dan karena cinta pula Allah mempertemukan diri-Nya kepada manusia. Lantaran itu dalam pandangan Gibran cinta sesungguhnya adalah cinta atas nama Allah dan cinta kepada Allah itu sendiri, karena segala sesuatu adalah pantulan dan imanensi dari Sang Mahacinta. Cinta kepada yang lain selain Allah, tetapi atas nama dan di dasarkan pada Allah akan membawa manusia dan alam semesta kepada persekutuan dengan Allah. Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul Cinta Keindahan Kesunyian, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74)

 

 

"Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu."

 

Gibran tidak hanya menekankan cinta sebagai dasar hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi lebih jauh dari itu melalui dan dalam cinta manusia diarahkan, dituntun sampai pada tahap akhirnya hidup dalam persekutuan dengan Allah. Cinta melampaui keterbatasan manusia, menembus ruang fisik dan berjumpa dengan Allah. Dengan demikian cinta ditempatkan Gibran sebagai bentuk hubungan terpenting dan tertinggi.

Agar sampai pada persekutuan dengan Allah melalui Cinta, bagi Gibran cinta itu harus berangkat dari peran manusia yang kongkret dalam kodrat kemanusiaan dan potensi-potensinya yang lebih jauh dan luas. Dalam Triloginya Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Suara Sang Guru (Yogyakarta, Pustaka Sastra, 2004, hal 212) dengan jelas Gibran menggambarkan tentang hal tersebut.

"Kalian orang-orang beriman yang dapat menemukan adanya suatu dasar untuk kemajuan seluruh umat manusia dalam sifat baik manusia, dan bahwa dalam diri manusia terdapat tangga kesempurnaan yang menuju Roh Kudus? Jika kalian dapat berlaku demikian, maka kalian akan seperti bunga bakung di taman kebenaran yang abadi harumnya baik tersimpan dihirup manusia atau tersapu oleh angin lalu."

Hal senada dikatakan Gibran dalamSemua Karena Cinta (Yogyakarta, Narasi, 2005, hal. 54)

"Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga."

Sejalan dengan pandangan mistik agama samawi, bagi Gibran persatuan Allah dan manusia tidak hanya terjadi dalam cinta yang meluap-luap dan berkobar-kobar kepada Allah dalam ekstase. Gibran lebih memandang pengalaman mistik dari aspek etika. Pengalaman mistik dalam pandangan Gibran tidak berarti melarikan diri dari tugas dan tanggungjawab hidup di dunia ini, dengan menyingkir untuk masuk dalam ekstase kebahagiaan untuk diri sendiri saja, membelakangi dunia serta melupakan segala penderitaan hidup diri sendiri maupun orang lain. Baginya mistisisme yang hanya mementingkan diri sendiri adalah egoisme alias pengingkaran terhadap kodrat manusia. Gibran menekankan bahwa relasi cinta antara Allah dan manusia baru akan menjadi nyata bila melimpah ke dunia dalam wujud cinta kepada sesama. Ini harus terjadi bukan dengan kata-kata, melainkan dalam belas kasihan dan kurban diri.

Wujud tertinggi dari cinta bagi Gibran adalah terlibat atau melibatkan diri dalam dunia; dan bentuk keterlibatan itu dimaknai oleh Gibran dengan kerja. Kerja atau pekerjaan adalah satu-satunya wujud relasi manusia dengan Allah dalam dunia, sebagai sebuah bentuk kurban diri yang kongkret. Kerja yang dimaksudkan Gibran tidak hanya melibatkan daya fisik tetapi juga pikiran dan perasaan manusia. Melalui kerja manusia dapat mewujudkan dirinya sebagai individu. Dengan bekerja manusia dapat melebur dalam persatuan dengan sesama, dan dengan bekerja pula manusia dapat menjumpai Allah di dalam alam semesta. Hal ini dilukiskan Gibran dalam Triloginya (hal.28-29)

"...aku berkata bahwa hidup memang kegelapan, jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan segala pengetahuan adalah hampa, jika tidak diikuti pekerjaan. Dan setiap pekerjaan akan sia-sia, jika tidak disertai cinta. Bekerja dengan rasa cinta, berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri-diri orang lain - dan kepada Allah."

Gibran meyakini bahwa kerja merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia. Latar belakang pemikirannya adalah karena manusia ialah citra Allah, juga karena perintah yang diterima dari Penciptanya untuk menaklukkan dan menguasai dunia. Bagi Gibran semua perkerjaan manusia harus berorientasi pada cinta. Karena kerja yang berlandaskan pada cinta, maka melalui kerja atau pekerjaan manusia tidak hanya mengubah kodrat, tetapi juga mewujudkan dirinya sendiri dan membangun masyarakat keluarga dan bangsa.

Bagi Gibran cinta tidak punya makna selain mewujudkan maknanya sendiri. Cinta tidak memberikan apa-apa pada manusia, kecuali keseluruhan dirinya, dan cintapun tidak mengambil apa-apa dari manusia, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki atau dimiliki, karena telah cukup untuk cinta. Namun jika manusia mencintai dengan hasrat dan keinginan, maka manusia harus meluluhkan diri, mengalir di dalamnya, dan terlibat. Hanya saja dalam kehidupan manusia cinta yang sempurna tidak dapat ditemukan. Kehidupan adalah tabir kegelapan, berkerudung dan bercadar. Melalui dan dalam cinta manusia senantiasa digiatkan untuk melakukan pencarian makna kehidupan dengan mengamalkan cinta kasih, tetapi kesempurnaan cinta hanya ada dan dimiliki oleh Allah.

"Apabila kalian mencinta, janganlah berkata: "Allah ada di dalam hatiku" tetapi sebaliknya kalian merasa: "Aku berada di dalam Allah" Dan jangan kalian mengira bahwa kalian dapat menentukan arah cinta, karena cinta apabila telah menjatuhkan pilihan pada kalian, dialah yang akan menentukan perjalanan hidup cinta." (Trilogi hal.14)

Dalam kehidupan, manusia tidak mampu mengukur kualitas cinta, sebab kepenuhan cinta sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Allah adalah awal dan akhir kehidupan, Allah adalah cinta, maka hanya dalam dan melalui cinta manusia berjalan dan mengarahkan dirinya kepada Allah.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Supaya Matahari lebih terang esok hari

wah, beberapa hari ini pekerjaan kantor menumpuk, ditambah pekerjaan rumah yang berjubel, blum lagi proyek-proyek yang ngantri panjang …

Wajah kuyu harus berhadap dengan tampang-tampang garang penuh tuntutan… masya Alloh!

tapi aku nikmati saja, sebagaimana sambal pedas penghias rasa Bakso … :) dan senyum adalah pengantar tentram yang tepat saat ini.

Fokus yang mesti kuprioritaskan adalah kepentingan kebenaran dan hak masyarakat yang perlu diperjuangkan …

aku harus bertahan dan berjuang dan tetap terus berjuang optimal !

Supaya Matahari lebih terang esok hari …

Posted in Puisi. 1 Comment »

Meminang Sang pangeran

      aku tahu, aku hanya seorang wanita
yang tugasnya menunggu sang pangeran
dalam penantian

kata mereka, kau yang berhak memilih
dan kami, perempuan, hanya bisa
menolak atau menerima lamaran


tapi, bolehkah kali ini aku yang memilih?
memintamu untuk menjadi yang terindah di hatiku?
kau tinggal bilang ya, atau tidak. mudah kan?

ah, mungkin benar, dunia sudah terbalik
atau bisa juga ini hanya rasa khawatirku
takut kalau Allah tidak menyisakan satu mujahidNya untukku

hahaha…dasar aneh!
bukankah Allah sudah berfirman
bahwa Dia menciptakan makhlukNya dengan berpasangpasang
an?

tapi, aku juga ingin tahu rasanya
berbunga ketika lamaranku diterima
atau kecewa saat pinanganku ditolak
mungkin dengan begitu, aku bisa berbagi dengan kaumku
bagaimana sih sakitnya ditolak?
agar para akhawat tak gampang mengucap kata “tidak”
dengan alasan yang sengaja dibuatbuat :
masih ingin melanjutkan studilah

belum cukup umurlah
belum siap mentallah
kurang cocoklah!
dan entah apa lagi…

tapi, bagaimana cara meminangmu ya?
apa aku harus mengajukan proposal lebih dulu?
atau langsung datang ke istanamu dan
memohon agar kau sudi menerimaku menjadi permisurimu?
itukah yang kau mau?

“Huh, dasar tidak tahu malu!”
tibatiba terdengar teriakan dari jauh
“Wahai akhwat, DI MANA IZZAHMU?”

IZZAH?
kalian bertanya tentang IZZAH?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang malu mengungkap perasaannya

kemudian memendam cinta dan
mengotori hati dengan terus memikirkannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menyuburkan virus cinta di hatinya
dan membaginya pada semua ikhwan yang dikaguminya
dalam masa penantiannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menanti sang pangeran, namun ketika ia datang
si akhwat menolak dengan alasan tidak jelas?


di sanakah izzah bersemayam?

ataukah izzah ada pada diri seorang Khadijah
yang berterus terang meminta Muhammad untuk
menjadi nakhoda dalam bahtera cintanya?

ataukah izzah ada pada diri para bidadari yang
berebut ingin melayani Zulebid
yang rela meninggalkan istri tercinta

di hari pertama pernikahannya demi meraih syahid?

sungguh, kisah cinta yang agung dan suci
bukan cintacinta picisan yang ingin diraih
tapi jauh lebih tinggi!
cinta di atas segala cinta
yang tak kan habis cintaNya,
Allah!

di sana ada kejujuran, keterbukaan, kepercayaan,
ketulusan, keimanan, dan ketaqwaan
berbeda dari kisah Romeo dan Juliet
atau Layla dan Majnun yang berakhir tragis dengan
mati membawa cinta tak sampai
malang!

mungkin iya, aku tak seberani Bunda Khadijah
aku pun bukan bidadari yang tak dianugerahi rasa malu
karena ia memang diciptakan dan ditugaskan untuk melayanimu


tapi, jika aku boleh memilih
izinkan aku meminangmu sebagai kekasih
bukan untuk saat ini
karena mungkin waktuku tak cukup untuk menanti

tapi, nanti
setelah kumati…


Meminang Syuhada : 14082009







 

Posted in Puisi. 5 Comment »

Galak

Galak

Kearoganan bila kata-kata itu terlempar.
Kesalahan bila kata itu akhirnya membuatku merasa beda

Bukan bukan bukan itu maksudmu…

Bukan, bukan bukan itu maksudku

Sosok, ga ada sosok yang sempurna

Bayang, ga ada bayang yang sempurna


Indah, ga ada keindahan yang sempurna

Lembut, ga ada kelembutan yang sempurna

Arogan, ga ada arogan yang sempurna

Sekalipun itu akhwat, ga ada akhwat yang sempurna

Sekalipun itu ikhwan, ga ada ikhwan yang sempurna


Dan semuanya hanya semu saja….

Semu dunia yang kadang sinarnya terlalu memukau mata

Dengar, kau mampu mendengar

Rasa, kau mampu merasa

Teriak, kau mampu teriak


Cela. kau mampu mencela

Nangis, kau-pun mampu menangis

Silahkan saja, tapi ada etikanya …

Entah, kumulai dari mana

Entah kau mulai dari mana

Saat semuanya indah terasa semrawut


Saat semuanya lembut, terasa menyakitkan

Saat semuanya tenang, terasa mengkhawatirkan

Galak, egois, arogan atau apalah namanya

Ke yang lain ga boleh, ke aku-pun jangan

Galak, andai kau tahu galak itu menyebalkan


Terasa sempit, terasa berat, terasa hina, terasa ternoda

Terasa terasing, terasa kekanak-kanakan

Terasa sangat memprihatinkan

Walau ku juga ga meminta kau harus memanjakanku

Kalaupun ga mau memanjakanku, jangan galak kepadaku

Kalaupun mau membenciku, jangan galak kepadaku


Kalaupun mau memarahiku, jangan galak kepadaku

Kalaupun mau menamparku, jangan galak kepadaku

Walau atas nama dakwah, Walau atas nama amanah

Walau katamu, untuk menjadikanku lebih militan

Semua bisa diatur dengan hati dan hikmah


Lihat saja, Hamzah mampu menahan marahnya, saat ia terkepung 3000 pasukan kafir

Lihat saja, Yusuf mampu menahan marahnya, saat ia dimasukkan ke sumur oleh saudaranya

Lihat saja, si tegar Aisyah mampu menahan marahnya ketika fitnah besar’selingkuh’ itu berhembus

Lihat saja, Umar mampu menahan marahnya ketika ia mau digulingkan hanya karena ada mis understanding 2 kabilah

Lihat saja, Salman Al Farisi mampu menahan marahnya, ketika ia diperlakukan sebagai kuli oleh warganya sendiri

Lihat saja, Rosululluh mampu menahan marahnya ketika ia dilempari kotoran unta

Lihat, Dengar dan Rasakan

Mari beristighfar dan bersholawaat

Marah yang ditahan, mampu mendatangkan
berkah.

Sabar yang diagungkan, mampu menuai kemuliaan.

Jangan lagi marah padaku, Maafkan aku…

Memang beginilah diriku, kuakui ku tak sesempurna yang kau kira.

Pikirku tak seluas pikirmu, kusadari itu

Biarkan semuanya menjadi lumrah, bukan berarti pasrah.

Dalam sabdanya Laa Taghdhob, jangan marah… (HA : 16)

Silahkan menampar dengan tulisan, jangan dengan lisan.

Silahkan berdebat dengan tulisan, jangan dengan lisan.

Silahkan mengacaukan segalanya dengan tulisan, jangan dengan lisan.

Saat kumerasa tulisan lebih mempunyai arti, saat lisan enggan berbunyi

Suer! Aku mau dinasehatin, Tapi aku ga mau digalakin

 

Posted in Puisi. 0 Comment »

Denting

                                                                                                                 

 

 

pertama kali aku tergugah
dalam setiap kata yang kau ucap
bila malam t’lah datang
terkadang ingin ku tulis semua
perasaan

kata orang rindu itu indah
namun bagiku ini menyiksa
sejenak ku fikirkan
untuk ku benci saja dirimu
namun sulit ku membenci


pejamkan mata bila
ku ingin bernafas lega
dalam anganku aku berada
di satu persimpangan
jalan yang sulit ku pilih

ku peluk semua indah hidupku
hikmah yang kurasa sangat tulus
ada dan tiada cinta
bagiku tak mengapa

namun ada yang hilang
separuh diriku

pejamkan mata bila
ku ingin bernafas lega
dalam anganku aku berada
di satu persimpangan
jalan yang sulit ku pilih


 

Posted in Puisi. 1 Comment »

Ajari Aku

 

 

                                      

 

 

Ajari aku ‘tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki rasa
Yang luar biasa untukku dan untukmu


Ku harap engkau mengerti
Akan semua yang ku pinta
Karena kau cahaya hidupku, malamku
‘tuk terangi jalan ku yang berliku


Hanya engkau yang bisa
Hanya engkau yang tahu

Hanya engkau yang mengerti, semua inginku


ajari aku
‘tuk bisa mencintaimu
ajari aku  
‘tuk bisa mengerti kamu

Mungkinkah semua akan terjadi pada diriku
Hanya engkau yang tahu
Ajari aku ‘tuk bisa mencintaimu

 

Teruntuk Ikhwanku mksie semuanya . . .

 

Salam Fia 

 



 


 
 


 

Posted in Puisi. 4 Comment »

Tahajud dalam Taman Cinta

 

                                                                                                                                                         

Selayaknya sajadah yang senantiasa dibasahi air mata

tahajud seornag pecinta, dunia ini

adalah sebuah keniscayaan untuk tetap berdiri

tegak di tengah badai.Seorang  pecinta yang hanya bisa bersimpuh di atas sajadah

 

menghiba mengharap Cinta,terkulai tak berdaya.

Tetapi, Tuhan .... syurgaMu seluas langit dan bumi!

Maka hanya kepadaMu kupinta kekuatan ...

Aku lemah,aku lemah,aku lunglai ,,,,

                Dalam sujud panjangku,aku meratap                    

                Tuhan,belailah aku,peluklah aku

                 Biarkan aku bersandar

                 menenangkan jiwa yang tergoncang

Sungguh, tidak semstinya dunia ini

mmembuatku terpuruk

Terlalu hina, duni ini untuk membuatku

terlunta-lunta dalam harapan yang tak pernah

ada kepastiannya!

                Tuhan Cinta Sejatiku,

                Tidak ada lagi mampu mengobati luka

                 memarnya hati,

                 Kecuali Engkau

                 Tuhan, tidak ada lagi yang sanggup

                  kecuali bertemu dengan Mu

Tuhan,tidak ada lagi yang mamapu

menghiburku dalam patah hati

Kesulai Engkau

Tidak ada lagi yang sanggup menghapus duka

derita ini

Kecuali Engkau 

 

 

By Eva Oktafiani                                             

 

             

 

Posted in Puisi. 0 Comment »