Menangislah, Karena Bidadari Itu Terlalu Mulia Untukku...

Hari ini ia sengaja datang ke kampus lebih pagi. Selain karena tak ingin terlambat di kuliah pertama, ia ada janji bertemu dengan Ustdz. Faridz di musholla kampus. Dia tegakkan dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid, disusul dengan 4 rakaat shalat Dluha. Lalu dia tengadahkan tangan melantunkan doa.
Dia menyambung ibadah paginya dengan tilawah tartil sambil menunggu Ustdz. datang. Seorang kawan menghampirinya. Dia tutup tilawahnya setelah menyelesaikan satu pojok.

“Assalamualaikum Akh Ilham…” sapa sang kawan ramah.
“Waalikumussalam warahmatullah… apa kabar akhi?” jawabnya sambil tak lupa bertanya kabar.


“Alhamdulillah ana bikhoiir… antum sendiri gimana? Kabarnya udah siap nikah nih…” mata sang kawan mengerling menggodanya. Dia cuma tersenyum, tak berniat menanggapi gurauannya.
“Akh, di sini ada bidadari.”


Bidadari? Darahnya berdesir. Ah, bidadari, kesannya indah.

“Sini, ana tunjukkan orangnya. Ini akhwat luar biasa, anak kedokteran, prestasinya brilian, aktivis kampus, ketua pembinaan dan kaderisasi akhwat, akhlaknya mengagumkan, ibadahnya tak diragukan. Dia pembina adik ane. Cocok banget sama antum!” kawannya menjelaskan panjang lebar, membuatnya penasaran.

Lalu, telunjuknya mengarah ke sosok seorang akhwat. Tak lama, yang dibilang bidadari itu sudah terlihat jelas.

“Masya Allah… itu yang dibilang bidadari? Mana ada bidadari hitam legam? Yang kubaca dalam Ibnu Katsir, bidadari itu cantik sekali, kulitnya putih transparan seperti putih telur. Eh, mana ada di dunia yang begitu ya.. paling ga, kuning langsatlah. Masa black begitu. Black sweet sih masih banyak yang mau, ini aku belum lihat sweetnya.” Dia menggerutu dalam hati. Tak berminat meneruskan percakapan.

“Akh, ane ke perpustakaan dulu yaa.. bidadari itu, buat antum aja.” Dia berpamitan.
“lho… sama ane mah ga sekufu akh!”
“Ya udah, assalamualaikum.” Ilham beranjak meninggalkan kawannya. Baru beberapa langkah, seorang marbot memanggilnya. Dan menyerahkan amplop putih titipan dari Ustdz. Faridz. Ustdz tidak bisa datang, makanya amplop itu ia titipkan.

“Hmm… ini biodata akhwat yang dijanjikan Ustdz.” langkahnya mantap menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk membuka dan membaca biodatanya.

Dia duduk di sana, mengatur nafasnya yang terengah, bukan karena capek, tapi sibuk menahan deburan dalam dada. Perlahan dia membuka amplop itu, sengaja ia tinggalkan selembar foto di dalamnya, dia akan melihatnya nanti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim… “ dia kuatkan hati membaca susunan huruf demi huruf dalam biodata. “Akhwat luar biasa, usianya, dua tahun dibawahku, lumayan, lebih muda. Pendidikan, kedokteran umum XX <edited> (sedang koas), Alhamdulillah… ayah dan ummi pasti senang sekali. Sepertinya pas untukku.” Gumannya bahagia. Dia berbunga-bunga. Lalu, diambilnya selembar foto di dalam amplop, ah… sebentar, biar kutenangkan diri… Bismillah…

Ah… kenapa akhwat ini?? Keluhnya. Bunga-bunga yang tadi bermekaran luruh satu persatu, beterbangan diterpa angin. Lunglai tubuhnya seolah tak bertenaga. Sesak memenuhi rongga dada.

Kenapa akhwat ini yang disodorkan padaku? Dia kembali mengeluh. Terbayang kembali akhwat berkulit legam dan sama sekali tidak cantik menurut ukurannya. “Semoga ia bukan jodohku..” doanya lancang. Ustadz… masa sih nyariin aku kayak gini? Kalau kayak gini sih.. aku juga bisa nyari sendiri. Congkak mulai merasuk.

Dikeluarkannya selembar foto. Foto diri yang sangat dibanggakan. Dia menatap mata elang yang mengagumkan. Hidung yang mancung, bentuk muka yang menawan. “Apakah salah jika aku menginginkan akhwat sholihah yang cantik?” Dia mendesah resah.


Dia Memang Bidadari

Ilham berusaha menyerahkan semua keputusan pada Allah. Ia akan berikhtiar dengan wajar dan berdoa dengan kesungguhan. Walau ia belum punya kemantapan namun ia akan mengosongkan perasaan buruk di hatinya. Ia akan berangkat dengan perasaan netral. Ia ingin semua langkah dimulai dengan kebersihan hati, kelurusan niat, ketergantungan yang besar pada Allah, dan kesungguhan ikhtiar. Ia tak ingin mengedepankan nafsu apalagi diiringi segala penyakit yang mengusamkan kalbu.

Taaruf yang ia jalani, bersama ukhti Dede -----nama akhwat yang disodorkan Ustdz. Faridz----- sangat wajar dan biasa saja. Ia didampingi Ustdz. Faridz, sedangkan Dede didampingi istri beliau. Komunikasi berjalan dengan baik, penyatuan persepsi lancar, pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar.

Ilham merasakan ada yang menarik hatinya. Wajah berkulit hitam itu memendarkan cahaya. Benar kata adiknya, jika berbicara sedap dipandang dan didengar. Inilah relativitas kecantikan, meski ada kecantikan yang diakui semua orang.

Ilham sempat deg-degan dan merasa was-was ikhtiarnya akan gagal ketika orangtua Dede mengujinya.

“Abah sudah dengar tentang kebaikan akhlak dan aktivitasmu. Sekarang Abah ingin mendengar langsung bacaan Quranmu. Abah tak akan menyerahkan putri Abah pada seseorang yang tidak bagus bacaan Qurannya.” Begitulah ujiannya. Alhamdulillah semua lancar dan ia diterima meski banyak catatan.

Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya Ilham dan keluarganya datang untuk mengkhitbah Dede. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Ilham yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.

Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dede, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.

Takdir Allah terjadi atasnya. Selama ini ia giat berdakwah di sebuah desa tertinggal. Desa yang dahulu nyaris kehilangan keislamannya, bergairah kembali dengan pembinaan rutin dari Dede dan kawan-kawannya. Rupanya, hal itu tidak disenangi oleh misionaris yang selama ini hampir berhasil memurtadkan penduduk desa itu.

Dia dibunuh, dalam perjalanannya sepulang dari baksos di desa itu. Dan ia dibunuh, karena mempertahankan akidahnya. Karena mereka tidak berhasil memaksanya untuk menukar keyakinannya dan meninggalkan aktivitas dakwahnya.

Ilham tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak disuntingnya. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.

Dalam desahnya ia bergumam,
“Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Seorang Ilham tak diizinkan Allah untuk sekedar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku, yang dulu sempat sombong terhadapmu.” Wajahnya tertunduk dalam.

“Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan.” Gumamnya penuh penyesalan.

Saatnya berDakwah Kawan!

Karena yang dulu2 udah dikirim artikel tentang ilmu dan macam2nya, kini saatnya kita praktekin tugas dan kewajiban kita, yaitu DAKWAH!

Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.

Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.

Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.

Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)

Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.

Demi Menjaga Mata dan Hati Kita

Suatu kali, masih dalam suasana lebaran, Hamid dan istrinya diundang Rozi datang ke rumahnya. Setelah disepakati, akhirnya mereka datang pada hari Kamis setelah ashar. Rozi tinggal di kawasan Hay Tsamin, sedangkan Hamid tinggal di bilangan Hay `Asyir. Perjalanan dari Hay `Asyir ke Hay Tsamin hanya memakan waktu lebih kurang seperempat jam dengan mengendarai mobil.

Rozi dikenal sebagai seorang aktifis. Ia baru menyempurnakan setengah agamanya beberapa waktu yang lalu. Istrinya adalah rekan kerjanya disebuah organisasi yang pernah ia geluti. Rozi termasuk salah seorang figur yang dikenal luas dikalangan mahasiswa. Walau selalu menjadi Top Leaders dibeberapa organisasi yang pernah ia terjuni, ia juga termasuk mahasiswa yang berprestasi dibangku kuliah.

Tak heran banyak mahasiswi yang melirik padanya. Tapi Rozi bukan tipe cowok matre, ia punya prinsip dalam menentukan pilihan hidup. Baginya kecantikan bukanlah prioritas, yang paling utama adalah akhlak dan agama.

Sedangkan Hamid tak jauh berbeda dengan Rozi, ia juga seorang aktifis. Aktifitas Hamid lebih banyak dalam pergerakan dakwah. Ia juga termasuk figur dikalangan mahasiswa. Namanya sering tampil pada deretan teratas dalam setiap organisasi yang ia geluti. Hamid adalah seorang pribadi yang penuh hati-hati. Sebelum melangkah ia akan berpikir dua kali.

Hamid dan Rozi telah lama menjalin persahabatan sejak di Indonesia. Namun belakangan sejak mereka tiba di Mesir, mereka memilih aktifitas yang berbeda sehingga diantara mereka pun timbul perbedaan manhaj berfikir. Walau demikian, mereka tetap akur dan saling menghargai pandangan masing-masing. Persahabatan mereka tetap terjaga.

Rozi dan istrinya punya pikiran yang seirama. Dan karenanya mereka pun memadu cinta yang terbina dalam bingkai pernikahan. Risa, istri Rozi dikenal seorang akfitis di Kairo. Tulisan-tulisannya menyebar di buletin mahasiswa. Ide-idenya yang segar selalu mendapat respon positif dari pembaca. Selain cerdas, Risa juga seorang yang jelita. Ia bahkan jadi rebutan para mahasiswa, tapi sayang, cinta mereka tidak bersambut, buah cinta Risa jatuh pada Rozi. Rozi dan Risa memang pasangan yang serasi, sama-sama pintar, sama-sama gagah dan cantik dan sama-sama jadi rebutan.

Rima istrinya  Hamid, juga dikenal seorang aktifis dikalangan mahasiswi. Dalam beberapa kesempatan ia sering diminta tampil memberikan materi dalam acara bedah buku, dialog, diskusi, kajian, seminar dan lain-lainnya.

Hamid dan Rima adalah pasangan yang serasi, sama-sama aktifis pergerakan dakwah dan punya komitmen yang sama. Mereka juga sama-sama punya daya tarik bagi lawan jenis. Hamid dengan perawakan tenang dan air muka yang selalu berseri, enak di pandang mata, cerdas dan taat. Sedangkan Rima, adalah wanita anggun dengan sikap penuh keibuan dan kasih sayang.

Kita kembali ke cerita awal, sesampai di depan pintu rumah Rozi, Hamid dan istrinya dipersilahkan masuk menuju ruang tamu. Di ruang tamu Risa telah menunggu kedatangan mereka.

Hamid dan Rima agak berat kaki melangkah menuju ruang tamu, mereka masih berdiri di depan pintu.

Rozi bertanya pada Hamid, "Ada apa Akhi ?"

Hamid menjawab, "Nanti akan saya jelaskan pada Akhi, saya minta istri kita di ruang dalam dan kita berdua di ruang tamu".

Rozi pun menyetujui dan ia tidak merasa keberatan. Mereka berdua duduk diruang tamu. Saling berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati makanan dan minuman yang telah dihidangkan Rozi.

Akhirnya rasa penasaran yang bergejolak dalam hati Rozi ingin segera ditumpahkan, ia bertanya pada Hamid, "Akhi, apa yang menjadi alasan Akhi sehingga antara kita dengan istri kita berpisah ruangan? Coba Akhi jelaskan alasan yang Akhi miliki"

Hamid hanya tersenyum, kemudian berkata, "Hanya ingin jaga mata dan hati kita".

"Hanya sebatas itu?", Rozi bertanya sambil mengernyitkan keningnya.

"Iya", jawab Hamid sambil kembali tersenyum.

Hamid melanjutkan, "Akhi, kita sudah sama-sama pernah belajar, sudah sama-sama tahu bahwa Allah telah perintahkan laki-laki yang beriman dan wanita-wanita yang beriman untuk selalu menjaga, menahan dan menundukkan pandangan mereka dari melihat segala sesuatu yang diharamkan Allah dan dari segala sesuatu yang akan dapat membangkitkan syahwat, karena itu lebih menyucikan hati.

Pandangan adalah umpama anak panah beracun dari syetan yang akan mengotori dan meracuni hati kita. Semakin sering mata melihat pada sesuatu yang akan mengotori hati, maka akan berkurang dan hilanglah lezatnya iman dalam hati dan nikmatnya beribadah.

Apa yang akan terjadi, kalau kita sama-sama duduk diruangan ini dengan istri-istri kita?

Kita tetap berbaik sangka, kita mungkin bisa saling menjaga, namun kita tidak tahu apa yang terjadi dalam hati. Dan mencegah lebih baik dari mengobati. Sebelum syetan lebih dulu menjerat kita dengan tipuannya, seorang mukmin harus lebih dahulu tahu akan hal itu.

Kalau kita duduk saling berhadapan, saya duduk dengan istri saya dan akhi duduk dengan istri akhi. Kemudian kita saling mengobrol, saling memandang, saling tertawa dan tersenyum. Bisa jadi terbersit dalam hati istri akhi ketika melihat saya rasa tertarik pada paras saya, senyum saya, mendengar suara saya dan seterusnya. Kemudian ia coba bandingkan antara saya dengan diri akhi yang telah ia kenal luar-dalam segala kekurangan dan kelemahan akhi. Dan ia menemukan ada daya tarik dari diri saya yang ia sukai tapi tidak ia temukan dalam diri akhi. Mungkin akan timbul sedikit penyesalan dalam hatinya, kenapa ia dahulu cepat-cepat menikah, sedangkan pria dihadapannya, lebih ganteng, lebih sopan, lebih manis senyumnya, lebih indah suaranya, lebih kekar tubuhnya, lebih pintar dan segalanya.

Apakah akhi ingin keadaan tersebut menimpa istri akhi? Tentu tidak bukan?! Begitu juga dengan saya, saya juga sangat cemburu bila istri saya punya perhatian dan daya tarik pada lelaki lain, saya ingin istri saya hanya milik saya seutuhnya.

Sebagaimana saya dan akhi tidak ingin hal itu terjadi pada istri-istri kita, istri-istri kitapun juga tidak ingin dihati suaminya ada wanita-wanita lain yang lebih membuatnya tertarik. Kalau kita saling bertemu, akhi melihat istri saya, rupanya ada sisi daya tarik yang akhi temukan pada dirinya, akhi bandingkan dengan istri akhi, yang mungkin suaranya kurang indah, kata-katanya kurang manis terdengar, budi bahasanya kurang elok dan lain-lainnya, singkatnya segala hal yang akhi dambakan, tapi tidak akhi temukan hal tersebut pada diri istri akhi. Barangkali syetan akan membisikkan dihati akhi rasa penyesalan, ah.., kenapa saya menikah terlalu cepat dahulunya, rupanya masih banyak wanita yang lebih jelita, anggun, dan cerdas dari istri saya saat ini. Dan hal itu juga mungkin bisa terjadi pada diri saya.

Apa yang saya utarakan hanya sebagai contoh, agar kita lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan kita, jangan sampai kita memberi peluang pada syetan dan hawa nafsu untuk mencelakakan diri kita. Seorang mukmin harus cerdas.

Saya berbaik sangka, dugaan-dugaan diatas mungkin tidak akan terjadi diantara kita, tapi kita tidak bisa menjamin seutuhnya bahwa kita bisa selamat dari keadaan itu. Mungkin hari ini kita bisa tejaga, tapi kita tidak tahu dengan esok, lusa dan seterusnya. Jadi pada intinya mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Disamping itu saya ingin istri saya menjadi bidadari di dunia sebelum menjadi bidadari di sorga. Diantara karakteristik bidadari sorga adalah ’Qashiratut tharfi’, maksudnya adalah ia hanya melihat, mamandang pada suaminya. Tidak ada pria yang ia kenal selain suaminya. Dan tidak ada pria yang lebih gagah dan ia cintai selain suaminya. Betapa indahnya hubungan tersebut.

Apa yang saya sampaikan hanyalah pandangan saya yang mungkin salah dan mungkin juga benar. Tapi inilah yang saya pahami selama pembelajaran saya sampai saat ini. Mungkin terkesan agak fundamental dikalangan sebagian orang, tapi mempertahankan agama di zaman yang fitnah telah tersebar dimana-mana ibarat memegang bara api".

Rozi tertegun mendengar penjelasan Hamid, ia manggut-manggut tanda setuju. Sejak saat itu kehidupan Rozi mulai berubah juga keadaan istrinya. Iapun nampak lebih alim. Kalau dahulu ia selalu gesit dalam kegiatan yang didalamnya ada ikhtilath dengan lawan jenis, sekarang semua itu berusaha ia hindari. Ketika ditanya kenapa ia berobah, ia menjawab "Saya telah bertobat".

* * *

Betapa berharganya seorang sahabat yang soleh. Sahabat yang tak ragu menyampaikan kebenaran. Sahabat yang melandasi persahabatan atas dasar ketaatan pada Allah. Sungguh beruntung orang-orang yang selalu mengambil manfaat dari sahabat yang soleh dan amat merugilah mereka yang mengabaikan keberadan mereka.

Salam dari Kairo,

marif_assalman@yahoo.com

Lelaki dan Kesetiaan

Bagaimana saya bisa memulai menulis tentangnya, tentang seorang lelaki dan kesetiaannya. Sejujurnya saya tak begitu mengenalnya lebih jauh, hanya sedikit cerita dari adik saya yang merupakan menantu dari lelaki itu, dan dari tante saya yang tinggal bertetangga dengannya. Tetapi dari yang sedikit itu rasanya begitu banyak yang terasa menyentuh dihati saat mendengarnya.

Ia telah menikah selama hampir 30 tahun, telah dikarunia 4 orang anak yang telah berkeluarga, kecuali si bungsu yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Selama 30 tahun pernikahannya, tahukah anda berapa tahun yang sempat dilaluinya utuh sebagai suami istri selayaknya? Mungkin hanya sekitar 11 tahun….saaat si bungsu baru berusia 1 tahun, sang istri terkena penyakit yang tak tahu apa sebab dan akibatnya.

Sering merasa ada bisikan-bisikan aneh di telinganya yang membuatnya kadang tak ingat dan tak sadar dengan sekelilingnya. Tahun-tahun pertama, ia masih dengan sabar membawa sang istri untuk berobat, mulai dari pengobatan medis hingga alternative. Tahun-tahun tanpa perubahan yang berarti…..tetapi lelaki itu tetap sabar, hingga akhirnya ia tiba pada satu keputusan, ia sendiri yang akan menjaga dan merawat sang istri.

Ia sadar akan banyak mengorbankan hal-hal di luar menjaga sang istri. Pekerjaan yang dijalani sebagai pengajar, dilakukan hanya benar-benar pergi untuk mengajar, tak pernah sempat untuk bersosialisasi, meski ditawari jabatan yang cukup bergengsi, ia sadar akan tugas dan kewajibannya menjaga sang istri butuh waktu dan perhatian extra. Pun saat silaturahmi dengan keluarga mulai terbatas untuk dilakukannya, bahkan saat adik saya menyelenggarakan aqiqah anaknya, sang kakek tak sempat datang karena tak ada yang menjaga sang istri.

Ia tak pernah keluar rumah sebelum memastikan sang istri ada yang menjaga. Bergantian ia dan anak-anaknya menjaga sang ibu, disela-sela kesibukan masing-masing. Kesadaran yang turun naik, kondisi fisik yang kadang memburuk, dan itu telah berlangsung selama hampir 20 tahun....

Apa yang ada di benak lelaki itu? Sungguh saya sangat ingin bertanya langsung padanya, tapi rasanya saat ini belum mungkin. Lelaki pendiam dan bersahaja itu, hanya beberapa kali saya bertemu dengannya, itupun tanpa percakapan apa-apa. Tapi dari sorot matanya saya tahu betapa ada bintang-bintang kesetiaan terpancar di matanya.

Lelaki itu pernah berkata pada anaknya mungkin ini amanah dari Allah untuk menjaga istrinya, menurutnya ini memang tugas yang telah di berikan Allah khusus untuk dirinya karena orang lain belum tentu bisa melakukanya….

Berapa banyak lelaki seperti itu di dunia ini? Lelaki yang tetap setia dan sabar menjaga istri yang sakit-sakitan bahkan selama 20 tahun, mungkin tak lagi bisa melayaninya lahir dan bathin. Sebuah alasan yang sungguh sangat dibenarkan dalam agama baginya untuk menikah lagi. Tetapi itu tidak dilakukannya.

Berapa banyak lelaki yang justru memiliki istri yang sehat walafiat tanpa kurang suatu apa pun tetapi tak jua mampu mengukuhkan kesetiannya pada sang istri? Dengan berbagai alasan dan pembenaran untuk bisa memalingkan cinta pada yang lain. Tetapi lelaki itu tidak!.

Kisah seorang istri yang setia pada suami mungkin masih sering kita dengar, tetapi kisah seorang suami yang seperti ini sungguh bukan hal yang biasa terdengar. Dia rela menghabiskan waktunya di rumah untuk tetap menjaga dan mengurus sang istri memastikan semua baik-baik saja.

Suatu saat kondisi istri agak memburuk, kami sekeluarga sempat menjenguk sang istri yang terbaring kaku, berhari-hari tak bisa makan, hanya sesekali disuapi susu oleh si bungsu, wajah lelaki itu muram tapi tetap berharap, meski sehari sebelumnya, adik saya sempat bercerita untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu menangis melihat keadaan sang istri, seraya berdoa agar Allah bisa memutuskan yang terbaik bagi sang istri, karena begitu tak tahan ia melihat penderitaan sang istri.

Waktu 20 tahun, bukan waktu yang singkat untuk memupuk kesabaran dan kesetiaan, tetapi lelaki itu telah membuktikannya. Atas alasan apa? Entahlah....hanya dia dan Tuhan yang tahu.....semoga ia mendapat balasan yang setimpal dengan kesabarannya, mungkin hanya bidadari di syurga yang layak mendampinginya sebagai balasan atas kesetiaannya....

Ah, cinta.....masih adakah cinta yang seperti itu, yang tulus memberi tanpa beharap balasan? Yang kukuh memupuk cinta meski hanya menumbuk bayangan semu yang tak lagi nyata bisa menemaninya merangkai hari-hari tua.

Sungguh beruntung sang istri memilikinya, semoga Allah menghapus semua kesalahannya disebabkan sakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.
And....my husband....would you love me like that???

Wahai Akhi, Takutlah pada Allah!

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berada di internet yang letaknya tidak jauh dari rumah saya, di Saqar Quraisy, seorang pemuda duduk disamping saya, tengah sibuk mengotak-atik komputer.

Ketika saya tengah membuka email dan membaca berita, pandangan saya tanpa sengaja tertuju pada layar monitor pemuda tersebut, dan alangkah sangat terkejutnya saya dengan apa yang saya lihat. Si pemuda menonton adegan yang menurut saya sangat tidak layak untuk ditonton.

Saya segera mengingatkannya, “Akhi, tinggalkanlah itu!”

Ia menoleh pada saya dan berkata, “Emangnya kenapa?”

“Apa yang akhi lihat tersebut akan merusak pikiran dan hati akhi”, jelas saya padanya.

“Akhi kuliah di Azhar?”, lanjut saya bertanya padanya karena saya melihat buku yang ia bawa.

“Tidak”, balasnya.

Saya kembali melanjutkan aktifitas saya. Dan si pemuda sudah menutup apa yang ia tonton. Beberapa waktu kemudian ia terlihat kembali membuka tontonan yang tidak layak tersebut. Saya kembali mengingatkannya, tapi ia tidak mengacuhkan. Sebelum beranjak pergi saya berkata padanya, “Wahai Akhi, takutlah pada Allah!”.

Hal lain yang saya lihat dari pemuda tadi adalah, jelas sekali perbedaan antara orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman dan amal soleh dengan hati orang yang kotor oleh dosa dan maksiat.

Orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman, terpancar kerjenihan pada wajahnya. Air mukanya terlihat tenang, sejuk dipandang dan bersinar. Sedangkan orang yang dalam hatinya dipenuhi oleh kotoran dosa dan maksiat, terlukis pada pancaran mukanya yang keruh, gelap, dan kurang nyaman untuk dipandang.

Apa yang saya lihat, mungkin hanya satu dari sekian banyak pemuda yang sering mengakses situs-situs jorok tersebut. Sangat memprihatinkan, betapa tidak, karena perbuatan itu akan merusak pikiran, hati dan amal.
Bagaimana itu bisa terjadi ...?

Orang yang suka melihat gambar dan tontonan yang jorok, akan tersimpan memori itu dalam otaknya, dan lama kelamaan ia akan menjadi pikiran yang sering mengganggu. Kemudian timbullah bisikan dari setan dan dorongan dari hawa nafsu untuk mempraktekkannya. Dan kalau orang tersebut tidak tahan ia akan bisa terjerumus pada perbuatan zina.

Semua itu berawal dari pandangan yang tidak dikontrol.

Dan akibat lainnya adalah, pikiran yang sulit untuk fokus, hati yang selalu resah gelisah tak menentu, karena dosa dan maksiat menggelisahkan hati. Dan pada akhirnya orang tersebut akan diperbudak oleh hawa nafsu dan setan. Sehingga akan sulit untuk belajar dengan tenang, ibadah dengan khusyuk dan tidak akan pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya ibadah.
Hati ibarat sebuah wadah.

Apa yang akan kita lakukan bila wadah yang biasa digunakan untuk meletakkan makanan berisi kotoran?
Langkah yang tepat adalah membersihkan wadah itu terlebih dahulu, baru kemudian memasukan makanan. Kalau tidak dibersihkan, makanan yang lezat akan bercampur dengan kotoran tersebut dan jadilah makanannya tidak enak.
Mungkin diantara kita telah sering mendirikan shalat, membaca al-Qur`an, berzikir dan amal ibadah lainya, tapi sering kali kita tidak merasakan rasa nikmat dan lezat dalam hati, dengan kata lain kita tidak merasakan kemanisan dalam beribadah. Kenapa hal itu terjadi?

Barangkali kondisi hati kita masih menyimpan kotoran dosa dan maksiat yang belum tuntas atau belum pernah kita bersihkan. Baik kotoran dosa dan maksiat itu berasal dari mata, pendengaran, kata-kata, pikiran-pikiran kotor atau niat-niat yang jelek. Itu yang selama ini menjadi penghalang kita untuk merasakan manisnya ibadah dan lezatnya ketaatan. Semakin banyak kotoran dosa dan maksiat mengisi hati maka akan semakin sulit bagi kita untuk merasakan lezatnya ibadah.

Saudaraku,
Dimanapun kita berada dan kapanpun, Allah selalu melihat kita, mengetahui apa yang kita lakukan dan tidak ada satu tempatpun di dunia ini yang lepas dari pandangan Allah Swt., bahkan apa yang terbersit di hati kita Allah Swt. mengetahuinya.
Allah Swt. berfirman dalam beberapa ayat, “Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk shalat). Dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud” [ Asy-Syu`ara` : 218-219 ]

“Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [ Al Hadid : 4 ]

“Bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di bumi dan di langit” [ Ali Imran : 5 ]

“Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi” [ Al Fajr : 14 ]

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada” [ Ghafir : 19 ]

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman Mu`adz bin Jabal r.a, Rasulullah bersabda :

”Bertaqwalah kamu pada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik ( akan menghapus keburukan ) dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik” [Hr. Tirmidzi ]

Dan yang diriwayatkan dari Anas r.a, Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh kalian mengerjakan suatu amalan yang ianya dalam pandangan kalian lebih halus nilainya dari sehelai rambut, akan tetapi kami pada masa Rasulullah Saw. menganggapnya sebagai suatu perbuatan yang membinasakan” [Hr. Bukhari]

Semoga kita tidak tergolong pada orang-orang yang tertipu oleh bujuk rayu setan dan hawa nafsu. Wallahul musta`an

Salam dari Kairo,
marif_assalman@yahoo.com

Jeritan Para Lelaki

He..he…jangan kaget ah lihat judulnya. Barusan terima ini nih di salah satu milis yang kuikuti. Kuposting aja deh ya, entah bener begitu nggak sih para cowok, kalian sendiri (para cowok) deh yang tahu jawabannya.
Maaf ya kalau yang punya blog belum sempat blogwalking (nih update blog aja baru dilakukan setelah 2 minggu dari postingan sebelumnya), biasa deh sok busy, semoga week end ntar bisa keliling2 ke blog teman2 deh.

Para Cowok mengungkapkan isi hatinya untuk para cewek :

1. Tidak Semua cowok seperti Deddy Corbuizer.
Jadi jangan harap kami bisa membaca isi pikiranmu disaat kamu manyun tanpa suara. Kami bukan penganut aliran kebatinan, yang mampu membaca batin seseorang. Apa susahnya sih bilang : “Aku laper, beliin dong aku pakaian baru, tolong rayu aku…!!”

2. Hari Minggu itu waktunya istirahat setelah 6 hari bekerja. Jadi jangan harap kami mau menemanimu seharian jalan-jalan ke mall.


3. Berbelanja itu BUKAN olahraga. Kami gak akan berpikir kearah situ. Bagi kami belanja ya belanja, kalau sudah pas ya langsung beli saja. Perbedaan harga toko A dan B cuma 1,000 perak, jadi nggak usah keliling kota untuk cari yang paling murah, buang-buang bensin aja. Capee deh, beneran!

4. Menangis merupakan suatu pemerasan.
Lebih baik kami mendengar suara petir, guntur, bom meledak daripada suara tangisanmu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa.

5. Tanya apa yang kamu mau. Cobalah untuk sepaham tentang hal ini.

Sindiran halus tidak akan dimengerti. Sindiran kasar pun tak akan dimengerti. Terang-terangan menyindir juga kami gak ngerti! Ngomong langsung knapa?!

6. Ya dan Tidak adalah jawaban yang paling dapat diterima hampir semua pertanyaan. It’s Simple !!

7. Cerita ke kami kalo pengin masalah kamu diselesaikan. Karena itu yang selalu kami lakukan. Pengen dapet simpati doang sih cerita aja sendiri ke temen-temen cewekmu. Jangan kepada kami.

8. Sakit kepala selama 17 bulan adalah penyakit. Pergi ke dokter sana !

9. Semua yang kami katakan 6 bulan lalu gak bisa
dipertimbangkan dalam suatu argumen. Sebenernya, semua komentar jadi gak berlaku dan batal setelah 7 hari. Janji kami untuk “menyebrangi lautan dan mendaki gunung” itu hanyalah klise, jangan dianggap serius.

10. Kalo kamu gak mau pake baju kayak model-model pakaian dalam, jangan harap kita seperti artis sinetron dunk.

11. Kalo kamu pikir kamu gendut, mungkin aja. Jangan tanya kami dong. Cermin lebih jujur ketimbang lelaki.

12. Kamu boleh meminta kami untuk melakukan sesuatu atau menyuruh kami menyelesaikannya dengan cara kamu. Tapi jangan dua-duanya dunk. Kalo kamu pikir bisa melakukannya lebih baik, kerjain aja ‘ndiri.

13. Kalau bisa, ngomongin apa yang harus kamu omongin pas iklan aja. Ingat, jangan sekali-kali ngomong apalagi pas saat tendangan penalty.

14. Kami bukan anak kecil lagi, jadi tak perlu mengingatkan : “Jangan lupa makan, selamat tidur”, dll. Menurut kami itu hanyalah pemborosan pulsa saja.

15. Kalo gatel kan bisa digaruk sendiri. Kami juga kok.

16. Kalo kami nanya ada apa dan kamu jawab gak ada apa-apa, kami akan berpikir memang gak ada apa-apa. Ingat, seperti no.1 di atas kami bukanlah pembaca pikiran. Ngomong baby…ngomong lah…!!

17. Kalo kita berdua harus pergi kesuatu tempat, pakaian apapun yang kamu pakai, pante
s aja kok. Bener! Jadi tidak ada alasan gak mau pergi kepesta karena tidak ada baju.

18. Jangan tanya apa yang kami pikir tentang sesuatu kecuali kamu memang mau diskusi tentang bola, game, billiar, memancing atau mungkin juga tentang teknik mereparasi mobil.

19. Kami malas berdebat secara hati dan perasaan. Ingat, kami hanya pakai logika!!

20. Terima kasih sudah mau baca ini. Iya, aku akan tidur disofa nanti malam depan rumah.
 

Inspirasi Dakwah : “Akhwat Pemulung”

    Namanya Ming Ming. Memakai gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1 jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.
Saat kelas usai, dia pergi ke perpus. “Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.” Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)
Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM. Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.
Namun dia tidak naik kendaraan untuk pulang. Sambil berjalan, dia memungut dan mengumpulkan plast
ik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.


Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang. Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine
it ?)
Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.
Ini adalah cerita nyata yang yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore tanggal 18/8/2009. Di Trans TV juga disiarkan hari selasa beberapa hari sebelumnya, di acara KEJAMNYA DUNIA Sungguh episode yang membuat bulu kudu kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.
1. Astaghfirullah. Gimana bisa kita masih sering mengeluh hanya karena tabungan ga nambah-namba
h?
2. Gila…(sensor) . Bagaimana dia bisa berjalan 10 km perhari? Kita aja jalan 20 menit ke kantor tiap pagi dan sore sudah merasa capek banget. Lemah.
3. Subhanallah. Semangatnya itu loh. Kalau dengar dia berkata-kata, sepertinya tidak ada rasa minder, malu, bahkan dia sangat yakin. Oh girl, you are so great. Wonderfull.

Source: email dari teman. Semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu bersyukur akan apa yang kita punya.
 

boleh ga nikah dengan akhwat non tarbiyah?

“kalo ane menikah dengan akhwat non tarbiyah gmn?dia pernah LQ, tapi lepas karena faktor domisili. Dia udah ga jilbab lebar lg, tapi nilai-nilai tarbiyah masih ada. hanif”


pernyataan diatas merupakan SMS yang gue kirim ke beberapa sahabat kemarin, ada beberapa yang jawab, diantaranya :
“tancep terus aja ma, kan jadi ladang pahala buat nte. Apalagi dia lepas hanya karena faktor domisili”
“kira-kira sefikroh ga? Kalo banyak persamaannya ya tafadhol….istikhorohin ya…”
“ga masalah sih asal lo bisa bawa dia, emang lo udah ktemu ma?”
“sayang aja. Akan banyak akhwat bertanya-tanya. lha wong stok akhwat aja banyak yang vacant kok cari yang diluar? Kenapa emangnya? Nte jatuh cinta ye?:p”

“mba ga masalah karena kamu yang akan jalanin. Kalo masalah penolakan dari tandzim dan murobbi
kamu ya wajar. Tapi kan kamu yang jalanin, kalo kamu yakin dengan keputusanmu, ya jalanin aja”

“setau ane sih ma, utk model kaya kita gini emang blh milih sendiri, tapi tetep kudu sama akhwat tarbiyah. Lagian akhwat masih banyak. Ortu nte udah setuju belum?”
“pada dasarnya tidak ada masalah, cuma nanti tugas antum jadi terbagi dgn membina istri. Toh kalo emang jodoh dari allah sapa yang bisa halangi?:p. menikah tidak hanya dengan siapa yang penampakannya gimana. Itu hal kecil. Visi dakwah dan amal shalih harus kuat”
“cincay lah akh yang penting antum usaha dan nikah aja dulu (semoga jodoh dan motivasi utk lebih ber
amal sholih) tapi yang perlu diluruskan, LQ bukan prasyarat nikah tapi salah satu sarana dan upaya memperbaiki diri”
“keputusan kita menikah dengan siapa pun berkaitan erat dengan visi misi kenapa qt menikah. Kalo menurut pertimbangan qt dengan dia qt bisa mencapai tujuan mendasar/visi misi kenapa seorang ikhwah menikah, kenapa tidak?boleh aja. Ant yang akan menjadi imam, tanggung jawab terhadap istri ant ada dg ant, kalo ant siap dengan resiko apapun, silahkan aja….”
“liat dulu tingkat kefuturannya, kalo menurut teteh, utk seorg aktifis agak berisiko kalo aktifis pilih yang hanif. Takutnya nanti gak terima dengan kesibukan aktifitas dakwah yang kadang tdk kenal waktu, kalau lebih banyak yang berkualitas kenapa tidak ambil mereka aja?”

“menikah dengan siapapun adalah pilihan dan hak memilih. Kalo ana, ikhwah atau bukan yang penting landasan pemikiran dan kefahaman ttg masa depan islam sama dengan ana+akhlak muslim.mnrt ant?”

atau ada jawaban sinis

“knp ant nanya gitu? Apa sudah ga ada lagi akhwat tarbiyah yang mau menerima ant?
  Itu tadi pernyataan sahabat-sahabat ane tentang wacana yang ane gulirkan. Ada yang dukung, ada yang pura-pura dukung tapi ga suka atau langsung sinis. Ustadz ane juga pernah bilang “ kenapa kita menikah dengan akhwat tarbiyah, supaya dia bisa mengerti aktivitas dakwah kita yang tak kenal waktu” trus kenapa istrinya selalu
nelpon supaya dia cepet pulang kalo Liqo udah jam 11? Atau banyak temen ikhwah yang akhirnya susyah beraktivitas karena dilarang istrinya. Ga boleh pergi ngisi LQ, ga boleh pergi ngisi outbound. Padahal istrinya aktivis lho!!!kader inti tarbiyah juga!!! Atau persyaratan beberapa akhwat yang nyaratin suaminya ga banyak keluar kota, ga aktif banget, harus kerja kantoran yang jadwalnya rutin, nah lho? Katanya aktifitas dakwah ga kenal waktu? Harusnya seorang akhwat tarbiyah ngerti dong dengan aktivitas suaminya yang da’i? jadi, apa bedanya akhwat tarbiyah dengan non tarbiyah? Sama aja kan!?
   
  Mamaku bukan kader tarbiyah. Dia hanya seorang ibu yang hanif. Tapi dia bisa mengerti aktifitas papa yang super sibuk sebagai birokrat dan aktifis pergerakan, dia bisa jadi pendukung papa yang baik. Ketika papa sering keluar k
ota untuk urusan kantor dan organisasinya mama ga protes. Bahkan dia bisa mengerti dan mendukung aktivitas dakwah tiga anaknya yang kader tarbiyah dan superaktif. Anak-anaknya cuma ada di rumah kalo sakit aja. Selebihnya aktif dengan komunitasnya masing-masing. Dan mama ga pernah protes, dia malah support penuh segala aktifitas dakwah anak-anaknya. Apakah itu dilakukan juga para ummahat tarbiyah?
   
  Lalu kalo ternyata kita bisa membawa akhwat tersebut kembali ke pangkuan tarbiyah gimana? Toh dia hanif. Rasulullah kan minta kita memilih istri karena 4 hal. Salah satunya adalah karena agamanya, syarat dia harus tarbiyah
kan ga ada? lagipula Dia seperti itu kan karena lingkungannya, kalo kita berhasil narik dia ke lingkungan kita kan dia akan kembali ke jalurnya. Trus kalo dia nikah dengan orang lain yang bukan tarbiyah gmn? Dia akan semakin jauh dengan nilai tarbiyah. Siapa mo tanggung jawab? Mungkin ini hanya pembenaran, tapi ini juga harus jadi bahan perenungan kita semua.
   
  Kalo menurut pengakuan beberapa sahabat ikhwan yang rada bandel, emang susyah jadi ikhwan yang di blacklist dan bandel. Cari istri lewat murobbi, susyah karena di-blacklist sama ummahat. Jalurnya ditutup. Dibilang terlalu liar, terlalu cair, ga layak jadi ikhwah, Terus belum lagi banyak isu ga sedap yang bikin nama kita ancur. Akhirnya murobbi angkat tangan karena ga bisa nyariin. Kalo mo cari sendiri atau nembak langsung ke akhwatnya eh malah dibilang ikhwan tukang tembak dan ga taat asas. Ga ikut jalur, ga taat murobbi, pemilih, cuma mentingin fisik dll wah pokoknya Gosipnya malah tambah parah. Beberapa petinggi ummahat bilang dengan sinisnya “kok bisa sih ikhwan selevel di
a masih potong jalur?”. Trus ketika pengen cari yang non tarbiyah aja, eh malah disalah-salahin. Gosipnya tambah buas dan tambah sinis, Katanya “apa ga ada akhwat tarbiyah lagi sampe cari orang luar tarbiyah” dll. Wualah tambah runyam…….
  Nah lho…..kok jadi serba salah ya? Trus harus gimana dong? Apa solusinya keluar dari tarbiyah aja? Jadi ga ada perdebatan boleh ga nembak atau cari non tarbiyah? Jadi jangan mencibir atau mencela ikhwan-ikhwan yang memilih menikah dengan akhwat non tarbiyah kalo para akhwat masih ga bisa nerima perbedaan yang ada!! Kalo para akhwat masih dengan mimpinya tentang “pangeran berkuda putih”. Kalo masih bilang ikhwan2 yang “beda” tidak layak sebagai ikhwah. Kalo masih ada blacklist dan perlakuan diskriminatif lainnya. Kalo akhwat lebih memilih ikhwan masih hanif dibandingkan ikhwan tarbiyah tapi rada baong. Jadi wajar dong kalo ikhwan nemba
k langsung atau nikah dengan non tarbiyah!? Yang penting sholehah kan????
wallahualam
 

Tentang Aurat Laki-laki (muslim) dan Hukum Berpakaian Bagi Laki-laki

Dalam masalah aurat, sudah banyak sekali pembahasan mengenai aurat umuslimah terhadap sesamanya. Baik aurat muslimah terhadap muslimah yang lain, muslimah terhadap perempuan kafir, muslimah terhadap lawan jenis yang merupakan mahramnya, maupun muslimah terhadap lawan jenis non-mahram. Namun sangat disayangkan sangat sedikit bahasan mengenai batas aurat laki-laki bahkan hal ini cenderung disepelekan.

Betapa banyak aktifis dakwah yang dengan tenangnya memakai celana pendek atau ¾ yang kependekan ke pertemuan-pertemuan resmi, seolah tidak takut auratnya tersingkap. Atau ketika hanya berada diantara para ikhwan melepas baju seenaknya sehingga menampakkan aurat yang seharusnya ditutupi. Atau memakai pakaiaan yang terlalu ketat dan “pas pinggang” sehingga ketika menunduk auratnya tersingkap. Karena itu, saya merasa perlu untuk menuliskan hal ini karena seakan-akan hal ini disepelekan dan dianggap tidak penting. Padahal Allah telah menyuruh kita untuk masuk ke dalam islam secara menyeluruh;

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS 2;208)

Batas Aurat Laki-laki :

Batas aurat laki-laki menurut jumhur ulama adalah antara pusar dan lutut baik kepada laki-laki muslim dan non-muslim atau wanita muslim dan non-muslim.

Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat

Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid].



Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya

dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda:


“Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR.

Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib].


Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat

kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda:

“Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat

Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].



Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan

janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud

dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].

Empat dalil diatas sudah menjelaskan tentang batas-batas aurat bagi seorang laki-laki. Dan definisi aurat adalah bagian tubuh yang wajib di tutupi dan haram untuk diperlihatkan kepada orang lain yang tidak berhak melihatnya. Adapun pengucualian khusus adalah bagi istrinya yang boleh melihat seluruh anggota badannya. Karena istrinya adalah pakaian baginya dan fungsi pakaiaan adalah menutup aurat. Menutup berarti menyentuh, bagaimana mungkin tidak boleh melihat sementara menyentuh hukumnya lebih berat daripada melihat”.

Batas Berpakaian bagi laki-laki

Ada tiga batas bagi laki-laki dalam berpakaian yaitu :

1. Tidak menyerupai wanita

Jujur, saya miris sekali melihat kenyataan bahwa sekarang laki-laki yang berpakaian seperti wanita dianggap sebagai sebuah lelucon dan bercandaan. Mereka tertawa dan bercanda ria, padahal yang dilanggar adalah aturan Allah!?

2. Tidak mengunakan Sutera dan Emas

Laki-laki dilarang mengunakan sutera dan emas baik berupa cincin, jam tangan atau kalung. Hmmp, harus lebih selektif nih dalam memilih aksesoris.

3. Tidak menyerupai orang-orang kafir

Bila ada kesalahan dalam penulisan fiqh ini, tolong diperbaiki dan dikoreksi, karena penulis juga masih sedang belajar, untuk lengkapnya bisa dilihat pada :

http://taufiqsuryo.wordpress.com/2008/06/07/seri-faq-fiqh-islam/

 

Ikhwah Kecanduan

Bismillah…

Apa Jadinya Kalo Ikhwah Kecanduan?

Emang ada ya ikhwah kecanduan?? Eh, jangan
salah…banyak malah!! Tapi, jangan dibayangkan kalo kecanduannya ma obat-obatan terlarang… (ya Allah, na’udzubillah…Semoga semua ikhwah dijauhkan sejauh-jauhnya dari barang haram itu!!). Meskipun si penikmat (baca: penderita) gak sampe sakau, kecanduan di sini juga amat sangat berbahaya sekali banget bagi kelangsungan dakwah para ikhwah.

Berawal dari sekadar hobby, iseng, coba-coba, kebetulan, ngisi waktu luang, ato just hiburan, trus keasyikan, lalu jadi kebiasaan, dan…dan…dan…eh, malah kecanduan!!! Gaswat kaaan?!! Astgfirullah…Parahnya lagi, candu di sini gak
mandang usia pembinaan. Gak peduli ia sudah tertarbiyah 3 tahun, 4 tahun, 7 tahun, 10 tahun, bahkan lebih. Seorang ikhwah yang rajin dalam pembinaannya tidak serta merta menjadi “kebal” terhadap candu-candu tersebut. Faktor yang mungkin sangat berpengaruh dalam penyebaran candu adalah lingkungan.

Mulanya mungkin sekadar pengisi kejenuhan. Tapi akhirnya menjadi aktivitas dominan, bahkan menyita banyak perhatian. Dan kemudian, agenda-agenda dakwah perlahan mulai ditinggalkan. Perlahan militansi akan berkurang. Sampai akhirnya melemah, dan….. hilang. Na’uudzubillah….Tsumma Na’uudzubillah….

Apa aja sih candunya?

Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan, ditemukanlah jenis-jenis candu yang dapat merusak kesehatan -fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah- para aktivis dakwah, diantaranya:

1. Ngegames

Awalnya sih pengen cari hiburan, trus ketagihan. Apalagi kalo lagi nganggur alias gak ada kerjaan, ngegames aja aaah, refreshing gitu lhoh! Ck..ck..ck..Ini adalah jenis candu yang    berbahaya, coz bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Bisa di kompi, lepi, atau HP . Gak di rumah, kantor, kampus, sekolah, di halte, sampe di dalam angkot.

2. Nonton Bola 

Heran deh, betah banget 2 jam cuma melototin bola yang diuber-uber ma sekawanan orang. Istimewanya apa sih? (Waduh, ane bisa ditimpuk pake bola ma penggemarnya nieh). Mending juga maen bola di lapangan. Kan bisa menyehatkan dan menguatkan. Dari pada cuma nonton, yang olahraga biji mata doang. Candu ini akan semakin mewabah ketika musim Piala Dunia tiba. Hehehe jadi inget Bapak dan kakak, kalo pas ane lagi di rumah (liburan), beliau-beliaunya sering berpesan sebelum tidur malam, “Dek (Nak), ntar malem bangunin ya, jam 3”. “Mau tahajjud ya kak?” Tanya ane dengan polosnya. “Iya, sekalian nonton bola”  Gyaaaaa…. Piiiss deh kak!! Bukannya ngel
arang sih. va cuma takut besoknya waktu kerja di kantor kakak malah ngantuk. Eniwei, gak hanya ikhwan aja lho yang maniak bola, akhwat juga ada (termasuk vans ).

   3. Film 

Dari film-film lokal, Box Office, sampe Drama Korea. Gak peduli harus nyewa VCD ato ngacir ke bioskop. Kecanduan film gak hanya dalam bentuk nongkrong di depan layar kaca, tapi juga ke dalam otak dan mempengaruhi pandangan
kehidupan.

4. Maen PS

Biasanya ikhwan nieh (tapi, gak tertutup kemungkinan akhwatnya juga). Awalnya mungkin sekadar pengisi kejenuhan, trus penasaran kenapa gak menang-menang (kalah mulu), lama-lama jadi kecanduan. ‘Afwan, ane kurang
paham soal PS, coz emang gak tertarik ma jenis olahraga jempol tangan yang gak menyehatkan ini. Yang jelas, maen PS sangat berpotensi untuk bikin kita lupa waktu..!!

5. Komik

Waduh, ini juga jenis candu yang amat berbahaya. Diawali dari hobby trus dikoleksi, dan kalo dah keasyikan baca, bisa lupa diri. Parahnya lagi, jika tokoh-tokoh dalam komik diadopsi dan dicocok-cocokkan ma karakter pribadi. Ada yang suka karena ceritanya yang lucu, kocak, semangat, dan penuh misteri. Gak heran kalo ikhwah ada yang terobsesi dan mempersepsikan diri seperti Conan, Naruto, ato Kakashi.

 6. Musik

Ada yang punya grup nasyid latihannya hampir tiap hari (Apalagi kalo    musim walimahan seperti saat ini ). Intensitas dengerin nasyid lebih sering ketimbang Murottal. Nasyid yang didengerin juga masih diragukan statusnya sebagai nasyid   (Maksudnya?). Musik..musik..musik…Dari yang jahiliyah sampe yang (katanya) islami. Awalnya mungkin gak sengaja denger dari temen-temen. Ato kebetulan gak ada acara. Daripada bengong, lebih baik mengaktifkan indra audiovisual. Maka layar kaca menjadi alternatif. Kebetulan acaranya musik-musik yang lagi in. hampir semua stasiun kereta api (eh, televisi) menyajikan menu musik jahili. Ada INBOX, Dahsyat, Klik, MTV Ampuh, dll, dsb, dst. Walhasil, aktivis dakwah jadi hafal lagu-lagu “aneh” gitu ketimbang hafal Al Quran dan hadist. Dan saking terbiasanya, lirik-lirik itu sampe kebawa ke ruang bawah sadar dan tercetus seketika. Kayak kemaren, pas ada seorang akhwat yang sebel ma temen akhwatnya, tiba-tiba temen akhwatnya langsung berkumandang, “Eh eh koq gitu sih..lo koq marah…jangan gitu sayang, jangan gitu sayang.” Seraya merayu dan menggodanya (Prens Filah tau kan itu lagunya siapa). Ckk..ck..ck…sampe segitunya. Penyebarannya memang dahsyat.

 

  7. Ngenet 

Whuaaa…ini nih candu yang gak kalah hebatnya dibanding candu-candu yang lain. Mulanya mungkin kebutuhan, cari informasi, ajang silaturahmi, pengen diskusi, trus…trus…trus… Yup! Asyik memang melanglang buana di dunia maya. Kalo kata Gita Gutawa, “Tak perlulah aku      keliling dunia”. Mau berita apapun, semua dah tersaji di depan mata, di kotak segi empat di hadapan Anda. Tinggal KLIK! Apalagi dengan fasilitas-fasilitas internet yang memanjakan. Mau berekspresi dengan tulisan, ada Blog. Mau nampang (menarsistkan diri), ada Face Book. Mau ngobrol-ngobrol en diskusi bisa Chatting. Mau kenalan, ada Friendster. Mau promosi dan bisnis juga bisa. Kurang apa lagi coba? Adanya kurang bisa mengontrol diri untuk gak berlama-lama di depan kompi/lepi.

8. Dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya….(pikir sendiri ya..)

Menarik” bukan melihatnya sebagai sebuah fenomena? Namun, seringkali pada diri yang “lemah” justru akan menjadi semacam pembenaran. Perlu diketahui, bahasan kita di sini bukan soal boleh atau tidak, tapi seberapa besar porsinya hingga mengalihkan kita dari aktivitas-aktivitas produktif dan agenda-agenda prioritas.

Demikianlah semua aktivitas-aktivitas yang sederhana, namun tanpa disadari menjadi candu dalam pergerakan dakwah. Fenomena-fenomena tersebut sebagian besar menyita waktu-waktu produktif kita, menggerogoti ruhiyah, dan melemahkan militansi dakwah.

Jika hari ini kita dapatkan kualitas dakwah kita menurun, maka cobalah untuk memeriksakan (baca: mengevaluasi) kesehatan dakwah kita. Mulai dari memutaba’ahi aktivitas sehari-hari kita, amalan-amalan kita, dan terutama niat-niat kita.


Wallahu Ta’aala a’laamu bishshawaab..

NB: Ohya, ada nih kecanduan yang harus senantiasa dilestarikan, antara lain: Dzikir, Tilawah, Hafalan Al-Quran, Infaq & Shodaqoh, Tholabul ‘ilmy (datang ke majelis-majelis ilmu, dauroh, training, kajian, dll).

 Owkeh!! Tetep Semangaaattzz!!!!“Tidak penting kamu suka atau tidak, yang penting Allah ridho atau tidak”  

Sungguh malang nian nasib para Ikhwan -_- lho,kenapa ??? ^_^

bismillah… ^_^

entah kenapa kok ada ide mau nulis ni note tentang ini, mungkin karena banyaknya komment ketika saya menulis status di FB kemarin 26 Juli 2009 sehabis pulang dari Mall

“-_-emang benar kata teman ana, malang nian nasib para ikhwan -_-”

heu heu aya aya wae kata sundanise… yah, mungkin kita pernah dengar kata pak ust tentang hilangnya hafalan Imam syafe’i ketika melihat betis seorang wanita, yang mana betis merupakan salah satu aurat yang ada pada wanita.

kata Pak Ustadz. “Yang derajat ruhiahnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan kita, pernah mengalami kejadian yang merugikan, gara-gara melihat aurat perempuan. Pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain yang menutupi aurat. Nah, suatu saat, Imam Syafi’i melihat seorang perempuan yang lewat di depan belaiau, dan … tersingkap kainnya sehingga betisnya tertangkap oleh penglihatan beliau. Seketika itu pula, 40
(empat puluh) hafalan hadist beliau hilang.”

yang perlu menjadi catatan adalah dulu pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain
yang menutupi aurat, nah sekarang ini ??? 

ampe ada yang nyuruh pake kacamata kuda saja biar aman -_- fyuhhh 

Hidup dibawah aturan manusia ya begini nasib para ikhwan khususnya… lha, kenapa hanya para ikhwan saja bukan akhwat yang juga dikasihani??  ya karena memang fakta di kehidupan masyarakat lebih banyak aurat wanita yang terlihat dengan jelas ketimbang para pria ^_^ ya kalo di hitung masih bisa dihitung dengan jari kita berapa benyak pria yang ada di kehidupan umum yang auratnya terlihat, sebagaiman kita mafhum bahwa aurat laki2 adalah dibawah pusar dan diatas lutut. tapi dikalangan ulama shalaf memang terjadi iktilaf tentang aurat laki-laki. silahkan lihat buku
ust Syamsudin Ramadhani al-Nawiy “hukum Islams seputar busana & penampilan wanita”

namun hal ini tentu saja tidak membuat para ikhwan khususnya menjadi diam (red : pasrah) tentu saja kita harus pinter-pinter menjaga pandangan. istilah ‘anak taklim” itu ghadul bashar atau menjaga pandangan. hadis yang diriwayatkan dari ‘Ali ra. Ia menuturkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda kepadanya :

“Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukan untukmu.”

Firman Allah dalam surat An-Nur : 30

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

MALIKI

Tidak diperbolehkan bagi laki-laki melihat aurat wanita yang bukan mahromnya walaupun tidak dengan syahwat ataupun tidak untuk tujuan kesenangan (ladzzah). Adapun melihat bagian yang tidak termasuk aurat wanita menurut jumhur ulama, yaitu wajah dan telapak tangan, diperbolehkan dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan fitnah dan bukan untuk memuaskan kesenangan (ladzdzah) Bila hal tersebut menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat, maka melihatnya haram.


SYAFI’I

Haram melihat wanita yang bukan mahromnya begitu pula haram melihat wajah dan telapak tangan dengan alasan takut akan menjadi fitnah karena kedua bagian tersebut merupakan bagian yang bisa menimbulkan fitnah dan syahwat. Berdasarkan alasan ini Syafi’i mengharamkan melihat wanita baik yang termasuk aurat maupun yang tidak, dan bukan disebabkan keduanya (wajah dan telapak tangan) itu adalah aurat. Pengharaman ini bisa gugur dengan adanya alasan syar’i, misalnya pengobatan dan lain sebagainya, maka melihat wajah, telapak tangan dan bahka
n seluruh tubuhnya boleh.

HANAFI

Seperti halnya Maliki, Hanafi juga mengharamkan laki-laki melihat wanita yang bukan mahromnya, kecuali yang biasa nampak pada mereka dan tidak dengan syahwat. Bila melihatnya dengan syahwat maka haram hukumnya. Adapun perhiasan yang biasa nampak pada wanita dalam surat An-Nur : 31, menurut Hanafi adalah wajah, telapak tangan dan telapak kaki.


HANBALI Pada asalnya, mereka mengharamkan seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahrom, kecuali dalam keadaan darurat. Tetapi sebagian dari mereka memakruhkan laki-laki melihat wajah dan telapak tangan wanita walaupun tidak dengan syahwat. so buat para ikhwan… termasuk saya berarti ya ^_^ mari kita pinter-pinter jaga mata, jaga hati, jaga telinga juga heu heu heu buat para akhwat, sebenarnya juga sama… Firman Allah dalam surat An-Nur : 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

Sebagaimana laki-laki,wanita pun harus menahan pandangannya terhadap lawan jenis yang bukan mahrom. Dan batasan minimum pandangannya adalah antara pusar dan lutut laki-laki, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak dengan syahwat. Bila sudah melibatkan syahwat maka hukumnya menjadi haram. Ini adalah pendapat rojih para ulama. Dalilnya:


1. Hadits Nabi yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud menerangkan bahwa Nabi menyuruh Ummu Salamah dan Maimunah memakai hijab ketika anak Ummu Maktum yang buta lewat di hadapan mereka sedang mereka melihatnya.

2. Riwayat dalam Shahih Bukhari, dari Aisyah ra, bahwasannya Nabi menutupi Aisyah ra dengan pakaiannya (rida) sedangkan ia melihat laki-laki habsyah bermain di dalam masjid sampai ia merasa bosan.

terakhir, tentu saja sebagai seorang yang memahami bahwa semua hal ini hanya akan bisa terselesaikan dengan adanya kesadaran akan wajibnya menutup aurat dan atau keharaman memeperlihatkan aurat kepada bukan mahrom kita, namun dibalik itu semua perlu adanya sebuah aturan tegas akan hal ini sehinga hal semacam ini dapat d
i cegah dengan menerapakn aturan yang tegas yang lansung dari sumber yang menciptkan manusia yakni aturan syariat islam dibawah institusi daulah al khilafah islamiyyah yang sebentar lagi akan segera tegak dengan izinNya. Amin…

saudaramu,
 

Evans

katanya,”Ikhwan bisa lebih jahat, Va….”

Sabtu sore, sebelum aku pulang dari Kampus B. Sambil menyeruput vanilla latte dingin, aku dan ika bertukar cerita. Tiba-tiba kami masuk ke pembicaraan tentang ikhwan.

”Ni Ka, belakangan Ziy banyak sms-an dengan seorang ikhwan. Yah sebatas diskusi-diskusi sih. Tapi lama-lama sebel juga, takut ni orang ngga adil. Khawatir dia Cuma sharing tentang hal-hal kemaren tu ke Ziy aja. Kan jengah juga,”

“ Hati-hati Ziy. Ika mah lebih baik diskusi sama yang ‘ammah sekalian. Soalnya ikhwan tu lebih jahat dari cowok biasa,” gantungnya

“Lebih jahat, Ka?” tanyaku heran

“Va tau sendiri kan, Ikhwan lebih banyak macemnya dari cowok biasa. Seringnya mengelabui, ngga pernah bisa ketebak.”

………..


Aku berpikir. Iya juga sih. Sejauh ini aku udah menemukan berbagai tipe ikhwan. Mulai dari awal sekali aku bertemu dengan ikhwan hafizh saat SMP dulu. Lalu ikhwan yang suaranya lebih lembut dari akhwat. Ikhwan yang TP (Tebar Pesona) well, meski ikhwan tsb memang diacungi jempol tentang jam terbang aksi dan kepeduliannya serta wawasannya. Ikhwan yang suka ngerjain akhwat. Yang kayak gini pernah ketemu lewat YM-an. Ikhwan yang kaku dan keras kepala. Ikhwan yang supel dan humoris. Ikhwan yang pecicilan kalo mesti terlibat via sms. Sampai ikhwan yang hanif banget. Yang benar-benar mampu menempatkan dirinya seperlunya, tidak berlebih-lebihan termasuk dalam adab pergaulannya dengan akhwat.


Tapi ada yang lebih ajaib lagi yang semakin menguatkan aku untuk menyetujui pendapat Ika bahwa ikhwan itu jahat.

Jadi, ceritanya aku mesti berinteraksi dengan seorang ikhwan yang adalah kakak tingkat di kampusku dulu. Karena sebuah sebab, yaitu properti milikku yang tak sengaja rusak saat dipakainya untuk sebuah acara dimana aku juga terlibat di kepanitiaan tersebut.

Awalnya dia minta maaf karena mesti mengembalikan properti milikku tersebut dalam keadaan yang berbeda dari keadaan semula. Dan sudah berkali-kali aku bilang bahwa tidak masalah. Nevermind. Lalu, di sms pun wajar-wajar aja. Tapi lama kelamaan dia jadi aneh. Dia bertanya. Dan tahukah apa yang dia tanyakan? ALAMAT RUMAHKU!

Yang semula dia memanggilku dengan sapaan antum jadi berganti dengan sapaan aku-kamu. Well, aku tetap memberi jarak dengan menggunakan sapaan saya. Tapi apa? Dia seolah tidak mengerti. Dengan gamblang dia bertanya,”boleh tidak, aq minta alamat lengkap rumah kamu?”

Tuing. Ni udah ngga beres nih!

Aku lantas bertanya mengapa. Tapi dia jawab dia tidak bisa menyampaikan maksud inti dari pertanyaannya tersebut. Lalu aku kembali menahannya dengan pertanyaan. Dan dia juga mengulurnya. Sampai akhirnya dia mengaku bahwa dia ingin menyampaikan sebuah pemberian sebagai tanda maaf atas perlakuannya saat itu. Lalu kemudian aku beri opsi. Berikan saja saat di kampus, saat aku kembali kesana sekalian aku memang ada keperluan dengan seorang sahabat. Niatanku adalah agar ada yang mengawasi kami. Mungkin dia jera, dia mal
ah meminta maaf. Bahwa yang dia lakukan adalah kesalahan, dan mengaku bahwa tidak pantas dia bertanya seperti itu padaku. Nah itu tau! Tapi juga dia bilang, dia punya alasan sehingga tidak bisa memberikannya di dalam kampus. Lalu aku balas kembali,”maaf saya tidak bisa memberikan alamat lengkap rumah saya. Saya menghormati kakak. Lebih baik tidak usah ada pemberian itu sekalian, afwan jiddan.” tutupku.

Tapi kemudian dia me-reply balik,”Apakah itu tidak mungkin??kamu mengira itu hal yang mustahil?? Di belahan bumi mana yang tidak mungkin terjadi jika Allah inginkan itu??”

Lama…aku tidak menjawab. Tapi dia terus menanyakan, mengapa tidak membalas smsnya.

Akhirnya, untuk terakhir kali aku balas.”Tolong jangan buat saya pusing. Saya semakin tidak mengerti!”



”Aq tidak ingin membuat ini semakin rumit. Maaf…memang semua ini adalah salahku. Aq yang tak tau diri…jadi..jangan kamu pusingkan lagi!”

….

Haa? Haa? Haa?

Ni orang bener-bener bikin aku jengah. Bikin kesel, marah, sebel. Jadi ingin memaki-maki. Sampai-sampai malam itu aku mengganggu temanku untuk bercerita.

Belum pernah ada ikhwan yang membuat aku sedemikian kesal seperti ikhwan ini.

Aku kesal. Mengapa dia bisa seperti itu?? Aku menghormati dia. Dia di luaran pun adalah orang yang aktif di LDF. Jam terbang kepanitiaannya juga sudah banyak. Tapi mengapa dia berlaku seperti itu?

Yang dia lakukan seolah mencerminkan bahwa dia ‘tidak mengerti’ padahal sudah jelas-jelas dia paham.


Bilakah nanti kebencian yang aku dapati di diriku, lunturkanlah ya Rabb.

Jangan sampai aku merasa kecewa dengan ukhuwah ini, karena sudah banyak yang terkecewakan dan berpaling..

Kembalikan dia, ingatkan dia dengan hidayahMu.

 

Poling Khusus Ikhwan: Apa pendapat antum tentang akhwat...

Poling Khusus Ikhwan: Apa pendapat antum tentang akhwat... 

Assalamu alaikum

Sehubungan dengan buku yang tengah ane tulis, ane membutuhkan bantuan dari antum untuk menjawab beberapa pertanyaan ini.

A. AKHWAT DANDAN
Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum suka dandan? (Ya/Tdk)
Apa alas an dan pendapat antum tentang akhwat yang gemar dandan?

B. AKHWAT TIDAK BISA MASAK

Apakah antum keberatan jika istri atau calon istri antum tidak bisa memasak? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang tidak bisa memasak?

C. AKHWAT AKTIVIS
Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum aktif berdakwah di luar rumah? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang aktif berdakwah di luar rumah?

D. AKHWAT BELAJAR

Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan paling tinggi? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan paling tinggi?

E. AKHWAT ‘NEMBAK’ DULUAN
Apakah antum keberatan jika seorang wanita ‘nembak’ (mengajukan diri untuk dinikahi) duluan? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang ‘nembak’ duluan?

Mohon diisi pertanyaan di atas poin per poin. Untuk para akhwat, afwan karena ane membutuhkan pendapat ikhwan, maka disimpan dahulu keinginan untuk turut mengisi atau menjawab pendapat para ikhwan.

Dan agar tidak terjadi polemic, sangat diharapkan balasan email ini dikirimkan via evans(jalur pribadi) ke: diva_evans@yahoo.com


Jazakumullah khoiran katsira

Salam

Evans

 

Akhwat Nembak Duluan

 Assalamualaikum Wr.Wb

Mari kita amati tulisan saudara kita di bawah ini, silahkan di komentari dan kalau setuju jalankan sekalian, dengan penuh semangat. Bagus apa yg disampaikan ukhty kita.

tapi...slogan di awal yg dipakai ga ada yg lain kah?? kenapa masih saja loyal dengan slogan2 itu? apa ga ada yg di hasilkan ulama2 kita? bukan berarti kita tidak bisa mengambil nilai postifnya,

ana kira slogannya menafikan takdir Allah SWT, ekstrim sekali yah...sebagaimana apa2 yg disampaikan ukhty di tulisan2 nya juga ekstrim..meski tujuan sangat mulia, silahkan ukhty hanan komentari yah..juga ukhty2 yg lain

perlu untuk ukhty ketahui...pernikahan, adalah idealnya memang seperti apa yg di paparkan ukhty kita ini, namun
jangan sekali-kali menggampangkan urusan yg satu ini

bukan bermaksud memberikan sanggahan atau sejenisnya, namun tetap perbuatan yg mulia ini-pernikahan-haruslah dengan penuh persiapan yg maksimal dan dengan kesungguhan kemampuan.

bagi saya..sesuai dengan yg dikatakan ust.Anis Matta, pasangan yg dicari bukanlah yg kaya, ganteng atau segala kelebihan lainnya, tidak semua orang ganteng butuh yg cantik dst...yg benar adalah setiap manusia butuh pasangan
yg "tepat" baginya, kita bisa saksikan istri2 dari ulama2 dunia, terkenalkah?

dan banyak orang2 sukses lainnya yg istrinya hanya biasa-biasa saja, apa yg kita ketahui ttg istri yusuf al qaradhawi? aid al qarnhiy?benazir buto? dan banyak tokoh2 lainnya, sekali lagi pasangan yg TEPAT yg dibutuhkan setiap orang, itulah yg semestinya.

kenapa belakangan ini, banyak sekali..bahkan begitu gencar diadakan seminar2 ttg nikah ini...bahkan ana kira sudah melebihi sekali

ukhty rahmie yg menulis ini, berarti ukhty juga setuju dengan poligami?? kenapa tidak ukhty
gencarkan di tulisan ini, bukan kah itu hal yg mulia?? disyariatkan oleh rasulullah SAW

saya teringat, pada hakekatnya saya setuju dengan yg ukhty sampaikan, namun penuh pemahaman yg luar biasa untuk merobahnya sehingga akhwat dan ikhwah2 mampu seperti apa yg disampaikan di tulisan uhkty

satu lagi...tidak semua hal yg di HALALkan-spt hal akhwat nembak ikhwah dan juga poligami-harus atau mesti kita jalankan.

ukhty fillah...apa yg dicontohkan oleh ukhty kita ttg bersileweran di jalana
n,
berboncengan dan sebagainya adalah yg dilakukan orang2 ammah, sementara menurut pemahaman ana tulisan ini ditujukan pada kader dakwah yg aktivitasnya di penuhi dengan kebaikan2 dan interaksi dengan al quran

apakah ukhty memungkiri..klo sekiranya belum sanggup, berpuasalah. hal ini dilakukan saudara2 kita yg menegakkan diin ini dengan penuh semangat.

lalu, knp tulisan yg bagus ini-ana yakin ini memprovokasi kita semua-dilengkapi dengan contoh2 yg tidak ditemukan pada saudara2 ukhty? klopun ada itu kasus.

ukhty fillah...semestinya , tulisan ini di dahulukan dengan persyaratan dan persiapan2 pernikahan dan segala macamnya, dikhawatirkan, ada yg membaca ini, lalu langsung menjalankan tanpa perhitungan.

sesungguhnya...tidak hanya pernikahan lah satu2 cita2 kita.

bagi yg akan nikah , jangan lupa undangan untuk Balikpapan ya....

 
 
Nembak duluan? Jangan takut!

NEMBAK DULUAN? Jangan Takut!




Yang pasti-pasti aja!”

Ingat slogan iklan TV ini? Bukan untuk mempromosikan minuman produk Amerika yang membantu kaum zionis Israel itu, tapi dalam kalimat ini, saya sependapat. Betapa banyak hal di dunia ini yang tidak pasti dan sangat rawan untuk
terus difikirkan. Angan-angan berpanjangan bisa meluap dari situ. Baik, langsung saya spesifikkan, misalnya dalam mencari pasangan hidup.

Seorang perempuan yang sudah baligh sebenarnya adalah adalah kewajiban wali, orangtuanya lah untuk menikahkan dengan laki-laki yang sholeh. Alternatif lain, kumpulan orang-orang shaleh di sekitarnya bisa menggantikan peran itu. Tapi tidak selalu dua kondisi itu bisa digenapkan. Misalnya orangtua tidak bisa memutuskan mana laki-laki yang sholeh atau setelah sekian lama, belum ada ikhwan yang tergerak untuk melamarnya. Sedangkan urgensi menikah itu semakin kuat menelusup di celah di jiwa, kerinduan akan membangung keluarga Islami memuncak, ketakutan tergelincir pada kemaksiatan yang semakin membumbung atau kasus-kasus tertentu yang membuat pernikahan harus segera dilaksanakan. Kadang kata akhi Salim A fillah,dalam bukunya Agar Bidadari Cemburu Padamu, menawarkan diri bagi akhowat adalah pilihan yang agung.

Menawarkan diri pada lelaki yang pasti. Pasti agamanya, pasti kualitas akhlaknya. Di sini yang tak pasti cuma
satu,diterima atau tidak. Dan ditolak bukanlah kehinaan, hanya ladang kesabaran yang insyaAllah menjadi taman-taman berbunga cantik pahala. Daripada menunggu yang tak pasti, tak pasti agamanya ,tak pasti akhlaknya. Bahkan tak pasti pula datangnya.

Memalukan! Tradisi mengajarkan kita demikian. Perempuan yang menawarkan diri untuk menikah pada laki-laki dianggap tidak tahu kesopanan. “Kaya ngga laku aja” atau “Kegatelan banget sih cewenya”. Komentar seperti itu sungguh kejam dan tidak adil. Apakah memalukan untuk menggenapkan setengah dien, separuh agama? Adakah dal
am ingatan Anda, ibadah yang melebih setengah agama? Sementara perempuan yang berseliweran berboncengan, nonton berduaan, di café-cafe berpegangan tangan adalah hal yang dianggap hal biasa. Sudah jelas, kebenaran dan kemuliaan tidak terletak pada pendapat orang kebanyakan.

Ada juga yang mengemas pemikiran kuno itu dengan bentuk yang tampaknya lebih elegan “ Kalau imannya kuat, pasti dia akan sabar menunggu ikhwan datang melamarnya” 

Hhh..saya hanya bisa menarik nafas panjang sambil menuturkan cerita ini.


Anas ibnu Malik, Radhiyallahu ‘Anhu berkata: 


Ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia menawarkan dirinya kepada Rasulullah “Apakah engkau membutuhkan diriku?”. Anak perempuan Anas hadir dan mendengar kata-kata wanita itu, lalu berkata ”Alangkah memalukan dan betapa buruknya”. Mendengar itu, sang ayah (Anas ibnu Malik) menyahut ”Dia jauh lebih baik darimu nak. Wanita itu mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya kepada beliau” (HR Al Bukhari). 

Dengarlah, dia jauh lebih baik dari kamu!

Atau bahkan ada beberapa “oknum” ikhwan yang entah dari mana mendapat generalisir ini “Kami,para ikhwan, pada hakikatnya punya insting memburu, dan aneh sekali bila akhowat yang mendekati” 

Coba tengok lagi cerita tadi, adakah Rasul berkata “wahai wanita, aku seorang laki-laki, tidak pantas bagimu menawarkan diri”?

Dan bisakah sekarang Anda menjawab, wahai lelaki, siapakah engkau dibanding Rasulullah??

Ohya, perlu sekali saya tekankan, saya tidak sedang bicara tentang “nembak” dengan senjara berlaras itu lho…Ngerti
aja kan? Tapi juga bukan tentang “nembak” seperti yang muncul di reality show yang mengklaim dirinya reality show cinta pertama di Indonesia itu. Sungguh, bukan itu. Kalau nembak jenis itu sih, saya sangat berharap Anda sudah mengerti tentang ketidakbenarannya. Nembak yang mulia bukan aplikasi kreatif ketidaksabaran, kekonyolan dan maaf, agak tidak tahu malu terhadap pelanggaran perintah Allah seperti itu dan jauh sekali dengan ikatan suci pernikahan. Tapi sssttt, katanya rating acara itu selalu tinggi. Anda tidak termasuk salah satu yang menaikkannya kan?

 Ohya (lagi), saat perempuan mengajukan diri untuk menikah, itu juga harus melalui pertimbangan dan cara-cara yang mulia. Ga mungkin dong, ketemu di perempatan lalu langsung minta dinikahi? Hehehe.. Bisa dengan minta diwakilkan orangtua, atau lewat orang-orang sholeh yang bisa dipercaya. Dan sudah seharusnya ada musyawarah sebelumnya dengan mereka dalam hal pemilihan calon agar sisi subjektif dapat dikendalikan. Misalnya karena dilihat cakep, sarjana, mapan kerjanya, kita menjadi lupa pada sisi akhlaknya yang pas-pasan. Tidak salah sih bila menginginkan ikhwan ganteng, pinter dan sebagainya tapi pertimbangan agama dan akhlaknya haruslah yang utama. 

Hasan bin Ali berkata “ Nikahkan puterimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bila ia mencintainya pasti akan menghormati dan memuliakannya dan bila ia tidak mencintainya pasti ia tidak akan menzhaliminya”


Sambil berikhtiar, jangan lupa sholat Istikhoroh berulang kali. Petunjuk Allah adalah kemestian yang mesti dimohon selalu. Agar kita tidak menjadi hamba yang disindir Allah lewat ayat ini. 

…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al Baqarah :216)

Kadang sebenarnya, bukan karena ketidaktahuan yang membuat para ikhwan melambatkan pernikahan. Tapi semata karena ketidakpedean terutama masalah mahar dan ma’isyah. Nah, akhowat yang seyogyanya
juga ikut meyakinkan mereka bahwa Anda berani untuk menanggung bersama. Berani menjalani proses kehidupan apapun bentuknya. Kegembiraan, apalagi kesusahan. Anda berani, bukan? 

Ya, karena kadang ikhwan-ikhwan itu perlu dipecut agar tidak lagi menjadi pengecut. Agar mereka bertambah kuat iman kepada rezeki Robbnya dan tambah kreativitasnya. Pernikahan terbukti adalah salah satu bentuk media percepatan diri yang sangat efektif. 

Lalu, biarkan Allah membantu.

 Sudah ya, kita tutup dulu pembahasan ini. Sekarang waktunya menajamkan usaha memperbaiki diri dan memperkokoh niat. Memang perlu perjuangan untuk mengubah masyarakat dengan tradisi-tradisinya. Tapi setidaknya Anda tahu bahwa tradisi itu harus diubah. Dan Anda bisa memulainya lebih dahulu.  

Dalam suatu pertemuan, ada seorang teman berseloroh “ Jodoh itu di tangan Tuhan, tapi kalau tidak diambil-ambil, ya akan di tangan Tuhan terus”

Hal itu tidak urung memancing tertawa teman-teman yang lain, termasuk saya juga. Tapi untuk anda, wahai perempuan, semoga kelakar tadi semakin menguatkan. 
  ***


*untuk murobbiyahku tercinta...
"ini utang tulisannya mba...kisah kemarin sudah ada endingnya, bukan sad atau happy ending, tapi insyaAllah its the best ending...^_^ jazakillah untuk semua dukungannya ya mba sayank..."

 

BY Evans

ck…ck .. GB gitu?

 ” ck..ck.. abang itu ga mo liat gw..padahal khan gw cuma mo nyerahin ni proposal.” Keluh seorang cewek di remang-remang jalan. Yang diajak bicara menimpali ” takut jatuh cinta kali” disambut tawa
keduanya.


Ehm, Godhul Bashor (GB) begitulah saya menyebutnya. Godhul Bashor secara harfiah artinya menundukkan pandangan. Anda tahu, menundukkan itu apa?, Berbeda lho ma ospek di kampus sang tatib menjerit ” Tunduuuuuk De’!!!”. Aturan yang membatasi sebagai hijab antara ikhwan dan akhwat. Kenapa harus ada hijab, ya untuk membatasi keduanya untuk melakukan ikhtillath.

Terus terang saya menulis artikel ini bukan untuk menggurui saudara semua. Atau justru saya yang harus banyak berguru pada pembaca sekalian. Artikel ini dibuat tidak lain untuk menasehati diri saya sendiri karena pikiran iseng
saya, yoa lanjut.

Ikhtilath(campur baur dengan lawan jenis) jelas ga boleh,semua setuju itu. Tapi seberapa batasannya, suatu yang abstrak dan siapa yang berani memberi batasannya. Sangat mungkin sekali terjadi ‘dzon-dzon’ walaupun itu sangat sedikit. Tapi bukan karena hal itu, kita menjadi makhluk yang tidak bersosialisasi dengan yang lain. Masalahnya adalah bagaimana cara kita memanage agar pada ’sebelum’,’saat’, dan ’setelah’ pertemuan itu tidak membekas sesuatu apapun dari pihak lawan jenis. Sekali lagi ini tentang pertemuan ikhwan dan akhwat, mungkin masuk kedalamnya syuro’.


Dari pembuka artikel ini riskan memang, inginnya menegakkan sunnah dengan GB, tapi dimaknai lain oleh orang lain yang tidak sepaham dengan kita, apalagi ranah umum sosial dan budaya, ranah kampus lagi.Saya jadi berpikir kembali, memangnya yang disebut GB mempunyai arti sesempit itu. Menurut saya istilah ghodhul bashor bukan sekedar ghodhul ‘ain, meskipun kita bisa melakukan ghodhul bashor dgn cara ghodhul ‘ain. Tapi tdk setiap ghodhul ‘ain itu berarti bahwa seseorang sudah tunduk bashornya. bashor sama ‘ain itu kan beda…orang buta sangat bisa jadi punya bashor walaupun a’innya ga
bisa melihat. Pandangan merupkan racun bagi hati, sepakatkah? “Firman Allah dalam QS An-Nuur : 31 mewajibkan kita untuk menundukkan pandangan. Sabda Rasul : “Pandangan itu merupakan salah satu panah iblis.” Untuk hijab setinggi dan sebesar apapun takkan bisa menghijab diri kita apabila bashor kita tdk tunduk, tdk tenang, dan selalu
jelalatan tapi ga ada larangan utk make hijab kain kok… tapi ingat bahwa kain cuman alat pembantu diri kita utk berhijab!
kumaha? bisa dipahami kan?

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…” (An-Nur: 31)
Dalam tradisi pemikiran Islam hal semacam ini kayaknya juga dikenal
. Ada kaedah Ushul Fikh yg berbunyi: “Al-’Ibratu bi ‘umuumi’l lafdzi laa bi khushuushi al-sabab”, artinya satu teks itu harus dipahami sesuai dg maksud umum yg dikandungnya dan bukan sesuai dg penyebab khusus munculnya teks tsb. Memang ada kaedah tandingan yg berbunyi: “Al-’Ibratu bi khushuushi al-sabab laa bi ‘umuumi’l lafdzi”, hanya saja sebagian besar ulama berpegang pada yg pertama.

Nah, sekarang kita pahami bersama bahwa godhul bashor itu sunnah tidak hanya menundukkan mata tapi juga menundukkan hati. Berproses menuju kesana bukan langkah yang sangat mudah, tapi perlu perjuangan. Semangat Mel… ^0^!!

Sebenarnya Ghadhul Bashor ini hanya merupakan salah satu cara untuk menjaga / menahan (iffah). Masih banyak teman-teman Ghodul Bashar lainnya misalnya memelihara sikap malu, tidak banyak bercanda,tidak berkholwat,tidak berjabat tangan dengan laki-laki dsb.

Saya jadi teringat, kemaren salah seorang teman bertanya ” Mel, gimn cara godhul bashor.” Saya tersenyum tipis, Kalau secara teknisnya siih mungkin yang ikhwan cuma melihat di ujung-ujung jilbab akhwat saja, tidak melihat wajah. Saya rasa ini cukup untuk menjelaskan Ghodul Bashar untuk kategori Godhul ‘ain. Tapi untuk ranah lainnya umum dan antum rasa tidak bagus kalo melakukan GB ya Hijabi hati antum saja.[^_^]

Karena mungkin waktu itu saya masih ngeblank [he.he.he..biz ujian] saya jawab sekenanya ” Nikah Aje..!!”
Tapi Buru-buru saya cek lagi, ada pembatasnya bung… !! nih dia,…


“Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nur: 33)
 

Poligami Oh Poligami

 Kaum Adam bicara tentang poligami, baca disini!

Baru-baru ini Indonesia khususnya daerah Jawa Barat dihebohkan dengan berita Aa Gym menikah kembali (baca poligami). Tidak sedikt dari masyarakat bereaksi terutama kaum hawa, terlebih komunitas ibu-ibu.

Perdebatan perihal poligami sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1937, seorang cendikiawan muslim Indonesia bernama Mr. Yusuf Wibisono, menulis sebuah buku berjudul “Monogami atau Poligami”:Masalah Sepanjang Masa. Aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh
Soemantri Mertodipuro pada tahun 1954.

Mr. Yusuf wibisono memberikan bukti-bukti ilmiah tentang keunggulan pandangan Islam yang membuka pintu poligami dengan syarat2x tertentu. Sistem ini merupakan “jalan tengah” dari sistem perkawinan kuno yagn tidak memberi batasan pologami atau sistem barat yang menutup pintu poligami sama sekali. Dalam pengantarnya untuk edisi Indonesia tahun 1980 Yusuf
wibisono menulis, ” Saya rasa umat manusia akhirnya akan dihadapkan kepada dua pilihan yang tidak bisa dihindari yakni poligami legal dan poligami tidak legal (gelap -baca pelacuran atau perselingkuhan/hubungan tidak syah)”.

Seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis, Georges Anquetil, pakar ilmu sosiologi. Menulis buku setebal 460 halaman, berjudul “La Maitresse
Legimitime”. Beliau mengatakan “Poligami akan memungkinkan berjuta-juta wanita melaksanakan haknya akan kecintaan dan keibuaan, yang kalau tidak akan terpaksa hidup tak bersama karena sistem monogami.”

Yusuf Wibisono dalam bukunya mengutip tulisan seorang ilmuwan Leonard, yang menulis, ” In a great measure polygamy is much more a theoretical than a pratical institution. Not one on twenty Moslems has even two wives. In any case it so not the proper and legitimate practice of polygamy, but in the abuse of it that the evil lies. ( Pada umumnya poligami lebih merupakan lembaga teoritis daripada praktis. Tidak ada satu dari dua puluh orang Islam beristri bahkan lebih dari seorang. Setidak-tidaknya keburukannya tak terletak dalam berpoligami menurut hukum. Akan tetapi dalam penyalahgunaan poligami).”

Bagi kamu laki-laki sendiri sepatutnya tidak bisa semena-mena ber-apologi dengan nash untuk melegalkan “keinginannya”. Setidaknya yang patut diketahui bagi kamu adam bahwasanya poligami sendiri bukanlah semata-mata hak bagi mereka. Namun ada melekat juga tanggung jawab dunia dan akhirat. Selain dituntut berlaku adil secara materi, juga dituntut untuk menjaga seluruh keluarganya dari api neraka. Tentu saja menjaga 4 istri lebih berat ketimbang menjaga 1 istri. Menjga 20 anak lebih berat ketimbang menjaga 2 anak.

Karena itu bagi seorang yang memeiliki pandangan berdimensi akhirat poligami adalah suatu hal yang berat, Suatu hal yang memerlukan pemikiran serius sebelum memperaktekannya. Islam membuka jalan, dan tidak menutup
j
alan. Islam adalah agama “washotiyah”, yang tidak bersifat ekstrim. Tidak melarang poligami sama sekali dan juga tidak membebaskannya sama sekali.

wallahu a’lam bi showab
(Dicontek dari berbagai literatur^_^)

 

 

By. Fia

Ikhwan Genit

Di edisi lalu temen saya membuat tulisan yang cukup menohok “ Akhowat Genit”. Sebenarnya dari dulu saya ingin membalas tulisan beliau dengan judul “Ikhwan Genit”, tapi karena banyak sekali pertimbangan (klo dikroscek lagi, apa pertimbangan saya waktu itu, saya lupa!) akhirnya saya tidak jadi menulis tentang itu. Kalau ada buku “Jangan Jadi Akhwat Nyebelin”, harusnya juga ada buku yang membahas “Jangan Jadi Ikhwan Nyebelin”. Setelah baca tulisan beliau, saya jadi pengen mengubah diri saya. Yagh, point penting, selalu pastikan diri menuju lebih baik dimana dan kapan pun berada. Hehhe.. biar ga berjodoh ama ikhwan genit  Disini pun saya akan menulis tentang “ Ikhwan Genit” dengan harapan ada yang pengen memperbaiki diri juga.

Mencermati, mendengar, dan melihat kondisi akhir-akhir ini, akhirnya saya berani menulis tulisan ini, Tidak lain untuk menasehati diri sendiri. Bila sudah nulis masak segh mau dilanggar, bila sudah menyeru ke orang lain masak segh diri sendiri tidak melakukannya, gengsi dunk ama Allah, nti di cap Allah sebagai orang yang “ Kaburo Maktan “ (Qs As-Saff 2-3) bisa gaswat total. Di cap genit oleh manusia segh ga begitu masalah, tapi bila di cap “genit “ oleh Alloh
sudah menjadi masalah yang teramat besar. [Ingat konteksnya “genit” pada lain jenis yang bukan mahramnya].

“ Ikhwan “ begitu kata bahasa arab yang artinya “ saudara laki-laki”, tetapi ternyata ada perkembangan makna, istilah bahasa indonesianya “ sinekdoke totem pro parte” ikhwan ialah seorang laki-laki yang sholeh, yang selalu ke masjid, seorang aktivis dakwah, mungkin ditambah lagi, jenggoters n congklangers ahh.. begitulah ikhwan. Mencoba menyoroti, duluw saya n teman saya (link mae) membuat kriteria ikhwan black list di bum
i
mipa, menyoroti ikhwan-ikhwan yang agak nyleneh di mipa [heheh, ada ada aja ya]. Ya karena sifat n karakter mereka ga ikhwan bangetzzz jadi ya dimasukin dalam daftar ikhwan black list. Jujur, saya yang sekarang orangnya open mind, open source (emange linuxers ), n ga se saklek duluw (walau duluw juga ga begitu saklek) mencoba membuat kriteria ikhwan genit ( ditunggu bagi akhwat yang saklek, mungkin bisa menambahkan kriteria) Diantaranya sebagai berikut:

1.Ikhwan genit akan bergaya dia paham agama tapi sebenarnya biasa-biasa saja.

2.Ikhwan genit jarang ke Masjid, ke Masjidnya pas jum’atan saja. Pas Jum’atan aja masih diselingi ngantuk, rame sendiri, dan sibuk dengan HP nya.

3.Ikhwan genit, akan menyingsingkan celananya alias menjadi sosok congklangers ( biar ga isbal ) di depan para akhwat sedang klo bertemu dengan cewek biasa diturunkan lagi celananya.


4.Ikhwan genit suka chating dengan akhwat, diskusi dengan hal-hal yang ga perlu, katanya segh dakwah di dunia maya, tetapi yang diobrolkan jauh dari nilai esensi dakwah.

5.Ikhwan genit suka nelpon-nelpon akhwat tanpa agenda yang jelas, lama banget, n mendayu-dayu, padahal sms saja bisa.

6.Ikhwan genit, memanfaatkan amanah dakwah nya untuk kepentingan dirinya, dan menseleksi akhwat, menilai akhwat layak tidak untuk dirinya, sekufu tidak dengan dirinya, dan orientasi pribadi lainnya.

7.Ikhwan genit memanfaatkan kepandaiannya dalam skill tertentu untuk menarik akhwat, misal skill memperbaiki komputer,HP, pemrograman, buat blog (site) dan buat proposal atau kerja teknis lainnya.


8.Ikhwan genit berjalan suka jelalatan, klo ada akhwat yang melintas di depannya selalu memberi penilaian, “ akhwat ini 80, akhwat itu 70 … dsb”

9.Ikhwan genit, sok perhatian ke akhwat, mempunyai belas kasihan yang terlalu berlebihan, padahal biasa-biasa saja sebenarnya bisa.

10.Ikhwan genit, suka bercanda dan cair dengan akhwat, dan ga risih dengan syuro yang berhadap-hadapan.

11.Ikhwan genit suka sekali sms tausiyah padahal sebenarnya dia lagi kangen saja sama akhwat idolanya, menurut saya etika sms tausiyah,” sent to all”, ga ada spesifikasi untuk ikhwan/akhwat tertentu, atau untuk lebih berhati-ha
ti ikhwan sms tausiyahnya ke ikhwan dan akhwat ke akhwat.

12. Ikhwan genit yang kebetulan mendapat amanah di kaderisasi, perhatian n sok campur tangan dengan kaderisasi akhwat, padahal jelas-jelas kaderisasi ikhwan dan akhwat benar-banar sesuatu yang terpisah, dan semuanya sudah ada yang ngurusin.

13.Ikhwan genit suka menjanjikan “ nikah “ kepada seorang akhwat padahal itu masih lama banget menikahnya alias ngetek duluan, n yang terjadi akhirnya adalah back street.. wew parah!!

14.Ikhwan genit suka koleksi foto akhwat, dan suka menge-crop foto akhwat yang jadi idolanya, dan lebih gila lagi, menjadikannya background atau screen servernya di komputernya atau laptopnya.


15.Ikhwan genit suka koleksi teman-teman akhwat dengan FS, YM, dan sok perhatian ngasih komen di FS nya.

16.Ikhwan genit ga suka kajian, tapi seneng beli buku, padahal bukunya juga ga di baca.

17.Ikhwan genit suka jalan-jalan di Sunday morning dan melotot lihat akhwat cantik, n ga bisa Godhul bashor, ayo ikhwan tundukkan pandanganmu, biar kami bisa leluasa kalau harus berjalan di depanmu.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, … (QS.An-Nuur[24]:30-310″


18. Ikhwan genit dalam obrolan teman sesamanya yang dibicarakan selalu seputar akhwat, minim membahas ilmu dien, dan strategi dakwah.

19.Ikhwan genit sering berkunjung ke tempat akhwat, banyak sekali alasannya, entah mau pinjem buku, mau ngantar sesuatu, atau apalah tanpa ada alasan yang jelas.

20.Ikhwan genit suka tertawa terbahak-bahak ga karuan kalau lagi berkumpul sesamanya, padahal kelihatannya antheng & alim banget pas di depan akhwat & pas syuro’.


Whuacch… Alhamdulillah terlaksana sudah, janji saya ke Dona, mau buwat 20 kriteria ikhwan genit. Bagi yang termasuk didalamnya, yuuk… marii.. perbaiki diri, [termasuk saya juga!]. Mari mengazzamkan diri menjadi insan yang baik dan terbaik di depan penglihatan Allah atas kita. Dari cerita teman liqo’ saya, yang katanya kualitas kader kampus saat ini menurun drastis, pakaiannya segh ikhwani dan akhwati tapi spirit ruhiyah, haroky dan keilmuannya minim banget. Melesunya dakwah kampus karena hegemoni sekuler dan tuntutan akademik yang mengharuskan untuk cepat lulus dengan IPK yang bagus. Semoga tulisan ini memberi sedikit kontribusi untuk dakwah kampus kedepannya.

Umar bin Utsman berkata: “ Ilmu itu adalah pemimpin, takut adalah pengemudi, sedangkan nafsu adalah kuda yang mogok diantara keduanya yang menipu dan berpura-pura. Waspadalah dan jagalah dia dengan siasat ilmu dan kemudikan dia dengan ancaman ketakutan, maka engkau akan mendapatkan apa yang engka
u harapkan.”

Abu Ja’far Al-Mihwali berkata: “ Haram atas hati yang mencintai dunia untuk mendapatkan ketenangan dan kehormatan ilahi. Haram atas jiwa manusia yang senang keduniaan untuk
mendapatkan kemanisan dan kelezatan akhirat. Haram atas orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya untuk dijadikan imam bagi orang-orang yang bertakwa”

“ Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah nisacaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan dan melipat gandakan pahala baginya.” (QS Ath-Thalaq: 5)

~ Ditulis oleh seorang akhowat yang mungkin bisa dikategorikan akhowat genit yang berusaha banget agar tidak menjadi akhowat genit, kecuali genit untuk suami tercinta nantinya J ~

 

Ikhwan Idola

Ikhwan Idola, Syiape Takuczzt!

Bermula dari diskusi dengan seorang teman, yang minta di jabarin kriteria ikhwan idola akhwat. Jujur! saya lumayan bingung dan geli. Tapi sepertinya dia butuh banget jawaban pertanyaanya, ga tega klo ga ngabulin. Rggghhh………… semoga tulisan dapat mewakili jawaban pertanyaannya.


Ikhwan = saudara laki-laki. Adapun yogya dipenuhi orang yang kreatif, sehingga makna “ikhwan” pun akhirnya ada ambiguitas makna. Begitu juga dengan kata “akhwat”. “ikhwah”, dan “asasi”. Next, back to topic. Ikhwan idola akhwat yang bagaimana.

Idealnya, ya namanya yang ideal pasti banyak yang bagus-bagusnya. Seorang ikhwan -akhwat idola ga ada bedanya seorang muslim yang berusaha memperbaiki diri menjadi muslim kaffah. Ehm ternyata muslim kaffah ini ga semudah melafadzkan namanya, Cuma 2 suku kata (dalam bahasa Indonesia, beda dengan yang bahasa Arab), “ Kaf –Fah” tapi begitu sampai aplikasi susye untuk dijalankan. Yang tidak ikhlas, yang tidak istiqomah, yang tidak sabar akan berguguran satu persatu. Muslim kaffah ? Mengacu muwashoffat (Sudah di buka tho muwashoffat nya..??) apa perlu ane tuliskan semua, heheh , buka di buku, “ Menjadi murrobi’ sukses”

Di muwashoffat itu lah yang urgent untuk dimengerti, batasan lainnya, adalah, ( suer! Bingung tenan kiy..) Siapakah ikhwan Idola itu, hem seperti disebutkan dibawah ini, tak menutup kemungkinan unsur subyektifitas dari penulis infiltrasi kedalam tulisannya.

1. Lelaki yang mengimani Alloh ta’ala sebagai Tuhannya, Muhammad sebagai nabinya, dan Islam sebagai agamanya. Ia cinta Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya, serta taat kepada keduanya. Juga membuat “jarak” dengan maksiat.



2.Lelaki yang bertakwa, khusyuk, rajin ibadah, dan zuhud di dunia. Ia kerjakan kewajiban agama dengan konsisten, tidak henti-hentinya melakukan amal sholih, menjauhi hal-hal yang haram dan menghindari hal-hal yang terlarang. Tanda-tanda iman terlihat jelas padanya, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan. Ia takut murka Alloh, siksa-Nya yang pedih, dan akibat menentang perintah-Nya.

3.Lelaki yang patuh pada orang tuanya, berbakti kepada keduanya, mencari keridhaan keduanya, “ngeri” keduanya murka dan marah kepadanya.

4.Lelaki yang menerapkan syariah Allah Ta’ala dan perintah-perintah-Nya. Ia amalkan
ilmu-nya dan berdakwah kepadanya.

5.Lelaki yang terlibat dalam aktivitas dakwah dimanapun ia berada, dan ia sadar dirinya adalah bagian gen peubah peradaban. Dan ia sadar kedudukannya sebagai kholifah fil’ ard. Harokers gee-thu loch…

6.Lelaki yang berprofesi utama sebagai murrobi’ dan profesi lainnya adalah profesi duniawi.

7.Lelaki yang punya banyak buku, sebagai referensi dan rujukan segala ilmu.


8.Lelaki yang mempunyai bakat potensi po terpendam

9.Lelaki yang bisa mendidik istri dan anak-anaknya, lembut kepadanya tapi tegas menyayanginya, mengajaknya kepada kebaikan, menasehatinya, dan menyenangkan dengan tidak bicara kasar kepadanya. Ia setia kepada istrinya dan menjadi mitranya dalam
kebaikan. Istrinya merasa “fres” dan tentram berada di sampingnya. Jika ia melihat istrinya, ia membahagiakannya, dan hatinya bersih. Ia percaya pada istrinya bahwa istrinya bisa menjaga harta dan anak-anaknya.

Dan hehe setelah dibaca, koq semakin aneh yak, ya sudah lah itu menurut ane, klo mau ada yang menambahkan dipersilahkan. Kriteria diatas mungkin ada unsur tendensiusnya. Maaph n afwan bagi yang meminta launchingnya tulisan ini tapi saya ga begitu optimal menuliskannya. Afwan…. Afwan dan Afwan … may be harus minta orang lain buwat judul yang sama.
 

Ikhwan Punya Inceran (?)

 Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Ikhwan punya inceran, boleh nggak sieh?”

Pertanyaan lugu binti polos dari seorang akhwat kemaren sempet membuat ane kelabakan, bingung mau ngejawab apa. Tulisan ini termasuk pesenan dari si ukhti. Harapannya, bisa didiskusikan dengan Prenz Fillah yang sengaja ato nggak buka-buka ni blog.

Sebelumnya, ane mohon maaph sejiddan-jiddannya pada mereka yang “gerah” sama postingan ane yang belakangan ini jadi ngomongin ‘bab beginian’. Sampe-sampe ada beberapa testi, sms, telpon yang isinya cuma nanyain, “hayoo…ada apa denganmu, Ida? Ngebet nikah ya? Ditunggu undangannya yhah….” Ehem! Terimakasih atas perhatian sodara-sodariku semua. Ada yang mau carikan? (lho?). Gosip ‘sedap’pun beredar. Sedap? Iya. Seneng aja denger temen-temen yang ngegosip kalo pemilik Akhwat_Zone ini bakal walimahan. Siapa tau didenger malaikat trus diaminin. Hehehe.. (Aaamiin, semoga segera terlaksana ^_^. Asal gak kedengeran ma orang rumah aja. Ops!)

Owkeh, balik ke topik. Sampe mana tadi? Oh ya, jadi ada akhwat yang nanya ke ane (lagi-lagi curhatnya ke ane? Kenapa sieh?? *GeEr mode on), “Ukh, kalo ikhwan punya inceran, boleh nggak sieh?”. Wooi..!! Ada yang bisa ngebantu jawab nggak?? *tereak dari balik layar kompi.


Umm…sekadar berbagi. Ada kasus nyata yang bener-bener terjadi di walimahannya sepasang aktivis dakwah.
Alkisah, seorang ikhwan yang dikenal sebagai kader militan, haroki, qowiy, dengan amanah yang bejibun dan menjadi Ketua di mana pun (pokoke TOP begete dah!) mempersunting seorang akhwat yang sudah menjadi incerannya sejak lama lewat jalur swasta (main ‘tembak’ langsung). Si ukhti yang juga sama-sama aktivis kelas beratnya -dengan senang hati- langsung menerima lamaran Al Akh tanpa mengkomunikasikannya pada Murobbiyah (siapa yang mau nolak ikhwan sekaliber dia? Begitu mungkin pikirnya). singkat cerita, desas-desus pernikahan dua sejoli itu pun tersebar di kalangan teman-teman aktivis dakwah lainnya. Dan, sampailah berita itu ke telinga sang Murobbi. Betapa kagetnya beliau mendengar kabar burung itu. Si Akh dan si Ukh pun dipanggil MR-nya masing-masing untuk ditabayyuni. Dan, benarlah…nasi sudah menjadi tumpeng. Mau bagaimana lagi? Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, undangan pun akan segera disebarkan. Sang Murobbi hanya menyayangkan kedua kader tangguhny
a merahasiakan rencana besar itu sejak sekian lama. Proses tiga bulan ta’aruf + khitbah + persiapan walimahan diurus semuanya oleh si ikhwan sendiri. Dan, tragisnya…… (duh, ane gak tega nulisnya nieh), sang Murobbi/yah “memboikot” pernikahan dua sejoli ini (ngerti maksud ane kan?). Ya, Murobbi keduanya sepakat untuk tidak menghadiri resepsi walimahan mereka… (Astaghfirulloh…*sesek napas.)

Yah, fenomena di atas mungkin juga terjadi di daerah lain. Ane gak tau harus berkomentar apa. Tiap-tiap orang punya pandangan dan pendapatnya sendiri. Yang jelas, kasus ikhwan yang memiliki inceran sendiri untuk dinikahi gak sedkit jumlahnya. Fenomena semacam itu sudah menjadi hal biasa. Mereka hanya meminta Murobbi untuk menjadi perantara yang membantu proses dengan akhwat incarannya. Bagaimana tanggapanmu, Prens Fillah?

Wallohu Ta’aala A’laam…

 

IKHWAN KEGATELAN

Tak disangka ihkwan ini punya hubungan dekat dengan seorang penulis cerpen bernama pena Afifah Afra Amatullah. Istrinya mempunyai saudara kandung yang menikah dengan kakaknya penulis ini.
Karena saya telah membaca salah satu kumpulan cerpennya yang sudah dibukukan berjudul Genderuwo Terpasung maka saya pun meminta kepada sang ikhwan untuk memberikan nomor telepon seluler penulis muda itu.
Tapi apa coba sangkaannya kepada saya—walaupun ini diutarakan dengan nada bergurau, “akhi, ente mau cari istri kedua yah?”.
Yah, persangkaan yang salah telak. Dan ini tidak berhenti di situ saja. Ketika kemarin sore saya kembali meminta nomor telepon salah seorang akhwat yang sudah berkecimpung lama di forum diskusi ada pernyataan lagi yang muncul dari teman saya ini.
“Ck…ck…ck…Akhi, di sini sedang ditimpa musibah, ente telepon-teleponan sama akhwat. Nanti saya akan beri tahu nomornya via hape istrimu, yo…” suara jawa medoknya terdengar.
Salah telak yang kedua kalinya. Baru ia mengerti setelah saya beritahu bahwa sang akhwat ini sudah menikah ahad kemarin. So, saya cuma mau mengucapkan selamat dan sebuah doa: Barakallahu laka….

Dari dua kejadian ini saya berpikir kembali dengan semua sangkaannya itu. Memang saya ikhwan kegatelan apa? Sehingga selalu ada tuduhan-tuduhan itu ketika saya menanyakan sesuatu tentang lawan jenis. Apalagi dengan tuduhan meningkatkan status kejantanan seorang pria dengan beristri lebih dari satu.
Bagi yang pertama hanya untuk menyampaikan pujian dan kekaguman saya terhadap tulisannya itu. Saya pikir ini adalah untuk menunaikan salah satu haknya. Itu saja. Dan pada kenyataannya sampai tulisan ini dibuat pun tidak ada satu pesan pendek yang saya kirim. Atau berusaha mencoba dial nomornya. Tidak. Tidak sesekalipun.
Untuk yang kedua, jelas saya tidak bisa datang ke sana. Karena selain saya pun mendapatkan informasinya terlambat, lokasi yang jauh sekali (ini sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan utama), belum bisa memberikan apa-apa sebagai hadiah pernikahan, dan terpenting adalah banyaknya agenda yang harus saya jalani akhir pekan kemarin, maka sudah selayaknya saya cuma bisa memberikan ucapan saja. So what getu loh…

Saya hanya ingin meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna yang sanggup menyentuh sisi-sisi terdalam dan paling sensitif dari seseorang yakni hatinya. Yang sanggup mengingat nama dan mengenal al-akh cuma karena ia menandatangani kartu keanggotaan jama’ahnya. Al-akh itu pun terkejut dan tersentuh hatinya ketika Hasan AlBanna yang baru pertama kali berkunjung ke daerahnya itu sanggup mengenalnya dari ribuan anggota jama’ah lainnya.
Maka hati adalah pintu untuk masuknya hidayah dan cahaya kebenaran. Hati adalah gerbang penentu penerimaan seseorang terhadap dirinya. Hati adalah segumpal buhul dari silaturahim. Maka dengan sentuhan hati dakwah ini menyebar ke segala penjuru mata angin.

Saya sungguh belumlah sanggup meniru apa yang Rasulullah saw sering lakukan dengan memberikan hadiah kepada banyak orang dan menjadikan ini sebagai sunnah buat ummatnya. Atau meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna dengan gampangnya ia mengingat nama orang, yang sebaliknya bagi saya seringkali mudah dilupakan.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan. Dan itu pun tidak hanya untuk makhluk bernama wanita, perempuan, akhwat, gadis, ibu-ibu, nenek-nenek atau apapun sebutan yang biasa engkau sandingkan. Tidak. Karena saya tahu dan engkau tidak tahu apa yang saya lakukan setiap hari.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan dengan menelepon ketika ia telah bertambah umurnya, menjenguk ketika ia sakit atau mendapatkan anugerah berupa sang penerus kehidupan, memberikan hadiah, mengirim
kan surat, bersilaturahim tanpa direncanakan dan diberitahukan terlebih dahulu kepadanya. Atau bila ada rezeki berlebih maka menyisihkan sebagian rezeki itu untuknya. Dan masih banyak cara lain untuk menyentuh sensitivitas hati seseorang.
Insya Allah dengan ini, engkau akan menjadi terpercaya dimatanya. Memudahkan engkau menjadi mata air yang akan mengalirkan air kebaikan kepadanya. Engkau akan dikenang bukan untuk dipuji atau dikultuskan, tapi dikenang untuk dicontoh. Contoh dari prototype penuh kebaikan.
Sungguh, keutaman ada pada kebaikan walaupun kecil tapi dilakukan dengan istimroriyah, kontinyu, berkelanjutan. Niscaya unta merah pun engkau akan dapatkan. Insya Allah.
So, kiranya: julukan ikhwan kegatelan semoga tidak ada pada diri saya. Kalau iya, semoga masih ada obatnya di apotik.

 

Ikhwan Narziez

ah… ini judul kok begitu…hmmmm. ga tau. sama nggak Narsis=Narziez? (di sini disamakan aja, biar tambah kuerenzzz). Narziez? bahasa mana itu. sebetulnya aku ga terlalu faham makna kata Narziez  itu hanya, sudah menjadi konsumsi publik, bahasa yang terkesan aneh jadi enak aja. mirip seperti kata Gokil, Mboh ah. kuwi boso ngendi.., mungkin awalnya itu bahasa luar angkasa, diolah dengan suhu terjaga, trus di racik dengan bumbu penyedap cap “gauls” jadilah makanan public judul yang tertera tepatnya juga begini “Ikhwan (akhwat juga) Narziez”

mendengar kata Narziez imaji kita akan melayang (emang punya sayap), kepada sosok yang suka nampang, suka difoto, atau memfoto diri sendiri, pamer tampang dan body (duileee…). mirip Ade Ray aja… tetapi jika narziez ini disematkan kepada kalangan Jenggoter yang lebih umum disebut Ikhwan. maka jadilah sebutan Ikhwan Narziez.

Ikhwan Narsies (bakwan sosis kalie).. tidak sedikit kita jumpai di acara-acara. dengan dalih sebagai dokumentasi, tidak lupa sebagai ajang nampang.. mumpung aja. ada tempat menyalurkan bakat nampang. mau ikut audisi Cover Boy majalah “GHauLS” atau sejenisnya, nanti jadi salah kaprah, gengsi donk. mosok ikhwan ikut kaya’ gituan. Hancur
reputasinya.

jika hanya sebatas dokumentasi dan dijadikan acuan atau rujukan akan kegiatan serupa di lain waktu, atau “dikomsumsi” sendiri di rumah (bareng istri  biar ketawa cekikian bareng) dengan syarat sudah punya istri jangan istri orang lain, lha kalau yang belum punya piye?? … kiranya tidak menjadikan banyak pertanyaan di kemudian hari. tetapi jika kemudian gambar narziez di pajang di web atau ditempat umum yang bisa dikomsumsi public bisa jadi banyak persepsi… mulai dari sebatas kenangan semata, mengenang saat-saat bahagia bersama duch bahasanya, sampai pada benar-benar nampang. tetapi itu kembali kepada urusan masing-masing yang memajang gambarnya.

terlebih jika kemudian Narziez ini menghinggapi kalangan akhwat (lhoooo). dengan alasan yang sama dengan ikhwan
ketika hanya menjadi konsumsi pribadi rasanya masih wajar-wajar saja. maklum akhwat juga manusia. sekali lagi jadi Konsumsi Pribadi dan keluarga. jika sudah membuka akses untuk jadi konsumsi public, tinjauannya bisa jadi lebih jauh dari pada ikhwan Narziez. lho kok??
Pintu Fitnah yang ditimbulkan Akhwat Narziez akan lebih besar dari pada ikhwan Narziez. dalam pandangan ikhwan, seorang akhwat yang nampang akan sangat jauh dibanding ikhwan nampang dalam pandangan akhwat. walaupun tidak menutup kemungkinan juga menimbulkan efek yang sama. maksudnya??

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Ali Imron : 14).  

akhwat dalam pandangan ikhwan akan sangat berbeda. bisa terlihat lebih menarik, mempesona, lho…… tetapi berbeda halnya jika ikhwan dalam pandangan akhwat. magnet ikhwan dalam pandangan akhwat tidak sekuat magnet akhwat dalam pandangan ikhwan. hihihihi buka kartu

secara Fitrah seorang laki-laki akan sangat tertarik dalam pandangannya kepada wanita, sebaliknya seorang wanita
akan sangat tertarik bukan kepada laki-laki, tetapi lebih kepada perhiasan (baca : harta benda). Sok tau aja!! sehingga secara fitah, wajar jika seorang lak-laki “mengumpulkan” istri dan seorang wanita suka mengkoleksi dan menyimpan berbagai perhiasan, misal cincin, kalung. Lho kok sampai sini ngomongnya….

belum lagi jika Gambar Akhwat bisa diakses dengan gratis, tidak menutup kemungkinan “peng-akses”nya tidak hanya sebatas kalangan ikhwan jenggoter saja. manusia yang mempunyai watak usil dan jahil lagi dekil (baca : manusia parah), sehingga, meng-edit edit gambar tersebut kemudian di posting lagi dalam keadaan yang jauh berbeda. jika menjadi lebih bagus, kelihatan sedang melaksanakan umrah itu sihh jadi seneng, tetapi jia hasil akhir dari edit-edi
t tersebut menjelekkan dan menghancurkan reputasi pengemban “risalah” jadi gemez pengin njitak orangnya (hehehe). hancurlah semuanya.
membangun kepercayaan publik bagi seorang “pengemban” risalah butuh waktu yang panjang, bahkan seumur hidup. tetapi untuk menghancurkan kepercayaan tersebut cukup waktu setengah jam atau bahkan kurang dari itu.

akhirnya silahkan semua manilai akan niatan narziez tersebut, baik kalangan jenggoter atau jilbaber.. Gud lak!
 

Peringatan Keras Untuk Ikhwan!! (Wajib Baca!!)

Ketika Akhwat Tersinggung

 

Eeeggghhhhh!!!!!!       Ikhwaaaaannn!!! Ente mau bikin masalah lagi yah? Kenapa sieh?? Qta kan Sodara, koq tega-teganya dikau menyakiti hati sodara antum sendiri (akhwat)??

Duh..Va, Va...Vans..!!
Tenang, tarik napas dulu dalam-dalam (Hmmmf..), yak, hembuskan....(Fyuuuh..)
Slowly, Gals. Sekarang, ceritakan pelan-pelan, ada apa seeh??

Ugh! gimana nggak kesel, si ikhwan cari masalah lagi!! Dia sengaja mancing2 kemarahan kami (akhawat). Kemaren, pas ane browsing buat bahan skripsi (tentang media blog), tanpa sengaja ane kesasar di blognya seorang ikhwan (pantaskah dia disebut ikhwan???) yang (syumpah) nyebelin banget!!

Emang alamat blognya apa?


Tau ah!! lupa!! males ane nengok ke blog itu lagi!! Nggak sudi ane menginjakkan kaki ke blognya untuk yang kedua kali!! Nggak sudiiiiiiii!!!!!!

Emang napa seeh??

Syumpah, gondok banget ane!! (Duh, Astaghfirullah...*sambil ngelus dada*).
Enaknya, diapain yha ni orang?? Kita kasih dia dua pilihan, "kue bogem mentah atawa dorprize timpukan sand
al", gimana, setuju??

Sodara-Sodara, Akhi, Ukhti, Brother, Sista, en Prens Fillah di manapun kalian semua berada....Jika Antum bertemu dengan sosok berinisial Ibnuara, bilang, ditantang ma akhwatzone!! Kami, cewek, perempuan, wanita, akhwat, sebagai Makhluk Tuhan Yang Paling SeNsi, dengan sepenuh hati menyatakan: Amat Sangat Very Tersinggung Sekali Banged Jiddan atas artikel yang Antum buat!! Dan dengan ini, kami meminta Anda untuk segera mencabut kembali kata-kata yang tertulis di blog Anda!! Atau kalau tidak, Anda akan menyesal!! Camkan itu!! (Beeuh, keren juga lu Van!). Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!!

Bagi siapapun yang tidak tergerak hatinya untuk memprotes, memboikot, dan mengecam -pendapat nyeleneh dari orang aneh ini- atau berlaku masa bodoh, mendukung, bahkan mengamalkan "madzhab" ini dengan kesadaran penuh, maka bersiap-sipalah berurusan dengan kami, akhwatzone!! Kami tidak akan tinggal diam!! Sebisa mungkin
akan kami usut perkara ini dan kami ajukan ke Majelis Pengadilan Ikhwah atas tuduhan "Pencemaran Nama Baik Ikhwan dan Pelecehan Terhadap Harga Diri (Izzah) Seorang Akhwat". Sebagai barang bukti, berikut ane lampirkan (baca: copas-kan) keempat artikel yang ane maksud. Gak peduli walau artikelnya bakal menghabiskan banyak tempat di blog ini. Biar temen2 tau! Koq ada sieh, ikhwan kayak gini???? Heran ane!!