Sakit Hati, gak usah deh!!

Bismillah,,

Kawan,,

Hampir setiap kita tentu pernah mengalami sakit hati dalam hidupnya. Baik
dalam keluarga, berteman, maupun bermasyarakat. Sebagaimana sifat sedih dan gembira, rasa yang satu ini adalah suatu kewajaran dalam hidup manusia. Apalagi, mengingat manusia adalah mahluk sosial, yang setiap interaksinya tidak lepas dari kekhilafan.

Pemicu rasa sakit hati juga bermacam-macam. Dari masalah
sepele hingga masalah besar. Misalnya berawal dari perbedaan pendapat, adanya konflik atau ketidakcocokan, hingga iri dan dengki. Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama bercokol dalam hati, maka tidak sehatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan jauh dari keceriaan. Lebih jauh lagi, hal itu bisa menjauhkan manusia dari RabbNya. Naudzubillaahi mindzaalik.

Terus, ada gak sih solusi buat memenej sakit hati???


Kiat-kiat berikut semoga bisa membantu:
1. Muhasabah (Koreksi Diri). Sebelum kita menyalahkan orang
lain, seharusnyalah kita melihat diri kita sendiri. Bisa jadi kita
merasa tersakiti oleh saudara kita, padahal ia tak bermaksud menyakiti.
Cobalah bertanya pada diri sendiri, mengapa saudara kita sampai
bersikap demikian. Jangan-jangan kita sendiri yang telah membuat
kesalahan.

2. Menjauhkan Diri dari Sifat Iri, Dengki, dan Ambisi. Iri,
dengki, dan ambisi adalah beberapa celah yang menjadi pintu bagi syetan
untuk memasuki hati manusia. Ambisi yang berlebihan, dapat membuat
seseorang buta dan tuli. Bila tidak dilandasi iman, seorang yang
ambisius cenderung akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan
ambisinya.

Demikian sifat iri dan dengki. Sifat ini berasal dari kecintaan
terhadap hal-hal yang bersifat materi, kehormatan, dan pujian. Manusia
tidak akan tenang bila dalam hatinya ada sifat ini. Manusia juga tak
akan pernah bisa bersyukur, karena selalu merasa kurang. Ia selalu
memandang ke atas, dan seolah tidak rela melihat orang lain memiliki
kelebihan atas dirinya. Maka hapuslah terlebih dahulu sikap cinta
dunia, sehingga dengki pun sirna.

Rasulullah bersabda, "Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang.
Yaitu orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian memenangkannya atas
kerakusannya di jalan yang benar. Dan orang yang diberi hikmah oleh
Allah, kemudian memutuskan persoalan dengannya dan mengajarkannya. "
(HR. Bukhari).

3. Menjauhkan Diri dari Sifat Amarah dan Keras Hati. Bila
marah telah timbul dalam hati manusia, maka kadang manusia bertindak
tanpa pertimbangan akal. Jika akal sudah melemah, tinggallah hawa
nafsu. Dan syetan pun semakin leluasa melancarkan serangannya, lalu
mempermainkan diri manusia. Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin
menyebutkan bahwa Iblis pernah berkata, "Jika manusia keras hati, maka
kami bisa membaliknya sebagai anak kecil yang membalik bola."

4. Menumbuhkan Sifat Pemaaf. "Jadilah engkau pemaaf, dan
suruhlah orang mengerjakan yang maruf, serta berpalinglah dari
orang-orang yang bodoh." Demikian firman Allah dalam Al-Quran Surat
Al-Araf : 199.

Ingat, Allah sang Khaliq saja Maha Pemaaf terhadap hambaNya. Tak peduli
sebesar gunung atau sedalam lautan kesalahan seorang hamba, jika ia
bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan pintu maaf
selebar-lebarnya. Kita sebagai manusia yang lemah, tidak sepantasnya
berlaku sombong, dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain,
sebelum ia meminta maaf. Insya Allah, dengan begitu, hati akan lebih
terasa lapang.

Rasulullah bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana engkau
berada, tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan
tersebut menghapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan
akhlak yang baik." (HR. Hakim dan At-Tirmidzi) .

5. Husnudhdhan (Berprasangka Baik).
Allah berfirman, "Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari
kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing
sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."
(QS. Al-Hujurat : 12).

Adakalanya seorang muslim berburuk sangka terhadap seorang muslim
lainnya sehingga ia melecehkan saudaranya. Ia mengatakan yang
macam-macam tentang saudaranya, dan menilai dirinya lebih baik. Tentu,
itu adalah hal yang tidak dibenarkan. Akan tetapi, hendaknya setiap
muslim harus mawas diri terhadap titik-titik rawan yang sering
memancing tuduhan, agar orang lain tidak berburuk sangka kepadanya.

6. Menumbuhkan Sikap Ikhlas. Ikhlas adalah kata yang ringan
untuk diucapkan, tetapi cukup berat untuk dilakukan. Orang yang ikhlas
dapat meniatkan segala tindakannya kepada Allah. Ia tidak memiliki
pamrih yang bersifat duniawi. Apabila Allah mengujinya dengan
kenikmatan, maka ia bersyukur. Bila Allah mengujinya dengan
kesusahannya pun, ia bersabar. Ia selalu percaya bahwa Allah akan
senantiasa memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Orang yang ikhlas
akan lebih mudah memenej kalbunya untuk selalu menyerahkan segalanya
hanya kepada Allah. Hanya kepadaNyalah ia mengantungkan harapan.

Lagi sakit hati??
cobalah amalkan kiat di atas. Okay!! ^_^
Insya Allah, beban hati akan berkurang. Dada anda pun terasa lapang.

ARTI SEBUAH KEJUJURAN

Para pembaca yang mulia, menyoal kejujuran adalah suatu topik pembicaraan yang mahal. Tak ubahnya ibarat barang langka, namun banyak konsumen yang mengincarnya. Terasa susah sekali mencari orang yang jujur atau yang bisa dipercaya. Tak urung, orang kepercayaan pun bisa jadi musuh dalam selimut.
Seiring dengan kemajuan media informasi dan tehnologi yang semakin canggih, peran kejujuran merupakan modal yang paling urgen (mendasar). Keakuratan dalam memberikan informasi, berita, data, fakta, dan segala yang terkait dengan pernyataan, sikap dan tindakan, itu tergantung kepada faktor kejujuran.
Demi mengejar persaingan bisnis, persaingan posisi (jabatan), kesenjangan sosial, kesulitan ekonomi atau pun kepentingan lainnya tak jarang dapat membutakan prinsip kejujuran. Tak luput juga dalam dunia pendidikan, adanya persaingan pendidikan yang kurang sehat juga dapat mengugurkan akan kejujuran. kalau dalam dunia pendidikan saja sudah terlepas dari prinsip kejujuran, bagaimana lagi bila meningkat pada jenjang berikutnya?
Demikian pula dalam lembaga kecil rumah tangga sangat perlu ditanamkan dan diterapkan prinsip kejujuran yang mulia ini. Betapa menyesalnya orang tua, bila sang anak sudah tidak bisa dipegang kejujurannya lagi? Betapa retaknya hubungan suami istri bila keduanya tidak saling menaruh kepercayaan? Dalam lembaga yang kecil saja ketidakjujuran itu membawa dampak negatif yang luar biasa, bagaimana lagi dampak yang terjadi dalam lembaga yang lebih besar?
Sangat tragis bila image (praduga) "siapa yang jujur ajur", "siapa yang polos gak lolos", ini semakin semarak. Apakah wabah ini bisa terobati? Jawabannya, tentu karena Allah subhanahu wataala tidak akan menurunkan sebuah penyakit melainkan pasti ada obatnya. Kembali kepada Islam, mempelajari ajaran-ajarannya dan mengamalkannya adalah obat yang tepat.
Jujur adalah Tanda Orang Yang Beriman
Wahai saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya agama Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah agama yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Beliau sendiri adalah seorang yang mendapat gelar al amin (orang yang dapat dipercaya) dimasa itu. Karena beliau shalallahu alaihi wasallam melandasi setiap tindakannya diatas prinsip kejujuran.
Dalam beberapa ayat Al Quran, Allah subhanahu wataala telah menyeru orang-orang yang beriman agar bersikap jujur. Diantara firman-Nya: (artinya):
"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang- orang yang jujur." (At Taubah: 119)
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (diantara perkataan yang benar adalah jujur -pent)." (Al Ahzab: 70)
Kandungan kedua ayat di atas, Allah subhanahu wataala memanggil kepada orang-orang yang beriman, agar mereka bertaqwa dan berjalan bersama orang-orang yang jujur. Mengisyaratkan bahwa konsekuensi orang yang mengikrarkan dirinya beriman kepada Allah subhanahu wataala, hendaknya dia bertaqwa. Dan salah satu bentuk taqwa dia kepada Allah subhanahu wataala adalah berjalan bersama orang-orang yang jujur. Berpijak diatas pijakan mereka, yaitu melandasi semua perkataan dan perbuatan diatas prinsip kejujuran. Karena kejujuran itu merupakan tanda kesempurnaan iman dan taqwa dia kepada Allah subhanahu wataala.
Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wataala dan hari kiamat, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam (bila tidak bisa berkata baik)." (HR. Al Bukhari no. 6018 dan Muslim no.48 )
Diantara perkataan yang baik adalah perkataan yang jujur. Bahkan kejujuran itu adalah sumber segala kebaikan.
Arti Sebuah Kejujuran
Para pembaca, setiap yang menabur biji kebaikan pasti ia akan menuai kebaikan dan demikian pula setiap yang menabur biji kejelekan pasti ia akan menuai kejelekan pula. Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah subhanahu wataala) yang sejalan dengan fitrah yang suci.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Masud, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan kedalam al jannah (surga), sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicacat disisi Allah sebagai ash shidiq (orang yang jujur). Dan sesungguhnya orang yang dusta akan mengantarkan ke jalan kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan itu akan mengantarkan kedalam an naar (neraka), sesungguhnya orang yang benar-benar dusta akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta. (HR. Al Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2606)
Dalam hadits diatas menunjukkan bahwa jujur merupakan amalan yang amat terpuji. Dari sebuah kejujuran akan tegak kebenaran, keadilan, dan sekian banyak kebaikan dibaliknya. Hati akan menjadi tenang dan tentram. Karena orang yang jujur itu tidak mengurangi atau menzhalimi hak orang lain. Sehingga semakin menambah kepercayaan dari orang lain.
Cobalah perhatikan, bila seseorang berkata atau bertindak jujur, maka orang lain akan merasa dirinya dihormati, diperlakukan adil, tidak dizhalimi atau tidak dikhianati. Sehingga menumbuhkan rasa saling percaya, menambah rajutan ukhuwah (persaudaran), dan mahabbah (kasih sayang). Namun sebaliknya, dari ketidakjujuran akan menyebabkan terjatuh dalam perbuatan zhalim, curang atau berdusta kepada orang lain. Yang berakibat memudarnya sikap saling percaya, bahkan akan timbul kedengkian, permusuhan, dan sikap jelek lainnya.
Sehingga jujur itu benar-benar akan mendatangkan kebaikan dan sebaliknya dibalik ketidakjujuran itu terdapat sekian malapetaka. Demikianlah janji Allah subhanahu wataala dalam firman-Nya (artinya):
... Tetapi jikalau mereka jujur terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (Muhammad: 21)
Sebenarnya segala perbuatan itu bisa dinilai sendiri, apakah perbuatan itu didasari dengan jujur ataukah tidak? Bila perbuatan itu didasari dengan kejujuran maka hati itu akan menjadi tentram dan tenang. Berbeda dengan perbuatan yang didasari dengan ketidakjujuran maka hati itu akan selalu gundah gulana dan bimbang. Maka sesuatu yang masih ragu atau bimbang hendaknya ditinggalkan. Sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رَيبَةٌ
Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah sesuatu yang menenangkan sedangkan dusta itu adalah sesuatu yang membimbangkan. (HR. At Tirmidzi no. 2518 , An Nasai 8 / 327-328 , dan Ahmad 1 /200, dari shahabat Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib)
Para pembaca, sehingga image bahwa jujur itu ajur itu tidaklah benar. Bahkan sikap jujur itu pasti berakibat mujur (baik) dan majur (mendapat pahala dari Allah subhanahu wataala). Diantara dampak yang baik dari perbutan jujur adalah:
1. Sebab mendapat barakah dari Allah subhanahu wataala.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Penjual dan pembeli itu memiliki hak untuk meneruskan atau membatalkan akad jual belinya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur menjelaskan keadaan barangnya maka akan diberkahi jual belinya dan jika keduanya dusta maka akan dihapus keberkahan dalam jual belinya.
Ini adalah suatu gambaran dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang usaha dagang (bisnis) yang didasari dengan prinsip kejujuran. Jujur dalam memberikan sifat barang, jujur dalam timbangan, atau jujur dalam segala hal yang terkait dengan jual beli. Maka bisnis itu akan diberkahi oleh Allah subhanahu wataala. Sebaliknya bila berlaku culas (menipu) dalam bisnisnya maka akan menjauhkan dia dari barakah-Nya ?, bahkan Allah subhanahu wataala akan mendatangkan siksaan baginya. Seperti curang dalam timbangan maka Allah subhanahu wataala mengancam dengan ancaman yang keras, sebagaimana firman- Nya (artinya):
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu curang dalam menakar dan menimbang). (Al Muthaffifin: 1)
2. Jujur sebagai sebab akan diperbaiki dan diterima amalan-amalan lainnya oleh Allah subhanahu wataala.
3. Jujur sebagai sebab datangnya maghfirah (ampunan) Allah subhanahu wataala.
Sebagaimana Allah subhanahu wataala berfirman (artinya):
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (jujur), niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan akan mengampuni dosa- dosamu,... (Al Ahzab: 70-71)
4. Mendapat pahala yang besar.
Allah subhanahu wataala berfirman (artinya):
(Sesungguhnya),... laki-laki dan perempuan yang benar (jujur),... maka Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Ahzab: 35)
Diantara pahala yang besar yang Allah subhanahu wataala janjikan, yaitu barangsiapa yang memohon derajat syahid disisi Allah subhanahu wataala dengan jujur, niscaya Allah subhanahu wataala akan memenuhi permohanannya, meskipun ia mati diatas ranjangnya. Sebagaiamana hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ
Barangsiapa memohon kepada Allah derajat syahid dengan jujur niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat para syuhada, meskipun ia meninggal diatas ranjangnya. (HR. Muslim no. 1909)
Demikian pula, pedagang (bisnisman) yang jujur akan diberikan pahala tinggal bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada (orang- orang yang mati di medan jihad). Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Pedagang yang jujur lagi dapat dipercaya bersama para nabi, ash shiddiqi, dan asy syuhada. (At Tiermidzi: 1130)
Akhir kata, semoga kajian yang ringkas ini sebagai koreksi bagi kita semua. Tiada seorang pun yang bersih dari noda dosa dan kesalahan. Namun seyogyanya kita selalu berusaha untuk berjalan diatas prinsip kejujuran, bila ada kelalain dari kita, hendaknya segera kita bertaubat kepada Allah subhanahu wataala. Semoga Allah subhanahu wataala menggolongkan kita termasuk hamba-hambanya yang jujur. Amien, ya Rabbal alamin.
MUTIARA HADITS
Doa Berlindung Dari Empat Perkara Sebelum Salam
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda: Bila salah seorang diantara kalian selesai dari tasyahud akhir hendaklah berlindung kepada Allah dari empat perkara:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Ya, Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada- Mu dari adzab neraka jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dari jeleknya fitnah Dajjal." (HR. Al Bukhari no. 1377 , Muslim no. 588 , Abu Dawud no. 833 , At Tirmidzi no. 3528 , An Nasai no. 1293 , Ibnu Majah no. 899 , Ahmad no. 7110 , dan Ad Darimi no. 1310)

Dear Diary . . .

Dear diary . . .

Diary vans sedang dihukum sekarang karena perbuatan vans sendiri, vans tau telah banyak elakukan kesalahan daitu kesalahan fatal sekali yang vans lakukan , vans tlah melukai orang tuanya sedangkan vans khilaf, vans melakukan itu semua karena ambisi vans yang ingin terbaik buat keluarga vans, maafin vans ...

Vans menyesal melakukaannya, vans janji vans akan menebus semuanya dengan memintaa maaf langsung dengan yang vans lukai, sekarang vans juga tlah di hukum dengan disuatu tempat yang jauh, vans sekarang sedang menjalani hukuman itu, begitu pedih vans rasakan ..

Vans ga bisa melakukan aktifitas seperti biasanya, vans sendirian dan sepi ...

Hanya Allah sekarang yang membantu vans, Ya Allah maafkanlah segala kesalahanku, maafkanku...

Vans hanya diam dan menunggu . . . .

Kusimpan sepiku, di gurun, di kaki gunung dan bayang-bayangmu . . . .

 

Posted in My Self. 1 Comment »

About Vans now

 

seorang manusia yang mencari jati diri. Terucap cinta dan salam kepada baginda junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarganya. yang kesemuanya itu diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. AMIN..ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang-orang disekelilingnya terutama untuk membahagiakan kedua orang tuanya
 

Posted in My Self. 0 Comment »

Puisi Seorang Evans ...

Dulu aku mengenalmu,
Sejak pertama komentar di statusmu,
Lalu kau balik komentar di statusku
Semua interaksi yang terkesan biasa
komentar yang semua biasa.

Suatu hari aku tersentak kaget,
Dengan statusmu yang sama dengan statusku,

Di wall mu dan di wall ku tertulis:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`” (QS. Al-Baqarah:75)

Aku lagsung koment, bilang kalau status kita sama,
Kau tampak biasa, aku pun sama

Beberapa hari berikutnya
Di wall ku tertulis:
“Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)”

Kau langsung koment, status kita sama lagi,
Beberapa kali berikutnya begitu
Lagi dan lagi
Dan bukan hanya sekali dua kali

---------------------------------------------

Semakin lama kita semakin dekat
Interaksi seakan begitu padat
Dari situ aku mulai terpikat
Betapa hati ini seakan terikat


------------------------------------------
Yang begitu membuatku semakin kaget
Pada hari itu,
Handphoneku berdering, dari no. tanpa nama
Aku angkat…
Salam dari Suara ujung sana terdengar
Suara seorang ibu.

“Assalamu’alaikum.. Nak”,
“wa’alaikumsalam Bu,”

“Koq, suaramu seperti seorang perempuan Nak?”
“Aku memang perempuan Bu,”

Belakangan baru aku ketahui,
Bahwa itu Ibumu,
Yang nyasar ingin menelponmu
Tapi malah sambung ke no.ku

No. HP kita ternyata hanya berbeda satu angka,
Dan itu membuat ibumu nyasar menelponku.

Tidak tahu, apakah ini hanya kebetulan semata?
-----------------------------------
Sejak itu, obrolan berlanjut via HP.

Bercanda,
Berkenalan,
Aktifitas apa?
Kuliah di mana?
Jurusan apa?
Semester berapa?
Dan lain-lain..

.

Lagi - lagi aku terkesima
Jurusan kita ternyata sama

Aku semakin Tak mengerti, apakah ini masih di anggap kebetulan semata?
----------------------------
Beberapa hari berselang
Kau mulai mengurangi ritme interaksi kita
Aku tidak paham
Kau pun mulai diam
--------------------------------
Dalam perjalananku pulang kampung waktu itu
Malam ku sendiri tak terlelap
Dalam kereta,
Aku mencoba membuka akunmu

Tak bisa terbuka,
Ternyata kau meremove ku
Aku menangis,
Aku pun risau,
Apakah salah ku?
Mencoba untuk tetap tenang dalam tidurku

Mimpi…mimpi…
Mimpi yang membuatku bangun seketika
Di tengah malam itu



Perasaanku semakin tak enak,
Gemetar tubuhku,
mengetik SMS untukmu,
ku awali menanyakan sujud mu malam ini?
Dan menanyakan
Apa alasanmu meremove akunku?

Ku tunggu balasanmu
Tak ada

Akupun mendesak mu
Tolong dibalas
Agar aku bisa tenang
Agar aku bisa kembali bermimpi



-----------------------------

Cahaya pagi mulai menyapa
Menembus sela-sela ruang yang menerpa
Kau membalas SMS itu,
Kau bilang tidak ada apa-apa

Kau meminta ku
Untuk SMS seperlunya
Tanpa canda,
Tanpa sia-sia,
Tanpa ada kata percuma,

Waktu pun ikut berbicara
Tidak juga di atas jam 9 malam,
Tidak dini hari,
Tidak usah mengingatkan Sujud malammu

Kau bilang takut menimbulkan fitnah
termasuk untuk menetralisir perasaan
dan untuk meremove ku dari fikiranmu.



Aku sepakat dengan syaratmu.
Aku pun menangis sejadi-jadinya,
Ternayata selama ini aku begitu,



-------------------

Semua Akun FB ku, kau blokir
No.HP mu kau ganti
Semua celah kau tutup rapat

Tak ada komunikasi
Tak ada lagi interaksi

Aku memilih sepi,
memilih sendiri,
Sepi dalam tangisan mata
Sendiri dalam linangan gerimis jiwa



Tangisan tak tertahankan
Di sepertiga malam terkahir
Aku memohon ampunan
Ya Ghofar
Ya Syahiid

Ampuni Hamba-Mu ini
Saksikanlah gemuruh pengharapan
Pengampunan atas segala dosa

--------------------------

Wahai kau yang ada disana
Kini Aku akan menikah

Di hari pernikahanku nanti
Aku ingin kau datang
Sebagai penenang hatiku
Bahwa kau telah bahagia



Jika semua berjalan sesuai rencanamu
Seharusnya kau sudah menikah di bulan Syawal tahun lalu
Di bulan sebelumnya aku pernah menunggu
Menuggu akan ada telepon lagi dari ibumu
Tapi bukan karena nyasar
Tapi menunggu kabar dari ibumu
Bahwa kau kan melamarku

Tapi ternyata tidak
Hampa
Kosong
Tak bertuan

----------------------

Aku tahu,
Aku memang tidak pantas untukmu
Aku yang pernah mengotori hatimu
Maafkan aku

Karena kau pernah bilang :
“jika menginginkan sesuatu yang suci, maka harus di tempuh dengan jalan yang suci pula”

Wahai kau yang ada disana
Aku memang tidak pantas untukmu

Terimakasih atas semua

Kau lebih pantas dengan yang lebih terjaga juga

----------------------------


Kini Aku akan menikah

Menikah dengan orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya
Semua aku serahkan pada kakak laki-laki tertuaku
Tanpa Ta’aruf
Tanpa Nazhar

Aku percaya pada kakakku untuk memilih yang terbaik untukku

Sejak kejadian itu
Aku putuskan semua interaksi dengan lawan jenis
Aku menjadi terlalu sensitife dengan mereka

Karena kau pernah bilang
“seorang yang mengaku dirinya hamba, tidak akan mengulangi kesalahan berulang-ulang kali”

-----------------------

Kini Aku Akan Menikah…

Maafkan aku menulis begini
Kau tak lagi mungkin membaca catatanku ini,
karena ternyata blokir lebih kejam dari remove
Dan memang bukan itu yang kuharapkan..



Ku hanya ingin mengingatkan pada yang lain,
sebagai pelajaran untuk semua
Just It..

---------------------------

karena Aku Akan Menikah

Posted in My Self. 1 Comment »

Cinta Sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Indah Pada Waktunya

Aku minta pada Allah setangkai bunga segar.
Ia beri aku kaktus berduri,
Aku minta pada Allah binatang mungil nan cantik
Ia beri aku ulat berbulu,

Aku sempat sedih, protes dan kecewa
Betapa tidak adilnya ini….
Namun, kemudian kaktus itu berbunga… sangat indah
Ulat itupun tumbuh dan berubah menjadi lupu-kupu yang teramat cantik.

Itulah jalan Allah,
Indah pada waktunya,
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan,
Tapi Ia memberi apa yang kita perlukan.

Kadang kita sedih, kecewa, terluka,
Tapi jauh diatas segalanya IA sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar

semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur atas karunia Allah.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Maaf Itu..

“..membuka pintu maaf yang setulus-tulusnya pada
orang yang menyakitimu. Jika kamu masih merasa sakit hati padahal dia sudah
minta maaf maka itu berarti kamu belum benar-benar memaafkannya. Salah satu ciri
kita telah tulus memaafkan orang lain adalah jika kita tidak lagi terbelenggu
oleh rasa sakit hati kita karena perbuatan orang lain itu. Memberi maaf itu
mampu membuka belenggu2 sakit hati. Mampu menyingkirkan kebencian. Dan memaafkan
adalah kekuatan yang sanggup menghancurkan rasa mementingkan diri
sendiri!

Ketika kita memberi maaf, itu tidak berarti kita
lebih rendah atau kalah. Justru ketika kamu memberi maaf, kmu telah menang dan
kedudukanmu lebih terhormat dibandingkan orang yang kmu beri maaf…”


Ubahlah dengan Hatimu

Bila kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu, kalau tidak mampu ubahlah dengan kata-kata, jika tidak mampu juga, ubahlah dengan hatimu.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Cinta tak berwarna

Cinta menurutku tak berwarna
ia menjadi jingga
sebagaimana kau memaknainya
ia pun menjadi kuning, biru dan merah
sebagaimana kau menginginkannya
cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi
tentang kejujuran dan keberanian
tentang kemarahan dan kasih sayang
cinta adalah lukisan yang unik
dan tak terkatakan
sebab ia menenggelamkan kita
pada angan-angan dan mimpi yang abadi

dan cintaku padamu
adalah surga yang tak bisa kumasuki
jika tanpamu

Posted in Puisi. 0 Comment »

Obrolan Ikhwan Jomblo

Satu sore, aku memutuskan untuk ifthor di rumah seorang teman. Sambil menunggu waktu ifthor, perbincangan kami selalu saja berganti-ganti topik. Tentang teman kami yang Alhamdulillah sedang hamil, tentang teman satunya lagi yang rencana akan kembali ke Balikpapan idul fitri mendatang, tentang pekerjaanku, de el el, de el el. Sampai satu tema yang akhirnya membuat kupingku panas. Temanku bercerita bahwa pernah satu kali seorang ikhwan yang sudah sangat dekat dengan suaminya datang bertamu. So, ngobrollah mereka. temanku, suaminya dan ikhwan yang datang tersebut. Obrolannya tentang nikah, nah lo. Waktu ditanya, kira-kira akhwat seperti apa yang ingin dia sunting sebagai istri (karena ikhwan yang satu ini masih jomblo), dengan enteng si ikhwan berkata “Kalo dari omongan ikhwan-ikhwan sih, akhwat Y yang paling bersinar”. hah?! “omongan ikhwan-ikhwan?”. Jadi selama ini, kerjaannya ikhwan ngumpul gak lepas juga dari ngegosipin para akhwat. Hayoo, katauan ya. Bukannya nggak setuju tentang tema “akhwat”nya, tapi kalimat “Akhwat Y yang paling bersinar” itu loh yang nggak nahan. Apa coba maksudnya “paling bersinar?”. lampu kalee. .Ah ikhwan, ada-ada saja.

Trus pernah juga kejadian di bulan Ramadhan tahun lalu. Waktu itu, beberapa ikhwan lagi I’tikaf di sebuah masjid. Para jomblowan membentuk lingkaran untuk berdiskusi. Dan taukah apa tema diskusinya? Lagi lagi tentang akhwat. Ya Allah, lagi I’tikaf gitu loh. Sebagai seorang wanita, akhwat, kadang ikutan risih dengan segala perbincangan yang berlebihan dari para ikhwan tentang akhwat. Kagum, merasa tertarik, semua adalah hal yang sangat wajar. Tapi kalo di sela-sela ibadah pun masih saja mengumbar obrolan tentang hal lain yang mungkin membuat ibadah kita terganggu, apakah itu wajar?

Ya bukan bermaksud menyalahkan ikhwan sih, karena sudah menjadi fitrah kaum lelakilah rasa tertarik terhadap wanita. Tapi demi melihat si akhwat yang bersangkutan nangis karena merasa “sangat dilecehkan” dengan obrolan mereka. Aku jadi kasihan sama si akhwat. Makanya para ikhwan, kalo mau ngobrolin akhwat jangan pada lebay deh. Yang biasa-biasa aja. Lagian ya, kalo udah mulai ngincer dan dapat target. Ya udah, langsung ngadep murobbi aja deh, daripada nge-ghibah-in akhwat terus, kan jadi nggak dapat manfaat.hayo, pada berani nggak?

Btw, wan…wan semoga berhasil ya… chayoooo.

Antara Ojek, Ikhwan Ganteng dan Akhwat Cantik

Kalau seorang akhwat harus memilih, diantar pulang oleh tukang ojek atau oleh ikhwan ganteng yang baunya wangi, bukan saudara bukan suami, kira-kira pilih mana?

 

Kalau seorang ikhwan harus memilih, menjadi tukang ojek atau nganter pulang akhwat cantik berbadan langsing, bukan saudara bukan pendamping, kira-kira pilih mana?

 

 

Di bawah ini adalah panduan untuk menentukan pilihan. ^ _ ^

 

 

Konsultasi : Fiqih Wanita

Suami Bonceng Wanita Bukan Muhrim

 

Pertanyaan:

 

Assalamualaikum wr. wb

 

Pak ustad, bagaimana hukumnya suami sering menawarkan atau diminta membonceng (Motor) wanita yang bukan muhrimnya, sepengetahuan saya bahwa tidak boleh berduaan antara laki2 dan perempuan yang bukan muhrimnya.

 

Terima kasih

 

Najmah

 

 

Jawaban:

 

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa bad.

 

Hukum berduaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa kehadiran mahram dari pihak wanita adalah hal yang diharamkan oleh syariat Islam.

 

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

  

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan." (Riwayat Ahmad)

  

Berboncengan Sepeda Motor

 

Sepeda motor untuk daerah tertentu memang menjadi alat transportasi yang amat vital. Dan karena harganya tidak terjangkau oleh semua kalangan, seringkali di suatu desa seseorang yang punya sepeda motor menawarkan bantuan untuk memboncengkan teman atau tetangganya.

 

Tolong menolong ini sangat baik karena daripada harus jalan kaki yang jaraknya lumayan jauh, maka membonceng teman atau tetangga memang sebuah solusi kepekaan sosial yang baik.

 

Masalahnya adalah bagaimana hukum seorang laki-laki memboncengkan wanita teman atau tetangganya dengan niat semata-mata hanya menolong ? Tidak ada tujuan atau itikad aneh-aneh misalnya untuk selingkuh dan sebagainya.

 

Jawabnya adalah bahwa antara niat dengan cara harus sepadan. Niat yang baik tidak mungkin dilaksanakan dengan cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, meski mungkin seringkali dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat. Tanpa mengurangi rasa percaya kepada niat baik orang yang menawarkan bantuan untuk memboncengkan, namun dari posisi duduknya di sepeda motor sudah termasuk hal yang tidak mungkin dibenarkan. Sepeda motor itu hanya punya satu tempat duduk yang bila ada orang yang membonceng, maka pastilah keduanya buat hanya berada dalam posisi berduaan, bahkan tubuh mereka pun bisa saling bersentuhan, baik dengan sengaja atau tidak. Akan sulit mengatakan bahwa posisi demikian bukan berduaan / khalwat.

 

Kalau kendaraannya taksi, bajaj atau becak, mungkin masih bisa dikatakan terpisah, sebab posisi sopir dan penumpang memang dipisahkan. Tetapi sulit untuk mengatakan bahwa dua orang berlainan jenis yang bukan mahram naik naik sepeda motor berboncengan itu bukan khalwat. Bagaimana bukan khalwat, padahal tubuh mereka satu sama lain nempel karena satu tempat duduk ?

 

Hal Yang Sering Dilupakan

 

Di negeri kita, akibat lemahnya pemahaman syariat dan kuatnya adat serta tradisi, terkadang terjadi hal-hal yang seharusnya diharamkan, tetapi dilihat oleh kacamata awam sebagai sebuah permakluman. Misalnya, berduaannya seorang suami dengan adik ipar wanitanya. Atau sebaliknya, antara istri dengan adik suaminya.

 

Padahal antara suami dan adik ipar perempuan hubungannnya bukan mahram, sehingga kedudukannya seperti wanita asing. Dan Rasulullah SAW telah secara khusus mengharamkan jenis hubungan ini dengan sabdanya :

  

Jangan kamu masuk ke tempat wanita." Mereka (sahabat) bertanya, "Bagaimana dengan ipar wanita." Beliau menjawab, "Ipar wanita itu membahayakan." (HR Bukhari)

  

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

 

 

Ojek Khusus Perempuan, Mungkinkah?

  

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Ustadz, bagaimana hukumnya naik ojek? Apalagi jalan yang dilalui sunyi apakah itu bukan khalwat (berdua-duaan)? Dan yang terpenting adalah solusinya pak ustadz, sebab kalau kita bilang haram tanpa solusi, orang pun akan tambah bingung. Mohon kejelasan dan solusi syariahnya ustadz. Terima kasih.

 

Wassalaamualaikum,

 

Kamria Amrin

 

Jawaban

 

Mungkin yang anda maksud adalah wanita naik ojek barangkali. Sebab kalau laki-laki naik ojek di mana tukang ojeknya sama-sama laki-laki, tentu tidak menjadi masalah, bukan? Atau penumpan dan pengendaranya sama-sama perempuan, juga tidak masalah.

 

Masalah dengan ojek terjadi bila keduanya lawan jenis yang bukan mahram. Titik masalahnya hanya terjadinya khalwat atau berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tetapi posisi duduk di atas sadel sepeda motor itu membuat pengemudi dan yang bonceng itu harus menempel. Meski masih dilapisi dengan pakaian masing-masing.

 

Ini jelas lebih parah dari sekedar -misalnya- duduk berduaan di sebuah ruangan. Karena bila di dalam ruangan, masih ada batas jarak antara keduanya. Sedangkan naik sepeda motor, posisinya menempel dan itu sulit dihindari. Apalagi bila mengerem mendadak, maka sudah pasti sentuhan tubuh akan terjadi.

 

Namun kondisi tata kota seperti di Jakarta yang ibarat sebuah kampung besar memang menyulitkan orang untuk bepergian dengan hanya mengandalkan bus dan sejenisnya. Kebanyakan rumah tinggal itu adanya di dalam gang atau jalan kecil yang aksesnya ke jalan raya di mana ada angkutan umum itu relativ jauh. Sehingga masih dibutuhkan angkutan yang lebih kecil untuk menyambug transportasi masuk ke perumahan.

 

Dahulu ada becak yang banyak berjasa mengantarkan ibu-ibu pergi dan pulang dari pasar sekalian membawa barang belanjaan. Tapi di DKI Jakarta becak kini sudah dihapuskan dan peranannya digantikan dengan ojek. Padahal bila dilihat dari sisi ikhtilat, becak lebih terlindungi. Karena posisi penumpang dan penarik beca itu dipisahkan dan berbeda posisi. Sehingga tidak terjadi duduk berduaan.

 

Dalam hal ini, maka ojek bukanlah kendaraan yang memenuhi syarat untuk dinaiki oleh wanita, karena umumnya para pengemudi ojek itu laki-laki. Dan karena itu ikhtilat antara non mahram ini menjadi hal yang tidak mungkin dihindari.

 

Sehingga kalaupun ingin dicarikan mubarrir, haruslah dengan alasan yang sangat kuat dan tingkat kedaruratannya harus jauh lebih tinggi. Menurut hemat, jarak yang 100-200 meter itu tidak bisa dijadikan alasan secara umum. Juga alasan takut terlambat sampai di tempat pun tidak bisa dijadikan alasan yang kuat. Dengan demikian, para wanita harus diupayakan sedapat mungkin untuk tidak naik ojek bila bepergian, karena ojek jelas-jelas tidak mencukupi syarat sebagai kendaraaan para muslimah.

 

Dalam kondisi darurat memang bisa saja dilakukan, tapi darurat itu adalah sesuatu yang sifatnya sangat urgen dan genting dan tentu saja darurat itu tidak terjadi setiap hari.

 

Ini adalah pe-er dan tantangan tersendiri bagi para muslimah yang harus dicarikan jalan keluarnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Salah satunya adalah dibukanya ojek khusus wanita, di mana ojek itu dikemudikan oleh wanita dan hanya diperuntukkan buat wanita saja. Berarti ini sebuah peluang pekerjaan baru buat para wanita, yang hukumnya bukan saja boleh, tetapi sunnah bahkan wajib. Sebab adanya ojek khusus wanita itu akan menghindarkan dosa dan maksiat yang seringkali disepelekan begitu saja dengan alasan darurat.

 

Dari pada wanita jadi kondektur bus, penjaga pompa bensin atau pekerjaan lain yang berbaur dengan laki-laki, lebih baik jadi tukang ojek yang mengangkut penumpang sesama wanita saja.

 

Wallahu alam bishshawab, Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Akhwat Cantik

Akhwat adalah istilah populer –saat ini- untuk menyebut komunitas muslimah berjilbab lebar, berbaju longgar. Walau berasal dari bahasa Arab, tapi menjadi familiar dikalangan pengiat dakwah. Akhwat, bermakna saudara perempuan (plural). Lawan kata dari Ikhwan. Tingginya aktivitas dan luasnya skala dakwah menjadikan akhwat mudah dikenal dengan mobilitasnya. Tentunya dengan baju khasnya, gampang diidentifikasi. Terutama di kampus-kampus yang merupakan lembah persemaian para intelektual muda. Identik juga dengan cap kesholehannya.

 

Siapa pula yang tidak ingin cantik? Beribu produk kecantikan lahir, ribuan alat penghias diproduksi untuk memanjakan wanita demi “rasa” cantik. Tak hanya didamba para wanita tapi kecantikan juga dipuja pria. Maka lahirlah milyaran puisi, jutaan syair, puluhan ribu lirik lagu melukiskannya. Betapa banyak ksatria rela mati demi kecantikan sang gadis. Kegagahan panglima takluk dalam kelembutan wanita, yang menurutnya cantik.

 

Akhwat cantik? Menjadi menarik, karena merupakan kombinasi antara kecantikan ragawi dan keindahan ukhrowi. Jika Anda seorang Akhwat, pasti merasa tersipu bahagia jika dikatakan cantik. Cantik menjadi dambaan. Tak ketinggalan pemutih kulit menjadi kosemetik paling populer di kalangan wanita (jika asumsi mainsteamnya, putih itu cantik). Jika Anda seorang ikhwan tentu memimpikan gadis cantik dan sholehah. Kombinasi yang wah. Keujung duniapun dikejar. Virus H2C (harap-harap cinta) bisa menggurita. Terbukti dari data penelitian sebuah Partai Dakwah, di Jakarta mayoritas (hampir 70%) ikhwan memilih menikahi akhwat karena tampilan luar. Para orangtua pun menjadi pihak yang paling repot jika anak gadisnya yang cantik menjadi incaran para pemuda. Maka bayangkanlah Anda menjadi orang tua seorang Akhwat yang cantik. Belum selesai kuliah sudah banyak yang melamar. Malah baru semester II sudah dipesan. Berharap bisa dipersunting orang kaya? Wajar. Cantik sih..

 

Seorang temen berujar, “Temen Akhwatnya cantik-cantik ya..,” really? Ah.. tetapi cantik itu relatif tiap bagi orang. Abstrak dan subyektif. Yang jelas kecantikan seperti pisau bermata dua. Disatu sisi menyejukan disisi lain melenakan dan menyesatkan. Betapa banyak wanita cantik tapi hatinya busuk, padahal kita kadung mengaguminya. Adalah sangat tidak adil ketika kita berteman, memilah yang cantik dan ganteng saja. Malah teman sejati dan sehati kita malah kebanyakan yang biasa-biasa saja. Tapi kita merasa tenteram. Justru yang cantik malah terlihat angkuh. Kita merasa nyaman bersahabat bukan karena mukanya toh! Saling mengerti dan menyayangi tidak dibangun dari warna kulit. Tapi dibangun dengan hati. Banyak Artis cantik diceraikan oleh suaminya. Tau kenapa? Karena rasa cantik itu telah sirna! Ternyata cantik itu adalah rasa, bukan benda. Kecantikan juga membuat sebagian orang besar kepala. Bisa menundukkan orang lain. Sombong dan berbangga diri. Hingga lupa bahwa dia cuma seonggok daging yang melapisi tulang.

 

Cantik adalah ujian (fitnah), bukan anugerah seperti yang diploklamirkan orang banyak. Sebagaimana buruk rupa juga ujian. Dan sebagaimana BBS (biasa-biasa saja/ alias cantik engga..jelek juga engga…) juga ujian. Bukankah bagi Allah yang paling mulia adalah yang paling taqwa? Kecantikan hakiki itu dalam diri kita (inside) bukan luar tubuh kita (outside). Mengapa harus risau? Jawabannya, karena mata kita “tukang tipu”. Menyesatkan. Seorang bijak mengatakan “jika ingin matamu tidak tertipu kemilau dunia, jadilah seorang buta”. Maka dalam hal ini, beruntunglah orang-orang yang buta.  ^_^Padahal, yang fisik itu sangat dekaden, sangat bergantung pada ukuran waktu; tidak abadi. Kemanusiaannya itu yang abadi, dan ini, yang mestinya menjadi alasan mendasar relasi antara anak manusia , atau antara laki-laki dan perempuan. Akhwat cantik, so what..



 

NB Ajah: (Saatnya keadilan ditegakkan! Diskriminasi harus dihentikan.) Specially buat seorang sahabat yang lamarannya ditampik gadis cantik(us)….. (katanya sih akhwat, taunya coklat..hi,hi.. hati2 ntar kualat..)    

Hubungan tanpa status

-Kami Tak Ingin Disebut ’Pacaran’-
Saya paham bahwa dalam Islam kita harus menjaga pandangan dan tidak boleh bersentuhan. Namun, dalam kondisi tertentu hal tersebut sulit dijalankan. Saya pernah memiliki perasaan suka yang berbalas dengan seorang ikhwan. Saya adalah tipe orang yang dengan kondisi perasaan berbalas akan cenderung mengungkapkan perasaan saya agar hati saya lega. Awalnya hubungan kami dimulai dari SMS, yang kemudian berlanjut dengan saling telepon. Pembicaraan pun awalnya tentang organisasi yang sama-sama kami ikuti, kemudian kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan, pembicaraan berkembang ke seputar hal yang sebenarnya tidak penting, yang lebih menjurus kepada pribadi masing-masing. Hubungan kami pun lebih dari teman biasa. Kata-kata yang meluncur dalam pembicaraan kami pun, yah, selayaknya orang pacaran. Namun tetap, kami tidak ingin hal itu disebut pacaran. Ketika menjalani hubungan tersebut, saya merasa tidak nyaman. Saya bagai penjahat di antara orang-orang baik. Saya memang merasakan adanya kesenangan dari hubungan ini. Diperhatikan, diajak bicara, dan sang ikhwan pun memang menyatakan bahwa proses ini adalah ta’aruf versi dia. Lumrah kan? Namun, karena lingkungan kami yang memang dekat dengan nilai agama, kami pun menyembunyikan hubungan kami. Guru ngaji dan teman-teman satu pengajian tidak ada yang mengetahui. Saat rapat organisasi pun, kami berusaha menekan perasaan, sehingga tidak nampak hubungan dekat di antara kami. Jadi, ketika keluarga saya mulai bertanya-tanya mengenai hubungan kami, saya pun bisa dengan mudah menjawab bahwa kami banya teman, karena statusnya memang tidak ada. (Akhwat,21 tahun, mahasiswi di Jakarta)

-Rencana Menikah 3 Tahun Lagi-
Saya ketemu dengan dia di senat. Awalnya sih nggak ada motivasi yang jelas. Waktu itu dia sedang ada masalah. Kemudian dia menambatkannya ke saya. Akhirnya, seiring waktu, saya merasa bertambah dekat. Di mata dia, saya ini adalah orang yang bisa memimpin dia dan kalau menyampaikan sesuatu tidak kaku. Akhirnya dia merasa, inilah yang dia cari. Saat itu saya sedang tidak dalam kondisi ‘mencari.’ Tapi ketika hubungan ini dijalani, saya merasa nyaman. Saya juga merasa dihargai atas pilihan ini. Saya masih tetap ikut liqo, dan saya percaya selama tidak berhenti mencari, hidayah akan datang. Tapi ada sejumlah hal yang belum bisa saya kompromikan; saya ngaji, tapi saya suka nonton, main PS (play station), kenalan dengan orang, tebar pesona. Mungkin orang melihatnya, ikhwan kok kayak gini? tapi saya jadi merasa seperti dihimpit dari mana-mana. Siapa saya, jati diri saya, identitas saya? Pergolakan batin, tentu ada, Bahkan saya sempat ingin keluar dari tarbiyah. Tapi pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya masih berproses, dan buat saya apa yang saya jalani ini adalah bagian dari proses saya. Saya nggak mau menyebut ini pacaran. In a relationship, mungkin tepatnya. Biasanya kami SMS-an, telepon berjam-jam, ngobrol, main ke rumah. Kalau di kampus saling bantu kerjaan, nonton satu-dua kali, makan, jalan, dengan intensitas yang jarang. Dia memanggil saya Mas, saya panggil dia Adek. Kami bilang sayang, cinta, I love you, ya begitulah. Saya sudah berhubungan selama 2 bulan, dan menurut saya ini sudah sangat serius. Saya juga sudah kenal keluarganya. Rencana ke pernikahan jelas ada, yaaa…mungkin 3 tahun lagi deh. Kalau bicara soal putus, jadi agak aneh juga, sebab sewaktu dia putus dengan cowoknya dulu, itu karena ketika dia berubah menjadi lebih baik, tidak diikuti oleh cowoknya. Makanya saya merasa, saya yang harus mengarahkan, baiknya begini, seharusnya begini, begitu. Saya bilang, kita lanjutkan saja, dan siap dengan apapun hasilnya nanti. Yang penting saling mengikhlaskan satu sama lain, jangan jadi halangan untuk masing-masing. Jadi kalaupun kita putus, kita sudah siap, karena hubungan ini memang dibangun dengan banyak kompromi. (Ikhwan, mahasiswa di Depok)

-Hanya untuk Senang-senang-
Sebagai seorang akhwat, aku dekat dengan lingkungan yang memahami ajaran Islam. Namun, kadang aku jenuh dengan aktivitasku dan membutuhkan tempat untuk menumpahkan isi hati. Aku sangat berharap teman-teman akhwatku dapat membantu. Tapi, mereka sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesahku. Mulailah aku menjalin hubungan dengan seorang ikhwan. Kami tidak berpacaran, karena hal itu memang dilarang Islam. Namun, aku juga rnemiliki kebutuhan akan pemenuhan perasaan yang kumiliki. Hubungan inipun kujalani hingga akhirnya aku merasa memiliki dan tergantung padanya. Dia adalah kakak kelasku di SMA dan ketika aku kuliah banyak memberikan inforrnasi mengenai kehidupan kampus. Meski kami tinggal di kota yang berbeda, kami tetap berkirim SMS dan telepon. Ketika masa libur tiba, kami selalu bertemu di kota asal kami. Bersama teman-teman, kami menghabiskan liburan bersama, mulai dari mengunjungi sekolah, pergi ke mall, atau ke pantai. Tapi, semua itu kami lakukan masih dengan menjaga adab-adab pergaulan menurut Islam. Tidak berduaan dan tidak bersentuhan. Namun, kami tetap tidak bisa menjaga hati kami. Aku menjalani ini hanya untuk senang-senang saja. Belum terpikir untuk melangkah ke hubungan yang lebih lanjut karena kami masih terlalu muda. Hanya saja, yang membuat aku meneruskan hubungan ini adalah cara kami yang memasukkan unsur-unsur ibadah dalam hubungan ini. Kami membicarakan dakwah dan rekruitmennya, saling memberi tausiyah, bahkan mengingatkan untuk shalat wajib maupun tahajud. Itulah yang membuat kami merasa hubungan ini benar adanya, Banyak pihak telah memperingatkanku. Bahkan beberapa teman mengancamku akan melaporkan kepada guru ngaji. Namun, di saat perasaan sayang itu muncul, aku pun kebal dengan peringatan-peringatan. Lalu akhirnya, jalan HTS (hubungan tanpa status) pun tetap kupilih karena terlihat lebih mudah bagiku. (Akhwat, 20 tahun, mahasiswi di Jakarta)

-Hampir Setiap Hari Menelpon-
Cerita saya bermula di bulan Ramadhan. Kala itu, saya membutuhkan pengisi acara untuk buka puasa bersama anak yatim yang diadakan BEM kampus. Akhirnya, salah seorang teman rnemberikan nomor kontak seorang ikhwan. Namun, di hari H, ikhwan itu tidak hadir karena sakit. Ia pun meminta maaf lewat SMS. Saya menanggapinya biasa saja, sebab sakit kan datangnya tanpa diundang. Beberapa waktu kemudian, ia mengontak untuk menanyakan kabar teman saya yang mengenalkan saya padanya. Tak dinyana, sejak itu ia terus mengontak saya via SMS. Awalnya SMS yang ia kirimkan biasa-biasa saja. Namun, lama-kelamaan, intensitasnya meningkat dan melebihi kadar kebiasaan. Isinya pun kebanyakan hal yang tidak penting. Saya selalu membalas SMS-nya, karena saya orangnya nggak enakan. Apalagi, saat itu bulan Ramadhan, ia sering SMS menanyakan puasa dan tarawih, juga membangunkan saya untuk makan sahur. Kemudian ia mulai menanyakan boleh tidak kalau menelepon, karena lebih leluasa dibanding SMS. Awalnya saya tolak. Saya takut ini akan melebar ke mana-mana, Tapi akhirnya saya iyakan, karena lagi-lagi saya merasa nggak enak. Hampir setiap hari ia menelepon. Kalau dia nggak menelepon, saya yang meneleponnya. Dalam SMS-nya kadang ia menyelipkan kata-kata "I miss you" atau menyapa dengan “hai Say!" Kami juga cepat nyambung karena ia tipe senang bercerita dan saya pendengar yang baik. Jadi klop. Seiring waktu, rasa suka terhadap dia pun mulai tumbuh. Padahal, belum sekalipun saya bertemu muka dengannya. Saya merasa senang dengan hubungan ini karena saya merasa ada yang memperhatikan. Saya terlena. Saya tahu ini tidak boleh. Tapi saya seperti mendapat pembenaran karena ia telah lebih dahulu mengaji dibanding saya. Hubungan kami seperti orang pacaran. Bedanya, ada atribut ikhwan dan akhwat yang melekat pada kami, dan sama-sama tahu bagaimana adab bergaul dalam Islam. Alhamdulillah…itu semua sudah berlalu. (Akhwat, 24 tahun, mahasiswi di Jakarta)

-Berharap Bisa Menikah dengan Dia-
Saya menjalin hubungan dengan ikhwan X ketika sama-sama sudah tarbiyah, di kampus dulu, kira-kira 4 tahun yang lalu. Awalnya saya dan dia curhat mengenai masalah yang sama-sama kami rasakan dalam tarbiyah. Lama kelamaan, mengalir begitu saja. Mungkin karena dia lebih tua, saya pikir saya bisa menjadikan dia seperti kakak. Tapi malah bablas… Kami lebih sering berkomunikasi lewat SMS dan telepon. Kalau ada masalah, saya curhat ke dia, karena saya sudah menganggap dia seperti kakak sendiri. Kalau butuh apa-apa, ya saya ke dia. Dibanding dia, saya yang lebih banyak curhat. Dan saya selalu enjoy dengan solusi yang diberikannya. Selain itu, dia juga care. Kadang dia bilang di SMS-nya, "Met kerja, Say!" Tapi itu baru di tahun ini, sebelumnya tidak pernah begitu. Kalau dari saya, paling saya memanggil dia dengan "Mas“ atau “Kakakku yang ganteng". Saya akui saya ada ‘rasa‘ sama dia. Dia pun saya nilai begitu juga. Namun kita sama-sama memberi kebebasan kalau mau taaruf dengan ikhwan atau akhwat lain. Setiap masing-masing kami bertaaruf, kami saling memberi tahu. Tapi sampai sekarang, belum menemukan yang cocok. Saya juga pernah coba pancing dia dengan ngomong, lebih baik kita menikah. Tapi dia selalu cari alasan, dan bilang, ya kita jalani dulu saja. Dulu saya pernah ta’aruf sama ikhwan lain, hampir mau nikah. Tapi nggak jadi karena saya sudah telanjur bergantung sama X. Setiap saya taaruf dengan ikhwan lain, saya suka membanding-bandingkannya dengan X. Saya juga jadi ragu untuk melanjutkan ke pernikahan. Kalau misalnya jadi, kasihan suami saya kalau dia tahu saya punya TTM (Teman Tapi Mesra). Saya ingin meng-cut hubungan ini dengan mencoba ‘menghilang’ dari dia, sama sekali tidak ada komunikasi. Tapi itu hanya bisa bertahan satu minggu. Saya berharap hubungan yang sudah sekian lama terjalin ini nggak sia-sia dan kami akan menikah. Tapi kalau memang belum bisa menikah dengan dia, saya ingin dia yang meng-cut. Saya nggak bisa bilang kalau dia bukan jodoh saya. Karena jodoh atau bukan kan kita tahu kalau sudah ada usaha. Sedang dia kan belum usaha. Kalau misalnya dia menikah dengan akhwat lain, mungkin saya sedih beberapa hari saja. Memang bukan jodoh, dan saya akan membuka hati untuk calon suami saya. Tapi, saya belum yakin, apakah saya bisa melakukan itu. (Akhwat, 25 tahun, fresh graduate dari Semarang)
 

Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

tentang-pernikahan.com - Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbialad diinik... 
 Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi alad dawatik...

Love is a give (Cinta adalah berkah)...
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)...
Cinta Allah yang membuat bumi ada...
Cinta Allah yang membuat sang surya bersinar...
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman...
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana...
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima...

 Mirip seperti itulah hakikat menjadi daI...
 Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi dakwah...
 Dia selalu memberi utk Islam,tanpa mengharapkan menerima utk setiap kerja dakwahnya...
Itulah ikhlash...
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah...
 Siap mengeluarkan uang utk dakwah...
 Siap mengeluarkan tenaga utk dakwah...

Ana teringat kata Ust. Darlis:
 Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis dakwah adalah seperti saudara...
Cukup sampai disana...
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader
(SIMPATI : SIMPan dAlam haTI)...
Kecuali Allah memberikan kesempatan padanya utk menyelesaikan setengah agamanya...

Jika Allah telah menentukan jodoh utk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo...?
 Masih panjang langkah dakwah kita...
 Masih begitu banyak lahan dakwah yang belum kita jamah...
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh...
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah pada kita...
 Jangan sampai dakwah kita berpenyakit hanya karena masalah ini...
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
 Bila sampai ada aktivis dakwah yang terjangkiti 
hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)...

 Dakwah adalah sesuatu yang suci...
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)...
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)...

Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya...
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab...

Dia beraksi dan berdemonstrasi utk menyuarakan yang haq didepan penguasa
yang zholim (HR Bukhori Muslim)...

Bukan ingin ketenaran...
 Dia berdakwah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya...

Ingat ikhwan wa akhwat fillah,
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:
Utk ikhwan...
 Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti...
Utk Akhwat...
 Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang
ada di syurga...

Kebenaran hakiki hanya milik Allah...
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan...
 

AWAS! Pacaran Terselubung Ikhwan – Akhwat via Internet dan SMS !!!

 Pertanyaan:

Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi main internet dan ngobrol (chatting). Aku hampir tidak pernah chatting dengan cewek. Jika terpaksa aku chatting dengan cewek maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.

Kurang dari setahun yang lewat ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu meminta no hp-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak ingin membuat Allah murka kepadaku.

Dia lalu mengatakan,

“Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia. Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”.

Kukatakan kepadanya,

“Maaf aku tidak mau menggunakan HP”.

Kemudian dia berkata dengan nada kesal, “Terserah kamulah”.

Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting.

Suatu ketika dia mengatakan,“Aku ingin no HP-mu”.

“Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku.

Dia lalu berjanji tidak akan menghubungiku kecuali ada hal yang mendesak. Kalau demikian aku sepakat.

Setelah itu selama tiga bulan dia tidak pernah menghubungiku. Akupun berdoa agar Allah menjadikannya bersama hamba-hambaNya yang shalih.

Tak lama setelah itu ada seorang gadis kurang lebih berusia 16 tahun yang berakhlak dan sangat sopan menghubungi no HP-ku. Dia berkata dalam telepon, “Apa benar engkau bernama A?”. “Benar, apa yang bisa kubantu”, tanyaku. Dia mengatakan, “Fulanah, yaitu gadis yang telah kukenal via chatting, berkirim salam untukmu”. “Salam kembali untuknya. Mengapa tidak dia sendiri yang menghubungiku?”, tanyaku. “Telepon rumahnya diawasi dengan ketat oleh orang tuanya”, jawabnya.

Setelah orang tuanya kembali memberi kelonggaran, dia kembali menghubungiku. Kukatakan kepadanya, “Jangan sering telepon”. Namun dia selalu saja menghubungiku.

Akan tetapi pembicaraan kami sebatas hal-hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk melaksanakan shalat, puasa dan shalat malam.

Setelah beberapa waktu lamanya, dia berterus terang kalau dia jatuh cinta kepadaku dan aku sendiri juga sangat mencintainya. Aku juga berharap bisa menikahinya sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya karena dia adalah seorang gadis yang berakhlak, beradab dan taat beragama setelah aku tahu secara pasti bahwa aku adalah orang yang pertama kali melamarnya via telepon.

Akan tetapi empat bulan yang lewat, ayahnya memaksanya untuk menikah dengan saudara sepupunya sendiri karena ayahnya marah dengannya. Inilah awal masalah. Aku mulai sulit tidur. Kukatakan kepadanya, “Serahkan urusan kita kepada Allah. Kita tidak boleh menentang takdir”. Namun dia meski sudah menikah tetap saja menghubungiku.

Kukatakan kepadanya,

“Haram bagimu untuk menghubungiku karena engkau sudah menjadi istri seseorang”.

Yang jadi permasalahan:

Bolehkah dia menghubungiku via HP sedangkan dia telah menjadi istri seseorang? Allah lah yang menjadi saksi bahwa pembicaraanku dengannya sebatas hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk menambah ketaatan terlebih lagi ayahnya memaksanya untuk menikah dengan dengan lelaki yang tidak dia cintai.

.

JAWABAN:
Saling menelepon antar lawan jenis itu tidaklah diperbolehkan secara mutlak baik pihak perempuan sudah bersuami ataukah belum. Bahkan ini adalah TIPU DAYA IBLIS.

Kau katakan bahwa tidak ada hubungan antaramu dengan dia selain saling menasehati dan mengajak untuk melakukan amal shalih. Perhatikan bagaimana masalah cinta dan yang lainnya menyusup melalui hal ini. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau mencintainya dan diapun mencintaimu sedangkan katamu topik pembicaraanmu hanya seputar amal shalih? Kami tahu sendiri beberapa pemuda yang semula sangat taat beragama berubah menjadi menyimpang gara-gara hal ini.

Wahai saudaraku bertakwalah kepada Allah. Jauhilah hal ini.

Cara-cara seperti ini lebih berbahaya dari pada cara-cara orang fasik yang secara terang-terangan ngobrol dengan perempuan dengan tujuan-tujuan yang tidak terpuji.

Mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah maksiat. Sadar bahwa suatu hal itu adalah keliru merupakan awal langkah untuk memperbaiki diri.
Sedangkan dirimu tidak demikian bahkan boleh jadi engkau menganggapnya sebagai sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (HR Bukhari no 4808 dan Muslim no 2740 dari Usamah bin Zaid).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ
“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita” (HR Muslim no 7124 dari Abu Said al Khudri).

Perempuan yang mengajakmu ngobrol dengan berbagai obrolan ini padahal tidak ada hubungan kekerabatan antara dirimu dengannya adalah suatu yang haram. Hati-hatilah dengan cara-cara semisal ini. Moga Allah menjadikanmu sebagai salah seorang hambaNya yang shalih.

.

PERTANYAAN:

Andai jawaban untuk pertanyaan di atas adalah tidak boleh apakah boleh dia mengajak aku ngobrol via chatting?

JAWABAN:

Wahai saudaraku, hal ini tidaklah dibolehkan. Hubunganmu dengannya semula adalah chatting lalu berkembang menjadi komunikasi langsung via telepon dan ujung-ujungnya adalah ungkapan cinta. Apakah hanya akan berhenti di sini?
Semua hal ini adalah trik-trik Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam hal-hal yang haram. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia masih menyelamatkanmu. Bertakwalah kepada Allah, jangan ulangi lagi baik dengan perempuan tersebut ataupun dengan yang lain.

.

PERTANYAAN:

Apa hukum seorang laki-laki yang chatting dengan seorang perempuan via internet dan yang dibicarakan adalah hal yang baik-baik?

JAWABAN:
Tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan fatwa yang bersifat umum untuk permasalahan semisal ini karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-masak. Fatwa yang bisa saya sampaikan kepadamu adalah obrolan dengan lawan jenis yang semisal kau lakukan adalah tidak diperbolehkan. Bukti nyata untuk hal ini adalah apa yang kau ceritakan sendiri bahwa hubunganmu dengan perempuan tersebut terus berkembang ke arah yang terlarang.

Satu Lagi Kekurangkerjaan Salafi Ekstrim

Abduh Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil


Mungkin judul di atas terkesan sangat kasar dan tidak sopan. Karena selain penggunaan kata tidak becus juga pengucapan nama tanpa embel-embel tersebut terkesan sangat tidak hormat dan kurang ajar. Itu menurut saya loch… Coba dech pikir, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja yang telah mendapat jaminan masuk surga ketika ditimpuk oleh orang-orang kafir Quraisy malah mendo’akan. Dan ketika ada salah seorang Yahudi yang biasa menyakitinya mengalami sakit justru beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam malah menjenguknya. Nah kita???…. Memangnya kita jauh lebih mulia dibandingkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?? Tapi sejujurnya judul di atas diambil dari buku MDMTK halaman 435. Sebenarnya sih berat banget, tapi biar semua tahu, terutama orang-orang salafi ekstrim yang belum sempat beli bukunya. Bahwa bukan isapan jempol kalau buku kelompok salafi ekstrim ini berisi kata-kata kasar seperti yang kita saksikan sendiri dalam realitas kehidupan kita.



Oke bro’ sebelum lanjut saya harap kalian sudah baca kutipan asli buku BAUS catatan kedelapan, hlm 59-72 yang langsung saya dapatkan dari penerbitnya dan atas ijin penulisnya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha yang berjudul Salafi Ektrim Terlalu Berlebihan dalam Mencari-cari Kesalahan. Jangan pada ngiri ya……



Memang seperti mengharap durian runtuh alhamdulillah Allah mengijinkan saya mendapatkan kebun duriannya yang telah siap dipanen.



Sebenarnya ini adalah salah satu usaha yang bisa saya lakukan untuk membuka mata seluruh umat Islam tanpa terkecuali. Fitnah dan subhat terhadap ulama, syuhada, mujahid, mujadid telah terlanjur tersebar dan perlu ada yang mengklarifikasi atas kekeliruan tersebut. Perpecahan umat Islam Indonesia khususnya salafi kelompok ustadz Lukman telah menjadi semakin menggelisahkan. Berbagai usaha telah dilakukan berbagai pihak. Dimulai dari usaha ustadz Abduh Zulfidar Akaha yang menanyakan langsung sebelum buku STSK karangannya keluar terutama kepada penerbit MAT dan MDMTK tetapi tidak mendapat tanggapan. Kemudian terpaksa dilakukan klarifikasi melalui buku yang berisi bantahan MAT dan diadakan acara bedah buku dan ajakan dialog terbuka. Tetap saja usaha ini tidak pernah digubris. Wallahu ‘alam, sejujurnya saya tidak tahu alasan masuk akal apa yang menyebabkan ustadz Lukman bin Muhammad Ba’abduh dan kelompoknya tidak pernah mau menunjukkan kebenaran yang mereka yakini kepada khalayak ramai.



Dan karena tidak terima dengan tulisan catatan kaki STSK ustadz Abduh ZA hafizahullah seperti contoh di bawah ini :



Kata “fasiq” dengan huruf “q,” asli dari Al Ustadz Luqman. Terkadang beliau menulis “fasik,” dengan huruf “k”. Tidak masalah. [STSK, halaman 205, catatan kaki nomor 371]. Atau,



“Demikian tertulis di buku Al Ustadz Luqman; ahlil ilmu. Mungkin maksudnya ahlul ilmi.”[1] Atau, “Demikian tertulis di buku Al Ustadz Luqman; instensif. Mungkin maksudnya intensif.”[2]



Sekalipun dalam contoh catatan kaki ustadz Abduh ZA di atas telah dikatakan TIDAK MASALAH dan MUNGKIN MAKSUDNYA tapi anehnya para penulis buku MDMTK berusaha mencari-cari kesalahan Ustadz Abduh Zulfidar Akaha hafizahullah dengan terang-terangan mengatakan KESALAHAN FATAL, KEDUSTAAN DAN SIKAP TIDAK AMANAH serta tuduhan bahwa ustadz Abduh ZA terlalu tendensius.



Dan yang lucu [menurut saya loch] adalah terdapatnya sub judul “Menguji tingkat keilmiahan dan keamanahan sistem penukilan saudara Abduh ZA.” Yang khusus untuk membahas dan menambah-nambah halaman akan kesalahan-kesalahan kecil manusia dalam menukil seperti:

[1] Kata salafus shalih yang harus ditulis As-Salafush Shalih menggunakan ‘as’ dan ‘h’.

[2] Penambahan kata “dan” atau “oleh”

[3] Tidak menggunakan garis bawah pada huruf ‘i’ dan ‘a’ pada kata Sa’d bin Abi Waqqash, Al I’tisham, atau Al ‘Allamah.

[4] Tidak terdapat harakat sukun atau fathah atau kashrah



Padahal seluruhnya tidak akan mempengaruhi arti dari kutipan tersebut. Nah loch! Phucing khan lo’ ? Coba sekarang elo’ pikir siapa coba yang tendensius? Wong sudah jelas-jelas ustadz Abduh ZA bilang TIDAK MASALAH atau MUNGKIN MAKSUDNYA…. Kok malah dituduh telah berdusta dan tidak amanah?  Selain itu juga disikapi telah melakukan kesalahan fatal menurut ilmu mushthalahul hadits dan setelah diteliti tidak ada pembahasan mengenai ilmu tersebut tentang penulisan terjemahan dalam bahasa asing (bukan arab).



Coba kalo lebih sabar, tenang dan nggak sewot lantaran bukunya ada yang bantah? Kan sudah jelas-jelas ada kata TIDAK MASALAH dan kata MUNGKIN MAKSUDNYA berarti kan memang nggak ada masalah. Kok malah dituduh TENDENSIUS. Kasian dech loch? Capek dech guE…



MakanyE, kalo bikin buku itu yang hati-hati, pasti juga nggak akan ada yang bantah…



Aduuh, kayanyE guE nggak akan mungkin dech bisa jadi manusia paling sempurna, paling bener dan nggak pernah luput dari kesalahan-kesalahan kecil seperti itu….



Tapi nggak tau juga kalo mereka, yang merasa paling sempurna, paling bener, paling selamat, paling….(titik..titik..titik…)



#Pose melongo cengo sambil geleng-geleng plus ngiler karena bingung tujuh keliling #



Wallahu musta’an.
 

Posted in Campur. 0 Comment »

Rame-Rame Mengaku Rasul

 

Seperti kata pepatah aliran sesat di Indonesia bak pepatah, patah tumbuh hilang berganti. Setelah al Qiyadah al Islamiyah ditindak oleh aparat nyatanya keinginan mengaku Rasul tak juga berhenti. Mungkin, bosan dengan gelaran-gelaran akademik, orang berlomba-lomba menyematkan gelar, nabi atau rasul.

Kalau mereka itu terang-terangan mengaku agama baru masih mending, tapi mereka ini masih mengaku Islam. Sedangkan Islam tegas menyebut kafir bagi siapa saja yang mengaku ada Rasul setelah Nabi Muhammad saw.

Seperti di Kudus muncul aliran Sabda Kusuma. Kehadiran aliran ini jelas meresahkan warga yang tinggal di RT 01/RW 04 Kauman, Kecamatan Kota, Kudus. Bagi yang berminat menjadi penganut aliran ini, harus mengucapkan syahadat yang bunyinya, "asyhadu anna sabda kusuma rasulullah."

Syahadat itu tertulis dalam diktat aliran ini bernama Sabdaning Suma. Meski sudah jelas menyimpang, Abdul Koliq bersama temannya, Abdul Sodiq, penulis kitab ini, mengaku, "Isi buku diktat ini juga sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits. Tidak ada tulisan syahadat yang menyimpang," katanya.

Sabda Kusuma si pembawa aliran ini, membantah tuduhan telah mengubah kalimat syahadat dan menyebarkan ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam kepada masyarakat luas.

"Saya juga tidak merasa menyebarkan buku ajaran yang di dalamnya terdapat kalimat syahadat yang sudah diubah," ujarnya ketika memenuhi panggilan Departemen Agama, Kabupaten Kudus untuk dimintai klarifikasi 12 November silam.

Itu Sabda Kusuma, yang ini lain lagi. Jika Rasulullah dahulu ummi (tidak bisa baca-tulis,-red) maka Rasul yang satu ini berbeda. Dia bisa keduanya. Sarjana strata satu pula dia dari universitas Indonesia bidang ketatanegaraan.

Dia berani merusak sebutan Tuhan dalam Islam. Dia mengganti sebutan Allah menjadi Tuhan. Alasannya umat Islam menyebut Allah untuk memberi kesan eksklusif sebagai Tuhan mereka.

Jika umat mengakui ada Tuhannya orang Islam, pasti sebaliknya diakui pula ada Tuhannya orang non-Islam, begitu tulisnya. “Dengan kata lain, terbentuk anggapan bahwa Tuhan itu ada lebih dari satu. Kerangka berpikir yang demikian telah menyalahi prinsip ketauhidan bahwa Tuhan itu Esa,” jelasnya.

Sebutan Allah baginya –jika dipahami oleh orang Arab– artinya adalah Tuhan. Pemaknaan Rasul yang satu ini terkesan tidak jelas darimana sumbernya. Dia tidak seperti para ulama yang memahami Allah sebagai ism ‘alam, nama yang baku, bukan berasal dari kata-kata ilah.

Di mata Rasul sarjana ini, “Racun pikiran yang lahir dari penggunaan sebutan Allah ini memang sangat halus, namun dampaknya sangat fatal,” tulisnya, “semua itu berawal dari penggunaan bahasa Arab yang ditautkan dengan keyakinan.”

Sebagai sarannya, dia berseru untuk menyudahi penggunaan sebutan Allah, dan menggantinya dengan sebutan Tuhan. “Dengan langsung menggunakan bahasa sendiri, kita akan terhindar dari salah persepsi yang membahayakan ketauhidan,” ungkapnya.

Pria yang mengaku rasul dengan cara menyebarkan ajarannya di internet, melalui facebook dan blog ini ternyata sudah menggeluti aliran tersebut sejak dua tahun silam. Sakti mempunyai blog bernama Blog Sakti A. Sihite yang beralamat di jalan Swasembada timur XXIII nomor 6, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sakti mengaku sebagai rasul tapi bukan nabi. Pria yang tinggal di Jakarta ini mendapat wahyu kerasulan pada 2007. “Kini seorang utusan Tuhan telah hadir di jantung Indonesia, Jakarta. Apabila penduduknya mendustakan, maka mereka pasti akan menemui nasib yang sama dengan kaum-kaum terdahulu,” tulisnya

Sakti menyatakan ada kekeliruan pengertian di masyarakat tentang Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian. Baginya, nabi Muhammad adalah penutup para nabi, bukan rasul. Karena itulah dia berani mengklaim dirinya sebagai Rasul.
Meski sebagai rasul, Sakti mengatakan tidak membawa ajaran baru. Dia hanya membenarkan apa yang sudah tertulis di dalam Al Quran.

Anehnya, Di dalam blognya, terdapat surat terbuka untuk presiden SBY yang berisi himbauan bapak presiden, supaya berwaspada (taqwa) kepada tuhan dan mentaati utusan-nya. Dalam surat di bloger-nya ini tertulis dari Sakti, sebagai utusan tuhan.

“Bapak presiden yang saya hormati,” tulisnya, “jadilah orang yang pertama mempercaya kerasulan saya, dan pimpinlah rakyat untuk menerima cahaya Tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya. Mudah-mudahan Tuhan akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi untuk negeri kita ini.”

Menurut Direktur Eksekutif Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Nirwan Syafrin, Banyaknya aliran sesat belakangan ini mencerminkan masyarakat kita sedang sakit. Sakit karena tidak lagi mengetahui ilmu. Mencari ilmu kepada orang yang salah. Pemerintah tidak mengarahkan, membimbing kepada yang benar pula. Masyarakat akhirnya mudah saja mengangkat seseorang sebagai guru, ustadz, kyai, atau ulama. Padahal sesungguhnya tidak mengetahui agama.

”Mereka yang dianggap guru itu ternyata membawa aliran sesat, mengaku sebagai nabi, mengaku sebagai rasul. Mereka selewengkan pemahaman tentang al-Qur’an. Firman Allah yang sudah jelas mengatakan Rasulullah adalah penutup para nabi dipahami dengan Relativisme, sehingga ada nabi selain nabi Muhammad saw,” jelas Nirwan.

Faktor lainnya, masih kata Nirwan, berkaitan dengan dakwah pastinya. Ini sebuah bukti dakwah kita belum sampai kepada harapan yang hendak dicapai.

”Disini cendikiawan muslim harus bertindak. Mereka harus membimbing masyarakat kita agar jauh dari kesesatan ini,” tambahnya.


Jadi persoalan nabi palsu ini bukan sekadar wacana untuk bahan diskusi. Kerja dai dan cendekiawan muslim harus lebih keras memberu bimbingan agar mereka sadar. Lebih dari itu semua, perlunya tindakan tegas dari Pemerintah menindak mereka secara hukum.
 

Kumandang Adzan Kok Digugat

 Beberapa waktu lalu (7/11), harian The Jakarta Post menggiring opini pembaca seputar adzan di masjid-masjid dengan menggunakan pengeras suara (loud speaker). Dengan topik “Letter: Loudspeakers on Mosques”, pembaca diundang untuk meresponnya di kolom semacam surat pembaca.

Sebagai prolog, harian berbahasa Inggris itu mengusung wacana: pemerintah berencana mengatur adzan di masjid dengan perbandingan satu muadzin untuk 30 masjid. Muadzinnya yang dipilih adalah yang memiliki suara indah dan enak didengar.

Wacana untuk melakukan penyeragaman adzan, pernah digulirkan Pemerintah Mesir yang hendak menerapkan kebijakan baru aturan adzan di Kota Kairo, pada 2007. Dengan kebijakan baru ini, setiap waktu shalat tiba, suara adzan dipusatkan pada satu muadzin saja yang disambungkan ke 4.000 pengeras suara yang ada di masjid-masjid besar di kota Kairo.

Alasan kebijakan itu dibuat, karena kabarnya banyaknya keluhan terhadap suara adzan yang saling bersahut-sahutan dari berbagai masjid ketika waktu shalat tiba, dengan selisih waktu yang sedikit berbeda-beda, sehingga terdengar bising.
Hal itu mendorong Menteri Wakaf Mesir Mahmud Zaqzuq menandatangi kontrak untuk menyediakan sekitar 4.000 pesawat penerima agar adzan bisa dikumandangkan dalam waktu yang sama oleh masjid yang berbeda-beda.

Di Mesir, rencana untuk sentralisasi kumandang adzan sebenarnya sudah dibicarakan sejak 2004 lalu, tapi proyek sentralisasi itu mendapat perlawanan dari kalangan ulama, sehingga pelaksanaannya terhambat. Tak terlaksana. Mereka yang menyampaikan keluhan, kebanyakan warga yang tinggal di dekat masjid.

Sebuah komite kemudian dibentuk untuk mempelajari keluhan itu dan membuat proyek sentralisasi adzan, termasuk studi mengenai aspek teknisnya.

Sebagai catatan, kementerian agama di Mesir saat ini bertanggung jawab atas sekitar 90 ribu masjid dan mushalla-mushalla yang tersebar di seluruh Mesir. Sekitar 4.000 masjid berada di wilayah Kairo Raya yang akan menjadi target pertama dari kebijakan ini.

Rencananya, pemerintah Mesir akan mengumumkan muazin bersuara indah untuk dipilih saat mengumandangkan azan.

Dengan cara itulah, kaum liberal dan Islamphobi di Indonesia hendak meniru kebijakan pemerintah Mesir, perihal aturan adzan. Atas dalih yang dibuat-buat, mereka menuduh, seruan adzan dianggap pengganggu tidur, mengusik orang sakit, orang-orang jompo, balita, dan turis yang melancong.

Kebijakan itu, sebetulnya langkah awal untuk bertindak lebih jauh, yakni hendak melarang masjid-masjid mengumandangkan adzan. Setidaknya, ada beberapa negara yang telah memberlakukan larangan adzan karena alasan gangguan kenyamanan.

Di selatan benua Afrika, misalnya. Mahkamah Agung Mauritius memerintahkan otoritas kota Quatre-Bornes agar melarang Masjid Hidayat Al-Islam menggunakan pengeras suara saat mengumandangkan adzan. Larangan itu dikeluarkan (akhir Maret 2007), setelah salah seorang warga mengajukan gugatan hukum, karena merasa terganggu dengan suara muadzin saat waktu shalat tiba.

Yang menarik, protes atas larangan itu, bukan hanya dilakukan warga Muslim, tapi juga non Muslim.

Di Azerbaijan, negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim, juga mengeluarkan larangan adzan dengan pengeras suara (23/5/2007). Kemudian di Maroko, seorang menteri Partai Sosialis Progresif, Nouzha Skalli mengusulkan larangan adzan Subuh dengan dalih agar tidak mengganggu turis. Di Eropa, SVP -- parlemen Swiss (Partai Rakyat Swiss) bersama Partai Kristen ultra konservatif, sejak 2008, gencar mengkampanyekan anti-menara masjid.

Itu artinya, sama sama saja melarang kumandang adzan. Saat ini, ada sekitar 35.000 muslim di Swiss yang bertahun-tahun terus memperjuangkan agar agama Islam diakui sebagai agama resmi.

Belum lama, zionis Israel juga memberlakukan aturan, tidak hanya larangan shalat di Masjid al-Aqsha bagi warga al-Quds dan Muslim Arab yang berada di Palestina, melainkan juga melarang adzan.

Jauh sebelumnya, tahun 1930 dan 1940-an, Turki pernah menerapkan larangan adzan dan mengganti seruan adzan dari bahasa Arab kedalam bahasa Turki, bahkan mengubah masjid menjadi museum.

“Bagi saya, adzan itu bentuk syiar Islam, dan menandakan seseorang berada di negeri Muslim. Yang merasa terganggu dengan adzan, cari saja komplek perumahan yang tidak ada masjidnya. Gitu aja kok repot. Belum lama saya ke Mesir, nyatanya, tak ada adzan yang dibatasi kok,” ujar dai kondang Ustadz Subki al Bughuri kepada Sabili.

Benarkah kumandang adzan di masjid-masjid sebagai pengganggu? Ternyata tidak. Buktinya, Tatiana, Gadis Slowakia terbuka hatinya setelah mendengar suara adzan saat ia berkunjung ke Kairo, Mesir (7 September 2008). Tatiana adalah salah satu umat Kristiani yang terpikat suara adzan, lalu memutuskan untuk menjadi seorang Muslimah.

“Ketika mendengar suara adzan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara masjid itu. Tak berapa lama saya pun bersyahadah,” akunya.

Aneh, jika adzan dibilang pengganggu, dan membuat bising orang yang malas bangun pagi. Seharusnya umat Islam bangga, karena agama ini mengajarkan kedisiplinan. Wacana satu muazin untuk 30 masjid via stasiun radio pemerintah adalah mustahil dan terlampau mengada-ngada. ■

Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Benci Manhajnya ???

Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya

Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya




   
Seperti minggu sore kemarin, syura’ rutin DPRa di Kantor DPC. Agak Bete sedikit memang, tapi bukan karena bahasan syuranya, seperti biasa lah, selalu ada saja yang disewotin.



“Kenapa akh, dari tadi keliatan agak bete ghitu”, Tanya Ridwan, ketua DPRa, “Ada masalah?”, tanyanya lagi.


“Mba Nilam kemana, abis nikah kok nggak nongol-nongol?”



“Ada urusan keluarga kali, soalnya nggak ada kabar ke ana”, jawab Ridwan singkat.


“Dikerem suaminya kali ya?”, tanyaku polos.



“Astaghfirullah, mana ana tahu akhi. Lagian apa urusan kita terhadap mereka”, sergah Ridwan kepadaku.


“Kayanya kejadiannya bakalan sama seperti ukhti Intan tuh”, tandasku lagi.



“Antum ini ngomong apa sih”, Tanya Ridwan bingung. “Nggak jelas juntrungannya, ana nggak ngerti maksud pembicaraan antum.”



Iya, mulai dari Ukhti Intan, kemudian Mba Nilam, siapa yang sibuk coba, bantuin mereka ngurusin pernikahannya?”, tanyaku ke Ridwan yang cuma makin bingung dengan ulahku.

“Astaghfirullah, akhi.

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), (Qs. Al-Baqarah: 264)



Kok antum masih ungkit itu lagi sih. Kan kita sudah sepakat nggak akan bahas itu terus,” jelas Ridwan yang sepertinya sudah paham maksud kebawelanku.



“Ana sudah nggak tahan. Mungkin Mba Nilam adalah yang terakhir buat ana,” celotehku lagi.

“Maksudnya akhi?” tanya Ridwan.


“Ana janji, ana nggak akan bantuin akhwat manapun jika mereka nikah sama ikhwan Salafy!”, teriakku kesal.


“Loch, memangnya kenapa?”


“Ya, antum sendiri lihatkan. Waktu nikah, yang sibuk itu kita. Boro-boro ada ikhwah Salafy yang mau ikutan bantuin temennya nikah. Udah gitu, setelah mereka jadi nikah, seperti biasa, si akhwat nggak boleh lagi terlibat aktivitas kita,” jawabku dengan nada tinggi.



“Antum nggak boleh gitu akhi. Nggak semuanya seperti itu kok. Itu buktinya si Abu Zainuddin. Nanti jadi sia-sia loch apa yang sudah diamalkan kemarin,” seloroh Ketua DPRaku khawatir.

“Iya, kalau Abu Zainuddin mah nggak usah diomongin. Beliau itu udah the bestnya salafy dech, beda banget. Tapi, kenapa sich, mereka mau menikahi akhwat tarbiyah? Memangnya mereka nggak punya stock akhwat apa? Kalau mereka benci manhajnya, seharusnya mereka benci akhwatnya juga dong!”, teriakku lagi sambil nahan marah.



Ridwan, ketua DPRaku cuma miris dan berkata “Antum nggak boleh gitu akhi.


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.



Mungkin memang sudah jodohnya. Mau dengan Salafy, mau dengan ikhwan tarbiyah, atau mau dengan yang ammah sekalipun, kalau sudah jodohnya, ya mereka pasti akan menikah, kalau Allah sudah berkehendak, mau di
tolak bagaimana?”.



“Gini-gini loch akh. Maksud ana, ana nggak habis pikir aja. Kan mereka sebut kita ahlul bid’ah. Dan ahlul bid’ah itu menurut mereka lebih sesat dari ahlul maksiat. Tapi kenapa mereka malah mencari akhwat tarbiyah yang jelas-jelas ahlul bid’ah menurut mereka. Ini yang ana nggak ngerti,” tanyaku panjang lebar.



“Akhi, tidak ada yang memungkiri, akhwat tarbiyah itu sangat militan dalam berdakwah. Kesibukan apapun yang menyertai mereka. Kuliah, kerja atau ngurus keluarga. Kalau sudah panggilan dakwah, pasti mereka kejar. Hijab dan busana muslim yang panjang tidak menyurutkan gerak gesit mereka,” jelas Ridwan santai.



“Jadi itu alasan mereka menikahi akhwat kita?”, tanyaku sewot.

“Akhwat kita?” tanya Ridwan sambil manyun. “Ngaku-ngaku akhwat kita, sembarangan. Nanti dimarahin bapaknya para akhwat baru tau rasa loch.”


“Bukan, bukan itu. Maksud ana akhwat tarbiyah,” sergahku cepat “Tapi pasti ada alasan lain, kenapa mereka lebih senang merampas akhwat tarbiyah dibandingkan akhwat salafy?”.

“Waduh, merampas, kesannya kasar banget. Jangan gitu akhi. Kalau alasan kenapa mereka tidak memilih akhwat salafy, ana tidak tahu, mungkin memang kurang stock?” jawab Ridwan.

“Atau mungkin karena ekstrim juga!?”, timpalku langsung.


“Hush!!! Sembarangan!”, cegah Ridwan atas komentarku.



“Assalamu’alaikum”, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.

“Wa’alaikum salam ustadz. Ana fikir ustadz sudah pulang. Afwan, kita terlalu rame ya?” jawabku spontan atas sapaan salam ustadz Azri, ketua DPC kami yang tiba-tiba keluar dari balik pintu secretariat.

“Hemm… afwan dari tadi ana mencuri-curi dengar sambil senyum di dalam,” selorohnya pada kami sambil ikut duduk di bangku bambu tepat di sebelah kiriku. “Sepertinya seru juga diskusinya,” lanjutnya lagi,”Memang tidak ada habisnya kalau membicarakan salafy”. Aku cuma senyum, agak sedikit malu karena kesewotanku didengar beliau.

“Begini akhi, apa yang sudah akhi Ridwan katakan itu benar, akhwat tarbiyah itu memang super. Tapi kalau mereka kurang stock akhwat ana juga nggak yakin. Apalagi kalau alasannya seperti yang antum omongin tadi. Yang pasti, kemungkinan alasannya, ini pun baru menurut ana loch. Karena seorang yang telah tarbiyah dan telah mengikuti amal jama’i di dalam jamaah ini, yang telah tahu karaktristik manhaj ini dengan baik dan mendalam, selalu berhusnudzan terhadap qiyadah, pasti telah memiliki pondasi yang bagus tentang keislaman mereka. Mulai dari Al-Qur’an dan ulumul Qur’an, Hadist dan ulumul hadits, Aqidah Islam, Fiqih, Sirah, akhlaq, kepribadian muslim, dan lain sebagainya. Belum lagi ditambah dengan materi-materi yang berhubungan dengan pengembangan diri mereka, seperti bagaimana mengelola waktu, bagaimana berkomunikasi efektif, managemen organisasi, urgensi kaderisasi dan lain-lain. Tak ketinggalan sampai kepada pembahasan dakwah dan pemikiran islam serta materi yang membahas social kemasyarakatan.”



“Intinya mah tinggal poles dikit gitu ya ustadz?”, timpalku lurus.

Ustadz Azri cuma senyum denger ucapanku, “Itupun baru tarbiyah tingkat pemula loch akhi. Kalau seluruh kader sabar dalam halaqahnya, pasti mereka menjadi muslim mandiri. Tidak malas-malasan. Kritis. Rajin menghadiri kajian Islam. InsyaAllah, mereka jadi kader sejati, yang tidak mudah terombang-ambing.”

“Oh, gitu ya ustadz”, tanyaku takjub, “Loch, lantas kenapa orang-orang Salafy yang ana temui, sebagian besarnya bercerita bahwa mereka mantan tarbiyah,” timpalku lebih lanjut.


“Coba dech, antum perhatikan. Sebagian mereka, apakah mantan tarbiyah, atau mantan Jamaah Tabligh atau mantan jamaah lainnya. Pasti ceritanya selalu tentang kekurangan. Ya, merekalah orang-orang yang selalu melihat kekurangan yang dimiliki orang lain. Mereka belum paham karakteristik dari tarbiyah itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang tidak sabar. Mereka adalah orang-orang yang selalu membutuhkan motivasi dari luar. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mengembangkan ilmu mereka dengan potensi yang mereka miliki untuk berkontribusi kepada umat. Tapi saksikanlah akhi. Mereka hanya akan ghirah di awal. Mereka tidak akan bertahan lama. Karena hanya sebagian kecil saja dari mereka yang memiliki jiwa ikhlas seperti Abu Zainuddin” jelas Ridwan panjang lebar.

“Sudah akhi Ridwan jangan diteruskan. Tidak baik akhi, ada baiknya kalau kita selalu berusaha untuk membersihkan hati kita” pinta ustadz Azri berusaha memutus penjelasan Ridwan. “Antum sendiri sudah sampai mana materi halaqahnya,” tanya ustadz Azri, ketua DPCku tiba-tiba.

“Ups!”, agak kaget. “Hik..hik.. ana baru enam bulan ustadz, baru juga masuk materi akidah tauhid,” jawabku malu sambil cengengesan. “Ya, kalau boleh dibilang anak ingusan di tarbiyah githu… hehehe…,” ujarku berusaha membela diri.

“Tapi kayanya antum sudah lama ikut aktifitas amal jamai ya?” tanya ustadz Azri kepadaku. “Soalnya ana sering lihat antum di berbagai tempat kegiatan bakti social, nggak cuma di DPRa antum saja?”


“Iya, ustadz, ana sibuk banget. Kerja, dari pagi sampe malem. Maklum kuli.. hehehe… Takut halaqahnya nggak serius, jadi ana fikir biar ana aktif di kegiatan social kemasyarakatannya saja, ternyata tarbiyah point utamanya. Sekalipun agak terlam
bat, nggak apa-apa lach”

“Nah, ini dia ustadz, salah satu penyebab akhwat-akhwat kita keburu dinikahi ikhwan bukan tarbiyah,” tuduh Ridwan kepadaku.


“Maksudnya?”, tanyaku bingung.


“Ya, antum ini lah salah satu penyebabnya. Sudah kerja, punya kendaraan, manager pula status di kantornya. Masih juga belum mau nikah. Jangan marah dong kalau akhwat tarbiyah dinikahi sama ikhwan salafy. Antum terlalu idealis sih”, tuding Ridwan lagi kepadaku.


Aku makin mati kutu dibilang begitu, “Afwan, afwan akhi, ustadz, ana nggak idealis kok. Ana tidak pernah terpikir, kalau ana punya kriteria khusus terhadap akhwat yang akan ana nikahi. Masalahnya beda. Ini masalah target masa depan. Masa akhwatnya hebat ikhwannya jeblog, nanti ana malu khan. Dan ana juga nggak mau pusing, gara-gara mikirin uang untuk resepsi, untuk lahiran, pendidikan anak, makan sehari-hari dan lain sebagainya,” jelasku membela diri.

“Memang antum usianya berapa sekarang?” tanya ustadz Azri sambil nepuk-nepuk bahuku.

“Seperempat abad lebih dikit ustadz”, jawabku. “Belum tua banget khan?” tanyaku la
ngsung kepada beliau.


Beliau cuma tersenyum dan berkata, “Belum, belum tua kok.” Sementara Ridwan ketua DPRaku sudah pegang perutnya menahan geli.

“Loch, antum kenapa? Kok kayanya geli banget dengar umur ana seperempat abad?” tanyaku ke Ridwan bingung.


Ustadz Azri menepuk lututku, “Dulu, waktu ana nikahi istri ana, ana baru berumur sembilan belas tahun akhi. Masih kuliah di LIPIA” terangnya sambil tersenyum teduh.


“Hah…” ternganga aku sambil takjub. “Sembilan belas tahun! Masih muda banget ustadz. Waduh, ana ketuaan dong ya?”


“Bukan tua lagi mas, udah engkong-engkong,” canda Ridwan sambil terus pegangi perutnya menahan geli dan “Ana aja udah punya anak dua waktu umur segitu”.




“Ya ampun, jangan-jangan hampir sebagian besar ikhwan kita seperti ana kali ya!” sergah aku masih dalam keadaan terkejut. “Pasti ustadz anak orang kaya kan, jadi kalau bingung dengan masalah keuangan tinggal minta bantuan?” tanyaku sambil terus berusaha membela diri.

“Alhamdulillah, ana di Jakarta sendirian akhi. Orang tua ana di Padang Pariaman. Di Kampung. Waktu itu ana tinggal di tempat paman ana. Ya sambil bantu-bantu beliau, ana juga jualan buku-buku Islam sambil kuliah di LIPIA karena ana yakin

 
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs. At-Thalaaq: 3)

” jelasnya panjang lebar sambil berusaha meyakinkan aku.


“Waduh, malu banget ana nih ustadz. Ana yakin, ikhwan-ikhwan kita memang terlalu idealis, bertahan dengan kejombloannya, karena terlalu khawatir seperti ana. MasyaAllah….”

“Makanya itu akhi, antum jangan sewot kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi ikhwan-ikhwan salafy. Nggak ada pilihan lain, sekalipun mungkin mereka tidak mau, tapi daripada jadi khawatir kali. Mau dibilang apa?” tuding Ridwan lagi kepadaku.

“Ya, iya juga sich, mungkin salah ana juga kali ya,” jawabku lirih.

“Ya, nggak salah antum aja, tapi semua ikhwan tarbiyah yang punya kekhawatiran berlebihan seperti antum, antum niatkan saja untuk segera menikah. Ana ada chanel nih. Antum mau nggak ana kenalin. Mad’unya istri ana,” tawar ustadz Azri serius sambil terus tersenyum, “Kayanya cocok dech sama antum
”.


“Aduh ustadz, tapi ana tetep nggak bisa terima. Kalau mereka mau menikahi akhwat tarbiyah, jangan matikan dakwah mereka juga dong. Enggak sopan tuh namanya. Kita yang bangun dia yang nikmatin. Standard ganda banget sich! Manhajnya di benci, tapi akhwatnya doyan! Atau ana aja yang nikahin akhwat Salafy ya ustadz, biar mereka jadi baik hati dan lembut. Kan impas tuch!” ujarku kesel.

“Astaghfirullah akhi, sudahlah, jangan dipikirin yang kaya gitu. Pasti semuanya ada hikmahnya. Baik buat kita maupun buat mereka. Jangan biarkan ketidaksukaan antum terhadap mereka membuat antum tidak adil. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Maidah: 8 )


Kita do’akan, sekalipun mereka tidak beramal jama’i lagi dengan kita, mudah-mudahan ghirah dakwah mereka tidak mati. Ya minimal beribadah untuk suami dan keluarga mereka, kan sama saja, sementara mantan murabiyyah mereka mendapat pahala atas ilmu yang bermanfaat bagi mereka” terang ustadz Azri bijak.



“Iya, ya.. nggak ada untungnya buat ana. Itu sudah menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. Mending ana focus ngurusin pekerjaan ana dan dakwah ana di manapun ana berada”, sadarku.

“Jangan lupa! bukan cuma ngurusin pekerjaan dan dakwah aja, tapi tuh, tawaran ustadz Azri diterima nggak, prediksinya cocok sama antum soalnya,” ingat Ridwan sambil rangkul bahuku.



Aku cuma mengangguk tanda setuju, sambil terus menyembun
yikan malu.



“Loch, dengan akhwat Salafynya gimana?”, canda ustadz Azri, lanjutnya “Ada-ada aja antum.”

Dan aku makin menunduk malu.



Sekian



Cerpen ini dibuat sebagai introspeksi buat ana dan semua ikhwah yang belum menikah. Jangan sedih ya, kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi oleh mereka J Peace !!!

Sementara untuk akhwatnya, jangan minta mahar mahal-mahal ya, kasihan kita nih. Bilangin ke abi dan uminya juga loch…. J

NB: Maaf bila ada kata-kata yang tidak sopan dan sedikit usil. Cerita ini terinspirasi dari diskusi di forum myquran dan pengalaman pribadi.
 

Gelombang Penolakan Salafy Ekstrim

Banyak laporan yang dikeluhkan umat dan gerakan Islam dengan keberadaan Salafy -- demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Meski di kalangan Salafy terjadi perpecahan dalam menyikapi ijtihad tertentu, namun kebanyakan umat tidak memahami peta Salafy secara utuh, sehingga cenderung men-generalisir Salafy dengan cap buruk.
Bukan sekali terjadi, benturan antara Salafy dengan gerakan Islam yang ada. Sehingga menimbulkan gelombang penolakan. Di Lippo Cikarang, kajian Salafy terpaksa diliburkan selama sebulan, karena adanya tekanan (ancaman) dari kelompok tertentu untuk membubarkan halaqah ini. Kemudian di Matraman, Jakarta, pernah terjadi penyerbuan kelompok jamaah dzikir yang dipimpin oleh seorang yang mengklaim dirinya habaib, terhadap masjid jamaah Salafy, seraya menuntut masjid itu tidak difungsikan lagi untuk penyelenggaraan shalat Jum’at. Alhasil, tuntutan itu sukses.
Gelombang penolakan juga terjadi di luar Jawa, di Lombok Barat (NTB), sudah beberapa kali terjadi perusakan fasilitas milik ”penganut” Salafy oleh warga setempat. Akibat kesalahpahaman di kedua belah pihak, warga di Dusun Mesangguk, Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok, menyerang jamaah Salafy dengan lemparan batu. Sebelumnya, November 2005, ribuan warga Desa Sesela menyerbu Yayasan Pondok Pesantren Ubay bin Kaab di Dusun Kebon Lauk.
Kepada Sabili, Ketua Komisi Pengkajian Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin mengaku bahwa Salafy pernah mendatanginya. Mereka meminta agar LPPI menjelaskan kepada masyarakat, bahwa Salafy bukanlah ajaran sesat.
Cara dakwah yang dilakukan kelompok Salafy, membuat umat Islam resah, dan mendesak MUI mengeluarkan fatwa tentang keberadaan Salafy. Sesatkah Salafy? ”Salafy bukan merupakan sekte atau aliran sesat. Salafy, tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh MUI. Demikian fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara tanggal 8 April 2009. Fatwa yang ditandatangani oleh Qoimuddien Thamsy (Ketua Umum MUI Jakarta Utara) dan Drs. Arif Muzakkir Manna, HI (Sekretaris Umum) tersebut, setidaknya melegakan kelompok Salafy.
Kendati Salafy bukan aliran sesat, Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amien menasihati aktivis Salafy, agar merubah cara dakwahnya menjadi lebih baik, dan memperbaiki sifat ananiyah madzhabiyah yang menganggap diri-kelompoknya paling benar dan mencela golongan lain yang menurutnya salah. ”Padahal, jika masih dalam skala ikhtilaf, tidak boleh asal menyalahkan. Berbeda dengan Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas menyimpang, karena sudah menyangkut prinsip (akidah),” kata Kiai Ma’ruf.
Lebih lanjut, KH Ma’ruf Amien mengatakan, penyerangan warga terhadap jama’ah Salafy, terjadi akibat sifat egoisme kelompok ini yang suka menyalahkan golongan lain yang berbeda pandangan. ”Kelompok ini tidak mau toleransi dengan pemahaman yang berbeda dengan mazhab mereka, sehingga menyulut kemarahan warga,” tukasnya.
MUI Nusa Tenggara Barat (NTB) juga menyatakan, kelompok Salafy tak menyimpang dari ajaran Islam. Hanya saja, penyebaran ajaran ini tidak dikemas sesuai dengan kultur agama yang dianut warga setempat. ”Akibatnya, warga menjadi tersinggung dan anarkis,” ujar Sekretaris MUI NTB Tuan Guru Haji Mahaly Fikri.

Kenapa Salafy Dikecam

Lantas, apa yang membuat kelompok Salafy dikecam? Karena kelompok Salafy kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Inilah yang menimbulkan tenaga gelombang itu membesar.
Salafy acapkali mencela ulama seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Hasan al-Banna, Taqiyuddin An-Nabhani, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, ’Aidh al-Qarni, Yusuf al-Qaradhawi dan sebagainya. Sementara gerakan Islam yang diserang Salafy diantaranya: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, FIS Al-Jazair, tak terkecuali Persis, NU, Muhammadiyah, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan sebagainya.
Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Salafy. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khawarij, pemberontak, ruwaibidhah (dungu), ahlu takfir, gerakan sempalan sesat, serta teroris, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya.
Salafy punya julukan tersendiri terhadap gerakan Islam yang berseberangan dengannya. Seperti Quthbiy (penganut paham Sayyid Quthb), Sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-’Abidin yang menggabungkan paham Salafy dengan Ikhwanul Muslimin), dan hizbi atau hizbiyun (kelompok yang berorganisasi/partai).
Salafy yang merasa dirinya paling benar, sering menuduh tanpa bukti, berdusta atas nama para ulama dan sebagainya. Fitnah pun ditebar di tengah kaum muslimin. Pendiri al Irsyad KH Ahmad Syurkati pun tak luput dari celaan pemuda-pemuda Salafy ekstrim. Dengan sinis mereka menyebut Syurkati mufti kolonial Belanda, mengambil dana lotere untuk memperkuat lembaga.
Anehnya, ketika (ulama) Salafy dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya. Seabreg kecaman pun tertuju kepada Salafy, ketika kelompok ini anti bicara politik, tidak peka terhadap penderitaan kaum Muslimin, fanatik kepada para syaikhnya, keras menghukumi saudaranya sendiri. Sementara pemurtadan merajalela.
Maling teriak maling, khawarij teriak khawarij. Seperti itulah yang digambarkan Abu Muhammad Waskito dalam bukunya yang berjudul: ”Wajah Salafy Ekstrim: Propaganda Menyebarkan Fitnah & Permusuhan”. Sebutan Salafy ekstrim, karena di antara mereka ada yang terjerumus dalam sikap ghuluw (melampaui batas). ”Jumlah mereka mungkin tidak terlalu banyak, kekuatan mereka juga tidak besar, tetapi suara mereka sangat keras dalam mengobarkan fitnah dan permusuhan,” tulis Waskito.
Yang lebih menyakitkan adalah, di saat warga Gaza dibantai Zionis Israel, ulama Salafy asal Saudi, Syaikh Shalih Al Luhaidan melarang umat berdemo. Bahkan menyebut pendemo itu sebagai khawarij. ”Demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat fasad fi Al Ardhi alias kerusakan di muka bumi,” kata Syeikh Shalih.
Sebelumnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (ulama Salafy) mengeluarkan fatwa agar kaum Muslimin Palestina hijrah untuk keluar meninggalkan bumi Palestina. Fatwa ini menuai kontroversi di tengah kaum Muslimin.
Apalagi? Dengan membabibuta, Salafy ”menyerang” Ikhwanul Muslimin dengan memelesetkannya menjadi Ikhwanul Muflisin (ikhwan yang boke alias tak punya uang). Aroma ”kebencian” pada Ikhwanul Muslimin mencuat tatkala pecah Perang Teluk Babak I. Adalah DR. Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, yang pertama kali menyusun buku berjudul ”Matha ’in Sayyid Quthb fi Ashab al Rasul” (Tikaman-tikaman Sayyid Quthb terhadap Para Sahabat Rasul). Rabi’ al Madkhali, bahkan mengkritik habis Fi Zhilal al-Qur’an (karya Sayyid Quthb).
Mantan Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib juga melontarkan cacimaki terhadap Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dengan menyebutnya sebagai ’aduwullah (musuh Allah) dan Yusuf al-Quraizhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani Quraizhah). Ja’far dikritik gurunya sendiri, Syeikh Muqbil di Yaman, yang mengganti celaan itu terhadap Qaradhawi dengan sebutan Yusuf al-Qaradha (Yusuf Sang Penggunting Syari’at Islam). Tak hanya itu, Hasan al Banna kerap disebut pelaku bid’ah yang akan berakhir di Neraka. Sayyid Quthb disebut pembawa ajaran sesat.
Ketika dihubungi Sabili untuk mengkonfirmasi tuduhannya, Ja’far Umar Thalib menolak, seraya mengatakan via SMS: ”Saya ndak bisa wawancara dengan yang menuduh saya sebagai agen BIN atau Densus 88. Dan Sabili adalah media kampungan yang melansir gosip kelas rendahan.”

Hobi Mencela

Tak dipungkiri, banyak umat Islam di Indonesia tak memahami Salafy secara utuh. Akibatnya, umat kerap menyamaratakan Salafy dengan tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Di sisi lain, umat kadang terjebak dengan penampilan kaum Salafy. Sebagai contoh, sebuah acara Todays Dialogue di Metro TV (2 September 2008), tengah membicarakan topik: ”Islam Radikal Mau Ke mana? Acara itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Ustadz Ja’far Umar Thalib, Abdul Moqsith Ghozali (tokoh JIL), dan Nasir Abas (eks anggota JI). Abdul Moqsith Ghazali dan Nasir Abas mewakili pihak yang berseberangan dengan gerakan Islam ”radikal”. Sedangkan Ja’far diharapkan Metro TV menjadi penyeimbang yang mewakili gerakan Islam radikal. Ada skenario, narasumber itu akan dikonfrontasi.
Tapi apa yang terjadi? Ja’far Umar Thalib dalam dialog itu, tidak menunjukkan sikap ”radikal” seperti yang diharapkan Metro TV. Justru sebaliknya, Ja’far dengan berbagai statemennya malah menyerang ”teman seperjuangan”. Bahkan lebih galak ketimbang dua narasumber lainnya. Apa kata Ja’far tatkala ditanya tentang kelompok-kelompok ”Islam radikal” yang ingin berjuang menegakkan syariat Islam dan negara Islam? Dengan gamblang, Ja’far yang Salafy ini mengatakan,”kelompok-kelompok itu harus diberangus sampai ke akar-akarnya.” Bukan hanya pemirsa yang terkejut, Meutia Hafidh, sang pembawa acara pun bertanya keheranan, kenapa harus diberangus?
Ja’far kembali menjawab, dulu, Khalifah Ali bin Abi Thalib memberangus khawarij. Kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam disebut Ja’far sebagai Ahlul Bughot (pemberontak) karena itu wajib diberangus hingga akar-akarnya. Ja’far pun menyamakan pejuang syariat dengan khawarij. Termasuk, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang dicap Ja’far sebagai pentolan neo khawarij, penerap doktrin takfir kepada penguasa Muslim.
Terakhir, dalam sebuah dialog di televisi swasta, Ja’far dijadikan narasumber untuk bicara tentang terorisme. Ia kembali menyerang Sayyid Quthb (tokoh Ikhwanul Muslimin), dan membela Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i. Ja’far mengatakan, semua bentuk radikalisme dan ekstrimisme muncul dari pemikiran Sayyid Quthb.
Yang menarik, adalah ketika terjadi perang pemikiran dalam bentuk buku. Awalnya, (alm) Imam Samudra menulis buku ”Aku Melawan Teroris!”. Seorang ustadz Salafy Abu Hamzah meresponnya dengan menulis pamflet ”Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris”. Selanjutnya, muncul buku bantahan yang berjudul ”Mereka adalah Teroris! Sebuah Tinjauan Syari’at”, ditulis oleh Luqman bin Muhammad Ba’abduh, seorang ulama Salafy Yamani dari Jawa Timur dan merupakan teman seperguruan Ja’far Umar Thalib. Setelah itu, juga terbit buku ”Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, buku yang juga bantahan terhadap Luqman Ba’abduh (Mereka adalah Teroris).
Menurut Ustadz Abduh Zulfidar Akaha Lc, buku ”Mereka adalah Teroris!” ternyata tidak sungguh-sungguh membantah Imam Samudra. ”Imam Samudra hanya dijadikan batu loncatan saja. Karena di balik itu, ada lebih dari satu orang yang diserang, baik ulama maupun gerakan Islam. Di dalam buku Mereka adalah Teroris, Luqman Ba’abduh menyebut nama-nama ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb sebagai teroris, Abdullah Azzam, pejuang Islam di Afghanistan, termasuk pula tokoh-tokoh Hamas seperti Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar-Rantisi dan sebagainya sebagai teroris Khawarij.” Intinya, tak ada penghormatan kelompok Salafy ekstrim terhadap ulama maupun mujahid di luar kelompoknya.

Keresahan umat Islam terhadap gerakan Salafy ekstrim di Indonesia, sebetulnya sudah muncul tatkala orang tua santri terkejut melihat putranya yang belajar di Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga, Semarang. Begitu pulang ke rumah saat liburan sekolah, anak-anak hasil didikan Ja’far Umar Thalib dan Yazid Abdul Qadir Jawwas itu, tiba-tiba mencopot gambar-gambar di dinding, membuang radio dan televisi dari rumah mereka. Sejumlah orang tua cemas akan hal ini, lantas mendatangi kantor cabang al-Irsyad di Tengaran, Semarang untuk menanyakan pola didik yang diterima anak-anak mereka. Orang tua juga menuntut cabang al Irsyad bertanggung jawab langsung terhadap pesantren, agar mengekang kecenderungan militan ini.
Diakui Ketua Umum al Irsyad al Islamiyah KH Abdullah Jaidi, ormas Islam yang paling kecolongan dengan pengaruh Salafy adalah al-Irsyad. Khawarij teriak khawarij, ahlu bid’ah teriak bid’ah pun diamini Abdullah Jaidi. Ia memberi contoh, tahun 2005, di Pekalongan, tatkala terjadi perebutan al-Irsyad, Yusuf Utsman Baisa (kelompok Tengaran) dikalahkan oleh Mahkamah Agung (MA). Meski kalah, mereka hendak menggelar rapat, tapi dilarang oleh Kapolri Sutanto ketika itu. Diam-diam, mereka tetap menggelar rapat di kediaman walikota Pekalongan. Hasil rapat memutuskan: menolak keputusan MA. Usai itu mereka berdemo di MA dan Kejaksaan Agung. ”Ini namanya apa? Jelas bughot, menentang pemerintah, menolak MA. Jadi apa yang mereka sebut bid’ah, bughot, mereka sendiri adalah pelakunya,” kata Jaidi.
Kini, penyebaran paham Salafy berkembang melalui buku-buku agama, majalah, kaset, dan situs internet untuk mereka jadikan sebagai propaganda. Buku-buku, majalah dan internet adalah media lain yang mereka gunakan. Hal ini menimbulkan gelombang yang juga tidak kecil. Melengkapi penolakan-penolakan lainnya.
Mereka disokong dana yang cukup besar dari oknum Syekh Saudi Arabia. Suatu ketika pimpinan cabang NU pernah memohon kepada Menteri Agama Maftuh Batsuni agar menyampaikan satu hal kepada Pemerintah Saudi untuk tidak membagikan buku-buku agama kepada jamaah haji di airport, yang hendak pulang ke Tanah Air. Mengingat, buku itu, bertentangan dengan pemahaman agama yang ada di daerah tertentu, sehingga membuat masyarakat bingung, bahkan berubah. Atas laporan pimpinan cabang NU ini, Menteri Agama meminta Pemerintah Saudi tidak membagi-bagikan buku-buku agama, tapi cukup Al Qur’an dan terjemahan saja.
Benarkah Salafy ekstrim tak bisa diajak berdialog? Dalam suatu seminar sehari di Pekalongan yang diadakan al Irsyad -- turut mengundang para ustadz al Irsyad di seluruh cabang Indonesia, termasuk kelompok Salafy Tengaran -- dibahas masalah-masalah yang menyangkut fatwa-fatwa dari kelompok Salafy. Ada enam permasalahan yang dibicarakan. ”Saat itu kelompok Salafy membawa dua koper berisi buku-buku. Sementara kita cuma membawa klipingan saja. Ketika baru membahas tiga masalah, mereka malah hengkang, tidak mau melanjutkan,” ungkap Abdullah Jaidi.
Tahun 1992, di Yogyakarta, Persis yang dipimpin (alm) Shiddiq Amien juga membuka ruang dialog dengan kelompok Salafy yang diwakili oleh Abdul Hakim Abdat. Apa yang terjadi, begitu terdesak dalil-dalil, mereka (Salafy) keluar meninggalkan ruangan.
Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki —tak mesti Salafy— sudah pasti akan menghadapi gelombang penolakan. Tapi, kalau berdakwah dengan cara yang santun, masyarakat tentu akan menerimanya dengan lapang dada.
 

Ya Allah izinkan aku ke Sana ....

 




KEMBARA CINTA SUDAH BERMULA…


Sudah mula berbondong-bondong manusia ke sana. Membawa hati yang lara mencari cinta. Walaupun tanahnya gersang, tetapi hati manusia yang menuju ke sana sentiasa basah dengan rindu dan cumbu. Kami datang, kami datang… Semuanya menyeru untuk bertemu dan bertamu. Tetamu-tetamu Allah itu pasrah menyerahkan segalanya, meninggalkan semua demi bertemu-Nya.

Di kejauhan ini aku berdoa untuk kalian. Apalah yang dapat kukirimkan sebagai pamitan dan bekalan… Aku masih tertahan menunggu giliran, menanti panggilan. Aku rindu, tetapi apakan daya, layangan jiwa ini masih perlukan sayap yang nyata. Itu aku tak punya.

Untuk mu tetamu-tetamu Allah, sudi apalah kiranya menatap puisiku walau sekilas cuma. Doaku untuk mu semua. Dan mana tahu, seorang darimu sudi mendoakan aku… pengemis cinta-Nya yang masih terbelenggu ini.

Pergilah saudara-saudaraku, pergilah menuju Allah. Jika cinta kita SATU… pasti satu ketika kita akan bertemu juga di situ. Di Kaabah itu! Tataplah pusi ini (yang ku tulis sejak lama dulu)…

KEMBARA CINTA SUDAH BERMULA...

Pergilah tetamu Allah
Pergilah menuju Allah…
Pergilah membawa hatimu yang pasrah
Tiada lain yang kau cari
Kecuali kasih-sayang Ilahi

Haji ertinya menuju…
menuju Allah yang satu
Namun jalan cinta itu penuh sembilu
Kan bertandang ujian beribu liku
Merintang diri dan hati
Kerna setiap cinta itu pasti diuji…
Apakah sejati atau ilusi.

Sebelum melangkah mulakan muhasabah
Bagaimana belanja kita ke sana?
Apakah keringat sendiri yang mengalir?
Apakah dari sumber yang bersih?
Apakah dari pekerjaan yang baik?
Tanpa penipuan, tanpa penzaliman
Hasil usaha ‘halalan taiyiban?’Kemudian muhasabah pula diri kita seikhlasnya
Leburkan mazmumah semampunya
Hasad, dengki, marah, bakhil ditekan sekuatnya
Mensucikan hati di pohon keampunan
Minta kemaafan dari manusia
Mohon taubat segala dosa…
Barulah nanti terlerai rantai di hati
Terasa ringan melangkah kaki!

Pakaikan kain ihram di tubuh
Serah diri seluruh…
Pangkat, derjat, bintang dan gelaran meluruh
Kini kita hanya seorang hamba
Yang benar-benar hina di hadapan-Nya

Datanglah bagaikan hamba tawanan
Yang bertelut gementar… menanti hukuman
Labaiklallah humma labaik!
Hambamu datang ya Allah…
Dengan hias rohani
Di cermin matahati katakan pada diri:
Aku tidak punya apa-apa
Harta, keluarga dan milik Mu jua
Asalku hanya dari titisan air yang hina …
Jahil, miskin, lemah dan tidak berdaya…
Namun Hambamu datang jua ya Allah…
Labaikallah humma labaik
Aku datang wahai Tuhan
Aku datang… menyahut panggilan

Tuluskan niat kita ketika memulakan
Haji ini, ibadah ini…
Bukan untuk ihsan manusia
Bukan lanjutan urus niaga
Pun bukan kerana riak dan bangga
Tetapi benar-benar kerana kita hamba
Yang mengharap wajah dan keredhaan-Nya

Niat yang suci itu perisai hati
Menangkis kelalaian sepanjang destinasi
Ikhlas itu sangat maknawi
Namun kesannya zahir pada diri

Ikhlas melahirkan sabar…
Sabar kita dengan karenah insan
Demi mengharapkan rahmat Tuhan
Ikhlas melahirkan syukur…
Syukur dengan ruang yang sempit
Demi mengharap keampuan yang melangit

9 Zulhijjah…wukuf di Arafah
Dalam himpunan terbesar gambaran Mahsyar
Tiada bezanya derjat dan pangkat
Yang kaya atau melarat
Semuanya tenggelam dalam dalam zikir dan munajat

10 Zulhijjah… bermalam di Mudzalifah
Talbiah, tasbih dan selawat
Bangsawan, hartawan, marhein dan miskin
Segalanya sama seputih kain
Moga-moga perrhimpunan ini menginsafkan
Hanya taqwa… nilaian Tuhan

Tuhan tidak menilai rupa
Tuhan tidakmenilai harta
Tuhan hanya menilai hati
… hati yang bertaqwa kepada-Nya

11, 12, 13 Zulhijjah…
bermalam di Mina melontar 3 Jamrah
Genggam butiran batu itu dengan tangan kita
Tapi lontarkan ia dengan satu rasa
Di Jamrah itu kita perangi musuh Allah
Simbolik satu kebencian
Metafora sebuah peperangan
Melawan syaitan dalam kehidupan
Nyahkan ia jauh-jauh…
Perangi ia sungguh-sungguh…
Usah berpaling lagi
Pada bujukannya… kita tak sudi!

Nun di sana kelibat Kaabah mula menyapa
Rindu tiba-tiba semakin membara
Hati hiba tanpa diminta
Tanda disedari mengalir air mata kita
Oh! situ pernah melutut Ibrahim
Di situ pernah sujud Ismail
Dan di situ pernah menangis Muhammad SAW
Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali…

Bagaikan ‘melihat’ wajah Allah
Di hitam warnanya ada nur kesucian
Langkah kian cepat… kian mendekat
Tawaf, tawaf, tawaf tujuh pusingan
Tiga pertama bagaikan lari dari dosa…
menuju pahala
Empat yang kedua lepas dari kesalahan…
menuju pengampunan

Lambaian istilam tanda kerinduan
Dikucup tangan tanda kecintaan
Tuhan cintaku hanya pada-Mu…
Walaupun cinta itu sering terganggu!

Bawalah hati yang lara di Safa dan Marwah
Saie ke sini ke sana bagai seorang sandera
Cemas bila dirasuk azab…
Tenang seketika dibujuk harap…
Ke sana khauf…
ke sini raja’…
Bimbang tenang berulang datang
Bagai gelombang tanpa tepian

Oh! Tuhan siapakah diriku
pada pandangan-Mu?

Kepalamu kau cukur
Helaian rambutmu pun gugur
Luruh bersama simbolik dirimu yang lalu
Kini bangun dirimu yang baru

Bukan sekadar membunag setipis rambut…
tetapi mengungkai fikiran yang berkabut
Bukan sekadar membersih kepala…
tetapi hakikatnya menjernih minda

Itulah rahsia tahallul
Meninggalkan diri yang kotor
Hijrah ke dunia yang luhur!

Di Madinah… di masjid Nabawi
Hati kita kan tersentuh oleh imbauan azannya
Terbayang sejarah anak yatim yang kesepian
Terbayang gembala kecil di padang pasir
Luka kakinya di Taif
Hilang kesayangannya di Badar
Gugur giginya di Uhud
Atap rumahnya dicecah jari
alas tidurnya berbekas di badan

Sujudlah, bertelekulah di situ
Tunduk malu di makam nabi
Di sana tersimpan jasadnya yang mulia
Rasul yang tak pernah jera berkorban…
Demi umatnya
Tega baginda pada semua derita

Hayatilah betapa malunya Rasul di Masjid Qiblatain
Ingin merayu tapi lidahnya kelu
Qiblat itu hak Tuhan…
tak layak dirinya memohon pertukaran
Namun Tuhan Maha Mengetahui resah di hati Rasululah
Lalu beralihlah qiblat dari Masjidil Aqsa… ke Baitullah
Rintihan Rasul-Nya terjawab sudah

Di Badar kita diajar bertawakkal
Betapa golongan sedikit bisa mengalahkan golongan yang ramai
Tetapi bila disiplin robek godaan harta
Uhud mengingatkan kita pada sebuah alpa
Pada batu-batu yang terdampar di kuburan Baqie
Terimbau deretan sahabat bagaikan bintang di langit

Terlalu banyak hikmah dalam kembara ini
Jika segalanya dilihat dengan matahati
Jiwa akan kukuh disepuh iman
Akal akan bersih disuluh iktibar
Fizikal akan kuat menempuh kesusahan

Haji kemuncak ajaran Islam
Haji kemuncak mehnah dan ujian
Padanya tersimpan rahsia kekuatan
Sudahkah terserlah apa yang tersimpan?

Bertamu tak jemu…
Berpisah tak gelisah…
Kenangan di Makkah dan Madinah
Adalah bekal safar abadimu…
bertemu Allah!

***DIPETIK DARIPADA BLOG USTAZ PAHROL

 

Posted in My Self. 2 Comment »

QURBAN

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (Qs. Al-Kautsar, 108: 2)

Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa’at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang kesusahan lagi fakir. (Qs. Al-Hajj (22): 27-28)

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan Qurban supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Rabb-MU adalah Allah yang satu karena itu berserah dirilah kamu kepada-NYA. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh.” (Qs. Al-Hajj (22): 34)

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan telah terikat. Kemudian apabila ia telah tumbang (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, supaya kamu bersyukur. (Qs. Al-Hajj (22): 36)

Dari Aisyah ra sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “Bahwa tidak ada amalan manusia pada hari raya adha yang lebih dicintai Allah SWT, selain mengalirkan darah hewan (maksudnya : menyembelih hewan qurban)” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi,… dan di katakan Hadits Hasan Ghorib (hadits hasan yang hanya punya satu riwayat)

“Tidak beriman kepada-Ku seorang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya lapar dan dia mengetahui” (HR. Bazzar dan Thabarani, Hadis Hasan)

Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berqurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. (HR Imam Thahawi *)

*) Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan liat Turats, dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram:

Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab: Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al-Mubarakfuri, cetakan Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur ulama, wallahu a’lam.

Dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah)”. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

“Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berqurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya”. (HR Ibnu Majah dan AtTirmidzi dan dishahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah dengan sanad shahih)

Catatan :

Waktu berqurban dimulai sejak tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah. Masa memotong qurban pada tanggal 10 disebut “Yaumul nahar” yaitu hari untuk menyembelih kurban. Sedangkan tanggal 11, 12, 13 dinamakan “yaumul tasyriq” Di luar waktu tersebut bila kita memotong hewan dinamakan sedekah. Maka kalau niatnya berkurban harus dilakukan padan waktu-waktu tersebut, yakni pada tanggal 10,11,12, dan 13 Dzulhijjah.

Subjek: Tambahan tentang Qurban

Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik amal bani Adam bagi Allah di hari Idul Adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani Adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya” (HR. Tirmizi, Ibnu Majah)

Abu Hurairah yang menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka janganlah ia mendekati masjidku” (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

Ini menunjukkan sesuatu perintah yang sangat kuat, jika tidak bisa dikatakan wajib.

HADITS2 SEPUTAR QURBAN

1. “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami.”
(HR. Ahmad, sanadnya hasan)

2. ”Barangsiapa memiliki hewan yang akan disembelih untuk qurban, apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”
(HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud). Dalam lafazh yang lain; "Hendaklah ia menahan diri dari memotong rambut dan kukunya".
Maksudnya adalah orang yang ingin berkurban hendaklah jangan memotong rambut/bulu /kuku maupun mengupas kulit yang ada pada dirinya mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih.
Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, ‘Amr bin Muslim pernah mendapati seseorang di kamar mandi sedang mencabuti bulu ketiaknya menggunakan kapur sebelum hari raya qurban. Sebagian mereka ada yang berkata: “Sesungguhnya Sa’id bin Musayyib tidak menyukai perkara ini.”

3. “ Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka tidaklah termasuk kurban sedikitpun, akan tetapi hanyalah daging sembelihan biasa yang diberikan untuk keluarganya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

4. “ Setiap hari Tasyriq ada sembelihan"
(Dikeluarkan oleh Ahmad (4/8), Al-Baihaqi (5/295), Ibnu Hibban (3854) dan Ibnu Adi dalam "Al-Kamil" (3/1118) dan pada sanadnya ada yang terputus. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabari dalam Mujamnya" dengan sanad yang padanya ada kelemahan (layyin). Hadits ini memiliki pendukung yang diriwayatkan Ibnu Adi dalam "Al-Kamil" dari Abi Said Al-Khudri dengan sanad yang padanya ada kelemahan. Hadits ini hasan Insya Allah, lihat Nishur Rayah" (3/61).) Hadits ini mengandung makna diperbolehkannya memotong sembelihan selama hari tasyrik. Demikian Imam Ahmad, sebagaimana dikutip Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zadul Ma`ad.

5. “ Nabi berkurban dengan dua domba jantan yang berwarna putih campur hitam dan bertanduk. beliau menyembelihnya dengan tangannya, dengan mengucap basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan satu kaki beliau di sisi-sisi kedua domba tersebut"
(HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

6. "Makanlah kalian, simpanlah dan bersedekahlah"
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud). Maksudnya daging qurban itu diperuntukkan untuk makan, disimpan, dan disedekahkan.

7. Ali radhiyallahu ia berkata,(yang artinya) : “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk mengurus kurban-kurbannya, dan agar aku bersedekah dengan dagingnya, kulit dan apa yang dikenakannyaa* dan aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan kurban itu. Beliau bersabda : Kami akan memberikannya dari sisi kami"
(HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad. Bukhari meriwayatkannya (1716) tanpa lafaz : "Kami akan memberinya dari sisi kami".)
*Dalam Al-Qamus yang dimaksud adalah apa yang dikenakan hewan tunggangan untuk berlindung dengannya.

Bacaan Kesukaan Para Remaja - SAAT CINTA TAK BERBALAS

Sebagai manusia biasa, kita tidak dapat memungkiri rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Mengambil istilah teman, “seakhwat-akhwatnya akhwat, tetap saja wanita biasa. Seikhwan-ikhwannya ikhwan tetap saja lelaki biasa”. Bagi kita para Ikhwah ‘jombloers’ mungkin saja pernah merasakan magnet yang begitu dahsyat, getaran hebat, desiran kuat, dan lain sebagainya saat kita bertemu dengan seseorang yang luar biasa menurut pandangan kita. entah ketampanan/kecantikannya, kesholehannya, atau banyak alasan yang lain yang seringkali tidak dapat dilogika, karena cinta tak kenal logika (katanya... hehehe...).
Terkadang disadari atau tidak, terbersit rasa yang manusiawi, sebuah anugerah Allah. Saya tidak akan menghakimi anda untuk segera membunuh rasa itu, tapi pandai-pandailah memanaj anugerah terindah itu. Ungkapkan jika kamu mampu dan berani, lalu melangkahlah ke jenjang berikutnya segera. Jika tidak, simpanlah rasa itu, dekatkan diri pada Pemilik Rasa, wallahualam apa yang terjadi berikutnya adalah urusanmu dengan-Nya.
“tapi ga sesimpel itu!! Ya kalo aku nyatakan terus diterima, kalo ga?”

Kalau ga, pasrahlah. Percayalah Allah akan memberimu yang lebih baik. Meski seringkali hasrat untuk hidup bersama sang pujaan begitu menggebu, namun apa daya jika cinta bertepuk sebelah tangan? Pendamlah rasa itu, kuburlah, simpan di suatu kotak kemudian kunci rapat dan letakkan kotak itu di sudut tergelap yang ada di hatimu. Kamu harus yakin, Allah paling Tahu apa yang terbaik bagimu. Dia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan. Anggap saja ini bagian dari liku kehidupan.

Suatu hari nanti saat kita telah menikah dengan orang lain -bukan dengan si dia yang kita idamkan- niscaya kita takjub dengan kebahagiaan yang kita rasakan. Jangan terlalu yakin gals, bahwa sang pujaan akan datang ke rumahmu. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan jodoh tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan karena kamu cantik maka para ikhwan menyukaimu. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud dawah lalu setiap akhwat mendambakannya.

Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya.
THANKS to Allah,

Yang telah memberikan kenikmatan atas rasa ini dan menyelamatkan diri ini dari segala angan-angan kosong.


TERIMAKASIH
Kepada seseorang yang selalu baik akhlaknya,,,

 

 

Posted in Campur. 3 Comment »

Menangislah, Karena Bidadari Itu Terlalu Mulia Untukku...

Hari ini ia sengaja datang ke kampus lebih pagi. Selain karena tak ingin terlambat di kuliah pertama, ia ada janji bertemu dengan Ustdz. Faridz di musholla kampus. Dia tegakkan dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid, disusul dengan 4 rakaat shalat Dluha. Lalu dia tengadahkan tangan melantunkan doa.
Dia menyambung ibadah paginya dengan tilawah tartil sambil menunggu Ustdz. datang. Seorang kawan menghampirinya. Dia tutup tilawahnya setelah menyelesaikan satu pojok.

“Assalamualaikum Akh Ilham…” sapa sang kawan ramah.
“Waalikumussalam warahmatullah… apa kabar akhi?” jawabnya sambil tak lupa bertanya kabar.


“Alhamdulillah ana bikhoiir… antum sendiri gimana? Kabarnya udah siap nikah nih…” mata sang kawan mengerling menggodanya. Dia cuma tersenyum, tak berniat menanggapi gurauannya.
“Akh, di sini ada bidadari.”


Bidadari? Darahnya berdesir. Ah, bidadari, kesannya indah.

“Sini, ana tunjukkan orangnya. Ini akhwat luar biasa, anak kedokteran, prestasinya brilian, aktivis kampus, ketua pembinaan dan kaderisasi akhwat, akhlaknya mengagumkan, ibadahnya tak diragukan. Dia pembina adik ane. Cocok banget sama antum!” kawannya menjelaskan panjang lebar, membuatnya penasaran.

Lalu, telunjuknya mengarah ke sosok seorang akhwat. Tak lama, yang dibilang bidadari itu sudah terlihat jelas.

“Masya Allah… itu yang dibilang bidadari? Mana ada bidadari hitam legam? Yang kubaca dalam Ibnu Katsir, bidadari itu cantik sekali, kulitnya putih transparan seperti putih telur. Eh, mana ada di dunia yang begitu ya.. paling ga, kuning langsatlah. Masa black begitu. Black sweet sih masih banyak yang mau, ini aku belum lihat sweetnya.” Dia menggerutu dalam hati. Tak berminat meneruskan percakapan.

“Akh, ane ke perpustakaan dulu yaa.. bidadari itu, buat antum aja.” Dia berpamitan.
“lho… sama ane mah ga sekufu akh!”
“Ya udah, assalamualaikum.” Ilham beranjak meninggalkan kawannya. Baru beberapa langkah, seorang marbot memanggilnya. Dan menyerahkan amplop putih titipan dari Ustdz. Faridz. Ustdz tidak bisa datang, makanya amplop itu ia titipkan.

“Hmm… ini biodata akhwat yang dijanjikan Ustdz.” langkahnya mantap menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk membuka dan membaca biodatanya.

Dia duduk di sana, mengatur nafasnya yang terengah, bukan karena capek, tapi sibuk menahan deburan dalam dada. Perlahan dia membuka amplop itu, sengaja ia tinggalkan selembar foto di dalamnya, dia akan melihatnya nanti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim… “ dia kuatkan hati membaca susunan huruf demi huruf dalam biodata. “Akhwat luar biasa, usianya, dua tahun dibawahku, lumayan, lebih muda. Pendidikan, kedokteran umum XX <edited> (sedang koas), Alhamdulillah… ayah dan ummi pasti senang sekali. Sepertinya pas untukku.” Gumannya bahagia. Dia berbunga-bunga. Lalu, diambilnya selembar foto di dalam amplop, ah… sebentar, biar kutenangkan diri… Bismillah…

Ah… kenapa akhwat ini?? Keluhnya. Bunga-bunga yang tadi bermekaran luruh satu persatu, beterbangan diterpa angin. Lunglai tubuhnya seolah tak bertenaga. Sesak memenuhi rongga dada.

Kenapa akhwat ini yang disodorkan padaku? Dia kembali mengeluh. Terbayang kembali akhwat berkulit legam dan sama sekali tidak cantik menurut ukurannya. “Semoga ia bukan jodohku..” doanya lancang. Ustadz… masa sih nyariin aku kayak gini? Kalau kayak gini sih.. aku juga bisa nyari sendiri. Congkak mulai merasuk.

Dikeluarkannya selembar foto. Foto diri yang sangat dibanggakan. Dia menatap mata elang yang mengagumkan. Hidung yang mancung, bentuk muka yang menawan. “Apakah salah jika aku menginginkan akhwat sholihah yang cantik?” Dia mendesah resah.


Dia Memang Bidadari

Ilham berusaha menyerahkan semua keputusan pada Allah. Ia akan berikhtiar dengan wajar dan berdoa dengan kesungguhan. Walau ia belum punya kemantapan namun ia akan mengosongkan perasaan buruk di hatinya. Ia akan berangkat dengan perasaan netral. Ia ingin semua langkah dimulai dengan kebersihan hati, kelurusan niat, ketergantungan yang besar pada Allah, dan kesungguhan ikhtiar. Ia tak ingin mengedepankan nafsu apalagi diiringi segala penyakit yang mengusamkan kalbu.

Taaruf yang ia jalani, bersama ukhti Dede -----nama akhwat yang disodorkan Ustdz. Faridz----- sangat wajar dan biasa saja. Ia didampingi Ustdz. Faridz, sedangkan Dede didampingi istri beliau. Komunikasi berjalan dengan baik, penyatuan persepsi lancar, pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar.

Ilham merasakan ada yang menarik hatinya. Wajah berkulit hitam itu memendarkan cahaya. Benar kata adiknya, jika berbicara sedap dipandang dan didengar. Inilah relativitas kecantikan, meski ada kecantikan yang diakui semua orang.

Ilham sempat deg-degan dan merasa was-was ikhtiarnya akan gagal ketika orangtua Dede mengujinya.

“Abah sudah dengar tentang kebaikan akhlak dan aktivitasmu. Sekarang Abah ingin mendengar langsung bacaan Quranmu. Abah tak akan menyerahkan putri Abah pada seseorang yang tidak bagus bacaan Qurannya.” Begitulah ujiannya. Alhamdulillah semua lancar dan ia diterima meski banyak catatan.

Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya Ilham dan keluarganya datang untuk mengkhitbah Dede. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Ilham yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.

Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dede, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.

Takdir Allah terjadi atasnya. Selama ini ia giat berdakwah di sebuah desa tertinggal. Desa yang dahulu nyaris kehilangan keislamannya, bergairah kembali dengan pembinaan rutin dari Dede dan kawan-kawannya. Rupanya, hal itu tidak disenangi oleh misionaris yang selama ini hampir berhasil memurtadkan penduduk desa itu.

Dia dibunuh, dalam perjalanannya sepulang dari baksos di desa itu. Dan ia dibunuh, karena mempertahankan akidahnya. Karena mereka tidak berhasil memaksanya untuk menukar keyakinannya dan meninggalkan aktivitas dakwahnya.

Ilham tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak disuntingnya. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.

Dalam desahnya ia bergumam,
“Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Seorang Ilham tak diizinkan Allah untuk sekedar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku, yang dulu sempat sombong terhadapmu.” Wajahnya tertunduk dalam.

“Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan.” Gumamnya penuh penyesalan.

Saatnya berDakwah Kawan!

Karena yang dulu2 udah dikirim artikel tentang ilmu dan macam2nya, kini saatnya kita praktekin tugas dan kewajiban kita, yaitu DAKWAH!

Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.

Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.

Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.

Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)

Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.

Seputar Permasalahan Yang Sering Terjadi Dalam Hidup

KENAPA AKU DIUJI?

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta"[Al-Ankabut: 2-3]

KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?

”... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" [Al-Baqarah: 216]

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“ [Al-Baqarah: 286]

RASA FRUSTASI?

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [Ali Imran: 139]

BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. “ [Al-Imran: 200]

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” [Al-Baqarah: 45]

APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah: 111]

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

"…Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung." [At-Taubah: 129]

AKU SUDAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!

"… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." [Yusuf: 87]

WASPADA TERHADAP "VIRUS MERAH JAMBU = VIRUS CINTA"

Waspada terhadap munculnya Virus Baru.. Virus Merah Jambu..sering diidentikkan dengan rasa "aneh" yang hinggapi hati-hati yang lalai, lalai dari mengingat Allah, lalai beribadah, lalai pada keinginan, hasrat tuk raih Syahid.. dan lalai terhadap tujuan akhir yang akan ditempuh.. dan tanpa disadari, bisa menggeroti file-file rasa ikhlas dalam dada, merusakkan imun amal, membuat pipi bersemu merah, angan pun melayang tak tentu arah, lalu mengacaukan sistem pertahanan hard disk Iman ..

Hati-hati !! karena virus hati tak dapat diawasi keberadaannya..tak dapat dikenali wujudnya.. Its very danger untuk lebih kita cermati, untuk lebih kita hayati keberadaannya.. hingga kita pun harus tahu tanda munculnya Virus Merah Jambu.. harus bisa meraba apa yang seharusnya kita rasa..rasa yang tak terkendali, asa yang terus menari, angan yang terus melayang, harap yang masih bertahan..ada ingin yang terus gayuti kalbu. Ahh..Virus Merah Jambu.. begitu indah untuk di rasa, begitu resah yang membara.. saat mengingat dia.. saat bersamanya, saat temui sosoknya - dia dan hanya dia.. seseorang yang spesial untuk kita, yang berarti untuk kita..seseorang yang merajai tiap langkah kita, seseorang yang.. Ehm.. begitu mempesona..

Virus Merah Jambu..bagaikan darah yang mengalir saat melewati tiap aliran nadi kita, merusakkan kabel - kabel darah yang ujungnya selalu di gayuti oleh setan yang selalu tertawa lebar melihat kegagalan kita meraih RidhoNya.. Dan Virus Merah Jambu pun menembus ke ulu hati.. meluluhlantakkan pusat sistem otak syaraf dan akal kita.. Lets talk about it..

Yup.. Virus Merah Jambu.. �VIRUS CINTA�.. yang paling melenakan kita, paling berbahaya dari virus komputer akal yang pernah ada.. Virus Merah Jambu bisa timbul karena ada tangan dan pihak ketiga yang menelusup ke tiap sanubari kita, yang munculkan was-was pada diri kita..ketika kita tak bersamanya..saat tak bertemu dengannya.. ketika dan ketika.. segala waktu kita persembahkan untuknya.. Yang ada hanya resah terasa, dan rasa cinta yang kobarannya kalahkan api membara, yang penanya setajam pisau rajam, yang mulutnya, matanya, bibirnya, hidungnya, tangannya, sekujur tubuhnya.. selalu bertasbih namanya..selalu menyebut namanya.. Dan.. aacchh.. CINTA.. nama yang begitu indah dan bermakna..

Tak heran rasanya kalau mendengar / baca kisah si Virus Merah Jambu alias cinta..bagaimana tajamnya pisau cinta yang singgah ke hati majnun dan laila.. Karena pada tiap manusia menginginkan cinta, membutuhkan cinta, karena cinta menimbulkan keasyikan, kesetiaan, kemesraan dan rasa kasih sayang, lalu mempertahankan cinta dengan taruhan nyawa, harta atau bahkan tahta sekalipun jadi tidak mengapa..

Akan tetapi bila rasa mulai pudar, bila rasa mulai sirna..suasana hati jadi berubah..rasa setia jadi ingkar-curiga..asyik dan mesra jadi bosan-memuakkan, kasih sayang menghilang, rasa ingin bersama jadi pengen berpisah, berjauhan, tidak tegur sapa..endingnya broken heart..putus cinta..N sekali lagi.."Cinta"..trus menyerang, memadamkan api yang mulai berkobar..

Perhatikan apa yang difirmankan Allah dalam Surat Al Jaatsiyah (45) : 23.."Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat sesuai dengan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menjadikan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah lagi yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat) Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?".

Amati sekali lagi Surat Al Baqarah (2) : 65.. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cintanya kepada Allah..". Astaghfirullah..

Seorang hamba yang dilanda cinta, selalu ingat akan cintanya, selalu ingat akan kekasihnya. Setiap kesempatan akan digunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi hasrat cintanya. Begitu juga halnya dengan seorang hamba yang tulus cintanya pada Khaliqnya, ia senantiasa akan selalu ingat kepadaNya. Semua daya upaya dipersembahkan untuknya, meski untuk mempertahankan kebahagiaan hidupnya ia harus mempertaruhkan hartanya, kedudukan, kekuasaan, perniagaan, anak, istri, dan keluarganya, serta tak lupa jiwa raganya pula.

Dalam Firman Allah SWT, Qs At Taubah (9):24.." Katakanlah:"Jika bapa-bapamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik".

Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak mau memberi kecuali karena Allah, maka dia sudah menyempurnakan imannya". (HR. Abu Daud) ; "Tidaklah seorang hamba mendapatkan manisnya Iman kecuali harus terdapat di dalam hatinya 3 aspek berikut : Hendaklah Allah dan RasulNya paling ia cintai dibanding yang lainnya, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan hendaklah ia benci untuk kembali pada kekufuran setelah Allah selamatkan ia sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka" (HR. Bukhari Muslim).

So.. Virus Merah Jambu.. yang menguasai hati.. jika kita tegas menyikapinya, jika kita bisa rusak jaringannya (atau mampu jadi hacker nya hati), jika kita mampu mengendalikannya, jika kita tahu keberadaannya.. niscaya hati mampu mengontrol semua perilaku kita, semua cinta kita jadi terkendali karena Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah wajib, apalagi Virus Cinta..

Mencintai Allah seperti kekasih.. Allahu Akbar !! (Ya Allah..jadi rindu dech sama Allah !!), tiap disebut namaNya.. bergetarlah hati kita (Surat Al Anfaaal (8) : 2.."Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal".. Subhanallah), ada pesona alam yang kita kagumi, dari ciptaannya sekecil atom sampai yang membentang di jagad raya, tak ada yang dapat menandinginya.. Lalu bagaimana khabarnya..Hai Virus Merah Jambu ?? Apakah sudah tahu keberadaanNya ?? Apakah sudah terkendali ?? Atau sudah musnah ?? Kuraba lagi sendi-sendi hati.. Alhamdulillah..sudah terkendali, Alhamdulillah..sudah tiada.. Kini yang ada hanya cinta untukNya.. Yup, Cinta untuk Allah yang tak dapat ditandingi hasratnya, yang tak dapat dicerna maknanya..Subhanallah..

"Katakanlah : jika kalian memang cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, pastilah Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Qs. AliImran (3) : 31).

Pisau tak selamanya dapat membunuh seseorang... penapun terkadang lebih tajam dari sebilah pisau. Maka amati hati dengan cara yang maruf..luruskan niat dan bertawwakallah pada ALLAH SWT.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kamu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu, serta amal yang menyampaikan kami kepada cintaMu.. (Dari berbagai sumber "Cinta" yang tersedia !!).

------------------
Dedicated for: " . " yang pernah menghuni hati..Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya .. Lalu, kucoba kembali atur gelombang asa.. Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu..

Hati-hati Mengumbar Cinta! Ada Ancaman Allah!

Bismillah. Cinta. Semua orang kenal kata ini. Untuk orang di Nusantara ini bahkan orang yang pernah belajar atau  pergi ke nagara-negara di bahasa ini digunakan pasti kenal cinta. Orang tua ada cinta, orang muda apa lagi, orang ndeso, orang kota, orang besar, wong cilik, orang kaya, orang tak kaya, orang cantik, orang kurang tak cantik, orang ganteng, orang tak ganteng semua deh ada cinta. Banyak yang menjadi bahagia karena cinta, ada juga  yang masuk penjara karena cinta, ada yang gila karena cinta dan banyak lagi. Bolehkah kita mengumbar cinta? Sebetulnya tidak boleh. Cinta ada batas. Jangan diumbar. Tulisan ini mengajak kita untuk mengawal cinta melalui ancaman Allah.

 

Allah mengatakan, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”  Q>S. Attaubah ayat 24.

 

Semua kita pasti ada rasa cinta kepada orang-orang di sekitar kita, harta benda, profesi, perdagangan, pangkat, lawan jenis dan sebagainya. Wajar saja. Manusiawi kok. Hanya saja ayat ini secara khusus untuk mengajak kita untuk instrospeksi diri agar lebih “membanyakkan” porsi cinta kepada Allah dan rosulNya serta berjihad di jalan Allah.

Mengapa? Cinta kepada Allah dan rasulNya serta berjihad di jalan Allah akan menjadikan kita tepat dalam penggunaan amanah yang Allah berikan. Kalau kita lebih mencintai Allah dan RasulNya maka kita akan tahu bagaimana kita bersikap kepada orangtua. Kita akan lebih tahu bagaimana hakekat harta, tahta dan lawan jenis. Jika demikian juga kita akan tahu bagaimana pengelolaan waktu kita supaya dalam menghadapi perdagangan, harta dan sebagainya tidak sampai menjadikan kita lupa daratan.

Mencintai Allah, RasulNya dan berjihad di jalan Allah akan menjadikan kita tidak egois, mensyukuri nikmat Tuhan dan peduli kepada sesama. Bukankah manusia lain memerlukan “belaian” tangan kita sehingga mereka juga memeperoleh hidayah taufiq yang menjadikan mereka taat pada Allah dan RasulNya. Karena mereka juga ingin bahagia di dunia dan di akhirat.

Bukankah manusia lain yang terkadang sudah muslim tetapi lalai dalam sholatnya. Bukankah banyak saudara kita hari-hari tengah membangun jalan ke neraka tetapi kita tidak ada waktu untuk mengingatkan dan menegurnya. Bukankah banyak saudara kita sendiri telah lama tidak kenal Allah apalagi mau taat padaNya. Bukankah banyak di antara kita (termasuk penulis) sudah lama perlu dibawa ke dokter cinta karena salah dalam mengumbar cinta. Nah saudaraku, banyak sekali “peer” kita, sehingga kita jangan sampai salah dalam mengumbar cinta.

 

 

Ya Allah

Jika aku jatuh cinta

Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu

Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Ya Muhaimin

Jika aku jatuh cinta

Jagalah cintaku pada apa-apa selainMU agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah

Jika aku jatuh hati

Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu

Agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta semu

Ya Rabbana

Jika aku jatuh hati

Jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu

Ya Rabbul Izzati

Jika aku rindu

Rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu

Ya Allah

Jika aku rindu

Jagalah rinduku padanya agar aku tidak lalai merindukan surga-Mu


Ya Allah

Jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu

Jangan biarkan aku melampaui batas

Sehingga aku lupa pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu

Ya Allah

Jika aku menikmati cinta kekasih-Mu

Jagalah kenikmatan itu janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu

Dan Ya Allah

Aku mohon izinkanlah seseorang itu menjadi teman sejatiku

Ya Allah

Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu

Telah berjumpa dalam taat pada-Mu

Telah bersatu dalam dakwah pada-Mu

Telah berpadu dalam membela syariat-Mu


Ya Allah

Kokohkanlah ikatannya Kekalkanlah cintanya

 

Tunjukilah jalan-jalannya

 

Penuhilah hati-hati kami dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu

Dan keindahan bertawakal di jalan-Mu

Posted in Campur. 1 Comment »

Ustadz Abu Sangkan Versus Abu Umamah

Beberapa Jam yang lalu, saya kedatangan tamu seorang sahabat, namanya mas wanto. Seperti biasa kalo sudah ketemu, kami ngobrol ngalor ngidul, ditemani kopi hangat, rokok surya ditambah hidangan jajanan ringan turahan hari raya (THR), jadi obrolan makin mantabs saja, apalagi dihadapan kami ada keripik jamur tiram, yang rasanya sangat nikmat ngungkuli rasa enaknya keripik belut.


Sambil terus ngemil, tiba saatnya kang wanto bercerita tentang Ustadz Abu Sangkan, yang katanya "di bulan puasa kemarin sering muncul di acara Metro TV membahas tentang Kaifiyyah Shalat.


Terus terang nama ustad Abu Sangkan masih sangat baru di telinga saya, selama hidup di
indonesia, emang dulu hidup dimana? maklum saya gag punya TV. Nah! Dalam obrolan segar tersebut kang wanto bercerita kalau dia sangat tertarik dengan konsep belajar shalat khusu yang diajarkan oleh ustadz abu sangkan.


Saya pun mantuk-mantuk saja mendengarkan cerita dari kang wanto. Setelah kang wanto pulang,
saya jadi penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang konsep belajar shalat khusu yang diajarkan ustadz abu sangkan. Saya juga jadi tertarik untuk mencari tahu, tentang siapa sebenarnya ustadz abu sangkan?. Terus ngambil HP Nokia 7610 kesayangan, ceck pulsa, terus browsing alias googling. Ni HP Nokia 7610 emang mantabs, meski gag punya TV tapi teuteup bisa ngeblog. indosat


Hanya saja cukup mengejutkan,
keyword abu sangkan menghantarkan saya ke sebuah blog forum indonesia yang mana di dalam forum tersebut terdapat artikel yang menyebutkan tentang penyimpangan-penyimpangan abu sangkan. Kalau tidak salah penulisnya bernama ustadz abu umamah. Inti dari Artikel tersebut adalah ustadz abu umamah menganggap bahwa konsep belajar shalat khusu  yang diajarkan dan dikenalkan oleh ustadz abu sangkan adalah bidah. Saya tidak apa ini fitnah, tuduhan atau apalah namanya! Yang jelas dalam artikel forum tersebut menyiratkan perbedaan pendapat dan pandangan antara dua orang ustadz.


Weleh-weleh ustadz kok malah pada ribut, jadi bikin ribet ummat aja, pada rebutan benar semua kaya robot aja. Kesimpulan sementara, berarti Ustadz Abu Sangkan Versus Abu Umamah. Waduh kepiye iki to.


Yo wislah sampai di sini cerita kali ini, besok pasti disambung lagi. Wis ngantuk aku. Salam
sungkem dan salam cinta kepada Ustadz Abu Sangkan dan Ustadz Abu Umamah semoga keduanya bisa segera duduk bersanding untuk bermusyawarah sesuai ajaran Al Quran.

Posted in Campur. 0 Comment »

Berkhidmat dan Berbakti Pada Suami

Ketika seorang suami pulang dari tempat bekerja, yang biasa ia lakukan adalah mengisi waktu untuk beristrirahat. Namun sering juga kita menjumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam urusan pekerjaan rumah tangga, sementara sang istri malah asyik ngerumpi dan ngebanyol di serambi rumah tetangga. Lalu bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini?


Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang istri yang shalihah yang menandakan baiknya hubungan interaksi kepada suaminya adalah berkhidmat dan berbakti kepada sang suami dan membantu menyelesaikan pekerjaan suami sebatas yang ia mampu. Wanita Sholihah tidak akan membiarkan sang suami melayani dirinya sendiri, sementara ia sendiri duduk berpangku tangan menyaksikan apa yang dilakukan oleh suaminya. Wanita Sholihah akan merasa enggan bila sang suami sampai tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti memasak, merapikan tempat tidur, mencuci, dan sebagainya, sementara ia masih mampu untuk menanganinya. Sehingga tidak mengherankan bila kita mendapati seorang istri shalihah menyibukkan diri melalui hari-harinya dengan memberikan pelayanan terhadap suaminya, mulai dari menyiapkan tempat tidurnya, makandan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan suami lainnya. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan, kerelaan dan kelapangan hati disertai niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Taala. Dan sungguh ini merupakan bentuk perbuatan ihsannya seorang wanita sholihah kepada sang suami, yang diharapkan darinya ia akan memperoleh kebaikan.


Berkhidmat dan Berbakti kepada suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari golongan shahabiyyah, seperti yang dilakukan Asma binti Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhuma yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu anhu, suaminya tercinta.


Ia mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh *1 farsakh kurang lebih 8 km atau 3,5 mil*" (Hadist Riwayat Bukhari no. 5224dan Muslim no. 2182)


Demikian pula khidmat dan berbaktinya Siti Fathimah bintu Rasulillah, Shallallahu alaihi wa sallam di rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, sampai-sampai kedua tangannya menjadi lecet-lecet karena menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk meminta seorang pembantu,sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang lebih baik:


أَلاَ أَدُلُّكُماَ عَلَى ماَ هُوَ خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُماَ إِلَى فِرَاشِكُماَ أَوْ أَخَذْتُماَ مَضاَجِعَكُماَ فَكَبَّرَا أًَرْبَعاً وَثَلاَثِيْنَ وَسَبَّحاَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِّدَا ثَلاَثاً وَثَلاثِيْنَ، فَهَذَا خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ


"Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali,dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu." (Hadist Riwayat Al-Bukhari no. 6318 dan Muslim no. 2727)


Seorang Shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu, menikahi seorang janda untuk berkhidmatdan berbakti kepadanya dengan mengurusi saudara-saudara perempuannya yang masih kecil. Jabir bercerita: "Ayahku meninggal, dan beliau meninggalkan 7 atau 9 anak perempuan. Maka aku pun menikahi seorang janda. Laku Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya padaku:


تَزَوَّجْتَ ياَ جاَبِر؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقاَلَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّباً؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّباً. قاَلَ: فَهَلاَّ جاَرِيَةً تُلاَعِبُهاَ وَتُلاَعِبُكَ، وَتُضاَحِكُهاَ وَتُضاَحِكُكَ؟ قاَلَ فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَ تَرَكَ بَناَتٍ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقاَلَ: باَرَكَ اللهُ لَكَ، أَوْ قاَلَ: خَيْرًا


"Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?"
"Sudah," jawabku.
"Dengan gadis atau janda?" tanya beliau lagi.
"Dengan janda," jawabku.
"Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersamanya dan ia bisa tertawa bersamamu?" tanya beliau.
"Ayahku, Abdullah, meninggal dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yang sama dengan mereka. Maka aku pun menikahi seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat mereka," jawabku.
Beliau berkata: "Semoga Allah memberkahimu", atau beliau berkata: "Semoga kebaikan bagimu." (Hadist Riwayat Al-Bukhari no. 5367 dan Muslim no. 1466)


Sahabat Hushain bin Mihshan berkata: "Bibiku berkisah padaku, ia berkata: "Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam karena suatu kebutuhan, kemudian beliaupun bertanya:


أَيْ هذِهِ! أَذَاتُ بَعْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَم. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قُلْتُ: ماَ آلُوْهُ إِلاَّ ماَ عَجَزْتُ عَنْهُ. قاَلَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّماَ هُوَ جَنَّتُكَ وَناَرُكَ


"Wahai wanita, apakah engkau telah bersuami?"
"Iya," jawabku.
"Bagaimana engkau terhadap suamimu?" tanya beliau.
"Aku tidak mengurang-ngurangi dalam mentaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali apa yang aku tidak mampu menunaikannya," jawabku.
"Lihatlah di mana keberadaanmu terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu," sabda beliau. (Hadist Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hal. 179)


Namun di sisi lain, suami yang baik tentunya tidak akan membebani istrinya dengan pekerjaan yang tidak mampu dipikul oleh istrinya. Bahkan ia melihat dan memperhatikan keberadaan istrinya kapan sekiranya ia membutuhkan bantuan.


Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah gambaran suami yang terbaik. Di tengah kesibukan mengurusi umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Taala, beliau selalu menyempatkan waktu untuk membantu keluarganya dan mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan untuk dirinya sendiri tanpa membebankan kepada istrinya, sebagaimana diberitakan istri beliau, Aisyah radhiallahu anha ketika Al-Aswad bin Yazid bertanya kepadanya:


ماَ كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْبَيْتِ؟ قاَلَتْ: كاَنَ يَكُوْنُ فِيْ مِهْنَةِ أَهْلِهِ -تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ-فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ


"Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam rumah?"
Aisyah radhiallahu anha menjawab: "Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat." (Hadist Riwayat Al-Bukhari no. 676, 5363)


Dalam riwayat lain, Aisyah radhiallahu anhaa menyebutkan pekerjaan yang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lakukan di rumahnya:


ماَ يَصْنَعُ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ، يَخْصِفُ النَّعْلَ وَيَرْقَعُ الثَّوْبَ وَيُخِيْطُ


"Beliau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya." (Hadist Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 540, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 419dan Al-Misykat no. 5822)


كاَنَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ، يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شاَتَهُ


"Beliau manusia biasa. Beliau menambal pakaiannya dan memeras susu kambingnya". (Hadist Riwayat Al- Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 541, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 420dan Ash-Shahihah 671)


Wallahu alam bish-shawab, semoga Artikel Islami ini dapat memberi manfaat dan menambah hazanah keilmuan kita, Amiin

Posted in My Self. 0 Comment »

Beratnya Cinta Hanya Untuk Dia

Manusia dan Cinta tak pernah terpisahkan, setiap manusia pasti memiliki cinta, dan cinta ternyata mampu membius segalanya, ini fitrah. Ketika cinta telah berbicara, apa yang dapat mengalahkan. Hanya saja kita terkadang lupa, siapa sebenarnya yang pantas kita cintai?.


Manusia bisa saling mencintai, sesama jenis dalam konteks shilah, maupun dengan lawan jenis dalam perspektif ukhuwah. Namun ketika ditanya, Apakah engkau mencintai tuhanmu lebih dari segalanya?, jawabannya rata-rata ia. Namun pada prakteknya sering berseberangan. Ini yang sulit dimengerti.


Sepertinya saya tidak salah jika mengatakan betapa Berat cinta hanya untuk Dia, karena memang inilah kenyataannya. Manusia lebih akrab dengan duniawi daripada TuhanNya. Sehingga sering terjadi cinta terhadap duniawi mengalahkan cinta terhadap Tuhannya. Padahal Cinta kepada Allah adahal yang sangat utama.


Kita bisa belajar banyak dari kisah Robiah Al Adawiyyah yang rela tak menikah demi cintanya kepada Rabb. Tidak munafik rasanya, jika Cinta hanya untuk Dia, Sang Perkasa, memang berat. Namun tidak ada salahnya jika terus dicoba. Allah mengirim surat kepada Manusia dengan Alquran, apa berat membaca surat cintanya,yang penuh dengan kata-kata indah dan janji-janjiNya, bukankah Allah Tidak Pernah mengingkari Janji?. Mungkin kita belum lupa, ketika kita masih remaja, mendapat kiriman lembaran surat cinta dari sang kekasih. Kemanapun pergi, surat cinta itu sengaja dibawa, dan dibaca berulang-ulang. Alangkah nistanya kita, jika kita merasa tak sempat membaca surat cintaNya.


Semoga teriring berjalannya waktu, rasa cinta kita kepada Allah, senantiasa dan selalu tumbuh. Amiin. Dan mudah-mudahan koleksi Artikel Religi di blog ini semakin banyak dan bermanfaat.

Posted in My Self. 0 Comment »

Cinta Pada si Dia? Atau Cinta Kepada DIA?

Seorang remaja yang sedang jatuh cinta terhadap seorang lawan jenisnya, punya beberapa ciri khusus. Kalau mendengar nama si dia disebut-sebut, remaja yang kasmaran ini langsung bergetar hatinya. Kadang mukanya bisa berubah warna jadi merah jambu. Timbul perasaan di dalam hatinya, bukan rasa anggur, bukan rasa strawberry, tapi rasa cinta, yang sulit diukirkan dengan kata-kata (begitu kata beberapa pujangga). Buat yang tidak bisa mengatur dan menyimpan perasaan biasanya bisa salah tingkah. Apalagi kalau bertemu orangnya langsung.

Remaja yang kasmaran senang banget kalau dapat surat dari doi. Tulisannya disimpan baik-baik, dibaca berulang-ulang, kadang sampai lupa sudah berapa kali tuh tulisannya dibaca. Lekuk-lekuk hurufnya diperhatikan dengan teliti, kertasnya dijaga rapi jangan sampai lecek, dan sebagainya. Pokoknya tulisan si dia itu selalu dianggap surat cinta walaupun surat itu kadang bukan surat cinta. Semakin dibaca lagi, semakin tambah cinta, begitu kira-kira. Ya namanya juga lagi kasmaran, apa aja yang datang dari doi itu dianggap "wah" deh, bikin hati jadi "pinky".

Jangankan surat, sms dari si dia saja bisa disimpan berhari-hari, malah sampai memory handphone penuh loh. Begitu juga email. Terus, kalau doi minta tolong sesuatu, diusahakan deh bisa segera dipenuhi. Betul-betul pengorbanan cinta. Dunia serasa milik berdua.

Itulah sosok remaja yang sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Dia ingin sekali mendapatkan perhatian dan tempat khusus di hati sang pujaan hati.

Itulah cinta, cinta manusia pada seorang manusia.

Tapi ada bentuk cinta yang lain lagi. Inilah cintanya orang yang beriman. Bagaimana itu? Ayo kita baca firman Allah SWT berikut ini:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka..." (QS. Al Anfal: 2)

Tidak ada yang lebih mereka cintai selain kepada Allah Yang Maha Pecinta. Bagi mereka, cinta kepada Allah adalah cinta yang paling utama, baru bisa mencintai yang lain karena Allah. Maka gemetarlah hati mereka manakala disebut nama Allah.

Lalu ciri mereka berikutnya adalah,

"...dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al Anfal: 2)

Kalau remaja kasmaran tadi semakin cinta ketika membaca surat dari doi, maka orang yang beriman ini semakin cinta, semakin beriman kepada Allah ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Orang ini percaya sepenuhnya kepada Allah. Dia tidak mengeluh terhadap perintah Allah, dia ridha kepada Allah, dan dia cinta kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan bertawakal kepada Allah.

Cinta mereka kepada Allah tidak cukup sampai di sini. Perasaan cintanya tidak hanya manis di bibir saja dan tidak hanya untuk dirinya saja. Tapi cintanya juga direalisasikan. Dia mendirikan shalat, dan juga menafkahkan sebagian rizkinya

"(orang-orang yang beriman yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. Al Anfal: 3).

Oleh karena itu berbahagialah jika di sekitar kita ada teman yang mencintai Allah. Karena orang yang mencintai Allah pasti juga mencintai sesamanya, dia pasti juga menyayangi sesama manusia. Jika dia diberikan rizki oleh Allah, maka dia akan menafkahkan sebagian rizkinya itu untuk yang lain yang membutuhkan.

"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nimat) yang mulia." (QS. Al Anfal: 4)

Inilah cinta hakiki, yang dimiliki oleh mereka yang beriman dengan sebenar-benarnya. Balasan bagi para pecinta sejati adalah beberapa derajat ketinggian di sisi Allah dan ampunan serta rizki yang mulia.

Jadi kita mau pilih yang mana? Cinta semu yang hanya mengharapkan rasa sayang dari si doi (setelah itu kita semua mati), ataukah cinta hakiki yang mendapatkan beberapa derajat ketinggian di sisi Allah dan ampunan serta rizki yang mulia?

Orang yang berakal sehat, tentu akan memilih model cinta yang kedua.

Posted in Campur. 0 Comment »

SEPORSI CINTA?

Suatu malam, seorang teman mengirim pesan pendek pada saya yang sedang asyik bercengkrama dengan keyboard dan layar komputer. Dalam pesan pendeknya, ia menulis kata-kata yang tiba-tiba mampu menghentikan aktivitas saya dalam sejenak. Ia tak bertanya tentang PR-PR organisasi yang selama ini jadi menu sehari-hari kami. Ia pun tak bertanya tentang kabar kuliah atau kegiatan menulis saya. Ia hanya mengirim saya kata-kata ini.

"Cinta itu begitu luar biasa ya, mampu membuat kita tergugu dengan berjuta harap juga rindu, bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kita cintai. Hingga wujudnya sudah mencipta resah, cemas, juga doa-doa."

Lama saya tak membalas pesan pendeknya. Bukan karena malas, tapi saya harus mencermati setiap kata yang ia tuliskan di layar kecil itu. Adakah ia serius atau hanya ingin ‘perang kata-kata dengan saya. Dan setelah saya berpikir agak lama, saya membalasnya. Hingga saya harus menghentikan aktivitas saya sejenak karena setelah itu kami terus saling berbalas pesan pendek.

"Tapi, cinta pun menyediakan air mata... Bagaimanapun, ketika kita terjebak dalam sebuah rasa yang awalnya mungkin tak kita sadari, harusnya kita bisa jadi lebih dewasa. Bagaimanapun -sekali lagi- cinta akan tetap indah jika ia disembunyikan hingga hanya kita dan Allah saja yang tahu."

"Cinta itu ibarat warna, jadi ketika kita merasakan ada getar yang tak terdefinisi, itulah cinta. Hanya saja, kita tak tahu cinta dengan warna apa dan seberapa kuat pendarnya menerangi hati kita. Ada orang yang menyadari warna cinta dan kuatnya pendar itu langsung ketika dekat dengan orang yang dicintai.ada juga yang baru sadar ketika orang tercinta telah pergi."

"Sesungguhnya aku tak menyadari apa yang aku rasakan. Mencintai bagiku adalah suatu hal yang membuatku bahagia, tapi dicintai terkadang bisa menyisakan satu rasa yang tak terdefinisi dan mungkin saja membuat kita terluka. Hingga pada akhirnya kita lah yang harus berkorban agar tak melihat pendar kekecewaan pada wajahnya. Karena itu, mengapa harus sedih jika hanya bisa mencintai dari jauh? Balasan cinta tak harus dari orang yang kita cintai kan!"

"Benarkah balasan cinta itu akan kita peroleh dari orang yang tidak kita cintai? Tidakkah itu justru akan semakin menyakitkan kita atau setidaknya bukan cinta yang kita berikan pada orang lain itu, melainkan hanya rasa sayang atau kasihan..."

"Ya, itulah keajaiban sebuah cinta! Kita mungkin tak menyadari bahwa masih ada orang yang mencintai kita dengan setulus hati. Memang, mengejar apa yang kita cintai akan membuahkan satu rasa paling indah jika itu tercapai. Tapi, bukankah lebih indah memberi cinta pada orang yang mencintai kita setulus hati? Yah, pada akhirnya kita harus memilih. Tapi, yakinku hanya satu, bahwa cinta tetap indah pada akhirnya..."

"Ya, cinta akan tetap indah pada akhirnya. Karena cinta penuh dengan sensasi yang tak habis untuk dinikmati dan dikenang. Bukankah cinta butuh proses? Proses itu lah seni keindahannya... mungkin memang tepat satu kalimat ‘Surga hanya diperuntukkan bagi para pencinta."

Pesan-pesan pendek itu menjadi smacam renungan untuk saya, dan mudah-mudahan bagi kita semua. Bahwa cinta seindah apapun akan bisa menciptakan luka jika terlalu mengejarnya dengan porsi yang tak seharusnya. Tapi di sisi lain, cinta bagaimanapun rupanya bisa menciptakan kebahagiaan jika diporsikan sesuai kadarnya.

Cinta memang sepatutnyalah bisa membuat kita jadi lebih dewasa dan bijaksana. Tanpa perlu label khusus bagi kebanyakan pecinta muda yang belum sepenuhnya mengerti makna sesungguhnya. Sepatutnyalah cinta diporsikan sesuai dengan kebutuhan dan hak sesorang atau Dzat yang memberi kita cinta. Jikalah ada seseorang yang memberi kita cinta, mungkinkah cintanya akan melebihi cinta yang telah diberikan Dzat pencipta cinta itu? Maka, bertanyalah pada diri kita sekarang. Seberapa besar porsi cinta yang telah kita berikan pada Pencipta Cinta? []

Posted in My Self. 1 Comment »

Cinta itu Anugerah

Masya Allah, seandainya aja kita tau betapa indah anugerah yang Allah berikan pada kita. Begitu indah dunia dengan hadirnya cinta. Cinta adalah anugrah terindah yang pernah diterima manusia,dan akan selalu hidup dalam setiap hati manusia. Cinta bukanlah benda yang diberikan begitu saja dan lalu bisa kita buang bila kita tidak menyukainya.

Banyak cara untuk mencintai, banyak jalan menuju kebahagiaan. Allah memberi kemudahan, Allah juga memberi kesulitan dan cobaan. Namun hanya manusia yang melihat dengan mata hati dan berpikir dengan hati dan cinta yang dapat mengubah semua cobaan dan kesulitan menjadi kemudahan.

Cinta tidak pernah menghitung berapa lama kita menjalin suatu hubungan, tetapi bagaimana kita bisa membuatnya berkembang dengan indahnya. Cinta hanyalah sebuah awal dari seluruh hidupmu. Dan inilah awal hidupku.

Cinta tidak akan pernah mengungkap keburukanmu, tidak pernah membuka sisi negatifmu, dan cinta akan menutup semua kejahatanmu. Cinta adalah saat kamu merasakan bagaimana buruknya keadaanmu setelah kamu kehilangan seseorang yang begitu berarti untuk dirimu, seseorang yang telah mengubah dirimu, seseorang yang membuatmu merasa penting dan akan selalu dibutuhkan. Pada saat itulah cinta datang memberimu harapan untuk dapat hidup kembali dan membiarkanmu meraihnya dengan cara apapun. Cinta akan membantumu menjalani kehidupanmu dengan lebih mudah.

Pada dasarnya cinta tidak akan pernah menyakitimu. Hanya saja kau telah menempuh jalan yang salah untuk meraihnya. Cinta adalah seindah-indah perasaan yang pernah dirasakan manusia. Setialah pada cinta, dan cinta akan setia kepadamu. Cinta tidak akan mengkhianati dan meninggalkanmu. Cinta hanya ingin kamu merasakan apa yang terjadi pada hidupmu kalau cinta tak datang menghampiri dan menyapa hatimu.

Cobalah berpikir betapa cinta telah menyelamatkan nyawamu berulang kali. Bagaimana dia datang kembali padamu setelah kau nyaris kehilangan kendali pada dirimu. Bagaimana dia datang untuk memperbaiki hubunganmu yang kacau. Dan bagaimana dia membuatmu merasa bahwa kamu adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.

Pikirkanlah bagaimana cinta menghadirkan dirinya dalam kehidupanmu. Terlalu banyak yang telah dilakukan cinta hingga mungkin kamu hanya berpikir, ah itu hanya keberuntunganku saja. Cobalah berterima kasih pada cinta. Banyak cara untuk berterima kasih pada cinta. Yang paling utama adalah, CINTAILAH PEMBERI CINTA PADA HIDUPMU. Bayangkan bila tidak ada cinta di dunia ini!

Cinta adalah saat kamu merasa bahagia ketika kamu melihat orang yang kamu cintai bahagia, saat kamu merasa sedih ketika dia sedih, dan menjalani saat-saat sedih dan bahagia bersama-sama. Cinta adalah sumber kekuatan. Cinta adalah saat kamu harus jujur pada dirimu sendiri dan orang yang kamu cintai. Cinta adalah saat kamu mendengar, berbicara dan menghargai kebenaran dan tidak pernah menolaknya. Cinta adalah sumber kebenaran. Cinta adalah saat kamu saling mengerti secara keseluruhan bahwa kamu merasa seperti kamu adalah bagian dari orang lain. Cinta adalah sumber kebersamaan. Cinta adalah kebebasan untuk mengungkapkan segala keinginanmu saat kamu membaginya dengan orang yang kamu cintai. Cinta adalah ketika kamu dan orang yang kamu cintai mengerti perkembangan masing-masing dan bersama-sama mengembangkan cinta yang kalian punyai. Cinta sumber segala sukses. Cinta adalah kebahagiaan saat merencanakan segala sesuatu yang akan terjadi pada hidup kalian berdua dan melakukannya bersama. Cinta adalah pangkal masa depan.

Cinta adalah dahsyatnya badai dan tenangnya pelangi. Cinta adalah pangkal dari semua perasaanmu. Cinta adalah saling memberi dan menerima kehidupan masing-masing, dan dengan sabar mengerti keinginan dan kebutuhan masing-masing. Cinta adalah berbagi segalanya. Cinta adalah saat kamu mengetahui bahwa orang yang kamu cintai akan selalu berada disampingmu apapun yang akan terjadi. Cinta adalah saat kamu saling merindukan dengan orang yang kamu cintai pada saat dia tidak ada disampingmu, dan mengetahui bahwa dia akan selalu ada di hatimu. Cinta adalah sumber dari semua perasaan amanmu. Cinta adalah sumber segala kehidupanmu!

Posted in My Self. 0 Comment »

Menikah Dulu, Baru Pacaran

Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.

***

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh!

Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak atas waktu dan perkenannya untuk membaca tulisan ini. Semoga kau selalu dalam keadaan sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Amin.

Sebagai renungan, mengutip dari apa yang pernah kau tulis sendiri untukku beberapa waktu lalu:

“Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kau tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupanmu sampai kau melupakan kegagalan dan rasa sakit hatimu.”

“Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Akan tetapi, seringkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup itu sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita”.

Harapan-harapan masa laluku kepadamu dan janji-janji kita dulu untuk mencapai pernikahan, ternyata hanyalah sebatas impian. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Biarlah itu semua menjadi kenangan dalam hidupku.

Sejujurnya aku akui, begitu banyak kenanganku bersamamu. File-file dan foto-fotomu di notebook dan PC-ku.

Satu minggu sejak pengakuanmu yang menyatakan bahwa kau mencintai wanita lain. Sejak itu pula, aku merasa kehilangan kendali. Aku terpuruk sekali. Tidak pernah terbayangkan kata-kata itu terucap dari orang yang sangat aku cintai dan sangat aku percayai. Tidak mungkin! Tapi itulah kenyataannya.

“Pergiliran roda kehidupan kadang tidak bisa ditolak. Hadapi kenyataan dan berserah diri kepada-Nya adalah jalan terbaik.”

Aku coba merenungi apa yang pernah dikatakan oleh pimpinan Wisata Hati itu. Memang tidak gampang menerima kenyataan. Tapi kalau aku pikirkan dengan lebih mendalam, diterima atau tidak suatu kejadian buruk, ia sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar ulang waktu. Apalagi yang bisa kita lakukan selain mengembalikan semua kejadian kepada Sang Penguasa setiap kejadian itu sendiri? Lalui saja dengan ikhlas. Betapapun beratnya penderitaan dan peliknya sebuah persoalan, pasti ia akan berujung. Dan hal itulah yang coba aku lakukan saat itu.

Alhamdulillah, dengan satu keyakinan akan janji-Nya, di antaranya dalam Q.S. Al-Furqan [25] : 68-70.

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dan seiring berjalannya waktu, cobaan dan ujian hati yang aku alami, perjalanan Ramadhan, hikmah-hikmah yang indah, dan pengalaman yang kudapat semakin membuat hatiku lebih mengerti akan arti kehidupan ini.

Bersikap ikhlas dan sabar akan membuat segala kekurangan tidak akan menyesakkan dada lagi. Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.

Apa yang aku alami di masa lalu adalah satu tamparan pedih. Namun, sesungguhnya di balik itu semua sangat berarti untuk jiwa ini. Disadarkan akan arti cinta sejati. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan!

Innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uun. Alhamdulillah, Dia masih memberikan hidayah-Nya dengan cara seperti ini.

Insya Allah, aku akan segera meyempurnakan separuh agama. Seorang laki-laki shaleh yang akan aku cintai sepenuh hati. Seorang yang mencurahkan ketulusan kasih sayangnya, mau menerima diriku seutuhnya, dan siap hidup berjuang bersama dijalan-Nya dalam suka dan duka.

Aku tidak tahu siapa dia. Jika waktunya telah tiba nanti, semuanya akan terang benderang. Anugerah terindah itu pasti akan datang.

Sesungguhnya tiada sesuatu yang lebih indah di dunia ini selain jalinan persaudaraan. Aku ingin jalinan persaudaraan di antara kita dan keluarga yang sudah terbangun selama ini tetap ada, terlepas status dari hubungan kita sekarang. Forget it!

Aku masih tetap mencintaimu. Tapi cinta sesama saudara seiman. Hanya sebatas itu. Kau tidak usah bersikap antipati terhadapku. Kau tidak usah khawatir. Aku hanya ingin komunikasi di antara kita dan keluarga tetap baik. Aku tetap menjalin komunikasi denganmu bukan berarti aku ingin kondisi hubungan kita seperti dulu lagi. Mohon hal ini untuk dipahami. Wallahu a’lam kalau ternyata Allah mentakdirkanmu sebagai jodohku kelak.

Di tulisan ini, aku menggantikan panggilan “Adik” dengan kata ganti “Aku” dan tidak memanggilmu dengan sebutan “Aa” lagi. Semata untuk menjaga hatiku dan hati perempuan yang kau cintai kini.

Once again, aku menginginkan hubungan baik kita terjalin lagi, sama seperti hubungan baikku dengan beberapa teman alumni satu kampus kita dulu yang masih tetap terjalin indah. Teman-teman yang pernah aku kenal dan semua orang yang pernah menyakiti dan membenciku. Aku hanya ingin tetap menjalin silaturahim. Bukankah menjaga silaturahim itu salah satu tiket masuk surga?

Mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah masih terus berkenan memberikan hidayah dan rahmat-Nya. Dan ampunan-Nya kepada kita semua. Amin.

Wassalaamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh!

***

31 Januari 2oo9 o4:47 p.m

Ditulis ulang dari kisah nyata yang diceritakan oleh seorang Sahabat.

Posted in My Self. 2 Comment »

Perumahan Mewah yang Membenci Da’i

”Mas…saya dapat perintah dari atasan,  apakah mas mau bila jadi anggota DPR?”

 “Maaf Saudaraku.. saya tidak ahli di bidang itu”

Mas Darto, pemuda tampan, sederhana, cerdas, itu menolak secara halus, tawaran penjadi pejabat legislatif. Beliau Lebih menyukai menjadi penyeru kebenaran dan kebajikan. Mas Darto senang memakai baju koko putih bersih yang selalu dicuci setiap hari oleh istrinya. Yang membuat Mas Darto terlihat berwibawa, apalagi dia berbadan tegap dengan postur tinggi bak peragawan.

Mas Darto bergabung dengan organisasi massa besar, yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan. hidup bersama Istrinya yang shalihah yang dinafkahi dari hasil beternak belut di gentong-gentong yang dibelah dua lalu diisi lumpur dan bibit atau anak belut di pekarangan rumahnya yang tak jauh dari perumahan mewah tersebut.

Sebuah Organisasi Massa sering menugaskan Darto untuk berdakwah, suatu ketika beliau mendapat tugas berdakwah di perumahan real estate yang elit dan mewah di Daerah Depok, di sana dia bertemu ladang dakwah masyarakat yang hidupnya bermewah-mewah, berlomba-lomba dalam memamerkan harta dan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Mas Darto berdakwah dengan cara rajin shalat berjamaah di mushola perumahan elit itu. Selama 40 hari berturut-turut, dia berkenalan dan memantau situasi rakyat/warga di perumahan mewah tersebut.

Setelah 40 hari, Mas Darto mulai mengenal dengan akrab beberapa orang di Mushala dan beliau mulai ditawari menjadi Imam yang cuma dihadiri jamaah 5-6 orang laki-laki saja. Karena kaum laki di sana sibuk. Kalaupun hari libur lebih senang ke tempat wisata atau nonton TV Cable di rumah masing masing atau sibuk mencuci, memodifikasi mobil-mobil mewah mereka. Hal dan keadaan tersebut membuat sedih Mas Darto. Sehingga dia berkali-kali tanpa lelah memperingatkan warga agar rajin shalat berjamaah di masjid, namun sebagian besar warga perumahan mewah itu justru merasa tak suka dengan nasehat-nasehat Mas Darto. Sebagian kecil ada yang mau menerima alias Pro dan kontra. Karena ada pertentangan dua kubu yang pro dan kontra, namun lebih banyak yang kontra. Akhirnya, Mas Darto berdoa kepada Allah untuk mencoba-coba mengundang rapat kepada seluruh warga untuk hadir di Musholla dengan undangan yang ditanda tangani  bapak RW setempat. Dan tak disangka-sangka, banyak juga warga yang kontra atau warga yang membencinya ikut hadir. Mas Darto berpidato

"Assalamualaykum warhmatullahi wabarakaatuh, wahai warga perumahan Mewah. Engkau semua adalah saudara seagamaku, sebangsa dan senegara, saya heran , mengapa hadirin semua membenci saya?” Padahal saya tidak mengharap balas jasa anda semua, nasehat saya insya Allah Berguna untuk semua warga, sedangkan nafkah dan belanjaku bukan dari anda semua.” ”saya tidak suka para ulama dan dai satu persatu pergi meninggalkan mushala perumahan ini akibat tak tahan mendapat sindiran kebencian. Sehingga sebagian warga disini yang bodoh agamanya menjadi tetap bodoh karena ditinggal ulama dan yang sudah pintar agama akan melupakan ibadah-ibadahnya. maka dari itu saya berharap semua warga menjadi bertaqwa. Mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, berhati hati dalam bertindak dan bekerja sehingga terhindar dari harta haram dan dosa.” saya juga tidak suka melihat warga di sini yang sibuk mengumpulkan harta sebanyak banyaknya, tetapi hartanya tidak dipakai di jalan kebaikan. Warga banyak yang mempunyai rumah mewah berharga ratusan juta sampai milyaran tetapi tidak di tempati. Kosong melompong ditempati bangsa jin-jin saja. Tidak laku dijual/dikontrakkan karena terlalu mahal.” Hadirin, saya peringatkan sebuah sejarah banyak bangsa yang dahulu sibuk membangun gedung dan rumah mewah dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tetapi dalam waktu singkat Allah membuat harta mereka terkikis habis, cita-cita dan rumah mewah mereka hancur dan runtuh bagaikan kuburan." mendengar pidato seperti itu, satu persatu warga meneteskan air mata.

Sejak melihat jamaah meneteskan airmata di hari itu, Mas Darto menjadi lebih semangat mengunjungi majelis-majelis taklim di sekitar mushala tersebut dan mengunjungi pasar-pasar untuk berdakwah. Dia mengingatkan orang-orang yang melalaikan ibadah dan menjawab pertanyaan orang yang bertanya tentang agama Islam. Suatu ketika,  saat selesai shalat jumat, tak jauh dari depan Masjid Pasar, Mas Darto bertemu segerombolan orang yang sedang mengeroyok seseorang "SUDAH-SUDAH, cukup-cukup, ada apa?" "Dia maling sepatu, Pak Ustadz" jawab mereka.

"Sebentar bapak-bapak…, tahan emosi, Kalau ada orang yang tidak dikenal,dia tercebur ke sungai dan tak bisa berenang, apakah bapak-bapak akan menolong orang itu?" "Ya secara reflek akan kami tolong" "Walaupun bapak tak kenal orang itu? " "Ya iya lah, kami orang baik-baik Pak Ustadz" "Ya maka dari itu, janganlah bapak-bapak main keroyok orang maling sepatu ini, tapi ajari dia dan sadarkan dia lalu bersyukurlah pada Allah yang selalu menerima tobat dan memaafkan dosa "

"Tapi, apa Pak Ustad tidak benci maling begini?" tanya salah seorang pengeroyok. "Ude hajar aja tuh maling" sahut pengeroyok lainnya. "Astaghfirullah, sabar-sabar, saya benci pada perbuatan malingnya, kalau maling ini menghentikan kebiasaan buruknya, maka dia menjadi saudara saya" jawab Pak Ustadz Darto.

Si maling yang tadinya nampak ngocol walau wajah sangarnya sudah biru di sekitar mata dan pelipisnya, mendengar perkataan Mas Darto itu tiba-tiba tertunduk berikut butiran air mata menetesi conblock. dan dia berkata dan merengek seperti anak kecil "Pak Ustad saya mau bertobat dan saya mau shalat lagi" Esoknya di Mushala rumah mewah, tiba-tiba datang seorang pemuda maling sendal kulit, pada kejadian kemarin, dia memohon dengan wajah sedih "Pak Ustadz! Ajari saya"

"Assalamualaykum anak muda, tentu saya akan ajari dengan senang hati. Dan Ingat ingatlah: Ingat Allah saat kamu bahagia, maka Allah akan ingat kamu saat kau sengsara jadilah pengajar atau pelajar atau pendengar jangan sekali kali kau menjadi orang bodoh (yang tak mau belajar) karena hal itu bisa membuatmu celaka" *** Kisah fiksi yang bisa jadi terjadi di masa kini.

Posted in Campur. 0 Comment »

Demi Menjaga Mata dan Hati Kita

Suatu kali, masih dalam suasana lebaran, Hamid dan istrinya diundang Rozi datang ke rumahnya. Setelah disepakati, akhirnya mereka datang pada hari Kamis setelah ashar. Rozi tinggal di kawasan Hay Tsamin, sedangkan Hamid tinggal di bilangan Hay `Asyir. Perjalanan dari Hay `Asyir ke Hay Tsamin hanya memakan waktu lebih kurang seperempat jam dengan mengendarai mobil.

Rozi dikenal sebagai seorang aktifis. Ia baru menyempurnakan setengah agamanya beberapa waktu yang lalu. Istrinya adalah rekan kerjanya disebuah organisasi yang pernah ia geluti. Rozi termasuk salah seorang figur yang dikenal luas dikalangan mahasiswa. Walau selalu menjadi Top Leaders dibeberapa organisasi yang pernah ia terjuni, ia juga termasuk mahasiswa yang berprestasi dibangku kuliah.

Tak heran banyak mahasiswi yang melirik padanya. Tapi Rozi bukan tipe cowok matre, ia punya prinsip dalam menentukan pilihan hidup. Baginya kecantikan bukanlah prioritas, yang paling utama adalah akhlak dan agama.

Sedangkan Hamid tak jauh berbeda dengan Rozi, ia juga seorang aktifis. Aktifitas Hamid lebih banyak dalam pergerakan dakwah. Ia juga termasuk figur dikalangan mahasiswa. Namanya sering tampil pada deretan teratas dalam setiap organisasi yang ia geluti. Hamid adalah seorang pribadi yang penuh hati-hati. Sebelum melangkah ia akan berpikir dua kali.

Hamid dan Rozi telah lama menjalin persahabatan sejak di Indonesia. Namun belakangan sejak mereka tiba di Mesir, mereka memilih aktifitas yang berbeda sehingga diantara mereka pun timbul perbedaan manhaj berfikir. Walau demikian, mereka tetap akur dan saling menghargai pandangan masing-masing. Persahabatan mereka tetap terjaga.

Rozi dan istrinya punya pikiran yang seirama. Dan karenanya mereka pun memadu cinta yang terbina dalam bingkai pernikahan. Risa, istri Rozi dikenal seorang akfitis di Kairo. Tulisan-tulisannya menyebar di buletin mahasiswa. Ide-idenya yang segar selalu mendapat respon positif dari pembaca. Selain cerdas, Risa juga seorang yang jelita. Ia bahkan jadi rebutan para mahasiswa, tapi sayang, cinta mereka tidak bersambut, buah cinta Risa jatuh pada Rozi. Rozi dan Risa memang pasangan yang serasi, sama-sama pintar, sama-sama gagah dan cantik dan sama-sama jadi rebutan.

Rima istrinya  Hamid, juga dikenal seorang aktifis dikalangan mahasiswi. Dalam beberapa kesempatan ia sering diminta tampil memberikan materi dalam acara bedah buku, dialog, diskusi, kajian, seminar dan lain-lainnya.

Hamid dan Rima adalah pasangan yang serasi, sama-sama aktifis pergerakan dakwah dan punya komitmen yang sama. Mereka juga sama-sama punya daya tarik bagi lawan jenis. Hamid dengan perawakan tenang dan air muka yang selalu berseri, enak di pandang mata, cerdas dan taat. Sedangkan Rima, adalah wanita anggun dengan sikap penuh keibuan dan kasih sayang.

Kita kembali ke cerita awal, sesampai di depan pintu rumah Rozi, Hamid dan istrinya dipersilahkan masuk menuju ruang tamu. Di ruang tamu Risa telah menunggu kedatangan mereka.

Hamid dan Rima agak berat kaki melangkah menuju ruang tamu, mereka masih berdiri di depan pintu.

Rozi bertanya pada Hamid, "Ada apa Akhi ?"

Hamid menjawab, "Nanti akan saya jelaskan pada Akhi, saya minta istri kita di ruang dalam dan kita berdua di ruang tamu".

Rozi pun menyetujui dan ia tidak merasa keberatan. Mereka berdua duduk diruang tamu. Saling berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati makanan dan minuman yang telah dihidangkan Rozi.

Akhirnya rasa penasaran yang bergejolak dalam hati Rozi ingin segera ditumpahkan, ia bertanya pada Hamid, "Akhi, apa yang menjadi alasan Akhi sehingga antara kita dengan istri kita berpisah ruangan? Coba Akhi jelaskan alasan yang Akhi miliki"

Hamid hanya tersenyum, kemudian berkata, "Hanya ingin jaga mata dan hati kita".

"Hanya sebatas itu?", Rozi bertanya sambil mengernyitkan keningnya.

"Iya", jawab Hamid sambil kembali tersenyum.

Hamid melanjutkan, "Akhi, kita sudah sama-sama pernah belajar, sudah sama-sama tahu bahwa Allah telah perintahkan laki-laki yang beriman dan wanita-wanita yang beriman untuk selalu menjaga, menahan dan menundukkan pandangan mereka dari melihat segala sesuatu yang diharamkan Allah dan dari segala sesuatu yang akan dapat membangkitkan syahwat, karena itu lebih menyucikan hati.

Pandangan adalah umpama anak panah beracun dari syetan yang akan mengotori dan meracuni hati kita. Semakin sering mata melihat pada sesuatu yang akan mengotori hati, maka akan berkurang dan hilanglah lezatnya iman dalam hati dan nikmatnya beribadah.

Apa yang akan terjadi, kalau kita sama-sama duduk diruangan ini dengan istri-istri kita?

Kita tetap berbaik sangka, kita mungkin bisa saling menjaga, namun kita tidak tahu apa yang terjadi dalam hati. Dan mencegah lebih baik dari mengobati. Sebelum syetan lebih dulu menjerat kita dengan tipuannya, seorang mukmin harus lebih dahulu tahu akan hal itu.

Kalau kita duduk saling berhadapan, saya duduk dengan istri saya dan akhi duduk dengan istri akhi. Kemudian kita saling mengobrol, saling memandang, saling tertawa dan tersenyum. Bisa jadi terbersit dalam hati istri akhi ketika melihat saya rasa tertarik pada paras saya, senyum saya, mendengar suara saya dan seterusnya. Kemudian ia coba bandingkan antara saya dengan diri akhi yang telah ia kenal luar-dalam segala kekurangan dan kelemahan akhi. Dan ia menemukan ada daya tarik dari diri saya yang ia sukai tapi tidak ia temukan dalam diri akhi. Mungkin akan timbul sedikit penyesalan dalam hatinya, kenapa ia dahulu cepat-cepat menikah, sedangkan pria dihadapannya, lebih ganteng, lebih sopan, lebih manis senyumnya, lebih indah suaranya, lebih kekar tubuhnya, lebih pintar dan segalanya.

Apakah akhi ingin keadaan tersebut menimpa istri akhi? Tentu tidak bukan?! Begitu juga dengan saya, saya juga sangat cemburu bila istri saya punya perhatian dan daya tarik pada lelaki lain, saya ingin istri saya hanya milik saya seutuhnya.

Sebagaimana saya dan akhi tidak ingin hal itu terjadi pada istri-istri kita, istri-istri kitapun juga tidak ingin dihati suaminya ada wanita-wanita lain yang lebih membuatnya tertarik. Kalau kita saling bertemu, akhi melihat istri saya, rupanya ada sisi daya tarik yang akhi temukan pada dirinya, akhi bandingkan dengan istri akhi, yang mungkin suaranya kurang indah, kata-katanya kurang manis terdengar, budi bahasanya kurang elok dan lain-lainnya, singkatnya segala hal yang akhi dambakan, tapi tidak akhi temukan hal tersebut pada diri istri akhi. Barangkali syetan akan membisikkan dihati akhi rasa penyesalan, ah.., kenapa saya menikah terlalu cepat dahulunya, rupanya masih banyak wanita yang lebih jelita, anggun, dan cerdas dari istri saya saat ini. Dan hal itu juga mungkin bisa terjadi pada diri saya.

Apa yang saya utarakan hanya sebagai contoh, agar kita lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan kita, jangan sampai kita memberi peluang pada syetan dan hawa nafsu untuk mencelakakan diri kita. Seorang mukmin harus cerdas.

Saya berbaik sangka, dugaan-dugaan diatas mungkin tidak akan terjadi diantara kita, tapi kita tidak bisa menjamin seutuhnya bahwa kita bisa selamat dari keadaan itu. Mungkin hari ini kita bisa tejaga, tapi kita tidak tahu dengan esok, lusa dan seterusnya. Jadi pada intinya mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Disamping itu saya ingin istri saya menjadi bidadari di dunia sebelum menjadi bidadari di sorga. Diantara karakteristik bidadari sorga adalah Qashiratut tharfi, maksudnya adalah ia hanya melihat, mamandang pada suaminya. Tidak ada pria yang ia kenal selain suaminya. Dan tidak ada pria yang lebih gagah dan ia cintai selain suaminya. Betapa indahnya hubungan tersebut.

Apa yang saya sampaikan hanyalah pandangan saya yang mungkin salah dan mungkin juga benar. Tapi inilah yang saya pahami selama pembelajaran saya sampai saat ini. Mungkin terkesan agak fundamental dikalangan sebagian orang, tapi mempertahankan agama di zaman yang fitnah telah tersebar dimana-mana ibarat memegang bara api".

Rozi tertegun mendengar penjelasan Hamid, ia manggut-manggut tanda setuju. Sejak saat itu kehidupan Rozi mulai berubah juga keadaan istrinya. Iapun nampak lebih alim. Kalau dahulu ia selalu gesit dalam kegiatan yang didalamnya ada ikhtilath dengan lawan jenis, sekarang semua itu berusaha ia hindari. Ketika ditanya kenapa ia berobah, ia menjawab "Saya telah bertobat".

* * *

Betapa berharganya seorang sahabat yang soleh. Sahabat yang tak ragu menyampaikan kebenaran. Sahabat yang melandasi persahabatan atas dasar ketaatan pada Allah. Sungguh beruntung orang-orang yang selalu mengambil manfaat dari sahabat yang soleh dan amat merugilah mereka yang mengabaikan keberadan mereka.

Salam dari Kairo,

marif_assalman@yahoo.com

Lelaki dan Kesetiaan

Bagaimana saya bisa memulai menulis tentangnya, tentang seorang lelaki dan kesetiaannya. Sejujurnya saya tak begitu mengenalnya lebih jauh, hanya sedikit cerita dari adik saya yang merupakan menantu dari lelaki itu, dan dari tante saya yang tinggal bertetangga dengannya. Tetapi dari yang sedikit itu rasanya begitu banyak yang terasa menyentuh dihati saat mendengarnya.

Ia telah menikah selama hampir 30 tahun, telah dikarunia 4 orang anak yang telah berkeluarga, kecuali si bungsu yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Selama 30 tahun pernikahannya, tahukah anda berapa tahun yang sempat dilaluinya utuh sebagai suami istri selayaknya? Mungkin hanya sekitar 11 tahun….saaat si bungsu baru berusia 1 tahun, sang istri terkena penyakit yang tak tahu apa sebab dan akibatnya.

Sering merasa ada bisikan-bisikan aneh di telinganya yang membuatnya kadang tak ingat dan tak sadar dengan sekelilingnya. Tahun-tahun pertama, ia masih dengan sabar membawa sang istri untuk berobat, mulai dari pengobatan medis hingga alternative. Tahun-tahun tanpa perubahan yang berarti…..tetapi lelaki itu tetap sabar, hingga akhirnya ia tiba pada satu keputusan, ia sendiri yang akan menjaga dan merawat sang istri.

Ia sadar akan banyak mengorbankan hal-hal di luar menjaga sang istri. Pekerjaan yang dijalani sebagai pengajar, dilakukan hanya benar-benar pergi untuk mengajar, tak pernah sempat untuk bersosialisasi, meski ditawari jabatan yang cukup bergengsi, ia sadar akan tugas dan kewajibannya menjaga sang istri butuh waktu dan perhatian extra. Pun saat silaturahmi dengan keluarga mulai terbatas untuk dilakukannya, bahkan saat adik saya menyelenggarakan aqiqah anaknya, sang kakek tak sempat datang karena tak ada yang menjaga sang istri.

Ia tak pernah keluar rumah sebelum memastikan sang istri ada yang menjaga. Bergantian ia dan anak-anaknya menjaga sang ibu, disela-sela kesibukan masing-masing. Kesadaran yang turun naik, kondisi fisik yang kadang memburuk, dan itu telah berlangsung selama hampir 20 tahun....

Apa yang ada di benak lelaki itu? Sungguh saya sangat ingin bertanya langsung padanya, tapi rasanya saat ini belum mungkin. Lelaki pendiam dan bersahaja itu, hanya beberapa kali saya bertemu dengannya, itupun tanpa percakapan apa-apa. Tapi dari sorot matanya saya tahu betapa ada bintang-bintang kesetiaan terpancar di matanya.

Lelaki itu pernah berkata pada anaknya mungkin ini amanah dari Allah untuk menjaga istrinya, menurutnya ini memang tugas yang telah di berikan Allah khusus untuk dirinya karena orang lain belum tentu bisa melakukanya….

Berapa banyak lelaki seperti itu di dunia ini? Lelaki yang tetap setia dan sabar menjaga istri yang sakit-sakitan bahkan selama 20 tahun, mungkin tak lagi bisa melayaninya lahir dan bathin. Sebuah alasan yang sungguh sangat dibenarkan dalam agama baginya untuk menikah lagi. Tetapi itu tidak dilakukannya.

Berapa banyak lelaki yang justru memiliki istri yang sehat walafiat tanpa kurang suatu apa pun tetapi tak jua mampu mengukuhkan kesetiannya pada sang istri? Dengan berbagai alasan dan pembenaran untuk bisa memalingkan cinta pada yang lain. Tetapi lelaki itu tidak!.

Kisah seorang istri yang setia pada suami mungkin masih sering kita dengar, tetapi kisah seorang suami yang seperti ini sungguh bukan hal yang biasa terdengar. Dia rela menghabiskan waktunya di rumah untuk tetap menjaga dan mengurus sang istri memastikan semua baik-baik saja.

Suatu saat kondisi istri agak memburuk, kami sekeluarga sempat menjenguk sang istri yang terbaring kaku, berhari-hari tak bisa makan, hanya sesekali disuapi susu oleh si bungsu, wajah lelaki itu muram tapi tetap berharap, meski sehari sebelumnya, adik saya sempat bercerita untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu menangis melihat keadaan sang istri, seraya berdoa agar Allah bisa memutuskan yang terbaik bagi sang istri, karena begitu tak tahan ia melihat penderitaan sang istri.

Waktu 20 tahun, bukan waktu yang singkat untuk memupuk kesabaran dan kesetiaan, tetapi lelaki itu telah membuktikannya. Atas alasan apa? Entahlah....hanya dia dan Tuhan yang tahu.....semoga ia mendapat balasan yang setimpal dengan kesabarannya, mungkin hanya bidadari di syurga yang layak mendampinginya sebagai balasan atas kesetiaannya....

Ah, cinta.....masih adakah cinta yang seperti itu, yang tulus memberi tanpa beharap balasan? Yang kukuh memupuk cinta meski hanya menumbuk bayangan semu yang tak lagi nyata bisa menemaninya merangkai hari-hari tua.

Sungguh beruntung sang istri memilikinya, semoga Allah menghapus semua kesalahannya disebabkan sakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.
And....my husband....would you love me like that???

Kala Jodoh Bukan di Tangan Murrobi

2009 masih ditemani rinai hujan.

Rintik hujan masih saja mengguyur daerah kawasan rumah saya saat itu. Beberapa kali saya mengirimkan pesan singkat kepada kawan saya—yang malamnya sudah mengultimatum saya jika hari Sabtu pagi akan ada pengajian seperti biasanya dalam seminggu. Itu saya ketahui ketika membaca pesan singkatnya pada malam hari ketika saya sedang membaca buku. Sungguh ketika saya mendapatkan pesan singkat itu jujur saya sangat terasa. Ya, karena apa? Saya sudah beberapa bulan tak menyetor muka. Alias, tak ada pemberitahuan dari saya itu. Padahal sudah memakai jasa MLM. Message Lewat Message. Atau, bahasa kerennya Mulut Lewat Mulut. Alias, jarkom. Tapi entah kenapa ketika saat saya mendapatkan pesan seperti itu hati saya tergerak dan tersadarkan diri. Oya, gue sudah beberapa hari nggak hadir, gumam saya saat itu. Dan, akhirnya hari itu, Sabtu itu saya pun melangkahkan azzam saya untuk pergi memenuhi pesan singkat dari kawan saya itu walau rintik hujan masih membasahi daerah kawasan itu.

Senangnya bertemu kawan-kawan….

“Ente kemana aja, Yan? Kok, nggak pernah ngaji lagi. Sibuk ya?”

“Kemana aja Yan udah lama banget nggak ngaji. Udah gitu nggak ada kabar-kaburnya lagi.”

“Gimana kabarmu, Yan?”

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang saya harus jawab secara bertubi-tubi saat saya baru mengucapkan salam dan sampai di rumah kawan. Kebenaran acara pengajian hari itu diadakan di rumah kawan saya—yang bertepatan dengan sekolah taman kanak-kanak.

Saya tak langsung menjawab. Masih mengatur nafas dan mengeringkan badan dari rintik hujan yang mengguyur saya dalam perjalanan.

“Sori, ya kalo udah beberapa minggu ini ane nggak  nyetor muka. Ya, nih, ane  lagi banyak problem (baca: urusan) yang ane hadapi. Makanya ane  sadar diri mau nyetor muka dan mau bertemu ente-ente semua. Soalnya ane kangen udah lama nggak ketemu!” seru saya kepada semua kawan-kawan saya yang sudah lama tak berjumpa. ”Ma’af Pak saya nggak ngaji-ngaji!.” lanjut saya pada guru ngaji saya dengan rasa tak enak hati.

Alhamdulillah, akhirnya pertanyaan-pertanyaan kawan-kawan sudah terjawab oleh saya walau dengan pasang muka tidak enak hati kepada mereka semua. Padahal mereka adalah kawan-kawan saya yang sangat peduli terhadap sesama kawannya. Terlebih ketika ada kawan saya yang dapat musibah dan yang ber-walimah-an semua turut urun tangan. Menyumbang sesuka relanya. Ya, dari sinilah saya sangat merindukan hal itu. Betapa saya sangat merindukan mereka jika saya tak bersua berminggu-minggu kepada mereka.


Kabar bahagia itu datang dari kawan saya….

Usai saya dan kawan-kawan menuntaskan tilawah serta mendengarkan taujih (nasehat) kini berganti dengan moment yang sangat saya tunggu-tunggu. Moment yang menjadi favorit semua kawan-kawan saya dan tentunya juga saya. Qadayah. Curhatan masing-masing diri. Apalagi dalam acara ini banyak yang harus diketahui tentang bagaimana keadaan dan kabar masing-masing selama seminggu maupun apa yang sedang dikerjakan maupun dialami. Entah itu pokoknya kabar suka-duka, baik-buruk, maupun sedang mencari pendamping. Disinilah hal-hal yang sangat dinanti oleh saya maupun kawan-kawan saya. Dan pada saat curhatan hati (curhat) dari salah satu kawan saya yang sedang mencari pendamping menjadi kabar yang mengejutkan. Maklum semua yang mengikuti pengajian hari itu semua masih menjabat dan memilIki bintang kejora. Alias, Kelompok Jomblo Ceria.

“Kabar saya hari ini baik. Aktivitas saya sekarang juga baik-baik saja dan ….”

Belum habis curhatan hati kawan saya berlanjut tiba-tiba kawan saya ada yang nyeletuk….,”kapan nih jadinya?”

Saya yang mendengar hal itu pertama agak lemot. Lodingnya lama. Saya tidak tahu maksudnya. Mungkin ini akibata saya sudah tak bersua dan mengaji jadi saya tak tahu kabar-kabur dari kawan saya. Salah satunya kawan saya yang belum habis curhatnya itu. Akhirnya curhatan hati dari kawan saya pun usai. Dikarenakan batas waktu yang tidak mencukupi karena saat itu akan tiba jelang dzuhur. Jadi aktiviatas saat itu pun disudahi diabrengi seusai curhatan hati kawan saya yang membuat saya masih bertanya-tanya.


Masih penasaran….

Akhirnya walaupun ajang curhatan sudah usai begitu dengan mengajinya saya pun masih penasaran dengan kabar kawan saya itu. Dengan penuh keingintahuan saya memberanikan diri untuk menanyakan kabar gembira itu.

“Ente  benar mau married?” tanya saya dengan lugas tepat pada sasaran.

Kawan saya hanya senyum-senyum malu-malu kucing. Tapi kalau dberi ikan asin (baca:akhwat cantik) mungkin mau tanpa malu-malu untuk dinikahinya.

“Ya, ane sih nunggu kabar dari murrobi kita. Ya, insyaAllah doain aja bulan 6 kalau ketemu jodohnya. Kan ini lagi dicariin sama murobbi.” Ucapnya lagi dan benar-benar membuat saya tak habis pikir. Lho, kok nunggu murrobi,” kata saya dalam hati.

“Ane  doain biar ente  cepat ketemu, jodoh, ya!” tukas saya lagi masih membuat saya agak heran.


Jodoh bukan di tangan murrobi….Tapi di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hingga akhirnya hal itu mengingatkan cerita saya dan kawan saya beberapa bulan lalu saat berboncengan naik motor. Saat itu saya dan kawan ingin pulang seusia dari acara rapat organisasi (komunitas) yang saya diami.

“Sekarang usia kamu berapa,Yan?” Kata kawan saya saat di atas motor sambil memboncengi diri saya.

“Ya, mau jalan 28.”

“Terus udah ada jodohnya,” lanjut kawan saya itu.

“Jodoh sih banyak tapi belum berani nikah. Kan tahu sendiri saya aja baru dirumahkan dari pekerjaan jadi hal itu nanti aja deh. Lagi pula kalo nanti belum ketemu minta aja sama murrobi saya….”pancing saya.

“Lho, kok sama murrobi! Memangnya nyari sendiri belum ketemu-ketemu. Awas nanti ketuaan!”

Saya diam! Tapi diam untuk mencoba memikirkan perkataaannya.

“Iya, sih murrobi mak comblang (baca: perantara) juga yang cukup dipertanggungjawabkan. Ya, baik soal jodoh kita nanti. Apakah baik, shaleh maupun sesuai dengan keingginan kita. Dan juga serta-merta tidak asal memilih (menjodohkan) kita, kok. Tapi kalo nanti terjadi perselisihan (perceraian) apa kita perlu minta pertanggungjawabkan sama murrobi juga nggak kan? Nah juga tetap kudu berikhtiar kepada Yang di Atas. Itu nomor wahid jangan samapi nggak…!” lanjut kawan saya lagi memberitahukan saya.

“Nah, kalo begitu jodoh bukan ditangan murrobi dong!” kata saya singkat.

“…………………………”

Hening.

Tak ada jawab lagi.

Saya dan kawan saya hanya membisu. Hingga saya berpikir mungkin hanya angin yang menerpa ke wajah saya yang dapat menjawabnya dari semua pertanyaan-pertanyaan kawan saya itu disaat saya masih berada di perjalanan pulang dan di atas motor kawan saya. Melewati ruas-ruas jalan berbatuan serta ditemani awan yang saat itu mendung. Kalau begitu jodoh itu selain di tangan Murrobi juga ada di tangan Yang Maha Kuasa, bukan begitu? Itu harus!*.(fy)

From : My Friend Prasetyo

Posted in Campur. 0 Comment »

Wahai Akhi, Takutlah pada Allah!

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berada di internet yang letaknya tidak jauh dari rumah saya, di Saqar Quraisy, seorang pemuda duduk disamping saya, tengah sibuk mengotak-atik komputer.

Ketika saya tengah membuka email dan membaca berita, pandangan saya tanpa sengaja tertuju pada layar monitor pemuda tersebut, dan alangkah sangat terkejutnya saya dengan apa yang saya lihat. Si pemuda menonton adegan yang menurut saya sangat tidak layak untuk ditonton.

Saya segera mengingatkannya, “Akhi, tinggalkanlah itu!”

Ia menoleh pada saya dan berkata, “Emangnya kenapa?”

“Apa yang akhi lihat tersebut akan merusak pikiran dan hati akhi”, jelas saya padanya.

“Akhi kuliah di Azhar?”, lanjut saya bertanya padanya karena saya melihat buku yang ia bawa.

“Tidak”, balasnya.

Saya kembali melanjutkan aktifitas saya. Dan si pemuda sudah menutup apa yang ia tonton. Beberapa waktu kemudian ia terlihat kembali membuka tontonan yang tidak layak tersebut. Saya kembali mengingatkannya, tapi ia tidak mengacuhkan. Sebelum beranjak pergi saya berkata padanya, “Wahai Akhi, takutlah pada Allah!”.

Hal lain yang saya lihat dari pemuda tadi adalah, jelas sekali perbedaan antara orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman dan amal soleh dengan hati orang yang kotor oleh dosa dan maksiat.

Orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman, terpancar kerjenihan pada wajahnya. Air mukanya terlihat tenang, sejuk dipandang dan bersinar. Sedangkan orang yang dalam hatinya dipenuhi oleh kotoran dosa dan maksiat, terlukis pada pancaran mukanya yang keruh, gelap, dan kurang nyaman untuk dipandang.

Apa yang saya lihat, mungkin hanya satu dari sekian banyak pemuda yang sering mengakses situs-situs jorok tersebut. Sangat memprihatinkan, betapa tidak, karena perbuatan itu akan merusak pikiran, hati dan amal.
Bagaimana itu bisa terjadi ...?

Orang yang suka melihat gambar dan tontonan yang jorok, akan tersimpan memori itu dalam otaknya, dan lama kelamaan ia akan menjadi pikiran yang sering mengganggu. Kemudian timbullah bisikan dari setan dan dorongan dari hawa nafsu untuk mempraktekkannya. Dan kalau orang tersebut tidak tahan ia akan bisa terjerumus pada perbuatan zina.

Semua itu berawal dari pandangan yang tidak dikontrol.

Dan akibat lainnya adalah, pikiran yang sulit untuk fokus, hati yang selalu resah gelisah tak menentu, karena dosa dan maksiat menggelisahkan hati. Dan pada akhirnya orang tersebut akan diperbudak oleh hawa nafsu dan setan. Sehingga akan sulit untuk belajar dengan tenang, ibadah dengan khusyuk dan tidak akan pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya ibadah.
Hati ibarat sebuah wadah.

Apa yang akan kita lakukan bila wadah yang biasa digunakan untuk meletakkan makanan berisi kotoran?
Langkah yang tepat adalah membersihkan wadah itu terlebih dahulu, baru kemudian memasukan makanan. Kalau tidak dibersihkan, makanan yang lezat akan bercampur dengan kotoran tersebut dan jadilah makanannya tidak enak.
Mungkin diantara kita telah sering mendirikan shalat, membaca al-Qur`an, berzikir dan amal ibadah lainya, tapi sering kali kita tidak merasakan rasa nikmat dan lezat dalam hati, dengan kata lain kita tidak merasakan kemanisan dalam beribadah. Kenapa hal itu terjadi?

Barangkali kondisi hati kita masih menyimpan kotoran dosa dan maksiat yang belum tuntas atau belum pernah kita bersihkan. Baik kotoran dosa dan maksiat itu berasal dari mata, pendengaran, kata-kata, pikiran-pikiran kotor atau niat-niat yang jelek. Itu yang selama ini menjadi penghalang kita untuk merasakan manisnya ibadah dan lezatnya ketaatan. Semakin banyak kotoran dosa dan maksiat mengisi hati maka akan semakin sulit bagi kita untuk merasakan lezatnya ibadah.

Saudaraku,
Dimanapun kita berada dan kapanpun, Allah selalu melihat kita, mengetahui apa yang kita lakukan dan tidak ada satu tempatpun di dunia ini yang lepas dari pandangan Allah Swt., bahkan apa yang terbersit di hati kita Allah Swt. mengetahuinya.
Allah Swt. berfirman dalam beberapa ayat, “Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk shalat). Dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud” [ Asy-Syu`ara` : 218-219 ]

“Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [ Al Hadid : 4 ]

“Bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di bumi dan di langit” [ Ali Imran : 5 ]

“Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi” [ Al Fajr : 14 ]

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada” [ Ghafir : 19 ]

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman Mu`adz bin Jabal r.a, Rasulullah bersabda :

”Bertaqwalah kamu pada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik ( akan menghapus keburukan ) dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik” [Hr. Tirmidzi ]

Dan yang diriwayatkan dari Anas r.a, Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh kalian mengerjakan suatu amalan yang ianya dalam pandangan kalian lebih halus nilainya dari sehelai rambut, akan tetapi kami pada masa Rasulullah Saw. menganggapnya sebagai suatu perbuatan yang membinasakan” [Hr. Bukhari]

Semoga kita tidak tergolong pada orang-orang yang tertipu oleh bujuk rayu setan dan hawa nafsu. Wallahul musta`an

Salam dari Kairo,
marif_assalman@yahoo.com

Katakan Cinta, Dan Jangan Tinggalkan Islam

Cinta bukan sekedar ucapan, cinta bukan sekedar pemberian. Tapi cinta membutuhkan pengorbanan dan kesetiaan. Bila cinta sudah bersemi, maka apapun yang akan kita lakukan untuknya menjadi ringan, kadang tak perlu menunggu balasan darinya.

Ketika ucapan terima kasih keluar dari mulutnya, membuat hati kita berbunga-bunga, dan bertambah cinta kita padanya. Itulah cinta yang kadang membuat manusia menjadi gila karenanya, tak bisa menahan gejolak cinta, maka bunuh diri temannya, karena cinta kita di tolak mentah-mentah. Nauzubillahi min zalik.

Dari mata turun ke hati, begitulah seseorang yang sedang jatuh cinta berpuisi. Maka ada perintah dari Allah SWT, untuk selalu menundukkan pandangan.

Dalam QS. Annur ayat 30-31 : Allah menyuruh laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya.

Cinta memang sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan semua manusia, tanpa cinta hidup tiada artinya. Tapi Cinta yang Indah, yang sesungguhnya hanyalah pada sang Khalik, karena bila kita mencintai manusia tanpa dasar karena Allah, maka ketika cinta itu pudar kita akan merasakan sakitnya.

Banyak sekali saya lihat di Jerman ini, karena cinta yang sudah menguasai dirinya, sampai-sampai diapun berani menggadaikan agama dan aqidahnya, demi untuk hidup bersama orang yang di cintainya.

Tapi ada seorang teman saya bercerita tentang temannya, yang benar-benar mencintai Allah semata, hingga dia rela meninggalkan kekasihnya yang berkebangsaan asing, padahal dia akan segera tunangan dan ibunya pun sudah menyetujuinya.

Ketika curhat pada teman saya itu, wanita tersebut sedang dalam kegalauan, antara cinta dan takut akan laknat Allah, karena sang kekasih tidak ingin mengikuti agamanya ( islam ) dan dia bilang: "Bila nanti sudah menikah, maka anak mereka pun harus di beri kebebasan, tidak boleh ada pemaksaan dalam menentukan hidup dan agamanya"

Teman saya hanya memberi nasehat, agar si temannya itu memikirkannya, sebelum terlanjur. Karena itu semua akan membawa dampak negatif pada kehidupannya kelak, dan anak-anak nya juga akan mereka bawa kemana? Padahal anak-anak itu kelak akan menjadi ladang syurga bagi kedua orang tuanya.

Setelah beberapa kali curhat dengan teman saya itu, maka dia ( wanita itu) mengambil keputusan yang sungguh menakjubkan, dia memutuskan cintanya pada lelaki itu, yang telah lama di bina. Dia merasa cintanya pada Allah lebih besar, bahkan karena cintanya yang sungguh-sungguh di berikannya pada Allah swt, dia sekarang mengenakan jilbab untuk menutup auratnya.

Subhanallah, tak dapat di pungkiri bukan, bila Allah ingin memberi hidayah pada siapa pun, maka Allah akan segera memberinya. Kini temannya itu sudah menikah dan mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT. Puji syukur hanya kehadirat yang Maha Kuasa, yang menyempurnakan keimanan seseorang, atas dasar cinta.

Mendengar cerita dari teman saya itu , membuat saya sangat-sangat terharu sekali, sementara teman saya yang sudah berjilbab rapi, dan mengaji pula, tiba-tiba membuka jilbabnya hanya untuk menikah dengan orang bule, non muslim.

Inilah pelajaran cinta yang Allah berikan pada kita. Maka jangan lah kita sungkan-sungkan untuk mengatakan cinta pada Allah, karena Allah akan membalasnya dengan lebih baik lagi. Dan janganlah kita lari dari kenyataan, karena sesungguhnya Allah itu mengikuti kita dan Allah berada di mana pun kita berada.

Maka bila Cinta katakanlah dan Berbuatlah , untuk Allah swt tidak ada yang tidak mungkin. Mendekatlah pada-Nya, maka Allah akan bersama kita senantiasa.

Dalam QS. Albaqoroh ayat 186 Allah SWT berfirman

" Dan apa bila hamba-hamba-Ku bertanya kepada mu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo´a, apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Dalam Hadist dikatakan :

"Di riwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW pernah bersabda : " Apa bila Allah mencintai seorang Hamba-Nya, maka Allah memanggil Jibril, sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia, maka Jibril pun mencintainya, berikutnya Jibril berseru kepada penghuni langit, sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, karena itu cintai lah dia, maka penghuni langit pun mencintainya, lalu seorang hamba tersebut di cintai oleh penghuni bumi. ( HR. Bukhori ) "

Banyak yang dapat kita persembahkan untuk Allah swt, demi meraih kebahagiaan Dunia dan Akhirat, tidak harus mengorbankan agama dan aqidah kita sebagai seorang muslim, dan tak perlu takut akan kekurangan rizki, karena semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa.

Wallahu ´alam bishawab.

Kumpulan Kata-kata Mutiara

Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah
Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,kita tak memiliki hari ini untuk kita syukuri.

Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup, merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.
Semakin banyak Anda berbicara tentang diri sendiri,
semakin banyak pula kemungkinan untuk Anda berbohong.

Jika Anda tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang yang baik.

Iri hati yang ditunjukan kepada seseorang akan melukai diri sendiri.
Anda cuma bisa hidup sekali saja di dunia ini,
tetapi jika anda hidup dengan benar,sekali saja sudah cukup.

Kenangan indah masa lalu hanya untuk dikenang, bukan untuk diingat-ingat.
Rasa takut bukanlah untuk dinikmati,tetapi untuk dihadapi.
Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Buka mata kita lebar-lebar sebelum menikah,
dan biarkan mata kita setengah terpejam sesudahnya
Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya

Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.
Dialah hiasan dikala kita senang dan perisai diwaktu kita susah
Namun kita tidak akan pernah memiliki seorang teman,
jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya
dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya
tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan
kalau kita tidak bisa melihat keduanya.

Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab,
merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi,
memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat.

Sesungguhnya sebagian perkataan itu ada
yang lebih keras dari batu,lebih tajam dari tusukan jarum,
lebihpahit daripada jadam dan lebih panas daripada bara.
Sesungguhnya hati adalah ladang,
maka tanamkanlah ia dengan perkataan yang baik
karena jika tidak tumbuh semuanya (perkataan yang tidak baik)
niscaya tumbuh sebagiannya

Tidak ada simpanan yang lebih berguna
daripada ilmu.
Tidak ada sesuatu yang lebih beruntung daripada adab.
Tidak ada kawan yang lebih bagus daripada akal.
Tidak ada benda ghaib yang lebih dekat daripada maut.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Makna Cinta Kahlil Gibran

 

Bagi Gibran cinta mengarahkan manusia pada Allah, dan karena cinta pula Allah mempertemukan diri-Nya kepada manusia. Lantaran itu dalam pandangan Gibran cinta sesungguhnya adalah cinta atas nama Allah dan cinta kepada Allah itu sendiri, karena segala sesuatu adalah pantulan dan imanensi dari Sang Mahacinta. Cinta kepada yang lain selain Allah, tetapi atas nama dan di dasarkan pada Allah akan membawa manusia dan alam semesta kepada persekutuan dengan Allah. Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul Cinta Keindahan Kesunyian, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74)

 

 

"Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu."

 

Gibran tidak hanya menekankan cinta sebagai dasar hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi lebih jauh dari itu melalui dan dalam cinta manusia diarahkan, dituntun sampai pada tahap akhirnya hidup dalam persekutuan dengan Allah. Cinta melampaui keterbatasan manusia, menembus ruang fisik dan berjumpa dengan Allah. Dengan demikian cinta ditempatkan Gibran sebagai bentuk hubungan terpenting dan tertinggi.

Agar sampai pada persekutuan dengan Allah melalui Cinta, bagi Gibran cinta itu harus berangkat dari peran manusia yang kongkret dalam kodrat kemanusiaan dan potensi-potensinya yang lebih jauh dan luas. Dalam Triloginya Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Suara Sang Guru (Yogyakarta, Pustaka Sastra, 2004, hal 212) dengan jelas Gibran menggambarkan tentang hal tersebut.

"Kalian orang-orang beriman yang dapat menemukan adanya suatu dasar untuk kemajuan seluruh umat manusia dalam sifat baik manusia, dan bahwa dalam diri manusia terdapat tangga kesempurnaan yang menuju Roh Kudus? Jika kalian dapat berlaku demikian, maka kalian akan seperti bunga bakung di taman kebenaran yang abadi harumnya baik tersimpan dihirup manusia atau tersapu oleh angin lalu."

Hal senada dikatakan Gibran dalamSemua Karena Cinta (Yogyakarta, Narasi, 2005, hal. 54)

"Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga."

Sejalan dengan pandangan mistik agama samawi, bagi Gibran persatuan Allah dan manusia tidak hanya terjadi dalam cinta yang meluap-luap dan berkobar-kobar kepada Allah dalam ekstase. Gibran lebih memandang pengalaman mistik dari aspek etika. Pengalaman mistik dalam pandangan Gibran tidak berarti melarikan diri dari tugas dan tanggungjawab hidup di dunia ini, dengan menyingkir untuk masuk dalam ekstase kebahagiaan untuk diri sendiri saja, membelakangi dunia serta melupakan segala penderitaan hidup diri sendiri maupun orang lain. Baginya mistisisme yang hanya mementingkan diri sendiri adalah egoisme alias pengingkaran terhadap kodrat manusia. Gibran menekankan bahwa relasi cinta antara Allah dan manusia baru akan menjadi nyata bila melimpah ke dunia dalam wujud cinta kepada sesama. Ini harus terjadi bukan dengan kata-kata, melainkan dalam belas kasihan dan kurban diri.

Wujud tertinggi dari cinta bagi Gibran adalah terlibat atau melibatkan diri dalam dunia; dan bentuk keterlibatan itu dimaknai oleh Gibran dengan kerja. Kerja atau pekerjaan adalah satu-satunya wujud relasi manusia dengan Allah dalam dunia, sebagai sebuah bentuk kurban diri yang kongkret. Kerja yang dimaksudkan Gibran tidak hanya melibatkan daya fisik tetapi juga pikiran dan perasaan manusia. Melalui kerja manusia dapat mewujudkan dirinya sebagai individu. Dengan bekerja manusia dapat melebur dalam persatuan dengan sesama, dan dengan bekerja pula manusia dapat menjumpai Allah di dalam alam semesta. Hal ini dilukiskan Gibran dalam Triloginya (hal.28-29)

"...aku berkata bahwa hidup memang kegelapan, jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan segala pengetahuan adalah hampa, jika tidak diikuti pekerjaan. Dan setiap pekerjaan akan sia-sia, jika tidak disertai cinta. Bekerja dengan rasa cinta, berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri-diri orang lain - dan kepada Allah."

Gibran meyakini bahwa kerja merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia. Latar belakang pemikirannya adalah karena manusia ialah citra Allah, juga karena perintah yang diterima dari Penciptanya untuk menaklukkan dan menguasai dunia. Bagi Gibran semua perkerjaan manusia harus berorientasi pada cinta. Karena kerja yang berlandaskan pada cinta, maka melalui kerja atau pekerjaan manusia tidak hanya mengubah kodrat, tetapi juga mewujudkan dirinya sendiri dan membangun masyarakat keluarga dan bangsa.

Bagi Gibran cinta tidak punya makna selain mewujudkan maknanya sendiri. Cinta tidak memberikan apa-apa pada manusia, kecuali keseluruhan dirinya, dan cintapun tidak mengambil apa-apa dari manusia, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki atau dimiliki, karena telah cukup untuk cinta. Namun jika manusia mencintai dengan hasrat dan keinginan, maka manusia harus meluluhkan diri, mengalir di dalamnya, dan terlibat. Hanya saja dalam kehidupan manusia cinta yang sempurna tidak dapat ditemukan. Kehidupan adalah tabir kegelapan, berkerudung dan bercadar. Melalui dan dalam cinta manusia senantiasa digiatkan untuk melakukan pencarian makna kehidupan dengan mengamalkan cinta kasih, tetapi kesempurnaan cinta hanya ada dan dimiliki oleh Allah.

"Apabila kalian mencinta, janganlah berkata: "Allah ada di dalam hatiku" tetapi sebaliknya kalian merasa: "Aku berada di dalam Allah" Dan jangan kalian mengira bahwa kalian dapat menentukan arah cinta, karena cinta apabila telah menjatuhkan pilihan pada kalian, dialah yang akan menentukan perjalanan hidup cinta." (Trilogi hal.14)

Dalam kehidupan, manusia tidak mampu mengukur kualitas cinta, sebab kepenuhan cinta sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Allah adalah awal dan akhir kehidupan, Allah adalah cinta, maka hanya dalam dan melalui cinta manusia berjalan dan mengarahkan dirinya kepada Allah.

Posted in Puisi. 0 Comment »

Kata – Kata Bijak Hari ini

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati (sahabat) tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk berterima kasih padanya.
Karena ialah yang membantu mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Tersenyumlah dengan wajar .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang cinta

Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan

Dan Saat engkau bertemu seseorang yang saat ini menemanimu seumur hidup (suami / istri) kita,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati yang kau cari.

Posted in My Self. 0 Comment »

Learning or Doing

Seringkali, seseorang bermaksud menguasai ilmu tertentu, namun akhirnya terhenti di hanya mempelajari saja. Meskipun sudah mengumpulkan banyak buku, download artikel-artikel, tanya kesana-sini dan menjalin hubungan dengan ahlinya, kadang itu semua tidak membantu.

Misalnya ingin jadi seorang Kaligrafer. Sudah membeli alat tulis yang mahal, beli buku-buku kaligrafi, ikut komunitas kaligrafer, namun di tengah jalan mendadak hilang begitu saja semangatnya. Ini pengalaman pribadi jaman jadul dulu.

Contoh yang lebih dekat, tidak sedikit rekan-rekan yang ingin bisa pemrograman. Sudah download berbagai artikel pemrograman, beli buku-buku programming, juga sudah kursus, tapi akhirnya ilmu itu tidak berarti apa-apa, menguap dan hilang.

Ya, secara teknis dan teoritis memang mereka mengerti, tetapi what next?

Menurutku, hal ini karena mereka hanya terhenti pada learning programming, belum doing programming.

Bercermin pada pengalamanku jaman dulu, saat Windows 3 masih menjadi OS mewah, Google belum lahir, internet belum konek, programming masih di jaman kegelapan, akan sulit belajar pemrograman kalo tidak doing programming.

Buku programming masih sulit ditemukan. Hanya mengandalkan artikel di Komputek lama (sempat bubar lama dan muncul lagi), dan majalah TIPS yang hanya sampe belasan edisi. Selain itu, belajar dari F1. Kalo hanya terbatas pada learning, saat itu nyaris tidak ada bahan untuk learning.

Namun saat itu pemrograman bukan sebagai tugas, bukan sebagai beban, tidak ada maksud menjadi programmer, tapi sudah menjadi hobi dan bahkan kebutuhan. Rela jalan kaki dari asrama Tambakberas ke kota Jombang hanya demi ngirit uang untuk rental komputer. Daripada buat bayar angkudes. Screenshoot kejadian.

Puluhan jam melayang kalo sudah membuka IDE QuickBasic, atau Pascal, atau apa yang mau dibuka saat itu. Aplikasi, baik yang berguna atau tak berguna, atau yang menyesatkan, banyak terlahir dari rentalnya Pak Heru.

Sakaw coding sering terjadi kalo sedang kehabisan kiriman duit. Pelajaran sekolah dan pesantren banyak yang tertinggal dan terabaikan, karena kadang berangkat ke rental teman-teman masih tidur, dan pulang ke asrama teman-teman sudah pada tidur.

Ok, itu semua bukanlah contoh yang baik, dan memang bukan itu yang hendak disampaikan, karena hasilnya saat ini malah dikutuk jadi programmer, belum jadi bosnya programmer.

Intinya adalah pada "lakukan" sesuatu itu, bukan "pelajari" apa yang ingin dikuasai. "Mempelajari" akan terjadi saat "Melakukan".

Teori tersebut berlaku pada hal-hal lain:

  1. Pingin jadi blogger, just do it, maka anda sudah jadi blogger. banyak blogger tenar saat ini yang awalnya aku lihat postingan dan blognya culun. Malah ada yang bingung hosting itu apa, dan SMS tengah malam minta dibelikan domain + hosting dan diinstallkan WP (hehehe, yang merasa aja deh :P). Dan kini blognya sudah ramai dengan jumlah komentar mencapai puluhan bahkan ratusan tiap post, sebagai bukti eksistensi.
  2. Pingin jadi networker, ambil crimping tool dan mulai potong-potong kabel jaringan di kampus/kantor. Googling deh kalo mentok. Gak usah nanya senior, kabari saja mereka kalo sudah berhasil ngehack detik.com.
  3. Pingin jadi pengusaha, just take action. Ikut seminar entrepeneur dan gabung komunitas pengusaha hanya tempat untuk refreshing saja, bukan sebagai startup.
  4. Dst.

Ketika sudah doing, maka anda sudah menjadi yang dimaksudkan. Doing programming, anda sudah jadi programmer. Doing blogging, anda sudah jadi blogger. Doing miyabing, anda sudah jadi miyaber, meskipun baru saja googling karena penasaran makanan apa itu Miyabi.

Just like that.

Telkomsel Keterlaluan

Sejak awal, citra Telkomsel sangatlah bagus. Bahkan bagiku, Telkomsel termasuk market leader provider seluler di Indonesia. Kalo bicara motor, Honda adalah nomor 1. Kalo soal search engine Google nomor 1, dan soal provider seluler, Telkomsel nomor 1.

Tapi sungguh tidak dapat dipercaya Telkomsel melakukan tindakan brengsek seperti ini.

Baiklah, secara hukum dan klausul kontrak, mereka berhak mengubah syarat dan ketentuan fair usage. Namun upaya penurunan fair usage Telkomsel Flash dari 2GB yang ada di awal kontrak menjadi 500MB adalah sangat keterlaluan.


Abusive User

Alasan yang dikatakan Telkomsel adalah bahwa langkah tersebut diambil karena banyak abusive user (penyalahgunaan bandwidth) sebanyak 3% (awalnya ngaku 10%).

Namun jika ditinjau, adanya abusive user adalah masalah internal Telkomsel. Itu ketidakbecusan mereka menjaga trafficnya dari abusive user. Kok pelanggan lain (semua pelanggan lain tepatnya) yang dikorbankan. Ini jelas alasan goblok.

Kenapa bukan abusive user itu saja yang diberantas?
Harusnya abusive user itu yang dicekik ketika sudah melewati batas fair usage.
Telkomsel tidak dapat mengetahui siapa saja yang melakukan abuse? Sekali lagi, itu ketidakmampuan mereka. Pakai tenaga ahli, pecat yang sekarang. Bukan malah pelanggan yang dikorbankan.

Simplenya, 3% abuse dan 97% lainnya ikut dihukum. Padahal kita tidak tau siapa yang 3% itu. Padahal kita bayar kontrak untuk 2GB.


Survei Aneh

Alasan bahwa survei menunjukkan rata-rata penggunaan quota per pelanggan per bulan sebanyak 500MB adalah aneh. Secara logika tidak masuk akal. Dapat dari mana statistik itu?

Kita hitung sekilas:

  1. Untuk buka Detik.com, per page kira-kira 150KB. 10 halaman sudah sekitar 1MB
  2. Facebook, halaman depan sudah lebih dari 500KB
  3. Gmail, buka pertama saja sudah sekitar 1MB

(#1 dan #2 dihitung menggunakan Firebug, #3 dengan metode save-as page)

Untuk aktifitas ngirit sekali, tidak termasuk download, seharian bisa mencapai 20MB. Per bulan sudah jelas terlihat > 500MB

Kalo rata-rata yang didapatkan Telkomsel adalah 500MB, secara statistik kasar berarti banyak pengguna Telkomsel menggunakan bandwidth jauh di bawah < 500MB (agar bisa mendapat rata-rata 500MB), bahkan mungkin harus ada yang 0MB per bulan. Pertanyaannya, siapakah mereka? Pantaskah mereka diperbandingkan dengan pengguna normal?

Baiklah, kita bisa menerima ungkapan yang terkenal: "mau murah kok minta cepat". Akan tetapi yang terjadi sekarang sangatlah keterlaluan.

Saat ini, jangankan menghabiskan 500MB, sedangkan untuk membuka Gmail saja kadang bisa dan terlalu sering tidak bisa. Dengan cara seperti ini, sangat mungkin statistik Telkomsel di atas akan terjadi, yakni tidak ada pelanggan yang bisa menghabiskan fair usage 500MB.

Sedangkan mendapat kecepatan 5KBps saja sudah mewah sekali.

Saya tidak katakan Presiden perlu menegur atau tidak. Tapi kalo saya jadi presiden, saya tendang Telkomsel. (inspired dari JPNN)

KATA – KATA BIJAK tentang CINTA

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka

Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (Dale Carnagie)

Posted in Campur. 0 Comment »

Cinta, Cinta Sejati, Soulmate

Ketika kamu punya perhatian lebih, ketertarikan lebih, kesenangan yang lebih, terhadap sesuatu, itulah cinta... dalam konteks apapun.

Ketika cinta itu satu, tak tergoyahkan oleh benturan dan waktu, terjaga cintamu padanya meski hidupmu bersama cinta yang lain... itulah cinta sejati.

Dalam satu putaran hidup, hanya satu belahan jiwa. Jika kamu mendapatkannya dalam cinta sejati... hufff, ikut dong... ^_^

Posted in My Self. 0 Comment »

Ngaji Gua Bangetsss..!!

Ngaji……..? gak deh, ntar dulu kalo kudu duduk manis di masjid dengerin ceramah-ceramah para ustadz yang bikin boring setengah mati, ntar dulu...kalo kudu jaga pergaulan gak boleh jalan bareng berdua ama pacar, gak boleh gini gak boleh gitu, ntar dulu dech...kalo kudu pake kerudung ama baju ibu-ibu hamil yang gedombrang, ntar dulu dech....kalo kudu kayak ustadz-ustadz yang berjenggot panjang nyaingin jenggotnya kambing.

Ntar dulu dech gue pengen fokus belajar dulu mana sempet mikiran pengajian,. Ntar dulu dech nanti aja kalo dah tuaan dikit sekarang mah masih muda lagi pengen hura-hura, maen dan having fun dulu. Ntar dulu dech nanti dikatain fanatik sama agama, sesat, ekstrim, apalagi teroris wah pokoknya enggak dulu deh,ntar dulu……ntar dulu…...ntar dulu…. Seribu macam alasan keluar dari alat komunikasi kamu ketika ada yang ngajak kamu untuk mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu Islam.

Ketika mendengar kata ngaji seolah-olah dalam otakmu terdapat program antivirus yang super canggih, segala sesuatu yang berkaitan dengan masjid, pengajian, ustadz, jilbab, janggut de..el..el, langsung terdeteksi oleh program antivirusmu ini, kemudian kamu delete dari otakmu atau kamu karantina dulu, setelah dipilih-pilih tapi akhirnya masuk recycle bin juga.

Yup inilah fenomena yang terjadi di kalangan kaula muda sekarang saat ini. Ironis memang tapi inilah fakta yang terjadi pada umumnya dan wajar kalau melihat kondisi umat Islam saat ini. Entah apa yang terjadi dengan remaja muslim saat ini, penulis juga bingung mikirinnya sampai-sampai baju-baju kotor dah menggunung belum dicuci karena sibuk mikir, maklum masih single fighter (eh kok jadi curhat nih). Ok, dari hasil pengamatan, penelitian dan analisa yang begitu mendalam selama berhari-hari akhirnya dapat ditarik benang merahnya bahwa akar permasalahan yang menyebabkan kondisi ini terjadi bisa dijelaskan sebagai berikut, simak ya!

Setiap orang tentu punya orientasi masing-masing dalam menjalani hidupnya, dan pernah gak kamu berfikir apa yang terpenting dalam hidupmu? Salah seorang temanmu mungkin menganggap bahwa yang terpenting dalam hidupnya adalah ketika di sekolah mendapat nilai yang bagus, juara satu dikelas, lulus ujian akhir nasional dengan nilai yang tingi sehingga bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang pavorit (gak pake f maklum orang sunda).

Atau temenmu yang lain yang punya tampang agak kerenan dikit, kalau diliat dari belakang kayak Dao Ming Se (F4), tapi diliat dari depan kayak Aming Se (extravaganza) he..he..he.. Dia menganggap bahwa yang terpenting dalam hidupnya adalah punya gebetan cakep, terkenal di sekolah, gonta-ganti pacar, atau jadi playboy cap tiga duren (korek api kali).

Beda lagi sama temenmu yang matre dan borjuis, yang terpenting dalam hidupnya adalah kerja dengan gaji gede, banyak duit, tajir, harta melimpah, punya mobil dan rumah mewah. U ARE U kamu adalah kamu, tapi seperti apakah kamu itu? apakah harta, tahta, atau wanita yang penting buat hidup kamu? Jawabannya tanyakan pada rumput2 yang bergoyang (itu kalau kata kang Ebiet). Kalau kata ustadz semuanya berpangkal pada apa yang ada dalam isi batok kepala seseorang atau pemahaman dia dalam memandang kehidupan di dunia ini.

Pren, pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri tentang dari mana kamu berasal? maksudnya bukan asal kota kelahiran kamu tapi manusia dan kehidupan ini berasal dari mana? Truuz buat apa kamu hidup di dunia? Lalu setelah kamu mati akan kemana? Jawaban atas 3 pertanyaan ini dan keyakinan akan jawaban tsb adalah faktor penentu orientasi kamu dalam menjalani hidup.

Om Darwin bilang kita ini berasal dari kera hasil dari proses evolusi yang kalau dirunut dari awal disimpulkan bahwa makhluk hidup itu berasal dari materi, sehingga Karl Marx menyimpulkan tujuan hidup di dunia adalah buat cari materi dan setelah mati akan jadi materi, itu saja.

Sedangkan orang-orang sekuler bilang bahwa manusia dan alam semesta ini memang berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan, tapi ntar dulu kalo masalah urusan di dunia bukan urusannya Tuhan. Gak perlu pake aturan Tuhan di dunia ini tapi aturan manusia yang dipake. Nah kalau kata ustadz, qta, kehidupan dan alam semesta berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, oleh karena itu ketika hidup di dunia manusia punya kewajiban untuk beribadah kepada Allah.

So jawaban dari 3 pertanyaan inilah yang akan menjadi landasan seseorang ketika menjalani hidupnya, apa yang menjadi orientasi dalam hidupnya tergantung dari jawaban atas 3 pertanyaan tersebut.

Orang yang atheis boro-boro mikirin urusan akhirat yang ada dalam batok kepalanya hanyalah materi jadi gak heran kalau hidupnya juga buat materi begitupula yang beraliran sekuler walaupun mengakui adanya Tuhan tapi orientasi hidupnya adalah untuk materi sehingga tolak ukur kebahagiannya adalah mendapatkan harta yang banyak, bergaya hidup jet set ala borjuis, dan hidup foya-foya atau hura-hura.

Berbeda halnya dengan seorang muslim yang faham akan kewajiban beribadah kepada Allah dalam hidupnya maka so pasti orientasi hidupnya akan dipenuhi dengan aktivitas yang bernilai ibadah di sisi Allah, gak pernah terbesit dalam pikirannya untuk ninggalin Shalat wajib dengan sengaja, senantiasa memperbanyak amalan sunnah, puasa sunnah, Sholat sunnah, menjaga pergaulannya antar lawan jenis, menjauhi hal-hal yang berbau maksiat, meninggalkan aktivitas yang sia-sia kayak nongkrong2 yang gak jelas, dugem, track-trackan pake motor dan banyak lagi.

Nah alangkah baiknya kalau kita senantiasa menambah ilmu dan pengetahuan qta dengan ilmu-ilmu dan pemahaman Islam disamping menuntut ilmu Islam itu adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim seperti yang disampaikan daam Hadits Riwayat Ibnu Adi dan Baihaqi, dari Anas ra : “Menuntut ilmu pengetahuan itu wajib bagi setiap Muslim:”
Nah para remaja muslim sudah saatnya sekarang ini kalian bilang “NGAJI…..GUE BANGET!!”
 

Posted in Campur. 1 Comment »

Nasehat Ustadzah Iqtina Khansa Al Ghifari Untuk Para Akhwat (Ikhwan Juga perlu untuk membaca ini)

Dunia maya ini memang sangat melenakan, hati - hati kukatakan untuk diriku sendiri, dan kalian semua yang senang mengarungi dunia maya. Banyak para akhwat dan ikhwan yang sangat hanif yang mampu menjaga dirinya dari pandangan yang berbau maksiat, selalu menundukkan wajahnya ketika berhadapan dengan seorang akhwat atau sebaliknya akhwat di hadapan ikhwan. Hati mereka benar benar terjaga, bahkan untuk berbicara saja dipersiapkan agar terdengar sopan dan lembut, ooh...indahnya pergaulan dalam islam.

Tapi amat sangat disayangkan ketika mereka semua melebur dalam dunia maya, semuanya memudar. Hilanglah rasa malu, pandangan tak perlu ditundukkan, dan kata katapun tak perlu ditata..toh..ga ketemu ini, itulah pemikiran kita. Kita sering sok serang - serangan argumen dengan dalih berdakwah yang ujung- ujungnya banyak yang terpeleset dalam maksiat kecil..ngecengin temen - temen, bercanda sampe keterlaluan, dan sok ngambek - ngambekan.

Tidak malukah kita..yang sering mengingatkan temen - temen kita yang
masih jahiliyah agar mengenal dan mengamalkan islam? Tidak malukah kita dihadapan Allah yang menyaksikan semua perbuatan kita? Wanita mulia karena sifat malunya..dan laki- laki mulia karena sifat kepemimpinanya. Jika seorang wanita sudah hilang sifat malunya bagaimana cara dia menjaga dirinya...? Dan jika seorang laki- laki tidak bisa menjadi teladan bagaimana dia akan dihargai saat memimpin...? Waspadalah didunia maya ini

Tentang Bercanda Di Dunia Maya

Memang manusiawi, semua orang membutuhkan canda untuk menghilangkan penat. Rosulullah juga suka bercanda, asal tidak berlebihan saja. Bisa juga kita siasati dengan memilih bercanda dengan sesama akhwat jadi bisa saling mengontrol toh walaupun sampai kebablasan izzah kita tetap terjaga.

Dan kita tidak bisa cuek dengan semua ini, Cuek bisa dimanfaatkan untuk hal - hal yg positif..cuek dengan orang - orang yang mencibir dan melihat sinis pakain kita. Selalu tanamkan dalam hati..dimanapun kita berada Allah menyaksikan segala perbuatan kita.

mohon maaf atas kekurangan saya dalam tulisan ini...

Wassalam

 

”AKHWAT BERHIJAB DAN IKHWAN YANG NGERTI SYARI’AT ISLAM KOK BERPACARAN…??!!”

”AKHWAT BERHIJAB DAN IKHWAN YANG NGERTI SYARI’AT ISLAM

KOK BERPACARAN…??!!”



Pertama mendengar hal tersebut saya sedikit tidak percaya, bagai mana mungkin seorang Akhwat yang sudah memutuskan untuk berhijab (menutup auartnya sesuai dengan syari’at) dan ikhwan yang sudah ngerti (bukan faham) tentang hukum syari’at islam melakukan hal yang sudah jelas dilarang oleh hukum Islam. Hal tersebut sangat aneh untuk didengarnya padahal dengan bekal ilmu yang mereka miliki seharusnya mereka dapat membedakan yang mana yang halal dan mana yang haram. Dan sayapun pernah bertanya kepada beberapa Ustad dan teman-teman saya, “Apakah mungkin seorang Akhwat yang sudah berhijab dan Ikhwan yang ngerti tentang syari’at melakukan hal yang dilarang oleh Agama”. Jawaban merekapun bervariatif ada yang menjawab : “Mereka kan baru ngerti tentang syari’at islam dan mereka belum faham, ya jadi sangat besar hal tersebut dilakukan oleh mereka, karena baru ngerti belum faham” dan ada juga yang menjawab “Untuk ilmu mereka memang punya, tetapi kalo hati berkendak lain, maka menjadi bodohlah mereka”. Padahal sudah jelas bagaimana hukumnya dalam syari’at islam tentang Berpacaran. Pacaran diharamkan dalam syari’at islam, karena pacaran lebih banyak mudhorotnya dan cenderung akan membawa sang pelaku kearah zina, Allah befirman :

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32).


Perhatikan juga sabda Rasulullah:

“Jangan sekali-kali seorang lak-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya.” (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi dan lain-lain).

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (H.R. Ahmad)

Dari dalil-dalil diatas sudah cukup jelas, bahwa pacaran dalam syari’at islam adalah haram, dan saya yakin mereka tau tentang itu.

Islam adalah agama Rahmatan lil’alamin, di dalam islam semuanya telah ada aturan-aturannya, termasuk dalam hal mencari jodoh, islam juga telah mengaturnya, ada beberapa hal (proses) yang dibolehkan dalam syari’at islam dalam mencari jodoh yaitu (1) Ta’aruf, (2) Khitbah dan (3) Menikah.

Dan pada sampai pada saat ini saya belum mendapatkan alasan-alasan yang jelas dari para akhwat yang berhijab dan ikhwan yang ngerti tentang syari’at islam, mengapa kok masih melakukan hal yang diharamkan oleh Hukum Allah, kenapa mereka tidak menikah saja, kalau alasan mereka belum siap untuk menikah perlu diingat wahai sadara/saudariku Allah itu Maha Adil, Allah Maha Bijaksana. Kalau alasanya belum siap, berarti antum dan antuna lebih siap untuk mendapatkan dosa dibading segala pahala kebaikan dari sisi Allah. Akhi dan ukhti perhatikan Firman Allah dan Hadist Rasulullah berikut ini :

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Alloh akan mengkayakan mereka dengan karuniaNya. Dan Alloh Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”(Q.S. An Nuur, 024:032)


“ Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada sebagian yang lainnya “. (HR. Al Hakim dan Ath Thabrani dari Anas Bin Malik. Al Albani meng-hasan-kannya).

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku.”
(H.R. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya.”
(H.R. Bukhori-Muslim)



Apakah Akhi dan Ukhti tidak mau setengah dien menjadi milik Akhi dan Ukhti ……. Janganlah kita memupuk keburukan-keburukan dengan melanggar hukum-hukum Allah. Mari kita kembali kepada dienul Islam yang mulia ini, dan jangan sampai kita mengotorinya.

Saya menulis tentang hal ini bukan bermaksud untuk menhujat, tetapi saya ingin mengajak kita semua untuk memurnikan Aqidah kita bersama, saya mengajak kepada akhi dan ukhti semua untuk tetap istiqomah dijalan. Dan mari kita jaga dengan sungguh-sungguh kemulian dienul islam ini, jangan pernah kita mengotorinya dengan melanggar hukum-hukum-Nya.
 

Posted in Campur. 1 Comment »

Sayang Tak Terbilang

Tawanya lembut
Senyumnya anggun
Sayang aku tak pernah melihatnya …

Tegurnya halus
Marahnya santun
Sayang aku tak pernah menemuinya …

Sayang aku tak pernah dan takkan pernah …
dia … !!!

Posted in My Self. 2 Comment »

Diproteksi: Sepenggal Kisah Cinta … ku

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Kata Sandi:

ketik di bawah nie 


kirim ke .....

 

Posted in My Self. 1 Comment »

FAQ (Frequently Asked “Question”)

” Kenapa berbuat kebaikan saja kok begitu susah ya … “
” Kenapa berbuat kebajikan saja kok banyak penghalangnya ya … “
Padahal kan (ku niatkan) bukan untukku (?) …

Ya Alloh … adakah gerangan dari niatku yang salah?
Ya Robbi … adakah gerangan dari hatiku yang masih ragu?
Ya Rahman … adakah gerangan dari caraku yang keliru?
Ya Rahiim … adakah gerangan dari pikiranku yang rancu?
Ya Salaam … adakah gerangan dari semangatku yang mulai luntur?

Tunjukkan kepadaku jalan yang Engkau ridloi dan jadikan hatiku ridlo menerimanya.
Tiada daya dan kekuatan, melainkan karena-Mu …

Aku Ingin Menulis, Ngisi Blog

Sebenarnya ni saya ingin menulis sesuatu, tapi masih belum menyempatkan diri … jadi ya belum nulis-nulis juga.

Kayaknya sih perlu menyempatkan diri dulu yah, menyediakan waktu untuk menulis sekedarnya dulu, tapi pye …

wah … mikir terus malah gak jadi nulis-nulis kih …

wis weh … muleh!!

Posted in My Self. 0 Comment »

Puisi Cinta .. untuk suamiku nanti

Dalam Renungan …

Aku merenung …

tetep aja merenung terus …

hendak bikin puisi … bingung nda jadi-jadi ..  

Posted in My Self. 3 Comment »

Supaya Matahari lebih terang esok hari

wah, beberapa hari ini pekerjaan kantor menumpuk, ditambah pekerjaan rumah yang berjubel, blum lagi proyek-proyek yang ngantri panjang …

Wajah kuyu harus berhadap dengan tampang-tampang garang penuh tuntutan… masya Alloh!

tapi aku nikmati saja, sebagaimana sambal pedas penghias rasa Bakso … :) dan senyum adalah pengantar tentram yang tepat saat ini.

Fokus yang mesti kuprioritaskan adalah kepentingan kebenaran dan hak masyarakat yang perlu diperjuangkan …

aku harus bertahan dan berjuang dan tetap terus berjuang optimal !

Supaya Matahari lebih terang esok hari …

Posted in Puisi. 1 Comment »

Hari Yang Melelahkan

Inget kalimat "Al Wajibatu Aktsaru minal Auqoot"....? Rasanya iya juga, padahal Alloh udah ngasih ke kita 24 jam sehari semalam, tapi rasanya kok bentar banget. Rasanya baru aja terlelap, e...ternyata tau-tau udah pagi lagi.
Sahabatku, ketika kita udah mengikrarkan diri ini kedalam dunia dakwah, bahkan sering kita mengucapkan "Nahnu Duuat Qobla Kulli Syai", kita adalah Dai sebelum segala sesuatu. Tapi kadang lelah, cape..., kaya gak punya energi lagi. Ternyata ibarat pesawat HP, ketika hadis di charge, ternyata dipakai bicara untuk say hello ampe 1,2 bahkan nyampe 5 jam bisa kuat, tp ketika battery habis, yach...drop, jangankan only say hello, pakai pejet no aja gak nyukupin batterynya....
Kali aja begitu juga manusia alias kita, mesti di charge terus biar battery nya tetap bagus....minimal gak out of date...he...he..., tp iya juga lho ya..., bagi temen2 muslim tentu udah pada paham dengan hal ini. Ada makanan-makanan rohani sebagaimana bagi jasad kita ini, ada makanan-makanannya. Setiap yang kita makan pasti akan menjadikan diri ini sehat dan kuat. Begitu juga ketika rohani kita kasih makanan, apalagi makanan yang bergizi, yach tentunya rohani kita juga bakalan jadi lebih kuat dan sehat lagi.
tapi permasalahannya kitenya males untuk memberikan makanan rohani bagi bathin kita ini. Ya sudah akhirnya terjadilah "LOW BATT....". malesan, gak mau dakwah, gak mau ibadah, gak mau sholat....dan gak mau yang baik-baik lah......
Makanya sahabatku, sempatin walau hanya 2 jam seminggu untuk ngaji....mentarbiyah diri ini sebagai "CHARGER bagi battery rohani kita....., palagi kita mao nyempatin buka tuh al-Quran walau hanya mbaca 1 ato 2 ayat saja walau hanya 5 menit sehari....(pelit amat ya...wong amat aja gak pelit.....).
Sudahlah kawan tinggalin semua yang mbikin hati ini sengsara....menuju pada kebahagiaan abadi menuju alloh swt. Selamat berjuang sahabat.....saling mendoakan ya....!!!????

Posted in My Self. 0 Comment »

Kemana Waktuku...??

Subhanalloh... begitu indah manakala semua orang bisa tersenyum manis semanis gula, tersenyum indah seindah......(hayal sendiri ya....), namun ternyata gak semua orang bisa melakukannya. Ada apa ?? Padahal kata rosul kan senyum itu shodaqoh ? Nah...itu juga yang masih ane perjuangkan untuk melakukannya setiap hari..setiap waktu....(asal jangan di setiap tempat...heheheheh....bisa bisa malah dibawa ke Jebres nih....).

Pagi ini (Kamis, 15 Oktober 09) kuliat ada satu pesen SMS di inbox dari 085658229xxx, satu kalimat tertulis disana yang bisa membuat bibir ini sedikit tersenyum, walau gak semanis gula, tapi insya Alloh sudah semanis kecap....(manisan mana ya kecap ama gula...?).
Betapa ketika vans baca kalimat itu, ku jadi tersentak manakala kuingat perjalanan hidup ini ternyata udah sedemikian jauhnya, seper empat abad lebih....., bahkan kini ku telah mempunyai calon pasangan  yang insya Alloh Sholeh dan bisa membimbing vans.

"Waktu adalah bagaikan air, ia mengalir tanpa henti meski sebongkah batu menghalanginya, ia lembut tapi tajam bagaikan pedang, apbila kita lengah kita kan terluka, bahkan menimbulkan penyesalan, tapi apabila kita cerdas bersahabat dengan sang waktu, maka kita kan jadi pemenang" (bunyi kalimat dalam SMS itu)



Betapa selama ini ku terlena dan kurang menghargai waktu, padahal sering vans memberikan kajian, ngisi pengajian dengan materi Bagaimana mengelola waktu tp ternyata vans sendiri kurang bisa menghargai waktu....( Ya Alloh...maafkan hambaMu ini....!! takut ku dengan ancaman Alloh dalam Q.S Ash Shof ayat 2-3....).
Astaghfirullohal adzim..., Kata Rosul, umur umatnya hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Itu artinya manakala hitungan umur kita hanya 60 tahun, berarti sebagian besar bahkan hampir 50 % kehidupan kita hanya untuk tidur saja. Asumsinya adalah bila kita sehari semalam tidur 8 jam (idealnya sih), tp masih juga tidur siang misalnya sampai 4 jam, berarti tidur kita selama 12 jam sehari semalam...., subhanalloh berarti pula dalam usia kita yang hanya 60 tahun itu, yang 30 tahun hanya kita gunakan untuk tidur saja. (betul-betul kita nih punya penyakit TuMor alias Tukang Molor. Naudzubillah.....
Kita biasa merasa ketika Alloh memberikan 24 jam sehari semalam, terasa masih saja kurang....berapa jam lagi yang akan kita minta kepadaNya, padahal selama 30 tahun dari 60 idup kita hanya kita gunakan untuk tidur. belum lagi Belajarnya, belum nonton TV nya, belum sepak bolanya, belum bekerjanya, belum ini belum itu dst....Trus KAPAN IBADAHNYA...?
Sekali lagi pertanyaanya adalah ...
.KAPAN IBADAHNYA bro......!!!!???????

Posted in My Self. 0 Comment »

BE A BEAUTIFUL MUSLIMAH

Kecantikan bagi setiap wanita mungkin merupakan sesuatu yang sangat diidamkan. Sehingga apapun akan dilakukan untuk bisa tampil cantik dan menawan hati. Bahkan bila perlu operasi plastik akan menjadi pilihan untuk mempermak wajah dan anggota tubuh yang lain.
Lalu bagaimana dengan menjadi seorang muslimah? Bagaimana menjadi seorang muslimah yang cantik? Bagi sosok muslimah, nampaknya kecantikan tidak hanya berhenti pada hidung yang
mancung, pipi yang mulus, kulita yang terawat dan seabrek pesona fisik lainnya. Tetapi lebih dari itu ia harus memiliki kecantikan yang lain.

1. Cantik Jiwa
Menjadi sosok muslimah yang siap mempercantik jiwanya dengan selalu memperbarui taubat. Menyegarkan jiwanya dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena tak ada kata yang indah selain kata pasrah terhadap apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

2. Cantik Akal
Menjadi muslimah yang smart, cerdas, nyambung kalau diajak ngobrol. Oleh karena itu ia tidak boleh meninggalkan kebutuhan akal dan otak dia. Selalu update dengan pengetahuan terbaru dan bisa dengan cepat mengikuti perkembangan. Bukan muslimah yang jadul dan lowbatt. Selalu ketinggal bereaksi terhadap apapun. Menjadi followers dan tidak pernah bisa menjadi leader.

3. Cantik Diri
Pada aspek ini muslimah harus mampu berada pada dua poin besar. Antara terlalu berlebihan dengan terlalu meremehkan. Penampilan memang bukan segala-galanya, namun begitu bukan kemudia kita meremehkannya dengan memilih tampil kucel. Kudu pinter-pinter menempatkan diri antara berlebihan dan meremehkan. Memilih kosmetik yang berfungsi menjaga dan bukan berfungsi membuat menyolok.

Semoga bsia jadi sedikit masukan buat teman-teman muslimah.

 

 

cinta hakiki

Komitmen kita dalam berdakwah merupakan gambaran komitmen kita dalam beribadah. Ketika kita lemah, malas, atau bahkan meninggalkan dakwah ini, maka seperti itulah cerminan ibadah kita. Periksa kembali ibadah kita. Mungkin ada yang salah didalamnya. Ada yang harus diperbaiki. Selam kembali dasar lautan hati kita sampai kita menemukan Mutiara keteguhan, keikhlasan, dan kesabaran.
Biarkanlah mereka mengatakan jalan dakwah yang kupilih ini adalah jalan yang berat. Namun bagiku, inilah jalan terbaik untuk menuju Kabahagiaan yang hakiki. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini adalah jalan yang penuh duri. Tapi bagiku, tusukan-tusukannya sudah menjadi kenikmatan yang tidak akan pernah mereka rasakan. Biarkan mereka mengatakan bahwa jalan yang kupilih ini adalah api yang akan membakar hangus seluruh tubuhku. Tapi bagiku, Ia sudah menjadi sesuatu yang memberi kesejukan dalam hidupku. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini melelahkan. Tapi bagiku jalan ini adalah seperti oase di padang gersang ketika orang yang melintasinya merasa kehausan. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini akan membuatku miskin. Tapi bagiku, jalan ini menjadikanku merasa orang terkaya di dunia. Biarkan mereka mengatakan jalan yang kupilih ini adalah jalan yang membikin linglung. Tapi bagiku, jalan ini telah menjadikanku tegar setegar Bongkahan batu karang yang diterjang Ombak membadai.
Di jalan ini aku telah menemukan Cinta. Cinta suci dan hakiki. Ia telah mengajariku tentang Indahnya berjuang. Ia telah mengajariku tentang kenikmatan berkorban. Ia telah mengajariku tentang kebahagiaan bersabar. Ia telah mengajariku tentang kemanisan lautan ikhlas.
Adakah yang lebih baik di dalam hidup ini selain bekerja sama dengan Allah ? Adakah pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain menjadi Pelayan Allah sang Khalik ? Kalau memang tidak ada, lalu apa yang membuatmu wahai diri untuk tidak melaksanakannya.

Mungkinkah disebabkan karena jaminan laba yang kita dapatkan dalam bentuk harta tidak menjanjikan ? Atau mungkin karena ia tidak akan menjadikan kita manusia terpandang di mata manusia ? atau mungkin juga karena tidak adanya pasilitas kemewahan duniawi yang akan kita peroleh ?
Bukankah Allah telah membeli harta dan Jiwa kita dengan syurganya yang menawan ? Sungguh Maha pemurah Allah Azza Wajalla. Ia memberikan kita modal yang sangat banyak. Modal yang seharusnya kita gunakan untuk “berbinis” di jalanNya. Tapi kemudian Allah membelinya dengan kenikmatan Jannahnya. Padahal seandainya Allah mau, Dia bisa saja mengambil semuanya dari kita tanpa meminta persetujuan kita.
Sungguh beruntung orang-orang yang telah memanfaatkan modalnya dengan baik. Sungguh beruntung orang-orang yang telah berinvestasi di jalan kemuliaan. Karena disana mereka akan terus menemukan keuntungan-keuntungan yang tidak akan mungkin akan tertandingi oleh apapun. Bahkan seluruh langit dan bumi beserta seisinya sekalipun. Butuh kesabaran dan keikhlasan memang untuk memperolehnya.
Sabar dalam beramal, itulah karakter para pejuang. Ikhlas dalam beramal, itulah prinsip para pejuang. Karena sesungguhnya, Sakit didunia akan menjadi kuat ketika kita mengingat keuntungan yang akan kita peroleh di Akhirat nanti. Sedih di dunia akan menjadi kebahagiaan ketika mengingat Syurganya. Penderitaan di dunia menjadi nikmat ketika hanya KeridhaanNya yang kita tuju
Sabarlah dalam berjuang dan berkorban Saudaraku. Ikhlaskan apa yang kita miliki untuk menuju pertemuan denganNya. Pertemuan dengan para Nabi dan Rasul. Pertemuan dengan orang-orang beriman. Pertemuan dengan para pejuang Badar. Pertemuan dengan para Syuhada. Dan Pertemuan dengan Allah yang maha Gagah, Maha Indah dan Maha Sempurna.

[Kisah Hikmah] Pelajaran Untuk Menahan Amarah, Atau Kamu Akan Menyesal

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampakjelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembanturumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merahpadam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan Saya tidak tahu..tuan."
"Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "
DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ... kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apamenagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan.

Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa...

Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu..

Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belahangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya.
"Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.

Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.
"Dita demam, Bu"...jawab pembantunyaringkas.
"Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas.
"Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut...
"Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.

Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

"Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajahpembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?.... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi..., Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Hikmahnya:

Pertama, KEMARAHAN adalah karena NAFSU dan ajakan SYAITHAN,PENYESALAN yang akan didapat kalau kita menurutinya. Maka janganlah sekali-kali mengambil keputusan dalam keadaan MARAH .Dan biasakan kita untuk MEMAAFKAN orang lain...Hal ini dalam apapun, termasuk dalam hubungan suami istri, pemerintahan, poliktik dan sebagainya.

Firman Allah..Surat Ali Imran:134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang MENAHAN AMARAHNYA dan MEMAAFKAN (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Yang kedua, janganlah terlalu MENCINTAI HARTA secara berlebihan, hal ini akan MEMBUTAKAN HATI...
"JADIKANLAH HARTA ITU DI DALAM GENGGAMAN TANGANMU, BUKAN DI DALAM HATIMU!"

Dunia Fana’ Yang Menyesatkan [RENUNGAN]

Perhatikan Sabda Nabi ini,
“Sesungguhnya aku mampu melihat apa yang tak sanggup kalian lihat. Kudengar suara gesekan dilangit (berkriut-kriut), langit sedemikian padatnya, tak ada tempat kosong bahkan seluas empat jari sekalipun karena langit dipenuhi para malaikat yang sedang bersujud kepada Allah SWT. Demi Allah!!! Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang akhirat), niscaya kalian tidak akan pernah tertawa sedikitpun, bahkan kalian pasti akan banyak menangis (karena takut). Dan niscaya kalian tidak akan pernah bisa bersenang-senang dengan istri-istri kalian, dan niscaya kalian akan keluar berhamburan ke jalan-jalan (berteriak) untuk memohon (ampun) dan memanjatkan doa kepada Allah (meminta perlindungan dari bencana akhirat) yang akan Dia timpakan” ( HR Tirmidzi & Al-Bukhari)


Duhai teman..!!
Hindari dirimu dari permainan dan kesia-siaan
Jaga kesucian dalam cinta dan kasih sayang
Kenimatan sesaat jangan kau jadikan tujuan
Keindahan semu jangan kau damba-dambakan

Saatnya kini, kita bangkit dan sadar diri
Bersihkan segala penyakit dan karat dari hati
Segala cacat dan maksiat yang membuat lalai
Takutlah di hari,
Di mana tak ada yang luput dari Illahi

Duhai jiwa...!!
Bangkit dan siapkan dirimu tuk hari depan
Hindari nafsu yang membuatmu lupa daratan
Ayo bergegas menuju keselamatan
Ayo berjuang, berjuang, dan berjuang
Agar kau selamat dari adzab yang membinasakan
Selamatkan dirimu dari api yang menyengsarakan

Duhai kau...!!
Yang suka bermain-main di dunia ini
Ingat,,! Kehidupan dunia tak akan abadi
Tak cukupkah bagimu segala kenimatan
Hingga kau habiskan waktumu dalam permainan
Negeri yang fana ini segeralah kau tinggalkan
Karena tak ada yang abadi dalam kenimatan dunia
Semua kan sirna bila waktunya tiba

Dariiiiiii Evans For All My friends

Afwan yah semuanyaaaaaa buat Blog evans di tunggu ajah karena alasan pekerjaan yg terus mengejar so update an Blog d tunggu ja yah ?

Ada masukaan kah ? saran mungkin ? Evans tampung deh oke guys ?

 

wassalam,

Evans

Posted in My Self. 1 Comment »

Bekerja sebagai ibadah, akan menggapai sukses

Setiap insan di dunia ini pasti mempunyai cita-cita. Hanya cita-cita itu bervariasi bentuk dan cara pencapaiannya. Tapi benar kan,kalau kita pasti punya cita-cita. Jangan tutupi dengan ucapan, “ah enggak ah .Aku tidak punya cita-cita. Asal aku bisa hidup tenang, punya uang banyak yah sudah”. Ha… , itu kan bentuk cita-cita juga namanya. Hanya ungkapannya saja yang berbeda dari orang yang lain.

Nah kalau kita sudah sepakat, tentang hal tersebut di atas, mari kita lanjutkan. Karena kita punya cita-cita, tentu kita akan berusaha untuk mewujudkan cita-cita itu. Kita akan bekerja, berbuat hal-hal yang kita anggap akan dapat menggapai nya. Ada yang belajar dengan sungguh sungguh, menempuh pelajaran di sekolah pilihan yang sesuai dengan cita-
cita kita. Dan setelah selesai menamatkan pendidikan, kita mulai mencoba mencari pekerjaan yang cocok. Baik dengan bekerja untuk mendapatkan gaji, atau pun bekerja secara mandiri. Bekerja wira swasta, misalkan membuka bengkel, membuka toko, membuka warung, membuka restoran, kafe, buku….(untuk apa?) Maksudnya membuka buku untuk mulai menulis, ya menulis apa sajalah. Karena memang bercita-cita ingin jadi penulis. Tapi
itu dahulu, kalau sekarang ada pilihan, membuka laptop atau PC lalu membuat tulisan di sana. Ada juga yang membuka tanah untuk bertani, membuka kebun. Pokoknya bukalah pikiran Anda dan berbuatlah apa saja untuk menggapai cita citamu. Apa pun bentuknya. Karena tak akan ada cita-cita yang dapat diwujudkan tanpa berbuat apa-apa.

(Nah, lalu apa kaitannya dengan judul di atas, Jangan ngaco ah.)

(Tunggu dulu… pelan-pelan dong, nanti salah lagi aku menuliskan ini. Mengganggu sajalah kau oi)


Nah kalau kita tahu bahwa untuk menggapai cita, setinggi apa pun cita-citamu, kita mesti
bekerja. Sekarang kita masuk kepada alasan dasar karena apa dan mengapa kita mesti bekerja. Satu hal seperti yang saya katakan di atas, cita-cita. Tapi itu saja belumlah cukup. Karena ternyata cita-cita kadang bisa berubah-ubah juga, dengan datangnya pertambahan usia. Kebutuhan hidup, barangkali. Karena kalau tidak bekerja, bagai mana kita memenuhi kebutuhan hidup kita ini. Ikatan kerja atau semacam kontrak kerja dengan majikan. Atau karena alasan gengsi… kalau cuma menganggur duduk-duduk di simpang jalan, malu juga sama cewek-cewek, mana ada yang mau.Cuma diriku yang tak laku-laku (pinjam istilah WALI)

Tapi dari semua alasan dasar yang memotifasi kita untuk bekerja, pernahkah kita berpikir tentang satu alasan yang paling mendasar, bahwa sebenarnya kerja itu merupakan ibadah. Salah satu bentuk perwujudan rasa terima kasih kita kepada Tuhan yang telah menjadikan kita. Karena Allah SWT telah menciptakan kita dengan anggota tubuh yang begitu lengkap dan sempurna baik bentuk maupun fungsinya . Andai tidak kita pergunakan untuk membantu sesama, orang yang lain, menjaga dan menyayangi makhluk hidup, termasuk juga kelestarian alam dan lingkungan hidup, yang juga dijadikan-Nya apalah arti semua kelengkapan itu?

Kita hanya akan menjadi parasit, benalu dan bahkan ‘perusak alam’. Kita akan jadi beban masyarakat.

( Menyambung enggak ya? Kalau saya salah beritahu saya ya, untuk lebih menyempurnakan tulisan ini…he …hehe :) )

(Oke…lah, tapi apa hubungannya dengan sukses?)

Sukses… ? Sukses itu, kan berhasil! Nah, kalau semua kerja yang kita lakukan kita landasi dengan kesadaran bahwa itu adalah ibadah. Bentuk terima kasih kita kepada Allah SWT, kita akan melaksanakannya dengan ikhlas, penuh kesadaran dan bukan hanya terpaksa. Dan biasanya sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas, apalagi dengan rasa sukacita, bukan sebagai tugas, kewajiban, apalagi sebagai ‘beban’, maka hasilnya akan berbeda. Kita akan lebih teliti, lebih bersemangat, dan kreatifitas pun akan muncul di saat kita mengerjakan sesuatu.

Nah kembali ke awal paragraf diatas, sukses = berhasil. Kalau hasil yang kita capai sudah demikian baik, teliti, penuh kreatifitas dan sebagainya, dsb….. bukan kah itu berarti
suatu tanda keberhasilan?. SUKSES dong!? Dan kalau sudah sukses alias berhasil, rasakanlah ada suatu kebahagiaan menyelinap di sudut terdalam dari hati kita. Nanti lita bahas lagi ya, lebih mendalam. Kalau saat ini dibahas, Anda akan bosan membacanya. Sampai jumpa.
 

Posted in Campur. 2 Comment »

Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur

 Pembahasan judul diatas sebenarnya hanya ingin mengungkap menganai Iklas dan Syukur secara sederhana saja namun biar agak terkesan Dahsyat jadinya Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur. Arti mudahnya Iklas itu adalah menerima segala yang kita peroleh atau kita dapatkan dengan hati yang lapang tanpa ada penyesalan ataupun kekecewaan. Sedangkan syukur adalah Mengucapkan terima kasih atas segala sesuatu yang kita terima atau kita peroleh tanpa harus menyesal karena kekurangan berhura-hura karena kelebihan. Mengenai ikhlas dan syukur disini berarti kita memposisikan diri sebagai penerima dan pemberinya bisa dari sesama manusia ataupun dari Tuhan. Jadi simplenya bahwa ikhlas dan syukur itu berbeda, ikhlas itu menerima dengan lapang dada alias “lelo legowo” sedangkan Syukur itu merupakan ucapan terimakasih.

Contoh sederhana dari Dahsyatnya Ikhlas adalah kita akan jauh lebih tenang dan tak akan ada resah-gundah-gelisah-dkk. Dengan ikhlas kita bisa terhindar dari sifat sombong , iri, dengki, dkk. Demikian pula dengan Dahsyatnya syukur yang bisa membuat kita hidup tentram dan tenang ‘nyaman,damai tanpa ada rasa kekurangan. Dengan Syukur kita bisa terihindar dari rasa iri’serik’rasa tidak puas’dkk.


Jika seseorang sudah bisa ikhlas dan bersyukur maka dia tak akan pernah merasa kekurangan bahkan merasa paling beruntung walaupun kadang di mata orang terpandang kurang, dengan ikhlas dan bersyukur atas apa yang kita terima maka hidup kita akan lebih tenang dan tidak akan merasakan kekurangan bahkan bisa saja terasa berlebihan.

Meski kita hanya ikhlas dan bersyukur dengan cara yang sederhana namun jika melakukanya dengan sungguh-sungguh dah pasti kita bisa merasakan apa itu Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur. Kita bisa mulai belajar ikhlas dan syukur dari hal-hal kecil, misalnya kita iklas dan mensyukuri kondisi wajah kita, entah itu rupawan ataupun tak rupawan, jangan sampai tak merasa rupawan dan jangan pernah perasa dirimu tak rupawan karena itu semua adalah pemberian dari Tuhan yang harusnya kita syukuri. Pada dasarnya seseorang akan menemukan Dahsyatnya Iklas dan Dahsyatnya Syukur jika dia mau berbuat ikhlas dan juga bersyuku
r. 
 

Posted in My Self. 7 Comment »

Dakwah 4 Miliar !

Menilik judul artikel ini bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Dari jaman nabi hingga sekarang memang tidak terelakkan sebuah kenyataan bahwa dakwah memerlukan biaya. Dakwah merupakan aktivitas yang dilakukan secara terencana, bertahap dan berkesinambungan. Kegiatan-kegiatannya yang merupakan perwujudan dari konsep dakwah itu sendiri haruslah bermutu dan tepat sasaran.

Dalam rangka merealisasikan konsep dakwah yang merupakan ruh dari berbagai harokah islamiah, tentunya dibutuhkan sarana (dana) untuk mewujudkan konsep-konsep dakwah dan rencana-rencana kegiatan tersebut menjadi sesuatu yang nyata yang bisa dilihat dan dirasakan oleh sasaran dakwahnya;

Andaikan dana bisa didapat dan diperoleh dengan halal sebesar 4 milliar, hmmm kira-kira mau diapain ya dana itu? mungkin untuk bikin suatu acara dakwah yang megah dan wah, atau mungkin untuk mendirikan pondok pesantren (eh kira-kira cukup engga ya?) atau,…


atau mungkin anda bisa membantu saya untuk memberikan ide, betul ekspresikan ide-ide dakwah anda dibawah artikel ini, anggap saja anda dapet dana dakwah sebesar 4 milliar, kira-kira mau diapain ya?

Moga-moga dengan membaca artikel ini, akan banyak bermunculan ide-ide dakwah yang bisa berguna bagi siapa saja yang memerlukannya. [Abu Fikri]
 

Puasa Yuk !

Puasa? Asyiik! Ada buka shaum bersama, gratis lagi! Ada sanlat Ramadhan, tarawih rame-rame, dll. Kalau dilanda malas gimana? Apa pula hubungan puasa dan diet?

“SENENG dong, bulan puasa. Meski rada-rada berat ngejalanin, tapi gimana lagi, kan Islam mewajibkan,” begitu kata Wati, pelajar SMP yang tinggal di Jalan Pajajaran Bogor ini. Syukur, ternyata doi termasuk yang sadar menjalankan ibadah shaum. Ada banyak kegiatan yang Wati suka lakukan. “Yang paling terkesan kalo ada acara Pondok Ramadhan di sekolah. Wah, heboh habis! Jarang-jarang kan kita bisa makan rame-rame bareng guru dan temen-temen,” ceritanya gembira.

Lia juga sama, gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Cewek yang kuliah di salah satu STIE di Bogor ini mengaku banyak mengikuti kegiatan positif saat puasa di lingkungan tempat tinggalnya. “Kebetulan aktif di DKM Masjid dekat rumah. Masjid jadi rame kalo bulan Ramadhan gini. Tiap hari bisa buka shaum gratis, he..he..he…,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Selain itu, di kampusnya dia juga lumayan aktif di rohis. Biasanya, dia dan teman-teman segeng rohisnya juga ngadain buka puasa? bersama meski nggak tiap hari, sanlat Ramadhan, dll. “Kalau itu sih, udah tradisi,” katanya seperti model iklan Biskuit Roma di teve itu. Pernah nggak seh malas? ”Yah, namanya orang puasa. Aku juga suka lemes, malas dan kadang mudah emosi. Tapi, kita kan musti bisa menahan diri, kalo nggak puasanya sia-sia dong!” katanya rada-rada ngeles. Padahal, emang ada benernya sih.

Puasa vs Wanita

Kewajiban berpuasa, diperintahkan Allah SWT bagi laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah 183 (kamu pasti hafal kan!) yang artinya ‘Hari orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kami, agar kamu bertaqwa.’ Begitu pula Sabda Rasulullah: ‘Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu’ (HR Ashabus Sunan dari Abu Hurairah).

Seruan itu bersifat aam atawa umum baik bagi cowok maupun cewek. Artinya, nggak ada alasan buat ninggalin kewajiban itu. Kendati kamu cewek, kamu pasti kuat menjalankan puasa, sama dengan kaum Adam. Karena, Allah SWT Zat Yang Maha Mampu mengukur kemampuan kamu.

Memang, ada saatnya di mana kamu haram meneruskan puasa, yakni jika mendapatkan haid dan nifas (keluar darah sehabis melahirkan). Hanya saja, meski kamu bebas tugas puasa pada saat itu, kamu musti menggantinya (mengqadha’) di hari lain. Ceritanya, kamu tuh ngutang puasa sama Allah SWT yang musti kamu bayar segera di luar Bulan Ramadhan.

Selain itu, kalo kamu tiba-tiba jatuh sakit yang mengganggu fisik atau mental kamu, maka boleh membatalkan puasa. Syaratnya tetap, wajib mengganti di hari lain. Bagaimana dengan wanita yang hamil dan menyusui? Bila wanita hamil itu ada perasaan takut dengan berpuasa bisa membawa mudharat diri dan janin dalam kandungannya, maka dia boleh tidak puasa. Sebagai gantinya, wajib meng-qadha di hari lain. Sementara jika pertimbangannya karena khawatir akan keselamatan janinnya semata, maka harus meng-qadha di lain hari sekaligus membayar fidyah.


Puasa dan Kesehatan

Selain hukumnya memang wajib, sebetulnya apa sih manfaat puasa? Mungkin ada sudut hatimu yang usil bertanya begitu. Meskpun memang, harusnya nggak perlu kamu tanyakan kenapa musti puasa. Sebab itu kewajiban dari Allah SWT yang nggak perlu dipertanyakan latar belakangnya, tujuan, misi, visi dan manfaat kegiatan itu. (kayak proposal seminar aja). Tapi, wajar kalo kamu penasaran. Orang lapar kok dilarang makan, haus dilarang minum. Aneh, kan! Namun dari sisi medis, bisa dijelasin kok kira-kira manfaat puasa itu apa. Rasulullah sendiri bersabda: Shuumuu nashimuu yang artinya berpuasalah supaya kamu sehat.

Pada waktu melakukan puasa, terjadi perubahan metabolisme tubuh kita akibat penghentian total asupan energi, bahan pembangun serta air selama periode aktif di siang hari. Karena tidak ada asupan energi, tubuh menggunakan cadangan energi yang ada dalam tubuh. Di sisi lain, sisa-sisa bahan makanan yang tidak diperlukan tubuh tidak menumpuk, melainkan langsung dibuang sehingga tubuh lebih sehat. Pada keadaan puasa ini, kerja lambung dan perangkat pencernaan lain juga berubah. Tentu saja kerjanya jadi lebih enteng, sehingga organ-organ pencernaan bisa sedikit santai dan fungsinya bisa berjalan dengan lebih baik.

Secara keseluruhan, perubahan metabolisme pada seseorang akan tampak secara objektif dan dirasakan dalam bentuk penurunan berat badan. Wajar jika ada yang menjalankan puasa bila ingin melakukan diet penurunan berat badan. Karena memang terbukti, puasa adalah cara yang aman dan sehat untuk menurunkan berat badan.

Nah, selama puasa banyak perubahan yang terjadi. Pertama, perubahan kebiasaan waktu makan dan minum.
Lebih kurang 14 jam mulai terbit fajar sampai terbenam matahari kita tidak makan dan minum. Makan dan minum hanya dilakukan malam dan menjelang pagi. Hal tersebut akan menimbulkan rasa lapar dan haus. Karena perubahan pola makan ini, akan terjadi pula perubahan pada pengosongan lambung. Lamanya pengosongan lambung tergantung isi lambung. Isi lambung yang cair lebih cepat kosong daripada yang padat. Makanan padat banyak yang mengandung karbohidrat akan meninggalkan lambung dalam 2-3 jam. Sedangkan bila banyak mengandung lemak akan lebih lama berada di dalam lambung. Bila kita berbuka atau sahur, kandungan makanan yang kita makan akan mempengaruhi waktu timbulnya rasa lapar.

Saat puasa juga terjadi perubahan pola tidur. Kita harus bangun dini hari untuk makan sahur. Bagi yang tidak biasa bangun shalat malam atau subuh di awal waktu, ini sangat berat. Namun akan segera diterima dan tubuh akan menyesuaikan diri.

Selain itu, juga terjadi perubahan emosi. Ingat, orang lapar biasanya gampang marah. Nah, disinilah diuji untuk mengendalikan amarah, takut, benci, sedih, dll. Pokoknya, semua yang termasuk keluarga stres musti dihindari agar puasanya sukses. Manifestasi fisik dari emosi disalurkan melalui sistem saraf somatik dan otonom. Orang yang marah misalkan, akan terlihat tegang, jantung berdebar keras, dan tekanan darah tinggi. Hal itu tergolong gangguan psikosomatik. Nah, dengan berlatih mengendalikan emosi dan bebas dari rasa berdosa, dapat membebaskan orang dari gangguan psikosomatis itu. So, kejiwaan kamu lebih sehat!

Boks

Tips Ta’aruf Online yang Sehat

Tentu kita ingat banget dengan lagu Saykoji yang menyentil kebiasaan gaya hidup kita yang akrab dengan dunia online. Dari bangun tidur sampe tidur lagi, yang namanya online itu adalah wajib hukumnya. Halah, udah kayak solat lima waktu aja.

Nah, kebanyakan muda-mudi sekarang juga memanfaatkan dunia maya tidak sekedar untuk mencari informasi, main game online atau narsis-narsisan di friendster atau facebook tapi juga dijadikan ajang mencari kekasih idaman, ada pula yang berpacaran secara online, karena hal ini lebih dianggap menjaga diri perbuatan-perbuatan yang mendekati zina. Apakah kamu termasuk orang yang sedang mengalami hal ini?

Jika kamu salah satunya, tidak ada salahnya berpacaran secara online asalkan tetap sehat. Karena yang namanya dunia maya, semuanya serba abu-abu, tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang kamu kenal di dunia maya sesholeh seperti yang kamu bayangkan. Jangan-jangan pacar dunia maya kamu adalah seorang penjahat bertopeng dewa, alias baik-baik pada awalnya dan malah ngancurin kamu pada akhirnya.


Nah, berikut ada tips bagi kamu yang sedang mencari kekasih di dunia maya, tapi tips ini juga masih berguna kok bagi kamu yang sedang menjalani pacaran online yang sehat:

1. Perhatikan profilnya. Perhatikan benar-benar profilnya yang ada di email atau situs pertemanan yang digunakan. Pastikan bahwa apa yang ia tulis di profil tersebut benar atau jangan-jangan cuma bohongan. Jika profilnya palsu dan berbeda dengan keterangan yang ia berikan kepadamu, maka kamu sudah bisa menilai kejujurannya sejak awal.

2. Jangan pernah memberikan alamat. Baik itu alamat rumah atau alamat dimana kamu bekerja. Ketika kamu online, misalnya chatting dengan si “calon”, jangan pernah memberikan alamat lengkap kepadanya, jangan pula meletakkan alamat lengkapmu di situs jejaring sosial seperti friendster atau facebook. Pikirkan matang-matang sebelum
kamu mencantumkan alamat kamu di situs tersebut. bagaimana jika ada orang lain yang berniat jahat terhadapmu, tentu ia akan mudah menemukanmu. Ginger Ema pengarang buku Fearless Dating After Divorce berkata “tak peduli berapa kali kamu ngobrol dengannya baik di telepon, lewat email dan seringnya kamu melihat profilnya namun ia tetaplah orang asing yang tidak harus tahu dimana kamu tinggal.”

3. Hindari tempat sepi. Jika kamu ingin bertemu dengan pacar online kamu, hindari tempat yang tidak kamu kenal, usahakan untuk ketemuan di tempat umum dan terjangkau dengan pos keamanan (polisi) atau carilah tempat ya
ng kamu anggap benar-benar aman berada di tempat tersebut.

4. Ajak teman atau saudara. Jika seorang kenalan ingin menemuimu, ajaklah saudara atau kerabat dekat untuk menemuinya, katakan padanya bahwa kamu bersama teman atau kakak kamu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi tindakan buruk yang bisa saja dilakukan kenalan baru kamu. kenalan yang baik tentu tidak akan menolak keputusan tersebut.

5. Bawalah kendaraan sendiri. Jika tidak ada seorangpun yang dapat menemanimu, maka bawalah kendaraan pribadi
sebagai teman, bawalah sepeda jika kamu anak yang sederhana atau mobil jika kamu anak tajir. Hal ini adalah cara halus untuk menolak ajakan dia bila dia menawarkan tumpangan kepadamu. Katakan juga tujuan kamu membawa kendaraan karena kamu juga punya janji dengan teman kamu di tempat lain. Tentunya kamu juga harus mengadakan kontak sebelumnya dengan temanmu, sehingga kamu bisa sedikit bersandiwara jika kamu sudah tidak merasa nyaman lagi ngobrol dengannya dan kamu pun bisa pergi kapanpun, lalu pulang ke rumah dengan aman.

6. Rahasiakan identitas kamu sesungguhnya. Ini bukan mengajari untuk jadi pembohong, melainkan agar identitas kamu tidak mudah didapatkan oleh orang yang baru mengenalmu. Membuat email dengan username yang memuat potongan namamu, tidak menuliskan terlalu detail data pribadimu di profil adalah bagian dari merahasiakan identitas. Hal ini juga untuk memancing pertanyaan dari dirinya, namun tidak pula kamu harus mener
angkan sedetail-detailnya dirimu pada saat ia bertanya.

7. Memblock nomor telepon. Belajarlah untuk memblok nomor telepon atau handphone kamu ketika dihubungi kenalan yang tidak kamu harapkan jika telah terlanjur memberikan nomor kontak kamu padanya. Dengan memblock nomor teleponnya, kamu tidak perlu repot-repot mencari alasan menolak undangannya untuk bertemu dan sebagainya.

8. Jangan membawanya ke rumah. Selain menabrak adat ketimuran, kamu juga telah membuka celah seseorang untuk berbuat buruk terhadap dirimu dan keluargamu. Kamu juga akan sulit menolak kedatangannya karena ia akan mudah datang kapan saja dia mau tanpa confirm terlebih dahulu. Bayangkan saja kalau ia datang dengan bersebo sambil menenteng senjata api atau pedang. Kamu akan terkejut pingsan karena telah memberikan alamat rumah kamu pada perampok atau teroris.

Oleh karena itu, hati-hatilah mencari pasangan baru lewat dunia maya, banyak orang jadi-jadian yang berada didalamnya, fikirkan matang-matang risiko diatas yang bakal mungkin kamu alami sebelum kamu memasuki dunianya. Wallahu a’lam bisshawab.
 

Posted in Campur. 1 Comment »

Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Akhwat

Para ikhwan sebaiknya membaca tulisan ini, apalagi jika berada di usia pernikahan. Para akhwat baca juga ya, untuk melengkapi dan mengevaluasi tulisan ini.

Ada beragam reaksi ikhwan saat ditolak akhwat, entah itu ditolak untuk bertaaruf, atau ditolak setelah taaruf dilakukan dan yang pasti ditolak meminjam handphone bukan bagian dari pembahasan ini. Mengikuti kebiasaan peradaban dunia, di mana kaum pria dituntut pro aktif untuk mencari dan meminta kesediaan kepada calon pasangan hidupnya, sudut pandang inilah yang saya ambil.

Di beberapa bagian dunia dan beberapa kasus yang berbeda, judul postingan ini bisa dibalik, “Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Ikhwan”, meski mungkin argumentasi dibawah khas banget akhwat. Dominasi logika pada ikhwan dan perasaan pada akhwat tentunya banyak berpengaruh.

Sebagaimana seorang ikhwanyang membutuhkan keberanian ekstra, tekad dan
kepercayaan diri saat mengungkapkan niatnya, akhwatpun merasa serba salah ketika hendak menyampaikan tanggapan atau jawaban.

Seorang ikhwan harus siap menanggung perasaan malu, siap bersedih dan menerima keputuhan secara sportif bila ditolak. Akhwatpun harus memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan bahwa dia tidak bersedia karena suatu alasan, dengan cara yang tidak menyakitkan hati dan mencederai silaturahmi. Atau bagaimana supaya
bisa menyampaikan, “Yes, I do” secara anggun tanpa membuat pipi memerah karena malu.

Seorang ikhwan yang berniat tulus untuk berrumah tangga, mengerjakan sunnah rasul tanpa kaitan emosi (yang muncul terlebih dahulu) dengan akhwat tertentu, biasanya lebih lapang dalam menerima kenyataan dan menghadapi proses yang dijalaninya. Jika satu ikhtiar belum berhasil, wajar sekali jika dia kemudian mengajukan ikhtiar yang lain. Tetapi jika sejak awal terlalu banyak melibatkan perasaan dan angan-angan, bisa jadi di kemudian hari ikhwan merasa sedih, tidak percaya diri, merasa tidak berguna, frustasi, punah harapan dan kehilangan semangat hidup yang saya bahasakan sebagai patah hati. Hmmm, padahal bisa saja, saat menolak akhwat merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama. Apa boleh buat, belum jodoh kali ya.

Kenapa tidak ada (atau hanya ada sedikit) alasan untuk patah hati saat ditolak akhwat? Karena para ikhwan perlu tahu
fakta-fakta penyebab penolakan berikut ini. Dan hampir semuanya bukan karena ikhwan tersebut buruk, tidak berguna, bodoh, inferior atau apalah yang menyebabkan patah hati itu muncul. Apa saja siy?
Waktu yang kamu (ikhwan) ajukan tidak masuk akal. Baru semester dua udah ngajak nikah. Waa… berat tuh untuk sebagian besar akhwat kalo nikah sambil kuliah. Alhamdulillah, saya mendukung sekali jika itu atas kesadaran untuk menjauhkan diri dari maksiat dan dengan pertimbangan yang matang. Bedakan antara menyegerakan dengan
tergesa-gesa ya. Jika sudah jelas kamu baru akan menikah paska lulus, ngapain ngajak nikahnya sekarang? Keburu jamuran.
Timing-nya kurang tepat. Plan nikah kamu setengah taon lagi, makanya sudah gencar ikhtiar ini-itu. Dan kamu nembak akhwat yang baru diizinkan menikah dua taon lagi. Jika bersedia, mungkin dia akan membujuk ortunya. But, tetap saja peluangmu berkurang.
Akhwat terlalu perfeksionis. Karena saya pribadi orangnya simpel dan sering melakukan sesuatu secara spontan dan otodidak, kadang susah juga menerima kenyataan ini. Tapi memang ada kan akhwat (ikhwan juga) yang seperti ini. Kalau kapasitas kita juga berkelas, bolehlah. Tapi kalau ortu kita aja sudah memudahkan dengan tidak memasang kriteria tertentu, ngapain kita membuat sesuatu yang harusnya dipermudah malah dipersulit? Kayak motto birokrasi aja, “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?” Gini lho, contoh kriteria yang perfeksionis; good looking, minimal S2, mapan, suku Jawa, hafal minimal 3 Juz, sudah berdakwah di masyarakan minimal 2 tahun. Hmm… mirip lowongan pekerjaan deh.

Caramu tidak tepat dimatanya. Ada akhwat yang mensyaratkan harus lewat murabbiyah-nya atau BKKBS. Ada yang fleksibel, yang penting sesuai syariat. Ada juga yang lebih mudah luluh terhadap ikhwan yang berani tembak langsung ke ortunya (teman saya ni, bu dokter lho…), atau terpesona ketika ikhwan berani to the point, “taaruf yuk?”, meski mereka tidak begitu mengenal daripada pake ‘pendahuluan’ yang berpotensi mengotori hati dan silaturahmi.
Ada prinsip yang teguh dipegang olehnya. Ini bisa jadi agak childish. Misal, karena di mata akhwat LDK di kampus te o pe be ge te, diam-diam dia pingin suaminya nanti anak LDK juga. Karena memang biasanya anak LDK tersebut sholeh, militan, gadhul bashar, bertanggung jawab dan sederet hal keren lainnya. Jadi, meski kamu (aktifis dakwah) ikhwan tulen dia mikir dua kali untuk menerimamu. Mungkin dia memiliki citra tidak baik tentang organisa
simu atau dia butuh waktu lebih untuk mengenal kesholihanmu. Sholih itu berarti keren Atau juga prinsip lain yang lebih dewasa dan bertanggung jawab yang tidak dia sampaikan padamu.
Dia normal. Thats right! Gimana mau nerima kamu wong kamu dan dia sama-sama akhwat? Serius, paska nulis draft untuk postingan ini, seorang akhwat minta pertimbangan saya, bagaimana cara meluruskan temannya, yang dia curigai ada something happen dengan sesama muslimah.
Kamu terlalu nyebelin di matanya. Kamu siy, pake SMS tiap hari, minta tolo
ng ini-itu, nelpon nggak penting banget, cerewet dan over pede. Padahal udah jelas banget yang seperti itu nggak ada dalilnya. Bukannya jatuh hati, kamu malah berkesan kayak parasit.
Trauma, trauma, trauma. Dia punya bokap TNI. Meski sayang sama bokapnya, ogah banget punya suami kayak bokapnya yang kadang militernya di bawa-bawa ke rumah. Atau tantenya pernah bercerita bahwa setelah belasan tahun menikah, sebenarnya beliau nggak pernah bisa mencintai suaminya. Korban perjodohan yang kurang sukses niy. So, dia selalu terngiang penderitaan tantenya saat harus hidup bersama orang yang tidak dicintainya. Pernikahan itu bukan tentang cinta kepada lawan jenis melulu, tapi tanpa cinta…. (silahkan baca sendiri buku2 pernikahan yang banyak beredar di sekitar kita. Salah satu rekomendasi saya trilogi Kupinang Engkau Dengan Hamdalah karya Ustadz Mohammad Faudil Adzim yang dijilid satu dalam judul Kado Pernikahan Untuk Istriku). Kembali ke poin trauma,
mungkin bukan karena kamu mau dijodohin sama ortu dia. Tapi akhwat itu selalu shock duluan jika belum nemnemukan poin of interest dari seorang ikhwan.

Mungkin dia punya lebih dari satu alasan untuk tidak menerima tawaranmu. Namanya saja tawaran, bisa diterima (alhamdulillah), bisa juga ditolak (allahu akbar!). Namanya saja tawaran, mungkin nantinya ada sederat syura’ dan musyawarah untuk kepentingan bersama.

Ngomong-ngomong, saya mendukung keberadaan BKKBS, salah satu lembaga nirlaba dibawah koordinasi PKS Djogdja, yang mempermudah para kader dakwah mendari pasangan yang memiliki kesama
an visi. Hanya saja, mekanisme pengisian formulir kadangkala menjadi legalisasi untuk menentukan kriteria setinggi langit. Kasian yang nyomblangin dong. Itu karena belum tau siapa calonnya ya. Padahal, saya rasa saat kita sudah jatuh cinta duluan pada seseorang (sudah sedikit mengenal), betapapun jeleknya dia, kita berusaha mempertahankan si dia. Nggak fair ya. Keberanian untuk mengajukan diri kepada BKKBS atau murabbi, bagi saya menjadi parameter sejauh mana seseorang sudah tsiqah dan ridha terhadap pilihan Allah dan dakwah. Allahu a’lam.

Wanita Tangguh

Tangguh, adalah kata yang sering dipakai untuk menunjukkan sifat seseorang yang sekeras batu karang. Tetapi mestinya tangguh juga berarti ‘lentur’, sehingga tidak akan pecah berkeping apabila dihantam keras.

Bagaimana dengan wanita tangguh ? Seorang teman berpendapat bahwa wanita tangguh adalah wanita yang tidak pernah menangis, tidak cengeng, tidak gampang mengeluarkan air mata dan tidak melow. Sementara teman yang lain berpendapat beda, katanya wanita tangguh adalah wanita yang tegar dan berani menghadapi segala cobaan dalam hidupnya.

Kubaca lagi di sebuah website, konon katanya wanita tangguh memperlihatkan keberaniannya meskipun ia sedang merasa takut, wanita tangguh memberikan yang terbaik dari dirinya kepada orang lain, wanita tangguh menyadari bahwa kesalahan dalam hidup bisa mendatangkan kebaikan dan manfaat yang membangun, wanita tangguh mengetahui dengan jelas bahwa DIA yang Maha Kuasa akan selalu menopang ketika ia lemah ataupun tersandung, dan wanita tangguh memiliki iman bahwa sepanjang perjalanan hidupnya ia akan tumbuh makin kuat.

Apa benar demikian ? Bisa jadi definisi wanita tangguh menurut tiap orang tidaklah sama. Apakah teman-teman juga punya definisi sendiri untuk wanita tangguh ?

Posted in My Self. 0 Comment »

Tausiyah : Obat hati yang keras

Jam 10.05 WITA, aku berangkat ke liqo’ di rumah mbak Yogi.
Ternyata belum ada satupun teman2 di sana dan aku selalu menjadi yang pertama hadir (terlanjur nggak suka “ngaret” sih). Hari hujan, jadi kali temen2 pada terlambat. Akhirnya acara di mulai pukul 11.00 tanpa murobbi (blio sms ke aku, katanya sakit campak nggak bisa hadir). Ini tausiyah yang dibawakan oleh mbak Yati, moga bermanfaat :
Obat hati yang keras
Faktor utama mengerasnya hati adalah karena jauhnya kita dari Allah, karena itu kita harus segera mencuci hati kita dengan cara bertaubat kepada Allah, yaitu dengan cara menghiba.

Allah memuji kholilullah Ibrahim A.S yang senantiasa menghiba kepadaNya. “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang penyantun, penghiba dan suka kembali (bertaubat) kepadaNya.” (Q.S Hud :75).

Tanda-tanda kerasnya hati :

1. Tidak mau menerima nasehat/kebenaran.
Walaupun sudah ditunjukkan dalili2nya dari Al-Qur’an dan Al-Hadist serta penjelasan dari para ulama, ia tetap bersikukuh dengan pendapat madzabnya, gurunya ataupun tradisi masyarakatnya.
2. Tidak bisa menangis atau takut ketika dibacakan ayat2 ancaman, siksa neraka dsb.
3. Takabur, pongah & sombong terhadap kebenaran dan manusia.
4. Lebih senang mengikuti hawa nafsu daripada kebenaran.

Obat keras hati :
1. Memperbanyak dzikrullah
Dzikir akan melembutkan hati yang kasar, menentramkan hati & memancarkan kewibawaan. Q.S Ar-Ra’du 28 : Ingatlah, hanya dengan dzikrullah hati menjadi tentram.
Rasulullah saw bersabda : Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan yang tidak mengingatNya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati (HR. Bukhari).

2. Menjauhi maksiat
Abdullah bin Mubarok berkata : Aku melihat dosa2 itu mematikan hati, memperturutkannya merupakan kehinaan, menjauhinya merupakan kehidupan hati.

3. Membaca Al-Qur’an dengan menghayati maknanya (tadabbur).

4.Menghadiri majelis ilmu
Salah seorang ulama salaf berkata : “Hendaklah kalian senantiasa duduk di majelis
para ulama”.
Allah akan menghidupkan hati yang mati (keras) dengan cahaya ilmu sebagaimana
Allah menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan.

5. Membaca kisah-kisah orang sholeh, karena kisah2 mereka bisa dijadikan tauladan.

6. Ziarah kubur
Sabda Rosulullah : Ziarahlah ke kubur, karena ia akan mengingatkanmu pada negeri
akhirat.
(H.R Ahmad, Ibnu Majah).

 

 

Jeritan Para Lelaki

He..he…jangan kaget ah lihat judulnya. Barusan terima ini nih di salah satu milis yang kuikuti. Kuposting aja deh ya, entah bener begitu nggak sih para cowok, kalian sendiri (para cowok) deh yang tahu jawabannya.
Maaf ya kalau yang punya blog belum sempat blogwalking (nih update blog aja baru dilakukan setelah 2 minggu dari postingan sebelumnya), biasa deh sok busy, semoga week end ntar bisa keliling2 ke blog teman2 deh.

Para Cowok mengungkapkan isi hatinya untuk para cewek :

1. Tidak Semua cowok seperti Deddy Corbuizer.
Jadi jangan harap kami bisa membaca isi pikiranmu disaat kamu manyun tanpa suara. Kami bukan penganut aliran kebatinan, yang mampu membaca batin seseorang. Apa susahnya sih bilang : “Aku laper, beliin dong aku pakaian baru, tolong rayu aku…!!”

2. Hari Minggu itu waktunya istirahat setelah 6 hari bekerja. Jadi jangan harap kami mau menemanimu seharian jalan-jalan ke mall.


3. Berbelanja itu BUKAN olahraga. Kami gak akan berpikir kearah situ. Bagi kami belanja ya belanja, kalau sudah pas ya langsung beli saja. Perbedaan harga toko A dan B cuma 1,000 perak, jadi nggak usah keliling kota untuk cari yang paling murah, buang-buang bensin aja. Capee deh, beneran!

4. Menangis merupakan suatu pemerasan.
Lebih baik kami mendengar suara petir, guntur, bom meledak daripada suara tangisanmu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa.

5. Tanya apa yang kamu mau. Cobalah untuk sepaham tentang hal ini.

Sindiran halus tidak akan dimengerti. Sindiran kasar pun tak akan dimengerti. Terang-terangan menyindir juga kami gak ngerti! Ngomong langsung knapa?!

6. Ya dan Tidak adalah jawaban yang paling dapat diterima hampir semua pertanyaan. It’s Simple !!

7. Cerita ke kami kalo pengin masalah kamu diselesaikan. Karena itu yang selalu kami lakukan. Pengen dapet simpati doang sih cerita aja sendiri ke temen-temen cewekmu. Jangan kepada kami.

8. Sakit kepala selama 17 bulan adalah penyakit. Pergi ke dokter sana !

9. Semua yang kami katakan 6 bulan lalu gak bisa
dipertimbangkan dalam suatu argumen. Sebenernya, semua komentar jadi gak berlaku dan batal setelah 7 hari. Janji kami untuk “menyebrangi lautan dan mendaki gunung” itu hanyalah klise, jangan dianggap serius.

10. Kalo kamu gak mau pake baju kayak model-model pakaian dalam, jangan harap kita seperti artis sinetron dunk.

11. Kalo kamu pikir kamu gendut, mungkin aja. Jangan tanya kami dong. Cermin lebih jujur ketimbang lelaki.

12. Kamu boleh meminta kami untuk melakukan sesuatu atau menyuruh kami menyelesaikannya dengan cara kamu. Tapi jangan dua-duanya dunk. Kalo kamu pikir bisa melakukannya lebih baik, kerjain aja ‘ndiri.

13. Kalau bisa, ngomongin apa yang harus kamu omongin pas iklan aja. Ingat, jangan sekali-kali ngomong apalagi pas saat tendangan penalty.

14. Kami bukan anak kecil lagi, jadi tak perlu mengingatkan : “Jangan lupa makan, selamat tidur”, dll. Menurut kami itu hanyalah pemborosan pulsa saja.

15. Kalo gatel kan bisa digaruk sendiri. Kami juga kok.

16. Kalo kami nanya ada apa dan kamu jawab gak ada apa-apa, kami akan berpikir memang gak ada apa-apa. Ingat, seperti no.1 di atas kami bukanlah pembaca pikiran. Ngomong baby…ngomong lah…!!

17. Kalo kita berdua harus pergi kesuatu tempat, pakaian apapun yang kamu pakai, pante
s aja kok. Bener! Jadi tidak ada alasan gak mau pergi kepesta karena tidak ada baju.

18. Jangan tanya apa yang kami pikir tentang sesuatu kecuali kamu memang mau diskusi tentang bola, game, billiar, memancing atau mungkin juga tentang teknik mereparasi mobil.

19. Kami malas berdebat secara hati dan perasaan. Ingat, kami hanya pakai logika!!

20. Terima kasih sudah mau baca ini. Iya, aku akan tidur disofa nanti malam depan rumah.
 

Inspirasi Dakwah : “Akhwat Pemulung”

    Namanya Ming Ming. Memakai gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1 jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.
Saat kelas usai, dia pergi ke perpus. “Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.” Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)
Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM. Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.
Namun dia tidak naik kendaraan untuk pulang. Sambil berjalan, dia memungut dan mengumpulkan plast
ik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.


Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang. Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine
it ?)
Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.
Ini adalah cerita nyata yang yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore tanggal 18/8/2009. Di Trans TV juga disiarkan hari selasa beberapa hari sebelumnya, di acara KEJAMNYA DUNIA Sungguh episode yang membuat bulu kudu kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.
1. Astaghfirullah. Gimana bisa kita masih sering mengeluh hanya karena tabungan ga nambah-namba
h?
2. Gila…(sensor) . Bagaimana dia bisa berjalan 10 km perhari? Kita aja jalan 20 menit ke kantor tiap pagi dan sore sudah merasa capek banget. Lemah.
3. Subhanallah. Semangatnya itu loh. Kalau dengar dia berkata-kata, sepertinya tidak ada rasa minder, malu, bahkan dia sangat yakin. Oh girl, you are so great. Wonderfull.

Source: email dari teman. Semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu bersyukur akan apa yang kita punya.
 

Help !! Mawar Putih

 

Semalam..


Saya diberi seseorang bunga mawar putih itu..

owh.. so sweet..

sudah 3 kali..

kira-kira, saya balas pake apa yah?

apa saya juga harus memberinya bunga?

atau ucapan “makasih” aja??

hmmm… ada yg bisa bantu saya kasih solusinya??
 

Posted in My Self. 2 Comment »

Dasar Akhwat [part six]

Yeaaah… I’m Back!!!

Assalaamu’alaykum Sodara-Sodara!!

Masih ingatkah dikau pada pembahasan qta yang satu ini?? Topik keren buat kamoe2 yang ngaku keren dan ditulis dengan gaya yang keren oleh akhwat yang keren (hallah!) Yup! Dasar Akhwat!!

Pren, dunia ini memang penuh warna yha! Merah kuning kelabu merah muda dan biru, meletus balon hijau, dorr!! (lho..lho..lho..). Coba bayangin kalo dunia ini cuma hitam putih, pasti kalian akan berseru, “nggak seruuuuu!!”. Ya, ane tau. Warna-warni itu indah. Begitupun dengan karakter manusia, penuh warna! Semua tercipta agar manusia bisa saling melengkapi, saling berbagi, saling menghormati, saling mengerti, saling menasehati, dan saling-saling yang lain. Owkeh, langsung aja kita kupas model akhwat yang lain. Semoga bisa diambil ibrohnya.

Kreativitas, emang kagak ade matinyeee…….Hidup Kreatif!!! Hiduuuupp…!!! (hehe.. Akhwat yag aneh!).

Here she is!!



14. Akhwat Tompi

 

      Pren, kenal Tompi kan? Itu tuh penyanyi asal Aceh aliran Jazz yang kalo manggung always pake topi (tau kan? tau kan?). Yeaah…biarlah Tompi hidup damai dan bahagia di sisinya (maksudnya, di sisi istrinya, hehe..). Qta gak lagi bicarain pemilik suara khas itu koq. Ngapain juga ngurusin orang, kita kan bukan akhwat Amigos, ya nggak?

Tompi di sini maksudnye, TOMboy en sPortI (ciyeh, keren kan?). Sekilas, akhwat ini emang gak da bedanya ma akhwat yang lain. Do’i tetep pake jilbab gede, kaos kaki, dan jubah kebesarannya. Tapi, kalo qta perhatikan lebih seksama (eit, ikhwan gak boleh ya), ternyata akhwat ini memang beda! Dari cara ngomongnya, gerak-geriknya, tindak-tanduknya, penampilannya, yang kesemuanya terkesan:
cool maaan!! Kalo akhwat lain suka buat fanniyah (keterampilan dan kerajinan), ni akhwat malah lebih suka basketan (olahraga). Kalo akhwat lain dengan gayanya yang feminim, do’i malah terkesan macho en rada maskulin. Ada kemungkinan, sebelum hijrah, do’i emang dah tomboy. Misalnya karena dulu gaulnya banyak ama anak cowok. Atau dari sebelas bersaudara, dia anak cewek sendiri. Mungkin juga lingkungan keluarga dan masyarakat di tempatnya yang membentuk karakternya yang seperti itu. Banyak faktor. Walhasil, jadilah dia akhwat yang memiliki karakter dan sikap yang “keikhwan-ikhwanan”. Tapi, selama masih dalam batas kewajaran, ni akhwat gak berbahaya koq, Pren. Tenang, bagaimanapun naluri keibuan dan kewanitaannya masih ada dan terjaga. InsyaAllah..


15. Akhwat Apel

 

    Waduh, apel?? Aja-aja ada nih! Apaan lagi tuh?? Apel adalah……Akhwat yang Amat suPEL!! (beuh..!) Akhwat yang satu ini enak banget kalo diajak ngobrol, nyambung, ramah, pokoknya asyik deeeh!! Gaul ama dia emang nyenengin. Do’i mudah akrab ma siapa aja. Padahal baru kenal, tapi dah kayak teman lama. Untuk definisi supel ini, insyaAllah Prens Fillah lebih tau. Yaa….gitu deh. Tapi ukh, kalo ma cowok or ikhwan supelnya jangan kelewatan ya. Maksudnya, perhatikan juga adab-adab pergaulan dan berinteraksi dengan lawan bicara Antunna. Otre?!!

16. Akhwat Donat

Wah, donat??? Maaauuuu…!!! hehehe….Siapa yang doyan donaaat?? Eh, salah. Maksud ane, siapa yang doyan curhaaat??? Yap! Gak salah lagi. Dialah akhwat Donat!! Akhwat yang DOyaN curhAT. Tipe ini seringkali ane jumpai, banyak deh. Hampir semua akhwat yang ane kenal rata-rata pernah curhat ke ane (duh ida, jadi tong sampah, eh tong uneg dong! Kan tempat buang uneg2. hehe…). Ni akhwat sukanya emang curhat. Tapi, dah fitrahnya kalee.. cewek kan emang gitu. Pengen ngeluapin semua perasaan, baik kisah bahagia maupun gundah gulananya. Sebagian ada yang curhat karena buth solusi dan pendapat dari yang dicurhatin, namun gak sedikit dari mereka yang tujuan curhatnya hanya sekadar mencurahkan isi hatinya saja. Dia gak butuh tanggapan, hanya ingin didengarkan. Dia butuh teman untuk melampiaskan kekesalan atau berbagi kebahagiaan. Dia hanya ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Setelah ia muntahkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya, perasaannya akan menjadi lega. Plong! Tapi
Wat, mbok ya jangan terlalu doyan curhat. Gak semua orang bisa dijadikan tempat curhat. Liat-liat dulu, dia mau gak dicurhatin? Orangnya bisa gak jaga rahasia? Bisa ngasih solusi gak? Dll. Nah, daripada curhat ama orang yang salah, mending curhat sama Allah aja! Dijamin! Rahasiamu gak bakalan kebongkar. Mau solusi? So pasti ada! Dan Allah, siap mendengarkan curhatanmu kapan aja! Full time. 24 jam! So…..curhat ma Allah yuuk!!


17. Akhwat Lechi

Hohoho…ngomong-ngomong tentang lechi, ane sukaa banget ma minuman yang rasanya lechi. Maniiiiss…segeeerr (duh, jadi haus!). Siapakah gerangan akhwat Lechi itu?? Dia adalah akhwat yang keLEwat CHIldist!. Ngerti childist kan? hmm…gak sedikit lho akhwat yang model begini. Walaupun umur dah kep
ala dua, sikapnya masiiih aja kayak anak-anak. Emang sieh, usia tua gak menjamin kalo dia dah dewasa. Tapi, kekanak-kanakannya itu lhoo…lebay banget. Cara bicaranya, gayanya, tingkahnya, duh..manjaaa banget. Kadang, nyebelin juga sih kalo dah kelewatan childistnya. Ada juga yang cara berpikirnya dewasa, tapi tingkahnya masih kekanak-kanakan. Dan sebaliknya. Tapi, dia gak salah koq. Toh, perubahan butuh proses. Mungkin faktor keluarga dan orang-orang di sekelilingnya yang terbiasa manjain dia. Jadi agak sulit membentuk jiwa kedewasaannya. Butuh waktu. Hidup akan mengajarinya untuk lebih bijak dan dewasa. InsyaAllah…


Hmmf…Dasar Akhwat!!

Besambung ya Pren….



*setelah ditagih2 –dengan paksaan dan ancaman- akhirnya nulis lagi ^_^
 

Bukan Curhat Biasa

Curhat itu memang perlu. Walau kadang kala, kita merasa apa yang kita curhatkan itu adalah yang sama. Dan mendengarkan itu adalah perlu, walau apa yang dicurhatkan itu adalah sama. Sudah Fitrah manusia mengeluarkan segala uneg-unegnya dengan tujuan mengurangi beban hidupnya. Tidak hanya wanita, pria pun membutuhkannya. Segala komoditi internet ditujukan juga untuk mengurangi tingkat stress diri, sangat familiar salah satunya adalah email, blog, facebook, dan tak ketinggalan sosial commuditi sejenis plurk, dan saya mulai kecanduan dengan komoditi inet yang satu ini.

Menilik curhat lewat mail, anda tahu sendiri, bagaimana reaksi masyarakat terkait dengan kasus Prita dengan email curhatnya, yang dibela oleh banyak blogger dan insan pers bahkan DPR, membuktikan betapa curhat itu adalah kebutuhan primer yang setiap orang berhak mendapatkannya. Di lain negara, curhat bisa dilakukan kepada seorang robot, yang diberi nama Indrabot yang sudah dilengkapi dengan intelegensia tinggi dari aplikasi teori AI (Artificial intellegent). Apalagi seorang yang sudah renta (tua) mereka butuh waktu untuk didengarkan dan diberi komentar, walau hal itu mungkin tidak terlalu penting untuk disimak oleh seorang pendengar, tapi jangan salah sangka bagi si renta hal ini sangat berguna baginya.


Hmm.. semua orang butuh curhat!

Saya teringat, beberapa bulan yang lalu, ada masalah keluarga yang menimpa saya dan kakak. Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menangis, karena tidak tahu apa solusinya dan mungkin juga karena emosi saya masih labil. Saat itu saya merasa nyaman sekali saat mama menenangkan saya dan mendengarkan curhat saya, dan semuanya berakhir sempurna. Saat itu tiada lagi resah gulana, dan baru menyadari betapa nikmatnya mempunyai mama, tidak perlu cari orang lain untuk mendengarkan curhat kita, atau datang ke kost orang yang kita pengen curhati itu (seperti yang saya lakukan sebelum bekerja). Weits.. ini OOT (out Of Topic ), bukan bermaksud mengiming-imingi para pembaca yang pengen bekerja [ peace ] .


Bagi yang belum nikah [ Ceiee gayanya :D], ati-ati bener-bener ati-ati curhatan ama lain jenis yang bukan mahram. Mungkin kita para cewek akan merasa nyaman, ga perlu berbasa-basi, to the point nan, logika yang lebih berperan daripada perasaan sehingga lebih cepet nemu solusinya. Tapi bila hal itu dilakukan antara seorang cewek ke lain jenis yang bukan mahramnya akan berakibat khalwat. Dan itu akan beimbas pada dosa. Kenapa? Karena curhat, mengutarakan isi hati akan menciptakan iklim yang intens berhubungan dengan orang yang dicurhati, alhasil lama kelamaan akan mempunyai kesamaan chemistry yang sama, dan akhirnya akan menimbulkan kecanduan dan membawa ingatan kita kepada yang kita curhati, baik dilakukan by sms, email, facebook, atau sejenisnya. Islam melarang keras khalwat karena hal itu mendekati zina. Dan curhat dengan lain jenis akan menurunkan izzah kita sebagai seorag muslimah. Menjauhi curhat dengan lawan jenis merupakan bentuk penjagaan terhadap nafsu yang sering bergelora dan akan lebih bergelora bila sudah tiba saatnya.

Terkadang.. butuh kedewasaaan saat seseorang mendengarkan curhat yang sama dari orang yang sama dengan permasalahan yang sama, perihal sudah dikasih tahu solusinya, tetapi tetep saja berulang dengan masalah yang
sama. Betapa kerdilnya manusia ya.. yang permasalahanya dibebani dengan masalah yang sama, tapi dia masih saja kebingungan memecahkannya. Boleh jadi, dia dinilai sang Pencipta, tidak tangguh untuk menyelesaikan masalahnya tersebut. Atau dengan kata lain, sang pencipta ingin hamba tersebut lebih lihai memanagemen perasaan diri. Intinya sih, ketika kita diberi ujian pastilah kita akan mampu menyelesaikannya, karena Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan kita menyelesaikannya.

Curhat yang tepat dilayangkan kepada Allah sebagai Dzat yang sebaik-baik penolong. Hasbunalloh wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman natsir. Kemudia kepada suami, murrobi, teman yang kita anggap sholeh/sholehah. Dengan bercurhat tersebut kita bisa diarahkan untuk mengarungi permasalahan dengan solusi yang religi. Meniti jalan kebaikan itu tidaklah mudah, perlu perjuangan ekstra dan kemauan yang kuat, serta pengetahuan yang memadai untuk melalui medan tersebut. Kita akan melewati banyak sekali godaan, onak dan duri, yang membuat kita terengah-engah kepayahan. Tapi itulah jalan terakhir menuju Surga. Sebaliknya jalan ke nereka dipenuhi dengan berlimpangan
kesenangan yang menipu. Ingatlah kawan kesenangan ini hanyalah sementara, dan kebebasan yang dirasakan semu adanya.

Mungkin agak aneh kurasa tulisan ini, masih belepot disana-sini, ditulis dalam kondisi yang sempit mencuri waktu untuk menyempatkan diri mengisi blog keep hamasaah , monggo di kritisi..
 

Posted in My Self. 1 Comment »

Sayang/Cinta?!??

Saya bukan orang yang pinter ngebahas hal beginian, malah kadang saya dibuat bingung dengan 2 kata ini. Sebenarnya ga ada untungnya, ngurusin 2 kata ini, tapi terlalu memenuhi ruang otak kalau 2 kata ini ga ketemu bedanya apa?

Di suatu sore yang agak mendung, suasananya memang agak aneh. Aneh, karena memang ga seperti biasa. Kami menuju ke sebuah rumah kecil, imut bercat biru. lebih aneh lagi, teman lama saya yang dulu saya kenal sebagai orag yang ramah dan ngemong terlihat cuek dan galak, setiap kata-kata yang dilontarkan olehnya seakan bernada menghakimi, dan setiap pertanyaanya yang belum selesai kujawab buru-buru dipotongnya dengan kata-kata yang tajam dan menukik. Wuih.

Pembicaraan sore itu, saya yang menghandle. Dan ketika pembicaraan muncul dari sini, mulailah sebuah pertengkaran kecil.


” Kita masih perlu melakukan ini dan itu, masih banyak kerja. Kita…” ( Buru-buru dipotong)

” Mang siapa yang nyuruh…!!!”
” Ga ada yang nyuruh koq..”
“Klo ga ada yang nyruh ngapain mau kerja..!!!”
“Loh ini untuk kepentingan dakwah bersama…”
“Atas dasar apa, lawong ga ada yg nyuruh malah bertindak…!!”
Belum kumenjawabnya, ia mengulanginya.
“Atas dasar apa..!!!!”

“Atas dasar cinta…” Ia mulai terdiam. Dan saya mengulanginya.
“Ya karena saya cinta perjuangan ini..”

Akhirnya marahnya mereda, hanya karena saya bilang cinta, jadi kepikiran kenapa saya waktu itu ga bilang klo saya sayang perjuangan ini.

Kalaupun dahulu saya pernah mendapatkan pelajaran tentang cinta sesama, dalam bahasa arab Habib/Habibah artinya cinta/kekasih, yang katanya ada seseorng yang menyukai orang lain, tapi kadar suka/cintanya tadi ga sebanding, boleh jadi berat di A atau berat di B, jadi takaran dan timbangannya berbeda. Sedangkan kholil/kholilah artinya juga cinta/kekasih, tetapi kholil dan kholilah pemakaiannya hanya untuk cinta kepada Alloh saja, karena takara
n kholil ini lebih berat, dan antara keduanya mempunyai 2 rasa suka yang pasti bukan semu dan sama. beda lagi dengan Mahabbah, ia artinya juga cinta, bentuk kata lain dari habib/habibah. Klo mahabbatulloh artinya mencintai Alloh, kenapa tidak menyayangi Alloh???!!??

Lama memikirnya, hingga kepala saya terasa berat. Konsep pendekatan dialogis juga saya gunakan untuk mengerti 2 makna kata ini, kata teman-teman cewek sekelas.

” Hah, seorang Eva tanya hal beginian..” sambil ia agak tersenyum

” Iya, apa seh bedanya ..”

wuih langsung ribut degh mereka, mau menjelaskan semuanya.
si A bilang : ” Berat sayang lah va dari pada cinta…Aku tuh lebih suka dibilang sayang dari pada cinta ”

Dan saya pun mendengarkan mereka dengan seksama.

Si B bilang: ” Klo Eva ke orangtua, cinta apa sayang?, sayang khan..”
yang ditanya bingung, la wong saya ga tahu bedanya, bagi saya ya sama aja mau bilang sayang atau cinta, pokoknya rasa itu ada untuk mereka titik. Jawaban itu klise banget.

Si C bilang:” Cinta lebih berorientasi ke nafsu sedang ke sayang untuk memiliki selamanya, oeuy romantis Va..”
yang diajak bicara, cuma keheranan dengan sikap dan perkataan yang baru saja dilihatnya ini.

Si D bilang : ” Cinta dan sayang mah bagi gw sama saja, yang penting gw enjoy dengannya.”

si E bilang : ” Egh Va tahu ga klo orang pacaran begituan, bilangnya pasti “aku cinta kamu”, bukan “aku sayang kamu”, survey mebuktikan akan hal itu, mereka mau yang enak-enaknya saja, klo sepah ya dibuang..”

seph, kubilang mereka tak ajak berdialog, akhirnya ketemu tujuan dakwah dialogis ini, pacaran kagak b
oleh, sebenarnya mereka tahu itu.

Si F bilang, ” Entah itu sayang atau cinta atau apalah kalau hubungannya ga halal tetep harus dihapuskan!”

Kulirik dan kutatap mata gadis hanif itu, kata-katanya persis sama dengan yang kukatakan tadi malam sebelum kutanya pada mereka tentang sayang dan cinta.


Menurut kalian, apa seh bedanya sayang dan cinta??
 

Posted in My Self. 0 Comment »

Meminang Sang pangeran

      aku tahu, aku hanya seorang wanita
yang tugasnya menunggu sang pangeran
dalam penantian

kata mereka, kau yang berhak memilih
dan kami, perempuan, hanya bisa
menolak atau menerima lamaran


tapi, bolehkah kali ini aku yang memilih?
memintamu untuk menjadi yang terindah di hatiku?
kau tinggal bilang ya, atau tidak. mudah kan?

ah, mungkin benar, dunia sudah terbalik
atau bisa juga ini hanya rasa khawatirku
takut kalau Allah tidak menyisakan satu mujahidNya untukku

hahaha…dasar aneh!
bukankah Allah sudah berfirman
bahwa Dia menciptakan makhlukNya dengan berpasangpasang
an?

tapi, aku juga ingin tahu rasanya
berbunga ketika lamaranku diterima
atau kecewa saat pinanganku ditolak
mungkin dengan begitu, aku bisa berbagi dengan kaumku
bagaimana sih sakitnya ditolak?
agar para akhawat tak gampang mengucap kata “tidak”
dengan alasan yang sengaja dibuatbuat :
masih ingin melanjutkan studilah

belum cukup umurlah
belum siap mentallah
kurang cocoklah!
dan entah apa lagi…

tapi, bagaimana cara meminangmu ya?
apa aku harus mengajukan proposal lebih dulu?
atau langsung datang ke istanamu dan
memohon agar kau sudi menerimaku menjadi permisurimu?
itukah yang kau mau?

“Huh, dasar tidak tahu malu!”
tibatiba terdengar teriakan dari jauh
“Wahai akhwat, DI MANA IZZAHMU?”

IZZAH?
kalian bertanya tentang IZZAH?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang malu mengungkap perasaannya

kemudian memendam cinta dan
mengotori hati dengan terus memikirkannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menyuburkan virus cinta di hatinya
dan membaginya pada semua ikhwan yang dikaguminya
dalam masa penantiannya?

apakah izzah ada pada diri seorang akhwat
yang menanti sang pangeran, namun ketika ia datang
si akhwat menolak dengan alasan tidak jelas?


di sanakah izzah bersemayam?

ataukah izzah ada pada diri seorang Khadijah
yang berterus terang meminta Muhammad untuk
menjadi nakhoda dalam bahtera cintanya?

ataukah izzah ada pada diri para bidadari yang
berebut ingin melayani Zulebid
yang rela meninggalkan istri tercinta

di hari pertama pernikahannya demi meraih syahid?

sungguh, kisah cinta yang agung dan suci
bukan cintacinta picisan yang ingin diraih
tapi jauh lebih tinggi!
cinta di atas segala cinta
yang tak kan habis cintaNya,
Allah!

di sana ada kejujuran, keterbukaan, kepercayaan,
ketulusan, keimanan, dan ketaqwaan
berbeda dari kisah Romeo dan Juliet
atau Layla dan Majnun yang berakhir tragis dengan
mati membawa cinta tak sampai
malang!

mungkin iya, aku tak seberani Bunda Khadijah
aku pun bukan bidadari yang tak dianugerahi rasa malu
karena ia memang diciptakan dan ditugaskan untuk melayanimu


tapi, jika aku boleh memilih
izinkan aku meminangmu sebagai kekasih
bukan untuk saat ini
karena mungkin waktuku tak cukup untuk menanti

tapi, nanti
setelah kumati…


Meminang Syuhada : 14082009







 

Posted in Puisi. 5 Comment »

Izinkan Aku cuti dari Dakwah

Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan. Dan juga masa depan serta kesibukannku sebagai seorang mahasiswi pasca sarjana dan seorang istri. Benar-benar merasa sepertinya tidak punya waktu lagi untuk berdakwah.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang ku cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep muntiz yang sering diceritakan sebagai sesuatu yang hebat? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Dimanakah konsep yang disebut ukhuwah? Kalau dulu, sebelum bekerja jika ada seorang ikhwah melontarkannya kata-kata “afwan ukh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan ukh, ana
gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan ukh…” lainnya dengan seribu satu alasan tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya, dan hal ini.yang membuatku merasa agak jengkel, dan pada akhirnya berbuntut pemakluman. Itulah diriku yang duluw, tapi sekarang, merasa diri malah yang melakukan itu. Sering banget meninggalkan agenda-agenda dakwah. Hanya alasan kesibukan, dan adaptasi diri sebagai seorang Mahasiswa en pkerja profesional dengan bejibun aktivitas yang ”itu-itu saja” namun terasa banyak menyita waktu serta kesibukan mahasiswi pasca yang masya Allah diluar prediksi saya sibuknya. Serasa pengen bilang“Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan   ibuku yang sudah semakin ingin ku berada di rumah, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

Mencoba menasehati diri sendiri dengan kondisi dan keadaan diri yang tidak menentu, serta fikiran yang sudah muali banyak memikirkan banyak hal. Let’s to brainstrom ur mind mel..

Dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau
permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumu
lasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

Semester satu kemaren nilai saya mungkin tidak sejajar dengan teman-teman S2 dari UGM, sebenarnya alasannya karena menyiapkan acara pernikahan teman yang tergolong mepet waktu perencanaanya, apalagi penetapan tanggal nya dan semua prosesi dadakannya itu berlangsung pas sibuknya pekerjaan. Tetapi dikalangan teman-teman S2 va berkembang rumor, klo aktivis tuh ga terlalu bagus akademiknya, tahu sendiri lah ya anak-anak S2 tentu semuanya jago dan merupakan putra terbaik pilihan universitas asal, maupun dosen terbaik dari asal institusinya, bayangkan saja saya bersejejar dengan mereka. Dan ternyata dari universitas ataupun institusi asal, anak-anak ROHIS ataupun aktivis dakwah semuanya ya gitu ga ada yang menonjol secara akademik. Waktu tahu rumor itu saya agak kaget, saya sadar saya baru saja menambah catatan baru pandangan bagi mereka, aktvis kalah akademik. Whuah… hal ini tidak bis
a dibiarkan donk..

Semoga kisah dan cerita saya  tersebut tidak terulang kembali di masa mendatang dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang
memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.

Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “ Antum telah berguguran di jalan dakwah, atau kata-kata pahit lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat
mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri.

Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita. Mulai sekarang tata diri pribadi, menyikapi segala sesuatunya dengan bijaksana dan dewasa, karena hidup cumalah sebentar manfaatkan waktu sebaik mungkin, perbaiki persepsi manusia tentang sisi minus aktifis dakwah, jadikan sebagai motivasi, terus berkarya untuk ummat ini, karena tantangan dakwah di luar sana semakin liar… Sehingga permasalahan internal tidak menjadikan seorang kader bilang “aku ingin cuti dari dakwah”.

For My DSP : Terimakasih cinta,.. telah membelikan adek BBB (Beat Black Baru), semoga si BBB memudahkan adek beraktivitas dakwah, Kuharap engkau selalu mendukung n menyemangati adek di kala adek lemah..

baca juga http://www.scribd.com/doc/14259630/Jalan-Dakwah-AlUstaz-Mustafa-Masyhur
 

Akhwat dalam Siyasih, tanya kenapa?

Agak panas mendengar cerita seorang akhwat dalam sebuah forum daerah beberapa waktu lalu. Pasalnya, ada akhwat daerah yang kemudian hendak sharing akan dakwah kampus/daerahnya di depan forum. Namun, di cut oleh ikhwan dengan alasan yang tidak substansi. Intinya, akhwat tersebut diharapkan tidak berada di depan forum…dengan tinjauan bla..bla..bla.. menjelaskannya saja ana sulit bahkan marah. Mengapa hari ini kita masih berkutat pada masalah seperti itu?

Adalagi sebuah forum, di mana akhwat yang diusulkan menjadi presidium siding, tapi mendapat sanggahan dari ‘partner dakwahnya’. Phuuffp…ana makin tidak habis pikir. Era muassasi yang akan kita masuki masih berkutat pada hal tersebut. Pemahaman kita akan posisi akhwat ternyata belum bertemu.

Adalagi sms yang dikirimkan ’partner dakwah’ para akhwat yang isinya mempertanyakan forum akhwat yang sudah berdiri…haruskah ada??? Dalam sesi lain, sebuah ’syura’ menetapkan bahwa akhwat tidak boleh masuk dalam calon legislatif BEM. Pernah ada isu pula, bahwa akhwat tidak boleh ikut kongres. Yang terbaru, akhwat parlemen di PAW, dan ada statemen siyasih tanpa akhwat (yang ini bisa ditolerir karena kondisi kampus). Ada lagi rapat mal
am ikhwan dll.

Ada lagi statement keji: syahwat siyasih akhwat cukup tinggi !!! karena melihat begitu ramainya akhwat dalam kancah politik kampus. Membangun partai, berdiskusi dengan lawan politik, berorasi dalam aksi, masuk dalam bursa kandidat ketua BEM fakultas…..

Agghhh!!

Mengapa ada tanya?

Ketika diminta kader siyasih fakultas (ikhwan) untuk mengurusi tetek bengek siyasih kampus…tak kunjung ditemukan. Giliran akhwat mau bergerak, selalu ada tanya. Masih mending tanya yang muncul, ada kalanya kecaman keji!!! S a k i t !!!!


Wahai saudaraku…mengapa tak ada ketsiqohan dalam dirimu?

Mana jiwa Qawwam yang engkau miliki….


Secara sadar, akhwat adalah kaum pengikut. Tapi bukan berarti mengikut tanpa pertimbangan apapun. Maksudnya, akhwat adalah sosok yang harusnya diarahkan, dipimpin…jika fungsi itu tak ada, maka ia pun siap untuk memimpin sendiri. Ingat istilah single parents bagi seorang ibu yang merawat anaknya sendiri tanpa ayah? Ya, akhwat memiliki kemampuan itu. Artinya, Ar Rijal Qowwamun ala Nisa. Jika ada yang memimpin, ia pun akan patuh. Namun, jika
tidak, maka ia pun siap memimpin dirinya sendiri. Lantas, mengapakah lagi ada pagar-pagar yang membuat akhwat sulit berekspresi? Membuat forum akhwat, misalnya!

Ada cerita dalam sebuah forum sidang, saat para akhwat diusulkan menjadi pemimpin sidangnya, tak satupun terdengar ’partner dakwahnya’ bersedia menggantikan posisinya. Mereka sedikit egois. Kurang mampu menjaga akhwat. Padahal akhwat sudah memberi kesempatan, bahwa dirinya akan memimpin, jika yang layak memimpin tak ada, tidak sanggup. Karena, akhwat khawatir, jangan sampai saat sidang berlangsung pun, akan banyak interupsi yang mempertanyakan keberadaan akhwat di depan forum seperti yang sudah-sudah. Hal ini dapat mengguncang forum dan menghambat. Akhwat tidak siap jika itu terjadi, karena sama saja ’mempermalukan’ dirinya di depan forum. Padahal dalam situasi tersebut… begitu banyak calon pemimpin, begitu banyak sang orator, begitu banyak sang demonstran, begitu banyak sang pendobrak yang hadir, dan mampu untuk itu. Jadi ragu, jangan-jangan itu hanya retorika belaka. Jika dalam situasi perang seperti ini, kasihan akhwat…akan ditolong pada saat belati benar-benar
di lehernya, saking akhwat dirasa mampu menjaga diri L. Lantas, apa bedanya dengan ikhwan dalam dunia heterogen? Di sana pun mereka berinteraksi dengan lawan politik yang juga lawan jenisnya. Berdiskusi, bercengkrama, merekapun memimpin sidang, namun ikhwan tidak mampu protes. Jika tidak tahan pun, malah menghindar. Tak mampu bicara dan bisanya ’membantai’ saudarinya dalam forum homogen. Adilkah? L Ini baru masalah amanah, persepsi…bagaimana dengan hal yang lebih berat, poligami misalnya!!!^_^

Sekarang, cukup banyak akhwat yang mampu memimpin rapat, menjadi decision maker, menjadi problem solver dan itu tidak diragukan lagi. Hanya saja pengakuan internal yang belum sanggup melihat kenyataan itu. Jika memang akhwat mendapat penjagaan, mengapa tak ada tawaran solusi bagi akhwat siyasih? Paling tidak ada pengganti para akhwat tersebut dalam amanah dakwah yang diembannya. Padahal, kerja siyasih cukup meremukkan persendian, menguras otak dan membuat wajah makin tirus.

Ada lagi yang menyatakan, jika akhwat ada depan forum, apa kata mitra??? Bah!!! Mestinya semua mampu menjawabnya. Justru Ikhwan harusnya malu karena tidak mampu merecovery kerja akhwat. Masih ingat saat akan aksi, maka akhwat bekerja sampai malam membuat jargon, umbul-umbul, ataupun bendera. Bahkan bambu pegangan jargon pun harus dipotong sendiri- kuat mAnn!!!. Dalam beberapa kegiatan pun, akhwat seperti dibiarkan membuat spanduk sendiri. Sekarang memang zamannya akhwat tidak hanya mampu bekerja internal, domestik. Ekstra domestik pun harus dikuasai…membuat pagar, memperbaiki genteng, balap motor, memperbaiki PC
, dll…….??>>@@$$$###!!!! Nah lho….

Mestinya, mereka melihat, bagaimana kuota tiga puluh persen bagi perempuan di legislatif pun, tak sanggup untuk dipenuhi. Jika pembelajaran awal sudah mengalami hambatan internal, maka bagaimana seorang akhwat mampu bekerja di ranah politik, apatah lagi mendongkrak kuota mencapai empat puluh hingga lima puluh persen?

Allah tidak pernah membedakan tugas laki-laki dan perempuan. Mereka sama-sam diberi tanggung jawab untuk saling menolong dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak buktu keterlibatan muslimah dalam kegiatan dakwah
Rasulullah. Aisyahpun menjadi rujukan bagi sahabat dalam belajar Islam. Fatimah dan Ummu sulaim pun dalam perang Uhud membantu prajurit yang luka, ia membawakan kendi air, sedang fatimah membantu pengobatan Rasul yang terluka. Sumayyah, syahidah pertama, Para wanita bani ghifar dalam perang Khaibar juga turut membantu rasul dalam kegiatan jihad. Ummu Imarahpun turut berperang pada perang Uhud. Shafiyah binti Abdul Muthalib r.a juga turut dalam perang Uhud dan Khandak. Asma binti Yazid yang membunuh sembilan musuh pada perang Yarmuk. Perjuangan Ibunda Zainab al-ghazali, subhnallah …..

Kini, begitu banyak isu perempuan yang tidak tertangani oleh akhwat. Kepemimpinan akhwat harus di mulai dan berjalan baik. Mampu menghadapi masyarakat yang apatis. Mereka telah diambil hatinya oleh kaum penuh motif, akhwat harus kreatif.

Forum akhwat harus dipertahankan, untuk pencerdasan akhwat. Mengingat banyak akhwat yang mudah ditekan, dipengaruhi, pemalu, dan tidak kreatif jika bersama ’partner dakwahnya’. Forum pencerdasan
itu, mungkin belum terasa hasilnya, tapi, minimal jadi bekal mengarungi kehidupan yang lain. Wallahu A’lam…


Ruang ide-Q di rumah Q-tha

Jangan pernah melihat ikhwan akhwatnya, tapi lihatlah apa yang diperjuangkanya. Ikhwan dan akhwat, keduanya harus mampu menjawab tantangan zaman. Saling mendukung, bahu membahu mendirikan bangunan dakwah. Bukan bercerai berai, menyimpan dendam. Zionis makin tak terkendali. Kita tak boleh terlena. Masalah internal harus disudahi.Ilmu harus diperdalam. Mungkin selama ini kita kurang Ilmu, tapi tak menyadarinya.Sehingga gerakan tidak berkah. Tetap berjuang Akhi..Ukhti..Allah bersama kita Allahu Akbar !!!
 

boleh ga nikah dengan akhwat non tarbiyah?

“kalo ane menikah dengan akhwat non tarbiyah gmn?dia pernah LQ, tapi lepas karena faktor domisili. Dia udah ga jilbab lebar lg, tapi nilai-nilai tarbiyah masih ada. hanif”


pernyataan diatas merupakan SMS yang gue kirim ke beberapa sahabat kemarin, ada beberapa yang jawab, diantaranya :
“tancep terus aja ma, kan jadi ladang pahala buat nte. Apalagi dia lepas hanya karena faktor domisili”
“kira-kira sefikroh ga? Kalo banyak persamaannya ya tafadhol….istikhorohin ya…”
“ga masalah sih asal lo bisa bawa dia, emang lo udah ktemu ma?”
“sayang aja. Akan banyak akhwat bertanya-tanya. lha wong stok akhwat aja banyak yang vacant kok cari yang diluar? Kenapa emangnya? Nte jatuh cinta ye?:p”

“mba ga masalah karena kamu yang akan jalanin. Kalo masalah penolakan dari tandzim dan murobbi
kamu ya wajar. Tapi kan kamu yang jalanin, kalo kamu yakin dengan keputusanmu, ya jalanin aja”

“setau ane sih ma, utk model kaya kita gini emang blh milih sendiri, tapi tetep kudu sama akhwat tarbiyah. Lagian akhwat masih banyak. Ortu nte udah setuju belum?”
“pada dasarnya tidak ada masalah, cuma nanti tugas antum jadi terbagi dgn membina istri. Toh kalo emang jodoh dari allah sapa yang bisa halangi?:p. menikah tidak hanya dengan siapa yang penampakannya gimana. Itu hal kecil. Visi dakwah dan amal shalih harus kuat”
“cincay lah akh yang penting antum usaha dan nikah aja dulu (semoga jodoh dan motivasi utk lebih ber
amal sholih) tapi yang perlu diluruskan, LQ bukan prasyarat nikah tapi salah satu sarana dan upaya memperbaiki diri”
“keputusan kita menikah dengan siapa pun berkaitan erat dengan visi misi kenapa qt menikah. Kalo menurut pertimbangan qt dengan dia qt bisa mencapai tujuan mendasar/visi misi kenapa seorang ikhwah menikah, kenapa tidak?boleh aja. Ant yang akan menjadi imam, tanggung jawab terhadap istri ant ada dg ant, kalo ant siap dengan resiko apapun, silahkan aja….”
“liat dulu tingkat kefuturannya, kalo menurut teteh, utk seorg aktifis agak berisiko kalo aktifis pilih yang hanif. Takutnya nanti gak terima dengan kesibukan aktifitas dakwah yang kadang tdk kenal waktu, kalau lebih banyak yang berkualitas kenapa tidak ambil mereka aja?”

“menikah dengan siapapun adalah pilihan dan hak memilih. Kalo ana, ikhwah atau bukan yang penting landasan pemikiran dan kefahaman ttg masa depan islam sama dengan ana+akhlak muslim.mnrt ant?”

atau ada jawaban sinis

“knp ant nanya gitu? Apa sudah ga ada lagi akhwat tarbiyah yang mau menerima ant?
  Itu tadi pernyataan sahabat-sahabat ane tentang wacana yang ane gulirkan. Ada yang dukung, ada yang pura-pura dukung tapi ga suka atau langsung sinis. Ustadz ane juga pernah bilang “ kenapa kita menikah dengan akhwat tarbiyah, supaya dia bisa mengerti aktivitas dakwah kita yang tak kenal waktu” trus kenapa istrinya selalu
nelpon supaya dia cepet pulang kalo Liqo udah jam 11? Atau banyak temen ikhwah yang akhirnya susyah beraktivitas karena dilarang istrinya. Ga boleh pergi ngisi LQ, ga boleh pergi ngisi outbound. Padahal istrinya aktivis lho!!!kader inti tarbiyah juga!!! Atau persyaratan beberapa akhwat yang nyaratin suaminya ga banyak keluar kota, ga aktif banget, harus kerja kantoran yang jadwalnya rutin, nah lho? Katanya aktifitas dakwah ga kenal waktu? Harusnya seorang akhwat tarbiyah ngerti dong dengan aktivitas suaminya yang da’i? jadi, apa bedanya akhwat tarbiyah dengan non tarbiyah? Sama aja kan!?
   
  Mamaku bukan kader tarbiyah. Dia hanya seorang ibu yang hanif. Tapi dia bisa mengerti aktifitas papa yang super sibuk sebagai birokrat dan aktifis pergerakan, dia bisa jadi pendukung papa yang baik. Ketika papa sering keluar k
ota untuk urusan kantor dan organisasinya mama ga protes. Bahkan dia bisa mengerti dan mendukung aktivitas dakwah tiga anaknya yang kader tarbiyah dan superaktif. Anak-anaknya cuma ada di rumah kalo sakit aja. Selebihnya aktif dengan komunitasnya masing-masing. Dan mama ga pernah protes, dia malah support penuh segala aktifitas dakwah anak-anaknya. Apakah itu dilakukan juga para ummahat tarbiyah?
   
  Lalu kalo ternyata kita bisa membawa akhwat tersebut kembali ke pangkuan tarbiyah gimana? Toh dia hanif. Rasulullah kan minta kita memilih istri karena 4 hal. Salah satunya adalah karena agamanya, syarat dia harus tarbiyah
kan ga ada? lagipula Dia seperti itu kan karena lingkungannya, kalo kita berhasil narik dia ke lingkungan kita kan dia akan kembali ke jalurnya. Trus kalo dia nikah dengan orang lain yang bukan tarbiyah gmn? Dia akan semakin jauh dengan nilai tarbiyah. Siapa mo tanggung jawab? Mungkin ini hanya pembenaran, tapi ini juga harus jadi bahan perenungan kita semua.
   
  Kalo menurut pengakuan beberapa sahabat ikhwan yang rada bandel, emang susyah jadi ikhwan yang di blacklist dan bandel. Cari istri lewat murobbi, susyah karena di-blacklist sama ummahat. Jalurnya ditutup. Dibilang terlalu liar, terlalu cair, ga layak jadi ikhwah, Terus belum lagi banyak isu ga sedap yang bikin nama kita ancur. Akhirnya murobbi angkat tangan karena ga bisa nyariin. Kalo mo cari sendiri atau nembak langsung ke akhwatnya eh malah dibilang ikhwan tukang tembak dan ga taat asas. Ga ikut jalur, ga taat murobbi, pemilih, cuma mentingin fisik dll wah pokoknya Gosipnya malah tambah parah. Beberapa petinggi ummahat bilang dengan sinisnya “kok bisa sih ikhwan selevel di
a masih potong jalur?”. Trus ketika pengen cari yang non tarbiyah aja, eh malah disalah-salahin. Gosipnya tambah buas dan tambah sinis, Katanya “apa ga ada akhwat tarbiyah lagi sampe cari orang luar tarbiyah” dll. Wualah tambah runyam…….
  Nah lho…..kok jadi serba salah ya? Trus harus gimana dong? Apa solusinya keluar dari tarbiyah aja? Jadi ga ada perdebatan boleh ga nembak atau cari non tarbiyah? Jadi jangan mencibir atau mencela ikhwan-ikhwan yang memilih menikah dengan akhwat non tarbiyah kalo para akhwat masih ga bisa nerima perbedaan yang ada!! Kalo para akhwat masih dengan mimpinya tentang “pangeran berkuda putih”. Kalo masih bilang ikhwan2 yang “beda” tidak layak sebagai ikhwah. Kalo masih ada blacklist dan perlakuan diskriminatif lainnya. Kalo akhwat lebih memilih ikhwan masih hanif dibandingkan ikhwan tarbiyah tapi rada baong. Jadi wajar dong kalo ikhwan nemba
k langsung atau nikah dengan non tarbiyah!? Yang penting sholehah kan????
wallahualam
 

Tentang Aurat Laki-laki (muslim) dan Hukum Berpakaian Bagi Laki-laki

Dalam masalah aurat, sudah banyak sekali pembahasan mengenai aurat umuslimah terhadap sesamanya. Baik aurat muslimah terhadap muslimah yang lain, muslimah terhadap perempuan kafir, muslimah terhadap lawan jenis yang merupakan mahramnya, maupun muslimah terhadap lawan jenis non-mahram. Namun sangat disayangkan sangat sedikit bahasan mengenai batas aurat laki-laki bahkan hal ini cenderung disepelekan.

Betapa banyak aktifis dakwah yang dengan tenangnya memakai celana pendek atau ¾ yang kependekan ke pertemuan-pertemuan resmi, seolah tidak takut auratnya tersingkap. Atau ketika hanya berada diantara para ikhwan melepas baju seenaknya sehingga menampakkan aurat yang seharusnya ditutupi. Atau memakai pakaiaan yang terlalu ketat dan “pas pinggang” sehingga ketika menunduk auratnya tersingkap. Karena itu, saya merasa perlu untuk menuliskan hal ini karena seakan-akan hal ini disepelekan dan dianggap tidak penting. Padahal Allah telah menyuruh kita untuk masuk ke dalam islam secara menyeluruh;

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS 2;208)

Batas Aurat Laki-laki :

Batas aurat laki-laki menurut jumhur ulama adalah antara pusar dan lutut baik kepada laki-laki muslim dan non-muslim atau wanita muslim dan non-muslim.

Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat

Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid].



Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya

dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda:


“Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR.

Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib].


Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat

kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda:

“Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat

Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].



Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan

janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud

dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].

Empat dalil diatas sudah menjelaskan tentang batas-batas aurat bagi seorang laki-laki. Dan definisi aurat adalah bagian tubuh yang wajib di tutupi dan haram untuk diperlihatkan kepada orang lain yang tidak berhak melihatnya. Adapun pengucualian khusus adalah bagi istrinya yang boleh melihat seluruh anggota badannya. Karena istrinya adalah pakaian baginya dan fungsi pakaiaan adalah menutup aurat. Menutup berarti menyentuh, bagaimana mungkin tidak boleh melihat sementara menyentuh hukumnya lebih berat daripada melihat”.

Batas Berpakaian bagi laki-laki

Ada tiga batas bagi laki-laki dalam berpakaian yaitu :

1. Tidak menyerupai wanita

Jujur, saya miris sekali melihat kenyataan bahwa sekarang laki-laki yang berpakaian seperti wanita dianggap sebagai sebuah lelucon dan bercandaan. Mereka tertawa dan bercanda ria, padahal yang dilanggar adalah aturan Allah!?

2. Tidak mengunakan Sutera dan Emas

Laki-laki dilarang mengunakan sutera dan emas baik berupa cincin, jam tangan atau kalung. Hmmp, harus lebih selektif nih dalam memilih aksesoris.

3. Tidak menyerupai orang-orang kafir

Bila ada kesalahan dalam penulisan fiqh ini, tolong diperbaiki dan dikoreksi, karena penulis juga masih sedang belajar, untuk lengkapnya bisa dilihat pada :

http://taufiqsuryo.wordpress.com/2008/06/07/seri-faq-fiqh-islam/

 

Bolehkah akhwat/akhawat pulang malam?

Pertanyaan yang aneh ya, tetapi hal ini merupakan masalah yang cukup sensitif di kalangan para aktifis dakwah. Semakin terbukanya aktifitas dakwah kita, dan semakin banyaknya lahan-lahan dakwah yang harus digarap, menyebabkan banyak para aktifis muslimah ‘terpaksa’ (akhwat) pulang malam (malam diartikan diatas jam 19.00). Lahan-lahan, seperti organisasi internal kampus maupun labotarium, yang banyak berinteraksi dengan masyarakat umum, menuntut para akhwat untuk bisa rapat maupun riset pada malam hari. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan awal bolehkah akhwat pulang malam, bagaimana hukumnya?

Untuk menjawabnya izinkan saya memulai dengan sebuah cerita singkat. Pada suatu hari ada sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang ingin berniat melakukan acara syiar pada malam hari yang melibatkan para akhwat. Segera saja berita ini berkembang di kalangan aktifis. Ada yang pro ada yang kontra. Yang pro mengatakan hal ini untuk memperluas segmentasi dakwah dan inklusifitas syiar LDK. Sedangkan yang kontra mengeluarkan satu pertanyaan mendasar “terus akh, akhwatnya gimana?”. Perdebatan pun tak terhindarkan, hingga dua kali syura belum ada keputusan mengenai konsep acara ini.


Akhirnya diputuskan untuk mengundang beberapa elemen terkait untuk mendiskusikan masalah ini di syura berikutnya. Elemen-elemen yang diundang adalah Majelis Perimbangan Organisasi, Badan Pengurus Harian, Panitia, serta Dewan Syariah LDK. Setelah syura itu akhirnya diputuskan acara malam ditiadakan dengan berbagai pertimbangan.

Nah dari syura-syura dalam cerita itu saya berusaha mecerna permasalahan “akhwat pulang malam ini”. Penjelasannya adalah :


SEBENARNYA TIDAK ADA DALIL PASTI YANG MENGATAKAN BAHWA AKHWAT TIDAK BOLEH PULANG MALAM.

Akhwat ‘dilarang’ pulang malam adalah untuk menghindari dua fitnah yang mungkin terjadi, apa saja itu?

Pertama fitnah keamanan. Masih segar diingatan kita peristiwa dua santri Aa Gym di bandung yang diperkosa dan dimutilasi pada saat pulang dari suatu ta’lim, mahasiswi yang diperkosa di hutan UI, maupun pelecehan-pelecehan yang dialami oleh banyak akhwat dan itu semua terjadi di malam hari. Potensi terjadinya kriminalitas lebih besar pada malam hari. Bahkan para ulama mengisyaratkan banyaknya fitnah di malam hari sehingga kita disunnahkan untuk lebih banyak bertafakur, berdzikir, dan membaca al-quran dibandingkan berada diluar rumah.

Kedua adalah fitnah khalwat dengan lawan jenis. Banyaknya kasus aktifis dakwah yang terkena virus merah jambu belakangan ini bisa saja dimulai dari masalah akhwat pulang malam ini. Banyaknya Ikhwan kesiangan yang berlaga
k nganterin akhwat yang pulang malam padahal niatnya adalah untuk berduaan saja, naudzubillah.

Tetapi sungguh ada contoh teladan mengenai masalah mengantar lawan jenis ini. Ingatlah ketika ustman bin thallah mengantar ummu salamah melewati 400 km padang pasir dengan santunnya. Dituntunnya unta ketika ummu salamah sudah aman diatas sekedup. Diderumnya unta, dan segera menjauh untuk mempersilahkan ummu salamh turun Begitu terus selama perjalanan hingga mencapai desa dekat di dekat madinah. Sudahkah kita sesan
tun itu?, dan lebih lagi ustman mengantar ummu salamah dalam keadaan darurat. Ia dan anaknya dipaksa oleh kaum kafir Quraisy untuk meningalkan suaminya yang hendak berhijrah. Setelah melewati masa-masa yang menyedihkan, akhirnya ummu salamah diperbolehkan menyusul suaminya dengan hanya berbekal seekor onta dan makanan seadanya. Melihat keadaan darurat itulah ustman menawarkan diri untuk mengantar ummu salamah.

Terkait contoh LDK yang ingin mengadakan acara malam diatas, lebih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan yang diambil untuk memutuskan hal tersebut.

1. Mengambil dalil fiqh prioritas yaitu : menolak kemungkaran (bila terjadi kasus pada akhwat) lebih diutamakan dibandingkan mengambil manfaat (inklusifitas dakwah) -mengenai fiqh prioritas akan saya bahas lebih detil
lagi ditulisan lain, insya Allah.

2. Kontent acara yang diusung bukanlah kondisi darurat yang menyebabkan akhwat bisa pulang malam.

3. Image LDK yang bersangkutan di mata masa kampus dan masyarakat yang akan menurun mengingat selama ini para kader LDK selalu berusaha menyosialisaikan agar akhwat/perempuan tidak pulang malam.

Sebagai kesimpulan :

AKHWAT SEBENARNYA BOLEH PULANG MALAM, TETAPI HARUS ADA JAMINAN AMAN DARI DUA FITNAH YANG DISEBUTKAN DIATAS DAN MENGHADIRI ACARA ATAU DALAM KONDISI-KONDISI YANG DIBENARKAN

Wallahualam, semoga Allah merahmatiku, mu dan kita semua.
 

Rumah Tangga Islami

Setiap keluarga muslim tentunya menginginkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sebab dari keluarga yang sakinah, maka akan lahir anak-anak yang berjiwa islami. Pendidikan pun dapat dengan mudah diterapkan pada sebuah keluarga yang islami.

Keluarga yang sakinah akan dapat terwujud dari sebuah rumah tangga yang islami. Dari sebuah rumah tangga yang islami, kualitas anggota keluarga di dalamnya dapat terjaga, sehingga rumah tangga tersebut akan jauh dari hal-hal yang dimurkai Allah SWT. Namun seperti apa sih rumah tangga yan islami itu? Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan sebuah rumah tangga yang islami?

Pada dasarnya, rumah tangga yang islami adalah rumah tangga yang di dalamnya terdapat nilai-nilai syariat islam, yang dijalankan oleh anggota keluarga tersebut. Untuk mewujudkan sebuah rumah tangga islami, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Hal-hal yang harus kita perhatikan dalam sebuah rumah tangga islami adalah:

1. Rumah islami adalah rumah orang-orang yang selalu menyucikan diri dan senantiasa mengingat Allah. Rumah yang di dalamnya ditegakkan penghambaan kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Setiap penghuni rumah mengutamakan amal sholeh dan selalu mengingat Allah kapan dan dimana saja ia berada.

2. Rumah yang didirikan untuk menegakkan kedaulatan Allah di muka bumi serta menjadi tempat untuk mewujudkan syariat islam dalam setiap aspek kehidupan para penghuninya.

3. Penghuni rumah menyadari bahwa rumah tersebut hanyalah tempat sementara, selama ia menabung amal sholeh sebagai bekal untuk di akhirat kelak. Para penghuni rumah tersebut lebih menginginkan dan selalu merindukan rumah yang kekal (surga) di sisi Allah.


4. Rumah yang selalu bersih dari najis dan hadast, baik besar maupun kecil. Hal ini karena penghuni rumah tersebut benar-benar menyadari bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, dan kebersihan merupakan salah satu syarat sah ibadah kepada Allah SWT.

5. Rumah yang dipenuhi dengan kalam Allah, karena para penghuninya rajin untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat suci Al Qur’an.

6. Rumah yang di dalamnya penuh dengan akhlak islami, yang diperlihatkan oleh semua anggota keluarga. Anak-anak berbakti pada orang tua, orang tua mendidik anak-anaknya dengan penuh nuansa islami, sesame saudara saling menghormati, serta memuliakan para tamu yang datang untuk bersilaturahmi.


7. Rumah yang jauh dari hal-hal yang mampu membuat penghuninya “kembali” ke masa jahiliyah, yang melalikan penghuninya untuk beribadah kepada Allah SWT.

8. Rumah yang menjadi madrasah atau tempat pendidikan bagi seluruh penghuninya, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Di dalamnya terdapat berbagai prasarana untuk melakukan pembelajaran secara islami, baik itu berupa buku, majalah, maupun hal-hal lainnya.

9. Rumah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya anak-anak yang sehat, baik jasmani maupun rohaninya.

10. Rumah yang dihuni oleh keluarga yang sholeh, selalu memakmurkan masjid dan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di tengah masyarakatnya.

11. Rumah yang dihuni oleh istri dan ibu yang sholehah, yang menjadi tumpuan dan sumber kasih saying keluarga.

12. Rumah yang menjadikan tetangganya aman dan senang bersilaturahmi dengan para penghuni rumah tersebut.

13. Rumah yang selalu memuliakan tamu yang datang, baik itu tetagga dekat maupun jauh, sehingga terjalin tali silaturahmi yang cukup kuat antara penghuni rumah dengan orang lain.


14. Rumah yang penghuninya mampu menjadi teladan bagi masyarakat sekitar dalam menegakkan syariat islam dan hal-hal positif lainnya.

15. Rumah yang penuh berkah, yang tidak melalikan penghuninya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jika kita lihat, alangkah sederhananya sebuah rumah tangga yang islami. Namun, mewujudkannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Setiap anggota keluarga harus terlibat aktif dalam usaha untuk mewujudkan sebuah rumah tangga yang islami. Dari rumah tangga islami seperti inilah, maka keluarga sakinah akan dapat terwujud dengan sendirinya.


Sekarang saatnya kita mulai menerapkan hal-hal tersebut dalam rumah tangga kita. Semoga rumah tangga kita menjadi sebuah rumah tangga yang islami, yang diberkahi dan dirahmati oleh Allah SWT. Amin……….


(dikutip dari majalah Hidayah)
 

Untukmu Kader Dakwah

       

“Wahai Ikhwah, Tetaplah Waspada!!”

Selalu, dalam sebuah peristiwa besar hanya sedikit orang yang menggerakkannya. Merekalah pelaku sejarah. Merekalah yang sadar akan skenario cerita. Merekalah yang mampu melihat akhir sebuah proses. Maka merekalah yang memutar biduk kehidupan. Dan KITA adalah MEREKA! Kita berbeda bukan karena kita lebih mulia. Kita berbeda bukan karena kita lebih utama. Kita berbeda karena perbedaan tersebut adalah pilihan, dan kita telah memilih! Apa yang kita pilih?? Kita memilih untuk bersama keimanan. Kita memilih untuk berhimpun dalam ketaatan. Kita memilih untuk bergerak dalam satu aturan. Kita memilih Islam untuk kehidupan. Kita memilih: Allah Ghoyatuna, Muham
mad Qudwatuna, Alquran Dusturuna, Al Jihaad Sabiiluna, Al Mautu Fii Sabiilillah Asma Amaaniina.

Tingginya antusiasme masyarakat dari sekadar simpati, sampai menyatakan dukungannya terhadap partai dakwah, menandakan partai dakwah saat ini adalah sebuah kekuatan baru. Bukan (sekadar) kekuatan alternatif. Jika para pemegang kekuasaan itu tidak kuat-kuat memegang amanah karena orientasi/niat yang telah berubah, maka mulai saat itu fitnah telah terjadi pada kekuasaan. Kemenangan maupun kekalahan tidak identik dengan perencanaan. Terkadang kemenangan itu datangnya lebih cepat dari skenario yang kita rencanakan, begitu juga sebaliknya. Sehingga para kader dakwah jangan terlena dengan kondisi yang ada saat ini.


Waspada, dan berhati-hatilah!

Mereka yang memperturutkan hawa nafsunya telah digambarkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, “Ia tertarik kepada kehormatan dan kepemimpinan, lalu ia suka kepada perkataan yang batil dan benci kepada perkataan yang benar. Ia diperbudak oleh orang yang memujinya walaupun pujian itu batil, sedangkan ia memusuhi orang yang mencelanya walaupun celaan itu benar.

Mereka menjalankan dakwah di atas budaya sloganistik, basa-basi bahasa dan mengikuti arus belaka. Dalam waktu yang sama pasti akan terjadi perpecahan internal, persaingan antar aktivis, dan pengkhianatan. Mereka justru menunggangi ummat walau berteriak, “Semua demi Ummat!”. Na’udzubillahimindzaalik…

Bukan bendera-bendera kecil berkibar yang akan memperkenalkan manusia pada dakwah. Bukan pula slogan-slogan kosong di mimbar-mimbar. Namun, gerak langkah dan setiap desiran jiwa yang dipenuhi dzikrullah nan bercahaya. Qudwah, Uswah, yang memesonakan setiap mata dan perlahan akan menarik mereka ke dalam dakwah laksana laron mengelilingi pelita.

Waspadai virus “narsist” hizb yang menjurus pada riya’ dan sombong.

     Apakah tidak cukup Sejarah Perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita?
Disorientasi tujuankah? Sehingga ghanimah lebih menyilaukan mata?
Over PeDe kah? Dengan kekuatan dan jumlah yang lebih besar dibanding Perang Badar?
Ataukah kita adalah salah satu dari pembangkang perintah Qiyadah dan Jama’ah?Sehingga terkorbankan di medan laga. Mati sia-sia.   

Jangan sampai sejarah Perang Uhud terulang kembali.
Kita berharap, kita adalah salah satu dari mereka yang tidak terlena dengan kilauan harta, tahta, dan wanita; tetap tho’at kepada Allah dan Rasulnya; dan senantiasa memegang teguh Asholah Dakwah.

“Allah telah menetapkan, Aku dan Rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al Mujadilah: 21)

ISTIQOMAH! Ini adalah amanah Allah, amanah Ummat, dan Jama’ah. Ketika ikhwah tidak istiqomah, walaupun ruhiyahnya tetap terjaga, cepat atau lambat ia akan masuk perangkap yang menjerumuskannya ke dalam jurang kesesatan. Sebab, fitnah-fitnah kekuasaan hadir ketika kita tidak lagi konsisten dengan yang diperjuangkan.

Kembali ke pangkuan tarbiyah…

Lets back to Asholah..!!


Bersiaplah untuk MENANG, dan tetap “WASPADA”!

: Ketika ada tanya yang mengusik hati. Alhamdulillah habis dapet nutrisi dari berbagai referensi.
 

Proposal Penelitian Seorang Akhwat

   Menakar Sensitivitas Akhawat dalam Lirik Nasyid “Maaf Tuk Berpisah” oleh Tashiru dan “Di Batas Waktu” oleh Edcoustic Ditinjau dari Kajian Semiotika Psikologi   

Tsaahh!! Keren nggak tuh judul postingan kali ini. Kurang apa lagi coba, dari yang curhat, cuap-cuap, celotehan, sampe tulisan yang berbau ilmiah-pun hadir di blog kesayangan kita ini (heuheuh..). Tapi jangan dibayangkan tulisan ane nanti bakal ngeluarin teori-teori Semiotika Psikologinya Mas Aart van Zoest, Pakde Lacan, atawa Om Freudian. Tenang Prenz, nyantai aja. Kita gak lagi buat penelitian sastra koq. Judul di atas adalah korban dari ke-stress-an ane yang akhir-akhir ini lebih banyak berkutat dalam pembuatan proposal penelitian. (Ooh ida, jangan bawa2 matakuliah ini di blog dunk. Jangan biarkan dia menjadi momok yang menakutkan dan selalu menghantui hari-harimu. Biarkan untuk sekali ini, dirimu merasakan lepas dan bebas dari kejaran deadline Proposal yang bentar lagi harus dikumpulkan. SEMANGAAATTTT!!!)

Ngomong apaan seh?? Jangan dihiraukan Prens. Ni orang hanya sedikit depresi aja koq. Bentar lagi juga sembuh. Mari kita berdo’a bersama demi kesembuhannya….Berdoa, mulai…!


F-O-K-U-S


A. PENDAHULUAN
1.Latar Belakang

Ehm…apakah ini saatnya qta ber-mellow2 ria?? Terserah tanggapan pemirsa…yang jelas di sini ane cuma ingin memotivasi akhwat untuk tidak pernah menjadi akhwat yang lemah. Jangan cuma karena sosok tangguh si ikhwan atau perhatiannya yang sedikit berlebihan (perasaan kita aja kallee, padahal ke semua akhwat juga sama!), eh si akhwat malah jadi ke-GeEr-an bahkan ada yang sampe kelepek-kelepek karena terserang virus merah apel (bosan pake jambu) pada si ikhwan. Aduuuh akhwat!!! Ternyata anti tuh rapuh banget yah! Apalagi soal yang satu ini. Yah, emang tipe anti sie, kalo dah menyukai seseorang, susah pindah ke lain hati (alias setia sehidup tapi, nggak mau semati…ya iyyalaah, secara!). Dah dari sononya pula Antunna tuh punya kadar sensitivitas yang lebih besar dari ikhwan. Makanya qta akan coba menakar sensitivitas anti di sini.

Sowri jiddan ya tashiru, edcoustic juga. Karena nasyid antumlah yang saat ini ane soroti. Sebenarnya ane suka banged ma nasyid2 antum (terutama, nasyid Tashiru yang featuring ma Ebieth beat A, SMS
, ‘Satukan Muslim Sedunia’ en yang ‘Optimis Sajalah’. Kalo Edcoustic, ane paling suka ama yang ‘Menjadi Diriku’ Waaooww…keyyeeennnn!!!!). But, ketika mendengar antum menyenandunghkan nasyid ‘Maaf Tuk Berpisah’ dan ‘Nantikanku di Batas Waktu’, koq naluri keakhwatan ane (taela!) jadi kesindir yhaah?? Suara hati ane berkata, bahwa ane harus segera meluruskan ini semua. Tidak bisa dibiarkan! *sambil mengepalkan tangan ke langit. Jangan sampai hal ini didiamkan hingga berlarut-larut. Mari kita selesaikan persoalan ini sekarang juga! (Mari!) Ane gak akan menyerah. Dengan segenap tumpah darah, ane akan berjuang melawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. MERDEKA!!! (whuuiizzz…)

2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan kita kupas sampai tuntas antara lain:
a. Gimana sih sebenarnya sensitivitas akhwat itu?
b. Apa makna yang tersirat dalam lirik nasyid Maaf tuk Berpisah (MTB) yang dinyanyiin oleh Tashiru?

c. Apa makna yang tersirat dalam lirik nasyid Di Batas Waktu (DBW) yang dibawakan oleh Edcoustic?
   
3. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum

 
Tujuan umum penelitian ini adalah sebagai ajang tholabul ‘ilmi, sharring dan diskusi dengan semua pembaca.

Tujuan Khusus
  Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap:

a. Sensitivitas akhwat dan pengaruhnya bagi ikhwan
b. Makna tersirat dalam lirik nasyid Maaf Tuk Berpisah (MTB) yang dinyanyiin oleh Tashiru
c. Makna tersirat dalam lirik nasyid Di Batas Waktu (DBW) yang dibawakan oleh Edcoustic

4. Manfaat Penelitian
Semoga bermanfat bagi semua..amiin!
yi-haa!! Enjoy it!



B. Kajian Pustaka

Menurut Bang Yoli Hemdi dalam bukunya, ‘Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia’, Laki-laki lebih dominan menggunakan otak kanan ketimbang otak kiri, sehingga cenderung berpikir realistis dan jarang memaksimalkan perasaan. Berbeda halnya dengan perempuan yang lincah memadukan penggunaan dua otak tersebut. Hasilnya dalam memutuskan atau menilai sesuatu, perempuan menyeimbangkan anatara pikiran rasional dan perasaan. Walau sebagian besar mereka juga sering terobsesi dengan otak kiri.


Masih kata Bang Yoli, Wanita berperasaan halus bahkan rapuh umpama kapas. Pada banyak kesempatan perasaan mereka lebih sering memberi warna. Dia akan menjadi malaikat penolong bila jiwa dihargai dan perasaannya disayangi. Namun, bisa berubah drastis menjadi pembunuh berdarah dingin jika hatinya dilukai dan disakiti (hiii…syerrreeemmm). Atas nama cinta, wanita berani menanggung seperih apapun derita. Tetapi mana ada yang sanggup menerima segores luka di dada. Ketika pengkhianatan sensitivitas rasa terjadi, maka perubahan seratus delapan puluh derajat segera melanda. Kesukaan akan berganti kebencian, kelembutan bertukar dengan keganasan. Sahabat lekas berubah sebagai musuh. Seorang raja jatuh pangkat dimatanya umpama budak sahaya. (Yoli, 2005: 41-42)

Kalo menurut ane sendiri, akhwat bukanlah makhluk halus meskipun perasaanya sangat halus (ya iyyalaah, kalo makhlus halus berarti kan sebangsa jin dan antek-anteknya). Akhwat adalah makhluk kasar (baca: manusia) yang berhati lembut selembut sutera yang dipintal di atas awan, dan sebening embun dikala pagi buta. Dia mudah sekali tersentuh karena dia amat sangat perasa dan sensitif sekali banged. *hiperbolis mode ON (Eva, 2008: tidak terdeteksi)


Naaah, gitu Prenz….

So, jangan coba-coba mempermainkan perasaanya ya! Awas lo!

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang ujung-ujungnya akan berubah menjadi metode cuap-cuap dengan teknik celotehan ala eva.



D. Analisis Data dan Hasil Penelitian

Pertama-tama, ane mau mengucapkan berton-ton maaf dan berjuta-juta ‘afwan kepada Tashiru dan edcoustic yang –tanpa seizin mereka- ane
jadikan kambinghitam pada postingan kali ini. Sungguh tak ada maksud apa-apa selain ikut mempromosikan album kalian agar lebih laku di pasaran. Heheheh…Pissss ^_^ v

Oke. Langsung aja ke inti permasalahan.

Perasaan sentimentil wanita yang benar-benar sensitif dengan kehalusan rasa amat merindukan suasana romantis. Layaknya seorang anak kecil yang merengek permen. Padahal pria (baca: suami) rasa sensitifnya kurang. Atau tidak membiasakan diri menciptakan suasana yang penuh
bunga-bunga cinta. (Yoli, 2005: 40)

Hmmm…Akhwat memang memiliki perasaan yang amat sangat halus dibanding ikhwan. Namun, teori ini bisa tidak berlaku bagi ikhwah tertentu. Terkadang kondisi di lapangan menyatakan hal yang berlawanan. Ada ikhwan yang tingkat sensitivitasnya lebih besar ketimbang akhwat. Seperti yang pernah peneliti tulis dalam penelitiannya yang lain, “Dasar Akhwat!” yang disitu tercantum jenis spesies akhwat CADANGAN (Cueks Abis nDAk ketuluNGAN), yang menyebutkan bahwa, akhwat tipe begini udah cuek, dingin, keras, kaku lagi! (whuiih…untung gak makan orang). Model
cadangan ini banyak kita jumpai di kalangan jilbabers. Biasanya cueknya itu ma lawan jenis (baca: ikhwan). Mungkin niatnya untuk menjaga hijab, tapi tetep aja cuek yang ndak ketulungan di sini gak bisa ditolerir. Misalnya, saat ada saudara seiman yang laki-laki (ikhwan) mengucapkan salam saat bertemu di jalan, trus si akhwat menganggap angin lalu dan pergi begitu saja tanpa menjawab salamnya (dalihnya sie, jawab dalam hati). Ato saat si ikhwan pengen membicarakan sesuatu yang sangat penting dan amat mendesak sekali. Nah, baru ketemu ama si akhwatnya tuh di jalan. Trus, waktu dipanggil “ukhti..!!” Eh, si akhwat malah gak peduli dan sengaja mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya (dalihnya lagi nie, takut terjadi fitnah). Yaaah..! Emang sie, serba salah. Bahkan hal semacam ini dah menjadi fenomena yang biasa dan sempat menjadi kontroversi di kalanagan aktivis dakwah. Kan udah ada adab-adab beriteraksi (bergaul) antar ikhwan akhwat. Bukan berarti kita menjadi makhluk yang eksklusif dan gak peka terhadap sesama kaan?? (evans, Dasar Akhwat Part Four 2009)

Sensitivitas akhwat bisa juga dilihat dari puisi yang dibuatnya, cerpen yang dibaca, curhatan yang diungkapkannya, maupun lirik nasyid yang disenandungkannya. Berikut adalah contoh rasa sensitif akhwat terhadap lirik nasyid yang menurutnya sudah menyentuh rasa sensitivitasnya (perasaanya) sebagai akhwat.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bedah lirik nasyid berikut dari sisi akhwat: (yuuukk..)


1. Tashiru dengan hitsnya, Maaf Tuk Berpisah (MTB)

“Kau tahu tentang hatiku
Yang tak pernah bisa melupakanmu

Kau tahu tentang diriku
Yang selalu mengenangmu selamanya” (MTB: lirik ke 1,2,3,4)

Analisis: Masa seeh??? Ah yang benerr? Ketawan banget tuh gombalnya! Sowri jiddan ya Wan, gak ngefek tuh…


“Kini kusadari bahwa semua itu adalah salah juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai” (MTB: lirik ke 5,6)

Analisis: Lho? Koq seolah-olah kamilah yang bersalah karena membuat hati antum ternodai?? (Oh, No!!! Kami adalah sodara kalian, sampai hati dikau menganggap kami seperti itu???!! Tega nian dikau!!!).

“Maafkanlah sgala khilaf yang tlah kita lewati
Telah membawamu ke dalam jalan yang melupakan Tuhan” (MTB: lirik ke
7,8)

Analisis: iya, iya, di’afwanin. But, separah itukah? Sampai membawa ke jalan yang melupakan Tuhan? Oh, My God! Astaghfirullah….

“Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi” (MTB: lirik ke 9,10)


Analisis: Oooh, Haruss Meennn!! Lagian, emang ada apa diantara kita? Biasa aja lagee!

“Ku tahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki” MTB: lirik ke 11,12)

Analsis: Tul banget Bro! Nggak salah lagi Bung! Lha trus kenapa??? Emang antum enggak?

“Dan bila takdirnya kita bersama
Pastinya Allah kan menyatukan qta” (MTB: 13,14)


Analisis: Ya, iyya laaah…Masa Ya, iyya Doonk..!!! Semua ada taqdirnya kaan??? Bersatu atau nggak, yang jelas udah ada Yang Mengatur…

2. Edcoustic dengan hitsnya, Di Batas Waktu (DBW)

“Di kedalaman hatiku
Tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata” (DBW: lirik ke 1,2,3,4)

Analisis: Ehm! Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Wooii….Ada yang punya komik gak? Pengen ngebaca komik neh! (lho?? Ni batuk ato…)

“Sungguh walau ku kelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan” (DBW: lirik ke 5,6)

Analisis: iyya taa?? Kelu, apa ngelu? Eh, maksud lirik keenam apa neeh?? Siapa yang menanti dan siapa yang dinanti???


“Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang
Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi” (DBW: lirik ke7,8,9)

Analisis: yeeee….PeDe amat ni ikhwan yaaak?! Ngapain juga nunggu antum, kelamaan! Mending juga sama ikhwan yang lain (capedee..). Iiih…Sok ngerasa gitu deeeh . Lagian, emang antum bisa ngejamin bisa membawa kami ke syurga? Ane sih mau aja, tapi….udah beli tiket belooom??


“Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanlah ku di batas waktu” (DBW: lirik ke 10,11)

Analisis: Whuuiih…Seolah-olah kami sangat mengharapkan kedatangan antum sampai-sampai kami disuruh menanti di batas waktu (kayak ga
ada ikhwan yang lain aja…). Nggak usyah yhaah..!!

Ehm, menurut ane neeh, kedua nasyid di atas adalah gejala narsistme kaum Adam. Mungkin karena porsi “rasa malu” si ikhwan yang lebih sedikit ketimbang akhwat sehingga membuat ikhwan lebih narsist en lebih PeDe dibanding akhwat.

PeDe amat seh ni ikhwan?!! Beruntunglah kalian, akhwat gak boleh bernasyid di depan antum, kalo nggak, akhwat pasti akan protes dengan membuat nasyid tandingan untuk membalas lirik yang ane rasa dah membuat sebagian akhwat jadi ‘gerah’. Kesannya, gimanaaaa gitu!

E. PENUTUP

Kan udah ane bilang tadi kalo akhwat tuh bukan makhluk halus Bro! Karenanya, emosi wanita sangat peka teruatama menyangkut harga diri.
Tanpa sensitifitas, akhwat tidak akan peka dengan denyut rasa dalam kehidupan. Akhwat piawai mengelola kepekaan nurani karena ia rajin mengasah ketajaman mata hati, sehingga peka membaca tanda-tanda yang tersuruk. Tidak membahasakan kehendak secara verbal/bahasa lisan, kecuali isyarat tersirat yang butuh ketajaman hati tingkat tinggi guna memahaminya. Itulah sensitifitas yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi, sekaligus energi wanita ketika menebar cinta (ngutip tulisannya Bang Yoli Hemdi dalam buku “Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia”).

Tau nggak Wan, bahwa sesungguhnya, selalu ada perempuan kuat dibalik keberhasilan lelaki hebat *dengan gaya bicara yang seolah-olah mengungkap kebenaran yang sudah lama ditutup-tutupi. GAYA!

Oke, Be strong Gals!!!


E. DAFTAR PUSTAKA

Hemdy, Yoli. 2005. Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia: Sebuah Torehan Wajah Perempuan dari Peristiwa. Jakarta Timur: Zikrul Hakim.


Lampiran

Maaf Tuk Berpisah

Kau tahu tentang hatiku
Yang tak pernah bisa melupakanmu
Kau tahu tentang diriku

Yang selalu mengenangmu selamanya

Kini kusadari bahwa semua itu
Adalah salah juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai

Maafkanlah sgala khilaf yang tlah kita lewati
Telah membawamu ke dalam jalan yang melupakan Tuhan
Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi

Ku tahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki


Dan bila takdirnya kita bersama
Pastinya Allah kan menyatukan qta…
Hwoooooo…….
   

By: Tashiru

Di batas waktu

Di kedalaman hatiku

Tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata

Sungguh walau ku kelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang

Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi
Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanlah ku di batas waktu


By: Edcoustic

Mohon maaf jika ada salah-salah kata. keep hamasah!!!
 

Ikhwah Kecanduan

Bismillah…

Apa Jadinya Kalo Ikhwah Kecanduan?

Emang ada ya ikhwah kecanduan?? Eh, jangan
salah…banyak malah!! Tapi, jangan dibayangkan kalo kecanduannya ma obat-obatan terlarang… (ya Allah, na’udzubillah…Semoga semua ikhwah dijauhkan sejauh-jauhnya dari barang haram itu!!). Meskipun si penikmat (baca: penderita) gak sampe sakau, kecanduan di sini juga amat sangat berbahaya sekali banget bagi kelangsungan dakwah para ikhwah.

Berawal dari sekadar hobby, iseng, coba-coba, kebetulan, ngisi waktu luang, ato just hiburan, trus keasyikan, lalu jadi kebiasaan, dan…dan…dan…eh, malah kecanduan!!! Gaswat kaaan?!! Astgfirullah…Parahnya lagi, candu di sini gak
mandang usia pembinaan. Gak peduli ia sudah tertarbiyah 3 tahun, 4 tahun, 7 tahun, 10 tahun, bahkan lebih. Seorang ikhwah yang rajin dalam pembinaannya tidak serta merta menjadi “kebal” terhadap candu-candu tersebut. Faktor yang mungkin sangat berpengaruh dalam penyebaran candu adalah lingkungan.

Mulanya mungkin sekadar pengisi kejenuhan. Tapi akhirnya menjadi aktivitas dominan, bahkan menyita banyak perhatian. Dan kemudian, agenda-agenda dakwah perlahan mulai ditinggalkan. Perlahan militansi akan berkurang. Sampai akhirnya melemah, dan….. hilang. Na’uudzubillah….Tsumma Na’uudzubillah….

Apa aja sih candunya?

Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan, ditemukanlah jenis-jenis candu yang dapat merusak kesehatan -fikriyah, jasadiyah, dan ruhiyah- para aktivis dakwah, diantaranya:

1. Ngegames

Awalnya sih pengen cari hiburan, trus ketagihan. Apalagi kalo lagi nganggur alias gak ada kerjaan, ngegames aja aaah, refreshing gitu lhoh! Ck..ck..ck..Ini adalah jenis candu yang    berbahaya, coz bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Bisa di kompi, lepi, atau HP . Gak di rumah, kantor, kampus, sekolah, di halte, sampe di dalam angkot.

2. Nonton Bola 

Heran deh, betah banget 2 jam cuma melototin bola yang diuber-uber ma sekawanan orang. Istimewanya apa sih? (Waduh, ane bisa ditimpuk pake bola ma penggemarnya nieh). Mending juga maen bola di lapangan. Kan bisa menyehatkan dan menguatkan. Dari pada cuma nonton, yang olahraga biji mata doang. Candu ini akan semakin mewabah ketika musim Piala Dunia tiba. Hehehe jadi inget Bapak dan kakak, kalo pas ane lagi di rumah (liburan), beliau-beliaunya sering berpesan sebelum tidur malam, “Dek (Nak), ntar malem bangunin ya, jam 3”. “Mau tahajjud ya kak?” Tanya ane dengan polosnya. “Iya, sekalian nonton bola”  Gyaaaaa…. Piiiss deh kak!! Bukannya ngel
arang sih. va cuma takut besoknya waktu kerja di kantor kakak malah ngantuk. Eniwei, gak hanya ikhwan aja lho yang maniak bola, akhwat juga ada (termasuk vans ).

   3. Film 

Dari film-film lokal, Box Office, sampe Drama Korea. Gak peduli harus nyewa VCD ato ngacir ke bioskop. Kecanduan film gak hanya dalam bentuk nongkrong di depan layar kaca, tapi juga ke dalam otak dan mempengaruhi pandangan
kehidupan.

4. Maen PS

Biasanya ikhwan nieh (tapi, gak tertutup kemungkinan akhwatnya juga). Awalnya mungkin sekadar pengisi kejenuhan, trus penasaran kenapa gak menang-menang (kalah mulu), lama-lama jadi kecanduan. ‘Afwan, ane kurang
paham soal PS, coz emang gak tertarik ma jenis olahraga jempol tangan yang gak menyehatkan ini. Yang jelas, maen PS sangat berpotensi untuk bikin kita lupa waktu..!!

5. Komik

Waduh, ini juga jenis candu yang amat berbahaya. Diawali dari hobby trus dikoleksi, dan kalo dah keasyikan baca, bisa lupa diri. Parahnya lagi, jika tokoh-tokoh dalam komik diadopsi dan dicocok-cocokkan ma karakter pribadi. Ada yang suka karena ceritanya yang lucu, kocak, semangat, dan penuh misteri. Gak heran kalo ikhwah ada yang terobsesi dan mempersepsikan diri seperti Conan, Naruto, ato Kakashi.

 6. Musik

Ada yang punya grup nasyid latihannya hampir tiap hari (Apalagi kalo    musim walimahan seperti saat ini ). Intensitas dengerin nasyid lebih sering ketimbang Murottal. Nasyid yang didengerin juga masih diragukan statusnya sebagai nasyid   (Maksudnya?). Musik..musik..musik…Dari yang jahiliyah sampe yang (katanya) islami. Awalnya mungkin gak sengaja denger dari temen-temen. Ato kebetulan gak ada acara. Daripada bengong, lebih baik mengaktifkan indra audiovisual. Maka layar kaca menjadi alternatif. Kebetulan acaranya musik-musik yang lagi in. hampir semua stasiun kereta api (eh, televisi) menyajikan menu musik jahili. Ada INBOX, Dahsyat, Klik, MTV Ampuh, dll, dsb, dst. Walhasil, aktivis dakwah jadi hafal lagu-lagu “aneh” gitu ketimbang hafal Al Quran dan hadist. Dan saking terbiasanya, lirik-lirik itu sampe kebawa ke ruang bawah sadar dan tercetus seketika. Kayak kemaren, pas ada seorang akhwat yang sebel ma temen akhwatnya, tiba-tiba temen akhwatnya langsung berkumandang, “Eh eh koq gitu sih..lo koq marah…jangan gitu sayang, jangan gitu sayang.” Seraya merayu dan menggodanya (Prens Filah tau kan itu lagunya siapa). Ckk..ck..ck…sampe segitunya. Penyebarannya memang dahsyat.

 

  7. Ngenet 

Whuaaa…ini nih candu yang gak kalah hebatnya dibanding candu-candu yang lain. Mulanya mungkin kebutuhan, cari informasi, ajang silaturahmi, pengen diskusi, trus…trus…trus… Yup! Asyik memang melanglang buana di dunia maya. Kalo kata Gita Gutawa, “Tak perlulah aku      keliling dunia”. Mau berita apapun, semua dah tersaji di depan mata, di kotak segi empat di hadapan Anda. Tinggal KLIK! Apalagi dengan fasilitas-fasilitas internet yang memanjakan. Mau berekspresi dengan tulisan, ada Blog. Mau nampang (menarsistkan diri), ada Face Book. Mau ngobrol-ngobrol en diskusi bisa Chatting. Mau kenalan, ada Friendster. Mau promosi dan bisnis juga bisa. Kurang apa lagi coba? Adanya kurang bisa mengontrol diri untuk gak berlama-lama di depan kompi/lepi.

8. Dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya….(pikir sendiri ya..)

Menarik” bukan melihatnya sebagai sebuah fenomena? Namun, seringkali pada diri yang “lemah” justru akan menjadi semacam pembenaran. Perlu diketahui, bahasan kita di sini bukan soal boleh atau tidak, tapi seberapa besar porsinya hingga mengalihkan kita dari aktivitas-aktivitas produktif dan agenda-agenda prioritas.

Demikianlah semua aktivitas-aktivitas yang sederhana, namun tanpa disadari menjadi candu dalam pergerakan dakwah. Fenomena-fenomena tersebut sebagian besar menyita waktu-waktu produktif kita, menggerogoti ruhiyah, dan melemahkan militansi dakwah.

Jika hari ini kita dapatkan kualitas dakwah kita menurun, maka cobalah untuk memeriksakan (baca: mengevaluasi) kesehatan dakwah kita. Mulai dari memutaba’ahi aktivitas sehari-hari kita, amalan-amalan kita, dan terutama niat-niat kita.


Wallahu Ta’aala a’laamu bishshawaab..

NB: Ohya, ada nih kecanduan yang harus senantiasa dilestarikan, antara lain: Dzikir, Tilawah, Hafalan Al-Quran, Infaq & Shodaqoh, Tholabul ‘ilmy (datang ke majelis-majelis ilmu, dauroh, training, kajian, dll).

 Owkeh!! Tetep Semangaaattzz!!!!“Tidak penting kamu suka atau tidak, yang penting Allah ridho atau tidak”  

Dasar Akhwat [Part Five]

             

Assalaamu’alaykum…

Suwi yo Pren kagak bahas ni topik ^_^. Pasti dah pada menanti-nanti kelanjutannya kaan? Hayoo ngaku…. (yee..PeDe amat!). But Pren, gak seperti biasanya, kali ini qta hanya ngebahas satu model akhwat, coz butuh penelitian yang serius dan pembahasan yang lumayan panjang serta waktu yang cukup lama untuk mengungkap kebenaran bahwa ternyata….jeng..jeng…jeng…*terdengar gonggongan serigala dari kejauhan…(hah? Sejak kapan serigala menggonggong?). Melolong kalee, dari kata dasar ‘lolong’. (yeah..sama sekali gak penting!). Bahwa ternyata…ternyata nieh…(iye, ternyata ape? Buruaaannn!!) ehm! ternyata, AKHWAT JUGA BISA RAME LHOOH!! *kali ini ane mendengar erangan prenz fillah dari kejauhan: aaarrggghhh!!!

13. Akhwat JUBIR

Untuk tipe ini, qta sebut saja do’i, AKHWATJUBIR (bukan Prenz, bukan juru bicara. Tapi, JUga BIsa Rame!). Kenapa ane bilang butuh penelitian yang serius? Karena ane harus meneliti: Apakah keramean akhwat itu hanya berdasarkan karakter/bawaan yang emang dah dari sononya rame ato semua tipe akhwat pun (mulai dari lemper, narasi, sosis, tumor, EM3, dll yang udah qta bahas sebelumnya) berpotensi untuk bisa bikin rame binti heboh?! Dan ternyata, penelitian itu menghasilkan sebuah simpulan bahwa peluang untuk menjadi Akhwat Jubir memang terbuka bagi siapa saja. Ya! Siapa saja. *gayanya seperti sedang mengungkap kebenaran yang sudah lama ditutup-tutupi (halah!). Berarti, termasuk yang nulis dooonkz (ya iyya dooonk, masa ya iyya lah..).

Ohya, edisi kali ini, akhwat yang menjadi target gosip qta tidak lain dan tidak bukan adalah si penulis sendiri, siapa lagi kalo bukan, ya…tau sendirilah. (heuheuh..)

Ada yang bilang kalo pemilik FS dan MP akhwatzone ini adalah tipe akhwat kaku, jaim, keras, pokoknya model akhwat serius begete gitu deeeh. Sampe-sampe nieh, beberapa akhwat di komunitas akhwatzone kalo ngirim tausiyah ke testi en HP ane pasti yang serius2 juga. Mulai dari sms2 haroki sampe yang militan2 (Whuaaa…ane mah seneng jiddan!). Semoga bener2 jadi akhwat tangguh, haroki, dan militan!…aaaamiin. Ada juga yang nelpon ke ane, kesan pertama yang muncul adalah: ehm! Koq masih imut yhah? (heheh…). Menit berikutnya: Koq beda ma dug
aan ana ya? Menit berikuynya lagi: asyik juga nieh diajak ngobrol (ehem! Ada yang mau protes?!). trus, lama kelamaan: Oalah! Jadi begini thow aslinya si akhwtazone? Ternyata…rame juga yah! Huahaha… (ops! Sensor. Akhwat gak boleh ketawa keras2). Buat Kak nani di Sibolga-Medan, Kak Nia di Pekan Baru, Dek Elin di Jakarta, Dek Nur di Bekasi, Ukht Nurin di Jember, Kak Fatin di Jepang, dan semua akhwat di akhwatzone yang meluangkan waktu dan pulsanya untuk berbagi kisah suka dan duka bersama ida, Jazaakumullaahu khairan katsiira yaaah…meski gak pernah bersua, qta seperti dah kenal lamaaaa banget! Yaaah beginilah ida! Terimalah aku seperti apa adanya, aku hanya insan biasa, tak mungkin sempurna (minjem liriknya edcoustic). Sekali lagi, hal ini semakin membuktikan bahwa: AKHWAT JUGA MANUSIA.

Kembali ke AKHWAT JUBIR. Akhwat emang bisa dan boleh rame, tapi cukup antar sesama akhwat aja dan di forum yang emang gak resmi, trus ramenya juga jangan kebablasan ya Non! Kalo di depan mad’u ato mutarobbi-nya aja si akhwat sok jaim (biar terlihat lebih dewasa, bijaksana, en berwibawa gitu!). Ato pas lagi di dep
an MR-nya, si akhwat bisa memasang tampang kalem, adem, ayem, polos binti lugu. Apalagi di depan para ikhwan, dia bisa lebih tegas, kaku, serius, en stay cool Man! Bahkan, saking jaim-nya, sebagian akhwat ada yang anti banget memanggil ikhwan dengan sebutan ‘akh’ (nadanya, gimanaaa gitu! Akh…). Doi lebih enjoy memanggil makhluk berjenggot (bukan jenis hewan lho ya!)itu dengan sebutan Pak! (banyak juga sie yang protes: ane kan belum punya anak ukh, belum merit pula, baru juga masuk kuliah, koq dipanggil Pak seeh?!). Iya, iya…’afwan jiddan Wan, bagi penganut “madzhab” ini, panggilan ‘Pak’ juga termasuk bentuk“penjagaan”. Bahkan nih, ada “madzhab” lain yang “berijtihad” dengan mengganti semua sebutan Akh, Pak, dan nama-nama si ikhwan dengan nama ‘Afwan (awas dimarahin ortunya lho ukh! masak nama anak orang diganti2 seenaknya!). Mau contoh? Saat acara kepanitiaan, si akhwat dengan tegas berkata pada si ikhwan: ‘Afwan, bisa minta tolong jemput pembicara di jalan X, ban motor beliau pecah. Atau: ‘Afwan, sound system-nya udah di chek belum? ‘Afwan, sebaiknya acara segera dimulai, kasihan peserta sudah terlalu lama menunggu. Ada juga yang lewat SMS: ‘Afwan, ane gak bisa hadir syuro. ‘Afwan, Acaranya jadi ahad depan kan? Dll, dsb, dst….Jangan2 abiz gitu ada orang ammah yang ngira kalo nama ikhwan itu si ‘Afwan, kan gak lucu kalo tiba2 dia ikutan manggil si ikhwan dengan: Hey, ‘Afwan! Dari mane aje lu? (Huwahahaha…Ops! ‘Afwan, kebablasan). Kayaknya perlu materi MBA di kalangan Aktivis Dakwah deh. (bukan, bukan MBA yang ‘itu’. Tapi, Manajemen By ‘Afwan. Heheh).

Kembali ke topik. So, sah-sah aja koq kalo akhwat rame, tapi liat2 sikon ya Mbak! Jangan rame pas lagi Guru or Dosen
menjelaskan (ya iyya laah, bisa dikeluarin tuh). Jangan rame saat orang2 lagi pada bobo (bisa2 ada bantal meluncur kea rah Anti. Hehehe…). Jangan rame saat ada kajian. Jangan rame saat liqo. Jangan rame di kamar mandi. Dan yang terpenting, jangan rame pas lagi sepi alias ga ada orang sama sekali (secara, Anti bisa dikira penghuni RSJ yang lagi lepas ukh. Hihihi…).

Rame terkadang diperlukan untuk memecah kesunyian. Rame juga dibutuhkan untuk mencairkan suasana yang membeku bak es batu. Rame di sini maksudnya obrolan disertai guyonan atau canda yang nggak melanggar syar’i dan gak kelewat batas. Ya, sekadarnya aja lah..biar suasana tegang menjadi riang, biar stress menjadi hilang.

Nah, dari paparan Akhwat Jubir di atas, makin terbukalah wawasan kita mengenai sosok bernama ak
hawat. Berhubung sudah ada bukti dari penelitian terdahulu (dalam Proposal Penelitian Seorang Akhwat), yang menyatakan bahwa akhwat bukanlah makhluk halus melainkan makhluk kasar (baca: manusia) yang tak luput dari salah dan dosa serta memiliki banyak sekali kekurangn dan kelebihan, maka dapat ditarik benang birunya bahwa ternyata: Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh! (iye, iye, ane tau..kagak nyambung kan?). Maka, dengan sepenuh hati ane nyatakan bahwa: Tak Ada Akhwat Yang Tak Retak.


Hmmf…Dasar Akhwat!

 

Penyakit Akhwat

Berbicara tentang akhwat, tentu berbicara tentang wanita. Mengapa demikian? ya, Karena akhwat adalah wanita..dan wanita adalah juga manusia (halah). Yang jelas terlepas dari seberapa tangguh seorang akhwat dalam menjalani aktivitas kesehariannya, tentu mereka punya suatu kelemahan. Kelemahan yang semakin menegaskan (lagi-lagi) bahwa akhwat juga manusia. Postingan ini, akan membahas (secara jenaka) apa dan bagaimana "virus" yang kerap hinggap di dalam sosok seorang akhwat, dan tentunya disertai juga tips dan metode pengobatannya...Semoga dapat bermanfaat, memberikan ibrah, serta senyum kebahagiaan. Just for fun.



Bukankah hidup harus seimbang dan menggembirakan dalam batas-batas yang dibolehkan? enjoy it


------------------------------------


Nangisuitis

Akibat terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut,mata kedip-kedip. Efek sampingnya mata bengkak, saputangan banjir, hidung meler, bawaannya ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. Penyakit ini bisa diobati dengan obat Tegaridol, OBH (Obat Berhati Hamba).

Curhatitis B

Bawaanya pengen nyerocos, Efek samping rahasia orang bisa bocor, terkena Nangisuitis, Penyakit ini bisa diarahkan positif jika ia bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan.

Shooping Syndrome

Gejalanya pengen jalan mulu, mata melotot,
Efek sampingnya lidah ngiler, mulut nganga, dompet jadi tipis. Jika sudah masuk stadium 4(parah banget) dompet cowoknya ikut tipis. Coba minum hematcold atau tablet PD (Pengendalian Diri).Salah satunya bisa lewat MH (manajemen hati).

Cerewetisme

Lebih parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma.
Efek samping muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi lebih halus karena sering mengelus. Lebih cepat makan pil dengar dan minum tablet bicara lebih diperlambat.

Lamanian Dandanitos

Pengennya diem depan cermin. Tangan kiri gatel-gatel pengen pegang sisir, tangan kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak.
Efek samping: menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagean makanan. Minum segera Sari Bawak (Bagi Waktu) dan
Taperi (tambah percaya diri). Buat cowok minum Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum mandi.

Cemburunotomy

Gejala muka lonjong, tangan mengepal, ali menukik. Coba cegah dengan obat sirup prasangka baik tiga sendok sehari, Pil pengertian dan tablet selidiki dahulu.



Ngambekilation

Gejala hampir sama dengan Cemburubotomy. Minum Sabaron dan Bersyukurinis.

Demikian, semoga lekas sembuh dan dapat segera terobati.
 

Sentuhan syetan di wajah orang yang tekun beribadah

Kuis: “Apakah di lingkungan sosial Anda, biasanya Anda merasa bahwa Anda tergolong orang yang paling saleh?” Silakan jawab di dalam hati masing-masing dengan sejujur-jujurnya. Lalu marilah kita simak sebuah kisah dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih berikut ini. (Harapanku, kita bisa menjadi lebih rendah hati dalam menekuni ibadah, terutama di bulan Ramadhan ini.)

Di hadapan Nabi dan para sahabat, Abu Bakar Shiddiq memuji-muji seseorang yang sangat bagus ibadahnya. Namun, Nabi tidak segera berkomentar. Setelah itu, orang yang dipuji-puji tersebut datang. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itulah orang yang kita bicarakan.”

Beliau bersabda, “Aku melihat sentuhan syetan di wajahnya.”

Kemudian dia duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, “Apakah kamu bila berada dalam suatu majelis, kamu merasa bahwa kamulah yang paling saleh di majelis itu?”

Orang itu menjawab, “Ya Allah, memang begitulah saya.” Setelah itu, dia pergi ke masjid.


Kemudian Nabi memberikan perintah yang sangat mengejutkan, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Abu Bakar Shiddiq berangkat. Singkat cerita, dia kembali seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidak mungkin aku membunuh dia. Dia dalam keadaan ruku’. Dan ruku’-nya itu sangat bagus.”

Nabi masih berkata, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Umar bin Khaththab berangkat. Ia pun kembali seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidak mungkin aku membunuh dia. Ia sedang meratakan dahinya dalam shalat dan bersujud dengan sangat khusyuk.”

Nabi masih berkata, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”

Berangkatlah Ali bin Abi Thalib. “Aku akan membunuh dia,” katanya. Tidak lama, Ali juga kembali, tetapi pedangnya pun belum bersimbah darah. Ali berkata, “Aku datang ke masjid, tetapi orang itu sudah tidak ada, wahai Rasulullah. Orang itu sudah pergi.”

Nabi kemudian bersabda, “Seandainya dia kau bunuh, umatku tidak akan pecah sesudah ini.”

Akhwat dalam Siyasih, tanya kenapa?

Agak panas mendengar cerita seorang akhwat dalam sebuah forum daerah beberapa waktu lalu. Pasalnya, ada akhwat daerah yang kemudian hendak sharing akan dakwah kampus/daerahnya di depan forum. Namun, di cut oleh ikhwan dengan alasan yang tidak substansi. Intinya, akhwat tersebut diharapkan tidak berada di depan forum…dengan tinjauan bla..bla..bla.. menjelaskannya saja ana sulit bahkan marah. Mengapa hari ini kita masih berkutat pada masalah seperti itu?

Adalagi sebuah forum, di mana akhwat yang diusulkan menjadi presidium siding, tapi mendapat sanggahan dari ‘partner dakwahnya’. Phuuffp…ana makin tidak habis pikir. Era muassasi yang akan kita masuki masih berkutat pada hal tersebut. Pemahaman kita akan posisi akhwat ternyata belum bertemu.

Adalagi sms yang dikirimkan ’partner dakwah’ para akhwat yang isinya mempertanyakan forum akhwat yang sudah berdiri…haruskah ada??? Dalam sesi lain, sebuah ’syura’ menetapkan bahwa akhwat tidak boleh masuk dalam calon legislatif BEM. Pernah ada isu pula, bahwa akhwat tidak boleh ikut kongres. Yang terbaru, akhwat parleme
n di PAW, dan ada statemen siyasih tanpa akhwat (yang ini bisa ditolerir karena kondisi kampus). Ada lagi rapat malam ikhwan dll.

Ada lagi statement keji: syahwat siyasih akhwat cukup tinggi !!! karena melihat begitu ramainya akhwat dalam kancah politik kampus. Membangun partai, berdiskusi dengan lawan politik, berorasi dalam aksi, masuk dalam bursa
kandidat ketua BEM fakultas…..

Agghhh!!

Mengapa ada tanya?

Ketika diminta kader siyasih fakultas (ikhwan) untuk mengurusi tetek bengek siyasih kampus…tak kunjung ditemukan. Giliran akhwat mau bergerak, selalu ada tanya. Masih mending tanya yang muncul, ada kalanya kecaman keji!!! S a k i t !!!!


Wahai saudaraku…mengapa tak ada ketsiqohan dalam dirimu?


Mana jiwa Qawwam yang engkau miliki….


Secara sadar, akhwat adalah kaum pengikut. Tapi bukan berarti mengikut tanpa pertimbangan apapun. Maksudnya, akhwat adalah sosok yang harusnya diarahkan, dipimpin…jika fungsi itu tak ada, maka ia pun siap untuk memimpin sendiri. Ingat istilah single parents bagi seorang ibu yang merawat anaknya sendiri tanpa ayah? Ya, akhwat memiliki kemampuan itu. Artinya, Ar Rijal Qowwamun ala Nisa. Jika ada yang memimpin, ia pun akan patuh. Namun, jika tidak, maka ia pun siap memimpin dirinya sendiri. Lantas, mengapakah lagi ada pagar-pagar yang membuat akhwat sulit berekspresi? Membuat forum akhwat, misalnya!


Ada cerita dalam sebuah forum sidang, saat para akhwat diusulkan menjadi pemimpin sidangnya, tak satupun terdengar ’partner dakwahnya’ bersedia menggantikan posisinya. Mereka sedikit egois. Kurang mampu menjaga akhwat. Padahal akhwat sudah memberi kesempatan, bahwa dirinya akan memimpin, jika yang layak memimpin tak ada, tidak sanggup. Karena, akhwat khawatir, jangan sampai saat sidang berlangsung pun, akan banyak interupsi yang mempertanyakan keberadaan akhwat di depan forum seperti yang sudah-sudah. Hal ini dapat mengguncang forum dan menghambat. Akhwat tidak siap jika itu terjadi, karena sama saja ’mempermalukan’ dirinya di depan forum. Padahal dalam situasi tersebut… begitu banyak calon pemimpin, begitu banyak sang orator, begitu banyak sang demonstran, begitu banyak sang pendobrak yang hadir, dan mampu untuk itu. Jadi ragu, jangan-jangan itu hanya retorika belaka. Jika dalam situasi perang seperti ini, kasihan akhwat…akan ditolong pada saat belati benar-benar di lehernya, saking akhwat dirasa mampu menjaga diri L. Lantas, apa bedanya dengan ikhwan dalam dunia heterogen? Di sana pun mereka berinteraksi dengan lawan politik yang juga lawan jenisnya. Berdiskusi, bercengkrama, merekapun memimpin sidang, namun ikhwan tidak mampu protes. Jika tidak tahan pun, malah menghindar. Tak mampu bicara dan bisanya ’membantai’ saudarinya dalam forum homogen. Adilkah? L Ini baru masalah amanah, persepsi…bagaimana dengan hal yang lebih berat, poligami misalnya!!!^_^

Sekarang, cukup banyak akhwat yang mampu memimpin rapat, menjadi decision maker, menjadi problem solver dan itu tidak diragukan lagi. Hanya saja pengakuan internal yang belum sanggup melihat kenyataan itu. Jika memang akhwat mendapat penjagaan, mengapa tak ada tawaran solusi bagi akhwat siyasih? Paling tidak ada pengganti para akhwat tersebut dalam amanah dakwah yang diembannya. Padahal, kerja siyasih cukup meremukkan persendian, menguras otak dan membuat wajah makin tirus.

Ada lagi yang menyatakan, jika akhwat ada depan forum, apa kata mitra??? Bah!!! Mestinya semua mampu menjawabnya. Justru Ikhwan harusnya malu karena tidak mampu merecovery kerja akhwat. Masih ingat saat akan aksi, maka akhwat bekerja sampai malam membuat jargon, umbul-umbul, ataupun bendera. Bahkan bambu pegangan jargon pun harus dipotong sendiri- kuat mAnn!!!. Dalam beberapa kegiatan pun, akhwat seperti dibiarkan membuat spanduk sendiri. Sekarang memang zamannya akhwat tidak hanya mampu bekerja internal, domes
tik. Ekstra domestik pun harus dikuasai…membuat pagar, memperbaiki genteng, balap motor, memperbaiki PC, dll…….??>>@@$$$###!!!! Nah lho….

Mestinya, mereka melihat, bagaimana kuota tiga puluh persen bagi perempuan di legislatif pun, tak sanggup untuk dipenuhi. Jika pembelajaran awal sudah mengalami hambatan internal, maka bagaimana seorang akhwat mampu bekerja di ranah politik, apatah lagi mendongkrak kuota mencapai empat puluh hingga lima puluh persen?

Allah tidak pernah membedakan tugas laki-laki dan perempuan. Mereka sama-sam diberi tanggung jawab untuk saling menolong dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak buktu keterlibatan muslimah dalam kegiatan dakwah Rasulullah. Aisyahpun menjadi rujukan bagi sahabat dalam belajar Islam. Fatimah dan Ummu sulaim pun dalam perang Uhud membantu prajurit yang luka, ia membawakan kendi air, sedang fatimah membantu pengobatan Rasul yang terluka. Sumayyah, syahidah pertama, Para wanita bani ghifar dalam perang Khaibar juga turut membantu rasul dalam kegiatan jihad. Ummu Imarahpun turut berperang pada perang Uhud. Shafiyah binti Abdul Muthalib r.a juga turut dalam perang Uhud dan Khandak. Asma binti Yazid yang membunuh sembilan musuh pada perang Yarmuk. Perjuangan Ibunda Zainab al-ghazali, subhnallah …..

Kini, begitu banyak isu perempuan yang tidak tertangani oleh akhwat. Kepemimpinan akhwat harus di mulai dan berjalan baik. Mampu menghadapi masyarakat yang apatis. Mereka telah diambil hatinya oleh kaum penuh motif, akhwat harus kreatif.

Forum akhwat harus dipertahankan, untuk pencerdasan akhwat. Mengingat banyak akhwat yang mudah ditekan, dipengaruhi, pemalu, dan tidak kreatif jika bersama ’partner dakwahnya’. Forum pencerdasan itu, mungkin belum terasa hasilnya, tapi, minimal jadi bekal mengarungi kehidupan yang lain. Wallahu A’lam…


Ruang ide-Q di rumah Q-tha

Jangan pernah melihat ikhwan akhwatnya, tapi lihatlah apa yang diperjuangkanya. Ikhwan dan akhwat, keduanya harus mampu menjawab tantangan zaman. Saling mendukung, bahu membahu mendirikan bangunan dakwah. Bukan bercerai berai, menyimpan dendam. Zionis makin tak terkendali. Kita tak boleh terlena. Masalah internal harus disudahi.Ilmu harus diperdalam. Mungkin selama ini kita kurang Ilmu, tapi tak menyadarinya.Sehingga gerakan tid
ak berkah. Tetap berjuang Akhi..Ukhti..Allah bersama kita Allahu Akbar !!!
 

10 Hari Membangun Jati Diri

Sudahkah kau bangun jati dirimu dengan kokoh?
Jika belum, bangun dalam 10 hari dan berubahlah bak kupu-kupu yang menemukan dirinya dengan sebuah perjuangan.

Hari Pertama
Keberhasilan dan Kerja keras adalah satu paket kehidupan yang tidak bisa kita beli secara terpisah. Jika ingin berhasil, kerja keras adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.
Hari kedua
Kegagalan adalah pintu keberhasilan. Maka, beruntunglah orang yang berusaha kemudian gagal hari ini karena esok kesuksesan ada di tangannya.
Hari Ketiga
Orang yang sukses adalah orang yan
g ketika gagal ia akan tetap berdiri dan mencoba lagi.
Hari Keempat
Orang akan selalu menertawakan kita ketika kita gagal dan anehnya mereka selalu siap untuk bergabung ketika kita berhasil, so jangan heran.
Hari Kelima
Mencoba berhenti berarti Anda lemah dan berhenti mencoba berarti Anda sudah kalah.
Hari Keenam
Ibarat Jalan, Perencanaan adalah jembatannya. Seberapa kokoh jembatan tergantung kemantapan rencana. Tak berbeda dengan hidup kita.

Hari Ketujuh
9 dari 10 orang sukses berasal dari kalangan yang mencoba lalu gagal. Anda ingin mencoba lalu gagal atau tidak mencoba sama sekali dan menjadi 1 dari 10 orang itu?
Hari Kedelapan
Bermimpilah! karena suatu saat nanti Anda akan berteriak dengan lantang, “Alhamdulillah Ya Allah, mimpiku telah jadi kenyataan…!!”
Hari Kesembilan
Pernahkah Anda berhay
al memiliki uang bermilyar-milyar? Jika tidak bagaimana Anda bisa mendapatkan uang sebanyak itu di alam nyata sedangkan berhayal saja tidak bisa. Padahal berhayal itu apalah susahnya.
Hari Kesepuluh
Sejatinya kegagalan itu adalah bentuk lain dari keberhasilan. Jika Anda gagal menemukan di mana rumah mantan pacar Anda, sejatinya Anda telah berhasil menemukan jalan mana yang salah dan menyesatkan sehingga kelak bisa dihindari

 

Salahkah menolak cinta pria tampan?

Ustadz,, saya juga punya masalah yang agak berat niii,, jadi gini ceritanya,, saya tuh anak perempuan yang nggak pernah terlepas dari saran-saran dan perhatian orang tua saya, alhamdulillah… tapi itu semua jadi membuat perilaku dan sikap keseharian saya seperti anak kecil, walaupun umur saya hampir 23 tahun, tapi teman-teman saya selalu bilang saya seperti anak-anak karena cara saya bicara, kelakuan saya, kebiasaan saya masih seperti anak kecil, unutuk mengambil keputusan sendiri saya masih kurang percaya diri, takut terjadi kesalahan yang bisa menyebabkan penyesalan di kemudian hari, yaa kurang lebih begitulah gambaran kepribadian saya,,

Dengan kondisi kejiwaan saya yang masih kekanak-kanakan seperti itu, suatu hari saya harus memutuskan perkara yang menurut saya tidaklah mudah,,

Seorang mahasiswa UI yang menurut saya amat rupawan menyatakan perasaannya pada saya.. , ingin sekali saya menjawab “iya” tappi, untuk melakukannya sangat berat bagi saya, saya punya beberapa pertimbangan untuk itu,

pertama, saya tahu dalam islam tidak ada kata pacaran,


kedua, saya tahu saya menyukainya namun, saya merasa perasaan ini hadir hanya karena paras tampannya bukan karena budi pekerti dan kesholehannya..

singkat cerita, kami tidak “jadian”………

namun, setelah semuanya selesai sering terbesit perasaan menyesal kenapa saya menyia-nyiakan orang seperti dia..

pertanyaan saya adalah:

bagaimana cara yang paling efektif agar perasaan menyesal yang sering menghantui saya saya tidak lagi ada??

Jawaban Ustad :

Supaya tidak menyesali keputusan (atau pun segala yang telah terjadi), banyak-banyaklah bersyukur. Caranya, antara lain:
Hitung-hitunglah berapa banyak nikmat yang telah Allah limpahkan kepada dirimu.
Bukalah mata dan telinga untuk melihat betapa banyak orang yang lebih berkekurangan daripada dirimu.
Sering-seringlah mengucap lafal syukur, seperti: alhamdu lillaah…
Resapilah makna lafal syukur itu dalam hati dan pikiran, bukan sekadar di bibir saja.


Untuk kiat-kiat lain supaya tidak menyesal, lihat “Periksa Peluang Pendapatan dari Sesal Dahulu!” dan “Pastikan Mana Racun, Mana Madu!“

Alasanmu yang pertama (”dalam islam tidak ada kata pacaran”) tidak bisa kuterima. Sebab, Islam tidak melarang pacaran. Yang terlarang adalah yang mendekati zina (dan perbuatan munkar lainnya).
Selama tidak mendekati zina atau pun berbuat munkar, boleh-boleh saja pacaran.

Alasanmu yang kedua (”merasa perasaan ini hadir hanya karena paras tampannya”) bisa kuterima. Itu merupakan pertanda kedewasaanmu. Keputusanmu sudah tepat, setidak-tidaknya untuk saat ini. Bagaimanapun, makna asli pacaran adalah persiapan nikah. Jika belum berniat hendak mempersiapkan pernikahan, tentu saja pacaran itu belum perlu.

Wallaahu a’lam.

 

Posted in My Self. 2 Comment »

MEYAKINI ALLAH SEDANG MELIHAT KITA

Dalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu “meyakini Allah sedang melihat kita” karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai. Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat) dan Al-Syahid (Maha menyaksikan).

Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah : menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.

Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, a
kan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Mereka yang berbohong/berdusta/mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu lebih menjurus kepada
sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.

Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)


Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada. Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).

Mengutip buku Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid : Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ? Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).

Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ? Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi. Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi. Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut. “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut. Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.

Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku).


Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hadid 4)

 

ketika ikhwah jatuh cinta - akhwat berbicara

Artikel yang menurut saya lumayan bagus. Meski temanya klasik tapi menarik untuk dibaca karena dari sudut pandang akhwat dan bisa jadi renungan kita. Yah.. selama ini kan akhwat cenderung diam kalo udah masuk ke wilayah cinta. Di saat makin banyaknya aktivis-aktivis dakwah yang sudah kebablasan dalam hal cinta. Menjajakan cinta atas nama dakwah. (afwan Sebenarnya rada sarkas juga sih pemilihan katanya, tapi mesti gimana lagi penggambarannya? susah klo mo pake istilah laen, lagian kita sering nggak ngeh kalo penyebutannya terlalu biasa).

Soalnya kebanyakan (saya nggak bilang semua lho…,) aktivis dakwah sering TP TP sama lawan jenisnya. Itu bisa dilihat ketika dia sering TP TP lewat fasihnya kata-kata, luasnya ilmu, lewat indahnya untaian nasihat, lewat merdunya suara, dkk. Yang jelas motivasinya secara tidak disadari melenceng jadinya, sayang banget khan? Mungkin dan sangat bisa jadi kita pengumbar nafsu. Wah gimana donk?! Maunya show amal dengan fatwa-fatwa agama ke orang lain, eh gak taunya nyari muka, aduuuh sayang banget yak?! Maunya sih kasih comment di FB dengan taushiyah,nggak taunya??? Biar dianggep paling
mantep ruhiyahnya.

Hohoho… ini kenyataan lho.. saya sering iseng2 chek comment2 FB “aktivis dakwah”.. yaahh.. lihat aja dari fotonya.. biasanya siy yang ikhwan kalo nggak tampang sholehnya yang dipajang yaa.. gambar mujahid Palestine, atau orang pake sorban (kafiyeh) dengan muka seba
gian ditutup. Liat dari gambarnya siy waah.. subhanallah… Militan negh kayaknya! profilenya juga.. mulai dari puisi tentang dakwah, aktiivitasnya dakwahnya yang segambreng, sampe kata-kata mutiara yang bisa bangkitin ghiroh! Tapi pas liat commentnya… hihi… rata2 yang ngisi akhwat.. dengan kata-kata romantis pula..Beberapa contohnya,

“syukron akhi atas tausyiahnya. . jangan bosen-bosen ingetin ana yah…”



(
hihi.. nggak ada akhwat yang ingetin anti ya ukh…?)

“Salam.. Lama nggak silaturahim, .. gimana kabarnya? Sekarang kegiatannya apa?”

(penting gitu? Siapa eloe?!)


“Add ana aja akh.. biar nambah ukhuwah… ini alamatnya……, atau kalo mau chating ini alamat YM ana…” (hadooohh… MR-nya nggak marah tuh ukh?!)

Hehe.. masih banyak lagi dah yang laennya.. di FB akhwat juga nggak jauh beda.. biasanya dengan foto kartun bergambar akhwat, kemudian ngeliat profilenya yang lebih mirip biodata untuk taaruf, sampe puisi-puisi cinta.. (haddooohh…) comment2nya pun nggak kalah vulgar dengan yang di atas… cuma bedanya yang ngirimin ya ikhwan… hohoho…. pernah saya iseng sekali2 comment ke akhwat tsb.. “hihihi… gile bener…!!! ikhwan semua tuh yang comment ukh! Mesra-mesra pula lagi! Kenapa nggak sekalian aja ajak taaruf… terus temen2 akhwatnya mana tuh ukh… lagi marahan yah? Sebenernya siapa yang salah ya? Hohoho…”

Ya Allah… begitu halusnya… hingga kita tak menyadarinya. Jangan-jangan saya dan kita mungkin sudah terjebak dalam
permainan setan ini?! lambat laun karena tidak sadar, akhirnya kita telah jadi korban.

Tanpa bermaksud menuduh siapapun, tulisan ini tentunya tidak harus membuat kita berhenti terpaku tuk meneruskan berbuat kebaikan, saling menasehati, bertausyiah, berfastabiqul khoirot. Karena berhenti dan sesuatu ha
rus bersandar pada Allah SWT. Namun sangatlah bijak, jika kita mau berhenti sejenak menengok ke dalam relung hati kita yang paling dalam, sudah luruskah niat kita? adakah benih karat yang mencoba menggerogoti? Kenapa tausyiah kita hanya kepada lawan jenis? Padahal masih banyak saudara2 kita sesama jenis yang butuh nasihat kita. Niat & keikhlasan seutuhnya adalah urusan makhluk dengan sang Kholik langsung, manusia lain manapun tidak mampu menilainya. Jika belum lurus, mari kita sama-sama luruskan. Jika merasa berat meluruskannya, mari sama-sama berdo’a semoga Allah memberikan kekuatan lebih dan senantiasa menjauhkan kita dari keterpedayaan. Selamat membaca artikel singkat di bawah ini.

-Dodi-

Ketika Ikhwah Harus Jatuh Cinta

Akhwat Berbicara…

Frens fillah…izinkan ane bercerita. Dalam kisah ini ane memakai sudut pandang orang pertama tunggal (aku, saya, ane, gue, whatever!), alurnya bolak-balik (alias semau
ane). Ending terserah ente. Dan settingnya di sebuah medan bernama medan dakwah. Di sana penuh dengan cobaan, ujian, onak, duri, aral melintang sampai romantisme perjuangan.

Mengapa romantisme? Karena ane rasa di stasiun-stasiun perjalanan, di setiap sendi kehidupan, di setiap makhluk yang bernyawa (terutama manusia), yang di dalamnya ada segumpal daging yang disebut hati, di hati itu ada rasa.
Rasa itu berwujud cinta. Cinta itu fitrah! Cinta itu anugerah! Yang jika benar menempatkannya, akan berakhir bahagia. Dan jika salah penempatannya, maka akan berujung malapetaka.

Yah.. cinta. Tak pernah bosan untuk dibahas. Sesuatu yang diulang, dan akan terus berulang. Dari zaman nenek moyang (bapak Adam dan Ibunda Hawa) sampai akhir zaman. Manusia yang tengah merasakannya bisa lupa waktu, lupa diri, lupa makan, bahkan lupa ingatan! (ck..ck..the power of love). Afwan, ane bukan seorang pujangga apalagi pakar cinta.
Tapi (katanya) kekuatan cintalah yang menjadikan seseorang mendadak puitis, mendadak kreatif, mendadak inovatif, mendadak solutif, dan mendadak dangdut (lho?! He..he..af1 jiddan). Ane akan coba fokus. Ane gak akan membahas tentang cinta. Apa itu cinta, untuk siapa cinta itu diberikan, dan
lain sebagainya. insyaAllah akan ana bahas di lain kesempatan. Dengan topik dan judul yang berbeda tentunya.

Oh ya… Izinkan juga ana bicara dari hati seorang wanita (bukan berarti mewakili kaum hawa keseluruhan) ini murni dari suara hati ane pribadi, so jangan men”generalisasi”kan pada semua akhwat. Kalo mau protes ke ane aja, otre?!)


Fenomena ini mungkin terjadi hampir di setiap medan dakwah. Pokoknya ada aktivis dakwahnya, ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) maupun ADK (Aktivis Dakwah Kampus/kampung) . Pemerannya adalah akhwat en ikhwan. Keduanya adalah partner yang saling berkoordinasi dalam dakwah. Banyak sekali artikel dan buku yang telah membahasnya. Seminar, dauroh, sampai kajian liqo-pun membicarakannya. Gimana kalao ikhwah jatuh cinta? Hmmmm…. wajar tuh! Fitrah koq! Normal ih! (oke-oke… peace man!) dari ikhwah yang militan sampai yang meletan, semua berpeluang merasakannya. Yang jelas jatuh cinta ala ikhwah gak sama dengan orang ammah. (af1, maksud ane ikhwah di sini yang tingkat pemahaman keislamannya lebih -sedikit atau banyak- dibandingkan orang ammah/awam). Kalo yang ngakunya ikhwah (ikhwan or akhwat), cara mengelola, memanaj, dan menyikapi, seharusnya, lebih bijak, lebih hati-hati, lebih terkontrol, tanpa harus mengikuti dorongan nafsu dan masih dalam koridor-koridor syar’i (warning! Harap dibedakan dengan ikhwah yang “bermasalah” ato “error”, kasusnya beda lagi).

Selain cara menyikapinya, cobaan dan ujiannya juga beda. Tentunya syaitan pengujinya juga selevel dengan kualitas
yang diuji. Sebagai aktivis yang menyeru ke jalan Allah, ber-amar ma’ruf nahi munkar, godaannya lebih berat lagi. Gimana nggak? Wong aktivis dakwah sholatnya tepat waktu dan berjama’ah di masjid, tilawahnya 1 juz perhari, diamnya dzikir, ma’sturat pagi-petang, qiyamullail, rawatib, en dhuha nggak pernah ketinggalan, amalan-amalan sunnah yang lain pun tetap jalan, bacaannya yang berbau islam, hadirnya ke majelis ilmu dan majelis dzikir, hidupnya hanya untuk dakwah dan jihad fisabilillah… ck…ck….syetan cs pada kualahan tuh! Syuro nya jadi lebih giat buat ngatur strategi jitu.

Tapi yang namanya syetan gak akan kehabisan akal (emang syetan punya akal???!!!) dia punya 1001 (bahkan beribu-ribu) cara untuk memasuki celah-celah yang menjadi peluang baginya. For example, dari hasil nguping pembicaraan manusia, syetan dapet bocoran kalo cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Akhirnya ia berusaha menggoda aktivis dakwah dari matanya (pandangannya) , banyak juga sih yang berjatuhan akibat ulahnya ini. Tapi godaan ini gak mempan, gak ngaruh, en ga ngefek bagi aktivis yang ghodul bashar (menjaga pandangan). Kemudian syetan dkk mengambil cara lain. Sms-sms bernada dakwahpun menyebar. Dari paket taujih, bangunin qiyamullail, nanya kabar, lagi ngapain? Udah makan ato belum? Met ultah yaaa (gubrak! Mang siapa lu, siapa gue???!)

Nggak sampe di situ, syaitan juga semakin canggih mengikuti perkembangan IPTEK. Syetan yang udah lulus kuliah di jurusan teknik informatika membuat program-program khusus di internet dan menyebarkan virus-virus aneh ke computer hati para aktivis dakwah. Yang gak punya komputer
pribadi penyebaran virusnya bisa lewat flash disk, CD room, kabel data, disket dan lain-lain (nyambung gak seh? Ya disambung-sambungin aja ya!). berbagai fasilitas di dunia maya telah disajikan. Mulai via email, chatting, fs dengan testinya, sampai sebuah situs yang memfasilitasi para netter agar bisa berinteraksi dan memiliki komunitas sambil menampilkan foto dirinya. Semua hadir di tengah kita untuk memudahkan komunikasi. Fasilitas ini pula yang dimanfaatkan aktivis dakwah untuk bersilaturrahmi, sharring pengetahuan, diskusi dakwah, menjalin ukhuwah, dsb. Dst. Ada juga yang niatnya mencari pasangan hidup. (Itu mah kembali ke diri sendiri. Mau pake jalur “swasta” [nyari sendiri] ato jalur “negeri” [lewat murabbi] yang jelas keberkahan harus tetap dijaga. Saran ane, senantiasa luruskan niat! Di awal, di tengah, sampai akhir).

Nah, dari komunikasi dunia maya itu, ada yang memberitahukan identitas diri, ada pula yang tidak, bahkan ada yang menyembunyikannya dengan berbohong. Astaghfirullah… .namanya juga dunia maya, dunia gak jelas! Awalnya mungkin nanya asl, skul-kul-or ker, dmn? Nama? ada fs? Email? Sampai tukeran no HP (waduh koq tahu nih? Pengalaman pribadi ya? Sstt…amniyah ^_^). Nggak cukup sampe di situ, follow-up nya adalah sms-sms taujih dan kata-kata penyemangat. Ada juga yang ngirim berita/artikell islami lewat email. Atau sekadar berbalas testi di friendster. Ada juga yang janjian chatting di YM (Yahoo Messanger) dengan dalih melanjutkan perbincangan yang sempet tertunda di chatting perdana.

Yah…begitulah hubungan itu berlanjut sampai akhirnya ada kata ta’aruf dilontarkan, ada kata khitbah diajukan, dan ujungnya, sebuah pernikahan dilangsungkan. Nggak semua seh yang sukses sampe tahap itu. Sang Sutradara-lah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasa-Nya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggaman-Nya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka., mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan. Lebih tepatnya ketentuan yang diikhtiarkan. Semua tetap dibawah kuasa dan kendali-Nya. Makanya kita disuruh memaksimalkan ikhtiar, rajin-rajin berdo’a, lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya (tawakkal). insyaAllah, apa yang menjadi pilihan kita, akan dimudahkan dan diberikan yang terbaik. Allahlah Yang Maha Tahu, so nikmati dan syukuri lah apa yang telah diberi. Semua pasti ada hikmahnya. (Lho koq jadi kemana-mana ya?!).

Afwan sebenarnya yang pengen ana sampaikan adalah pilihan kita untuk memilih pasangan. Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik (matang-matang, masak-masak) sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan kami (akhwat). Antum tahu, bahwa sifat
kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kami adalah makhluk yang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi kami untuk menolak. Karena jika kami menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antm, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan?

Sekali lagi, berhatihatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan. Kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? Padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat kami terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat kami terlena. Ingin sekali kami memetiknya, ingin sekali kami berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi kami nggak berhak, kami belum mendapat izin dari si empunya rumah. Tadinya kami ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat kami lupa akan tujuan semula.

Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan kamipun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah kami mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya.

Saat itulah hati kami hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan kami rangkai, kami bangun, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya
tepat. Lalu antum membiarkan kami menunggu di teras rumah ant
um dengan suguhan yang membuat kami kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan kami berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuk kami. Kami akan segera pulang karena mungkin saja kami salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati ini. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung bagi kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Kami tak ingin mengkhianati calon suami kami yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara kami berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya gak mau memakai label “ta’aruf” untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai kami sebagai saudara antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput kami.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata BERKAH di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan.
Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya
antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. So, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya. (Tuh kan jadi kemana-mana lagi. Tapi gak papa deh. Setidaknya unek-unek ana dah keluar, fiufh lega!)

Di depan tadi kita bahas apaan sih? Oh ya, ketika ikhwah jatuh cinta. Ana ga akan bahas panjang lebar karena ana ta
u kalian pasti akan bosan membaca celotehan ana yang “njelimet”. Tapi izinkan ana mengutip beberapa bait tulisan yang ada di majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2009 M sebagai perenungan bagi jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran sang teman sejati untuk melangkah bersama menuju jannahNya…
 

Posted in Campur. 10 Comment »

yen in tawang ono lintang

sebuah tembang jawa kiriman seorang sahabat………

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sung takok-ke pawartamu

Janji janji aku eleng cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang lintang’e wingi wingi nimas
Tresna ku sundul ing ati

Ndek semono janjimu disekseni

Mego kartiko keiring roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Rungokno tangis ing ati
Miraring swara ing ratri nimas
ngenteni bulan ndadari

artinya kira-kira

jika di langit ada bintang..duhai cantik
kunanti kehadiranmu
kepada mega di angkasa
kutanyakan kabar beritamu

semua janji ku ingat..duhai cantik
nyaris putus asa di hati ini
bintang-bintangnya kemarin-kemarin dinda
cintaku sepenuh hati

dulu kala janjimu disaksikan

mega-mega teriring rasa cinta kasih

jika di langit ada bintang …duhai cantik
dengarkan tangisku di hati
mirisnya suara di gelapnya malam dinda
menunggu bulan purnama

kayanya bakal jadi jingle nikahan kami nih 

 

Posted in My Self. 0 Comment »

Calon Isteri Seorang Lelaki

Seorang teman pernah mengatakan, kriteria calon isterinya: shalihah, cerdas, kaya dan cantik. Sebuah hadist juga mengemukakan, seorang perempuan dipinang karena kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Tapi pinanglah perempuan karena keshalihannya. Itu yang utama. Saya sepakat dengan hadist tersebut. Perempuan yang shalihah, insya Allah cerdas. Ketika seorang perempuan cerdas, harta bisa dicari. Bila harta sudah di tangan, kecantikan bisa dibeli. Pilih satu, dapat tiga.

Namun, bila kita tinjau ulang, pemikiran akan kriteria calon isteri tersebut cenderung egois. Tidak memandang dari banyak sisi. Hanya memandang pernikahan dari segi manfaat untuk diri sendiri. Tidak untuk keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar. Padahal menikah adalah penyatuan dua organisasi besar; keluarga, membentuk organisasi baru. Banyak pihak yang bisa terpengaruh dan mempengaruhi pra dan pasca pernikahan.

Jika kita berkaca, mengevaluasi. Melihat, mencari kelebihan dan kekurangan diri. Niscaya kita akan menemukan berbagai fakta; kita juga punya banyak kekurangan. Lalu, pantaskan bersibuk ria dengan segala macam kriteria? Sedang diri sendiri mungkin tak bisa memenuhi segala kriteria impian oleh calon pasangan. Seseora
ng berharap mendapat perempuan shalihah, namun apakah dia cukup shalih untuk berdampingan dengan perempuan shalihah. Ia ingin perempuan cerdas, tapi apakah ia cukup cerdas untuk mengimbangi kecerdasannya? Ia ingin perempuan berharta, tapi seberapa banyak harta yang dapat dia berikan, untuk ‘membeli’ sang calon dari ayah-bundanya. Dan ketika ia ingin perempuan cantik, apakah ia sendiri cukup gagah, tidak jomplang, saat bersisian dengannya? Tidakkah keinginan si lelaki terlalu berlebih?

Dari kisah cinta para Nabi, sahabat dan para syuhada, ada sejumlah fakta: tangan Allah selalu bermain. Kisah cinta Muhammad-Khadijah, Yusuf-Zulaikha hanyalah sebagian kecil contoh. Keikhlasan menggenapkan separuh agama pasti akan mendapat anugerah luar biasa; seorang isteri penghuni taman surga. Segala hambatan pernikahan han
yut karena ibadah yang khusu, penghambaan yang sangat padaNya. Manusia hanya berusaha, hasilnya terserah pada Yang Kuasa.

Hendaknya seorang lelaki berusaha melihat dari banyak sisi, ketika datang seorang calon isteri padanya. Segala identitas standar bukan pertimbangan utama. Serahkan saja padaNya. Meminta petunjuk lewat shalat istikharah. Apakah perempuan itu orang yang tepat? Apakah si calon pasangan dunia akhirat? Hanya Allah yang tahu, kan?

Lelaki manapun bisa saja berharap: Semoga calon isteri yang datang padaku adalah perempuan shalihah. Bila
belum shalihah, haruslah dia mengajak, meningkatkan pemahaman agama, terus memperbaiki diri. Menghiasi rumah tangga dengan amalan wajib dan sunnah. Menggapai sakinah. Semoga perempuan yang datang padaku cerdas. Jika belum cerdas, mestilah dia yang mengajar dan belajar dari pasangannya. Mencari ilmu baru, terutama ilmu rumah tangga. Tentang harta, boleh saja meminta: datangkanlah padaku calon isteri yang berharta. Tetapi ingatlah, harta adalah cobaan, tak banyak orang yang bisa tetap rendah hati, menunduk-nunduk ketika punya harta. Lagipula harta gampang dicari. Soal kecantikan, wajar lelaki normal ingin mendapatkan isteri cantik. Tetapi bukan hanya cantik lahir, batinnya juga harus cantik. Yang menjadi pertanyaan, standar apakah yang akan digunakan untuk menilai seorang perempuan cantik. Standar dunia atau standar surga? Standar dunia menekankan kecantikan maya. Mengandalkan costmetik. Kecantikan abadi, keindahan hingga akhir hayat dan di akhirat kelak, itulah yang seharusnya dicari. Terserah cantik atau tidak kata dunia, yang penting isteri bisa selalu menarik di mata, di hati. Menjadi telaga sejuk, pohon teduh di terik siang. Standar cantik ini sifatnya personal. Orang lain memandang biasa, tapi luar biasa menurut sang suami.

Perempuan manapun yang datang pada seorang lelaki, sudah sepatutnya ia melepas kacamata kekinian. Menggunakan kacamata masa depan dan kacamata banyak orang untuk menilai. Mungkin banyak keindahan calon pasangan yang sengaja disimpan olehNya. Allah ingin mengujinya, apakah dia cukup shaleh, cukup ikhlas, cukup bersabar untuk mendapatkan pasangan sejati.


Pasti ada keraguan saat menimbang. Maka dari itulah perlunya mengetuk nurani sahabat, saudara, kakak, orang tua, mereka yang lebih berpengalaman. Calon suami dapat bertanya, apakah perempuan begini akan begini-begini? Ia bisa minta tepukan tangan di pundak, pelukan, dan untaian mutiara. Agar sang lelaki yakin, mantap. Semoga setelah itu, dia betul-betul siap, menggenapkan separuh agama, mengapai sakinah. Memberatkan bumi dengan generasi yang menjunjung tinggi kalimat La Illa Ha Illallah.
 

Sungguh malang nian nasib para Ikhwan -_- lho,kenapa ??? ^_^

bismillah… ^_^

entah kenapa kok ada ide mau nulis ni note tentang ini, mungkin karena banyaknya komment ketika saya menulis status di FB kemarin 26 Juli 2009 sehabis pulang dari Mall

“-_-emang benar kata teman ana, malang nian nasib para ikhwan -_-”

heu heu aya aya wae kata sundanise… yah, mungkin kita pernah dengar kata pak ust tentang hilangnya hafalan Imam syafe’i ketika melihat betis seorang wanita, yang mana betis merupakan salah satu aurat yang ada pada wanita.

kata Pak Ustadz. “Yang derajat ruhiahnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan kita, pernah mengalami kejadian yang merugikan, gara-gara melihat aurat perempuan. Pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain yang menutupi aurat. Nah, suatu saat, Imam Syafi’i melihat seorang perempuan yang lewat di depan belaiau, dan … tersingkap kainnya sehingga betisnya tertangkap oleh penglihatan beliau. Seketika itu pula, 40
(empat puluh) hafalan hadist beliau hilang.”

yang perlu menjadi catatan adalah dulu pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain
yang menutupi aurat, nah sekarang ini ??? 

ampe ada yang nyuruh pake kacamata kuda saja biar aman -_- fyuhhh 

Hidup dibawah aturan manusia ya begini nasib para ikhwan khususnya… lha, kenapa hanya para ikhwan saja bukan akhwat yang juga dikasihani??  ya karena memang fakta di kehidupan masyarakat lebih banyak aurat wanita yang terlihat dengan jelas ketimbang para pria ^_^ ya kalo di hitung masih bisa dihitung dengan jari kita berapa benyak pria yang ada di kehidupan umum yang auratnya terlihat, sebagaiman kita mafhum bahwa aurat laki2 adalah dibawah pusar dan diatas lutut. tapi dikalangan ulama shalaf memang terjadi iktilaf tentang aurat laki-laki. silahkan lihat buku
ust Syamsudin Ramadhani al-Nawiy “hukum Islams seputar busana & penampilan wanita”

namun hal ini tentu saja tidak membuat para ikhwan khususnya menjadi diam (red : pasrah) tentu saja kita harus pinter-pinter menjaga pandangan. istilah ‘anak taklim” itu ghadul bashar atau menjaga pandangan. hadis yang diriwayatkan dari ‘Ali ra. Ia menuturkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda kepadanya :

“Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukan untukmu.”

Firman Allah dalam surat An-Nur : 30

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

MALIKI

Tidak diperbolehkan bagi laki-laki melihat aurat wanita yang bukan mahromnya walaupun tidak dengan syahwat ataupun tidak untuk tujuan kesenangan (ladzzah). Adapun melihat bagian yang tidak termasuk aurat wanita menurut jumhur ulama, yaitu wajah dan telapak tangan, diperbolehkan dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan fitnah dan bukan untuk memuaskan kesenangan (ladzdzah) Bila hal tersebut menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat, maka melihatnya haram.


SYAFI’I

Haram melihat wanita yang bukan mahromnya begitu pula haram melihat wajah dan telapak tangan dengan alasan takut akan menjadi fitnah karena kedua bagian tersebut merupakan bagian yang bisa menimbulkan fitnah dan syahwat. Berdasarkan alasan ini Syafi’i mengharamkan melihat wanita baik yang termasuk aurat maupun yang tidak, dan bukan disebabkan keduanya (wajah dan telapak tangan) itu adalah aurat. Pengharaman ini bisa gugur dengan adanya alasan syar’i, misalnya pengobatan dan lain sebagainya, maka melihat wajah, telapak tangan dan bahka
n seluruh tubuhnya boleh.

HANAFI

Seperti halnya Maliki, Hanafi juga mengharamkan laki-laki melihat wanita yang bukan mahromnya, kecuali yang biasa nampak pada mereka dan tidak dengan syahwat. Bila melihatnya dengan syahwat maka haram hukumnya. Adapun perhiasan yang biasa nampak pada wanita dalam surat An-Nur : 31, menurut Hanafi adalah wajah, telapak tangan dan telapak kaki.


HANBALI Pada asalnya, mereka mengharamkan seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahrom, kecuali dalam keadaan darurat. Tetapi sebagian dari mereka memakruhkan laki-laki melihat wajah dan telapak tangan wanita walaupun tidak dengan syahwat. so buat para ikhwan… termasuk saya berarti ya ^_^ mari kita pinter-pinter jaga mata, jaga hati, jaga telinga juga heu heu heu buat para akhwat, sebenarnya juga sama… Firman Allah dalam surat An-Nur : 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

Sebagaimana laki-laki,wanita pun harus menahan pandangannya terhadap lawan jenis yang bukan mahrom. Dan batasan minimum pandangannya adalah antara pusar dan lutut laki-laki, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak dengan syahwat. Bila sudah melibatkan syahwat maka hukumnya menjadi haram. Ini adalah pendapat rojih para ulama. Dalilnya:


1. Hadits Nabi yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud menerangkan bahwa Nabi menyuruh Ummu Salamah dan Maimunah memakai hijab ketika anak Ummu Maktum yang buta lewat di hadapan mereka sedang mereka melihatnya.

2. Riwayat dalam Shahih Bukhari, dari Aisyah ra, bahwasannya Nabi menutupi Aisyah ra dengan pakaiannya (rida) sedangkan ia melihat laki-laki habsyah bermain di dalam masjid sampai ia merasa bosan.

terakhir, tentu saja sebagai seorang yang memahami bahwa semua hal ini hanya akan bisa terselesaikan dengan adanya kesadaran akan wajibnya menutup aurat dan atau keharaman memeperlihatkan aurat kepada bukan mahrom kita, namun dibalik itu semua perlu adanya sebuah aturan tegas akan hal ini sehinga hal semacam ini dapat d
i cegah dengan menerapakn aturan yang tegas yang lansung dari sumber yang menciptkan manusia yakni aturan syariat islam dibawah institusi daulah al khilafah islamiyyah yang sebentar lagi akan segera tegak dengan izinNya. Amin…

saudaramu,
 

Evans

Akhwat Perhatian, Ikhwan Jangan KeGeran… Atau sebaliknya…Lho???

Tulisan ini aku dedikasikan untuk seluruh Aktivis Dakwah Kampus terutama kritikan pada diriku sendiriku..Thank’s Allah telah mengingatkanku, syukurku mudah menagis karena Allah dan mengingat perjuangan mujahid. Aku sadari diriku ini masih jauh dari kualitas keimanan mereka, seperti Ibnul Khaatab yang lebih mencintai “Jihad” dibanding “istrinya”. Sampai aku pernah berkata “Tidak usahlah berharap bermimpi bertemu para Tabi’in, Sahabat bahkan Rasulullah..Bertemu dalam mimpi saja dengan Mujahid Abad Ini. Air mataku pun pasti akan luluh”.
Fenomena akhir-akhir ini di kalangan Aktivis Dakwah Kampus terlalu cairnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Mungkin hampir di setiap kampus. Termasuk saya gak ya? Saking cairnya kadang kalo ada akhwat yang sering ngirim sms tausiyah, Si Ikhwan suka KeGeeRan dan ngerasa perhatian banget tuch akhwat..padahal mah tuch akhwat Cuma mau ngabisin bonus pulsa doank.
Nah, terkadang saking seringnya interaksi antara seorang ikhwan dengan seorang akhwat yang sering partner bareng, biasanya mereka smsnya berawal dari kordinasi jadi curhatan hati. Beuh, jadi curhat nich. Katanya sih itu atas nama Ukhuwah, tapi bagaimana batasan ukhuwah antara ikhwan dan akhwat. Wah itu mah perlu ditanya ke Dewan Syariah untuk lebih lanjut. Saya bukan ahlinya.
Terkadang sebagai insan biasa ikhwan merasa sesuatu yang berbeda bila ada seorang akhwat y
ang “Perhatian” ke dia. Punya perasaan beda githu. “Bertanya-tanya sama diri sendiri, kok akhwat itu perhatian banget ya sama ane?” atau sebaliknya lho??? Fenomena ini sering sekali terjadi di kalangan Aktivis Dakwah makanya banyak sekali artikel-artikel di dunia maya yang berhubungan dengan hal-hal kayak gini. Seperti sebuah artikel yang tentang ikhwan yang lebih telenovela. Alkisah ada seorang ikhwan yang cukup dekat dengan seorang akhwat dan memiliki keinginan untuk melamar akhwat yang dekat dengan dia. Namun, ternyata si akhwat tersebut menerima lamaran dari ikhwan lain jadilah si ikhwan tersebut sangat telenovela sekali seperti film-film telenovela yang di televisi. Sakit hati banget kayaknya si ikhwan itu. Kasian banget ya tuch ikhwan, cintanya pupus dan bertepuk sebelah tangan.
Berhubung sama cerita di atas ada sebuah artikel yang menarik juga judulnya “Sudah Siapkah Jatuh Cinta” titik penting dari artikel ini bahwa jika belum siap jatuh cinta, ya jangan jatuh cinta dulu. Emang kalo sudah berhubungan dengan yang namanya hati itu susah-susah gampang bangunnya daripada jatuhnya. Oleh karena itu, forum-forum cur
hat di halaqah tempat yang pas buat netralisir. Hhmm, ternyata nich perhatian-perhatian seorang akhwat ke seorang ikhwan bisa di salah tafsirkan loh sama salah satu pihak apalagi kalo akhwat tersebut yang ikhwan kagumin makin bergejolak hati si ikhwan tuch atau sebaliknya, loh???.
Fenomena yang berlebihan kadang seorang ikhwan sering bertemu dengan seorang akhwat atas nama silatuhrami katanya, tapi sebenarnya akan jadi fitnah kalo si ikhwan itu pergi sendiri. Bukankah lebih baik berdua supaya gak jadi fitnah? Dah githu ketawa bareng dengan ngakaknya. Jadi bingung gak sih, bedanya aktivis dakwah sama orang ammah. Padahal ngaji tapi kok gthu ya…makanya Syaikhu Tarbiyah pernah bilang…”Oh ini yang bikin dakwah gak berkah”. Sebenarnya kita harus ngoreksi diri lagi kayaknya, dah ikhlas belum ya aktivitas kita selama ini, jangan-jangan setiap langkah dan niat kita untuk dakwah karena “dia” bukan “Dia”.
Oleh karena itu karena begitu sensitifnya dengan sebuah perhatian, maka kepada ikhwan dan akhwat jangan mudah ngasih perhatian dan mudah keGeerRan. Kan bisa berabe kalo
kejadian, emang bener saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran itu boleh, tapi pertanyaannya kenapa harus lebih sering ke ikhwan dari pada ke sesama akhwat. Sekedar info ni, salah satu “Virus Ukhuwah” itu lebih senengnya seorang ikhwan saling nasehat-menasehati ke akhwat dan sebaliknya, bukan ke sesama jenis..
 

Kriteria Calon Pasangan, Muhasabah kita

Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya menyebutkan untuk mengutamakan agamanya dibanding faktor-faktor lain dalam memilih jodoh( cantik, kaya, keturunan ).

Tetapi beliau saw. sepertinya sangat menekankan kecocokan. Ketika seorang sahabat dari kaum Muhajirin ingin menikah dengan wanita Anshar, maka Rasulullah saw. menganjurkan untuk terlebih dahulu melihatnya. Ini berarti Rasul juga ingin adanya kecocokan - dalam segala hal, termasuk fisik - bagi yang akan menikah. Ada juga kan kasus seorang akhwat shahabiyah yang menyesal ketika sudah terlanjur menikah, tetapi tampang suaminya tidak disukainya, akhirnya mereka bercerai.

Hal memilih pasangan dengan melihat fisik sebagaimana memilih pasangan karena keturunan yang baik dan kemapanannya ( baca : kaya ) menurut saya bukan hal yang tabu. Tetapi tetap saja yang harus kita utamakan : AGAMA. Tidak saja ia beragama Islam, tetapi pemahaman dan pengamalannya benar-benar Islami.

Saya setuju dengan sebuah artikel yg menyebutkan bahwa kriteria din itu bernilai 1. Yang lainnya 0( nol ). Jadi, kalau kita memilih karena si akhwat cantik, atau si ikhwan kaya, atau si dia keturunan kiyai. Itu semua bernilai 0, kalau din-nya tidak dipenuhi. Kalau din-nya dipenuhi dan sang calon ganteng atau cantik, maka nilainya
bisa 10. Ditambah keturunannya baik = 100. Ditambah hartanya melimpah =1000. Idealnya begitu, tetapi tidak ada manusia yang sempurna.

Bagi yang ingin akhwat cantik atau ikhwan ganteng harus siap bila suatu saat sang pasangan menjadi keriput karena tua atau tergores wajahnya, atau mengalami luka bakar, atau resiko2 lainnya yang tidak menyenangkan. Segala sesuatunya sementara.


Bagi akhwat yg menginginkan ikhwan yang bergaji tinggi, mapan. Ketahuilah, segala sesuatu bisa terjadi. Setelah menikah, bisa jadi PHK menyerang. Suami yang tidak punya iman dan tidak kreatif bisa panik dan tidak menyelesaikan masalah. Yg jelas harta itu sementara.

Bagi yg menginginkan keturunan baik, itu bagus. Karena kita tidak hanya melibatkan sang calon isteri atau suami dalam mengarungi biduk rumah tangga. Karena orangtua masing2 dan sanak saudara bisa jadi ingin nimbrung. Akan tetapi si calonlah yang nantinya lebih banyak hidup dengan kita dan lag
i tidak ada yang sempurna.

Bagi yang memasang kriteria agama/din, itu bagus dan memang seharusnya. Tetapi pada perjalanannya, suami dan isteri sudah sepatutnya saling melindungi, memelihara, dan menjaga agar din-nya tumbuh dengan sempurna sehingga dapat mengantarkan keluarga berkumpul di surga.

Memang yang ideal, ketika “bentuk” bertemu dengan “makna”, ketika “rupa” bertemu dengan “jiwa”. Tetapi itu tidak mudah, walaupun bisa karunia itu diberikan kepada seseorang.


Ujian bisa menimpa kapan saja. Termasuk ketika memilih pasangan. Sekali lagi, tidak ada yang sempurna. Kekurangan pasangan kita bisa menjadi ladang ‘amal bagi kita. Hidup hanya sekali, jangan salah pilih dan menyesal !

Maka ketika ujian datang, kita sudah siap dengan ilmu yang diperlukan. Agar kita tidak bengong ketika harus mencari “jawaban” atas “soal-soa
l”.

Berdoalah untuk saudara-saudara kita agar tepat sasaran dalam membidik. Agar tepat langkah. Dan ketepatan itu identik dengan ketenangan, kata Aa Gym.
Jadi bukan ketergesa2an dan kepanikan. Semoga ALLAH selalu membimbing kita untuk membentuk keluarga sakinah dengan bingkai cinta kepada-Nya ( niat lurus ) dan cara yang benar sesuai syariat. Aamiin.

Wallaahu a’lam.

 

Posted in Campur. 1 Comment »

Andai Amanah Sepotong Coklat

    Amanah sebuah kata yang teramat berat untuk ditulis, mungkin lagi berharu-biru perasaan dalam diri. Amanah, sebuah kata yang dengannya kita bisa menjadi hina dan dengannya juga kita bisa menjadi mulia. Sebuah petualangan yang membawa dan menunjukkan siapa sebenarnya diri kita, karena siapapun dirimu itulah identitasmu. Dalam blognya zam admin SIC yang ia katakan benar, seorang yang berkecimpung di dunia relawan gempa siapa yang ikhlas, siapa, yang pengen benar-benar mewujudkan idealisme sosialnya, siapa yang pengen cari jodoh, semua akan terlihat dari akhir perjuangan, dan bhryoritme gerak yang ia jalani. Saya menganalogikan relawan gempa ini juga sebuah amanah.

Amanah, sekali lagi saudara-saudara ini tentang sebuah amanah. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun. Setiap detik dalam diri adalah amanah. Masih ingat dalam surat At –Tahrim : 6 ” Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.. ” . Dan paling urgen dalam hidup ini adalah surat Adz-dzariyat :56 . ” Dan kami tidak menciptakan manusia selain untuk beribadah”.

Yuppi, itu adalah sebuah amanah hidup. Amanah hidup yang mungkin dilupakan oleh semua orang. Terkadang, esensi hidup adalah beribadah sering terkikis aroma sejuk pegasus pagi hari tertiup angan dan mimpi akan kehidupan dunia yang tiada abadi.

Tentang sebuah amanah, yang karenanya kita merasa berarti bagi orang lain. Laksana dakwah Rosulloh dengan sedikit pasukan Alloh, tetapi dengan sedikitnya pasukan Alloh itu mampu menjadi motor bagi perkembangan dakwah beliau kedepan. Ini juga sebuah amanah teman, amanah dakwah yang ada di setiap pundak muslim.

Jika engkau cinta, maka dakwah adalah kenikmatan dalam mengarunginya tak ada rasa penyesalan atau kekecewaan bahkan kegelisahan. Jika engkau cinta, dakwah adalah pengorbanan, pengorbanan usia, waktu, pikiran, dan tenaga. Tidak cuma sebait kata melukiskan betapa berat tanggungan dakwah di pundak kita.

Terinspirasi dari sebuah judul buku andaikan buku sepotong pizza, padahal saya sendiri tidak suka pizza [ maklum orang desa ], saya gubah menjadi andaikan amanah sepotong coklat, kenikmatan yang super dupper lezat, enak, dan bergizi. Tapi sayang, kebanyakan manusia menjadikan amanah adalah sebuah beban, ada yang mempunyai
sudut pandang lain?. Dulu, saya beranggapan seperti itu, mungkin akan ada anggapan seperti itu lagi dilain hati, tapi yang jelas pada saat saya menulis tulisan ini, saya tidak berpikir amanah adalah sebuah beban.

Mengintropeksi diri ketika ada di lembaga, jadi tulisan ini tidak lebih dari sedikit curhat. Saya merasa tidak nyaman, ketika teman sekelas mengatai saya anak mushola. Wah panas kalau dekat dengan saya, karena saya dinilai sebagai orang yang alim, ga banyak dosa, ga layak dijadikan tempat curhat, ga enak klo diajak nongkrong bareng, ga mau diajak pergi piknik hura-hura bareng, ga enak kalo diajak main ke pantai bareng, dsb. Membuat saya merasa tersisih dari komunitas ini.

Sebenarnya apa salah saya, jika saya memilih jalan seperti ini, ga ada salahnya bukan?. Walaupun rumor yang beredar anak mushola eksklusif, jangan dekat-dekat orang yang eksklusif, maunya hanya bergaul dengan yang ” setipe” saja. Waduh.. kalau seperti ini kondisinya, kapan dakwah ini bisa menyentuh mereka. Saya tegaskan me
mang saya anak mushola, tapi saya ga eksklusif kok, kalian bisa bergaul denganku, asal itu sesuai koridor syar’i. Memang petualangan amanah lembaga dakwah berbeda dengan yang lain. Sikap dihindari teman, sikap merasa sendiri, sikap takut dijauhi orang lain, adalah normal adanya jika itu muncul dari dalam seseorang yang ingin melibatkan diri dalam barisan dakwah ini. Aktivis dakwah katanya.

Teringat lagi seorang jundiNya yang berkata, seorang muslim hendaknya menampakkan identitas kemuslimannya, kenapa harus takut di cap ekslusif, kenapa harus takut menjadi jilbaber, kenapa harus takut kalau dicaci ga gaul, kenapa harus malu julukanmu jenggoters, kenapa harus malu ketika nyongklangnya celanamu dipandang suatu keanehan, kenapa harus takut dicaci takut jatuh cinta ketika sedang menundukkan pandangan dengan lain jenis, kenapa harus enggan meninggalkan perbuatan yang sia-sia, kenapa harus malu menjadi orang ” aneh ”. Sedang ummat yang disukai oleh Alloh adalah Al Ghuraba ( orang yang terasing ). Harusnya kamu bangga….!!

Tips menjadi aktivis dakwah, katanya lagi.
1. Sabar
2. Tidak mudah mengeluh
3. berkepribadian islam dan berkepribadian da’i ( Saksiyah Islamiyah dan saksiyah da’iyah )
4. Bergerak dan menggerakkan

5. Move faster. think faster dan Briorhytime
6. Cerdas
7. Paham problematika ummat ( Al fahmu ’alal qodhoyatul ummah )
8. Paham manhaj dakwah
9. Selalu mengejar muwashoffat.
10. Bersungguh-sungguh.
11. Istiqomah


Setahun, dua tahun, tiga tahun berjalan bersama dalam barisan ini diiringi suka duka, onak duri, tetapi banyak sukanya. Dan sekarang pada saya menulis ini, merasa amanah bukan beban lagi tetapi kenikmatan, kenikmatan yang hampir hilang. Disini kudapati orang-orang hebat yang bisa menyalurkan semangat dan aura dakwah yang hebat, sehingga berada diantara orang-orang ini menguatkan dikala lemah, memberantas tuntas segala ketakutan ketika melangkah, memberi keteduhan hati ketika sedang hati sedang kacau, memberi senyuman ketika penatnya matahari menyinari langkah, memberi tatapan sejuk ketika kurebahkan punggungku padanya, menerangi ketika jalan ini masih terasa gelap, memberi ketenangan ketika kusedang galau, mengais napas bersama, menyokong dan terus saling menyokong. Laksana Rosululloh dan Aisyah beserta sahabat lain yang sedang membawa bendera dakwah ketengah gurun pasir arab, yang sedang membutuhkan sebotol air ditengah terik kehausan. Subhanalloh butuh perjuangan yang berat, kompak dan penurunan kebijakan yang strategis.

Setelah tahu seperti ini, baru tahu kalau perpisahan itu sangat menyedihkan, kenikmatan yang selama ini dirasakan akan musnah begitu saja, jalan yang kita tempuh sudah berbeda. Dan tertinggal adalah penyesalan, kenapa amanah adalah sepotong coklat, baru kusadari hari ini, dan akhir-akhir ini. Puji syukur kepada Robb yang masih men
gijinkan saya berada diantara mereka, kenikmatan yang mungkin tidak bisa dirasakan orang lain, hanya diriku sendiri. Bersyukur banyak teman yang membina saya menjadi lebih baik dari yang dahulu, insya Alloh.

Robb pada hari ini ingin kuukur kesyukuranku padamu dengan bukti penghambaanku kepadamu, bukan hari ini saja tapi dilain hari pun kuharap Engkau akan selalu menjagaku dikala aku lemah, dikala aku susah, dikala aku tiada lagi teman untuk mengadu. Terimakasih alhamdulillah.. Engkau mengijinkanku berjalan bersama mereka, walau baru kini kubaru bisa menyedari kenikmatan coklat dari sebuah amanah.

Untuk semua pasukan Alloh yang selama ini membuatku selalu kuat menghadapi berbagai aral, kegelisahan karena keterbenturan dengan duniawi, kegalauan akan semua hal, terima kasih episode terindahnya ya… . Semoga ukhuwah ini selalu dikuatkan olehnya dalam bingkai nan indah, dan bersanding selalu di surgaNya kelak. Saya akan selalu menunggumu dan engkau kan selalu menungguku indahnya… Amien..

Foot note
matur nuwun sanget eyang dan abi yang menularkan darah aktivisnya sehingga putrinya ini setidaknya ” pernah ” menjadi aktivis dan izinkan ” terus ” menjadi aktivis.

For all aktivis in the world, jangan pernah berhenti melangkah..!
 

Hosting IIX Murah

Space = 10 Mb
Biaya bulanan = Rp. 900,- 1000
Kuota 250 = Mb

Biaya bulanan = Rp. 4.500,-5000
Space = 50 Mb
Email = 5
Pop3Email = 5
Email forwading = 5
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 1 Gb
Subdomain = 5

PhpMyAdmin = Yes
MySql = 5
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp. 11.250,-12.500
Space = 100 Mb
Email = 25

Pop3Email = 25
Email forwading = 25
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 1.5 Gb
Subdomain = 25
PhpMyAdmin = Yes
MySql = 25
PHP = Yes
WAP = Yes

CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp. 18.000,-20.000
Space = 200 Mb
Email = 50
Pop3Email = 50
Email forwading = 50
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 2 Gb
Subdomain = 50

PhpMyAdmin = Yes
MySql = 50
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp. 31.500,-35.000
Space = 500 Mb
Email = 100

Pop3Email = 100
Email forwading = 100
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 4 Gb
Subdomain = 100
PhpMyAdmin = Yes
MySql = 100
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes


Biaya bulanan = Rp. 54.000,- 60.000
Space = 1 Gb
Email = Unlimited
Pop3Email = Unlimited
Email forwading = Unlimited
Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 6 Gb

Subdomain = Unlimited
PhpMyAdmin = Yes
MySql = Unlimited
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes

Biaya bulanan = Rp.99.000,- 110.000
Space = 2 Gb
Email = Unlimited
Pop3Email = Unlimited
Email forwading = Unlimited

Anti Spam = Yes
Modifikasi MX = Yes
Catch All Email = Yes
Bandwidth = 15 Gb
Subdomain = Unlimited
PhpMyAdmin = Yes
MySql = Unlimited
PHP = Yes
WAP = Yes
CGI = Yes


Untuk lebih jelas klik disini http://rakintech.net
 

Punya Istri Aktivis?? Ogah, ah!

 

 

Kata Mereka Tetang Istri yang Aktivis

Bermula dari obrolan ringan empat orang akhwat di kontrakan seputar kegiatan masing-masing (semacam setor hikmah gitu deh). Pelajaran apa yang didapat selama beraktivitas seharian. Kegiatanya macem-macem. Ada yang sibuk bersih-bersih rumah, masak, nyuci, ngepel, nyetrika (bentar lagi pindahan euy! Rolling kontrakan setiap tahun, biar gak bosen). Ada yang menghabiskan dua novel dalam sehari. Ada juga yang punya urusan di luar rumah. Dan ane, kebetulan hari itu jadi panitia pelatihan organisasi buat adek-adek rohis di SMA, sorenya sibuk nyiapin keperluan
PPL, dan malemnya, setelah asyik ngobrol ma temen-temen, ni tangan jadi gatel pengen nulis hasil diskusi (yang akhirnya jadilah tulisan ini^_^), soalnya, di sela-sela obrolan kami, masuk sebuah topik bahasan yang cukup menarik. Tentang apa? Simak perbincangan berikut:

Akhwat 1: Capek juga ya. Liburan gak liburan sama aja. Banyak agenda.

Akhwat 2: Namanya juga aktivis, ya kudu aktif donk, Dek…

Akhwat 1: Oh ya, menurut Mbak2nya, ikhwan mau gak punya istri aktivis?

Akhwat 3: Ya mau laaah, kenapa nggak? *dengan penuh keyakinan dan nada tinggi.

Akhwat 4: Belum tentu juga lho Ukh. Ada ikhwan yang gak mau sama akhwat aktivis, maunya sama akhwat yang biasa-biasa aja.

Akhwat 1: Yap! Sepakat Mbak. Mereka lebih suka tipe akhwat “rumahan” karena dah fitrahnya, laki-laki itu gak mau dikalahkan. Mereka kan Qowwam, gengsi donk kalo si istri terlalu banyak mengambil peran dalam kerajaannya. Kalo istrinya yang lebih aktif di luar, ada perasaan “dikalahkan”, “diremehkan”, kurang diperhatikan, dan takut kehilangan! So, lebih baik di rumah aja deh. Cari nafkah kan tugas suami. Istri, di rumah noh bersih-bersih, nyuci, jagain jundi, dan
menyambut kepulangan sang kekasih dengan senyum berseri. Hihi..

Kira-kira begitulah penggalan percakapan kami. Karena rasa penasaran dan keingintahuan ane yang sangat tinggi (tsaah), bertanyalah ane tentang hal ini kepada seorang ikhwan (hayooo..siapa tuuh? Emang berani nanya ke ikhwan?). Ya berani laaaah! Wong ikhwannya kakak ane sendiri. Heheh…

Ini dia cuplikan pertanyaannya:

Ane: Kak, pengen punya istri yang gimana sieh?

Kk: Pastinya akhwat sholihah yang mau nerima kakak apa adanya.

Ane: Yee…itu mah ane dah tau. Umum banget kalee. Lebih spesifik donk. Kalo sama akhwat aktivis mau gak?

Kk: Hmm..Aktivis ya? Ga papa sieh. Asal, kalo nanti dah jadi istri kakak, aktivitasnya dipindah alihkan ke rumah saja.

Ane: Ooo..gitu ya? hmm…

Dari jawaban singkat kakak ane tersayang itu, seolah-olah ada seberkas cahaya terang yang memasuki alam pikiran ane dengan membawa setitik pencerahan bagi jiwa yang diselimuti rasa bejibun pertayaan. “Ooo..ternyata
, kebanyakan ikhwan sukanya sama akhwat rumahan”, kata ane pada diri sendiri.

Jadi inget diskusi via chatting bersama seorang ikhwan yang sudah ane anggap sebagai “Guru” karena beliau memang Ustadz ane. Beliau sering mengisi training di acara-acara dakwah sekolah dan LDK di kampus ane. Usianya-pun jauh di atas ane (jauh gak ya? Wah, belum nanya)

Ustadz: Kalau sudah lulus kuliah mau berkecimpung di dunia apa?

Ane : Pengennya sih jadi penulis Pak, jadi bisa lebih banyak waktu di rumah, hobby juga! Yaah, selain ngajar tentunya. Kan calon Guru Pak.


Ustadz: Bagus tuh!

Ane : Dengan jadi Guru ane bisa memaksimalkan dakwah sekolah di Kota ane Pak.

Ane : Yaah, bantu2 adek di rohis gitu. Lagian, selain di dakwah kampus, ane juga enjoy di dakwah sekolah. Seneng aja kalo masuk ke dunia anak muda, berasa jadi remaja lagi. Hehe..

Ustadz: Saya dukung.

Ane : Tapi, kayaknya ane mau dimasukin ke ranah siyasi deh Pak.

Ustadz: Lebih baik jangan. Jadi Guru aja.

Ane : Lho, kenapa Pak? Bukankah politik juga butuh akhwat?

Ustadz: Iya, tapi biarkan peran itu diambil yang lain saja. Anti fokus di Pendidikan saja.

Ustadz: ‘afwan, itu hanya saran dari saya

Hmm…makin terbuka bukan?


Ah, ane masih belum puas. Bukti kurang. Kalo dijadikan penelitian, analisis datanya belum valid. Wong sampelnya aja masih segelintir orang. Rasa ingin tempe ane semakin menjadi (iya, lagi ngidam tempe neh!).

Informan ane kali ini adalah seorang akhwat aktivis kelas berat (ralat: kalo gitu bukan informan dunk, tapi inforwati. Hah? Emang ada?). Saking beratnya (maksudnya bukan kegemukan, tapi jam terbangnya yang cukup tinggi, aktivis kelas berat gitu loch), di usia yang sudah melewati seperempat abad ini, Mbaknya belum juga menikah. Dengan ditemani dua orang teman akhwat, kami memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan itu secara pribadi tanpa basa-basi. Untungnya, si Mbaknya mau membuka diri (maksud ane, tipe akhwat ekstrovert gitu deh).

Temen Ane: Mbak, ‘Afwan nih, sebelumnya udah pernah ta’aruf nggak Mbak?

Mbaknya: Ta’aruf? Alhamdulillah, dah enam kali dek…


Ane dkk : Whaaattzz?? *ekspresi kaget campur heran campur takjub. Whuuih..enam kali? Qwereent..!! (kayaknya, bukan suatu hal yang patut dibanggakan deh, Da!)

Temen Ane: Kenapa bisa sampe enam kali Mbak? Nggak ada yang cocok ya?

Mbaknya: Ya, karena ikhwannya kaget waktu baca data Mbak. Setelah tau aktivitas Mbak yang memang sangat padat, si ikhwan mundur secara teratur. *senyum..

Ane : Ikhwannya gak PeDe kali Mbak..

Mbaknya: Mungkin. Banyak koq akhwat yang bernasib sama. Bahkan ada teman Mbak yang cerita. Saat tiba di depan rumah teman Mbak itu, si ikhwan langsung balik kanan dan ngambil jurus langkah seribu. Nyalinya ciut mengingat
sepak terjang dan keaktifan calon yang akan dikhitbahya. Tapi keburu dikuatkan lagi sama MRnya, akhirnya mereka jadi menikah dan bahagia.

Temen Ane: Jadi, ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu, ikhwan minder ya Mbak?

Mbaknya: Bisa jadi. Mungkin juga perasaan “takut ditolak” menghantui para ikhwan karena mereka pikir, akhwat yang sudah punya gelar, pekerjaan, hidup mapan, mandiri, dan lebih dewasa terlalu pilih-pilih dan sangat idealis. Padahal gak semuanya seperti itu. Ikhwannya aja yang mundur sebelum maju (maksudnya?). Dengan kata lain, menyerah
sebelum bertanding.

Ane dkk: *aksi manggut-manggut sambil berkoor “Oo..” berjamaah.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah lain yang ane temukan mengenai topik ini. Intinya (dari tadi intinya mulu!). Makin jelaslah kalo ternyata, kebanyakan ikhwan (tanpa maksud mengeneralisasikan) menginginkan tipe akhwat “rumahan” yang penuh dengan kelembutan dan keibuan.

Katanya si ikhwan aja, “Wah, rejeki tuh kalo dapat yang sholihah, keturunan bangsawan, hartawan, cerdas, cantik pula! Mau dookz!!” tapi, ketika data akhwat itu sudah ada dalam genggaman, eeh, keder juga si ikhwan! Kemudian, dia berkata dengan degupan hati yang coba ditahan-tahan, “Kalo pilihan saya sih yang gak terlalu ‘Wah’, tapi juga gak ‘A
h’. Gak terlalu ‘Wih’ tapi juga gak ‘ih’..!”

Bener gak sieh?

Mellow, hush..hush..hush!!

Bismillah…

Sebelumnya pengen cerita dulu,

saat aku mau liat bintang, eh dia malah sembunyi di belakang awan. Pas aku tanya kenapa, jawabnya: “aku gak selalu ada untukmu…”

Kecewa.

Tapi kemudian, hujan datang dan menghapus kesedihan. Aku memilih bermain bersamanya. Sampai kuyup. Tapi, tiba-tiba dia menampar-nampar wajahku, agak keras. Deras. Lalu hujan berkata, “Ida, maaf. Gak selamanya tarianku gemulai. Terkadang, aku juga bisa marah. Apalagi melihatmu begitu terlena, olehku.”


Aku bingung. Kenapa sih? Bintang, hujan, koq sekarang kalian beda?!

Tiba-tiba, “JEGGGGEEEERRRRRRR….!!!!” Suara petir membuatku kaget luar biasa. Si petir bilang, “Sudah! Berhenti mikirin bintang dan hujan! Suka boleh, tapi sekadarnya aja! Ya!!”

Aku cepet-cepet masuk rumah. Kedinginan. Habis hujan-hujanan, kepalaku pusing, badanku demam, dan hatchii!!! Aku pilek.

*******

Heran!

Kenapa akhir-akhir ini virus MELLygoesLOW betah bersarang di diriku yha?

NGGAK!! NGGAK BOLEH!!

Idaaaaaa………SADARLAH NAAAKK!!!!

Sudah. Cukup.

BANGKIT! Ambil air wudhu, sholat, tilawah, dan bergeraklah!! Bismillah…Tuntaskan amanah!!

JIDDIYAH!! HAMASAH!! DHAWABIT!! ILTIZAM!! ISTIQOMAH!!

 

 Teringat kembali aku akan nasehat Syaikhut Tarbiyah, Ust. Rahmat Abdullah, tentang dakwah…

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir
yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak.
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.


Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam
tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…


“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)


Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya
harus mengalah.

: In memoriam Ust. Rahmat Abdullah

La’allanaa fii barokatillah….
Ya Alloh, karuniakanlah kami panasnya iman yang mampu membakar ruh HAMASAH untuk terus bermujahadah dengan penuh kesabaran….aamiin.

 

Bintang. Hujan. Kemaren kalian masih membayang di pikiranku. Sekarang, kalian seperti benda asing yang tak kukenal. Cepat sekali Alloh membolak-balikkan hati. Bersyukurnya aku, Alloh masih sudi mengingatkanku. Itu tandanya, Alloh sayang…..

Ada kalanya….

Ya. Ada kalanya….

 

*sepertinya, aku sudah mulai dewasa*

 

Percayalah, kadang tak mudah untuk belajar dari hikmah yang dipetik orang…maka bergeraklah, rasakan dan petik sendiri hikmah itu…”

*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*HAMASAH*




-

 

Dasar Akhwat [Part Four]

Berita hangat, berita hangat!! Telah ditemukan “spesies” akhwat yang lain…
(yang baru nemu ni blog, dijamin kagak bakalan mudeng! So, kalo pengen ngeh, baca juga edisi-edisi sebelumnya, otre?!). Semoga bisa menjadi pelajaran dan diberi kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah.      Selamat membaca

 

9. Akhwat Cadangan

 

Maksudnya apa neh? *dengan emosi dan nada tinggi

Eit, tenang..tenang Pren. Kita bicarakan baik-baik duduk perkaranya. Ane tahu para akhwat pasti gak terima kalo dibilang cadangan (secara, ane kan juga akhwat). Karena apa? Konotasi cadangan tuh dari dulu emang negatif. Mau bukti? Ada istri cadangan, lelaki cadangan (kayak lagunya T2, ops!), pemain cadangan, pokoknya si cadangan selalu dinomorduakan alias dikebelakangkan (mana ada sih yang mau jadi kedua? Kecuali si Astrit dengan hitsnya, Jadikan Aku yang Kedua *iiih…sowri aja yaaaaahh). But Prenz, cadangan di sini gak ada sangkut pautnya koq ama istilah yang tadi, karena yang dimaksud di sini adalah…..”Cuek Abiz nDAk ketuluNGAN” (hehe…jauh amaaaat!!).

 

  *Model akhwat cadangan

 

Ya! Dialah, akhwat cadangan. Prinsipnya, cuex is the best! Karakternya udah pasti cueks bebeks, jaim banged, en stay cool Maann. Akibat gaya cuek abiz ndak ketulungannya ini terkadang si akhwat disebut juga dengan model akhwat es batu. Namanya juga es, pasti dingiiiiin. Trus batu kan berarti, keras en kaku. So, bisa dikatakan, akhwat tipe begini udah cuek, dingin, keras, kaku lagi! (whuiih…untung gak makan orang). Model cadangan ini banyak kita jumpai di kalangan jilbabers. Biasanya cueknya itu ma lawan jenis (baca: ikhwan). Mungkin niatnya untuk menjaga hijab, tapi tetep aja cuek yang ndak ketulungan di sini gak bisa ditolerir. Misalnya, saat ada saudara seiman yang laki-laki (ikhwan) mengucapkan salam saat bertemu di jalan, trus si akhwat menganggap angin lalu dan pergi begitu saja tanpa menjawab salamnya (dalihnya sie, jawab dalam hati). Ato saat si ikhwan pengen membicarakan sesuatu yang sangat penting dan amat mendesak sekali. Nah, baru ketemu ama si akhwatnya tuh di jalan. Trus, waktu dipanggil “ukhti..!!” Eh, si akhwat malah gak peduli dan sengaja mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya (dalihnya lagi nie, takut terjadi fitnah). Yaaah..! Emang sie, serba salah. Bahkan hal semacam ini dah menjadi fenomena yang biasa dan sempat menjadi kontroversi di kalanagan aktivis dakwah. Kan udah ada adab-adab beriteraksi (bergaul) antar ikhwan akhwat. Bukan berarti kita menjadi makhluk yang eksklusif dan gak peka terhadap sesama kaan??


10. Akhwat Sufi

Akhwat Sufi? Seperti Rabi’ah Al Adawiyah kah? Subhaanallaah…

Eit..eit…entar dulu (maen asal tebak aja!). Sufi yang ini sama sekali nggak ada hubungan kekerabatan ama para penganut aliran sufisme itu. Gimana mau dibilang sufi (dalam arti sebenarnya), wong doi malah lebih suka duduk berlama-lama di depan layar kaca sambil mantengin film kesukaannya. Yap! Sufi yang ane maksud adalah “SUka FIlm”! Hmm…tiada hari tanpa nonton film, begitu mottonya. Ni akhwat paling up to date kalo ngobrolin soal film. Dari yang terlawas sampe yang terbaru. Dari yang lokal (bikinan anak negeri) sampe mancanegara (box office). Dari jalan ceritanya sampe ke artis dan aktornya. Pokoknya hapal banged dah! (Astaghfirullaahal ‘Adziim…*sambil ngelus dada).

Kalo ni akhwat dibiarkan tumbuh subur di semesta raya ini (kerjaannya nonton film mulu), bagaimana dengan nasib ummat?? Emang masalah ummat bisa terselesaikan hanya dengan duduk manis di depan tivi, komputer, ato bioskop selama berjam-jam sambil menikmati film kesukaan dan maem cemilan??? (mari qta semua teriak lantang secara berjama’ah, “ya nggak laaaahhhh…mimpi kali yeee….!!!”).

Berhibur sie boleh, tapi liat-liat jenis hiburannya dunk, Non! Jangan sampe kita milih hiburan yang nggak ada manfaatnya (ato bahkan malah ngasih mudhorot, apalagi kalo isinya maksiat, iiih…na’udzubillaah). Trus inget-inget waktunya juga! Jangan sampe hal yang mubah membuat qta lupa mengerjakan hal yang wajib (Jangankan yang mubah, ngelakuin yang sunnah tapi mengorbankan yang wajib aja nggak boleh!!!). Intinya, selektif dan proporsional-lah. Hhmm…’afwan lho ukh, bukannya ane sok ngasih “wejangan” ato sok ngatur-ngatus kalian yang menganut aliran sufi ini, tapi ane cuma menghimbau, menganjurkan, menyarankan, mengharapkan, dan mengingatkan (serta mengharuskan) agar anti mau mengurangi porsi nonton filmnya dan lebih banyak hadir ke majelis-majelis ilmu. Mau kan ukhti sayang?? Yuuukkk ^__^


11. Akhwat Amigos

Akhwat macam apa pula ini?

Bicara soal Amigos, ane jadi teringat film masa kecil dulu. Judulnya, Amigos. Jujur, ane termasuk fans berat film telenovela anak dari Meksiko itu. Eh, bukan. Lebih tepatnya, ngefans ama pemain utamanya, Pedro! (whuuiiih..sumpah! Ganteng nian euy!). Kira-kira umurnya waktu itu sebaya dengan ane, sekitar 13 tahunan gitu lah…Ane sempet histeris waktu si Pedro dikabarkan menjalin hubungan spesial dengan lawan mainnya di film itu, Ana. Ugh! Rasanya cembokur berat deh! (Biasa, gosip anak kecil). Lho?! Koq jadi ke mana-mana yhah? (Astaghfirullaah, sowri jiddan Prenz. Ayo dunk Idaaa..Fokus! Fokus! *sambil jedotin kepala ke tembok…).

Oke, lanjut. Amigos di sini emang masih ada korelasinya ma cerita di atas (bukan, bukan pada filmnya, tapi pada gosip anak ingusannya). Karena Amigos yang ane maksud di sini tidak lain dan tidak bukan adalah…”AMat pedulI GOSip” (eit, ane yang sekarang dah nggak kayak cerita tadi lho yaa. Yang ane ceritain kan udah jadul banged. Lagian dulu mana tau kalo ngegosip itu dosa. Alhamdulillah sekarang dah berusaha dengan sekuat tenaga dan sepenuh jiwa dan raga untuk meninggalkan yang namanya gosip! Ghibah?? Iiihh…Na’udzubillaah….

Yah. Akhwat amigos emang sangat peduli gosip. Entah itu tentang siapa. Pokoknya ngerumpi. Tapi, Alhamdulillaah, dari sekian banyak akhwat yang ane jumpai, tipe ini jarang sekali ane temui (ato mungkin ane aja yang gak tau?). Kebanyakan dari mereka yang memilih jalan hidup sebagai seorang akhwat (muslimah kaffah) rela dengan senang hati meninggalkan jauh-jauh kebiasaan buruk ini. Kalaupun diantara kita (ane dan pembaca) masih ada yang menemukan akhwat yang berprofesi sebagai bigos (biang gosip), maka jangan sungkan-sungkan untuk menegur dan menasehatinya untuk kembali ke jalan yang benar (dengan cara paling ahwan tentunya). Ayo! Yang mengaku cinta saudara, jauhi ghibah! Karena ghibah bagaikan memakan daging saudaranya sendiri. (hiii…gak mau kaann???).

12. Akhwat Lemod

Awas! Jangan salah baca. Bukan lemot, tapi lemod! (ntar, salah-salah ane yang diseret ke meja hijau atas tuduhan pencemaran nama baik akhwat yang notabene gak lemot-lemot amat, alias mampu berpikir cepat dan cerdas_amiin, semoga bener).
    *model akhwat modis

So, LEMOD (pake D) yang ane maksud di sini adalah akhwat yang “keLEwat MODis” (adakah? Hmm…banyak malah!). Apalagi dengan model-model jilbab en baju yang semakin variatif belakangan ini. Ada kerudung yang belah tengah, belah pinggir (hee..kayak rambut aja), belah ketupat (ops, ngarang dink!), ada yang pake renda, bordil, bertali, berkerut, motif bunga-bunga, kotak-kotak, garis-garis, warna-warni, whuaaahhh pokoknya rame dah! Hmm…cantik siee…Tapi, semoga masih tetep dalam koridor syar’i. Modis boleh (bahkan ada sebagian akhwat yang “berijtihad” harus!), tapi mbok ya jangan kelewatan. Masa ada akhwat yang dari ujung kepala sampe ujung kaki pake warna yang sama. Biruuuu semua (eit, bukan ane lho yaaa!). Ato ijoooo semua (kan gak lucu kalo ada yang nyeletuk, “eh, liat. Ada pohon berjalan tuh” hihihi…). Dari kerudung, baju, rok (ato ada juga yang make jubah), manset (dekker), kaos kaki, tas, semuaaa satu warna. Ada juga yang berpendapat lain tentang makna modis itu sendiri. Maksud hati ingin dibilang lebih modis en lebih kreatif, akhirnya dipakailah tiga warna berbeda sekaligus. Jilbab merah, baju kuning, dan rok ijo (hehe…ada lampu lalu lintas jalan-jalan tuh..). So, proporsional laaah…yang sederhana tapi gak norak or malu-maluin. Yang biasa aja tapi bersahaja. Yang wajar tapi tetep indah dan enak dipandang mata. Iya, emang sie relatif… Tapi setidaknya bisa disesuaikan ma lingkungan sekitar en masyarakat tempat qta berada, karena merekalah yang akan menilai. ‘Alaa kulli haal, syar’I harus menjadi patokan utama yang nggak bisa ditawar-tawar lagi. Otre?! 

   Be a beautiful akhwat, inner en outter beauty 


Eh, ane bakalan balik lagi lho…ditunggu yaaah…!!!

Akhwat Genit dan Dakwah Abal-abal

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…                                             
Lihat aja kerjaan mereka rapat sampe pulang larut malam, berjuang demi dakwah tapi menelantarkan Iffah (harga diri) mereka.

Akhwat yang Genit itu…
Tuh lihat saja si fulana berteriak tentang dakwah, menggunakan hijab ketika sedang syuro dengan ikhwan, tapi dibelakang masih suka aja ngirim sms tausyiah ke ikhwan…
cie ile..maksudnya sih nasehat… nasehat apa nasehat tuh Ukh…

Akhwat genit itu…

Yang satu ini lebih parah lagi, saking begitu perduli sama palestina… Nonton nasyid Palestina sampai jingkrak jingkrakan nggak karuan… nggak moshing aja sekalian ukh! biar manteb.. biar METAAAL sekaliaaan! CADAAAAAAS!

Akhwat genit itu…
Wedew… lihat aja tuh akhwat yang jilbabnya panjang buangetttt.. tapi kenapa ya..? kalau habis nonton nasyid terus pada lari histeris, ngantri sama munsyid yang udah jadi thagut…
minta tanda tanganlah! Minta foto barenglah!… payah dagh!

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…
Nggak kalah parahnya sama yang lain, retorika dakwahnya sih bagus, eh… pas nikah kerjaannya khawatir melulu, ngak mau sabar nemenin perjuangan suaminya… Akhirnya futurlah si suami yang dulu waktu di kampus asooooy berat semangat dakwahnya. Sekarang udah sibuk NYARI DUI
T lantaran ‘TANGGUNG JAWAB’ keluarga…nuntuuuuut terus!

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…
Kalau umur 20 tahunan akhwat-akhwat ini memang pada jual mahal kalau ada ikhwan yang khitbah, ntar pas umur 25 tahun pada cari yang ideal… ntar kalau ngak dapat-dapat sampai umur 30.. SIAPA AJA DAH! nah tahu rasa lu…sok ideal sih!

 

Akhwat dengan dakwah abal-abalnya…
Katanya aktivis dakwah..? katanya teguh menegakkan tauhid..? tapi kok kamu marah ya ukh waktu Aa Gym Poligami..? kenapa oh kenapa..?

Akhwat genit itu…
Tuh lihat aja si fulana, kalau ketemu ikhwan yang pendek kecil dan tidak menarik itu pasti JAGA PANDANGAN, busyet dagh pas ketemu ikhwan tinggi putih dan lagi nyelesain S2 itu… bukan cuma mata yang jelalatan tapi hatinya luntur sama thagut perasaan…payah dagh…

Akhwat genit itu…
Cie ile… peduli banget ukh sama ikhwan… eh ngapain berlagak minta pendapat sama ikhwan tentang diri ukhti, minta pendapat apa cuma ingin diperhatiin aza sama ikhwan… hayo ngaku…ngaku…ngaku…?

Akhwat genit itu…
Percaya nggak… si fulana itu depan ikhwan doang sok alim, di kos-kosan sih tetap aja telpon – telponan sama oknum tertentu… ku tunggu kau di batas waktu katanya… hehehe.. gubraks.!

 

Kupinang engkau dengan Al Quran


Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh suci ikatan cinta
Kutambatkan penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Reff :
Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Bridge :
Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegal tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

by Gradasi

 


Posted in My Self. 1 Comment »

30 Hari Mencari Cinta

Ramadhan…..
Rasanya tak cukup ku menyambut kedatanganmu…
Senyum ini pun tak terlalu manis untukmu..
Semangat ini pun kurang terpompa untuk membersamaimu…
Ilmu kepemahaman tentang mu belum juga memuaskan batinku…

30 hari rasanya terlalu berat untuk menemukan cintaNya untuk-ku
30 Hari, cukup menegangkan bagiku menunggu keputusanMu
Ingin kudapatkan cintaNya, setelah 30 hari kulewati bersamamu…
10 hari pertama tlah Kau buka untuk menggugurkan dosaku, syahru maghfiroh…
10 hari kedua tlah Kau buka untuk memberi pembelajaran & keberkahan hidup, syahru tarbiyah…
10 hari ketiga tlah Kau buka untuk menyeleksi pribadi terkuat diantara kami, syahru Jihadiyah…

Setelah kau datang, aku lupa engkau tamu teramat mulia..
Aku lupa, semangat 11 bulan kedepan ada didirimu…
Aku lupa, sajian ruhiyahku untukmu kurasa sangat tidak mengenakkan..
Aku lupa, 10 hari terlewati dalam kondisi “ payah” tapi kutak perbaikinya
Aku lupa, kubutuh kau hilangkan takutku hadapi 11 bulan kedepanku…
Aku lupa, impianku untuk menghidupkan malamku dengan tangisku

Robb, Jangan biarkan hatiku bebal dan mati
Robb, Aku ingin menangis lepas………….
Robb, Dan aku ingin menangis bebas ……….
.
 

U’r Comment

Blog dengan elegansinya mempunyai warna tersendiri untuk menjadikan hidupmu yang berwarna lebih kaya warna. Beberapa hari lalu saya ngecek, egh ga ada comment, Tumben!. Ngecek lagi, ga ada lagi, Sekarang ga lagi tumben, Sering!. Walaupun nulis sesuatu tanpa ada yang comment pun ga masalah, karena yang ditulis merupakan ekspresi pelepasan diri. Lebih tepatnya nulis nulis n nulis.

Meski ga nyari banyak comment, kadang lebih asyik klo ada yang ngoment. Ada comment yang nyebelin, lucu, heroik. dan lain-lain. Ibarat bumbu dapur, comment adalah garamnya. Kurang mantaps klo ga pake garam [Makanya comment yak]. Bahkan ada yang sengaja nulis sesuatu yang antagonis, alias oposisi untuk mengupgrade comment dan nyari track record tinggi.
Tak jarang yang ditulis ga bermutu, alias keluar dari rel-rel jurnalistik, hem apaan lagi tuh, ya itu tadi pokoknya nulis, nulis n nulis.

Sehubungan dengan teman-teman pengunjung, yang ngunjungi web saya, untuk 2 bulan kemaren saya mohon maaf, ga bisa ditampilkan. Ada beberapa kesalahan teknis, karena ada icon di plugin yang ikut kechentang. Terimakasih buat teman-teman yang complain tentang hal ini [heheh udah lebih dari 4 orang yang complain]. Untuk selanjutnya web ini menerima comment berupa apapun..
 

Posted in My Self. 1 Comment »

Antara Ikhwan, Bola dan Fisika

 Musim Champion tahun 2009 baru-baru ini dibuka [ terinspirasi tulisane bay ]. Perputaran drama komedional berganti dengan kehirukpikukan exotisme panggung bola. Apa yang terjadi memang susah untuk diprediksi, itulah serunya nonton bola. Ekspresi histeris, sedih, bangga, dan fantastic adalah ekspresi normal yang terblock up dari event ini. Sejenak merenungi, hakikat sebuah permainan bola. Bola sebuah bentuk yang sangat banyak dialam. Lihat saja dari bentukl pohon, pasti mengandung unsure bola dan bulat, liat aja mata berawal dari suatu bola dan bulat, liat aja bentuk kaki berawal dari bentuk bola yang diperpanjang hingga berbentuk tabung, liat saja contoh yang ciptaanNya yang lain pasti berwal dari bola dan bulat. Begitu juga penciptaan manusia dari sel telur yang juga bentuknya bola. Nah, secara alamiah saja kita sudah sangat erat dengan bentuk bola. Mungkin itu sebabnya banyak manusia yang menyukai permainan dengan menggunakan bola. [ nyambung ga .. ? so pasti ]
Tidak ada yang membendung, setiap orang bisa menyukai permainan ini. Siapa bilang olahraga football inil adalah pemicu bias gender, ga ada cerita dalam sejarah manapun. Bahkan baru-baru ini saya mendapati sebuah pertandingan bola dengan pemainnya cewek. [ Masya 4jj1 …]. Ada yang berani mengkritik, pastilah akan menimbulkan
sengketa emosional [ iya ga?..]

Pernahkan terpikir bola erat kaitannya dengan fisika. Ehm,.. pemain bola yang jitu pasti ahli fisika, tapi ahli fisika belum tentu pemain bola [ konjungsi matematis heheh.. ] Sebenarnya pemain sepak bola bisa diapresiasikan sebagai ahli fisika di lapangan hijau. Karena, setiap pemain bola sebisa mungkin harus mampu mengukur dengan tepat berapa besar gaya yang harus diberikan dan ke mana arah bola harus ditendang. Ujung-ujungnya kecepatan bola menjadi sangat kencang dan akurat. Seorang pemain bola yang handal ia pasti mengetahui perhitungan sudut elevasi pada saat pemasukan bola ke gawang. Lihat bagan (Gb 1b). Ketika SMP/SMA kita belajar bahwa bola yang ditendang dengan sudut elevasi tertentu akan membentuk lintasan parabola. Bentuk lintasan ini akan sangat dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bumi, kecepatan, dan sudut elevasi bola. Tanpa gravitasi, bola akan bergerak lurus ke atas (Gb 1a). Gravitasilah yang menarik bola turun. Semakin besar gravitasi semakin cepat bola jatuh ke tanah. Bandingkan dengan
di Bulan. Dengan tingkat gravitasi yang lebih kecil, lintasan bola yang ditendang-misalnya-oleh seorang astronaut akan menjadi lebih jauh, dibandingkan kala ia menendang sebuah bola di Bumi.
Buat sedikit bocoran ya, kita ingin kan punya tendangan yang keras dan jauh? Untuk melakukan hal itu, seorang pemain sepak bola harus menendang bola sekeras mungkin dengan sudut elevasi 45 derajat.


Pada saat bola ditendang, secara otomatis bola melakukan rotasi, dan dari rotasi tersebut akan menimbulkan pergeseran udara, dari pergeseran udara disekitarnya itu akan menimbulkan ruang yang tersentuh bola dan ruang yang tidak tersentuh bola. Udara yang tersentuh bola, mempunyai kecepatan lebih dari pada udara yang tidak tersentuh bola. Udara yang mengalami sentuhan bola akan menimbulkan tekanan, maka berlakulah hukum Bernouli semakin kecil tekanannya, kecepatannya akan semakin besar, akibatnya gaya melengkung kebawah akan lebih menukik ke gawang dengan sempurna. Ehm, ga rugi neeh belajar fisika.

Masih ingat dengan Pelle yang terkenal dengan tendangan pisangnya, ataupun Beckham yang terkenal dengan tendengan melengkungnya yang akurat, atau bahkan Shevchenko yang tajir habis dengan tendangan cornernya [ mantan fansnya neeh .. ]. Ketika Beckham menendang bola secara keras dengan sisi sepatunya sehingga bola dapat berotasi cepat sekali, bola melambung dan mulai membelok akibat adanya efek magnus. Gesekan bola
dengan udara akan memperlambat gerakan bola (kecepatan bola berkurang). Jika rotasi bola tidak banyak berubah, pengurangan kecepatan dapat menyebabkan efek magnus bertambah besar, akibatnya bola melengkung lebih tajam, masuk gawang, membuat penonton terpesona dan berdecak kagum.

Atau juga bagaimana Jan Koller menggunakan konsep momentum, tumbukan, dan momentum sudut yang tepat untuk menggerakkan kepalanya dan menyundul bola ke gawang musuh. Lihat juga Raul [ Jadi inget temen sebangku
yang ngefans Raul ] dengan menggunakan keseimbangan yang sempurna melakukan tendangan voli yang indah dan memasukkan bola ke gawang lawan. Di arena Piala Dunia 2006 ini kita bisa menikmati lebih banyak lagi bagaimana asyiknya fisika diterapkan dalam sepak bola. Coba saja perhatikan bagaimana nanti kiper Jerman memanfaatkan hukum pemantulan untuk menepis tendangan-tendangan maut dari para pemain lawan. Atau perhatikan bagaimana Ronaldinho menggunakan konsep keseimbangan ketika menghentikan bola dengan tubuh atau kakinya [ tuh belajar banyak bgt dari bola ]

Bola bukan permainan biasa, ikhwan, cowok, cewek , anak kecil, orang tua , setengah dewasa atau bahkan akhawat pun ada yang menyukai permainan ini. Bukan hal mustahil world cup pun menjadikan ajang hiburan yang fantastis abiz. Media yang memblock up pun semakin banyak saja, mulai dari kuis, hingga interaktif dengan penggemar dengan berkunjung ke episentrum word cup . [ episentrum? Kayak pusat gempa aje …]. Semua merupakan dunia glamouristik
bola. Dan permainan inipun adalah permainan yang mengeruk kantong para penggemarnya, dibela-belain ke negara episentrum pertandingan bola. [ episentrum? Kayak pusat gempa aje …].

Fans berat r u?. bukan hal yang mustahil fans bola akan melakukan segala cara untuk mencari julukan sejati football crazy. Persis inget pas SMA dulu, anak ABG melengkapi pernak perniknya dengan segala accecoris bola. Pokoknya
semua accecorisnya harus club ini semua, atau artist bola ini semua. Begitu masuk kamar, yang ada adalah poster bintang pemain bola, beserta club-clubnya, tak hanya itu bagi crazier Bekcham akan meniru potongan rambut, gaya hidup, serta tingkah laku Bekcham tersebut. Namanya juga idola, apapun selalu idola yang jadi nomor satu. Euforia sesaat yang mendatangkan banyak peluang bisnis. Dalam memenuhi animo masyarakat yang meledak. Kaos, sepatu tokoh idola santer menyedot konsumen yang ngakunya football crazy. [ hayo… ngaku …]

Ehm,.. yach klo nonton sekedar cari hiburan gapapa. Dari pada cari hiburan yang nggak-nggak. Jadi teringat jargon partai pemula yang lucu tapi energik, “ Yen mikir yo mikir, yen ora yo ora. Ojo mikir sing ora-ora “ . Jangan berpikir pas cari hiburan kita harus punya idola, dan lebih parah lagi idola tadi mempengaruhi gaya hidup kita. Alhasil gaya kehidupan yang berubah mirip dengan artis bola, menjadikan kita jauh dari aturan Islam. Lha wong mereka aja bukan
orang Islam kok. Begitu juga klo mengidolakan bintang artis musik, sinetron, atau yang lain. Intine ojo dadi fans fanatic.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai tokoh panutan ( idola ), dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi 4jji untuk menyiksamu “ ( Qs 4:144 )
Kita udah punya idola sendiri yaitu Rosululloh. Coba tiru gaya kehidupan dia. Wuih susah man..! terlalu keren, tap
i mengapa kita menghalangi diri kita sendiri untuk menjadi keren.
Laqod kaana lakum fii rosuuliLlah uswatun khasanah.. Liman kaana yarju Lloha wal yaumil akhiro wa dzakaroLlohu katsiro.”–? Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu surio tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat 4jji dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama 4jji “ ( QS Al Ahzab 21 )

Dan larangan untuk berlebih-lebihan kalo istilah kereennya ghuluw. “ Janganlah kamu berlebih-lebihan tentang suatu hal. 4jji tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
Saya jadi berpikir ga cuma dari segi fisika aja kita ngeliat bola itu menarik, liat dari kaca mata dakwah-pun sebenernya juga ada [ bagi kamu yang mau berpikir..! ]. Mad’u ( orang yang didakwahi ) layaknya sebuah bola, harus kita kejar terus, menjadikannya baik segi amalanya dan hariannya. Puncak kemenangan ketika tujuan dari penggiringan mad’u
sampai ke bola lawan, artinya dia sudah diperdayakan di ranah publik [ ^_@ dasar kaderisator..]
Silahkan cari hiburan, neng ojo didadekke idola banget ngono lho… [ ga perlu ditranslet khan ..?]

Me and the Balls

Gini-gini mantan football crazier, seri world cup ngefans ma Brazil. Klo seri Italia, ngefansnya ama milanisti, I rosseneri. Dengan stiker yang jozz karena minum ekstra jozz walau tidak jadi bintang iklan ektra joss karena kesambet sama Inzahgi. [ halah opo iyo Va..] Siapa lagi kalo tidak Andry Shevchenko ( SheVa ). Rencana SMA dulu, anak saya mau tak kasih nama Sheva [ wagu banget tho.. 6_6 ]. Sekarang ga tahu kabar beliau, karena di kost sekarang ga ada television [ hiks ..hiks .. ]

Sekelumit cerita, dulu pas SMA [ kenapa sekarang tulisannya saya selalu flash back terus zaw..!] nonton pertandingan bola di stadion, waktu itu yang main PERSIBA club Bpp. Ada pak dhe saya yang main, sambil lonjak-lonjak terus teriak, “ maju pak dhe…!!!! “ [ dasar ukhty kecil..! ] “ Kita selalu mendukungmu ..! “ . Si papa cuman terbengong-bengong. Karena terlalu kuat lonjak2nya, kalung yang kupakai akhirnya jatuh. Padahal kalung, kalung pemberian, kombinasi uangnya eyang ma papa. Hingga saat itu saya sudah tidak boleh pergi ke stadion lagi, saya yakin alasannya ga cuma itu.

Lagi, pas waktu ujian UAS SMA, dibela-belain nyuri waktu malam untuk nonton bola, karena adek ikhwan saya di pondok makanya saya ga ada temen untuk nonton bola. Egh,.. ma si mama ketahuan, di tegur langsung “ Hayo udah
sholat tahajud belum ..” Ku berikan senyum , “ Udah ma…” [ Untung saja ..! ] Si papa juga ikut nimbrung , “ Wong wedhok ojo sok nonton bal-balan..!! “ wuih papa marah bgt..! perihal hafalan saya ga pernah naik seayat pun. Alhasil, kunci almari TV dipegang sama papa. Akhirnya kontrak perjanjian pun terjadi, saya mau menghafal asalkan dibolehkan nonton bola [ ketahuan bandelnya neeh ..]. Ga kalah saingan, mama juga ngaduin syarat juga, minta dibantuin terus, wah padahal masa2 adalah masa2 panen padi, masakannya super dupper gedhe..[ Duw menderitanya gara-gara ngefans bola ..T_T] Belum lagi ujiannya jadi kacaw.

Memang kalo ga digalakin ma ortu, masih tetep ngeyel. Akhirnya akhirnya saya bersyukur mempunyai ortu seperti mereka.


…………………………………………………………………..
Ayah terimasih nanda haturkan kepadamu
yang telah mendidik dan membesarkanku bersama ibu
Ayah engkaulah guruku yang terbaik sepanjang usiaku
yang telah membimbing masa kecilku meniti jalan tuhanku
Alloh semoga engkau berkenan
membalas segala kebaikannya menerimanya dan meridhoinya di hadiratMu. [ SP Voice ]

 

Posted in My Self. 4 Comment »

Ngomongin CINTA (ahem..swit..swiiitt….)

Bismillaahirrohmaanirrohiim…


Sekali-kali ngomongin cinta ahhh… Ga papa kan? heuheuh…Itulah enaknya jadi Remaja, kalo ngomongin cinta gak ada yang protes. Paling-paling komentarnya: “halah, biasalah anak muda”. Coba kalo orang dewasa yang cerita, pasti dibilang udah kebelet pengen nikah (padahal, ah biasa aja!). Lagian ngomongin cinta gak akan ada habisnya. Sampe jadi engkong-engkong pun cinta tetep asyik buat dibahas. Tul nggak??


Well, CINTA…

5 huruf ini punya kekuatan yang : S-U-P-E-R !! (pake gayanya Om Mario Teguh). Gimana nggak? karena cinta, seorang raja bisa jadi hamba sahaya. Karena cinta, yang lemah bisa jadi pahlawan. Karena cinta, kita lahir ke
dunia. Karena cinta, kita ada di jalan dakwah. Semua karena cinta….semua karena cinta….(loh koq jadi nyanyi??)

Ehem..mau cerita…
Ada loh orang yang takut jatuh cinta. Dia tuh takut banget yang namanya mencintai dan dicintai. Tanya kenapa?? Usut punya usut, ternyata dia takut menyakiti dan takut tersakiti.


Kalo dipikir-pikir, ngapain juga takut mencintai, toh ga ada satu pun makhluk di dunia ini kecuali Alloh sudah menanamkan rasa cinta di hatinya. Kenapa juga takut menyakiti? Kalo memang kekhilafan dalam diri qta ngebuat orang lain tersakiti, maka Alloh adalah sebaik-baik pemberi maaf dan Maha luas ampunanNya. Trus kenapa takut tersakiti? Jadikan sabar dan sholat sebagai penolong, karena para Anbiya’ dan Rasul pun juga disakiti oleh kaumnya.

Tapi Alhamdulillah sekarang dia dah sadar, kalo mencintai dan dicintai itu fitrah. Menyakiti dan tersakiti itu juga dah biasa. Hidup kan memang gak selalu berjalan mulus. Akan ada kerikil-kerikil tajam yang sakit kalo keinjek. Makanya, kalo qta ada salah en nyakitin seseorang ya buru-buru minta maaf. Trus kalo kitanya yang disakitin, alangkah indahnya kalo kita ikhlas memaafkan. Gitu kali ya teorinya? Tapi, susah nerapinnya…Huuff…But, susah bukan berarti gak bisa kan??? InsyaAlloh….


Lagian nieh, kalo cinta kita itu murni KARENA ALLOH, gak akan ada tuh takut mencintai, takut dicintai, takut menyakiti or takut tersakiti (banyak amat yak takutnya??). Karena, yang dia harapkan cuma CINTA ALLOH. Muaranya itu Alloh, PEMILIK SEGALA CINTA. Andaikan yang dikejar itu cinta makhluk, kalo gak kesampean bakal kecewa, sengsara, merana, menderita, patah hati (bahkan ada yang sampe bunuh diri. iihh…Na’udzubillah banget!). Tapi, kalo cinta sama Alloh, DIJAMIN BAKALAN DIBALES!! Alloh itu cintanya luaaaassss….Bisa ngasih ke semua makhluknya dengan ADIL!! Lha, kalo manusia??? Pasti ada kecenderungannya, pilih kasihnya, ato sering bertepuk sebelah tangannya.

Trus, gak boleh cinta ke manusia??? Ya boleh laaaah. Tapi alangkah indahnya kalo semua cinta dibingkai hanya karenaNYA saja. KENAPA? Karena kita akan dapet BANYAAAAK CINTA!! Selain dapet cinta Alloh, Alloh akan menggerakkan hati orang yang kita cintai itu untuk mencintai kita. Yang lebih keren lagi neh, Alloh akan ngumumin pada makhluk langit dan bumi kalo Alloh mencintai kita. Benerah loh!!

Dalam sebuah Hadits Qudsy yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Allah, bila mencinta seorang hamba, Dia akan memanggil malaikat Jibril AS lalu berfirman; Aku mencinta
i si Fulan, maka cintailah dia! Malaikat Jibril pun mencintainya dan menyeru dari batang arasy ke langit dunia, katanya, Allah mencinta si Fulan, kalian semua cintailah dia. Maka penghuni langit pun mencintainya.” Rasulullah melanjutkan, “Kemudian diletakkan penerimaan baginya di dunia.” Tuh, DAHSYAT kann??

Alloh-lah sebenarnya aktor cinta paling ulung, pencinta yang mampu membuat langit terpecah, menyebabkan segenap malaikat sibuk luar biasa dan raungan menghunjam bumi.

“Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim) Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad).
 Seperti apa sih cinta karena Allah itu? InsyaAlloh, cinta karena Alloh itu mencintai seseorang lantaran ketaatannya pada Alloh Azza wa Jalla, istilahnya, cinta di jalan Alloh. Biasanya seseorang cinta sama lawan jenis karena memang orang itu suka ato tertarik pada pasangan jenisnya saja (misalnya neh, karena kecantikan/ketampanan, pinter, kaya, ato hal lain yang menarik baginya. Dan tidak didasarkan cinta karena Alloh Tabaaroka wa Ta’aalaa). Hal itu bisa dilihat dari motif dasar dia mencintainya. Apakah dasarnya agama dan keshalihannya ataukah yang ‘dalem kurung’ tadi?

Trus, gimana cara ngedapetin cinta Alloh??? “Katakanlah! Jika kamu [benar-benar] mencinta Allah, ikutilah aku [Muhammad] niscaya Allah mencintai serta mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Katakanlah! Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak mencinta orang
-orang kafir” [QS: Ali Imron: 31-32]. Cintai Dia dengan sebenar-benarnya cinta, kemurnian cinta dan ketulusan cinta, seindah-indahnya cinta, cinta teristimewa, cinta yang paling sempurna, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa henti, tak bertepi. 

Karena Maha Tahu, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dengan amat mudah dapat membedakan hamba yang benar-benar mencintai-Nya dengan hamba yang cuma pura-pura cinta karena pamrih. Bila kita cinta Dia, maka seluruh penghuni langit dan bumi akan memperlakukan kita sebagai kekasih mereka sendiri. 

Wallohu A’lamu Bish Showaab


kasih manusia sering bermusim
sayang manusia tiada abadi
kasih Tuhan tiada bertepi
sayang Tuhan janji-Nya pasti…


Nasyidan dulu ahhh…………


Cinta…
Begitu indah terasa

Duniapun slalu tertawa
Mendengar kisah cinta manusia

Cinta…
Mutiara manusia
Fitrah dari Sang Esa

Tumbuh berkembang daun-daun cinta

Karna Cinta tak dusta
Indahnya tumbuh dalam dada

Elok Cinta usang karna manusia

Karna Cinta tak buta
Wajarlah dalam mencinta
Cintailah Cinta karna Alloh semata..

Alloh Semata…

(Cinta, by Fatih)

 

      * *habis ngomong opo tho aku iki??

Mari, permisi…   

Posted in My Self. 1 Comment »

katanya,”Ikhwan bisa lebih jahat, Va….”

Sabtu sore, sebelum aku pulang dari Kampus B. Sambil menyeruput vanilla latte dingin, aku dan ika bertukar cerita. Tiba-tiba kami masuk ke pembicaraan tentang ikhwan.

”Ni Ka, belakangan Ziy banyak sms-an dengan seorang ikhwan. Yah sebatas diskusi-diskusi sih. Tapi lama-lama sebel juga, takut ni orang ngga adil. Khawatir dia Cuma sharing tentang hal-hal kemaren tu ke Ziy aja. Kan jengah juga,”

“ Hati-hati Ziy. Ika mah lebih baik diskusi sama yang ‘ammah sekalian. Soalnya ikhwan tu lebih jahat dari cowok biasa,” gantungnya

“Lebih jahat, Ka?” tanyaku heran

“Va tau sendiri kan, Ikhwan lebih banyak macemnya dari cowok biasa. Seringnya mengelabui, ngga pernah bisa ketebak.”

………..


Aku berpikir. Iya juga sih. Sejauh ini aku udah menemukan berbagai tipe ikhwan. Mulai dari awal sekali aku bertemu dengan ikhwan hafizh saat SMP dulu. Lalu ikhwan yang suaranya lebih lembut dari akhwat. Ikhwan yang TP (Tebar Pesona) well, meski ikhwan tsb memang diacungi jempol tentang jam terbang aksi dan kepeduliannya serta wawasannya. Ikhwan yang suka ngerjain akhwat. Yang kayak gini pernah ketemu lewat YM-an. Ikhwan yang kaku dan keras kepala. Ikhwan yang supel dan humoris. Ikhwan yang pecicilan kalo mesti terlibat via sms. Sampai ikhwan yang hanif banget. Yang benar-benar mampu menempatkan dirinya seperlunya, tidak berlebih-lebihan termasuk dalam adab pergaulannya dengan akhwat.


Tapi ada yang lebih ajaib lagi yang semakin menguatkan aku untuk menyetujui pendapat Ika bahwa ikhwan itu jahat.

Jadi, ceritanya aku mesti berinteraksi dengan seorang ikhwan yang adalah kakak tingkat di kampusku dulu. Karena sebuah sebab, yaitu properti milikku yang tak sengaja rusak saat dipakainya untuk sebuah acara dimana aku juga terlibat di kepanitiaan tersebut.

Awalnya dia minta maaf karena mesti mengembalikan properti milikku tersebut dalam keadaan yang berbeda dari keadaan semula. Dan sudah berkali-kali aku bilang bahwa tidak masalah. Nevermind. Lalu, di sms pun wajar-wajar aja. Tapi lama kelamaan dia jadi aneh. Dia bertanya. Dan tahukah apa yang dia tanyakan? ALAMAT RUMAHKU!

Yang semula dia memanggilku dengan sapaan antum jadi berganti dengan sapaan aku-kamu. Well, aku tetap memberi jarak dengan menggunakan sapaan saya. Tapi apa? Dia seolah tidak mengerti. Dengan gamblang dia bertanya,”boleh tidak, aq minta alamat lengkap rumah kamu?”

Tuing. Ni udah ngga beres nih!

Aku lantas bertanya mengapa. Tapi dia jawab dia tidak bisa menyampaikan maksud inti dari pertanyaannya tersebut. Lalu aku kembali menahannya dengan pertanyaan. Dan dia juga mengulurnya. Sampai akhirnya dia mengaku bahwa dia ingin menyampaikan sebuah pemberian sebagai tanda maaf atas perlakuannya saat itu. Lalu kemudian aku beri opsi. Berikan saja saat di kampus, saat aku kembali kesana sekalian aku memang ada keperluan dengan seorang sahabat. Niatanku adalah agar ada yang mengawasi kami. Mungkin dia jera, dia mal
ah meminta maaf. Bahwa yang dia lakukan adalah kesalahan, dan mengaku bahwa tidak pantas dia bertanya seperti itu padaku. Nah itu tau! Tapi juga dia bilang, dia punya alasan sehingga tidak bisa memberikannya di dalam kampus. Lalu aku balas kembali,”maaf saya tidak bisa memberikan alamat lengkap rumah saya. Saya menghormati kakak. Lebih baik tidak usah ada pemberian itu sekalian, afwan jiddan.” tutupku.

Tapi kemudian dia me-reply balik,”Apakah itu tidak mungkin??kamu mengira itu hal yang mustahil?? Di belahan bumi mana yang tidak mungkin terjadi jika Allah inginkan itu??”

Lama…aku tidak menjawab. Tapi dia terus menanyakan, mengapa tidak membalas smsnya.

Akhirnya, untuk terakhir kali aku balas.”Tolong jangan buat saya pusing. Saya semakin tidak mengerti!”



”Aq tidak ingin membuat ini semakin rumit. Maaf…memang semua ini adalah salahku. Aq yang tak tau diri…jadi..jangan kamu pusingkan lagi!”

….

Haa? Haa? Haa?

Ni orang bener-bener bikin aku jengah. Bikin kesel, marah, sebel. Jadi ingin memaki-maki. Sampai-sampai malam itu aku mengganggu temanku untuk bercerita.

Belum pernah ada ikhwan yang membuat aku sedemikian kesal seperti ikhwan ini.

Aku kesal. Mengapa dia bisa seperti itu?? Aku menghormati dia. Dia di luaran pun adalah orang yang aktif di LDF. Jam terbang kepanitiaannya juga sudah banyak. Tapi mengapa dia berlaku seperti itu?

Yang dia lakukan seolah mencerminkan bahwa dia ‘tidak mengerti’ padahal sudah jelas-jelas dia paham.


Bilakah nanti kebencian yang aku dapati di diriku, lunturkanlah ya Rabb.

Jangan sampai aku merasa kecewa dengan ukhuwah ini, karena sudah banyak yang terkecewakan dan berpaling..

Kembalikan dia, ingatkan dia dengan hidayahMu.

 

Akhwat CAKEP Seperti apa sih..!

Siapa kita? Apakah kita hanya seorang dengan label aktivis dakwah kampus dengan segudang kegiatan?atau seorang akhwat jilbab rapi yang penuh amanah?

Apa yang telah kita lakukan? Apa yang membuat kita begitu bangga dan pongah dengan semua itu? Apakah Allah memang sudah menjadi tujuan utama kita? Apakah memang kasih sayang Allah untuk kita? Atau kita hanya
seseoraang yang bangga dengan sebutan akhwat tanpa upaya perbaikan diri?

Lihat lah fenomena di kalangan akhwat saat ini, ikhtilat, VMJ, chatting,ruh yang kosong, seorang ukhti pernah bercerita tentang sosok akhwat yang saat ini sudah sangat jauh dari figur seorang aktivis dakwah, ana tidak menyalahkan dia, dia sama sekali tak bermaksud mengeluhkan saudari saudari seiman, namun kecintaannya membuat dia prihatin dengan semua yang terjadi saat ini. Kita sering kali menyalahkan para ikhwan yang terkadang menganggap akhwat terlalu kuat, sangat militan sehingga kadang sesuatu yang sebenarnya ikhwan yang sanggup melakukannya dilakukan oleh akhwat, namun apa itu lantas membuat kita lupa bercermin diri? Lihatlah fenomena kader yang begitu menurun semangatnya, Jika saja kita bisa mengambil hikmah dari hal hal yang terjadi di sekitar kita, bercermin pada saudara kita,.



Seharusnya juga ada istilah akhwat CAKEP

1. Confidence

Tentu saja c yang ana maksud di sini bukan chatting yang saya bicarakan diatas….tapi Confidence

Fenomena akhwat saat ini terjadi karena kurangnya rasa percaya diri, bahkan ada seorang ukhti yang menolak saat hendak di beri binaan, dengan alasan belum siap, lantas mau menunggu sampai kapan? Apa kita mau menjadi aktivis ketinggalan yang perlu lama menjadi dewasa di jalan ini? Atau aktivis yang tak pernah dewasa?Ya… memang banyak orang yang masuk ke jalan ini, namun terkadang
ia hanya berdiri saja di tepi tanpa mau melanjutkan perjalanannya dan melihat saja orang orang yang berlalu lalang.

Sungguh fenomena yang tidak lucu saat seorang akhwat menolak binaannya.

2.Adroit,Tangkas

Akhwat tangkas yang bisa membaca situasi

Sungguh banyak akhwat yang kuper, tidak tahu perkembangan saudara saudara saudara seimannya di berbagai belahan dunia..bahkan menjadi orang yang tidak di perhitungkan dimasyarakat, ana sungguh simpati dengan seorang akhwat yang tidak hanya aktif di kampus, namun juga di pandang di masyarakat karena kepintarannya bergaul, tapi jangan sampai menjadi akhwat yang kelewat gaul sehingga kita melupakan norma norma dan aturan, sehingga tak ada lagi figur seorang akhwat saat kita berada di masyarakat

Ana jadi ingat penuturan beberapa teman, ada akhwat yang tidak nampak “ tarbiyah” nya saat berada diantara teman-teman nya. Tak ada maksud ghibah disini, karena sesungguhnya harapan teman-teman kita tersebut adalah jua harapan Allah pada diri kita. Sepakat?

3.Kindness

Pernah dengar akhwat ketus? Judes?


Sesungguhnya warna celupan Allah itu indah bila di bingkai dengan keislaman, lihat saja Umar yang tetap keras atau abu bakar yang lembut setelah keislamannya tetap dengan karakter mereka , dan sungguh indah Rosulullah menggambarkan kedua sifat mereka tersebut.seperti ungkapan Salim A.Fillah” alangkah sunyinya dunia jika semua seragam,biarkan semua melekat sesuai yang Allah lekatkan pada diri kita, maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nusaibah binti Ka’ab yang menyertai Rosulullah kemanapun beliau bergerak di medan perang, akan tetapi ada yang berkepribadian kuat dan berani seperti Ummu Hani’ binti Abu Thalib, tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti Aisyah, ada yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafsah akan tetapi ada yang lembut dan kleibuan seperti Khadijah”

“Celupan warna Allah . dan siapakah yang lebih baik celuipan warnanya daripada Allah. Dan kepada Allah saja kami beribadah”(Al Baqarah 13 8)

Namun yang kita bicarakan adalah karakter, jauh berbeda dengan sifat, yang bisa kita rubah, jadi tidak ada lagi akhwat judes, suka ngerumpi, berkata kasar hingga menyakiti saudara dengan alasan itu semua karena dari “sononya”…..atau akhwat yang kelewat tomboy, memang ada beberapa akhwat yang terlihat “gagah” atau suka mengenakan sepatu kets, namun sangat berbeda bila kasusnya adalah menggagahkan diri karena ingin disebut tampan?(maksud lo?) ya itu, kadang kita suka disebut akhwat kesatria sehinga menggagah gagah kan diri, baik cara berjalan ataupun saat berbicara. Atau akhwat yang kelewat tangkas sehingga selalu membantah qiyadah dengan alasan ia berkarakter kritis.nah lo?

4. Exclaim

Menyerukan. Aslih nafsaka, wad’u ghairaka

Perbaiki diri sendiri lantas seru orang lain, kalau kita selalu menunggu perbaikan diri lantas baru menyatakan kesediaan untuk menyeru atau menjadi seorang murobbi, sampai kapan gituuuu?, ingat, kita bukan orang suci, namun orang orang yang insya Allah selalu memperbaiki diri, dan saat kita menyeru kepada orang lain yakinlah saat itu akan seiring juga dengan usaha kita untuk memperbaiki diri, dan jangan putus asa de
ngan ampunan Allah, teruslah bertaubat dan tingkatkan ibadah, jadikan orang orang di sekitar kita cermin, antum akan tahu kondisi ruhiyah antum dengan memperhatikan sikap saudari saudari antum. Maka saat antum merasa jauh dari saudari saudari, cek lagi kedekatan antum dengan Allah. Tips yang mudah bukan. Kita akan tahu posisi kita di sisi Allah dengan melihat posisi Allah di hati kita.ok ukhtyfillah?

5. Patient

Patient disini bukan sakit, tapi sabar. Saat kita merasa kaki ini tak kuat lagi berdiri disini, yakinlah itu bukan karena kita lemah, namun karena kita tidak menyerahkan semuanya pada si pemilik semua kemudahan, mengadu saja padanya bahkan seorang Rosullullah saja mengadu pada Nya saat ia merasa goyah, apalagi kita, mungkin ada saatny kita
merasa saudara sadara kita tidak mengerti kondisi kita, atau kita merasa tak sanggup memikul sebuah amanah, jangan berbalik saudariku, jika kita keluar dari jalan ini, hidayah tuhan mana yang kita harapkan, jika saja Allah mencabut nikmat iman dan hidayah ini dari hati kita, tuhan mana yang sanggup mengembalikan?

Tiap kita pernah putus asa, tiap kita pernah lemah, namun tak berarti itu menyurutkan niat kita menuju cahaya Nya.ALLAHUAKBAR!!!!!


Sesungguhnya semua ini adalah jua sebuah cermin diri bagi ana. Keep spirit, keep fight saudariku.
 

No Idea

Ngeblank.. saat ini saya merasa seperti itu. Tidak ada kata, tidak ada cerita, tidak ada yang bisa dibagi. Tugas di kuliah pasca sarjana yang sangat padat membuat jenuh dan memaksa diri untuk mengeluh pfiuh…

Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri seminarnya dosen fisika ITS lulusan ITB bapak Agus Purwanto, dengan judul seminar sama dengan judul buku beliau yang berjudul, ” Ayat-Ayat Semesta”, bukunya kereeeeen punya, betapa hebatnya seorang ilmuwan yang terback-up terbalut nilai religius yang tinggi. Sehingga karya dan pemikirannya, berguna dan menjadi titik terang bagi seluruh manusia. Ya ia seorang scientist dan penulis! Seperti apa yang selama ini ku mimpikan, ketika beliau berkata ,membuat detak jantung berguncang hebat, membakar seluruh nadi dan denyut otak kiri. Hanya bergumam, subhanaLloh.. akankah bisa seperti dia?

Dulu saat menjadi mahasiswa baru, kami yang mahasiswa baru S1 diberi buku saku kopma. Di seluruh buku saku tersebut, semua berisi tulisan yang bermanfaat, tetapi ada 1 lembar yang aneh, dilembar tadi hanya tertulis “No Idea”
dan bergambar jeruk thok, jeruk kecil dan cuma setengah!. Rasanya tidak lengkap rumah ini, tanpa ada kata-kata itu juga, ” No Idea..”.

Teringat diri setahun yang lalu, ketika duduk termenung saat hujan mendesah menyirami rumahku yg asri, sore itu. Saya perhatikan gagang lampu merah bergaya artistik di depan rumah lengkung itu.
Lama sekali mata ini menatap kesana, lampu itu menyinari semua dengan sinar terangnya, agak sedikit redup tetapi menawan. Kelihatan angkuh, tetapi sebenarnya bersahabat. Andaikan lampu adalah buku, ia angkuh karena mahal dan susah untuk menulisnya, tetapi sungguh ia sangat bermanfaat dan menerangi. Aghh.. lampu merah… buyar seketika.. Saya harus mulai dari mana untuk membuat sebuah buku bagus. Duw guru-guru jurnalistik saya, dimanakah kalian???, tolonglah muridmu ini yang kehilangan arah dan semangat, dan juga orientasi diri..

Ada banyak yang ingin saya tulis, ada banyak yang ingin saya bagi, tapi serasa tidak sempat waktu saya untuk memberi kepuasan batin menulis untuk diri sendiri, sibukkah? Iya sibuk banget :. Sungguh, ada banyak yang ingin saya tulis,diantaranya: romantisme pejalan kaki, congculi,khwan genit ( baru setengah!), di jalan dakwah aku menikah (resume buku), dan seikat roti terbagi. Kapan bisa menulis sebuah buku yang bermutu, Hiks hiks menulis kali ini pun
dipaksakan :

I Have no idea for my book… Hv u any suggestion 4 me?
 

Posted in My Self. 0 Comment »

Akhwat Bekerja

اسلام عليكم

Quote:
Sitti says, “Assalamu’alaykum ini email tetangga,yang menurut ana bagus. sekalian menanggapi pernyataan yang beredar tentang akhwat 2008 yang sebagian besar wanita karier. tidak ada maksud menyudutkan siapapun, seperti salah seorang ukhti ‘01 bilang ke ana. jadi apapun seseorang yang jelas dia sudah punya planning sendiri (ya tri??).dan yang jelas seorang wanita solehah, muslimah sejati, akhwat haroki, ga akan pernah menyia2kan amanah.“


Eva, ” bagus tuh ukh tulisannya.
jadi masukan juga buat akhwat kampus yang ingin tetap bekerja
supaya bisa semakin profesional mengurus rumah tangganya.
jika sudah berazzam untuk all out di rumah dan dunia kerja, insyaAllah antunna BISA!!!!!
tp ana kagum dengan akhwat kampus yang memutuskan untuk all out mengurus rumah tangganya.
mungkin kalo ada syair nasyid “istri cantik dan sholilhah” harus sedikit ditambahkan menjadi “istri cantik dan sholihah serta profesional” .

Diah, ” Wah tema yang cukup “hangat” untuk diperbincangkan, mungkin beberapa temen masih inget perbincangan di CF dl, kl g salah kmaren ad diah, reni, hana, astri ma neng y…
Wah seru, tapi ga ad titik temu, kita semua mentok pada kondisi yang emang sama2 kuat,
Di satu sisi secara fitrah kita emang pengen jadi ibu RT pure, biar bener2 bisa menerapkan konsep istri solehah tea geuning, tapi disisi lain ada pemikiran sekaligus pengalaman hidup seorang ummahat yang menjad
i bahan pertimbangan untuk tetep bertahan menjadi seorang wanita karier, yaitu kondisi ketika sang istri pd akhirnya terpaksa berjuang sendiri membiayai kebutuhan hidup keluarga karena ditinggal “syahid” sang suami, bayangkan kl saat itu dia g biasa nyari ma’isyah jg, mungkin bingung yg bener2 bingung kali y… (eh tp ini cmn asumsi ane sih)
Simalakama memang, mangkanya kita g dapet solusi waktu itu…… wah sekarang mencuat lagi nih..
Tapi dipikir2 lucu juga ya ukhtie fillah kebanyakan dari kita emang kerja, entah sebagai selingan menunggu “pemimpi” hidup kita, atau emang tuntutan keinginan untuk membuktikan potensi diri?

Wallahu’alam smua orang mungkin punya alasan masing2..
Tapi terserah lah dengan semua alasan kita untuk berkarir, yang terpenting adalah menemukan jawaban dari diskusi2 kita tentang ini, yaitu alasan paling kuat untuk kita ambil sebagai bahan pertimbangan memilih jalan hidup kita ke depannya, pure jadi ibu RT atooo.. disambi dengan karier.

Eh enya, teh va kl diah g salah tangkep tulisan itu menekankan kita untuk kembali kepada fitrah muslimah sebagai seorang ibu rumah tangga deh, apa diah salah tangkep y.. “

My Opinions:
Sebelum ane tanggepin tulisan diatas (tmsk tulisan aslinya), ane harus mengatakan dengan jujur kalau sebelum memulai proses ane minta dengan jelas&tegas  ke murabbi untuk akhwat yang 1.stabil =mature 2.have a bright-clear life vision 3.bisa masak. Ane minta seperti ini karena banyak pertimbangan dan diskusi panjang dengan murabbi.

Pertanyaan pertama yang biasa diajukan ikhwan berkisar pada kerja/nggak & bisa masak/nggak. Hayo..ikhwan…jujur ajalah 
Pendapat ane, afwan bagi yang g sepakat-i’m no offense, bisa masak adalah kriteria akhwat yang tau cara memenej RTnya. gak perlu masak sekelas chef di resto, biasa aja asal sehat bergizi. kalau memang selama di kampus gak pernah belajar cara ngurus RT, di rumah juga enggak, trus ngapain aja? Ane diskusi dg MB ttg manajemen RT, kurikulum pendidikan, tarbiyah istri bla…bla…dijawab singkat aja, kalau punya perhatian kesana pasti terlihat.


dan kalau baru blajar setelah nikah, ksian suaminya, ksian anaknya dapet ummi yang full experimental (biasa di lab seh). ndak bgitu penting sarjana ato nggak, toh gak bakal kepake di rumah smuanya, mau masang BTS di rumah?  yang bener aja. RT membutuhkan hal yang lain sama sekali. yang sering dilupakan, meski dibahas panjang-lebar cerita2nya.

Proses pembelajarannya memang panjang, manajemen RT-Kurikulum pendidikan anak-penghargaan thd prinsip2 syuro-hak&kewajiban RT bukan sesuatu yang bisa dipelajari secepat kilat saat mendapat panggilan ta’aruf. Stelah ane memulai proses, ane baru tau kalau ternyata banyak yang merasa ’siap’ tapi sebenarnya cuma ‘pengen’, tanpa pengetahuan memadai. afwan sekali lagi, cerita ini murni denger dari murabbi dan ‘a kind of’ lajnah munakahat di kampus.

More important rules, untuk kita para aktivis da’wah atau yang merasa demikian, LIFE VISION is one of the most important thing. mengapa banyak yang saat ditanya visi hidupnya, nunggu jawabnya kelamaan, atau
baru terpikir? kerja atau nggak? nggak penting banget pertanyaan  ini ada yang lebih jujur, “untuk apa kerja?” ane fikir pernyataan ukh diah lebih jujur. Apa tujuan antum kerja? Sejauh mana VISI yang kita miliki mengarahkan pilihan2 hidup kita. jangan2 kita udah kerja sekian puluh tahun tanpa tahu tujuan kita mau kemana. Kalau tujuannya hanya sekedar cari duit, sepertinya ada pilihan yang lebih profitable. eksistensi diri? ini untuk org2 yang percaya dg feminism dan-sorry- lack of self confident. Saat ikhwan dibebani keharusan mencari ma’isyah utk keluarga sehingga ruang2 da’wah profesi mengecil, bukankah akhwat yang notabene simbol riil dari da’wah bisa masuk ke ruang2 ini?

Antum ingin kerja sesuai bidang antum? go on!
Tapi lakukan dengan VISI, keinginan untuk mewarnai ummat dengan warna Islami. bukan sekedar ’selingan’ menunggu ‘jemputan’. Dan kita lakukan ini dengan profesional, sampai ke RT sekalipun. dan peghormatan thd prinsip syuro InsyaAllah akan menjadi prinsip penting dlm RT kita sebagai aktivis da’wah, patokannya adalah kontribusi kita pada ummat bukan diri kita sendiri.

Nafa’ni w iyyakum
 

Ta’aruf Vs Pacaran

Satu kalimat pembuka yang susah, mau tanya aja, ” Sudah punya pacar belum?” [ lho..?!?!? ]. Pacaran, sudah perkara basi untuk dibahas. Tapi kenapa juga, masih banyak orang yang pacaran. Bahkan kuantitasnya makin lama makin menjadi. Dan lebih miris lagi virus ini menjangkiti mereka yang katanya udah “ngerti” agama. Hayo..?!?!?

Teringat, sebuah pertanyaan teman ROHIS SMA yang sedang futur waktu itu. lantaran ada ikhwan yang menembaknya, [ wuih ternyata mati beneran ]. Dia pernah bertanya, ” Mang kalo mau menikah tanpa pacaran, mang bisa ?” Belum sempat saya menjawabnya ia emberondong lagi dengan pertanyaan yang lain ” Mang bisa kita menikah dengan orang yang ga jelas kepribadiannya?” ” Mang bisa kita langsung enjoy hidup dengan seseoarng yang kita kenal asal usulnya..?” ” Mang bisa…” Belum sempat aku menjawab, dia sudah ngeloyor pergi. Sebuah ekspresi yang sulit sekali aku melupakannya.[ Duw..]

Pacaran, kenapa dilarang?. Sudah ku katakan hal ini sudah basi untuk dibahas. Tapi ingatan itu masih terlalu jelas untuk tidak kutulis menjadi sebuah tulisan. sebuah tulisan yang tidak bermaksud untuk mendoktrin
, tidak bermaksud untuk menggurui, bukan maksud hati ingin menyakiti, dan bukan maksud hati pula sok suci. Open ur eyes, open ur mind. Sungguh.. i love u coz Alloh semata, tulisan ini kutulis untukmu. Sungguh, karena aku sangat menyayangimu, kuberanikan lagi menulis ini untukmu. Sungguh, karena aku sangat menghormatimu kubiarkan lentik jari terus menari.

Teringat lagi, sebuah perjalanan makan malam keluarga bersama umi dan abi. Warung sate, langganan kami. Tiba-tiba datang seorang bapak-bapak datang menyapa, memberikan setuas senyum kecil menawannya. kami-pun tersenyum padanya. Ada perasaan laen yang kurasakan, entah apa itu, hawa yang lain. Tiba-tiba pula datang seorang perempuan berjilbab kecil memberikan senyum manisnya untuk kami, kami-pun tersenyum padanya. Sungguh suatu aib jika membuka aib keluarga, tapi insya Aloh ini bukan aib. Seperti layaknya keluarga yang lain, manisnya keindahan keluarga kurang berasa tanpa garam. Begitu juga sebuah miniatur kebahagian keluarga adakalanya juga terkoyak oleh sesuatu apapun itu, namanya juga kehidupan ada suka dan duka saling melengkapi. Ceritanya, sehabis makan malam itu abi dan umi bertengkar. Sebenarnya ga mau nguping, tapi terdengar sendiri pertengkaran itu, hanya karena kedua orang yang kami temui di Warung sate malam tadi. Usut punya usut, ternyata kedua orang itu pada waktu mudanya pernah terlibat asmara dengan umi ataupun abi, katanya seh sempat pacaran. untung saja pertengkaran kecil tadi, cuman sebentar. Kalo lama-lama pasti saya udah nangis. [ hiks hiks ]

Dari sini saya berkesimpulan, mau ga mau hubungan 2 insan lain jenis, itu mampu menimbulkan kesan tersendiri. Entah itu nol koma berapa persen pasti ada kesan tersendiri, mungkin juga aku dengan kamu yang membaca tulisan ini pernah juga ada kesan. [ halah.. lha kok PD ]. So, boleh jadi kamu yang sekarang yang lagi pacaran, juga akan mempunyai kesan terhadap pacar kamu yang nantinya akan berefek ga baik pada keluarga yang kamu bina kelak.

Teringat lagi, akan sebuah cerita seorang temen yang suka ngajak curhat, ” Pacarku ga pernah bisa memberikan kebahagian kayak pacarku yang dulu.. ” ( sambil terisak-isak ) Saya harus ngomong apa coba, kalo diajak curhatan masalah beginian. Saya bilang nyeplos aja, ” Boleh jadi pacarmu berikutnya juga bilang hal yang sama seperti itu ” [ huu.. jahat banget seeh ]. saya juga ga nyadar juga, kata-kata sensitif itu akhirnya keluar juga, pada dasarnya saya benci pacaran, eh malah diajak curhatan beginian so hilang degh kesabarannya. Tapi ternyata ada ibrohnya juga, yups anda benar cewek tadi sekarang ga pacaran lagi [ Alhamdulillah tenan..]. Pacaran akan menimbulkan efek banding membandingkan.


Belum lagi kalo pacarannya ngenes, alias menyeramkan!. Dari sisi manapun. wanitanya selalu dirugikan. Yach, kalo cuman pegang-pegangan, kalo lebih dari itu lha sangat repot. Enak aja itu cowok, menikmati keindahanmu, sedang kamu ga diberikan imbalan apa-apa, paling-paling cuman rayuan, traktiran, dan barang pemberian, heran ya.. kok mau maunya keindahan diganti dengan barang yang kenikmatannya hanya beberapa detik saja. So, apa pendapatmu selanjutnya? masih mau pacaran?.

Terus kalo ga pacaran, gimana nikahnya?. Ya ta’ruf dong. Ta’aruf artinya perkenalan. Lalu berapa seseoarang memasuki tahap ta’aruf?. Sebenarnya ga ada dalil yang pas yang menerangkan dengan jelas. Tapi klo bisa ya secepatnya. Nah, yang ingin saya tekankan tuh disininya. Kadang memaknai ta’aruf dengan pacaran Islami. Jujur, saya sendiri sebenarnya paling sebel kalo nama sesuatu ditambah-tambahin dengan embel-embel Islami untuk melegalkan sesuatu yang semestinya tidak legal.


salah seorang teman pernah mengeluhkan, lha wong ta’arufnya sudah jalan selama 2 bulan eh kok ga jadi nikah seeh. Ya memang bukan jaminan, ketika ta’aruf langsung jadi nikah. Karena ada faktor x yang mungkin bercokol didalamnya. Trus ada teman lagi yang mengeluh, ” ihh ga syar’i banget seeh.. masak si ikhwan datang mulu ke kost..” yang lain nimpalin ” Eh gapapa no, khan mereka sudah ta’ruf 3 bulan lagi mau nikah ..”. Hah, jadi seperti ini potret remaja Islam kita. [ Sedih campur sebeel ]

Akhi wa ukhty yang namanya ta’aruf itu tuh bukan seperti pacaran Islami. Belum halal untuk dimiliki, walaupun sudah di khitbah. Khitbah ( peminangan ) itu aja sudah yang benar-benar mendekati fase-fase nikah aja masih belum halal untuk diperlakukan sebagai suami/istri. Egh ini malah-malah baru ta’aruf sudah seperti ini. ” Ya Muqollib Al qulub tsabiit, qulubananaa fii diniik! ” wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini selalu dalam agamaMu. Hati sesuatu yang tidak bisa ditebak, susah dimengerti, dan susah untuk dijaga. Seeiring berlangsungnya fase ta’aruf semoga hatimu selalu terjaga, masih terhijab olehNya, masih terhijab oleh takut akan siksaNya. Huallohu ‘alam saya nanti, tapi kalo sudah seperti kasus ini saya sangat benci. [ duw malah curhat..]

Saya sempet kaget, ada banyak metode berta’aruf dengan calon pasangan. Pernah saya berdiskusi dengan salah seoarng teman salafy [ entah salafy abu nida, atau abu isa, atau anu yahya]. Ta’aruf bisa dilakukan dengan 3 metode


1. Melihat muka dan telapak tangan. Ini hadis yang meriwayatkan ada lh0.. Telapak tangan yang bagus seorang wanita [ ini juga kata hadist neeh ..] yang runcing jarinya, dan di pangkal kuku ada putih-putihnya. Semakin lebar putih-putih
kukunya makin bagus, katanya seeh menandakan kesuburan wanita itu.
2. Melihat seluruh tubuhnya. Ya bukan calonnya yang melihat, tetapi menyuruh orang untuk melihatnya, apakah sesuai dengan keinginan atau tidak. Kalo tidak ya sudah dibatalkan, kalo sesuai ya lanjut. Tapi ada yang pernah bilang, calonnya juga gpp. [ wah pas waktu diskusi gitu, saya langsung marah-marah..! huu dasar ikhwan..! Fisik banget seeh]
3. Memberikan biodata diskripsi diri. watak dan fisik tanpa foto. Gitu ..
Beda lagi klo teman dari tarbiyah PKS [ hehhe bukan maksud hati menonjolkan golongan-golongan] hanya biar nampak aja perbedaan metode taarufnya. Setiap kader yang sudah siap nikah diberikan proposal pernikahan, jangan salah proposal nikah ini berbeda formatnya dengan proposal lembaga untuk nyari sponsorship [ hehe ]. setelah proposal nikah tadi diisi, bisa liat form proposal nikah di http:/dudung.net waktu itu masih ada tulisannya. Nah proposal berisi biodata diri, foto dan kriteria calon yang diinginkan. Boleh diberikan kepada calonnya langsung [ kl
o udah punya calon dan calon udah siap nikah juga ] atau diserahkan ke murrobi untuk selanjutnya diproses. kalo udah beberapa proses ta’aruf, eh ternyata ga jadi melulu, maka kader tadi akan diikutkan dalam dauroh. namanya Dauroh SAMARA. Ada 3 tahap dauroh SAMARA, dari dauroh SAMARA 1-3.Selang diikutkannnya dauroh, ia akan terlibat proses ta’aruf terus. Ya namanya juga dauroh SAMARA materinya juga mengulas tentang keluarga abis degh. Metode ini juga pas ta’aruf nya ditemani orang lain, biar syetan ga muncul diantara keduanya. So pacaran, metode pra nikah yang kuno dan ga syar’i berdosa lagi.

Tapi bagaimana mungkin bisa menjaga hati kalo ta’arufnya aja lama banget. Yach gimn lagi ada alasan ini alasan itu yang ga bis aditolelir, kunci nya cuman satu pren, jaga intensitas ketemu. Ga usah sering telpon-telponan, ga usah sering sms-an, klo tinggal nunggu kenikmatan sebentar lagi, kenapa harus nyuri-nyuri, kenapa ga sabar, sedang rosul saja begitu sabarnya menunggu aisyah sejak dipinang pada usia 9 tahun untuk menjadi istrinya, beliau juga manusia yang punya nafsu juga lho.. . Subhanalloh Rosululloh bisa, kenapa kita enggak. So benar-b
enar kita baru dalam kondisi istijrot, sedang diberi ujian kenikmatan maka janganlah lalai. Bahkan ada fenomena ngetek duluan, nembak dulu, nikahnya ntar pas abis lulus, duw lamanya, bisa tahan??. Bisa jamin kamu tidak mati dalam kondisi yang hati yang sakit karena ternodai?

” Sesungguhnya yang kutakutkan atas umatku adalah fitnah syahwat dan fitnah syubhat.. ” Rosululloh aja khawatir ke kita, kenapa tidak boleh aku khawatir terhadapmu.


Teringat lagi orang-rang kereen yang kukagumi, seoarng mbak kost ku dulu di AN-NISA. 3 hari sebelum hari H walimahan, ia mengumpulkan kami sambil makan bareng dia bialng kalo 3 hari lagi ia akan menikah, kita shock abis, kenapa ia ga cerita-cerita sama sekali ketika ia mengambil keputusan besar itu. Dan darinya kami tidak mendapati zina hati secuilpun, wuih kereen, bukanlah keren karena ia modis abis, bukanlah keren karena beliau cantik abis, tapi kereen yang bisa menjaga izzahnya sampai tak pacaran hingga pernikahan. Dan setelah hari H nya subhanalloh sekali ikhwan suaminya itu perfect banget keikhwanannya, sekufu degh. Sungguh alloh maha tahu, siapa yang terbaik untuk hambanya. Dan usut punya usut ikhwan tadi juga ga pernah tuh namanya pacaran, kereen tho. Semua pasti menginginkan yang masih benar-benar virgin hatinya, belum pernah menduakanNya, hingga akupun menginginkan orang yang menjadi pendampingku nanti adalah orang yang menjadikanku cinta pertamanya, belum pernah mencintai orang lain dan berpacaran dengan orang lain.. [ hehe .. just a dream ] Boleh jadi apa yang kita inginkan, tidak sama dengan apa yang kita dapatkan, semua Alloh-lah yang mengatur. Sekarang yang jadi kunci utamanya adalah perbaiki diri dulu, insya Alloh orang yang diberikan kepada kita adalah orang yang selalu memperbaiki diri, amien..!

” Sesungguhnya wanita yang baik untuk lelaki yang baik ”

saling memberi nasehat zaw, nasehati eva juga..
 

Posted in Campur. 0 Comment »

Dasar Akhwat [Part Three]

 Yiii-haaaa….
Pa kabar Prenz Fillah? Khoir kah? Alhamdulillaah…
Yup! Ketemu lagi dibagian ketiga cuap-cuap mengenai   si akhwat. Ada apa dengan akhwat?? Hmm..Sebelumnya qta dah bicarain 4 tipikal akhwat (hayooo…masih ada yang   ingat??). Sekedar mereview aja, 4 akhwat yang dah qta bahas “kemaren” yaitu: Akhwat LEMPER (LEMbut tapi PERkasa), Akhwat SOSIS (SOk SIbuk Sekalee), Akhwat NARASI (NARsis Amat Siee), dan Akhwat GRANAT (GR bANgAAAATTT). 


Nah, sekarang qta akan mengupas tuntas 4 “spesies” akhwat yang lain. Siapa saja mereka?? Mo tau…Mo tau??? Yak! Here we goes…..

5. Akhwat Dopping

Menurut Kamus Ilmiah Populer yang disusun oleh Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Doping adalah semua obat (ramuan, zat kimia) yang digunakan terutama untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan daya tahan (stamina) tubuh. (Lha trus???) Hohoho….jangan ketipu Pren, jenis akhwat ini sama sekali gak ada hubungannya ama pengertian di atas. Dopping (double P) yang ane maksud di sini adalah DOyan shoPPING (hehe…kecele…!) Aduuh…ampun deh, ni akhwat sukanya belanjaaaaaaaa aja! dari hunting buku, beli baju, jilbab baru, aksesoris, alat-ala
t perawatan en kecantikan sampe ngeborong makanan ringan (camilan). Intinya, bagi penganut paham Dopping ini, Shopping is number one (baca: doyan).
 

 *Model akhwat Dopping

Hati-hati ukh, hal ini bisa sangat merugikan kesehatan, terutama bagi kesehatan kantong. Dan bila sakit ini bertambah parah, maka bisa mengakibatkan penyakit yang paling ditakuti manusia. Apalagi kalo bukan..(jeng..jeng..jeng)…Kanker! alias KANtong KERing (Waduh, ane sangat prihatin sekali pada ikhwan yang mendapatkan tipe akhwat ini karena bisa tekor tuh suami..ck.ck..). Yaah…ane gak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya udah jelas banget deh efek yang bakal ditimbulkan dari hobby (baca: kedoyanan) yang menyesatkan ini. Ane cuma bisa berpesan, Wahai para akhwat Dopping, insyaflah dan kembalilah ke jalan yang benar (kalo anti gak mau dibilang “koncone” syetan coz pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syetan. hiiii….). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat…
Ayoooo donk akhwaaaattt….Hemaaaaaaaaatttt…!!!

6. Akhwat EM3

Hah? Gak salah tuh tulisannya? yang benar kan iM3 (yee….siapa yang ngomongin kartu perdana). EM3, cara ngebacanya emang sama persis dengan salah satu jenis kartu yang “diasuh” oleh Indosat itu. Tapi asal kalian tahu, akhwat EM3 belum tentu pengguna kartu yang paling diminati en digemari oleh kaum pelajar en mahasiswa tersebut. (murah gitu loch), karena yang ane maksudkan di sini adalah….kalEM, adEM, ayEM, yang disingkat dengan EM3 (jangan protes!).

 

   Model Akhwat EM3

Sesuai dengan namanya, akhwat ini emang lebih “jinak”, pendiem, en keep silent. Mungkin dari jenis-jenis akhwat yang udah qta bahas, tipe inilah yang paling sering qta jumpai. Doi terkesan lembut, manis, ramah, murah senyum, kemayu, bijak, tenang, ato malah sebaliknya??? Diam-diam, tapi menghanyutkan??? Wallaahu a’laam…Yang jelas, tipikal orang introvert seperti ini emang sulit ditebak karena dia tidak mau mengungkapkan apa yang dia inginkan dengan bahasa manusia pada umumnya, melainkan dengan ilmu kebatinan (heuheuh…emang bisa??).

7. Akhwat Dentis

Udah pernah denger istilah dentist kan? Yep! dentist dalam bahasa inggris berarti Dokter Gigi. So, akhwat Dentis adalah akhwat yang berprofesi sebagai dokter gigi (hehe…ngawur!). Dentis (gak pake ‘T’ di akhir kata) adalah singkatan dari DEmeN arTIS (hah? emanga da yah akhwat demen artis??). Oww…jangan salah Pren, Akhwat Dentis emang paling hobby mantengin berita-berita seputar artie en sebritis, apalagi kalo yang diliput adalah artis kesayangannya.
 

model akhwat Dentis

Do’i paling Up To Date ama urusan artis en sebritis. Dia selalu tahu kabar terbaru dari artis fulan en fulanah, lengkap dengan perkembangannya dari waktu ke waktu. Perlu diketahui, kebiasaan buruk ini akan mempengaruhi cara berpikir en apa yang diucapkannya, karena otaknya dah dipenuhi dengan artis, yang sering jadi topik pembicaraan gak akan jauh-jauh dari dunia artis en selebritis yang notabene kehidupannya glamour en hedonis. Barang koleksinyapun berbau artis idolanya. Sampe gaya-nya pun kadang ngejiplak ma stile artis kebanggaannya (Ck..ck.. Namanya juga Demen Artis….). Wuuaaah..Gaswat nih…!!
Bagi prenz Fillah yang menjumpai karakter akhwat macam ini, wajib untuk meluruskan dan mengingatkan saudaranya. Okey?!

8. Akhwat Tumor

Qta semua tahu, bahwa tumor adalah salah satu penyakit berbahaya yang timbul akibat pertumbuhan sel-sel yang tiada terkendali dan bersifat ganas. Yah! Tumor emang ganas. Apalagi jenis tumor yang satu ini. Dia akan sangat mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Penderita akan sangat sulit sekali melakukan kegiatan (rutinitas) dan mudah sekali melewatkan hal-hal penting yang seharusnya dia lakukan. Akibatnya tugas-tugas jadi berantakan dan terbengkalai. Karena doi tak kuasa menahan penyakit yang dideritanya. (Separah itukah). Apa itu? Yah! Tumor>>> TUkang MOloR (eits…jangan menyepelekan penyakit satu ini). Akhwat Tukang Molor bisa tertidur pulas di mana saja
dan kapan saja (bahkan tanpa kasur dan bantal sekalipun). Di kelas saat Dosen menerangkan, di tempat kerja, di kontrakan (apalagii…), di kajian-kajian, ketika liqo’, bahkan saat syuro pun ni akhwat bisa sukses tertidur dengan lelapnya tanpa mengenal ruang dan waktu.

 

  Model akhwat Tumor

Mudah sekali mengantuk, itu cirinya. Gak peduli dengan suasana dan kondisi saat itu. Sebagai contoh, ane pernah menemukan tipe akhwat macam ini di kontrakan sendiri (ops!), yang sewaktu pulang kuliah di siang bolong (padahal di luar sana mentari sedang bersinar dengan teriknya, puanaass banget), eh si akhwat tiba di rumah langsung tergeletak tak berdaya, tidur pulas dengan jilbab rapi dan kaos kaki masih menempel di kaki (ane cuma bisa geleng-geleng kepala, ternyata bukan cuma suasana hujan yang enak dibuat bobo). Yaah..mereka memang tak mau peduli, yang penting tidur dan bermimpi…ZZzzzzzzzzz………………………………

Dasar Akhwat!

 

 Eh, masih nyambung lho yaaah….. 


 

 

Poling Khusus Ikhwan: Apa pendapat antum tentang akhwat...

Poling Khusus Ikhwan: Apa pendapat antum tentang akhwat... 

Assalamu alaikum

Sehubungan dengan buku yang tengah ane tulis, ane membutuhkan bantuan dari antum untuk menjawab beberapa pertanyaan ini.

A. AKHWAT DANDAN
Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum suka dandan? (Ya/Tdk)
Apa alas an dan pendapat antum tentang akhwat yang gemar dandan?

B. AKHWAT TIDAK BISA MASAK

Apakah antum keberatan jika istri atau calon istri antum tidak bisa memasak? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang tidak bisa memasak?

C. AKHWAT AKTIVIS
Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum aktif berdakwah di luar rumah? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang aktif berdakwah di luar rumah?

D. AKHWAT BELAJAR

Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan paling tinggi? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan paling tinggi?

E. AKHWAT ‘NEMBAK’ DULUAN
Apakah antum keberatan jika seorang wanita ‘nembak’ (mengajukan diri untuk dinikahi) duluan? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang ‘nembak’ duluan?

Mohon diisi pertanyaan di atas poin per poin. Untuk para akhwat, afwan karena ane membutuhkan pendapat ikhwan, maka disimpan dahulu keinginan untuk turut mengisi atau menjawab pendapat para ikhwan.

Dan agar tidak terjadi polemic, sangat diharapkan balasan email ini dikirimkan via evans(jalur pribadi) ke: diva_evans@yahoo.com


Jazakumullah khoiran katsira

Salam

Evans

 

Drama babak ON Akhwan Nembak Duluan

wah, judulnya menyeramkan! lah, kalo ikhwan ditembak akhwat gimana mau bereaksi, pasti udah mati kan.... kecuali kalo pistolnya ga ada pelurunya  
weheheheh.... mbukan nembak pake pistol loh... nembaknya pake gini nih......

<<drama satu babak ON>>
Akhy yang baik hati.....
sebenarnya, ana sudah lama menaruh perhatian kepada antum.... ana sudah lama tau, antum orang yang sholeh...baik hati....ramah....sabar...peny ayang...
pokoknya, semua kriteria ikhwan idaman yang ana impi2kan ada di antum semua....
terus, ana dengar, antum juga udah siap menikah...
<<akhwatnya diam sebentar. menunduk malu-malu, pipinya memerah>>

akhi yang baik.... afwan kalau ana lancang....
mm.... apakah antum sedang proses dengan seorang akhwat?
<<akhwatnya terdiam lagi. menunduk malu-malu, wajahnya memerah, tangannya mempermainkan ujung jilbabnya. ceritanya, ikhwannya menjawab belum

*pasti suaranya bergetar*>> 

mm... kalau begitu.... Bismillah ya akhy...daripada kekaguman ana ke antum bertambah besar dan sulit dihilangkan..... sehingga menyebabkan ana jatuh cinta buta....lebih baik ana sampaikan saja...supaya perasaan ini tidak berlarut-larut....
<<akhwatnya terdiam lagi. menunduk malu-malu, wajahnya memerah, tangannya mempermainkan ujung jilbabnya. ikhwannya berdebar-debar menanti.. hihi:>>


akhy yang baik.....
bersediakan antum menjadi imam bagi saya, menjadi pemimpin rumah tangga saya, dan menjadi pendamping hidup saya, dalam cinta dan sayang di dalam naungan keridhoan-Nya?
bersediakah antum menampung cinta dan harapan hati saya?


SELESAI ---------------------

 

nah, gimanah reaksimuh?  
 

Akhwat Nembak Duluan

 Assalamualaikum Wr.Wb

Mari kita amati tulisan saudara kita di bawah ini, silahkan di komentari dan kalau setuju jalankan sekalian, dengan penuh semangat. Bagus apa yg disampaikan ukhty kita.

tapi...slogan di awal yg dipakai ga ada yg lain kah?? kenapa masih saja loyal dengan slogan2 itu? apa ga ada yg di hasilkan ulama2 kita? bukan berarti kita tidak bisa mengambil nilai postifnya,

ana kira slogannya menafikan takdir Allah SWT, ekstrim sekali yah...sebagaimana apa2 yg disampaikan ukhty di tulisan2 nya juga ekstrim..meski tujuan sangat mulia, silahkan ukhty hanan komentari yah..juga ukhty2 yg lain

perlu untuk ukhty ketahui...pernikahan, adalah idealnya memang seperti apa yg di paparkan ukhty kita ini, namun
jangan sekali-kali menggampangkan urusan yg satu ini

bukan bermaksud memberikan sanggahan atau sejenisnya, namun tetap perbuatan yg mulia ini-pernikahan-haruslah dengan penuh persiapan yg maksimal dan dengan kesungguhan kemampuan.

bagi saya..sesuai dengan yg dikatakan ust.Anis Matta, pasangan yg dicari bukanlah yg kaya, ganteng atau segala kelebihan lainnya, tidak semua orang ganteng butuh yg cantik dst...yg benar adalah setiap manusia butuh pasangan
yg "tepat" baginya, kita bisa saksikan istri2 dari ulama2 dunia, terkenalkah?

dan banyak orang2 sukses lainnya yg istrinya hanya biasa-biasa saja, apa yg kita ketahui ttg istri yusuf al qaradhawi? aid al qarnhiy?benazir buto? dan banyak tokoh2 lainnya, sekali lagi pasangan yg TEPAT yg dibutuhkan setiap orang, itulah yg semestinya.

kenapa belakangan ini, banyak sekali..bahkan begitu gencar diadakan seminar2 ttg nikah ini...bahkan ana kira sudah melebihi sekali

ukhty rahmie yg menulis ini, berarti ukhty juga setuju dengan poligami?? kenapa tidak ukhty
gencarkan di tulisan ini, bukan kah itu hal yg mulia?? disyariatkan oleh rasulullah SAW

saya teringat, pada hakekatnya saya setuju dengan yg ukhty sampaikan, namun penuh pemahaman yg luar biasa untuk merobahnya sehingga akhwat dan ikhwah2 mampu seperti apa yg disampaikan di tulisan uhkty

satu lagi...tidak semua hal yg di HALALkan-spt hal akhwat nembak ikhwah dan juga poligami-harus atau mesti kita jalankan.

ukhty fillah...apa yg dicontohkan oleh ukhty kita ttg bersileweran di jalana
n,
berboncengan dan sebagainya adalah yg dilakukan orang2 ammah, sementara menurut pemahaman ana tulisan ini ditujukan pada kader dakwah yg aktivitasnya di penuhi dengan kebaikan2 dan interaksi dengan al quran

apakah ukhty memungkiri..klo sekiranya belum sanggup, berpuasalah. hal ini dilakukan saudara2 kita yg menegakkan diin ini dengan penuh semangat.

lalu, knp tulisan yg bagus ini-ana yakin ini memprovokasi kita semua-dilengkapi dengan contoh2 yg tidak ditemukan pada saudara2 ukhty? klopun ada itu kasus.

ukhty fillah...semestinya , tulisan ini di dahulukan dengan persyaratan dan persiapan2 pernikahan dan segala macamnya, dikhawatirkan, ada yg membaca ini, lalu langsung menjalankan tanpa perhitungan.

sesungguhnya...tidak hanya pernikahan lah satu2 cita2 kita.

bagi yg akan nikah , jangan lupa undangan untuk Balikpapan ya....

 
 
Nembak duluan? Jangan takut!

NEMBAK DULUAN? Jangan Takut!




Yang pasti-pasti aja!”

Ingat slogan iklan TV ini? Bukan untuk mempromosikan minuman produk Amerika yang membantu kaum zionis Israel itu, tapi dalam kalimat ini, saya sependapat. Betapa banyak hal di dunia ini yang tidak pasti dan sangat rawan untuk
terus difikirkan. Angan-angan berpanjangan bisa meluap dari situ. Baik, langsung saya spesifikkan, misalnya dalam mencari pasangan hidup.

Seorang perempuan yang sudah baligh sebenarnya adalah adalah kewajiban wali, orangtuanya lah untuk menikahkan dengan laki-laki yang sholeh. Alternatif lain, kumpulan orang-orang shaleh di sekitarnya bisa menggantikan peran itu. Tapi tidak selalu dua kondisi itu bisa digenapkan. Misalnya orangtua tidak bisa memutuskan mana laki-laki yang sholeh atau setelah sekian lama, belum ada ikhwan yang tergerak untuk melamarnya. Sedangkan urgensi menikah itu semakin kuat menelusup di celah di jiwa, kerinduan akan membangung keluarga Islami memuncak, ketakutan tergelincir pada kemaksiatan yang semakin membumbung atau kasus-kasus tertentu yang membuat pernikahan harus segera dilaksanakan. Kadang kata akhi Salim A fillah,dalam bukunya Agar Bidadari Cemburu Padamu, menawarkan diri bagi akhowat adalah pilihan yang agung.

Menawarkan diri pada lelaki yang pasti. Pasti agamanya, pasti kualitas akhlaknya. Di sini yang tak pasti cuma
satu,diterima atau tidak. Dan ditolak bukanlah kehinaan, hanya ladang kesabaran yang insyaAllah menjadi taman-taman berbunga cantik pahala. Daripada menunggu yang tak pasti, tak pasti agamanya ,tak pasti akhlaknya. Bahkan tak pasti pula datangnya.

Memalukan! Tradisi mengajarkan kita demikian. Perempuan yang menawarkan diri untuk menikah pada laki-laki dianggap tidak tahu kesopanan. “Kaya ngga laku aja” atau “Kegatelan banget sih cewenya”. Komentar seperti itu sungguh kejam dan tidak adil. Apakah memalukan untuk menggenapkan setengah dien, separuh agama? Adakah dal
am ingatan Anda, ibadah yang melebih setengah agama? Sementara perempuan yang berseliweran berboncengan, nonton berduaan, di café-cafe berpegangan tangan adalah hal yang dianggap hal biasa. Sudah jelas, kebenaran dan kemuliaan tidak terletak pada pendapat orang kebanyakan.

Ada juga yang mengemas pemikiran kuno itu dengan bentuk yang tampaknya lebih elegan “ Kalau imannya kuat, pasti dia akan sabar menunggu ikhwan datang melamarnya” 

Hhh..saya hanya bisa menarik nafas panjang sambil menuturkan cerita ini.


Anas ibnu Malik, Radhiyallahu ‘Anhu berkata: 


Ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia menawarkan dirinya kepada Rasulullah “Apakah engkau membutuhkan diriku?”. Anak perempuan Anas hadir dan mendengar kata-kata wanita itu, lalu berkata ”Alangkah memalukan dan betapa buruknya”. Mendengar itu, sang ayah (Anas ibnu Malik) menyahut ”Dia jauh lebih baik darimu nak. Wanita itu mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya kepada beliau” (HR Al Bukhari). 

Dengarlah, dia jauh lebih baik dari kamu!

Atau bahkan ada beberapa “oknum” ikhwan yang entah dari mana mendapat generalisir ini “Kami,para ikhwan, pada hakikatnya punya insting memburu, dan aneh sekali bila akhowat yang mendekati” 

Coba tengok lagi cerita tadi, adakah Rasul berkata “wahai wanita, aku seorang laki-laki, tidak pantas bagimu menawarkan diri”?

Dan bisakah sekarang Anda menjawab, wahai lelaki, siapakah engkau dibanding Rasulullah??

Ohya, perlu sekali saya tekankan, saya tidak sedang bicara tentang “nembak” dengan senjara berlaras itu lho…Ngerti
aja kan? Tapi juga bukan tentang “nembak” seperti yang muncul di reality show yang mengklaim dirinya reality show cinta pertama di Indonesia itu. Sungguh, bukan itu. Kalau nembak jenis itu sih, saya sangat berharap Anda sudah mengerti tentang ketidakbenarannya. Nembak yang mulia bukan aplikasi kreatif ketidaksabaran, kekonyolan dan maaf, agak tidak tahu malu terhadap pelanggaran perintah Allah seperti itu dan jauh sekali dengan ikatan suci pernikahan. Tapi sssttt, katanya rating acara itu selalu tinggi. Anda tidak termasuk salah satu yang menaikkannya kan?

 Ohya (lagi), saat perempuan mengajukan diri untuk menikah, itu juga harus melalui pertimbangan dan cara-cara yang mulia. Ga mungkin dong, ketemu di perempatan lalu langsung minta dinikahi? Hehehe.. Bisa dengan minta diwakilkan orangtua, atau lewat orang-orang sholeh yang bisa dipercaya. Dan sudah seharusnya ada musyawarah sebelumnya dengan mereka dalam hal pemilihan calon agar sisi subjektif dapat dikendalikan. Misalnya karena dilihat cakep, sarjana, mapan kerjanya, kita menjadi lupa pada sisi akhlaknya yang pas-pasan. Tidak salah sih bila menginginkan ikhwan ganteng, pinter dan sebagainya tapi pertimbangan agama dan akhlaknya haruslah yang utama. 

Hasan bin Ali berkata “ Nikahkan puterimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bila ia mencintainya pasti akan menghormati dan memuliakannya dan bila ia tidak mencintainya pasti ia tidak akan menzhaliminya”


Sambil berikhtiar, jangan lupa sholat Istikhoroh berulang kali. Petunjuk Allah adalah kemestian yang mesti dimohon selalu. Agar kita tidak menjadi hamba yang disindir Allah lewat ayat ini. 

…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al Baqarah :216)

Kadang sebenarnya, bukan karena ketidaktahuan yang membuat para ikhwan melambatkan pernikahan. Tapi semata karena ketidakpedean terutama masalah mahar dan ma’isyah. Nah, akhowat yang seyogyanya
juga ikut meyakinkan mereka bahwa Anda berani untuk menanggung bersama. Berani menjalani proses kehidupan apapun bentuknya. Kegembiraan, apalagi kesusahan. Anda berani, bukan? 

Ya, karena kadang ikhwan-ikhwan itu perlu dipecut agar tidak lagi menjadi pengecut. Agar mereka bertambah kuat iman kepada rezeki Robbnya dan tambah kreativitasnya. Pernikahan terbukti adalah salah satu bentuk media percepatan diri yang sangat efektif. 

Lalu, biarkan Allah membantu.

 Sudah ya, kita tutup dulu pembahasan ini. Sekarang waktunya menajamkan usaha memperbaiki diri dan memperkokoh niat. Memang perlu perjuangan untuk mengubah masyarakat dengan tradisi-tradisinya. Tapi setidaknya Anda tahu bahwa tradisi itu harus diubah. Dan Anda bisa memulainya lebih dahulu.  

Dalam suatu pertemuan, ada seorang teman berseloroh “ Jodoh itu di tangan Tuhan, tapi kalau tidak diambil-ambil, ya akan di tangan Tuhan terus”

Hal itu tidak urung memancing tertawa teman-teman yang lain, termasuk saya juga. Tapi untuk anda, wahai perempuan, semoga kelakar tadi semakin menguatkan. 
  ***


*untuk murobbiyahku tercinta...
"ini utang tulisannya mba...kisah kemarin sudah ada endingnya, bukan sad atau happy ending, tapi insyaAllah its the best ending...^_^ jazakillah untuk semua dukungannya ya mba sayank..."

 

BY Evans

SABAR MENYONGSONG PERNIKAHAN

                                                                                         

Sikap sabar sangat diperlukan manusia ketika ditimpa ujian, ketika menunggu sesuatu, dan ketika ingin berubah.

Bagaimana dengan urusan menikah ?
Membahas pernikahan berarti membahas masalah taqdir. Dan inilah ujian bagi sang penanti, sabar menanti datangnya jodoh dengan meyakini rahasia ALLAH tentang yang satu ini.

Ujian ini sangat lekat dengan ujian aqidah. Tidak sedikit orang yang berputus asa untuk menjemput taqdir ini, bahkan ada yang sampai bunuh diri. Bahkan syetan yang ingin memperbanyak temannya di neraka menyusup, menggoda manusia untuk mencari peruntungan jodohnya ke dukun. “Cinta ditolak, dukun bertindak..” begitu katanya.


Seorang hamba ALLAH yang sholih tidak seharusnya tunduk kepada kemauan syetan, lantas menyerah dengan ujian ini. Maka, kesabaran sangat diperlukan. Ada tiga kesabaran yang perlu ditanamkan dan diperkuat dalam jiwa sehingga menjadi tembok besar penahan ujian. Sabar dalam ketaatan, sabar dalam menghindari maksiat, dan sabar dalam menghadapi musibah.

Sabar dalam ketaatan, artinya teguh menjalankan ketaatan-ketaatan yang diperintahkan oleh ALLAH dan RasulNYA. Seorang penanti yang sabar akan selalu teguh dijalan ketaatan, sehingga proses-proses yang dijalani menuju pernikahannya pun dijalankan sesuai ketentuan dan ketetapan ALLAH dan RasulNYA. Mulai proses pencarian,
perkenalan, silaturrahiim, khitbah, sampai ijab kabul semuanya berjalan di atas rel ketaatan. Dan niat yang ikhlas karena ALLAH SWT adalah kuncinya. Karena syetan tidak akan berhasil menjerumuskan orang yang ikhlash.

Sabar dalam menghindari maksiat, artinya seorang penanti senantiasa teguh menanti dengan menghindari seminimal mungkin godaan-godaan yang melintas di depannya. Kedekatan kepada ALLAH menjadi kuncinya, yaitu melalui ketaatan yang terus menerus. Sesuatu yang diisi dengan kebaikan, maka keburukan akan menjauh.

Musibah kapan saja bisa terjadi, termasuk berkaitan dengan persiapan pernikahan. Ada yang calonnya meninggal di waktu-waktu dekat pernikahan. Ada salah satu pihak yang tiba-tiba membatalkan saat undangan sudah menyebar.
Inilah ujian yang bisa saja menimpa dengan sekonyong-konyong. Keyakinan kepada ALLAH dan taqdirNYA menjadi penguat langkah untuk tegar mengahdapi musibah.

Sabar adalah kekuatan seorang mukmin. Tetapi sabar bukanlah pasif yang hanya menunggu tanpa berusaha dan berdoa. Sabar dalam usaha dan doa adalah termasuk sabar dalam ketaatan.


ALLAH telah berfirman,

“Sesungguhnya ALLAH tidak akan merubah keadaaan sebuah kaum sehingga ia merubah apa-apa yang ada pada dirinya “( Ar Ra’d : 11).

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat “(Al Baqarah : 153 )

Wallaahu a’lam, semoga kita semua dikaruniai kesabaran dan keikhlasan dalam menempuh jalan ketaatan. Aamiin .


Posted in My Self. 0 Comment »

Sabar n Ikhlas, That’s the Key

Berbicara tentang kehidupan, mungkin akan banyak yang berubah dari masa ke masa. Makin banyak asam garam masuk ke tubuh kita, semakin banyak pula seseorang banyak belajar tentang kehidupan, entah suka maupun duka. Tapi sebenarnya ada esensi yang ga berubah dari zaman ke zaman, yang membuat seseorang terus mampu untuk menengadah menghadapi hidup. Tak ingin banyak berkata, mungkin saya ga sepintar anda yang membaca tulisan ini, saya hanyalah seorang anak kecil yang berbicara tentang kehidupan yang sederhana. Tapi harapan dan semangat berbagi akan tetap ada dalam setiap goresan tinta yang terukir.
< BR>
Hati seseorang seberapa bening, tak ada yang tahu. Hati seseorang seberapa tulus mencintai, tak ada yang tahu. Hati seseorang seberapa sabar menghadapi uji, pun tidak ada yang tahu. Hanya seseorang yang memiliki hati itu sendiri dan Zat yang Maha Mengetahui. Karena memang begitulah karakteristik amalan hati, ia tak bisa berkata, pun ketika berkata belum tentu kenyataanya demikian. Sedalam-dalam lautan pun masih ada lautan lain yang masih dalam.
Sederita luar biasa yang kita rasakan ternyata ada yang lebih menderita. Dan justru ketika kita melihat orang yang menderita, ternyata ia sendiri tidak merasakan deritanya sebagai suatu penderitaan. Memang aneh dunia ini, semuanya serba semu, ga ada yang Trivial [Trivial bahasa Fisika artinya Jelas!].
< BR>
Mari saling berpegang, biar tidak saling jatuh. Berpegang dengan apa yang telah kita lihat dalam kehidupan ini. Saling menceritakan apa yang kita lihat, saling menguatkan dan saling mendoakan. Semoga kita termasuk orang yan
g cerdas dalam bersahabat dengan kehidupan.
< BR>
Teringat, 2 tahun yang lalu saat saya KKN, saya ditembak teman-teman untuk mengisi kajian ibu-ibu [weks! Yang benar aje men!]. Klo nembaknya 3 hari atau 2 hari sebelumnya mah ga begitu masalah, ini ga ada H-3 jam [pendholiman masal neeh!], selama ini ngisi kajiannya untuk kalangan mahasiswa egh tahu-tahu disuruh di kalangan ibu-ibu ga ada persiapan lagi, tapi ga ada alasan untuk menolak. Tarik nafas, dan lakukan yang terbaik. Untung saja, saya punya teman didaerah sekitar tempat kajian, akhirnya menyabotase buku-bukunya.
< BR> Gaswatnya, tahu-tahu semua dalil yang duluw pernah dihapal hilang semua, tenang… masih ada sms, segera saya sms teman-teman suruh ngirim dalil materi kajian. Bingung juga waktu itu mau ngisi materi apa, yang kepikir adalah ‘sabar n ikhlas’. Pfiuh, diluar perkiraan ternyata ibu-ibu nya bisa nyanthol, dengan bahasa yang cukup belepot jawa –nasional, n kontemporer, giliran kontemporer si ibu-ibu pada lingak-linguk. Pun saya ga sadar klo saya pake bahasa planet untuk mereka. Tapi mungkin ujian kesabaran n keikhlasan saya waktu itu ga sederas akhir-akhir ini
. Dan malam ini saya kepikiran nulis ini karena terlalui mengusik kepala, setiap masa usia ujiannya berbeda-beda, kita nganggepnya ujian bagi yang lain entheng tapi ternyata bagi orang itu.
< BR>
Samudra itu bernama hati, hati yang bisa merasa saat kita sedih atau senang. Namanya samudra, ya harus luas. Nah itu dia, meluaskan hati dengan sabar n ikhlas, that’s the keys. Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kita kesusahan untuk menguji.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, ia telah siap memberi yang lebih baik.
< BR>

Sabar, sabar, ikhlas dan ikhlas. Belajar ikhlas lebih susah daripada belajar kuantum. Belajar sabar pun butuh jam terbang tinggi. Seorang anak kecil dengan kulit terbakar matahari sambil membawa koran, seakan ia berkata mungkin kau lebih beruntung dari padaku teman, ya mungkin kau lebih beruntung karena kulitmu putih bersih, tanganmu tidak kotor seperti kami. Dan seorang bapak dengan kacamata minusnya pun berkata pada dirinya, mungkin aku tidak seberuntung si A yang bisa menyekolahkan anaknya hingga ke Yogya, dan mungkin kita-pun tak tersadar pernah berbisik andai saja ku punya lebih dari yang lain, punya keelokan fisik lebih, kepintaran otak lebih, teman-teman yang banyak, punya pendamping hidup yang cuantik n gantheng, punya penghasilan yang buanyak dsb. Ukuran normatif dunia, standard penentuan derajat martabat seseorang.
< BR>
Sabar, sabar, ikhlas dan ikhlas. Kunci keindaha
n dalam hidup, dan kecantikan hati. Saya mengenalnya sebagai anak kecil, anak kecil yang belum tahu banyak tentang kehidupan. Hingga saya akhirnya harus mendelete asumsi saya tentang dia. Namanya de’ Ani. Seorang gadis kecil yang manis, periang, seorang aktivis rohis di SMP nya. Saya paling suka melihat mata seseorang, ada sesuatu yang luar biasa dimatanya. Tak ada hujan tak ada angin dan tak ada badai, sebuah kanker leher stadium 4B merangkulnya. Sudah bergelas-gelas muntahan darah yang ia muntahkan setiap hari, sudah sangat kurus badannya. Dokter sudah mematoknya ga bisa sembuh dan umurnya sudah tidak lama lagi, ia tak sama sekali sedih dengan hal ini, apalagi ibunya terus optimis, dan keoptimisannya itu membuat saya tidak kuat memakan makanan yang begitu banyak terhidang di meja makan kala itu. Terasa berat walau hanya dengan menelan ludah. De Ani.. andai kau tahu kau orang yang hebat, gadis kecil yang hebat dengan mata yang indah. Indah karena kesabaran dan keikhlasan. Semoga Alloh memberi kekuatan lebih pada-mu de’…
< BR>
Selembut sutra kasih, kasih yang disulam dengan harapan dan doa setiap saat. Doa dalam tetes air mata pelabuh kapal impian dan cita-cita. Ketenangan adalah maharnya, kebahagian adalah lilinnya, dan pengertian adalah lambang cintanya. Bersemilah terus dihati duhai perindu cinta. Bunga tidak mekar dalam waktu semalam, kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan. Semua proses yang baik, butuh kesabaran yang lebih. Kupu-kupu yang cabtik, harus rela digedong sebagai kepompong. Mutiara yang elok haru
s rela bersemedi lama untuk menghasilkan warna yang gemilang. Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan. Begitu pula perjuangan rosul menyebarkan cinta untuk umatnya, tidak hanya satu tahun. Cinta yang suci berbuah sabar dan ikhlas untuk semuanya, untuk sesuatu yang lebih baik.
< BR>
Kadang Allah mendatangkan Petir, Menyembunyikan Matahari Dan kita menangis dan bertanya kemana hilangnya matahari, Rupanya kita tak tau akan diberi pelangi olehNya.
< BR>
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan
mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS 18:28)  
< BR>
Jangan terus merasa rapuh, karena banyak yang membersamai langkah kita. Sabar n ikhlas mungkin susah untuk dikedepankan saat ini, tapi harus selalu dibangun sebagai fungsi logaritma dasar kehidupan. Kala bibir digigit, tangan menggenggam pasrah, bola mata menciut, air mata meleleh, menahan sakitnya derita dan ujian, kau tahu dan kau rasa kita saat ini kita berada dalam kondisi paling lemah, tapi sebentar lagi Ia akan berikan kenikmatan yang terhingga harganya. Biarkan kesakitan-kesakitan ini menjelma menguasai jiwa, semoga ia mengganti rasa sakit ini dengan kenikmatan dan keberkahan, ketika kita sudah sabar n ikhlas dengan sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kita. Sabar n ikhlas its the keys. Semua nikmat yang ada di diri kita adalah amanah, bukan suatu hukuman atau pemuliaan. Dalam riuh batinmu, apapun itu sebahagia atau semenderita kau saat ini, selalu memohon untuk semua tera
sa nikmat untuk dijalani, biarkan kata-kata ini menjadi teman dalam hatimu.
< BR>

“ Pengetahuanku tentang diriku atau tentang apapun amatlah sangat terbatas, sedang pengetahuan Alloh meliputi segalanya, Ia maha tahu apa yang terbaik bagi ku sedang aku tak tahu apa yang terbaik bagiku, keputusannya selalu yang terbaik, dan diriku pun harus husnudzon terhadap semua keputusannya. “
< BR>
Created special for
1. Seorang teman yang baru saja saya kenal (belum 7hari) dari web ini, lanjut via YM. Seorang ukhty yang mempunyai episode hidup dalam pertarungan kehidupan, semoga tetap bisa istiqomah ukh… Ujian ku tidak seberapa dibandingkan ujian anti. Ya mungkin saya jadi kebukak kenapa saya harus mengeluh terus sementara bersyukur lebih banyak menuai hikmah. Berusaha yang terbaik dan berusaha untuk menjadi orang yang baik, dan juga berusaha untuk menjadikan baik orang lain.
< BR>
2.Seorang adik angkat, Muh Adhib Ulil Abshor Barokallohu lakum .. semoga pernikahannya penuh dengan berkah, (28 Februari 2008). G aada petir ga ada hujan, ternyata ngambil jalan yang ini, met menempuh hidup baru ya Dhib..

< BR>
3.Sahabat saya, Ian Aswad barokallohu lakum.. semoga pernikahannya penuh dengan berkah (9 Maret 2009). heheh sahabat yang baik banget! Lucu keinget yang duluw, saya di kaderisasi beliau mas’ul nya, yang mimpin syuro n liqo bidang ikhwan beliau, anehnya yang disampaikan kultumnya selalu aja tentang nikah dini, waduw blenger n stress imelnya, lawong mahasiswa baru dagh dicekokin beginian, alhamdulillah sekarang dagh bisa ngebuktiin apa yang dikultumkan selama ini, hehe! Saluts pak!!
< BR>
4.Seorang teman, Mas Dyan barokallohu lakum.. semoga pernikahannya penuh dengan berkah ( Agustus 2009).
Undangane oey oey gek ndak di sebar, selak penasaran.
< BR>
5. Ellyn (16 Juli 2009 ) Barokaohu lakum.. hv a nice trip in the word, happy anniversary
 

ck…ck .. GB gitu?

 ” ck..ck.. abang itu ga mo liat gw..padahal khan gw cuma mo nyerahin ni proposal.” Keluh seorang cewek di remang-remang jalan. Yang diajak bicara menimpali ” takut jatuh cinta kali” disambut tawa
keduanya.


Ehm, Godhul Bashor (GB) begitulah saya menyebutnya. Godhul Bashor secara harfiah artinya menundukkan pandangan. Anda tahu, menundukkan itu apa?, Berbeda lho ma ospek di kampus sang tatib menjerit ” Tunduuuuuk De’!!!”. Aturan yang membatasi sebagai hijab antara ikhwan dan akhwat. Kenapa harus ada hijab, ya untuk membatasi keduanya untuk melakukan ikhtillath.

Terus terang saya menulis artikel ini bukan untuk menggurui saudara semua. Atau justru saya yang harus banyak berguru pada pembaca sekalian. Artikel ini dibuat tidak lain untuk menasehati diri saya sendiri karena pikiran iseng
saya, yoa lanjut.

Ikhtilath(campur baur dengan lawan jenis) jelas ga boleh,semua setuju itu. Tapi seberapa batasannya, suatu yang abstrak dan siapa yang berani memberi batasannya. Sangat mungkin sekali terjadi ‘dzon-dzon’ walaupun itu sangat sedikit. Tapi bukan karena hal itu, kita menjadi makhluk yang tidak bersosialisasi dengan yang lain. Masalahnya adalah bagaimana cara kita memanage agar pada ’sebelum’,’saat’, dan ’setelah’ pertemuan itu tidak membekas sesuatu apapun dari pihak lawan jenis. Sekali lagi ini tentang pertemuan ikhwan dan akhwat, mungkin masuk kedalamnya syuro’.


Dari pembuka artikel ini riskan memang, inginnya menegakkan sunnah dengan GB, tapi dimaknai lain oleh orang lain yang tidak sepaham dengan kita, apalagi ranah umum sosial dan budaya, ranah kampus lagi.Saya jadi berpikir kembali, memangnya yang disebut GB mempunyai arti sesempit itu. Menurut saya istilah ghodhul bashor bukan sekedar ghodhul ‘ain, meskipun kita bisa melakukan ghodhul bashor dgn cara ghodhul ‘ain. Tapi tdk setiap ghodhul ‘ain itu berarti bahwa seseorang sudah tunduk bashornya. bashor sama ‘ain itu kan beda…orang buta sangat bisa jadi punya bashor walaupun a’innya ga
bisa melihat. Pandangan merupkan racun bagi hati, sepakatkah? “Firman Allah dalam QS An-Nuur : 31 mewajibkan kita untuk menundukkan pandangan. Sabda Rasul : “Pandangan itu merupakan salah satu panah iblis.” Untuk hijab setinggi dan sebesar apapun takkan bisa menghijab diri kita apabila bashor kita tdk tunduk, tdk tenang, dan selalu
jelalatan tapi ga ada larangan utk make hijab kain kok… tapi ingat bahwa kain cuman alat pembantu diri kita utk berhijab!
kumaha? bisa dipahami kan?

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…” (An-Nur: 31)
Dalam tradisi pemikiran Islam hal semacam ini kayaknya juga dikenal
. Ada kaedah Ushul Fikh yg berbunyi: “Al-’Ibratu bi ‘umuumi’l lafdzi laa bi khushuushi al-sabab”, artinya satu teks itu harus dipahami sesuai dg maksud umum yg dikandungnya dan bukan sesuai dg penyebab khusus munculnya teks tsb. Memang ada kaedah tandingan yg berbunyi: “Al-’Ibratu bi khushuushi al-sabab laa bi ‘umuumi’l lafdzi”, hanya saja sebagian besar ulama berpegang pada yg pertama.

Nah, sekarang kita pahami bersama bahwa godhul bashor itu sunnah tidak hanya menundukkan mata tapi juga menundukkan hati. Berproses menuju kesana bukan langkah yang sangat mudah, tapi perlu perjuangan. Semangat Mel… ^0^!!

Sebenarnya Ghadhul Bashor ini hanya merupakan salah satu cara untuk menjaga / menahan (iffah). Masih banyak teman-teman Ghodul Bashar lainnya misalnya memelihara sikap malu, tidak banyak bercanda,tidak berkholwat,tidak berjabat tangan dengan laki-laki dsb.

Saya jadi teringat, kemaren salah seorang teman bertanya ” Mel, gimn cara godhul bashor.” Saya tersenyum tipis, Kalau secara teknisnya siih mungkin yang ikhwan cuma melihat di ujung-ujung jilbab akhwat saja, tidak melihat wajah. Saya rasa ini cukup untuk menjelaskan Ghodul Bashar untuk kategori Godhul ‘ain. Tapi untuk ranah lainnya umum dan antum rasa tidak bagus kalo melakukan GB ya Hijabi hati antum saja.[^_^]

Karena mungkin waktu itu saya masih ngeblank [he.he.he..biz ujian] saya jawab sekenanya ” Nikah Aje..!!”
Tapi Buru-buru saya cek lagi, ada pembatasnya bung… !! nih dia,…


“Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nur: 33)
 

I’m a Moslem Women, Not Only Women!

Bicara mengenai wanita, memang selalu tampak indah. Mulai dari geraknya, bicaranya, semangatnya, serta kegigihannya. Itu baru wanita biasa belum wanita muslimah. Tentu saja muslimah lebih keren daripada wanita biasa. Bagaimana tidak keren, seorang wanita yang terbalut rapi jilbab menjulur di tubuhnya mempunyai keanggunan tersendiri. Bukan hanya anggun segi fisik tapi anggun dalam keluasan fikroh ( pemikiran), Keanggunan An-Nafsiyyah ( kepiawaian psikologis), keanggunan Syari’ah ijtima’iyyah ( sosial ), dan tidak pula ketinggalan keanggunan Al Qiyam ( nilai-nilai Islami).

Tak heran, “A Moslem women” mempunyai bargaining position lebih tinggi daripada “women” saja. Mereka yang sengaja memamerkan kiyut face dan sexi tubuhnya yang membuat bengong dan ngiler para penjelajah dunia friendster. Dan mendapatkan gelar top girls record friendster mah bukan apa-apanya dibandingkan seorang “A Moslem Women”. Mereka itu hanya pantas untuk dinikmati tetapi tidak pantas disayangi, begitu kata teman saya.
Sejenak kita perhatikan, betapa mulianya seorang muslimah dibandingkan dengan wanita biasa.

Tapi anehnya, seorang muslimah cenderung minder dengan identitas dirinya sebagai seorang muslimah. Sedang infus kajian dan liqo’ tak memenuhi suplemen gizi dalam ruhiyahnya. Ia biarkan dirinya hampa, ia biarkan hatinya meronta, sedang ketika ia bercerita permasalahan hidupnya dengan lain jenis, kehampaannya telah sirna seketik
a. Whats happen with u moslemah?

Teringat sosok Lubabah, dengan nama kunyahnya ummu fadhl, seorang yang mampu mengkader 6 orang anaknya untuk menjadi seorang yang muntij. Sehingga pengetahuan dien seorang Abdullah bin Abbas dapat kita dulang sampai sekarang. Seorang Asma’ binti umais juga berhasil membina ke-3 anaknya tumbuh menjadi searang anak yang akhlaqnya mirip dengan RosuluLloh, serta kesabaran menghadapi cobaan ketika suaminya kehilangan 2 tangannya dan keuletannya dalam berdakwah serta kebijaksanaannya dalam menghadapi hidup.

Yang terkenang dari seorang “ moslem women” adalah kemuliaan dunia akhirat yang tak tergantikan oleh apapun. Kemuliaan yang bersumber dari rasa takut yang luar biasa kepada Robb-nya, kemuliaan yang bersumber pada ketauhidan yang tinggi pengharapan surga dengan kerinduan bertemu dengan wajah Alloh. Jika ia sudah mengkristalkan keyakinan dirinya akan hal itu, maka segala coba dan derita tak akan mampu menembus keyakinannya, tak akan menghampakan hatinya, tak akan pula membuatnya lelah untuk bergerak. Terpatri dalam dirinya untuk berbuat lebih tidak sekedar sebagai “women” tapi seorang wanita yang bangga dengan ajaran dienya, seorang “ Moslem Women”.


Silahkan jujur pada diri sendiri, untuk sekian perubahan kita dari wanita biasa menjadi wanita muslimah, begitu banyak hal istimewa kita lalui. Keistemewaan yang mungkin tidak kita ceritakan kepada orang lain, cukup hanya Alloh dan kita sendiri yang tahu. Sungguh Allah, aku sangat takut pada-Mu, namun aku masih berharap ampunan-Mu, untuk itu Rabb, jangan biarkan disaat sakaratul maut menjemputku aku dalam kadaan bermaksiat atau dalam keraguan bertauhid kepada-Mu. Rabb, terangilah hati kami dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar, tanamkanlah kedalam dada-dada kami kecintaan dan ketaatan kepada-Mu, berilah kami kekuatan agar kami mampu istiqomah.
 

Galak

Galak

Kearoganan bila kata-kata itu terlempar.
Kesalahan bila kata itu akhirnya membuatku merasa beda

Bukan bukan bukan itu maksudmu…

Bukan, bukan bukan itu maksudku

Sosok, ga ada sosok yang sempurna

Bayang, ga ada bayang yang sempurna


Indah, ga ada keindahan yang sempurna

Lembut, ga ada kelembutan yang sempurna

Arogan, ga ada arogan yang sempurna

Sekalipun itu akhwat, ga ada akhwat yang sempurna

Sekalipun itu ikhwan, ga ada ikhwan yang sempurna


Dan semuanya hanya semu saja….

Semu dunia yang kadang sinarnya terlalu memukau mata

Dengar, kau mampu mendengar

Rasa, kau mampu merasa

Teriak, kau mampu teriak


Cela. kau mampu mencela

Nangis, kau-pun mampu menangis

Silahkan saja, tapi ada etikanya …

Entah, kumulai dari mana

Entah kau mulai dari mana

Saat semuanya indah terasa semrawut


Saat semuanya lembut, terasa menyakitkan

Saat semuanya tenang, terasa mengkhawatirkan

Galak, egois, arogan atau apalah namanya

Ke yang lain ga boleh, ke aku-pun jangan

Galak, andai kau tahu galak itu menyebalkan


Terasa sempit, terasa berat, terasa hina, terasa ternoda

Terasa terasing, terasa kekanak-kanakan

Terasa sangat memprihatinkan

Walau ku juga ga meminta kau harus memanjakanku

Kalaupun ga mau memanjakanku, jangan galak kepadaku

Kalaupun mau membenciku, jangan galak kepadaku


Kalaupun mau memarahiku, jangan galak kepadaku

Kalaupun mau menamparku, jangan galak kepadaku

Walau atas nama dakwah, Walau atas nama amanah

Walau katamu, untuk menjadikanku lebih militan

Semua bisa diatur dengan hati dan hikmah


Lihat saja, Hamzah mampu menahan marahnya, saat ia terkepung 3000 pasukan kafir

Lihat saja, Yusuf mampu menahan marahnya, saat ia dimasukkan ke sumur oleh saudaranya

Lihat saja, si tegar Aisyah mampu menahan marahnya ketika fitnah besar’selingkuh’ itu berhembus

Lihat saja, Umar mampu menahan marahnya ketika ia mau digulingkan hanya karena ada mis understanding 2 kabilah

Lihat saja, Salman Al Farisi mampu menahan marahnya, ketika ia diperlakukan sebagai kuli oleh warganya sendiri

Lihat saja, Rosululluh mampu menahan marahnya ketika ia dilempari kotoran unta

Lihat, Dengar dan Rasakan

Mari beristighfar dan bersholawaat

Marah yang ditahan, mampu mendatangkan
berkah.

Sabar yang diagungkan, mampu menuai kemuliaan.

Jangan lagi marah padaku, Maafkan aku…

Memang beginilah diriku, kuakui ku tak sesempurna yang kau kira.

Pikirku tak seluas pikirmu, kusadari itu

Biarkan semuanya menjadi lumrah, bukan berarti pasrah.

Dalam sabdanya Laa Taghdhob, jangan marah… (HA : 16)

Silahkan menampar dengan tulisan, jangan dengan lisan.

Silahkan berdebat dengan tulisan, jangan dengan lisan.

Silahkan mengacaukan segalanya dengan tulisan, jangan dengan lisan.

Saat kumerasa tulisan lebih mempunyai arti, saat lisan enggan berbunyi

Suer! Aku mau dinasehatin, Tapi aku ga mau digalakin

 

Posted in Puisi. 0 Comment »

Balikpapan Madinatul Iman

This is Is My City . . .  

 

 

 

 

In Oil City . . . .

 Mall In Balikpapan

 

Taman Bekapai

 

Di kala Senjaaaaa ....

Mau Malem yaks ...

 

View nya cantik ..... en seujeuk ....

I Love... My City in Balikpapan ...

 

By . Eva Oktafiani 

 

Posted in Campur. 0 Comment »

This Time 4 Married

Sebuah Intisari dari buku “ Saatnya Untuk Menikah”
Sekali lagi, dibuang sayang. Sebuah Tulisan sebagai tugas TTS (Tarbiyah Tsaqofiyah Sleman) untuk mata kuliah “Rumah Tangga Muslim”. Semoga bisa bermanfaat bagi semua. Sebuah inti sari dari bukunya ust Faudzil Adzhiem, penulis legendaris dan best seller tentang pernikahan.

Tidak ada pelabuhan yang dapat menjadi tempat kita menyandarkan kegelisahan selain menikah. Mengingkari panggilan hati untuk menikah sama hal nya mengingkari fitrah kita sebagai manusia.

1.Saatnya untuk menikah

Pernikahan tampak begitu indah bagi orang yang belum menikah, semata karena mereka merasakan panas
dinginnnya menahan gejolak cinta. Banyak di antara kita yang meluap-luap semangatnya untuk menikah, tetapi lupa menyiapkan bekal yang harus dibawanya setelah menikah. Demikian pula sebaliknya, banyak yang hampir tidak kuat menahan gejolak rindu yang mencekam, tetapi tidak berani melangkahkan kakinya untuk meminang. Kata Aiman bin Huzaim berkata, “ Tiada lagi resah saat bersanding dengan wanita resah itu hadit saat berjauhan dengannya.”

Kerinduan semakin melecut suatu waktu jika jarak sebelumnya saling berdekatan. Kuatnya perasaan terhadap pernikahan justru akan semakin menggelora pada orang-orang yang pernah merasakan gelak canda pernikahan. Jika anda sudah merasa gelisah jika pada malam-malam yang sepi mencekam tidak ada teman yang mendampingi, inilah saatnyua bagi anda untuk menikah. JIka anda sudah mulai tidak tenang saat sendirian, itulah saatnya anda perlu hidup berdua. Jika anda sudah begitu resah saat melihat akhwat di perjalanan, itulah saatnya anda menguatkan hati untuk datang meminang. Hanya dua Kalimat saja yang perlu anda persiapkan untuk meminang : Alhamdulillah bila diterima dan Allohu akbar bila ditolak.
Bekal sebelum memasuki pernikahan.



a.Bekal ilmu
Ilmu yang berkenaan dengan apa yang akan kita lakukan serta ilmu tentang bagaimana melakukan. Mengajarkan ilmu agama kepada istri berarti membutuhkan penguasaan dan pengajaran ilmu agama kepada istri.

b.Kemampuan memenuhi tanggung jawab
Tanggung jawab suami terhadap istri tak hanya pemenuhan materi saja tapi juga pemenuhan sexual. Umar Bin Khatab ra menetapkan aturan waktu maximal seorang tentara muslim bertugas meninggalkan rumah juga karena pertimbangan ini.


c.Kesiapan menerima anak
Banyak yang nikah muda tapi ga mau punya anak?. Satu hal yang digaris besari dari ilmu pernikahan adalah menyegerakan menikah berbeda dengan tergesa-gesa menikah. Anjuran untuk nikah dini tidak boleh ternodai oleh pernikahan yang tergesa-gesa serta desakan dari sejumlah pembimbing halaqoh yang belum mengenal betul bimbingannya.

d.Kesiapan Psikis
Membayangkan indahnya pernikahan, tapi terkadang tanpa belajar untuk siap menerima kekurangan dari orang yang kelak akan menikah dengannya. Banyak yang membayangkan indhanya kemanjaan Aisyah ra tanpa dibarengi dengan kesiapan bahwa Aisyah pencemburu berat. Betapa banyak yang mendambakan istri seperti Khadijah, tetapi tidak mau
menikah dengan orang yang usianya sedikit saja diatasnya. Kesiapan psikis untuk berumah tangga juga berarti kesiapan untuk menerima kekurangan-kekurangan orang yang menjadi pendampingnya.
Banyak keluh yang terucap dan kekesalan yang terlontarkan, ini bukan karena mereka menikah di usia muda, tetapi karena kesiapan psikis mereka yang belum tertata saat memasukinya.

e.Kesiapan ruhiyah
Kesiapan ruhiyah adalah jika seseorang yang hatinya telah terbuka terhadap kebenaran risalah-Nya, yang mendahulukan naqli daripada aqli , mendahulukan dalil yang jelas daripada ra’yu (zhan). Dan sadar betul Robb menghalalkan hubungan mereka dengan perjanjian yang amat berat (mistsaqon ghalizha). Sungguh, sekiranya seorang pemuda yang telah memiliki kesiapan ruhiyah datang meminang, ia lebih utama untuk didahulukan sekalipun belum memiliki cukup ilmu maupun bekal ma’isyah. Sebab orang yang bagus kesiapan ruhiyahnya dapat mengarahkan diri untuk belajar apa yang belum dimilikinya.

2.Bersiap-siap sebelum menikah

a.Mengenal istri
Cara untuk belajar menjadi istri terbaik, hanyalah melalui suami. Begitu juga sebaliknya. Tidak bisa melalui pacaran. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana caranya menjadi pacar terbaik bukan suami atau istri terbaik. Jane Askham bilang bahwa lamanya hubungan pranikah serta tingkat intensitas hubungan pranikah, tidak memberikan sumbangan positif setelah mereka bersepakat untuk menikah.

Persepsi yang timbul selama berlangsungnya hubungan pranikah cenderung persisten, padahal sifat persisten akan menjadi penghalang bagi proses untuk saling melakukan perubahan setelah menikah.

b.Kesiapan untuk mencari nafkah
Bekerja berarti memenuhi amanah 4jJI dan soal rezeki untuk akan menjadi tanggunganNya, sedangkan menyebut jenis pekerjaan belum tentu menggambarkan bahwa seseorang itu memang betu-betul serius bekerja. Kesiapan member nafkah tidak berhubungan dengan adanya pekerjaan tetap bagi calon suami. Seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap dan besar, belum tentu memiliki kesiapan untuk member nafkah.

Siap atau tidaknya seorang suami berparameterkan:
1)Apakah ia lebih suka makan dengan hasil keringatnya sendiri ataukah dia lebih suka bahkan berharap-harap menikmati pemberian.

2)Apakah ia mendahulukan ikhtiar daripada menyerah pada keadaan.
3)Apakah ia telah memiliki ilmu tentang segala sesuatunya yang akan menjadi tanggung jawabnya: kewajiban – kewajiban yang harus ditunaikan untuk diri sendiri, ortu, istri dan orang lain.

3.Yang perlu Anda ketahui tentang Jodoh


Seperti halnya mata kita yang sering todak sanggup melihat yang sebenarnya di balik yang tampak, anggapan kita terhadap mereka, yang kita anggap “ tidak sepadan”, boleh jadi juga sepenuhnya salah. Kita mempertanyakan kebenaran janji 4JJI, tetapi lupa barangkali mata wadaq kita yang tidak sanggup melihat di balik yang tampak. Yang kelihatannya tidak sebanding, setara nilainya di hadapan 4JJI, sehingga tidak ada yang meleset dari janji 4JJI.
Boleh jadi, apa yang tampaknya tidak sepadan, tidak sekufu itu merupakan ujian yang apabila kita tulus, kita meperoleh derjat yang tinggi di sisiNya, pastikan kita termasuk orang yang husnudzon kepada ketemutuan 4JJI.



4.Sekali lagi, tentang sumber tentang sumber Informasi


Proses pernikahan Khadijah dengan Muhammad member pelajaran yang penting yang teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Usaha untuk memperoleh informasi hanya dari orang yang dikehendaki Khadijah dilakukan dengan sanagt hati-hati. Khadijah ingin memperoleh informasi hanya dari orang yang betul-betul mengenal secara pribadi Orang yang mengenal secara pribadi dengan criteria: pernah menginap bareng, menemani dalam perjalanan jauh, berhubungan dengan amanah keuangan, sikap terhadap permusuhan internal.



Jika kita terkecewakan dengan informan kita disebabkan karena :


1). Orang yang tidak dapat dipercaya
2). Informan seorang yang jujur, tulus, tidak suka mengelabuhi, tetapi ia mempunyai kekurangan terhadap berita yang didengarnya, atau sering tidak lengkap dalam mengingat informasi.
Sebaiiknya sikap longgar membuat kita terlalu menggampangkan apa saja yang telah dimudahkan oleh 4JJI, menyepelekan hal-hal yang telah disederhanakan, dan tersesa-gesa menyimpulkan perkara-perkara yang belum jelas kebenarannya, kecualikecuali sebatas sebutan si Fulan baik agamanya atau buruk akhlaqnya. Sesungguhnya, banyak kekecewaan yang sulit dihapuskan bermula dari sikap-sikap yang demikian. Atau perlu cari informan pembanding.

5.Mengapa kita sibuk meninggikan kriteria?

Secara sederhana, mempersulit diri adalah setiap halangan yang timbul karena kita membatasi hal yang telah dilapangkan Allah, mempersempit hal yang telah diluaskan-Nya, dan mempererat hal yang diringakannya sehingga kit atidak mampu mencapainya. Ini berbeda dengan riyadhah (latihan ruhani) yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin untuk membentuk sikap qona’ah dan zuhud pada diri mereka. Ketika seseorang telah menetapkan criteria yang sangat tinggi, ia akan cencerung sangat peka terhadap hal-hal yang bergeser dari kriterianya. Kekecewaan karena tidak terpenuhinya atau ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan setelah menikah, dapat menjadi sumber konflik. Kalau telah ada pemicu, konflik yang laten itu bisa berubah menjadi pertengkaran yang tidak terelakkan. Terkadang, kekecewaan bermula dari perkara sepele yang benar-benar remeh.


Seorang suami tak harus menuntut istrinya pintar memasak yang sesuai dengan seleranya. Agar mereka siap menerima apa adanya manakala menikah dengan wanita yang tidak bisa memasak, atau pandai memasak sesuai asala daerahnya, tetapi kurang pandai menyesuaikan dengan lidah suami. Begitu juga impian mempunyai anak laki-laki tidak harus dipaksakan, karena anak perempuan-pun tidak menjadi masalah karena anak pada dasarnya ia member bobot kepada bumi dengan kalimat laa illa ha illaLloh.. Kita hendaknya mengaca diri terlebih dulu sebelum menetapkan kriteria tentang pendamping hidup yang kita harapkan. Agaknya tidak realistis kita menuntut agar mendapatkan pendamping hidup yang sempurna, sementara ilmu diniyyah kita masih kedodoran dan akhlaq pun masih compang-camping.


Memiliki harapan boleh-boleh saja. Kita sah-sah saja berharap mendapatkan pendamping yang lebih kokh agama, akhlaq dan ilmunya sehingga bisa membantu kita untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi di hadapan 4JJI. Akan tetapi, terdapat perbedaab antara harapan dan penetapan criteria.

6.Lihatlah wanita yang akan Kau nikahi

Dikisahkan cerita Mughiroh bin syu’bah, seorang sahabat Nabi pernah menikah 70 kali dan semuanya gagal, dikarenakan ia ga mau melihat wanita yang akan dinikahinya. Memandang calon istri pada waktu diberikannya kesempatan nadzar memilki status hukum tersendiri dan tidak bertentangan dengan keumuman perintah untuk menutup aurot. Memenuhi takhsish (pengkhususan) tidak berarti melanggar ketentuan umum tentang aurot. Alasan diperbolehkan melihat wanita yang akan dnikahinya ini adalah:

a.Anjuran untuk memandang calon istri tidak bertentangan dengan ketatnya peraturan Islam agar para wanita selalu menutup aurot dan laki-laki menundukkan pandangannya. Aturan nadzar ‘memandang’calon istri dengan
pemandangan yang cermat dan penuh perhatian, merupakan takhshish.

b.Memandang dan memperlihatkan aurot yang diperbolehkan untuk dipandang pada waktu nadzar merupakan kebaikan.

c.Memandang (nadzar) dengan pandangan yang sungguh-sungguh merupakan perintah Nabi, memperlihatkan auro
t untuk dipandang oleh pelamar tidak merupakan pengkhianatan terhadap suami jika ternyata pelamar pertama tidak jadi meneruskan ke proses pernikahan.
Batasan nadzar ada 2 yaitu melihat seluruh tubuh si wanita seperti yang dilakukan oleh Muhammad bin Masalamah sewaktu akan menikahi Tsaniyah binti Dhakhkah, dan pendapat ini dijadikan fatwa oleh Imam Dawud Azh-Zhahiri, namun ada pendapat lain yaitu batasan nadzar adalah sebatas bukan aurot, termasuk muka, tangan, dan ada yang menambahkan betis.
Namum dalam rangka kehati-hatian ikhtiyath banyak yang memakai pendapat yang kedua. Dan disarankan tidak menggunakan foto, karna kualitas gambar foto tidak bisa dijadikan acuan. Kalau mau dirunut lebih jauh, ujungnya adalah masalah keprasahan terhadap Alloh dan rasul-Nya. Bagi seorang muslimah yang mengimani kebenaran ajaran Rosululloh dengan penuh kepasrahan, jadi menikah atau tidak, tidak ada yang merugikan baginya. Sebab kedua-duanya mendatangkan kebaikan yang pasti.



Lakukanlah nadzar jika memang bisa menjaga rahasia tentang hal yang anda dapatkan saat memandang calon istri anda. Rahasia itu perllu anda genggam disaat anda merasa mantap dengan calon istri anda, sehingga anda terdorong untuk segera menikahinya, maupun ketika anda tidak sreg dengan hal yang ada pada wanita yang akan anda pinang. JIka anda membuka rahasia tentang apa saja yang membuat anda tidak sabar lagi menunggu malam pengantin, anda telah merusak kehormatannya dan kehormatan anda sendiri. Adapun jika anda membuka rahasia tentang hal-hal yang membuat anda tidak sreg menikahinya maka anda telah berkhianat.

Wanita pun dibolehkan melihat calon suaminya, dan calon suami harus bersikap apa adanya, dan tidak menyembunyikan kekurangannya.


7.Sekali lagi tentang Nazhar

a.Sandaran untuk menolak, memilih pendapat yang paling sesuai, atau menyisihkan pedapat yang paling sesuai, atau menyisihkan pendapat yang paling sesuai adalah dalil-dalil naqli yang jelas, bukan perasaan kita terhadap pendapat tersebut.

b.Mencoba berpikir bahwa kehormatan wanita akan lebih terjaga jika kita mau menegakkan hukum nadzar.

Nadzar seringkali disoroti dengan perintah yang berkebalikan dengan Ghodzul bashor. Perintah melakukan nadzar yang mengeluarkannya dari keumuman larangan melihat lawan jenis, disebabkan adanya beberapa kemslahatan yang hanya bisa diperoleh dengan melakukan nadzar. Atau keburukan bisa terjadi manakala tidak dikecualikan hukum memandang bagi orang yang akan menikah. Artinya pengecualian itu hanya berlaku bagi orang yang akan menikah dengan lawan jenis yang dimaksud, atau dengan orang yang secara sungguh-sungguh ia bermaksud untuk mengetahui tentang kemungkinan adanya ketetapan hati untuk menikah apabila ada hal-hal yang membuatnnya tertarik untuk menikahinya.


Sebuah pernikahan akan lebih mampu menundukkan pandanagn mata dan lebih menjaga kemaluaan apabila di dalamnya ditemukan cinta dan kebersamaan. Di sana ada keindahan yang dapat direngkuh bersama-sama, dan pintunya adalah wajah. “Maka, laki-laki yang hendak melamar wanita,” kata Ibnul Qoyyim al jauziyah, “ disyariatkan untuk melihat wajahnya. Sebab, jika ia sudah melihat kecantikan dan keindahannya, tentu lebih bisa membuahkan cinta dan kebersamaan di antara keduanya. “

Keindahan saat memandang pertama kali adalah gerbang. Selanjutnya penerimaan yang tulus, kehangatan saat menyambut kedatangan, serta kegembiraan saat bersama jauh lebih penting daripada kecantikan. Tetapi, pengabaian terhadap masalah keindahan, dapat menjadi pintu kekecewaan yang dapat menyalakan api
pemberontakkan untuk mencari apa yang dapat melunakkan jiwanya.


Wanita boleh menolak nadzar jika ia tahu betul lelaki yang mau meminangnya tidak sungguh-sungguh untuk meminangnya. Tahu disini disertai dengan keyakina yang betul.

Ia berikan ujian kepada hamba-hamba-Nya agar denan itu orang-orang yang mengaku beriman, teruji keimannannya; dan orang-orang yang benar-benar mencintai-Nya dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisis-Nya. Ibarat kita sekolah, ada ujian yang harus kita tempuh ketika kita ingin naik kelas.dalam firmannya telah jelas QS. Ath Thalaq:7 dan QS Al Baqoroh: 286)


Bagaimana mungkin engkau bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana,sementara engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagiamana mungkin engkau mendapatkan suami yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya selain kepadamu, sementara engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat oleh pernikahan? Bgaiamna mungkin engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan menggoda.


Menuanya usia kita menimbulkan kekhawatiran akan jauhnya jodoh, dimasa-masa seperti ini hnaya ketaqwaan dan husnudzon pada 4JJI-lah yang bisa menguatkan kita. Mungkin juga kita harus instrupeksi diri, terkadang kita mempersulit apa yang telah 4JJI mudahkan, sehingga kita mendapatkan kesulitan yang tak terbayangkan.



Bagaimana kalua muncul rasa sayang?, kita bisa menengok sejarah betapa para salafush shaleh terdahulu mengambil sikap yang sangat indah tentang dua orang yang saling mencintai. Mereka tidak memisahkan begitu saja, sebab tak ada yang tampak indah bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah. Jika anda mendapati lelaki yang memiliki banyak keutamana kecuali dalam hal keberanian untuk menikah, boleh jadi yang anda perlukan adalah sedikit keberanian untuk menawarkan diri kepada laki-laki yang ia merasa mantap agama dan akhlaknya. Mereka tidak jatuh kehormatannya. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang mulia.

9.Ketika wanita harus menawarkan diri

Sesungguhnya tidak ada halangan bagi seseorang wanita untuk menawarakan diri. Para sahabat nabi dan ulama saleh memandang sikap menawarkan diri sebagai sesuatu yang terpuji dan termasuk diantara kemulian seorang wanita. Belajar dari Khadijah ia pun juga menawarkan diri kepada nabi Muhammad, yang sebelumnya telah ia selidiki dulusedetail-detailnya kepribadian Muhammad.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menawarkan diri:
1.Carilah informasi seetail-detailnya sebelum memutuskan untuk menawarkan diri sehingga tidak terjadi ganjalan di tengah-tengah proses.
2.Hendaknya menawarkan diri melalui perantaan orang lain, bukan diri sendiri.

3.Orang yang diminta sebagai perantara adalah wanita yang setengah baya cenderung lebih mengerti bagaimana mengkomunikasikan maksud anda kepada laki-laki.
4.Proses menuju ke pernikahan tetap dilanjutkan dengan peminangan secara resmi pihak laki-laki.

Alasan pemilihan buku :



Buku ini sangat legendaris untuk dikupas, isinya rigid dan dekat dengan pembaca, gaya penulisan yang pas bagi anak muda. Karakter buku ini seperti seorang kakak yang menasehati adikknya , sedikit doktrin dan banyak menasehati. Yang saya terkesan dari buku ini adalah, kolaborasi pemikiran dengan siroh nabawiyah. Sehingga korelasi yang ada, menyebabkan problem solving yang koqnitif dan edukatif.


Buku ini sangat pas bagi mereka yang pengen sekali untuk menikah, dan saya yakin yang sudah pengen sekali menikah setelah membaca buku ini jadi menggebu keinginannya. Dan sekaligus ada trip trik cerdas dari pengalaman penulis.

Yang ga saya suka dari buku ini, doktrin kejama’ahannya kurang sekali, saya sedikit tidak setuju dalam hal, peremehan menikah berbeda dalam halaqohnya. Karena yang saya pahami, menikah adalah bagian dari ‘marotibul amal’ dan disana prosesnya memang murni ditujukan untuk berdakwah, mengembangkan dakwah, expansi dakwah lewat generasi yang dihasilkan dari sebuah pernikahan.


Dan diskriminasi keikutsertaan murrobi dalam penentuan pengambilan sikap dalam pernikahan juga saya kurang setuju. Ya pokoknya aspek keberjama’ahnya kurang banget dari buku ini, mengingat juga penulisnya bukan ikhwah. Wallohu alam bishowab.
 

Dasar Akhwat [part Two]

                                                                                         

Ngobrolin cewek, emang kagak ade matinye…ya gak prens? (iih, sapa yang ngobrolin cewek…. akhwat lagi ). Dari jaman dahulu kala sampe jaman Yusuf Kalla (ops!) kaum hawa, atau wanita atau perempuan atau cewek atau akhwat (apapun namamu!) emang menarik untuk diungkap. Kenapa menarik? Karena dia emang unik! Buktinya, perlu sebuah lembaga yang ngurusin masalah cewek. Makanya ada Dharma wanita, GOW (Gabungan Organisasi Wanita), ada keputrian en kemuslimahan di rohis, dll, dsb, dst. Sampe masalah syari’at pun, cewek butuh bab tersendiri untuk ngebahas persoalan-persoalannya. Ada buku Fiqh Wanita, Tanya-Jawab Muslimah, kajian for akhwat, umm…apa lagi ya? Ah.. Intinya, cewek itu unik. Sampe di sini ada yang nggak sepakat?! Pokoknya, harus sepakat! Titik.

Baiklah, pada bagian kedua ini ana akan mengungkap beberapa tipe akhawat yang sempat singgah dalam kehidupan ana yang sebentar namun syarat dengan makna ini (cailah!).


Setelah melakukan penelitian kecil-kecilan terhadap beberapa akhwat yang ane kenal serta berdasarkan data pengamatan, analisis, dan hasil observasi di lapangan, setelah menimbang, mencermati, dan memutuskan, akhirnya ditemukanlah beberapa “spesies” akhwat. Tipe-tipe tersebut yakni yaitu antara lain diantaranya adalah sebagai berikut: (warning!: Pemborosan kata yang   dipaksakan sangat tidak baik bagi kesehatan! Maksud lo??)

  mo tau? ni die neeh:

 

1. Akhwat Lemper

Bicara tentang lemper nie, jadi kebayang ama makanan yang dibalut dengan daun pisang warna ijo, terbuat dari beras ketan yang isinya daging sapi, daging ayam, atawa abon yang sebelumnya dikukus terlebih dahulu. Hmmm…nikmaaat..!! (Hus! Ngomong apaan sih! Gak nyambung lu va!)

Heuheueuh…Sowri Prens. Lemper di sini sama sekali gak ada hubungannya sama nama salah satu jajanan pasar favorite ane ntu. Ehem! Lemper di sini maksudnya…Yup! Tuh dah pada tau…

”LEMbut tapi PERkasa!”

Akhwat tipe ini memeliki karakter lemah lembut layaknya seorang wanita pada umumnya, namun ia juga memiliki keperkasaan, ketangguhan, dan kemilitanan yang gak kalah dari si ikhwan. Dia bisa bersikap lembut, ramah, dan halus pada siapapun, tapi di sisi lain ia juga bisa berlaku tegas, cakap dan berwibawa. Perkasa bukan berarti ia mampu mengangkat galon air atau kardus air mineral saat jadi panitia acara (kecuali kalo dia ada keturunan ama Mpok Supergirl ato Mbak Xena). Namun keperkasaan itu tampak dalam ketegarannya menghadapi musibah, ketangguhannya menghadapi masalah, kekuatannya dalam mengemban amanah, atau kemilitanannya dalam segala kondisi di medan dakwah dan bersegera menyambut seruan Allah. 


Gak ada kata “nggak siap” untuk amanah, atau “ntar dulu deh” untuk panggilan jihad dan dakwah.

 

                *model akhwat Lemper*

 

2. Akhwat Sosis

Eh, yang ini juga gak ada hubungannya sama nama makanan yah! Dan juga gak da sangkut pautnya ma golongan anak “kiri” di kampus yang biasa dipanggil anak sosis (paham sosisalis).

Nah, sosis yang ini beda pren, dia itu kependekan dari SOk SIbuk Sekaleee! (heuheheh…ada-ada ja lu va!). 

Akhwat model begini udah bisa ditebak memiliki jam terbang yang sangat tinggi. Kayaknya, gak ada waktu deh buat bersantai ria atau berleha-leha. Time is waktu, prinsipnya! (ya iyyalaah…!) Makanya do’I hobi banget mondar-mandir hilir-mudik bolak-balik riwa-riwi ke sana ke mari bak setrikaan. nggak tau ngapain aja, namanya juga, Sok Sibu
k Sekaleee!!. Gesit, lincah, aktif, energik, begitulah sepak terjangnya. 

Namun pemirsa, tipe ini juga punya kekurangan jika do’i gak bisa memanaj waktunya dengan baik. Hal ini akan berimbas pada pekerjaan-pekerjaan lainnya, misal: tugas-tugas kuliah yang keteteran, kamar yang berantakan, buku-buku yang berserakan, menggunungnya cucian, atau penampilan yang kurang mendapat perhatian. (ck..ck..ck…saking sibuknya!).

   *model akhwat Sosis*

Tapi, gak semuanya gitu koq. Ada juga yang rapi dalam segala hal. Sekali lagi, ini hanya menurut hasil pantauan sementara..

3. Akhwat Narasi

Alamaak..apa pula tu Narasi??!! (Jangan bilang kalo itu adalah salah satu jenis karangan dalam tulisan ya va?! Mentang-mentang anak kimia, apa hubungannya ya!)

Eit, eit…tenang Prens, bukan itu koq maksud ane. Narasi itu singkatan dari…NARsis Amat Siiiee…!! (kyaaa!!! Ngasal banget seh  ni orang!) Biarin! 

Adapun asal-usul pengambilan tipe Narasi ini disebabkan karena keprihatinan ane melihat kondisi akhawat sekarang yang sudah banyak terjangkiti penyakit berbahaya ini (taela!)

Ya! Penyakit ini telah mewabah di kalangan sejumlah akhwat en jilbabers. Sasarannya adalah akhwat yang memiliki banyak kelebihan namun tidak dibarengi dengan sikap ketawadhu’an.

Gejalanya, yang awalnya pendiem jadi over acting, yang tadinya minder en gak PD mendadak membangga-banggakan diri sendiri, yang mulanya pemalu jadi malu-maluin, yang asalnya tertutup jadi buka-bukaan (eh, nggak ding. Maksudnya senang menampakkan/memamerkan dirinya di depan umum). 

Parahnya lagi, jika penyakit ini dibiarkan atau malah dirawat hingga mencapai stadium tingkat tinggi, maka bisa berubah menjadi riya’ bin ‘ujub. 


Penyakit ini juga bisa menular dan menyerang siapa saja! So, waspadalah! Waspadalah!

  *model akhwat narasi*

   Pesan buat akhwat narasi: segera insyaf dan bertaubatlah   ukhti…semoga Allah mengampuni_amien!

4. Akhwat Granat

   Watch ouuut…ati-ati Pren! Jangan deket-deket, ntar meledak!

Emang napa? Dia teroris ya? Ato pelaku bom syahid? Pasti militan banget ya! Mujahidah syahidah kan?!

Eit..eit..jangan sok tau gitu deh! Jangan cepet mengambil kesimpulan. Kan yang bikin nama ane, jadi tabayyun dulu kek ke ane, key?!


Well, ehem..ehem.. akhwat Granat itu emang berpotensi meledak jika dia sudah mencapai titik puncak kulminasinya.

Duuuh, jangan berbelit gitu deh! Apa seh sebenarnya akhwat Granat itu?
Akhwat Granat itu….(jeng jeng jeng) akhwat yang GeeR bANgAAAT!! Gubraks! @#$%^&*? (Kalo bikin singkatan mbok ya yang keren dikit lah va! Kreatif boleh, tapi koq kesannya “mokso” gitu!)

  hehehe….suka-suka ane dunk, kan ane yang punya blog 

Yak! Perkenalkan, inilah akhwat yang paling doyan sama yang namanya pujian en sanjungan. Apalagi kalo yang ngasi sanjungan itu si ikhwan…Whoaaa…bisa meledak beneran tuh kepala!

 

 *model akhwat Granat*

Sstt…Apaaa??!! Nggak dengeeerrr..!! Ooo….ya! ya! ya!

Prens, barusan ada akhwat yang protes, katanya semua cewek itu pada dasarnya emang suka dipuji. Udah fitrahnya begitu. Okey, ane sepakat. Manusia emang suka dipuji. Tapi masalahnya, cara menyikapi sanjungan en pujian setiap orang itu kan beda-beda. Ada yang langsung GeEr trus lupa diri, bangga diri, sombong, angkuh, daaan seterusnya. Tapi ada juga yang langsung menyadari bahwa pujian itu gak pantas disandangkan pada dirinya. Hanya Sang Kholiqlah yang berhak atas segala pujian itu. Lalu dia bersyukur atas kelebihan yang Allah titipkan padanya dan beristighfar jika kemudian sombong dkk hinggap di hatinya. Bukan malah Gede Rasa! Kalo mendengar namanya dipuji, seketika tubuhnya terasa ringan bak balon gas, kakinya serasa tak berpijak di bumi, yang dia rasakan hanya terbang, melayang, membumbung ke angkasa tinggi, sambil bernyanyi..
I’m flying without wings…(woooii…nyadar Mbaaakk!!)

 

Duuh…Dasar Akhwat! *geleng-geleng kepala*

 

NB: Yang tipenya belum tercantum di sini, jangan khawatir, InsyaAllah akan qta kupas   lebih lanjut di lain kesempatan…

So, don’t miss it! 

  I’ll be back..!! 


 

To be continued… 



 

 

 





 

Poligami Oh Poligami

 Kaum Adam bicara tentang poligami, baca disini!

Baru-baru ini Indonesia khususnya daerah Jawa Barat dihebohkan dengan berita Aa Gym menikah kembali (baca poligami). Tidak sedikt dari masyarakat bereaksi terutama kaum hawa, terlebih komunitas ibu-ibu.

Perdebatan perihal poligami sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1937, seorang cendikiawan muslim Indonesia bernama Mr. Yusuf Wibisono, menulis sebuah buku berjudul “Monogami atau Poligami”:Masalah Sepanjang Masa. Aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh
Soemantri Mertodipuro pada tahun 1954.

Mr. Yusuf wibisono memberikan bukti-bukti ilmiah tentang keunggulan pandangan Islam yang membuka pintu poligami dengan syarat2x tertentu. Sistem ini merupakan “jalan tengah” dari sistem perkawinan kuno yagn tidak memberi batasan pologami atau sistem barat yang menutup pintu poligami sama sekali. Dalam pengantarnya untuk edisi Indonesia tahun 1980 Yusuf
wibisono menulis, ” Saya rasa umat manusia akhirnya akan dihadapkan kepada dua pilihan yang tidak bisa dihindari yakni poligami legal dan poligami tidak legal (gelap -baca pelacuran atau perselingkuhan/hubungan tidak syah)”.

Seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis, Georges Anquetil, pakar ilmu sosiologi. Menulis buku setebal 460 halaman, berjudul “La Maitresse
Legimitime”. Beliau mengatakan “Poligami akan memungkinkan berjuta-juta wanita melaksanakan haknya akan kecintaan dan keibuaan, yang kalau tidak akan terpaksa hidup tak bersama karena sistem monogami.”

Yusuf Wibisono dalam bukunya mengutip tulisan seorang ilmuwan Leonard, yang menulis, ” In a great measure polygamy is much more a theoretical than a pratical institution. Not one on twenty Moslems has even two wives. In any case it so not the proper and legitimate practice of polygamy, but in the abuse of it that the evil lies. ( Pada umumnya poligami lebih merupakan lembaga teoritis daripada praktis. Tidak ada satu dari dua puluh orang Islam beristri bahkan lebih dari seorang. Setidak-tidaknya keburukannya tak terletak dalam berpoligami menurut hukum. Akan tetapi dalam penyalahgunaan poligami).”

Bagi kamu laki-laki sendiri sepatutnya tidak bisa semena-mena ber-apologi dengan nash untuk melegalkan “keinginannya”. Setidaknya yang patut diketahui bagi kamu adam bahwasanya poligami sendiri bukanlah semata-mata hak bagi mereka. Namun ada melekat juga tanggung jawab dunia dan akhirat. Selain dituntut berlaku adil secara materi, juga dituntut untuk menjaga seluruh keluarganya dari api neraka. Tentu saja menjaga 4 istri lebih berat ketimbang menjaga 1 istri. Menjga 20 anak lebih berat ketimbang menjaga 2 anak.

Karena itu bagi seorang yang memeiliki pandangan berdimensi akhirat poligami adalah suatu hal yang berat, Suatu hal yang memerlukan pemikiran serius sebelum memperaktekannya. Islam membuka jalan, dan tidak menutup
j
alan. Islam adalah agama “washotiyah”, yang tidak bersifat ekstrim. Tidak melarang poligami sama sekali dan juga tidak membebaskannya sama sekali.

wallahu a’lam bi showab
(Dicontek dari berbagai literatur^_^)

 

 

By. Fia

Ikhwan Genit

Di edisi lalu temen saya membuat tulisan yang cukup menohok “ Akhowat Genit”. Sebenarnya dari dulu saya ingin membalas tulisan beliau dengan judul “Ikhwan Genit”, tapi karena banyak sekali pertimbangan (klo dikroscek lagi, apa pertimbangan saya waktu itu, saya lupa!) akhirnya saya tidak jadi menulis tentang itu. Kalau ada buku “Jangan Jadi Akhwat Nyebelin”, harusnya juga ada buku yang membahas “Jangan Jadi Ikhwan Nyebelin”. Setelah baca tulisan beliau, saya jadi pengen mengubah diri saya. Yagh, point penting, selalu pastikan diri menuju lebih baik dimana dan kapan pun berada. Hehhe.. biar ga berjodoh ama ikhwan genit  Disini pun saya akan menulis tentang “ Ikhwan Genit” dengan harapan ada yang pengen memperbaiki diri juga.

Mencermati, mendengar, dan melihat kondisi akhir-akhir ini, akhirnya saya berani menulis tulisan ini, Tidak lain untuk menasehati diri sendiri. Bila sudah nulis masak segh mau dilanggar, bila sudah menyeru ke orang lain masak segh diri sendiri tidak melakukannya, gengsi dunk ama Allah, nti di cap Allah sebagai orang yang “ Kaburo Maktan “ (Qs As-Saff 2-3) bisa gaswat total. Di cap genit oleh manusia segh ga begitu masalah, tapi bila di cap “genit “ oleh Alloh
sudah menjadi masalah yang teramat besar. [Ingat konteksnya “genit” pada lain jenis yang bukan mahramnya].

“ Ikhwan “ begitu kata bahasa arab yang artinya “ saudara laki-laki”, tetapi ternyata ada perkembangan makna, istilah bahasa indonesianya “ sinekdoke totem pro parte” ikhwan ialah seorang laki-laki yang sholeh, yang selalu ke masjid, seorang aktivis dakwah, mungkin ditambah lagi, jenggoters n congklangers ahh.. begitulah ikhwan. Mencoba menyoroti, duluw saya n teman saya (link mae) membuat kriteria ikhwan black list di bum
i
mipa, menyoroti ikhwan-ikhwan yang agak nyleneh di mipa [heheh, ada ada aja ya]. Ya karena sifat n karakter mereka ga ikhwan bangetzzz jadi ya dimasukin dalam daftar ikhwan black list. Jujur, saya yang sekarang orangnya open mind, open source (emange linuxers ), n ga se saklek duluw (walau duluw juga ga begitu saklek) mencoba membuat kriteria ikhwan genit ( ditunggu bagi akhwat yang saklek, mungkin bisa menambahkan kriteria) Diantaranya sebagai berikut:

1.Ikhwan genit akan bergaya dia paham agama tapi sebenarnya biasa-biasa saja.

2.Ikhwan genit jarang ke Masjid, ke Masjidnya pas jum’atan saja. Pas Jum’atan aja masih diselingi ngantuk, rame sendiri, dan sibuk dengan HP nya.

3.Ikhwan genit, akan menyingsingkan celananya alias menjadi sosok congklangers ( biar ga isbal ) di depan para akhwat sedang klo bertemu dengan cewek biasa diturunkan lagi celananya.


4.Ikhwan genit suka chating dengan akhwat, diskusi dengan hal-hal yang ga perlu, katanya segh dakwah di dunia maya, tetapi yang diobrolkan jauh dari nilai esensi dakwah.

5.Ikhwan genit suka nelpon-nelpon akhwat tanpa agenda yang jelas, lama banget, n mendayu-dayu, padahal sms saja bisa.

6.Ikhwan genit, memanfaatkan amanah dakwah nya untuk kepentingan dirinya, dan menseleksi akhwat, menilai akhwat layak tidak untuk dirinya, sekufu tidak dengan dirinya, dan orientasi pribadi lainnya.

7.Ikhwan genit memanfaatkan kepandaiannya dalam skill tertentu untuk menarik akhwat, misal skill memperbaiki komputer,HP, pemrograman, buat blog (site) dan buat proposal atau kerja teknis lainnya.


8.Ikhwan genit berjalan suka jelalatan, klo ada akhwat yang melintas di depannya selalu memberi penilaian, “ akhwat ini 80, akhwat itu 70 … dsb”

9.Ikhwan genit, sok perhatian ke akhwat, mempunyai belas kasihan yang terlalu berlebihan, padahal biasa-biasa saja sebenarnya bisa.

10.Ikhwan genit, suka bercanda dan cair dengan akhwat, dan ga risih dengan syuro yang berhadap-hadapan.

11.Ikhwan genit suka sekali sms tausiyah padahal sebenarnya dia lagi kangen saja sama akhwat idolanya, menurut saya etika sms tausiyah,” sent to all”, ga ada spesifikasi untuk ikhwan/akhwat tertentu, atau untuk lebih berhati-ha
ti ikhwan sms tausiyahnya ke ikhwan dan akhwat ke akhwat.

12. Ikhwan genit yang kebetulan mendapat amanah di kaderisasi, perhatian n sok campur tangan dengan kaderisasi akhwat, padahal jelas-jelas kaderisasi ikhwan dan akhwat benar-banar sesuatu yang terpisah, dan semuanya sudah ada yang ngurusin.

13.Ikhwan genit suka menjanjikan “ nikah “ kepada seorang akhwat padahal itu masih lama banget menikahnya alias ngetek duluan, n yang terjadi akhirnya adalah back street.. wew parah!!

14.Ikhwan genit suka koleksi foto akhwat, dan suka menge-crop foto akhwat yang jadi idolanya, dan lebih gila lagi, menjadikannya background atau screen servernya di komputernya atau laptopnya.


15.Ikhwan genit suka koleksi teman-teman akhwat dengan FS, YM, dan sok perhatian ngasih komen di FS nya.

16.Ikhwan genit ga suka kajian, tapi seneng beli buku, padahal bukunya juga ga di baca.

17.Ikhwan genit suka jalan-jalan di Sunday morning dan melotot lihat akhwat cantik, n ga bisa Godhul bashor, ayo ikhwan tundukkan pandanganmu, biar kami bisa leluasa kalau harus berjalan di depanmu.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, … (QS.An-Nuur[24]:30-310″


18. Ikhwan genit dalam obrolan teman sesamanya yang dibicarakan selalu seputar akhwat, minim membahas ilmu dien, dan strategi dakwah.

19.Ikhwan genit sering berkunjung ke tempat akhwat, banyak sekali alasannya, entah mau pinjem buku, mau ngantar sesuatu, atau apalah tanpa ada alasan yang jelas.

20.Ikhwan genit suka tertawa terbahak-bahak ga karuan kalau lagi berkumpul sesamanya, padahal kelihatannya antheng & alim banget pas di depan akhwat & pas syuro’.


Whuacch… Alhamdulillah terlaksana sudah, janji saya ke Dona, mau buwat 20 kriteria ikhwan genit. Bagi yang termasuk didalamnya, yuuk… marii.. perbaiki diri, [termasuk saya juga!]. Mari mengazzamkan diri menjadi insan yang baik dan terbaik di depan penglihatan Allah atas kita. Dari cerita teman liqo’ saya, yang katanya kualitas kader kampus saat ini menurun drastis, pakaiannya segh ikhwani dan akhwati tapi spirit ruhiyah, haroky dan keilmuannya minim banget. Melesunya dakwah kampus karena hegemoni sekuler dan tuntutan akademik yang mengharuskan untuk cepat lulus dengan IPK yang bagus. Semoga tulisan ini memberi sedikit kontribusi untuk dakwah kampus kedepannya.

Umar bin Utsman berkata: “ Ilmu itu adalah pemimpin, takut adalah pengemudi, sedangkan nafsu adalah kuda yang mogok diantara keduanya yang menipu dan berpura-pura. Waspadalah dan jagalah dia dengan siasat ilmu dan kemudikan dia dengan ancaman ketakutan, maka engkau akan mendapatkan apa yang engka
u harapkan.”

Abu Ja’far Al-Mihwali berkata: “ Haram atas hati yang mencintai dunia untuk mendapatkan ketenangan dan kehormatan ilahi. Haram atas jiwa manusia yang senang keduniaan untuk
mendapatkan kemanisan dan kelezatan akhirat. Haram atas orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya untuk dijadikan imam bagi orang-orang yang bertakwa”

“ Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah nisacaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan dan melipat gandakan pahala baginya.” (QS Ath-Thalaq: 5)

~ Ditulis oleh seorang akhowat yang mungkin bisa dikategorikan akhowat genit yang berusaha banget agar tidak menjadi akhowat genit, kecuali genit untuk suami tercinta nantinya J ~

 

Ikhwan Idola

Ikhwan Idola, Syiape Takuczzt!

Bermula dari diskusi dengan seorang teman, yang minta di jabarin kriteria ikhwan idola akhwat. Jujur! saya lumayan bingung dan geli. Tapi sepertinya dia butuh banget jawaban pertanyaanya, ga tega klo ga ngabulin. Rggghhh………… semoga tulisan dapat mewakili jawaban pertanyaannya.


Ikhwan = saudara laki-laki. Adapun yogya dipenuhi orang yang kreatif, sehingga makna “ikhwan” pun akhirnya ada ambiguitas makna. Begitu juga dengan kata “akhwat”. “ikhwah”, dan “asasi”. Next, back to topic. Ikhwan idola akhwat yang bagaimana.

Idealnya, ya namanya yang ideal pasti banyak yang bagus-bagusnya. Seorang ikhwan -akhwat idola ga ada bedanya seorang muslim yang berusaha memperbaiki diri menjadi muslim kaffah. Ehm ternyata muslim kaffah ini ga semudah melafadzkan namanya, Cuma 2 suku kata (dalam bahasa Indonesia, beda dengan yang bahasa Arab), “ Kaf –Fah” tapi begitu sampai aplikasi susye untuk dijalankan. Yang tidak ikhlas, yang tidak istiqomah, yang tidak sabar akan berguguran satu persatu. Muslim kaffah ? Mengacu muwashoffat (Sudah di buka tho muwashoffat nya..??) apa perlu ane tuliskan semua, heheh , buka di buku, “ Menjadi murrobi’ sukses”

Di muwashoffat itu lah yang urgent untuk dimengerti, batasan lainnya, adalah, ( suer! Bingung tenan kiy..) Siapakah ikhwan Idola itu, hem seperti disebutkan dibawah ini, tak menutup kemungkinan unsur subyektifitas dari penulis infiltrasi kedalam tulisannya.

1. Lelaki yang mengimani Alloh ta’ala sebagai Tuhannya, Muhammad sebagai nabinya, dan Islam sebagai agamanya. Ia cinta Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya, serta taat kepada keduanya. Juga membuat “jarak” dengan maksiat.



2.Lelaki yang bertakwa, khusyuk, rajin ibadah, dan zuhud di dunia. Ia kerjakan kewajiban agama dengan konsisten, tidak henti-hentinya melakukan amal sholih, menjauhi hal-hal yang haram dan menghindari hal-hal yang terlarang. Tanda-tanda iman terlihat jelas padanya, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan. Ia takut murka Alloh, siksa-Nya yang pedih, dan akibat menentang perintah-Nya.

3.Lelaki yang patuh pada orang tuanya, berbakti kepada keduanya, mencari keridhaan keduanya, “ngeri” keduanya murka dan marah kepadanya.

4.Lelaki yang menerapkan syariah Allah Ta’ala dan perintah-perintah-Nya. Ia amalkan
ilmu-nya dan berdakwah kepadanya.

5.Lelaki yang terlibat dalam aktivitas dakwah dimanapun ia berada, dan ia sadar dirinya adalah bagian gen peubah peradaban. Dan ia sadar kedudukannya sebagai kholifah fil’ ard. Harokers gee-thu loch…

6.Lelaki yang berprofesi utama sebagai murrobi’ dan profesi lainnya adalah profesi duniawi.

7.Lelaki yang punya banyak buku, sebagai referensi dan rujukan segala ilmu.


8.Lelaki yang mempunyai bakat potensi po terpendam

9.Lelaki yang bisa mendidik istri dan anak-anaknya, lembut kepadanya tapi tegas menyayanginya, mengajaknya kepada kebaikan, menasehatinya, dan menyenangkan dengan tidak bicara kasar kepadanya. Ia setia kepada istrinya dan menjadi mitranya dalam
kebaikan. Istrinya merasa “fres” dan tentram berada di sampingnya. Jika ia melihat istrinya, ia membahagiakannya, dan hatinya bersih. Ia percaya pada istrinya bahwa istrinya bisa menjaga harta dan anak-anaknya.

Dan hehe setelah dibaca, koq semakin aneh yak, ya sudah lah itu menurut ane, klo mau ada yang menambahkan dipersilahkan. Kriteria diatas mungkin ada unsur tendensiusnya. Maaph n afwan bagi yang meminta launchingnya tulisan ini tapi saya ga begitu optimal menuliskannya. Afwan…. Afwan dan Afwan … may be harus minta orang lain buwat judul yang sama.
 

Pink, I feel mezz up

 Bicara tentang pink, mengingatkan saya akan cerita 5 bulan yang silam. Di sebuah perbincangan yang bisa di bilang ” sengit “, ya tentang seorang ikhwan.

” Aneh ” kata itu yang terlontar ketika beliau mengkritik saya memakai baju pink. Timbul perang luar biasa di hati saya. Mungkin kau tak tahu rasanya?

Beliau mengatakan, ” Bila antum memakai baju pink akan lebih memancing orang lain untuk melihatnya “, Lagi lagi ada sesuatu yang bergejolak di hati saya, tapi tak mampu saya lafdzkan kepadanya, ” Memangnya itu semua mutlak salah wanita “. Ingatan saya langsung tertuju pada sebuah wacana tentang feminisme. Dimana wanita selalu saja disalahkan, walaupun belum tentu murni kesalahan dia. Whetever ….

Tapi, setelah benar-benar saya renungi lagi. Ada benarnya juga. wanita memang sumber fitnah. eit.. jangan marah!! ( bagi yang wanita ). Kita tilik lebih ekstrim lagi, salah satu pemicu banyaknya kasus kriminal dan kekerasan terhadap perempuan yang selama ini terjadi juga karena si perempuan yang kurang bisa menjaga diri. Sepakatkah ?

Sebagai makhluk hawa yang diciptakan ” indah ” olehNya, harus bisa menjaga dan menyembunyikan ke”indah”annya. Sesuatu yang diumbar akan bernilai sangat kecil daripada sesuatu yang di sembunyikan. Nah.. alasan ini bukan hanya sekedar alasan belaka. Untuk memperoleh kejelasan data, saya dengan dibantu beberapa temen saya memberikan polling lisan ke anak laki-laki, kebanyakan dari mereka memang merasa ” agak gimana githu ” melihat wanita alias cewek alias akhwat memakai warna merah and pink. Terbukti… !!!

Tapi disisi lain, apakah murni salah akhwat? Kalo saya boleh berpendapat, ga juga, ada kalanya ikhwan tak akan tertarik pada yang namanya pink malah ada yang tertarik dengan warna hitam, batik dsb ( Red: hasil survey juga ). terus siapa yang salah dunk …!!!

Salah keduanya. Yang akhwat kenapa harus memakai pakain pink, padahal mode warna yang lain khan ada. Dan yang ikhwan kenapa ga GB alias Godhul Bashor menundukkan pandangan gitu… Fenomena yang aneh memang.

Indahnya dunia tidak seindah surga. Ada kalanya semua yang kita nilai indah dimata kita, jelek bagi orang lain, atau sebaliknya. Saatnya untuk memulai ” memahami ” oang lain. Pink, i feel mezz up.
 

Posted in My Self. 0 Comment »

Ya Ukhty, IKHWAN JUGA MANUSIA!

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Disaat seorang ikhwan baik-baik “menawarkan diri” kepada seorang akhwat untuk menikahinya, itu bukanlah hal mudah baginya. Ikhwan juga manusia! Tentu si ikhwan sudah berfikir dan memperhitungkan sebaik-baiknya apa dampak positif dan negatifnya, bagaimana besarnya maslahat dan mudhorotnya. Apakah Alloh ‘Azza wa Jalla meridhoi langkah-langkahnya atau justru Alloh ‘Azza wa Jalla murka dengan langkah yang dia ambil. Sepatutnya ia harus berfikir terlebih dahulu, bagaimana ia harus bersikap jika proposalnya di tolak dan bagaimana ia harus bersikap bila proposalnya di terima. Begitulah seharusnya seorang calon Imam mengambil langkah. Bila ikhtiar dan doa telah dilakukan, maka sepatutnyalah ia menyandarkan diri kepada Alloh Ta’ala, dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya semata.

Sebagaimana disepakati oleh al-Bukhari muslim telah diriwayatkan, dimana Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa
Sallam bersabda : “Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin itu. Alloh tidak menetapkan suatu keputusan baginya melainkan keputusan itu adalah baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, maka ia akan bersabar, dan yang demikian itu lebih baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, maka dia akan bersyukur, maka yang demikian itu adalah baik baginya. Dan hal tersebut tidak akan menjadi milik seorang pun kecuali orang mukmin.” (HR. Muslim no.2999. Dari Shuhain rodhiyalloohu’anhu)


 Seorang ikhwan baik-baik akan menawarkan dirinya secara baik-baik pula. Tidak akan melakukan hal-hal yang sekiranya dapat melukai hati seorang akhwat dan mendatangkan murka Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Bukan dengan cara-cara yang tercela dan dilarang oleh syaria’t islam yang mulia. Karena ikhwan baik-baik tahu bagaimana harus memperlakukan seorang akhwat.

Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita yang baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok. Oleh karena itu, berwasiatlah kepada wanita dengan baik.” (Hadist shohih : Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.5185-5186) dan Muslim (no.1468 (62)), dari Abu Hurairoh rodhiyalloohu’anhu)


Dalam riwayat Tirmidzi, Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik terhadap kaum wanitanya (istri, saudara wanita atau anak-anak wanita”

Dan ikhwan yang baik-baik akan sangat berHATI-HATI dalam membawa HATI serta memikat HATI, karena ketakutannya dengan murka Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan Alloh Ta’ala memuji orang-orang yang takut didalam Kitab-Nya dan menyanjung mereka.

“Sesungguhnya orang-orang yg BERHATI-HATI karena takut akan (adzab) Robb mereka, dan orang2 yang beriman terhadap ayat-ayat Robb mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yg memberikan apa yg telah mereka berikan, dengan HATI YANG TAKUT, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun : 57-61)

Sesungguhnya ikhwan baik-baik yang menjaga Alloh dalam setiap hembusan nafasnya, akan memiliki tiga pilar sentral, yaitu Mahabbah (Cinta), Khauf (Takut) dan Roja’ (Harap) didalam hatinya. Sebagaimana firman-Nya :

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh” (QS. Al-Baqoroh : 165)

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan HARAP dan CEMAS. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’ : 90)

Mereka tidak mengedepankan hawa nafsu dan syetan. Mereka memiliki visi dan misi untuk selalu memperoleh ridho Alloh Ta’ala, dengan mencari kebenaran yang tak henti-hentinya dan senantiasa ada taubat disetiap hembusan nafasnya.

Ya ukhty, KETAHUILAH DAN INGATLAH!!! Bahwa mereka tidak akan pernah mencapai tingkat kesempurnaan, karena mereka juga manusia, sama hal-nya seperti antunna. Tak akan ada yang mampu menyerupai ummul mukminin Khodijah binti Khuwailid. Sebagaimana Rosulullooh Sholalloohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imron. Sebaik-baik wanita ialah Khodijah binti Khuwailid. (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib radiyallahu ‘anhu).

Tapi yang harus diperhatikan adalah “adakah didalam dirinya semangat untuk bertaubat dan memperbaiki diri dengan cara yang benar?”

Karena begitu banyak orang lain menginginkan kebenaran, tapi caranya salah! Sebagaimana Ibnu Mas’ud berkata : “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak benar caranya!”Sesungguhnya Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda : ‘Nanti akan ada kaum yang membaca al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka!”

Untuk mengetahui hal ini, maka dapat dibuktikan dengan “pola berfikirnya”, apakah dia tunduk kepada Kitabulloh, Sunnah Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam & Sunnah Khulafaur Rasyidin atau justru tunduk kepada HAWA NAFSUnya dan syetan???


Jika akal tunduk kepada hawa nafsu & syetan, bukan termaksudkan nafsu syahwat saja, namun bagaimana dia mengedepankan hawa nafsunya dalam mencari kebenaran. Disinilah letak awal “siapa dia”.

Begitu banyak ikhwan lulusan pesantren-pesantren, tapi begitu banyak pula yang hasilnya bermain dengan hawa nafsu dan mengikuti perkembangan zaman. Sehingga, terjadilah penolakan-penolakan terhadap sebagian firman-firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan sabda-sabda Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam karena dianggapnya tidak sesuai dengan zaman saat ini. Na’udzu billah min zalik.

Mereka lupa atau pura-pura lupa… bahwa ISLAM SUDAH SEMPURNA dan Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam telah bersabda :


“Sungguh, aku tinggalkan kalian diatas ISLAM yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidaklah berpaling dari ISLAM yang putih bersih ini sepeninggalku, melainkan akan BINASA.” (HR. Ibnu Abi’Ashim & Ibnu Majah)

Begitukah taubat dan memperbaiki diri yang benar???

Menurut penulis, hidup bersama orang seperti itu adalah hal yang paling menakutkan.

Sebaliknya, walaupun kenyataannya lebih banyak laki-laki yang gila dunia dan lupa Sang Khalik (penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati). Tapi diantara mereka, ada laki-laki biasa. Dia tidak pernah mengikuti pesantren atau sekolah Islam lainnya, tapi memiliki keinginan untuk senantiasa bertaubat dan memperbaiki diri dengan menundukkan akal-nya kepada Kitabulloh, Sunnah Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam & Sunnah Khulafaur Rasyidin.

Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Sungguh ada beberapa kaum bila mereka banyak berbuat kesalahan-kesalahan, maka mereka bercita-cita menjadi orang-orang yang Alloh ‘Azza wa Jalla akan mengganti kesalahan-kesalahan mereka dengan kebajikan” (Hadist hasan riwayat al-Hakim (IV/252), dari Shahabat Abu Hurairoh)

Maka menurut antunna, mana yang lebih baik diantara mereka yang telah disebutkan diatas?

Jawabnya adalah berdasarkan sabda Rosulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa Sallam :

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat kesalahan adalah yang banyak bertaubat” (HR. Ahmad,at-Tirmidzi, Ibnu Majah & al-Hakim)

Mengapa dengan taubat?

Karena TAUBAT adalah langkah pasti untuk menuju istiqomah dan menyongsong HIDAYAH ALLOH Ta’ala, menjauhkan diri dari ketergelinciran dan kenistaan. Ia adalah pintu kehormatan yang dibuka bagi para pendosa untuk kembali tanpa DITUNDA-TUNDA.


“Sesungguhnya taubat disisi Alloh hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima ALLOH taubatnya, dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa : 17)

Orang yang bertaubat kepada Alloh ialah orang yang kembali d
ari perbuatan maksiat menuju perbuatan TAAT. Imam Ibnu Qoyyim al-jauziyyah rohimahullooh mengatakan :

“Taubat merupakan awal persinggahan, pertengahan dan akhir perjalanan hidup. Seorang hamba yang sedang mengadakan perjalanan menuju Alloh Ta’ala tidak boleh lepas dari taubat hingga ajal menjemputnya. Taubat merupakan awal langkah seorang hamba kepada Alloh dan kesudahannya. Dan kebutuhan seorang hamba terhadap taubat diakhir hayatnya teramat penting dan sangat mendesak. Sebagaimana juga taubat dibutuhkan di awal perjalanan hidup seorang hamba.” (Madaarijus Saalikiin (I/98).

Itulah titik awal yang harus diperhatikan untukmu duhai Ukhty. Karena Alloh Ta’ala sangat mencintai orang-orang yang bertaubat. Sebagaimana firman-Nya :


“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang TAUBAT dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh : 222)

Maka, selayaknyalah kita turut mencintai orang-orang yang senantiasa bertaubat dan memperbaiki diri. Bukan begitu?!? Dan tentu saja, untuk itu dibutuhkan ILMU. Maka terus meneruslah berada di majelis ilmu untuk menuntut ILMU. Karena menuntut ilmu syar’i hukumnya WAJIB! Dan Taubat adalah kewajiban seumur hidup!

Ukhtyfillah yang dirahmati Alloh Subhanahu wa Ta’ala, jika engkau menginginkan ikhwan baik-baik untuk mengkhitbahmu, maka sebagaimana dirimu, si ikhwan pun dianjurkan untuk mencari akhwat baik-baik. Yang harus
menjadi instropeksi diri adalah “apakah diri ini sudah menjadi akhwat baik-baik?” Karenanya terus meneruslah kita bertaubat dan memperbaiki diri dengan ILMU, Alloh Ta’ala berfirman:

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…” (QS. An-Nuur :26)

Ya ukhty,langkah selanjutnya ketika laki-laki baik-baik datang untuk mengkhitbahmu, maka perhatikanlah sabda Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam berikut :


“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakan yang besar.”

Masalahnya sekarang adalah kebanyakan akhwat masih LEBIH mempermasalahkan HARTA dibandingkan dengan AGAMA. Pengaruh materialisme telah banyak menimpa para akhwat dan orang tuanya. Tidak sedikit dari mereka, pada zaman sekarang ini, yang selalu menitikberatkan pada kriteria banyaknya harta, keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja dalam memilih calon jodohnya. Masalah kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur berdasarkan materi dan harta saja. Sementara pertimbangan agama tidak mendapat perhatian yang serius.


Padahal, Islam sangat memperhatikan kafa-ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam hal pernikahan. Dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islam, insya Alloh akan terwujud. Tapi kafa-ah menurut Islam diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlak seseorang, bukan diukur dengan banyaknya harta, status social, keturunan, dan lain2.

Hendaklah seorang akhwat dan orang tuanya benar-benar waspada terhadap fitnah yang akan ditimbulkannya, karena diantara manusia ada yang terseret oleh kecintaannya yang berlebihan terhadap seorang akhwat sehingga ia berbuat durhaka kepada orang tua, memutuskan tali silaturahmi dan berbuat kerusakan dibumi, sehingga laknat Alloh menimpanya.


Dan yang paling banyak diantara manusia ada yang diseret oleh kecintaannya kepada seorang akhwat untuk mencari harta yang haram guna memenuhi kecintaannya dan memuaskan syahwatnya. Maka hendaklah seseorang berhati-hati terhadap fitnah wanita.

“Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.” (Shahih, HR al-Bukhari (no.5096) dan Muslim (no.2740(97)), dr Shahabat Usamah bin Zaid rodhiyalloohu’anhu)

Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Alloh menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada didalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh Karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada bani Israil adalah karena wanita” (Shahih, HR Muslim (no.2742 (99), dr Shahabat Abu Sa’id al-Khudri rodhiyalloohu’anhu)

Ya ukhty, sadarilah, bahwa kita adalah sumber fitnah yang paling utama. Sumber penyakit yang paling utama. Sadarilah, bahwa jika kita tidak mengekangnya, maka akan timbul kerusakan dimuka bumi ini…

Ukhty perhatikanlah sabda Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam berikut :

“Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni Neraka.” Dikatakan, “Wahai Rosulullooh, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab,”Para wanita”. Seorang Shahabat bertanya,”Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudara-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab,”Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak sabar.” (Shahih, HR Ahmad (III/428,IV/604) dr Shahabat ‘Abdurrahman bin Syabl rodhiyalloohu’anhu.

Ukhty, mari kita jaga diri ini dari siksa api neraka… Jagalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala, niscaya A
lloh Ta’ala akan menjagamu. Jagalah Alloh, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu…

 Ya ukhty, Jika memang kau masih bersih kukuh juga dengan masalah harta, jika kau masih juga mempermasalahkan harta…. Maka simaklah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala berikut :

“Sesungguhnya HARTA dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. At-Thoghoobun : 15)

Dalam kitab Ibnu Katsir dijelaskan, bahwa sesungguhnya harta dan anak itu akan menjadi bahan UJIAN DAN COBAAN dari Alloh Ta’ala bagi makhluk-Nya agar Dia mengetahui siapakah hamba-hamba-Nya
yang taat dan yang durhaka kepada-Nya. Dan disisi Alloh pada hari Kiamat kelak adalah PAHALA YANG BESAR.

Maka ukhty, berhati-hatilah dengan syirik yang tak nampak, yaitu dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap diatas batu hitam ditengah kegelapan malam. Syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara keyakinan). Salah satu contoh yang sering kita jumpai adalah
MENGGANTUNGKAN NASIB KEPADA MAKHLUK YANG TIDAK DAPAT BERBUAT APA- APA. Lidah ini begitu mudahnya bersandar pada makhluk yang tidak mampu berbuat sedikitpun. Terlalu menggantungkan nasib kepada makhluk-Nya dengan memperhitungkan kemampuan manusia (PEKERJAAN & HARTA). Ada sebagian akhwat yang beranggapan bahwa ‘dia tidak dapat hidup dengan laki-laki yang penghasilannya jauh dibawah dia. Tak tahukah engkau ya ukhty, bahwa :

Rosulullooh Shollalloohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Alloh adalah Pencipta semua pekerja dan pekerjaannya.” (HR. al-Hakim I/31-32, dan Majma’ az-Zawa’id VII/197)

Demi Alloh, bukan kuasa kita untuk memberikan rizki kepada diri kita maupun keluarga kita. Bukan pula kuasa itu karena kemampuan suami. Alloh Ta’ala-lah yang berkuasa. Bahkan hembusan nafas kita-pun dikuasainya oleh-Nya. Lantas mengapa kita masih menyandarkan diri kepada selain Alloh Ta’ala?

Perhatikan font berwarna merah berikut :

 “Dan Allah jadikan bagimu dari diri-dirimu sendiri berupa isteri, lalu Dia jadikan bagimu dari isteri-isterimu berupa anak-anak dan cucu, dan Dia memberimu rezeki yang baik-baik.” (QS. An-Nahl : 72)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.
Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS An-Nur: 32)

Rosulullooh Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda: “Carilah oleh kalian rizki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga).“ (HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus)

Ya ukhty, selayaknya bagimu untuk mempermudah ikhwan yang akan mempersuntingmu!!! Sungguh
mereka juga manusia yang dapat dengan mudahnya tergoda oleh syetan dan hawa nafsu yang disebabkan oleh FITNAH yang paling utama, yaitu WANITA.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi Shollalloohu’alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya diantara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya, dan mudah rahimnya.” (Hasan, HR. Ahmad (VI/77,91), Ibnu Hibban (no.1256-Al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/181))

Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah” (Shahih, HR. Abu Dawud (no 2117), Ibnu Hibban (no.1262-al-Mawaarid), dan ath-Thobrani dlm Mu’jamul Ausath (I/221,no 724), dr ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyalloohu’anhu)

…Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan kebaikan yang banyak padanya” (QS. An-Nisaa’:19)

 


Ya ukhty, rubahlah dirimu, semoga Alloh menganugerahi seorang Imam yang sholeh. Amin

Selamat berjihad!!!

***************************************************************

“Ya Alloh, sesungguhnya aku telah menzholimi diriku sendiri dengan kezholiman yang banyak dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Karena itu, ampunilah aku, dengan ampunan yang datang dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Al-Bukhari no.834 dan Muslim no.2705 (48).

“Ya Alloh, jadikanlah aku merasa qona’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku didalamnya dan gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan
yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim I/510 dan dishahihkan serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu’anhuma)

“Ya Alloh, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahana-kesalahanku, kebodohanku serta sikap berlebihanku dalam urusanku, segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Alloh, berikanlah ampunan kepadaku atas canda dan keseriusanku, kekeliruanku dan kesengajaanku, dan semuanya itu ada pada diriku.” (GR. Al-Bukhari no.6399/Fat-hul Baari XI/196, dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyalloohu’anh
 

Dasar Akhwat! [Part One]

Hmm…Kali pertama ngeliat dia, langsung dah hati jatuh, eh jatuh hati! Pasalnya, ane kepincut ma senyumnya yang mwaaaniiisss kayak gula. Mana ramah lagi! Pokoknya bwaaaiiik banget!

Awalnya tuh, ane dikenalin ma kakak. Waktu tu kan ane masih remaja belia (alah!), pastinya pengen cari jati diri duuunk…. Nah, kakak tuh sering beliin kumcer, novel, buku, dan majalah-majalah yang berbau Islam. Dia juga sering cerita tentang si akhwat. Katanya cewek tuh harus begini, begitu, dan bla..bla..bla…Intinya, dia pengen punya adek model akhwat gitu lah! Awalnya sie, terus terang ane rada tersindir, abisnya dari sekian panjang ceramahnya (yang katanya waktu tu dalam rangka dakwah), ga da kriteria akhwat yang nyantol di ane (satu2nya persamaan, ane ma si akhwat sama2 cewek!). Kakak mulai mengkritik kerudung gaul ane, gaya bicara, cara berpakaian, sampai membatasi pergaulan dengan temen2 cowok ane. Jujur ane cemburu banget ma si akhwat. Gimana nggak, kakak ane jadi ceritain en muji2 dia mulu! Akhirnya ane penasaran banget tuh ma makhluk yang udah ngambil hati kakak ane satu2nya (hiks..hiks..). Baru deh ketemu wujud aslinya saat masuk SMA. Tepatnya di sebuah komunitas bernama, Rohis!


Sejak mengenalnya, hidup ane berubah! Drastis boooo!!! Sikap en sifat ane jadi terbalik 180 derajat. Jungkir balik dah! Eva yang dulunya cengengesan, malu-maluin, cerewet, bawel, ngambekan, langsung “punah” seketika (eh, nggak ding! masih ada sisa2nya koq…dikit seeeh ). Hijrah memang sebuah pilihan, dan ane sangat bersyukur dah milih hijrah kepada kebaikan.

Well…well…Gaul ama akhwat emang asyik banget! Yang paling ane senengin dari mereka tuh ya, enak banget kalo dijadiin ‘tong sampah’ uneg2 qta. InsyaAllah aman deeeh rahasianya…Oww..oww..but, ada juga lho akhwat yang ‘ember’ alias suka ngebocorin curhat qta, tapi itu kan kembali pada tipe manusianya. Yaah, tetep aja prenz, ‘akhwat juga manusia’…yang bisa salah, lupa, bikin dosa, en berpeluang masuk neraka…(iih…Na’udzubillah min dzaalik…).

‘Alaa kulli hal, ane salut banget deh ma akhwat! Dia tuh dah lulus ujian mental sosial.. Buktinya, dia nggak malu pake
baju yang kedodoran atawa jubahnya yang kebesaran. Dia gak ngeluh meski gerah akibat jilbab yang lebar en panjang. Dia juga nggak peduli saat pandangan heran bin sinis mengarah padanya. Atau ketika sindiran tajam, tudingan miring, en cemoohan mampir ke telinganya. Dia mah udah kebal ama yang begituan! Semua itu dihadapinya dengan kesejukan tawadhu’, ketebalan iman, dan keteguhan yang luar biasa! Ya! Mereka memang beda dari cewek biasa!

Jadi akhwat tuh mesti pinter bergaul, but jangan melebur, entar malah kecebur! So, hati-hati…jangan sampai citra baik yang dibangun akhwat selama ini, ambruk seketika karena ulah qta yang ngakunya akhwat (iih, nggak deeeh!)

Baidewei, eniwei, baswei, gak kerasa hampir 3 tahun ane tinggal seatap ma mereka (selain jadi mahasiswa, qta juga berprofesi sebagai kontraktor ^-^). Asyik banget lho.. Suka dukanya, pasti ada. Baik jeleknya juga ada. Posistif negatifnya, apa lagiii. Ambil hikmahnya aja!

Berbagai tipe akhwat pun ane kenal. Ternyata gak semua akhwat kayak yang diceritain kakak tempo dulu. Ada akhwat yang nyebelin, terutama kalo lagi BeTe! bawaannya cemberuuut aje! Biasanya nggak mau diganggu, ngurung diri di kamar, entar kalo dah pulih, berlagak biasa, seperti gak terjadi apa2. Trus ada juga akhwat yang mudah banget GeEr. Apalagi kalo yang muji si ikhwan (itu mah wajar, semua cewek mang gitu, dah fithrahnya wanita seneng dipuji en dipuja, palagi dimanja!) Eh, ada juga neh akhwat yang sibuker (kalo ini mah hampir semua akhwat yang ane kenal deh). Mereka jarang di rumah, sibuk kuliah, aktif di berbagai organisasi, sibuk syuting (syuro’ penting), ngedate ma madh’unya, atawa kencan ma Murobbiyahnya…Biasanya kalo dah sibuk gitu, sulit bagi si akhwat untuk ngebagi waktu (bentrok lagi dah ma Bab Tawazun). Akibatnya, kuliah keteteran, kamar berantakan, cucian dan ngantri nunggu di laundry, de el el. Masih untung kalo yang jadi korban cucian or kamar yang kayak kapal pecah, tapi kalo ruhiyah yang jadi korbannya, bakalan ngefek ke segala aspek, nyesel berkepanjangan, Non! makanya Tawazun penting banget!!Dari akhwat yang lembut, kalem, kemayu, sampe yang bergaya sporty, energik, en lincah kayak kutu loncat. Dari yang pendiam, tertutup, kaku, sampe yang kelewat gaul, terlalu supel, bahkan rada centil. Da yang tampilannya sederhana, apa adanya, sampe yang modis en fashionable. Yaaah, biarkan mereka dengan gayanya sendiri…toh manusia kan emang beragam. Yang terpenting, nggak nabrak batasan2 syar’ie yang dah diatur ama Islam.

Asyik banget ya ngobrolin akhwat. Apalagi bagi si ikhwan..(Ops! afwan…becanda koq…peace Man!). Makanya, kapan2 ane pengen ngelanjutin lagi ngobrolnya…

Diizinin kan? (Terserah ane dunk, wong blog, bloge dhewe koq…hihihi…)

 



To be continued…

 

Ikhwan Punya Inceran (?)

 Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Ikhwan punya inceran, boleh nggak sieh?”

Pertanyaan lugu binti polos dari seorang akhwat kemaren sempet membuat ane kelabakan, bingung mau ngejawab apa. Tulisan ini termasuk pesenan dari si ukhti. Harapannya, bisa didiskusikan dengan Prenz Fillah yang sengaja ato nggak buka-buka ni blog.

Sebelumnya, ane mohon maaph sejiddan-jiddannya pada mereka yang “gerah” sama postingan ane yang belakangan ini jadi ngomongin ‘bab beginian’. Sampe-sampe ada beberapa testi, sms, telpon yang isinya cuma nanyain, “hayoo…ada apa denganmu, Ida? Ngebet nikah ya? Ditunggu undangannya yhah….” Ehem! Terimakasih atas perhatian sodara-sodariku semua. Ada yang mau carikan? (lho?). Gosip ‘sedap’pun beredar. Sedap? Iya. Seneng aja denger temen-temen yang ngegosip kalo pemilik Akhwat_Zone ini bakal walimahan. Siapa tau didenger malaikat trus diaminin. Hehehe.. (Aaamiin, semoga segera terlaksana ^_^. Asal gak kedengeran ma orang rumah aja. Ops!)

Owkeh, balik ke topik. Sampe mana tadi? Oh ya, jadi ada akhwat yang nanya ke ane (lagi-lagi curhatnya ke ane? Kenapa sieh?? *GeEr mode on), “Ukh, kalo ikhwan punya inceran, boleh nggak sieh?”. Wooi..!! Ada yang bisa ngebantu jawab nggak?? *tereak dari balik layar kompi.


Umm…sekadar berbagi. Ada kasus nyata yang bener-bener terjadi di walimahannya sepasang aktivis dakwah.
Alkisah, seorang ikhwan yang dikenal sebagai kader militan, haroki, qowiy, dengan amanah yang bejibun dan menjadi Ketua di mana pun (pokoke TOP begete dah!) mempersunting seorang akhwat yang sudah menjadi incerannya sejak lama lewat jalur swasta (main ‘tembak’ langsung). Si ukhti yang juga sama-sama aktivis kelas beratnya -dengan senang hati- langsung menerima lamaran Al Akh tanpa mengkomunikasikannya pada Murobbiyah (siapa yang mau nolak ikhwan sekaliber dia? Begitu mungkin pikirnya). singkat cerita, desas-desus pernikahan dua sejoli itu pun tersebar di kalangan teman-teman aktivis dakwah lainnya. Dan, sampailah berita itu ke telinga sang Murobbi. Betapa kagetnya beliau mendengar kabar burung itu. Si Akh dan si Ukh pun dipanggil MR-nya masing-masing untuk ditabayyuni. Dan, benarlah…nasi sudah menjadi tumpeng. Mau bagaimana lagi? Tanggal pernikahan sudah ditetapkan, undangan pun akan segera disebarkan. Sang Murobbi hanya menyayangkan kedua kader tangguhny
a merahasiakan rencana besar itu sejak sekian lama. Proses tiga bulan ta’aruf + khitbah + persiapan walimahan diurus semuanya oleh si ikhwan sendiri. Dan, tragisnya…… (duh, ane gak tega nulisnya nieh), sang Murobbi/yah “memboikot” pernikahan dua sejoli ini (ngerti maksud ane kan?). Ya, Murobbi keduanya sepakat untuk tidak menghadiri resepsi walimahan mereka… (Astaghfirulloh…*sesek napas.)

Yah, fenomena di atas mungkin juga terjadi di daerah lain. Ane gak tau harus berkomentar apa. Tiap-tiap orang punya pandangan dan pendapatnya sendiri. Yang jelas, kasus ikhwan yang memiliki inceran sendiri untuk dinikahi gak sedkit jumlahnya. Fenomena semacam itu sudah menjadi hal biasa. Mereka hanya meminta Murobbi untuk menjadi perantara yang membantu proses dengan akhwat incarannya. Bagaimana tanggapanmu, Prens Fillah?

Wallohu Ta’aala A’laam…

 

IKHWAN KEGATELAN

Tak disangka ihkwan ini punya hubungan dekat dengan seorang penulis cerpen bernama pena Afifah Afra Amatullah. Istrinya mempunyai saudara kandung yang menikah dengan kakaknya penulis ini.
Karena saya telah membaca salah satu kumpulan cerpennya yang sudah dibukukan berjudul Genderuwo Terpasung maka saya pun meminta kepada sang ikhwan untuk memberikan nomor telepon seluler penulis muda itu.
Tapi apa coba sangkaannya kepada saya—walaupun ini diutarakan dengan nada bergurau, “akhi, ente mau cari istri kedua yah?”.
Yah, persangkaan yang salah telak. Dan ini tidak berhenti di situ saja. Ketika kemarin sore saya kembali meminta nomor telepon salah seorang akhwat yang sudah berkecimpung lama di forum diskusi ada pernyataan lagi yang muncul dari teman saya ini.
“Ck…ck…ck…Akhi, di sini sedang ditimpa musibah, ente telepon-teleponan sama akhwat. Nanti saya akan beri tahu nomornya via hape istrimu, yo…” suara jawa medoknya terdengar.
Salah telak yang kedua kalinya. Baru ia mengerti setelah saya beritahu bahwa sang akhwat ini sudah menikah ahad kemarin. So, saya cuma mau mengucapkan selamat dan sebuah doa: Barakallahu laka….

Dari dua kejadian ini saya berpikir kembali dengan semua sangkaannya itu. Memang saya ikhwan kegatelan apa? Sehingga selalu ada tuduhan-tuduhan itu ketika saya menanyakan sesuatu tentang lawan jenis. Apalagi dengan tuduhan meningkatkan status kejantanan seorang pria dengan beristri lebih dari satu.
Bagi yang pertama hanya untuk menyampaikan pujian dan kekaguman saya terhadap tulisannya itu. Saya pikir ini adalah untuk menunaikan salah satu haknya. Itu saja. Dan pada kenyataannya sampai tulisan ini dibuat pun tidak ada satu pesan pendek yang saya kirim. Atau berusaha mencoba dial nomornya. Tidak. Tidak sesekalipun.
Untuk yang kedua, jelas saya tidak bisa datang ke sana. Karena selain saya pun mendapatkan informasinya terlambat, lokasi yang jauh sekali (ini sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan utama), belum bisa memberikan apa-apa sebagai hadiah pernikahan, dan terpenting adalah banyaknya agenda yang harus saya jalani akhir pekan kemarin, maka sudah selayaknya saya cuma bisa memberikan ucapan saja. So what getu loh…

Saya hanya ingin meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna yang sanggup menyentuh sisi-sisi terdalam dan paling sensitif dari seseorang yakni hatinya. Yang sanggup mengingat nama dan mengenal al-akh cuma karena ia menandatangani kartu keanggotaan jama’ahnya. Al-akh itu pun terkejut dan tersentuh hatinya ketika Hasan AlBanna yang baru pertama kali berkunjung ke daerahnya itu sanggup mengenalnya dari ribuan anggota jama’ah lainnya.
Maka hati adalah pintu untuk masuknya hidayah dan cahaya kebenaran. Hati adalah gerbang penentu penerimaan seseorang terhadap dirinya. Hati adalah segumpal buhul dari silaturahim. Maka dengan sentuhan hati dakwah ini menyebar ke segala penjuru mata angin.

Saya sungguh belumlah sanggup meniru apa yang Rasulullah saw sering lakukan dengan memberikan hadiah kepada banyak orang dan menjadikan ini sebagai sunnah buat ummatnya. Atau meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna dengan gampangnya ia mengingat nama orang, yang sebaliknya bagi saya seringkali mudah dilupakan.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan. Dan itu pun tidak hanya untuk makhluk bernama wanita, perempuan, akhwat, gadis, ibu-ibu, nenek-nenek atau apapun sebutan yang biasa engkau sandingkan. Tidak. Karena saya tahu dan engkau tidak tahu apa yang saya lakukan setiap hari.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan dengan menelepon ketika ia telah bertambah umurnya, menjenguk ketika ia sakit atau mendapatkan anugerah berupa sang penerus kehidupan, memberikan hadiah, mengirim
kan surat, bersilaturahim tanpa direncanakan dan diberitahukan terlebih dahulu kepadanya. Atau bila ada rezeki berlebih maka menyisihkan sebagian rezeki itu untuknya. Dan masih banyak cara lain untuk menyentuh sensitivitas hati seseorang.
Insya Allah dengan ini, engkau akan menjadi terpercaya dimatanya. Memudahkan engkau menjadi mata air yang akan mengalirkan air kebaikan kepadanya. Engkau akan dikenang bukan untuk dipuji atau dikultuskan, tapi dikenang untuk dicontoh. Contoh dari prototype penuh kebaikan.
Sungguh, keutaman ada pada kebaikan walaupun kecil tapi dilakukan dengan istimroriyah, kontinyu, berkelanjutan. Niscaya unta merah pun engkau akan dapatkan. Insya Allah.
So, kiranya: julukan ikhwan kegatelan semoga tidak ada pada diri saya. Kalau iya, semoga masih ada obatnya di apotik.

 

Ikhwan Narziez

ah… ini judul kok begitu…hmmmm. ga tau. sama nggak Narsis=Narziez? (di sini disamakan aja, biar tambah kuerenzzz). Narziez? bahasa mana itu. sebetulnya aku ga terlalu faham makna kata Narziez  itu hanya, sudah menjadi konsumsi publik, bahasa yang terkesan aneh jadi enak aja. mirip seperti kata Gokil, Mboh ah. kuwi boso ngendi.., mungkin awalnya itu bahasa luar angkasa, diolah dengan suhu terjaga, trus di racik dengan bumbu penyedap cap “gauls” jadilah makanan public judul yang tertera tepatnya juga begini “Ikhwan (akhwat juga) Narziez”

mendengar kata Narziez imaji kita akan melayang (emang punya sayap), kepada sosok yang suka nampang, suka difoto, atau memfoto diri sendiri, pamer tampang dan body (duileee…). mirip Ade Ray aja… tetapi jika narziez ini disematkan kepada kalangan Jenggoter yang lebih umum disebut Ikhwan. maka jadilah sebutan Ikhwan Narziez.

Ikhwan Narsies (bakwan sosis kalie).. tidak sedikit kita jumpai di acara-acara. dengan dalih sebagai dokumentasi, tidak lupa sebagai ajang nampang.. mumpung aja. ada tempat menyalurkan bakat nampang. mau ikut audisi Cover Boy majalah “GHauLS” atau sejenisnya, nanti jadi salah kaprah, gengsi donk. mosok ikhwan ikut kaya’ gituan. Hancur
reputasinya.

jika hanya sebatas dokumentasi dan dijadikan acuan atau rujukan akan kegiatan serupa di lain waktu, atau “dikomsumsi” sendiri di rumah (bareng istri  biar ketawa cekikian bareng) dengan syarat sudah punya istri jangan istri orang lain, lha kalau yang belum punya piye?? … kiranya tidak menjadikan banyak pertanyaan di kemudian hari. tetapi jika kemudian gambar narziez di pajang di web atau ditempat umum yang bisa dikomsumsi public bisa jadi banyak persepsi… mulai dari sebatas kenangan semata, mengenang saat-saat bahagia bersama duch bahasanya, sampai pada benar-benar nampang. tetapi itu kembali kepada urusan masing-masing yang memajang gambarnya.

terlebih jika kemudian Narziez ini menghinggapi kalangan akhwat (lhoooo). dengan alasan yang sama dengan ikhwan
ketika hanya menjadi konsumsi pribadi rasanya masih wajar-wajar saja. maklum akhwat juga manusia. sekali lagi jadi Konsumsi Pribadi dan keluarga. jika sudah membuka akses untuk jadi konsumsi public, tinjauannya bisa jadi lebih jauh dari pada ikhwan Narziez. lho kok??
Pintu Fitnah yang ditimbulkan Akhwat Narziez akan lebih besar dari pada ikhwan Narziez. dalam pandangan ikhwan, seorang akhwat yang nampang akan sangat jauh dibanding ikhwan nampang dalam pandangan akhwat. walaupun tidak menutup kemungkinan juga menimbulkan efek yang sama. maksudnya??

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Ali Imron : 14).  

akhwat dalam pandangan ikhwan akan sangat berbeda. bisa terlihat lebih menarik, mempesona, lho…… tetapi berbeda halnya jika ikhwan dalam pandangan akhwat. magnet ikhwan dalam pandangan akhwat tidak sekuat magnet akhwat dalam pandangan ikhwan. hihihihi buka kartu

secara Fitrah seorang laki-laki akan sangat tertarik dalam pandangannya kepada wanita, sebaliknya seorang wanita
akan sangat tertarik bukan kepada laki-laki, tetapi lebih kepada perhiasan (baca : harta benda). Sok tau aja!! sehingga secara fitah, wajar jika seorang lak-laki “mengumpulkan” istri dan seorang wanita suka mengkoleksi dan menyimpan berbagai perhiasan, misal cincin, kalung. Lho kok sampai sini ngomongnya….

belum lagi jika Gambar Akhwat bisa diakses dengan gratis, tidak menutup kemungkinan “peng-akses”nya tidak hanya sebatas kalangan ikhwan jenggoter saja. manusia yang mempunyai watak usil dan jahil lagi dekil (baca : manusia parah), sehingga, meng-edit edit gambar tersebut kemudian di posting lagi dalam keadaan yang jauh berbeda. jika menjadi lebih bagus, kelihatan sedang melaksanakan umrah itu sihh jadi seneng, tetapi jia hasil akhir dari edit-edi
t tersebut menjelekkan dan menghancurkan reputasi pengemban “risalah” jadi gemez pengin njitak orangnya (hehehe). hancurlah semuanya.
membangun kepercayaan publik bagi seorang “pengemban” risalah butuh waktu yang panjang, bahkan seumur hidup. tetapi untuk menghancurkan kepercayaan tersebut cukup waktu setengah jam atau bahkan kurang dari itu.

akhirnya silahkan semua manilai akan niatan narziez tersebut, baik kalangan jenggoter atau jilbaber.. Gud lak!
 

Cantik Luar Dalam

Panduan Tambahan Kecantikan

1. Agar wajah selalu segar, berseri-seri dan cantik, cucilah minimal 5 kali
sehari dengan air wudhu. Jangan langsung dikeringkan, biarkan menitis dan
kering sendiri. Lalu ambillah sajadah, shalat, berdzikir, dan berdo’a.

2. Untuk menghilangkan stress, perbanyaklah ‘olahraga’. Cukup dengan
memperbanyakkan solat. Ketika solat, kita mengerakkan seluruh tubuh. Lalu
berkonsultasilah pada Allah SWT dengan dzikir dan do’a.

3.Untuk pelembab, agar awet muda, gunakanlah senyuman. Tidak hanya di

bibir tapi juga di hati. Jangan lupa bisikkan ‘kata kunci’, "Allahuma
Kamma Hassanta Khalqii Fahassin
Khuluqii" (Ya Allah sebagaimana engkau
telah memperindah kejadianku, maka perindah pula akhlaqku).
(HR Ahmad) - DOA TENGOK CERMIN

4. Untuk punya bibir cantik, bisikkan kalimat-kalimat Allah, tidak
berbohong
atau menyakiti hati orang lain, tidak menyombongkan diri atau takabur.

5. Agar tubuh langsing, mulus, diet yang teratur dengan berpuasa semin
ggu 2
kali,
Senin dan Kamis. Jika kuat, lebih bagus lagi puasa Nabi Daud AS selang satu
hari.
Makanlah makanan halal, perbanyak sayuran, buah-buahan, dan air putih.


6. Untuk mengembangkan
diri, sebarkan salam dan sapaan. Dengan demikian
kita akan banyak dikenal dan disayangi.

Rahasia 13

Inilah dia rahasia as-solat, sebagai peringatan bagi yang sudah tahu atau
panduan bagi yang baru tahu……

1. Niat
Sembahyang, sebenarnya memeliharakan taubat kita dari dunia dan akhirat.

2. Berdiri Betul. Fadilatnya ketika mati dapat meluaskan tempat kita di
dalam kubur.

3. Takbir-ratul Ihram. Fadilatnya sebagai pelita yang menerangi kita di
dalam kubur.

4. Fatihah. Sebagai pakaian yang indah-indah di dalam kubur.

5. Ruqu’. Sebagai tikar kita di dalam kubur.

6. I’tidal. Akan memberi minuman air dari telaga al-kautsar ketika di dalam
kubur.

7. Sujud. Memagar kita ketika menyeberangi titian SIRATUL-MUSTAQIM.


8. Duduk antara 2 Sujud. Akan menaung panji-panji
nabi kita di dalam kubur.

9. Duduk antara 2 Sujud (akhir). Menjadi kendaraan ketika kita di padang
Mahsyar.


10.Tahhiyat Akhir. Sebagai penjawab bagi pertanyaan yang ditanyakan oleh
Munkar & Nankir di dalam kubur.

11.Selawat Nabi. Sebagai pendinding api neraka di dalam kubur.

12.Salam. Memelihara kita di dalam kubur.

13.Tertib Akan pertemuan kita dengan Allah S.W.T.

 

Peringatan Keras Untuk Ikhwan!! (Wajib Baca!!)

Ketika Akhwat Tersinggung

 

Eeeggghhhhh!!!!!!       Ikhwaaaaannn!!! Ente mau bikin masalah lagi yah? Kenapa sieh?? Qta kan Sodara, koq tega-teganya dikau menyakiti hati sodara antum sendiri (akhwat)??

Duh..Va, Va...Vans..!!
Tenang, tarik napas dulu dalam-dalam (Hmmmf..), yak, hembuskan....(Fyuuuh..)
Slowly, Gals. Sekarang, ceritakan pelan-pelan, ada apa seeh??

Ugh! gimana nggak kesel, si ikhwan cari masalah lagi!! Dia sengaja mancing2 kemarahan kami (akhawat). Kemaren, pas ane browsing buat bahan skripsi (tentang media blog), tanpa sengaja ane kesasar di blognya seorang ikhwan (pantaskah dia disebut ikhwan???) yang (syumpah) nyebelin banget!!

Emang alamat blognya apa?


Tau ah!! lupa!! males ane nengok ke blog itu lagi!! Nggak sudi ane menginjakkan kaki ke blognya untuk yang kedua kali!! Nggak sudiiiiiiii!!!!!!

Emang napa seeh??

Syumpah, gondok banget ane!! (Duh, Astaghfirullah...*sambil ngelus dada*).
Enaknya, diapain yha ni orang?? Kita kasih dia dua pilihan, "kue bogem mentah atawa dorprize timpukan sand
al", gimana, setuju??

Sodara-Sodara, Akhi, Ukhti, Brother, Sista, en Prens Fillah di manapun kalian semua berada....Jika Antum bertemu dengan sosok berinisial Ibnuara, bilang, ditantang ma akhwatzone!! Kami, cewek, perempuan, wanita, akhwat, sebagai Makhluk Tuhan Yang Paling SeNsi, dengan sepenuh hati menyatakan: Amat Sangat Very Tersinggung Sekali Banged Jiddan atas artikel yang Antum buat!! Dan dengan ini, kami meminta Anda untuk segera mencabut kembali kata-kata yang tertulis di blog Anda!! Atau kalau tidak, Anda akan menyesal!! Camkan itu!! (Beeuh, keren juga lu Van!). Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!!

Bagi siapapun yang tidak tergerak hatinya untuk memprotes, memboikot, dan mengecam -pendapat nyeleneh dari orang aneh ini- atau berlaku masa bodoh, mendukung, bahkan mengamalkan "madzhab" ini dengan kesadaran penuh, maka bersiap-sipalah berurusan dengan kami, akhwatzone!! Kami tidak akan tinggal diam!! Sebisa mungkin
akan kami usut perkara ini dan kami ajukan ke Majelis Pengadilan Ikhwah atas tuduhan "Pencemaran Nama Baik Ikhwan dan Pelecehan Terhadap Harga Diri (Izzah) Seorang Akhwat". Sebagai barang bukti, berikut ane lampirkan (baca: copas-kan) keempat artikel yang ane maksud. Gak peduli walau artikelnya bakal menghabiskan banyak tempat di blog ini. Biar temen2 tau! Koq ada sieh, ikhwan kayak gini???? Heran ane!!
 

Menggapai Cinta Sang Akhwat

 Assalaamua’laikum… (tumben-tumbenan nih…)

Apa kabar semua…?, rasanya udah lama dech aQ gak bikin postingan. Sebenarnya yang melatar belakangi telat mosting adalah ide, gak ada bahan tulisan yang emang bener-bener menarik (ini juga sebenernya maksain nulis aja, biar tampilannya penuh, he…he…)

Btw, sebelumnya aQ pernah nulis soal Akhwat (cari dan lihat postingan sebelumnya) dan ditulisan itu aQ janji mo ngasih tips dan trik buat dapetin akhwat (kek yang betuuul, aja…), nah ini dia tipsnya, enjoy it.

Tips Dan Trik: Menggapai Cinta Sang Akhwat

Sebenarnya ada banyak cara meluluhkan hati seorang akhwat, dari mulai berlebay-lebay soal agama atawa sok keren karena pernah menimba ilmu dipesantren. Nah dari banyaknya jalan menuju roma (lho… mo ke Roma ato nyari
Akhwat sih…?), ini dia salah satu tips untuk menggapai hati Akhwat (kamana atuh menggapai…!).

1. Pastikan kalo orang yang Kamu incer adalah akhwat tulen (jangan yang setengah akhwat setengah ikhwan, apalagi stengahnya banci, berabe donk!, dan sebab lain karena jurus ini gak akan mempan sama yang kayak gitu, sumpah…!)

2. Jangan terlalu banyak berkomunikasi verbal secara langsung, minta seseorang untuk jadi perantara (mak…! comblangin kita dong…!), dan pastikan kalo orang itu teman dekat akhwat inceran Kamu atawa bisa dipengaruhi dengan mudah oleh Kamu.

3. Nah…, sampaikan pada si Akhwat Salam (salam sejahtera para penghuni sorga, kik kik kik kik…) melalui si perantara tersebut.

4. Jangan terlalu mencolok kalo Kamu lagi PeDeKaTe sama si Akhwat, buat seolah-olah Kamu emang baik gitu kesiapapun (berprilaku ramah, bersahabat dan SOLEH, INGET S-O-L-E-H!!!).

5. Kamu boleh berlebay-lebay soal agama (meskipun sebenarnya kemampuan Kamu dibawah rata-rata, he…), tapi jangan terlalu parah n’tar belangnya ketauan.

6. Lihat respon Dia sama Kamu, kalo baik lanjutin ke tips no 7, kalo enggak, Wassalaam (yu dadah… babay…).


7. Nah abis gitu kamu berlebay-lebay masalah hidup dan kehid
upan, berfilosofi ria soal banyak-banyak (jangan kebanyakan, gak bagus juga buat kesehatan, he…).

8. Terus tanam (maksudnya…? kayak pohon gitu…) sebuah kepercayaan yang mendasar bahwa Kamu adalah orang terbaik buat Dia (kik kik kik…), kalo masalah kayak gitu gak usah di kasih tau kan?.

9. Jangan coba pegang-pegang, kalo Kamu gak mau ditampar (dan itu terjadi pada 137 jomblo yang pengin nyobain megang akhwat), apalagi daerah terlarang, sumpah “jangan bangaet“, itu bakal ngerusak semua yang udah dilakuin.

10. Perbanyak percakapan melalui bahasa tubuh (biar tubuh yang bicara Cinta, huek…), jangan kebanyakan boong, gak bagus juga buat catetan amal Kamu (masih mencoba buat insyaf, he…).


11. Kalo berhasil, aQ tunggu undangannya ya… (he…).

Semua yang ditulis ini telah dibuktikan oleh 1935 jomblo yang susah cari jodoh. Selamat mencoba meluluhkan hati Akhwat. Semoga sukses.

PERINGATAN KERAS!!!
Jangan mempermainkan hati Akhwat kalo gak mau kena Azab (kalo sekali-kali boleh sih… asal jangan keterusan dan mendapat gelar “Play Boy Cap Ikhwan” aja, otreh…). Cayo…

Tipe-Tipe Akhwat

Assalaamualaikum…

Hmm… sebernya sih awal-awal bikin tulisan soal akhwat nih cuman iseng-iseng (iseng apa ise…ng), tapi pas ngeliat kemaren di blog stat, ternyata banyak (banget, sumpah dan itu bisa dibuktikan) ikhwan yang ngebaca pembahasan masalah akhwat di tulisan sebelumnya (”Menggapai Cinta Sang Akhwat”), dan beberapa permintaan lain (termasuk minta foto dan biodata akhwat, yang sayangnya tidak bisa dipenuhi, karena ini bukan blog buat nyari jodoh, he…) maka aQ lanjutin deh tulisan tentang akhwat (so banget ya…).

Nah, yang sekarang mo dibahas adalah tentang beberapa tipe akhwat. Bila rekan-rekan (cie… rekan) ada yang berstatus mahasiswa atau pelajar yang berkecimpung atau pernah bergelut dalam dunia rohis (kek yang betul aja ya, he…), pasti pernah bertemu dengan makhluk yang suka disebut sebagai akhwat (kita sebut saja makhluk tuhan paling soleh -MTPS- he… he…).


Dari banyak akhwat yang kita temui tersebut (kalo ketemu ya…), kita bisa ngebedain akhwat tersebut kedalam beberapa jenis. Mo tau kan, nah ini dia pembahasannya:

1. Akhwat Garis Keras

Nyang model gini yang paling yahut nih, mulai dari A to Z semuanya berlandaskan Al-Qur’an N Sunnah. aQ jamin kamu kagak bakalan bisa ngajak akhwat model gini pacaran. Kalo mo nyoba sok ajah, paling ente ntar dapet wejangan masalah hubungan antara pria dan wanita dalam islam (amsyong deh ente, he…).

2. Akhwat Garis Depan

Nah kalo nyang model gini sebenernya gak jauh beda ama nyang pertama tadi, cuman bedanya diaktifitasnye aja. Akhwat model gini biasanya aktif di organisasi keislaman (baik kampus atau masyarakat), trus pas ada demonstrasi biasanya bediri paling depan (makanya namanya akhwat garis depan, he… ngasal banget ye…)

3. Akhwat Garis Tengah

Nyang satu enih, agak lumayan. Suka aktif di organisasi juga, cuman biasanya gak terlalu loyal (biasa-biasa aja, makanya namanya garis tengah, he…). Antum (cie… antum…) bisa berkomunikasi dengan lancar apabila berhadapan dengan nyang model gini, tapi tetep juga harus islami (jaga pan
dangan, gak megang-megang, dll, he…).

4. Akhwat Garis Belakang

Akhwat macam ini, biasanya baru masuk dalam organisasi ato belum menguasai bidang keilmuan islam secara utuh, yang biasanya dipegang teguh (cie… he…) oleh para akhwat nyang diatas. Akhwat seperti ini aQ istilahkan sebagai akhwat dalam proses perkembangan iman (ha…ha…) ato juga yang sebenarnya udah lama cuman masih tetep belom bisa berubah sepenuhnya.
Dan akhwat macam ini masih bisa didekati oleh antum, tapi tetep harus hati-hati (karena pasti dalam bimbingan murobbinya, cie…). untuk mendapatkan akhwat model gini cara yang kemaren dibahas dalam “Menggapai Cinta Sang
Akhwat” dapat digunakan (dengan catatan harus hati-hati menggunakan trik tersebut, jangan ampe tahu kalo trik entu ente dapet dari sini…).

5. Akhwat garis belakang banget

Nah, kalo nyang modek gini biasanya bisa dipacarin, meski berkedok taaruf (telah dibuktikan oleh 87 dari 129 jomblo ikhwan yang iseng…). tapi antum juga meski menjaga jarak ma ni akhwat, karena kalo enggak bisa kek bumerang (senjate makan tuan, he…).

6. Akhwat Tanpa Garis

Kalo nyang kayak gini biasanya cuman kesing-nya aja, tapi isinya kagak ada apa-apanya. Status akhwatnya cuman karena dia akhwat secara harfiah (akhwat=sodara perempuan), tapi kalo dari prilaku, ENGGAK!. Lo bisa dapetin akhwat model gini dengan atau tanpa trik n tips yang tersebut diatas.

Secara garis besar, cuma segitu aja ya… Males nulisnya kalo banyak-banyak, bacanya juga males kan?. Nah buat antum yang akan mengejar serta menjemput akhwatnya, GUD LUK aja…

PERHATIAN:


- Tulisan ini hanya sebagai bahan perbandingan, bukan untuk dijadikan patokan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

- Trik tidak dapat diterapkan pada Akhwat yang udah tau belangnya ente, so… ati-ati milih inceran.
 

Kalo Ikhwan Nyari ‘Gebetanâ€

Ikhwan nyari gebetan? Gak salah nih? Eit, jangan suudzon dulu ya. Meski panggilan ikhwan identik dengan cowok pengajian, mereka juga kan manusia. Sama seperti cowok laen. Punya rasa punya hati dan nggak punya antivirus merah jambu. Itu artinya, ikhwan juga bisa kepeleset jatuh hati ama pesona lawan jenisnya. Terutama pada kalangan cewek pengajian yang biasa dijuluki akhwat. Soalnya mereka kan beraktivitas pada dunia yang sama. Dunia dakwah gitu, lho. Wajar dongs!

Bedanya ama cowok laen, cowok pengajian mungkin lebih punya pertimbangan mateng untuk jatuh cintrong. Ciiee, sori bukan narsis lho. So, nyari gebetan di sini bukan berarti nyari gandengan yang bisa diajak kencan atau jalan berduaan. Tapi untuk diajak serius melabuhkan cintanya di jalan yang halal. Loving you, Merit yuk? Enak..enak..enak..! 

Nah, kali ini kita mo ngorek informasi dari temen-temen ikhwan seputar komentar tentang Liga Champions, eh tentang akhwat idaman mereka. Informasi berharga nih. Penasaran? Yuk!

Akhwat idaman di mata ikhwan
Ngobrolin soal akhwat nggak bisa lepas dari sikap, karakter, dan aktivitas dakwahnya yang dengan mudah tercium oleh ikhwan. Ada yang lincah kayak bola bekel, ada yang rame mirip Nirina Zubir, ada yang aktif banget sampe nggak terlalu mikirin penampilan yang seadanya, dan lain sebagainya. Pokoknya mah bervariasi banget deh. Tapi, seperti apa sih akhwat yang disukai ikhwan?

Seorang teman dari negeri jiran, Hadi, via FS (Friendster)-nya ngasih komentar: .perempuan yang aku suka adalah sejuk mata memandang dek terlihat keluhuran akhlaknya menjadi sumber ketenangan jiwa bila hati bergelora?.?

Kalo menurut ?penkhianat yang telah musnah (pytm) dalam YM(Yahoo Messenger)-nya, yang jelas ngaji. Masalah pendiem, kalem, jaim, rame itu mah selera. Ram
e asyik dibawa ngobrol. Kalem asik kayak punya bidadari yang bisa diapain. Hahahaâ... ?

Lain lagi pendapat Zubair, mahasiswa IPB (Kimia) 2002, akhwat yang disukainya adalah yang?Pandai berkomunikasi dalam bentuk verbal, sehingga dengan modal dasar ini mudah-mudahan setiap masalah yang ada mampu dikomunikasikan dan diselesaikan dengan
kepala dingin, bahkan jadi modal yg sangat cukup untuk dakwah?.
Gimana dengan akhwat yang agak agre. Maksute, akhwat yang punya inisiatif berjuang setengah hidup nyari info tentang ikhwan idamannya. Walau diam-diam, tapi aktif tanya sana-sini-situ. Mungkin udah ngebet kali ye ama ikhwan
incarannya en takut keburu dicantol ama yang laen. Hehehe.....


Kalau buat pytmâ  bilang saat chatting, akhwat agre bukan tipe yang disukainya. Lantaran khawatir timbul fitnah bin gosip yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka lebih suka yang kalem. Akhwat banget, gitu lho. Rada pendiem en bisa jaim di tempat umum. Mungkin tipe-tipe akhwat yang nunggu diajuin proposal ama ikhwan gitu deh. Kayak mo tujuh belasan pake ngajuin proposal? Hihihi

Tapi bagi Zubair, akhwat agre adalah tipe kesukaannya. ¦karena kalo orangnya terlalu pendiem, kita nggak tau secara persis keadaan dia kayak gimana, kalo agresif alias ekspresif kan enak tuh, kalo ada masalah ketahuan jadi
mungkin kita bisa bantu tolong.? Dengan kata lain, doi nggak gitu nyetel ama akhwat yang kalem, … soalnya kalo yang kalem susah ditebak isi hatinya?.

Oh ya, untuk tipe agresif meski nggak umum di kalangan akhwat, bukan berarti ?celaâ lho. Karena Siti Khadijah pun termasuk yang ?agresif hingga berani menawarkan diri kepada Muhammad bin Abdullah setelah terpikat oleh sifat dan karakter beliau.

Oke deh sobat, itu segelintir komentar temen-temen ikhwan tentang tipe akhwat yang disukainya. Yang pasti, mau yang agre ataupun kalem, semuanya sama baiknya selama sholehah. Tinggal pandai-pandainya kita aja mensikapinya. Dan yang nggak kalah pentingnya, akhwat yang bersangkutan suka juga ama kita. Biar nggak
bertepuk sebelah tangan. Huehehe…

FBI= Female Bidikan Ikhwan
Sobat, dari komentar ikhwan-ikhwan yang kena todong EVA pas ditanya soal akhwat idaman, mereka nangkepnya lagi ditanya soal sosok yang bakal jadi istrinya. Geer banget kan? Tapi wajar aja sih kalo kegeeran, itu kan gejala normal seorang jomblo. Padahal untuk calon istri, mungkin lebih khusus lagi kriterianya. Kayak gimana sih?

Menurut Anas, Tipe yang Anas suka..tipe yang memang benar-benar pantas jadi istri. Simpel kan? Dia harus bisa jadi benteng pertama dari sisi apapun bagi anak-anaknya..karena (mungkin) tugas suami adalah mencari nafkah (cenderung keluar)..?

Kalo pendapat Zubair, …Sopan, cukup ekspresif, pandai komunikasi, wajah lumayan cantik, kulitnya putih kalo bisa enn sabar. Bahkan kalo ada sih yang ilmu keislamannya baik + akhlaknya baik, jadi bisa ngingetin kita kalo salah…?

Namun kini, kondisi yang meminta kehadiran wanita di dunia kerja tak bisa dihindari. Ada aja akhwat yang sudah kerja di kantoran, menjadi buruh pabrik, atau pengen kerja meski udah merit. Gimana dengan akhwat model gini?

Kalo buat pytm, ..pengennyah sih punya istri tuh di rumah ajah. Meski bisa dongkrak ekonomi dalam negeri, tapi tetep ajah amanah di rumah lebih gede. Boleh kerja tapi di sekitar rumah. Ga boleh jauh. Trus yang ringan. Jadi guru TK ato apalah…?

Sobat, sosok FBI alias female bidikan ikhwan sepertinya nggak harus punya kelebihan secara fisik, status sosial, suku, status pendidikan, atau dandanan. But, nggak berarti cuek banget, hanya saja bukan prioritas. Itu aja kok. Nggak lebih.

Syakhsiyahmu yang kumau
Bagi bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan jenis yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman. Apa pasal?

Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat kita itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya.

Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan. Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk menjadi istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat dekat yang mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung musibah. Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan dalam bersikap pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet tuh!

Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits: Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.? (M. Fauzhil Adhim, ?Kupinang Engkau dengan Hamdallah)

Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun rumah tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita ngelarang kamu pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake standar ideal: cantik, kaya, sholihah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria itu nggak ada, cukup asal mau ama kita, sholihah, kaya dan cantik. Yeee…itu mah sama aja atuh!

Ups! Maksute relakanlah predikat sholehah dari seorang wanita yang menerima cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada diri seorang wanita sholehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!). Yes!

Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu karena agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak taat beragama).? (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Jangan egois donk!

Allah swt berfirman:

wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ..? (QS an-Nuur [24]: 26)

Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah r.a. menjadi istri Nabi saw. Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti kalo pengen dapetin akhwat yang sholehah, kita juga kudu sholeh dong. Jangan cuma mikirin keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang baik tapi kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan tipe-tipe primus alias pria mushola yang sholeh. Tul nggak sih?

Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan. Termasuk dalam memilih istri.
Nggak asal nunjuk. Trus, di mana kita bisa dapetin syakhsiyah Islamiyah?

Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih dalam dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita. Ini yang bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan yang rutin dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah (bukan cuma pengen dapet calon istri solihah.. ehm..), syaksiyah Islam akan mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan?

So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari generasi anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita dan menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat barisan perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang berhak dapetin pasangan hidup yang sholeh/sholehah. Mau dong? Yuuuk!   
 

Posted in Campur. 2 Comment »

ikhwan-akhwat narsis sok puitis juga sok romantis, mari tobat bro and sis!

yoo Muslim,, assalamu�alaykum warohmatuLLOH wabarokatuh,,

sebelumnya saya mau menegaskan,, tulisan ini saya buat bukan karena saya tidak seperti itu,, juga bukan untuk menyinggung salah satu dari kalian,, tapi hanya sebagai sarana untuk saling mengingatkan dalam kebenaran,,

sekarang jaman semakin maju,, abad millenium katanya,, jauhnya jarak antar manusia tidaklah jadi masalah,, karena berbagai kemajuan teknologi sudah tidak memberikan batas jarak dan waktu,,

berbagai fasilitas pun tersedia,, ada yang mencari informasi terkini sampai mencari suami/istri,, fenomena-fenomena kekinian memang cukup mengkhawatirkan,, pasalnya negara ini terlihat jelas semakin mengarahkan kemudinya
kepada kebebasan,,

para musuh ISLAM mencoba melemahkan kaum Muslimin dengan memberikan serangan dari dalam dan luar,, dengan berbagai sarana-sarana pendukung lainnya,, media massa pun dapat kita rasakan bahwa mereka semakin condong kepada kemunkaran dan kebathilan,, dan sadar atau tidak,, inilah indonesia,, yang sedang digrogoti dan
dirongrong oleh pasukan zionis najis,,

kemaksiatan menjadi hal yang lumrah,, bahkan kebaikan menjadi tabu untuk dilakukan,, para orangtua semakin memprihatinkan,, karena semakin banyak yang membolehkan bahkan memarahi bila anaknya tidak pacaran,, oh-emji,, bersabarlah kalian wahai peminang bidadari,,


kondisi ini semakin parah,, karena mereka (mungkin juga saya atau kalian yang merasa punya tugas dalam da�wah) mulai terpengaruh dengan kondisi jahiliyah ini,, walau terbekali dengan ilmu yang mumpuni,, tapi hati telah di hinggapi dengan perasaan cinta duniawi,,

blog di isi dengan �cinta� yang terungkapkan melalui cerita dan puisi,, "oh sang pangeran, kapan kah kau kan datang?"
Lalu ada yang menjawab di bagian komen, "tenanglah bidadari, tunggulah aku dengan pasti. Ku sedang berjuang melawan segala rintangan." Dengan nada becanda dan hati tersipu, dijawab lagi, "Oh pangeran, betapa mengagumkannya dirimu. Aku akan setia menantimu." Selanjutnya akan terjadi saling
balas komentar yang mulai memakai hati,, kata-kata manis dan romantis tercipta,, persis seperti cinta palsu nan semu di film-film yang ada di televisi,,!!

tak terasa,, makin sering berkunjung ke blog si dia,, liat-liat fotonya yang narsis,, bergaya-gaya lucu tapi bikin napsu (uppss),, ngomentarin puisi dan tulisan tentang walimahan,, iseng-iseng nyoba peruntungan,, gunakan fasilitas personal message,, siapa tau ketemu jodoh,, katanya sih githu,, tanpa mau memikirkan asas syar�i qur-ani apalagi pesan baginda nabi,,

oh tidak,, perang pemikiran lebih dahsyat bahayanya dari perang beneran,, untuk itu,, mari kita sadar kawan,, bangkit bersama dari segala keterpurukan,, sucikan kembali hati yang telah ternodai,, luruskan kembali niat yang telah terkotori,, susun kembali hari-hari yang fitri,,


buat yang belum mampu walimah (seperti saya),, pintar-pintarlah menjaga pandangan dan perasaan,, aturlah emosi dalam diri,, buatlah perisai hati agar ia kembali dan senantiasa suci,,


ahh,, saya semakin sok tau,, bahkan mulai gak nyambung,, mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan,, mohon kesediaannya untuk memaafkan,, silahkan ditambahkan agar semakin dalam,, cukup sekian,,

 

WANTED: Ikhwan Idaman!

Siapa sih yang nggak ngarepin kebaikan? Kita yakin banget bahwa setiap orang pengen dapetin kebaikan. Ia berdoa dan berusaha untuk mendapatkan kebaikan tersebut.

BTW, nggak ada salahnya juga kalo ngarepin kebaikan dalam urusan pendamping hidup. Namanya juga pendamping hidup, berarti harapannya, selama kita hidup ya si dia menjadi pendamping kita. Begitu pun sebaliknya.

Sobat muda muslim, kalo pekan kemarin kita bahas dari sisi ikhwan yang punya hajat, sekarang kita pengen menelusuri harapan dan impian para akhwat tentang ikhwan
. Maksudnya biar adil (satu sama), gitu lho.

Oya, buat kamu yang masih SMA (apalagi SMP), tolong jangan merasa kalo bahasan kita kali ini tuh dewasa banget. Jangan ya. Soalnya, kalo kamu udah baligh kan disebut dewasa juga. Itu sebabnya, insya Allah masih cocok. Cuma mungkin perlu dengan catatan tambahan, bahwa kalo sampe mikirin nikah sementara masih berseragam putih-biru dan putih-abu, jangan dulu deh. Oke? Jadiin aja tulisan ini sebagai info penting buat ke depannya.

Yup, pembelajaran seperti ini insya Allah penting banget. Sebab, kita juga ngeri dengan perkembangan temen-teman yang kayaknya udah siaga satu? dalam kasus pergaulan bebas (termasuk seks bebas di dalamnya). Bahaya banget gitu lho. Jadi intinya, daripada anak-anak SMP or SMA dijejali dengan gaya hidup permisif dan hedonis, yang akhirnya membuat mereka salah asuh dan salah arah, mendingan kita kenalkan model pergaulan dalam Islam, khususnya dalam membentuk prinsip mencari pendamping hidup. Bukan mencari teman kencan saat pacaran. Tul nggak?

Sobat muda muslim, setiap perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara pandang kita terhadap perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita tentang hidup. Kalo kita memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu sampai titik tertentu mati (dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan kita pun bakalan ngikutin apa yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita bisa bebas berbuat apa saja sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa hidup cuma di dunia. Kehidupan setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya, kita jadi nggak kenal ada
istilah pahala dan dosa.

Sebaliknya, bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah Swt. yang menciptakan kita semua, terus hidup di dunia juga adalah untuk ibadah kepadaNya, dan setelah kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan amalan yang kita lakukan di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan, insya Allah balasannya pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih banyak atau selama hidup kita maksiat, jelas dosa dan kita ditempatkan di akhirat di tempat yang buruk, yakni neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Nah, dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka ketika berbuat apapun kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang kehidupan yang benar itu. Termasuk ketika mencari pendamping hidup kita. Nggak sembarangan lho. Nggak asal seneng ngeliatnya aja. Nggak asal bisa dipamerin (emangnya piala?). Nggak asal cuma banyak harta. Intinya sih, kita bakalan berpikir gimana seharusnya menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan tersebut.

Ini penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya sebagaimana adanya kehidupanâ?, ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu dianggap berhak melakukan apa saja, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina, minum khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran dsb). Karena merasa mereka berhak ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar.

Sementara yang berpikirnya sebagaimana seharusnya?, maka ia akan nyocokkin dengan aturan yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini harus sesuai aturan yang benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar.
BTW, kayak gimana sih ikhwan yang dicari, diharepin, dan diinginkan akhwat?

Keimanannya dong yaâ
Sebagai seorang muslim, tentunya setiap perbuatan kita wajib menyesuaikannya dengan aturan Islam. Nggak boleh sesukanya. Nah, termasuk dalam hal memilih calon pendamping hidup, baik ikhwan maupun akhwat. Tapi di edisi pekan ini kita pengen tahu pendapat para akhwat soal ikhwan idamannya.

Sebut saja Mawar, ia punya kriteria ikhwan idaman, Yang saleh, baik, cakep, pengertian, ngerti agama,? paparnya via e-mail yang pertanyaan udah disebar STUDIA via beberapa mailing list.

Kalo aku sih pengennya tuh ikhwan taat beribadah alias sholeh, hormat sama ortu, sopan, baik hati, pinter. Tapi yang jelas yang pertama agamanya harus OK dan punya semangat berjuang di jalan Allah dengan istiqomah,? tulis Ninink dalam e-mailnya.

Mila, bukan nama sebenarnya ikutan ngasih komen Tipe ikhwan yang disukai, biasa, standar akhwat: Baik agamanya, baik akhlaknya, baik sama? keluargaku, mengerti aku