Cerita ini adalah kisah nyata... Dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.
Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.
***
Cinta itu butuh kesabaran...
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???
Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita...
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia...
Pernikahan kami sederhana namun meriah...
Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.
Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.
Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu...
Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci...
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku... sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.
***
Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.
Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku...
Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku...
Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka...
Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.
Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, "Assalammu’alaikum" dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.
Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata "Assalammu’alaikum", ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.
Lalu.. Ibu nya berbicara denganku ...
"Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri".
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, "lebih baik kau pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. "
Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.
***
Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.
Pagiitu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, "Ada apa kamu memanggilku?"
Ia berkata, "Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang"
Aku menjawab, "Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?"
"Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku", jawabnya tegas.
"Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?", tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
"Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti", jawabnya tegas.
"Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?", lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan padanya.
Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.
Kemudian aku memutuskan agar ia saja yang pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus air mata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya pada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.
***
Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.
Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, "kapankah ia segera pulang?" aku tak tahu..
Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..
Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung...
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.
Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.
Ia menulis, "aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi".
Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya dirumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yang buruk akhir-akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.
Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..
MasyaAllah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaannya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasanya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.
***
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dariatas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?
Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, "Loe pikir ajasendiri!!!". Telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.
***
Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapkan segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah.. Aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh.. Suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.
"Ya, ada apa Yah!" sahutku dengan memanggil nama kesayangannya "Ayah".
"Lusa kita siap-siap ke Sabang ya." Jawabnya tegas.
"Ada apa? Mengapa?", sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. Suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan "Kau ikut saja jangan banyak tanya!!"
Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. Sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.
Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..
***
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yang berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir. Tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.
Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.
"Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha". Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
"Ada apa ya Nek?" sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab, "Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!".
Aku menangis.. Untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
"Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. Sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau." Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
"Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya", neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian untuk itu.
Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, "kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?"
MasyaAllah.. Kuatkan hati ini.. Aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
"Fish, jawab!." Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.
"Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami."
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, "Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?"
Suamiku menjawab, "Dia Desi!"
Akupun langsung menarik napas dan langsung berbicara, "Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?."
Ayah mertuaku menjawab, "Pernikahannya 2 minggu lagi."
"Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok", setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi.. Air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit.. Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, "sudah tidak cantikkah aku ini?"
Kuambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, "terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?."
Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.
Dalam hatiku bertanya, "mengapa ia sangat cuek?" dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, "sudah malam, kita istirahat yuk!"
"Aku sholat isya dulu baru aku tidur", jawabku tenang.
Ehmm,,ga akan prnah ada habis’y ketika berbicara ttg cinta..^_^
Karena Allah-lah qt bs merasakan rasa cinta tsb..
Dan saat ini aku pengen bilang: “Ya Allah Aku Jatuh Cinta”
Ya Allah Aku Jatuh Cinta
Ya Allah, yang membolak balikan hati kami..
Selama ini aku tidak pernah tahu..
Bagaimana rasanya mencinta..
Namun aku berharap..
Bila cinta hadir menyapaku..
Aku tidak akan kehilangan Engkau..
Ya Allah, selama ini aku hanya berharap..
Semoga bisa mencintai..
Orang yang memiliki cinta yang luar biasa kepadaMu..
Ya Allah, selama ini aku juga berharap..
Semoga bisa dicintai..
Orang yang bisa mengarahkanku kepada keridlaanMu..
Pintaku ya Allah,
Ijinkan aku memiliki rasa ini..
Hingga ia menjadi indah di dada kami..
Tanpa mengurangi rasa cinta kepadaMu..
Cinta itu apa sih???
Buat yg masih single neh aku mau ngasih tau..
Cinta itu ibarat kupu2..
Makin kau kejar, makin ia menghindar..
Tapi bila ia biarkan engkau terbang,
ia akan menghampiri di saat kau tak menduganya..
Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti..
Tapi cinta itu akan istimewa bila kau berikan pada seseorang yang layak menerima..
Jadi tenang2 saja, jangan terburu2 dan pilihlah yang terbaik..
So,,yakinlah jika waktunya udah tiba Allah pasti akan mempertemukan pasangan kita…
Nah,,klo menurut Ust Anis Matta Cinta itu..
Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.
Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.
Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bias menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutna-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta.
Sabar & trus brdo’a ya…SemangKA!!! (Semangat Karena Allah) ^_^
(read more ...)Yupz,,rencana Allah kan selalu indah untuk setiap hambaNya…..!
Sahabatku sayang,,,,,,
Hmm,,saat smua keinginan tdk sesuai harapan…hati ini akan merasa kecewa,,
tapi Allah tau apa yg hambaNya butuhkan & itu mungkin yg terbaik untuk kita!
Ketika sebuah proses tidak berjalan sesuai dengan rencana,,
dan gagal begitu saja sehingga menurunkan semangat kita!
Allah tau kita sedih,,tapi semua itu akan tergantikan dengan pelangi kebahagiaan yg indah…
ikhlaskan semua yg telah Allah gariskan tuk kita,,,
karena di balik semua kejadian akan ada hikmah yg membuat kita semakin kuat dan lebih baik lagi!
Allah tak akan membiarkan hambaNya,,yakinlah setelah kesulitan itu akan ada kemudahan…
sikapi semuanya dengan syukur dan sabar,,,hadapi dengan senyuman yg tulus dan penuh semangat!
mudah2an Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita semua….
Laa Tahzan Wa Laa Takhof Innallaaha Ma ‘Ana..
(Sebuah catatan hati)
Spesial buat sahabatku tersayang…^_^
(read more ...)
“Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”.
“Wahai Allah, aku meminta kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintaimu, serta aku meminta amalan yang bisa mengantarkan aku kepada cinta-Mu.”
“Karena aku Mencintaimu”
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu
Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah
Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.
Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….
Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.
SO, JANGAN NODAI CINTA & JAGALAH HATI!!!
(read more ...)رابطة الإسلامية Doa Robithoh (Doa Menyatukan Hati)
My Self Tulisan ini tidak bisa dikomentari »
اللهم إنك تعلم أن هذه القلوب ØŒ قد اجتمعت علي Ù…ØØ¨ØªÙƒ
Ùˆ التقت علي طاعتك ØŒ Ùˆ ØªÙˆØØ¯Øª علي دعوتك ØŒ Ùˆ تعاهدت علي نصره شريعتك .. Ùوثق اللهم رابطتها
Ùˆ أدم Ùˆ دها ØŒ Ùˆ اهدها سبلها ØŒ Ùˆ املأها بنورك الذي لا يخبو .. Ùˆ Ø§Ø´Ø±Ø ØµØ¯ÙˆØ±Ù‡Ø§ بÙيض الإيمان بك ØŒ Ùˆ جميل التوكل عليك .. Ùˆ Ø£ØÙŠÙ‡Ø§ Ø¨Ù…Ø¹Ø±ÙØªÙƒ ØŒ Ùˆ أمتها علي الشهادة ÙÙŠ سبيلك . إنك نعم المولي Ùˆ نعم النصير
” Ya Allah, Engkau tahu bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam kecintaan kepada-Mu,
Telah berjumpa dalam mentaati-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah terjalin dalam membela syariat-Mu.
Maka teguhkanlah, Ya Allah, ikatannya; kekalkanlah kasih sayangnya;
Tunjukilah jalan-jalannya; penuhilah hati itu dengan cahaya-Mu yang tidak pernah sirna; lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman kepada-Mu dan,
Indahnya kepasrahan kepada- Mu; hidupkanlah ia dengan bermakrifah kepada-Mu; dan matikanlah ia diatas kesyahidan di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik
Pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Dan curahkanlah sholawat, kesejahteraan dan kedamaian kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,
Serta kepada keluarga dan para sahabat beliau”.
(read more ...)
Setiap umat ada ajalnya. Al Quran yang mulia telah menceritakan umat-umat terdahulu yang dibinasakan Allah Azza wa Jalla, lantaran sikap mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, melakukan penyimpangan, menghalalkan segala cara, dan perlawanan terhadap da’wah para Rasul yang mulia. Jika ada yang mengatakan, tidak sepantasnya kaum para pembangkang dianalogikan dengan kaum pergerakan Islam. Jawabannya adalah sunatullah kehidupan berlaku bagi siapa saja. Sunatulla tidak pernah memilih kepada siapa dirinya diberlakukan. Ia akan terjadi jika syarat-syaratnya terpenuhi. Ia akan terjadi dan akan lebih cepat terjadi, jika manusia itu sendiri yang mengoleksi dan mengumpulkan segala sebab-sebabnya. Tak ada jaminan dari siapapun, bahwa sebuah pergerakan Islam akan abadi.
(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (QS.AsySyams:11-15)
Kesalahan, pembangkangan, penyimpangan, dan sikap mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla, bukan hanya monopoli kaum Tsamud, atau ’Ad, atau kaum yang telah Allah binasakan lainnya. Selaku manusia, para aktifis Islam yang sejatinya erat dengan nilai Islam, pemikiran Islam, dan solusi Islami, justru di tangan merekalah da’wah itu roboh. Karena mereka melakukan penyimpangan yang pernah dilakukan oleh umat-umat yang dibinasakan, yang beda hanya penamaan dan pembahasa-an, adapun bentuk, dampak, dan tujuannya sama. (Mukhtalifah al Asma wal lughah Muttahidah al Asykal wal Aghrad).
Beberapa contoh dalam scoup individu, contoh pribadi-pribadi yang telah berakhir di jalan da’wah telah banyak. Mulai dari tokoh besar, hingga kawan kita sendiri. Mulai zaman dulu sampai saat ini, bahkan akan datang. Washil bin ’Atha dan Amr bin ’Ubaid, dahulu mereka adalah Ahlus Sunnah, namun lenyap dari barisan Ahlus Sunnah lantaran penyimpangan pemikirannya.
Abad ini, ada Jamal Abdul Nashir yang lenyap dari jalan da’wah, lantaran syahwat kekuasaannya. Bahkan ia berbalik memusuhi da’wah dengan serangan yang melebihi perbuatan orang kafir. Masih banyak contoh lainnnya. Mereka telah ”berakhir” sebelum ajal biologisnya tiba.
Dalam scoup komunitas, kita memiliki contoh yang tidak jauh dari perjalanan sejarah bangsa ini, Masyumi. Berakhirnya kisah Masyumi, bukan hanya karena dibubarkan oleh Soekarno. Tetapi, ada sebab rasional lainnya yang menunjukkan bahwa sunatullah tetap berlaku bagi siapa saja, walau ia gerakan da’wah.
Masyumi telah melupakan nukbawiyah (pengkaderan) dengan arti sesungguhnya. Kader yang mampu melanjutkan perjuangan pendahulu dan ideolognya. Walau orang-orangnya ada, namun ia telah hampa. Bahkan ketika Masyumi dibubarkan, tokoh besarnya yakni Muhammad Natsir Allahu Yarham masih hidup hingga beberapa dekade pasca pembubaran Masyumi. Selain itu Masyumi juga gagal dalam meredam konflik internal, antara kaum tradisionalis dan modernis. Hingga akhirnya Nahdhatul Ulama memutuskan keluar dari Masyumi, yang diakui cukup melemahkan langkah perjuangan mereka.
Saat ini, kebesaran Masyumi mirip kegagahan Dinosaurus yang punah, yang kerap kita kisahkan ke anak-anak kita. Mereka penasaran dengan Dinosaurus, ingin melihat dekat, tetapi yang ada hanya fosilnya saja, itu pun tidak utuh, atau di museum. Ada pula kelompok umat Islam yang ingin mengembalikan romantisme kejayaan Masyumi, tapi mereka sudah gagal sebelum berjalan. Masing-masing kelompok mengaku pewaris sah Masyumi. Akhirnya, kita benar-benar melihat bahwa Masyumi telah menjadi fi’il madhi yang tidak mungkin menjadi fi’il mudhari.
Inilah sebab-sebab itu ada beberapa sebab dari sekian banyak sebab berakhirnya perjalanan da’wah sebuah pergerakan Islam. Sebab-sebab ini, jika memang ada pada komunitas da’wah, maka sudah sepantasnya dicari solusi yang tepat, jitu, dan cepat, bahkan harus lebih cepat dari menjalarnya sebab-sebab tersebut.
Kadang harus tegas, kalau memang itu diperlukan, ini jika memang kita lebih memilih kelanggengan jamaah dibanding berbasa-basi dengan masalah dan problem maker -nya. Kita tidak meragukan keshalihan dan kealimannya, tetapi jamaah punya fatsun (tata krama) aturan main yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun
Dihadapan itu, semua anggota jamaah dan pimpinannya adalah sama, tak ada orang kuat, anak emas, atau putra mahkota. Sebab, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam sendiri yang akan memotong tangan Fathimah, jika puterinya itu mencuri.
Dahulu, Ustadz Hasan al Hudaibi Rahimahullah mengusulkan kepada Hai’ah Ta’sisiyah untuk memecat lima anggotanya dan mengeluarkan keputusan tersebut. Lalu, Syaikh Hasan al Hudaibi berkata: Sesungguhnya mereka dipecat bukan karena cacatnya pemahaman agama mereka. Bisa jadi mereka lebih baik dari kita. Tetapi jamaah punya aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Mereka menentang keputusan ini, tetapi barisan akhirnya kembali stabil.
Syaikh Ahmad Hasan al Baquri menerima jabatan menteri dari Jamal Abdul Nashir tanpa izin Ustadz Al Hudaibi, lalu Ustadz Al Hudaibi bertanya :
Mursyid : Apa tindakan Anda?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Maktab al Irsyad.
Mursyid : Lalu apa lagi?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Hai’ah Ta’sisiyah.
Mursyid : Lalu apa lagi?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Ikhwanul Muslimin.
Mursyid : itulah solusinya.
Kemudian Ustadz Hasan al Hudaibi mengunjunginya dikementrian waqaf dan mengucapkan selamat kepadanya.
Benarlah Abu Tamam ketika dia berkata: Pedang lebih pandai membawa berita daripada buku-buku. Ketajamannya membedakan kesungguhan dan main-main.
1. Timbulnya Perselisihan dan Perpecahan Pada Jajaran Pimpinan
Inilah sebab pertama dan paling membahayakan. Potensi berselisih dan bahaya laten berpecah pasti ada pada setiap perkumpulan manusia. Sebab, mereka adalah kumpulan dari berbagai suku, latar belakang hidup, budaya, pemikiran, keinginan, bahkan motivasi, ditambah lagi emosi dan hawa nafsu. Tak ada satu pun yang selamat dari bahaya laten ini, dan sejarah umat ini telah berkali-kali melewatinya, begitu pula dalam perjalanan dan pasang surut gerakan Islam. Padahal mereka tahu, persaudaraan adalah saudara bagi keimanan, dan perpecahan adalah saudara bagi kekufuran.
Bahaya lebih besar, jika yang mengalami perpecahan adalah jajaran pimpinannya. Pasca wafatnya H.O.S Cokro Aminoto, SDI (Syarikat Dagang Islam) yang pada masa beliau dua kali ganti nama menjadi SI (Syarikat Islam) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) tak ada lagi tokoh bisa menyatukan PSII. Tak ada yang mampu meredam konflik, tak ada yang se-berwibawa H.O.S Cokro
Aminoto, karena tak ada kaderisasi. Akhirnya, terpecahlah menjadi SI putih dan SI merah, yang belakangan menjadi bibit lahirnya PKI (Partai Komunis Indonesia).
Sungguh, tidak sama dahsyatnya goncangan perpecahan tingkat elit, dibanding perpecahan tingkat akar umput. Maka, hendaknya kita menghilangkan rasa dengki, dendam, iri, hasad, cari muka dan menjilat, dan sifat buruk lainnya yang biasa menjadi penyakit yang menyerang sebagian pimpinan organisasi apapun.
Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: Ukhuwah adalah saudara keimanan, dan perpecahan adalah saudara kekufuran; kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan, tak ada persatuan tanpa rasa cinta, dan sekecil-kecilnya cinta adalah lapang dada, dan yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudara).
Barangsiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya. (QS. Al Hasyr: 9)
Al Akh yang benar akan melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena ia jika tidak bersama mereka, tidak akan dapat bersama yang lain. Sementara mereka jika tidak bersama dirinya, akan bisa bersama orang lain. Dan sesungguhnya srigala hanya akan memangsa kambing yang sendirian. Seorang muslim dengan muslim lainnya laksana satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain. Dan orang-orang beriman baik laki-laki dan perempuan, satu sama lain saling tolong menolong diantara mereka . Begitulah seharusnya kita. (Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah  ar Rasail , hal. 313. Al Maktabah At Taufiqiyah )
Bagaimana mungkin pemimpin mendapatkan rasa cinta dan ketaatan dari prajuritnya, jika sesama mereka sendiri tidak saling mencintai dan melanggar aturan jamaah. Ketiadaan rasa cinta dan taat dari jundiyah terhadap qiyadahnya, merupakan min asyratis sa’ah (di antara tanda-tanda
kebinasaan) bagi gerakan tersebut Seharusnya kita mengingat: Aku mencintaimu, jangan kau tanya mengapa Aku mencintaimu, itu adalah iman dan agama.
2. Gerakan Pengacau Jamaah
Ini penyebab selanjutnya yang tidak kalah bahayanya. Gerakan ini bisa saja terlahir dari permasalahan kecil, yakni tidak terakomodasinya sebuah ide, pendapat, atau pemikiran. Sayangnya sang shahibul fikrah, tidak menerima kenyataan itu dan dia pun fanatik dengan pendapatnya. Dia merasa diremehkan dan tidak dihargai, lalu dia telan sendiri perasaan itu, tanpa melakukan komunikasi dengan ikhwah lain. Di tambah lagi, adanya kran komunikasi yang mampet diatasnya, Sehingga ia tidak memiliki saluran, maka meledaklah menjadi sebuah kekesalan dan pembangkangan, baik terselubung atau terang-terangan. Kemungkinan paling buruk adalah ia keluar dari jamaah dan menciptakan komunitas sendiri yang menjadi rival. Contoh seperti ini tidak sedikit.
Ketahuilah dan sadarilah, gerakan pengacau tidak selalu dalam bentuk oposan, bisa jadi justru wal ’iyadzubillah – mereka berada di dalam lingkaran jajaran para pimpinan dan pemegang kebijakan. Ini lebih bahaya, sebab biasanya akan menjadi untouchable man dan kuat pengaruhnya terhadap arah angin kebijakan. Ada di antara mereka yang menggunakan kepintarannya untuk memanfatkan keluguan kawan-kawannya dan atasannya sendiri. Ditambah lagi, mereka benar-benar menikmati doktrin ”tha’ah wa tsiqah bil qiyadah” dari para kadernya, sementara al fahmu, al ikhlas, al amal, al jihad, al tadh-hiyah yang seharusnya didahulukan, tidak mendapatkan porsi yang adil. Sungguh tsiqah bil qiyadah adalah wajib, namun dengan ilmu, sebab Allah Ta’ala berfirman:
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra : 36)
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah. (QS Muhammad: 19)
Allah Ta’ala memerintahkan faham terlebih dahulu, fa’lam (maka ketahuilah), sebelum Dia memerintahkan keimanan kepadaNya, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah. Inilah yang menyebabkan Imamuna, Syahidul Islam Hasan al Banna Rahimahullah menjadikan al fahmu (pemahaman) sebagai rukun pertama dari arkanul bai’ah . Namun anehnya banyak di antara kita yang mendengarkan dengan setia, mengikuti mereka (pengacau jamaah), bahkan terkagum-kagum dengan permainan kata mereka. Lalu menganggap mereka di atas kita dalam hal al fahmu. Sungguh, kita seperti seorang anak SD yang memandang mahasiswa setinggi langit, padahal seorang Profesor akan memandang mahasiswa sebagai anak SD.
Kelompok ini mirip dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan tentang gerakan pengacau dalam Perang Tabuk: ”Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah: 47)
Mereka hakikatnya pengacau dan perusak barisan jamaah, tetapi di antara kita ada yang menjadi pendengar setia mereka, menjadi muqallidin dan muta’ashibin. Karena mereka ”pengacau” ini adalah saudara, kawan, dan guru kita sendiri Allahul Musta’an Allah Ta’ala memberikan peringatan: ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” (QS. An Nur: 11)
Dan janganlah Engkau mematuhi orang Yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di Dalam Al-Quran, serta ia menurut hawa nafsunya, dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran. (QS. Al Kahfi: 28)
Semoga Allah Ta’ala melindungi da’wah ini dari tiga golongan manusia, pertama, ifrath –nya kaum oposan internal (kader) yang mengkritik karena kebencian (skeptis) dan apriori, di dalam mengkritik, di luar membongkar aib jamaah. Persis pengamat sepak bola. Kedua, semoga Allah juga melindungi da’wah ini dari tipu daya para oportunis dan petualang politik yang tidak manhaji. ketiga, semoga Allah Ta’ala juga menjaganya dari orang-orang yang diam dan apatis.
Berkata Ali ad Daqaq, Sakit anil haq, syaithanul akhras (Diam saja tidak menyampaikan kebenaran, adalah setan bisu. Sungguh jundiyah muthi’ah (prajurit yang taat) hanya akan lahir di tangan qiyadah muhklishah (pemimpin yang ikhlas).
3. Ambisi Pribadi Atau Kelompok Terselubung dan Kuat
Komitmen da’wahnya bukan karena Allah Ta’ala tetapi ar ri’asah wa syuhrah (Kedudukan dan ketenaran). Ia semangat da’wah karena itu. Manusia bisa saja, dikelabuhinya, kita tertipu dari segala sepak terjangnya selama ini. Tetapi Allah Ta’ala tidak pernah tertipu, cepat atau lambat ambisinya ini akan terbongkar di hadapan manusia, seiring dengan perilakunya yang semakin menjadi-jadi. ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)
Ada pula yang memiliki ambisi secara vulgar, ia lebih gentle , masih bisa di antisipasi dan di ’ilaj . Tetapi yang terselubung, mereka lebih sulit diraba sebab kita tidak tahu isi dada manusia. Da’wah ini tidak butuh manusia yang ambisinya dunia, baik terselubung atau terang-terangan.
Dari Abu Musa al Asy’ari Radhiallahu ’Anhu, dia berkata: Aku bersama anak pamanku mendatangi Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Salah seorang berkata: ”Wahai Rasulullah, angkatlah aku sebagai pemimpin atas sebagian tanggung jawab yang telah Allah berikan kepada Anda, dan yang lain juga minta demikian. Lalu Rasulullah bersabda: Demi Allah seseunguhnya kami tidak akan
menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Hasan al Banna berkata, Begitulah yang pernah terjadi ketika sekelompok orang enggan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam , kecuali jika mereka nanti mendapatkan kekuasaan dari beliau jika kelak Islam menang. Pada waktu itu Rasulullah hanya menyatakan bahwa bumi ini adalah milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hambaNya. Sesungguhnya kemenangan akhir selalu menjadi milik orang-orang bertaqwa. ( Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah ar Rasail , hal. 13. Risalah Da’watuna. Al Maktabah at Taufiqiyah )
Ya, selalu ada manusia di setiap masa, yang bergabung dengan barisan da’wah dengan tujuan dunia, karena ghanimah, popularitas, dan lainnya, tetapi jika tidak ada tawaran dunia, mereka akan mengundurkan diri dengan berbagai alasan yang dibuat-buat bahkan sampai bersumpah-sumpah. Mirip dengan yang Allah Ta’ala gambarkan dalam Al Quran : ”Kalau apa yang engkau serukan kepada mereka (Wahai Muhammad) sesuatu yang berfaedah yang mudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), niscaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat yang hendak dituju itu jauh dan berat bagi mereka. dan mereka akan bersumpah Dengan nama Allah Dengan berkata: “Kalau Kami sanggup, tentulah Kami akan pergi bersama kamu”. (dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu).” (QS. At Taubah: 42)
4. Hilangnya Budaya Munashahah (Saling Menasihati)
Orang yang matang kepribadiannya tidak bergembira karena pujian Dan tidak goncang karena nasihat-nasihat. Nasihat adalah obat, umumnya obat adalah pahit. Tak ada manusia yang menyukainya, namun ia berfungsi menyembuhkan penyakit, jika tepat sasaran dan takarannya. Pujian adalah manis bagaikan sirup. Manusia sangat menyukai yang manis-manis, tetapi beragam
penyakit dikemudian hari tengah menanti: sariawan, kencing manis, dan lain-lain, jika berlebihan mengkonsumsinya. Maka, jadilah pertengahan. Pilihlah yang pertengahan, pilihlah yang pertengahan, kalian akan berhasil dalam menyampaikan. (HR. Bukhari no. 6316)
Nasihat yang baik yang dilakukan dengan cara baik, akan mampu menyadarkan yang bingung, mengingatkan yang lupa, dan membangunkan yang tertidur. Tetapi, terlalu banyak nasihat, ia akan menyangka dirinya ”tertuduh”, sesak nafas, dan sempit hati. Walau ia menyadari bahwa nasihat ada karena perilakunya sendiri. (celakanya, jika ada yang tidak merasa bersalah). Akhirnya, ia melakukan pembelaan dan serangan balik, bahkan sangat sengit. Baginya nasihat adalah serangan, hinaan, dan pembunuhan karakter. Apalagi, ia manusia bertipe banyak bicara. Oleh karena itu, perlu kiranya nasihat diberikan sesuai kebutuhan, kadar, dan cara yang bijak dan hujjah yang mendalam. Selain juga memperhatikan posisinya dalam sebuah komunitas. Jika ini tidak diperhatikan, maka ia menjadi bukan apa-apa.
Tidaklah engkau perhatikan pedang akan turun derajatnya Jika dikatakan ia berasal dari kayu. Pujian yang pas, yang layak kepada penerimanya, akan mampu memotivasi untuk beramal, memompa semangat untuk bekerja, dan itu merupakan balasan kebaikan yang Allah Ta’ala segerakan untuknya didunia. Tetapi kebanyakan pujian, akan membuatnya terlena, terpedaya, dan sombong, seakan tak ada cela dalam dirinya, sebab hanya pujian dan sanjungan yang selalu ia dapatkan. Selain itu, ia menjadi pribadi yang tidak siap dikritik (nasihat), dan tidak sensitif terhadap kesalahan yang dibuatnya.
Bukan karena ia tidak punya salah, melainkan tak ada manusia berani ”menyentuh” wilayah kesalahannya, di tambah lagi ia adalah tokoh dan punya banyak pendukung fanatiknya. Rasulullah pernah mendengar seseorang memuji langsung di depan orang yang dipuji tersebut. Maka beliau bersabda, ”Celakalah engkau, karena engkau sama dengan menebas pundak sahabatmu. (HR. Bukhari no. 2610, 5922. Muslim no. 7450, 7451)
Wal hasil, manusia membutuhkan nasihat dan pujian. Keduanya mampu mematangkan dan mendewasakan perilaku. Manusia tidak selamanya sehat, sehingga ia butuh obat. Manusia juga tidak selamanya sakit, sehingga ia layak menikmati yang enak-enak. Maka, jika datang nasihat untuk kita, pandanglah itu sebagai obat, walaupun pahit, mungkin dia mengetahui penyakit dalam diri kita, yang kita tidak ketahui. Jangan tergesa-gesa kita menganggapnya musuh, atau anggapan dia sudah berubah, tidak lagi bersama jamaah, belum paham kejamaahan, tidak tsiqah dan taat dengan qiyadah, dan istilah lainnya yang menunjukkan ketidakmampuan kita sendiri dalam menunjukkan kebenaran. Memang, ini agak sulit untuk menerimanya, apalagi bagi kita yang terbiasa mendapat pujian. Jika datang pujian, maka katakanlah hadza min fadhlli rabbi (ini adalah karunia dari Tuhanku), lalu berdoalah, Allahummaj ’alni khairan mimma ya’lamun, wa ’afini mimma la ya’lamun. (Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa-apa yang mereka ketahui, dan maafkanlah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui tentang diriku)
Kau mengharapkan pendidik yang tidak memiliki cela sedikit pun Padahal tidak ada bakhur (bakaran) yang semerbak wanginya, melainkan ia juga berasap Kita tidak pungkiri, bahwa manusia umumnya tidak menyukai nasihat, namun menyukai sanjungan. Barang kali itu sudah dari ”sononya” Namun, yang pasti, bagi yang berpikir positif, nasihat dari siapapun kepada kita adalah baik. Jangan mengira ”musuh” bagi orang yang menasihati kita. Justru saudara yang baik adalah yang mau meluruskan kita, manakala salah.
Bisa jadi, musuh tersembunyi kita adalah orang yang menjerumuskan kita dengan segala macam pujiannya, sehingga membuat kita lupa. Sampai-sampai, kesalahan kita yang fatal pun, tetap dipujinya, minimal dia mendiamkannya. Janganlah kita seperti pepatah Arab jahiliyah, ” Bela-lah saudaramu, yang benar atau yang salah.” Lalu, oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dirubah menjadi ”Tolonglah saudaramu, baik yang menzalimi atau yang dizalimi. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyat (51): 55
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (QS.Al-Ghasyiah(88):21-22)
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ’Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: ’Agama adalah nasihat’, Kami berkata: Untuk Siapa ya Rasulullah? Beliau bersabda: ”Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin , Bab Fi An Nashihah , hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah, Tanpa tahun. Lihat Juga Arbain an Nawawiyah , hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah.1425H/2004M)
Semoga Allah Ta’ala merahmati Sayyidina Umar Radhiallahu ‘Anhu ketika ia berkata, Semoga Allah merahmati orang yang mau menunjuki aibku kepadaku. Imam Abu Hanifah pernah menegur seorang anak kecil yang sedang bermain-main di jalan yang tergenang air, “Wahai ghulam, hati-hati terjatuh, nanti pakaianmu kotor,” Anak kecil itu balas menegur Imam Abu Hanifah, “Wahai Imam, Anda juga hati-hati, jangan sampai terjatuh. Sebab jatuhnya seorang ulama, maka jatuhlah langit dunia.” Mendengar itu Imam Abu Hanifah jatuh pingsan.
Budaya saling menasihati ( munashahah ) pada masa sahabat dan para Imam, begitu hidup. Satu sama lain bisa saling menjaga jika ada yang lalai, dan saling mengingatkan jika ada yang lupa. Sehingga kehidupan berjamaah mereka sangat dinamis dan hidup. Tak ada satu pun yang tidak butuh nasihat. Bagi mereka, munashahah merupakan sarana kontrol yang efektif setelah muraqabatullah. Namun ketika budaya ini telah hilang, nasihat dianggap ancaman, tidak tsiqah, tidak taat, dan bentuk kecurigaan lainnya, maka hilanglah rahmat pada komunitas tersebut.
Budaya munashahah menjadi hilang lantaran dua jenis manusia, yakni manusia keras kepala yang selalu merasa benar, dan manusia apatis yang tidak peduli terhadap saudaranya (sikap elu-elu, gue-gue). Jenis manusia pertama ibarat cermin yang ditimpa air, tak ada bekas sama sekali nasihat yang ia peroleh. Bahkan, ia telah memiliki jawaban jika ada orang yang hendak menasihatinya. Baginya nasihat adalah ancaman dan celaan. Sedangkan jenis manusia kedua, ibarat patung yang sama sekali tidak merasa terganggu dengan keadaan dan kerusakan sekitarnya, betapa pun besar bahaya yang mengancam dirinya. Ia tetap diam! Nah, ketika nasihat tidak hidup, maka kezaliman,
penyelewengan, pelanggaran, maksiat, akan bebas bergerak dan terus melaju tanpa ada yang membendungnya. Halal haram tidak dipedulikan. Bahkan bisa menjadi budaya baru yang kelak dianggap benar, karena tak ada satu pun yang berani menyentuhnya, apalagi menegurnya. Ketika ini sudah terjadi dalam sebuah pergerakan Islam, gerakan apa pun, maka hakikatnya ia telah mati, ia telah mati sebelum ajal biologisnya tiba.
Sebab, akal sebagai sarana berfikir dan nurani sebagai sumber al furqan tidak lagi mereka miliki, atau minimal -tidak digunakan. Akhirnya, komunitas tersebut tetap ada nama dan anggotanya, tetapi tidak ada pengaruh baiknya, tidak ada dampak keshalihan bagi pengikutnya “apalagi masyarakatnya?. Sebab, ia memiliki masalah besar lantaran perilakunya sendiri, kekalutan internal yang tidak mampu diredam. Hingga, perlahan namun pasti, masyarakat mencibir dan melupakan eksistensi mereka. Lalu menghapus mereka dari ingatan dan perjalanan sejarah kehidupan bangsa mereka mungkin masih ada, tetapi dalam buku kisah kaum-kaum terdahulu yang telah Allah Ta’ala lenyapkan, semoga menjadi renungan bersama.
Ya Allah Ya Rabb lindungilah kami sebagaimana Engkau telah lindungi para pejuang sebelum ini jadikanlah perkumpulan ini perkumpulan yang Kau rahmati dan Kau berkahi Tiada Daya dan Kekuatan melainkan dariMu, cukuplah Kau tempat kami bertawakkal dan meminta pertolongan dari segala ancaman yang nampak atau tersembunyi, Engkaulah sebaik-baiknya pemimpin dan penolong, dan tempat mengadu, ketika tidak tersisa lagi tempat mengadu ..Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah dan para sahabatnya, wa akhiru da’wana ’anil hamdulillahi rabbil ’alamin.
Wallahu ’Alam wa Lilahil ’Izzah
(read more ...)

Aku mencintai suamiku, karena sifatnya yang apa adanya. Aku begitu menyukai perasaan aman dan tentram, yang muncul dihati ketika bersanding dengannya.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dua tahun dalam masa perkawinan, harus ku akui bahwa mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumah tangga dengannya dan alasan mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
********
Aku seorang wanita yang berjiwa sentimental dan benar-benar sensitive serta berperasaan halus. Aku merindukan suasana romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian. Tetapi semua itu tidak lagi kuperoleh. Suamiku kini jauh berbeda dari apa yang aku harapkan dulu. Rasa sensitivenya kurang dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami, telah memusnahkan harapan tentang kehidupan yang ideal.
********
Suatu hari aku beranikan diri menyatakan keputusan untuk bercerai. “Mengapa??” dia bertanya terkejut. ”Aku lelah..kamu tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan.” Dia terdiam dan termenung sepanjang malam didepan komputernya, Nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan aku semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang dapat aku harapkan darinya??
******
Dan akhirnya dia bertanya…”Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah pikiranmu?”. Aku menatap matanya dalam dalam dan menjawab dengan berlahan, “ Aku ada satu pertanyaan, jika kau menemukan jawabannya, aku akan mengubah pikiranku : Seandainya, aku menyukai bunga indah yang ada ditebing gunung, dan kita berdua tau jika kau memanjat gunung itu, kau akan mati. Apakah kau akan melakukannya untukku?”. Diapun termenung dan berkata ,”Aku akan memberikan jawabannya besok pagi”. “Hatiku langsung gundah mendengar reaksinya.”
********
Keesokan paginya suamiku tidak ada dirumah, dan aku menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat, yang bertuliskan :
********
“Sayang…aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tetapi izinkanlah aku untuk menjelaskannya alasannya…”
Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku, Aku lantas terus membacanya…
********
“Sayang..kau biasa mengggunakan computer, dan selalu menghadapi masalah kerusakan program didalamnya dan akhirnya menangis didepan monitor, Aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat membantumu dan memperbaiki programnya”
********
“Kau selalu lupa membawa kunci ketika keluar rumah, dan Aku harus memberikan kakiku supaya dapat menendang pintu, Dan membuka pintu untukmu ketika pulang..”
********
“Kamu senang jalan-jalan keluar kota dan sering tersesat ditempat-tempat baru yang kamu kunjungi..Aku harus menunggu dirumah dan membantumu agar dapat memberikan mataku untuk menjelasakan jalan melalui peta”
********
“Kamu selalu kelelahan saat pergi dengan teman baikmu setiap bulan, dan Aku harus memberikan tanganku untuk memijit kakimu yang terkilir.”
********
“Kamu seorang yang senang diam dirumah, dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi “aneh” dan aku harus membelikanmu sesuatu yang dapat menghiburmu dirumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami..”
********
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu..Aku harus menjaga mataku, agar ketika kita tua nanti, Aku masih dapat menolong memotong kukumu dan mencabuti ubanmu..”
********
“Tangan akan memegang tanganmu, membimbingmu menyusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah, menceritakan warna warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.”
********
“Tetapi sayangku…Aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, aku tidak sanggup melihat matamu mengalir menangisi kematianku..”
********
“Sayangku..aku tau diluar sana ada banyak orang yang mampu mencintai lebih dari aku mencintaimu..” ********
“Untuk itu sayangku..jika semua yang telah kuberikan dengan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu..”
********
Co Sweet . . .
“Aku tidak dapat menahan dirimu mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakanmu..”
Air mataku jatuh diatas tulisan dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku berusaha untuk membaca selanjutnya.
********
“Dan sekarang sayangku..kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kau berpuas hati dengan jawaban ini dan tetap menginginkanku untuk tinggal dirumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri diluar pintu menunggu jawabanmu..”
********
“Jika kamu tidak puas sayangku…biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku, dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi..”
“Percayalah…kebahagiaanku adalah KAU BAHAGIA”
********
Aku segera berlari membuka pintu dan..melihatnya berdiri didepan pintu dengan wajah sendu sambil tangan memegang susu dan roti kesukaanku…
Oh Tuhan…
Kini baru aku tau…
Tidak ada orang lain yang pernah mencintaiku lebih dari dia mencintaiku…
Co .... Cweet . . . 
Cerita-cerita lucu nan Islami, Ada Hikmah dibalik Cerita.
Renungan Tulisan ini tidak bisa dikomentari »
Pernah dengar cerita tentang Nasrudin dan keledai? Atau kisah 1001 malam dari negeri Abu Nawas? Banyak hikmah dibalik sebuah cerita, ada makna pada sebuah kata.
@ TEKA-TEKI SUKSESI.
Seorang wakil presiden dimasa Orde Baru, sebut saja namanya Tresno. Sebagai wakil presiden yang baik, ia ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih Menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam. Bagaimana caranya memilih Menteri yang pintar, Pak Lee?? Gampang, jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya”. Dan tokoh Singapura itupun Memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat :
“Hai, Chok Tong, misalkan orang tuamu punya anak tiga orang, Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan Bukan pula adikmu?” Goh menjawab dengan tangkas,”Ya itu saya sendiri.’
Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”
Tresno sangat terkesan dengan cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Moko “Pak Moko,,” kata Tresno, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab : “Misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan pula adik sampeyan??”
Ternyata Moko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar keluar ruangan, dimana menunggu Surata.”Coba mas Rata”, Katanya kepada bawahannya ini.”Misalkan orang tua situ punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak situ dan bukan pula adiknya situ??”
Surata berfikir lima menit, lalu menjawab :”Itu saya, Pak.”
Moko senang bukan main, da masuk kembali ke ruang Tresno. Dia langsung maju.”Jadi tadi petunjuknya… eh, pertanyaannya bagaimana,Pak Tres??”.
Tres dengan sabar mengulangi,”Orang Tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan??”
Moko kali ini menjawab tangkas :”Ya..Surata, Pak!!”. Tres ketawa geli..”Pak Moko ini gimana!! Jawabnya yang benar, ya..Goh Chok Tong, dong!!”
@ AWAS KAU BUSH…!!!
Ketika George W Bush dan Donald Ramsfel sedang karaoke sambil mabok disuatu kafe. Masuklah orang muslim dan menghampiri mereka.
“Bukankah kalian Bush dan Ramsfel?? Tanya si Muslim itu.
“Betul.., Ada apa??”
“Apa yang akan kalian lakukan tiga bulan kedepan??”
“Ohhh.,itu…, Dengarkan ya..Kami akan membunuh satu juta orang muslim dan satu orang tukang parkir.” Jawab Bush dengan Pongah.
“Lho..,mengapa dengan Tukang Parkir??” Tanya Muslim itu lagi.
“Hahahaha..hahaha.., lihat Ramsfel..!!! Diapun tidak peduli dengan satu juta muslim yang akan kita bantai…!1″ Teriak Bush dengan kegirangan.
@ Tenkorak Musa.
Seorang turis sedang berkunjung ke Yerussalem.
Seorang Yahudi menawarkan kepadanya sebuah tengkorak.
”Tuan, ini tengkorak kepala Musa, harganya Cuma 100 dollar.
”Tidak!!”, jawab turis itu,”terlalu mahal”.
”Bagaimana kalau yang ini?!”, katanya sambil Memperlihatkan tengkorak yang lebih kecil,
”Hanya 50 dollar”.
”Tengkorak siapa ini???”
”Ini kepala musa semasa kecil”.
”Hah…??!!!”
@ Bisnis Besar.
Seorang pemuda mengirim ayahnya sehelai baju hangat yang dibelinya seharga 200 dollar.Supaya ayahnya tidak ribut, ia mengatakan bahwa harga baju itu hanya 10 dollar. Seminggu kemudian ayahnya menelepon,”Wah luar biasa!!” serunya, ”Baju itu berhasil kujual 25 dolla”r.
Ini bisnis besar, cepat kirim selusin lagi!!”.
(Buah dari berbohong).
@ Married.
”John, i can see that all of your buttons are sewed on perfectly.
You must be married!”
“Thant’s wright. Sewing on buttons was the first thing my wife taught me
on our honeymoon!!”
@ Antique.
Son to his father as they watch TV
“Dad, tell me again how when you were kid,
you had to walk all the way across the room to change the cannel”.
@ Kritik Seorang anak.
Salah seorang anak presiden Amerika, Theodore Roosevelt, menerangkan perihal sifat ayahnya sebagai berikut:
“Ayahku selalu berambisi menjadi pusat perhatian masyarakat. Apabila menghadiri pesta perkawinan, ia ingin menjadi pengantinya, dan jika menghadiri pemakaman jenazah, ia ingin menjadi jenazah.”
@ Orang Buta dan Lampu
Seorang buta berjalan membawa gentong diatas pundaknya sambil menenteng lampu.
Berjalan menuju sungai untuk mengisi gentong itu.
Seseorang yang melihatnya berkata,”Wahai orang buta. Malam hari akan siang hari sama saja bagimu.
Lalu apa manfaat lampu itu? Orang buta itu menjawab,”Hai orang yang suka mencampuri urusan orang lain!!
Lampu ini kuperuntukan kepada orang yang buta hati, agar ia tidak terpeleset atau menabrakku.”
@ Tiang Bendera.
Seorang Bupati memerintahkan satpam untuk mengukur tiang bendera.
Bupati : ”Satpam, coba ukur tiang bendera itu, berapa meter tingginya??”
Satpam : ”Siap, Pak!!” (sambil membawa tali, dia memanjat tiang bendera.)
Bupati : ”Nanti kamu jatuh kalau memanjat begitu. Kan bisa kamu robohkan lalu kamu ukur.”
Satpam : Kalau dirobohkan dulu baru diukur…
Itu bukan tingginya, Pak?! Tetapi panjangnya..
Bupati : (Agak dongkol.)
@ Jam Dermawan.
Seorang Yahudi meninggal dunia. Sambil menunggu keputusan akan dimasukan ke syurga atau neraka.
Ia disuruh menunggu oleh malaikat. Sambil menunggu ia melihat jam-jam dinding yang banyak sekali.
Tetapi kecepatan masing-masing jam berbeda. Ada yang lambat ada yang cepat. Ia bertanya kepada Malaikat,
”Ini jam apa??. Kata malaikat, ”Oh, ini jam setiap bangsa didunia. Kami menyebutnya jam dermawan.
Semakin lambat perputaran jam tersebut, semakin dermawan bangsa tersebut.
Katanya, ”Oo, kalau begitu mana jam Yahudi??”
”Oh, jam Yahudi. Jam itu sangat berguna bagi kami, jadi tidak kami letakkan disini,
tapi kami letakkan didapur sebagai KIPAS ANGIN….
@ Khusuk.
Nasrudin sedang berada dimasjid, duduk khusyuk berdoa dideretan orang-orang yang alim.
Tiba-tiba salah seorang diantara mereka nyeletuk, ”Aku ragu.., jangan-jangan kompor dirumah masih menyala.”
Orang yang duduk disebelahnya berkata: ”Dengan bicara begitu, doamu batal lho.
Kamu harus mulai lagi dari awal.”
”Kamun juga,” kata orang yang duduk disebelah orang yang kedua ini.
”Alhamdulillah!!” kata Nasrudin keras-keras”, Untung aku tidak bicara.”
(read more ...)

Dari Nya ...
yang menjadikan tiada menjadi ada
menjadikan cahaya di tengah gulita
mengubah diam menjadi berputar
menghidupkan kematian atas kehidupan
yang menjentikkan jarum detik terus mengorbit
Oleh Nya ..
cinta menjadi benci
mulia menjadi terhina
perkasa menjadi lemah
sulit menjadi mudah
mustahil berubah nyata
Untuk Nya ...
hitamku berubah putih
lemahku menjadi daya
yakinku membunuh putus asa
tertatih ku kini berlari
tangisku menjadi bahagia
pongah ku bermetamorfosa menjadi ikhlas
bodohku sekarang berubah paham
sombongku menjadi tawadhu
Hai pemegang hati ... jangan kembalikan menjadi hina ... gelap tak bercahaya
akhiriku dengan bahagia ... di jalan Mu
sendiri ...
Ya, serahkanlah sepenuhnya kepada-Nya.
Kepada Dzat yang menggenggam segala urusan.
Ya Allah inilah diriku
Diri yang lemah tiada daya, tanpa kekuatan dari -Mu
Diri yang lemah tiada kehendak, tanpa iradat-Mu
Tiada kemampuan, tanpa pertolongan-Mu
Aku yakin semua ada dalam takdir-mu
Aku yakin semu ada dalam kuasa-mu
Aku yakin semua atas izin-Mu
Aku yakin semua berjalan sesuai skenario-Mu
Aku ingin melangkah dengan pijakan pada kakiku
Aku ingin melangkah tanpa harus dibayangi masa lalu
Aku ingin melangkah tanpa harus disiksa oleh perasaan cinta semu
Aku ingin melangkah dengan segenap semangatku
Ya Allah, tolonglah driku
Hilangkanlah bayangan wajahnya dari hatiku
hapuslah segala bentuk keindahan yang pernah terjadi dahulu
Buang segala hal yang mengusik pikiranku
Duhai engakau yang pernah hadir dalam lembaran hidupku
Izinkan aku untuk membuang rasa cinta kepadamu dalam hatiku
Akan kuhapus segala bentuk kenangan yang pernah terjadi dahulu
Mawar putih , akan menyimpan semua perasaan ini sampai nanti . . .
(read more ...)
“heuh…percuma lah aku semangat-semangat ngurusin blog! Toh akhirnya gak dapet 100, juga gak pernah jadi yang terbaik. Padahal anak-anak yang dapet nilai diatasku, artikelnya aja ada cuma 3, menurutku sama juga antara blog ku dengan blog ku dengan anak-anak yang masuk blog terbaik. Malah menurutku lebih bagus punyaku.” Gumamku dalam hati ketika melihat nilai blog untuk bulan maret.
Ingin rasanya air mata ini menetes dari mataku. Segera ku tepis semua perasaan itu dank u berdiam diri sambil bertanya pada hatiku. Muncul pertanyaan dalam hatiku dan terjawab pula oleh hatiku sendiri.
“kau tak terima dengan nilai itu vans?”
“iya, mengapa? Apa salah ketidak terimaanku atas semua ini. Memang kenyataannya blog ku lebih bagus dari blog teman-teman yang mendapatkan nilai diatasku. Setiap bulan selalu ada artikel baru yang aku tambahkan. Bulan maret penilaian tentang aksesoris kan? Sudah banya juga aksesoris dalam blog ku? Apa yang salah!”
“sekarang aku tanya, tujuan mu dulu ketika membuat blog apa tya? Bukankah kau berkata blog mu kau dedikasikan untuk mu dan juga untuk para saudari seimanmu?”
“aku tau, tapi setidaknya dihargailah usahaku. Aku bisa terima kalau memang mereka yang dapat nilai diatasku pada kenyataannya memang blognya lebih bagus dari blog ku? Tapi mengapa mereka yang hanya punya artikel 3 dengan aksesoris yang sedikit mereka bisa dapat nilai di atasku! Ini tidak adil! MULAI SEKARANG AKU NGGAK MAU NGURUSIN BLOG LAGI!”
“dengerin aku, apakah dengan nilai bagus kau akan tetap memperbaiki blogmu? Jangan berpikiran negatif. Coba pikirkan, mungkin saja Allah SWT tidak mengijinkanmu untuk mendapatkan nilai 100 ataupun menjadi blog terbaik, itu semua merupakan ujianmu. Bagaimana kau bisa menjalani ujian ini dengan sebaik-baiknya. Mungkin Allah SWT tidak mau membalas semua yang telah kau lakukan hanya dengan nilai ataupun menjadi blog terbaik karena Allah sayang padamu Allah SWT akan membalasnya dengan sesuatu yang akan membuat kau lebih bahagia. Jika bukan di dunia balasan itu Allah berikan, percayalah Allah akan membalasnya di akhirat.”
“…..”
“mengapa kau diam vans? Percayalah Allah SWT tau mana yang akan membuat senyuman manismu itu tersungging lebih lebar. Biarkan mereka yang mendapatkan nilai diatasmu meskipun dia tidak mengerjakan blognya dengan serius mendapatkan nilai saja. Akan tetapi aku yakin, kau akan mendapatkan nilai yang terbaik meskipun bukan dari gurumu. Melainkan dari Allah SWT. Maka tersenyumlah vans dan hapuslah air mata yang telah banyak mengalir itu. Ingatlah apa yang dikatakan pak Dahlan tentang golongan orang-orang yang tidak terkenal di bumi, akan tetapi ia terkenal di langit. Tampakkan senyum manismu itu. . . .”
“Ya Allah, maafkan aku yang telah menacapkan rasa iri dan dengki dalam hatiku. Aku pasrahkan semua hanya kepadamu. Hamba tau Engkau maha mengetahui atas segala yang telah hamba lakukan.”
Segera ku hapus air mata yang telah membahasi bajuku. Tiba-tiba kurasakan damai dalam hatiku dan ada aliran energi yang begitu kuat yang membuatku merasa tegar dan tak serapuh tadi. Terima kasih Ya Allah… hanya Engkaulah yang membuatku bertahan. Allahu Akbar!

Betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.
Allah berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)
Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya.
Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.
Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?
Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.
Kaidah Birrul Walidain
Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.
Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:
1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam
Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.
Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman: 15)
Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.
2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam
Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.
3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya
Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua.
Saat gundah menyapamu, …
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)?
Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.
Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.” (Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka.
Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)
Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.
Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.
Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu. Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun -bi idznillah- akhirnya ridha kepada kita.
Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan
Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.”
Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang.
Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.
Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik.
Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita.
Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.
Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…
Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?
Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (Qs. At Tahrim 6)
Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?
Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.
Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu.
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.
Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.
Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.
Landasi Semuanya Dengan Ilmu
Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya.
Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.
Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.
Karena itu, wahai saudariku…
Istiqomahlah!
Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dengan akhlaq yang mulia
Tegar dan sabarlah!
Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.
Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu
Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah
insyaa Allah
Teriring cinta untuk ibu dan bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.
1. Barangsiapa ingin dicintai Allah dan rasulNya hendaklah dia berbicara benar (jujur), menepati amanat dan tidak mengganggu tetangganya. (HR. Al-Baihaqi)
2. Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. (HR. Ad-Dailami)
3. Paling kuat tali hubungan keimanan ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah. (HR. Ath-Thabrani)
4. Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
6. Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)
(read more ...)

Saudariku muslimah… ketahuilah bahwa engkau dan manusia seluruhnya di muka bumi ini diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah, demikian pula tujuan jin diciptakan tidak lain adalah untuk meyembah Allah.
Allah berfirman,
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (yaitu mengesaknKu).” (Adz Dzariyat 56)
Ibadah dilakukan oleh seorang muslimah karena kebutuhannya terhadap Allah sebagai tempat sandaran hati dan jiwa, sekaligus tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Dan ketahuilah saudariku bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seorang muslimah, di samping dia harus mencontoh gerak dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadahnya.
“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, dengan mentauhidknnya.” (Al Bayyinah 5)
Ikhlas adalah meniatkan ibadah seorang muslimah hanya untuk mengharap keridhoan dan wajah Allah semata dan tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah tersebut. Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah atau menjadikan sekutu bagi Allah sebagai tujuan ibadah ketika sedang beribadah kepada Allah adalah syirik dan ibadah yang dilakukan dengan niat yang demikian tidak akan diterima oleh Allah. Misalnya menyembah berhala di samping menyembah Allah atau dengan ibadah kita mengharapkan pujian, harta, kedudukan dunia, dan lain-lain. Syirik merusak kejernihan ibadah dan menghilangkan keikhlasan dan pahalanya.
Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ” Ia tidak mendapatkan apa-apa.”
Orang tadi mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap menjawab, ” Ia tidak akan mendapatkan apa-apa. ” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.” (HR. Abu Dawud dan Nasai)
Ketahuilah saudariku… bahwa ikhlas bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran, sedikit atau pun banyak – sehingga tujuan ibadah adalah murni karena Allah.
Ikhlas hanya akan datang dari seorang muslimah yang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagi satu-satunya sandaran dan harapan. Namun kebanyakan wanita pada zaman sekarang mudah tergoda dengan gemerlap dunia dan mengikuti keinginan nafsunya. Padahal nafsu akan mendorong seorang muslimah untuk lalai berbuat ketaatan dan tenggelam dalam kemaksiatan, yang akhirnya akan menjerumuskan dia pada palung kehancuran di dunia dan jurang neraka kelak di akhirat.
Oleh karena itu, hampir tidak ada ibadah yang dilakukan seorang muslimah bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan dunia. Namun ini bukanlah alasan untuk tidak memperhatikan keikhlasan. Ingatlah bahwa Allah sentiasa menyayangi hambaNya, selalu memberikan rahmat kepada hambaNya dan senang jika hambaNya kembali padaNya. Allah senatiasa menolong seorang muslimah yang berusaha mencari keridhoan dan wajahNya.
Tetaplah berusaha dan berlatih untuk menjadi orang yang ikhlas. Salah satu cara untuk ikhlas adalah menghilangkan ketamakan terhadap dunia dan berusaha agar hati selalu terfokus kepada janji Allah, bahwa Allah akan memberikan balasan berupa kenikmatan abadi di surga dan menjauhkan kita dari neraka. Selain itu, berusaha menyembunyikan amalan kebaikan dan ibadah agar tidak menarik perhatianmu untuk dilihat dan didengar orang, sehingga mereka memujimu. Belajarlah dari generasi terdahulu yang berusaha ikhlas agar mendapatkan ridho Allah.
Dahulu ada penduduk Madinah yang mendapatkan sedekah misterius, hingga akhirnya sedekah itu berhenti bertepatan dengan sepeninggalnya Ali bin Al Husain. Orang-orang yang yang memandikan beliau tiba-tiba melihat bekas-bekas menghitam di punggung beliau, dan bertanya, “Apa ini?” Sebagian mereka menjawab, “Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah.” Akhirnya mereka pun tahu siapa yang selama ini suka memberi sedekah kepada mereka. Ketika hidupnya, Ali bin Husain pernah berkata, “Sesungguhnya sedekah yang dilakukan diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah.”
Janganlah engkau menjadi orang-orang yang meremehkan keikhlasan dan lalai darinya. Kelak pad hari kiamat orang-orang yang lalai akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan. Ibadah mereka tidak diterima Allah, sedang mereka juga mendapat balasan berupa api neraka dosa syirik mereka kepada Allah.
Allah berfirman,
“Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi azab mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (Az Zumar 47-48)
“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104)
Saudariku muslimah… bersabarlah dalam belajar ikhlas. Palingkan wajahmu dari pujian manusia dan gemerlap dunia. Sesungguhnya dunia ini fana dan akan hancur, maka sia-sia ibadah yang engkau lakukan untuk dunia. Sedangkan akhirat adalah kekal, kenikmatannya juga siksanya. Bersabarlah di dunia yang hanya sebentar, karena engkau tidak akan mampu bersabar dengan siksa api neraka walau hanya sebentar.
Jika ini ketentuanMu,
ku coba tabahkan hatiku,
karena pasti tersirat sesuatu di balik yang tersurat itu...
karena ku manusia biasa,
tidak terdaya memikirkan apakah hikmahnya...
apakah rahsianya..
hidup ini terus berputar,
tiada masa untuk lengah,
tiada masa untuk patah,
ku kuatkan hati yang serapuh kaca ini,
ku salutkan bersama doa tulus suci,
karena doa itu tersimpan satu kekuatanku,
kekuatan dari yang Empunya segalanya...
dan pastinya dunia bukan milikku sendiri,
untukku atur segalanya,
karena yang takdir itu mengatasi tadbir...
tadbir dari manusia yang lemah,
takdir dari Tuhan Yang Maha Mencipta,
ku simpan segala pahit dan duka,
dalam surat kehidupan ini,
yang penuh sirat pengajaran...
di sebalik yang terjadi
pasti ada yang terjanji
termateri sesuatu yang pasti
jika kau ridho ketentuan Ilahi...
~
alangkah banyak jalan keluar yang datang selepas rasa putus asa dan betapa
banyak kegembiraan datang selepas kesusahan. Siapa yang berbaik sangka kepada
Penguasa ’Arasy dia akan memetik manisnya buah yang dpetik di tengah tengah
pohon berduri..
"...inna nasrolLahi qorib" 2:214
Amiin.. Bi iznilLah Ya ILAHI...
pimpinlah kami dalam menjalani kehidupan fana ini dengan kasih sayangMU yang
tiada batasannnya...
Irhamna Ya Allah, Faghfirlana Ya Allah...
Kau rembulan dan Aku mentari.
Sungguh pesonamu membuat kata-kata membisu untuk menggambarkanmu.
Malam-malam nan syahdu menyanyikan syair-syair yang memuaskan cawan-cawan jiwa saat kilaumu menyemburat dari layar hitam terbentang.
Aku tidak hendak menikmati rupamu.
Aku yakin bahwa kau pun tidak suka untuk dinilai dari rupamu semata.
Sebab kau jauh berbeda dari mereka yang menghabiskan waktu untuk berlama-lama menghias diri. Memperbagus rupa tetapi jiwa terlupa. Aku yakin, bahwa kau lebih senang menghias dirimu dengan keanggunan jiwa dan keluhuran budi. Aku juga yakin, bahwa kau di didik tidak untuk menjadi wanita-wanita yang bersembunyi dalam kepura-puraan make up duniawi. Kau telah memilih hiasan-hiasan ukhrawi. ![]()
Kau rembulan dan aku mentari.
Aku tidak hendak mengatakan bahwa aku seperkasa mentari
dan kau semanis rembulan
. Aku sangat tahu bahwa mereka yang menamakan dirinya para pejuang perempuan dibawah payung “Feminisme” tentu tidak senang jika aku menafsirkan demikian. ![]()
Aku ingat sekali betapa mereka sangat membenci manakala kau hanya diposisikan sebagai pelengkap dalam rumah tangga atau terperangkap dalam wilayah domestik sumur, kasur, dapur.
padahal kau pasti mengatahui bahwa pintu-pintu surga pun bisa terbentang dari sumur, kasur ataupun dapur. Jelas bagimu, keridhoan Allah diatas segalanya.
Kau rembulan dan Aku mentari. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau dan aku memiliki kesamaan pada satu sisi,
tetapi juga perbedaan pada sisi yang lain. Aku tidak ingin berlama-lama dalam pembicaraan ini, tetapi aku hanya ingin memastikan bahwa kau mengetahui itu.
Kau rembulan dan Aku mentari. Mungkin mata tidak pernah melihat kita bersamaan atau memang kita tidak harus bersamaan. Jika aku terbit disiang hari, kau terbit dimalam hari. Bukankah jika kita bersamaan, maka akan terjadi gerhana? ![]()
Kau rembulan dan Aku mentari. Titah Sang Raja tak pernah membatasi peranmu atau mengecilkan arti hadirmu. Karenanya aku heran dengan mereka yang menuntut kesetaraan antara aku dan kau. Padahal kau pun begitu mulia dengan peranmu. Mengapa mereka seolah-olah menjadi orang yang paling berhak menentukan peranmu dan kaummu? Kau tidak akan diam dengan apa yang mereka lakukan bukan? ![]()
Kau rembulan dan Aku mentari. Walau bumi kian menua dan manusia makin merasakan kesempitan, ku berharap sinar kita tetap menerangi mereka yang sedang mengembara menuju Tuhannya atau menjadi pelita bagi mereka yang tersesat
. Jangan biarkan sejengkal pun wilayah kemulianmu terjajah oleh syahwat-syahwat kesetaraan yang mereka hembuskan. Keadilan, lebih utama bagimu daripada kesetaraan yang mereka inginkan. Damailah dibawah keadilan Tuhanmu. Jika mereka tidak mau tunduk, lawanlah mereka….!!! ![]()

Hari ini kita sangat prihatin melihat kiprah para wanita kita. Sosok itu ternyata hampir benar-benar tenggelam atau tenggelam benar oleh keanggunannya. Sebuah fitrah kodrati yang senatiasa membelenggu mereka dan pledoi bahwa pembawaan merekalah seperti itu.
21 april biasanya pasti ramai di televisi, kelahiran Kartini diperingati di pelosok tanah air ini. Kelahiran yang melahirkan sebuah nilai perjuangan wanita Indonesia, disebutlah EMANSIPASI WANITA. Bagi mereka tidak ada peringatan akan kelahirannya, meski mengambil momen hari kelahirannya. Mereka telah menemukan sesuatu dibalik diturunkannya Kartini di muka bumi, jalan hidup hingga ajal menjemputnya.
Sementara di sisi lain ada yang mengambil tema diskusi baru ; “Meluruskan Sejarah Kartini” dengan meng-counter pada titik ekstrem bukan Habis Gelap Terbitlah Terang –sejarahnya, tetapi Dari Gelap Menuju Terang. Pergeseran isu 21 april ini sarat muatan idelogisasi, katanya. Benarlah memang, “otak-atik” kata – kata : gelap – terbit – menuju – terang kalau padan-padankan sama saja. Bahwa Kartini mempunyai asal “dunia kegelapan”, Dia berubah dan Dia menemukan “ dunia yang terang”. Tentu membicarakan perbedaan ini tidak menarik lagi. Tentang maksud “dunia terang” macam apa yang didapat Kartini disitulah protes sejarah bagi kaum ideologis.
Pertanyannya sekarang, “masih pentingkah kita mendebatkan ; “kemana sebenarnya Kartini berlabuh pada terangnya cahaya itu ?”, seberkas kekuatan pada cahaya perlawanan pada diskrimasi gender yang sering disebut sebagai nafas emansipasi ataukah penemuan ideologi penerang jiwanya ?”. Dua pertentangan ini juga dihadap-hadapkan dalam judul dua buku yang saling dilawankan, permodalan yang tidak main-main dalam mempengaruhi sejarah ini.
Bukankah mengangkat kekuatan dan semangat pada penyadaran etos perjuangan Kartini dari kelas gender termarginalkan menjadi kelas yang “bergairah” untuk tampil ke publik, satu perjuangan dengan gender laki-laki adalah kampanye yang dibutuhkan saat ini ?, di saat lemahnya peran wanita dalam dinamika sosial saat ini ? tampil terdepan dalam pembelaan hak-hak PKL yang diusir pontang-panting, buruh kontrak yang dibayar barang 20 ribu perhari ? terdepan dalam menyebar makanan dan susu untuk bayi-bayi busung lapar-gizi buruk di sekitar mereka. Dan segudang program-program kontra-pemiskinan struktural yang sengaja “ditancapkan” oleh rezim, yang menunggu tangan perjuangan makhluk yang beruwujud laki-laki maupun wanita. Tentunya itu akan lebih besar manfaatnya bagi kebaikan masyarakat.
(read more ...)
Beberapa hari ini, saat ngampus. Melanjutkan perjuangan
, untuk menyelesaikan penelitian skripsi
. Sekilas, saat melewati widyaloka, ada sesuatu yang lain. Orang – orang bergerombol, ada wajah – wajah asing yang masih segar, ada pula aktivis dakwah kampus yang dengan semangat menawarkan bantuan. Hmm.. ada apa ya ? Setelah sejenak berfikir,
Oo..pantas, sekarang sudah masuk masa daftar ulang mahasiswa baru jalur PSB. Barakallah ya
..kepada adik – adik yang sudah diterima. Pasti senang kan ?
Pasti bangga kan ?
Sama seperti yang saya rasakan dulu. Perjuangan berdarah – darah
selama zaman abu – abu putih, seolah hilang seketika, tergantikan dengan kebahagiaan diterima di Universitas Idaman. Jangan lupa disyukuri, agar nikmatNya semakin ditambah. Untuk adik – adik, yang belum diterima, jangan khawatir
. Masih banyak jalan menuju roma Brawijaya, klik saja disini.
Masa – masa penerimaan mahasiswa baru, selalu mengingatkan saya pada masa sekitar empat tahun yang lalu. Saat seorang anak kampung yang ndeso,
diterima tanpa tes disebuah jurusan yang saat itu sedang booming, Ilmu Komputer. Sempat ayah, yang memang tidak mengeyam pendidikan tinggi, nyeletuk, “Lha nak lulus, arep ndandani komputer’e sopo tho Le ? (Kalau sudah lulus mau memperbaiki komputernya siapa Nak ?)”. Pertanyaan yang baru bisa terjawab setelah beberapa lama kuliah disini. Saat itu, saya hanya bermodal niat
dan tekad yang membaja
, Bismillah,
berangkatlah ke Malang. Sendiri, hanya ditemani doa dari kedua orang tua
, dan berbekal nomor HP Ketua KAMMI Daerah Malang waktu itu, Mas Zuliyanto SE, MSi.
Dan kini, hampir empat tahun sudah saya di Malang. Sudah semester 8, Adik kelas ke empat juga sudah datang. Mengisyaratkan secara halus, bahwa saya harus segera lulus dari kampus ini, dengan gelar S.Kom, tentu plus – plus dengan lainnya. Baiklah, sebagai oleh – oleh untuk adik – adik yang akan melanjutkan perjuangan di Kampus Biru ini, agar tidak tersesat, saya perkenalkan tempat saya menimba ilmu selama ini.
Program Studi Ilmu KomputerUniversitas Brawijaya
Program Studi Ilmu Komputer merupakan salah satu Program Studi yang ada di Jurusan Matematika. Program Studi Ilmu Komputer pertama kali diselenggarakan dengan ijin dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi dengan Surat Keputusan DIKTI Nomor : 1594/D/T/2002 Tanggal 2 Agustus 2002.
Program Studi Ilmu Komputer menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Proses pembelajaran didukung oleh tersedianya sejumlah dosen tetap dengan kualifikasi pendidikan S1, S2 dan S3, baik lulusan dalam maupun luar negeri. Proses pembelajaran juga didukung oleh tersedianya sarana dan prasarana yang representatif (ruang kuliah, laboratorium, ruang seminar, ruang baca, ruang dosen dan lain-lain).
VISI
Menjadi pusat pengembangan pendidikan dan penelitian ilmu komputer pada bidang sistem cerdas
MISI
- Menyelenggarakan proses belajar mengajar yang berkualitas dalam bidang sistem cerdas
- Meningkatkan kualitas dan kerja sama penelitian sistem cerdas dengan berbagai organisasi jasa dan produksi.
- Memasyarakatkan hasil-hasil penelitian sistem cerdas melalui publikasi ilmiah dan pengabdian masyarakat.
- Menghasilkan lulusan ilmu komputer yang berkualitas dan kompeten dalam bidang sistem cerdas
- Menghasilkan penelitian dalam bidang sistem cerdas yang dapat diterapkan dalam organisasi jasa dan produksi
- Menerapkan hasil-hasil penelitian sistem cerdas untuk membantu masyarakat
TUJUAN
- Menghasilkan lulusan ilmu komputer yang berkualitas dan kompeten dalam bidang sistem cerdas
- Menghasilkan penelitian dalam bidang sistem cerdas yang dapat diterapkan dalam organisasi jasa dan produksi
- Menerapkan hasil-hasil penelitian sistem cerdas untuk membantu masyarakat
JALUR KARIR
1. Pengembangan metode efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah komputasi
Berkaitan dengan pengembangan teori ilmu komputer dan pengetahuan algoritma untuk mencari solusi terbaik dari masalah yang dikomputasikan, seperti mengembangkan cara terbaik untuk menyimpan informasi database, mengirimkan data melalui jaringan, menyimpan dan menampilkan citra digital kompleks.
Peluang karir yang tersedia adalah sebagai dosen dan peneliti di universitas, staf laboratorium R&D.
2. Pengembangan cara baru untuk menggunakan komputer
Merujuk pada inovasi penerapan teknologi computer, seperti berkolaborasi dengan ahli elektronika untuk menciptakan robot, berkolaborasi dengan ahli biologi untuk memecahkan rahasia DNA.
Jalur karir yang tersedia adalah sebagai peneliti atau aktivitas wirausaha.
3. Perancangan dan implementasi software
Merupakan jalur yang paling banyak dipilih alumnus Ilmu Komputer. Pekerjaan yang ditangani adalah pengembangan software, meliputi aspek administrasi database, pengembangan web, perancangan antarmuka, keamanan sistem dan mobile computing.
Peluang karir terdapat pada perusahaan pengembang software (software house) dan instansi yang menerapkan teknologi informasi.
Salam
Mawar Putih
(read more ...)
Sabarlah adinda dalam penantian
Kanda tengah pergi berjuang
Serukan kebenaran perangi kebatilan
Untuk bekal dimasa depan
Bukankah Allah telah berkata
Di dalam kitabnya yang mulia
Anak dan istri jiwa dan raga
Serta harta ujian semata
Dengarlah suaraku dalam munajatmu
Kuharapkan ikhlasmu terpendam dalam kalbu
Bagi Allah yang terindu
Bermujaahadalah didalam amanah
Tetaplah dalam fitrah
Kala tilasi mihnah
Hingga meraih syahidah
Ingatlah andinda akan kehidupan
YAng fana dan tak akan kekal
jalan masih panjang
Menuju titik terang
‘tuk menggapai sebuah kemenangan
Allah ghayatuna
Muhammad qudwatuna
Al-Quran dusturuna
Jihad Sabiluna
Syahid asma amanina
Allah tujuan kami
Muhammad tauladan kami
Alqur’an penuntun kami
Jihad jalan kami
Syahid cita kami tertinggi
To : Cah ayuku . . .
( Hmm . . . Kirimin nie baru vans dapet dari email nie )
(read more ...)
Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya’ban ini. Kita persiapkan diri kita baik ilmu, ruhiyah dan juga fisiki untuk bulan yang penuh karunia tersebut.
Mempersiapkan ruhiyah kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita, yaitu fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran. Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi agama dan keimanan kita.
Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys’ban semoga bisa kita baca dan amalkan:
Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.
Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).
Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.
Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban? Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.
Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam
(read more ...)

Setiap manusia, ikhwan akhwat ataupun manusia biasa, pasti akan mengalami tiga jenis ujian dalam hidupnya. Meski kadarnya berbeda – beda bagi setiap orang. Lawan jenis, harta dunia dan status sosial. Ketiga jenis ujian inilah yang akan menjadi siklus tetap ujian bagi manusia. Sampai kapan ia akan terlepas dari ujian ini ? jawabnya adalah tatkala manusia itu telah menghembusan nafas terakhirnya.
Belum lagi dengan kegiatan – kegiatan yang melibatkan interaksi dengan lawan jenis diluar kegatan – kegiatan berlabel dakwah. Rapat himpunan, rapat BEM, sampai pada mengerjakan tugas kelompok yang menjadi makanan sehari – hari bagi sebagaian mahasiswa pada prodi tertentu. Tentu berkikhtilat, bercampur baur, dengan lawan jenis adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk dihindari. Meskipun untuk hal yang terakhir, pendidikan, sebagaian ulama memafhumkan hal tersebut.
Fenomena – fenomena semacam inilah yang kemudian mengharuskan ana, antum, dan semua yang mengaku sebagai pengemban risalah Allah yang teguh memegang prinsip agama untuk memahami suatu ilmu tentang fiqh ikhtilat. Pengetahuan yang mendalam tentang hukum – hokum berinteraksi dengan lawan jenis sesuai dengan ajaran dien ini. Hal ini penting untuk difahami, agar kita tidak menjadi ragu – ragu dalam berinteraksi atau bahkan salah dalam menempatkan diri dalam sebuah keadaan.
Ikhwan dan akhwat fillah, ikhtilat secara dhahir memang adalah bagaimana kita secara fisik berada dalam sebuah tempat bersama lawan jenis yang bukan muhrim dalam suatu urusan yang tidak sesuai dengan kaidah syar’i. Namun, lebih daripada itu, kini ikhtilat – ikhtilat itu telah berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Hal ini menarik untuk dicermati, dikarenakan hal ini pula, MUI di kota Kediri, Jawa Timur (JawaPos, 23 mei 2009) mengeluarkan fatwa haram untuk sebuah sistus jejaring social, Facebook. Bukan karena alas an ideologis idealis seperti ana. Namun, lebih kepada sisi mudhorot yang diimplikasikan oleh situs jejaring sosial tersebut. Yaitu, mengharamkan Facebook jika digunakan untuk menggunjing, gossip atau PDKT.
Demikian juga dengan ikhtilat, seiring perkembangan zaman, ikhtilat maupun khalwat tak lagi mengharuskan dua fisik bertemu dalam satu lokasi. Cukuplah kiranya sms – sms kita kepada lawan jenis bukan mahram yang bisa membuat hati gelisah itu termasuk dalam kategori ikhtilat. Atau telfon – telfon berlebihan, chat – chat yang tiada guna dan tujuan, pun bisa dikategorikan dalam ikhtilat gaya baru.
Kebanyakan, hasil – hasil dari ikhtilat adalah timbulnya perasaan “deg – deg ser” kepada lawan jenis tersebut. Dalam bahasa lain dapat diterjemahkan menjadi, cinta, tresno atau apalah lain sejenisnya. Bagi kalangan aktivis perasaan cinta sebelum nikah banyak disebut dengan Virus Merah Jambu. Padahal warna merah jambu adalah warna yang indah dan cerah. Menurut ana kurang tepat jika virus yang bisa merusak ini disebut dengan Virus Merah Jambu. Ana menyebutnya sebagai Virus Panah Iblis karena virus ini lebih sering muncul karena pandangan yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadits qudsi:
“Pandangan mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya.” (HR. Al Hakim).
Maka, barang siapa yang meninggalkan pandangan jelalatan karena takut Allah niscaya akan diberikan kepadanya rasa manisnya iman di hati. Mungkin juga manis yang dimaksud adalah manisnya cinta hakiki.
Lalu bagaimana jika ikhtilat tidak bisa dihindari lagi ? Cara yang paling umum adalah beramal dengan ikhlas, gadhul bashar, puasa, hijab fisik dan jaga hati. Namun, jika itu semua belum juga bisa menundukan pandangan dan membuat hati tenang, maka solusi ini mungkin perlu dicoba, Nikah. Nikah akan mengalihkan pikiran dari pengharapan-pengharapan yang tidak perlu. Pengharapan yang selama ini menghantui telah berwujud menjadi bidadari yang setia menanti di rumah sendiri. Kalaupun ada godaan syetan di tengah jalan, ya, tinggal pulang saja. Di rumah ada yang halal kok.
Seperti yang ana ungkapkan di awal bahwa cinta sejati yang hakiki hanya akan terwujud jika telah melewati gerbang pernikahan ini. Jika belum melewatinya, ana masih menganggapnya syubhat. Sementara syubhat dan snafsu hanya bisa dihalalkan lewat jalur pernikahan.
Di sebuah tempat yang ramai sesak manusia ber’uang’. Dimana banyak sekali barang hi-tech yang dipajang , dengan begitu rapi berjajar disepanjang mata memandang. Seakan berlomba memamerkan kemutakhiran kecanggihan. Semua Stan berlomba menawarkan. Yah, itulah suasana dalam beberapa pameran laptop dan komputer di Plaza Dieng, Malang Olympic Garden, Malang Town Square, Matahari, Darmo Trade Center, dll. Sebuah perjalanan yang ketempat saya “benci” namun mau bagaimana lagi? Bukan karena gengsi, namun karna semata – mata saya adalah pejuang dibidang ini. Sebuah keharusan. . Karena saya adalah mahasiswa Ilmu Komputer, yang mengaharuskan diri ini untuk selalu update dunia IT, untuk menjaga stabilitas core competence diri.
Pameran teknologi informasi terbesar tahun ini, begitulah iklannya. Sebuah even yang menyedot ribuan manusia . Bertepatan dengan menumpuknya amanah yang harus dikerjakan, paman yang menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa”, baik buat saya maupun bagi bangsa ini, meminta tolong untuk dibelikan sebuah notebook guna memperlancar jalan juangnya.
Tempat itu..
Sungguh, saya tak pernah masuk ketempat ini sebelumnya. Hanya karena amanah dari salah seorang yang turut membesarkan saya, dan membaca spanduk disekitar jembatan Sukarno Hatta. Akhirnya saya beranikan memasukinya, ditemani oleh seorang ikhwan adek kelas. Astagfirullah..
Pandangan….
Rasanya mata ini tiada mampu untuk menjaga tetap terjaga dalam nuansa siaga. Begitu langkah kami memasuki ruangan utama pameran, tiada kata yang lebih pantas terucap oleh bibir hati selain istighfar dan taubat berlipat-lipat. Melintas dalam padatnya manusia di pintu masuk pameran, astagfirullah… Memalingkan pandangan merupakan jalan yang utama. Sebuah perjuangan diri.
Sales Promotion Girls…
(…![]()
Sebuah dunia….
Jauh dibagian barat kota Malang. Di sebuah kampus biru nan rindang. Dunia lain yang lain dari yang lain. Sebuah kawah candradimuka untuk menempa diri. Sekedar usaha kecil untuk membangunkan raksasa peradaban ilahi. Sebuah dunia yang tidak selalu bisa ditemui di dunia yang ada. Yang konon lebih Islami dari Universitas Islam dikota yang sama.
Muslimah…
Dengan segala pernik kehidupan. Dengan segala kewajibannya untuk memberi perlindungan kepada diri sendiri dan orang lain. Demi mewujudkan sebuah kemuliaan Islam. Meski (mungkin) merasa direpotkan. Hmmm… Sungguh luar biasa muslimah kampus ini. Begitu memberikan gambaran nyata realitas sya’ir Emha Ainun Najib dalam Lautan Jilbab.
Akhawat…
Lebih dari sekedar yang lain. Ya. Karena mereka memang lebih dari sekedar.
Sakinah..
Dan rasa tenteram itu muncul di hati kami. Memberikan kesejukan di mata dan hati kami. Sehijau pucuk dedaunan di musim penghujan. Meski mata kami pun harus tetap tertunduk, kami ikhlaskan demi sebuah kemuliaan dan penghormatan. Mengemban sebuah misi ilahi rabbi… (Karena sayapun tak rela, istri saya (kelak) menjadi pemandangan obralan).
* sepulan perjalanan dari rumah ust. Jalal di Pucak Dieng.
Wahai engkau yang pernah singgah di lubuk hatiku izinkan aku untuk melupakan bayanganmu di hatiku akan kuhapus segala memori indah yang pernah terjadi dahulu.
Rasa cinta memang tidak mudah untuk dihilangkan. Apalagi cinta pertama, pasti teramat sulit untuk dilupakan. Hal ini akan menyiksa, bila kita tidak berusaha mengatasinya. Ketika bayangannya hadir kembali ke dalam memori. Bahkan sering menghantui mimpi-mimpi.Namun, secara psikologis engkau masih sulit melupakannya, tulislah namanya pada selebar kertas. Lantas, sobeklah kertas itu dan nyatakan bahwa engkau akan melupakan dirinya. membuang jauh bayangan wajahnya.
Sekali lagi kita tidak boleh membatasi diri hanya pada satu nama. Hanya kepada satu orang yang tidak kita dapatkan cintanya. Karena, jangankan yang senantiasa hadir dalam Istikharah, yang sudah mengkhitbah atau dikhitbah pun tidak lantas menjadi jaminan bahwa dia jodoh terbaik yang Allah pilihkan.
Dunia terkadang jadi terasa sempit bagi yang sedang mengalami rasa frustasi, kecewa dan patah hati. Sehingga, apa-apa yang terhampar di hadapan tidak serta merta bisa dirasakan. Tingginya gunung yang menjulang, serasa rendah kelihatan. Luasnya langit yang terbentang pun serasa sempit kelihatan. Yang ada hanyalah bayangan wajah dia seorang.
jadikanlah masa lalu sebagai masa yang kita tidak perlu bersedih atasnya. karena, semuanya telah berlalu dan pergi seiring bergulirnya waktu. Jadikanlah mas akini sebagai kesempatan untuk mengukir mimpi, meraih prestasi serta meala memngoptimalkan potensi.
Wahai engkau yang pernah singgah di lubuk hatiku
Izinkan aku untuk melupakan bayangnmu dihatiku
Akan kuhapus segala memori indah yang pernah terjadi dahulu
Biarkan aku melangkah dengan pijakan pada kakiku
Jangan kausandungi dengan beban kenangan
Yang akan membelenggu langkahku
Jangan kausiksa dengan cinta semu
Yang akan menghancurkan harapanku
Ya, izinkan aku untuk melupakanmu
Sepenuh hatiku
Segenap Jiwaku
Seluruh perasaanku
Mawar putih yang bersedih . . .
(read more ...)Apakah memang sudah tidak ada rasa malu lagi di dunia ini??? Benarkah sudah tidak ada yang namanya harga diri lagi di dunia ini???
Emm…siapa yang akan menjawabnya? Sebelum ada yang menjawabnya, ada pertanyaan lagi nih…..
Apakah benar sebuah idealisme bisa tergadaikan dengan alasan ‘dakwah’? Dakwah yang seperti apa yang sampai menggadaikan sebuah idealisme? Bahkan idealisme syariah?
Tembok-tembok syari’ah yang merupakan benteng kita dari hembusan angin-angin yang membawa bisikan-bisikan setan mulai terkikis sedikit demi sedikit oleh tangan-tangan jail yang berusaha menghancurkan tembok-tembok itu.
Aduh..bahasanya mulai nyleneh nih. Maksudnya apa sih? Kenapa harus penuh kata Tanya dan penuh tanda Tanya???
Ikhwan - Akhwat, Cewek – cowok, laki-laki – perempuan, apa sih bedanya?? Hanya beda huruf kan?? Tapi ketiga pasangan lawan kata itu mempunyai arti yang sama bukan?? Artinya sama-sama lawan jenis bukan?
Sama-sama mendapat perintah yang sama dari Allah, agar menjaga pandangan antar lawan jenis kan? Sama-sama punya etika/ adab-adab berinteraksi antar lawan jenis kan?? Trus kenapa??
Sebuah fenomena yang aneh bin ngeselin bin njengkelin bin apa lagi ya?? yang jelas fenomena yang nggak pantes terjadi.
Interaksi cewek – cowok mulai sangat amat bebas (wuih..bahasane lebai). Sudah tidak lagi ada rasa malu bila bersentuhan, sudah tidak ada lagi rasa canggung jika terlihat tanpa baju (oopz...setengah berbusana kali maksudnya). Sudahkah yang bernama ’harga diri’ itu hilang dari muka bumi ini???
Bahkan di kalangan ikhwan – akhwat yang dipersepsikan orang sebagai cewek – cowok yang berbeda (entah beda dari mana tuh, padahal ikhwan – akhwat kan artinya juga cewek –cowok ya..). yah..karena sudah menjamur di dunia perkataan istilah ikhwan –akhwat yang berada di dalam tanda kutip ”Ikhwan – akhwat” jadi aku pun pake istilah itu aja ya...paham kan??
Kalau nggak paham, kujelasin dikit deh. Ikhwan – akhwat selalu diidentikkan dengan orang yang eksklusif, cewek berjilbab lebar, cowok berjanggut dan bercelana cingkrang, anak Rohis, dan ciri – ciri lain yang biasa diidentikkan dengan yang namanya ikhwan dan akhwat.
Kita kembali lagi dengan pembahasan fenomena hilangnya si ”harga diri”. Sebenarnya si ”harga diri” lagi menghilang kemana to?? Atau jangan – jangan dia hanya sedang bersembunyi?? Tapi ngapain dia sembunyi??
Ikhwan – akhwat yang dikenal sebagai ’cewek – cowok sholeh dan sholehah’ yang biasa berceramah dan mengomentari interaksi cewek – cowok ternyata sekarang pun mulai harus dikomentari.
Emang ada yang salah ya dengan ikhwan –akhwat? Kok sampai perlu dikomentari??
Emm..mungkin kalau ikhwan dan akhwat angkatan dahulu ya...cukup terjaminlah mutunya, tapi ikhwan dan akhwat jaman sekarang?? Ya jangan marah kalau aku bilang ’nggak mutu’ (Tapi ini nggak bisa digenarilisir lho. Inget!! Ada yang namanya Individual Deferences. Nggak semua ikhwan – akhwat ’nggak bermutu’ lho).
Apa sih yang mendasariku mengatakan ikhwan –akhwat jaman sekarang ’nggak mutu’ (emm..BTW kok kedengeran kasar banget ya kata ’nggak mutu’ itu, ganti istilah aja deh kuganti dengan istilah ’nggak berkualitas’ yah sama aja deh. Emmm..kurang qowy/ alias kurang kuat, kayakke itu lebih pas deh).
Penurunan – penurunan keqowiyyan ikhwan – akhwat kulihat dengan semakin cairnya interaksi ikhwan – akhwat. Cair dalam artian hampir sama dengan interaksi cewek – cowok yang sering mereka komentari. Cuma bedanya, mereka masih merasa diri mereka suci, tidak ada yang salah dengan gaya interaksi mereka, hanya saja mereka tetap menjaga agar tidak terjadi sentuhan antara ikhwan – akhwat. Berbeda dengan ikhwan – akhwat jaman dulu yang bukan hanya menjaga kulit (agar tidak bersentuhan) tapi juga menjaga mata (agar tidak terjadi tatapan yang akan ditambahin dengan tatapan – tatapan sok manisnya setan), menjaga mulut dan telinga (agar tidak terjadi penyakit hati), menjaga seluruhnya terutama menjaga hatinya agar tetap berada dalam lindungan tembok-tembok yang sudah dibuatkan oleh Allah untuk mengamankan kita dari badai hembusan angin bisikan setan yang diam – diam menghanyutkan.
Tapi sekarang?? Apakah masih ada yang buta, tuli, bisu dan pincang seperti itu??
Hayooo jawabannya apa???
Jawabannya adalah.....Masih Banyak Sekali. Kok masih banyak???
Jangan salah paham dulu, maksudnya yang banyak itu adalah orang yang buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian negatif bukan buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian positif. Maksudnya?
Jika Buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian positif adalah, buta karena tidak pernah menggunakan matanya untuk melihat hal – hal yang di larang oleh Allah, tuli dalam artian tidak pernah menggunakan telinganya untuk mendengarkan hal – hal yang tidak disukai Allah, bisu dalam artian tidak pernah mengatakan kata-kata yang dimurkai oleh Allah, dan pincang dalam artian tidak pernah melangkah ke jalan-jalan yang tidak diridhoi Allah.
Trus...jika buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian negatif, maksudnya apa?
Ya..benar-benar menutup mata pada hal – hal yang baik tapi membukanya untuk hal yang buruk, menutup telinga untuk suara yang disukai Allah tapi membukanya untuk yang disukai setan, menutup mulut untuk kebaikan tapi membukanya untuk keburukan, serta tidak bisa berjalan menuju jalan kebenaran tapi bisa berjalan menuju jalan ke neraka.
Emmm...to be continue dulu ya...mau ngerjain tugas kuliah dulu.
Berikut ini adalah beberapa lelucon, anekdot, lawakan, atau apa pun lah itu namanya. ceritanya terilhami dari pergaulan dan aktivitas yang selama ini ane alami dan rasakan dari pergaulan sesama ikhwah. sebelumnya afwan kalo tulisan yg ini bisa bikin perut antum mules karena gak kuat nahan ketawa. hahaha...! jangan aneh dan senyam-senyum sendiri juga kalo beberapa cerita ini juga pernah antum rasakan dalam kehidupan antum sekalian lho! hohohoho... selamat menyimak!!! 
BAGIAN SATU: SINGKATAN 
[CERITA 1] == Gelar S2 dan S3 ==
Maraknya dakwah di kota-kota besar sangat mengharukan hati. Di kampus-kampus umum, sekolah dan masjid-masjid perumahan sering diadakan kegiatan-kegiatan dakwah yang beraneka ragam. Dari mulai ceramah biasa, diskusi remaja, pemutaran film, bedah buku, bazaar sampai ke tabligh akbar, semuanya semakin menambah marak kesejukan suasana Ibukota yang sudah penuh sesak. Semua ini kemudian diikuti dengan bertambahnya kebutuhan akan juru dakwah. Tapi kita tidak perlu khawatir, karena banyak sekali aktivis dakwah kita yang masih muda, baru S-1 ataupun masih kuliah yang sudah mendapat gelar Phd dan MBA. Dan ini banyak kita temukan di kampus-kampus. Gelar Phd ini disematkan bagi mereka yang benar-benar Pakar Halaqoh dan Dauroh, sedangkan MBA untuk Murobby Banyak Akal ! Ini di bidang dakwah, kadang ada juga istilah lain yang dipakai untuk menyindir sampai dimana proses seorang ikhwan, seperti MBA dari Murobby Belum Acc , dan MBM dari Murobby Baru Mencarikan, atau kalau sudah selesai prosesnya bisa disebut MBM juga, yaitu Married By Murobby.! 
Ada juga gelar yang sudah cukup masyhur di kalangan aktivis dakwah yang di peruntukkan bagi lulusan Timur Tengah ataupun LIPIA, yaitu Lc. Tapi gelar Lc ini ternyata sekarang banyak dipakai oleh para aktivis muda kita, tapi yang ini berarti Langsung Ceramah.Dan kabarnya pula Xanana Gusmao, Presiden Timor Lorosae juga punya gelar Lc juga, yaitu Lulusan Cipinang. ![]()
[CERITA 2] == Nama Lain Ngaji ==
Pada suatu malam Ahad, seorang Akhi yang baru memulai sejarah dakwahnya pamit pada temannya se kostnya untuk pergi ngapel ke rumah seorang teman. Teman se-kost itu yang kebetulan juga seniornya sangat khawatir dengan aktivitas anak baru tersebut. Kemudian dengan diam-diam ia mengikuti langkah sang Akhi tersebut, yang ternyata masuk ke dalam seorang rumah ustad. Dan setelah ditunggu sekitar dua jam, akhirnya sang Akhi tersebut keluar dengan wajah penuh keceriaan. Sang senior yang sudah penasaran dari tadipun langsung menginterogasinya, 
" katanya ngapel, kok di rumah ustad? "
" Ya Mas, yang ini bukan ngapel pacaran, tapi ngapel singkatan dari ngaji pelan-pelan alias liqo ".
Begitulah, sesuai dengan situasi dan kondisi di suatu tempat kadang-kadang digunakan bahasa lain untuk lebih menyamarkan atau mengakrabkan aktivitas yang satu ini. Kalau di lingkungan kampus biasanya dikenal istilah Mentoring atau Asistensi, Di Yayasan Iqro club yang menangani anak-anak STM di Jakarta menyebutnya dengan DSL (Dakwah Sistem Langsung), beberapa ikhwan lain menyebutnya dengan istilah Les Privat ataupun kencan mingguan,dan ada juga yang bikin istilah keren yang sama dengan sebuah paket acara televisi di Indosiar yaitu KISS (Kisah Seputar Selebritis), tapi KISS yang ini berarti Kajian Islam Seminggu Sekali, ada juga yang menyebutnya Kajian Islam Sabtu sore, Senin Sore, Selasa Sore, atau Sabtu Siang, dan seterusnya. 
[CERITA 3] == Berbeda tapi Ternyata Sama ==
Seorang Akhi di UNPAD mendadak harus pulang ke kota kecilnya di belahan utara pulau Jawa, karena ayahnya dikabarkan masuk rumahsakit. Sebuah fenomena memang kalau di sebuah kota kecil yang tidak ada kampus ternamanya biasanya tidak banyak memiliki stock ikhwan ataupun akhwat. Tapi di rumah sakit, tepatnya di bagian mushollanya, pada waktu itu dengan firasat keikhwanannya lah al-akh ini berhasil menemukan seseorang yang disangkanya seorang ikhwan pula. Tapi keraguan itu membuatnya bertanya dengan malu-malu, "Assalamualaikum wr wb, Langsung saja Mas.. antum Ikhwan khan? ". Yang ditanya sempat kaget, lalu tersenyum dan memjawab, " Apa? bakwan ! eh..ikhwan ? Maaf bukan mas, saya dulu di JT tapi sekarang saya mantep di HT, insya Allah,". Dengan agak malu karena sok tahu, akh kita ini minta ijin untuk undur diri sambil menyalahkan firasat ikhwaniyahnya yang gagal kali ini. Tapi sebelum ia beranjak, orang tadi memanggilnya kembali,
" Afwan Akhi, saya dulu memang di JT tapi ini Jamaah Tarbiyah bukan Jamaah Tabligh lho.."
" Terus kenapa sekarang masuk HT ?"
" Iya, dari dulupun saya ikut HT, Halaqoh Tarbiyah ..!"
"Oooo..sama semua ya..ternyata" 
[CERITA 4] == KAMMI Ganti Nama ==.
Setiap kali Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berdemo dan melakukan long march, maka yang akan banyak terlihat adalah barisan putih panjang yang terdiri dari para ABG (Akhwat Berjilbab Gede), yang dikelilingi oleh sedikit ikhwan sebagai boarders. Dari sini jelas terlihat bagaimana perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat yang terlampau mencolok. Dan repotnya hal seperti itu berlangsung terus di demo-demo yang lain. Yang akhirnya membikin ciri khas khusus bagi demonstrasi yang dilakukan KAMMI, yang seolah-olah menggambarkan bahwa KAMMI hanya milik para akhwat. Akhirnya muncul usulan dari para ikhwan untuk mengganti nama KAMMI menjadi KAMMMI, karena alasannya sesuai sejarahnya, pertama kali pada jatuhnya orde baru tahun 1966 ada yang namanya KAMI dengan satu huruf M, kemudian disusul pada bangkitnya orde reformasi muncul KAMMI dengan dua huruf M. Maka sesuai perkembangan terakhir sekarang dimunculkan KAMMMI dengan tiga huruf M yaitu "Kesatuan Aksi Mahasiwa Muslim Muslimah Indonesia".

[CERITA 5] == Simatupang dan Situmorang ==
Dua dari sepuluh karakteristik ideal seorang dai adalah Qowiyyul Jismi dan Harisun ala waqtihi. Idealnya seorang yang beraktifitas di jalan dakwah memang harus mempunyai ciri tersebut. Tapi ada cerita unik, tentang dua orang ikhwan yang kebetulan tinggal di sebuah rumah kost-kostan yang sama. Keduanya kuliah di kampus yang sama, jurusan yang sama, dan kebetulan sama-sama bergabung dalam LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang ada di kampusnya. Tapi yang menjadikannya berbeda adalah dari segi jam terbang dakwahnya.
Sebut saja akhi A, beliau setiap hari hampir jarang ada di kamarnya. Berangkat pagi hari habis sholat Subuh, kemudian sore pulang sebentar untuk ngambil sesuatu dan mandi, kemudian pergi lagi dan pulang sampai larut malam, itupun tidak setiap hari beliau pulang. Belum lagi kalo pas hari libur atau sedang kosong, tiba-tiba ada panggilan dakwah, maka beliau langsung pergi lagi walaupun jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Itu cerita tentang si A. Lain lagi dengan temen se kost-nya si B, beliau paling sering kelihatan di rumahnya, atau lebih tepatnya di kamarnya, atau lebih pasnya lebih sering kelihatan tidurnya. Pagi berangkat kuliah sebagaimana biasa, dan siang pulang kemudian di rumah terus sampai esoknya lagi, kecuali satu hari saja untuk aktivitas ngaji di rumah seorang ustad. Perbedaan yang sangat frontal ini konon mendapat perhatian yang cukup serius dari ikhwah lainnya yang tinggal sekontrakan dengan mereka berdua. Akhirnya, walaupun keduanya bukan dari tanah Batak, mereka sepakat memberi nama marga di belakang nama mereka yang satu Simatupang untuk akhi A, yang berarti Siang-malam tunggu panggilan karena aktivitas dakwahnya yang begitu padat. Sedangkan untuk si Akhi B diberi gelar Situmorang, yang berarti Si ikhwan tukang molor doang!"

[CERITA 6] == JAMES BOND ala Ikhwah ==
Sudah menjadi fenomena umum bagi seorang ikhwah mahasiswa yang kuliah di kota besar semacam Jakarta, bagaimana sulitnya mencari sebuah kamar kost yang layak pakai fasilitas lengkap, situasi mendukung untuk dakwah sekaligus nyaman untuk belajar, deket kampus, dan tentu saja yang paling murah, istilahnya harga mahasiswa. Maka beruntunglah, karena ternyata banyak masjid di Jakarta, yang juga deket dengan kampus yang menyediakan sebuah tempat khusus bagi satu dua mahasiswa untuk tinggal di situ sekaligus ikut berpartisipasi dalam memakmurkan masjid. Maka sebagian dari mereka ada yang menjadi petugas muadzin, ada pula yang menjadi imam tetap, ada pula yang mengajar TPA dan mengisi kajian Ibu-Ibu. Dan alhamdulillah, tidak jarang kemudian Takmir Masjid memberikan uang kompensasi bulanan sebagai pengganti waktu dan jerih payah mereka. Tapi meskipun demikian ada juga beberapa mahasiswa lain yang ikut membantu kebersihan masjid, dan berfungsi ganda sebagai petugas kebersihan masjid atau yang biasa dikenal dengan istilah marbot. Mereka - mereka yang disebutkan tadi, dengan bangga menyebut profesi ini dengan istilah James Bond, yang berarti Jaga Mesjid dan Kebon ! 
BAGIAN DUA: PLESETAN NASYID 
[CERITA 7] == Kulihat Bunga di Taman ==
Sore hari di sebuah rumah kost para ikhwah di bilangan Jurangmangu, Tangerang. Suasana yang ada di antara para ikhwah yang sedang bersantai sangat akrab, sampai tiba-tiba seorang akhi yang baru beberapa hari pindah ke situ, ikut meramaikan suasana dengan bernasyid dari kelompok Suara Persaudaraan, Malang. Beberapa bait nasyid disambut atau diikuti para ikhwah yang lain, namun ketika si Akhi ini sampai pada sebuah bait di sebuah lagu yang ada di album Balada sebuah Danau , yang berbunyi.
" Kulihat Bunga di taman.
Indah warna-warni dan menawan.." 
Mendadak seisi rumah pada ramai, sebagian senior ada yang memperingatkan langsung pada sang munsyid.
" Bernasyid boleh akhi, tapi jangan langsung menyebut nama seseorang dong. bisa timbul fitnah nantinya!"
Si anak baru ini, sampai di sini masih belum menyadari kekeliurannya. Usut punya usut, ternyata di organisasi remaja Masjid dekat perumahan tersebut ada seorang akhwat aktivis yang namanya juga memang " Bunga " ! 
[CERITA 8] == Aku Anak Sholeh ==
Plesetan dari lagu " Aku Anak Sholeh " nya Harmoni Voice, STT Telkom Bandung.
Aku Ingin Nikah
Dengan Mahar Mudah
Tidak susah- susah
Rukuh dan Sajadah
Istri Solihah..
Harta yang berkah..
Walau ku sudah nikah..
Tetap berdakwah..
[CERITA 9] == Kembali by Izzis ==
Bait-bait Nasyid yang didendangkan oleh Munsyid Izzatul Islam mempunyai ciri khas perjuangan dan semangat yang menyala-menyala. Tapi bukan ikhwah namanya kalau nggak punya kreasi (baca: iseng) lain dengan lagu-lagu tersebut. Tentu saja tujuannya untuk "memprovokasi" ikhwah yang lain (hehehe...). Lihat aja perbandingan lagu asli dan plesetannya di bawah ini, yang diambil dari album "Kembali"
[versi asli]:
Berkobar tinggi panaskan bumi
Membakar ladang dan rumah kami
Darah syuhada mengalir suburkan negri
Tiada kata lagi... kami harus kembali
[versi plesetan]:
Berkobar tinggi panaskan hati
Datang tawaran dari murobbi
Foto-foto akhwat ada dihadapan kami
Tiada kata lagi..aku pilih yang ini!
BAGIAN TIGA: TA’ARUF 
[CERITA 10] == Masih Mau Sekolah ==
Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi sang Murobbi. Apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodoh terbaik baginya. Tentu saja sang akhi ini tidak sekedar ingin menikah, tapi juga siap menikah. Lho, apa bedanya?
Ingin menikah bagi seorang akhi cenderung bersifat objektif. Artinya ia menginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti - untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya. Bisa jadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak, cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yang lebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yang berasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi jika ingin menikah di sini berarti: ingin menikahi ukhti A, B atau C. Yang jenis ini bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, kurang elegan.
Lalu bagaimana dengan siap menikah? Siap menikah bagi seorang akhi berarti kesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuan dirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapa yang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan: "yang penting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapun dia, toh ana juga yang harus membimbingnya". Yang jenis ini lebih elegan. Artinya siap mental dalam menikah.
Nah kembali ke cerita sang akhi yang selain ingin, juga siap untuk menikah. Sang murobbi yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat. Betapa tidak? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yang dijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi dan visi untuk dakwah?
Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang Murobbi. Dari mulai tukar biodata sampai ta’aruf belum terlihat ada masalah. Namun ketika sang murobbi mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sang akhwat menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisa beralasan pada sang murrobbi: "Afwan ustad, saya masih mau melanjutkan sekolah dulu.."
Terpukul hati sang akhi mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati, mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkan sampai proses taaruf?
Sang murrobbi pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balik penolakan ini?
Sang Akhi beritikad baik untuk tetap menikah. Sang murrobbi pun kembali dengan senang hati membantu sang akhi. Dilalui proses dari awal sebagaimana yang pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertama kembali terulang. Masih dengan alasan yang sama: sang akhwat masih mau melanjutkan sekolah. 
Pusing kembali melanda sang akhi kita ini. Dicobanya sekian kali untuk berinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya? Atau ada kesalahan kah saat taaruf kemarin? Ah, rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak ada masalah.
Atau masalah penampilan fisik? Ah, benarkah itu masih menjadi kriteria yang prinsip di jaman ini? Sang akhi bingung, ia benar-benar belum menemukan jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya.
Sang murobbi tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakan tersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut, sang murobbi pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan ia mempunyai adik perempuan yang juga seorang akhwat. Maka setelah mengadakan briefing yang intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohan keduanya. Biodata adik sang murobbi pun berpindah ke tangan sang akhi ini. Dengan seksama dibaca semua point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar foto ukuran post card juga diperhatikan agak lama.
Sang Murobbi yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakan kesediaan sang akhi untuk meneruskan proses.
"Gimana akhi, antum bersedia melanjutkan proses ini kan?"
Sang akhi bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya. Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali, sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus dan mengganggu.
"Gimana Akhi, sudah siap untuk meneruskan prosesnya?"
Pertanyaan sang murobbi menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Ia menunduk agak lama.
Sang akhi merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulai mengangkat kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa dua akhwat yang terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik!! Kriteria fisik, kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitu kontemporer. Selalu saja ada, di mana saja dan kapan saja.
"Gimana akhi, bisa dijawab sekarang?? "
Dengan sedikit berdehem, sang akhi menjawab,
"Afwan Ustad, setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya "masih mau melanjutkan sekolah" saja ustad ... "
Lemes tubuh sang murrobbi. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia berkata: Dasar aktifis jaman sekarang, masih teguh mempertahankan kriteria fisik! 
[CERITA 11] == Ta�aruf yang Unik ==
Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk di sebelah murobbi, sementara agak jauh di depannya sang akhwat ditemani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobbi berbisik pelan pada mad’unya yang malu-malu ini,
"Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum?"
"Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?"
Murobbinya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimana antum! yang itu istri saya!" 
[CERITA 12] == Belum Menikah ==
Memang susah jadi ikhwan bujangan, pasti banyak sindiran dan provokasi yang datang setiap saat untuk segera menyempurnakan separuh dien ini. Apalagi jika ia juga berprofesi sebagai seorang murobbi, maka setiap pertemuan mingguan pasti ada sindiran-sindiran kecil dari para mad’unya yang rata-rata juga belum menikah. Sebenarnya sang murobbi ini nggak enak dan takut juga kalau status bujangannya ini menghalangi anak buahnya untuk segera menikah.
Akhirnya pada suatu kesempatan mingguan, setelah sekian lama para mad’unya menanyakan masalah yang satu itu, sang murobbipun berpesan singkat di hadapan para ikhwah di hadapannya,
" Ikhwan sekalian, untuk masalah pernikahan.. jangan jadikan status ana sebagai penghalang kalian menikah, cukup jadikan saja saya sebagai contoh atau tauladan...! "
"Haaah...", Para ikhwan yang mendengar pun terbengong-bengong keheranan. 
[CERITA 13] == Kriteria ==
Seorang Akhi ditanya sang Murobbi tentang kriteria seorang akhwat yang diinginkannya. Setelah beberapa saat berpikir, sang Akhi menjawab dengan malu-malu,
"Yang pertama Ustad, dia harus seorang yang cukup cantik."
"Astaghfirullah Akhi, bukannya Rasulullah menyuruh kita untuk mengutamakan agamanya dulu?", balas sang murobbi.
"Yang itu sih bukan masalah ustad?"
"Bukan masalah bagaimana akhi, ada hadist nya lho...", sang murobbi menambahkan.
"Khan yang namanya akhwat pasti berjilbab gede, berarti semuanya kita anggap sudah punya pemahaman agama yang cukup baik, sekarang tinggal kriteria selanjutnya yaitu yang cantik." 
" Antum bisa aja cari alasan!", murobbi pun langsung lemes mendengar alasan sang Akhi. 
[CERITA 14] == Tinggal Satu ==
Seorang Akhi muda yang baru lulus S-2 di luar negeri ditanya oleh ustadnya mengenai kriteria akhwat yang diinginkannya. Maka dengan segala idealisme sebagai seorang Ikhwan, mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskan hampir lebih dari sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnya tersebut. Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari yang pertama dia harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku Sunda, berkacamata, lulus dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan demikian seterusnya. Setelah diproses oleh sang ustad, akhirnya ia diberitahu bahwa tidak ada akhwat yang bisa sesuai dengan 10 syarat tesebut. Kemudian sang Ikhwan mengurangi kriterianya menjadi 9, setelah diproses sekian minggu ternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan mengurangi satu lagi dari kriterianya menjadi 8. Dan setelah ditunggu sekian lama hasilnya tetap nihil karena terlau ideal kata ustadnya. Dan demikian seterusnya setiap kali gagal sang ikhwan mengurangi satu kriteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun sang Ikhwan akhirnya menemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah kriterianya tinggal satu! Kriteria apakah itu? ya apalagi kalo bukan dia harus akhwat! 
[CERITA 15] == Penyebab Nggak Nikah-Nikah ==
Lagi-lagi seorang Ikhwah diinterogarsi oleh murobbinya tentang calon akhwat yang diinginkannya. Ikhwan yang satu ini tampaknya sudah kena blacklist sama murobbinya karena selalu menolak memberi kriteria ketika ditanya.
" Akhi, ini yang terakhir kalinya, kira-kira seperti apa akhwat yang antum inginkan menjadi pendamping antum dalam berdakwah?", tanya murobbi dengan nada pasrah.
"Sudah deh ustad, ane nggak banyak minta, yang asal-asalan aja", jawab sang ikhwan.
Sang Murobbi pun bengong dibuatnya, "Asal-asalan bagaimana maksud antum?
Antum kan punya hak untuk mengajukan kriteria."
"Maksud ane, asal sholihah, asal cantik, asal kaya, asal hafal Qur’an, asal pintar, dan asal-asalan yang lainnya." 
"Pantes aja antum nggak nikah-nikah!", jawab Murobbi dengan penuh keheranan.
BAGIAN EMPAT: AMANAH 
[CERITA 16] == Amanah dan Aminah ==
Ini cerita lagi tentang seorang akhi dan berbagai permasalahannya. Ikhwan yang satu ini memang dikenal dalam kelompoknya sebagai seorang aktivis kelas berat di kampusnya. Namanya pun tercatat hampir di setiap struktur organisasi intra atau ekstra kampus yang kredibel baik yang umum maupun yang berbau dakwah. Dan mungkin juga karena kesibukannya tersebut beliau belum berani untuk menyempurnakan separuh diennya walaupun sudah beberapa kali di tawari oleh sang ustad. Dan suatu kali akhi kita ini datang terlambat dalam pertemuan rutin mingguannya di rumah ustad, suatu hal yang jarang terjadi karena sang akhi termasuk yang selalu "harisun ala waqtihi". Sang Ustadpun bertanya penuh selidik,
"Baru kali ini antum terlambat, ada masalah apa di kampus, atau di DPC mungkin?"
"Ah enggak ustad, afwan nih, biasa anak-anak LDK bikin dauroh rekrumen dan tadi habis Ashar ane diamanahi untuk ngisi, dan afwan juga ustad, nanti mungkin ane izin pulang lebih dulu, karena ada amanah juga ngisi anak-anak Remaja Masjid di dekat kost ane."
"Akhi, antum tahu nggak kelemahan antum selama ini...?"
"Enggak tahu Ustad".
"Antum ini terlalu punya banyak amanah tapi tidak satupun Aminah yang antum punya, jadinya ya seperti itu lah..."
Al Akh yang satu inipun tertunduk tersipu-sipu, sudah bujangan diledek lagi. Sementara para ikhwan yang lain yang semuanya sudah berkeluarga, tertawa ringan penuh kemenangan. 
[CERITA 17] == Wasiat Tambahan Imam Al-Banna ==
Percepatan dan perluasan dakwah yang melanda Indonesia sejak 4 tahun terakhir ini menimbulkan banyak perubahan dan tuntutan-tuntutan bagi seorang da’i. Pekerjaan-pekerjaan dakwah yang kian beragam mulai menjangkau semua wilayah dakwah, dari mulai pendidikan, ekonomi sampai politik. Dan semua itu melahirkan konsekuensi bagi seorang da’i untuk mampu mengatur waktunya yang terasa kian sempit dipenuhi beban-beban dakwah. Ada kalanya seorang aktifis harus pergi pagi dan pulang sampai larut malam untuk sebuah kegiatan dakwah. Fenomena yang terjadi kemudian adalah banyaknya aktivis dakwah kita yang merubah atau mengganti jam tidurnya. Sebagian dari ikhwah kitapun terpaksa terbiasa tidur setelah sholat Subuh, sebelum memulai pekerjaan barunya. Dan ini bisa merupakan masalah besar ketika menjadi sebuah kebiasaan bagi seorang aktivis. Akhirnya dari kenyataan tersebut muncul sebuah anekdot yang pernah dilontarkan seorang ikhwan,
.
"Kalau saja Imam Hasan Al-Banna mengetahui keadaan ikhwah kita sekarang, mungkin beliau akan menambahkan sebuah wasiat lagi dalam sepuluh wasiatnya yang terdahulu, yaitu wasiat untuk tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh!" 
BAGIAN LIMA: MENIKAH 
[CERITA 18] == Fatwa Menikah ==
Suatu sore di akhir Ramadhan, beberapa orang ikhwah tampak sedang bercengkrama di teras masjid Nurul Ilmi, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Mereka semua adalah para peserta I’tikaf Ramadhan yang datang dari tempat yang berbeda-beda. Dan mereka kini terlibat pembicaraan serius tentang kegiatan dakwah di jurusannya masing-masing. Beberapa saat kemudian datang seorang Ikhwah dengan tergesa-gesa, membawa suatu kabar.
"Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah dengar belum ada fatwa terbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi lho!"
Dengan serempak mereka menjawab,
"Waalaikum salam, fatwa terbaru tentang apa akhi?"
"Tentang Menikah!"
"Menikah? apa saja isi fatwa tersebut?"
"Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang seorang Ikhwan tidak boleh menikah dengan akhwat satu kampus."
Semua ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu sama lain.
"Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar’i?" 
"Kok bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses, langsung dibatalkan ya?"
"Ane kira ini untuk kepentingan perluasan dakwah juga"
"Kalau ane sih milih sami’na wa a’thona saja"
Setelah beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sang Akhi yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan,
"Tenang Akhi... fatwa tersebut memang harus didukung dan ada dalilnya kok, bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya sampai dengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah mau menikah dengan �akhwat satu kampus yang jumlahnya ratusan...!" 
[CERITA 19] == Kartu Undangan Walimah ==
Pernikahan para aktivis dakwah memang selalu unik, banyak kisah dan ibroh yang kita dapatkan. Semuanya menjadi hal yang selalu diperbincangkan oleh masyarakat awam. Dari mulai hijab dan pemisahan tempat duduk para tamu undangan, nasyid yang disajikan, sampai disembunyikannya pengantin perempuan. Hal-hal seperti itu kadang membikin banyak pertanyaan besar di pandangan masyarakat awam, bahkan ada yang sampai menuduh sebagai Islam Jamaah, Islam fundamentalis, Aliran baru dan lain sebagainya. Sampai akhirnya ada juga Ikhwah yang kreatif dengan menuliskan pesan singkat di Kartu Undangan Walimah untuk mengantisipasi hal ini. Mungkin di Kartu Undangan Resepsi yang umum sering kita temui tulisan sebagai berikut:
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, alangkah baiknya jika tali asih atau cinderamata yang akan diberikan tidak dalam bentuk barang."
Maka di Kartu Undangan Walimah ala Ikhwan dibuat sedikit perubahan untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti berikut:
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, Resepsi Pernikahan ini akan dilaksanakan sesuai Adab Islam dengan pemisahan tempat duduk antara tamu pria dan wanita." 
BAGIAN ENAM: POLIGAMI 
[CERITA 20] == Istri yang Cerdik ==
Seorang Akhi baru saja melangsungkan pernikahan dakwahnya dengan seorang akhwat yang sama-sama berjiwa aktivis pula. Minggu-minggu awal pun dilalui dengan penuh ceria, Qiyamul-lail berjamaah, baca Al-Ma’tsurat sama-sama, tabligh akbar bersama bahkan sampai demo dan longmarch pun dilakukan sama-sama. Suatu ketika setelah pulang dari suatu acara seminar bertemakan Poligami, pasangan ini terlibat dalam pembicaraan serius,
"Bagaimana Mi, pendapat Ummi tentang poligami secara umum?"
"Abi, secara umum poligami tidak ada nilai buruknya sebagaimana yang digemborkan banyak orang, bahkan itu merupakan solusi satu-satunya lho."
"solusi bagaimana maksud Ummi?"
"Maksudnya, coba deh abi lihat, berapa perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat, di Bandung aja lebih dari 1:7, kalau semuanya dapat satu-satu, maka bagaimana nasib yang tiga lainnya?"
"Kalo Ummi sudah paham, bagaimana kalo kita yang memulai?"
"Maksud Abi bagaimana?"
"Abi mau poligami, tapi yang cariin calonnya ummi saja ya!"
"Apaaa..! abi mau poligami???" 
"Ya dong, khan Ummi sendiri yang bilang tadi, ingat ini juga sunnah Nabi Muhammad SAW lho.."
"Wah! kalo begitu abi salah menafsirkan Siroh Nabawiyah, khan Rasul berpoligami setelah istri pertamanya Khadijah ra, meninggal.
Nah! Jadi abi boleh menikah poligami sampai empat pun boleh, asal setelah Ummi, istri pertama Abi ini, meninggal, OK ?" 
"Ini pasti Murobbiyah ya yang ngajarin...?", balas sang abi. 
Sang istri pun tersenyum manja penuh kemenangan. 
[CERITA 21] == Perbandingan Jumlah ==
Setiap kali tema Poligami dibicarakan, pasti dihubungkan dengan perbandingan jumlah kader ikhwan dan akhwat. Masalah keterpautan yang cukup jauh ini memang cenderung mengkhawatirkan banyak kalangan. Dan juga perbandingan di suatu daerah tidak sama dengan daerah yang lain. Di Bandung ada yang mengatakan 1:7, sumber lain menyebutkan angka 1:13, sementara di Solo, Malang dan kota-kota mahasiswa yang lainnya pun menyebutkan angka perbandingan yang hampir sama. Akan tetapi di daerah pinggiran ataupun luar jawa yang terjadi mungkin sebaliknya, jumlah ikhwan lebih banyak dari jumlah akhwatnya. Memang secara realita dapat kita lihat secara jelas ketika ada acara aksi-aksi demo dan lain sebagainya, bahwa jumlah peserta akhwat pasti cenderung lebih banyak, bahkan kadang mencolok. Tapi realita seperti ini kadang masih bisa dibantah. Salah seorang ikhwan kita mencoba menganalisa hal ini dengan lebih obyektif,
"Adalah suatu kekeliruan ketika kita melebih-lebihkan perbandingan jumlah kader ikhwan dan akhwat, hanya dengan melihat sekilas dalam suatu acara-acara demonstrasi dan sebagainya. Banyak perhitungan yang mengatakan jumlah akhwat jauh lebih banyak karena secara performance, sosok akhwat memang lebih mudah dihitung dan dideteksi dengan melihat Jilbab Panjangnya, dan deteksi ini tidak berlaku bagi kalangan ikhwan. Kalau kita menghitung jumlah ikhwan hanya dengan melihat baju kokonya, atau jenggot tipisnya, maka kita hanya akan mendapatkan jumlah yang sangat kecil. Performance seorang ikhwan tidak bisa dibatasi dengan baju koko dan jenggot saja. Berapa banyak sosok ikhwan yang kita kenal adalah orang-orang yang berpenampilan paling sporty, paling modis, funky dan ada juga yang berambut panjang. Kalau saja kita menggunakan hitungan dengan memperhatikan sisi yang lebih luas seperti ini, kemungkinan besar akan kita dapatkan perbandingan jumlah yang lebih seimbang antara ikhwan dan akhwat!!!"
(read more ...)
Ukhti, aku selalu mengagumi sayap-sayapmu yang tak pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyahmu pun sangat luar biasa. Dirimu, aktivis dakwah yang tak pernah kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili motomu tentang jangan pernah diam dan berhenti bergerak, karena diam dapat mematikan.
“Ustadz, apakah usia perjuangan dakwah akhwat begitu terbatas? Terbatas oleh usianya, pekerjaannya, dan terbatas oleh amanahnya dalam rumah tangga?” Tanyaku suatu hari pada seorang ustadz. “Kalau begitu aku iri pada teman-teman ikhwan seperjuanganku. Mereka dapat cuek untuk tidak memikirkan pernikahan. Toh setua apapun kelak mereka mau menikah, mereka dapat dengan mudah menikahi akhwat yang lebih muda. Jika akhwat, semakin tua… Adakah ikhwan yang berkenan padanya?” Aku masih dengan pertanyaan polosku. Ustadz hanya tersenyum… I know.. Itu berarti aku sendiri tahu jawabannya. Dungdungdungdung…..
Fenomena ini mungkin mengenai semua lini dakwah. Saat sebagian akhwat berhenti dari aktivitas dakwahnya justru setelah ia menikah. Aku mencoba merenungi dalam-dalam. Pasti ada yang salah, (bisa jadi pemahamanku, pola pikirku) ya…, pasti ada yang dapat kujadikan pelajaran. Dalam benakku, pernikahan di jalan dakwah adalah pernikahan dua aktivis yang bertujuan memperkokoh tandzhim dakwah, menyatukan kekuatan, dan mencetak generasi baru jundullah. That’s the point, namun dalam kenyataannya seringkali kondisi ini tidak se-idealis yang ku bayangkan… Ada berbagai situasi dan kondisi yang realistis yang harus dicermati. Dan aku belajar banyak, dari pernikahan saudaraku, sahabat-sahabatku, patner-patner dakwahku…
Bidadari, menikah adalah sunnatullah dan sunnah Rasulullah bagi setiap muslim. Ya, of course, karena akhwat adalah tulang rusuk yang bengkok. Harus ada yang meluruskannya dengan penuh kesabaran kalau tak ingin patah. Pernikahan sepasang aktivis dakwah haruslah karena dakwah (terlepas dari berbagai fenomena yang ada saat ini; VMJ (virus merah jambu), take in, atau hubungan tanpa status). Dan saat menikah di jalan dakwah, maka proyek dakwah dalam keluarga adalah konsekuensi logis dari pernikahan para aktivis.
Namun bagi akhwat, ada banyak hal baru yang nembuatnya harus berada dalam dunia yang mungkin berbeda. Tak jarang menghentikan sementara gerak langkahnya (terlebih saat buah hati telah hadir dalam kehidupannya). Namun ini hanya sementara, sampai jundi kecilnya mulai bisa diajak berjihad. Right??? Maka menjadi amanah bagi keduanya untuk saling mengingatkan, agar mujahidah dakwah tak bagai burung patah sayap.
Aku yakin engkau tahu benar bidadari, bahwa sebagai akhwat aktivis dirimu memiliki banyak potensi. Kemampuan manajerial, strategi dakwah, membina, kaderisasi, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak terbatas. Apakah harus berakhir di gerbang pernikahan? Meski ada amanah lain yang juga tak kalah menantangnya, menjadi madrasah terbaik, bidadari terbaik di rumahnya. Namun potensi itu punya hak untuk terus berkembang, jangan dibiarkan padam atau meredup. Potensi itu harus terus dinamis dan haroki, untuk membuat satu karya terbaik bagi umat. Ada banyak kader akhwat, namun mengapa masih sulit untuk mencari mentor? Mengapa masih sulit untuk mencari pengisi ta’lim? Mengapa begitu sulit untuk mencari aktivis akhwat di lini dakwah ini? Nikmat tarbiyah punya satu konsekuensi logis bagi para jundinya, yaitu bergerak dan beramal, untuk satu cita IQQOMATUDIEN (menegakkan dienNya).
Entahlah, kadang tanya ini tak berujung jawaban. Satu hal yang pasti harus terus kita benahi adalah sebuah sistem yang terbaik untuk mengelola potensi para umahat. Dan tarbiyah sebenarnya telah menjadi wasilah yang tepat. Namun terlepas dari sistem ini, ada satu point yang lebih utama. Niat, ghirah, tadhiyah, hamasah dari para aktivis dakwah akhwat itu sendiri, untuk terus menjadi cahaya umat, tidak semata menjadi cahaya di rumahnya saja. Maka kepak sayap itu akan terus berkembang dengan dua kekuatan besar dalam sebuah rumah tangga yang tak ubah bagai sebuah markas jihad. Bagai sayap burung, ia kan terus terbang lebih tinggi. Tak kenal henti, karena ada tujuan bersama yang begitu indah… Jannah dan pertemuan dengan-Nya.
Bidadari, sungguh…, tidak ada yang membedakan usia perjuangan dakwah akhwat dan ikhwan. Mungkin bentuk dan kadarnya saja yang berbeda. Namun semangat dan gelora jihadnya tidak boleh berbeda. Karena kelak dihadapan Allah, hanya ketaqwaanlah yang membedakan. Bukan gender, suku, rupa seseorang. (Dan aku tidak mau mengalah, juga tidak mau berhenti berfastabiqul khoirot dengan teman-temanku….. Duh…. Nih kepala terbuat dari apa sih?).
Ukhti fillah, para aktivis dakwah, akhwat, dan umahat. Gerbang pernikahan adalah awal fase baru dalam kehidupan (pernikahan bukanlah hidup baru, hanya sebuah fase baru, karena kehidupan baru kita adalah saat kita bertemu Rabb kita. Saat nyawa meregang dari tubuh kita, saat kita akan berhadapan dengan hari yang sangat berat untuk hisab kita. Itulah hidup baru kita, kematian dunia untuk sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak). Gerbang itu bukan untuk menutup semua potensi kita, tapi justru laboratorium pengembangan kapasitas dakwah kita. (Berat menulis seperti ini, karena Uz belum bisa membuktikannya alias konsulen teoritis saja).
Saat memasuki rumah dakwah baru, maka saat itulah genderang jihad dibunyikan untuk melihat sejauh mana dua kekuatan besar tersebut berkolaborasi membangun sebuah kekuatan yang dasyat untuk menjadi kemanfaatan yang besar bagi masyarakatnya, negaranya, dan terutama bagi diennya. Dan PR ini bukan main-main, agenda ini harus senantiasa di evaluasi bersama. Karena kita semua adalah du’at, nahnu du’at qobla kuli syai (kita adalah da’i sebelum yang lainnya ).
Maka ukhti fillah, akhwat, dan umahat bantulah para akhwat aktivis untuk tidak fobi terhadap pernikahan. Dengan segala keterbatasan, teruslah kepakan sayap jihadmu. Minimal lewat perhatian dan doamu. Karena Nusaibah, Khadijah, Khansa, tidak lahir begitu saja. Generasi shahabiyah bukan impian semu yang tak mungkin hadir di akhir zaman ini. Kita adalah wanita akhir zaman, kita tidak bisa berhenti melangkah dan bergerak karena cita-cita besar kita belumlah futuh hingga dakwah mencapai kemenangannya. Kehidupan kita bukanlah sebatas suami, anak dan segala kesulitan rumah tangga kita. Tapi lebih besar lagi… Ini adalah tantangan bagi saya, meski saya tak pernah mampu meraba masa depan.
Tapi semoga Allah mengistiqomahkan kita, akhwat, dimanapun nanti ukhti berada, mendampingi mujahid manapun…. Jannah itu adalah milik kita juga, maka bertempurlah tuk jadi yang terbaik dari setiap peran yang harus kita jalani. Ini pertempuran kita…. Tuk buktikan pada dunia kita mampu setegar para mujahidah Afgan yang saling menyemangati antar para umahat untuk mendorong para suaminya berjihad dan menutup pintu rumah kala suaminya bermalas-malasan dari dakwah.
Ini pertempuran kita, tuk buktikan pada Allah bahwa Dia tak pernah salah memilih kita menjadi mujahidah dakwahnya… Yang menjadikan suami dan anak bukan fitnah baginya. Namun menjadi kekuatan luar biasa, sekuat para mujahidah dan para umahat Palestina yang tak pernah berhenti melahirkan dan mendampingi mujahid dakwah meski mereka harus kehilangan semua orang yang dicintanya…. Demi izzah Islam.
Ini pertempuran kita… Tuk kalahkah stigma bahwa akhwat bagai burung patah sayap saat ia menikah. Bertempurlah ya ukhti, terutama dengan diri kita sendiri. Karena seringkali ialah musuh terbesar kita.
“ Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka merekalah orang-orang yang rugi…” (Q.S Al Munafiqun : 9).
Karena kau ukhti mujahidah…. Karena kau pendamping mujahid dakwah… Maka sambutlah seruan ini… Semoga kelak kau kan menjadi bidadari surga mulia di jannah-Nya. Wallahualam bishawab.
(read more ...)
Bismillah….
Kasus 1
Jika seorang ukhti fillah mengirim sms dengan kata-kata seperti di atas, bagaimana respon “kita”? (karena yang nulis akhwat, jadi maksud “kita”= akhowat). Dengan cepat, jemari “kita” akan memencet tombol-tombol di HP dan mengirim balasan:
atau
“Uhibbuki fillah aidhon”
atau
“Ana juga mencintaimu ukhti sayang, fillah…lillah…”
atau
Nah, gimana kalo Saudara (baca: ikhwan) kita yang menerima sms “4 kata ajaib” itu dari sang akhwat? Kemungkinan yang bakal terjadi:
Qoola ikhwan:
atau
“Salah kirim kali yah?”
atau
“Hey ukhti, ada apa ini?
Intinya, BINGUNG!
Atau mungkin ada ikhwan yang berani bales: “Ane juga mencintai anti, karena Allah..” (Whuaaa, paraaah!!)
Sama bingungnya dengan sms pertama, ikhwan lain menerima email yang bernada hampir sama (atau mungkin lebih ekstrim?)
Begini bunyinya:
Kira-kira bagaimana raut muka si ikhwan?
Kasus 2
Seorang ikhwan dinonaktifkan dari struktur dakwah kampus oleh qiyadah dan MRnya. Bukan berarti berhenti berdakwah, tapi ia lebih difokuskan untuk membantu kepengurusan dari balik layar. Apa sebab? Ternyata, hal itu dilakukan untuk meminimalisir VMJ yang mewabah di kampusnya. Apakah ikhwan ini bermasalah? Tidak. Tapi bisa dibilang ikhwan inilah yang mengundang masalah. Karena, tanpa ia sadari dan tanpa ia kehendaki, banyak akhowat yang simpati, jatuh hati dan mengungkapkan perasaannya padanya.
Akhirnya, diambillah kebijakan untuk menjauhkan si ikhwan dari segala macam bentuk kegiatan yang mengharuskan ia berinteraksi/berkoordinasi dengan akhwat manapun! Yah, si ikhwan memang diberi kelebihan oleh Allah swt. baik dari sisi jamalihi, nasabihi, maalihi, dan yang terpenting dienihi (sholeh, aktivis dakwah tulen). But, yakinlah, no body’s perfect! (Kebetulan ane kenal dengan ikhwannya, jadi sungguh, ane tidak mengada-ada. Yang jelas gak sekampus dengan ana)
Kasus 3
Suatu hari, seorang akhwat mengungkapkan kegundahannya pada ana. Berikut percakapannya (telah lulus sensor!):
Akhwat: “Ukh, ane sedih banget”
Ane: “Kenapa?”
Akhwat: “Jujur, ane mengagumi seorang ikhwan. Bahkan ane ngafans sama dia. Wajar kan, ukh?”
Ane: “Hm…” Baru mau milih diksi dan mikir bentar, si ukhti dah keburu menyambar
Akhwat: “Tapi, ane gak bener-bener cinta koq sama dia”
Ane: ekpresi kaget. Nih mata melebar, mulut membundar. “Hah? Maksud anti gak bener-bener cinta?”
Akhwat: “Dulu sih sempet cinta ukh, tapi simpati (simpan dalem hati-pen). Bahkan sempet terpikir untuk mengajaknya ta’aruf”
Ane: Mata semakin melebar (bukan, lebih tepatnya, mau keluar). “Ta..tapi…Cuma sempat terpikir aja kan ukh?”
Akhwat: Iya, karena tu ikhwan dah keburu merit”
Ane: fyuuuh…lega! sambil ngelus dada.
Akhwat: “Makanya sekarang ane sedih banget ukh”
Ane: “Ukhti, jodoh itu gak mungkin ketuker dan gak bakalan kehabisan stok.” (ciyeeeh, gaya! Tumben ane ngeluarin kata2 (sok) bijak tentang jodoh)
Akhwat: “Iya sih ukh. Yang ane sesalkan, tu ikhwan ma akhwatnya nikah pake jalur swasta. Emang sih dua2nya sama2 aktivis tulen, tapi temen2 ikhwah pada kecewa dan gak habis pikir, karena kabarnya CBSA (Cinta Bersemi Saat Aktif-pen), mereka kan 1 organisasi. Nikahnya backstreet lagi. Koq bisa ya ukh? Padahal ikhwan itu haroky banget.”
Ane: Mendengarkan dengan seksama, lalu (lagi2 sok) berpetuah dengan nada yang diberat-beratkan, “Yaah, bisa aja. Ikhwan-akhwat kan juga manusia.”
Akhwat: Narik nafas dalam-dalam, tangan ditopangkan didagu, muka ditekuk, pandangan lurus ke depan, menerawang….
Ane: “Seharusnya anti bersyukur ukh. Allah masih menjaga anti dari cara-cara yang kurang berkah. Berarti, dia bukan yang terbaik buat anti.”
Akhwat: melonjak seketika. Sadar dari lamunannya. “Iya ukh ya!” lalu menepuk bahu ana agak keras.
Ane: “Aduh!” kaget.
Akhwat: “koq ane sedih? Seharusnya ane bahagia dong! Karena ternyata ane gak jadi nembak dia duluan. Karena….pasti ditolak! Dia kan dah VMJ ma tu akhwat. Ya Allah… Alhamdulillah…” sambil mengusap wajahnya pake tangan.
Ane: “Hahh?” heran binti bingung. Nyengir onta, trus geleng-geleng kepala seraya berkata “Akhwat yang aneh….”
-TAMAT-
Udah ah, kalo semua kasus diungkap, bakalan panjang nih tulisan, dan pembaca pasti bakalan bosan. ‘afwan…
Bismillah…(lagi)
Sebelumnya, sorry jiddan sejiddan jiddannya karena ana harus menyampaikan hal ini (yang mau protes dan mengkritik ane nulis topik beginian, tafadhol(i)…ane siap nerima). Tapi, ane benar-benar harus menuliskannya, karena kata Nabi “Ballighu ‘anniy walaw aayah”, dan “Qulil haqqo walaw kaana murron”
Fenomena di atas bukan cerita fiktif dan isapan jempol belaka, tapi sudah menjadi realita yang terjadi di kalangan aktivis dakwah. Sama halnya dengan “ikhwan punya inceran”, ternyata kasus “akhwat nembak duluan” seringkali terjadi di lapangan. Salahkah? Tak ada satupun dalil yang melarangnya. Boleh-boleh saja. Sah-sah saja. Bunda khadijah juga melakukannya (tapi, beliau menyampaikannya lewat perantara), bahkan ada wanita Arab yang berani mengajukan diri langsung untuk dinikahi oleh Rasulullah saw. Simaklah hadist berikut:
Anas ibnu Malik, Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
Ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia menawarkan dirinya kepada Rasulullah “Apakah engkau membutuhkan diriku?”. Anak perempuan Anas hadir dan mendengar kata-kata wanita itu, lalu berkata ”Alangkah memalukan dan betapa buruknya”. Mendengar itu, sang ayah (Anas ibnu Malik) menyahut ”Dia jauh lebih baik darimu nak. Wanita itu mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya kepada beliau” (HR Al Bukhari).
Apakah lantas Rasul melarang dan menyalahkan cara yang dipakai wanita itu? Tidak. Beliau maklum dan mafhum.
Sebenarnya ane juga kurang mengerti mengapa akhwat dengan PeDenya to the point langsung pada si ikhwan tentang perasaannya dan berani mengajukan proposalnya langsung pada orangnya. Apa takut si dia keburu diambil orang? Tenang ukhti, jodoh gak bakalan ketuker dan gak ada ceritanya kehabisan stok. Jika melihat kasus yang terjadi di jaman Rasulullah, ane rasa sangat wajar! Beliau adalah Rasulullah, makhluq yang paling dicintai oleh seluruh umat muslim. Tapi jika hal itu terjadi saat ini, apakah tak ada cara lain yang lebih ahsan untuk mengungkapkannya? Misalnya dengan perantara orang ketiga (Bisa orang tua, atau orang-orang sholeh yang dipercaya). Bunda Khadijah saja menggunakan perantara saat mengungkapkan perasaannya.
Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Akhwat Sholihah bak mutiara di dasar laut, tak selalu putih terkadang terbungkus lumut. Di dalam cangkangnya dia senang berada, menjaga diri dan tak mudah digoda. Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya. Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya.
Ukhti, engkau begitu berharga. Adalah sebuah fitrah dalam hidup, sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini diletakkan pada tempat yang sesuai. Mutiara yang berkualitas akan terjaga dengan rapi pada cangkang tiram yang kokoh dan kuat, perhiasan mahal, biasanya akan dibungkus dan diletakkan pada kotak dan ruang yang aman, begitu pula brangkas yang kuat diperlukan buat menyimpan surat berharga, atau ruang terbaik dari sebuah show room digunakan untuk meletakkan mobil yang termahal.
Ukhti, jagalah akhlak dan perangaimu, hiasilah dengan selalu berzikir kepada Allah, dan bertuturlah yang baik atau diam, jaga hijabmu yang selama ini engkau jauhi atau bahkan khilaf dalam penjagaannya, jangan sampai engkau memamerkan anugerah keindahanmu kepada orang lain, karena manusia akan merendahkanmu.
Jaga hijab, maka kau akan terjaga dari fitnah.
Yakinlah Allah akan menjagamu selama engkau berusaha menjaga diri, menjaga lisan dan pandangan mu, kepada sesuatu yang tidak halal untuk kau pandang. Kecantikan seorang akhwat akan lebih berharga bila diukur dengan ketaatan dia kepada Rabb-nya.
Redupnya penjagaan hijab, diantaranya dipengaruhi oleh hal-hal berikut. Semoga bisa menjadi bahan muhasabah untuk kita semua, sebagai pengemban dakwah.
1. Pandangan, anak panah iblis
“Hati-hati dengan mata, karena cinta itu dari mata turun ke hati”. Hm…betul juga. Makanya, GB (Ghodul Bashor) dooong!! Karenanya Rasulullah memperingatkan Ali bin Abi Thalib dengan perkataannya: “Wahai Ali, janganlah kamu mengikuti pandangan dengan pandangan (berikutnya). Sesungguhnya pandangan pertama halal bagimu, dan pandangan berikutnya tidak halal bagimu.” (HR. Tirmidzi)
Dari Ummi Salamah r.a., “sesungguhnya Rasulullah saw dahulu tidak suka apabila ada perempuan melihat kaum laki-laki sebagaimana beliau juga tidak suka kepada laki-laki yang melihat kaum perempuan.” (HR. Thabrani)
Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”
Masih belum mau GB juga?
Kali ini Allah ‘Azza Wa Jalla yang memerintahkan kita dalam firmanNya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada perempuan yang beriman, “Hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka manampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya.”…… (An-Nur: 30-31)
Hati-hati!
2. Suara dan Diksi
Interaksi, komunikasi dan koordinasi tak dapat dihindari oleh ikhwan-akhwat sebagai partner dakwah. Dalam menggunakan bahasa lisan, suara manjadi hal yang harus diperhatikan. Allah telah memperingatkan wanita muslimah untuk tidak memelankan suaranya saat berbicara dengan laki-laki “Maka janganlah kamu tunduk (pelan) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al Ahzab: 32)
Ulama kemudian menjelaskan, “Allah telah memerintahkan mereka (kaum perempuan) agar kata-kata mereka da;am berbicara itu jelas dan terperinci, dan tidak dengan cara yang membuat hati terikat terhadap keindahannya sebagaimana yang terjadi pada dosen-dosen perempuan yang berbicara dengan laki-laki. Berbicara seperti itulah yang membuat hati pendengarnya merasa tertarik. Berbicara yang lunak dan halus seperti itulah yang membuat orang-orang yang hatinya sakit menjadi ingin berbuat dosa.”
Selain suara, diksi (pemilihan kata) dan alasan berbicara harus jelas! Kalo gak ada sebab dan alasan yang jelas, pembicaraan akan ngelantur ke mana-mana. Kalo udah ga ada hal urgen yang perlu dibahas, segera hentikan komunikasi, karena celah itu akan dimanfaatkan oleh syetan dan kroni-kroninya untuk menyelipkan kata-kata yang dapat menjerumuskan dan merusak hati.
Persoalan diksi yang tepat dan tegas serta adanya alasan yang jelas ini tidak hanya berlaku dalam ragam bahasa lisan, tapi juga bahasa tulis (sms, email, chat, dll). Susah memang, tapi pasti bisa! Semoga istiqomah!
3. Krisis ukhuwah antar sesama
Kalo ta’liful quluub sesama akhwat (sesama ikhwan) kurang dibina, maka ukhuwah sesama akhwat (sesama ikhwan) akan merenggang. Antara sesama seolah tak ada lagi kepedulian, minim kepercayaan. Akibatnya, ukhuwah lintas gender lebih erat. Akhwat lebih suka curhat ke ikhwan, ikhwan pun gak segan-segan menceritakan masalah pribadinya ke akhwat. Ada yang bilang Cuma sahabatan (emang ada?), ada yang nganggep kakak-adek or adek-mbak (cuma nganggep, aslinya nggak), parahnya ada yang ngaku kalo mereka sedang menjalani Hubungan Tanpa Status (Whuuuaaa, gaswat!!!). Na’udzubillah….
4. Smile ^____^
Senyum tanda mesra/ senyum tanda sayang/ senyuman sedekah yang paling mudah/ senyum di waktu susah tanda kesabaran/ senyuman itu tanda keimanan
Hmm….masih inget nasyid yang dibawakan Raihan di atas? Senyuman memang sedekah yang paling mudah dan murah. Senyum akan bermakna positif pada orang yang tepat, pada saat yang tepat dan dalam durasi waktu yang tepat pula. Namun maknanya akan terasa berbeda jika senyuman itu diberikan pada lawan jenis dengan tatapan mata yang penuh arti dan frekuensi yang cukup sering. Terutama senyummu ukhti fillah, hati-hatilah…Apalagi bagi kalian (akhwat) yang dianugerahi wajah semanis gula…(hhmmm….). Kita mungkin gak menyadari dan merasa biasa2 aja dengan senyuman kita, apalagi sebagai akhwat qta harus bisa bersikap lembut dan ramah pada sodara yang qta jumpai. Tetapi senyuman yang salah penempatan atau salah sasaran malah bisa membawa fitnah dan membawa “malapetaka”. So, waspadalah..! waspadalah…!
5. Kurang kontrol
Kurangnya monitoring dari pihak MR, MS, dan qiyadah di dakwah sekolah/kampus bisa menyebabkan mad’u/kader berbuat sekendak hatinya (apa yang menurutnya benar). Sayangnya, ketika kekhilafan itu diketahui MR, MS, dan qiyadah, yang ada hanya kritikan-kritikan dan hujan teguran tanpa ada solusi yang menentramkan. Apalagi jika mereka yang harusnya menjadi sosok teladan malah memberi contoh yang gak ahsan, akibatnya kader menganggap hal itu benar dan boleh dilakukan.
Untuk MR, mungkin peran Ummi/Abi lebih dibutuhkan. Ada kader yang mengeluh, sekarang MR hanya menjalankan 1 peran, sebagai pemimpin/panglima, karena mad’u/mutarobbi hanya mendapat ta’limat-ta’limat saja, harus ke sini, harus ke situ, harus begini, harus begitu. Sedang peran Ummi/Abi, Syaikh, dan Ustadz/ah semakin berkurang (karena ada sebagian halaqoh yang mengharuskan mad’u untuk menyampaikan materi sendiri secara bergiliran setiap pekannya. Ane kurang setuju dengan metode ini. Dengan alasan: 1) mad’u mencari bahan materi dari media yang kurang ia ketahui kebenarannya, ex: browsing2 di internet, luas banget kan? Akhirnya, banyak dijumpai kasus kader yang kebingungan karena sumber yang digunakan bukan yang dimaksud MR atau bahkan menyimpang. 2) Dalam fiqhud dakwah kaidah no 10 jelas disebutkan “Murid Guru, bukan murid buku!” Bergurulah pada akarnya, bukan dahannya). ‘Afwan pembahasan jadi keluar jalur, tapi ane lega karena sudah tersampaikan. Sekali lagi ‘afwan jika ada yang tersinggung.
Back to topic

Akhwat Sholihah, tutur katanya terjaga
Akhwat Sholihah, akhlaknya mulia
Akhwat Sholihah, engkaulah perhiasan terindah
Akhwat Sholihah, Allah-lah puncak segala cintanya
Jagalah Allah, maka Alllah akan menjagamu
Sebenarnya ane menulis hal ini karena sebel (banget) sama seorang akhwat yang kasusnya lebih parah dari ketiga kasus di atas. Ane cuma ingin berpesan pada tu akhwat (pantes gak ya disebut akhwat? ‘afwan):
“Ukhti, jika anti memang (sangat) mencintai ikhwan itu (duh, gak sudi ane nulisnya), pakailah cara-cara yang ahsan dan berkah jika ingin mengajaknya menikah. Bukan dengan cara “murahan” seperti itu! (‘afwan lagi). Dan ketika anti tahu ikhwan itu menolak karena telah berproses dengan akhwat lain, janganlah anti berusaha untuk memisahkan keduanya dengan segala macam cara (seperti yang anti bilang). Sungguh, itu bukan ciri akhwat sholihah. Astaghfirullah ukhti, di mana IZZAHmu? Di mana Al Haya’ yang menjadi sebagian dari imanmu? Lalu apa bedanya akhwat dengan cewek ‘ammah?”
Ya Allah, di jaman apa aku hidup? Sungguh aku merindukan “mereka yang dulu”. Jika aku harus memegang idealisme di tengah realitas yang terjadi sekarang, semoga Engkau memberikan kekuatan agar idealisme itu bisa kugenggam sekuat-kuatnya, meski mereka menganggapku “orang aneh”. Tapi aku bangga, menjadi GRURABA’
Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaa
Inta sal ‘anna fa inna laa nubaali biththughaa
Nahnu jundullaahi dawman darbunaa darbul-ubaa
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa’ hakadzal ahraaru fii dunya-al ‘abiid
Kam tadzaakarnaa zamaanan yawma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi nahfuzh-hu shabaahan wa masaa`
Wallohu ta’aalaa a’lamu bish-showaab
Semoga Istiqomah!!!!
Sebuah sms masuk ke HP ane, lagi-lagi dari no asing. Ah, gak penting siapa pengirimnya, yang penting isinya…Semoga bisa menjadi bahan perenungan untuk ukhti fillah di manapun berada….
“BL kw sdg mNnggu ssOrg u/mJLni kHdpn mNju rdhoNYA, fashbirii bishobron jamiil dm Allah dy tdk dtg krn kCantkn,kpintrn/pn kKyAnmu.Tp AllahLh yg mNggrakn dy u/dtg kpdmu.JgnLh tGesa u/mgXpreskan cint pdx sblm Allah mNgiznkn.Blm tntu yg kw cntai adLh yg tBaik u/mu.Sapakh yg lbh mNgethui mLainkn Allah? Innallaha ‘alimul hakimsimpnLh sgl bntk ungkpn cint dlm ht rpt2.Allah kn mJWBx dg Lbh indh dSaAt yg TEPAT,,”
(from: +628977425***)
Di awal tahun 2003, ada seorang akhwat menanyakan kepada saya, apa sich sebenarnya yang dijadikan barometer ‘ukuran’ seorang ikhwan dalam memilih seorang akhwat sebagai pendamping dakwah dan hidupnya???? Dan sejauh mana faktor kecantikan dijadikan sebagai kriteria.
Pertanyaan seperti ini agaknya memang wajar, apalagi ini dilontarkan oleh seseorang yanga telah memasuki masa-masa kematangan dalam hidupnya.
Memang dalam tarbiyyah islamiyyah bagi seorang ikhwan jundiyyah munti’ah pilihan atas dasar dien dan akhlaqnya adalah suatu keniscayaan bahkan keharusan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, sebab ini sudah menjadi qadhaya asasiyyah dalam dakwah. Ditambah lagi medan dakwah menuntutnya memberi peran ganda, tidak saja menjadi murabbiyatul ummah ‘pendidik di masyarakat’ melalui fase tabligh,ta’lim,dan takwin akan tetapi ia dituntut untuk mampu menampilkan ‘prototipe mini’. Disinilah uswah ‘keteladanan’ sekaligus figuritas diperlukan. Bagi al-akh sejati keberadaan istri yang dien dan akhlaqnya saleha menjadi suatu keniscayaan.
Apalagi memang ada peran-peran tertentu yang membutuhkan eksistensi ganda semisal memberi kajian majlis ta’lim ibu-ibu, liqa’atul ummahaat, para kader akhwat, mengajar baca Qur’an bagi ibu-ibu pemula. Adapun bagaimana mendapatkan ilmu untuk berkiprah seperti tadi, justru bisa banyak disuplay langsung oleh ‘murobbi sejati’ murabbi belahan hati, yakni suami tercintanya, dengan asalib ‘metode’ transfer dengan cinta!!! Subahanallah
Lalu,yang jadi masalah, adalah pada marhalah di saat seorang ikhwan dihadapkan pada kriteria dan pilihan-pilihan yang (terkadang) menjadi subhah, sebab langkah inilah yang bakal menentukan berhasil tidaknya pernikahan sebagai ‘jembatan’ kesuksesan dalam dakwah. Di satu sisi ia telah dicetak dengan shibghah rabbaniyyah, kader mujahid dakwah yang mengedepankan idealisme dakwahnya namun disisi lain sebagai ‘manusia lumrah’ terkadang sering didominasi oleh sifat-sifat yang fitrah.
Tak jarang kriteria yang terkesan ‘nggak syar’i’ menjadi factor kesekian bagi seorang ikhwani, dan itu saya rasa wajar-wajar saja. Manusiawi.
Jujur Saja Kecantikan Itu Manusiawi
Bila berbicara masalah qadhaya ad dakwah, dakwah sejatinya adalah sebuah proyek master dalam hidupnya,. Oleh karenanya mengedepankan sisi kepentingan dan kemaslahatan dalam dakwah sudah menjadi kebutuhan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi Di sini, pertimbangan dan arahan dan masukan bahkan ‘pengambilan keputusan’ dari seorang murobbi sangat dominan bahkan dibutuhkan.
Bahkan, salah satu pointer adab seorang mutarobbi dengan murabbinya adalah seorang murobbi hendaknya tahu siapa gerangan calon pendamping mutarobbinya.
Tak jarang, untuk menguji kestiqahan kita dan ‘tsabat’ keteguhan kita dalam dakwah ijtimaiyyah ini, kita harus siap menerima ‘masukan’ atau bahkan instruksi atau juga kata ‘tidak’ dari seorang murobbi. Walaupun disadari atau tidak ‘instruksi’ sang murobbi adalah sebatas pertimbangan-pertimbangan demi maslahat dakwah. Berbeda dengan beberapa kurun waktu yang lalu, di era jamahiriyah sekarang ini sudah terjadi trend keterbukaan. Termasuk dalam hal pemilihan calon.
Akan tetapi, terlepas dari semua itu, jika kita secara jujur memposisikan diri sebagai ‘orang biasa’ yang mengedepankan fitrah-fitrah kemanusiaanya, diakui ada beberapa factor yang tidak bisa dinafikan adanya. Walaupun bagi komunitas ikhwan manhaji ia akan tetap mengedepankan dien ‘agama’ dan akhlaqnya.
Diantara hal-hal yang ‘manusiawi’ dan ‘lumrah’ itu ialah:
Kelumrahan pertama; Kecantikan
Kecantikan itu sesungguhnya identik dengan keindahan, innallaaha jamiilun yuhibbul jamal ‘sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan’(HR. Bukhori).
Fitrah haqiqinya manusia cenderung menyukai keindahan, sebab keindahan itu akan menumbuhkan sakinah ‘ketenangan batin’ dan apalagi yang di dambakan seorang ikhwan dalam memiliki calon pendamping dakwahnya sekaligus teman sejati dalam hidupnya kalau bukan sosok istri saleha yang melahirkan ketenagan ruhiyah.
Berbagai ragam dan corak rintangan menghadang dalam dakwah, tak pelak ia mendambakan secercah ketenangan dan kedamaian, tidak hanya kedamaian dari qalbu yang dihiasi dengan dzikrullah, namun damai dari sesuatu yang ia lihat secara dzahiriyyah, sosok istri yang nampak anggun dan tentu saja akan kelihatan cantik setidaknya menambah kesejukan sebab ia mampu menghias diri demi sang suami. Dan inilah ‘rahasia’ mengapa Allah menjanjikan ‘jannah’ syurga bagi seorang istri yang saleha yang : menyenangkan di kala ia ditatap dan dipandang.
Tapi, cantik itu khan relative?, begitu kata sebagian orang, yang menurut saya cantik belum tentu menurut anda demikian, setidaknya ini menunjukkan bahwa ‘kecantikan’ itu sejatinya akan terpancar dari dua insan yang memiliki ‘rabithatul qulub’ ikatan batin, ikatan secara kejiwaan, artinya lahirnya alhubbu fillah ‘kecintaan yang karena Allah’ dari dua ikhwah akan mampu melahirkan rona kecantikan dari dua insan itu.
Jika anda seorang hamba yang shaleh, yang mampu mengikatkan ‘ribathul ukhuwwah’ ikatan persaudaraan yang fillah dan lillaah ‘dijalan Allah dan karena Allah’, kepada sesama ikhwah, niscaya tidak akan mengalami kesulitan mendapatkan al hubb ‘cinta’ secara ruhiyah dam al jamil ‘cantik’ dalam tataran dzahiriyyah. Sebab kecantikan yang akan antum dapatkan telah terdahului dengan kecantikan ruhiyyahnya. Sebaliknya bagi mereka yang jiwanya tidak pernah diriyadhah ‘dikelola’ dilatih dan dikondisikan dalam bi’ah ukhuwwah ‘komunitas kekeluargaan’, maka ia akan kesulitan dalam menelusuri dan menggali hakekat ‘kecantikan’ dzahir. Sebab barometernya bukan lagi sendi-sendi imaniyyah tetapi hawa nafsu, materialism, dan hubb ad dunya. Penilaian dari sekedar ‘tatapan dzahiri yang semu. Ia tidak lagi mempertimbangkan nilai kecantikan kalbu, ruhiyyah, spiritualism yang berorientasi akhirat. Dan kalau demikian halnya, sing kade ‘hati-hatilah’ ia telah memasuki zona penelusuran yang semu dan menipu.
Ya Rabb, lindungilah kami dari pilihan-pilihan yang menjauhkan diri kami dari pertolongan dan keridhaan Mu.
Lalu, kecantikan seperti apa? Tidak terlalu rumit dan sempit untuk memahaminya, jangan anda bermimpi mendapatkan sejuk dan indahnya kecantikan jika anda sendiri belum mafhum akan hakekat kecantikan itu sendiri, dan , jangan anda terlalu berangan-angan panjang untuk mendapatkan calon pendamping yang tersimpan kecantikan dzahir yang ‘sempurna’ jika anda masih menjadikan ‘dien’ dan akhlaqnya sebagai ukuran dan urutan pertama., sebab teramat jarang seorang ‘akhwat istiqamah’ yang tersimpan empat pilar utama; kecantikan, nasab ‘keturunan’, kekayaan, sekaligus bersatu dalam kesempurnaan dien dan keindahan keshalehahannya.
Yang jelas, anda sebenarnya bisa menumbuhkan kecantikan itu secara ‘manual’ yakni dengan mentazkiyah qalbu dan memperbesar cahaya ruhiyah, sebab dengan qolbu yang bercahaya niscaya akan memancarkan cahaya pada rona wajahnya, sebuah ilustrasi visual akan hakekat kecantikan yang sebenarnya. Dan inilah -wallahua’lam- maksud dari ungkapan :
“ sesungguhnya wanita yang paling membawa berkah adalah wanita yang paling cerah wajahnya (cantik) dan paling sedikit maharnya” (Abu Umar Ast Sukani)
Jadi, teramat naïf manakala ada akhwat yang mengabaikan kecantikan ruhani, membiarkan hati ‘kering’ dan mengingat Allah, dan jatuh dalam kefuturan ruhiyyah dan amal jamaiyyah, atau sebaliknya ia tidak peduli terhadap kecerahan wajah (baca : cantik) dan penampilan dirinya; cenderung tidak peduli dengan kebersihan, terkesan kucel end kummel, kurang tertata rapi dari ujung mahkota jilbab sampai ‘tungkak’ (tungkak: organ kaki/tungkai) ujung kaos kakinya.
Akan menjadi sebuah anugerah Ilahiyyah, manakala telah lahir sosok akhwat yang terampil dalam mempercantik ruhiyyah, membeningkan hati, dengan mentazkiyah, wajahnya terpancar keindahan dan kebahagiaan nan sumringah, ditambah lagi dengan kemahirannya dalam menjaga kecantikan dzahirnya. Subhanallah…..
Kelumrahan kedua; Usia
Sepakat atau tidak, diantara hal yang manusiawi di kalangan ikhwan adalah factor usia. Wanto (sebutlah demikian) pernah kirim sms ke saya; akhi, ana mau cari akhwat yang umurnya maksimal 23 yang shaleha…. Atau seperti Tono teman karib saya, setidaknya ia berkeinginan mendapat akhwat yang minimal sama dengannya, 25 tahun.
Pertanyaan yang timbul, mengapa masih ada fenomena seperti ini, bahwa usia terkadang menjadi bagian kriteria. Hal ini dikarenakan beberapa sebab.
Pertama, factor psikologi, disaat ikhwan memutuskan jalan hidupnya dengan menikah itu artinya ia sudah menata niat, menguatkan azzam sebagai seorang suami sekaligus pemimpin bagi istrinya. Setidaknya minimal usia yang sama akan memudahkan penataan secara spikologi bagi suami untuk mendidik, mengarahkan, dan menata istri.
Kedua, factor kesuburan, rentan usia antara 20-35 tahun adalah ideal dalam melahirkan anak, karena hakekat pernikahan adalah meneruskan keturunan. Jika seorang akhwat sudah melewati kepala tiga artinya resiko kelahiran semakin besar. Dan ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi seorang ikhwan.
Al-Islam, sebagai dien asy-syamil memang pada ghalibnya tidak membuat batasan usia, apalagi ukuran maksimal, sebab disaat memasuki aqil baligh (dewasa) itu artinya sudah ada kesiapan baik secara biologis maupun kejiwaan (mental), untuk memasuki mahligai pernikahan. Jadi, factor usia sebenarnya tidak menjadi masalah sekalipun calon istri lebih tua dibanding suami.
Dalam tataran sejarah Sirah Nabawiyyah pun juga telah di ‘praktekan ‘ baginda Rasulullah SAW, wanita pertama hadir mendampingi perjuangannya adalah sosok Khadijah Binti Khuwailid RA, yang usianya terpaut lebih tua ± 15 tahun!.
Pertimbangan Dakwah,
Dalam konteks dakwah, di saat pertimbangan-pertimbangan itu harus merujuk pada kemashlahatan ummat, maka factor usia tidak laya dijadikan ‘pertimbangan asasi’ pertimbangan inti dalam memilih calon akhwat, sebabnya yaitu tadi, kemaslahatn dan mas’ulliyyah dalam dakwah. Jikalau seorang ikhwan ketika terjun dalam aktivitas dakwahnya menjadikan usia sebagai mizan ‘timbangan’ yang asasi padahal telah ada/datang seorang akhwat yang lebih siap dan memilik potensi besar dalam dakwah, ikhwan tersebut tidak menerimanya hanya alasan klasik (kecantikan/lebih tua) maka ia hendaknya patut dipertanyakan ketsiqahannya dalam dakwah ini. Wallahua’lam bishawwab…..
Menikahlah di Jalan Dakwah Ini
“ Dijalan dakwah ini aku menikah”. Subhanallah. Satu ungkapan yang mulia sekali. Tetapi andakah –termasuk saya- mengikrarkan diri untuk menumbuhkan azzam seperti di atas?. Tinggal antum yang harus buktikan.
(bersambung)
(read more ...)
Gadis manis itu bermata sendu sembab. Berdiri di pinggiran sudut harapan. Kesedihannya terpancar hebat disaat ia ingin meraih cintanya sebagai kata yang berwujud, dan berjasad. Agar ia bisa merengkuh dan menggenggamnya. Akankah cinta itu harus berarti memiliki?. Begitulah harapan gadis itu.
Cinta itu energi jiwa, kata sebagian orang. Sebagai energi memang tak bisa dibendakan. Tidak nampak tapi nyata. Ia memang bisa berfungsi sebagai daya gerak, pendorong, dapat dirasa, dan mewariskan pesona pula; bahagia maupun lara. Itulah sebabnya cinta tidak cukup ditafsir dengan bahasa sederhana, tak mampu diurai dan disyarah dengan satu ihtisar. Seribu satu bahasa pun takkan mampu menerjemahkan kedahsyatan makna cinta. Berjuta orangpun telah membahasakan cinta, tetapi dengan berjuta rasa dan beragam perasaan.
…
Cinta itu hutan
meneduhkan, cantik tapi kadang kita tersesat di dalamnya
Cinta itu matahari
panas membakar tapi ia berguna
Cinta itu hujan
selalu kita berlari agar tak terguyur tapi selalu kita kenang saat kemarau menyerang
cinta itu awan
kadang berarak beriringan kadang hilang tak tahu kemana
cinta itu udara bertiup sepoi
Menyejukkan dan membawa rasa,
…
Bagai angin semilir. Bait jawabanku untuk gadis manis itu. Bagai udara lembut ia datang membawa beragam rasa dan berjuta makna. Bila ia bertiup membawa wewangian karena cinta telah melewati dirinya dari sumber wewangian. Terkadang ia membawa bau tak semerbak sebab ia telah melewati lintasan sumber tak semerbak. Sangat tergantung pada dari mana muqaddimah cinta itu berawal.
Bagai angin semilir. Ia hanya bisa dirasa. Bahkan lebih dari itu, cinta itu oksigen. Tidak nampak tapi dapat dirasa. Dibutuhkan oleh keseluruhan makhluk. Cinta takdirnya menghampiri tanpa melihat ras dan suku, agama dan keyakinan. Kabilah maupun bangsa-bangsa. Bahkan ia menjadi perekat perbedaan penciptaan makhluk. Ia hadir dimana-mana dan memberi kesejukan kepada semua nya.
Tapi cinta itu bisa menjadi gelombang angin membadai yang membawa petaka. Bagai air bah yang bisa meluluhlantakkan sisi-sisi kemanusiaan. Menghancurleburkan keangkuhan. Energi yang dibawanya teramat dahsyat tetapi lembut. Melembutkan sifat-sifat diri bagai tiupan angin sepoi. Nikmati rasanya dan keharumannya tetapi engkau tak bisa memilikinya. Karena ia hanya bisa dirasa dan itulah takdir muasalnya. Jika engkau ingin memiliki, maka rengkuhanmu bagai ihtiar memegang tiupan angin. Makin besar tenaga rengkuhan, makin meranalah hidupmu. Bagai naik telapak tangga, makin tinggi engkau berada maka jatuhnyapun makin menyakitkan.
Bila sang gadis berdiri d pinggir harapan itu menatapnya jauh dengan senyuman, angin itu ia rasakan sebagai tiupan lembut untuk menikmati keharumannya. Dan diantara bekas keharuman itu terasa dalam dinding-dinding kulit perasaan dan hatinya. Hasilnya: makin membuatnya menyelami watak cintanya dan kelembutan-kelembutan dirinya. Benar ungkapan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Raudhatul Muhibbin wa Naudzah Al-Musytaqin ia berkata, “Cinta merupakan cermin bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui akan watak dan kelemahan-kelemahan dirinya dalam cinta kekasihnya, sejatinya ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri.”
Subhanallah!. Itulah energi cinta. Pesona mozaik cinta. Energi yang membangunkan dari tidur panjang ketidaktahuan akan eksitensi dirinya. Menggugah dari terbenamnya selama ini oleh kejumudan watak diri. Ia akan semakin cerdas dan terampil dalam menghiasi dirinya lebih baik dan indah dalam perilakunya. Bahkan mengokohkan dirinya untuk lebih hidup dan berdayaguna. Itulah sebabnya Erich Fromm menjelaskannya sebagai kekuatan perubah. “…Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif dan lebih menjadi dririnya sendiri.”
Jadi, rasakanlah pesona keindahan dan kedahsyatan energi cintamu. Walau tidak mesti harus memiliki.
(read more ...)

“Barangsiapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cintanya, menahan diri, bersabar lalu meninggal dunia maka ia mati syahid”
Ungkapan Rasulullah SAW ini diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id Al-Hadatsani, walau sejatinya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalam risalahnya Raudhatul Muhibbin menyatakan ini sebagai hadits maudhu dan mauquf. Alasannya simpel, berdasar riwayat shahih, penjelasan Rasulullah tentang macam kesyahidan tidak pernah memasukkah dan menyebutkan sebab matinya karena jatuh cinta itu syahid. Ibnul Qoyyim mengutip hadits ini ke dalam pembahasan yang sangat indah tentang para pemuja cinta.
Namun, bila urutannya adalah jika cinta itu menjadi spirit, ia sembunyikan dengan penyembunyian yang melahirkan potensi-potensi kesalehan, ia menahan diri tidak terjerembab dalam kecintaan syahwati, geloranya ia bingkai dengan ketinggian kecintaan pada Sang Pemiliki Cinta, Al-Waduud. Lalu ia bersabar, iffah, menjaga diri dari kecintaan pada penghambaan makhluq, ia serahkan segala energi cintanya hanya untuk Allah semata. Penggambaran-penggambaran manisnya cintanya itu ia tumpahkan segalanya untuk Sang Khaliq. Lalu ia terkubur dalam timbunan-timbunan mahabbah, ia rasakan kelezatannya dalam penghambaan, lalu sampai di ujung umurnya hingga mati. Ia syahid.
Lihatlah kisah ini, kisah romantika dua manusia, dimabuk cinta. Seorang laki-laki ahli ibadah, pemuda Kuffi, cintanya menghampiri gadis cantik nan elok. Cintanya berbalas. Gadis itu sama cintanya. Bahkan ketika lamaran sang pemuda ditolak karena sang gadis telah dijodohkan dengan saudara sepupunya, mereka tetap nekad, ternyata. Gadis itu bahkan menggodanya, “Sayang, aku akan datang padamu atau kuatur cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku”. Gadis itu menghamparkan selendang syahwatnya.
“Tidak! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!” Itu jawaban sang pemuda yang menghentak sang gadis. Pemuda itu menjaga diri dan memenangkan iman atas syahwatnya dengan kekuatan cinta.
“Jadi dia masih takut pada Allah?” gumam sang gadis.
Seketika ia tersadar dan dunia tiba-tiba jadi kerdil di matanya. Ia pun bertaubat dan kemudian mewakafkan dirinya untuk ibadah. Ia tenggelam dalam keseluruhan cintanya pada Al-Waduud. Walau cintanya pada sang pemuda tidak mati. Cintanya berubah jadi rindu yang mengelana dalam jiwa dan doa-doanya. Tubuhnya luluh lantak didera rindu. Ia terkubur oleh kerinduan, penggambaran kerinduannya ia arahkan pada buncahan kerinduan untuk Tuhannya. Sampai la mati, akhirnya.
Sang pemuda terhenyak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan do’a-do’anya. Sampai suatu saat ia tertidur di atas kuburan gadisnya. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya. Cantik. Sangat cantik jelita.
“Apa kabar? Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku,” tanya sang gadis.
“Baik-baik saja. Kamu sendiri di sana bagaimana?” jawabnya sambil balik bertanya.
“Aku di sini dalam surga abadi, dalam nikmat dan hidup tanpa akhir,” jawab gadisnya.
“Doakan aku. Jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu?” tanya sang pemuda lagi.
“Aku juga tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdoa agar Allah menyatukan kita di surga. Teruslah beribadah. Sebentar lagi kamu akan menyusulku,” jawab sang gadis.
Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya. Dalam hujaman kecintaan kepada Rabbnya.
Ustadz Anis Matta mengomentari kisah ini dengan ungkapan: “Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri, memenangkan iman atas syahwatnya sendiri. Atas nama cinta pula Allah mempertemukan mereka. Cinta selalu bekerja dengan cara itu”. Subhanallah.
Tak ada yang dapat menafikan. Ia mati dalam seindah kematian. Energi cintanya mewariskan pengorbanan tulus.
Seperti kecintaannya sendiri terhadap kematian. Ada seribu satu kisah romantika anak manusia. Ada kisah dengan gadis cantik jelita. Ada pula kisah dengan pesona dirinya. Sama-sama pemuda. Fathi Farhat namanya. Awalnya ia mencintai dirinya, mencintai ibunya, mencintai kemulyaannya, mencintai tanahnya, keluarganya bahkan negaranya. Namun geloranya tak berhenti pada kecintaan yang absurt, ada rongga yang nampak jelas bahwa tujuan cintanya itu ia wujudkan dengan keinginannya untuk merdeka, merdeka dari penindasan yang telah mengoyak-ngoyak symbol ketauhidannya. Sang Khaliq telah memerdekakannya dari segala belenggu. Ia menyimpan cintanya menjadi gunungan-gunungan mahabbah menuju cita-citanya beriring bersamna kafilah para syuhada’. Ia bersabar bagai antrian syuhada’. Menyusuli para qiyadahnya, yang rindu bersalam jumpa, rindu dengan penyapaan penjaga pintu surge, dengan penyapaan salaamun alaikum thibtum fadhuluuhaa, khaalidin (selamat atas kalian, dan segeralah masuk ke dalam surga dengan kekal).
Gambaran surga itulah yang mampu mengokohkan kecintaan dan kerinduannya pada kenikmatan yang abadi walau ditebus dengan kematian. Sama nikmat kematiannya walau ditempuh dengan derita yang sekejap saja. Ia bersabar, menunggu antrian saat terindah menjemput kematian.
…
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight (Michael Heart, We Will Not Go Down)
Senandung cinta. Yang menggelorakan. Menghidupkan. Spirit yang tak pernah mati. Akan selalu hidup. Penuh mu’jizat kenabian. Cintanya menjadi pengokoh. Membangunkan spiritnya untuk tidak pernah menyerah. But our spirit will never die. Kelak takdir menghampirinya bahwa kemenangan akan datang untuknya walau dengan washilah ‘perantara’ batu-batu yang menghujam musuh-musuhnya. Ini kisah yang membangkitkan, kisah cinta. Bila dua kisah ini adalah kisah kesabaran dan kesadaran untuk bersandar pada Sang Pemilik Cinta. Maka kematiannya yang dicintainya menjadi jalan menuju kesyahidan.
Dan, seperti itulah cinta bekerja.
(read more ...)

Aku berpapasan dengannya tiba-tiba
Aku pun terhenyak tak tahu apa harus dikata
Dan kulihat, tiba-tiba kehadirannya
Bergetar kakiku tak kuasa menahannya
Bait-bait sang penyair mengungkap tanda-tanda (ayat-ayat) keajaiban cinta. Dari sentuhan dan pancaran gejolak jiwa, mengalir melewati sumsum tulang dan aliran darah manusia , menembus hingga menghidupkan harapan asa, menggetarkan pada mulanya. Lalu, menyadarkannya menjadi cinta yang berarah dan bertema. Inilah diantara tanda-tandanya cinta yang ditulis dengan penuh cinta dan makna oleh maestro kedalaman karya-karyanya; Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dalam Raudhatul Muhibbin-nya, Taman Orang-Orang (yang) Jatuh Cinta. Syairnya memang terasa bermakna, karena berbalut cinta dalam bab-bab indah penuh pesona. Dalam uraian-uraian tentang apa itu tanda-tandanya cinta. Dan, ia menulisnya, bahwa diantara gejalanya bersemayam cinta adalah bergetarlah hatinya, kagetlah batinnya, bergoncang (bahkan) bercucuran keringatnya tatkala ia berhadapan dengan yang dicintainya. Atau ketika mendengar namanya.
Ada memang kejadian dalam hidup ini yang membuat kita terhenyak. Dalam tatapan kasat mata ia tak nampak lalu ada, di hadapan kita. Katakanlah ia adalah manusia. Yang kita menaruh hati padanya. Menoreh cinta padanya. Cinta manusia. Sebagaimana kata sang penyair:
Ada yang menyebut namanya di Mina
Lalu dahan-dahan hatiku gemetar tak tahu sebabnya
Pada malam yang sepi kembali namanya disebutkan
Seakan dari hatiku ada burung yang terbang …
Ketika cinta bersemi dalam jiwa. Untuk kekasih sebab ada setetes kesempunaan dari anugerah Yang Maha Sempuna. Mungkin karena ia jelita, pintar, sabar atau saleha. Mungkin karena ketaatannya, keteguhannya, kejujurannya atau kesederhanaannya. Mungkin karena pelik cerita hidupnya, rumit romantikanya, liku-liku perjalanannya. Sehingga tumbuh bersemi shobaabah (simpati), suka, care (perhatian) karena semua sebutan-sebutan itu untuk mewakili amanah dari kata cinta. Atau sang pecinta karena ia telah memiliki gunung-gunung yang di dalamnya ada magma cinta. Yang setiap saat memuntahkan letupan-letupan lahar yang (kelak) menyuburkan tanah gersang nan tandus menjadi subur makmur. Ia telah merdeka secara kejiwaan. Sudah keluar dari persoalan-persoalan dirinya, untuk kemudian memimpikan, meng-angankan, menginginkan orang lain –siapapun- senantiasa baik karenanya dan bahagia. Pekerjaannya adalah memberi energi kepada orang lain agar kekasihnya itu senantiasa dalam kebajikan dan kebahagiaan.
Gemetar jiwa itu karena ada yang telah berwujud dalam jiwanya. Wujudnya hanya sebagai rasa bukan benda. Rasa yang telah diawali dalam jiwanya ada pengagungan, ada pengokohan eksistensi, ada pengakuan perannya maka timbullah dominasi-dominasi yang menguasai jiwanya meruntuhkan hatinya sampai-sampai kekuatannya jauh lebih kuat dari kekuasaan raja terhadap rakyatnya. Gemetar itu menunjukkan ketundukan, hatinya telah ditaklukkan oleh kharisma sosok yang dicintainya. Hati yang telah ditakukkan oleh kharisma kekasih tak mampu membuat penerimaannya menjadi sempurna. Menjadi tidak siap hingga akhirnya bergetar, berkeringat dan bergoncang dan sesudah itu ia menikmati rasa cintanya dengan penyempurnaan pengabdian dan pengagungan.
Ada banyak cerita-cerita anak manusia dalam pergumulan cinta dalam hatinya. Manusiawi agaknya, suami bergetar hatinya mendengar nama istrinya dikumandag, ibu dengan anaknya, guru dengan murid kesayangannya, rakyat dengan pemimpin idolanya, atau juga sesama kita, dalam persahabatan kita. Cerita ini takkan muncul bila awalnya tidak dari ketidaknampakan atau kesunyi sebutan namanya. Tiba-tiba muncul, sekonyong-konyong terdengar, ujug-ujug ada dihadapannya. Inilah yang melahirkan getar jiwa dan kekagetan. Bahkan getar jiwa dan kekagetan itu semakin meronta bila awalnya sang pecinta itu aktif bekerja dalam bentuk pencarian, perenungan dan keinginan yang membuncah untuk menemui sang kekasih. Jadi urutannya bermula dari ketidaknampakan, keterpisahan atau sunyi dalam penyebutan, lalu selanjutnya menjadi pengokohan eksistensi pengakuan terhadap peran kekasih, makin kuat hingga hatinya mencari-cari. Dan dari titik disiini. Tersebut namanya atau tiba-tiba nampak di hadapannya. Bergetar jiwa dan inilah kerjanya cinta. Ada reaksi kimiawi jiwa yang mengakibatkan perubahan-perubahan fisik. Getar (karena) Cinta.
Bila penggalan sejarah peradaban manusia ke depan telah sanggup menemukan alat pengukur getar (akibat) cinta tentu kita akan bisa membuat peringkat-peringkat kekuatan cinta kita kepada kekasih. Makin banyak ‘peserta’ kekasih menunjukkan makin besar energy cintanya. Makin berbeda tingkatan derajatnya hingga (katakanlah) perbedaan itu sampai angka-angka di belakang koma makin menunjukkan kerapihan cintanya. Sebab, cinta yang tanpa berderajat, tidak ada prioritas kecintaan, tidak ada tingkatan dan tak ada kadar-kadarnya menunjukkan cinta yang kacau, gelap dan buta. Itulah sebabnya kecintaan yang buta itu akan membutakan pembuktiannya, pasti menyengsarakan. Ia berjalan dalam gelap pekatnya cinta.
Namun, sebagai rasa jiwa. Dan itu ada dalam jiwa-jiwa kita. Jiwa normal fitrah yang bisa diukur dengan alat manual. Sebatas pada kemampuan daya getar cintanya. Anda akan tahu dan bisa membuktikan apakah memang kecintaan kepada Allah menjadi kecintaan tertinggi. Derajat yang tak tertandingi?. Atau seribu satu kekasih itu diperlakukan dalam tingkatan dan komposisi derajat yang sama?.Tak ada tingkatan. Semuanya menjadi prioritas tertinggi. Semuanya menundukkan jiwa. Menguasai arah hidup?. Maka,tunggulah kehancuran dan kesengsaraannya.
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. QS. At-Taubah [9]: 24
Cinta itu membutuhkan prioritas. Memerlukan tingkatan-tingkatan. Jika anda tidak mampu membuat prioritas dan tak bisa menetapkan tingkatan-tingkatannya membuat cinta menjadi rabun dan menimbulkan kebutaan. “Dan Allah tidak memberi petunjuk (arah) kepada orang-orang fasik.”. Di ayat sebelumnya Allah mendampingkan sebutan dalam ayat ini dengan sebutan “….maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” [QS. At-Taubah [9]: 23). Dzalim atau adz-dzulum adalah kegelapan. Tidak bisa memilih dan memilah. Gelap mata. Buta. Love is blind. Cinta itu buta akhirnya.
“.. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). QS.Al-Baqarah [2]:165.
Getar cinta. Reaksi kimiawi yang mempesona. Keunikan dan inilah reaksinya cinta. Ketika ikrar cinta sudah diproklamirkan bahwa kasta cinta tertinggi hanya untuk Allah dan meletakkan kecintaan-kecintaan pada seribu satu kekasih pada tingkatan yang tidak menguasai hati, tidak menundukkan jiwa dan tidak menjajah wilayah ketaatan kita. Maka getar cinta itu akan terasa semakin dahsyat disaat kita tiba-tiba disebut kekasih tertinggi kita. Asma Allah Azza Wajalla. Kekuaran getaran kekuatannya jauh daripada getaran-getaran cinta yang lain.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfaal [8]: 2).
(read more ...)

Cinta itu unsur kimia hati yang merasuk tanpa tersadari. Tak nampak namun bisa dinikmati. Terjaga walau dalam gelapnya arti. Kadarnyapun berwarna-warni. Sewarna 1001 macam kekasih yang menggelanyuti hati. Menawarinya dengan sejuta kenikmatan, pun menjajahnya bagai budak belian. Sewarna warni itu membutuhkan tuntutan, membutuhkan prioritas. Jika anda mampu menempatkan cinta itu dalam nampan-nampan suci, dalam tingkatan kesejatiannya, anda akan menikmati dengan 1001 keindahan yang tak terkira. Pesonanya luar biasa. Jika anda tidak mampu membuat prioritas dan tak bisa menetapkan tingkatan-tingkatannya tidak mengukur derajat-derajatnya, tidak menetapkan kasta-kastanya maka cinta menjadi 1001 persoalan. Seribu satu lara. Satu darinya bahkan lebih berat ketimbang beratnya memikul jabal uhud.
Tak sekedar menanggung derita dan beratnya memikul lara. Tetapi juga sedang berjalan mamasuki lorong gelap menyesatkan dan menyengsarakan, karena ia berjalan dalam kegelapan, atau jalan itu sebenarnya nyata namun tak mampu manatapnya, rabun dan dalam kebutaan. “Dan Allah tidak memberi petunjuk (arah) kepada orang-orang fasik.”.
Siapa orang-orang fasik itu? Di ayat sebelumnya Allah mendampingkan sebutan dalam ayat ini dengan sebutan “….maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” [QS. At-Taubah [9]: 23). Dzalim atau adz-dzulum adalah kegelapan. Tidak bisa memilih dan memilah. Jika gelap jalannya jadi kacau. Blaen (=jawa). Gelap mata. Buta. Love s blind. Cinta itu buta akhirnya.
“.. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). QS.Al-Baqarah [2]:165.
Bagai puncak gunung menjulang. Seperti susunan piramida. Kenikmatan sejati ada pada puncaknya. Berdirinya di puncak cinta ia akan menatap sejuta macam cinta lainnya, yang ada di bawahnya. Derajat cinta itu merangkum kadar-kadarnya. Ada kadar yang ala kadarnya dan ada kadar yang telah ditakdirkan dengan kadar tanpa batas takaran, penakdirannya tak mengenal batas. Tak mengenal luas, kadarnya seluas langit dan bumi, seluas tujuh tingkatan langit. Itulah kadar tertinggi. Itulah derajat teragung dan maqom (tempat) paling mulia. Dan inilah urutan-urutannya:
1. Derajat pertama (tertinggi), adalah cinta dalam bentuk tatayyum, cinta dalam bentuk tatayyum ini adalah cinta kepada Sang Khaliq. Ia berada pada derajat tertinggi. Tidak ada lagi yang diduakan. Cinta tatayyum adalah kecintaan totalitas. Ruang besar tanpa batas. Tanpa reserve. Cinta penghambaan. Cinta yang membudakkan. Artinya siap menjadi budak-Nya. Apa kata Dia, yang dilakukan dengan penuh cinta pula. Sebab Dia telah melimpahkan semuanya dengan cinta. Laa yajidu fii anfusihim khorojan, wayusallimuu taslimaa..(..dan tidak ada lagi dalam hatinya perasaan berat (untuk melaksanakan) dan dia berserah diri dengan penyerahan secara sempurna). Derajat dan bentuk cinta ini hanya untuk Allah SWT. Ruang ini hanya hak Allah. Sami’na wa atha’naa. Mendengar-Nya dan menta’ati-Nya.
” Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada ALLAH “. (Qs. Al Baqarah:165)
2. Derajat kedua, adalah `isy-qu, cinta yang merupakan hak Rasulullah. Penumbuhannya dalam bentuk ‘isyq, keasyikan dalam meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW. Kekasih kita. Kecintaan inilah yang mendorong kita untuk bercontoh, ittiba’ atas sunnah-sunnahnya. Asyik, kesediaan jiwa dan langkah untuk berkorban dan berjuang menegakkan risalah yang dibawanya. Kesediaan untuk berjuang menegakkan nilai-nilai Islam. Asyik dalam menelaah kisah perjalannya, karena perjalanannya memang penuh cinta, cinta pada ummatnya. Yang dengan cintanya ia penuh kearifan berdoa bagi anak-anak Thaif yang melemparinya. Ia tersenyum sabar atas tingkah Yahudi buta yang mencaci makinya. Yang dengan cintanya Sang Nabi menaklukkan jiwa-jiwa manusia dalam naungan Islam. Bedanya dengan cinta tatayyum adalah cinta `isyq ini tidak mendorong seseorang untuk menghamba kepada Rasulullah SAW. Tetapi meneladaninya dengan penuh mesra.
…
Jalan para nabi kita adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita (Rumi).
“katakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka: jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku…”
3. Derajat ketiga, adalah syauq, cinta syauq adalah kecintaan seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya. Antara suami-istri, anak dengan orang tuanya. Jenis kadarnya adalah kadar dengan komposisi penuh kerinduan. Mengharmoni. Pengikatnya adalah ikatan iman. Cinta kepada orang-orang yang beriman mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’ yang mendekatkan kita pada kecintaan kepada Allah dan RAsul-Nya. Cinta ini membuahkan mawaddah wa rahmah (kasih sayang) dan menjadi perekat dalam membangun ummat.
4. Derajat keempat, adalah : shababah, kadar kecintaan ini adalah kecintaan dalam bentuk empati. Peruntukannya kepada sesama muslim. Ruang perhatiannya lebih dalam dari sekedar simpati. Ia lahir dari ikatan dasarnya adalah keimanan. Karena Islamnya. Perhatiannya (care) lebih mendalam. Ada keinginan kuat untuk selalu membahagiankannya. Responsibility. Dorongan jiwa agar ia selalu bertabur sejuta kebaikan dan kebahagiaan. Tidak sekedar suka, tetapi masuk ke ruang jiwanya. Lebih menjiwa. Apa yang dirasakannya akan pula kita rasakan. cinta yang ditujukan kepada sesama muslim sehingga melahirkan ukhuwah Islamiyah. Ada itsar (selalu ingin mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya) dan iffah (menjaga diri dari menghiba), ia terpuaskan jiwanya menakala ia sanggup keluar dari persoalan dirinya lalu memberi kemanfaatan untuk kekasihnya.
5. Derajat kelima, adalah : `ithf (simpati) yang ditujukan kepada seluruh manusia. Tanpa memandang ras, suku dan keyakinan. Cinta ini dimunculkan untuk mengilhamkan seseorang menjalin muamalah dengan keluhuran budi. menyeru dan menuntunnya ke jalan Allah. Kadarnyapun (hanya) sebatas suka. Suka itu adalah tarikan jiwa kepada kekasihnya. Rasa suka itu akan mendorong sang pecinta untuk bisa terampil memilih kata, menata jiwa, menghiasi tatakrama, lalu berlama-lama dalam membangun hubungan. Untuk apa derajat cinta ini ditumbuhkan?, Ya. Untuk membimbingnya, mendakwahinya, menuntunnya dan (bahkan) menyelamatkannya. Banyak kafilah jiwa-jiwa yang tersentuh awalmulanya, oleh cinta dalam tingkatan ini. Abu Bakar contohnya. Hamzah bin Abdul Muthalib misalnya. Atau Umar Tilmisani saat sentuhan awal bertemu Imam Hasan Albana.
6. Derajat yang keenam, derajat terendah cinta harta benda. Kecintaan pada materi. Fitrah ketetapan kecintaan manusia adalah pada materi. Pada benda. Atau yang menghasilkan materi. Kecintaan pada kedudukan, popularitas, posisi, jabatan. Islam membenarkan cinta ini. Lalu membimbingnya dalam dalam kadar yang terukur. Bentuknya `intifaa’ (mendayagunakan/memanfaatkan) nya saja. Pendayagunaan derajat cinta ini tidak sampai merasuk jiwa, mati-matian mengekalkannya atau membudakkan diri padanya. Ruangnya sekadar ruang-ruang permukaan. Sebatas kecenderungan saja. Alaqah, hanya menempel saja, Bak tetasan buliran air di ujung bebatuan goa, menetes, terlepas jatuh lalu mengumpul kembali. Kadang terlepas kadang pula tergenggam. Tentang sejauhmana seharusnya cinta seorang muslim terhadap dunia itulah seorang Salamah bin Dinar berkata, “Jadikan dunia ini dalam genggaman tanganmu dan jangan jadikan ia dalam lubuk hatimu”. Atau senandung munajat sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA: “Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku dan jangan jadikan dunia ini dalam hatiku”.
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 29)
Inilah heararkinya. Karena cinta itu punya hirarki. Begitu kata Ustadz Anis Matta. Semua cinta kita hanya akan menjadi lurus kalau kita menyesuaikan diri dengan hirarki ini. Cinta kepada Allah ditempatkannya sebagai kecintaan tertinggi. Cinta kepada Rasulullah SAW dengan meneladaninya, dan mengasyikkan diri dalam ittiba’ (mengikuti jejak) dengan tanpa ada penghambaan/penyamaan dengan Allah. Cinta pada istri, atau istri-istri dan anak-anak, sanak saudara, handai taulan, karib kerabat, lalu turun pada derajat dibawahnya; pada semua insan, pada rumah, mobil, harta-harta, popularitas dan jabatan semuanya hanya akan menjadi lurus jika ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta pada Allah SWT. Perasaan kita harus ditata dalam struktur cinta seperti itu. Komposisinya harus terukur, derajatnya mesti terurut dan tertata.
Realita kehidupan kita memang menunjukkan betapa banyak manusia yang salah dalam menempatkan derajat-derajat cintanya. Kabur dalam membuat takaran-takaran ukurannya. Kadar-kadarnya. Ada derajat ketujuh membuainya, menjajahnya. Yaitu Cinta Syahwati, kecintaan yang mewariskan kemudaratan. cinta yang tidak termasuk dalam peringkat cinta terendahpun malah dijadikan prioritas utama. Atau ada pula yang salah dalam menempatkan peringkat cintanya. Jika seperti itu, cinta bukan lagi sebagai anugerah, tetapi berubah menjadi samudera duka yang terus mendera. Dan ingat baik-baik kata ini; jika cinta tanpa hirarki, jangan salahkan cinta.
(read more ...)
Cinta memang ajaib. Seperti menafsir kembali tentang pemaknaan syukur. Keajaiban syukur itu hanya akan dapat diterjemahkan dalam uraian-uraian yang menjiwa. Syukur hanya bersemi dalam jiwa-jiwa yang memiliki keterampilan sekaligus kecerdasan dalam memaknakan setiap apapun itu sebagai sebuah karunia. Makin cerdas dalam memaknakan setiap –sekecil apapun- sebagai karunia, makin tinggi pula keterampilan bersyukurnya. Cinta, membutuhkan pemaknaan yang mendalam dan meniiwa. Cinta kepada Allah pun cinta kepada kekasih hati.
Cinta memang ajaib. Tumbuh berseminya adalah energi yang melipat-lipat. Jika kita ingin menafsir tentang keajaiban cinta, keajaiban itu hanya bisa diurai jika jiwa kita-pun telah mampu menerjemahkan setiap episode kerja-kerja jiwa itu sebagai buah dari cinta. Ketika cinta akhirnya harus berkorban, ketika cinta itu akhirnya membawa rasa kebersamaan dalam lara, dam penderitaan dan ujian yang membuat hati menghiba. Ketika cinta itu akhirnya menumbuhkan kesetiaan yang tak terkira, ketika cinta itu mampu menafsir kedipan mata kekasih jiwa, bahkan setetes air mata kekasih sebagai tafsir bahasa jiwa yang penuh rona. Ketika cinta melahirkan kekuatan bertahan dari prinsip, bertahan untuk tetap sabar, ketika cinta membawa energy ketaaatan dan ketundukan. Kepasrahan dan kebersandaran. Ketika cinta (akhirnya) bertasbih, mentasbihkan sang Pemilik Jiwa Cinta, Al-Waduud.
Itulah sebab musababnya kenapa Allah SWT sesungguhnya DZat Yang Maha Pecinta (al-waduud). Ketika Dia menyapa dalam bahasa cinta; qul yaa ibaadii (katakanlah: Wahai hambaku…). Janganlah kalian berputus asa dari RahmatKu. Ketika Allah tak pernah menyia-nyiakan setiap amal hambaNya, itupun bukti cinta. Allah menguji manusia dengan kehendak Cinta-Nya agar daun-daun kekhilafan ini berguguran, agar harta-harta yang tergenggam jadi tersucikan, agar jiwa-jiwa kembali dalam kefitrahan, agar keyakinan tentang makna perjuangan itu semakin terkokohkan. Itulah rahasianya. Seorang hamba yang meneteskan air mata dalam keheningan munajatnya bahkan Allah sampai mengatakan bahwa dialah yang kelak akan mendapatkan pertolongan-Ku. Allah tak ‘membiarkan’ tetesan-tetesan air mata itu sebab tetesan itu punya makna; makna penyesalan, makna ketundukan, makna ketenangan (karena hanya pada-Nya-lah hidup ini diserahkan. Bahkan jika Allah berkehendak, setetes air mata keinsyafan akan menjadi syafaat status hamba, menjadikan air mata sebagai wasilah ridha Allah untuk memadamkan kilatan-kilatan siksa.
Itulah keajaibannya. Cinta melipat-lipatkan kemampuan jiwa untuk care (member perhatian), semacam keinginan menggelora agar sang kekasih selalu dalam keadaan baik, bahagia dan tentram karenanya. Melipat-lipatkan agar jiwa memiliki amaliyah mutakamilah (kerja totalitas antara gagasan,emosi jiwa dan tindakan nyata). Cinta sebagai spirit dan gagasan, emosi dan tindakan; gagasan tentang bagaimana membuat yang dicintai menjadi tumbuh berkembang lebih baik dan bahagia karenanya. Cinta tidak hanya getaran emosi melankolik tapi butuh pembuktian. Mencintai berarti merindui…, karena itulah buktinya. Seperti saat Ramadhan ini, munajat kerinduannya adalah; Waballighna ilaa RAMADHAN. Waballighna (Ya Allah, pertemukan/sampaikan kami di Bulan Ramadhan…) waballighna adalah ungkapan kerinduan. Merindu-nya berarti mencintai-nya.
“…pabila cinta memanggilmu…
ikutilah dia walau jalannya berliku-liku…
Dan, pabila sayapnya merangkummu…
pasrahlah serta menyerah,
walau pedang tersembunyi
di sela sayap itu melukaimu…”
(Kahlil Gibran)
Mencintai Ramadhan, adalah mencintai setiap seluk lekuk kepribadian Ramadhan. Bertabur keberkahan. Berhias pesona. Berbingkai kesabaran. Bernaung di bawahnya keyakinan akan kemurahannya disana ada gelombang-gelombang pengguguran dosa. Disana ada pintu Ar-Rayyan yang terbuka. Pintu Rahmah dan maghfirah. Beratnya menghias pesona Ramadhan akan melahirkan lipatan-lipatan kekuatan untuk menghidupinya dengan cinta. Bila yang didapat adalan penggalan episode kepedihan dan penderitaan, maka cinta menjadi penawarnya sebagai kekuatan penyadaran jiwa menjadi pesona Ramadhan yang menentramkan. Tak ada kegalauan dan kegamangan, sebab cinta hanya mengenal membahagiakan kekasih jiwa. Cinta melipatkan kekuatan-kekuatan yang terserak. Cinta memang ada di dalamnya; seribu satu keajaiban.
(read more ...)

Cantik !
Apakah jodoh itu hanya milik seseorang yang cantik? kali ini pembahasan hanya disoroti pada perempuan karena jumlah perempuan yang makin banyak yang belum menikah. Hmmm...rasanya tidak, sebab tiap manusia yang lahir ia sudah digariskan gendernya, jodohnya, rizqinya dan matinya. Namun kenapa fenomena yang sering kutemui adalah yang wajahnya "rata-rata ke bawah" sulit atau mungkin lama sekali mereka menemukan jodohnya...
Alhamdulillah aku sudah menikah. Aku merasa bukan karena cantik aku bisa lebih dulu dibanding teman-temanku, namun karena doa yang rajin kupanjatkan juga restu orang tua yang mendukung anaknya menikah cepat, kalaupun suamiku menikahiku karena juga merasa aku cantik semoga karena kecantikan jiwa yang lebih menonjol daripada kecantikan raga.
Pada dasarnya fitrah memang jika laki-laki ingin istri yang cantik, namun bukankah seperti sabda Rasulullah bahwa perempuan itu dinikahi karena empat hal, karena kecantikannya, nasabnya, kekayaannya dan agamanya; sedang yang mendahulukan pertimbangan agamanya maka ia akan beruntung dunia akhirat.
tak sedikit pula aku mendapat request untuk membantu mencarikan akhwat (perempuan) yang cantik sebagai kriteria pertamanya. Tak ada yang menjadikan kriteria penghafal quran, penulis handal, anak pertama yang jadi tulang punggung keluarga misalnya sebagai kriteria pertama...Hmmm jika seperti ini maka bagaimanakah nasib saudara perempuan kita yang "ga" cantik secara fisik..?
haruskah kita membiarkan saudara2 perempuan kita yang "kurang beruntung" sebagai antrian terakhir dari daftar akhwat yang pingin nikah?? Padahal ada banyak akhwat yang siap nikah, sedang ternyata ikhwannya bingung pilih-pilih.. ah, andai aku jadi murobi para ikhwan akan ku minta mereka memilih biodata dengan menutup mata sehingga tidak akan melihat kecantikan foto sebagai tolok ukur pertamanya...!
(read more ...)
lebih tajam dari pedang
lebih cepat dari kilatan cahaya
lebih lembut dari sutera
lebih halus dari bisikan angin di senyapnya malam
lebih luas menembus mayapada daripada satelit
lebih tangguh daripada kokohnya karang
lebih indah dari mentari yang baru merekah
bermakna yang dalam jika ditulis sepenuh hati
menggetarkan hati
menentramkan sukma
yang merayu rindu saat membaca ayat-ayat cintaNya
Robbi...
ajari aku mengeja setiap cintaMu
dalam penggalan episode-episode jiwaku
yang merayap dari waktu ke waktu
mencoba membuka tabir rahasia kasihMu
hingga KAU ijinkan aku
menapaki rumah suciMu
Robbi...
ajari aku memaknai titian kasihMu
dan menangkapnya lewat pena kecilku
yang masih perlu tuntunanMu
untuk menjadi salah satu pemujaMu
yang bisa dibanggakan bersama kekasih pilihanMu
Hidup itu pahit...!
sapa bilang hidup di dunia itu manis..?? Mungkin itu sebabnya setiap bayi yang kutolong selalu menangis... Dan bila tak menangis selalu diupayakan supaya ia menangis. Sebab menangis salah satu tanda bahwa ia bayi sehat.
Sapa bilang hidup itu indah...? Mungkin itu yang membuat ALLAH menciptakan kenapa ada makhluk yang buta..bahkan buta sejak lahir !! Ia tak bisa melihat indahnya mayapada dalam bayangan nyata...Sebab ALLAH meminta kita tak picik berkata sesuatu itu indah hanya dari satu sisi..
Sapa bilang hidup itu mudah...? Ah, hidup kita tak lepas dari yang namanya perjuangan..Bahkan sejak kita akan menjadi calon bayi yang tumbuh dalam rahim ibu kita...bahkan banyak berita tentang orang2 yang bunuh diri karena tak kuat berjuang atau jadi gila karena frustasi...
Yah...manisnya hidup ini...indahnya hidup ini..serta mudahnya hidup ini adalah saat kita masih bisa bertahan dalam perjuangan hidup itu sendiri...
kenapa hidup ini pahit...? Sebab syurga itu manis...Dan bersabarlah akan buah kepahitan hidupmu saat ini...
##masih di bumi pahlawan##
(read more ...)
Kala hati gundah dan perlu tersiram hujan, sms teman2 inilah yang membuat hati kembali hijau berseri..
"Rasa sakit akan membuatmu lebih kuat, rasa nyeri akan menyadarkanmu bahwa jalan kadang berbatu, rasa malu akan membuatmu mengerti bahwa kau perlu berkaca pada saudaramu jika suatu hari kau lakukan kesalahan. Maka saat itulah kesempatan saudaramu untuk menjadi penolongmu dan saat terbaik memulai perbaikan dirimu..." (TWH, 300707)
"Hidup itu selalu ada harapan dalam keyakinan......selalu ada keteguhan dalam kesabaran........selalu ada hikmah dalam kesyukuran......n selalu ada doa untuk saudaraQ tersayang..." (QV2n, 240108)
"iNdahnya persaudaraan adalah saat memberi tak berbalas...da sapa dalam sedih....da doa dalam tangis.....da makna dalam setiap kata....da dukungan saat diri mulai goyah...." (Riz, 07)
"tak ada kata seindah nasihat dan doa yang terlantun dari shabat sejati...walau terbentang jarak namun hatis elalu bertaut..Keep on the ALLAH’s way, sist.." (End, 0208)
"resapi sebuah perkenalan karena di situ ada kenangan....
syukuri sebuah hubungan karena ada kerinduan...
hargai sebuah persaudaraan karena itu tali persaudaraan.." (ind, 02028)
"wafer said to chocolate, "We are knowed as the sweetiest, aren’t we..?"
Chocolate said "u think that we are the sweetiest..?..Hmm please look at here, the people who read this message is the sweetiest one..." (Riz, 02028)
(read more ...)
Lama tidak menulis di blog sebenarnya membuatku kangen, namun ada amanah menulis di media lain yang akhirnya menyita waktu selain juga kerja di dua tempat. Bisa dibilang tidak produktif ! Tapi meski demikian sebenarnya aku tetap menulis fiksi hanya belum sempat terpublikasikan.
Sulit memang menjadi seperti air yang terus mengalir..Hidupnya tak pernah berhenti...Langkahnya selalu produktif menebar manfaat tanpa kecuali..
Namun pertemuan dengan sorang ustadz yang seorang dokter hewan namun lebih milih jadi dirut lembaga amil zakat membuatku bisa tergerak lagi untuk menulis fiksi..Malah ada juga teman juang yang dengan ekstremnya bilang "masak blognya setahun di-inaktif-in"...Yee...sapa bilang setahun ! Cuma empat bulan kok hehehe...
Kadang keluar sejenak dari rutinitas bisa membuat kita kembali fresh menghadapi ritual kehidupan kita, dan bertemu dengan orang2 yang selalu menjadi inspirasi juga akan lebih menguatkan niat kita untuk terus menjadi seperti air. Sulit bukan berarti tak bisa dilakukan to? Toh sesulit apapun soal di dunia itu pasti akan ada jawabannya, jika tak ada jawabannya maka tak mungkin soal itu ada di dunia (ni pesan guru matematika saat aku sma dulu...)
Ayo semangat..semangatt !!
(read more ...)






