Antara Ojek, Ikhwan Ganteng dan Akhwat Cantik

Kalau seorang akhwat harus memilih, diantar pulang oleh tukang ojek atau oleh ikhwan ganteng yang baunya wangi, bukan saudara bukan suami, kira-kira pilih mana?

 

Kalau seorang ikhwan harus memilih, menjadi tukang ojek atau nganter pulang akhwat cantik berbadan langsing, bukan saudara bukan pendamping, kira-kira pilih mana?

 

 

Di bawah ini adalah panduan untuk menentukan pilihan. ^ _ ^

 

 

Konsultasi : Fiqih Wanita

Suami Bonceng Wanita Bukan Muhrim

 

Pertanyaan:

 

Assalamualaikum wr. wb

 

Pak ustad, bagaimana hukumnya suami sering menawarkan atau diminta membonceng (Motor) wanita yang bukan muhrimnya, sepengetahuan saya bahwa tidak boleh berduaan antara laki2 dan perempuan yang bukan muhrimnya.

 

Terima kasih

 

Najmah

 

 

Jawaban:

 

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

 

Hukum berduaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa kehadiran mahram dari pihak wanita adalah hal yang diharamkan oleh syariat Islam.

 

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

  

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan." (Riwayat Ahmad)

  

Berboncengan Sepeda Motor

 

Sepeda motor untuk daerah tertentu memang menjadi alat transportasi yang amat vital. Dan karena harganya tidak terjangkau oleh semua kalangan, seringkali di suatu desa seseorang yang punya sepeda motor menawarkan bantuan untuk memboncengkan teman atau tetangganya.

 

Tolong menolong ini sangat baik karena daripada harus jalan kaki yang jaraknya lumayan jauh, maka membonceng teman atau tetangga memang sebuah solusi kepekaan sosial yang baik.

 

Masalahnya adalah bagaimana hukum seorang laki-laki memboncengkan wanita teman atau tetangganya dengan niat semata-mata hanya menolong ? Tidak ada tujuan atau itikad aneh-aneh misalnya untuk selingkuh dan sebagainya.

 

Jawabnya adalah bahwa antara niat dengan cara harus sepadan. Niat yang baik tidak mungkin dilaksanakan dengan cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, meski mungkin seringkali dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat. Tanpa mengurangi rasa percaya kepada niat baik orang yang menawarkan bantuan untuk memboncengkan, namun dari posisi duduknya di sepeda motor sudah termasuk hal yang tidak mungkin dibenarkan. Sepeda motor itu hanya punya satu tempat duduk yang bila ada orang yang membonceng, maka pastilah keduanya buat hanya berada dalam posisi berduaan, bahkan tubuh mereka pun bisa saling bersentuhan, baik dengan sengaja atau tidak. Akan sulit mengatakan bahwa posisi demikian bukan berduaan / khalwat.

 

Kalau kendaraannya taksi, bajaj atau becak, mungkin masih bisa dikatakan terpisah, sebab posisi sopir dan penumpang memang dipisahkan. Tetapi sulit untuk mengatakan bahwa dua orang berlainan jenis yang bukan mahram naik naik sepeda motor berboncengan itu bukan khalwat. Bagaimana bukan khalwat, padahal tubuh mereka satu sama lain nempel karena satu tempat duduk ?

 

Hal Yang Sering Dilupakan

 

Di negeri kita, akibat lemahnya pemahaman syariat dan kuatnya adat serta tradisi, terkadang terjadi hal-hal yang seharusnya diharamkan, tetapi dilihat oleh kacamata awam sebagai sebuah permakluman. Misalnya, berduaannya seorang suami dengan adik ipar wanitanya. Atau sebaliknya, antara istri dengan adik suaminya.

 

Padahal antara suami dan adik ipar perempuan hubungannnya bukan mahram, sehingga kedudukannya seperti wanita asing. Dan Rasulullah SAW telah secara khusus mengharamkan jenis hubungan ini dengan sabdanya :

  

Jangan kamu masuk ke tempat wanita." Mereka (sahabat) bertanya, "Bagaimana dengan ipar wanita." Beliau menjawab, "Ipar wanita itu membahayakan." (HR Bukhari)

  

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

 

 

 

Ojek Khusus Perempuan, Mungkinkah?

  

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

 

Ustadz, bagaimana hukumnya naik ojek? Apalagi jalan yang dilalui sunyi apakah itu bukan khalwat (berdua-duaan)? Dan yang terpenting adalah solusinya pak ustadz, sebab kalau kita bilang haram tanpa solusi, orang pun akan tambah bingung. Mohon kejelasan dan solusi syariahnya ustadz. Terima kasih.

 

Wassalaamu’alaikum,

 

Kamria Amrin

 

Jawaban

 

Mungkin yang anda maksud adalah wanita naik ojek barangkali. Sebab kalau laki-laki naik ojek di mana tukang ojeknya sama-sama laki-laki, tentu tidak menjadi masalah, bukan? Atau penumpan dan pengendaranya sama-sama perempuan, juga tidak masalah.

 

Masalah dengan ojek terjadi bila keduanya lawan jenis yang bukan mahram. Titik masalahnya hanya terjadinya khalwat atau berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tetapi posisi duduk di atas sadel sepeda motor itu membuat pengemudi dan yang bonceng itu harus menempel. Meski masih dilapisi dengan pakaian masing-masing.

 

Ini jelas lebih parah dari sekedar -misalnya- duduk berduaan di sebuah ruangan. Karena bila di dalam ruangan, masih ada batas jarak antara keduanya. Sedangkan naik sepeda motor, posisinya menempel dan itu sulit dihindari. Apalagi bila mengerem mendadak, maka sudah pasti sentuhan tubuh akan terjadi.

 

Namun kondisi tata kota seperti di Jakarta yang ibarat sebuah kampung besar memang menyulitkan orang untuk bepergian dengan hanya mengandalkan bus dan sejenisnya. Kebanyakan rumah tinggal itu adanya di dalam gang atau jalan kecil yang aksesnya ke jalan raya di mana ada angkutan umum itu relativ jauh. Sehingga masih dibutuhkan angkutan yang lebih kecil untuk menyambug transportasi masuk ke perumahan.

 

Dahulu ada becak yang banyak berjasa mengantarkan ibu-ibu pergi dan pulang dari pasar sekalian membawa barang belanjaan. Tapi di DKI Jakarta becak kini sudah dihapuskan dan peranannya digantikan dengan ojek. Padahal bila dilihat dari sisi ikhtilat, becak lebih terlindungi. Karena posisi penumpang dan penarik beca itu dipisahkan dan berbeda posisi. Sehingga tidak terjadi duduk berduaan.

 

Dalam hal ini, maka ojek bukanlah kendaraan yang memenuhi syarat untuk dinaiki oleh wanita, karena umumnya para pengemudi ojek itu laki-laki. Dan karena itu ikhtilat antara non mahram ini menjadi hal yang tidak mungkin dihindari.

 

Sehingga kalaupun ingin dicarikan mubarrir, haruslah dengan alasan yang sangat kuat dan tingkat kedaruratannya harus jauh lebih tinggi. Menurut hemat, jarak yang 100-200 meter itu tidak bisa dijadikan alasan secara umum. Juga alasan takut terlambat sampai di tempat pun tidak bisa dijadikan alasan yang kuat. Dengan demikian, para wanita harus diupayakan sedapat mungkin untuk tidak naik ojek bila bepergian, karena ojek jelas-jelas tidak mencukupi syarat sebagai kendaraaan para muslimah.

 

Dalam kondisi darurat memang bisa saja dilakukan, tapi darurat itu adalah sesuatu yang sifatnya sangat urgen dan genting dan tentu saja darurat itu tidak terjadi setiap hari.

 

Ini adalah pe-er dan tantangan tersendiri bagi para muslimah yang harus dicarikan jalan keluarnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Salah satunya adalah dibukanya ojek khusus wanita, di mana ojek itu dikemudikan oleh wanita dan hanya diperuntukkan buat wanita saja. Berarti ini sebuah peluang pekerjaan baru buat para wanita, yang hukumnya bukan saja boleh, tetapi sunnah bahkan wajib. Sebab adanya ojek khusus wanita itu akan menghindarkan dosa dan maksiat yang seringkali disepelekan begitu saja dengan alasan darurat.

 

Dari pada wanita jadi kondektur bus, penjaga pompa bensin atau pekerjaan lain yang berbaur dengan laki-laki, lebih baik jadi tukang ojek yang mengangkut penumpang sesama wanita saja.

 

Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Akhwat Cantik

Akhwat adalah istilah populer –saat ini- untuk menyebut komunitas muslimah berjilbab lebar, berbaju longgar. Walau berasal dari bahasa Arab, tapi menjadi familiar dikalangan pengiat dakwah. Akhwat, bermakna saudara perempuan (plural). Lawan kata dari Ikhwan. Tingginya aktivitas dan luasnya skala dakwah menjadikan akhwat mudah dikenal dengan mobilitasnya. Tentunya dengan baju khasnya, gampang diidentifikasi. Terutama di kampus-kampus yang merupakan lembah persemaian para intelektual muda. Identik juga dengan cap kesholehannya.

 

Siapa pula yang tidak ingin cantik? Beribu produk kecantikan lahir, ribuan alat penghias diproduksi untuk memanjakan wanita demi “rasa” cantik. Tak hanya didamba para wanita tapi kecantikan juga dipuja pria. Maka lahirlah milyaran puisi, jutaan syair, puluhan ribu lirik lagu melukiskannya. Betapa banyak ksatria rela mati demi kecantikan sang gadis. Kegagahan panglima takluk dalam kelembutan wanita, yang menurutnya cantik.

 

Akhwat cantik? Menjadi menarik, karena merupakan kombinasi antara kecantikan ragawi dan keindahan ukhrowi. Jika Anda seorang Akhwat, pasti merasa tersipu bahagia jika dikatakan cantik. Cantik menjadi dambaan. Tak ketinggalan pemutih kulit menjadi kosemetik paling populer di kalangan wanita (jika asumsi mainsteamnya, putih itu cantik). Jika Anda seorang ikhwan tentu memimpikan gadis cantik dan sholehah. Kombinasi yang wah. Keujung duniapun dikejar. Virus H2C (harap-harap cinta) bisa menggurita. Terbukti dari data penelitian sebuah Partai Dakwah, di Jakarta mayoritas (hampir 70%) ikhwan memilih menikahi akhwat karena tampilan luar. Para orangtua pun menjadi pihak yang paling repot jika anak gadisnya yang cantik menjadi incaran para pemuda. Maka bayangkanlah Anda menjadi orang tua seorang Akhwat yang cantik. Belum selesai kuliah sudah banyak yang melamar. Malah baru semester II sudah dipesan. Berharap bisa dipersunting orang kaya? Wajar. Cantik sih..

 

Seorang temen berujar, “Temen Akhwatnya cantik-cantik ya..,” really? Ah.. tetapi cantik itu relatif tiap bagi orang. Abstrak dan subyektif. Yang jelas kecantikan seperti pisau bermata dua. Disatu sisi menyejukan disisi lain melenakan dan menyesatkan. Betapa banyak wanita cantik tapi hatinya busuk, padahal kita kadung mengaguminya. Adalah sangat tidak adil ketika kita berteman, memilah yang cantik dan ganteng saja. Malah teman sejati dan sehati kita malah kebanyakan yang biasa-biasa saja. Tapi kita merasa tenteram. Justru yang cantik malah terlihat angkuh. Kita merasa nyaman bersahabat bukan karena mukanya toh! Saling mengerti dan menyayangi tidak dibangun dari warna kulit. Tapi dibangun dengan hati. Banyak Artis cantik diceraikan oleh suaminya. Tau kenapa? Karena rasa cantik itu telah sirna! Ternyata cantik itu adalah rasa, bukan benda. Kecantikan juga membuat sebagian orang besar kepala. Bisa menundukkan orang lain. Sombong dan berbangga diri. Hingga lupa bahwa dia cuma seonggok daging yang melapisi tulang.

 

Cantik adalah ujian (fitnah), bukan anugerah seperti yang diploklamirkan orang banyak. Sebagaimana buruk rupa juga ujian. Dan sebagaimana BBS (biasa-biasa saja/ alias cantik engga..jelek juga engga…) juga ujian. Bukankah bagi Allah yang paling mulia adalah yang paling taqwa? Kecantikan hakiki itu dalam diri kita (inside) bukan luar tubuh kita (outside). Mengapa harus risau? Jawabannya, karena mata kita “tukang tipu”. Menyesatkan. Seorang bijak mengatakan “jika ingin matamu tidak tertipu kemilau dunia, jadilah seorang buta”. Maka dalam hal ini, beruntunglah orang-orang yang buta.  ^_^Padahal, yang fisik itu sangat dekaden, sangat bergantung pada ukuran waktu; tidak abadi. Kemanusiaannya itu yang abadi, dan ini, yang mestinya menjadi alasan mendasar relasi antara anak manusia , atau antara laki-laki dan perempuan. Akhwat cantik, so what..



 

NB Ajah: (Saatnya keadilan ditegakkan! Diskriminasi harus dihentikan.) Specially buat seorang sahabat yang lamarannya ditampik gadis cantik(us)….. (katanya sih akhwat, taunya coklat..hi,hi.. hati2 ntar kualat..)    

Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

tentang-pernikahan.com - Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbialad diinik... 
 Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi alad dawatik...

Love is a give (Cinta adalah berkah)...
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)...
Cinta Allah yang membuat bumi ada...
Cinta Allah yang membuat sang surya bersinar...
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman...
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana...
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima...

 Mirip seperti itulah hakikat menjadi daI...
 Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi dakwah...
 Dia selalu memberi utk Islam,tanpa mengharapkan menerima utk setiap kerja dakwahnya...
Itulah ikhlash...
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah...
 Siap mengeluarkan uang utk dakwah...
 Siap mengeluarkan tenaga utk dakwah...

Ana teringat kata Ust. Darlis:
 Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis dakwah adalah seperti saudara...
Cukup sampai disana...
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader
(SIMPATI : SIMPan dAlam haTI)...
Kecuali Allah memberikan kesempatan padanya utk menyelesaikan setengah agamanya...

Jika Allah telah menentukan jodoh utk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo...?
 Masih panjang langkah dakwah kita...
 Masih begitu banyak lahan dakwah yang belum kita jamah...
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh...
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah pada kita...
 Jangan sampai dakwah kita berpenyakit hanya karena masalah ini...
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
 Bila sampai ada aktivis dakwah yang terjangkiti 
hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)...

 Dakwah adalah sesuatu yang suci...
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)...
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)...

Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya...
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab...

Dia beraksi dan berdemonstrasi utk menyuarakan yang haq didepan penguasa
yang zholim (HR Bukhori Muslim)...

Bukan ingin ketenaran...
 Dia berdakwah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya...

Ingat ikhwan wa akhwat fillah,
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:
Utk ikhwan...
 Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti...
Utk Akhwat...
 Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang
ada di syurga...

Kebenaran hakiki hanya milik Allah...
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan...
 

AWAS! Pacaran Terselubung Ikhwan โ€“ Akhwat via Internet dan SMS !!!

 Pertanyaan:

Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi main internet dan ngobrol (chatting). Aku hampir tidak pernah chatting dengan cewek. Jika terpaksa aku chatting dengan cewek maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.

Kurang dari setahun yang lewat ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu meminta no hp-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak ingin membuat Allah murka kepadaku.

Dia lalu mengatakan,

“Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia. Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”.

Kukatakan kepadanya,

“Maaf aku tidak mau menggunakan HP”.

Kemudian dia berkata dengan nada kesal, “Terserah kamulah”.

Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting.

Suatu ketika dia mengatakan,“Aku ingin no HP-mu”.

“Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku.

Dia lalu berjanji tidak akan menghubungiku kecuali ada hal yang mendesak. Kalau demikian aku sepakat.

Setelah itu selama tiga bulan dia tidak pernah menghubungiku. Akupun berdoa agar Allah menjadikannya bersama hamba-hambaNya yang shalih.

Tak lama setelah itu ada seorang gadis kurang lebih berusia 16 tahun yang berakhlak dan sangat sopan menghubungi no HP-ku. Dia berkata dalam telepon, “Apa benar engkau bernama A?”. “Benar, apa yang bisa kubantu”, tanyaku. Dia mengatakan, “Fulanah, yaitu gadis yang telah kukenal via chatting, berkirim salam untukmu”. “Salam kembali untuknya. Mengapa tidak dia sendiri yang menghubungiku?”, tanyaku. “Telepon rumahnya diawasi dengan ketat oleh orang tuanya”, jawabnya.

Setelah orang tuanya kembali memberi kelonggaran, dia kembali menghubungiku. Kukatakan kepadanya, “Jangan sering telepon”. Namun dia selalu saja menghubungiku.

Akan tetapi pembicaraan kami sebatas hal-hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk melaksanakan shalat, puasa dan shalat malam.

Setelah beberapa waktu lamanya, dia berterus terang kalau dia jatuh cinta kepadaku dan aku sendiri juga sangat mencintainya. Aku juga berharap bisa menikahinya sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya karena dia adalah seorang gadis yang berakhlak, beradab dan taat beragama setelah aku tahu secara pasti bahwa aku adalah orang yang pertama kali melamarnya via telepon.

Akan tetapi empat bulan yang lewat, ayahnya memaksanya untuk menikah dengan saudara sepupunya sendiri karena ayahnya marah dengannya. Inilah awal masalah. Aku mulai sulit tidur. Kukatakan kepadanya, “Serahkan urusan kita kepada Allah. Kita tidak boleh menentang takdir”. Namun dia meski sudah menikah tetap saja menghubungiku.

Kukatakan kepadanya,

“Haram bagimu untuk menghubungiku karena engkau sudah menjadi istri seseorang”.

Yang jadi permasalahan:

Bolehkah dia menghubungiku via HP sedangkan dia telah menjadi istri seseorang? Allah lah yang menjadi saksi bahwa pembicaraanku dengannya sebatas hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk menambah ketaatan terlebih lagi ayahnya memaksanya untuk menikah dengan dengan lelaki yang tidak dia cintai.

.

JAWABAN:
Saling menelepon antar lawan jenis itu tidaklah diperbolehkan secara mutlak baik pihak perempuan sudah bersuami ataukah belum. Bahkan ini adalah TIPU DAYA IBLIS.

Kau katakan bahwa tidak ada hubungan antaramu dengan dia selain saling menasehati dan mengajak untuk melakukan amal shalih. Perhatikan bagaimana masalah cinta dan yang lainnya menyusup melalui hal ini. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau mencintainya dan diapun mencintaimu sedangkan katamu topik pembicaraanmu hanya seputar amal shalih? Kami tahu sendiri beberapa pemuda yang semula sangat taat beragama berubah menjadi menyimpang gara-gara hal ini.

Wahai saudaraku bertakwalah kepada Allah. Jauhilah hal ini.

Cara-cara seperti ini lebih berbahaya dari pada cara-cara orang fasik yang secara terang-terangan ngobrol dengan perempuan dengan tujuan-tujuan yang tidak terpuji.

Mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah maksiat. Sadar bahwa suatu hal itu adalah keliru merupakan awal langkah untuk memperbaiki diri.
Sedangkan dirimu tidak demikian bahkan boleh jadi engkau menganggapnya sebagai sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

ู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒู’ุชู ุจูŽุนู’ุฏูู‰ ููุชู’ู†ูŽุฉู‹ ุฃูŽุถูŽุฑู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู
“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (HR Bukhari no 4808 dan Muslim no 2740 dari Usamah bin Zaid).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ููุชู’ู†ูŽุฉู ุจูŽู†ูู‰ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ููู‰ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู
“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita” (HR Muslim no 7124 dari Abu Said al Khudri).

Perempuan yang mengajakmu ngobrol dengan berbagai obrolan ini padahal tidak ada hubungan kekerabatan antara dirimu dengannya adalah suatu yang haram. Hati-hatilah dengan cara-cara semisal ini. Moga Allah menjadikanmu sebagai salah seorang hambaNya yang shalih.

.

PERTANYAAN:

Andai jawaban untuk pertanyaan di atas adalah tidak boleh apakah boleh dia mengajak aku ngobrol via chatting?

JAWABAN:

Wahai saudaraku, hal ini tidaklah dibolehkan. Hubunganmu dengannya semula adalah chatting lalu berkembang menjadi komunikasi langsung via telepon dan ujung-ujungnya adalah ungkapan cinta. Apakah hanya akan berhenti di sini?
Semua hal ini adalah trik-trik Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam hal-hal yang haram. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia masih menyelamatkanmu. Bertakwalah kepada Allah, jangan ulangi lagi baik dengan perempuan tersebut ataupun dengan yang lain.

.

PERTANYAAN:

Apa hukum seorang laki-laki yang chatting dengan seorang perempuan via internet dan yang dibicarakan adalah hal yang baik-baik?

JAWABAN:
Tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan fatwa yang bersifat umum untuk permasalahan semisal ini karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-masak. Fatwa yang bisa saya sampaikan kepadamu adalah obrolan dengan lawan jenis yang semisal kau lakukan adalah tidak diperbolehkan. Bukti nyata untuk hal ini adalah apa yang kau ceritakan sendiri bahwa hubunganmu dengan perempuan tersebut terus berkembang ke arah yang terlarang.

Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Benci Manhajnya ???

Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya

Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya




   
Seperti minggu sore kemarin, syura’ rutin DPRa di Kantor DPC. Agak Bete sedikit memang, tapi bukan karena bahasan syuranya, seperti biasa lah, selalu ada saja yang disewotin.



“Kenapa akh, dari tadi keliatan agak bete ghitu”, Tanya Ridwan, ketua DPRa, “Ada masalah?”, tanyanya lagi.


“Mba Nilam kemana, abis nikah kok nggak nongol-nongol?”



“Ada urusan keluarga kali, soalnya nggak ada kabar ke ana”, jawab Ridwan singkat.


“Dikerem suaminya kali ya?”, tanyaku polos.



“Astaghfirullah, mana ana tahu akhi. Lagian apa urusan kita terhadap mereka”, sergah Ridwan kepadaku.


“Kayanya kejadiannya bakalan sama seperti ukhti Intan tuh”, tandasku lagi.



“Antum ini ngomong apa sih”, Tanya Ridwan bingung. “Nggak jelas juntrungannya, ana nggak ngerti maksud pembicaraan antum.”



Iya, mulai dari Ukhti Intan, kemudian Mba Nilam, siapa yang sibuk coba, bantuin mereka ngurusin pernikahannya?”, tanyaku ke Ridwan yang cuma makin bingung dengan ulahku.

“Astaghfirullah, akhi.

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), (Qs. Al-Baqarah: 264)



Kok antum masih ungkit itu lagi sih. Kan kita sudah sepakat nggak akan bahas itu terus,” jelas Ridwan yang sepertinya sudah paham maksud kebawelanku.



“Ana sudah nggak tahan. Mungkin Mba Nilam adalah yang terakhir buat ana,” celotehku lagi.

“Maksudnya akhi?” tanya Ridwan.


“Ana janji, ana nggak akan bantuin akhwat manapun jika mereka nikah sama ikhwan Salafy!”, teriakku kesal.


“Loch, memangnya kenapa?”


“Ya, antum sendiri lihatkan. Waktu nikah, yang sibuk itu kita. Boro-boro ada ikhwah Salafy yang mau ikutan bantuin temennya nikah. Udah gitu, setelah mereka jadi nikah, seperti biasa, si akhwat nggak boleh lagi terlibat aktivitas kita,” jawabku dengan nada tinggi.



“Antum nggak boleh gitu akhi. Nggak semuanya seperti itu kok. Itu buktinya si Abu Zainuddin. Nanti jadi sia-sia loch apa yang sudah diamalkan kemarin,” seloroh Ketua DPRaku khawatir.

“Iya, kalau Abu Zainuddin mah nggak usah diomongin. Beliau itu udah the bestnya salafy dech, beda banget. Tapi, kenapa sich, mereka mau menikahi akhwat tarbiyah? Memangnya mereka nggak punya stock akhwat apa? Kalau mereka benci manhajnya, seharusnya mereka benci akhwatnya juga dong!”, teriakku lagi sambil nahan marah.



Ridwan, ketua DPRaku cuma miris dan berkata “Antum nggak boleh gitu akhi.


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.



Mungkin memang sudah jodohnya. Mau dengan Salafy, mau dengan ikhwan tarbiyah, atau mau dengan yang ammah sekalipun, kalau sudah jodohnya, ya mereka pasti akan menikah, kalau Allah sudah berkehendak, mau di
tolak bagaimana?”.



“Gini-gini loch akh. Maksud ana, ana nggak habis pikir aja. Kan mereka sebut kita ahlul bid’ah. Dan ahlul bid’ah itu menurut mereka lebih sesat dari ahlul maksiat. Tapi kenapa mereka malah mencari akhwat tarbiyah yang jelas-jelas ahlul bid’ah menurut mereka. Ini yang ana nggak ngerti,” tanyaku panjang lebar.



“Akhi, tidak ada yang memungkiri, akhwat tarbiyah itu sangat militan dalam berdakwah. Kesibukan apapun yang menyertai mereka. Kuliah, kerja atau ngurus keluarga. Kalau sudah panggilan dakwah, pasti mereka kejar. Hijab dan busana muslim yang panjang tidak menyurutkan gerak gesit mereka,” jelas Ridwan santai.



“Jadi itu alasan mereka menikahi akhwat kita?”, tanyaku sewot.

“Akhwat kita?” tanya Ridwan sambil manyun. “Ngaku-ngaku akhwat kita, sembarangan. Nanti dimarahin bapaknya para akhwat baru tau rasa loch.”


“Bukan, bukan itu. Maksud ana akhwat tarbiyah,” sergahku cepat “Tapi pasti ada alasan lain, kenapa mereka lebih senang merampas akhwat tarbiyah dibandingkan akhwat salafy?”.

“Waduh, merampas, kesannya kasar banget. Jangan gitu akhi. Kalau alasan kenapa mereka tidak memilih akhwat salafy, ana tidak tahu, mungkin memang kurang stock?” jawab Ridwan.

“Atau mungkin karena ekstrim juga!?”, timpalku langsung.


“Hush!!! Sembarangan!”, cegah Ridwan atas komentarku.



“Assalamu’alaikum”, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.

“Wa’alaikum salam ustadz. Ana fikir ustadz sudah pulang. Afwan, kita terlalu rame ya?” jawabku spontan atas sapaan salam ustadz Azri, ketua DPC kami yang tiba-tiba keluar dari balik pintu secretariat.

“Hemm… afwan dari tadi ana mencuri-curi dengar sambil senyum di dalam,” selorohnya pada kami sambil ikut duduk di bangku bambu tepat di sebelah kiriku. “Sepertinya seru juga diskusinya,” lanjutnya lagi,”Memang tidak ada habisnya kalau membicarakan salafy”. Aku cuma senyum, agak sedikit malu karena kesewotanku didengar beliau.

“Begini akhi, apa yang sudah akhi Ridwan katakan itu benar, akhwat tarbiyah itu memang super. Tapi kalau mereka kurang stock akhwat ana juga nggak yakin. Apalagi kalau alasannya seperti yang antum omongin tadi. Yang pasti, kemungkinan alasannya, ini pun baru menurut ana loch. Karena seorang yang telah tarbiyah dan telah mengikuti amal jama’i di dalam jamaah ini, yang telah tahu karaktristik manhaj ini dengan baik dan mendalam, selalu berhusnudzan terhadap qiyadah, pasti telah memiliki pondasi yang bagus tentang keislaman mereka. Mulai dari Al-Qur’an dan ulumul Qur’an, Hadist dan ulumul hadits, Aqidah Islam, Fiqih, Sirah, akhlaq, kepribadian muslim, dan lain sebagainya. Belum lagi ditambah dengan materi-materi yang berhubungan dengan pengembangan diri mereka, seperti bagaimana mengelola waktu, bagaimana berkomunikasi efektif, managemen organisasi, urgensi kaderisasi dan lain-lain. Tak ketinggalan sampai kepada pembahasan dakwah dan pemikiran islam serta materi yang membahas social kemasyarakatan.”



“Intinya mah tinggal poles dikit gitu ya ustadz?”, timpalku lurus.

Ustadz Azri cuma senyum denger ucapanku, “Itupun baru tarbiyah tingkat pemula loch akhi. Kalau seluruh kader sabar dalam halaqahnya, pasti mereka menjadi muslim mandiri. Tidak malas-malasan. Kritis. Rajin menghadiri kajian Islam. InsyaAllah, mereka jadi kader sejati, yang tidak mudah terombang-ambing.”

“Oh, gitu ya ustadz”, tanyaku takjub, “Loch, lantas kenapa orang-orang Salafy yang ana temui, sebagian besarnya bercerita bahwa mereka mantan tarbiyah,” timpalku lebih lanjut.


“Coba dech, antum perhatikan. Sebagian mereka, apakah mantan tarbiyah, atau mantan Jamaah Tabligh atau mantan jamaah lainnya. Pasti ceritanya selalu tentang kekurangan. Ya, merekalah orang-orang yang selalu melihat kekurangan yang dimiliki orang lain. Mereka belum paham karakteristik dari tarbiyah itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang tidak sabar. Mereka adalah orang-orang yang selalu membutuhkan motivasi dari luar. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mengembangkan ilmu mereka dengan potensi yang mereka miliki untuk berkontribusi kepada umat. Tapi saksikanlah akhi. Mereka hanya akan ghirah di awal. Mereka tidak akan bertahan lama. Karena hanya sebagian kecil saja dari mereka yang memiliki jiwa ikhlas seperti Abu Zainuddin” jelas Ridwan panjang lebar.

“Sudah akhi Ridwan jangan diteruskan. Tidak baik akhi, ada baiknya kalau kita selalu berusaha untuk membersihkan hati kita” pinta ustadz Azri berusaha memutus penjelasan Ridwan. “Antum sendiri sudah sampai mana materi halaqahnya,” tanya ustadz Azri, ketua DPCku tiba-tiba.

“Ups!”, agak kaget. “Hik..hik.. ana baru enam bulan ustadz, baru juga masuk materi akidah tauhid,” jawabku malu sambil cengengesan. “Ya, kalau boleh dibilang anak ingusan di tarbiyah githu… hehehe…,” ujarku berusaha membela diri.

“Tapi kayanya antum sudah lama ikut aktifitas amal jamai ya?” tanya ustadz Azri kepadaku. “Soalnya ana sering lihat antum di berbagai tempat kegiatan bakti social, nggak cuma di DPRa antum saja?”


“Iya, ustadz, ana sibuk banget. Kerja, dari pagi sampe malem. Maklum kuli.. hehehe… Takut halaqahnya nggak serius, jadi ana fikir biar ana aktif di kegiatan social kemasyarakatannya saja, ternyata tarbiyah point utamanya. Sekalipun agak terlam
bat, nggak apa-apa lach”

“Nah, ini dia ustadz, salah satu penyebab akhwat-akhwat kita keburu dinikahi ikhwan bukan tarbiyah,” tuduh Ridwan kepadaku.


“Maksudnya?”, tanyaku bingung.


“Ya, antum ini lah salah satu penyebabnya. Sudah kerja, punya kendaraan, manager pula status di kantornya. Masih juga belum mau nikah. Jangan marah dong kalau akhwat tarbiyah dinikahi sama ikhwan salafy. Antum terlalu idealis sih”, tuding Ridwan lagi kepadaku.


Aku makin mati kutu dibilang begitu, “Afwan, afwan akhi, ustadz, ana nggak idealis kok. Ana tidak pernah terpikir, kalau ana punya kriteria khusus terhadap akhwat yang akan ana nikahi. Masalahnya beda. Ini masalah target masa depan. Masa akhwatnya hebat ikhwannya jeblog, nanti ana malu khan. Dan ana juga nggak mau pusing, gara-gara mikirin uang untuk resepsi, untuk lahiran, pendidikan anak, makan sehari-hari dan lain sebagainya,” jelasku membela diri.

“Memang antum usianya berapa sekarang?” tanya ustadz Azri sambil nepuk-nepuk bahuku.

“Seperempat abad lebih dikit ustadz”, jawabku. “Belum tua banget khan?” tanyaku la
ngsung kepada beliau.


Beliau cuma tersenyum dan berkata, “Belum, belum tua kok.” Sementara Ridwan ketua DPRaku sudah pegang perutnya menahan geli.

“Loch, antum kenapa? Kok kayanya geli banget dengar umur ana seperempat abad?” tanyaku ke Ridwan bingung.


Ustadz Azri menepuk lututku, “Dulu, waktu ana nikahi istri ana, ana baru berumur sembilan belas tahun akhi. Masih kuliah di LIPIA” terangnya sambil tersenyum teduh.


“Hah…” ternganga aku sambil takjub. “Sembilan belas tahun! Masih muda banget ustadz. Waduh, ana ketuaan dong ya?”


“Bukan tua lagi mas, udah engkong-engkong,” canda Ridwan sambil terus pegangi perutnya menahan geli dan “Ana aja udah punya anak dua waktu umur segitu”.




“Ya ampun, jangan-jangan hampir sebagian besar ikhwan kita seperti ana kali ya!” sergah aku masih dalam keadaan terkejut. “Pasti ustadz anak orang kaya kan, jadi kalau bingung dengan masalah keuangan tinggal minta bantuan?” tanyaku sambil terus berusaha membela diri.

“Alhamdulillah, ana di Jakarta sendirian akhi. Orang tua ana di Padang Pariaman. Di Kampung. Waktu itu ana tinggal di tempat paman ana. Ya sambil bantu-bantu beliau, ana juga jualan buku-buku Islam sambil kuliah di LIPIA karena ana yakin

 
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs. At-Thalaaq: 3)

” jelasnya panjang lebar sambil berusaha meyakinkan aku.


“Waduh, malu banget ana nih ustadz. Ana yakin, ikhwan-ikhwan kita memang terlalu idealis, bertahan dengan kejombloannya, karena terlalu khawatir seperti ana. MasyaAllah….”

“Makanya itu akhi, antum jangan sewot kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi ikhwan-ikhwan salafy. Nggak ada pilihan lain, sekalipun mungkin mereka tidak mau, tapi daripada jadi khawatir kali. Mau dibilang apa?” tuding Ridwan lagi kepadaku.

“Ya, iya juga sich, mungkin salah ana juga kali ya,” jawabku lirih.

“Ya, nggak salah antum aja, tapi semua ikhwan tarbiyah yang punya kekhawatiran berlebihan seperti antum, antum niatkan saja untuk segera menikah. Ana ada chanel nih. Antum mau nggak ana kenalin. Mad’unya istri ana,” tawar ustadz Azri serius sambil terus tersenyum, “Kayanya cocok dech sama antum
”.


“Aduh ustadz, tapi ana tetep nggak bisa terima. Kalau mereka mau menikahi akhwat tarbiyah, jangan matikan dakwah mereka juga dong. Enggak sopan tuh namanya. Kita yang bangun dia yang nikmatin. Standard ganda banget sich! Manhajnya di benci, tapi akhwatnya doyan! Atau ana aja yang nikahin akhwat Salafy ya ustadz, biar mereka jadi baik hati dan lembut. Kan impas tuch!” ujarku kesel.

“Astaghfirullah akhi, sudahlah, jangan dipikirin yang kaya gitu. Pasti semuanya ada hikmahnya. Baik buat kita maupun buat mereka. Jangan biarkan ketidaksukaan antum terhadap mereka membuat antum tidak adil. 

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ูƒููˆู†ููˆุงู’ ู‚ูŽูˆู‘ูŽุงู…ููŠู†ูŽ ู„ูู„ู‘ู‡ู ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุก ุจูุงู„ู’ู‚ูุณู’ุทู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฌู’ุฑูู…ูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุดูŽู†ูŽุขู†ู ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู„ุงู‘ูŽ ุชูŽุนู’ุฏูู„ููˆุงู’ ุงุนู’ุฏูู„ููˆุงู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุจู ู„ูู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Maidah: 8 )


Kita do’akan, sekalipun mereka tidak beramal jama’i lagi dengan kita, mudah-mudahan ghirah dakwah mereka tidak mati. Ya minimal beribadah untuk suami dan keluarga mereka, kan sama saja, sementara mantan murabiyyah mereka mendapat pahala atas ilmu yang bermanfaat bagi mereka” terang ustadz Azri bijak.



“Iya, ya.. nggak ada untungnya buat ana. Itu sudah menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. Mending ana focus ngurusin pekerjaan ana dan dakwah ana di manapun ana berada”, sadarku.

“Jangan lupa! bukan cuma ngurusin pekerjaan dan dakwah aja, tapi tuh, tawaran ustadz Azri diterima nggak, prediksinya cocok sama antum soalnya,” ingat Ridwan sambil rangkul bahuku.



Aku cuma mengangguk tanda setuju, sambil terus menyembun
yikan malu.



“Loch, dengan akhwat Salafynya gimana?”, canda ustadz Azri, lanjutnya “Ada-ada aja antum.”

Dan aku makin menunduk malu.



Sekian



Cerpen ini dibuat sebagai introspeksi buat ana dan semua ikhwah yang belum menikah. Jangan sedih ya, kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi oleh mereka J Peace !!!

Sementara untuk akhwatnya, jangan minta mahar mahal-mahal ya, kasihan kita nih. Bilangin ke abi dan uminya juga loch…. J

NB: Maaf bila ada kata-kata yang tidak sopan dan sedikit usil. Cerita ini terinspirasi dari diskusi di forum myquran dan pengalaman pribadi.
 

Nasehat Ustadzah Iqtina Khansa Al Ghifari Untuk Para Akhwat (Ikhwan Juga perlu untuk membaca ini)

Dunia maya ini memang sangat melenakan, hati - hati kukatakan untuk diriku sendiri, dan kalian semua yang senang mengarungi dunia maya. Banyak para akhwat dan ikhwan yang sangat hanif yang mampu menjaga dirinya dari pandangan yang berbau maksiat, selalu menundukkan wajahnya ketika berhadapan dengan seorang akhwat atau sebaliknya akhwat di hadapan ikhwan. Hati mereka benar benar terjaga, bahkan untuk berbicara saja dipersiapkan agar terdengar sopan dan lembut, ooh...indahnya pergaulan dalam islam.

Tapi amat sangat disayangkan ketika mereka semua melebur dalam dunia maya, semuanya memudar. Hilanglah rasa malu, pandangan tak perlu ditundukkan, dan kata katapun tak perlu ditata..toh..ga ketemu ini, itulah pemikiran kita. Kita sering sok serang - serangan argumen dengan dalih berdakwah yang ujung- ujungnya banyak yang terpeleset dalam maksiat kecil..ngecengin temen - temen, bercanda sampe keterlaluan, dan sok ngambek - ngambekan.

Tidak malukah kita..yang sering mengingatkan temen - temen kita yang
masih jahiliyah agar mengenal dan mengamalkan islam? Tidak malukah kita dihadapan Allah yang menyaksikan semua perbuatan kita? Wanita mulia karena sifat malunya..dan laki- laki mulia karena sifat kepemimpinanya. Jika seorang wanita sudah hilang sifat malunya bagaimana cara dia menjaga dirinya...? Dan jika seorang laki- laki tidak bisa menjadi teladan bagaimana dia akan dihargai saat memimpin...? Waspadalah didunia maya ini

Tentang Bercanda Di Dunia Maya

Memang manusiawi, semua orang membutuhkan canda untuk menghilangkan penat. Rosulullah juga suka bercanda, asal tidak berlebihan saja. Bisa juga kita siasati dengan memilih bercanda dengan sesama akhwat jadi bisa saling mengontrol toh walaupun sampai kebablasan izzah kita tetap terjaga.

Dan kita tidak bisa cuek dengan semua ini, Cuek bisa dimanfaatkan untuk hal - hal yg positif..cuek dengan orang - orang yang mencibir dan melihat sinis pakain kita. Selalu tanamkan dalam hati..dimanapun kita berada Allah menyaksikan segala perbuatan kita.

mohon maaf atas kekurangan saya dalam tulisan ini...

Wassalam

 

โ€AKHWAT BERHIJAB DAN IKHWAN YANG NGERTI SYARIโ€™AT ISLAM KOK BERPACARANโ€ฆ??!!โ€

”AKHWAT BERHIJAB DAN IKHWAN YANG NGERTI SYARI’AT ISLAM

KOK BERPACARAN…??!!”



Pertama mendengar hal tersebut saya sedikit tidak percaya, bagai mana mungkin seorang Akhwat yang sudah memutuskan untuk berhijab (menutup auartnya sesuai dengan syari’at) dan ikhwan yang sudah ngerti (bukan faham) tentang hukum syari’at islam melakukan hal yang sudah jelas dilarang oleh hukum Islam. Hal tersebut sangat aneh untuk didengarnya padahal dengan bekal ilmu yang mereka miliki seharusnya mereka dapat membedakan yang mana yang halal dan mana yang haram. Dan sayapun pernah bertanya kepada beberapa Ustad dan teman-teman saya, “Apakah mungkin seorang Akhwat yang sudah berhijab dan Ikhwan yang ngerti tentang syari’at melakukan hal yang dilarang oleh Agama”. Jawaban merekapun bervariatif ada yang menjawab : “Mereka kan baru ngerti tentang syari’at islam dan mereka belum faham, ya jadi sangat besar hal tersebut dilakukan oleh mereka, karena baru ngerti belum faham” dan ada juga yang menjawab “Untuk ilmu mereka memang punya, tetapi kalo hati berkendak lain, maka menjadi bodohlah mereka”. Padahal sudah jelas bagaimana hukumnya dalam syari’at islam tentang Berpacaran. Pacaran diharamkan dalam syari’at islam, karena pacaran lebih banyak mudhorotnya dan cenderung akan membawa sang pelaku kearah zina, Allah befirman :

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32).


Perhatikan juga sabda Rasulullah:

“Jangan sekali-kali seorang lak-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya.” (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi dan lain-lain).

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (H.R. Ahmad)

Dari dalil-dalil diatas sudah cukup jelas, bahwa pacaran dalam syari’at islam adalah haram, dan saya yakin mereka tau tentang itu.

Islam adalah agama Rahmatan lil’alamin, di dalam islam semuanya telah ada aturan-aturannya, termasuk dalam hal mencari jodoh, islam juga telah mengaturnya, ada beberapa hal (proses) yang dibolehkan dalam syari’at islam dalam mencari jodoh yaitu (1) Ta’aruf, (2) Khitbah dan (3) Menikah.

Dan pada sampai pada saat ini saya belum mendapatkan alasan-alasan yang jelas dari para akhwat yang berhijab dan ikhwan yang ngerti tentang syari’at islam, mengapa kok masih melakukan hal yang diharamkan oleh Hukum Allah, kenapa mereka tidak menikah saja, kalau alasan mereka belum siap untuk menikah perlu diingat wahai sadara/saudariku Allah itu Maha Adil, Allah Maha Bijaksana. Kalau alasanya belum siap, berarti antum dan antuna lebih siap untuk mendapatkan dosa dibading segala pahala kebaikan dari sisi Allah. Akhi dan ukhti perhatikan Firman Allah dan Hadist Rasulullah berikut ini :

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Alloh akan mengkayakan mereka dengan karuniaNya. Dan Alloh Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”(Q.S. An Nuur, 024:032)


“ Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada sebagian yang lainnya “. (HR. Al Hakim dan Ath Thabrani dari Anas Bin Malik. Al Albani meng-hasan-kannya).

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku.”
(H.R. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya.”
(H.R. Bukhori-Muslim)



Apakah Akhi dan Ukhti tidak mau setengah dien menjadi milik Akhi dan Ukhti ……. Janganlah kita memupuk keburukan-keburukan dengan melanggar hukum-hukum Allah. Mari kita kembali kepada dienul Islam yang mulia ini, dan jangan sampai kita mengotorinya.

Saya menulis tentang hal ini bukan bermaksud untuk menhujat, tetapi saya ingin mengajak kita semua untuk memurnikan Aqidah kita bersama, saya mengajak kepada akhi dan ukhti semua untuk tetap istiqomah dijalan. Dan mari kita jaga dengan sungguh-sungguh kemulian dienul islam ini, jangan pernah kita mengotorinya dengan melanggar hukum-hukum-Nya.
 

Posted in Campur. 1 Comment »

Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Akhwat

Para ikhwan sebaiknya membaca tulisan ini, apalagi jika berada di usia pernikahan. Para akhwat baca juga ya, untuk melengkapi dan mengevaluasi tulisan ini.

Ada beragam reaksi ikhwan saat ditolak akhwat, entah itu ditolak untuk bertaaruf, atau ditolak setelah taaruf dilakukan dan yang pasti ditolak meminjam handphone bukan bagian dari pembahasan ini. Mengikuti kebiasaan peradaban dunia, di mana kaum pria dituntut pro aktif untuk mencari dan meminta kesediaan kepada calon pasangan hidupnya, sudut pandang inilah yang saya ambil.

Di beberapa bagian dunia dan beberapa kasus yang berbeda, judul postingan ini bisa dibalik, “Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Ikhwan”, meski mungkin argumentasi dibawah khas banget akhwat. Dominasi logika pada ikhwan dan perasaan pada akhwat tentunya banyak berpengaruh.

Sebagaimana seorang ikhwanyang membutuhkan keberanian ekstra, tekad dan
kepercayaan diri saat mengungkapkan niatnya, akhwatpun merasa serba salah ketika hendak menyampaikan tanggapan atau jawaban.

Seorang ikhwan harus siap menanggung perasaan malu, siap bersedih dan menerima keputuhan secara sportif bila ditolak. Akhwatpun harus memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan bahwa dia tidak bersedia karena suatu alasan, dengan cara yang tidak menyakitkan hati dan mencederai silaturahmi. Atau bagaimana supaya
bisa menyampaikan, “Yes, I do” secara anggun tanpa membuat pipi memerah karena malu.

Seorang ikhwan yang berniat tulus untuk berrumah tangga, mengerjakan sunnah rasul tanpa kaitan emosi (yang muncul terlebih dahulu) dengan akhwat tertentu, biasanya lebih lapang dalam menerima kenyataan dan menghadapi proses yang dijalaninya. Jika satu ikhtiar belum berhasil, wajar sekali jika dia kemudian mengajukan ikhtiar yang lain. Tetapi jika sejak awal terlalu banyak melibatkan perasaan dan angan-angan, bisa jadi di kemudian hari ikhwan merasa sedih, tidak percaya diri, merasa tidak berguna, frustasi, punah harapan dan kehilangan semangat hidup yang saya bahasakan sebagai patah hati. Hmmm, padahal bisa saja, saat menolak akhwat merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama. Apa boleh buat, belum jodoh kali ya.

Kenapa tidak ada (atau hanya ada sedikit) alasan untuk patah hati saat ditolak akhwat? Karena para ikhwan perlu tahu
fakta-fakta penyebab penolakan berikut ini. Dan hampir semuanya bukan karena ikhwan tersebut buruk, tidak berguna, bodoh, inferior atau apalah yang menyebabkan patah hati itu muncul. Apa saja siy?
Waktu yang kamu (ikhwan) ajukan tidak masuk akal. Baru semester dua udah ngajak nikah. Waa… berat tuh untuk sebagian besar akhwat kalo nikah sambil kuliah. Alhamdulillah, saya mendukung sekali jika itu atas kesadaran untuk menjauhkan diri dari maksiat dan dengan pertimbangan yang matang. Bedakan antara menyegerakan dengan
tergesa-gesa ya. Jika sudah jelas kamu baru akan menikah paska lulus, ngapain ngajak nikahnya sekarang? Keburu jamuran.
Timing-nya kurang tepat. Plan nikah kamu setengah taon lagi, makanya sudah gencar ikhtiar ini-itu. Dan kamu nembak akhwat yang baru diizinkan menikah dua taon lagi. Jika bersedia, mungkin dia akan membujuk ortunya. But, tetap saja peluangmu berkurang.
Akhwat terlalu perfeksionis. Karena saya pribadi orangnya simpel dan sering melakukan sesuatu secara spontan dan otodidak, kadang susah juga menerima kenyataan ini. Tapi memang ada kan akhwat (ikhwan juga) yang seperti ini. Kalau kapasitas kita juga berkelas, bolehlah. Tapi kalau ortu kita aja sudah memudahkan dengan tidak memasang kriteria tertentu, ngapain kita membuat sesuatu yang harusnya dipermudah malah dipersulit? Kayak motto birokrasi aja, “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?” Gini lho, contoh kriteria yang perfeksionis; good looking, minimal S2, mapan, suku Jawa, hafal minimal 3 Juz, sudah berdakwah di masyarakan minimal 2 tahun. Hmm… mirip lowongan pekerjaan deh.

Caramu tidak tepat dimatanya. Ada akhwat yang mensyaratkan harus lewat murabbiyah-nya atau BKKBS. Ada yang fleksibel, yang penting sesuai syariat. Ada juga yang lebih mudah luluh terhadap ikhwan yang berani tembak langsung ke ortunya (teman saya ni, bu dokter lho…), atau terpesona ketika ikhwan berani to the point, “taaruf yuk?”, meski mereka tidak begitu mengenal daripada pake ‘pendahuluan’ yang berpotensi mengotori hati dan silaturahmi.
Ada prinsip yang teguh dipegang olehnya. Ini bisa jadi agak childish. Misal, karena di mata akhwat LDK di kampus te o pe be ge te, diam-diam dia pingin suaminya nanti anak LDK juga. Karena memang biasanya anak LDK tersebut sholeh, militan, gadhul bashar, bertanggung jawab dan sederet hal keren lainnya. Jadi, meski kamu (aktifis dakwah) ikhwan tulen dia mikir dua kali untuk menerimamu. Mungkin dia memiliki citra tidak baik tentang organisa
simu atau dia butuh waktu lebih untuk mengenal kesholihanmu. Sholih itu berarti keren Atau juga prinsip lain yang lebih dewasa dan bertanggung jawab yang tidak dia sampaikan padamu.
Dia normal. Thats right! Gimana mau nerima kamu wong kamu dan dia sama-sama akhwat? Serius, paska nulis draft untuk postingan ini, seorang akhwat minta pertimbangan saya, bagaimana cara meluruskan temannya, yang dia curigai ada something happen dengan sesama muslimah.
Kamu terlalu nyebelin di matanya. Kamu siy, pake SMS tiap hari, minta tolo
ng ini-itu, nelpon nggak penting banget, cerewet dan over pede. Padahal udah jelas banget yang seperti itu nggak ada dalilnya. Bukannya jatuh hati, kamu malah berkesan kayak parasit.
Trauma, trauma, trauma. Dia punya bokap TNI. Meski sayang sama bokapnya, ogah banget punya suami kayak bokapnya yang kadang militernya di bawa-bawa ke rumah. Atau tantenya pernah bercerita bahwa setelah belasan tahun menikah, sebenarnya beliau nggak pernah bisa mencintai suaminya. Korban perjodohan yang kurang sukses niy. So, dia selalu terngiang penderitaan tantenya saat harus hidup bersama orang yang tidak dicintainya. Pernikahan itu bukan tentang cinta kepada lawan jenis melulu, tapi tanpa cinta…. (silahkan baca sendiri buku2 pernikahan yang banyak beredar di sekitar kita. Salah satu rekomendasi saya trilogi Kupinang Engkau Dengan Hamdalah karya Ustadz Mohammad Faudil Adzim yang dijilid satu dalam judul Kado Pernikahan Untuk Istriku). Kembali ke poin trauma,
mungkin bukan karena kamu mau dijodohin sama ortu dia. Tapi akhwat itu selalu shock duluan jika belum nemnemukan poin of interest dari seorang ikhwan.

Mungkin dia punya lebih dari satu alasan untuk tidak menerima tawaranmu. Namanya saja tawaran, bisa diterima (alhamdulillah), bisa juga ditolak (allahu akbar!). Namanya saja tawaran, mungkin nantinya ada sederat syura’ dan musyawarah untuk kepentingan bersama.

Ngomong-ngomong, saya mendukung keberadaan BKKBS, salah satu lembaga nirlaba dibawah koordinasi PKS Djogdja, yang mempermudah para kader dakwah mendari pasangan yang memiliki kesama
an visi. Hanya saja, mekanisme pengisian formulir kadangkala menjadi legalisasi untuk menentukan kriteria setinggi langit. Kasian yang nyomblangin dong. Itu karena belum tau siapa calonnya ya. Padahal, saya rasa saat kita sudah jatuh cinta duluan pada seseorang (sudah sedikit mengenal), betapapun jeleknya dia, kita berusaha mempertahankan si dia. Nggak fair ya. Keberanian untuk mengajukan diri kepada BKKBS atau murabbi, bagi saya menjadi parameter sejauh mana seseorang sudah tsiqah dan ridha terhadap pilihan Allah dan dakwah. Allahu a’lam.

Inspirasi Dakwah : โ€œAkhwat Pemulungโ€

    Namanya Ming Ming. Memakai gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1 jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.
Saat kelas usai, dia pergi ke perpus. “Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.” Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)
Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM. Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.
Namun dia tidak naik kendaraan untuk pulang. Sambil berjalan, dia memungut dan mengumpulkan plast
ik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.


Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang. Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine
it ?)
Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.
Ini adalah cerita nyata yang yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore tanggal 18/8/2009. Di Trans TV juga disiarkan hari selasa beberapa hari sebelumnya, di acara KEJAMNYA DUNIA Sungguh episode yang membuat bulu kudu kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.
1. Astaghfirullah. Gimana bisa kita masih sering mengeluh hanya karena tabungan ga nambah-namba
h?
2. Gila…(sensor) . Bagaimana dia bisa berjalan 10 km perhari? Kita aja jalan 20 menit ke kantor tiap pagi dan sore sudah merasa capek banget. Lemah.
3. Subhanallah. Semangatnya itu loh. Kalau dengar dia berkata-kata, sepertinya tidak ada rasa minder, malu, bahkan dia sangat yakin. Oh girl, you are so great. Wonderfull.

Source: email dari teman. Semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu bersyukur akan apa yang kita punya.
 

Dasar Akhwat [part six]

Yeaaah… I’m Back!!!

Assalaamu’alaykum Sodara-Sodara!!

Masih ingatkah dikau pada pembahasan qta yang satu ini?? Topik keren buat kamoe2 yang ngaku keren dan ditulis dengan gaya yang keren oleh akhwat yang keren (hallah!) Yup! Dasar Akhwat!!

Pren, dunia ini memang penuh warna yha! Merah kuning kelabu merah muda dan biru, meletus balon hijau, dorr!! (lho..lho..lho..). Coba bayangin kalo dunia ini cuma hitam putih, pasti kalian akan berseru, “nggak seruuuuu!!”. Ya, ane tau. Warna-warni itu indah. Begitupun dengan karakter manusia, penuh warna! Semua tercipta agar manusia bisa saling melengkapi, saling berbagi, saling menghormati, saling mengerti, saling menasehati, dan saling-saling yang lain. Owkeh, langsung aja kita kupas model akhwat yang lain. Semoga bisa diambil ibrohnya.

Kreativitas, emang kagak ade matinyeee…….Hidup Kreatif!!! Hiduuuupp…!!! (hehe.. Akhwat yag aneh!).

Here she is!!



14. Akhwat Tompi

 

      Pren, kenal Tompi kan? Itu tuh penyanyi asal Aceh aliran Jazz yang kalo manggung always pake topi (tau kan? tau kan?). Yeaah…biarlah Tompi hidup damai dan bahagia di sisinya (maksudnya, di sisi istrinya, hehe..). Qta gak lagi bicarain pemilik suara khas itu koq. Ngapain juga ngurusin orang, kita kan bukan akhwat Amigos, ya nggak?

Tompi di sini maksudnye, TOMboy en sPortI (ciyeh, keren kan?). Sekilas, akhwat ini emang gak da bedanya ma akhwat yang lain. Do’i tetep pake jilbab gede, kaos kaki, dan jubah kebesarannya. Tapi, kalo qta perhatikan lebih seksama (eit, ikhwan gak boleh ya), ternyata akhwat ini memang beda! Dari cara ngomongnya, gerak-geriknya, tindak-tanduknya, penampilannya, yang kesemuanya terkesan:
cool maaan!! Kalo akhwat lain suka buat fanniyah (keterampilan dan kerajinan), ni akhwat malah lebih suka basketan (olahraga). Kalo akhwat lain dengan gayanya yang feminim, do’i malah terkesan macho en rada maskulin. Ada kemungkinan, sebelum hijrah, do’i emang dah tomboy. Misalnya karena dulu gaulnya banyak ama anak cowok. Atau dari sebelas bersaudara, dia anak cewek sendiri. Mungkin juga lingkungan keluarga dan masyarakat di tempatnya yang membentuk karakternya yang seperti itu. Banyak faktor. Walhasil, jadilah dia akhwat yang memiliki karakter dan sikap yang “keikhwan-ikhwanan”. Tapi, selama masih dalam batas kewajaran, ni akhwat gak berbahaya koq, Pren. Tenang, bagaimanapun naluri keibuan dan kewanitaannya masih ada dan terjaga. InsyaAllah..


15. Akhwat Apel

 

    Waduh, apel?? Aja-aja ada nih! Apaan lagi tuh?? Apel adalah……Akhwat yang Amat suPEL!! (beuh..!) Akhwat yang satu ini enak banget kalo diajak ngobrol, nyambung, ramah, pokoknya asyik deeeh!! Gaul ama dia emang nyenengin. Do’i mudah akrab ma siapa aja. Padahal baru kenal, tapi dah kayak teman lama. Untuk definisi supel ini, insyaAllah Prens Fillah lebih tau. Yaa….gitu deh. Tapi ukh, kalo ma cowok or ikhwan supelnya jangan kelewatan ya. Maksudnya, perhatikan juga adab-adab pergaulan dan berinteraksi dengan lawan bicara Antunna. Otre?!!

16. Akhwat Donat

Wah, donat??? Maaauuuu…!!! hehehe….Siapa yang doyan donaaat?? Eh, salah. Maksud ane, siapa yang doyan curhaaat??? Yap! Gak salah lagi. Dialah akhwat Donat!! Akhwat yang DOyaN curhAT. Tipe ini seringkali ane jumpai, banyak deh. Hampir semua akhwat yang ane kenal rata-rata pernah curhat ke ane (duh ida, jadi tong sampah, eh tong uneg dong! Kan tempat buang uneg2. hehe…). Ni akhwat sukanya emang curhat. Tapi, dah fitrahnya kalee.. cewek kan emang gitu. Pengen ngeluapin semua perasaan, baik kisah bahagia maupun gundah gulananya. Sebagian ada yang curhat karena buth solusi dan pendapat dari yang dicurhatin, namun gak sedikit dari mereka yang tujuan curhatnya hanya sekadar mencurahkan isi hatinya saja. Dia gak butuh tanggapan, hanya ingin didengarkan. Dia butuh teman untuk melampiaskan kekesalan atau berbagi kebahagiaan. Dia hanya ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan. Setelah ia muntahkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya, perasaannya akan menjadi lega. Plong! Tapi
Wat, mbok ya jangan terlalu doyan curhat. Gak semua orang bisa dijadikan tempat curhat. Liat-liat dulu, dia mau gak dicurhatin? Orangnya bisa gak jaga rahasia? Bisa ngasih solusi gak? Dll. Nah, daripada curhat ama orang yang salah, mending curhat sama Allah aja! Dijamin! Rahasiamu gak bakalan kebongkar. Mau solusi? So pasti ada! Dan Allah, siap mendengarkan curhatanmu kapan aja! Full time. 24 jam! So…..curhat ma Allah yuuk!!


17. Akhwat Lechi

Hohoho…ngomong-ngomong tentang lechi, ane sukaa banget ma minuman yang rasanya lechi. Maniiiiss…segeeerr (duh, jadi haus!). Siapakah gerangan akhwat Lechi itu?? Dia adalah akhwat yang keLEwat CHIldist!. Ngerti childist kan? hmm…gak sedikit lho akhwat yang model begini. Walaupun umur dah kep
ala dua, sikapnya masiiih aja kayak anak-anak. Emang sieh, usia tua gak menjamin kalo dia dah dewasa. Tapi, kekanak-kanakannya itu lhoo…lebay banget. Cara bicaranya, gayanya, tingkahnya, duh..manjaaa banget. Kadang, nyebelin juga sih kalo dah kelewatan childistnya. Ada juga yang cara berpikirnya dewasa, tapi tingkahnya masih kekanak-kanakan. Dan sebaliknya. Tapi, dia gak salah koq. Toh, perubahan butuh proses. Mungkin faktor keluarga dan orang-orang di sekelilingnya yang terbiasa manjain dia. Jadi agak sulit membentuk jiwa kedewasaannya. Butuh waktu. Hidup akan mengajarinya untuk lebih bijak dan dewasa. InsyaAllah…


Hmmf…Dasar Akhwat!!

Besambung ya Pren….



*setelah ditagih2 –dengan paksaan dan ancaman- akhirnya nulis lagi ^_^
 

Akhwat dalam Siyasih, tanya kenapa?

Agak panas mendengar cerita seorang akhwat dalam sebuah forum daerah beberapa waktu lalu. Pasalnya, ada akhwat daerah yang kemudian hendak sharing akan dakwah kampus/daerahnya di depan forum. Namun, di cut oleh ikhwan dengan alasan yang tidak substansi. Intinya, akhwat tersebut diharapkan tidak berada di depan forum…dengan tinjauan bla..bla..bla.. menjelaskannya saja ana sulit bahkan marah. Mengapa hari ini kita masih berkutat pada masalah seperti itu?

Adalagi sebuah forum, di mana akhwat yang diusulkan menjadi presidium siding, tapi mendapat sanggahan dari ‘partner dakwahnya’. Phuuffp…ana makin tidak habis pikir. Era muassasi yang akan kita masuki masih berkutat pada hal tersebut. Pemahaman kita akan posisi akhwat ternyata belum bertemu.

Adalagi sms yang dikirimkan ’partner dakwah’ para akhwat yang isinya mempertanyakan forum akhwat yang sudah berdiri…haruskah ada??? Dalam sesi lain, sebuah ’syura’ menetapkan bahwa akhwat tidak boleh masuk dalam calon legislatif BEM. Pernah ada isu pula, bahwa akhwat tidak boleh ikut kongres. Yang terbaru, akhwat parlemen di PAW, dan ada statemen siyasih tanpa akhwat (yang ini bisa ditolerir karena kondisi kampus). Ada lagi rapat mal
am ikhwan dll.

Ada lagi statement keji: syahwat siyasih akhwat cukup tinggi !!! karena melihat begitu ramainya akhwat dalam kancah politik kampus. Membangun partai, berdiskusi dengan lawan politik, berorasi dalam aksi, masuk dalam bursa kandidat ketua BEM fakultas…..

Agghhh!!

Mengapa ada tanya?

Ketika diminta kader siyasih fakultas (ikhwan) untuk mengurusi tetek bengek siyasih kampus…tak kunjung ditemukan. Giliran akhwat mau bergerak, selalu ada tanya. Masih mending tanya yang muncul, ada kalanya kecaman keji!!! S a k i t !!!!


Wahai saudaraku…mengapa tak ada ketsiqohan dalam dirimu?

Mana jiwa Qawwam yang engkau miliki….


Secara sadar, akhwat adalah kaum pengikut. Tapi bukan berarti mengikut tanpa pertimbangan apapun. Maksudnya, akhwat adalah sosok yang harusnya diarahkan, dipimpin…jika fungsi itu tak ada, maka ia pun siap untuk memimpin sendiri. Ingat istilah single parents bagi seorang ibu yang merawat anaknya sendiri tanpa ayah? Ya, akhwat memiliki kemampuan itu. Artinya, Ar Rijal Qowwamun ala Nisa. Jika ada yang memimpin, ia pun akan patuh. Namun, jika
tidak, maka ia pun siap memimpin dirinya sendiri. Lantas, mengapakah lagi ada pagar-pagar yang membuat akhwat sulit berekspresi? Membuat forum akhwat, misalnya!

Ada cerita dalam sebuah forum sidang, saat para akhwat diusulkan menjadi pemimpin sidangnya, tak satupun terdengar ’partner dakwahnya’ bersedia menggantikan posisinya. Mereka sedikit egois. Kurang mampu menjaga akhwat. Padahal akhwat sudah memberi kesempatan, bahwa dirinya akan memimpin, jika yang layak memimpin tak ada, tidak sanggup. Karena, akhwat khawatir, jangan sampai saat sidang berlangsung pun, akan banyak interupsi yang mempertanyakan keberadaan akhwat di depan forum seperti yang sudah-sudah. Hal ini dapat mengguncang forum dan menghambat. Akhwat tidak siap jika itu terjadi, karena sama saja ’mempermalukan’ dirinya di depan forum. Padahal dalam situasi tersebut… begitu banyak calon pemimpin, begitu banyak sang orator, begitu banyak sang demonstran, begitu banyak sang pendobrak yang hadir, dan mampu untuk itu. Jadi ragu, jangan-jangan itu hanya retorika belaka. Jika dalam situasi perang seperti ini, kasihan akhwat…akan ditolong pada saat belati benar-benar
di lehernya, saking akhwat dirasa mampu menjaga diri L. Lantas, apa bedanya dengan ikhwan dalam dunia heterogen? Di sana pun mereka berinteraksi dengan lawan politik yang juga lawan jenisnya. Berdiskusi, bercengkrama, merekapun memimpin sidang, namun ikhwan tidak mampu protes. Jika tidak tahan pun, malah menghindar. Tak mampu bicara dan bisanya ’membantai’ saudarinya dalam forum homogen. Adilkah? L Ini baru masalah amanah, persepsi…bagaimana dengan hal yang lebih berat, poligami misalnya!!!^_^

Sekarang, cukup banyak akhwat yang mampu memimpin rapat, menjadi decision maker, menjadi problem solver dan itu tidak diragukan lagi. Hanya saja pengakuan internal yang belum sanggup melihat kenyataan itu. Jika memang akhwat mendapat penjagaan, mengapa tak ada tawaran solusi bagi akhwat siyasih? Paling tidak ada pengganti para akhwat tersebut dalam amanah dakwah yang diembannya. Padahal, kerja siyasih cukup meremukkan persendian, menguras otak dan membuat wajah makin tirus.

Ada lagi yang menyatakan, jika akhwat ada depan forum, apa kata mitra??? Bah!!! Mestinya semua mampu menjawabnya. Justru Ikhwan harusnya malu karena tidak mampu merecovery kerja akhwat. Masih ingat saat akan aksi, maka akhwat bekerja sampai malam membuat jargon, umbul-umbul, ataupun bendera. Bahkan bambu pegangan jargon pun harus dipotong sendiri- kuat mAnn!!!. Dalam beberapa kegiatan pun, akhwat seperti dibiarkan membuat spanduk sendiri. Sekarang memang zamannya akhwat tidak hanya mampu bekerja internal, domestik. Ekstra domestik pun harus dikuasai…membuat pagar, memperbaiki genteng, balap motor, memperbaiki PC
, dll…….??>>@@$$$###!!!! Nah lho….

Mestinya, mereka melihat, bagaimana kuota tiga puluh persen bagi perempuan di legislatif pun, tak sanggup untuk dipenuhi. Jika pembelajaran awal sudah mengalami hambatan internal, maka bagaimana seorang akhwat mampu bekerja di ranah politik, apatah lagi mendongkrak kuota mencapai empat puluh hingga lima puluh persen?

Allah tidak pernah membedakan tugas laki-laki dan perempuan. Mereka sama-sam diberi tanggung jawab untuk saling menolong dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak buktu keterlibatan muslimah dalam kegiatan dakwah
Rasulullah. Aisyahpun menjadi rujukan bagi sahabat dalam belajar Islam. Fatimah dan Ummu sulaim pun dalam perang Uhud membantu prajurit yang luka, ia membawakan kendi air, sedang fatimah membantu pengobatan Rasul yang terluka. Sumayyah, syahidah pertama, Para wanita bani ghifar dalam perang Khaibar juga turut membantu rasul dalam kegiatan jihad. Ummu Imarahpun turut berperang pada perang Uhud. Shafiyah binti Abdul Muthalib r.a juga turut dalam perang Uhud dan Khandak. Asma binti Yazid yang membunuh sembilan musuh pada perang Yarmuk. Perjuangan Ibunda Zainab al-ghazali, subhnallah …..

Kini, begitu banyak isu perempuan yang tidak tertangani oleh akhwat. Kepemimpinan akhwat harus di mulai dan berjalan baik. Mampu menghadapi masyarakat yang apatis. Mereka telah diambil hatinya oleh kaum penuh motif, akhwat harus kreatif.

Forum akhwat harus dipertahankan, untuk pencerdasan akhwat. Mengingat banyak akhwat yang mudah ditekan, dipengaruhi, pemalu, dan tidak kreatif jika bersama ’partner dakwahnya’. Forum pencerdasan
itu, mungkin belum terasa hasilnya, tapi, minimal jadi bekal mengarungi kehidupan yang lain. Wallahu A’lam…


Ruang ide-Q di rumah Q-tha

Jangan pernah melihat ikhwan akhwatnya, tapi lihatlah apa yang diperjuangkanya. Ikhwan dan akhwat, keduanya harus mampu menjawab tantangan zaman. Saling mendukung, bahu membahu mendirikan bangunan dakwah. Bukan bercerai berai, menyimpan dendam. Zionis makin tak terkendali. Kita tak boleh terlena. Masalah internal harus disudahi.Ilmu harus diperdalam. Mungkin selama ini kita kurang Ilmu, tapi tak menyadarinya.Sehingga gerakan tidak berkah. Tetap berjuang Akhi..Ukhti..Allah bersama kita Allahu Akbar !!!
 

boleh ga nikah dengan akhwat non tarbiyah?

“kalo ane menikah dengan akhwat non tarbiyah gmn?dia pernah LQ, tapi lepas karena faktor domisili. Dia udah ga jilbab lebar lg, tapi nilai-nilai tarbiyah masih ada. hanif”


pernyataan diatas merupakan SMS yang gue kirim ke beberapa sahabat kemarin, ada beberapa yang jawab, diantaranya :
“tancep terus aja ma, kan jadi ladang pahala buat nte. Apalagi dia lepas hanya karena faktor domisili”
“kira-kira sefikroh ga? Kalo banyak persamaannya ya tafadhol….istikhorohin ya…”
“ga masalah sih asal lo bisa bawa dia, emang lo udah ktemu ma?”
“sayang aja. Akan banyak akhwat bertanya-tanya. lha wong stok akhwat aja banyak yang vacant kok cari yang diluar? Kenapa emangnya? Nte jatuh cinta ye?:p”

“mba ga masalah karena kamu yang akan jalanin. Kalo masalah penolakan dari tandzim dan murobbi
kamu ya wajar. Tapi kan kamu yang jalanin, kalo kamu yakin dengan keputusanmu, ya jalanin aja”

“setau ane sih ma, utk model kaya kita gini emang blh milih sendiri, tapi tetep kudu sama akhwat tarbiyah. Lagian akhwat masih banyak. Ortu nte udah setuju belum?”
“pada dasarnya tidak ada masalah, cuma nanti tugas antum jadi terbagi dgn membina istri. Toh kalo emang jodoh dari allah sapa yang bisa halangi?:p. menikah tidak hanya dengan siapa yang penampakannya gimana. Itu hal kecil. Visi dakwah dan amal shalih harus kuat”
“cincay lah akh yang penting antum usaha dan nikah aja dulu (semoga jodoh dan motivasi utk lebih ber
amal sholih) tapi yang perlu diluruskan, LQ bukan prasyarat nikah tapi salah satu sarana dan upaya memperbaiki diri”
“keputusan kita menikah dengan siapa pun berkaitan erat dengan visi misi kenapa qt menikah. Kalo menurut pertimbangan qt dengan dia qt bisa mencapai tujuan mendasar/visi misi kenapa seorang ikhwah menikah, kenapa tidak?boleh aja. Ant yang akan menjadi imam, tanggung jawab terhadap istri ant ada dg ant, kalo ant siap dengan resiko apapun, silahkan aja….”
“liat dulu tingkat kefuturannya, kalo menurut teteh, utk seorg aktifis agak berisiko kalo aktifis pilih yang hanif. Takutnya nanti gak terima dengan kesibukan aktifitas dakwah yang kadang tdk kenal waktu, kalau lebih banyak yang berkualitas kenapa tidak ambil mereka aja?”

“menikah dengan siapapun adalah pilihan dan hak memilih. Kalo ana, ikhwah atau bukan yang penting landasan pemikiran dan kefahaman ttg masa depan islam sama dengan ana+akhlak muslim.mnrt ant?”

atau ada jawaban sinis

“knp ant nanya gitu? Apa sudah ga ada lagi akhwat tarbiyah yang mau menerima ant?
  Itu tadi pernyataan sahabat-sahabat ane tentang wacana yang ane gulirkan. Ada yang dukung, ada yang pura-pura dukung tapi ga suka atau langsung sinis. Ustadz ane juga pernah bilang “ kenapa kita menikah dengan akhwat tarbiyah, supaya dia bisa mengerti aktivitas dakwah kita yang tak kenal waktu” trus kenapa istrinya selalu
nelpon supaya dia cepet pulang kalo Liqo udah jam 11? Atau banyak temen ikhwah yang akhirnya susyah beraktivitas karena dilarang istrinya. Ga boleh pergi ngisi LQ, ga boleh pergi ngisi outbound. Padahal istrinya aktivis lho!!!kader inti tarbiyah juga!!! Atau persyaratan beberapa akhwat yang nyaratin suaminya ga banyak keluar kota, ga aktif banget, harus kerja kantoran yang jadwalnya rutin, nah lho? Katanya aktifitas dakwah ga kenal waktu? Harusnya seorang akhwat tarbiyah ngerti dong dengan aktivitas suaminya yang da’i? jadi, apa bedanya akhwat tarbiyah dengan non tarbiyah? Sama aja kan!?
   
  Mamaku bukan kader tarbiyah. Dia hanya seorang ibu yang hanif. Tapi dia bisa mengerti aktifitas papa yang super sibuk sebagai birokrat dan aktifis pergerakan, dia bisa jadi pendukung papa yang baik. Ketika papa sering keluar k
ota untuk urusan kantor dan organisasinya mama ga protes. Bahkan dia bisa mengerti dan mendukung aktivitas dakwah tiga anaknya yang kader tarbiyah dan superaktif. Anak-anaknya cuma ada di rumah kalo sakit aja. Selebihnya aktif dengan komunitasnya masing-masing. Dan mama ga pernah protes, dia malah support penuh segala aktifitas dakwah anak-anaknya. Apakah itu dilakukan juga para ummahat tarbiyah?
   
  Lalu kalo ternyata kita bisa membawa akhwat tersebut kembali ke pangkuan tarbiyah gimana? Toh dia hanif. Rasulullah kan minta kita memilih istri karena 4 hal. Salah satunya adalah karena agamanya, syarat dia harus tarbiyah
kan ga ada? lagipula Dia seperti itu kan karena lingkungannya, kalo kita berhasil narik dia ke lingkungan kita kan dia akan kembali ke jalurnya. Trus kalo dia nikah dengan orang lain yang bukan tarbiyah gmn? Dia akan semakin jauh dengan nilai tarbiyah. Siapa mo tanggung jawab? Mungkin ini hanya pembenaran, tapi ini juga harus jadi bahan perenungan kita semua.
   
  Kalo menurut pengakuan beberapa sahabat ikhwan yang rada bandel, emang susyah jadi ikhwan yang di blacklist dan bandel. Cari istri lewat murobbi, susyah karena di-blacklist sama ummahat. Jalurnya ditutup. Dibilang terlalu liar, terlalu cair, ga layak jadi ikhwah, Terus belum lagi banyak isu ga sedap yang bikin nama kita ancur. Akhirnya murobbi angkat tangan karena ga bisa nyariin. Kalo mo cari sendiri atau nembak langsung ke akhwatnya eh malah dibilang ikhwan tukang tembak dan ga taat asas. Ga ikut jalur, ga taat murobbi, pemilih, cuma mentingin fisik dll wah pokoknya Gosipnya malah tambah parah. Beberapa petinggi ummahat bilang dengan sinisnya “kok bisa sih ikhwan selevel di
a masih potong jalur?”. Trus ketika pengen cari yang non tarbiyah aja, eh malah disalah-salahin. Gosipnya tambah buas dan tambah sinis, Katanya “apa ga ada akhwat tarbiyah lagi sampe cari orang luar tarbiyah” dll. Wualah tambah runyam…….
  Nah lho…..kok jadi serba salah ya? Trus harus gimana dong? Apa solusinya keluar dari tarbiyah aja? Jadi ga ada perdebatan boleh ga nembak atau cari non tarbiyah? Jadi jangan mencibir atau mencela ikhwan-ikhwan yang memilih menikah dengan akhwat non tarbiyah kalo para akhwat masih ga bisa nerima perbedaan yang ada!! Kalo para akhwat masih dengan mimpinya tentang “pangeran berkuda putih”. Kalo masih bilang ikhwan2 yang “beda” tidak layak sebagai ikhwah. Kalo masih ada blacklist dan perlakuan diskriminatif lainnya. Kalo akhwat lebih memilih ikhwan masih hanif dibandingkan ikhwan tarbiyah tapi rada baong. Jadi wajar dong kalo ikhwan nemba
k langsung atau nikah dengan non tarbiyah!? Yang penting sholehah kan????
wallahualam
 

Bolehkah akhwat/akhawat pulang malam?

Pertanyaan yang aneh ya, tetapi hal ini merupakan masalah yang cukup sensitif di kalangan para aktifis dakwah. Semakin terbukanya aktifitas dakwah kita, dan semakin banyaknya lahan-lahan dakwah yang harus digarap, menyebabkan banyak para aktifis muslimah ‘terpaksa’ (akhwat) pulang malam (malam diartikan diatas jam 19.00). Lahan-lahan, seperti organisasi internal kampus maupun labotarium, yang banyak berinteraksi dengan masyarakat umum, menuntut para akhwat untuk bisa rapat maupun riset pada malam hari. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan awal bolehkah akhwat pulang malam, bagaimana hukumnya?

Untuk menjawabnya izinkan saya memulai dengan sebuah cerita singkat. Pada suatu hari ada sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang ingin berniat melakukan acara syiar pada malam hari yang melibatkan para akhwat. Segera saja berita ini berkembang di kalangan aktifis. Ada yang pro ada yang kontra. Yang pro mengatakan hal ini untuk memperluas segmentasi dakwah dan inklusifitas syiar LDK. Sedangkan yang kontra mengeluarkan satu pertanyaan mendasar “terus akh, akhwatnya gimana?”. Perdebatan pun tak terhindarkan, hingga dua kali syura belum ada keputusan mengenai konsep acara ini.


Akhirnya diputuskan untuk mengundang beberapa elemen terkait untuk mendiskusikan masalah ini di syura berikutnya. Elemen-elemen yang diundang adalah Majelis Perimbangan Organisasi, Badan Pengurus Harian, Panitia, serta Dewan Syariah LDK. Setelah syura itu akhirnya diputuskan acara malam ditiadakan dengan berbagai pertimbangan.

Nah dari syura-syura dalam cerita itu saya berusaha mecerna permasalahan “akhwat pulang malam ini”. Penjelasannya adalah :


SEBENARNYA TIDAK ADA DALIL PASTI YANG MENGATAKAN BAHWA AKHWAT TIDAK BOLEH PULANG MALAM.

Akhwat ‘dilarang’ pulang malam adalah untuk menghindari dua fitnah yang mungkin terjadi, apa saja itu?

Pertama fitnah keamanan. Masih segar diingatan kita peristiwa dua santri Aa Gym di bandung yang diperkosa dan dimutilasi pada saat pulang dari suatu ta’lim, mahasiswi yang diperkosa di hutan UI, maupun pelecehan-pelecehan yang dialami oleh banyak akhwat dan itu semua terjadi di malam hari. Potensi terjadinya kriminalitas lebih besar pada malam hari. Bahkan para ulama mengisyaratkan banyaknya fitnah di malam hari sehingga kita disunnahkan untuk lebih banyak bertafakur, berdzikir, dan membaca al-quran dibandingkan berada diluar rumah.

Kedua adalah fitnah khalwat dengan lawan jenis. Banyaknya kasus aktifis dakwah yang terkena virus merah jambu belakangan ini bisa saja dimulai dari masalah akhwat pulang malam ini. Banyaknya Ikhwan kesiangan yang berlaga
k nganterin akhwat yang pulang malam padahal niatnya adalah untuk berduaan saja, naudzubillah.

Tetapi sungguh ada contoh teladan mengenai masalah mengantar lawan jenis ini. Ingatlah ketika ustman bin thallah mengantar ummu salamah melewati 400 km padang pasir dengan santunnya. Dituntunnya unta ketika ummu salamah sudah aman diatas sekedup. Diderumnya unta, dan segera menjauh untuk mempersilahkan ummu salamh turun Begitu terus selama perjalanan hingga mencapai desa dekat di dekat madinah. Sudahkah kita sesan
tun itu?, dan lebih lagi ustman mengantar ummu salamah dalam keadaan darurat. Ia dan anaknya dipaksa oleh kaum kafir Quraisy untuk meningalkan suaminya yang hendak berhijrah. Setelah melewati masa-masa yang menyedihkan, akhirnya ummu salamah diperbolehkan menyusul suaminya dengan hanya berbekal seekor onta dan makanan seadanya. Melihat keadaan darurat itulah ustman menawarkan diri untuk mengantar ummu salamah.

Terkait contoh LDK yang ingin mengadakan acara malam diatas, lebih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan yang diambil untuk memutuskan hal tersebut.

1. Mengambil dalil fiqh prioritas yaitu : menolak kemungkaran (bila terjadi kasus pada akhwat) lebih diutamakan dibandingkan mengambil manfaat (inklusifitas dakwah) -mengenai fiqh prioritas akan saya bahas lebih detil
lagi ditulisan lain, insya Allah.

2. Kontent acara yang diusung bukanlah kondisi darurat yang menyebabkan akhwat bisa pulang malam.

3. Image LDK yang bersangkutan di mata masa kampus dan masyarakat yang akan menurun mengingat selama ini para kader LDK selalu berusaha menyosialisaikan agar akhwat/perempuan tidak pulang malam.

Sebagai kesimpulan :

AKHWAT SEBENARNYA BOLEH PULANG MALAM, TETAPI HARUS ADA JAMINAN AMAN DARI DUA FITNAH YANG DISEBUTKAN DIATAS DAN MENGHADIRI ACARA ATAU DALAM KONDISI-KONDISI YANG DIBENARKAN

Wallahualam, semoga Allah merahmatiku, mu dan kita semua.
 

Proposal Penelitian Seorang Akhwat

   Menakar Sensitivitas Akhawat dalam Lirik Nasyid “Maaf Tuk Berpisah” oleh Tashiru dan “Di Batas Waktu” oleh Edcoustic Ditinjau dari Kajian Semiotika Psikologi   

Tsaahh!! Keren nggak tuh judul postingan kali ini. Kurang apa lagi coba, dari yang curhat, cuap-cuap, celotehan, sampe tulisan yang berbau ilmiah-pun hadir di blog kesayangan kita ini (heuheuh..). Tapi jangan dibayangkan tulisan ane nanti bakal ngeluarin teori-teori Semiotika Psikologinya Mas Aart van Zoest, Pakde Lacan, atawa Om Freudian. Tenang Prenz, nyantai aja. Kita gak lagi buat penelitian sastra koq. Judul di atas adalah korban dari ke-stress-an ane yang akhir-akhir ini lebih banyak berkutat dalam pembuatan proposal penelitian. (Ooh ida, jangan bawa2 matakuliah ini di blog dunk. Jangan biarkan dia menjadi momok yang menakutkan dan selalu menghantui hari-harimu. Biarkan untuk sekali ini, dirimu merasakan lepas dan bebas dari kejaran deadline Proposal yang bentar lagi harus dikumpulkan. SEMANGAAATTTT!!!)

Ngomong apaan seh?? Jangan dihiraukan Prens. Ni orang hanya sedikit depresi aja koq. Bentar lagi juga sembuh. Mari kita berdo’a bersama demi kesembuhannya….Berdoa, mulai…!


F-O-K-U-S


A. PENDAHULUAN
1.Latar Belakang

Ehm…apakah ini saatnya qta ber-mellow2 ria?? Terserah tanggapan pemirsa…yang jelas di sini ane cuma ingin memotivasi akhwat untuk tidak pernah menjadi akhwat yang lemah. Jangan cuma karena sosok tangguh si ikhwan atau perhatiannya yang sedikit berlebihan (perasaan kita aja kallee, padahal ke semua akhwat juga sama!), eh si akhwat malah jadi ke-GeEr-an bahkan ada yang sampe kelepek-kelepek karena terserang virus merah apel (bosan pake jambu) pada si ikhwan. Aduuuh akhwat!!! Ternyata anti tuh rapuh banget yah! Apalagi soal yang satu ini. Yah, emang tipe anti sie, kalo dah menyukai seseorang, susah pindah ke lain hati (alias setia sehidup tapi, nggak mau semati…ya iyyalaah, secara!). Dah dari sononya pula Antunna tuh punya kadar sensitivitas yang lebih besar dari ikhwan. Makanya qta akan coba menakar sensitivitas anti di sini.

Sowri jiddan ya tashiru, edcoustic juga. Karena nasyid antumlah yang saat ini ane soroti. Sebenarnya ane suka banged ma nasyid2 antum (terutama, nasyid Tashiru yang featuring ma Ebieth beat A, SMS
, ‘Satukan Muslim Sedunia’ en yang ‘Optimis Sajalah’. Kalo Edcoustic, ane paling suka ama yang ‘Menjadi Diriku’ Waaooww…keyyeeennnn!!!!). But, ketika mendengar antum menyenandunghkan nasyid ‘Maaf Tuk Berpisah’ dan ‘Nantikanku di Batas Waktu’, koq naluri keakhwatan ane (taela!) jadi kesindir yhaah?? Suara hati ane berkata, bahwa ane harus segera meluruskan ini semua. Tidak bisa dibiarkan! *sambil mengepalkan tangan ke langit. Jangan sampai hal ini didiamkan hingga berlarut-larut. Mari kita selesaikan persoalan ini sekarang juga! (Mari!) Ane gak akan menyerah. Dengan segenap tumpah darah, ane akan berjuang melawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. MERDEKA!!! (whuuiizzz…)

2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan kita kupas sampai tuntas antara lain:
a. Gimana sih sebenarnya sensitivitas akhwat itu?
b. Apa makna yang tersirat dalam lirik nasyid Maaf tuk Berpisah (MTB) yang dinyanyiin oleh Tashiru?

c. Apa makna yang tersirat dalam lirik nasyid Di Batas Waktu (DBW) yang dibawakan oleh Edcoustic?
   
3. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum

 
Tujuan umum penelitian ini adalah sebagai ajang tholabul ‘ilmi, sharring dan diskusi dengan semua pembaca.

Tujuan Khusus
  Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap:

a. Sensitivitas akhwat dan pengaruhnya bagi ikhwan
b. Makna tersirat dalam lirik nasyid Maaf Tuk Berpisah (MTB) yang dinyanyiin oleh Tashiru
c. Makna tersirat dalam lirik nasyid Di Batas Waktu (DBW) yang dibawakan oleh Edcoustic

4. Manfaat Penelitian
Semoga bermanfat bagi semua..amiin!
yi-haa!! Enjoy it!



B. Kajian Pustaka

Menurut Bang Yoli Hemdi dalam bukunya, ‘Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia’, Laki-laki lebih dominan menggunakan otak kanan ketimbang otak kiri, sehingga cenderung berpikir realistis dan jarang memaksimalkan perasaan. Berbeda halnya dengan perempuan yang lincah memadukan penggunaan dua otak tersebut. Hasilnya dalam memutuskan atau menilai sesuatu, perempuan menyeimbangkan anatara pikiran rasional dan perasaan. Walau sebagian besar mereka juga sering terobsesi dengan otak kiri.


Masih kata Bang Yoli, Wanita berperasaan halus bahkan rapuh umpama kapas. Pada banyak kesempatan perasaan mereka lebih sering memberi warna. Dia akan menjadi malaikat penolong bila jiwa dihargai dan perasaannya disayangi. Namun, bisa berubah drastis menjadi pembunuh berdarah dingin jika hatinya dilukai dan disakiti (hiii…syerrreeemmm). Atas nama cinta, wanita berani menanggung seperih apapun derita. Tetapi mana ada yang sanggup menerima segores luka di dada. Ketika pengkhianatan sensitivitas rasa terjadi, maka perubahan seratus delapan puluh derajat segera melanda. Kesukaan akan berganti kebencian, kelembutan bertukar dengan keganasan. Sahabat lekas berubah sebagai musuh. Seorang raja jatuh pangkat dimatanya umpama budak sahaya. (Yoli, 2005: 41-42)

Kalo menurut ane sendiri, akhwat bukanlah makhluk halus meskipun perasaanya sangat halus (ya iyyalaah, kalo makhlus halus berarti kan sebangsa jin dan antek-anteknya). Akhwat adalah makhluk kasar (baca: manusia) yang berhati lembut selembut sutera yang dipintal di atas awan, dan sebening embun dikala pagi buta. Dia mudah sekali tersentuh karena dia amat sangat perasa dan sensitif sekali banged. *hiperbolis mode ON (Eva, 2008: tidak terdeteksi)


Naaah, gitu Prenz….

So, jangan coba-coba mempermainkan perasaanya ya! Awas lo!

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang ujung-ujungnya akan berubah menjadi metode cuap-cuap dengan teknik celotehan ala eva.



D. Analisis Data dan Hasil Penelitian

Pertama-tama, ane mau mengucapkan berton-ton maaf dan berjuta-juta ‘afwan kepada Tashiru dan edcoustic yang –tanpa seizin mereka- ane
jadikan kambinghitam pada postingan kali ini. Sungguh tak ada maksud apa-apa selain ikut mempromosikan album kalian agar lebih laku di pasaran. Heheheh…Pissss ^_^ v

Oke. Langsung aja ke inti permasalahan.

Perasaan sentimentil wanita yang benar-benar sensitif dengan kehalusan rasa amat merindukan suasana romantis. Layaknya seorang anak kecil yang merengek permen. Padahal pria (baca: suami) rasa sensitifnya kurang. Atau tidak membiasakan diri menciptakan suasana yang penuh
bunga-bunga cinta. (Yoli, 2005: 40)

Hmmm…Akhwat memang memiliki perasaan yang amat sangat halus dibanding ikhwan. Namun, teori ini bisa tidak berlaku bagi ikhwah tertentu. Terkadang kondisi di lapangan menyatakan hal yang berlawanan. Ada ikhwan yang tingkat sensitivitasnya lebih besar ketimbang akhwat. Seperti yang pernah peneliti tulis dalam penelitiannya yang lain, “Dasar Akhwat!” yang disitu tercantum jenis spesies akhwat CADANGAN (Cueks Abis nDAk ketuluNGAN), yang menyebutkan bahwa, akhwat tipe begini udah cuek, dingin, keras, kaku lagi! (whuiih…untung gak makan orang). Model
cadangan ini banyak kita jumpai di kalangan jilbabers. Biasanya cueknya itu ma lawan jenis (baca: ikhwan). Mungkin niatnya untuk menjaga hijab, tapi tetep aja cuek yang ndak ketulungan di sini gak bisa ditolerir. Misalnya, saat ada saudara seiman yang laki-laki (ikhwan) mengucapkan salam saat bertemu di jalan, trus si akhwat menganggap angin lalu dan pergi begitu saja tanpa menjawab salamnya (dalihnya sie, jawab dalam hati). Ato saat si ikhwan pengen membicarakan sesuatu yang sangat penting dan amat mendesak sekali. Nah, baru ketemu ama si akhwatnya tuh di jalan. Trus, waktu dipanggil “ukhti..!!” Eh, si akhwat malah gak peduli dan sengaja mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya (dalihnya lagi nie, takut terjadi fitnah). Yaaah..! Emang sie, serba salah. Bahkan hal semacam ini dah menjadi fenomena yang biasa dan sempat menjadi kontroversi di kalanagan aktivis dakwah. Kan udah ada adab-adab beriteraksi (bergaul) antar ikhwan akhwat. Bukan berarti kita menjadi makhluk yang eksklusif dan gak peka terhadap sesama kaan?? (evans, Dasar Akhwat Part Four 2009)

Sensitivitas akhwat bisa juga dilihat dari puisi yang dibuatnya, cerpen yang dibaca, curhatan yang diungkapkannya, maupun lirik nasyid yang disenandungkannya. Berikut adalah contoh rasa sensitif akhwat terhadap lirik nasyid yang menurutnya sudah menyentuh rasa sensitivitasnya (perasaanya) sebagai akhwat.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bedah lirik nasyid berikut dari sisi akhwat: (yuuukk..)


1. Tashiru dengan hitsnya, Maaf Tuk Berpisah (MTB)

“Kau tahu tentang hatiku
Yang tak pernah bisa melupakanmu

Kau tahu tentang diriku
Yang selalu mengenangmu selamanya” (MTB: lirik ke 1,2,3,4)

Analisis: Masa seeh??? Ah yang benerr? Ketawan banget tuh gombalnya! Sowri jiddan ya Wan, gak ngefek tuh…


“Kini kusadari bahwa semua itu adalah salah juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai” (MTB: lirik ke 5,6)

Analisis: Lho? Koq seolah-olah kamilah yang bersalah karena membuat hati antum ternodai?? (Oh, No!!! Kami adalah sodara kalian, sampai hati dikau menganggap kami seperti itu???!! Tega nian dikau!!!).

“Maafkanlah sgala khilaf yang tlah kita lewati
Telah membawamu ke dalam jalan yang melupakan Tuhan” (MTB: lirik ke
7,8)

Analisis: iya, iya, di’afwanin. But, separah itukah? Sampai membawa ke jalan yang melupakan Tuhan? Oh, My God! Astaghfirullah….

“Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi” (MTB: lirik ke 9,10)


Analisis: Oooh, Haruss Meennn!! Lagian, emang ada apa diantara kita? Biasa aja lagee!

“Ku tahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki” MTB: lirik ke 11,12)

Analsis: Tul banget Bro! Nggak salah lagi Bung! Lha trus kenapa??? Emang antum enggak?

“Dan bila takdirnya kita bersama
Pastinya Allah kan menyatukan qta” (MTB: 13,14)


Analisis: Ya, iyya laaah…Masa Ya, iyya Doonk..!!! Semua ada taqdirnya kaan??? Bersatu atau nggak, yang jelas udah ada Yang Mengatur…

2. Edcoustic dengan hitsnya, Di Batas Waktu (DBW)

“Di kedalaman hatiku
Tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata” (DBW: lirik ke 1,2,3,4)

Analisis: Ehm! Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Wooii….Ada yang punya komik gak? Pengen ngebaca komik neh! (lho?? Ni batuk ato…)

“Sungguh walau ku kelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan” (DBW: lirik ke 5,6)

Analisis: iyya taa?? Kelu, apa ngelu? Eh, maksud lirik keenam apa neeh?? Siapa yang menanti dan siapa yang dinanti???


“Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang
Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi” (DBW: lirik ke7,8,9)

Analisis: yeeee….PeDe amat ni ikhwan yaaak?! Ngapain juga nunggu antum, kelamaan! Mending juga sama ikhwan yang lain (capedee..). Iiih…Sok ngerasa gitu deeeh . Lagian, emang antum bisa ngejamin bisa membawa kami ke syurga? Ane sih mau aja, tapi….udah beli tiket belooom??


“Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanlah ku di batas waktu” (DBW: lirik ke 10,11)

Analisis: Whuuiih…Seolah-olah kami sangat mengharapkan kedatangan antum sampai-sampai kami disuruh menanti di batas waktu (kayak ga
ada ikhwan yang lain aja…). Nggak usyah yhaah..!!

Ehm, menurut ane neeh, kedua nasyid di atas adalah gejala narsistme kaum Adam. Mungkin karena porsi “rasa malu” si ikhwan yang lebih sedikit ketimbang akhwat sehingga membuat ikhwan lebih narsist en lebih PeDe dibanding akhwat.

PeDe amat seh ni ikhwan?!! Beruntunglah kalian, akhwat gak boleh bernasyid di depan antum, kalo nggak, akhwat pasti akan protes dengan membuat nasyid tandingan untuk membalas lirik yang ane rasa dah membuat sebagian akhwat jadi ‘gerah’. Kesannya, gimanaaaa gitu!

E. PENUTUP

Kan udah ane bilang tadi kalo akhwat tuh bukan makhluk halus Bro! Karenanya, emosi wanita sangat peka teruatama menyangkut harga diri.
Tanpa sensitifitas, akhwat tidak akan peka dengan denyut rasa dalam kehidupan. Akhwat piawai mengelola kepekaan nurani karena ia rajin mengasah ketajaman mata hati, sehingga peka membaca tanda-tanda yang tersuruk. Tidak membahasakan kehendak secara verbal/bahasa lisan, kecuali isyarat tersirat yang butuh ketajaman hati tingkat tinggi guna memahaminya. Itulah sensitifitas yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi, sekaligus energi wanita ketika menebar cinta (ngutip tulisannya Bang Yoli Hemdi dalam buku “Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia”).

Tau nggak Wan, bahwa sesungguhnya, selalu ada perempuan kuat dibalik keberhasilan lelaki hebat *dengan gaya bicara yang seolah-olah mengungkap kebenaran yang sudah lama ditutup-tutupi. GAYA!

Oke, Be strong Gals!!!


E. DAFTAR PUSTAKA

Hemdy, Yoli. 2005. Ukhty…Hatimu di Jendela Dunia: Sebuah Torehan Wajah Perempuan dari Peristiwa. Jakarta Timur: Zikrul Hakim.


Lampiran

Maaf Tuk Berpisah

Kau tahu tentang hatiku
Yang tak pernah bisa melupakanmu
Kau tahu tentang diriku

Yang selalu mengenangmu selamanya

Kini kusadari bahwa semua itu
Adalah salah juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai

Maafkanlah sgala khilaf yang tlah kita lewati
Telah membawamu ke dalam jalan yang melupakan Tuhan
Kita memang harus berpisah tuk menjaga diri
untuk kembali arungi hidup dalam ridho Ilahi

Ku tahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki


Dan bila takdirnya kita bersama
Pastinya Allah kan menyatukan qta…
Hwoooooo…….
   

By: Tashiru

Di batas waktu

Di kedalaman hatiku

Tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata

Sungguh walau ku kelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang

Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi
Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanlah ku di batas waktu


By: Edcoustic

Mohon maaf jika ada salah-salah kata. keep hamasah!!!
 

Dasar Akhwat [Part Five]

             

Assalaamu’alaykum…

Suwi yo Pren kagak bahas ni topik ^_^. Pasti dah pada menanti-nanti kelanjutannya kaan? Hayoo ngaku…. (yee..PeDe amat!). But Pren, gak seperti biasanya, kali ini qta hanya ngebahas satu model akhwat, coz butuh penelitian yang serius dan pembahasan yang lumayan panjang serta waktu yang cukup lama untuk mengungkap kebenaran bahwa ternyata….jeng..jeng…jeng…*terdengar gonggongan serigala dari kejauhan…(hah? Sejak kapan serigala menggonggong?). Melolong kalee, dari kata dasar ‘lolong’. (yeah..sama sekali gak penting!). Bahwa ternyata…ternyata nieh…(iye, ternyata ape? Buruaaannn!!) ehm! ternyata, AKHWAT JUGA BISA RAME LHOOH!! *kali ini ane mendengar erangan prenz fillah dari kejauhan: aaarrggghhh!!!

13. Akhwat JUBIR

Untuk tipe ini, qta sebut saja do’i, AKHWATJUBIR (bukan Prenz, bukan juru bicara. Tapi, JUga BIsa Rame!). Kenapa ane bilang butuh penelitian yang serius? Karena ane harus meneliti: Apakah keramean akhwat itu hanya berdasarkan karakter/bawaan yang emang dah dari sononya rame ato semua tipe akhwat pun (mulai dari lemper, narasi, sosis, tumor, EM3, dll yang udah qta bahas sebelumnya) berpotensi untuk bisa bikin rame binti heboh?! Dan ternyata, penelitian itu menghasilkan sebuah simpulan bahwa peluang untuk menjadi Akhwat Jubir memang terbuka bagi siapa saja. Ya! Siapa saja. *gayanya seperti sedang mengungkap kebenaran yang sudah lama ditutup-tutupi (halah!). Berarti, termasuk yang nulis dooonkz (ya iyya dooonk, masa ya iyya lah..).

Ohya, edisi kali ini, akhwat yang menjadi target gosip qta tidak lain dan tidak bukan adalah si penulis sendiri, siapa lagi kalo bukan, ya…tau sendirilah. (heuheuh..)

Ada yang bilang kalo pemilik FS dan MP akhwatzone ini adalah tipe akhwat kaku, jaim, keras, pokoknya model akhwat serius begete gitu deeeh. Sampe-sampe nieh, beberapa akhwat di komunitas akhwatzone kalo ngirim tausiyah ke testi en HP ane pasti yang serius2 juga. Mulai dari sms2 haroki sampe yang militan2 (Whuaaa…ane mah seneng jiddan!). Semoga bener2 jadi akhwat tangguh, haroki, dan militan!…aaaamiin. Ada juga yang nelpon ke ane, kesan pertama yang muncul adalah: ehm! Koq masih imut yhah? (heheh…). Menit berikutnya: Koq beda ma dug
aan ana ya? Menit berikuynya lagi: asyik juga nieh diajak ngobrol (ehem! Ada yang mau protes?!). trus, lama kelamaan: Oalah! Jadi begini thow aslinya si akhwtazone? Ternyata…rame juga yah! Huahaha… (ops! Sensor. Akhwat gak boleh ketawa keras2). Buat Kak nani di Sibolga-Medan, Kak Nia di Pekan Baru, Dek Elin di Jakarta, Dek Nur di Bekasi, Ukht Nurin di Jember, Kak Fatin di Jepang, dan semua akhwat di akhwatzone yang meluangkan waktu dan pulsanya untuk berbagi kisah suka dan duka bersama ida, Jazaakumullaahu khairan katsiira yaaah…meski gak pernah bersua, qta seperti dah kenal lamaaaa banget! Yaaah beginilah ida! Terimalah aku seperti apa adanya, aku hanya insan biasa, tak mungkin sempurna (minjem liriknya edcoustic). Sekali lagi, hal ini semakin membuktikan bahwa: AKHWAT JUGA MANUSIA.

Kembali ke AKHWAT JUBIR. Akhwat emang bisa dan boleh rame, tapi cukup antar sesama akhwat aja dan di forum yang emang gak resmi, trus ramenya juga jangan kebablasan ya Non! Kalo di depan mad’u ato mutarobbi-nya aja si akhwat sok jaim (biar terlihat lebih dewasa, bijaksana, en berwibawa gitu!). Ato pas lagi di dep
an MR-nya, si akhwat bisa memasang tampang kalem, adem, ayem, polos binti lugu. Apalagi di depan para ikhwan, dia bisa lebih tegas, kaku, serius, en stay cool Man! Bahkan, saking jaim-nya, sebagian akhwat ada yang anti banget memanggil ikhwan dengan sebutan ‘akh’ (nadanya, gimanaaa gitu! Akh…). Doi lebih enjoy memanggil makhluk berjenggot (bukan jenis hewan lho ya!)itu dengan sebutan Pak! (banyak juga sie yang protes: ane kan belum punya anak ukh, belum merit pula, baru juga masuk kuliah, koq dipanggil Pak seeh?!). Iya, iya…’afwan jiddan Wan, bagi penganut “madzhab” ini, panggilan ‘Pak’ juga termasuk bentuk“penjagaan”. Bahkan nih, ada “madzhab” lain yang “berijtihad” dengan mengganti semua sebutan Akh, Pak, dan nama-nama si ikhwan dengan nama ‘Afwan (awas dimarahin ortunya lho ukh! masak nama anak orang diganti2 seenaknya!). Mau contoh? Saat acara kepanitiaan, si akhwat dengan tegas berkata pada si ikhwan: ‘Afwan, bisa minta tolong jemput pembicara di jalan X, ban motor beliau pecah. Atau: ‘Afwan, sound system-nya udah di chek belum? ‘Afwan, sebaiknya acara segera dimulai, kasihan peserta sudah terlalu lama menunggu. Ada juga yang lewat SMS: ‘Afwan, ane gak bisa hadir syuro. ‘Afwan, Acaranya jadi ahad depan kan? Dll, dsb, dst….Jangan2 abiz gitu ada orang ammah yang ngira kalo nama ikhwan itu si ‘Afwan, kan gak lucu kalo tiba2 dia ikutan manggil si ikhwan dengan: Hey, ‘Afwan! Dari mane aje lu? (Huwahahaha…Ops! ‘Afwan, kebablasan). Kayaknya perlu materi MBA di kalangan Aktivis Dakwah deh. (bukan, bukan MBA yang ‘itu’. Tapi, Manajemen By ‘Afwan. Heheh).

Kembali ke topik. So, sah-sah aja koq kalo akhwat rame, tapi liat2 sikon ya Mbak! Jangan rame pas lagi Guru or Dosen
menjelaskan (ya iyya laah, bisa dikeluarin tuh). Jangan rame saat orang2 lagi pada bobo (bisa2 ada bantal meluncur kea rah Anti. Hehehe…). Jangan rame saat ada kajian. Jangan rame saat liqo. Jangan rame di kamar mandi. Dan yang terpenting, jangan rame pas lagi sepi alias ga ada orang sama sekali (secara, Anti bisa dikira penghuni RSJ yang lagi lepas ukh. Hihihi…).

Rame terkadang diperlukan untuk memecah kesunyian. Rame juga dibutuhkan untuk mencairkan suasana yang membeku bak es batu. Rame di sini maksudnya obrolan disertai guyonan atau canda yang nggak melanggar syar’i dan gak kelewat batas. Ya, sekadarnya aja lah..biar suasana tegang menjadi riang, biar stress menjadi hilang.

Nah, dari paparan Akhwat Jubir di atas, makin terbukalah wawasan kita mengenai sosok bernama ak
hawat. Berhubung sudah ada bukti dari penelitian terdahulu (dalam Proposal Penelitian Seorang Akhwat), yang menyatakan bahwa akhwat bukanlah makhluk halus melainkan makhluk kasar (baca: manusia) yang tak luput dari salah dan dosa serta memiliki banyak sekali kekurangn dan kelebihan, maka dapat ditarik benang birunya bahwa ternyata: Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh! (iye, iye, ane tau..kagak nyambung kan?). Maka, dengan sepenuh hati ane nyatakan bahwa: Tak Ada Akhwat Yang Tak Retak.


Hmmf…Dasar Akhwat!

 

Penyakit Akhwat

Berbicara tentang akhwat, tentu berbicara tentang wanita. Mengapa demikian? ya, Karena akhwat adalah wanita..dan wanita adalah juga manusia (halah). Yang jelas terlepas dari seberapa tangguh seorang akhwat dalam menjalani aktivitas kesehariannya, tentu mereka punya suatu kelemahan. Kelemahan yang semakin menegaskan (lagi-lagi) bahwa akhwat juga manusia. Postingan ini, akan membahas (secara jenaka) apa dan bagaimana "virus" yang kerap hinggap di dalam sosok seorang akhwat, dan tentunya disertai juga tips dan metode pengobatannya...Semoga dapat bermanfaat, memberikan ibrah, serta senyum kebahagiaan. Just for fun.



Bukankah hidup harus seimbang dan menggembirakan dalam batas-batas yang dibolehkan? enjoy it


------------------------------------


Nangisuitis

Akibat terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut,mata kedip-kedip. Efek sampingnya mata bengkak, saputangan banjir, hidung meler, bawaannya ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. Penyakit ini bisa diobati dengan obat Tegaridol, OBH (Obat Berhati Hamba).

Curhatitis B

Bawaanya pengen nyerocos, Efek samping rahasia orang bisa bocor, terkena Nangisuitis, Penyakit ini bisa diarahkan positif jika ia bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan.

Shooping Syndrome

Gejalanya pengen jalan mulu, mata melotot,
Efek sampingnya lidah ngiler, mulut nganga, dompet jadi tipis. Jika sudah masuk stadium 4(parah banget) dompet cowoknya ikut tipis. Coba minum hematcold atau tablet PD (Pengendalian Diri).Salah satunya bisa lewat MH (manajemen hati).

Cerewetisme

Lebih parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma.
Efek samping muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi lebih halus karena sering mengelus. Lebih cepat makan pil dengar dan minum tablet bicara lebih diperlambat.

Lamanian Dandanitos

Pengennya diem depan cermin. Tangan kiri gatel-gatel pengen pegang sisir, tangan kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak.
Efek samping: menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagean makanan. Minum segera Sari Bawak (Bagi Waktu) dan
Taperi (tambah percaya diri). Buat cowok minum Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum mandi.

Cemburunotomy

Gejala muka lonjong, tangan mengepal, ali menukik. Coba cegah dengan obat sirup prasangka baik tiga sendok sehari, Pil pengertian dan tablet selidiki dahulu.



Ngambekilation

Gejala hampir sama dengan Cemburubotomy. Minum Sabaron dan Bersyukurinis.

Demikian, semoga lekas sembuh dan dapat segera terobati.
 

Akhwat dalam Siyasih, tanya kenapa?

Agak panas mendengar cerita seorang akhwat dalam sebuah forum daerah beberapa waktu lalu. Pasalnya, ada akhwat daerah yang kemudian hendak sharing akan dakwah kampus/daerahnya di depan forum. Namun, di cut oleh ikhwan dengan alasan yang tidak substansi. Intinya, akhwat tersebut diharapkan tidak berada di depan forum…dengan tinjauan bla..bla..bla.. menjelaskannya saja ana sulit bahkan marah. Mengapa hari ini kita masih berkutat pada masalah seperti itu?

Adalagi sebuah forum, di mana akhwat yang diusulkan menjadi presidium siding, tapi mendapat sanggahan dari ‘partner dakwahnya’. Phuuffp…ana makin tidak habis pikir. Era muassasi yang akan kita masuki masih berkutat pada hal tersebut. Pemahaman kita akan posisi akhwat ternyata belum bertemu.

Adalagi sms yang dikirimkan ’partner dakwah’ para akhwat yang isinya mempertanyakan forum akhwat yang sudah berdiri…haruskah ada??? Dalam sesi lain, sebuah ’syura’ menetapkan bahwa akhwat tidak boleh masuk dalam calon legislatif BEM. Pernah ada isu pula, bahwa akhwat tidak boleh ikut kongres. Yang terbaru, akhwat parleme
n di PAW, dan ada statemen siyasih tanpa akhwat (yang ini bisa ditolerir karena kondisi kampus). Ada lagi rapat malam ikhwan dll.

Ada lagi statement keji: syahwat siyasih akhwat cukup tinggi !!! karena melihat begitu ramainya akhwat dalam kancah politik kampus. Membangun partai, berdiskusi dengan lawan politik, berorasi dalam aksi, masuk dalam bursa
kandidat ketua BEM fakultas…..

Agghhh!!

Mengapa ada tanya?

Ketika diminta kader siyasih fakultas (ikhwan) untuk mengurusi tetek bengek siyasih kampus…tak kunjung ditemukan. Giliran akhwat mau bergerak, selalu ada tanya. Masih mending tanya yang muncul, ada kalanya kecaman keji!!! S a k i t !!!!


Wahai saudaraku…mengapa tak ada ketsiqohan dalam dirimu?


Mana jiwa Qawwam yang engkau miliki….


Secara sadar, akhwat adalah kaum pengikut. Tapi bukan berarti mengikut tanpa pertimbangan apapun. Maksudnya, akhwat adalah sosok yang harusnya diarahkan, dipimpin…jika fungsi itu tak ada, maka ia pun siap untuk memimpin sendiri. Ingat istilah single parents bagi seorang ibu yang merawat anaknya sendiri tanpa ayah? Ya, akhwat memiliki kemampuan itu. Artinya, Ar Rijal Qowwamun ala Nisa. Jika ada yang memimpin, ia pun akan patuh. Namun, jika tidak, maka ia pun siap memimpin dirinya sendiri. Lantas, mengapakah lagi ada pagar-pagar yang membuat akhwat sulit berekspresi? Membuat forum akhwat, misalnya!


Ada cerita dalam sebuah forum sidang, saat para akhwat diusulkan menjadi pemimpin sidangnya, tak satupun terdengar ’partner dakwahnya’ bersedia menggantikan posisinya. Mereka sedikit egois. Kurang mampu menjaga akhwat. Padahal akhwat sudah memberi kesempatan, bahwa dirinya akan memimpin, jika yang layak memimpin tak ada, tidak sanggup. Karena, akhwat khawatir, jangan sampai saat sidang berlangsung pun, akan banyak interupsi yang mempertanyakan keberadaan akhwat di depan forum seperti yang sudah-sudah. Hal ini dapat mengguncang forum dan menghambat. Akhwat tidak siap jika itu terjadi, karena sama saja ’mempermalukan’ dirinya di depan forum. Padahal dalam situasi tersebut… begitu banyak calon pemimpin, begitu banyak sang orator, begitu banyak sang demonstran, begitu banyak sang pendobrak yang hadir, dan mampu untuk itu. Jadi ragu, jangan-jangan itu hanya retorika belaka. Jika dalam situasi perang seperti ini, kasihan akhwat…akan ditolong pada saat belati benar-benar di lehernya, saking akhwat dirasa mampu menjaga diri L. Lantas, apa bedanya dengan ikhwan dalam dunia heterogen? Di sana pun mereka berinteraksi dengan lawan politik yang juga lawan jenisnya. Berdiskusi, bercengkrama, merekapun memimpin sidang, namun ikhwan tidak mampu protes. Jika tidak tahan pun, malah menghindar. Tak mampu bicara dan bisanya ’membantai’ saudarinya dalam forum homogen. Adilkah? L Ini baru masalah amanah, persepsi…bagaimana dengan hal yang lebih berat, poligami misalnya!!!^_^

Sekarang, cukup banyak akhwat yang mampu memimpin rapat, menjadi decision maker, menjadi problem solver dan itu tidak diragukan lagi. Hanya saja pengakuan internal yang belum sanggup melihat kenyataan itu. Jika memang akhwat mendapat penjagaan, mengapa tak ada tawaran solusi bagi akhwat siyasih? Paling tidak ada pengganti para akhwat tersebut dalam amanah dakwah yang diembannya. Padahal, kerja siyasih cukup meremukkan persendian, menguras otak dan membuat wajah makin tirus.

Ada lagi yang menyatakan, jika akhwat ada depan forum, apa kata mitra??? Bah!!! Mestinya semua mampu menjawabnya. Justru Ikhwan harusnya malu karena tidak mampu merecovery kerja akhwat. Masih ingat saat akan aksi, maka akhwat bekerja sampai malam membuat jargon, umbul-umbul, ataupun bendera. Bahkan bambu pegangan jargon pun harus dipotong sendiri- kuat mAnn!!!. Dalam beberapa kegiatan pun, akhwat seperti dibiarkan membuat spanduk sendiri. Sekarang memang zamannya akhwat tidak hanya mampu bekerja internal, domes
tik. Ekstra domestik pun harus dikuasai…membuat pagar, memperbaiki genteng, balap motor, memperbaiki PC, dll…….??>>@@$$$###!!!! Nah lho….

Mestinya, mereka melihat, bagaimana kuota tiga puluh persen bagi perempuan di legislatif pun, tak sanggup untuk dipenuhi. Jika pembelajaran awal sudah mengalami hambatan internal, maka bagaimana seorang akhwat mampu bekerja di ranah politik, apatah lagi mendongkrak kuota mencapai empat puluh hingga lima puluh persen?

Allah tidak pernah membedakan tugas laki-laki dan perempuan. Mereka sama-sam diberi tanggung jawab untuk saling menolong dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak buktu keterlibatan muslimah dalam kegiatan dakwah Rasulullah. Aisyahpun menjadi rujukan bagi sahabat dalam belajar Islam. Fatimah dan Ummu sulaim pun dalam perang Uhud membantu prajurit yang luka, ia membawakan kendi air, sedang fatimah membantu pengobatan Rasul yang terluka. Sumayyah, syahidah pertama, Para wanita bani ghifar dalam perang Khaibar juga turut membantu rasul dalam kegiatan jihad. Ummu Imarahpun turut berperang pada perang Uhud. Shafiyah binti Abdul Muthalib r.a juga turut dalam perang Uhud dan Khandak. Asma binti Yazid yang membunuh sembilan musuh pada perang Yarmuk. Perjuangan Ibunda Zainab al-ghazali, subhnallah …..

Kini, begitu banyak isu perempuan yang tidak tertangani oleh akhwat. Kepemimpinan akhwat harus di mulai dan berjalan baik. Mampu menghadapi masyarakat yang apatis. Mereka telah diambil hatinya oleh kaum penuh motif, akhwat harus kreatif.

Forum akhwat harus dipertahankan, untuk pencerdasan akhwat. Mengingat banyak akhwat yang mudah ditekan, dipengaruhi, pemalu, dan tidak kreatif jika bersama ’partner dakwahnya’. Forum pencerdasan itu, mungkin belum terasa hasilnya, tapi, minimal jadi bekal mengarungi kehidupan yang lain. Wallahu A’lam…


Ruang ide-Q di rumah Q-tha

Jangan pernah melihat ikhwan akhwatnya, tapi lihatlah apa yang diperjuangkanya. Ikhwan dan akhwat, keduanya harus mampu menjawab tantangan zaman. Saling mendukung, bahu membahu mendirikan bangunan dakwah. Bukan bercerai berai, menyimpan dendam. Zionis makin tak terkendali. Kita tak boleh terlena. Masalah internal harus disudahi.Ilmu harus diperdalam. Mungkin selama ini kita kurang Ilmu, tapi tak menyadarinya.Sehingga gerakan tid
ak berkah. Tetap berjuang Akhi..Ukhti..Allah bersama kita Allahu Akbar !!!
 

ketika ikhwah jatuh cinta - akhwat berbicara

Artikel yang menurut saya lumayan bagus. Meski temanya klasik tapi menarik untuk dibaca karena dari sudut pandang akhwat dan bisa jadi renungan kita. Yah.. selama ini kan akhwat cenderung diam kalo udah masuk ke wilayah cinta. Di saat makin banyaknya aktivis-aktivis dakwah yang sudah kebablasan dalam hal cinta. Menjajakan cinta atas nama dakwah. (afwan Sebenarnya rada sarkas juga sih pemilihan katanya, tapi mesti gimana lagi penggambarannya? susah klo mo pake istilah laen, lagian kita sering nggak ngeh kalo penyebutannya terlalu biasa).

Soalnya kebanyakan (saya nggak bilang semua lho…,) aktivis dakwah sering TP TP sama lawan jenisnya. Itu bisa dilihat ketika dia sering TP TP lewat fasihnya kata-kata, luasnya ilmu, lewat indahnya untaian nasihat, lewat merdunya suara, dkk. Yang jelas motivasinya secara tidak disadari melenceng jadinya, sayang banget khan? Mungkin dan sangat bisa jadi kita pengumbar nafsu. Wah gimana donk?! Maunya show amal dengan fatwa-fatwa agama ke orang lain, eh gak taunya nyari muka, aduuuh sayang banget yak?! Maunya sih kasih comment di FB dengan taushiyah,nggak taunya??? Biar dianggep paling
mantep ruhiyahnya.

Hohoho… ini kenyataan lho.. saya sering iseng2 chek comment2 FB “aktivis dakwah”.. yaahh.. lihat aja dari fotonya.. biasanya siy yang ikhwan kalo nggak tampang sholehnya yang dipajang yaa.. gambar mujahid Palestine, atau orang pake sorban (kafiyeh) dengan muka seba
gian ditutup. Liat dari gambarnya siy waah.. subhanallah… Militan negh kayaknya! profilenya juga.. mulai dari puisi tentang dakwah, aktiivitasnya dakwahnya yang segambreng, sampe kata-kata mutiara yang bisa bangkitin ghiroh! Tapi pas liat commentnya… hihi… rata2 yang ngisi akhwat.. dengan kata-kata romantis pula..Beberapa contohnya,

“syukron akhi atas tausyiahnya. . jangan bosen-bosen ingetin ana yah…”



(
hihi.. nggak ada akhwat yang ingetin anti ya ukh…?)

“Salam.. Lama nggak silaturahim, .. gimana kabarnya? Sekarang kegiatannya apa?”

(penting gitu? Siapa eloe?!)


“Add ana aja akh.. biar nambah ukhuwah… ini alamatnya……, atau kalo mau chating ini alamat YM ana…” (hadooohh… MR-nya nggak marah tuh ukh?!)

Hehe.. masih banyak lagi dah yang laennya.. di FB akhwat juga nggak jauh beda.. biasanya dengan foto kartun bergambar akhwat, kemudian ngeliat profilenya yang lebih mirip biodata untuk taaruf, sampe puisi-puisi cinta.. (haddooohh…) comment2nya pun nggak kalah vulgar dengan yang di atas… cuma bedanya yang ngirimin ya ikhwan… hohoho…. pernah saya iseng sekali2 comment ke akhwat tsb.. “hihihi… gile bener…!!! ikhwan semua tuh yang comment ukh! Mesra-mesra pula lagi! Kenapa nggak sekalian aja ajak taaruf… terus temen2 akhwatnya mana tuh ukh… lagi marahan yah? Sebenernya siapa yang salah ya? Hohoho…”

Ya Allah… begitu halusnya… hingga kita tak menyadarinya. Jangan-jangan saya dan kita mungkin sudah terjebak dalam
permainan setan ini?! lambat laun karena tidak sadar, akhirnya kita telah jadi korban.

Tanpa bermaksud menuduh siapapun, tulisan ini tentunya tidak harus membuat kita berhenti terpaku tuk meneruskan berbuat kebaikan, saling menasehati, bertausyiah, berfastabiqul khoirot. Karena berhenti dan sesuatu ha
rus bersandar pada Allah SWT. Namun sangatlah bijak, jika kita mau berhenti sejenak menengok ke dalam relung hati kita yang paling dalam, sudah luruskah niat kita? adakah benih karat yang mencoba menggerogoti? Kenapa tausyiah kita hanya kepada lawan jenis? Padahal masih banyak saudara2 kita sesama jenis yang butuh nasihat kita. Niat & keikhlasan seutuhnya adalah urusan makhluk dengan sang Kholik langsung, manusia lain manapun tidak mampu menilainya. Jika belum lurus, mari kita sama-sama luruskan. Jika merasa berat meluruskannya, mari sama-sama berdo’a semoga Allah memberikan kekuatan lebih dan senantiasa menjauhkan kita dari keterpedayaan. Selamat membaca artikel singkat di bawah ini.

-Dodi-

Ketika Ikhwah Harus Jatuh Cinta

Akhwat Berbicara…

Frens fillah…izinkan ane bercerita. Dalam kisah ini ane memakai sudut pandang orang pertama tunggal (aku, saya, ane, gue, whatever!), alurnya bolak-balik (alias semau
ane). Ending terserah ente. Dan settingnya di sebuah medan bernama medan dakwah. Di sana penuh dengan cobaan, ujian, onak, duri, aral melintang sampai romantisme perjuangan.

Mengapa romantisme? Karena ane rasa di stasiun-stasiun perjalanan, di setiap sendi kehidupan, di setiap makhluk yang bernyawa (terutama manusia), yang di dalamnya ada segumpal daging yang disebut hati, di hati itu ada rasa.
Rasa itu berwujud cinta. Cinta itu fitrah! Cinta itu anugerah! Yang jika benar menempatkannya, akan berakhir bahagia. Dan jika salah penempatannya, maka akan berujung malapetaka.

Yah.. cinta. Tak pernah bosan untuk dibahas. Sesuatu yang diulang, dan akan terus berulang. Dari zaman nenek moyang (bapak Adam dan Ibunda Hawa) sampai akhir zaman. Manusia yang tengah merasakannya bisa lupa waktu, lupa diri, lupa makan, bahkan lupa ingatan! (ck..ck..the power of love). Afwan, ane bukan seorang pujangga apalagi pakar cinta.
Tapi (katanya) kekuatan cintalah yang menjadikan seseorang mendadak puitis, mendadak kreatif, mendadak inovatif, mendadak solutif, dan mendadak dangdut (lho?! He..he..af1 jiddan). Ane akan coba fokus. Ane gak akan membahas tentang cinta. Apa itu cinta, untuk siapa cinta itu diberikan, dan
lain sebagainya. insyaAllah akan ana bahas di lain kesempatan. Dengan topik dan judul yang berbeda tentunya.

Oh ya… Izinkan juga ana bicara dari hati seorang wanita (bukan berarti mewakili kaum hawa keseluruhan) ini murni dari suara hati ane pribadi, so jangan men”generalisasi”kan pada semua akhwat. Kalo mau protes ke ane aja, otre?!)


Fenomena ini mungkin terjadi hampir di setiap medan dakwah. Pokoknya ada aktivis dakwahnya, ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) maupun ADK (Aktivis Dakwah Kampus/kampung) . Pemerannya adalah akhwat en ikhwan. Keduanya adalah partner yang saling berkoordinasi dalam dakwah. Banyak sekali artikel dan buku yang telah membahasnya. Seminar, dauroh, sampai kajian liqo-pun membicarakannya. Gimana kalao ikhwah jatuh cinta? Hmmmm…. wajar tuh! Fitrah koq! Normal ih! (oke-oke… peace man!) dari ikhwah yang militan sampai yang meletan, semua berpeluang merasakannya. Yang jelas jatuh cinta ala ikhwah gak sama dengan orang ammah. (af1, maksud ane ikhwah di sini yang tingkat pemahaman keislamannya lebih -sedikit atau banyak- dibandingkan orang ammah/awam). Kalo yang ngakunya ikhwah (ikhwan or akhwat), cara mengelola, memanaj, dan menyikapi, seharusnya, lebih bijak, lebih hati-hati, lebih terkontrol, tanpa harus mengikuti dorongan nafsu dan masih dalam koridor-koridor syar’i (warning! Harap dibedakan dengan ikhwah yang “bermasalah” ato “error”, kasusnya beda lagi).

Selain cara menyikapinya, cobaan dan ujiannya juga beda. Tentunya syaitan pengujinya juga selevel dengan kualitas
yang diuji. Sebagai aktivis yang menyeru ke jalan Allah, ber-amar ma’ruf nahi munkar, godaannya lebih berat lagi. Gimana nggak? Wong aktivis dakwah sholatnya tepat waktu dan berjama’ah di masjid, tilawahnya 1 juz perhari, diamnya dzikir, ma’sturat pagi-petang, qiyamullail, rawatib, en dhuha nggak pernah ketinggalan, amalan-amalan sunnah yang lain pun tetap jalan, bacaannya yang berbau islam, hadirnya ke majelis ilmu dan majelis dzikir, hidupnya hanya untuk dakwah dan jihad fisabilillah… ck…ck….syetan cs pada kualahan tuh! Syuro nya jadi lebih giat buat ngatur strategi jitu.

Tapi yang namanya syetan gak akan kehabisan akal (emang syetan punya akal???!!!) dia punya 1001 (bahkan beribu-ribu) cara untuk memasuki celah-celah yang menjadi peluang baginya. For example, dari hasil nguping pembicaraan manusia, syetan dapet bocoran kalo cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Akhirnya ia berusaha menggoda aktivis dakwah dari matanya (pandangannya) , banyak juga sih yang berjatuhan akibat ulahnya ini. Tapi godaan ini gak mempan, gak ngaruh, en ga ngefek bagi aktivis yang ghodul bashar (menjaga pandangan). Kemudian syetan dkk mengambil cara lain. Sms-sms bernada dakwahpun menyebar. Dari paket taujih, bangunin qiyamullail, nanya kabar, lagi ngapain? Udah makan ato belum? Met ultah yaaa (gubrak! Mang siapa lu, siapa gue???!)

Nggak sampe di situ, syaitan juga semakin canggih mengikuti perkembangan IPTEK. Syetan yang udah lulus kuliah di jurusan teknik informatika membuat program-program khusus di internet dan menyebarkan virus-virus aneh ke computer hati para aktivis dakwah. Yang gak punya komputer
pribadi penyebaran virusnya bisa lewat flash disk, CD room, kabel data, disket dan lain-lain (nyambung gak seh? Ya disambung-sambungin aja ya!). berbagai fasilitas di dunia maya telah disajikan. Mulai via email, chatting, fs dengan testinya, sampai sebuah situs yang memfasilitasi para netter agar bisa berinteraksi dan memiliki komunitas sambil menampilkan foto dirinya. Semua hadir di tengah kita untuk memudahkan komunikasi. Fasilitas ini pula yang dimanfaatkan aktivis dakwah untuk bersilaturrahmi, sharring pengetahuan, diskusi dakwah, menjalin ukhuwah, dsb. Dst. Ada juga yang niatnya mencari pasangan hidup. (Itu mah kembali ke diri sendiri. Mau pake jalur “swasta” [nyari sendiri] ato jalur “negeri” [lewat murabbi] yang jelas keberkahan harus tetap dijaga. Saran ane, senantiasa luruskan niat! Di awal, di tengah, sampai akhir).

Nah, dari komunikasi dunia maya itu, ada yang memberitahukan identitas diri, ada pula yang tidak, bahkan ada yang menyembunyikannya dengan berbohong. Astaghfirullah… .namanya juga dunia maya, dunia gak jelas! Awalnya mungkin nanya asl, skul-kul-or ker, dmn? Nama? ada fs? Email? Sampai tukeran no HP (waduh koq tahu nih? Pengalaman pribadi ya? Sstt…amniyah ^_^). Nggak cukup sampe di situ, follow-up nya adalah sms-sms taujih dan kata-kata penyemangat. Ada juga yang ngirim berita/artikell islami lewat email. Atau sekadar berbalas testi di friendster. Ada juga yang janjian chatting di YM (Yahoo Messanger) dengan dalih melanjutkan perbincangan yang sempet tertunda di chatting perdana.

Yah…begitulah hubungan itu berlanjut sampai akhirnya ada kata ta’aruf dilontarkan, ada kata khitbah diajukan, dan ujungnya, sebuah pernikahan dilangsungkan. Nggak semua seh yang sukses sampe tahap itu. Sang Sutradara-lah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasa-Nya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggaman-Nya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka., mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan. Lebih tepatnya ketentuan yang diikhtiarkan. Semua tetap dibawah kuasa dan kendali-Nya. Makanya kita disuruh memaksimalkan ikhtiar, rajin-rajin berdo’a, lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya (tawakkal). insyaAllah, apa yang menjadi pilihan kita, akan dimudahkan dan diberikan yang terbaik. Allahlah Yang Maha Tahu, so nikmati dan syukuri lah apa yang telah diberi. Semua pasti ada hikmahnya. (Lho koq jadi kemana-mana ya?!).

Afwan sebenarnya yang pengen ana sampaikan adalah pilihan kita untuk memilih pasangan. Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik (matang-matang, masak-masak) sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan kami (akhwat). Antum tahu, bahwa sifat
kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kami adalah makhluk yang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi kami untuk menolak. Karena jika kami menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antm, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan?

Sekali lagi, berhatihatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan. Kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? Padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat kami terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat kami terlena. Ingin sekali kami memetiknya, ingin sekali kami berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi kami nggak berhak, kami belum mendapat izin dari si empunya rumah. Tadinya kami ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat kami lupa akan tujuan semula.

Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan kamipun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah kami mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya.

Saat itulah hati kami hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan kami rangkai, kami bangun, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya
tepat. Lalu antum membiarkan kami menunggu di teras rumah ant
um dengan suguhan yang membuat kami kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan kami berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuk kami. Kami akan segera pulang karena mungkin saja kami salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati ini. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung bagi kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Kami tak ingin mengkhianati calon suami kami yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara kami berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya gak mau memakai label “ta’aruf” untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai kami sebagai saudara antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput kami.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata BERKAH di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan.
Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya
antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. So, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya. (Tuh kan jadi kemana-mana lagi. Tapi gak papa deh. Setidaknya unek-unek ana dah keluar, fiufh lega!)

Di depan tadi kita bahas apaan sih? Oh ya, ketika ikhwah jatuh cinta. Ana ga akan bahas panjang lebar karena ana ta
u kalian pasti akan bosan membaca celotehan ana yang “njelimet”. Tapi izinkan ana mengutip beberapa bait tulisan yang ada di majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2009 M sebagai perenungan bagi jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran sang teman sejati untuk melangkah bersama menuju jannahNya…
 

Posted in Campur. 11 Comment »

Akhwat Perhatian, Ikhwan Jangan KeGeranโ€ฆ Atau sebaliknyaโ€ฆLho???

Tulisan ini aku dedikasikan untuk seluruh Aktivis Dakwah Kampus terutama kritikan pada diriku sendiriku..Thank’s Allah telah mengingatkanku, syukurku mudah menagis karena Allah dan mengingat perjuangan mujahid. Aku sadari diriku ini masih jauh dari kualitas keimanan mereka, seperti Ibnul Khaatab yang lebih mencintai “Jihad” dibanding “istrinya”. Sampai aku pernah berkata “Tidak usahlah berharap bermimpi bertemu para Tabi’in, Sahabat bahkan Rasulullah..Bertemu dalam mimpi saja dengan Mujahid Abad Ini. Air mataku pun pasti akan luluh”.
Fenomena akhir-akhir ini di kalangan Aktivis Dakwah Kampus terlalu cairnya interaksi antara ikhwan dan akhwat. Mungkin hampir di setiap kampus. Termasuk saya gak ya? Saking cairnya kadang kalo ada akhwat yang sering ngirim sms tausiyah, Si Ikhwan suka KeGeeRan dan ngerasa perhatian banget tuch akhwat..padahal mah tuch akhwat Cuma mau ngabisin bonus pulsa doank.
Nah, terkadang saking seringnya interaksi antara seorang ikhwan dengan seorang akhwat yang sering partner bareng, biasanya mereka smsnya berawal dari kordinasi jadi curhatan hati. Beuh, jadi curhat nich. Katanya sih itu atas nama Ukhuwah, tapi bagaimana batasan ukhuwah antara ikhwan dan akhwat. Wah itu mah perlu ditanya ke Dewan Syariah untuk lebih lanjut. Saya bukan ahlinya.
Terkadang sebagai insan biasa ikhwan merasa sesuatu yang berbeda bila ada seorang akhwat y
ang “Perhatian” ke dia. Punya perasaan beda githu. “Bertanya-tanya sama diri sendiri, kok akhwat itu perhatian banget ya sama ane?” atau sebaliknya lho??? Fenomena ini sering sekali terjadi di kalangan Aktivis Dakwah makanya banyak sekali artikel-artikel di dunia maya yang berhubungan dengan hal-hal kayak gini. Seperti sebuah artikel yang tentang ikhwan yang lebih telenovela. Alkisah ada seorang ikhwan yang cukup dekat dengan seorang akhwat dan memiliki keinginan untuk melamar akhwat yang dekat dengan dia. Namun, ternyata si akhwat tersebut menerima lamaran dari ikhwan lain jadilah si ikhwan tersebut sangat telenovela sekali seperti film-film telenovela yang di televisi. Sakit hati banget kayaknya si ikhwan itu. Kasian banget ya tuch ikhwan, cintanya pupus dan bertepuk sebelah tangan.
Berhubung sama cerita di atas ada sebuah artikel yang menarik juga judulnya “Sudah Siapkah Jatuh Cinta” titik penting dari artikel ini bahwa jika belum siap jatuh cinta, ya jangan jatuh cinta dulu. Emang kalo sudah berhubungan dengan yang namanya hati itu susah-susah gampang bangunnya daripada jatuhnya. Oleh karena itu, forum-forum cur
hat di halaqah tempat yang pas buat netralisir. Hhmm, ternyata nich perhatian-perhatian seorang akhwat ke seorang ikhwan bisa di salah tafsirkan loh sama salah satu pihak apalagi kalo akhwat tersebut yang ikhwan kagumin makin bergejolak hati si ikhwan tuch atau sebaliknya, loh???.
Fenomena yang berlebihan kadang seorang ikhwan sering bertemu dengan seorang akhwat atas nama silatuhrami katanya, tapi sebenarnya akan jadi fitnah kalo si ikhwan itu pergi sendiri. Bukankah lebih baik berdua supaya gak jadi fitnah? Dah githu ketawa bareng dengan ngakaknya. Jadi bingung gak sih, bedanya aktivis dakwah sama orang ammah. Padahal ngaji tapi kok gthu ya…makanya Syaikhu Tarbiyah pernah bilang…”Oh ini yang bikin dakwah gak berkah”. Sebenarnya kita harus ngoreksi diri lagi kayaknya, dah ikhlas belum ya aktivitas kita selama ini, jangan-jangan setiap langkah dan niat kita untuk dakwah karena “dia” bukan “Dia”.
Oleh karena itu karena begitu sensitifnya dengan sebuah perhatian, maka kepada ikhwan dan akhwat jangan mudah ngasih perhatian dan mudah keGeerRan. Kan bisa berabe kalo
kejadian, emang bener saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran itu boleh, tapi pertanyaannya kenapa harus lebih sering ke ikhwan dari pada ke sesama akhwat. Sekedar info ni, salah satu “Virus Ukhuwah” itu lebih senengnya seorang ikhwan saling nasehat-menasehati ke akhwat dan sebaliknya, bukan ke sesama jenis..
 

Dasar Akhwat [Part Four]

Berita hangat, berita hangat!! Telah ditemukan “spesies” akhwat yang lain…
(yang baru nemu ni blog, dijamin kagak bakalan mudeng! So, kalo pengen ngeh, baca juga edisi-edisi sebelumnya, otre?!). Semoga bisa menjadi pelajaran dan diberi kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah.      Selamat membaca

 

9. Akhwat Cadangan

 

Maksudnya apa neh? *dengan emosi dan nada tinggi

Eit, tenang..tenang Pren. Kita bicarakan baik-baik duduk perkaranya. Ane tahu para akhwat pasti gak terima kalo dibilang cadangan (secara, ane kan juga akhwat). Karena apa? Konotasi cadangan tuh dari dulu emang negatif. Mau bukti? Ada istri cadangan, lelaki cadangan (kayak lagunya T2, ops!), pemain cadangan, pokoknya si cadangan selalu dinomorduakan alias dikebelakangkan (mana ada sih yang mau jadi kedua? Kecuali si Astrit dengan hitsnya, Jadikan Aku yang Kedua *iiih…sowri aja yaaaaahh). But Prenz, cadangan di sini gak ada sangkut pautnya koq ama istilah yang tadi, karena yang dimaksud di sini adalah…..”Cuek Abiz nDAk ketuluNGAN” (hehe…jauh amaaaat!!).

 

  *Model akhwat cadangan

 

Ya! Dialah, akhwat cadangan. Prinsipnya, cuex is the best! Karakternya udah pasti cueks bebeks, jaim banged, en stay cool Maann. Akibat gaya cuek abiz ndak ketulungannya ini terkadang si akhwat disebut juga dengan model akhwat es batu. Namanya juga es, pasti dingiiiiin. Trus batu kan berarti, keras en kaku. So, bisa dikatakan, akhwat tipe begini udah cuek, dingin, keras, kaku lagi! (whuiih…untung gak makan orang). Model cadangan ini banyak kita jumpai di kalangan jilbabers. Biasanya cueknya itu ma lawan jenis (baca: ikhwan). Mungkin niatnya untuk menjaga hijab, tapi tetep aja cuek yang ndak ketulungan di sini gak bisa ditolerir. Misalnya, saat ada saudara seiman yang laki-laki (ikhwan) mengucapkan salam saat bertemu di jalan, trus si akhwat menganggap angin lalu dan pergi begitu saja tanpa menjawab salamnya (dalihnya sie, jawab dalam hati). Ato saat si ikhwan pengen membicarakan sesuatu yang sangat penting dan amat mendesak sekali. Nah, baru ketemu ama si akhwatnya tuh di jalan. Trus, waktu dipanggil “ukhti..!!” Eh, si akhwat malah gak peduli dan sengaja mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah suara yang memanggilnya (dalihnya lagi nie, takut terjadi fitnah). Yaaah..! Emang sie, serba salah. Bahkan hal semacam ini dah menjadi fenomena yang biasa dan sempat menjadi kontroversi di kalanagan aktivis dakwah. Kan udah ada adab-adab beriteraksi (bergaul) antar ikhwan akhwat. Bukan berarti kita menjadi makhluk yang eksklusif dan gak peka terhadap sesama kaan??


10. Akhwat Sufi

Akhwat Sufi? Seperti Rabi’ah Al Adawiyah kah? Subhaanallaah…

Eit..eit…entar dulu (maen asal tebak aja!). Sufi yang ini sama sekali nggak ada hubungan kekerabatan ama para penganut aliran sufisme itu. Gimana mau dibilang sufi (dalam arti sebenarnya), wong doi malah lebih suka duduk berlama-lama di depan layar kaca sambil mantengin film kesukaannya. Yap! Sufi yang ane maksud adalah “SUka FIlm”! Hmm…tiada hari tanpa nonton film, begitu mottonya. Ni akhwat paling up to date kalo ngobrolin soal film. Dari yang terlawas sampe yang terbaru. Dari yang lokal (bikinan anak negeri) sampe mancanegara (box office). Dari jalan ceritanya sampe ke artis dan aktornya. Pokoknya hapal banged dah! (Astaghfirullaahal ‘Adziim…*sambil ngelus dada).

Kalo ni akhwat dibiarkan tumbuh subur di semesta raya ini (kerjaannya nonton film mulu), bagaimana dengan nasib ummat?? Emang masalah ummat bisa terselesaikan hanya dengan duduk manis di depan tivi, komputer, ato bioskop selama berjam-jam sambil menikmati film kesukaan dan maem cemilan??? (mari qta semua teriak lantang secara berjama’ah, “ya nggak laaaahhhh…mimpi kali yeee….!!!”).

Berhibur sie boleh, tapi liat-liat jenis hiburannya dunk, Non! Jangan sampe kita milih hiburan yang nggak ada manfaatnya (ato bahkan malah ngasih mudhorot, apalagi kalo isinya maksiat, iiih…na’udzubillaah). Trus inget-inget waktunya juga! Jangan sampe hal yang mubah membuat qta lupa mengerjakan hal yang wajib (Jangankan yang mubah, ngelakuin yang sunnah tapi mengorbankan yang wajib aja nggak boleh!!!). Intinya, selektif dan proporsional-lah. Hhmm…’afwan lho ukh, bukannya ane sok ngasih “wejangan” ato sok ngatur-ngatus kalian yang menganut aliran sufi ini, tapi ane cuma menghimbau, menganjurkan, menyarankan, mengharapkan, dan mengingatkan (serta mengharuskan) agar anti mau mengurangi porsi nonton filmnya dan lebih banyak hadir ke majelis-majelis ilmu. Mau kan ukhti sayang?? Yuuukkk ^__^


11. Akhwat Amigos

Akhwat macam apa pula ini?

Bicara soal Amigos, ane jadi teringat film masa kecil dulu. Judulnya, Amigos. Jujur, ane termasuk fans berat film telenovela anak dari Meksiko itu. Eh, bukan. Lebih tepatnya, ngefans ama pemain utamanya, Pedro! (whuuiiih..sumpah! Ganteng nian euy!). Kira-kira umurnya waktu itu sebaya dengan ane, sekitar 13 tahunan gitu lah…Ane sempet histeris waktu si Pedro dikabarkan menjalin hubungan spesial dengan lawan mainnya di film itu, Ana. Ugh! Rasanya cembokur berat deh! (Biasa, gosip anak kecil). Lho?! Koq jadi ke mana-mana yhah? (Astaghfirullaah, sowri jiddan Prenz. Ayo dunk Idaaa..Fokus! Fokus! *sambil jedotin kepala ke tembok…).

Oke, lanjut. Amigos di sini emang masih ada korelasinya ma cerita di atas (bukan, bukan pada filmnya, tapi pada gosip anak ingusannya). Karena Amigos yang ane maksud di sini tidak lain dan tidak bukan adalah…”AMat pedulI GOSip” (eit, ane yang sekarang dah nggak kayak cerita tadi lho yaa. Yang ane ceritain kan udah jadul banged. Lagian dulu mana tau kalo ngegosip itu dosa. Alhamdulillah sekarang dah berusaha dengan sekuat tenaga dan sepenuh jiwa dan raga untuk meninggalkan yang namanya gosip! Ghibah?? Iiihh…Na’udzubillaah….

Yah. Akhwat amigos emang sangat peduli gosip. Entah itu tentang siapa. Pokoknya ngerumpi. Tapi, Alhamdulillaah, dari sekian banyak akhwat yang ane jumpai, tipe ini jarang sekali ane temui (ato mungkin ane aja yang gak tau?). Kebanyakan dari mereka yang memilih jalan hidup sebagai seorang akhwat (muslimah kaffah) rela dengan senang hati meninggalkan jauh-jauh kebiasaan buruk ini. Kalaupun diantara kita (ane dan pembaca) masih ada yang menemukan akhwat yang berprofesi sebagai bigos (biang gosip), maka jangan sungkan-sungkan untuk menegur dan menasehatinya untuk kembali ke jalan yang benar (dengan cara paling ahwan tentunya). Ayo! Yang mengaku cinta saudara, jauhi ghibah! Karena ghibah bagaikan memakan daging saudaranya sendiri. (hiii…gak mau kaann???).

12. Akhwat Lemod

Awas! Jangan salah baca. Bukan lemot, tapi lemod! (ntar, salah-salah ane yang diseret ke meja hijau atas tuduhan pencemaran nama baik akhwat yang notabene gak lemot-lemot amat, alias mampu berpikir cepat dan cerdas_amiin, semoga bener).
    *model akhwat modis

So, LEMOD (pake D) yang ane maksud di sini adalah akhwat yang “keLEwat MODis” (adakah? Hmm…banyak malah!). Apalagi dengan model-model jilbab en baju yang semakin variatif belakangan ini. Ada kerudung yang belah tengah, belah pinggir (hee..kayak rambut aja), belah ketupat (ops, ngarang dink!), ada yang pake renda, bordil, bertali, berkerut, motif bunga-bunga, kotak-kotak, garis-garis, warna-warni, whuaaahhh pokoknya rame dah! Hmm…cantik siee…Tapi, semoga masih tetep dalam koridor syar’i. Modis boleh (bahkan ada sebagian akhwat yang “berijtihad” harus!), tapi mbok ya jangan kelewatan. Masa ada akhwat yang dari ujung kepala sampe ujung kaki pake warna yang sama. Biruuuu semua (eit, bukan ane lho yaaa!). Ato ijoooo semua (kan gak lucu kalo ada yang nyeletuk, “eh, liat. Ada pohon berjalan tuh” hihihi…). Dari kerudung, baju, rok (ato ada juga yang make jubah), manset (dekker), kaos kaki, tas, semuaaa satu warna. Ada juga yang berpendapat lain tentang makna modis itu sendiri. Maksud hati ingin dibilang lebih modis en lebih kreatif, akhirnya dipakailah tiga warna berbeda sekaligus. Jilbab merah, baju kuning, dan rok ijo (hehe…ada lampu lalu lintas jalan-jalan tuh..). So, proporsional laaah…yang sederhana tapi gak norak or malu-maluin. Yang biasa aja tapi bersahaja. Yang wajar tapi tetep indah dan enak dipandang mata. Iya, emang sie relatif… Tapi setidaknya bisa disesuaikan ma lingkungan sekitar en masyarakat tempat qta berada, karena merekalah yang akan menilai. ‘Alaa kulli haal, syar’I harus menjadi patokan utama yang nggak bisa ditawar-tawar lagi. Otre?! 

   Be a beautiful akhwat, inner en outter beauty 


Eh, ane bakalan balik lagi lho…ditunggu yaaah…!!!

Akhwat Genit dan Dakwah Abal-abal

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…                                             
Lihat aja kerjaan mereka rapat sampe pulang larut malam, berjuang demi dakwah tapi menelantarkan Iffah (harga diri) mereka.

Akhwat yang Genit itu…
Tuh lihat saja si fulana berteriak tentang dakwah, menggunakan hijab ketika sedang syuro dengan ikhwan, tapi dibelakang masih suka aja ngirim sms tausyiah ke ikhwan…
cie ile..maksudnya sih nasehat… nasehat apa nasehat tuh Ukh…

Akhwat genit itu…

Yang satu ini lebih parah lagi, saking begitu perduli sama palestina… Nonton nasyid Palestina sampai jingkrak jingkrakan nggak karuan… nggak moshing aja sekalian ukh! biar manteb.. biar METAAAL sekaliaaan! CADAAAAAAS!

Akhwat genit itu…
Wedew… lihat aja tuh akhwat yang jilbabnya panjang buangetttt.. tapi kenapa ya..? kalau habis nonton nasyid terus pada lari histeris, ngantri sama munsyid yang udah jadi thagut…
minta tanda tanganlah! Minta foto barenglah!… payah dagh!

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…
Nggak kalah parahnya sama yang lain, retorika dakwahnya sih bagus, eh… pas nikah kerjaannya khawatir melulu, ngak mau sabar nemenin perjuangan suaminya… Akhirnya futurlah si suami yang dulu waktu di kampus asooooy berat semangat dakwahnya. Sekarang udah sibuk NYARI DUI
T lantaran ‘TANGGUNG JAWAB’ keluarga…nuntuuuuut terus!

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…
Kalau umur 20 tahunan akhwat-akhwat ini memang pada jual mahal kalau ada ikhwan yang khitbah, ntar pas umur 25 tahun pada cari yang ideal… ntar kalau ngak dapat-dapat sampai umur 30.. SIAPA AJA DAH! nah tahu rasa lu…sok ideal sih!

 

Akhwat dengan dakwah abal-abalnya…
Katanya aktivis dakwah..? katanya teguh menegakkan tauhid..? tapi kok kamu marah ya ukh waktu Aa Gym Poligami..? kenapa oh kenapa..?

Akhwat genit itu…
Tuh lihat aja si fulana, kalau ketemu ikhwan yang pendek kecil dan tidak menarik itu pasti JAGA PANDANGAN, busyet dagh pas ketemu ikhwan tinggi putih dan lagi nyelesain S2 itu… bukan cuma mata yang jelalatan tapi hatinya luntur sama thagut perasaan…payah dagh…

Akhwat genit itu…
Cie ile… peduli banget ukh sama ikhwan… eh ngapain berlagak minta pendapat sama ikhwan tentang diri ukhti, minta pendapat apa cuma ingin diperhatiin aza sama ikhwan… hayo ngaku…ngaku…ngaku…?

Akhwat genit itu…
Percaya nggak… si fulana itu depan ikhwan doang sok alim, di kos-kosan sih tetap aja telpon – telponan sama oknum tertentu… ku tunggu kau di batas waktu katanya… hehehe.. gubraks.!

 

Akhwat CAKEP Seperti apa sih..!

Siapa kita? Apakah kita hanya seorang dengan label aktivis dakwah kampus dengan segudang kegiatan?atau seorang akhwat jilbab rapi yang penuh amanah?

Apa yang telah kita lakukan? Apa yang membuat kita begitu bangga dan pongah dengan semua itu? Apakah Allah memang sudah menjadi tujuan utama kita? Apakah memang kasih sayang Allah untuk kita? Atau kita hanya
seseoraang yang bangga dengan sebutan akhwat tanpa upaya perbaikan diri?

Lihat lah fenomena di kalangan akhwat saat ini, ikhtilat, VMJ, chatting,ruh yang kosong, seorang ukhti pernah bercerita tentang sosok akhwat yang saat ini sudah sangat jauh dari figur seorang aktivis dakwah, ana tidak menyalahkan dia, dia sama sekali tak bermaksud mengeluhkan saudari saudari seiman, namun kecintaannya membuat dia prihatin dengan semua yang terjadi saat ini. Kita sering kali menyalahkan para ikhwan yang terkadang menganggap akhwat terlalu kuat, sangat militan sehingga kadang sesuatu yang sebenarnya ikhwan yang sanggup melakukannya dilakukan oleh akhwat, namun apa itu lantas membuat kita lupa bercermin diri? Lihatlah fenomena kader yang begitu menurun semangatnya, Jika saja kita bisa mengambil hikmah dari hal hal yang terjadi di sekitar kita, bercermin pada saudara kita,.



Seharusnya juga ada istilah akhwat CAKEP

1. Confidence

Tentu saja c yang ana maksud di sini bukan chatting yang saya bicarakan diatas….tapi Confidence

Fenomena akhwat saat ini terjadi karena kurangnya rasa percaya diri, bahkan ada seorang ukhti yang menolak saat hendak di beri binaan, dengan alasan belum siap, lantas mau menunggu sampai kapan? Apa kita mau menjadi aktivis ketinggalan yang perlu lama menjadi dewasa di jalan ini? Atau aktivis yang tak pernah dewasa?Ya… memang banyak orang yang masuk ke jalan ini, namun terkadang
ia hanya berdiri saja di tepi tanpa mau melanjutkan perjalanannya dan melihat saja orang orang yang berlalu lalang.

Sungguh fenomena yang tidak lucu saat seorang akhwat menolak binaannya.

2.Adroit,Tangkas

Akhwat tangkas yang bisa membaca situasi

Sungguh banyak akhwat yang kuper, tidak tahu perkembangan saudara saudara saudara seimannya di berbagai belahan dunia..bahkan menjadi orang yang tidak di perhitungkan dimasyarakat, ana sungguh simpati dengan seorang akhwat yang tidak hanya aktif di kampus, namun juga di pandang di masyarakat karena kepintarannya bergaul, tapi jangan sampai menjadi akhwat yang kelewat gaul sehingga kita melupakan norma norma dan aturan, sehingga tak ada lagi figur seorang akhwat saat kita berada di masyarakat

Ana jadi ingat penuturan beberapa teman, ada akhwat yang tidak nampak “ tarbiyah” nya saat berada diantara teman-teman nya. Tak ada maksud ghibah disini, karena sesungguhnya harapan teman-teman kita tersebut adalah jua harapan Allah pada diri kita. Sepakat?

3.Kindness

Pernah dengar akhwat ketus? Judes?


Sesungguhnya warna celupan Allah itu indah bila di bingkai dengan keislaman, lihat saja Umar yang tetap keras atau abu bakar yang lembut setelah keislamannya tetap dengan karakter mereka , dan sungguh indah Rosulullah menggambarkan kedua sifat mereka tersebut.seperti ungkapan Salim A.Fillah” alangkah sunyinya dunia jika semua seragam,biarkan semua melekat sesuai yang Allah lekatkan pada diri kita, maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nusaibah binti Ka’ab yang menyertai Rosulullah kemanapun beliau bergerak di medan perang, akan tetapi ada yang berkepribadian kuat dan berani seperti Ummu Hani’ binti Abu Thalib, tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti Aisyah, ada yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafsah akan tetapi ada yang lembut dan kleibuan seperti Khadijah”

“Celupan warna Allah . dan siapakah yang lebih baik celuipan warnanya daripada Allah. Dan kepada Allah saja kami beribadah”(Al Baqarah 13 8)

Namun yang kita bicarakan adalah karakter, jauh berbeda dengan sifat, yang bisa kita rubah, jadi tidak ada lagi akhwat judes, suka ngerumpi, berkata kasar hingga menyakiti saudara dengan alasan itu semua karena dari “sononya”…..atau akhwat yang kelewat tomboy, memang ada beberapa akhwat yang terlihat “gagah” atau suka mengenakan sepatu kets, namun sangat berbeda bila kasusnya adalah menggagahkan diri karena ingin disebut tampan?(maksud lo?) ya itu, kadang kita suka disebut akhwat kesatria sehinga menggagah gagah kan diri, baik cara berjalan ataupun saat berbicara. Atau akhwat yang kelewat tangkas sehingga selalu membantah qiyadah dengan alasan ia berkarakter kritis.nah lo?

4. Exclaim

Menyerukan. Aslih nafsaka, wad’u ghairaka

Perbaiki diri sendiri lantas seru orang lain, kalau kita selalu menunggu perbaikan diri lantas baru menyatakan kesediaan untuk menyeru atau menjadi seorang murobbi, sampai kapan gituuuu?, ingat, kita bukan orang suci, namun orang orang yang insya Allah selalu memperbaiki diri, dan saat kita menyeru kepada orang lain yakinlah saat itu akan seiring juga dengan usaha kita untuk memperbaiki diri, dan jangan putus asa de
ngan ampunan Allah, teruslah bertaubat dan tingkatkan ibadah, jadikan orang orang di sekitar kita cermin, antum akan tahu kondisi ruhiyah antum dengan memperhatikan sikap saudari saudari antum. Maka saat antum merasa jauh dari saudari saudari, cek lagi kedekatan antum dengan Allah. Tips yang mudah bukan. Kita akan tahu posisi kita di sisi Allah dengan melihat posisi Allah di hati kita.ok ukhtyfillah?

5. Patient

Patient disini bukan sakit, tapi sabar. Saat kita merasa kaki ini tak kuat lagi berdiri disini, yakinlah itu bukan karena kita lemah, namun karena kita tidak menyerahkan semuanya pada si pemilik semua kemudahan, mengadu saja padanya bahkan seorang Rosullullah saja mengadu pada Nya saat ia merasa goyah, apalagi kita, mungkin ada saatny kita
merasa saudara sadara kita tidak mengerti kondisi kita, atau kita merasa tak sanggup memikul sebuah amanah, jangan berbalik saudariku, jika kita keluar dari jalan ini, hidayah tuhan mana yang kita harapkan, jika saja Allah mencabut nikmat iman dan hidayah ini dari hati kita, tuhan mana yang sanggup mengembalikan?

Tiap kita pernah putus asa, tiap kita pernah lemah, namun tak berarti itu menyurutkan niat kita menuju cahaya Nya.ALLAHUAKBAR!!!!!


Sesungguhnya semua ini adalah jua sebuah cermin diri bagi ana. Keep spirit, keep fight saudariku.
 

Akhwat Bekerja

ุงุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู…

Quote:
Sitti says, “Assalamu’alaykum ini email tetangga,yang menurut ana bagus. sekalian menanggapi pernyataan yang beredar tentang akhwat 2008 yang sebagian besar wanita karier. tidak ada maksud menyudutkan siapapun, seperti salah seorang ukhti ‘01 bilang ke ana. jadi apapun seseorang yang jelas dia sudah punya planning sendiri (ya tri??).dan yang jelas seorang wanita solehah, muslimah sejati, akhwat haroki, ga akan pernah menyia2kan amanah.“


Eva, ” bagus tuh ukh tulisannya.
jadi masukan juga buat akhwat kampus yang ingin tetap bekerja
supaya bisa semakin profesional mengurus rumah tangganya.
jika sudah berazzam untuk all out di rumah dan dunia kerja, insyaAllah antunna BISA!!!!!
tp ana kagum dengan akhwat kampus yang memutuskan untuk all out mengurus rumah tangganya.
mungkin kalo ada syair nasyid “istri cantik dan sholilhah” harus sedikit ditambahkan menjadi “istri cantik dan sholihah serta profesional” .

Diah, ” Wah tema yang cukup “hangat” untuk diperbincangkan, mungkin beberapa temen masih inget perbincangan di CF dl, kl g salah kmaren ad diah, reni, hana, astri ma neng y…
Wah seru, tapi ga ad titik temu, kita semua mentok pada kondisi yang emang sama2 kuat,
Di satu sisi secara fitrah kita emang pengen jadi ibu RT pure, biar bener2 bisa menerapkan konsep istri solehah tea geuning, tapi disisi lain ada pemikiran sekaligus pengalaman hidup seorang ummahat yang menjad
i bahan pertimbangan untuk tetep bertahan menjadi seorang wanita karier, yaitu kondisi ketika sang istri pd akhirnya terpaksa berjuang sendiri membiayai kebutuhan hidup keluarga karena ditinggal “syahid” sang suami, bayangkan kl saat itu dia g biasa nyari ma’isyah jg, mungkin bingung yg bener2 bingung kali y… (eh tp ini cmn asumsi ane sih)
Simalakama memang, mangkanya kita g dapet solusi waktu itu…… wah sekarang mencuat lagi nih..
Tapi dipikir2 lucu juga ya ukhtie fillah kebanyakan dari kita emang kerja, entah sebagai selingan menunggu “pemimpi” hidup kita, atau emang tuntutan keinginan untuk membuktikan potensi diri?

Wallahu’alam smua orang mungkin punya alasan masing2..
Tapi terserah lah dengan semua alasan kita untuk berkarir, yang terpenting adalah menemukan jawaban dari diskusi2 kita tentang ini, yaitu alasan paling kuat untuk kita ambil sebagai bahan pertimbangan memilih jalan hidup kita ke depannya, pure jadi ibu RT atooo.. disambi dengan karier.

Eh enya, teh va kl diah g salah tangkep tulisan itu menekankan kita untuk kembali kepada fitrah muslimah sebagai seorang ibu rumah tangga deh, apa diah salah tangkep y.. “

My Opinions:
Sebelum ane tanggepin tulisan diatas (tmsk tulisan aslinya), ane harus mengatakan dengan jujur kalau sebelum memulai proses ane minta dengan jelas&tegas  ke murabbi untuk akhwat yang 1.stabil =mature 2.have a bright-clear life vision 3.bisa masak. Ane minta seperti ini karena banyak pertimbangan dan diskusi panjang dengan murabbi.

Pertanyaan pertama yang biasa diajukan ikhwan berkisar pada kerja/nggak & bisa masak/nggak. Hayo..ikhwan…jujur ajalah 
Pendapat ane, afwan bagi yang g sepakat-i’m no offense, bisa masak adalah kriteria akhwat yang tau cara memenej RTnya. gak perlu masak sekelas chef di resto, biasa aja asal sehat bergizi. kalau memang selama di kampus gak pernah belajar cara ngurus RT, di rumah juga enggak, trus ngapain aja? Ane diskusi dg MB ttg manajemen RT, kurikulum pendidikan, tarbiyah istri bla…bla…dijawab singkat aja, kalau punya perhatian kesana pasti terlihat.


dan kalau baru blajar setelah nikah, ksian suaminya, ksian anaknya dapet ummi yang full experimental (biasa di lab seh). ndak bgitu penting sarjana ato nggak, toh gak bakal kepake di rumah smuanya, mau masang BTS di rumah?  yang bener aja. RT membutuhkan hal yang lain sama sekali. yang sering dilupakan, meski dibahas panjang-lebar cerita2nya.

Proses pembelajarannya memang panjang, manajemen RT-Kurikulum pendidikan anak-penghargaan thd prinsip2 syuro-hak&kewajiban RT bukan sesuatu yang bisa dipelajari secepat kilat saat mendapat panggilan ta’aruf. Stelah ane memulai proses, ane baru tau kalau ternyata banyak yang merasa ’siap’ tapi sebenarnya cuma ‘pengen’, tanpa pengetahuan memadai. afwan sekali lagi, cerita ini murni denger dari murabbi dan ‘a kind of’ lajnah munakahat di kampus.

More important rules, untuk kita para aktivis da’wah atau yang merasa demikian, LIFE VISION is one of the most important thing. mengapa banyak yang saat ditanya visi hidupnya, nunggu jawabnya kelamaan, atau
baru terpikir? kerja atau nggak? nggak penting banget pertanyaan  ini ada yang lebih jujur, “untuk apa kerja?” ane fikir pernyataan ukh diah lebih jujur. Apa tujuan antum kerja? Sejauh mana VISI yang kita miliki mengarahkan pilihan2 hidup kita. jangan2 kita udah kerja sekian puluh tahun tanpa tahu tujuan kita mau kemana. Kalau tujuannya hanya sekedar cari duit, sepertinya ada pilihan yang lebih profitable. eksistensi diri? ini untuk org2 yang percaya dg feminism dan-sorry- lack of self confident. Saat ikhwan dibebani keharusan mencari ma’isyah utk keluarga sehingga ruang2 da’wah profesi mengecil, bukankah akhwat yang notabene simbol riil dari da’wah bisa masuk ke ruang2 ini?

Antum ingin kerja sesuai bidang antum? go on!
Tapi lakukan dengan VISI, keinginan untuk mewarnai ummat dengan warna Islami. bukan sekedar ’selingan’ menunggu ‘jemputan’. Dan kita lakukan ini dengan profesional, sampai ke RT sekalipun. dan peghormatan thd prinsip syuro InsyaAllah akan menjadi prinsip penting dlm RT kita sebagai aktivis da’wah, patokannya adalah kontribusi kita pada ummat bukan diri kita sendiri.

Nafa’ni w iyyakum
 

Dasar Akhwat [Part Three]

 Yiii-haaaa….
Pa kabar Prenz Fillah? Khoir kah? Alhamdulillaah…
Yup! Ketemu lagi dibagian ketiga cuap-cuap mengenai   si akhwat. Ada apa dengan akhwat?? Hmm..Sebelumnya qta dah bicarain 4 tipikal akhwat (hayooo…masih ada yang   ingat??). Sekedar mereview aja, 4 akhwat yang dah qta bahas “kemaren” yaitu: Akhwat LEMPER (LEMbut tapi PERkasa), Akhwat SOSIS (SOk SIbuk Sekalee), Akhwat NARASI (NARsis Amat Siee), dan Akhwat GRANAT (GR bANgAAAATTT). 


Nah, sekarang qta akan mengupas tuntas 4 “spesies” akhwat yang lain. Siapa saja mereka?? Mo tau…Mo tau??? Yak! Here we goes…..

5. Akhwat Dopping

Menurut Kamus Ilmiah Populer yang disusun oleh Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Doping adalah semua obat (ramuan, zat kimia) yang digunakan terutama untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan daya tahan (stamina) tubuh. (Lha trus???) Hohoho….jangan ketipu Pren, jenis akhwat ini sama sekali gak ada hubungannya ama pengertian di atas. Dopping (double P) yang ane maksud di sini adalah DOyan shoPPING (hehe…kecele…!) Aduuh…ampun deh, ni akhwat sukanya belanjaaaaaaaa aja! dari hunting buku, beli baju, jilbab baru, aksesoris, alat-ala
t perawatan en kecantikan sampe ngeborong makanan ringan (camilan). Intinya, bagi penganut paham Dopping ini, Shopping is number one (baca: doyan).
 

 *Model akhwat Dopping

Hati-hati ukh, hal ini bisa sangat merugikan kesehatan, terutama bagi kesehatan kantong. Dan bila sakit ini bertambah parah, maka bisa mengakibatkan penyakit yang paling ditakuti manusia. Apalagi kalo bukan..(jeng..jeng..jeng)…Kanker! alias KANtong KERing (Waduh, ane sangat prihatin sekali pada ikhwan yang mendapatkan tipe akhwat ini karena bisa tekor tuh suami..ck.ck..). Yaah…ane gak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya udah jelas banget deh efek yang bakal ditimbulkan dari hobby (baca: kedoyanan) yang menyesatkan ini. Ane cuma bisa berpesan, Wahai para akhwat Dopping, insyaflah dan kembalilah ke jalan yang benar (kalo anti gak mau dibilang “koncone” syetan coz pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syetan. hiiii….). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat…
Ayoooo donk akhwaaaattt….Hemaaaaaaaaatttt…!!!

6. Akhwat EM3

Hah? Gak salah tuh tulisannya? yang benar kan iM3 (yee….siapa yang ngomongin kartu perdana). EM3, cara ngebacanya emang sama persis dengan salah satu jenis kartu yang “diasuh” oleh Indosat itu. Tapi asal kalian tahu, akhwat EM3 belum tentu pengguna kartu yang paling diminati en digemari oleh kaum pelajar en mahasiswa tersebut. (murah gitu loch), karena yang ane maksudkan di sini adalah….kalEM, adEM, ayEM, yang disingkat dengan EM3 (jangan protes!).

 

   Model Akhwat EM3

Sesuai dengan namanya, akhwat ini emang lebih “jinak”, pendiem, en keep silent. Mungkin dari jenis-jenis akhwat yang udah qta bahas, tipe inilah yang paling sering qta jumpai. Doi terkesan lembut, manis, ramah, murah senyum, kemayu, bijak, tenang, ato malah sebaliknya??? Diam-diam, tapi menghanyutkan??? Wallaahu a’laam…Yang jelas, tipikal orang introvert seperti ini emang sulit ditebak karena dia tidak mau mengungkapkan apa yang dia inginkan dengan bahasa manusia pada umumnya, melainkan dengan ilmu kebatinan (heuheuh…emang bisa??).

7. Akhwat Dentis

Udah pernah denger istilah dentist kan? Yep! dentist dalam bahasa inggris berarti Dokter Gigi. So, akhwat Dentis adalah akhwat yang berprofesi sebagai dokter gigi (hehe…ngawur!). Dentis (gak pake ‘T’ di akhir kata) adalah singkatan dari DEmeN arTIS (hah? emanga da yah akhwat demen artis??). Oww…jangan salah Pren, Akhwat Dentis emang paling hobby mantengin berita-berita seputar artie en sebritis, apalagi kalo yang diliput adalah artis kesayangannya.
 

model akhwat Dentis

Do’i paling Up To Date ama urusan artis en sebritis. Dia selalu tahu kabar terbaru dari artis fulan en fulanah, lengkap dengan perkembangannya dari waktu ke waktu. Perlu diketahui, kebiasaan buruk ini akan mempengaruhi cara berpikir en apa yang diucapkannya, karena otaknya dah dipenuhi dengan artis, yang sering jadi topik pembicaraan gak akan jauh-jauh dari dunia artis en selebritis yang notabene kehidupannya glamour en hedonis. Barang koleksinyapun berbau artis idolanya. Sampe gaya-nya pun kadang ngejiplak ma stile artis kebanggaannya (Ck..ck.. Namanya juga Demen Artis….). Wuuaaah..Gaswat nih…!!
Bagi prenz Fillah yang menjumpai karakter akhwat macam ini, wajib untuk meluruskan dan mengingatkan saudaranya. Okey?!

8. Akhwat Tumor

Qta semua tahu, bahwa tumor adalah salah satu penyakit berbahaya yang timbul akibat pertumbuhan sel-sel yang tiada terkendali dan bersifat ganas. Yah! Tumor emang ganas. Apalagi jenis tumor yang satu ini. Dia akan sangat mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Penderita akan sangat sulit sekali melakukan kegiatan (rutinitas) dan mudah sekali melewatkan hal-hal penting yang seharusnya dia lakukan. Akibatnya tugas-tugas jadi berantakan dan terbengkalai. Karena doi tak kuasa menahan penyakit yang dideritanya. (Separah itukah). Apa itu? Yah! Tumor>>> TUkang MOloR (eits…jangan menyepelekan penyakit satu ini). Akhwat Tukang Molor bisa tertidur pulas di mana saja
dan kapan saja (bahkan tanpa kasur dan bantal sekalipun). Di kelas saat Dosen menerangkan, di tempat kerja, di kontrakan (apalagii…), di kajian-kajian, ketika liqo’, bahkan saat syuro pun ni akhwat bisa sukses tertidur dengan lelapnya tanpa mengenal ruang dan waktu.

 

  Model akhwat Tumor

Mudah sekali mengantuk, itu cirinya. Gak peduli dengan suasana dan kondisi saat itu. Sebagai contoh, ane pernah menemukan tipe akhwat macam ini di kontrakan sendiri (ops!), yang sewaktu pulang kuliah di siang bolong (padahal di luar sana mentari sedang bersinar dengan teriknya, puanaass banget), eh si akhwat tiba di rumah langsung tergeletak tak berdaya, tidur pulas dengan jilbab rapi dan kaos kaki masih menempel di kaki (ane cuma bisa geleng-geleng kepala, ternyata bukan cuma suasana hujan yang enak dibuat bobo). Yaah..mereka memang tak mau peduli, yang penting tidur dan bermimpi…ZZzzzzzzzzz………………………………

Dasar Akhwat!

 

 Eh, masih nyambung lho yaaah….. 


 

 

Poling Khusus Ikhwan: Apa pendapat antum tentang akhwat...

Poling Khusus Ikhwan: Apa pendapat antum tentang akhwat... 

Assalamu alaikum

Sehubungan dengan buku yang tengah ane tulis, ane membutuhkan bantuan dari antum untuk menjawab beberapa pertanyaan ini.

A. AKHWAT DANDAN
Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum suka dandan? (Ya/Tdk)
Apa alas an dan pendapat antum tentang akhwat yang gemar dandan?

B. AKHWAT TIDAK BISA MASAK

Apakah antum keberatan jika istri atau calon istri antum tidak bisa memasak? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang tidak bisa memasak?

C. AKHWAT AKTIVIS
Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum aktif berdakwah di luar rumah? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang aktif berdakwah di luar rumah?

D. AKHWAT BELAJAR

Apakah antum tidak keberatan jika istri atau calon istri antum melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan paling tinggi? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan paling tinggi?

E. AKHWAT ‘NEMBAK’ DULUAN
Apakah antum keberatan jika seorang wanita ‘nembak’ (mengajukan diri untuk dinikahi) duluan? (Ya/Tdk)
Apa alasan dan pendapat antum tentang akhwat yang ‘nembak’ duluan?

Mohon diisi pertanyaan di atas poin per poin. Untuk para akhwat, afwan karena ane membutuhkan pendapat ikhwan, maka disimpan dahulu keinginan untuk turut mengisi atau menjawab pendapat para ikhwan.

Dan agar tidak terjadi polemic, sangat diharapkan balasan email ini dikirimkan via evans(jalur pribadi) ke: diva_evans@yahoo.com


Jazakumullah khoiran katsira

Salam

Evans

 

Akhwat Nembak Duluan

 Assalamualaikum Wr.Wb

Mari kita amati tulisan saudara kita di bawah ini, silahkan di komentari dan kalau setuju jalankan sekalian, dengan penuh semangat. Bagus apa yg disampaikan ukhty kita.

tapi...slogan di awal yg dipakai ga ada yg lain kah?? kenapa masih saja loyal dengan slogan2 itu? apa ga ada yg di hasilkan ulama2 kita? bukan berarti kita tidak bisa mengambil nilai postifnya,

ana kira slogannya menafikan takdir Allah SWT, ekstrim sekali yah...sebagaimana apa2 yg disampaikan ukhty di tulisan2 nya juga ekstrim..meski tujuan sangat mulia, silahkan ukhty hanan komentari yah..juga ukhty2 yg lain

perlu untuk ukhty ketahui...pernikahan, adalah idealnya memang seperti apa yg di paparkan ukhty kita ini, namun
jangan sekali-kali menggampangkan urusan yg satu ini

bukan bermaksud memberikan sanggahan atau sejenisnya, namun tetap perbuatan yg mulia ini-pernikahan-haruslah dengan penuh persiapan yg maksimal dan dengan kesungguhan kemampuan.

bagi saya..sesuai dengan yg dikatakan ust.Anis Matta, pasangan yg dicari bukanlah yg kaya, ganteng atau segala kelebihan lainnya, tidak semua orang ganteng butuh yg cantik dst...yg benar adalah setiap manusia butuh pasangan
yg "tepat" baginya, kita bisa saksikan istri2 dari ulama2 dunia, terkenalkah?

dan banyak orang2 sukses lainnya yg istrinya hanya biasa-biasa saja, apa yg kita ketahui ttg istri yusuf al qaradhawi? aid al qarnhiy?benazir buto? dan banyak tokoh2 lainnya, sekali lagi pasangan yg TEPAT yg dibutuhkan setiap orang, itulah yg semestinya.

kenapa belakangan ini, banyak sekali..bahkan begitu gencar diadakan seminar2 ttg nikah ini...bahkan ana kira sudah melebihi sekali

ukhty rahmie yg menulis ini, berarti ukhty juga setuju dengan poligami?? kenapa tidak ukhty
gencarkan di tulisan ini, bukan kah itu hal yg mulia?? disyariatkan oleh rasulullah SAW

saya teringat, pada hakekatnya saya setuju dengan yg ukhty sampaikan, namun penuh pemahaman yg luar biasa untuk merobahnya sehingga akhwat dan ikhwah2 mampu seperti apa yg disampaikan di tulisan uhkty

satu lagi...tidak semua hal yg di HALALkan-spt hal akhwat nembak ikhwah dan juga poligami-harus atau mesti kita jalankan.

ukhty fillah...apa yg dicontohkan oleh ukhty kita ttg bersileweran di jalana
n,
berboncengan dan sebagainya adalah yg dilakukan orang2 ammah, sementara menurut pemahaman ana tulisan ini ditujukan pada kader dakwah yg aktivitasnya di penuhi dengan kebaikan2 dan interaksi dengan al quran

apakah ukhty memungkiri..klo sekiranya belum sanggup, berpuasalah. hal ini dilakukan saudara2 kita yg menegakkan diin ini dengan penuh semangat.

lalu, knp tulisan yg bagus ini-ana yakin ini memprovokasi kita semua-dilengkapi dengan contoh2 yg tidak ditemukan pada saudara2 ukhty? klopun ada itu kasus.

ukhty fillah...semestinya , tulisan ini di dahulukan dengan persyaratan dan persiapan2 pernikahan dan segala macamnya, dikhawatirkan, ada yg membaca ini, lalu langsung menjalankan tanpa perhitungan.

sesungguhnya...tidak hanya pernikahan lah satu2 cita2 kita.

bagi yg akan nikah , jangan lupa undangan untuk Balikpapan ya....

 
 
Nembak duluan? Jangan takut!

NEMBAK DULUAN? Jangan Takut!




Yang pasti-pasti aja!”

Ingat slogan iklan TV ini? Bukan untuk mempromosikan minuman produk Amerika yang membantu kaum zionis Israel itu, tapi dalam kalimat ini, saya sependapat. Betapa banyak hal di dunia ini yang tidak pasti dan sangat rawan untuk
terus difikirkan. Angan-angan berpanjangan bisa meluap dari situ. Baik, langsung saya spesifikkan, misalnya dalam mencari pasangan hidup.

Seorang perempuan yang sudah baligh sebenarnya adalah adalah kewajiban wali, orangtuanya lah untuk menikahkan dengan laki-laki yang sholeh. Alternatif lain, kumpulan orang-orang shaleh di sekitarnya bisa menggantikan peran itu. Tapi tidak selalu dua kondisi itu bisa digenapkan. Misalnya orangtua tidak bisa memutuskan mana laki-laki yang sholeh atau setelah sekian lama, belum ada ikhwan yang tergerak untuk melamarnya. Sedangkan urgensi menikah itu semakin kuat menelusup di celah di jiwa, kerinduan akan membangung keluarga Islami memuncak, ketakutan tergelincir pada kemaksiatan yang semakin membumbung atau kasus-kasus tertentu yang membuat pernikahan harus segera dilaksanakan. Kadang kata akhi Salim A fillah,dalam bukunya Agar Bidadari Cemburu Padamu, menawarkan diri bagi akhowat adalah pilihan yang agung.

Menawarkan diri pada lelaki yang pasti. Pasti agamanya, pasti kualitas akhlaknya. Di sini yang tak pasti cuma
satu,diterima atau tidak. Dan ditolak bukanlah kehinaan, hanya ladang kesabaran yang insyaAllah menjadi taman-taman berbunga cantik pahala. Daripada menunggu yang tak pasti, tak pasti agamanya ,tak pasti akhlaknya. Bahkan tak pasti pula datangnya.

Memalukan! Tradisi mengajarkan kita demikian. Perempuan yang menawarkan diri untuk menikah pada laki-laki dianggap tidak tahu kesopanan. “Kaya ngga laku aja” atau “Kegatelan banget sih cewenya”. Komentar seperti itu sungguh kejam dan tidak adil. Apakah memalukan untuk menggenapkan setengah dien, separuh agama? Adakah dal
am ingatan Anda, ibadah yang melebih setengah agama? Sementara perempuan yang berseliweran berboncengan, nonton berduaan, di café-cafe berpegangan tangan adalah hal yang dianggap hal biasa. Sudah jelas, kebenaran dan kemuliaan tidak terletak pada pendapat orang kebanyakan.

Ada juga yang mengemas pemikiran kuno itu dengan bentuk yang tampaknya lebih elegan “ Kalau imannya kuat, pasti dia akan sabar menunggu ikhwan datang melamarnya” 

Hhh..saya hanya bisa menarik nafas panjang sambil menuturkan cerita ini.


Anas ibnu Malik, Radhiyallahu ‘Anhu berkata: 


Ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia menawarkan dirinya kepada Rasulullah “Apakah engkau membutuhkan diriku?”. Anak perempuan Anas hadir dan mendengar kata-kata wanita itu, lalu berkata ”Alangkah memalukan dan betapa buruknya”. Mendengar itu, sang ayah (Anas ibnu Malik) menyahut ”Dia jauh lebih baik darimu nak. Wanita itu mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya kepada beliau” (HR Al Bukhari). 

Dengarlah, dia jauh lebih baik dari kamu!

Atau bahkan ada beberapa “oknum” ikhwan yang entah dari mana mendapat generalisir ini “Kami,para ikhwan, pada hakikatnya punya insting memburu, dan aneh sekali bila akhowat yang mendekati” 

Coba tengok lagi cerita tadi, adakah Rasul berkata “wahai wanita, aku seorang laki-laki, tidak pantas bagimu menawarkan diri”?

Dan bisakah sekarang Anda menjawab, wahai lelaki, siapakah engkau dibanding Rasulullah??

Ohya, perlu sekali saya tekankan, saya tidak sedang bicara tentang “nembak” dengan senjara berlaras itu lho…Ngerti
aja kan? Tapi juga bukan tentang “nembak” seperti yang muncul di reality show yang mengklaim dirinya reality show cinta pertama di Indonesia itu. Sungguh, bukan itu. Kalau nembak jenis itu sih, saya sangat berharap Anda sudah mengerti tentang ketidakbenarannya. Nembak yang mulia bukan aplikasi kreatif ketidaksabaran, kekonyolan dan maaf, agak tidak tahu malu terhadap pelanggaran perintah Allah seperti itu dan jauh sekali dengan ikatan suci pernikahan. Tapi sssttt, katanya rating acara itu selalu tinggi. Anda tidak termasuk salah satu yang menaikkannya kan?

 Ohya (lagi), saat perempuan mengajukan diri untuk menikah, itu juga harus melalui pertimbangan dan cara-cara yang mulia. Ga mungkin dong, ketemu di perempatan lalu langsung minta dinikahi? Hehehe.. Bisa dengan minta diwakilkan orangtua, atau lewat orang-orang sholeh yang bisa dipercaya. Dan sudah seharusnya ada musyawarah sebelumnya dengan mereka dalam hal pemilihan calon agar sisi subjektif dapat dikendalikan. Misalnya karena dilihat cakep, sarjana, mapan kerjanya, kita menjadi lupa pada sisi akhlaknya yang pas-pasan. Tidak salah sih bila menginginkan ikhwan ganteng, pinter dan sebagainya tapi pertimbangan agama dan akhlaknya haruslah yang utama. 

Hasan bin Ali berkata “ Nikahkan puterimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bila ia mencintainya pasti akan menghormati dan memuliakannya dan bila ia tidak mencintainya pasti ia tidak akan menzhaliminya”


Sambil berikhtiar, jangan lupa sholat Istikhoroh berulang kali. Petunjuk Allah adalah kemestian yang mesti dimohon selalu. Agar kita tidak menjadi hamba yang disindir Allah lewat ayat ini. 

…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al Baqarah :216)

Kadang sebenarnya, bukan karena ketidaktahuan yang membuat para ikhwan melambatkan pernikahan. Tapi semata karena ketidakpedean terutama masalah mahar dan ma’isyah. Nah, akhowat yang seyogyanya
juga ikut meyakinkan mereka bahwa Anda berani untuk menanggung bersama. Berani menjalani proses kehidupan apapun bentuknya. Kegembiraan, apalagi kesusahan. Anda berani, bukan? 

Ya, karena kadang ikhwan-ikhwan itu perlu dipecut agar tidak lagi menjadi pengecut. Agar mereka bertambah kuat iman kepada rezeki Robbnya dan tambah kreativitasnya. Pernikahan terbukti adalah salah satu bentuk media percepatan diri yang sangat efektif. 

Lalu, biarkan Allah membantu.

 Sudah ya, kita tutup dulu pembahasan ini. Sekarang waktunya menajamkan usaha memperbaiki diri dan memperkokoh niat. Memang perlu perjuangan untuk mengubah masyarakat dengan tradisi-tradisinya. Tapi setidaknya Anda tahu bahwa tradisi itu harus diubah. Dan Anda bisa memulainya lebih dahulu.  

Dalam suatu pertemuan, ada seorang teman berseloroh “ Jodoh itu di tangan Tuhan, tapi kalau tidak diambil-ambil, ya akan di tangan Tuhan terus”

Hal itu tidak urung memancing tertawa teman-teman yang lain, termasuk saya juga. Tapi untuk anda, wahai perempuan, semoga kelakar tadi semakin menguatkan. 
  ***


*untuk murobbiyahku tercinta...
"ini utang tulisannya mba...kisah kemarin sudah ada endingnya, bukan sad atau happy ending, tapi insyaAllah its the best ending...^_^ jazakillah untuk semua dukungannya ya mba sayank..."

 

BY Evans

Dasar Akhwat [part Two]

                                                                                         

Ngobrolin cewek, emang kagak ade matinye…ya gak prens? (iih, sapa yang ngobrolin cewek…. akhwat lagi ). Dari jaman dahulu kala sampe jaman Yusuf Kalla (ops!) kaum hawa, atau wanita atau perempuan atau cewek atau akhwat (apapun namamu!) emang menarik untuk diungkap. Kenapa menarik? Karena dia emang unik! Buktinya, perlu sebuah lembaga yang ngurusin masalah cewek. Makanya ada Dharma wanita, GOW (Gabungan Organisasi Wanita), ada keputrian en kemuslimahan di rohis, dll, dsb, dst. Sampe masalah syari’at pun, cewek butuh bab tersendiri untuk ngebahas persoalan-persoalannya. Ada buku Fiqh Wanita, Tanya-Jawab Muslimah, kajian for akhwat, umm…apa lagi ya? Ah.. Intinya, cewek itu unik. Sampe di sini ada yang nggak sepakat?! Pokoknya, harus sepakat! Titik.

Baiklah, pada bagian kedua ini ana akan mengungkap beberapa tipe akhawat yang sempat singgah dalam kehidupan ana yang sebentar namun syarat dengan makna ini (cailah!).


Setelah melakukan penelitian kecil-kecilan terhadap beberapa akhwat yang ane kenal serta berdasarkan data pengamatan, analisis, dan hasil observasi di lapangan, setelah menimbang, mencermati, dan memutuskan, akhirnya ditemukanlah beberapa “spesies” akhwat. Tipe-tipe tersebut yakni yaitu antara lain diantaranya adalah sebagai berikut: (warning!: Pemborosan kata yang   dipaksakan sangat tidak baik bagi kesehatan! Maksud lo??)

  mo tau? ni die neeh:

 

1. Akhwat Lemper

Bicara tentang lemper nie, jadi kebayang ama makanan yang dibalut dengan daun pisang warna ijo, terbuat dari beras ketan yang isinya daging sapi, daging ayam, atawa abon yang sebelumnya dikukus terlebih dahulu. Hmmm…nikmaaat..!! (Hus! Ngomong apaan sih! Gak nyambung lu va!)

Heuheueuh…Sowri Prens. Lemper di sini sama sekali gak ada hubungannya sama nama salah satu jajanan pasar favorite ane ntu. Ehem! Lemper di sini maksudnya…Yup! Tuh dah pada tau…

”LEMbut tapi PERkasa!”

Akhwat tipe ini memeliki karakter lemah lembut layaknya seorang wanita pada umumnya, namun ia juga memiliki keperkasaan, ketangguhan, dan kemilitanan yang gak kalah dari si ikhwan. Dia bisa bersikap lembut, ramah, dan halus pada siapapun, tapi di sisi lain ia juga bisa berlaku tegas, cakap dan berwibawa. Perkasa bukan berarti ia mampu mengangkat galon air atau kardus air mineral saat jadi panitia acara (kecuali kalo dia ada keturunan ama Mpok Supergirl ato Mbak Xena). Namun keperkasaan itu tampak dalam ketegarannya menghadapi musibah, ketangguhannya menghadapi masalah, kekuatannya dalam mengemban amanah, atau kemilitanannya dalam segala kondisi di medan dakwah dan bersegera menyambut seruan Allah. 


Gak ada kata “nggak siap” untuk amanah, atau “ntar dulu deh” untuk panggilan jihad dan dakwah.

 

                *model akhwat Lemper*

 

2. Akhwat Sosis

Eh, yang ini juga gak ada hubungannya sama nama makanan yah! Dan juga gak da sangkut pautnya ma golongan anak “kiri” di kampus yang biasa dipanggil anak sosis (paham sosisalis).

Nah, sosis yang ini beda pren, dia itu kependekan dari SOk SIbuk Sekaleee! (heuheheh…ada-ada ja lu va!). 

Akhwat model begini udah bisa ditebak memiliki jam terbang yang sangat tinggi. Kayaknya, gak ada waktu deh buat bersantai ria atau berleha-leha. Time is waktu, prinsipnya! (ya iyyalaah…!) Makanya do’I hobi banget mondar-mandir hilir-mudik bolak-balik riwa-riwi ke sana ke mari bak setrikaan. nggak tau ngapain aja, namanya juga, Sok Sibu
k Sekaleee!!. Gesit, lincah, aktif, energik, begitulah sepak terjangnya. 

Namun pemirsa, tipe ini juga punya kekurangan jika do’i gak bisa memanaj waktunya dengan baik. Hal ini akan berimbas pada pekerjaan-pekerjaan lainnya, misal: tugas-tugas kuliah yang keteteran, kamar yang berantakan, buku-buku yang berserakan, menggunungnya cucian, atau penampilan yang kurang mendapat perhatian. (ck..ck..ck…saking sibuknya!).

   *model akhwat Sosis*

Tapi, gak semuanya gitu koq. Ada juga yang rapi dalam segala hal. Sekali lagi, ini hanya menurut hasil pantauan sementara..

3. Akhwat Narasi

Alamaak..apa pula tu Narasi??!! (Jangan bilang kalo itu adalah salah satu jenis karangan dalam tulisan ya va?! Mentang-mentang anak kimia, apa hubungannya ya!)

Eit, eit…tenang Prens, bukan itu koq maksud ane. Narasi itu singkatan dari…NARsis Amat Siiiee…!! (kyaaa!!! Ngasal banget seh  ni orang!) Biarin! 

Adapun asal-usul pengambilan tipe Narasi ini disebabkan karena keprihatinan ane melihat kondisi akhawat sekarang yang sudah banyak terjangkiti penyakit berbahaya ini (taela!)

Ya! Penyakit ini telah mewabah di kalangan sejumlah akhwat en jilbabers. Sasarannya adalah akhwat yang memiliki banyak kelebihan namun tidak dibarengi dengan sikap ketawadhu’an.

Gejalanya, yang awalnya pendiem jadi over acting, yang tadinya minder en gak PD mendadak membangga-banggakan diri sendiri, yang mulanya pemalu jadi malu-maluin, yang asalnya tertutup jadi buka-bukaan (eh, nggak ding. Maksudnya senang menampakkan/memamerkan dirinya di depan umum). 

Parahnya lagi, jika penyakit ini dibiarkan atau malah dirawat hingga mencapai stadium tingkat tinggi, maka bisa berubah menjadi riya’ bin ‘ujub. 


Penyakit ini juga bisa menular dan menyerang siapa saja! So, waspadalah! Waspadalah!

  *model akhwat narasi*

   Pesan buat akhwat narasi: segera insyaf dan bertaubatlah   ukhti…semoga Allah mengampuni_amien!

4. Akhwat Granat

   Watch ouuut…ati-ati Pren! Jangan deket-deket, ntar meledak!

Emang napa? Dia teroris ya? Ato pelaku bom syahid? Pasti militan banget ya! Mujahidah syahidah kan?!

Eit..eit..jangan sok tau gitu deh! Jangan cepet mengambil kesimpulan. Kan yang bikin nama ane, jadi tabayyun dulu kek ke ane, key?!


Well, ehem..ehem.. akhwat Granat itu emang berpotensi meledak jika dia sudah mencapai titik puncak kulminasinya.

Duuuh, jangan berbelit gitu deh! Apa seh sebenarnya akhwat Granat itu?
Akhwat Granat itu….(jeng jeng jeng) akhwat yang GeeR bANgAAAT!! Gubraks! @#$%^&*? (Kalo bikin singkatan mbok ya yang keren dikit lah va! Kreatif boleh, tapi koq kesannya “mokso” gitu!)

  hehehe….suka-suka ane dunk, kan ane yang punya blog 

Yak! Perkenalkan, inilah akhwat yang paling doyan sama yang namanya pujian en sanjungan. Apalagi kalo yang ngasi sanjungan itu si ikhwan…Whoaaa…bisa meledak beneran tuh kepala!

 

 *model akhwat Granat*

Sstt…Apaaa??!! Nggak dengeeerrr..!! Ooo….ya! ya! ya!

Prens, barusan ada akhwat yang protes, katanya semua cewek itu pada dasarnya emang suka dipuji. Udah fitrahnya begitu. Okey, ane sepakat. Manusia emang suka dipuji. Tapi masalahnya, cara menyikapi sanjungan en pujian setiap orang itu kan beda-beda. Ada yang langsung GeEr trus lupa diri, bangga diri, sombong, angkuh, daaan seterusnya. Tapi ada juga yang langsung menyadari bahwa pujian itu gak pantas disandangkan pada dirinya. Hanya Sang Kholiqlah yang berhak atas segala pujian itu. Lalu dia bersyukur atas kelebihan yang Allah titipkan padanya dan beristighfar jika kemudian sombong dkk hinggap di hatinya. Bukan malah Gede Rasa! Kalo mendengar namanya dipuji, seketika tubuhnya terasa ringan bak balon gas, kakinya serasa tak berpijak di bumi, yang dia rasakan hanya terbang, melayang, membumbung ke angkasa tinggi, sambil bernyanyi..
I’m flying without wings…(woooii…nyadar Mbaaakk!!)

 

Duuh…Dasar Akhwat! *geleng-geleng kepala*

 

NB: Yang tipenya belum tercantum di sini, jangan khawatir, InsyaAllah akan qta kupas   lebih lanjut di lain kesempatan…

So, don’t miss it! 

  I’ll be back..!! 


 

To be continued… 



 

 

 





 

Dasar Akhwat! [Part One]

Hmm…Kali pertama ngeliat dia, langsung dah hati jatuh, eh jatuh hati! Pasalnya, ane kepincut ma senyumnya yang mwaaaniiisss kayak gula. Mana ramah lagi! Pokoknya bwaaaiiik banget!

Awalnya tuh, ane dikenalin ma kakak. Waktu tu kan ane masih remaja belia (alah!), pastinya pengen cari jati diri duuunk…. Nah, kakak tuh sering beliin kumcer, novel, buku, dan majalah-majalah yang berbau Islam. Dia juga sering cerita tentang si akhwat. Katanya cewek tuh harus begini, begitu, dan bla..bla..bla…Intinya, dia pengen punya adek model akhwat gitu lah! Awalnya sie, terus terang ane rada tersindir, abisnya dari sekian panjang ceramahnya (yang katanya waktu tu dalam rangka dakwah), ga da kriteria akhwat yang nyantol di ane (satu2nya persamaan, ane ma si akhwat sama2 cewek!). Kakak mulai mengkritik kerudung gaul ane, gaya bicara, cara berpakaian, sampai membatasi pergaulan dengan temen2 cowok ane. Jujur ane cemburu banget ma si akhwat. Gimana nggak, kakak ane jadi ceritain en muji2 dia mulu! Akhirnya ane penasaran banget tuh ma makhluk yang udah ngambil hati kakak ane satu2nya (hiks..hiks..). Baru deh ketemu wujud aslinya saat masuk SMA. Tepatnya di sebuah komunitas bernama, Rohis!


Sejak mengenalnya, hidup ane berubah! Drastis boooo!!! Sikap en sifat ane jadi terbalik 180 derajat. Jungkir balik dah! Eva yang dulunya cengengesan, malu-maluin, cerewet, bawel, ngambekan, langsung “punah” seketika (eh, nggak ding! masih ada sisa2nya koq…dikit seeeh ). Hijrah memang sebuah pilihan, dan ane sangat bersyukur dah milih hijrah kepada kebaikan.

Well…well…Gaul ama akhwat emang asyik banget! Yang paling ane senengin dari mereka tuh ya, enak banget kalo dijadiin ‘tong sampah’ uneg2 qta. InsyaAllah aman deeeh rahasianya…Oww..oww..but, ada juga lho akhwat yang ‘ember’ alias suka ngebocorin curhat qta, tapi itu kan kembali pada tipe manusianya. Yaah, tetep aja prenz, ‘akhwat juga manusia’…yang bisa salah, lupa, bikin dosa, en berpeluang masuk neraka…(iih…Na’udzubillah min dzaalik…).

‘Alaa kulli hal, ane salut banget deh ma akhwat! Dia tuh dah lulus ujian mental sosial.. Buktinya, dia nggak malu pake
baju yang kedodoran atawa jubahnya yang kebesaran. Dia gak ngeluh meski gerah akibat jilbab yang lebar en panjang. Dia juga nggak peduli saat pandangan heran bin sinis mengarah padanya. Atau ketika sindiran tajam, tudingan miring, en cemoohan mampir ke telinganya. Dia mah udah kebal ama yang begituan! Semua itu dihadapinya dengan kesejukan tawadhu’, ketebalan iman, dan keteguhan yang luar biasa! Ya! Mereka memang beda dari cewek biasa!

Jadi akhwat tuh mesti pinter bergaul, but jangan melebur, entar malah kecebur! So, hati-hati…jangan sampai citra baik yang dibangun akhwat selama ini, ambruk seketika karena ulah qta yang ngakunya akhwat (iih, nggak deeeh!)

Baidewei, eniwei, baswei, gak kerasa hampir 3 tahun ane tinggal seatap ma mereka (selain jadi mahasiswa, qta juga berprofesi sebagai kontraktor ^-^). Asyik banget lho.. Suka dukanya, pasti ada. Baik jeleknya juga ada. Posistif negatifnya, apa lagiii. Ambil hikmahnya aja!

Berbagai tipe akhwat pun ane kenal. Ternyata gak semua akhwat kayak yang diceritain kakak tempo dulu. Ada akhwat yang nyebelin, terutama kalo lagi BeTe! bawaannya cemberuuut aje! Biasanya nggak mau diganggu, ngurung diri di kamar, entar kalo dah pulih, berlagak biasa, seperti gak terjadi apa2. Trus ada juga akhwat yang mudah banget GeEr. Apalagi kalo yang muji si ikhwan (itu mah wajar, semua cewek mang gitu, dah fithrahnya wanita seneng dipuji en dipuja, palagi dimanja!) Eh, ada juga neh akhwat yang sibuker (kalo ini mah hampir semua akhwat yang ane kenal deh). Mereka jarang di rumah, sibuk kuliah, aktif di berbagai organisasi, sibuk syuting (syuro’ penting), ngedate ma madh’unya, atawa kencan ma Murobbiyahnya…Biasanya kalo dah sibuk gitu, sulit bagi si akhwat untuk ngebagi waktu (bentrok lagi dah ma Bab Tawazun). Akibatnya, kuliah keteteran, kamar berantakan, cucian dan ngantri nunggu di laundry, de el el. Masih untung kalo yang jadi korban cucian or kamar yang kayak kapal pecah, tapi kalo ruhiyah yang jadi korbannya, bakalan ngefek ke segala aspek, nyesel berkepanjangan, Non! makanya Tawazun penting banget!!Dari akhwat yang lembut, kalem, kemayu, sampe yang bergaya sporty, energik, en lincah kayak kutu loncat. Dari yang pendiam, tertutup, kaku, sampe yang kelewat gaul, terlalu supel, bahkan rada centil. Da yang tampilannya sederhana, apa adanya, sampe yang modis en fashionable. Yaaah, biarkan mereka dengan gayanya sendiri…toh manusia kan emang beragam. Yang terpenting, nggak nabrak batasan2 syar’ie yang dah diatur ama Islam.

Asyik banget ya ngobrolin akhwat. Apalagi bagi si ikhwan..(Ops! afwan…becanda koq…peace Man!). Makanya, kapan2 ane pengen ngelanjutin lagi ngobrolnya…

Diizinin kan? (Terserah ane dunk, wong blog, bloge dhewe koq…hihihi…)

 



To be continued…

 

Peringatan Keras Untuk Ikhwan!! (Wajib Baca!!)

Ketika Akhwat Tersinggung

 

Eeeggghhhhh!!!!!!       Ikhwaaaaannn!!! Ente mau bikin masalah lagi yah? Kenapa sieh?? Qta kan Sodara, koq tega-teganya dikau menyakiti hati sodara antum sendiri (akhwat)??

Duh..Va, Va...Vans..!!
Tenang, tarik napas dulu dalam-dalam (Hmmmf..), yak, hembuskan....(Fyuuuh..)
Slowly, Gals. Sekarang, ceritakan pelan-pelan, ada apa seeh??

Ugh! gimana nggak kesel, si ikhwan cari masalah lagi!! Dia sengaja mancing2 kemarahan kami (akhawat). Kemaren, pas ane browsing buat bahan skripsi (tentang media blog), tanpa sengaja ane kesasar di blognya seorang ikhwan (pantaskah dia disebut ikhwan???) yang (syumpah) nyebelin banget!!

Emang alamat blognya apa?


Tau ah!! lupa!! males ane nengok ke blog itu lagi!! Nggak sudi ane menginjakkan kaki ke blognya untuk yang kedua kali!! Nggak sudiiiiiiii!!!!!!

Emang napa seeh??

Syumpah, gondok banget ane!! (Duh, Astaghfirullah...*sambil ngelus dada*).
Enaknya, diapain yha ni orang?? Kita kasih dia dua pilihan, "kue bogem mentah atawa dorprize timpukan sand
al", gimana, setuju??

Sodara-Sodara, Akhi, Ukhti, Brother, Sista, en Prens Fillah di manapun kalian semua berada....Jika Antum bertemu dengan sosok berinisial Ibnuara, bilang, ditantang ma akhwatzone!! Kami, cewek, perempuan, wanita, akhwat, sebagai Makhluk Tuhan Yang Paling SeNsi, dengan sepenuh hati menyatakan: Amat Sangat Very Tersinggung Sekali Banged Jiddan atas artikel yang Antum buat!! Dan dengan ini, kami meminta Anda untuk segera mencabut kembali kata-kata yang tertulis di blog Anda!! Atau kalau tidak, Anda akan menyesal!! Camkan itu!! (Beeuh, keren juga lu Van!). Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!!

Bagi siapapun yang tidak tergerak hatinya untuk memprotes, memboikot, dan mengecam -pendapat nyeleneh dari orang aneh ini- atau berlaku masa bodoh, mendukung, bahkan mengamalkan "madzhab" ini dengan kesadaran penuh, maka bersiap-sipalah berurusan dengan kami, akhwatzone!! Kami tidak akan tinggal diam!! Sebisa mungkin
akan kami usut perkara ini dan kami ajukan ke Majelis Pengadilan Ikhwah atas tuduhan "Pencemaran Nama Baik Ikhwan dan Pelecehan Terhadap Harga Diri (Izzah) Seorang Akhwat". Sebagai barang bukti, berikut ane lampirkan (baca: copas-kan) keempat artikel yang ane maksud. Gak peduli walau artikelnya bakal menghabiskan banyak tempat di blog ini. Biar temen2 tau! Koq ada sieh, ikhwan kayak gini???? Heran ane!!
 

Menggapai Cinta Sang Akhwat

 Assalaamua’laikum… (tumben-tumbenan nih…)

Apa kabar semua…?, rasanya udah lama dech aQ gak bikin postingan. Sebenarnya yang melatar belakangi telat mosting adalah ide, gak ada bahan tulisan yang emang bener-bener menarik (ini juga sebenernya maksain nulis aja, biar tampilannya penuh, he…he…)

Btw, sebelumnya aQ pernah nulis soal Akhwat (cari dan lihat postingan sebelumnya) dan ditulisan itu aQ janji mo ngasih tips dan trik buat dapetin akhwat (kek yang betuuul, aja…), nah ini dia tipsnya, enjoy it.

Tips Dan Trik: Menggapai Cinta Sang Akhwat

Sebenarnya ada banyak cara meluluhkan hati seorang akhwat, dari mulai berlebay-lebay soal agama atawa sok keren karena pernah menimba ilmu dipesantren. Nah dari banyaknya jalan menuju roma (lho… mo ke Roma ato nyari
Akhwat sih…?), ini dia salah satu tips untuk menggapai hati Akhwat (kamana atuh menggapai…!).

1. Pastikan kalo orang yang Kamu incer adalah akhwat tulen (jangan yang setengah akhwat setengah ikhwan, apalagi stengahnya banci, berabe donk!, dan sebab lain karena jurus ini gak akan mempan sama yang kayak gitu, sumpah…!)

2. Jangan terlalu banyak berkomunikasi verbal secara langsung, minta seseorang untuk jadi perantara (mak…! comblangin kita dong…!), dan pastikan kalo orang itu teman dekat akhwat inceran Kamu atawa bisa dipengaruhi dengan mudah oleh Kamu.

3. Nah…, sampaikan pada si Akhwat Salam (salam sejahtera para penghuni sorga, kik kik kik kik…) melalui si perantara tersebut.

4. Jangan terlalu mencolok kalo Kamu lagi PeDeKaTe sama si Akhwat, buat seolah-olah Kamu emang baik gitu kesiapapun (berprilaku ramah, bersahabat dan SOLEH, INGET S-O-L-E-H!!!).

5. Kamu boleh berlebay-lebay soal agama (meskipun sebenarnya kemampuan Kamu dibawah rata-rata, he…), tapi jangan terlalu parah n’tar belangnya ketauan.

6. Lihat respon Dia sama Kamu, kalo baik lanjutin ke tips no 7, kalo enggak, Wassalaam (yu dadah… babay…).


7. Nah abis gitu kamu berlebay-lebay masalah hidup dan kehid
upan, berfilosofi ria soal banyak-banyak (jangan kebanyakan, gak bagus juga buat kesehatan, he…).

8. Terus tanam (maksudnya…? kayak pohon gitu…) sebuah kepercayaan yang mendasar bahwa Kamu adalah orang terbaik buat Dia (kik kik kik…), kalo masalah kayak gitu gak usah di kasih tau kan?.

9. Jangan coba pegang-pegang, kalo Kamu gak mau ditampar (dan itu terjadi pada 137 jomblo yang pengin nyobain megang akhwat), apalagi daerah terlarang, sumpah “jangan bangaet“, itu bakal ngerusak semua yang udah dilakuin.

10. Perbanyak percakapan melalui bahasa tubuh (biar tubuh yang bicara Cinta, huek…), jangan kebanyakan boong, gak bagus juga buat catetan amal Kamu (masih mencoba buat insyaf, he…).


11. Kalo berhasil, aQ tunggu undangannya ya… (he…).

Semua yang ditulis ini telah dibuktikan oleh 1935 jomblo yang susah cari jodoh. Selamat mencoba meluluhkan hati Akhwat. Semoga sukses.

PERINGATAN KERAS!!!
Jangan mempermainkan hati Akhwat kalo gak mau kena Azab (kalo sekali-kali boleh sih… asal jangan keterusan dan mendapat gelar “Play Boy Cap Ikhwan” aja, otreh…). Cayo…

Tipe-Tipe Akhwat

Assalaamualaikum…

Hmm… sebernya sih awal-awal bikin tulisan soal akhwat nih cuman iseng-iseng (iseng apa ise…ng), tapi pas ngeliat kemaren di blog stat, ternyata banyak (banget, sumpah dan itu bisa dibuktikan) ikhwan yang ngebaca pembahasan masalah akhwat di tulisan sebelumnya (”Menggapai Cinta Sang Akhwat”), dan beberapa permintaan lain (termasuk minta foto dan biodata akhwat, yang sayangnya tidak bisa dipenuhi, karena ini bukan blog buat nyari jodoh, he…) maka aQ lanjutin deh tulisan tentang akhwat (so banget ya…).

Nah, yang sekarang mo dibahas adalah tentang beberapa tipe akhwat. Bila rekan-rekan (cie… rekan) ada yang berstatus mahasiswa atau pelajar yang berkecimpung atau pernah bergelut dalam dunia rohis (kek yang betul aja ya, he…), pasti pernah bertemu dengan makhluk yang suka disebut sebagai akhwat (kita sebut saja makhluk tuhan paling soleh -MTPS- he… he…).


Dari banyak akhwat yang kita temui tersebut (kalo ketemu ya…), kita bisa ngebedain akhwat tersebut kedalam beberapa jenis. Mo tau kan, nah ini dia pembahasannya:

1. Akhwat Garis Keras

Nyang model gini yang paling yahut nih, mulai dari A to Z semuanya berlandaskan Al-Qur’an N Sunnah. aQ jamin kamu kagak bakalan bisa ngajak akhwat model gini pacaran. Kalo mo nyoba sok ajah, paling ente ntar dapet wejangan masalah hubungan antara pria dan wanita dalam islam (amsyong deh ente, he…).

2. Akhwat Garis Depan

Nah kalo nyang model gini sebenernya gak jauh beda ama nyang pertama tadi, cuman bedanya diaktifitasnye aja. Akhwat model gini biasanya aktif di organisasi keislaman (baik kampus atau masyarakat), trus pas ada demonstrasi biasanya bediri paling depan (makanya namanya akhwat garis depan, he… ngasal banget ye…)

3. Akhwat Garis Tengah

Nyang satu enih, agak lumayan. Suka aktif di organisasi juga, cuman biasanya gak terlalu loyal (biasa-biasa aja, makanya namanya garis tengah, he…). Antum (cie… antum…) bisa berkomunikasi dengan lancar apabila berhadapan dengan nyang model gini, tapi tetep juga harus islami (jaga pan
dangan, gak megang-megang, dll, he…).

4. Akhwat Garis Belakang

Akhwat macam ini, biasanya baru masuk dalam organisasi ato belum menguasai bidang keilmuan islam secara utuh, yang biasanya dipegang teguh (cie… he…) oleh para akhwat nyang diatas. Akhwat seperti ini aQ istilahkan sebagai akhwat dalam proses perkembangan iman (ha…ha…) ato juga yang sebenarnya udah lama cuman masih tetep belom bisa berubah sepenuhnya.
Dan akhwat macam ini masih bisa didekati oleh antum, tapi tetep harus hati-hati (karena pasti dalam bimbingan murobbinya, cie…). untuk mendapatkan akhwat model gini cara yang kemaren dibahas dalam “Menggapai Cinta Sang
Akhwat” dapat digunakan (dengan catatan harus hati-hati menggunakan trik tersebut, jangan ampe tahu kalo trik entu ente dapet dari sini…).

5. Akhwat garis belakang banget

Nah, kalo nyang modek gini biasanya bisa dipacarin, meski berkedok taaruf (telah dibuktikan oleh 87 dari 129 jomblo ikhwan yang iseng…). tapi antum juga meski menjaga jarak ma ni akhwat, karena kalo enggak bisa kek bumerang (senjate makan tuan, he…).

6. Akhwat Tanpa Garis

Kalo nyang kayak gini biasanya cuman kesing-nya aja, tapi isinya kagak ada apa-apanya. Status akhwatnya cuman karena dia akhwat secara harfiah (akhwat=sodara perempuan), tapi kalo dari prilaku, ENGGAK!. Lo bisa dapetin akhwat model gini dengan atau tanpa trik n tips yang tersebut diatas.

Secara garis besar, cuma segitu aja ya… Males nulisnya kalo banyak-banyak, bacanya juga males kan?. Nah buat antum yang akan mengejar serta menjemput akhwatnya, GUD LUK aja…

PERHATIAN:


- Tulisan ini hanya sebagai bahan perbandingan, bukan untuk dijadikan patokan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

- Trik tidak dapat diterapkan pada Akhwat yang udah tau belangnya ente, so… ati-ati milih inceran.
 

ikhwan-akhwat narsis sok puitis juga sok romantis, mari tobat bro and sis!

yoo Muslim,, assalamu๏ฟฝalaykum warohmatuLLOH wabarokatuh,,

sebelumnya saya mau menegaskan,, tulisan ini saya buat bukan karena saya tidak seperti itu,, juga bukan untuk menyinggung salah satu dari kalian,, tapi hanya sebagai sarana untuk saling mengingatkan dalam kebenaran,,

sekarang jaman semakin maju,, abad millenium katanya,, jauhnya jarak antar manusia tidaklah jadi masalah,, karena berbagai kemajuan teknologi sudah tidak memberikan batas jarak dan waktu,,

berbagai fasilitas pun tersedia,, ada yang mencari informasi terkini sampai mencari suami/istri,, fenomena-fenomena kekinian memang cukup mengkhawatirkan,, pasalnya negara ini terlihat jelas semakin mengarahkan kemudinya
kepada kebebasan,,

para musuh ISLAM mencoba melemahkan kaum Muslimin dengan memberikan serangan dari dalam dan luar,, dengan berbagai sarana-sarana pendukung lainnya,, media massa pun dapat kita rasakan bahwa mereka semakin condong kepada kemunkaran dan kebathilan,, dan sadar atau tidak,, inilah indonesia,, yang sedang digrogoti dan
dirongrong oleh pasukan zionis najis,,

kemaksiatan menjadi hal yang lumrah,, bahkan kebaikan menjadi tabu untuk dilakukan,, para orangtua semakin memprihatinkan,, karena semakin banyak yang membolehkan bahkan memarahi bila anaknya tidak pacaran,, oh-emji,, bersabarlah kalian wahai peminang bidadari,,


kondisi ini semakin parah,, karena mereka (mungkin juga saya atau kalian yang merasa punya tugas dalam da๏ฟฝwah) mulai terpengaruh dengan kondisi jahiliyah ini,, walau terbekali dengan ilmu yang mumpuni,, tapi hati telah di hinggapi dengan perasaan cinta duniawi,,

blog di isi dengan ๏ฟฝcinta๏ฟฝ yang terungkapkan melalui cerita dan puisi,, "oh sang pangeran, kapan kah kau kan datang?"
Lalu ada yang menjawab di bagian komen, "tenanglah bidadari, tunggulah aku dengan pasti. Ku sedang berjuang melawan segala rintangan." Dengan nada becanda dan hati tersipu, dijawab lagi, "Oh pangeran, betapa mengagumkannya dirimu. Aku akan setia menantimu." Selanjutnya akan terjadi saling
balas komentar yang mulai memakai hati,, kata-kata manis dan romantis tercipta,, persis seperti cinta palsu nan semu di film-film yang ada di televisi,,!!

tak terasa,, makin sering berkunjung ke blog si dia,, liat-liat fotonya yang narsis,, bergaya-gaya lucu tapi bikin napsu (uppss),, ngomentarin puisi dan tulisan tentang walimahan,, iseng-iseng nyoba peruntungan,, gunakan fasilitas personal message,, siapa tau ketemu jodoh,, katanya sih githu,, tanpa mau memikirkan asas syar๏ฟฝi qur-ani apalagi pesan baginda nabi,,

oh tidak,, perang pemikiran lebih dahsyat bahayanya dari perang beneran,, untuk itu,, mari kita sadar kawan,, bangkit bersama dari segala keterpurukan,, sucikan kembali hati yang telah ternodai,, luruskan kembali niat yang telah terkotori,, susun kembali hari-hari yang fitri,,


buat yang belum mampu walimah (seperti saya),, pintar-pintarlah menjaga pandangan dan perasaan,, aturlah emosi dalam diri,, buatlah perisai hati agar ia kembali dan senantiasa suci,,


ahh,, saya semakin sok tau,, bahkan mulai gak nyambung,, mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan,, mohon kesediaannya untuk memaafkan,, silahkan ditambahkan agar semakin dalam,, cukup sekian,,

 

Wahai Ikhwanโ€ฆ wahai akhwat

Nih, eva dapet bacaan yang…?? Geerrr!!!

Seorang ikhwan yang aktifis kampus, sekolah dan syabiah karena masih menjadi seorang jejaka, maka tak jarang ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi ‘imam yang adil’ yang akan memimpin dan
mengarahkan isteri dan anak-anaknya.


Namun sayang disayang cita-cita, harapan hanya tertinggal dalam pikiran saja, hanya baru menjadi angan angan. Padahal semangat sudah mengebu gebu, sang ikhwan masi
h meragu karena berpikir belum lah mampu, atau karena ia belum yakin untuk menyerahkan urusan Jodohnya hanya pada Allah. Atau karena maisyahnya belum seberapa, atau kriteria calon istrinya setinggi langit sebesar dunia. Karena itulah sang ikhwan melakukan Proses Studi Kasus, atau penjajakan pada beberapa akhwat. Dengan komunikasi dua arah, memberi perhatian, menjadikan sang akhwat teman curhat, teman diskusi, sahabat ataupun dengan tedeng adik kakak.

Selain itu juga termasuk dalam mencermati kebiasaan dan cara pandang dan aktivitas dalam etika melamar dan mendekati seorang akhwat. Dalam Islam memang tidak dianjurkan untuk berpacaran HTS, TTM atau apapun namanya, yang realitasnya hampir sama dengan pacaran dan memang terbukti sekali mendekati zina minimal zina hati dan pikiran. Tapi kebanyakan yang terjadi, banyak para ikhwan yang mempermainkan perasaan si akhwat yang terjaga tersebut, si akhwat dibuat Ge-eR sedemikian rupa dengan diberikan perhatian-perhatian yang intens (padahal si ikhwan cuma sekedar ingin uji coba aja dan belum memiliki nyali untuk melamar apalagi untuk menikah).

Kebanyakan kasus, si akhwatnya yang menunggu dan mengharap-harap cemas ingin segera dilamar, tapi si prianya cuma memanfaatkannya sebagai teman curhat atau teman untuk pendekatan saja untuk selanjutnya lihat saja nanti. Kalau cocok dan sreg di hati maka bisa dilanjutkan ke ta’aruf yang sebenernya

Memang harus diakui, bagaimanapun kami seorang akhwat tetaplah seorang wanita yang
akan merasa senang dan tersanjung bila diberikan perhatian dari seorang ikhwan, apalagi bila ikhwan tersebut terlihat memiliki niat yang serius. Sangat disayangkan pada realitasnya banyak di kalangan akhwat yang tidak menyadari bahwa ikhwan ikhwan yang datang dan memberikan perhatian kepadanya, tidak semuanya berniat untuk meminang dengan serius. Tapi kebanyakan hanya sekedar untuk penjajakan semata. Hanya untuk melihat bagaimana karakter dan pola pikir si akhwat. Lagi-lagi tetap saja pengambilan keputusannya ada pada si ikhwan, pertimbangan apakah si akhwat sudah berharap banyak atau tidak, sayang sekali tidak banyak dipikirkan oleh si ikhwan.

Tentunya para akhwat yang jeli tidak akan sudi diperlakukan demikian, dipermainkan perasaannya hanya sekedar guna penjajakan saja. Apa bedanya dengan orang-orang yang lain yang melalui proses berpacaran, bedanya toh hanya kemasannya saja.

Karena itu wahai ikhwan Rujulah (bersikap jantan ) lah engkau, karena kami (wanita) makhluk yang dimuliakan oleh Allah, dijaga betul kehormatannya agar tidak diganggu dan dilecehkan oleh orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Karenanya tata car
a berpakaian dan etika pergaulan kami juga dijaga ketat oleh syariat Islam, dengan tujuan agar kami tetap terjaga dan terhormat. Dan yang cenderung lebih serius untuk komitmen dan berusaha konsisten untuk menjaga diri sesuai dengan syariat Islam, kebanyakan dilakukan oleh kami para akhwat.

Jika memang berniat menikah maka benahi dulu ibadah, karena kualitas dan kuantitas ibadah sangat mencerminkan kualitas diri, luruskan niat, bahwa menikah itu karena ingin mendapat pahala dan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tidak ingin mendapat dosa dan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menikah bukan karena keinginan nafsu belaka, ingat menikah bagi seorang aktivis merupakan awal tonggak baru perjalanan dakwahnya karena itu niatkan menikah sebagai ibadah, bukan sebagai penenang hati yang resah. Walaupun memang benar dengan menikah hati menjadi lebih tenang, dan bersemangat dalam dakwah, karena ada pendamping yang selalu menyemangati, memberi dukungan, mendoakan, mengkritisi dan lain lain.

Semoga pernikahan yang akan terjadi memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang mereka maksud Lillah , ialah niat menikah itu karena Allah. Proses dan caranya harus Billah , sesuai dengan ketentuan dari Allah. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah , tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah. Sehingga dalam penyelenggaraan pernikahan nanti tidak bermaksiat pada Allah


Intinya, Wahai Ikhwan Rujulah lah engkau, jangan permainkan kami, dan kepada saudari saudari ku yang lain, jangan mau dijadikan lawan HTS-an, TTM-an atau apapun namanya, karena ketegasan ada pada akhwat, jagalah diri dan kehormatan kita, sebagai akhwat kita juga punya izzah, dan juga belum tentu ikhwan yang selama ini paling asyik dan paling cocok berkomunikasi dengan kita itu adalah jodoh kita, wahai ukhti kasihanilah suamimu nanti, bila hati mu tak lagi perawan, betapa banyak dan panjang daftar pengakuan kita nanti pada suami. Wahai akhwat tenang sajalah, jika sudah saatnya menikah maka jodoh akan datang dengan sendirinya, “Pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, dan Pria yang Keji akan mendapatkan Wanita yang Keji”

Oh ya satu lagi, yang sering terlupakan oleh ikhwan maupun akhwat yakni Tata Krama yang berlaku umum untuk lelaki dan perempuan (termasuk dlm akhlak seorang muslim)

1. Komunikasi antara keduanya harus dalam batas ucapan yang baik, tidak mengandung kemunkaran, tidak mengandung hal yang tidak bermanfaat,dsb (QS.33:12)
2. Menundukkan pandangan (QS.24:30-31) kecuali dalam hal pendidikan, kesehatan/kedokteran, jual beli, dan
meminang.


3. Menghindari percampuran antara lawan jenis (ikhtilat)

4. Tidak berkhalwat / berduaan antara lawan jenis melalui media apapun, perbincangan. k

5. Menghindari posisi syubhat yang memungkinkan munculnya pandangan negatif dari orang lain



afwan jiddan jika apa yang saya tulis menggores hati beberapa orang disini, sesungguhnya ini bukan sindiran atau apapun namanya, saya juga pernah merasakan akibat tidak enak dari hal hal diatas, saya hanya ingin menjadikan hal tersebut sebagai bahan pelajaran bagi diri saya, sekaligus agar ukhti ukthi yang lain juga dapat mengambil hikmahnya, saya tak punya dendam pribadi dengan yang namanya ikhwan, karena sesungguhnya suatu saat nanti saya akan punya pendamping juga (yang pasti ikhwan, tidak mungkin kan akhwat?????).


Barakallahu laka wa baraka ‘alaikum wa jama’a bainakum fii khoir..

Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…


BY : it’s_me ^_^

 

Eva Oktafiani
 

Bekal Dakwah Akhwat

                                                                         Setelah wanita muslimah menjadi shalih secara pribadi. Beriman kepada Allah dan menegakkan syiar-syiar ibadah-Nya. Komitmen menjaga nilai-nilai dan manhaj-Nya dalam seluruh aktifitas hidupnya (buku 1). Ia harus berusaha menularkan keshalihan pribadinya kepada lingkungan sosial di sekitarnya. Menjadi seorang da’iyah. Inilah giliran berikutnya setelah hidayah itu bersemayam kuat di dalam lubuk hatinya dan ketentraman hidup di bawah naungan keimanan telah dirasakannya. Wanita muslimah hendaknya mulai menatap lingkungannya, melihat kebobrokan dan mengurai benang kusut permasalahan yang lazim dihadapi oleh manusia modern. Dengan dengan analisanya itu ia mulai merencanakan upaya perbaikan secara bertahap, berkesinambungan, dan menyeluruh. Sebagaimana proses penshalihan diri yang terjadi pada dirinya.    

1. Bekal Akhlak
Islam bukan agama hanya asesoris dan simbol. Bukan hanya penampilan dan gaya. Seorang muslim harus melengkapi keindahan pakaian islaminya dengan pakaian pekerti. Hingga kepribadiannya lebih menarik dan simpatik. Lebih-labih sebagai seorang da’i dan da’iyah. Akhlak menjadi bekal yang sangat penting karena beberapa hal: Urgensinya badi kehidupan muslim dan muslimah, kelalaian banyak orang terhadap akhlak, dan hubungannya langsung dengan tugas dakwah. Di antara bekal akhlak yang mesti dimiliki seorang da’iyah adalah Kejujuran (As-Shidqu), Menepati Janji, Dermawan, Tawadhu’, dan Tidak Memalingkan Muka.


2. Interaksi dengan Al-Qur’an
Yang dimaksud dengan interaksi di sini tidak sekedar membacanya secara rutin. Lebih dari itu agar seorang da’iyah mempunyai ikatan spiritual yang kokoh dengan Al-Qir’an yang terlihat dalam dua hal: Ketentraman jiwa di kala membaca hingga membuantnya berlari dari kegundahan dunia dan kesibukannya, keingingan kuat untuk merealisasikan ayat-ayat dan hukumnya dalam kehidupan nyata. Untuk itu seorang da’iyah mesti melakukan tiga hal:
1. Memahami Al-Qur’an yang dibacanya.

2. Mempelajari kandungan Al-Qur’an melalu kitab-kitab tafsir.
3. Komitmen terhadap Al-Qur’an dalam hal waktu, amal, dan pemikiran.

3. Interaksi dengan Sunnah
Sebagai sumber hukum kedua dan penjelas bagi Al-Qur’an. Seorang da’iyah mesti mempunyai tingkat interaksi dengan sunnah secara intens. Setelah memahami kedudukan hadits dalam Islam dan kebutuhan seorang muslim untuk berbekal dengan hadits-hadits Rasulullah. Ia harus mulai berinteraksi dengan sunnah Rasulullah secara intens dengan cara:
1. Meneliti dan melihat adat kebiasaannya sehari-hari. Adakah di antaranya yang tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah.
2. Menjadikan Nabi sebagai teladan.

3. Segera mengamalkan sunnah yang sanadnya shahih.
4. Mengajak orang lain untuk menjadikan sunnah sebagai pedoman hidup.

4. Memulai Tugas Dakwah
Dakwah merupakan tugas setiap muslim dan muslimah sebatas kemampuan yang diberikan Allah. tugas dakwah tidak semata demi kepentingan ‘orang lain’, tapi untuk kebutuhan ‘diri sendiri’. Dakwah ini akan terus bergulir dan akan ada orang-orang yang setia mengembannya sampai hari Kiamat, dengan atau tanpa kita. Jadi, kita perlu bergabung dengan kafilah dakwah untuk mendapatkan keberkahan dakwah dan keberkahan jamaah.
Setelah kita mempunyai keyakinan tentang kewajiban dakwah, kita harus tanam keyakinan itu hingga menjadi kemauan kuat untuk menyampaikan Islam kepada orang lain. Setelah itu siapkan
langkah-langkah da’awi sebagai berikut:
1. Memilih calon objek dakwah (mad’u).
2. Menentukan sasaran.

3. Menentukan metode (hadiah, kunjungan, bantuan).
4. Memberi keteladanan.
5. Menjauhi hal-hal yang kurang simpatik (menggurui, sombong
,
membicarakan diri sendiri, menggunjing, membual, emosional, dan kikir).
6. Tasamuh.
7. Iltizam.
Kita tidak sendiri jalan ini, ada banyak orang yang melintasi jalan jauh sebelum kita. Para nabi
dan rasul telah lebih dahulu melewati jalan ini. Bahkan tidak hanya kaum laki-laki, kaum wanita pun bahu membahu bersama untuk mengemban rugas kenabian
ini. Sejarah telah mencatat banyak barisan kaum wanita yang mempersembahkan seluruh potensi yang mereka miliki demi tugas mulia ini. Mulai zaaman sahabiyah hingga dewasa ini. Jadi, jika mengalami kegagalan, sungguh mereka telah mengalami hal yang sama, bahkan mungkin lebih pahit dari kegagalan yang kita rasakan.
5. Menyikapi Kegagalan dalam Dakwah
Tentu saja kegagalan yang dimaksud adalah kegagalan dalam tataran realisasi dari semua program dan langkah dakwah yang telah kita rencanakan. Asal tetap komitmen terhadap nilai-nilai Islam, menjaga keikhlasan, menempuh sarana yang baik, dan tujuan yang mulai, seorang da’i dan da’iyah tidak pernah mengalami kegagalan. Meskipun untuk itu harta dan jiwanya terenggut. Sebab tujuan dakwahnya hanya dua dan ia akan mendapatkan, paling tidak salah satunya; kemenangan atau mati syahid. Kegagalan manusiawi tentu akan dihadapi seorang da’iyah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengobati ‘luka hati’ ini. Agar tidak larut dalam kesedihan dan kembali termotivasi melakukan aktifitas dakwah kembali.
1. Evaluasi
2. Menghibur diri
3. Meninggalkan objek dakwah.

4. Tidak Menyerah.
5. Rintangan Dakwah
Mengetahui rintangan dakwah akan menyiapkan mental seorang
da’iyah untuk mengarungi medan dakwah. Agar ia selalu bersikap waspada untuk menempuh jalan paling aman demi mencapai tujuan. Di antara kendala dakwah adalah:
1. Orang-orang di sekitar kita

2. Kehidupan modern.
3. Kecenderungan jiwa.

6. Panduan Meningkatkan Kualitas Diri

Hidup perlu diatur dan dijalani dengan strategi yang sistematis. Tindakan yang dilakukan tanpa bekal dan persiapan yang matang akan menghasilkan penyesalan. Jikapun setelah direncanakan dengan baik ternyata masih gagal dan jatuh, cara untuk bangkit
kembali relatif lebih mudah. Dan keberhasilah selalu berpihak kepada strategi yang matang dan persiapan yang memadai. Ada beberapa strategi persiapan diri yang perlu diterapkan oleh seorang da’iyah agar ia mempunyai kesiapan yang memadai.
1. Aspek ruhiyah. Dengan upaya tazkiyatun-nafs. Berkawan dengan orang shalih, membaca buku-buku pelembut hati, dan amal ibadah.

2. Aspek fikroh. Baik fikroh Islam yang diembannya juga fikroh lain. Mengetahui fikroh yang berseberangan sangat penting agar bisa melakukan tindakan antisipatif dan preventif.
3. Aspek harakah. Yakni dengan cara mengaktualisasikan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Agar Islam menjadi rahmat bagi alam semesta.
Wallahu A’lam.

                             
                   

                     

Posted in . 0 Comment »

โ€œDoa Seorang Akhwatโ€

Inilah goresan pena dari sang akhwat yang mendambakan ikhwan sholeh, yang bisa bersama untuk mencintai Mu Ya Robbi dan mencintai Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam.
Yaa……Rabbi……..
Aku berdoa untuk seorang ikhwan yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sangat mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang yang akan meletakkanku pada posisi di hatinya setelah Engkau dan Muhammad shallahu’alaihiwasalam
Seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk-Mu dan orang lain
Wajah, fisik, status atau harta tidaklah penting
Yang terpenting adalah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
Dan berusaha menjadikan sifat-sifat baikMu ada pada pribadinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup
Sehingga hidupnya tidak sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak, tidak hanya otak yang cerdas
Seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tapi juga menghormatiku

Seorang yang tidak hanya memujaku, tetapi juga dapat menasehatiku
Seseorang yang mencintaiku bukan karena fisikku, hartaku atau statusku tapi karena Engkau
Seorang yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang membuatku merasa sebagai wanita shalehah ketika aku berada di sisinya
Seseorang yang bisa menjadi asisten sang nahkoda kapal
Seseorang yang bisa menjadi penuntun kenakalan balita yang nakal
Seseorang yang bisa menjadi penawar bisa
Seseorang yang sabar mengingatkan saat diriku lancang
Ya..Rabbi……
Aku tak meminta seseorang yang sempurna
Hingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya

Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya lebih hidup
Aku tidak mengharap orang yang semulia abu baker Radhiyallahu,
Atau setaqwa umar Radhiyallahu, pun setabah Ustman Radhiyallahu,
Ataupun sekaya Abdurrahman bin auf Radhiyallahu, setegar zaid Radhiyallahu
Juga segagah Ali Radhiyallahu, apalagi setampan usamah Radhiyallahu.
Aku hanya mengharap seorang ikhwan akhir zaman,

Yang punya cita-cita mengikuti jejak mereka,
Membangun keturunan yang sholeh,
Membangun peradaban,
dan membuat Rasulullah shallahu’alaihiwasalam bangga di akhirat

Karena aku sadar aku bukanlah semulia Fatimah Radhiyallahuanha, tidak setaqwa Aisyah Radhiyallahuanha ,Pun tidak secantik Zainab Radhiyallahuanha, apalagi sekaya Khodijah Radhiyallahuanha.
Aku hanyalah seorang wanita akhir zaman
yang punya cita - cinta
Ya…..Rabbii …….

Aku juga meminta, Jadikanlah ia sandaran bagiku
Buatlah aku menjadi akhwat yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sepenuh jiwaku
Berikanlah sifat yang lembut, sehingga auraku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga aku mampu berdoa untuknya

Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak kebaikan dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
Mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat
kokohnya benteng tidak bisa dibangun dalam semalam, namun bisa hancur dalam sedetik
Kota Baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap
Dan bilamana akhirnya kami berdua bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
” Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang
dapat membuat hidupku menjadi sempurna”.
Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan…
Amiiiin…


 

Akhwat Militan

Hari ini aku teringat kejadian tiga setengah tahun yang lalu di Sekretariat FOSI…
Siang itu, Aini datang agak tergesa-gesa…setelah memberi salam pada semua akhwat yang ada di sekretariat, dia langsung buat pengumuman…

“eh…ada ikhwan yang nyari akhwat satu juz. Ada yang bersedia gak?” semuanya ketawa lalu gak peduli lagi dengan pengumuman Aini. Hanya aku yang tertarik bertanya.

“akhwat satu juz? Maksudnya?”

“ada ikhwan yang mau nyari calon istri. Aku dapet informasinya dari murabiyyah ku. Tapi ikhwan itu maunya akhwat yang hapal satu juz, paling gak, hapal juz 30.”


“kalo, misalnya ada yang mau jadi istrinya, tapi gak hapal juz 30, gimana?”

Aini senyum.

“ya…insyaallah gak apa-apa. Katanya sih selain hapal satu juz, syarat lainnya akhwat yang mau jadi istrinya harus bisa masak, bisa ngurus anak dan ngurus rumah. Dilut mau?”


Aku ketawa.

“aku hanya nanya, bukan berarti aku mau. Lagipula aku belum hapal juz 30.”

“gak apa-apa…yang penting bisa masak, bisa ngurus anak dan bisa ngurus rumah.”

Aku senyum.

“memangnya siapa sih nama ikhwan itu? Aku mau ketemu ama dia. Aku mau nanya langsung ama dia, dia mau nyari calon istri apa nyari calon pembantu rumah tangga? Kenapa dia gak langsung aja buat pengumumannya di papan informasi? tuh…papan informasi fakultas masih kosong.”


Aini beristighfar…

“Va….gak seperti itu.”

“apanya yang gak seperti itu? Kenapa mau menikah harus pake syarat? Seperti kontrak saja. Lagipula kenapa syaratnya sulit? Bukannya Rasul bilang kalau kita harus memudahkan pernikahan? Lagipula, ikhwan itu kala
u mau membuat syarat yang bagus dong bahasanya. Buat syarat calon istri kok kayak buat syarat calon pembantu rumah tangga. Kenapa gak buat syaratnya menjadi: akhwat yang sayang dengan keluarga dan anak-anak. Aku jamin, akhwat yang sayang keluarga dan anak-anak, dia bisa mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anak. Tapi akhwat yang bisa mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anak, belum tentu sayang dengan keluarga dan anak-anak.”

“Va …dirimu benar.” aini senyum sambil menepuk-nepuk punggung tanganku

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Akhwat yang hapal juz 30 gak pantas mengharapkan Ikhwan yang hapal 30 Juz”

Itu kata-kata mbak ila sewaktu ngisi taujih keputrian UKM ROHIS beberapa tahun yang lalu…

Tapi ndut mengucap hamdallah setelah tau ada salah satu ustadz yang al-hafidz mempunyai seorang istri yang juga ustadzah yang belum hapal 30 juz…

“alhamdulillah, berarti aku masih ada kesempatan dapat suami yang al-hafidz…” itu kata ndut.


Waktu itu aku senyum dan mengaminkannya….

Siapapun orang yang nantinya di takdirkan oleh Allah sebagai suami kita…
semoga dia akan menganggap kita bidadari di dalam rumahnya
dan sebagai teman dakwah dalam jihadnya...
bukan sebagai pembantu rumah tangga seperti ikhwan yang aini bilang itu...

Aku percaya Allah menetapkan jodoh kita bukan dengan seberapa banyak hapalan yang kita punya. Tapi seberapa kadar keimanan kita…

Wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik….


Walaupun ada kita lihat, ada seorang wanita yang baik mempunyai suami yang pemabuk. Perlu kita ingat juga bahwa baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah…

Aku setuju dengan salah satu syair lagu nasyid…

“….kekasih kan datang sesuai
dengan iman di hati
Sabarlah menanti
Janji Allah ‘kan pasti….”

Dan aku juga percaya…
jodoh kita gak akan pernah tertukar-tukar. Semua sudah di tetapkan.

Kita hanya menanti janji-Nya. Tapi bukan berarti tanpa usaha apapun.
Walaupun orang tua kita pernah bilang, jodoh kita ada di tangan Tuhan…
tapi kalo gak diambil-ambil…yaa…selamanya akan terus berada di tangan Tuhan…
iya kan….??????


Apa ada aktivitas cari jodoh? Atau…apakah jodoh memang harus dicari? Yang pasti, setiap orang normalnya ingin menikah. Meskipun ada yang karena satu dan lain hal menjadi tak ingin atau tidak ditakdirkan berjodoh di dunia.

Aktivitas cari jodoh itu ada dan sudah sejak zaman dahulu banyak budaya melakukannya. Konon budaya valentin didasari budaya semacam itu.


Apakah Islam juga menyediakan aktivitas ini untuk muda-mudi kita? Sejujurnya penulis belum pernah menemukan sebuah ritual resmi atas nama Islam tentang ini, yang ada dan cukup banyak adalah berbagai arahan tentang mencari jodoh, memilih, dan memutuskan yang mana.

Mencari jodoh:
Ada sebuah tuntunan sangat praktis langsung dari Allah SWT.

” Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (An Nur 26).


Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT sudah menjodohkan setiap orang bersesuaian jiwanya satu sama lain, mereka yang ”sesuai” akan cenderung betah satu sama lain dan karenanya akan mudah berjodoh. Jika kita masih lajang dan ingin cari jodoh, maka jika kita ingin mendapat jodoh yang baik berarti kitalah yang lebih dahulu harus menjadikan diri kita baik, maka Insya Allah kita akan dijodohkan dengan yang baik oleh Allah. Mudah ’kan? Itu langkah adalah langkah pertama.

Langkah pertama ini jika diyakini dengan sepenuh hati Insya Allah menjadi doa sekaligus usaha yang diajukan kepada Allah SWT tentang calon pendamping seperti apa yang kita inginkan.
Apakah kriteria ”baik” itu? Bagaimanakah kita ingin jodoh yang baik dengan cara kita berusaha menjadi baik terlebih dahulu?


Ketaqwaan adalah ukuran baku dari Allah SWT. Kadar ketaqwaan ini berdampak luas kepada semua sisi kehidupan seorang manusia. Ketika ia sedang diuji dengan kesenangan, ia akan bersyukur dengan pas, tepat, akurat, sehingga Allah menambah nikmat dariNya. Ketika ia diuji dengan musibah dan kesulitan, ia bersabar, sehingga Allah bertambah menyayanginya dan memberikan pahala yang banyak.

Hanya saja angka ketaqwaan tak dapat ditera manusia. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu kadar ketaqwaan manusia. Bahkan si manusia itu sendiri tak pernah tahu berapa derajat ketaqwaannya, sebab ia sebagai manusia selain sarat dengan khilaf, lupa dan lalai, juga seringkali tidak mempertajam matahatinya sehingga semakin buta hakikat.


Manusia hanya mampu ”khawatir tak diterima Allah” (khouf) dan berharap ”agar ia diterima oleh Allah” (roja’). Khouf dan Roja’ ini seyogyanya ada dalam diri manusia yang sadar ia manusia yang sangat mungkin salah. Panjang lebar berbagai ulama modern maupun ulama salaf membahas dalam topik-topik tentang taqwa dan manajemen hati. Di situlah taqwa dibina.

Orang yang terbiasa mengelola hatinya Insya Allah juga mampu memprogram dirinya untuk maju menjadi lebih baik setiap harinya tanpa terjebak rasa sombong dan pongah bahwa ia sudah sampai kepada ”maqom” taqwa padahal sesungguhnya belum. Alah bisa karena biasa. Pepatah ini benar adanya.

Hendaknya kaum muda sibuk mengelola hatinya, sibuk meningkatkan taqwanya dengan keyakinan itulah kelak tiketnya ke surga dan ke pelaminan. Janganlah kaum muda muslim harapan ummat malah sibuk ”te-pe te-pe” (tebar
pesona) di berbagai mal maupun layar kaca atau media lain dalam rangka membangun masa depan mereka.

Ada yang pernah bertanya kepada penulis: kalau begitu kapan berkesempatan berkenalan dengan orang banyak? Kalau sibuk menata hati kapan berjumpa orang-orang yang potensial menjadi calon? Bukankah harus ”gaul”?

Tergantung apa makna ”gaul”. Jika ”gaul” bermakna harus ikut segala tren dan mode, segala hura-hura dan pesta-pesta, maka itu tak perlu. Berapa banyak remaja dan anak muda justru terjebak mendapat jodoh buruk di tempat pergaulan semacam itu, dan bahkan bertemu dengan narkoba!


Bergaul normal, sebagaimana aktivitas sehari-hari, itu cukup. Bahkan aktivitas zaman ini tidak terbatas di lingkungan fisik belaka, ada dunia maya yang juga dapat menjadi ajang silaturahim. Sejak ketemu di dunia maya, lanjut ke dunia nyata, maka selanjutnya terserah anda.

Itu cukup, asalkan dalam bergaul sehari-hari, patokan bergaul terus dipegang sesuai aturan Islami. Ini sangat penting.

Dalam pergaulan, cara seseorang bergaul akan menentukan siapa selanjutnya kawannya. Seorang gadis yang berhati-hati dalam bergaul maka sikapnya akan menyingkirkan pemuda mata-keranjang sebab gadis ini ogah diperlakukan sembarangan. Sebaliknya jika si gadis selalu memberi ”lampu hijau” bagi teman-teman prianya untuk memperlakukan dirinya dengan sembarangan, maka dirinya hanya akan dipermainkan kemudian dicampakkan.

Jangan khawatir sikap yang ”penuh aturan” ini akan menjauhkan teman, sebaliknya, akan menseleksi dengan baik. Lagipula, buat apa punya teman yang hanya ingin mempermainkan?
Allah SWT tak pernah lupa dan tak pernah tidur. Allah SWT selalu memberikan kita bimbingan dan petunjuk, asal saja kita mau melihatnya.

Allah juga selalu menguji kita, hanya saja kita sering tak sadar. Kadang kita menyangka sedang ditawarkan sesuatu yang baik karena seolah indah dan baik (tampaknya), padahal sesungguhnya itu adalah ujian yang harus kita hindari dan jauhi karena di balik itu ada keburukan tersembunyi dan bahaya kepada agama.

Ada banyak anak muda muslim dan muslimah yang tertipu dengan manusia-manusia penuh misi pemurtadan. Para misionaris ini memang sengaja menjadi ”kawan terbaik” bagi calon sasarannya. Tujuannya adalah menjadi kawan akrab, kemudian, pacar, kemudian menikahi, kemudian m
emurtad-kan.

Entah ini memang sebuah gerakan terselubung atau hanya aktivitas pribadi, yang pasti fenomena ini sudah sangat banyak dan sudah berlangsung sejak puluhan tahun di bumi pertiwi ini. Ahh, andai saja setiap pemuda-pemudi muslim tetap berpegang pada aturan Islam dalam bergaul, berteman, bersahabat apalagi mencari jodoh, niscaya segala kisah pemurtadan seperti itu tak pernah terjadi. Waspadalah.
Wallahua’lam


 

Posted in . 2 Comment »

(cerpen) Akhwat Misterius for everyone

” aku mencintaimu karena Allah ”

Empat kata sms misterius aku terima malam kemarin. Aku kaget. Dan tanda tanya besar dalam benakku. Siapa yang mengirim sms ini?? kesana kemari tapi tidak ada yang tahu siapa pengirimnya. Aku sudah menanyakan sama deni, Farhan, Ade dan teman-teman di Mushola Fakultas ”Kebaikan”, juga sama Andi, Jamal, Rifky dan teman-teman sekelasku yang lain, kakak kelas dan adik kelas, semuanya tidak ada yang tahu no sms ini. Sms misterius. Pikirku. Sempat terlintas pengirim sms itu adalah ukh Rany, salah satu anggota baru LDF Al Khoir Fakultas Kebaikan. Tapi, nggak mungkin!, dia kan baru masuk LDF, dia hanya Mahasiswi Konversi dari D3. aku hanya bertemu dengannya sa’at acara pertemuan aktivis LDK se-Universitas ”Kebebasan” Yogyakarta (UNDIP) D3 dan S1, sa’at itu aku jadi MC. Sudah dua Tahun yang lalu. Dan aku tidak pernah memberikan no ponselku sama dia, walaupun kami sempat bercakap-cakap. Dan sekarang akhirnya bertemu lagi. Tapi, tidak mungkin dia, dia Akhwat banget. Ya Allah tunjukkan kebesaranmu. Sms siapakah ini. Dalam sujud aku menangis. Di sa’at aku shalat. Disa’at aku belajar. Aku selalu
teringat sms ini.

Suasana subuh mulai terasa. Kokok ayam ikut membangunkan manusia-manusia yang terlelap dalam tidurnya. Menara masjid satu persatu mendendangkan irama sholawat Nabi. ” Azan subuh sudah dekat ”, gumamku dalam hati. Segera kurapikan sajadah yang terhampar sedari tadi. Nampak tanda-tanda cinta disana. Cinta yang kupersembahkan melalui sujud syukur di sepertiga malam. Secepat kilat aku merapikan diri, bersiap untuk pergi kemasjid, memakai sarung putih bergaris, lalu meraih baju koko yang tergantung dibalik pintu dan kupakai dengan ikhlasnya. Sebelum melangkah keluar kamar tak lupa aku oleskan minyak wangi merk HARUM produksi SUM Farfum dengan wangi ”Malaikat subuh” keseluruh tubuhku, telapak dan punggung tanganku juga baju koko yang kukenakan. ”oya hampir lupa, Mushaf!” kataku dalam hati. Lalu bergegas aku ambil mushaf yang tersimpan cantik diatas meja belajar. Memang aku tak lupa tilawah sebelum dan setelah sholat Shubuh. Kadang membaca di masjid, kadang di rumah. Kulangkahkan kaki menuju masjid. Masjidnya memang tidak jauh, 150 meter dari tempat kostku. Bagiku cukup dekat. Walaupun jalan yang harus kulalaui berbelak-belok, penuh gang-gang kecil. Disini jalannya kecil-kecil. Tidak
ada halaman yang kosong, semuanya dipakai untuk bangunan rumah.

Menurut ibu kost. Dulu daerah ini sepi, hanya ramai oleh anak-anak yang asyik bermain di halaman rumah mereka, yang sangat luas. Rumah-rumah disini sedikit, tidak sebanyak seperti sekarang. Tiap rumah menyediakan halaman rumah sebagai tempat anak-anak bermain. Setiap rumah menyediakan tempat untuk pohon-pohon tumbuh dan berbuah. Terkadang ada juga yang menyediakan halaman rumahnya dengan taman-taman yang indah, yang sedap dipandang mata. Tapi, itu dulu. Lima sampai tujuh tahun yang lalu. Sebelum orang luar yogya membeli tanah disini, sebelum orang –orang jakarta membangun rumah-rumah bertingkat di atas tanah yang subur disini, sebelum para penguasa eh, pengusaha membangun minimarket-minimarket dan toko – toko disini. Yang lebih miris lagi sebagian dari kami, orang ’pribumi’ memilih menjual tanahnya atau rumah-rumah mereka kepengusaha-pengusaha yang ber’duit’, hanya dengan beberapa lembar uang rupiah pemilik tanah rela melepaskan tanah wariasan leluhurnya, ada seorang ibu yang sudah tidak memiliki suami sa’at mengunjungi kerabatnya disini terlihat lesu dn mengiba sa’at memandangi sebuah bangunan yang diisi oleh anak-anak kost, dulu rumah itu adalah miliknya, namun karena kondisi ekonomi ia rela menjual rumahnya tersebut, sekarang dia hanya mampu memandanginya dan mengenang masa-masa lalu bersama rumahnya tersebut” tutur ibu kost, yang terlihat menerawang, mengingat dan menghayati apa yang sedang diceritakannya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala membiarkan si ibu bernostalgia dengan hari-hari yang telah dilaluinya. ” sebenarnya kami juga merasa bersyukur, karena selain itu kami mendapatkan barokah dari Allah karena adanya kampus UNDIP disini. Buktinya ibu bisa hidup dan makan dari hasil berjualan gorengan dan bisa mengontrakkan rumah ibu. Sebagian anak-anak kami juga ada yang terbawa arus ke-mahasiswaan, malah banyak anak-anak kami yang ikut melanjutkan belajarnya di Peguruan Tinggi, walaupun ada sebagian tidak kuliah disini, tapi setidaknya wawasan mereka ikut terbawa oleh intelektual Mahasiswa UNDIP.” tambah si ibu kost yang begitu bernafsu menceritakan kampungnya yang dulu hanya desa penuh dengan rawa-rawa dan pohon-pohon, sekarang telah berubah menjadi kota. Dan ini terjadi sa’at ini, tidak tahu 5 sampai 10 tahun lagi. Seperti apakah disini. Hanya anak-anak warga sini yang akan merasakannya, sedang aku, setahun atau dua tahun lagi sudah meninggalkan kampung ini. Aku akan membangun daerahku di Purworejo. Disanalah aku akan berbakti, mensejahterakan masyarakat desaku. Mudah-mudahan Allah swt mengabulkan semua keinginanku. Amiin.

Masjid sudah dekat, akupun langsung masuk kedalam masjid. Dan mempersiapkan diri melakukan shalat tahiyatul masjid, di shaf pertama aku lihat kakek tua memegang microphone dan tiga bapak-bapak pengurus masjid sedang asyik bershalawat, di pinggir-pinggir masjid hanya ada dua orang yang kukenal benar wajahnya yaitu andi dan jamal, rupanya mereka sudah datang lebih dulu.

***

” Iindriastuti,… subhanallah banget sekarang.. Berbeda dengan dua tahun yang lalu. Sekarang hijabnya rapi…, semakin sholehah…., dan sa’at bertatap muka sorot matanya memancarkan cahya kesejukan. Ya all
ah cantik benar ciptaan-Mu ini. Seandainya dia jadi istriku...” ” whuss!! Bengong.. he..he… lagi mikirin siapa nih.. ” Jamal mengagetkanku dengan ledekan khasnya. ” idihhh, ngagetin ajah! Orang lagi nginget-inget palajaran yang tadi.. yeyyy!” jawabku, sedikit ngeles. ” lagian senyum-senyum sendiri. Ini kantin woi, banyak orang, nanti dikira orang aku bawa pasien RSJ masuk kampus lagi.” timpal Jamal sambil meminum juice Alpukat kesukaannya. Memang sedari tadi aku asyik memikirkan Intan. Semenjak dia ikut di LDF dan aktif dalam kegiatan keislaman aku selalu memperhatikannya. Apalagi, sa’at dua hari yang lalu. Sa’at aku bertemu dengan dia di ATM BRI. Awalnya aku tidak tahu kalau yang didepanku sa’at antri mengambil uang di ATM adalah Intan. Kalau saja dia tidak menengok kebelakang, dan menyapaku aku tidak tahu. ” assalamu ’alikum akhi…!! ” Aku hanya tertegun dan salah tingkah, ”wa’alaikumsalam. E..Ind. INDRY!!” balasku. Terbata-bata ” kenapa sih aku ini.” gumamku. ” kenapa akh?? ” tanya dia dengan singkat, rupanya mendengar guamamanku. ” owh, ti..ti..dak. gak apa – apa kok. ” jawabku dengan gugupnya.” Candy mau ngambil uang ya?? ” aku memberanikan diri bertanya.” ya.. iyalah.. masa mau makan..he.. ( ABCD = Aduh Boo… Capek Deh…./sisipan doank!:penulis ) ” dengan senyuman manisnya, di tambah bibir tipis dan pipinya yang lesung pipit tersenyum kepadaku. Aku semakin STB ( salah tingkah Banget /kok banyak kata-kata gaul sih.. twing-twing!!:penulis). Tapi aku ikhwan, harus kuat. ” gak sih.. Cuma mastiin aja Indri…”. balasku, gak mau ngalah. ” idih GPL..!!! ” timpal dia, dengan kerlingan matanya yang asyik dipandang. ” apaan tuh???…”

aku bengong…

” Gak Penting Lagi…”

Gubrakk!! Wah, akhwat sekarng gaul-gaul ya.. beda dengan dulu. Sa’at aku masih SMA. Akhwat dulu, memandang saja sudah malu-malu kucing. Sekarang mah, ngegemesin.. tapi, sama aja sih ikhwannya juga.

”ma’af akh. Indri duluan… ” tambahnya sambil masuk kedalam ATM. ” oya, silahkan…”.
Balasku yang sebenarnya memiliki harapan bisa berlama-lama dengannya. Sejak sa’at itu aku jadi sering melamunkan dia, dan.. ” woi..woi… sudah belum ngelamunnya?? Aku mau pulang nih… ngapain dikantin cuman bengong doang.” lagi - lagi Jamal ngagetin aku. Kali ini dengan sedikit marah. ” ya udah kita pulang aja, lagian aku kurang sehat nih.. oya sekalian makanan dan minumanku kamu bayarin dulu yah… aku lagi gak bawa uang.. sebenernya lagi bokek! He..he…” balasku dengan wajah meminta belas kasihan ” pliss ya… sayang!! ” tambahku. ” idih sayang, dasar!! Aktivis dompet tipis.. keren sih oke. Tapi, gak berduit!! Nih aku bayarin… bilang makasih dong!!! ” tukas Jamal sedikit sewot. ” Iya..ya.. deh, makasih ya… kamu temenku yang paling baik deh, tapi kamu jangan ngomong-ngomong aku aktifis ditempat umum dong, nanti aku di anggap teroris lagi… ”. Jawabku, dengan perasaan malu di bilang tak berduit. ” Emang aktifis harus banyak uang apa. Yang penting aktifis itu setia dan rajin syuro. Penampilan ok. Tepatnya sih Rapi. Omongannya didenger. Itu aktifis.”. Gumamku.

***

sms itu masih belum diketahui siapa pengirimnya padahal sudah tiga hari. Setiap aku telpon dan sms tidak ada balasan, mungkin dinonaktifkan. Tapi aku tidak peduli yang penting aku sekarang selalu memikirkan Indri. Hari ini perasaanku sama dia semakin kuat, hidup terasa diombang-ambing, makan terasa hambar, inget dia, semua aktifitasku semakin tak menentu, ada perasaan rindu. Ya, Allah apakah ini namanya cinta?? Apakah aku telah mencintai Indri?? Astagfirulalh, aku seharusnya tak berbuat seperti ini. Ini salah. Sambil merebahkan badanku di kasur, fikiran ini tetap tertuju sama Indri. Lantunan Nasyid yang kuhidupkan begitu merdu terdengar. Nasyid ini membuatku semakin dekat dengannya, terlebih lagi lagu dari inteam dengan Kasih ke kasih, impian kasih, Do’a seorang kekasih, ditambah nasyid Edcoustic… ah… semakin menggebu-gebu jiwaku ini.

( inteam: kasih ke kasih )

tak perlu aku ragui… Sucinya cinta yang kau beri

Kita saling kasih mengasihi… dengan setulus hati…

Ayah ibu merestui.. menyambung cincin di jari


Dengan rahmat ilahi… cinta kitapun bersemi…

Sebelum di ijabkabulkan, syariat tetap membataskan


Pelajari ilmu rumah tangga… Agar kita lebih bersedia

Menuju hari yang bahagia

Kau tahu kumerinduimu..


Kutahu kau mencintaiku, oh..kasih..

Bersabarlah sayang, saat indah kan menjelma jua..

Kita akan disatukan dengan ikatan pernikahan oh.. kasih..

Disana kita bina… Tulus cinta mahligai bahgia

Semoga cinta kita.. didalam ridho ilahi

Berdoalah selalu semoga jodoh berpanjangan..


( Edcoustic : nantikanku dibatas waktu )

Dikedalaman hatiku

tersembunyi harapan yang suci

tak perlu engkau menyangsikan

lewat keshalihanmu,

yang terukir menghiasi dirimu


tak perlu dengan katakata

sungguh walau ku kelu

tuk mengungkapkan perasaanku,

namun penantiannmu pada diriku

jangan salahkan,,,

kalau memang kau pilihkan daku

tunggu sampai aku datang

nanti kubawa kau pergi kesyurga abadi

kini belumlah sa’atnya aku membalas cintamu…

nantikanku dibatas waktu..

”Nantikanku dibatas waktu, ukhti Indri” tak sengaja aku mengucapkan kata itu. Astagfirullah. Kenapa aku berfikir sejauh ini, Tanpa sadar, air mataku meleleh mengalir membasahi pipi, ya, allah, dengan ke-Maha indahan-Mu, dengan kasih dan sayang-Mu, dzat penguasa alam yang menggenggam hati-hati manusia, Maha mencintai…. jika benar ini cinta datangnya dari-Mu maka halalkanlah cinta hamba, mudahkanlah hamba mendapatkan cintanya, jadikan cintaku kepadanya wujud cintaku juga kepada-Mu, ya Allah, jangan jadikan hamba menjadi manusia-manusia yang durhaka karena cinta, jangan jadikan hamba menjadi hamba yang terbakar cinta dunia dan seisinya, lindungilah hamba dari cinta-cinta nafsu. Hanya ridho dan kasih sayang-Mulah hamba berharap. Kabulkanlah ya Allah. Suasanapun menjadi teduh, jarum jam merangkak terus. Jam 23.00. sudah malam, keheningan malam kian terasa, seiring lelehan air mata
yang berbuah luapan asmara yang begitu besar. Luapan cinta. Membanjiri relung-relung hati yang sedang bergelora oleh cinta. Kerinduan bercampur, rindu kepada sang pencipta dan Rindu kepada Ciptaan-Nya. Kaset Nasyid yang kuputar berhenti, akupun perlahan mulai mengantuk dan akhirnya tertidur, bermimpi dengan bidadari - bidadari syurga. Dengan keindahan yang tak terkira.

iki sms masuk, mas iki sms masuk… berkali-kali bunyi hape terdengar, ” uwh!!, siapa sih malam – malam sms, sebelum membaca sms, kulihat jam…, apa?!! Jam 04.00. rasanya baru saja aku tidur masa sudah jam empat, huh, kayak di dongeng saja. Aku gak tahajjud!! ” ini lagi siapa pagi-pagi buta gini kirim sms, apa gak ada kerjaan.” Dengan perasaan dongkol aku memaki-maki sendiri, lalu ku buka sms yang masuk tadi.

 

Assalamu’alaikum Dodi yg sholeh. Af1. aq sdh m’ngganggumu. Sblmny aq jg minta m’af ats klancangnq, krn tlh mengirim sms kpdmu. Ini sms yg ke2 yg ku krm.Km psti pnasaran, aq th dr tmn2mu.Km mcari th sapa pngirim sms itu. Sms ini jg sbg pnyembuh hatiq, aq tdk bs mlupaknmu,aq tdk bs mnahan prasaanku pdmu.Aq mncintaimu. Skrg km klwr,dipintu gerbang da spcuk srt drku,km akn th smuany. Semuany. dan sapa aq sbenarny.

Wassalam

Sms misterius! Surat? Malam begini ada surat didepan rumah. Aku semakin penasaran, lalu aku langsung keluar. Benar juga, sebuah amplop terselip di besi-besi grasi mobil. ”Masyaallah, nekat benar nih akhwat” gumamku, lalu aku mengambilnya. Sambil jalan menuju kamar, hatiku bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang ini. Sesampainya di kamar aku buka perlahan-lahan, sepucuk surat dengan kertas berwarna pink. Tulisannya indah sekali. Lalu kubaca:

Yogya, 17 Agustus 2007

Kepada hamba yang senatiasa bersujud.

di-

Hamparan sajadah

Assalamu ’alaikum warahmatulalhi wabarakatuhu.

Semoga Allah selalu melindungimu hari ini dan hari-hari yang akan datang. Tak henti aku memohon ma’af, yang sebenarnya tak perlu kau memaafkan aku. Dalam kegelapan malam aku tulis surat ini, sebagai bukti tulusnya rasa yang selalu mengejar jiwa sanubariku. Setiap malam aku selalu menangis. Meratapi dan merenungi. Selalu dan selalu. Tentu saja kamu merasa bingung dan penasaran, siapa aku sebenarnya. Aku bukanlah makhluk misterius yang bisa saja kau bayangkan, karena aku nyata, aku selalu disisimu.

Dodi yang kucinta karena Allah, sejak aku mengenalmu, sejak aku melihatmu, dan sejak itulah bunga-bunga dalam dada ini merekah indah, harum dan mewangi. Sampai aku lupa, sesuatu telah terjadi pada jiwaku. Kesholehanmu telah menawan hatiku, tutur katamu menyirami tanaman-tanaman hijau di hatiku, sorot matamu tajam, menggetarkan jiwaku, Jiwa yang kupelihara kebersihan dan kesuciannya. Entah ini dosa atau tidak. Aku sudah terbius oleh harapan yang semakin lama-semakin terlena. Tapi bukankah Dia yang menciptakan perasaan kasih sayang? Bukankah Allah
maha Mencintai hamba-hamba-Nya. Begitupun aku yang telah marasa resapan embun cinta. Syurga cinta telah nampak dipelupuk mata. Sa’at itulah, hari-hariku bahagia. Namun, untuk menggapai cinta sejati tidaklah mudah. Aku menguatkan diri, walaupun akhirnya aku terjatuh dan terjatuh. Perjuangan cinta yang kupendam selama dua tahun tidak juga berbuah, aku menangis, selalu menangis. Perjuangan jauh yang kutempuh akhirnya sampai disini. Perjuangan untuk bisa lebih dekat denganmu, akhirnya tercapai. Aku melanjutkan kuliahku dari D3 ke S1. ( kamu mungkin sudah dapat mengetahui siapa aku ?? ) semua ini hanya mengharap cintamu dan kesucian jiwaku. Kini, aku sudah dekat denganmu. Perjuanganku selama ini telah menghantarkanku kesisimu. Walaupun aku tidak bisa memaksamu untuk saling membagi cintamu padaku. Hanya saja, kecemasan masih menyelimutiku. Apa yang akan terjadi bila cinta yang kumiliki tidak mampu memasuki relung hatimu.

Dodi kini kau tahu siapa aku sebenarnya. Kini kau mengerti kenapa aku disini. Hanya kaulah yang bisa mewujudkan semua usaha yang aku jalani. Namun, semua ini aku kembalikan kepadamu, kaulah yang memutuskan. Aku hanya bisa pasrah. Aku mencintaimu. Cinta karena Allah rabbul izati. Bagaimana denganmu? Aku tunggu balasannya. Ma’afkan kedhoifanku.

Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Yang merindukanmu.

(Indriastuti )


Subhanallah, bagaikan kejatuahan bintang dari langit. Sejuta asa menyelimuti hati. Perasaan mengharu biru. Merangsang kepenatan jiwa yang merindukan ketenangan dan ketentraman. Sesaat terdiam. menatap langit-langit kamar. Penuh dengan bunga.. bunga-bunga cinta. Semua yang aku lamunkan selama ini telah Allah gantikan dengan Hadiah yang sungguh luar biasa. Tapi, aku tidak bisa menerima semua ini dengan hawa nafsu.

Siangnya kuputuskan bertemu dengan guru ngajiku. Ust. Hendrik, meminta pendapat dan nasehatnya.

” ust, ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan “ kataku pada ust. Hendrik, Dengan suara terputus-putus dan bergetar.

” Tafadhol’ Dodi, ada apa?? “. Jawabnya

beberapa hari yang lalu ada akhwat, membuat pengakuan yang membuat saya merasa risi dan….ma’af, saya juga merasa bingung, akhwat tersebut mengatakan dalam sms nya bahwa ia jatuh cinta pada saya. Sedangkan saya tidak tahu siapa dia ” Ust. hendrik nampak terkejut, tapi, Ia berusaha tetap tenang. “ Sabar Dodi, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang antum bayangkan.” Ust. hendrik mencoba menenangkan perasaanku. “ Ma’af…saya tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Akhwat itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat saya sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab saya sebagai muslim sejati, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, saya hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah islam “. Kataku mencoba membela keimanan.

“ Ya sudah…saya berharap antum tetap istiqamah dengan kenyataan ini, saya tidak ingin kehilangan aktivis dakwah oleh permasalahan seperti ini “.

Ust. hendrik membuat keputusan, “ tapi, ust… Subuh tadi dia mengirim sms lagi dan kali ini disertai surat yang menjelaskan semuanya, dan ternyata akhwat itu saya kenal… “ sejenak aku berhenti, menyusun kata-kata yang tepat, lalu meneruskannya ” dan, akhwat tersebut ternyata yang belakangan ini telah membuat saya jatuh hati, subuh tadi saya benar-banar bahagia, karena saya mencintai akhwat yang selama ini dia pun memendam perasaan rindu…ma’af ust. Setelah saya fikir kembali, seharusnya hal ini tidak terjadi.. gimana menurut ust.?? “. Jelasku dengan perasaan tak tenang, dan perasaan malu.


” kamu sudah tahu sendiri bagaimana islam mengatur semua ini. saya tidak menyalahkan perasaan kalian. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan saya adalah, apakah kalian sudah siap ketika saling menyatakan perasaan itu. Apakah akhwat tersebut mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak kamu?. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah akhwat itu telah menyampaikan perasaannya kepada ustzah dia untuk melakukan proses yang diseriuskan?. Apakah kamu dan dia sudah siap berkeluarga. Apakah kalian sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari sikap kalian, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????, Aris.. bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah, dan
jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan…” aku merasa malu. Keluar keringat dingin dari seluruh kujur tubuhku, lalu Ust. Hendik mengatakan kalau seandainya sudah siap untuk menikah, nanti akan disampaikan ke akhwat tersebut. lalu aku sampaikan bahwa akhwat itu adalah Indri, yang sa’at ini sedang mengikuti pengajiaan
ustadzah Ririn, sahabat dekat istri ust. Hendrik. ” ya, sudah kamu tunggu kabar lagi aja mudah-mudahan allah memberi keluasan dan kemudahan ” tutur ustadz. Hendrik memberikan kelegaan dalam hati.

***

Di sepertiga malam ini sangatlah tepat aku tuliskan sebuah jawaban nafas-nafas cinta yang sedang melanda Indri. Akupun bertakbir. Melantunkan ayat - ayat cinta di malam ini. Disa’at semua orang terlelap dalam nikmatnya malam. Namun aku yakin dia selalu bertasbih di kegelapan malam dengan sujudnya yang suci. Secarik kertas putih ku lukis dengan kata-kata cinta. Untuk seorang hamba yang mencintai dan aku cintai, cinta karena Allah.


 

Hari-hari yang melelahkan. Tapi bagiku ini membahagiakan, memang jika kita bekerja, jika kita melaksanakan suatu amanah atau sesuatu. jika dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan tanpa paksaan sungguh lezat sekali rasanya. Berbeda dengan orang yang melakukan sesuatu dengan imbalan atau biasa kita sebut dengan ada udang di balik batu. Akan terasa berat dirasa. Ya, mungkin ini karena aku aja yang merasakan, karena aku sendiri yang akan menikah. Melihat sisi dari pernikahan bagiku bukan hanya sebatas memenuhi nafsu manusiawi saja, akantetapi sebuah acara yang sakral dan sebuah wujud cinta kita kepada Rasulullah saw. Karena dengan begitu kita mengikuti sunnah rasul yang mulia. Ini kewajiban yang menyenangkan. Sujud syukur. Sebentar lagi aku akan menyempurnakan dienku yang agung. sebagian orang sering mengatakan ini.

iki sms masuk, mas iki sms masuk…

“ Ada sms “ gumaamku. “ Dari Indri..!! “


“Assalammu’alaikum wr. Wb. sepanjang perjalannaku menuju rumah. Air mataku tak henti-hentinya mengucur dan meleleh di pipi. Kebahagiaan yang hakiki sesaat lagi akan kureguk. Keimanan yang kujaga dengan cinta akan berbuah menjadi mutiara yang indah. Menyongsong kehidupan yang baru. Untuk keindahan selamanya.. selamanya…. =) ”

Pengirim :

Indri

085694451248


Dikirim :

25 September 2007

09.10

Akupun menjadi termenung. Memaknai kalimat-kalimat yang dikirim oleh Indriastuti. Calon bidadariku. Ada sebuah kejanggalan dari pesan singkat yang ia kirim kali ini. Kenapa ” sms nya seperti ini, aku harus segera membalasnya” gumamku. Lalu secepatnya aku membalasnya. ” De Indri, ada apa? Kenapa sms seperti itu?? Kamu sekarang ada dimana? ” dengan perasaan risih kukirim balasannya, menanyakan maksud sms Indri, lalu kutekan tombol kirim.ok!

Tapi, pengiriman pesan gagal. Ah, sial! gak ada sinyal. Kucoba beberapa kali lagi, akantetapi tetap tidak bisa. Kucoba menelpon. Tetap tidak bisa. Ada apa ini??

Beberapa sa’at kemudian, ada sms masuk lagi. ”oh, dari Indri lagi… ” ucapku.

” sayang, ku do’a-kan kau selalu bahagia. Hari ini dan hari – hari yang akan datang. Ma’afkan kesalahan-kesalahan ku selama ini. Sayang, aku tunggu kamu di negri yang tidak ada manusia mengganggu kebahagiaan kita. Disanalah kita
bangun istana kebahagiaan ”

ada apa ini, kenapa sms nya seperti ini dan kenapa tadi aku sms dan telepon tidak nyambung. Tanda tanya besar hinggap dibenakku.

Tidak lama kemudian Hpku berbunyi kembali, kuperhatikan, nomor yang memanggil ternyata nomor yang tidak dikenal. ” hallo, Assalamu’alaikum. Bisa bicara dengan bapak Dodi?? ” suara lelaki yang tak kukenal suaranya. ” iya, saya sendiri, ma’af bapak siapa ya?? Ada yang bisa saya bantu. ” jawabku, Dengan perasaan tidak tenang. ” sebelumnya kami mohon bapak bisa bersabar ya pak. Kami dari kepolisian lalu lintas. Sekarang kami berada di jalan yogya-Bandung.” jelas lelaki yang ternyata dari kepolissian. ” polisi lalu lintas???, apa hubungannya dengan saya
pak??!! ” tanyaku dengan nada kaget bercampur tidak sabar. ” ma’af pak. Disini terjadi kecelakaan Bis dari Baranangsiang menuju Bandung, Bis ini terlempar kejurang sa’at akan berbelok, kejadian ini terjadi satu jam yang lalu tepatnya jam 08.00. ” jam 8…!” fikirku. ” penumpang semuanya tewas, hanya 2 anak-anak dan 1 bayi yang masih hidup… ”

lalu apa hubungannya dengan saya pak?? ” tanyaku memotong penjelasan polisi tersebut dengan nada kesal bercampur takut dan khawatir. ” sekali lagi kami mohon bapak dapat bersabar dan menguatkan diri. Karena, salah satu dari penumpang tersebut terdapat seorang wanita yang sedang memegang selendang bertuliskan: Dodi Taufiqurrahman dengan nomor handphone ini. kami yakin wanita ini adalah saudara, anak atau istri bapak. Dari KTP yang kami ambil dari dompetnya, tertera namanya INDRI ASTUTI kelahiran Bandung, sebagai mahasiswi di Yogyakarta ” bagaikan mendengar petir ditelinga, dunia terasa berhenti berputar, nafas terasa sesak, tak dapat mengeluarkan satu patah katapun, semuanya bergemuruh. Lemas tak berdaya. ”Ind.. Indri… tidak … calon istriku… bidadariku… Tidak Mungkin!!! Bapak pasti salah. Beberapa menit yang lalu dia sms, dua kali!! ” dengan sedikit tidak yakin bercampur perasaan takut yang sangat.. ” tapi pak, semuanya sudah jelas.. selendang yang dipegang dengan nama dan no HP bapak, gaun serta kerudung yang dia kenakan, apa bapak masih belum percaya?? ” jelas polisi tersebut meyakinkanku. Akupun tak dapat menahan kesedihanku… dengan penjelasan yang sangat jelas, akhirnya aku mempercayainya.. ” Ya allah… ini tidak mungkin.Indri. Innalillahi wa innalillahi raji’un ” seakan berteriak, air mata deras mengalir.. aku tak tahan lagi menerima kabar yang seakan mimpi ini. ” pak Dodi, tabah ya pak!! Kami turut berbela sungkawa atas kejadian ini. Selain itu, kami juga menemukan beberapa keanehan yang terjadi sama.. ma’af! calon istri bapak. Ketika kami temukan, wajahnya begitu ceria dan tampak indah, bibirnya seakan tersenyum, memancarkan cahaya. Dan, kedua belah tangannya berada diatas dadanya. Layaknya orang yang sedang sholat. Anehnya lagi, tidak ada luka sedikitpun ditubuhnya, nampaknya ia terlempar jauh dari bis itu jatuh, tidak seperti penumpang lainnya yang tewas, sampai tertimpa badan bis. Bunga-bunga disisinya seakan mekar mewangi… Semerbak… Bau wangi menyeruak dan merebak, harum bagaikan khas keharuman sebuah kamar mempelai yang akan mereguk cinta di malam pertama..” jelas polisi itu, dengan mantap dan terdengar parau dan bergetar. aku hanya terdiam, diam seribu  bahasa.
Ya allah, apakah cintaku hanya dibatas waktu..???

 

Posted in . 6 Comment »